The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 2
Seokjin mengetuk pintu ruangan Namjoon dan mengintip ke dalam, dia melihat Namjoon tengah melamun dengan mata yang tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Cincin itu tidak pernah dilepaskan oleh Namjoon, sebelumnya dia memakainya di tangan kiri, tapi karena sekarang di tangan kirinya sudah ada cincin pertunangan mereka, Namjoon memakai cincin itu di tangan kanannya.
"Namjoonie?" panggil Seokjin pelan karena Namjoon terlihat tidak fokus.
Namjoon tersentak dan dia langsung menoleh ke arah pintu dan melihat Seokjin sedang menatapnya. "Ya, Jinnie?"
Seokjin berjalan masuk dan menghampiri Namjoon, "Kau kenapa? Apa ada masalah dengan kasus yang kau tangani?"
Namjoon menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya.. capek."
Seokjin mengangguk paham, "Aku juga. Yoongi mengirimiku potongan tubuh, padahal dia tahu aku paling benci mengurus korban mutilasi." Seokjin menggembungkan pipinya sebal.
Namjoon tertawa melihat raut wajah imut Seokjin, walaupun kekasihnya ini dokter forensik, Seokjin tetap saja memiliki sisi imut yang seolah muncul secara natural di tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita sarapan di tempat favorit kita? Aku akan mentraktirmu waffle."
"Sungguh?" ujar Seokjin senang saat mendengar tawaran Namjoon.
Namjoon mengangguk, "Tentu saja, sayang. Ayo pergi."
Namjoon merangkul Seokjin dan berjalan keluar dari ruangannya, sekarang sudah pagi maka jam kerja mereka sudah selesai.
Namjoon mengajak Seokjin ke dalam kedai favorit mereka dan Seokjin memesan waffle kesukaannya. Setelah menunggu selama beberapa menit, pesanan mereka tiba, Seokjin memotong kecil wafflenya dan menatap Namjoon.
Namjoon yang sudah paham akan arti tatapan Seokjin mengangguk kemudian mendekatkan wajahnya dan membuka mulutnya, meminta Seokjin menyuapi potongan waffle pertama itu.
Namjoon mengunyahnya sebentar dan menelannya kemudian dia mengangguk kecil, "Wafflemu aman, sayang."
Seokjin tersenyum senang dan mulai melahap wafflenya.
Namjoon tersenyum kecil melihat Seokjin menghabiskan wafflenya. Seokjin selalu memberikan potongan pertama makanannya untuk Namjoon. Seokjin melakukan itu karena dia memiliki trauma soal masa lalunya.
Dulu Seokjin pernah nyaris mati karena diracun, dan sejak itu Seokjin selalu takut untuk makan karena dia khawatir makanannya sudah diberi racun. Makanya Seokjin belajar memasak dengan giat dan dia hanya mau memakan hasil masakannya. Dan semuanya berubah saat Seokjin mengenal Namjoon, Namjoon mengatakan kalau dia bersedia menjadi taster untuk Seokjin, dia bersedia mencicipi setiap makanan yang dia dan Seokjin beli untuk memastikan itu bebas dari racun.
Dan Seokjin menyetujui usulan itu. Karena Namjoon menjadi taster pribadi Seokjin, mereka menjadi dekat hingga akhirnya mereka bertunangan. Namjoon sendiri baru mengetahui soal masalah trauma Seokjin saat mereka sudah bertunangan karena sebelum itu Seokjin selalu diam saat ditanya soal ketakutannya akan makanan selain masakannya.
Namjoon menatap Seokjin dengan sedih, 'Maafkan aku, Jinnie. Aku benar-benar minta maaf.' batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menguap pelan dan menggaruk kepalanya, akhirnya pekerjaannya selesai dan dia bisa kembali ke apartemennya. Setelah menghabiskan semalaman penuh untuk meneliti barang bukti yang dia temukan, Jungkook hanya menemukan jalan buntu lainnya.
Satu-satunya harapannya hanyalah hasil autopsi dari Seokjin yang baru dia terima dini hari tadi. Menurut hasil autopsi, korban meninggal akibat sayatan benda tajam di pergelangan tangannya. Tapi Seokjin menduga korban dibunuh karena korban overdosis obat tidur. Selain itu Seokjin juga menemukan sisa sperma dalam vaginanya sehingga Seokjin menduga korban dibius lalu diperkosa kemudian dibunuh.
Seokjin terlihat begitu sedih saat menceritakan hasil yang dia dapatkan, dan saat Jungkook menanyakan soal hal itu Seokjin menjawab kalau dia kasihan pada korban. Seokjin juga mengatakan kalau korban masih terlalu muda untuk mati dan dari situlah Jungkook menyadari kalau Seokjin sangat menghargai setiap nyawa.
Mau tidak mau Jungkook tersenyum mendengar ucapan Seokjin, seandainya saja Seokjin tahu soal kebiasaannya yang suka menantang maut, mungkin dia akan habis diceramahi oleh Seokjin.
Jungkook sendiri dipindahkan menjadi CSI dikarenakan pihak kantor sudah pusing melarang Jungkook untuk menantang maut. Tewas dalam tugas memang merupakan sebuah kehormatan besar, tapi pihak kepolisian jelas tidak ingin membiarkan anggota mereka membuang nyawa begitu saja. Makanya Jungkook dipindahkan ke bagian CSI setelah sebelumnya dia menjadi detektif dan Jungkook menurut saja. Toh dia memang butuh pekerjaan ini.
Jungkook melirik arlojinya dan dia baru menyadari kalau dia merasa sangat lapar sekarang. Jungkook berjalan menuju ruang loker dan mengambil tasnya kemudian berjalan ke arah mobilnya. Saat Jungkook berjalan keluar dari kantor polisi, Jungkook melihat Taehyung yang sedang berdiri bersandar di sebuah mobil berwarna hitam kelam yang Jungkook duga sebagai mobilnya.
Taehyung terlihat tengah menunduk dan menatap aspal di bawahnya. Jungkook mengerutkan dahinya, partner kerjanya yang satu itu memang aneh. Selama proses penyelidikan Taehyung tidak banyak bicara, dia lebih sering diam dan mendengarkan. Berbeda dengan Jungkook yang banyak bertanya untuk memastikan kebenaran informasi yang diterimanya.
Selain itu reputasi Taehyung sebagai detektif paling hebat dan benci darah juga sangat terkenal. Beberapa lab rats di kantor mereka berulang kali mengingatkan Jungkook untuk tidak memberikan benda-benda berwarna merah pada Taehyung.
Mulanya Jungkook pikir kebencian Taehyung pada warna merah hanyalah rasa tidak suka biasa, tapi ternyata Jungkook mendengar cerita kalau Taehyung pernah mengamuk dan marah besar saat ada orang yang meledeknya dengan memberikan pakaian berwarna merah padanya sebagai hadiah di hari natal.
Dan Jungkook langsung menyadari kalau kebencian Taehyung pada warna merah itu pasti sudah mendarah daging.
Jungkook masih berdiri terpaku menatap Taehyung tapi kemudian dia melihat Taehyung menoleh ke arahnya. Mereka bertatapan selama beberapa detik sebelum Taehyung memutus kontak mata itu dan masuk ke dalam mobilnya.
Jungkook mengerjap pelan kemudian dia berjalan ke arah mobilnya, "Aneh," gumam Jungkook pelan.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi membuka pintu apartemen mereka dan masuk ke dalam. Dia mendengar suara ribut dari dapur maka dia berjalan ke arah sana. Dia melihat kekasihnya yang lebih muda darinya tengah memasak di sana.
"Jimin.." panggil Yoongi pelan.
Jimin berbalik dan tersenyum lebar ke arah Yoongi, "Pagi, my baby sugar. Mau sarapan? Aku sudah membuatkan pancake manis untukmu."
Yoongi melirik meja makan yang tertata rapi dengan dua piring dan dua alat makan di sana. "Oke, aku ganti baju dulu."
Yoongi pergi ke kamar mereka dan mengganti baju, kemudian dia kembali ke ruang makan. "Semalam kau tidak membuatkanku makan malam, kan?"
Jimin berjalan menghampiri meja makan dengan piring penuh pancake. "Tidak, kemarin aku juga terlambat pulang karena ada beberapa keperluan mendadak."
Yoongi mengangguk dan mulai mengambil sepotong pancake, menuangkan sirup di atasnya dan mulai memakannya. "Masakanmu selalu terasa lebih baik dari masakanku."
Jimin tertawa kecil, "Itu karena aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Pekerjaan di kantorku tidak sesibuk pekerjaanmu sebagai CSI. Dan lagi kau masuk kerja di sore hari, waktu pagi hingga siang kau habiskan untuk tidur. Wajar kan kalau kau tidak terlalu pandai memasak?"
Yoongi tersenyum menatap Jimin, Jimin adalah orang yang sangat ceria dan hangat. Jiminlah yang membuat Yoongi bangkit kembali dan memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai CSI di kepolisian. Dan Yoongi mendapat karir yang bagus di sana karena dia memiliki pengetahuan khusus terkait pembunuhan.
Sedangkan Jimin sendiri adalah manajer di sebuah perusahaan yang cukup besar. Jimin dan Yoongi tidak sengaja bertemu saat Jimin baru pulang kerja dan dia menemukan Yoongi yang terluka dan terduduk di trotoar.
Jimin tidak menanyakan alasan Yoongi terluka, yang Jimin lakukan hanyalah membawa Yoongi ke rumah sakit dan membiarkan dokter mengurus luka Yoongi. Dan setelah kejadian itu mereka menjadi dekat hingga akhirnya Jimin menyatakan perasaannya pada Yoongi yang diterima olehnya.
"Baby sugar? Kau melamun?"
Suara Jimin menyentakkan Yoongi kembali dari lamunannya. Dia menatap Jimin dan menggeleng pelan, "Maaf, aku hanya agak pusing mengurus kasus kali ini."
"Apa kasusnya sulit?"
Yoongi menggeleng, "Tidak."
"Sebaiknya kau segera tidur. Aku mengkhawatirkanmu."
Yoongi tersenyum menatap Jimin, "Aku baik-baik saja, Jiminnie."
Jimin mengangguk pelan. Dia kembali memakan sarapannya walaupun matanya terus memperhatikan Yoongi. Jimin mencintai Yoongi, itu tidak diragukan lagi. Dibalik penampilan Yoongi yang terlihat baik-baik saja, Jimin tidak yakin dengan kepribadian Yoongi yang tersimpan di balik wajah datarnya.
Dulu, sewaktu menemukan Yoongi yang terluka, dokter yang menangani Yoongi sempat mengatakan pada Jimin kalau selain luka itu, Yoongi juga memiliki banyak bekas luka sayatan yang dokter sinyalir sebagai akibat dari perbuatan Yoongi sendiri.
Jimin memang sudah pernah melihat semua bekas luka itu ketika mereka bercinta. Tapi Jimin memilih untuk tidak peduli karena Yoongi sendiri yang mengatakan kalau dia sedang membuka lembaran baru dengan Jimin dan dia ingin melupakan masa lalunya.
Jimin tidak ingin kehilangan Yoongi. Jimin merasa Yoongi seperti melengkapi dunia kecil yang Jimin bangun sendiri karena Jimin memang terkesan tidak terlalu peduli pada dunia luar selain dunia kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok mengendarai mobilnya dengan membuka atapnya. Dia membeli mobil mewah ini karena dia ingin merasakan sensasi saat angin membelainya saat dia mengemudi. Dan Hoseok tidak pernah menutup atapnya kecuali saat sedang hujan.
Hoseok mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum saat merasakan angin berhembus di sekitar tangannya. Dia selalu suka angin, karena dulu ayahnya pernah menceritakan soal angin. Ayahnya bilang, angin adalah ciptaan Tuhan yang paling tidak pamrih. Dia tidak keberatan terlahir di dunia tanpa wujud, padahal semua ciptaan Tuhan lainnya berebut menunjukkan eksistensi mereka.
Karena itulah sejak kecil Hoseok sangat menyukai angin. Apalagi sejak seluruh keluarganya tewas karena suatu hal, Hoseok semakin sering menyendiri bersama angin yang tidak berwujud. Merasakan angin yang berhembus melewati tubuhnya membuat Hoseok merasa dia hidup.
Hoseok menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah peninggalan keluarganya yang sekarang menjadi miliknya. Hoseok berjalan masuk dan melemparkan kunci mobil ke meja kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Tangannya bergerak meraih ponselnya dan melihat kalau ponselnya penuh pesan dari nomor yang sama, Lee Jihoon. Dia adalah tunangannya sejak kecil yang selalu mencintai Hoseok walaupun Hoseok tidak yakin dia benar-benar mencintai tunangannya itu.
Jihoon adalah pria dengan wajah yang sangat manis dan imut, dia ditunangkan dengan Hoseok bahkan sebelum dia mengenal perasaan bernama cinta. Keluarga Hoseok dan Jihoon sudah berteman sejak sangat lama dan mereka sepakat untuk menikahkan Hoseok dengan Jihoon.
Hoseok akui kalau dia memang menyayangi Jihoon, yah, siapa yang tidak akan menyayangi manusia dengan wajah selembut Jihoon? Semua orang akan rela bertekuk lutut dan menjaga Jihoon setengah mati.
Hoseok memutuskan untuk mengabaikan ponselnya namun ponselnya kembali bergetar, dengan malas-malasan Hoseok meraih ponselnya dan melihat kalau Jihoon menghubunginya lagi.
"Ya?" sapa Hoseok akhirnya.
"Hyungie! Kemana saja? Aku meneleponmu lebih dari seratus kali hari ini!"
Hoseok memejamkan matanya dan menggumam pelan, "Kau baru meneleponku 75 kali, Jihoonie."
"Eh? Benarkah? Kupikir sudah lebih dari seratus." Jihoon berujar polos dan mau tidak mau membuat Hoseok tersenyum. Tunangannya selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat Hoseok tersenyum.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Hyungie, kenapa malah menanyakan kuliahku? Seharusnya aku yang menginterogasimu hari ini!"
"Iya, iya. Ada apa?"
"Hyungie kemana saja?"
"Kerja."
Hoseok bisa mendengar Jihoon berdecak dan menghela nafas pelan. "Hyungieee~" rengeknya.
"Apa, Jihonie? Aku benar-benar pergi kerja. Aku mendapat kasus baru dan kepalaku hampir pecah memikirkan kasus yang kutangani."
"Oya? Kasus apa?"
"Anak kecil tidak boleh tahu."
"Hyungie! Usiaku sudah legal untuk tahu soal pekerjaanmu! Lagipula kita hanya berbeda dua tahun!"
"Kau tetap anak-anak bagiku."
"Hyungiee~"
"Oke, oke. Aku butuh istirahat, Jihoonie. Bisa kututup teleponnya sekarang?"
"Hyungie, apa kau tidak merindukanku? Kita sudah sebulan tidak bertemu, lho. Aku sibuk dengan tesisku dan Hyungie sibuk dengan kasus-kasus itu."
Hoseok membuka matanya dan terdiam. Apa dia tidak merindukan tunangannya? Dia rasa tidak, baginya, dia tidak akan merasakan efek yang berarti walaupun Jihoon tidak berada di sekitarnya. Bahkan dia tidak sadar kalau dia sudah tidak bertemu dengan tunangannya itu selama satu bulan.
"Ya, aku merindukanmu." Hoseok menjawab sekenanya agar dia tidak menyakiti Jihoon.
"Kenapa nadanya tidak tulus begitu? Kau berbohong, ya?"
"Bahasamu, Jihoon." Hoseok menegur karena Jihoon baru saja menggunakan banmal padanya.
Hoseok mendengar Jihoon mendengus, "Sesukaku aku mau pakai bahasa apa. Aku sudah dewasa tahu! Berhentilah menganggapku anak-anak!"
Hoseok menghela nafas pelan, bagaimana mungkin dia berhenti menganggap Jihoon adalah anak-anak jika tunangannya saja tidak pernah berhenti bertingkah kekanakkan padanya?
"Jihoonie, aku butuh tidur. Bagaimana kalau kau datang ke kantor saat shiftku dimulai malam ini? Kita bicarakan ini di kantorku."
"Sungguh? Aku boleh datang ke kantor Hyungie?"
Nah kan, dia sudah bertingkah kekanakkan lagi. Tadi dia marah-marah, sekarang dia sudah semangat seperti anak TK yang diajak untuk melihat kantor polisi untuk pertama kalinya.
"Ya, datanglah."
"Oke! Aku pasti datang! Selamat beristirahat, Hyungie~ Aku mencintaimu!"
"Hn.."
Hoseok melempar ponselnya setelah panggilan itu terputus, Hoseok melirik jam dindingnya dan dia menyadari kalau sekarang sudah pukul 9.30 pagi dan dia wajib bangun jam 4 sore nanti untuk mulai bekerja makanya dia memutuskan untuk segera tidur.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook mengemudikan mobilnya menuju kantor polisi. Shift malamnya akan dimulai sebentar lagi dan dia harus segera tiba di kantor polisi untuk melanjutkan penyelidikannya soal kasus bunuh diri di sekolah itu.
Jungkook melambatkan mobilnya dan berhenti saat dia melihat segerombolan pria tengah mengerubungi seorang wanita, kelihatannya mereka hendak merampok wanita itu. Jungkook menghela nafas dan turun dari mobilnya.
Dia berlari ke arah gerombolan itu, "Hentikan! Lepaskan wanita itu!" seru Jungkook.
Gerombolan pria itu menoleh ke arah Jungkook dan mereka melepaskan wanita itu dan bergerak menghampiri Jungkook. Wanita itu segera melarikan diri menjauh dari tempat itu.
Salah seorang pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya pada Jungkook, Jungkook tersenyum, ini dia yang dia suka. Perasaan tegang saat seseorang mengancam nyawanya benar-benar membuat Jungkook merasakan perasaan senang tersendiri.
"Polisi! Angkat tangan kalian!"
Jungkook menoleh cepat dan dia melihat Taehyung berjalan mendekat dengan posisi siaga dan pistol di tangannya. Gerombolan pria tadi langsung melarikan diri karena tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi.
Taehyung menyimpan kembali pistolnya dan berjalan menghampiri Jungkook, "Kau oke?"
"Aku baik. Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menolongku?"
"Aku menolongmu karena kau hampir mati tadi, dan kenapa kau malah diam saja dan tersenyum seperti orang bodoh? Seharusnya kau menyiagakan pistolmu!"
Jungkook terdiam, dia memilih untuk tidak mengatakan apapun dan berjalan meninggalkan Taehyung. Tidak ada yang boleh mengetahui alasan soal hobinya menantang bahaya.
Taehyung menatap Jungkook, "Ada apa dengan anak itu?" intuisinya sebagai detektif membuat Taehyung yakin ada yang tidak beres dengan Jungkook, dan dia mulai merasa sedikit curiga.
To Be Continued
.
.
Hai!
Aku kembali membawa chapter dua untuk kalian!
Setelah mempertimbangkan beberapa hal termasuk saran kalian, dan karena aku adalah penyuka seme!Hoseok, aku memutuskan untuk mencarikan uke yang manis untuk dia dan pilihanku jatuh kepada.. Lee Jihoon (Woozi) Seventeen!
Semoga kalian suka dengan pilihanku dan tidak keberatan dengan crackpair terbaru ini. Haha
Oya, jangan khawatir. Walaupun kedua kasus yang ada tidak berhubungan, aku jamin kalian tidak akan salah atau merasa bingung. Kasusnya ringan kok.
Tolong berikan tanggapan kalian ya. Hehe
.
.
Thanks
