THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight Saga
.
.
77. Pertunangan
Sunday, August 25, 2013
4.31 PM
.
.
Pulang cepat, Seth? tanya Ben tatkala Seth menyudahi patroli pagi itu dan menempuh rute pulang.
Uhm, yeah..., jawab Seth tidak jelas. Aku agak sedikit lelah...
Ah... Sedikit lelah atau ingin menyimpan tenaga untuk urusan lain? goda Ben seraya berlari-lari kecil meneruskan patroli Seth, yang disambut kekehan Pete di sudut lain hutan. Awas lho, Seth, jangan mengganggu Korra dulu… Dia kan masih lemah…
Tentu saja tidak, tawa Seth.
Yup, masih banyak kesempatan... Tenang saja…, kedip Pete.
Entah mengapa setelah kasus percintaan backstreet-nya terbuka lebar, Seth sedikit berubah. Tidak lagi ia menjadi sosok yang selalu menutupi pikiran seperti dahulu. Mungkin ia merasa tidak ada gunanya, atau ia merasa sedang berada di langit ketujuh dengan rencana pertunangannya—atau begitu menurut anak-anak. Yang jelas kawanan menyambut baik perubahan ini. Setidaknya para Gossip Guys minus Collin, yang sejak pulih masih juga belum aktif patroli. Mereka bahkan menjadikan perkara pertunangan Seth sebagai bahan gosip bagus. Hiburan di antara waktu-waktu berat patroli belakangan.
Sudah tiga hari Seth jadi Alfa. Semenjak itu pula, rutinitas patroli kembali seperti semula, jika tidak mau dikatakan lebih berat. Tak hanya memberlakukan penjagaan 24 jam dengan sistem shift, ia pun melipatgandakan jumlah serigala yang berkeliaran di hutan. Area patroli kini tak lagi hanya di perbatasan. Secara sistematis anak-anak juga menyisir hutan. Seth memerintahkan pencarian Jacob, tetapi hingga kini mereka belum mendapatkan hasil memuaskan. Sebetulnya Seth sudah menyusun rencana pencarian hingga keluar batas Quileute, tapi kondisi keamanan La Push yang mengkhawatirkan, dengan ancaman serangan balasan Sang Ibu, tidak memberinya kesempatan. Setidaknya sementara, hingga ia bisa mendapatkan bala bantuan tambahan.
Dan di saat menegangkan itu, tentu saja, masih ada saja yang berusaha memperingan suasana dengan canda tidak jelas mereka. Siapa lagi kalau bukan Ben dan Pete?
Hebatnya, walau jelas jadi bahan gosip, Seth tampak tak keberatan. Itu yang anak-anak suka dari Alfa baru mereka. Selama mereka tidak memperlemah penjagaan, ia tak banyak menuntut ini-itu.
Ehm ehm, dehem Ben penuh makna. Rasanya sudah lama ya kita tidak punya Alfa yang punya pasangan resmi?
Benar... Sudah lama kita tidak dapat hiburan waktu patroli..., komentar Pete sambil mesem-mesem.
Tapi tahu tidak apa yang menarik? sambung Ben seolah Seth tidak ada di sana. Kupikir selama ini Seth selalu serius patroli dan memikirkan urusan kawanan yang berat di balik selubung pikirannya… Eh, tidak tahunya ia sedang asyik berfantasi…
Tentu saja ia harus menutupi pikiran…, kekeh Pete. Kan bisa gawat kalau Jacob atau Cole menangkap basah pikirannya…
Padahal kukira Cole yang getol mengejar Korra, tidak tahunya Seth sudah mencuri start… Ack, Cole bodoh sih…
Setuju! Mana ada coba, cowok keren yang merayu pakai rajutan? Mungkin dipikirnya karena Korra jelas tak terpesona dengan ototnya, gadis itu tidak suka cowok macho… Yah, memang melihat seperti apa tipenya, tidak salah juga, sih..., Pete agak menerawang. Mungkin zaman cowok macho sudah lewat ya? Kelihatannya aku harus belajar banyak dari Seth kalau mau dapat cewek…
Ngapain kau mau mengejar cewek segala? Kupikir kau suka cowok? cengir Ben yang langsung disambut gonggongan Pete.
Awas kau, Ben! Kusumpahi kau perjaka selamanya!
Ugh… Mentang-mentang sekarang tinggal aku, Embry, dan Cole yang masih jomblo…, gerutu Ben muram. Eh tidak, tinggal tunggu waktu hingga Cole dan Brad jadian… Embry juga sudah mau lanjut dengan si Colloughby itu. Ooooh, nasibku jadi perjaka karatan…
Tenang Ben, kau masih punya teman senasib sepenanggungan…, Pete menunjuk dirinya sendiri.
Apanya? protes Ben sinis seraya menayangkan adegan panas yang Seth tidak yakin itu adegan nyata atau murni-imajiner mengenai Pete dan si Black berkacamata Ben Two.
Beeeeeeen~! teriak Pete. Kau juga, Alfa, jangan ikut senyum-senyum! Lakukan sesuatu!
Maksudmu menurunkan Titah? Tidak, maaf Pete, aku tidak mengobral Titah untuk hal kekanakan kalian…
Pete kedengaran agak kesal, dan merencanakan balas dendam lain dengan kembali menarik urusan Seth dalam obrolan tidak jelas mereka.
Omong-omong, kita ternyata selama ini tidak mengenal betul Beta kita, ya? katanya sinis. Ternyata dia itu diam-diam menghanyutkan…
Seth merasakan firasat buruk ke mana obrolan ini akan menuju.
Benar saja.
Ya, betul, betul! akur Ben, termakan pancingan Pete. Ternyata banyak hal tentang Seth yang membuatku terpana. Misalnya saja, aku memang selalu tahu Seth pasti pasif di ranjang, tapi yang membuatku kaget, kalem-kalem begitu, ia ternyata pecinta BDSM! Tak kusangka di balik gaya sok-innocent-nya, Korra rupanya dominatrix yang menakjubkan! Mereka memang pas sekali! Uwooooo…, Ben langsung menebar gosip, lengkap dengan bayangan Korra dengan cat-suit hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya—ini sudah pasti imajiner, sejak kapan Korra punya lekuk tubuh?—berputar-putar memainkan cemetinya, memperagakan aneka variasi gestur mengancam sekaligus sugestif di sekitar Seth, yang terikat erat di kursi dengan mulut tersumpal. Kontan Seth mendelik. Ups, maaf Alfa, tidak bermaksud kurang ajar, cengirnya tanpa sedikit pun rasa bersalah. Didengarnya derai tawa kemenangan Pete di ujung sana.
Huh. Bahkan imajinasi liar Ben pun tidak seperseratus kebenaran.
Eh? Apa, Seth? Kau suka extra-hardcore, ya? dan ia mulai merangkai imajinasi lain berating MA, kali ini malah kelewat tidak realistis.
Entah anak-anak memang tidak menghormatinya sama sekali, atau sikapnya terlalu lembek selama ini hingga mereka berani bersikap seenaknya, yang jelas Seth memutuskan tidak ambil peduli. Sudah bukan rahasia lagi kalau duet Ben dan Pete adalah badut kawanan Quileute generasi kedua sesudah Embry dan Quil. Mereka bahkan lebih parah seratus kali lipat. Tak ada untungnya meladeni mereka.
Jadi, tidak mengacuhkan rentetan gosip yang makin lama makin kacau, ia menegaskan beberapa instruksi penjagaan, lantas menyeberangi batas Quileute. Tujuannya sudah jelas: rumah Cullen.
.
.
Sudah seminggu rumah ini menjadi tempat kediamannya. Tentu saja, dengan adanya Korra belum pulih benar, ia tak dapat meninggalkan gadis itu. Terlebih, sekarang Adam dan Caleb sudah tak lagi bertugas di sana.
Ya, mereka mengundurkan diri dari tugas merawat Korra karena dua hal. Satu, mereka dibutuhkan untuk ikut menjaga tanah Quileute, karena kawanan kekurangan tenaga dengan ketiadaan Jacob dan Collin. Dua, mereka menyingkir karena tidak tahan dengan bau yang sejak tadi malam menguar di rumah Cullen.
Bau itu merasuk hidung Seth begitu ia mendekati jaringan pepohonan yang melingkupi rumah besar itu. Untung saja ia sudah terbiasa.
Samar terdengar bisik-bisik entah-dalam-bahasa-apa dari dalam rumah, yang segera berhenti begitu Seth kian mendekat. Agak mengernyit, Seth menekan kecurigaannya dan segera berubah balik, menarik gulungan celana dari kakinya. Ia belum lagi keluar dari area hutan ketika pintu terbuka dan satu sosok melompat-lompat mendekatinya.
"Hei, Seth!" sapanya manis, memeluknya. "Ugh. Kau bau."
Seth tertawa. "Bukannya biasanya juga begitu?"
"Ya, tapi sekarang menjijikkan sekali. Pokoknya nanti kau lekas mandi dan cepat temui Korra. Dia sudah menunggu-nunggu kepulanganmu dari tadi, tahu!"
"Oh ya?" Seth berusaha tampil wajar, mengikuti gadis itu. "Memangnya ia sudah bangun?"
"Sudah dari tadi, kok. Carlisle baru saja selesai memeriksanya."
Melewati pintu, seperti dahulu, gelombang ketenangan yang sudah ia kenal betul menyapanya. Seth memutar bola mata, menoleh ke sisi.
"Jazz… Sudah kubilang jangan main-main terus dengan emosiku…"
Jasper tersenyum, mendekat dan memeluk adik angkat kesayangannya. "Kupikir kau membutuhkannya, Lil'Bro. Emosimu campur aduk…"
"Masa? Kupikir aku sudah sangat tenang…"
"Jangan berbohong, Seth. Sebaik apapun kau mengendalikan emosi, tidak ada yang bisa membohongiku. Ingat?"
"Tentu, tentu," detik Seth mengatakan itu, segera saja perasaan aneh melingkupinya. Jacob … di mana dia sekarang?
Lagi-lagi gelombang ketenangan itu membasuhnya. Kali ini Seth berterima kasih.
"Yayaya, sudah cukup adegan bromance-nya," Alice menyelanya, menyambar Seth dari Jasper dan mendorongnya ke toilet di kamar mereka di lantai satu. "Kau mandi sana, Seth! Ugh, nanti suamiku jadi bau kausentuh-sentuh!"
Seth tertawa dan mengikuti perintah Yang Mulia Ratu Hati. Begitu keluar, ia tampak sudah segar berbalut kaos V-neck putih yang dipilihkan Alice. Dari baunya yang sama sekali tak ada jejak lintah, kelihatannya pakaian itu masih baru.
"Nah begitu dong, Tuan Tampan…," komentar Alice sambil menggerek Seth ke meja rias. "Nanti pasti banyak yang kelepek-kelepek deh…"
"Wah gawat itu, aku kan sudah dicarter orang…," balas Seth dengan serigai norak yang langsung membuat Alice bergidik dan mengatainya sudah ketularan Jacob.
"Omong-omong, kau mau nuansa apa nanti?" tanya Alice ceria, sementara ia mengoleskan gel untuk menata rambut Seth. Seth sudah biasa dengan perlakuan Alice yang menganggapnya adik, atau tepatnya boneka, atau lebih tepatnya lagi anak anjing kecil yang manis. Jadi dibiarkannya saja Alice berbuat sesukanya. Lebih baik begitu daripada protes, karena bisa jadi Alice akan berbuat lebih jauh—menjadikannya kelinci eksperimen trend fashion yang aneh-aneh, misalnya.
"Nuansa?" tanya Seth bingung seraya menatap bayangannya di cermin. Kalau sedang waras, sebenarnya Alice tidak begitu buruk… Patut diakui dengan sentuhan Alice, ia memang jadi lebih tampan… Yeah, jika saja ia bisa mengenyahkan bau manis yang jadi menempel padanya berminggu-minggu…
"Untuk pesta pernikahanmu, tentu…"
"Astaga, Als… Itu kan masih tahun depan, menunggu Korra cukup umur…"
"Ayolah, Seth… Masa kau masih mau menunda? Lagipula mau dia umur 17 atau 18, 23 sekalipun, badannya kan tetap segitu-segitu saja… Kami bisa kok memanipulasi surat-surat supaya dia dianggap legal…"
Meski tertawa, entah mengapa Seth merasa jantungnya sedetik berhenti. Rupanya Alice sudah tahu soal Korra… Tentu saja. Mengapa ia perlu merasa aneh?
"Nggg… Aku tidak terlalu tahu, sih… Tapi menimbang seperti apa dia, kurasa Korra akan suka sesuatu yang tradisional… Upacara adat Quileute… Dengan tarian dan tabuhan perkusi dan semacamnya…"
Alice mengerang. Sebagaimanapun ia berbakat sebagai wedding organizer, pengetahuannya tentang segala sesuatu yang berbau tradisional agak kurang bagus.
"Padahal aku selalu membayangkan pesta romantis untuk adikku yang manis," katanya muram. "Pesta di tebing yang lebih indah daripada waktu pernikahan Edward… Dengan juntaian tirai-tirai melambai, ditambah hiasan bunga lili putih dan sulur-sulur dedaunan… Atau kita bisa menyelenggarakan pesta di pinggir kolam, dengan lilin-lilin mengambang," ia mulai menerawang, asyik sendiri dengan imajinasinya. "Memangnya kau tidak bisa merayu Korra? Aku bahkan sudah mendesain beberapa gaun, lho…"
Seth tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah, Alice… Anak cowok kan memang tidak begitu mengerti soal pesta," suara indah seseorang bersenandung dari pintu. Wanita itu mendekat, membawa semangkuk masakan yang baunya enak. "Lapar, Seth? Coba ini, aku sudah memasakkan spesial untukmu sejak pagi buta tadi."
Ia tersenyum, mengambil alih mangkuk itu dari tangan Esme dan mencicipinya sedikit.
"Enak?" tanya wanita itu penuh harap.
Seth memaksakan diri mengangguk.
"Bagus," ia bertepuk tangan dengan antusias, mendorong Seth keluar kamar Alice. "Aku masak banyak, lho…"
Pemuda itu menahan erangannya sementara ia melirik Jasper yang berkedut-kedut menahan senyum ketika ia melewati ruang tengah menuju dapur. Meski sangat keibuan dan hobi memasak, serta sudah berlatih memantapkan kemampuan kulinernya selama enam tahun ini dari sumber apapun yang ia bisa dapatkan, indera pencecap Esme yang bermasalah selalu membuat rasa masakannya agak tidak karuan. Dulu memang Seth tidak terlalu peduli kualitas asal tampang dan yang lebih penting kuantitas masakan itu memadai, tapi sejak termanjakan dengan rasa masakan Korra, ia merasa lidahnya jadi agak pilih-pilih.
"Korra sudah makan?" tanyanya sementara diam-diam menambahkan garam dan merica pada masakan Esme, bersiap menyendok seporsi masakan untuk Korra.
"Oh, itu…," Alice terdengar agak ragu.
"Kenapa?"
"Umm, menurut Carlisle, menimbang keadaannya, sementara ia hanya bisa makan … yeah, kau tahu…"
"Oh," Seth hanya berkomentar tak jelas, memojokkan perasaannya ke sudut sementara menyantap makanannya dengan tidak berselera. Entah mengapa membayangkan … cairan merah kental itu … membuatnya agak…
"Tidak enak ya, Seth?" Esme menatapnya dengan sorot kecewa. Seth tergagap, buru-buru menggeleng.
"Tidak. Ini menakjubkan, Esme, sungguh," ujarnya meyakinkan. "Hanya saja, aku …"
Wanita itu tersenyum penuh empati, tidak berkata apapun dan menepuk pundaknya dengan gestur menenangkan. Seth balas tersenyum, lekas-lekas menghabiskan masakan hambar itu dan melayang ke lantai atas.
.
Carlisle membukakan pintu untuknya dengan senyum khasnya yang biasa. Aroma darah yang kental menyergapnya, membuatnya pusing. Dokter vampir itu segera mengalihkan perhatiannya, berbincang sedikit mengenai perkembangan kondisi Korra. Seth menanggapi dengan tidak terlalu antusias, matanya terfokus pada sosok Korra yang duduk tenang di ranjang Carlisle. Selang-selang yang membalut tubuhnya sudah tak ada lagi kini. Tahu apa yang dipikirkan Seth, pria itu pun segera menyelinap keluar, memberi privasi pada mereka berdua.
"Hai, Seth," sapa Korra begitu ia mendekat dan mengecup singkat kening gadis itu. "Wow, kau tampan… Dan harum…"
"Ah, yeah, Alice menjadikanku anjing pudelnya lagi…"
Terdengar protes Alice dari lantai bawah, jelas menguping, dan Korra tertawa.
"Manis ya, dia?"
"Yeah…"
"Jadi, bagaimana patroli?"
"Aman, tenang saja…," jawab Seth tanpa kehendak untuk menjabarkan lebih jauh. Diliriknya sekilas botol kosong di meja kecil di samping tempat tidur. Lekas ia menggeleng, berusaha mengenyahkan perasaan buruk apapun. "Kau bagaimana, sudah baikan?"
"Sudah. Mungkin besok juga aku sudah bisa lari-lari lagi."
"Jangan memaksakan diri, Korey…"
"Tidak, kok. Carlisle memberiku banyak sekali … uhm, obat, jadi…," ia tak meneruskan, menunduk. Tangannya sibuk mempermainkan ujung selimut. Seth bahkan tak ingin bertanya apa yang dimaksud dengan 'obat'.
"Apa itu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan, menunjuk sebentuk benda di sisi Korra.
"Oh, ini?" Korra meraih benda berbentuk lingkaran itu. Pemindangan rupanya. Selembar kain dengan sulaman white on white bermotif bunga krisan indah yang belum jadi tertera di permukaannya. Selembar jarum dengan benang putih tampak tersemat di sana. "Aku bosan, jadi aku mencari-cari kegiatan…"
"Oh," Seth menyambut sulaman itu dari tangan Korra, meniliknya baik-baik. "Cantik sekali. Aku tak tahu kau pintar menyulam…"
"Yeah, Alfa mengajariku. Salah satu hobinya dalam mengisi waktu senggang…"
"Oh ya? Aku tak tahu Kierra suka yang beginian…"
"Terlalu feminin dan tidak sesuai citranya, ya? Memang sih…" Korra terkekeh. "Sebenarnya dia lebih suka menenun, tapi agak sulit mendapatkan alat tenun karena kami hidup berpindah-pindah, jadi dia mempelajari teknik menyulam… Katanya berkonsentrasi membuat motif bisa membantu menghilangkan stress."
"Oh? Memangnya ia pernah stress?"
"Ya tentu saja, Seth," tawanya. "Permasalahan di kawanan taklukan kan banyak sekali… Lagipula, ia kan tidak melulu harus berperang… Seni itu menyucikan jiwa, kau tahu?"
Ya, Seth pernah mendengar itu. Collin mempraktikkannya. Ia bilang membuat keramik membuat kegalauan apapun yang didapatnya selama patroli menghilang. Belakangan bahkan ia belajar merajut, yang konon bisa menstabilkan emosi. Jujur saja Seth masih menyangsikan teori itu. Ia sama sekali belum melihat efek latihan mental Collin. Anak itu toh masih menyandang predikat serigala paling emosional kedua di kawanan sepeninggal Paul, sesudah Jacob tentu.
Jacob…
"Ada apa, Seth?" tanya Korra tiba-tiba.
"Eh?"
"Kau mendadak muram…"
"Tidak," ia menggeleng. "Hanya soal Jacob…"
"Oh," Korra menunduk, mempermainkan jari-jemarinya di pangkuan. "Ia belum ditemukan, ya?"
Seth menggeleng.
"Carlisle bilang ia butuh pertolongan…," ucap Korra muram. "Seperti Oddyseus, dia di ambang kegilaan…"
Seth tidak tahu harus bereaksi apa.
Korra diam dalam jeda waktu yang sangat panjang. Ia meraih pemindangannya. Jemarinya menelusuri motif yang belum jadi itu, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lantas ia berujar, lirih hampir berbisik, "Jacob menjadi begini, semua itu kesalahanku…"
"Eh?"
"Ini semua gara-gara aku menginjakkan kaki di La Push. Sebelumnya, ia baik-baik saja kan? Seharusnya tak pernah kulakukan itu. Benar kata Jake, aku biang masalah…" Sesaat ia terkekeh miris, lantas mengangkat kepala, menatap mata Seth. "Kau juga beranggapan begitu, kan?"
Apa?
"Ti, tidak, Korra…"
"Jangan bohong, Seth. Aku tahu."
Ada senyum aneh di wajahnya saat mengatakan itu, sebelum ia kembali memalingkan wajah, menatap langit-langit kosong.
"Kau tahu? Kami berencana menonton… Seharusnya itu dua minggu lalu, ya? Minggu setelah pertempuran di jurang…"
Ya. Ia mengingatnya. Korra pernah bercerita padanya. Tiga kali.
"Kalau saja waktu itu aku tidak memberi ruang pada Alfa untuk menghubungi Jacob gara-gara Noah… Kalau saja waktu itu aku tidak memperingatkan Jacob, atau mengatakannya dengan cara yang sama sekali berbeda…" Korra menarik napas panjang, kembali terkekeh miris. "Seandainya saja semua itu tak terjadi, mungkin kami sudah benar-benar menjadi keluarga sekarang. Mungkin saat ini kami sedang duduk di meja makan, menyantap sarapanku sambil bercanda… Minggu begini, mungkin kami akan pergi memancing bertiga, atau menonton televisi bersama Dad…"
Pedih mencengkeram dalam suaranya. Begitu mencekam. Begitu … nyata.
"Aku sungguh-sungguh ingin mengenal mereka, Seth… Karenanya aku langsung melompat setuju ketika Alfa mengatakan padaku untuk pergi ke sini, ke tempat asalnya. Ia ingin tahu kenapa aku tak bisa melebur, yang artinya sebenarnya ia menginginkan aku benar-benar lenyap supaya ia bisa mendapatkan tubuhku sepenuhnya. Intinya, aku ke sini untuk mati. Jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan, itu menjadi akhir bagiku… Tapi aku tak peduli. Apa saja asal aku bisa bertemu Dad…"
"Korra…"
Gadis itu tersenyum kecut, menggigiti bibir.
"Seharusnya tidak begini kejadiannya," ucapnya. "Aku tidak tahu apa yang salah. Padahal aku terus berupaya menekan egoku, bersikap manis, mendekatkan diri…"
Tentu saja ada yang salah. Yang salah adalah ia berahasia sejak awal. Keberadaan Kierra di dalam tubuh Korra, atau mungkin malah keberadaan Korra dengan darah Alfanya, membangkitkan insting Jacob untuk mempertahankan diri.
Ya, yang salah adalah keberadaan Korra sendiri.
Apakah akan ada bedanya jika Korra tinggal di La Push sejak awal? Apakah akan ada bedanya jika Korra berubah di dalam tanah Quileute dan menjadi bagian kawanan? Apakah ada bedanya jika ia tidak diklaim Kierra?
Apakah akan ada bedanya jika Billy sejak awal menerima Ariana? Jika Ariana tidak diusir? Jika Jacob dan Korra tumbuh sebagai saudara?
Mungkin ya. Tapi mungkin juga tidak. Bagaimanapun insting agresi-Alfa tidak mengenal kata saudara. Lihat saja pertentangan antara Jacob dan Collin, padahal sudah jelas batas kedudukan mereka. Jika Korra lahir sebagai serigala Quileute, dengan darah Alfanya, akankah justru Jacob bertarung dengannya lebih awal memperebutkan kedudukan?
Jacob memiliki kedudukan kuat karena ia jantan dan lebih tua. Tapi Korra memiliki kedudukan sama kuat karena ia memiliki darah Black dari kedua sisi…
"Sejujurnya, aku dulu tidak menyukai Jacob," lanjut Korra. "Ia yang membuat aku dan Mom terusir. Ia yang membuatku tidak mengenal ayaku. Ia yang memonopoli kasih sayang Dad. Gara-gara satu kata darinya, aku harus menjalani hidup yang tak pernah kuinginkan. Bahkan setelah aku kembali, ia masih bersikap begitu keras… Tapi entah bagaimana, aku tak bisa membencinya. Waktu ia diserang, aku…," ia menghela napas panjang dan berat. "… Padahal aku memiliki pilihan itu. Membiarkannya mati… Tapi aku tak bisa. Ia kakakku, walau bagaimanapun. Kehilangan ia akan membuat Dad sedih… Dan rasanya aku bisa memahami mengapa ia membenciku. Dan aku berharap, jika saja kami memiliki kesempatan… Jika saja aku bisa membuatnya menerimaku, menyayangiku, mungkin kami bisa menambal lubang kebencian itu. Menjadi keluarga seperti seharusnya…"
Itukah … perasaan Korra? Itukah harapannya? Itukah keinginannya? Sebuah keluarga?
"Namun aku tak tahu bagaimana takdir bekerja. Harapanku terus tergelincir, jatuh dariku. Dan kini, sebagai hasilnya, semua itu terjadi. Aku mengundang begitu banyak masalah. Beban yang tak dapat ia tanggung… Dan ia menjadi … seperti itu… Aku tahu aku membencinya lebih daripada sebelumnya, mengutuknya bahkan. Aku ingin sekali menuntut pertanggungjawabannya, menyerangnya… Ia membuatku kehilangan begitu banyak..."
Entah mengapa saat Korra mengatakan 'benci' itu, Seth tidak melihat kilat dendam di matanya. Justru satu hal. 'Sesal'?
"Tapi ketika aku menempatkan diri di posisinya, entah mengapa aku bisa mengerti. Dan kini … aku merasa sebagian diriku justru khawatir dengannya. Entah apa yang terjadi di luar sana. Jacob bisa saja mendapat masalah. Atau yang lebih buruk, ia menyalahkan dirinya dan bunuh diri… Jika itu terjadi, apa yang akan terjadi dengan Dad? Memikirkannya membuatku takut, Seth…"
Seth merasakan gelombang perasaan bercampur baur mendengar penuturan Korra. Lega, ya, tapi sebagian juga bingung. Korra tidak mendendam? Setelah apa yang terjadi… Oh, bahkan kawanannya sendiri saja sibuk mengutuk Jacob.
Tapi lantas diingatnya tadi gadis itu habis bicara dengan Carlisle. Mungkin sekali Carlisle memberinya pengertian. Seperti ia berusaha membuka mata Seth untuk melenyapkan dendam di hatinya pada sang mantan Alfa, pasti itu juga yang ia lakukan pada Korra.
Ya, Carlisle selalu bijaksana. Tidak ia menghakimi Jacob. Tidak juga memihak. Baru semalam mereka datang, kemudian Seth dan Carlisle terlibat pembicaraan panjang mengenai apa yang baru saja terjadi. Carlisle mencoba memberi Seth pandangan dari banyak segi: sudut Jacob, keamanan suku, bahkan penilaian dan pertimbangannya sendiri atas banyak hal. Yang membuatnya sampai pada kesimpulan untuk menjauhkan Jacob dari Korra. Dari La Push. Demi kebaikan Jacob sendiri.
Meski kalau mau jujur, perasaan Seth sendiri masih bercampur baur sehingga ia tidak bisa memutuskan seperti apa pandangannya sendiri. Di satu sisi, ya, meski logikanya terus berusaha meredam emosinya, patut diakui ia masih menaruh kebencian. Tapi di sisi lain, rasanya mendengar kata-kata Korra tadi membuatnya gemetar.
Jacob bunuh diri? Mungkinkah?
Ramalan Alice yang dikatakan Jacob dua bulan yang lalu kembali terngiang. Nisan Jacob…
"Seandainya saja Jacob bisa kembali pulang, atau waktu berputar kembali…," lanjut Korra menerawang. "Kuharap Jacob tak pernah mengenalku. Kalian tak pernah mengenalku. Mungkin dengan begitu, takkan ada hidup yang hancur…"
Sejujurnya Seth tak pernah menyangka akan melihat sisi Korra yang ini. Ia tak pernah mengira Korra bisa begitu menyalahkan dirinya. Gadis itu kadang terlihat rapuh, tapi biasanya ia begitu tegar…
"Yang sudah ya sudah, Korra…," ia meletakkan tangan di pipi gadis itu. "Kau tidak perlu terus menyesal. Sekarang kau harus terfokus pada bagaimana mengatasi semua ini. Aku akan membantumu, ya kan? Kita akan menemukan Jacob … dan tentu saja mengurus masalah dengan para vampir bercakar itu. Segalanya akan kembali seperti semula."
"Aku tahu… tapi tak semudah itu. Kejadian itu memiliki terlalu banyak efek samping. Tak hanya pada kawanan kalian…"
"Maksudmu?"
"Kau tahu, Edward masih menyalahkanku hingga kini."
Seth menelan ludah. "E, Edward?"
"Katanya seharusnya kami tidak membuat Jacob merasa terprovokasi hingga salah paham dan menyerang sarang vampir… Sesudahnya pun, kalau saja aku tidak marah karena Collin hilang, yang sebenarnya adalah salahku juga, semua takkan seperti ini."
Ia mengatakannya dalam nada yang tidak wajar. Seolah ia—Seth bahkan tak ingin memikirkannya—kenal Edward. Sangat.
Dan apa maksudnya dengan 'efek samping'?
Korra menjelaskan tanpa perlu Seth bertanya, sampai ia curiga jaringan pikiran mereka terhubung. "Si hibrida itu, tunangan Jacob, sakit setelah Jake kena serangan jantung," katanya. "Aku tidak tahu, mungkin ini urusan imprint… Ia sempat mengalami berserk dan nekad akan melompat ke La Push, untung saja mereka bisa menahannya. Tapi yang jelas kondisinya tidak stabil kini. Akibatnya Edward mengancam takkan mau menjadi penghubung dengan beberapa klan vampir sekutunya. Padahal kami butuh itu untuk menjamin keamanan aliansi. Jika ia serius, ini bisa mengancam aliansi… Ini salahku, Seth… Aku menempatkan kami semua dalam bahaya…"
Saat ia mengatakan itu, Seth sudah tidak tahu ia bicara dengan siapa: Korra atau Kierra. Dan lebih lagi, ada hal yang lebih membuatnya tertohok.
Renesmee … sakit?
Edward … tidak hanya mengenal Kierra … ia juga bersekutu dengannya?
Apa lagi ini? Sesudah Sam, keluarga Cullen pun sudah ia gaet?
Kapan? Mengapa mereka tidak tahu?
Oh ya, patutkah ia bertanya? Bukankah ini sangat wajar?
Klan Cullen adalah klan terbesar kedua setelah Volturi, yang artinya merupakan salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan di dunia vampir. Mereka memiliki hubungan baik dengan banyak klan lain. Dan mereka tinggal begitu dekat… Jika Kierra sampai menjalin pakta dengan Volturi demi kepentingan aliansi, tak ada alasannya ia tidak berusaha menghubungi para Cullen.
Dan bukankah memang ia pernah mengetahuinya? Ia ada di sana, demi Tuhan! Ketika ia mengantar Korra ke kota pada salah satu kencan mereka. Korra bertemu Alice dan Edward. Saat itu ia mencurigai Korra sebagai serigala hitam, dan mengira Korra bertindak sebagai perantara, membawa tugas Alfanya. Siapa yang tahu Korra sendirilah sang Alfa? Astaga. Mengapa ia sampai melewatkan hal sepenting itu?
Korra selama ini menutupinya? Oh, itu wajar. Tapi keluarga Cullen menutupinya juga?
Cih. Mereka anggap apa kawanan La Push?
Tapi bagaimanapun ia tak bisa menyalahkan mereka. Urusan keluarga Cullen berhubungan dengan siapa adalah urusan intern mereka, kawanan La Push sama sekali tak ada hak untuk ikut campur. Bisakah mereka mendikte klan sekutu mereka untuk menjalin atau tidak menjalin hubungan dengan siapa saja? Tidak, kan? Jika ia memandang lebih jauh, mungkin saja klan Cullen memandang aliansi sejajar dengan kawanan Quileute sebelum Jacob mengimprint, sebelum mereka menjadi keluarga. Ya, sebagai pihak yang potensial menjadi musuh. Karenanya mereka perlu menjalin pakta perdamaian. Ini semua masalah politik. Sederhana.
"Dan kini, apa yang terjadi pada Jacob…," Korra kembali bicara dengan suara dibalut kengerian. "Jika Jacob sampai tewas… Bagaimana jika itu memperburuk kondisi Renesmee? Lantas … Edward yang menyalahkanku akan menggalang sekutunya untuk menyerang kami…," ia tampak kalut. "Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Aku benar-benar bingung…"
Mengapa Korra—atau Kierra, entahlah, Seth tidak bisa mengetahui bedanya kini—mengatakan padanya?
Oh ya, tentu. Ia pasangan Korra.
Lagi-lagi ia menelan ludah. "Lalu apa yang kauingin kulakukan?"
Gadis itu mengangkat kepala lantas memandangnya. Matanya begitu sendu. Lelah. "Seth, bisakah kau menolongku?" tanyanya.
Seth tak tahu bagaimana mesti menempatkan diri, tapi tak ada yang bisa ia katakan selain, "Apa?"
"Kau sahabat para Cullen. Bisakah kau … berusaha membujuk Edward? Agar ia mau memaafkanku… Menimbang kembali … hubungan kami…"
Jadi ia ingin memanfaatkan kedudukan Seth untuk memperkokoh pertahanan aliansi? Bukankah itu kolusi?
"Aku tak tahu, Korra. aku bahkan tidak mengerti duduk permasalahannya. Lagipula jauh lebih baik bila kau bicara langsung dengan Carlisle…"
"Sudah. Ia sendiri mengatakan bahwa ia sudah bicara dengan Edward, tapi ia tak mau mendengar."
Jadi itu yang tadi mereka berdua bicarakan?
"Tapi…"
"Kau Alfa Quileute sekarang. Dan kau pasanganku. Kau bisa bertindak atas namaku. Mungkin Edward membenciku, tapi ia masih memandangmu, kan? Kumohon, Seth…"
Begitu tinggikah kuasanya kini? Ia bahkan tidak sadar…
"Aku akan coba," ia menyanggupi. Dilihatnya Korra tersenyum.
Sesaat satu pertanyaan merayap dalam dadanya. Meski ragu, diberanikannya ia bertanya.
"Kau tahu, Korra… Sejujurnya aku agak … bingung … masalah Alfa ini."
"Kenapa?"
"Aku tidak merasa aku Alfa. Walau seluruh kawanan mengangkatku, tapi aku merasa … aneh. Rasanya beban kepemimpinan belum sepenuhnya jatuh padaku."
"Memang belum," ujar Korra pelan.
Seth mengernyit. "Belum?"
"Kau pastinya tahu sistem pewarisan. Kau hanya bisa jadi Alfa yang sesungguhnya jika darahmu paling tinggi di hierarki. Saat ini kau mungkin menjabat Alfa, tapi kedudukan itu masih milik Jacob jika ia belum memberi mandat secara langsung padamu. Bahkan jika ia betul-betul memisahkan diri secara resmi, kedudukan Alfa secara otomatis jatuh pada Collin."
"Jadi saat ini, Collin-lah Alfa?"
"Ya. Collin atau aku."
"Kau? Bukankah kau sudah menjadi milik kawanan lain?"
Korra menunjuk botol kosong di meja. Botol yang semula berisi darah. "Darah Alfa memberi hak atas kawanan, ingat?"
Seth meremang.
"Tapi tentu saja itu hanya hak. Aku tidak mungkin menjadi Alfa jika pemilik asli kedudukan itu masih hidup. Lagipula secara darah, kedudukanku masih di bawah Jacob. Satu-satunya cara aku menjadi Alfa menggantikan Jacob jika ia memberi mandat langsung, atau aku mengalahkannya dalam pertarungan perebutan klaim dan membunuhnya."
"Korra, kau … jangan katakan…"
Korra mengangkat kepalanya, langsung menatap mata Seth. "Jangan katakan apa?"
"Kau tidak … sengaja … melakukan semua ini, kan?"
"Semua apa?"
"Apa yang terjadi minggu lalu... Bukan karena kau ingin aku naik menggantikan Jacob, kan?"
"Apa maksudmu, Seth?" gadis itu mengernyit, tapi lantas matanya melebar. "Astaga. Itu yang kaupikirkan? Aku sengaja membuat skema untuk menggulingkan Jake? Supaya kau jadi Alfa dan aku bisa menunggangimu?"
Sejujurnya, itu opsi yang paling mungkin.
"Yang benar saja, Seth! Menurutmu aku akan melakukannya? Sengaja memancing emosinya agar ia melakukan tindakan kekerasan untuk menunjukkan betapa tak kompetennya ia, menempatkan diriku sebagai korban untuk merebut belas kasihan dan kepercayaan kawanan, lantas menempatkanmu sebagai Alfa boneka, sementara sesungguhnya aku yang mengendalikan di balik layar?" Seth merasa matanya membelalak nanar dalam kalimat yang diucapkan begitu lancar itu. Itu lebih dari apa yang bisa ia perkirakan.
Benarkah … itu yang terjadi?
Tapi Korra menggeleng-geleng riuh. "Jawabannya tidak, Seth. Bagaimanapun kelihatannya di matamu, aku tidak mungkin melakukan itu!"
"Tapi semua ini begitu meragukan…"
"Ya Tuhan, Seth, aku tidak mungkin melakukan itu untuk menjebak Jake… Jika itu berarti … mengorbankan…," ia kehilangan kata-kata. Matanya terpejam erat kala ia menyentuh perutnya, seakan berusaha kembali merasakan sesuatu yang hilang di sana. Bahunya mulai bergetar.
Entah apa yang menggerakkannya untuk beringsut duduk di sisi tempat tidur, merangkul Korra ke dalam pelukannya. Isak-isak kecil itu mulai menjelma. Seth merasa bahunya basah.
"Aku tahu kau tidak percaya padaku… Aku tahu kau curiga. Tapi aku sungguh-sungguh… Aku benar-benar tidak meniatkannya… Aku betul-betul terpojok … dan…," ia menggigit bibir. "Aku benar-benar menginginkan anak ini, Seth… Aku selalu merasa satu saat aku akan kehilanganmu, dan hanya anak ini yang bisa mengingatkanku padamu… Bahwa pernah ada suatu masa ketika kau pernah mencintaiku…"
Menekan perasaannya sendiri, Seth mengelus rambut Korra, bergumam, "Ya Korra, aku percaya…"
Korra melepaskan diri darinya, matanya membulat.
"Sungguh?"
Disapunya air mata di pipi Korra. "Kenapa kau terus mengungkit masalah aku yang akan meninggalkanmu? Bukankah artinya itu kau yang tidak percaya padaku?"
Korra tidak menjawab.
"Bukankah sudah kukatakan, kita akan bahagia, Korey? Hm?" ia mengawasi jemari Korra yang bermain-main di punggung tangannya, membentuk motif melingkar-lingkar.
Apa yang ada di pikiran Korra sebenarnya? Apa yang ada di benaknya?
Seandainya saja ia bisa membaca Korra… Seandainya saja ia bisa menyelami lebih dalam… Seandainya saja ia bisa … mempengaruhi Korra… Atau diam-diam menyelinap, mendapatkan kepercayaan Kierra, mencari tahu kelemahannya dan…
Lekas ia menggeleng keras. Apa yang baru saja melintas di otak busuknya?
Terlalu licik. Tidak.
Dilihatnya Korra membalik tangan itu, menelusuri rajah yang sudah beberapa minggu ini terukir di sana. Ia membawa tangan Seth ke bibirnya, mengecupnya lembut, lantas meletakkan telapak tangan itu ke dadanya, menyatukan rajahnya dan rajah Seth.
"Kau sudah memberikan kesetiaanmu padaku, Seth… Dan aku akan memberikan hatiku…"
Entah mengapa Seth merasakan dingin merambati tengkuknya.
.
.
"Selamat, Seth!" seru Alice riang dan langsung melompat memeluk Seth begitu pemuda itu turun.
"Eh?"
"Kelihatannya aku harus segera mempersiapkan pesta pertunangan, nih!"
Kadang pendengaran vampir yang terlalu tajam membuatnya kesal. Ya, memang ia sudah terbiasa dengan kemampuan ultra-sensorik makhluk-makhluk di sekitarnya. Bisa dikatakan ia tumbuh dikelilingi hal-hal semacam itu, hingga nyaris tak tahu seperti apa rasanya normal. Tapi kadang, sekali saja, ia berharap apapun yang ia katakan atau bahkan pikirkan tidak lantas disadap orang lain.
Yeah, Alice masih mending, karena ia bagaimanapun tidak bisa melihat masa depannya. Setidaknya kini ia merasa bersyukur tidak ada Edward.
"Masih terlalu dini untuk bilang selamat," katanya, menghindari Alice yang tiba-tiba memasang tampang sebal.
"Jangan membuat seorang gadis menunggu kepastian!" ia berkacak pinggang. "Memangnya aku tak pernah mengajarimu jadi gentleman?"
Seth memicing. Minat gadis vampir itu dengan segala hal-hal romantis tidak perlu dipertanyakan, tapi kadang antusiasmenya yang kelewatan dengan segala jenis perayaan membuat Seth mengernyit. Kalau tidak salah, baru setengah tahun lalu ia diundang ke pesta pernikahan Alice dan Jasper—'pernikahan', bukan 'ulang tahun pernikahan'—entah untuk yang ke-berapa kali. Rupanya ia merasa belum puas, dan berhubung ia masih belum bisa menikah lagi dengan Jasper setidaknya hingga pindah ke kota baru, ia sudah gatal ingin melampiaskan hasratnya dengan membuat pesta untuk Seth dan Korra.
Dan lagi, apa maksudnya 'membuat seorang gadis menunggu'? Memangnya hukum tradisional mengenai hubungan perempuan dan laki-laki berlaku pada mereka? Dilihat dari kedudukan, darah, maupun pola hubungan mereka selama ini, bukankah seharusnya Korra-lah yang melamarnya?
"Kau harus membuat acara lamaran yang berkesan, tahu," Alice menariknya dan memaksanya duduk di kursi, mulai menguliahinya. "Candle light dinner. Cincin di dalam gelas sampanye... Latar belakang alunan biola dalam nada-nada romantis…"
"Itu kan klise betul, Als…"
"Ya. Tapi cewek kan suka yang klise-klise…"
"Tidak ada yang lebih kreatif?"
"Berikan dia boneka, yang di lehernya kausematkan cincin?"
"Yeah, dia memang suka boneka," ia mengingat tumpukan boneka hadiah darinya di kamar Korra, "tapi apa tidak terlalu kekanakan?"
"Dia kan memang anak-anak! Renesmee saja kalah."
Baru Seth benar-benar sadar apa artinya ini. Ya, Korra selamanya akan seperti berusia 15 tahun. Masalahnya, menjadi serigala artinya mengalami penuaan dini sebelum takkan berkembang lagi. Begitu ia mencapai usia 21 tahun, tubuhnya akan mencapai puncak kematangan. Meski menurut anggapan umum, masa dewasa pria dimulai pada usia 22, dan puncak biologisnya terjadi pada usia 28-30, nyatanya perkembangan setiap serigala berbeda. Jacob sudah berhenti tumbuh waktu usia 18, dan ia terlihat seperti berusia 25. Sam malahan kelihatan seperti berusia 30. Rasanya mengerikan… Rasanya ia akan menjadi pedofil seumur hidup…
"Ya sudah. Bawa dia ke padang bunga atau ke tebing dan langsung lamar."
Benar, itu yang paling mudah.
"Pokoknya kalian cepat menikah! Aku sudah membuat 100 desain gaun pengantin, kau tinggal pilih," ia menyorongkan buku sketsanya pada Seth, yang bahkan tak berminat untuk membukanya. Tak peduli dengan kekurangantusiasan adik bungsunya, Alice terus bersenandung, "Nanti aku akan meminjamkanmu pulauku di Bermuda untuk bulan madu, pasti menyenangkan!"
"Memang kau punya pulau di Bermuda?"
"Bagus, lho. Hangat. Cerah. Aku senang naik jet ski di sana."
"Oh… Berarti kau yang bertanggungjawab atas Misteri Segitiga Bermuda…," Seth menekur dengan gaya serius.
"Heh?"
"Ya. Pasti kau yang membuat kapal-kapal tenggelam… Pasti para nahkoda merasa silau melihat tubuhmu mendadak lewat di bawah sinar matahari, lantas salah membelokkan kemudi, menabrak batu karang… Aduh! Kenapa menggetokku sih, Al?"
"Iiiiih! Jahat!" seru Alice seraya terus memukulinya dengan buku sketsanya.
"Ampun, ampun… Maaf. Ehm. Maksudku, pasti bagus kalau kau sering-sering berjemur di tepi pantai, Alice," Seth memasang tampang manis, lengkap dengan jurus puppy-eyes yang sudah sekitar tiga tahun ini tak pernah ia pakai.
Alice tak tertipu, sudah tampak bersiap-siap.
"Pasti cucian jadi cepat kering," ujar Seth yang membuat Alice mengernyit.
"Eh?" ia tidak mengerti.
"Yep. Alasannya sama dengan kenapa kalau sedang berlibur di daerah tropis, kau selalu ribut di sana panas, padahal Korra bilang cuaca di sana normal-normal saja. Itu pasti karena jika kau ke sana, mataharinya jadi ada du-AAAAAAAA~!" belum sempat Seth menyelesaikan ucapannya, Alice sudah mencubit keras-keras lengan atasnya hingga memar.
"Garing! Tidak lucu sama sekali, tahu!" cibir Alice di tengah gerutuan Seth yang mengaduh-aduh hiperbolis.
"Eh, garing ya? Wah, sepertinya memang benar aku kehilangan selera humorku."
"Ya. Terlalu lama serius membuatmu tidak semanis dulu. Kasihan," Alice menepuk-nepuk kepala sang Alfa tak ubahnya memperlakukan anjing chihuahua. Seth hanya bisa meringis.
"Sudahlah, Alice, jangan mengganggunya terus," Esme menengahi dua orang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai anak bungsu itu. Alice tampak sedikit menggerutu dengan peringatan ibunya, namun wajahnya langsung berseri-seri begitu Carlisle menyuruhnya mengecek Korra. Ia tiba-tiba berseru akan mendiskusikan tema pesta pernikahan dan gaun pengantin atau sejenisnya, dan langsung melompat-lompat ke lantai atas dengan ceria sembari menenteng buku sketsanya.
Esme beranjak mendekati Seth, yang masih mengekor punggung Alice dengan tampang terpesona.
"Aku senang kau melakukannya, Seth," ujar Esme, tersenyum lembut bak malaikat. "Kasihan gadis itu. Ia telah kehilangan begitu banyak… Kuharap kau bisa membuatnya bahagia."
Tentu saja Esme akan berempati dengan Korra. Ia pernah ada di posisi Korra, kehilangan putranya…
Satu hal yang Seth suka dari Esme. Ia tidak menghakimi. Ia sama sekali tidak mengatakan hal yang terus didengungkan kawanan. Hal-hal seperti 'betapa tega Jacob'.
Sejujurnya ia sudah mengira reaksi klan vampir ini akan lebih keras. Edward bersikap overprotektif melebihi biasa, misalnya. Mengetahui bahwa Jacob bisa begitu mengerikan kalau kesetanan, ia bisa jadi khawatir Jacob satu saat akan mencelakai putrinya seperti ia mencelakai sang adik, dan memutuskan persekutuan dengan kawanan. Tapi tidak. Carlisle bahkan datang, menawarkan untuk mengambil alih Jacob. Ini sebenarnya tidak seperti kelihatannya: Jacob diusir dan terpaksa dirawat dalam rumah sakit jiwa berkedok keluarga Cullen. Kalau memang mereka memandang Jacob-lah yang bersalah, mereka bisa saja tidak peduli. Di balik upaya Carlisle menawarkan bantuan, Seth merasakan sesuatu yang lain. Seolah Carlisle memang ingin melindungi Jacob.
Ya, jelas. Jika Jacob sampai kenapa-kenapa, Renesmee juga bakal terkena imbasnya.
Atau … mungkinkah ia ingin melindungi Jacob dari … Korra?
Astaga. Apa lagi yang ia pikirkan?
Kalau memang Carlisle tahu apa ancaman bagi kawanan sekarang dan ingin menunaikan tugasnya sebagai sekutu, mereka bisa bertindak frontal kan? Tidak, tidak, mungkin memang Carlisle tidak bisa melakukan itu. Menyerang Korra artinya menyerang aliansi shifter. Entah apakah mereka bisa menggalang bantuan dari vampir lain, tapi jelas Carlisle takkan mau menyulut perang antara vampir dan shifter di titik ini. Dan Carlisle adalah tipe yang selalu mengutamakan jalan keluar damai…
Seperti apa? Hanya melindungi Jacob sementara membiarkan kawanan Quileute jatuh ke tangan Korra?
Karena ya, begitu kan? Entah ia atau Korra yang memimpin kawanan Quileute, apakah ada bedanya?
Kawanan sudah takluk.
Kecuali jika…
Tangan Alice yang mengibas di depan wajahnya membuat Seth mengerjap.
"Lagi-lagi bengong?" protes Alice.
"Maaf…" ia menawarkan senyum. "Kau sudah selesai, Als?"
"Tentu. Tahu tidak? Korra setuju dengan ideku untuk mengemas tema etnik dalam nuansa romantis. Ia juga punya banyak ide soal detailnya. Bagus sekali! Kurasa kami cocok!" katanya sumringah.
"Oh ya? Bagus kalau begitu," Seth memperlebar senyumnya. "Kalau begitu, Als, kau mau menemaniku?"
"Ke mana?"
"Seattle, tentu saja…," dan ia mencondongkan tubuh pada Alice, membisikkan sesuatu yang membuat Alice langsung bertepuk tangan dan berseru girang.
"Ah ya ya ya, tentu! Wah, pasti mengasyikkan!" gadis itu lekas menyambar tangan suaminya. "Ayo Jazz, kita ada tugas nih!"
Jasper agak mengernyit, tapi ikut saja ketika Alice menggereknya keluar rumah, menuju Volvo yang diparkir di carport. Ketika Seth mengikuti mereka, sempat ditangkapnya tatapan Carlisle yang aneh. Ia mengangguk kecil, lantas menyusul Alice dan Jasper yang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
.
.
"Jadi kau mau bilang apa yang ingin kaubicarakan, menggerek kami ke sini?" tanya Alice ketika mobil Seth melintasi jajaran pertokoan megah di salah satu sudut kota Portland yang paling jauh dari Forks.
"Minta saran kalian untuk memilih cincin pertunangan?" Seth memindai deretan huruf di muka tiap-tiap bangunan, lantas meluncurkan kendaraannya dengan mulus di tempat parkir salah satu bangunan indah berlabel Tiffany & Co.
"Ayolah, Seth, jangan kaukira mentang-mentang aku begini, lantas kaupikir aku bodoh…," Alice memutar bola matanya. "Biasanya juga kau memesan barang-barang lewat internet…"
"Dan kau sengaja membawa kami jauh-jauh ke Portland, Oregon, bukan Seattle…," tunjuk Jasper.
"Yup, padahal sudah jelas ada empat cabang Tiffany's di Seattle. Lebih besar pula," istrinya menimpali. "Kami bahkan sempat bertanya-tanya apa kau mau sekalian menculik kami ke LA."
Seth tertawa.
"Sudah aman jika kau ingin mengatakannya sekarang. Kalau di sini, kurasa kita sudah jauh dari jangkauan dengar siapapun," Jasper mengemukakan pandangannya tepat sasaran. "Bahkan seandainya K bisa mempenetrasi pikiranmu, mengingat kini kalian terikat…"
Entahlah, ia tak yakin.
Sejak Korra mengklaimnya sebagai pasangan, Seth terus memasang selimut mental serapat mungkin. Ia tahu jaringannya dengan kawanan Korra tidak tersambung, tapi ia masih tidak tahu menahu mengenai batas-batas kemampuan telepati dua serigala yang berstatus 'pasangan'. Bahkan di kawanan, tahu Korra bisa jadi punya hak setelah meminum darah Jacob, ia tidak berani membuka pikirannya sepenuhnya. Ia tahu akan mencurigakan jika pikirannya tidak terbaca sama sekali, terutama dengan status sebagai Alfa, apalagi satu-satunya alasan ia selalu memasang selimut mental selama ini sudah terkuak lebar. Jadi ia sengaja menerapkan teknik pikiran berlapis, mendorong pikirannya jauh ke balik lapis demi lapis pikiran lain di permukaan. Membiarkan bayangan-bayangan remeh—seperti antusiasmenya menghadapi rencana pertunangan atau kenangan akan sesi hubungan intimnya dengan Korra—mengemuka sebagai pengalih perhatian, sementara di dalam, serangkaian pikiran lain berkecamuk.
"Masih ada batas jarak seekor serigala bisa mendengar pikiran serigala lain, Seth, bahkan di dalam satu kawanan sekalipun. Bahkan walau ini menyangkut serigala sekaliber K. Kalau tidak, aku takkan berani bicara begini," ujar Jasper lagi. Melihat Seth masih diam dengan tampang berkonsentrasi, ia melanjutkan, "Aku tahu karena aku pernah bersinggungan dengan banyak shifter selain kalian… Termasuk K."
Seth meliriknya dengan pandangan bertanya.
"Juni 1943, Brazil. Aku rasanya tidak perlu bercerita terlalu detail. Mungkin kau sudah dengar sendiri dari K."
Seth memutar ulang memorinya, menimbang. Melihat kesungguhan Jasper, ia pun menghela napas, kelihatan agak lega.
"Syukurlah. Jujur saja aku sangat lelah mengontrol pikiranku…"
"Walau aku belum bilang, K punya kemampuan berhubungan dengan para Alfa taklukan di seluruh dunia, tak terbatas jarak…," ujarnya yang seketika membuat Seth membeku. Tapi lantas Jasper tersenyum, menambahkan, "Tentu saja ia melakukannya dalam jaringan antar-Alfa, dan harus melalui penaklukan. Jadi tenang saja."
Seth melontarkan pandangan 'awas-kau-Jasper', tapi Jasper kelihatan tidak peduli dan dengan tenang keluar mobil, diikuti Alice. Mereka melangkah ke salah satu kafe. Sementara Seth memesan kopi, ia tampak memindai sekeliling, tampak berusaha merasakan keberadaan siapapun—vampir, serigala… Setelah ia yakin situasi aman, barulah ia berani bicara.
"Apa kalian bersekutu dengan Kierra?" ia bertanya hampir menuduh.
"Tidak bersekutu dalam artian memihak," ujar Jasper tenang. "Itu wajar, kau pasti sudah tahu. Ia salah satu kekuatan puncak dalam dunia shifter, kedudukannya sama seperti Volturi. Volturi bahkan ingin merekrutnya. Penting untuk menjalin hubungan baik dengan mereka."
"Itu berarti jika satu saat terjadi perang antara kami dengan Kierra, kalian akan memihak Kierra?"
"Seth," Jasper kelihatan lebih hati-hati bicara. Tentu saja, Seth bukan cuma Seth Clearwater adiknya kini. Ia Alfa Quileute. "Aku sudah katakan, kami tidak bersekutu dengan mereka. Hubungan kami dengan mereka hanya hubungan baik, berbeda dengan kalian. Kalian keluarga kami."
"Jadi kami bisa yakin kalian akan memihak kami?"
Jasper tak langsung menjawab, sesaat berpandangan dengan Alice. Seth tahu ada yang salah.
"Kenapa?"
"Kami tidak mengharapkan ada perang antarshifter. Apalagi jika menyangkut K. Kalian bisa digilas habis. Dan lagi…," ia kelihatan ragu.
"Dan apa?"
"Kurasa Carlisle takkan setuju."
"Kuingatkan, Jasper, kami dulu membantu saat kalian berhadapan dengan bangsa kalian. Sekarang ketika kami meminta pertolongan, apa kalian akan mangkir?"
"Bukan begitu," Jasper berupaya memberi penjelasan. "Jika kami para vampir ikut campur dalam perang antarshifter, aliansi bisa menganggapnya sebagai pelanggaran kesepakatan gencetan senjata. Ini bisa memicu perang berskala global."
"Belum lagi, Volturi akan menganggap kami sengaja mencari masalah untuk memicu perang yang mengancam keberlangsungan ras vampir. Bahkan jika perang bisa dihindarkan, tidak ada jaminan Volturi takkan turun tangan membasmi kita," sambung Alice.
"Intinya kalian takut dan takkan menolong?"
"Seth, patut kaupertimbangkan… Perdamaian antara vampir dan shifter laksana bola kaca yang berada di titik seimbang seutas tali yang terentang di ketinggian. Sedikit saja keseimbangan itu goyah, bola itu bisa begitu mudah jatuh dan pecah…"
Seth tidak bisa menerima itu. Rasanya begitu … mengerikan.
"Tapi itu tidak masuk akal, Jazz. Dari apa yang kutangkap, kau berusaha bilang bahwa ada kesepakatan damai antara aliansi dan para bangsawan vampir. Bahwa mereka takkan saling serang demi menghindari perang. Tapi bukankah dengan adanya aliansi merekrut kawanan-kawanan, memperluas jaringan, mereka menggalang kekuatan? Bukankah itu akan menjadi ancaman bagi ras kalian?"
"Benar."
"Jadi apa tujuannya para vampir menyetujui pakta perdamaian itu? Jika upaya aliansi diblokade, bukankah aliansi akan melemah? Itu keuntungan bagi ras kalian kan?"
Jasper dan Alice saling berpandangan. Lama Jasper tampak berusaha menyusun kalimatnya. "Begini, Seth. Kau tahu seperti apa yang namanya perang dingin."
"Ya."
"Seperti itulah kondisi dunia kita sekarang. Masing-masing pihak mempersiapkan kekuatan. Masing-masing berusaha menghindari perang dengan serangkaian kesepakatan, tapi sekaligus juga menanti-nanti kapan akan ada insiden yang memicu perang tersebut."
"Ya, ini seperti sengaja memasang jaringan listrik di gudang dinamit," sambung Alice. "Siapapun tahu satu saat pasti akan terjadi korsleting yang akan memicu kebakaran dan meledakkan gudang, tapi gudang itu tetap ditimbuni bahan peledak."
"Jadi untuk apa?"
"Tidak ada yang tahu mengapa perang harus ada, Seth… Mengapa ada pihak-pihak yang saling bertentangan," kata Jasper. "Semua hanya tahu, perang selalu terjadi. Semua berupaya menghindarinya dengan berbagai cara, tapi perang itu bagaimanapun tak terelakkan."
"Namun selama kami bisa mencegah perang itu, kami akan lakukan," ucap Alice. "Walau kita tahu ia tak terelakkan, kedatangannya bisa ditunda. Tahun ini, dan kemudian tahun berikutnya, dan berikutnya lagi… Makin lama perang itu bisa ditunda, makin besarlah harapan kami akan perdamaian…"
"Jalan damai…," bisik Seth. Tentu saja.
Benarkah begitu? Ia merasa ada yang salah…
"Tapi ini tidak benar. Aku menentang penjajahan, Alice…"
"Kierra tidak menjajah dalam artian mengeksploitasi. Ia berkata ia bertekad merengkuh dan melindungi seluruh shifter dalam perlindungan aliansi."
"Kalau begitu mengapa jika ada kawanan taklukan yang berusaha membebaskan diri, ia akan membantai mereka?" protes Seth. "Jika aliansi memang ada untuk melindungi, seharusnya keanggotaannya bersifat sukarela. Tak perlu ada penaklukan. Mereka bebas keluar masuk. Asas dasarnya adalah persatuan berdasarkan kerjasama dan kepercayaan, bukan keterpaksaan."
"Itulah hukum," ucap Jasper.
"Itu pembelaanmu, Jazz? Begitu menyedihkan…"
"Ya, memang. Tapi bayangkan bila aliansi selonggar itu," Jasper menumpukan siku di meja, menyatukan buku-buku jarinya dengan sikap profesional. "Tidak ada hukum, tidak ada kedisiplinan, tidak ada loyalitas, tidak ada keteraturan. Tidak ada jaminan. Bagaimana mungkin mereka bisa merasa aman? Bagaimana mungkin mereka bisa merasa kuat? Bagaimana mungkin merasa percaya aliansi bisa melindungi mereka, jika mereka tidak yakin akan kepastian keberadaan aliansi itu sendiri?"
Seth terdiam. Ia mengerti alasan itu.
Tapi tetap, ia merasa itu tidak benar…
"Sejujurnya, kalian bisa menyelesaikan ini dengan baik," ucap Alice. "Kau dan Kierra. Quileute kawanan yang sangat besar yang tidak bisa ditandingi kawanan manapun di dalam aliansi, yang artinya sangat potensial. Mungkin kalian bisa menjadi ancaman bagi aliansi, yang membuat Kierra melirik kalian. Namun kalian bisa menggabungkan kekuatan tanpa melalui penaklukan. Kierra sebagai Maharani, dan kau otomatis menjadi Maharaja."
"Aku bukan orang yang silau dengan jabatan…," tukas Seth
"Aku tahu, tapi kedudukan itu sangat prestisius, lho! Sebagai Maharani, ia bisa mendapatkan pasangan seperti apapun yang ia mau, dan memang nyatanya, sejak dulu ia dikenal dengan haremnya," ia agak-agak terkikik. "Tapi baru kali ini ia mengangkat pasangan resmi… Malah kulihat ia tergila-gila padamu. Kau sangat beruntung, Seth…"
Seth agak bingung dengan penuturan Alice di titik ini. Apakah Alice tidak tahu tentang pembagian kesadaran antara Korra dan Kierra? Yang menginginkannya itu Korra, kan, bukan Kierra? Ia bisa diangkat jadi pasangan itu pasti hanya karena keberadaan Korra, dan Kierra terpaksa meluluskan karena tak ada pilihan lain.
Atau para vampir tidak tahu? Ya, wajar saja jika mereka tidak tahu. Hal ini merupakan kelemahan Kierra. Mungkin memang Korra menyembunyikan ini, selamanya berpura-pura seolah-olah dirinya adalah Kierra di hadapan para vampir.
Atau memang dia Kierra? Yang berpura-pura menjadi Korra…
Tidak, tidak, Seth buru-buru menggeleng. Tidak mungkin Kierra mau berpura-pura seperti itu di depannya, toh ia sudah tahu semuanya. Lagipula apa gunanya?
"Dan lagi, lihat ini, Seth," Alice masih mendata beberapa keuntungan platinumnya berada di kursi VVIP itu: pasangan Maharani. "Kawanan Quileute akan dianggap setara dengan aliansi. Kalian bahkan tidak perlu menjadi kawanan bawahan, tetapi loyalitas seluruh anggota aliansi akan sama besar padamu seperti pada Kierra."
Seth memicing.
"Apa Kierra, entah bagaimana, mengancammu atau semacamnya untuk membujukku?"
Alice agak bergeser di kursinya dan mengubah posisi duduknya, sesuatu yang selalu Seth tangkap sebagai reaksi spontannya saat salah tingkah.
"Jadi benar kan? Ia menyuruhmu memasukkan dasar logika macam-macam, karena ia tidak yakin aku benar-benar mencintainya dan menerimanya atau tidak?"
"Uhm, maaf, Seth…"
Seth sungguh ingin marah. Bagaimana tidak? Bukankah ini artinya Korra tidak mempercayainya? Sesudah ia mengatakan berkali-kali bahwa ia mencintainya?
Tapi lebih dari itu: bukankah artinya Kierra demikian kuat hingga Alice pun menjadi kaki tangannya?
"Kami hanya melakukan ini demi kebaikanmu, kau tahu…," ucap Alice. "Kami takut kau bertindak bodoh."
"Bertindak bodoh?"
"Dari pertanyaan-pertanyaanmu sejak tadi, kami tahu kau masih terbelah begitu kau tahu identitas kekasihmu," ucap Jasper. "Namun kau harus pertimbangkan ini, Seth. Bukan sesuatu yang cerdas untuk menentang Kierra. Ia memiliki kekuasaan dan kekuatan yang bahkan ditakuti Volturi. Tidak masalah ia bisa mati, toh rohnya akan pindah ke raga lain, itu sama artinya ia lebih abadi daripada kami para vampir."
"Ya," sambung Alice. "Mungkin kau menganggapnya kejam, dengan masa lalunya dan fakta bahwa ia menempati raga gadis yang kausukai. Tapi kau perlu tahu, gadis itu, Korra yang asli, tidak pernah kaukenal seumur hidup. Kau pasti tahu ia sudah mati detik Kierra menempati tubuhnya, yang artinya sejak awal pun kau jatuh cinta pada Kierra…"
Alice salah. Tapi apa yang bisa ia katakan untuk membantah?
"Sebenarnya ia tidak buruk," ucap Alice. "Dulu pun aku melihatnya dalam image yang terbayang di kepala semua orang: sosok kejam yang tak ragu membantai demi mendapatkan kekuasaan. Tapi begitu aku mengenalnya, ia ternyata gadis yang mempesona. Kau tahu, ia pintar menyulam dan menenun. Kata Carlisle, ia bahkan pintar menari dan membuat syair. Selera fashionnya juga tidak terlalu buruk. Ia tahu banyak merk desainer kenamaan, lho... Katanya ia pernah jadi model ketika berada di tubuh inang sebelumnya."
"Yang benar saja, Als. Kau memberi poin tambahan padanya karena ia tahu soal fashion?"
"Maksudnya, Kierra memiliki sisi-sisi yang tak pernah kausangka-sangka jika hanya melihat seperti apa reputasinya," jelas Jasper. "Dan aku akui itu. Dia sangat bertanggung jawab pada aliansinya, pemimpin yang hebat di lapangan, dan penguasaannya di bidang militer sangat menakjubkan."
Mereka berdua jelas sudah terpukau. Seth bagaimanapun merasa wajar. Benar, Korra selalu tahu cara mempesona siapapun. Ia berganti dari satu topeng ke topeng lain, menyesuaikan diri dengan orang yang ia hadapi…
"Dan masa lalunya mengerikan," Alice agak bergidik. "Tiga tahun tumbuh sendiri di hutan, diabaikan… Ajaib ia bisa bertahan. Membayangkan Renesmee bisa saja menempuh takdir sekeras itu, rasanya aku jadi simpati padanya. Belum lagi, sukunya sendiri membunuhnya… Dan akhirnya, kekasihnya mengkhianatinya dan melakukan sesuatu sekejam itu…"
Rupanya ia tahu kisah hidup Kierra. Mengapa Seth harus heran?
"Apa kau mencintainya?" tanya Alice.
"Eh, apa?"
"Apa kau mencintai Korra?"
"Tentu saja… Mengapa kau perlu bertanya?"
"Kalau begitu kau harus lekas menyambarnya mumpung bisa."
"Karena mungkin satu saat ia akan bosan padaku dan mencari pasangan lain?"
Alice melirik Jasper, yang tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ada apa?" tanyanya.
"Begini, Seth… Kau sudah tahu tubuhnya yang ini takkan bertahan lama, kan?"
"Aku sudah dengar dari Adam…"
"Nah, untuk berjaga-jaga, ia sudah mencari inang lain. Ia sudah menemukannya, wadah yang jauh lebih kuat."
"Lalu? Apa kau berharap aku juga akan mencintai inang baru itu?"
"Tidak, justru sebaliknya," Alice kembali melirik Jasper. Jasper mengangguk menguatkan, sehingga Alice kembali melanjutkan. "Jika kau ingin bersamanya, hanya ini kesempatanmu. Karena selanjutnya, kalian harus terpisah hingga wadah yang baru itu mati. Entah berapa tahun waktu yang bisa ia dapat, tapi ia merasa yakin yang ini bisa lebih dibandingkan yang lain. Secara genetis, itu inang yang paling tepat, walau bagaimanapun."
Entah mengapa Seth merasa tidak nyaman.
"Siapa?" ia bahkan tak ingin menanyakan itu. Karena ia punya kecurigaan, dan ia tidak berharap itu benar.
Tapi, dunia mengkhianatinya ketika Alice menjawab, dengan nada prihatin, "Leah…"
.
.
Jemari Seth menelusuri lekuk-lekuk wajah Korra yang tertidur tenang di sampingnya. Pikirannya mengembara ke mana-mana.
Sejak Korra tinggal di rumah Cullen, secara praktis kamar Carlisle dan Esme diambil alih oleh mereka berdua. Tidak masalah selama keluarga Cullen tidak ada, tapi bahkan setelah mereka pulang pun, Esme berbaik hati meminjamkan kamarnya, sementara si empunya kamar menempati kamar Rosalie dan Emmet. Kadang Seth merasa tak nyaman. Apalagi mengingat, yeah, hanya mereka berdua yang butuh tidur di rumah itu. Kadang ia merasa, mungkin empat orang lain sedang sibuk menguping malam-malam begini, mengawasi apa yang Korra dan Seth lakukan.
Korra mengerang ketika Seth mengusap pipinya. Ia berguling lebih rapat ke arah Seth, seakan ingin merasakan kehangatan yang tak bisa ia dapatkan. Namun Seth bangkit, dengan hati-hati menggeser tubuh Korra dan turun dari tempat tidur. Dilangkahkannya kakinya menuju jendela, membuka daunnya sedikit, membiarkan udara malam membasuh wajahnya.
Kata-kata Alice tadi kembali membebani pikirannya. Leah, ia bilang? Bagaimana mungkin? Jika Kierra memang menginginkan putri Quileute yang berhubungan darah dengan Joanna, bukankah ia bisa mengklaim Tannya Cameron, sepupu Jared? Itu lebih baik, bahkan, Tannya belum berubah dan tentunya akan mudah menjadi inang sepenuhnya, kalau menurut Korra.
Tapi menurutnya, secara genetis, Leah lebih tepat…
Mengapa?
Tapi lebih dari itu, apa yang akan terjadi?
Tidak hanya Korra akan mati cepat… Leah—kakaknya—juga? Setidaknya jiwanya yang akan mati..
Apakah Leah tahu ini—ia akan menjadi korban Kierra? Bagaimana reaksinya?
Tapi jika Kierra mampu menilai kecocokan Leah, apakah itu berarti mereka sudah bertemu? Di mana Leah sebenarnya?
"Seth," panggil Korra, menggeliat di tempat tidur begitu mendapati Seth tak ada di sampingnya. Sambil mengucek mata, ia bertanya, "Tidak tidur? Apa kau mau patroli?"
Seth berputar. "Maaf, kau kedinginan?" ia kembali menutup jendela. "Aku membangunkanmu, ya? Kembalilah tidur…"
"Eh, tak apa. Aku juga tak bisa tidur nyenyak. Kierra berdebat terus dengan Phat dan Kuroi di kepalaku."
"Oh…"
"Kau kenapa tidak tidur? Ada yang merisaukanmu?"
"Tidak, Korra, maaf,"
"Kalau begitu ke sinilah," ia menepuk-nepuk tempat di sisinya, meminta Seth kembali naik.
Seth bersandar di kepala tempat tidur, sementara Korra merebahkan kepala di dadanya, bergelung memeluknya. Ditariknya selimut menutupi tubuh Korra. Malam begini Korra selalu ribut kedinginan. Jika udara La Push yang lebih tinggi satu-dua derajat ketimbang Forks saja membuatnya menggigil, apalagi di sini? Ia sudah memakai sweater tiga lapis, dan masih saja butuh Seth untuk menjaganya tetap hangat.
"Ingat tidak, dulu kita sering bergelung begini di kamarku, sembunyi-sembunyi dari Jake?" ucap Korra menerawang. "Dan tiap menjelang pagi, sebelum aku bangun, kau sudah kabur duluan…"
"Ah ya, aku takut dibantai Jake…," Seth terkekeh, yang disambut tawa pelan Korra.
"Aku masih belum tahu jawabannya…"
"Apa?"
"Kau kabur waktu malam pertama kita bercinta. Kita sedang putus waktu itu, ingat? Dan begitu saja, sewaktu aku tidur, kau meninggalkanku… Tanpa pesan sama sekali."
Seth mengingatnya. Dua bulan lebih yang lalu, mungkin hampir tiga bulan kini. Korra mendadak memintanya tinggal setelah acara kencan terindah yang pernah mampir dalam hidupnya. Kencan rekonsiliasi, demikian ia anggap, setelah Korra menghindarinya selama beberapa hari pasca-pertengkaran mereka yang tidak jelas perihal Renesmee dan Collin di acara api unggun. Tak pernah ia duga, kencan itu menjadi titik tolak penting bagi bentuk hubungan mereka.
"Maaf, Korra. Fajar itu Jacob pulang patroli… Untungnya ia sudah kelelahan hingga tak mencium bauku. Aku sudah agak lega waktu kudengar ia mengorok. Tapi sewaktu aku berusaha tidak mengeluarkan satu suara pun, tiba-tiba Sam menelepon. Aku ketakutan setengah mati, jadi langsung saja melompat dari jendela…"
"Hahaha, ternyata kau pengecut…"
"Maaf. Sayang sekali kau sampai harus terikat pada orang sepertiku."
"Ah ya ya, padahal Cole jauh lebih berani…"
Seth tidak menanggapi.
"Omong-omong, kenapa Sam menelepon?"
"Sarapan bersama Tetua. Biasalah. Dia mengundang jam 7 pagi. Akhirnya baru dimulai jam 10. Jacob datang telat."
"Wah… Aku menunggu-nunggu teleponmu seharian, tahu. Aku sudah mengira kau menyesal, atau servisku begitu buruk, atau kau sudah punya pacar lain, dan kau takkan menghubungiku lagi. Sudah begitu Kuroi marah padaku sampai kelepasan menghancurkan tangan Noah di kelas, di depan Pete dan Ben Two pula… Rasanya hidupku jungkir balik. Tapi lantas begitu pulang sekolah, kau sudah menungguku di rumah dan meminta kita balikan. Rasanya aku sama sekali tak percaya," ia tersenyum-senyum sendiri. "Oh ya, waktu itu kau bicara sesuatu mengenai 'tak ingin menyesal'… Apa itu?"
Ia kembali mengingatnya. Jacob, di bawah pelototan Sam, mengungkap sesuatu yang tak pernah ingin ia dengar.
"Alice meramalkan kematianku…," bayangan mengerikan itu hadir. "Aku merasa jika aku harus mati, setidaknya aku tak ingin menyesal karena tak pernah berusaha mendapatkan gadis yang kuimpikan."
Korra terkesiap, lantas menunduk. "Ya, aku tahu itu…"
"Kau tahu?"
"Ia bilang ia mendapatkan gambaran itu begitu aku memasuki La Push. Sudah jelas, akulah yang menyebabkan masa depan itu…"
Seth tercenung. Benarkah? Selama ini ia selalu mengira bayangan itu bisa sampai terlihat Alice karena itu disebabkan oleh gerombolan lintah yang meneror La Push…
"Bukankah Alice tak bisa melihat masa depan yang melibatkan atau disebabkan oleh serigala?"
"Ia bisa melihat hasil dari kejadian yang disebabkan olehku. Hanya hasilnya, memang, tetapi tetap saja masa depan Kierra tidak sepenuhnya tertutupi darinya. Mungkin itu karena Kierra separuh vampir, entahlah…"
Tapi Renesmee juga separuh vampir, dan Alice tidak bisa jelas melihatnya. Oh, malah ia sudah hampir tak bisa melihat masa depan gadis itu sesudah usia 6 tahun.
Yang artinya dua: ia bersama Jacob, atau ia ikut mati karena Jacob tewas.
Rasanya ia tak perlu lagi mempertanyakan mengapa Alice bisa melihat masa depan mereka meski hanya separuh. Ada yang lebih penting. Takdir ini rupanya tak hanya mengikat suku Quileute…
Tapi apa tadi katanya? Gambaran itu berkaitan dengan kehadiran Kierra di tanah ini?
Adakah yang bisa ia lakukan?
"Korra, eh…," ia memberanikan diri bicara.
"Ya?"
Seth menelan ludah.
"Kau tahu, anu … tidak sampai dua bulan lagi kau 17… Memang belum sampai usia legal, tapi … bagaimana jika kita menapak lebih jauh?"
"Menapak lebih jauh?"
"Maksudku, meresmikan hubungan…"
"Meresmikan?"
"Kau tahu, menikah…"
Korra terkesiap, menangkupkan telapak tangannya ke mulut.
"Kau … melamarku?"
"Yeah, ehm…," Seth membersihkan tenggorokannya. Rasanya mulutnya kering.
"Serius, Seth?"
"Aku tahu suasananya sama sekali tidak romantis…"
Ya, ini sama sekali jauh dari apa yang pernah ia bayangkan mengenai lamaran. Dan menimbang betapa tingginya standar Korra mengenai perkara 'romantis', rasanya ia siap diberi nilai merah. Siap ditolak, tepatnya. Sejujurnya, ia bahkan tidak meniatkan itu. Kata-kata itu terlontar begitu saja. Tanpa persiapan sedikit pun.
Tapi di sana, dilihatnya Korra tersenyum. Tampak begitu senang, begitu bahagia.
Begitu … cerah.
"Tentu saja, Seth. Tentu saja aku bersedia."
Ia balas tersenyum. Mengapa ia tak merasakan bahagia itu?
Ia menyelusupkan tangannya ke laci kecil di samping tempat tidur, meraih sebuah kotak. Korra tampak menanti dengan antusias. Dan begitu riang kala Seth membuka kotak itu, mengeluarkan sebentuk cincin platina dan menyelusupkannya ke jari manis tangan kiri Korra.
"Cubic zirconia…," bisik Korra, meraba deretan batu-batu kecil berbentuk wajik yang bertakhta di permukaan cincin itu.
"Aku tak mampu membeli diamond… Maaf kalau kau tidak menyukainya…"
"Tidak, aku benar-benar menyukainya, kok… Terima kasih, Seth…"
Gadis itu memejamkan mata dan Seth tahu, ia menanti sebuah ciuman. Maka dicondongkannya tubuhnya, menempelkan bibirnya di bibir Korra. Rasa bibir itu agak … getir. Rasa darah.
Ia melepaskan bibirnya. Ditatapnya mata Korra. Sekilas ia bisa membaca ada sedikit pertanyaan di sana, yang segera menghilang kala bibir-bibir Korra kembali mengembang.
"Kau akan menjadi pendamping Maharani penguasa seluruh dunia…," bisiknya..
.
.
catatan:
maaf, Allez... baru sempet aku edit nih... koneksi internet amit2 n aku baru sadar yg tayang (soal italic dsb) jadi beda sama yg aku ketik n post... gtw knp...
btw cubic zirconia itu diamond palsu... dibikin dari kristalisasi zirconium dioxide (ZrO2) Hahaha, Seth lagi miskin ternyata :D
R&R btw?
