The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 4
Yoongi menatap tangannya yang sudah bersih dari darah. Dia terdiam dan kemudian meremas rambutnya sendiri. Dia sudah berjanji dan bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan melakukannya lagi, dan lihat dirinya sekarang. Kebiasaan lama yang sudah mendarah daging memang akan sulit diubah, dan Yoongi tidak percaya dia bisa kelepasan lagi.
Yoongi melempar apel yang tadi sedang dikupasnya dan memutuskan untuk berlari meninggalkan rumahnya. Yoongi sama sekali tidak menyadari kalau Jimin masih berada di balik tembok, menatapnya dengan pandangan nanar.
"Yoongi.. kau.. benar-benar tidak bisa berubah ya?" gumam Jimin sedih.
Jimin sudah tahu ada yang salah dengan Yoongi, mulanya Jimin hanya mendengus tidak percaya saat dokter yang pertama kali memeriksa Yoongi mengatakan kalau Yoongi melukai dirinya sendiri, tapi saat akhirnya Jimin melihat bekas luka itu, Jimin mulai percaya, tapi dia tetap tidak yakin.
Kemudian Yoongi mengatakan padanya bahwa dia akan mendaftar di kepolisian sebagai CSI. Mulanya Jimin tidak yakin, dia tidak tahu latar belakang pendidikan Yoongi, makanya dia sangat terkejut saat Yoongi mengatakan kalau dia adalah lulusan kedokteran dan science.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, Yoongi mendapatkan prestasi super gemilang dan bisa menjabat sebagai kepala CSI hanya dalam waktu satu tahun pertamanya bekerja. Jimin tidak bodoh, makanya dia mencari tahu soal cara bekerja Yoongi dan dia mengetahui fakta kalau Yoongi terlampau ahli dalam urusan darah, anatomi tubuh manusia, dan yang paling penting, sisi psikologis seorang pembunuh. Yoongi seolah memiliki pemahaman sendiri mengenai criminal minds.
Jimin menunduk sedih, dia menghela nafas pelan, "Apa ini dirimu yang sesungguhnya, Yoongi? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di ruang istirahat mereka. Dia memang belum mulai bekerja karena shiftnya baru akan dimulai setengah jam lagi.
"Seokjin? Tidak biasanya kau ada di sini secepat ini."
Seokjin membuka sebelah matanya dan melihat Jackson, salah satu polisi sekaligus teman baik Namjoon.
Seokjin melemparkan senyum kecil, "Aku bosan di rumah."
Jackson mengerutkan dahinya, "Kemana Namjoon?"
"Dia ada di rumah."
"Kau meninggalkannya sendirian di rumah? Anak itu pasti bingung mencarimu."
Seokjin mengangkat bahunya, "Aku sudah meninggalkan notes kalau aku akan pergi jalan-jalan sebentar sebelum bekerja."
Jackson mengerutkan dahinya, kemudian dia menarik kursi dan duduk di hadapan Seokjin, "Oke, sekarang coba ceritakan ada apa sebenarnya? Aku mengenalmu dan Namjoon sejak kita mulai bekerja dan aku berani bersumpah kalian adalah pasangan yang paling jarang bertengkar. Jadi, ada apa sekarang? Apa Namjoon mengkhianatimu? Atau kau melakukan sesuatu di belakangnya?"
Seokjin menghela nafas pelan, "Entahlah, Jack. Aku merasa ada yang aneh dengan Namjoon belakangan ini. Dia sering melamun, dan dini hari tadi aku tidak sengaja mendengarnya mengigau. Dia.. meminta maaf padaku."
"Maaf? Untuk apa?"
"Itulah yang tidak aku mengerti. Namjoon sangat jujur padaku, dia bahkan pernah mengatakan padaku kalau ada seorang polwan baru dari divisi lalu lintas yang pernah menggodanya dan Namjoon mengatakannya secara terang-terangan, aku yakin Namjoon tidak akan membohongiku atau menyembunyikan sesuatu dariku. Jadi apa yang membuatnya minta maaf padaku?"
Jackson terdiam, "Mungkinkah dia.." Jackson terhenti dan menutup mulutnya.
"Dia apa?"
Jackson berdehem dan menggeleng, "Bukan apa-apa." Jackson melemparkan senyum kecilnya ke Seokjin.
"Jack.."
Jackson bergerak berdiri, "Aku harus pergi. Ah, dan soal masalahmu, kurasa sebaiknya kau tidak berpikiran negatif, Namjoon mencintaimu, dia amat sangat mencintaimu."
Seokjin mengangguk pelan, "Ya, aku tahu itu."
"Oke, sampai nanti." Jackson berjalan keluar dari ruang istirahat dan setelah dia berbelok di koridor dia menghela nafas pelan.
"Seokjin tidak mungkin tahu soal itu, kan?" Jackson melirik ke belakang, kemudian dia menggeleng pelan. "Tidak, tidak. Aku sudah bersumpah tidak akan memberitahu siapapun soal itu. Waktu itu Namjoon mabuk, makanya dia bisa menceritakan semuanya padaku." Jackson mengangguk kecil, "Aku harus menepati sumpahku."
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok sedang sibuk meneliti hasil swab dari kulit tangan korban mutilasi mereka. Dan dia menemukan jumlah hand cream yang cukup besar di tangannya. Jelas sekali kalau korban mereka menyayangi kulitnya. Hoseok tertawa kecil, "Dia mengingatkanku pada Jihoon."
Hoseok memang sangat menyadari kalau tunangannya itu sangat menjaga kesehatan seluruh tubuhnya. Dia bilang dia merawatnya untuk Hoseok, agar Hoseok tidak berpaling darinya.
Well, seandainya saja Jihoon tahu kalau Hoseok memang tidak pernah memperhatikan atau tertarik pada orang lain. Hanya Jihoon yang menempati tempat sebagai orang yang 'disayangi' oleh Hoseok.
Hoseok tertegun saat dia menyadari sesuatu, "Kurasa dugaan awal kalau korban adalah seorang ulzzang itu memang tepat. Tapi.. kurasa wilayah universitas itu bukan jajaran tempat penuh ulzzang." Hoseok mengerutkan dahinya dan berpikir.
Dia sudah beberapa kali mondar-mandir demi menemukan potongan tubuh lainnya dan sejauh ini dia tidak pernah melihat wajah ulzzang yang luar biasa menarik dan terlihat berbeda. Hoseok mengambil hasil print-out yang menuliskan kandungan hand cream yang digunakan korban kemudian berlari kecil mencari Yoongi.
Hoseok menemukan Yoongi yang kelihatannya tengah terburu-buru. "Hei, Yoongi."
Yoongi menghentikan langkahnya, "Hoseok! Kita harus pergi sekarang."
"Hah? Kenapa?"
"Universitas baru saja melaporkan kalau mereka menemukan potongan tubuh lainnya."
"Kita segera ke sana." ujar Hoseok cepat.
.
.
.
Potongan tubuh itu berupa bagian pinggul ke bawah. Menurut keterangan yang diberikan, yang menemukannya adalah orangtua mahasiswa yang sedang berkunjung dengan membawa anjing peliharaan si mahasiswa. Anjing kecil itu menyalak dengan ribut dan menghilang ke dalam hutan, ketika dia kembali, dia membawa sobekan kain berlumuran darah, sehingga si pemilik mengikutinya dan menemukan potongan tubuh itu di tengah hutan kecil di sekitar wilayah universitas.
Yoongi berjongkok di sebelah potongan kaki itu, jemarinya terulur dan menekan-nekan kaki itu pelan. "Kulitnya terasa agak keras, dan rasa dingin yang tidak wajar ini.."
"Dia dibekukan?" tanya Hoseok pelan. Dia berdiri sekitar tiga langkah di belakang Yoongi.
Yoongi mengangguk, "Apa tidak ada orang yang melihatnya dibuang di sini?"
Hoseok mengeluarkan buku catatan kecilnya, "Aku akan mulai mencari keterangan selagi ingatan mereka semua masih segar." Hoseok berbalik dan berjalan keluar dari hutan kecil itu, dia mengangkat garis polisi yang sudah dibentangkan dan keluar dari bawahnya.
Dia menatap sekeliling dan menyadari kalau para mahasiswa sudah berkumpul di sini, dia mendekati kerumunan dan mengeluarkan buku catatan kecilnya.
"Apa ada yang melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini?" tanya Hoseok pelan.
Jawaban yang diterimanya tidak banyak membantu. Hanya seorang siswa yang mengaku melihat seseorang membawa sebuah kantung plastik hitam besar. Dia tidak memperhatikan dengan lebih detail karena dia mengira itu adalah petugas kebersihan yang akan membuang sampah.
Hoseok mengangguk pelan, "Bagaimana ciri-cirinya?"
"Aku tidak terlalu memperhatikannya. Yang jelas dia pria bertubuh tegap, dia memakai topi dan sarung tangan, dan dia berjalan di depanku, aku tidak bisa memperhatikannya dengan lebih detail."
Hoseok mengangguk-angguk.
"Anda sendirian?"
Hoseok mengangkat kepalanya dan melihat kalau seorang mahasiswa lainnya baru saja melontarkan pertanyaan itu padanya.
"Ah, rekanku masih berada di dalam hutan." Hoseok berujar seraya menggerakan sebelah bahunya ke arah hutan.
"Bukan, maksudku bukan dia. Maksudku adalah seseorang yang bersamamu kemarin, seorang pemuda dengan tubuh mungil dan kulit putih."
Hoseok menatap mahasiswa itu dan terdiam, apakah yang dimaksud olehnya adalah Jihoon? Hoseok ingat tunangannya memang ikut bersamanya kemarin.
"Kenapa kau.."
"Hoseok!"
Hoseok berbalik dan dia melihat Yoongi berjalan keluar dari hutan dengan dua petugas koroner yang membawa kantung mayat di belakangnya.
"Kita sudah selesai di sini, ayo kembali."
"Ya, tunggu." Hoseok kembali menatap ke depan dan dia tertegun saat dia tidak melihat sosok mahasiswa yang menanyakan soal Jihoon padanya.
"Hoseok?" panggil Yoongi lagi.
"Sebentar, kau pergilah duluan ke mobil. Aku akan menyusulmu." Hoseok merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya, entah kenapa dia merasakan firasat buruk soal tunangannya.
"Hyungie?"
Hoseok menghembuskan nafas lega saat dia mendengar suara ceria Jihoon, "Kau ada dimana sekarang?"
"Aku? Aku ada di perpustakaan kota."
"Jihoonie, kau baik-baik saja, kan? Kau tidak merasakan perasaan aneh, kan?"
"Hyungie, ada apa? Aku baik-baik saja kok."
"Kau pergi dengan siapa?"
"Aku pergi sendiri. Hyungie, kenapa kau terdengar begitu cemas? Apa sesuatu terjadi?"
"Jihoon, apa kau bertemu dengan seseorang yang kau kenal kemarin? Saat kau mengikutiku bekerja?"
Jihoon terdiam beberapa saat, "Tidak, aku tidak memiliki kenalan di universitas itu."
"Kau yakin, sayang?" tanya Hoseok, tanpa sadar memanggil Jihoon dengan 'sayang' karena dia benar-benar cemas, entah karena apa.
"Iya, Hyungie. Aku yakin."
Hoseok menghembuskan nafas lega, "Aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Hyungie.."
"Ya?"
"Bisa kau katakan 'Sayang, aku mencintaimu.' padaku?"
"Jihoonie.."
"Ayolah~ tadi kau saja bisa memanggilku sayang."
"Oke, oke. My baby Jihoonie, I love you. Sekarang biarkan aku bekerja, oke?"
"I love you too~ Selamat bekerja! Mmuaachh!"
Hoseok terkekeh pelan, "Hn.."
Hoseok memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya, dia menggeleng pelan karena dia merasa rasa khawatirnya berlebihan. Kenapa dia jadi paranoid seperti ini hanya karena seseorang menanyakan soal Jihoon padanya?
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menatap percikan darah yang dia buat dengan menggunakan media yang tersedia. Dia mengambil beberapa boneka yang sudah didesain khusus untuk mengeluarkan darah seperti manusia pada umumnya. Selagi menunggu hasil autopsi untuk mayat terbarunya, Jungkook memutuskan untuk memeriksa beberapa bukti lainnya yang masih tersebar di kelas. Mayat mantan kekasih korban pembunuhan di kelas itu ditemukan tergeletak di gudang olahraga dalam kondisi diracun, dan karena gudang itu memang sangat berantakan, Jungkook tidak menemukan hal mencurigakan dari tempat itu. Makanya dia memilih untuk menyelidiki bukti yang tersisa di kelas.
"Kau sedang apa?"
Suara berat seseorang membuyarkan konsentrasi Jungkook memperhatikan cipratan darah di dinding yang sudah dilapisi kain. Dia menoleh ke belakang dan dia melihat Taehyung berdiri tak jauh darinya.
"Aku menyelidiki percikan darah yang aku temukan di dinding kelas di dekat korban. Berdasarkan noda yang dihasilkan dan jaraknya, kurasa pelaku menggunakan alat yang sangat tipis dan tajam untuk melukai tangan korban kita."
Taehyung berjalan mendekat dan dia melihat beberapa benda tajam yang umum ditemui seperti silet, gunting, pisau lipat, dan juga sebuah belati kecil berada di sana.
"Jadi, apa alatnya?"
Jungkook mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu. Aku masih belum bisa menemukannya. Padahal lokasi pembunuhan itu terjadi di kelas, seharusnya aku berhasil menemukannya di antara barang-barang ini."
Jungkook meraih clipboardnya yang terbuat dari kayu, namun sial baginya pergelangan tangannya justru tergores dan mengeluarkan darah.
"Akh! Sial!" rutuk Jungkook saat darahnya menetes ke lantai.
Taehyung terdiam dengan wajah kaku saat melihat darah yang mengalir. Tanpa disadarinya dia bergerak menghampiri Jungkook dan mengikat pergelangan tangan yang berdarah itu dengan saputangan miliknya.
Taehyung mengangkat wajahnya saat dia merasa ada yang memperhatikannya dan dia melihat mata Jungkook menatapnya dengan raut wajah agak takut dan ragu-ragu.
"Apa?" ujar Taehyung.
"Kupikir kau benci darah."
Taehyung melepaskan tangan Jungkook yang sudah terbalut, "Aku memang benci darah. Tapi aku bisa menolong seseorang yang berdarah. Aku tidak sebenci itu sampai tega membiarkan orang lain yang terluka dan berdarah tanpa menolongnya." Taehyung berbalik dan berjalan meninggalkan Jungkook, "Cepat temui dokter dan urus tanganmu."
Jungkook mengangguk, kemudian dia menoleh untuk mencari clipboardnya yang dia jatuhkan dan dia tertegun saat melihat cipratan darah di dinding. Itu cipratan darahnya, dan bentuknya sama persis dengan cipratan darah yang dia temukan di kelas.
Jungkook tersenyum lebar, "Yeay! Akhirnya aku berhasil menemukannya. Aku harus segera memberitahu Taehyung."
Jungkook berjalan keluar dari ruangan itu dan dia melihat Taehyung dengan wajah pucat pasi berdiri bersandar di koridor. Jungkook menghampirinya dan dia melihat Taehyung memejamkan matanya.
"Taehyung-ssi.." panggil Jungkook pelan.
Taehyung membuka matanya dan menatap Jungkook, Jungkook tertegun, ini adalah pertama kalinya dia melihat raut wajah ketakutan dari Taehyung. Bola mata cokelat milik pria itu bergetar karena takut dan panik, mungkin akibat dari melihat darah Jungkook.
"Tae.." ucapan Jungkook terhenti saat sebuah kilasan masa lalu merebak dalam ingatannya. Dia ingat pernah melihat mata cokelat yang sama, dalam sebuah ruangan penuh darah.
Taehyung bergerak mendorong Jungkook pelan dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Jungkook masih terpaku di posisinya.
"Mata itu.. aku pernah melihat mata itu sebelumnya."
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon berjalan dengan langkah pelan dengan posisi membawa buku di tangannya, dia mendorong pintu café dengan bahunya dan berjalan masuk. Karena terlalu sibuk dengan posisinya, dia sama sekali tidak menyadari sosok seseorang yang berjalan ke arahnya.
Mereka bersinggungan dan buku yang dipegang Jihoon terjatuh. "Ah, maaf." Jihon membungkuk pelan dan mengambil bukunya yang terjatuh.
Jihoon mengangkat kepalanya, bermaksud untuk minta maaf lagi tapi dia terhenti saat melihat wajah orang yang ditabraknya. Dia merasa pernah bertemu pria ini sebelumnya.
"Hai, kita bertemu lagi. Kemarin kita juga tidak sengaja bertabrakan saat di universitas itu, kan?"
"Aah! Kau orang yang kemarin!" ujar Jihoon. "Maaf karena sudah menabrakmu lagi."
Orang itu tersenyum, "Bukan masalah. Oya, kenalkan, aku Christian Lee."
"Aku Lee Jihoon."
Christian tersenyum kecil, "Keberatan kalau kita mengobrol sebentar?"
"Oh, tidak. Tentu saja tidak."
Christian menyeringai, 'Kena kau.'
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon menatap mejanya dengan pandangan kosong. Seharian ini Seokjinnya menghindarinya dan dia tidak tahu kenapa. Semalam mereka masih baik-baik saja, Seokjin masih tidur bersamanya dan Namjoon masih memeluknya seperti biasa. Hanya saja Seokjin mendadak aneh sejak pagi tadi.
Bahkan Seokjin menolak makan siang bersama dengannya dan memilih untuk memesan makanan. Namjoon ingat betapa pucatnya wajah Seokjin saat dia akan melakukan suapan pertamanya pada makanannya tadi.
Namjoon tahu Seokjin membutuhkannya untuk makan makanan dari luar, Namjoon ingin membantu, tapi Seokjin seolah mengusirnya menjauh dan dia tidak tahu kenapa.
"Yo! Namjoon!"
Namjoon mengangkat kepalanya dan dia melihat Jackson berdiri di sana.
"Kau terlihat buruk, mate. Ada masalah?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Seokjin, tapi dia menjauhiku."
Jackson terdiam, "Kau tahu, tadi pagi Seokjin menceritakan sesuatu padaku."
"Apa?" desak Namjoon.
"Dia bilang, kau mengigau, dan kau meminta maaf padanya."
Namjoon terdiam dan dua detik berikutnya dia mengerang frustasi dan mengacak rambutnya.
"Hei, mungkinkah Seokjin tahu soal itu?"
"Aku tidak akan pernah memberitahunya."
"Tapi dia malah mengira kau mengkhianatinya, makanya dia menjauh darimu."
"Aku terlalu mencintai dia, Jackson. Aku tidak bisa mengatakan itu padanya."
"Tapi kau harus melakukannya."
"Dia akan pergi meninggalkanku."
"Well, bohong kalau aku bilang itu tidak akan terjadi. Dia mengalami trauma berkepanjangan karenamu."
Namjoon mengerang frustasi, "Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan."
"Kau harus jujur, Namjoon. Itu keahlianmu, kan?"
"Aku tidak bisa dan tidak akan jujur untuk yang satu ini."
"Kau harus mencobanya, atau kau akan kehilangan Seokjin selamanya."
To Be Continued
.
.
.
First, sorry for this late update! I'm super busy with my real life.
Misterinya mulai terungkap, kan?
Tidak sulit menemukan keterkaitan di antara mereka. Hahaha
Dan.. jangan lupa berikan review kalian di sini!
.
.
.
Thanks
