THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Based on Stephenie Meyer's Twilight Saga.

.


.

76. Serigala Berbulu Domba

Monday,August 19, 2013

11:18 AM

.


.

Seth masih membeku setelah kemungkinan itu terkuak. Kierra melawan putrinya … dalam skema balas dendam yang absurd.

Apa Kierra sudah mengetahui ini? Jika belum, apa reaksinya setelah mengetahui hal ini? Akankah ia justru berbalik memihak para vampir? Suku Quileute telah menyakitinya dahulu, dan lantas menyakiti keturunannya… Tidakkah lebih mungkin Kierra akan balik menghantam suku Quileute?

Tapi Kierra membuat perjanjian dengan Sam untuk melindungi suku…

Perjanjian itu bisa kapan saja dianggap tidak valid. Jelas bahkan kawanan Jacob, kawanan resmi Quileute pun, masih menaruh kecurigaan… Setelah segala upaya kawanan asing untuk ikut melindungi suku selama ini, mereka masih saja dipandang sebagai ancaman. Lebih parah lagi, antara Korra dan Jacob ada semacam ketidaksukaan. Kapan saja mereka bisa bertarung. Kapan saja perselisihan pribadi di antara mereka bisa meluas…

Perang saudara.

Benar. Ancaman yang sesungguhnya datang dari dalam.

Semua ini tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Konflik segitiga ini harus segera diakhiri. Ia harus melakukan sesuatu.

Tapi apa?

Yang jelas kini ia harus menggaet Ariana ke sisinya. Hanya dengan itu ia bisa menemukan cara untuk mendamaikan semua pihak.

Kembali ia menatap sosok wanita itu. Matanya hitam pekat, dan bibirnya begitu pucat… Tentu saja. Ia habis menggunakan kekuatannya untuk memperbaiki diri, kan? Ditambah ia sudah beberapa hari ini ditahan dan disiksa. Pasti ia lapar.

"Umm, kau butuh makan, Ariana? Maaf, kami belum bisa melepaskanmu atau memberikan darah yang kauinginkan. Tapi mungkin beberapa rusa atau singa gunung cukup…"

Dirasakannya pandangan tajam melubangi punggungnya. Begitu berbalik, dilihatnya Kuroi dalam rupa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dengan tatapan membunuh.

Eh? Apa ada yang salah?

Tapi itu hanya sedetik, sebelum kemudian ia kembali menjadi Kuroi yang biasa.

"Saya mengerti. Saya akan mengawalnya ke kota, Kuriiwateru-sama…"

Kota?

"Umm, aku tidak menganggap cukup bijak untuk membawa Ariana keluar…"

"Baik. Kalau begitu saya akan menangkapkan satu atau dua manusia, dengan izin Anda tentu."

Manusia?

"Eh, anu… Kuroi… Aku tahu diet Ariana, tapi…"

"Maaf. Tapi saya tidak bisa membiarkan ia mengancam keselamatan hewan-hewan di sekitar sini."

Rahang Seth langsung jatuh. Hewan? Jadi ia menganggap hewan lebih berharga daripada manusia? Tentu saja… Jika menimbang betapa antipatinya Korra terhadap perburuan liar dan betapa ketatnya ia dengan urusan green-life-nya, seharusnya ia tak merasa aneh jika kawanannya pun sedikit banyak menerapkan gaya hidup yang sama. Tetapi untuk membawa sikap itu pada taraf seekstrem itu…

"Tidak perlu," didengarnya Ariana mendesis. "Aku lebih baik mati ketimbang harus kalian kasihani, Anjing…"

"Ariana," Seth mendesah lelah. "Entah apa yang ada di pikiranmu, tapi kami hanya ingin menunjukkan itikad baik..."

"Untuk apa?" bentaknya.

"Kami ingin masalah ini diselesaikan dengan damai. Jika kalian berjanji untuk tidak lagi memperlebar masalah dan menarik diri dari sini, kami akan melepaskanmu."

"Kami tidak akan pergi hingga tujuan kami tercapai!"

"Nah, itu agak sulit. Kuharap kau mau menimbang situasimu sekarang. Selama ini sudah banyak korban di pihakmu, kan? Aku tidak ingin mengatakan ini tapi mungkin kami masih lebih kuat daripada yang kauperkirakan… Kumohon. Kami tak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki yang sudah terjadi, tapi kami bisa memastikan hal yang sama takkan terulang…"

"Selama masih ada benih Black di dunia ini, selama itu pula dunia takkan pernah tersucikan… Mereka iblis, seharusnya kaulihat itu! Mereka akan menghancurkan segala yang mereka sentuh!"

Seth menarik napas panjang.

"Jika kau beranggapan bahwa ini semacam perang suci, kau harus melihat lebih dalam… Kau juga Black, putrimu juga… Dan Billy… Jacob… Mereka keluargamu. Ingatlah masa-masa ketika kau pernah bahagia bersama mereka."

"Semua sudah hancur…"

"Bukan berarti tak bisa diperbaiki, Ariana… Pasti ada jalan. Pasti ada yang bisa kita lakukan…"

"Kuriiwateru-sama," mendadak Kuroi memanggilnya dari meja rias. Seth mengalihkan pandangannya dari si vampir. Nada Kuroi tetap datar, tapi Kuroi tak biasanya menyela jika tidak ada sesuatu yang penting. Ia tak langsung bicara, tampak agak larut dengan pikirannya sendiri sebelum berputar menghadap Seth. "Mungkin Anda perlu kembali," katanya.

"Ada apa?"

"Korra-chan dipojokkan… Alfa Buraku-san menganggap Korra sengaja ditanamkan untuk memecah belah kawanan… Menyulut perang antara Anda dan Korin-kun…"

Seth membelalak. Sesuatu terjadi sepeninggalnya… Bagaimana mungkin? Ia mengira ia meninggalkan Korra di tempat aman…

"Ta, tapi Korra bisa mengatasinya, kan?"mengapa bahkan ia perlu menanyakan itu? Di sana ada Kierra… Dia pasti bisa mengatasi ini.

Lantas mengapa ada perasaan tidak enak di dadanya? Seakan ada alarm yang terus berdering…

"Tidak semudah itu. Alfa Buraku-san memaksanya berubah."

Ia meremang. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Benar, memang sempat muncul di pikirannya, jika ia bisa menunjukkan sisi agresi Korra, ia bisa menggiring Jacob pada kesimpulan bahwa adiknya sendirilah serigala putih. Mungkin dengan begitu, Jacob akan menurunkan kecurigaannya pada kawanan asing. Lantas perdamaian antarkawanan bisa lebih mudah tercapai.

Tapi lantas ia menimbang apa jadinya jika informasi itu disodokkan pada Jacob di saat seperti ini. Selama beratus tahun, Kierra dipandang sebagai musuh. Sekian kali ia merasuki raga-raga putri Quileute, entah sudah berapa kali ia menghadapi pemberontakan. Sebagian besar justru dilakukan oleh keluarga putri-putri yang ia rasuki. Apa ada jaminan Jacob takkan menganggap Korra sebagai iblis, apalagi sudah jelas hubungan mereka memang tidak terlalu baik? Bahkan jika Jacob secara ajaib sudah mengembangkan rasa kasih sayang pada adiknya, apa dia takkan justru menganggap raga itu bukan Korra, Korra telah mati bahkan sebelum menginjak La Push, dan memutuskan untuk membalas dendam? Menghancurkan Kierra sebelum ia merasuki gadis lain?

Jadi ia menarik kembali rencananya, menimpakan semua kesalahan padanya. Berharap Jacob masih menimbang bahwa Korra bukan hanya tawanan, melainkan juga jaminan gencetan senjata tak hanya antara Jacob dengan kawanan asing, tetapi juga dengannya. Yang artinya, jika Korra dilukai, walau mungkin kawanan asing tak akan menyerang, ialah yang akan menuntut balas…

Tapi apa yang terjadi? Jacob tak bisa mengendalikan kecurigaannya dan menekan Korra?

Atau malah, Kierra sendiri yang sengaja menyulut api amarah Jacob. Menginginkan pertarungan antar-Alfa… Berupaya mengambil alih kawanan…

Tidak. Ia pasti tidak sebodoh itu, kan? Korra masih lemah. Ia takkan bisa menopang Kierra…

"Tapi seharusnya Jacob menelan alasan bahwa Korra tidak bisa berubah sekarang… Dan bukankah Kierra sudah menegaskan gencetan senjata? Seharusnya Korra aman di sana…"

"Alfa Buraku-san merasakan agresi-Alfa yang pekat. Argumen yang ia lontarkan tidak logis, tapi tak ada yang bisa membantahnya karena ia terus memaksakan Titah. Saya rasa agak sulit meyakinkannya jika sudah menyangkut insting."

"Tapi di sana ada Collin, kan?" Detik ia mengucapkan nama itu, seketika juga ada perasaan aneh yang mendadak menyergap. Bayangan Korra … mencium Collin… Ia menggelengkan kepala keras-keras, menghalau bayangan itu. "Collin pasti membela Korra, kan? Ia tak mungkin membiarkan Korra disakiti..."

"Korin-kun hanya diam…"

"Apa?"

"Korra-chan merasa Korin-kun sengaja membiarkan…"

Collin ingin identitas Korra terungkap! Itu sangat tidak-Collin! Apa yang terjadi dengannya?

Tapi apa akibatnya jika Korra sampai berubah? Menimbang sifat agresi Jacob, apa saja bisa terjadi…

Pertempuran…

Anaknya…

"Huh, sudah kukatakan…," bisik Ariana di belakangnya. "Semua Black adalah iblis berkedok manusia…"

Oh, tidak…

Seth tak membuang waktu lagi. Ia segera berbalik keluar pondok, menembus pepohonan. Ia bahkan tak peduli apa reaksi ibu Korra saat tahu putrinya dalam bahaya. Menimbang bahwa ia sudah menganggap Korra mati, wanita itu bahkan mungkin tidak peduli.

.


.

Hujan musim panas mulai turun mengguyur La Push. Deru angin menampar-nampar atap seng rumah Black, menimbulkan suara mengerikan bak geraman hantu. Mendung pekat yang menudungi langit di luar sana, diikuti bunyi petir sambar-menyambar, menambah atmosfer serba kelam. Seakan mereka masuk ke dunia antah berantah tempat mimpi buruk bersemayam.

Apa yang terjadi di luar tak ubahnya yang ada di dalam. Di ruang tengah keluarga Black, satu mimpi buruk tengah mengambil wujud. Iblis yang merasuk ke dalam jiwa seorang Jacob Black…

"Kumohon, Kak…," Korra kembali menangis, bersimpuh dan melekatkan kepalanya begitu rapat dengan lantai, bersujud di kaki sang Alfa. "Apa yang kaukatakan? Aku bukan Kierra…"

Bukan rasa kasihan yang muncul di benak Jacob, melainkan kebencian. Berapa kali sudah ia melihat sosok menyedihkan ini? Berapa kali pula ia jatuh ke dalam jerat Korra? Untuk kemudian terkhianati? Ia takkan membiarkan itu terjadi lagi kini.

"Bangun!" serunya. "Apa kau tidak punya harga diri, hah? Atau kau merasa kau bisa menipuku lagi dengan akting picisanmu itu? Strategi apa yang kaumainkan?"

"Aku tidak memainkan strategi apapun," Korra menggeleng dengan air mata berlinang. "Aku tahu kau membenciku sejak awal, Jake… Kau mungkin menganggapku setan karena aku anak sundal. Kau mungkin merasa terancam karena mengira aku iblis yang hendak merebut kedudukanmu dan cinta Dad. Tapi itu bukan berarti aku Kierra… Kumohon, percayalah padaku…"

"Kau tidak menyediakan bukti apapun yang bisa membuatku percaya!"

"Bukti apa?" lolong Korra. "Aku tidak bisa berubah… Kau mau aku memaksakan diri berubah dan kehilangan bayiku? Apa semua tuduhanmu adalah karena kau berpikir aku adalah aib bagi keluarga, bagi suku? Begitu? Kau ingin membunuhku? Kau ingin membunuh anakku? Kau malu dengan keberadaanku? Aku akan pergi, Jake, jika itu yang kauinginkan…"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Kierra!" bentak Jacob. "Kau tahu ini mengenai apa! Ini bukan masalah keluarga! Ini masalah suku! Jangan berusaha memanipulasi keadaan!"

Korra tidak menjawab lagi, hanya menangis terseguk-seguk. Begitu benci rasanya Jacob pada gadis itu, hingga ia ingin menendangnya dan menghajarnya sampai mampus. Tapi apa gunanya itu, jika ia tidak mendapatkan kebenaran? Mungkin saja Kierra sengaja memancingnya untuk melakukan tindak kekerasan di hadapan anggota kawanannya sendiri, membuat mereka menilai betapa tidak kompetennya ia sebagai pemimpin dan mengundang kudeta. Oh, Kierra bahkan tak perlu mengotori tangannya sendiri. Jika Jacob sampai dikudeta, entah ujung-ujungnya ia tewas atau digiring ke pengadilan suku dan dibuang, setan manipulatif itu bisa diangkat menjadi Alfa. Bisa jadi juga mereka mengangkat Collin atau Seth menjadi Alfa boneka sementara ia sendiri mengendalikan di balik layar sebagai pasangan Alfa. Toh sama saja baginya. Baik Collin maupun Seth sudah ada di bawah cengkeramannya.

"Jake," bisik Quil dengan suara agak bergetar. "Sudahi ini… Aku tahu kau frustrasi, tapi kau mulai menilai keadaan dengan sangat bias dan tidak rasional…"

Ha! Lihat! Itu buktinya! Gadis ini telah sukses memanipulasi keadaan, menempatkan Jacob sebagai penjahat… Ia yakin tidak hanya Quil yang menganggap begitu, tapi juga yang lain…

"Buka matamu, Quil!" serunya. "Kau sudah mulai teracuni olehnya!"

"Quil benar, Jake…," kali ini Embry yang maju, meletakkan tangannya di pundak Jacob. "Kau harus menimbang ulang… Tuduhanmu pada Korra banyak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan…"

"Tidak bisa dipertanggungjawabkan, heh?!" seru Jacob. "Kau mau bukti fisik, kalau begitu? Baik!" ia mengetatkan rahang lantas kembali berpaling pada adiknya. "Korra! Aku tak mau dengar alasanmu lagi! Keluar dan berubah!" Begitu berdeterminasi ia dengan kata-katanya, hingga tak diniatkannya, bisa didengarnya gaung Alfa dalam suaranya.

Korra mengangkat kepalanya dengan mata membelalak. "Ta, tapi anakku…"cericitnya.

"Itu sudah jelas bohong! Baru kemarin kau bertemu denganku di hutan!"

"Luruskan kepalamu, Jake!" desis Embry. "Dia belum tentu si Putih…"

"Oh, begitu? Tapi coba pikir ini, Embry. Bagaimana caranya dia bertarung saat menyelamatkan Cole jika tidak berubah? Entah sebenarnya kandungannya tak mempengaruhi wujud serigalanya, atau memang ia sengaja mereka-reka urusan anak itu untuk menjerat Seth … yang jelas sudah pasti ia bisa berubah!" Di bawah tatapan nanar Embry, ia kembali beralih pada Korra. "Lekas berubah atau aku akan memaksamu!"

Korra tak bisa menyusun argumen atau bantahan apapun. Tubuhnya gemetar. Bukan marah, tapi ketakutan. Seakan berhadapan dengan setan neraka…

Jacob tak tahan lagi. Dalam satu gerakan ia menyambar tengkuk Korra, menyeretnya ke pintu keluar.

"Jacob! Kumohon! Sudah!" teriak Embry, menahan sang Alfa yang kesetanan, sementara Quil menyambar tangan Jacob, berusaha melepaskannya dari Korra yang berteriak kesakitan dan meronta-ronta di bawah cengkeraman sang Alfa.

"Jangan ikut campur!" bentak Jacob dengan gaung Alfa nan berat, yang seketika mengikat keduanya. "Itu berlaku pada kalian semua!" serunya dengan mata menyala, begitu disadarinya anggota kawanan yang lain juga hendak melakukan hal yang sama. "Aku akan menunjukkan pada kalian wujud asli iblis!"

"Am … pun, Kak…," rintih Korra dengan suara tercekik tatkala cengkeraman Jacob di tengkuknya memblokade saluran napasnya, tapi Jacob tak peduli. Tak peduli juga kala ia menyeret tubuh ringkih gadis itu melintasi beranda, lantas melemparnya begitu saja ke halaman yang terguyur hujan deras. Tubuh itu tersuruk menghantam tanah yang becek. Lumpur mengotori pakaian dan wajahnya.

"Jangan sok lemah!" bentak Jacob tatkala dilihatnya sang adik susah payah berusaha bangkit, dan berkali-kali kembali jatuh. "Berubah sekarang atau aku terpaksa menyerangmu!"

Entah bagaimana perasaan Jacob kala menatap sosok itu. Tubuh adiknya yang basah kuyup tampak begitu rapuh… Gemetar bak anak anjing di bawah guyuran hujan… Ia ingat Korra selalu memakai pakaian tebal dan rapat, selalu mengeluh kedinginan. Dan mata itu… Mata itu tampak begitu … ketakutan … penuh kengerian. Bahkan saat itu dirasakannya dorongan teramat sangat untuk berlari ke bawah hujan, menggendong Korra kembali masuk, menyelimutinya dan memeluknya. Meminta maaf, mengusap air matanya, menenangkannya, memberinya kehangatan. Menjanjikannya perlindungan… Tapi tidak. Ia tidak bisa. Ia tidak boleh mundur di titik ini. Ini pertaruhan. Hanya dengan ini ia bisa tahu kebenaran.

Dikepalkannya tangannya, menyingkirkan jauh-jauh rasa kasihan apapun yang masih tersisa.

"Aku hitung sampai tiga. Jika kau tidak berubah juga, aku tak ragu menyerangmu. 1 … 2…"

Justru saat itu terdengar bising motor di antara deru hujan, dan lantas tubuh mobil putih yang sudah sangat ia kenal membelah pekarangan. Perhatian seisi kawanan teralihkan ketika pintu mobil itu menjeblak terbuka, dan satu sosok berlari melintasi pekarangan seraya berteriak panik, langsung menuju sosok Korra. Membimbingnya bangkit.

"Kau tidak apa-apa, Korra?" bisiknya. Korra tidak menjawab, hanya menggeleng lemah. Seketika kepala pemuda itu langsung berpaling, menyemburkan makian. "Brengsek kau, Jacob Black! Apa-apaan kau?!"

Cih. Si pangeran berkuda putih datang sebagai penyelamat rupanya. Apa dia tidak sadar bukan tuan putrilah yang ia selamatkan, melainkan penyihir bermuka dua? Sudah jelas ia berada dalam pengaruh teluh hitam.

"Buka matamu, Seth!" teriak Jacob meningkahi derasnya hujan. "Ia musuh!"

"Ia adikmu! Dan ia telah menyelamatkan nyawamu berkali-kali!"

"Ia Kierra! Aku tak berhutang nyawa pada iblis!"

"Sadarlah, Jake! Kau tidak berpikir lurus!" Seth balas berteriak. Tak hanya Seth, kala diedarkan pandangannya ke sekitar, dilihatnya kawanannya menatapnya dengan mata nanar, sebagian menggeleng, dan itu membangkitkan kemarahannya. Mengapa tidak ada satu pun yang mempercayainya?

Mereka semua telah jatuh ke dalam teluh penyihir!

"Kalian yang tidak melihat kenyataan!" Jacob nyaris histeris. "Kau, Korra!" ia melangkah menuruni tangga beranda, menerjunkan dirinya ke tengah hujan. "Apa kaupikir karena kau menjadikan Seth sebagai tameng, maka aku takkan berani menyerangmu?"

Serta-merta Seth menggeram. Ia tampak meneguhkan diri, melempar Korra ke balik punggungnya dengan sikap protektif. "Kau langkahi dulu mayatku kalau kau berani menyentuh Korra!" ancamnya.

"Oh, kau berani?"

"Ia pasanganku, Jake…"

"Ia belum menikah denganmu! Dan aku menentangnya!" bentak Jacob. "Oh brengsek, bahkan belum tentu ia benar-benar mengandung anakmu!"

"Mengandung anakku atau tidak, ia tetap pasanganku! Sudah tugasku untuk melindungi keluargaku!"

Seth yang menyebut kata 'keluarga' membuat Jacob meradang. Apa ia mau mengatakan bahwa Jacob tidak layak disebut 'keluarga' karena justru menginginkan penderitaan pada adiknya sendiri?

"Kewajibanku adalah melindungi kawanan, termasuk kau," tegas Jacob. "Dan aku akan menghancurkan apapun ancaman bagi suku ini, bahkan walau itu mengambil wujud adikku sendiri!"

"Kau gila, Jacob!"

"Sudah, Seth…," Korra menengahi dengan suara bergetar. "Aku bisa mengerti perasaan Jake. Kami terlalu banyak berahasia, wajar jika ia salah paham… Dia memang butuh bukti…"

"Bukti?" rasa takut jelas tergambar di mata Seth. "Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berubah, Korra… Kumohon jangan lakukan itu…"

"Aku bisa bertahan…"

"Korra!"

Korra tidak menggubrisnya. Seiris senyum pilu tampak di wajah gadis itu tatkala ia melepaskan dirinya dari Seth, bergerak menjauh dengan langkah lemas. Seringai penuh kepuasan tampak di wajah Jacob, sementara seisi kawanan disaputi perasaan campur aduk menunggu detik-detik berlalu. Korra melepaskan cappuchon yang dipakainya dan menutup mata, berkonsentrasi mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada padanya.

Apa yang akan mereka dapati? Serigala hitam? Serigala putih? Apa yang akan terjadi nanti? Akankah Jacob langsung menerjunkan diri dalam pertempuran dengan adiknya sendiri, memperebutkan otoritas? Jika itu terjadi, apa reaksi Seth? Akankah ia menyerang sang Alfa? Di mana kawanan harus berdiri? Siapa yang akan menang? Bagaimana nasib kawanan?

Tubuh Korra bergetar hebat, dan seketika tubuh itu meledak.

Seisi kawanan menahan napas.

.

Hujan deras membutakan segala, menenggelamkan La Push dalam tudung air tebal yang menutupi pandangan atas apapun di sekitar mereka.

Tapi di sana, mereka bisa melihatnya. Sosok itu menjelma di pekarangan rumah Black. Sosok serigala kecil, mungil, sangat rapuh…

Ia bahkan tidak bisa mempertahankan wujud serigalanya lebih dari semenit. Di bawah keterpanaan seisi kawanan, dan Jacob yang sudah kehilangan tak hanya kata-kata, tapi juga seluruh akalnya, sosok itu tumbang. Tak perlu cakar Jacob, tak perlu serangan apapun. Tubuh mungil itu jatuh tersuruk, diiringi lesatan tubuh Seth yang segera menangkapnya sebelum menghantam bumi.

Seseorang menyingkap kerumunan, berlari melesat mendekati sosok Seth dan Korra yang terpuruk di tanah. Segera menyelimuti tubuh telanjang Korra tanpa berkata apapun.

Seth berpaling pada Jacob yang membeku. "Sudah cukup, Alfa?!" jeritnya. "Apa kau sudah puas?!"

Jacob tak bisa menjawab. Seluruh kosakata yang ia punya lenyap.

Tidak mungkin.

Apa yang baru saja ia lihat?

"Me … rah…?" bisiknya tak percaya.

Mustahil.

Itu bukan serigala putih? Itu bahkan bukan serigala hitam!

Bagaimana bisa?

Ia tidak pernah melihatnya sebelumnya… Kawanan itu terdiri atas tiga ekor serigala, kan? Putih, hitam, emas… Ditambah Noah, serigala belang coklat-abu-abu. Lantas siapa tadi itu?

Korra adalah Black. Tentu saja ia memiliki warna bulu sepertinya, seperti Collin… Sosok kecil dengan bulu perunggu kemerahan di punggung, bergradasi menuju warna lebih muda di sisi-sisi tubuhnya… Tapi bukankah jika ia dirasuki Kierra, ia akan mengambil wujud fisik serigala putih? Dengan segala kemegahannya, dengan segala keanggunan dan kewibawaannya…

Bahkan aura yang ia rasakan dari sosok tadi sama sekali bukan seperti sosok yang ia pernah temui di tepi sungai.

Apakah Korra memang bukan Kierra?

Benarkah kata Embry, ia adalah serigala lain? Serigala kelima?

Bagaimana … bisa…?

Rasanya segala yang ia ketahui hancur seketika dalam kenyataan itu. Ia tak bisa menambatkan perhatiannya pada apapun lagi. Ia tak memperhatikan ketika Seth bangkit seraya membopong tubuh Korra yang berselimut kain putih yang entah dibawa siapa tadi. Ia tak memperhatikan ketika kawanan mendengungkan kata-kata tak jelas, menyambut tubuh Korra yang kehilangan kesadaran. Tidak juga ketika terjadi kehebohan di dalam, diiringi suara jeritan pilu menyayat angkasa, dan kemudian sesuatu, atau seseorang, meluncur keluar dengan napas memburu.

Detik berikutnya, yang ia tahu satu hantaman bersarang di rahangnya.

Jacob bahkan tidak punya waktu untuk bertahan atau mengelak. Ia jatuh terjerembab ke tanah. Rasa sakit di rahangnya terasa berdenyut-denyut. Telinganya berdenging keras, menumpulkan indera pendengarannya.

Sosok Seth yang murka tampak di ruangan matanya, dipiting dengan susah payah oleh dua atau tiga sosok lain. Ia tampak berontak, berteriak-teriak bak orang kesetanan. Matanya menyala penuh kemarahan. Tak pernah ia melihat Seth semarah itu.

Apa yang terjadi? Apa yang ia teriakkan?

Ketika dengingan itu pudar, samar-samar bisa didengarnya sumpah serapah itu.

"… Kejam! Iblis! Lepaskan aku, Quil! Aku harus membuat perhitungan!"

Perhitungan?

"Seth, tenang, kumohon…"

"Lepaskan, Embry! Dia pembunuh! Bajingan keji! Ia tidak layak jadi Alfa!"

"Pem … bunuh?"

Apa, apa yang terjadi?

"Benar rupanya kata Ariana, kalian para Black adalah iblis di balik cangkang manusia! Tega kaulakukan itu pada adikmu sendiri, Jacob! Apa salah Korra?!"

Kata-kata itu menghantamnya. Pembunuh… Adik…

Korra…

Kembali diingatnya bayangan itu. Tubuh serigala kecil yang tak sampai semenit berdiri, menatapnya dengan pandangan sedih, sebelum kemudian bergerak limbung dan jatuh tersuruk ke tanah. Sosok dalam balutan kain putih di gendongan Seth… Tubuh yang begitu tanpa daya… Mata yang terpejam kala melewatinya… Darah yang merembes … menetes dari ujung-ujung kaki Korra yang menjuntai lemas…

Astaga. Apa yang terjadi dengan Korra?

"Kau membunuh anakku!"

Apa ini? Deja-vu? Mimpi? Satu dari rangkaian imajinasi yang memproyeksikan ketakutan terdalamnya?

Tapi tidak. Kali ini semua itu nyata.

Lingkup pepohonan yang mengurung mereka menggemakan raungan menyayat Seth. Tubuh itu merosot dari pitingan Embry dan Quil, jatuh terduduk di tanah becek. Bahu pemuda itu bergetar, isak tertahan terdengar darinya di tengah kata-kata makian yang meluncur, sementara ia melampiaskan kemarahannya dengan berulang kali menghantam tanah.

Jacob bangkit, namun serasa seluruh energi kehidupan disedot darinya. Berulang kali ia kembali terjerembab, terpeleset. Dan tak ada satu pun kawanan yang sudi membantunya. Hingga akhirnya ia bisa menyeimbangkan diri di antara kedua kakinya, dan berjalan menjauh. Limbung, lunglai.

Sekilas dilihatnya sosok Embry dan Quil yang mengekor gerakannya. Sorot apa yang ada di mata mereka? Kebencian? Jijik? Begitukah? Kawanannya sendiri mengutuknya?

Kata-kata Seth tadi terus bergaung dalam kepalanya.

Pembunuh…

Pembunuh…

Pembunuh…

Kenapa semua bergerak seperti ini? Ia hanya menunaikan kewajibannya… Ia hanya ingin menemukan kebenaran… Dan ia sudah menemukan separuh kebenaran itu… Semua asumsinya didasarkan pada bukti yang tak hanya dikemukakan fakta di lapangan, tetapi juga hati dan instingnya. Lantas apa yang salah? Bagaimana bisa? Mengapa?

Kebenaran selalu hanya ada satu, kan?

Mengapa kenyataan mengkhianatinya?

Jacob bergerak sempoyongan menuruti ke mana kakinya membawanya. Ia sudah tidak tahu apa-apa lagi.

.


.

Berapa lama waktu berlalu? Ia sudah tak bisa menghitung…

Di sana ia, duduk di sofa di ruang keluarga rumah Cullen. Hanya bisa mendengar detik-detik jam dinding bergerak sementara bayangan demi bayangan melintas di sekitarnya. Hatinya tumpul. Otaknya tumpul.

Sekaleng soda tampak melambai di depannya dan ia menengadah. Wajah Embry tampak di hadapannya, dengan senyum yang jauh dari bahagia. Kecut. Masam. Ia bahkan tak bisa memaksakan senyum hadir di wajahnya kala menerima kaleng itu dan membukanya. Buih soda membasahi tangannya dan ia tak peduli. Ia tak bisa lagi peduli akan apapun.

Embry mengambil tempat di sisinya, menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.

"Tenang, Seth… Ia akan pulih…"

Ia berusaha menggerakkan bibirnya untuk menjawab, tetapi tak bisa. Lidahnya kelu. Ia bahkan tidak merasa bisa bersuara lagi.

"Aku tahu ini berat bagimu. Tapi segalanya akan baik-baik saja…"

Benarkah segalanya akan baik-baik saja? Tidak, tidak mungkin.

Setelah insiden di rumah Black itu, kawanan segera membawa Korra ke rumah Cullen. Adam dan Caleb berjuang keras menyelamatkan Korra, tetapi mereka tak bisa menyelamatkan kandungannya. Pendarahan Korra terlalu parah. Ia sekarat dalam tiap detik waktu berjalan. Akhirnya mereka memutuskan tindak operasi untuk mengeluarkan janin itu. Pengorbanan harus dilakukan. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Korra.

Kenyataan tentang betapa lemah kandungan Korra menghentaknya lebih daripada yang seharusnya. Ia tahu kondisi tubuh Korra. Ia tahu tubuh itu tidak sekuat apa yang ia tampilkan di luar. Astaga. Ada begitu banyak bukti yang menjurus ke arah itu. Penyembuhan Korra sesudah ia menderita luka parah karena serangan Ariana ketika berusaha menyelamatkan Collin begitu lambat… Terlalu lambat untuk ukuran serigala. Dan suhu tubuhnya begitu dingin, lebih dingin daripada biasanya…

Dari apa yang ia tangkap dari ucapan Sam, kelihatannya Korra memang membutuhkan energi sangat besar untuk mempertahankan wujud Kierra. Tapi Kierra memaksakan diri mengambil wujud itu sekali lagi untuk bicara dengan Jacob, mengatakan bahwa itu tindakan yang perlu untuk mengamankan Korra sekaligus memperbaiki hubungan dengan kawanan Jacob. Ketika Kierra mengatakan padanya bahwa mungkin itu adalah kesempatan terakhirnya untuk berubah, ia sudah tahu ada yang salah. Ia memprotes keras, mengatakan berbagai pertimbangan, alternatif lain yang lebih aman. Bagaimanapun Kierra bisa mengadakan koneksi Alfa tanpa berubah, sehingga seharusnya ia tak perlu menemui Jacob secara langsung. Tapi Kierra sama sekali tidak menggubrisnya, mengemukakan argumen tingkat dua yang kurang meyakinkan soal Jacob akan merasa tersinggung dan kurang percaya jika ia tidak menampakkan diri dalam perundingan gencetan sejata dan sebagainya. Dan apalah yang bisa ia lakukan untuk menentang Kierra—oh, bahkan ia tak bisa menentang Korra! Maka ia terpaksa mendukung rencana itu, membawa Korra keluar dari rumah Black, berpura-pura pergi ke rumah Cullen untuk menunggui Collin, padahal sesungguhnya mencuri kesempatan agar Korra bisa mengambil wujud Kierra.

Dari tindakan aneh Korra memaksakan menempatkan dirinya di rumah Black dengan status tawanan, seharusnya ia tahu ada yang salah. Tapi apapun itu, ia tak pernah berharap kejadiannya takkan seperti ini. Ya, Korra bilang perubahan selanjutnya mungkin akan melukai dirinya begitu parah hingga mungkin akan kehilangan bayinya, tapi entah mengapa ada satu bagian dari dirinya yang berharap itu tidak sepenuhnya benar. Ada bagian dari dirinya yang percaya, atau berusaha percaya, bahwa Korra hanya mencari-cari alasan. Bahwa Korra sesungguhnya jauh lebih kuat dari apa yang ia akui. Bahwa ia mungkin mengeksplotasi kelemahannya seperti biasa, sementara merencanakan sesuatu yang lain…

Tapi tidak.

Aneh sekali ia menggantungkan harapannya justru pada sisi manipulatif Korra. Karena di sana, kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang ia sangka. Korra memang benar-benar lemah. Satu perubahan saja, dan bahkan ia tak mengambil wujud Kierra, bisa sampai melukainya separah itu…

Sejujurnya ia ingin marah. Pada Korra. Pada Jacob. Pada Kierra. Mengapa Korra harus memancing amarah Jacob? Mengapa Jacob harus sereaktif itu? Mengapa Kierra tidak menyelesaikan segalanya dengan cara yang lebih bijak? Tapi ia lebih marah pada dirinya sendiri. Mengapa ia tak bisa membaca situasi lebih awal?

Ia seharusnya bisa mencegah ini. Siapapun tahu situasi pasti bergerak ke arah sana. Dengan adanya Korra yang jelas-jelas mencari masalah, sudah pasti Jacob yang sejak awal tidak mempercayai adiknya sepenuhnya akan bereaksi seperti itu. Jadi mengapa ia harus meninggalkan Korra? Mengapa ia termakan kecemburuannya melihat Korra dan Collin bersama, dan malah pergi?

Ia seharusnya melindungi Korra, kan? Ia sudah berjanji akan melindungi Korra…

Segalanya sudah terlambat sekarang.

.

Setelah prosedur operasi selama sekitar tiga jam, akhirnya Adam dan Caleb berhasil juga melakukan tindakan pengguguran yang baru pertama kali mereka lakukan. Prosedur yang berat, menurut Adam. Bahkan walaupun Carlisle seperti biasa membantu dari jauh, tetap saja itu tak mudah. Selama ini pengalaman mereka selalu berhubungan dengan serigala, yang memiliki kemampuan penyembuhan lebih daripada manusia normal. Tetapi Korra berbeda, sangat. Penyembuhannya bahkan lebih lambat daripada manusia biasa. Setiap sayatan yang dilakukan Adam dan Caleb selalu berujung pada pelebaran luka, lebih daripada yang seharusnya. Ia membutuhkan begitu banyak jahitan, begitu banyak darah…

Seth memaksakan diri melihat untuk terakhir kalinya janin yang semula tumbuh di rahim Korra. Janin itu bahkan tak berwujud. Tiga sosok kecil, hanya sebesar telapak tangan. Kepala dan tubuh dengan bakal tangan dan bakal kaki yang belum terbentuk sempurna. Jenis kelamin mereka belum diketahui. Ia bahkan tak tega melihat ketika Caleb membungkus janin-janin itu dengan kain putih. Entah apa yang dilakukan Caleb sesudahnya. Membakarnya? Menguburkannya? Ia bahkan tidak ingin tahu.

Aneh. Belum lama ia begitu membenci janin-janin itu. Belum lama ia menginginkan mereka mati. Tapi kini, ketika itu benar-benar terjadi, dirasanya semestanya hancur. Ia sadari ia mencintai mereka, anak-anaknya. Darah dagingnya.

Bayangan itu datang tanpa diundang. Ia dan Korra, di muka sebuah rumah kecil di tengah hutan. Tersenyum menatap tiga anak yang berlarian di halaman. Dua anak laki-laki dan satu perempuan. Dengan rambut hitam dan kulit tembaga. Wajah yang serupa. Mata berbentuk almond dan bibir tebal yang diwarisi dari Korra, serta hidung lurus di wajah dengan rahang terpahat lembut yang diwarisi darinya. Saling berkejaran dan mengusili satu sama lain. Ia dan Korra saling berpelukan, mengawasi mereka dengan perasaan bangga.

Bisa dilihatnya semua adegan itu. Hari-hari ketika ia mengajari mereka mengenal kata-kata. Ketika ia mengantar mereka pada hari pertama memasuki sekolah. Hari ketika mereka berlima berpiknik di tepi pantai. Ketika mereka bermain air atau menerbangkan layang-layang. Ketika ia mengajari mereka berenang. Ketika ia mengajari mereka melompat dari tebing. Hari ketika matahari bersinar cerah dan ia mengajari mereka bersepeda. Hari ketika mereka membuat pesta barbeque kecil di halaman. Hari mereka beranjak remaja. Hari mereka berdandan untuk pergi ke pesta prom pertama mereka. Hari pertama mereka memperkenalkan pacar mereka. Hari mereka lulus dari sekolah. Hari mereka menikah. Hari mereka meninggalkan rumah. Hari mereka membawa anak-anak mereka ke rumah untuk berlibur. Perasaan bahagia yang melingkupi ketika anak-anak kecil yang mereka bawa memanggil ia dan Korra dengan sebutan Granpa dan Granma.

Bayangan yang tak pernah mungkin akan terwujud.

Seth merasa pandangannya buram.

.

"Seth?" dirasakannya sentuhan itu di bahunya. Ia menoleh ke sisi. Embry. Tentu saja. Sejak tadi Embry ada di sana. Ia begitu larut dalam pikirannya hingga melupakan keberadaan pemuda itu.

Seth menarik napas berat, berusaha menegakkan diri. Mengucek matanya yang basah.

"Ya?" ucapnya lirih.

"Ehm, kau lapar? Aku bisa membuatkan makanan kalau kau mau…"

Lapar? Ia sudah tidak ingin apapun lagi kini…

"Tidak, terima kasih…"

"Aku tahu ini sulit, tapi kau harus tegar, oke? Korra membutuhkanmu. Kawanan membutuhkanmu."

Huh? Kawanan?

Siapa? Sekumpulan orang yang diam saja saat Alfa mereka yang separuh gila itu menyiksa kekasihnya? Persetan mereka.

"Aku tidak apa-apa, Em. Nanti aku akan makan kalau aku lapar, oke?"

Embry tersenyum kecut. "Kautahu, Seth… Umm, aku tak ingin meninggalkanmu di saat seperti ini. Tapi … eh, Dewan Suku memanggilku, jadi…"

Oh, Dewan Suku? Mau apa mereka?

Apa ia perlu peduli? Bahkan tahu Korra begini pun, ayahnya sama sekali tidak menampakkan batang hidung… Ia kira mereka bersekutu dengan Kierra. Ia kira mereka setidaknya peduli…

Masa bodoh. Itu bukan urusan dia kini.

"Pergilah, Em..."

"Kau tak apa ditinggal sendiri?"

"Tidak apa. Ada Adam dan Caleb… Sebentar lagi juga Korra sadar. Kuharap."

Embry menampakkan wajah prihatin, tapi lantas ia menyunggingkan senyum. Menepuk bahu Seth sekali lagi, ia pun pergi.

Menghela napas berat, Seth berjalan menaiki tangga menuju kamar tempat Korra terbaring. Kamar itu semula kamar Carlisle dan Esme, Adam menjadikannya ruang perawatan karena kamar itulah yang paling dekat aksesnya dengan ruang penyimpanan peralatan dan obat-obatan. Adam ada di sana kala ia membuka pintu, masih sibuk melakukan serangkaian prosedur pasca-operasi. Pemuda itu mengangkat kepala ketika menyadari kedatangan Seth, tersenyum mengizinkan Seth masuk.

Seth memberanikan diri mendekat. Sosok Korra terbaring membujur di atas ranjang king-size Carlisle. Ia masih belum sadarkan diri. Tubuhnya terhubung dengan begitu banyak selang dan kabel. Infus, transfusi darah, kateter, masker oksigen … bahkan alat monitor denyut jantung. Mesin itu memperdengarkan bunyi bip-bip lambat, sangat lambat…

"Ia akan segera membaik…," ujar Adam menenangkan, melihat tampang kuyu Seth. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kemampuan penyembuhan alamiahnya, mungkin memang kehamilannya menahan mekanisme tubuhnya untuk bekerja seperti seharusnya… Tapi dengan keadaannya kini, kuharap kekuatannya segera pulih…"

Jadi Adam mengira kemampuan serigala Korra menurun karena ia mengandung? Meski Seth tahu kenyataan yang sebenarnya jauh lebih mengerikan, ia tak merasa perlu mengoreksinya.

"Tapi…," Adam menggigit bibir, terdengar agak ragu.

"Apa?"

"Umm, bisa kita bicara di luar?"

Apapun itu, kedengarannya serius. Seth mengangguk, mengikuti Adam keluar kamar. Begitu Adam menutup pintu kamar, ia tak menunggu lagi untuk mencecar.

"Ada apa?"

"Umm, aku tak yakin untuk mengatakannya, tapi…"

"Kenapa?"

"Kau tahu, saat operasi… Kami menemukan banyak hal aneh."

"Hal aneh?"

"Tubuh Korra bekerja berkebalikan dengan mekanisme tubuh standar serigala, kau tahu. Ia tidak membakar habis morfin, lukanya melebar terus…"

"Kau sudah mengatakan itu ada hubungannya dengan kehamilannya…"

"Ya, tapi aku tak yakin. Beberapa jaringannya menunjukkan tanda-tanda degradasi, kau tahu? Kami sudah mengambil beberapa sampel dan mengirimkannya pada Edward, memintanya menganalisis… Kuharap hasilnya akan datang dalam beberapa hari ini. Tapi…"

"Ada apa lagi? Katakan."

"Uhm, kuharap kau bisa … eh, bersiap-siap…"

"Bersiap-siap?"

"Aku tak tahu, tapi dari hasil diskusiku dengan Caleb dan Edward, mungkin sekali Korra sekarat. Maksudku, tidak … eh, 'sekarat' sekarang, tapi… Uhm, aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini. Intinya mungkin hidupnya takkan lama."

Sejujurnya, itu bukan berita baru. Korra sendiri pernah mengatakannya. Dengan urusan ia menjadi inang Kierra, dan racun itu perlahan menghancurkannya dari dalam… Tapi mendengar Adam mengatakannya, rasanya begitu berbeda… Seolah memang ia benar-benar mendengar kontrak kematian Korra, dari sudut pandang orang lain … yang lebih bisa ia percaya.

"Seth? Kau tak apa?"

Seth mengerjap. Ada bayang keprihatinan di wajah Adam. Ia berusaha tersenyum, menggeleng.

"Aku tahu ini berat. Tapi kuharap kau tabah…"

Ia sudah mendengar itu dari Embry. Ia ingin mendengus sinis, tapi dipaksanya kepalanya untuk mengangguk.

Adam menepuk pundaknya dan sudah bergerak meninggalkannya, ketika ia teringat sesuatu.

"Adam," panggilnya. Pemuda itu berbalik. "Uhm, apa persediaan darah Jacob masih banyak?"

Si dokter-cabutan itu agak mengernyit. "Ya. Kenapa?"

"Tidak, tidak apa-apa… Hanya memastikan. Aku tak ingin terpaksa harus mengejar Jacob dan memintanya menyumbang darah… Kau tahu, karena ia serigala, mungkin darah biasa yang tidak segalur dengannya takkan bisa memasuki sistemnya…"

Adam tersenyum. "Tenang, Seth, aku paham betul konsep itu. Kami juga masih menyimpan persediaan darah Collin. Jika terpaksa, ada juga darah Jacob yang belum dinetralisir di laboratorium Carlisle, sebetulnya… Aku sudah bertanya pada Edward mengenai serangkaian prosedur untuk menetralisir kandungan racun vampir dalam darah itu, berjaga-jaga seandainya Korra butuh lebih banyak…"

"Terima kasih, Adam…"

Pemuda itu mengangguk sekali lagi dan meninggalkan Seth. Ditunggunya hingga Adam benar-benar pergi, dan ia sendiri bergerak hati-hati secepat mungkin, menyelinap ke laboratorium Carlisle.

.


.

Malam itu, dan seharian esoknya, dihabiskan Seth dengan menunggui Korra. Sendirian. Sesekali Adam masuk untuk mengecek dan sebagainya, tapi selain Adam dan Caleb, tak ada satu pun anggota kawanan yang datang berkunjung. Embry memang sesekali datang membawakan makanan, tapi yang lain tidak. Tidak juga Collin atau Billy. Anehnya, Seth justru bersyukur. Entah mengapa ia sedang tak ingin bertemu muka dengan siapapun anggota kawanan.

Denyut jantung Korra berangsur-angsur membaik dalam waktu 30 jam pasca-operasi, dan pada Rabu menjelang tengah malam, Seth hampir melonjak mendapati jemari Korra bergerak dan gadis itu mengerang. Buru-buru ia memanggil Adam, yang memang selama itu tidak pernah beranjak dari rumah Cullen.

Adam tersenyum sumringah setelah melalui serangkaian pemeriksaan, mengatakan kondisinya membaik dengan cepat. Dengan hati melambung Seth menanti di sisinya. Korra akan pulih, Korra akan pulih… Bagai mantra, ia terus menggumamkan doa itu. Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya Seth kala pagi menjelang dan bulu mata gadis itu bergetar, sebelum akhirnya kelopak itu membuka.

"Seth…," bisik Korra lemah. Pertama kali dalam empat hari itu, Seth akhirnya bisa tersenyum.

"Ya Korey?" ia menggapai tangan Korra, meletakkannya di pipinya. "Kau merasa baikan?"

Korra tidak menjawab. Matanya beralih pada selang infus, dan lantas tabung darah yang menggelantung di atas kepalanya.

"Darah … siapa itu?"

Mengapa urusan darah penting baginya? Tapi Seth merasa itu wajar.

"Darah Jacob. Aku diam-diam menggantinya dengan darah yang belum dinetralisir."

Korra agak mengernyit.

"Aku tahu kau butuh itu. Aku sudah dengar semua dari Ariana dan Sam."

"Kau … tahu?" entah mengapa ada rasa tidak aman di mata itu.

"Tidak masalah, Korra. Aku bisa menerimanya…," ucap Seth lembut. "Siapa kau atau bagaimana tubuhmu bukan masalah bagiku."

Benarkah itu bukan masalah? Sejujurnya itu hal berat baginya. Mengetahui bahwa Korra membutuhkan darah bak vampir… Dan itu bukan sembarang darah. Ingatannya meluncur ke saat ketika Sam memberi darah Jacob, sensasi aneh, bau manis yang menguar di antara bau anyir darah… Ketika Korra, katanya, menghisap habis darah Jacob sesudah ia digigit. Korra yang, katanya, kembali dari kematian setelah digigit Marcus… Korra yang membutuhkan Kierra… Bagaimanapun itu menimbulkan praduga dalam benaknya. Apakah Korra membutuhkan darah yang terkontaminasi racun vampir?

Dan benar dugaannya. Begitu ia mencuri darah Jacob yang terkontaminasi di laboratorium Carlisle, dan diam-diam mengganti tabung transfusi Korra, perlahan-lahan kondisi tubuh Korra membaik.

Makhluk apa sebenarnya Korra?

Tapi itu jelas bukan masalah utama. Dalam beberapa hari ini ia merasakan semua itu. Kekhawatirannya jika Korra tidak selamat, jika Korra meninggalkannya… Jika ia tidak bisa menyelamatkan Korra… Semua itu sanggup melenyapkan kengerian apapun mengenai identitas Korra.

Segaris tipis senyum menjelma di wajah Korra, tatkala ia menghela napas lega dan memejamkan mata. Namun sesaat kemudian mata itu kembali membuka, dan ada ketakutan di sana.

"Bayiku…"

"Sssh… Jangan dipikirkan," ia mengecup telapak tangan itu. Dingin. "Yang penting kau selamat, itu sudah cukup."

Apa ia salah bicara? Karena berikutnya, dilihatnya mata gadis itu mulai berkaca-kaca, sebelum ia memejamkan matanya rapat-rapat.

Seth buru-buru mencondongkan tubuh, memeluknya.

"Aku kehilangan dia, ya kan?" bisik Korra lirih.

"Ssssh… Segalanya akan baik-baik saja, Korey…"

Isak tertahan mulai menjelma kala setetes air mengalir di pipinya.

"Maafkan aku, Seth…"

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," senyum Seth lembut, mengusap air mata itu. "Kita bisa mencoba lagi, ya kan? Kita akan segera menikah, dan pergi dari sini…"

Korra melepaskan diri darinya, menatapnya bingung.

"Pergi?"

"Ya, Korra. Aku akan mengikutimu. Kita akan membangun rumah tangga di tempat yang tenang. Hanya kita berdua… Dan anak-anak kita… Tidak ada omong kosong soal La Push dan serigala bodohnya lagi. Tak ada yang akan menyakitimu…"

"Tapi… Kau tahu aku tidak bisa…"

"Kita akan mencari jalan, Korra. Kuroi pasti bisa memimpin jika kau pergi. Dan Kierra… Ia bisa mencari tempat tinggal lain…"

"Tapi…," mata Korra terlihat nanar, "kau tahu itu tidak mungkin…"

"Entah bagaimana caranya, kita pasti bisa mencari jalan. Bahkan walaupun kalian tak bisa berpisah, aku yakin kau bisa membujuknya. Kurasa ia takkan keberatan untuk menanggalkan kedudukannya. Kita bisa bahagia, Korra. Kau dan aku. Seperti seharusnya."

'Sementara...,' entah mengapa kata-kata Kuroi itu mengiang di benaknya.

Seth buru-buru menghapus bayangan itu, berusaha tersenyum. Ditatapnya mata Korra. Ada keraguan di sana. Ada pertanyaan. Ada kekhawatiran.

"Tapi kau … dan Kuroi…"

Ia memejamkan mata, menghalau semua rasa perih.

Diusapkannya jemarinya mengikuti kontur wajah Korra, kala disapukannya bibirnya pada bibir lembut gadis itu. Dirasakannya semua emosi membludak dalam jiwanya. Perih, sakit, dan akhirnya hampa. Ia tahu ini adalah awal. Setelah ini ia bisa merasakan kebahagiaan. Ya. Ia bisa bahagia. Mereka bisa bahagia.

"Kuroi akan mengerti…," bisiknya. "Kuroi selalu mengerti…"

Perlahan, senyum itu terkembang di wajah Korra. Begitu indah…

"Aku mencintaimu, Korra…," dikecupnya kening gadis itu. "Aku takkan pernah meninggalkanmu… Aku takkan pernah kehilanganmu…"

Ya, Seth tahu di mana seharusnya hatinya berada.

.


.

"Ehm!" deheman di pintu memisahkan mereka berdua. Seth menoleh. Tentu saja Adam, siapa lagi?

"Ada apa, Ads?"

"Aku perlu memeriksa Korra. Bisa tolong keluar sebentar, Seth?" tanya Adam. Entah mengapa ia agak terlihat aneh.

Seth mengernyit. Beberapa kali Adam memeriksa Korra di hadapannya. Mengapa kali ini ia harus keluar?

Tapi ditelannya tanda tanya itu dan melangkah keluar. Adam menutup pintu di belakangnya. Ia menghela napas, langsung menuruni tangga. Entah mengapa ia merasa haus…

Ia baru menuruni dua umpak tangga ketika disadarinya ada sesuatu yang berbeda. Rumah yang biasanya lengang itu kini penuh rasa keberadaan serigala. Tidak hanya Caleb, tetapi juga anggota kawanan lain. Dan begitu ia turun, dilihatnya seluruh anggota kawanan berkumpul di ruang tengah keluarga Cullen.

Apa urusannya mereka tiba-tiba muncul? Ketika Korra sadar?

Sekilas rasa tidak aman menyergapnya. Apa ada serangan ketika ia di sini? Apa gerombolan Sang Ibu berusaha merebut kembali Ariana, dan kembali salah tangkap mengira kawanan Quileute-lah yang menyekapnya? Atau mereka…

Baru disadarinya di antara kawanan yang berkumpul, tidak dirasakannya bau dua orang. Collin … dan Jacob.

"Astaga. Apa yang terjadi?" serunya panik. "Apa Jacob dan Collin…?"

Apa Sang Ibu berhasil menuntaskan dendamnya? Membunuh para Black?

Tenggorokannya terasa kering. Tidak mungkin, kan? Kalau ya pun, pasti ada pertarungan besar-besaran. Tak mungkin ia tidak tahu. Ia tahu ia mengurung diri di rumah Cullen dalam empat hari ini, tapi jika ada sesuatu, pasti Kuroi atau Phat akan menghubunginya entah dengan cara apa. Setidaknya, pasti akan terdengar lolongan serigala sambung-menyambung.

Diedarkannya pandangannya memindai para serigala. Tidak ada yang terluka… Syukurlah.

Tapi entah mengapa ia tak bisa menghalau ketegangan itu kala ditangkapnya sesuatu pada wajah mereka. Apa itu? Ekspresi apa itu?

"Ada apa?" ia tak bisa menahan debaran jantungnya.

Embry maju, berusaha tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Seth. Kami hanya perlu … ehm, bicara."

"Bicara?"

"Yeah… Mengenai situasi sekarang… Anu…," ia memandang sekelilingnya, seolah minta dukungan. Pemuda itu menarik napas panjang, kata-kata apapun yang ada di ujung lidahnya kelihatan berat untuk terlontarkan.

"Katakan."

"Yeah… Kami tahu kau sedang mengalami masa-masa sulit, karenanya kami menunggu hingga Korra sadar. Ada yang ingin kami minta darimu."

"Jangan bicara berputar-putar, Em. Katakan ada apa?"

Kalau mau dikatakan, ia sangat tegang sekarang. Apa yang hendak dikatakan Embry hingga sok-resmi begitu? Apa ia akan berkata kawanan menilai ia dan Korra sebagai pembawa masalah, dan mengusir mereka? Tidak masalah sebenarnya... Toh ia juga ingin pergi. Tapi bagaimana jika mereka ingin menginterogasinya perkara identitas Korra, atau lebih buruk, memintanya mendukung kawanan untuk mengusir kawanan asing dari tanah mereka, jika perlu mengadakan perang?

Tidak, tidak. Mungkin tidak begitu. Kawanan terlihat menerima gadis itu, bahkan walau nyata bahwa ia adalah bagian dari kawanan asing. Dengan adanya mereka menolong kawanan di pertempuran sebelumnya, tak mungkin lagi menganggap kawanan asing itu sebagai musuh. Terlebih setelah mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Korra telah menjadi korban kebiadaban kakaknya sendiri. Tak mungkin mereka tak menaruh simpati barang sedikit... Bahkan, bisa dilihatnya, Harry, Clark, dan Josh, yang semula tidak suka Korra, kini tampak mengurangi air muka sinis di wajah mereka.

Embry kembali menarik napas panjang. "Kau tahu, posisi Alfa sekarang kosong..." katanya memulai.

Petir seakan menyambar di kepala Seth. Posisi Alfa kosong? Jangan katakan…

"Jacob…," belum apa-apa ia sudah memotong. "Apa yang terjadi dengan Jacob? Apa ia…," lidahnya terasa terlilit. "Apa ia … tewas?"

Embry mengerjap. "Tewas? Tidak…"

"Lantas kenapa?"

"Ia tidak kembali dalam empat hari ini… Tidak ada yang bisa melacaknya. Entah pikirannya terputus sama sekali atau ia berusaha membentengi diri. Aku selama ini mengambil peran sebagai Alfa pengganti, tapi…"

"Collin? Ada apa dengan Collin?"

Collin adalah Beta. Jika Embry sampai harus naik menjadi Alfa melangkahi Collin, apakah artinya...

"Ia tidak apa-apa. Tapi masalahnya kami tidak yakin ia bisa menjadi Alfa saat ini. Dia sangat … aneh. Mungkin ia geger otak atau apa, yang jelas setelah insiden di dasar jurang itu ia tak lagi seperti ia yang biasa. Kami khawatir ia tak bisa mengemban tugas sebagaimana mestinya."

Kelegaan membasuh Seth. Jacob dan Collin baik-baik saja… Meski masih dirasanya kebencian pada Jacob, ia cukup sadar untuk memisahkan masalah kawanan dengan masalah pribadi. Jacob tetap Alfa Quileute, walau bagaimanapun. Ia ujung tombak pertahanan suku. Apapun hal buruk yang menimpanya bisa mengancam keselamatan seluruh suku.

"Lantas?" ia masih tidak mengerti mengapa Embry harus melapor padanya.

"Ya, jadi intinya... Ehm, kawanan memutuskan ... kami ingin kau jadi Alfa," ujar Embry, agak salah tingkah.

Seth mengernyit. Tidak, ia tidak peduli dengan sikap Embry. Meski ia sudah berulang kali menggantikan tugas Alfa dan terbukti cakap di lapangan, ia bukan tipe orang yang bisa bicara tegas, apalagi jika mewakili orang lain. Masalahnya adalah isi permintaan Embry. Ini sangat aneh. Jika Jacob tidak ada dan Collin tidak bisa bertugas, sudah sewajarnya Embry mengambil alih. Mengapa ia perlu meminta Seth mengisi kedudukan itu? Bukankah Collin sudah mendepaknya?

"Ada apa sebenarnya?" tanyanya curiga. "Ada sesuatu yang belum kalian katakan?"

"Eh, iya… Itu…," Embry lagi-lagi tak bisa bicara, menoleh meminta dukungan.

Kali ini Quil yang maju. "Kami memintamu menggantikan Jacob sebagai Alfa Quileute resmi, Seth."

"Menggantikan Jacob? Untuk apa? Bukankah nanti juga dia kembali?"

"Itu masalahnya. Jika ia kembali pun, kami tak bisa menerimanya lagi."

"Apa?"

"Setelah menimbang hal yang terjadi belakangan, kami menduga ia mengidap semacam … entahlah … paranoid, skizofrenia, psikoneurosis ... bahkan sampai taraf psikosis..."

"Maksudmu Jacob gila?"

"Kami tahu kejadian belakangan terlalu membebani pikirannya," jelas Embry. "Mungkin ia mengalami semacam halusinasi, atau jiwanya terganggu, entahlah... Yang jelas itu membuatnya tidak bisa menimbang segala sesuatu dengan layak… Kami takut jika ia terus memimpin, ia akan membuat keputusan yang akan merugikan tak hanya kawanan, tapi juga seluruh suku… Ia memang sejak lama selalu mencurigai segala sesuatu, dan puncaknya ... kau lihat apa yang ia lakukan pada Korra. Kami takut itu akan terulang. Bisa jadi sasarannya selanjutnya tak hanya Korra, tapi juga yang lain…"

Mereka menganggap Jacob ... sebagai ancaman?

"Intinya ia tidak cukup waras untuk mengemban tugas Alfa," tandas Quil.

"Ya," Embry mengangguk. "Karenanya kami memutuskan pencabutan kedudukan Jacob secara permanen. Dengan kemungkinan ia akan kembali untuk … yeah, membalas dendam atau menuntut kedudukannya … Dewan Suku tengah mempertimbangkan pengusirannya dari suku…"

"Pengusiran?"

"Tentu saja dengan menimbang seperti apa sifat Jacob, kami akan membuatnya selembut mungkin, untuk menghindari kekerasan yang tidak perlu. Jacob butuh pertolongan. Kami sudah menghubungi Carlisle dan ia bersedia membantu. Jadi dalam waktu dekat mereka akan datang. Mungkin kami akan mencari cara untuk menemukan Jacob dan membujuknya… Yang jelas Carlisle akan membawa Jacob pergi dari sini. Merawatnya atau apapun... Mungkin berada jauh dari La Push akan membuatnya membaik."

"Ya," sambung Quil. "Selama Jacob tidak stabil, kami pastikan ia tidak akan kembali lagi."

Seth meremang. Tidak mungkin…

"Karena itu, Seth… Kau berada di urutan selanjutnya dalam hierarki Alfa. Kami percaya pertimbangan dan kekuatanmu. Kami … sangat berharap kau mau menerima mandat ini."

"Tapi kau tahu, aku … ehm, terikat pada Korra, dan … eh, Korra adalah bagian dari kawanan lain… Kami sudah merencanakan akan pergi dan…"

"Tidak perlu, Seth…," suara itu terdengar dari tangga. Serta-merta seisi kawanan menoleh.

"Korra?" Seth beranjak dari tempatnya, menghampiri tubuh lemah yang sedang dipapah Adam. Lekas ia mengambil alih. "Kau tak apa? Mengapa kau turun dari tempat tidur?"

Korra menggeleng. "Aku sudah baikan, tidak apa-apa…," senyumnya. "Aku mendengar apa yang kalian ributkan. Jika kau memang memiliki tugas di sini, aku sama sekali tidak keberatan…"

"Tapi…"

"Aku akan tinggal. Aku akan meminta izin Alfaku untuk mendampingimu…"

Terdengar sorak-sorai dari lantai bawah. Yang segera berhenti begitu Embry berdehem.

"Dengan adanya Korra sebagai pasangan Alfa, terlebih karena ia sendiri berdarah Black dan seharusnya menjadi penerus utama Jacob, sudah kewajiban kami untuk melindungi Korra. Kau tak perlu khawatir, Seth. Kami akan memastikan Korra aman. Jacob takkan menyentuhnya lagi."

"Pasangan … Alfa…"

Entah mengapa Seth merasakan kengerian dalam kata itu. 'Pasangan Alfa' … itu sama saja artinya...

Dirasakannya jemari Korra menyentuh pipinya. Dan begitu Seth menunduk, dilihatnya Korra mendongak menatapnya. Mata hitam itu begitu tenang dan dalam. Tapi anehnya, begitu dingin hingga bulu kuduknya merinding.

Tidak mungkin.

Katakan ini tidak mungkin…

"Aku mencintaimu, Seth…," bisik Korra lembut, merebahkan kepalanya ke dada Seth. "Seperti katamu, akhirnya kita bisa bahagia seperti seharusnya…"

.


.

Catatan:

'Kebenaran hanya ada satu' - DC by Aoyama Gosho

Fast update, Guys…

Aku ga bisa nunggu untuk nulis kelanjutan Cerberus. Nah, ini dia deh…

Gimana tanggapannya, teman-teman? Ketangkep ga ya? Kenapa Jacob sampai sekejam itu pada Korra? Kenapa malah seluruh kawanan melawan Jacob? Kenapa Korra begitu mudah nerima kedudukan Seth bahkan bilang ia mau menjadi pendampingnya? Apa Kierra berhasil dengan rencananya?

R&R yaaaa…