The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok
Rated: M (for dark theme)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 1
Jungkook berjalan menyusuri koridor kantor kepolisian pusat di Seoul. Dia baru saja mendapat rekomendasi untuk bekerja di kantor polisi ini dan dia baru diminta datang hari ini untuk bertemu Kepala Polisi tempat ini.
Jungkook berjalan dan dia nyaris menabrak seorang pria yang mengenakan lab coat, kelihatannya dia anggota forensik.
"Sorry," gumam Jungkook.
Pria itu tersenyum, "Tidak apa, ini salahku juga karena terlalu terburu-buru." Pria itu menunjuk Jungkook, "Kau baru di sini?"
"Oh, ya. Aku mendapat rekomendasi untuk pindah ke sini."
Pria itu tersenyum, "Oh, great. Aku Kim Seokjin, salah satu dokter forensik di sini."
"Jeon Jungkook, CSI."
"CSI? Wah, kau pasti akan menjadi partner yang hebat untuk Taehyung."
Jungkook mengerutkan dahinya, "Taehyung?"
"Detektif terbaik di tempat ini." Seokjin menjentikkan jarinya, "Ah, kau pasti ingin bertemu Kepala Polisi di tempat ini, kan?"
Jungkook mengangguk pelan, "Ya.."
Seokjin tersenyum lebar, "Ayo aku antar. Nanti aku juga akan memberitahu beberapa orang yang akan menjadi partner kerjamu."
Jungkook mengucapkan terima kasih dan berjalan mengikuti Seokjin.
"Ini lab forensik kami. Kau pasti akan bertemu dengan mereka nanti. Aku dokter forensik spesialis autopsi, Daehyun ahli forensik spesialis DNA, dan beberapa ahli forensik biasa lainnya." jelas Seokjin.
Seokjin menunjuk sebuah ruangan yang kosong dan hanya terdiri dari beberapa kursi, meja, TV, dan sebuah kulkas beserta microwave. "Itu ruang istirahat kami."
Seokjin berhenti di sebuah pintu kaca tebal, "Ini ruangan Kepala Polisi kita." Seokjin mengetuk pelan dan langsung melangkah masuk.
Jungkook melihat kalau ruangan itu hanya berisi seorang pria yang langsung Jungkook anggap sebagai Kepala Polisi tempat itu.
"Jinnie?"
Jungkook mengangkat sebelah alisnya saat dia mendengar panggilan yang 'manis' itu.
"Aku membawa anak barumu, Namjoon."
Namjoon menatap Jungkook, "Aah, Jeon Jungkook, benar?"
Jungkook mengangguk, "Yes, Sir."
"Kau akan berada di shift malam mulai hari ini." Namjoon melihat ke luar, "Yoongi!"
Jungkook menoleh ke belakang dan dia melihat seorang pria berkulit putih pucat berjalan ke arah ruangan Namjoon.
"Kau memanggilku?" tanya pria itu.
Namjoon mengangguk, "Ya, dia akan bergabung bersamamu di shift malam." Namjoon menoleh ke arah Jungkook, "Jungkook, ini Min Yoongi, kepala forensik di sini, dia atasanmu. Dan kurasa kau sudah mengenal Seokjin, dia dokter forensik."
Jungkook mengangguk, "Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Hari ini juga." Namjoon mengibaskan tangannya, "Kalian boleh keluar. Ah, kecuali kau, Jinnie."
Jungkook melirik dan dia melihat Seokjin berjalan menghampiri Namjoon, Jungkook memutuskan untuk tidak ambil pusing dan berjalan mengikuti Yoongi.
"Kau bingung melihat hubungan diantara Namjoon dan Seokjin?" ujar Yoongi saat mereka berjalan menyusuri koridor.
"Eer.. tidak juga."
Yoongi menoleh ke arah Jungkook, "Mereka sudah bertunangan."
Jungkook mengangguk paham.
"Hei, Min Yoongi!"
Yoongi dan Jungkook menoleh dan mereka melihat sosok seorang pria berambut coklat berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa, Taehyung?"
"Kau urus kasus mutilasi di universitas itu. Biar aku yang mengurus kasus bunuh diri di sekolah menengah." Taehyung berujar seraya memberikan selembar kertas pada Yoongi.
"Kenapa kau memerintahku? Harusnya aku yang memberi perintah padamu." ujar Yoongi.
"Kau tahu aku tidak pernah menangani kasus berbau darah."
Yoongi memutar bola matanya, "Okay, fine." Yoongi melirik Jungkook, "Kau akan pergi bersama anak baru ini."
Taehyung menatap Jungkook, "Siapa dia?"
"CSI baru, namanya Jeon Jungkook. Jungkook, ini Kim Taehyung."
Jungkook mengulurkan tangannya, "Jeon Jungkook."
Taehyung melirik tangan Jungkook, "Hn." Taehyung menatap Yoongi, "Kau akan pergi dengan siapa?"
"Aku bisa pergi dengan Hoseok."
Taehyung menggeleng, "Anak itu tidak ada di kantor."
"Dimana dia?"
"Di sirkuit, kau pikir dimana lagi?"
Yoongi berdecak, "Bocah itu harus berhenti melakukan hobi balapannya di waktu kerja. Aku sudah tidak tahan lagi." Yoongi berjalan meninggalkan mereka dengan langkah menghentak.
Jungkook menatap Yoongi dan samar-samar dia bisa mendengar Yoongi menyebut nama 'Jimin' dan 'rumah'.
"Hei, anak baru. Ayo, pergi."
Jungkook tersentak dan berjalan mengikuti Taehyung.
.
.
.
.
Jungkook berjalan memasuki sebuah kelas di sekolah menengah yang cukup ternama. Kondisi kelasnya agak berantakan dan Jungkook bisa melihat seorang siswi yang duduk bersandar pada dinding dengan pergelangan tangan tersayat dan mengeluarkan banyak darah.
Jungkook berjongkok tepat di sebelah genangan darah itu, "Genangan ini menunjukkan dia mati kehabisan darah." Jungkook menoleh ke arah Taehyung, "Bunuh diri?"
"Itu dugaan awal." Taehyung berdecak pelan saat melihat darah yang menggenang, "Sial, aku benci darah. Kupikir kasusnya tidak berkaitan dengan darah. Kau proses tempat ini, aku akan mencari petunjuk di sekitar." Taehyung berjalan keluar kelas dan meninggalkan Jungkook seorang diri yang hanya bisa berkedip bingung.
"Taehyung memang benci darah. Jangan dipikirkan."
Taehyung menoleh ke arah petugas koroner yang sedang memeriksa mayat siswi tersebut. "Tapi dia kan detektif."
Petugas itu mendongak ke arah Jungkook, "Ya, aku tahu. Tapi Taehyung memang tidak pernah bisa berhadapan dengan darah. Mulanya semua orang heran, tapi karena deduksinya tetap luar biasa, mereka membiarkan saja Taehyung berjauhan dari darah."
Jungkook mengangguk paham, "Kau sudah mendapatkan waktu perkiraan kematiannya?"
"Ya, berdasarkan suhu hati, korban meninggal sekitar jam 4-5 sore tadi."
Jungkook menatap sekeliling kelas, "Jam berapa sekolah dibubarkan?"
"Sekitar jam 3 sore. Kepala sekolah mengatakan kalau hari ini ada rapat guru jadi murid-murid sudah dipulangkan sebelum jam 3."
Jungkook mengangguk paham, dia memperhatikan genangan darah dengan senternya dan melihat sehelai rambut di sana, dia bergegas mengambil pinset dan mengambil helaian rambut itu. Jungkook mengangkatnya ke udara dan memperhatikannya, "Rambut pendek, jelas bukan dari rambut korban."
"Kau menemukan sesuatu?"
Jungkook berbalik dan melihat Taehyung berdiri cukup jauh darinya. "Ya, rambut. Aku harus memotret tempat ini setelah itu aku akan berkeliling kelas ini."
Taehyung mengangguk kecil, "Aku akan bertanya soal korban pada para guru."
"Siapa yang menemukannya pertama kali?"
"Seorang satpam, dia bilang dia sedang berkeliling untuk memastikan semua kelas sudah dibersihkan dan dikunci, kemudian dia melihat kelas ini, yang terlihat agak berantakan, dan saat membuka pintu, dia melihat korban. Satpam itu berlari ke kantor guru dan berteriak meminta mereka menelepon polisi."
Jungkook mengerjap, "Darimana kau mendapatkan keterangan selengkap itu?"
"Dari satpam itu. Dia ada di luar kelas dan dia sangat kooperatif. Aku akan berbicara dengan beberapa guru dan petugas kebersihan yang entah kenapa melewatkan kelas ini untuk dibersihkan." Taehyung berjalan keluar dari kelas sementara Jungkook mengambil kameranya dan mulai memotret lokasi kejadian.
Jungkook berjalan berkeliling kelas dengan hati-hati dan mulai memperhatikan beberapa benda yang mungkin mencurigakan. Jungkook berhenti memotret saat dia melihat bias pantulan cahaya dari lantai, dia berjongkok dan memperhatikan lantai, ada semacam kristal halus di sana.
Jungkook memotretnya dan mengambil sedikit sample kristal halus itu kemudian mulai kembali berjalan. Setelah mengambil puluhan foto, yang berhasil ditemukannya hanyalah rambut di genangan darah korban, kristal halus di lantai, dan tetesan cairan yang Jungkook duga sebagai sperma di meja kelas.
Jungkook berdecak pelan, dia tahu ada banyak remaja sekarang yang suka melakukan seks sebelum nikah, tapi dia agak tidak percaya dan jijik mereka akan melakukannya di dalam kelas. Jungkook berjalan keluar dari kelas itu setelah selesai memproses tempat kejadian itu dan memotret banyak foto di sana.
Di koridor kelas, Jungkook melihat Taehyung yang sedang berbicara dengan seorang wanita yang Jungkook duga sebagai salah satu guru di sana. Jungkook berjalan menghampiri mereka dan dia melihat Taehyung tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada guru itu.
"Jadi, ada keterangan baru?"
Taehyung mengangguk singkat, "Ya, siswi yang meninggal itu adalah anak baik. Golden student, siswi terpintar, tercantik, dan dipuja seisi sekolah sekaligus dibenci separuh sekolah karena iri."
"Jadi, dugaan awalmu adalah dia dibunuh salah satu hatersnya?"
Taehyung menyeringai, "Tepat sekali, dan kuharap setelah Seokjin mengautopsinya, kita akan tahu lebih banyak dari apa yang terlihat di kelas."
.
.
.
.
.
.
.
"Kau tahu, Namjoon? Aku harus bekerja." Seokjin menggumam pelan di lekukan leher Namjoon dan mendesah ringan saat Namjoon meremas bokongnya.
Mereka masih di ruangan Namjoon, hanya saja Seokjin sudah berpindah posisi mulai dari di atas meja kerja hingga di pangkuan Namjoon. Mereka memang tidak bercinta sih, Namjoon memang suka mencumbu Seokjin di sela jam kerja, katanya untuk meredakan stress.
Namjoon menggeram tidak setuju, "Sebentar lagi." Namjoon bergerak menjilat belakang telinga Seokjin.
Seokjin mengerang, "Aku harus kembali ke ruang autopsi."
"Nanti saja kau urus mayat-mayat itu, sekarang kau harus mengurus calon suamimu lebih dulu." ujar Namjoon kemudian dia menarik dagu Seokjin dan menciumnya.
Seokjin melepaskan ciuman panas Namjoon, "Hei, kita punya perjanjian, ingat?"
Namjoon mengerang kesal karena Seokjin menjauhkan wajahnya dan melepaskan ciuman mereka. "Oke, aku menyerah. Sana kembali urus mayat-mayat itu."
Seokjin tertawa pelan, "Jangan begitu, Namjoon. Kau juga sebaiknya kembali bekerja mengorek kebenaran dari para penjahat itu. Kau ahlinya, kan?"
Namjoon tersenyum kecil, "Ya, aku ahlinya dalam urusan kebenaran."
Seokjin mengecup pipi Namjoon, "Sampai nanti, sayang." Seokjin berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Namjoon.
Namjoon menatap punggung Seokjin yang berjalan menjauh, "Kebenaran adalah keahlianku, tapi aku membohongi diriku sendiri, sayang. Kuharap kau tidak keberatan akan hal itu."
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi mendengus pelan dan nyaris saja melempar ponselnya ke dinding setelah dia menelepon Hoseok. Dia tidak percaya Hoseok dengan santainya keluar dari kantor dan pergi ke sirkuit.
"Dia dan balapan bodohnya itu harus dihentikan." Yoongi mengambil ponselnya dan mencari kontak bernama 'Jimin' di sana, setelah mendapatkannya, dia langsung menghubunginya.
"Hallo,"
Yoongi tersenyum kecil mendengar nada ceria dari sambungan teleponnya, "Jim?"
"Yes, my baby sugar?"
Yoongi tertawa, "Jangan memanggilku seperti itu."
"Oke, oke. Ada apa, Hyungie?"
"Aku pulang terlambat hari ini. Ada kasus baru."
"Hmm, mau kubuatkan makan malam seperti biasanya? Nanti sewaktu kau pulang kau hanya perlu menghangatkannya saja."
"Jim, aku tahu kau juga lelah. Aku bisa makan di luar, kau beli saja makan malam untuk hari ini."
"Hyungie, pekerjaanku hanya mengurus dokumen, aku duduk di balik meja seharian. Aku capek duduk terus dan aku butuh banyak bergerak agar tubuhku tidak kaku."
"Oke, terserah kau saja. Yang jelas jangan menungguku yaa.."
"Aku akan terbangun saat kau pulang, sayangku. Tidur tanpa memelukmu itu terasa hampa."
Yoongi merona dan dia bergerak mengipasi wajahnya, "Oh, hentikan kata-kata cheesymu itu! Aku harus bekerja."
"Oke, selamat bekerja, my baby sugar. I love youu~"
"Hmm, love you too."
Yoongi memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Jimin adalah kekasih Yoongi sejak dua tahun terakhir dan mereka tinggal bersama di satu apartemen. Mulanya Yoongi juga tidak mengerti kenapa dia mau saja menjadi kekasih Jimin yang terlihat seperti seseorang yang selalu bahagia, berbeda dengan Yoongi yang suram.
Yoongi terdiam saat kilasan masa lalunya membayang dalam benaknya, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan itu. Dia sudah bahagia dengan Jimin, dan dia sudah membuka lembaran baru kehidupannya. Itu adalah yang terpenting.
"Yo, Yoongi! Ayo, kita ke lokasi."
Suara Hoseok membuyarkan lamunan Yoongi, dia mengangguk cepat dan berjalan keluar dari ruang istirahat mereka untuk menuju lokasi pembunuhan itu.
.
.
.
.
.
Lokasi penemuan potongan tubuh pertama di universitas itu terletak di taman belakang. Yoongi dan Hoseok menemukan dua potongan tangan yang dipotong sebatas siku. Yoongi memperhatikan potongan tangan itu dan memperhatikan bekas gerigi yang tidak rata di perpotongannya.
"Wow, sadis sekali. Apa dia dipotong setelah mati?" ujar Hoseok sambil meringis ngeri.
"Tidak, dia dipotong hidup-hidup. Bekas potongan tidak rata ini mengindikasikan dia meronta saat dipotong dan dilihat dari bekas potongannya, aku yakin darah masih mengalir setelah ini terlepas dari tubuh, perhatikan jaringannya." Yoongi menunjuk ke arah daging dan tulang di potongan lengan itu.
Hoseok mengernyit jijik, "Aku tidak mau memperhatikan itu. Bisa-bisa aku mual dan tidak mau makan daging lagi."
Yoongi tertawa kecil, "Seharusnya sebagai anggota CSI kau tidak takut pada hal-hal semacam ini."
"Hei, rasa takut itu manusiawi, oke?"
Yoongi mengangguk acuh, "Ya, ya. Pergilah berkeliling dan ambil petunjuk. Aku akan memproses potongan tangan ini."
"Apa kau tidak jijik?"
Yoongi terhenti, dia terdiam dan perlahan-lahan dia menggigit bibirnya. Apa dia tidak jijik? Tidak, dia tidak jijik. Sebaliknya, Yoongi justru suka. "Tidak, aku sudah terbiasa."
"Oke, terserahmu sajalah. Nikmati waktumu dengan potongan itu, aku mau berkeliling." Hoseok berjalan meninggalkan Yoongi dan mulai memperhatikan tiap petak rumput di sana untuk mencari benda-benda yang mungkin berkaitan dengan kasus mutilasi ini.
Sementara Yoongi kembali sibuk memotret dan memeriksa potongan tangan tersebut, Yoongi menarik keluar sebuah serat kain yang tersangkut di sela daging dari dalam potongan tangan itu. "Ini terlihat seperti bahan jeans."
Yoongi membungkus potongan tangan itu setelah memeriksanya dan memberinya label. Dia yakin sekali Seokjin akan mengomel saat dia diberikan potongan tangan ini. Seokjin tidak pernah suka pembunuhan dengan mutilasi karena baginya itu terlalu sadis.
Tunangan Kim Namjoon itu sangat menghargai kehidupan, hanya dia satu-satunya dokter forensik yang akan mendoakan tiap korban sebelum dia mulai mengautopsinya. Dan Yoongi sangat yakin bahwa setiap korban yang ditangani oleh Seokjin pasti akan merasa tentram dan damai karena didoakan dengan tulus olehnya.
Yoongi berdiri dan memperhatikan sekeliling setelah dia memberikan potongan tangan itu pada petugas koroner. Dan dia melihat cincin dengan lambang huruf Yunani tergeletak di tengah rumput, Yoongi mengambilnya dan memperhatikannya.
"Aku tidak menemukan petunjuk dan kita tidak memiliki saksi mata. Sekitar seratus mahasiswa berkeliaran di taman ini setiap jamnya tapi mereka tidak melihat ada orang aneh yang membuang kantung berisi potongan tangan itu ke semak-semak." Hoseok berujar seraya berdiri di dekat Yoongi.
"Siapa yang menemukan tangan itu?"
"Anjing penjaga milik satpam. Satpam itu berkata kalau anjingnya tiba-tiba saja ribut saat diajak berjalan melewati taman, dan saat dilepas, anjing itu pergi mengambil kantung tadi."
Yoongi mengangguk kemudian dia mengulurkan cincin yang dipegangnya ke Hoseok. "Apa ini berarti sesuatu untukmu?"
Hoseok mengambil cincin itu, "Ini terlihat seperti cincin ikatan persaudaraan. Tapi di Korea hal-hal semacam ikatan persaudaraan itu tidak umum, kan?"
Yoongi mengangguk, "Ya, dan kurasa cincin itu akan menjelaskan banyak hal."
Hoseok memberikan cincin itu kembali ke Yoongi, "Oke, sejauh ini yang kita miliki hanya dua potongan tangan dan cincin."
"Dan serat kain. Aku menemukannya tersangkut di sela daging dan tulang korban."
"Eew, hal menjijikkan lainnya."
Yoongi tertawa, "Kita masih harus mencari sisa potongan tubuh yang tersisa."
Hoseok mengangguk, "Ya, pekerjaan kita masih banyak."
To Be Continued
.
.
Hai!
Terima kasih banyak atas review kalian di chaptered story milikku ini. Ini masih gambaran awal kehidupan para tokoh, soal masa lalu dan masalah masing-masing akan terungkap seiring dengan banyaknya chapter.
Dan terima kasih karena kalian mau mengerti soal update cerita yang bisa cepat atau lambat.
.
.
.
Thanks
