The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 3
Hoseok menghampiri Seokjin di ruang autopsi, "Hei, bagaimana?"
Seokjin menatap Hoseok sengit, "Kau tahu aku selalu benci memeriksa mayat mutilasi."
Hoseok mengangkat kedua tangannya dan memasang wajah polos, "Jangan salahkan aku. Salahkan pembunuh itu."
Seokjin menghela nafas pelan, "Oke, tidak banyak yang bisa didapat dari korban mutilasi, kau tahu itu. Bekas luka menunjukkan dia tewas kurang lebih 30 jam lalu, melihat dari struktur bergerigi dan tidak rata di perpotongan luka, aku menduga dia dibunuh dengan gergaji bulat dan dia dipotong dalam keadaan hidup."
Hoseok mengangguk paham, "Usianya?"
"Aku memperkirakan usianya di awal 20-an, mungkin dia salah satu mahasiswa di sana, aku yakin dia pria jika melihat dari otot dan ukuran lengannya."
"Oke, ada lagi?"
"Aku menemukan beberapa benang yang terlihat seperti benang jeans. Mungkin korban mengenakan jaket jeans atau mungkin gergaji itu dilapisi oleh bahan jeans, aku tidak bisa memastikannnya. Tapi aku menemukan sedikit gel di lukanya, aku sudah menyekanya dan ini dia." Seokjin menyerahkan sebuah cotton bud khusus pada Hoseok.
"Akan kuteliti, terima kasih, Seokjin."
"Ya, sama-sama."
Hoseok berjalan keluar dari ruang autopsi dan segera masuk ke dalam lab dan memakai lab coatnya, dia bergerak memproses cotton bud itu, dan disaat Hoseok sedang menunggu hasilnya, dia mendengar ketukan pelan di pintu kaca lab, dia berbalik dan melihat Jihoon sedang tersenyum ragu padanya dengan seorang officer di belakangnya.
"Apa waktuku kurang tepat?" tanya Jihoon pelan dengan nada ragu.
Hoseok menggeleng, bersamaan dengan bunyi 'pip' pelan disusul dengan sebuah kertas yang keluar dari alat di hadapannya. "Masuklah, Jihoonie." Hoseok menatap officer di belakang Jihoon, "Terima kasih sudah mengantarnya."
Jihoon melangkah masuk dengan ragu dan berdiri di sebelah Hoseok, "Aku benar-benar tidak mengganggu, kan?"
"Tidak, Jihoon. Ini biasa." Hoseok menatap hasil yang dia terima kemudian dia menatap Jihoon, "Aku akan pergi menemui Yoongi sebentar, jangan kemana-mana."
Jihoon mengangguk.
"Dan jangan sentuh apapun." Hoseok memperingatkan.
Jihoon mengangguk lagi.
Hoseok berjalan keluar mencari Yoongi dan untungnya dia berhasil menemukan Yoongi, tidak jauh dari lab. "Yoongi!"
Yoongi menoleh ke arah Hoseok, "Apa?"
"Seokjin menemukan semacam gel di luka korban, aku menyelidikinya dan aku menemukan kandungan dari gel rambut di sana."
"Jadi pembunuh itu menggunakan gel rambut?"
"Mungkin, tapi yang aku temukan adalah gel rambut untuk wanita. Jika memang dia mengenakan gel rambut, maka pembunuh kita adalah seorang wanita."
Yoongi mengangguk paham, "Selidiki lebih dalam. Pergilah ke universitas dan cari petunjuk."
"Okay, tapi kuharap kau tidak keberatan kalau aku membawa seseorang."
Yoongi mengerutkan dahinya, Hoseok bergeser sehingga Yoongi bisa melihat lab yang berdinding kaca. Yoongi mengangguk paham saat melihat Jihoon. "Aku tidak masalah kau mengajak Jihoon, anak itu pasti tenang walaupun kau bekerja."
Hoseok mengangguk, "Thanks, Yoongi."
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok keluar dari mobilnya dan berjalan cepat menuju gedung universitas untuk mencari tahu soal korban mereka, sementara di belakangnya Jihoon berusaha mengejar Hoseok dan karena dia bertubuh mungil, dia benar-benar berusaha mengejar Hoseok sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yang berada di sekitarnya. Dia terfokus pada Hoseok.
Bruk
"Ah!" pekik Jihoon saat dia tidak sengaja menabrak seseorang.
Jihoon membungkuk pelan, "Maafkan aku.." Jihoon mendongak dan dia melihat seorang pria yang tampan tengah menatap ke arahnya.
"Bukan masalah. Kau baik-baik saja?"
"Ah ya, aku baik." Jihoon tersenyum dan dia mencium aroma seperti gel rambut dari pria tadi. Aromanya tercium begitu kuat hingga Jihoon sedikit mengerutkan dahinya.
"Siapa namamu? Kau mahasiswa baru?" tanya pria itu.
"Eh? Aku.."
"Jihoonie!"
Jihoon dan pria tadi menoleh dan dia melihat Hoseok berdiri tak jauh dari mereka. Hoseok berjalan cepat ke arah mereka dan menggenggam sebelah tangan Jihoon. "Astaga, aku mencarimu kemana-mana. Jangan menghilang tiba-tiba."
Jihoon menggembungkan pipinya, "Aku kan berusaha mengikutimu! Kau berjalan terlalu cepat."
Hoseok menghela nafas pelan, "Okay, maafkan aku ya." Hoseok menatap pria di hadapan Jihoon, "Maafkan dia ya."
Pria itu mengangguk, "Tidak apa-apa."
"Kami permisi dulu." Hoseok membungkuk pelan dan berjalan meninggalkan tempat itu bersama Jihoon yang beberapa kali menjerit kesal karena Hoseok berjalan terlalu cepat.
Pria itu memperhatikan punggung Jihoon yang menjauh, "Jihoonie ya?" gumamnya kemudian dia menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi berdiri di hadapan lemari pendingin khusus mayat bersama Seokjin, setelah Hoseok pergi ke universitas bersama Jihoon, Yoongi memutuskan untuk memeriksa kembali potongan tangan yang ada.
Seokjin menarik keluar laci berisi potongan tangan itu dan Yoongi langsung meraihnya dan memeriksanya dengan teliti. Seokjin hanya diam memperhatikan Yoongi yang serius, dia tahu Yoongi memiliki keahlian khusus terkait pembunuhan ataupun anatomi tubuh manusia.
Yoongi terdiam saat dia menyadari sesuatu, "Hei, apa kau menyadarinya? Tangan korban terasa sangat halus, kurasa dia merawat kulitnya dengan baik."
Seokjin mengerutkan dahinya, "Kulitnya memang memiliki tingkat kekenyalan yang bagus dan permukaan kulitnya sangat sehat. Mulanya kupikir karena dia baru berusia 20-an."
"Tidak, ini kulit hasil perawatan menyeluruh. Kurasa korban adalah orang yang memperhatikan fisiknya, selain itu jika kuperhatikan, kulitnya nyaris sepucat kulitku."
"Apa dia termasuk dalam jajaran ulzzang?" tanya Seokjin ragu.
"Itu mungkin saja." Yoongi meletakkan tangan itu kembali, "Aku akan menghubungi Hoseok untuk memeriksa ulzzang di universitas itu."
Seokjin mengangguk dan memasukkan potongan itu kembali ke lemari pendingin. Dia berbalik dan nyaris terlonjak saat melihat Namjoon berdiri di belakangnya.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?"
"Tiga detik yang lalu, tadi aku melihat Yoongi berjalan keluar dengan tergesa-gesa, apa ada sesuatu?"
"Ya, dia mendapat petunjuk baru."
Namjoon mengangguk dan melangkah masuk, "Kepolisian baru saja menangkap pengedar narkoba utama yang meresahkan Seoul."
"Wah, itu bagus sekali."
"Ya, mereka memintaku menginterogasinya."
Seokjin mengangguk paham, "Lalu?"
"Aku butuh kau untuk mengawasi interogasi. Setidaknya jika aku tahu kau berada di balik cermin satu arah itu, aku akan merasa jauh lebih baik."
Seokjin terdiam, "Apa tersangka kali ini sangat berbahaya dan penting?"
Namjoon terdiam sebentar kemudian mengangguk.
"Kalau begitu aku akan mengawasimu agar kau tidak bertindak berlebihan."
Namjoon tersenyum kecil, "Terima kasih, sayang."
"Bukan masalah. Aku tahu kau memang selalu memintaku melakukan ini agar kau tidak melakukan tindakan yang berlebihan saat menginterogasi. Kau harus belajar mengontrol emosimu, Namjoon. Kau ahlinya dalam interogasi karena kau bisa mendeteksi saat seseorang berbohong atau tidak."
"Ya, aku tahu itu." Namjoon terkekeh pelan, "Kurasa aku mulai mengerti kenapa semuanya bersikeras menjulukiku Dewa Kebenaran."
Seokjin tertawa renyah, "Oh, sudahlah. Ayo kita segera pergi ke ruang interogasi."
Namjoon tersenyum menatap raut wajah ceria Seokjin, 'Apa yang harus aku lakukan kalau kau mengetahui fakta itu, Jinnie?' batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook berdiri dalam diam saat dia memeriksa lokasi pembunuhan di kelas, sementara Taehyung sibuk meneliti sudut yang cukup jauh dari darah yang menggenangi lantai.
"Hei, Taehyung-ssi."
"Apa?"
"Kenapa kau benci darah?"
Taehyung menghentikan kegiatannya, "Apa itu salah?"
"Tidak, itu tidak salah. Aku hanya penasaran dengan alasannya."
Taehyung berdiri dan menatap Jungkook tajam, "Dengar, Jeon Jungkook. Kau baru dua hari menjadi CSI di sini, jadi jangan mencoba untuk mencampuri urusanku. Kerjakan bagianmu dan diamlah."
Jungkook memperhatikan saat Taehyung keluar dari pintu kelas dan meninggalkannya sendirian. "Sebenarnya apa alasannya membenci darah?" gumam Jungkook.
Jungkook berjalan memeriksa jendela dan dia melihat bekas telapak tangan di kaca jendela. Jungkook mengerutkan dahinya, dia meniup kaca sehingga bekas itu terlihat cukup jelas karena udara hangat dari mulutnya. "Ini.. telapak tangan dan kelihatannya ada dua orang yang bertumpu di kaca ini."
Jungkook berlari kecil ke arah tas berisi perlengkapannya dan bergegas mengambil sidik jari yang menempel di jendela. "Semoga aku mendapat petunjuk baru dari ini."
Jungkook segera memotret sidik jari itu dan mengirimnya ke lab untuk diperiksa, sekitar 30 menit kemudian, Jungkook mendapat hasil sidik jari dari salah satu siswa blasteran yang bersekolah di sana, Stephen Kim.
Jungkook mengambil ponselnya dan menghubungi Taehyung, "Hei, aku perlu bertemu dengan Stephen Kim. Aku menemukan sidik jarinya bersebelahan dengan sidik jari korban." Walaupun mereka baru saja bersitegang, Jungkook harus tetap bekerja sama dengan Taehyung dalam kasus ini. Dan dia berharap semoga saja Taehyung tidak memikirkan masalah mereka tadi.
"Stephen Kim?"
"Ya, salah satu siswa di sini."
"Aku akan segera mengusahakan jadwal interogasi." Jungkook nyaris saja mengeluarkan helaan nafas lega, dia sempat ragu Taehyung akan seprofesional ini.
Jungkook memasukkan ponselnya setelah dia selesai menghubungi Taehyung, dia memeriksa bingkai jendela dan dia melihat ada sesuatu yang menempel di dinding di bawah jendela. Jungkook menyekanya dengan cotton bud khusus, "Aku juga harus memeriksa ini."
.
.
.
.
.
"Jadi, Stephen, bisa jelaskan kenapa sidik jarimu ada di jendela kelas tempat korban terbunuh?" tanya Jungkook pelan seraya menyodorkan foto jendela dengan foto sidik jarinya.
"Kenapa? Tentu saja karena aku juga bersekolah di sana, bukan hal yang tidak mungkin sidik jariku berada di sana, kan?"
"Ya, tapi kami juga menemukan sisa lube di bawah jendela itu. Apa kau tahu sesuatu tentang itu?"
"Lube?" tanya Stephen.
"Lube atau lubricant, aku rasa anak sekolah menengah berusia 18 tahun sepertimu pasti tahu lube itu untuk apa." Jungkook tersenyum kecil.
"Aku tidak ada kaitannya dengan itu. Aku tidak tahu soal lube di sana."
Jungkook mengangguk, "Oke, kalau begitu bisa minta sample DNAmu?"
"Untuk?"
"Untuk membuktikan ucapanmu kalau kau tidak ada kaitannya dengan ini."
"Kau tidak bisa melakukan itu."
Taehyung berdecak, dia tidak tahan lagi. "Listen, kid. Aku bisa saja langsung menempatkanmu sebagai tersangka utama karena sidik jari dan lube itu. Kalau kau tidak bersedia bekerja sama, aku akan meminta pengadilan setempat membuatkan kami surat perintah dan aku bersumpah, aku akan mengambil semua bagian tubuhmu untuk kujadikan referensi dalam kasus ini."
Stephen menelan salivanya gugup, "Aku akan memberikan sample DNAku."
Taehyung tersenyum miring, "Good boy."
Jungkook mengacungkan cotton bud khususnya. "Aku hanya perlu menyeka bagian dalam mulutmu dan kita selesai."
"Yeah, take everything you want." Stephen menjawab pelan dengan mata yang menatap Taehyung takut.
.
.
"Apa yang kau dapat dari anak itu?" tanya Taehyung.
"Berdasarkan hasil DNA, Stephen adalah orang yang berhubungan intim dengan korban. DNAnya cocok dengan sperma yang ditemukan dalam vagina korban, tapi aku menemukan kalau sperma itu terdiri dari dua orang. Korban kita berhubungan badan dengan dua orang, dan seks yang kedua ini agar kasar, aku juga menemukan sperma di lubang analnya."
"Dan itu tidak cocok dengan Stephen?"
Jungkook mengangguk, "Yap, kurasa setelah Stephen selesai dengan korban, ada lagi yang melakukan itu pada korban."
Taehyung mengangguk paham, "Ada ide siapa yang mungkin melakukan itu?"
"Aku memeriksa rambut yang kutemukan di genangan darah korban. Itu rambut pria, berwarna hitam, dan sedikit terbakar karena matahari. Aku menduga dia adalah orang yang sering berada di bawah matahari atau sering beraktifitas di luar."
Taehyung terdiam sebentar, "Mantan pacar korban adalah atlet basket sekolah, kemarin aku sempat berbicara dengannya."
"Apa yang kau dapat?"
"Dia beralasan sedang kelelahan sehingga tidak fokus saat menjawab pertanyaanku. Tapi kurasa dia berbohong soal itu, jika manusia kelelahan karena olahraga, keringatnya akan mengalir dari seluruh bagian kulit, tapi dia hanya berkeringat di sekitar dahi, dia tegang dan gugup karena berbohong."
"Kalau begitu ayo kita temui dia sekarang."
Taehyung mengangguk namun dia terhenti saat ponselnya bergetar. "Sebentar." Taehyung mengambil ponselnya dan menempelkannya ke telinga, "Taehyung." ujarnya.
Taehyung mendengarkan sebentar kemudian dia menoleh ke arah Jungkook.
"Ada apa?"
"Polisi menemukan mayat baru."
"Siapa?"
"Lee Ji Ho. Atlet basket sekolah sekaligus mantan pacar korban yang tadi kubicarakan."
Jungkook membulatkan matanya, "Apa?"
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di suatu tempat, terlihat seseorang yang sedang sibuk dengan komputernya di hadapannya. Jemarinya melayang di atas keyboard sebelum kemudian dia mengetikkan kata 'Jihoon' pada kolom search engine.
Hasil pencarian dari keyword itu segera keluar dan dia segera menekan link yang menuju profil media sosial dengan foto Jihoon.
"Hoo, jadi namanya Lee Jihoon? Dan dia pernah menjadi ulzzang saat sekolah menengah dulu." sosok itu menyeringai, "Dia benar-benar tipeku. Aku harus bisa mendapatkan darahnya."
.
.
.
.
.
"Hyungie, terima kasih karena sudah membiarkanku membuntutimu sampai tengah malam seperti ini." ujar Jihoon seraya tersenyum lebar pada Hoseok yang mengantarnya sampai ke pintu apartemennya.
"Hn, sekarang kau tidak merindukanku lagi, kan?"
Jihoon mengangguk pelan, "Tapi Hyungie harus berjanji untuk membalas pesanku atau mengangkat teleponku."
"Akan aku usahakan."
"Hyungie~" rengek Jihoon seraya menarik-narik lengan jaket Hoseok.
"Oke, aku akan membalas pesan dan telepon darimu."
Jihoon tersenyum lebar, "Oke, kalau begitu aku masuk dulu ya." Jihoon berbalik dan bermaksud untuk memasukkan password apartemennya kemudian dia terhenti dan berbalik menatap Hoseok.
"Apa?" tanya Hoseok dan sebelum Hoseok sempat bertanya lebih jauh Jihoon sudah memeluk lehernya dan menciumnya penuh di bibir.
Hoseok menutup matanya dan membalas ciuman itu, tangannya bergerak memeluk pinggang Jihoon yang kecil dan sedikit mengangkatnya agar tunangannya itu tidak perlu berjinjit untuk menciumnya. Hoseok segera menghentikan ciuman itu saat dia merasakan Jihoon mulai terengah.
Dia menurunkan tubuh Jihoon dan mengecup dahinya lama, "Tidurlah. Aku akan meneleponmu besok."
Jihoon tersenyum kecil, "Selamat malam, Hyungie. Dan terima kasih ciumannya." Jihoon berujar malu-malu.
Hoseok tersenyum kecil dan mengusap kepala Jihoon, "Masuklah. Aku pergi dulu."
Jihoon mengangguk dan bergerak cepat membuka kunci apartemennya lalu masuk ke dalam. Setelah Hoseok memastikan Jihoon mengunci pintunya, dia berjalan ke arah lift untuk pergi ke tempat parkir dan mengambil mobilnya.
Hoseok masuk ke dalam mobilnya dan terdiam, jemarinya terulur dan menyentuh bibirnya sendiri. Dia memang tidak pernah menolak skinship yang dilakukan Jihoon, Hoseok tidak pernah merasa keberatan membalas ciuman dan melakukan sedikit sesi making out dengan Jihoon, hanya saja Hoseok selalu mengontrol dirinya untuk tidak meniduri Jihoon. Hoseok tidak mau melakukannya disaat dia masih belum bisa menetapkan posisi Jihoon di hatinya.
Hoseok menghela nafas pelan dan memukul roda kemudi, "Maafkan aku, Jihoon. Aku hanya.. tidak siap untuk memberitahumu soal itu."
.
.
.
.
Jimin melangkah turun ke lantai bawah rumahnya, sekarang sudah jam tiga pagi tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Yoongi di kamar mereka. Jimin bermaksud untuk pergi ke dapur untuk memeriksa apakah Yoongi tertidur di sofa ruang tamu seperti sebelumnya dan dia terhenti saat melihat lampu dapur menyala.
Dengan perlahan dan hati-hati dia mengintip dan dia melihat Yoongi duduk di meja makan dekat dapur, sedang sibuk mengupas apel.
Jimin menghembuskan nafas lega, dia tersenyum dan bersiap untuk menyambut Yoongi, tapi dia kembali terhenti saat dia melihat Yoongi tidak sengaja melukai jemarinya saat mengupas apel dan darah mengalir dari jemarinya yang terluka.
Jimin melihat Yoongi memperhatikan jemarinya dengan cukup lama sebelum kemudian dia menjilat darah yang mengalir di sana dengan raut wajah begitu menikmati.
"Y-Yoongi?" lirih Jimin tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
To Be Continued
.
.
Kuharap kalian tidak keberatan dengan beberapa kondisi cast di sini. Ini hanya fiksi, jangan dianggap serius. Oke? :D
Oya, aku membuat cerita baru, judulnya 'Instant Princess', kalian bisa memeriksanya di profileku~ Hahaha
Dan tolong berikan review kalian agar aku tahu apa pendapat kalian soal cerita ini.
.
.
.
Thanks
