SEVEN: WELCOME BACK
"[Surname]-senpai—!" Akihito memotong perkataannya sendiri saat melihat perempuan berambut [hair color] yang dipanggilnya terbaring di ranjang rumah sakit, suara nafasnya yang teratur bercampur dengan suara dari mesin di sebelahnya. "[Surname]-senpai..."
"Sejak datang kesini, belum sekalipun dia pernah bangun." jelas Hiroomi dengan tenang.
Akihito terbelak. "T-Tidak mungkin..."
Akihito mendekati [Name] yang bernafas dengan perlahan, dada perempuan itu naik dan turun dengan stabil. Melihat kalau kedua orang itu membutuhkan waktu berdua, Hiroomi menghela nafas sebelum menutup pintu dan berjalan pergi.
"[Surname]-senpai... apa ini salahku?" Akihito bertanya sambil memegang tangan perempuan berambut [hair color] itu dan menyenderkan kepalanya. Seperti yang dia kira, sama sekali tidak ada suara tenang tapi merdu dari kakak kelasnya itu. Akihito mulai tertawa, yang kemudia berubah menjadi tangisan pelan. "S-Semua... salahku..."
Tidak ada suara. Akihito mengusap air matanya sambil tersenyum—bukan senyuman senang, tapi senyuman yang dipakai orang saat mereka terpaksa padahal di dalam mereka menderita.
"Kamu menangis seperti anak kecil... Kanbara..."
Akihito terbelak dan langsung melihat ke arah [Name] yang sekarang membuka matanya walaupun tidak selebar biasanya. Senyuman kecil terpasang di wajah perempuan [hair color] itu saat dia melihat wajah Akihito yang tidak percaya. Terbatuk, [Name] bangun dan duduk di ranjangnya dengan perlahan sebelum mengusap rambut Akihito.
"Aku lega... kamu baik-baik saja." [Name] berkata dengan lega, tidak menanyakan tentang apa yang terjadi pada Akihito.
"[S-Surname]-senpai—"
"Semuanya baik-baik saja. Semuanya... akan baik-baik saja." [Name] berkata sambil menghela nafas, walaupun perkataanya lebih terdengar untuk dirinya sendiri daripada Akihito. "Ini bukan salahmu, Kanbara. Semuanya bukan salahmu."
