The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
Notes!
Italic + Bold = Taehyung's dream.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 5
Merah.
Taehyung melihat warna merah di mana-mana. Warna itu seolah-olah mengurungnya.
Bau amis darah tercium begitu kuat hingga Taehyung mual, mulutnya berair karena mual dan dia benar-benar akan muntah sekarang. Tapi dia tidak bisa, bahkan untuk menangis pun dia tidak mampu.
Dia berdiri di tengah ruangan di sebuah rumah, dengan setidaknya 4 mayat bergelimpangan di sekelilingnya. Semua mayat itu tercabik-cabik, mengindikasikan merekan dibunuh oleh binatang buas. Taehyung juga melihat ada banyak bekas cakaran, bantal sofa yang isinya berhamburan, bercampur baur dengan isi perut manusia yang juga berhamburan.
Bahkan di sudut lainnya Taehyung melihat sepotong kepala dengan tengkorak remuk dan otak yang berceceran. Taehyung menunduk dalam-dalam dan dia melihat potongan tangan, dan di bawah tangan itu dia melihat sesuatu yang berkilau. Taehyung memungutnya dan dia menyadari kalau sesuatu yang berkilau itu adalah kalung.
Kalung itu memiliki sebuah liontin yang terbuat dari cincin. Dan di cincin itu Taehyung melihat sebuah ukiran dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Taehyung menatap sekeliling, bau amis darah itu mulai mengundang beberapa serangga seperti lalat berdatangan.
Taehyung mengusir lalat di depan hidungnya dan setelah dia melakukan itu, dia bertatapan dengan sepasang bola mata lainnya.
Bola mata coklat milik Taehyung yang memancarkan ketakutan bertatapan dengan bola mata hitam kelam yang memancarkan ketakutan yang sama. Mata itu menatapnya dengan takut dan penuh harap, dia berharap Taehyung menolongnya.
Tapi Taehyung tidak menolongnya.
Dia tidak menolong pemilik sepasang bola mata hitam kelam yang bersembunyi dalam lemari kecil itu. Taehyung memilih untuk berlari meninggalkan tempat penuh darah itu dengan membawa kalung yang ditemukannya.
.
.
Taehyung terbangun dengan nafas terengah-engah. Dia menatap sekeliling dan menghembuskan nafas lega karena lega bahwa apapun yang dilihatnya tadi adalah mimpi. Tapi kenyataan menampar Taehyung dengan keras karena dia tahu, seberapa kerasnya dia mencoba, dia tahu apa yang dilihatnya di mimpi tadi adalah kenyataan.
Kenyataan yang terlalu kejam hingga memberikan trauma berkepanjangan padanya.
Taehyung meremas rambutnya dan menggeram frustasi. Bola mata hitam yang memancarkan ketakutan itu terus membayangi pikirannya. Mulanya Taehyung pikir dia tidak perlu mengkhawatirkan si pemilik bola mata itu.
Dokternya dulu mengatakan kalau trauma Taehyung disebabkan oleh shock dan rasa bersalah yang mendalam.
Ya, rasa bersalah karena membiarkan si pemilik bola mata hitam terdiam ketakutan di tengah ruangan yang dipenuhi mayat. Membiarkan dia gemetar ketakutan sementara Taehyung melarikan diri dengan menggenggam seuntai kalung yang ditemukannya.
Kalung yang selalu dipakainya sejak hari itu. Kalung bertuliskan satu kata dalam bahasa Yunani, Diávolos, yang berarti iblis. Taehyung mencoba mencari pemilik kalung itu selama belasan tahun, dan hasilnya nihil. Dia tidak juga berhasil menemukan pemilik kalung itu.
Sebaliknya, dia justru menemukan si pemilik bola mata hitam kelam yang dulu diabaikannya.
Dan Taehyung tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin membalik bacon stripsnya dengan pandangan kosong. Sejak kemarin dia memutuskan untuk menjauhi Namjoon, dia tidak bicara padanya, bahkan Seokjin tidak menatap Namjoon kemarin. Seokjin tahu tindakannya kekanak-kanakkan. Tidak seharusnya dia mengacuhkan Namjoon hanya karena alasan yang tidak jelas. Tapi ada bagian di hati Seokjin yang mengatakan dia perlu menjauhi Namjoon, entah kenapa.
"Jinnie? baconmu nyaris hangus, sayang."
Seokjin tersentak, dengan segera dia mematikan kompornya. Dia berbalik dan melihat Namjoon berdiri di belakangnya. "Namjoon.."
"Ya?"
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
Damn! Kalimat itu meluncur dengan begitu saja dari mulut Seokjin tanpa bisa ditahan.
Namjoon terdiam, dia menghela nafas pelan. "Angkat baconmu dan duduklah. Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Seokjin mengangguk kecil dan bergegas memindahkan baconnya ke piring. Kemudian dia melangkah dan duduk di sebelah Namjoon.
Namjoon tersenyum pada Seokjin, "Jinnie, kau tahu aku mencintaimu, kan?"
Seokjin mengangguk polos.
Namjoon melepaskan cincin di tangan kanannya, cincin yang selalu dipakai Namjoon selama ini, bahkan sejak sebelum dia memiliki cincin pertunangannya yang sekarang dipakai di tangan kiri. Dia melepaskannya dan meletakkannya di meja makan kemudian menggesernya ke arah Seokjin.
Seokjin mengerutkan dahinya bingung, tapi Namjoon memberi isyarat bagi Seokjin untuk mengambil cincin itu. Seokjin mengambilnya dan membawanya ke dekat matanya, memperhatikan cincin itu dengan detail.
Cincin itu terlihat sudah lama, kilauannya sudah memudar. Seokjin sudah hendak mengembalikan cincin itu ketika dia melihat sesuatu. Seokjin mengintip ke bagian dalam cincin dan dia melihat ada sesuatu terukir di sana.
Seokjin menyipitkan matanya, dia merasa tulisan itu familiar. Seokjin memang tidak mengerti apa yang terukir di sana, tapi perasaannya mengatakan itu adalah sebuah kata. Dahi Seokjin mengerut karena dia mencoba mengingat dimana dia pernah melihat itu dan saat dia ingat, Seokjin merasa seluruh tubuhnya gemetar. Cincin yang berada di antara jemarinya terlepas dan terjatuh dengan suara berdenting ke meja.
"Da-darimana kau mendapat itu? I-itu.." Seokjin merasakan kepalanya berdenyut. Ingatan masa lalunya yang mengerikan kembali memasuki kepalanya.
Dia ingat dulu dia pernah diberi makanan oleh orang yang memiliki tato kata itu, dan dia dibujuk untuk makan oleh seorang anak lelaki yang memakai kalung yang sama. Dan ternyata, makanan itu beracun.
"K-kau.." Seokjin menatap Namjoon dengan rasa ketakutan yang luar biasa. Dia bergerak bangun dan melangkah mundur.
"Jinnie, dengarkan aku dulu.."
"Tidak! Menjauh dariku!" tubuh Seokjin gemetar, dia menatap Namjoon. "Kau.. kau adalah anak itu? Anak yang dulu membujukku untuk memakan snack yang diberikan orang aneh itu?"
"Seokjin.."
"Aku tidak percaya ini. Namjoon, kau.. kau adalah orang yang mencoba membunuhku." Seokjin merasakan pandangannya mengabur karena airmata. Kenyataan ini benar-benar membuatnya pusing, kepalanya berdenyut dan samar-samar dia bisa mendengar suara dokter kejiwaannya yang dulu menyarankan agar Seokjin melupakan masa lalu kelam itu.
"Sayang, biarkan aku menjelaskan ini."
"Tidak! Aku tidak mau mendengar apapun darimu!" Seokjin berjongkok dan menutup telinganya dengan kedua tangan, dia juga memejamkan matanya rapat-rapat.
Namjoon menatap Seokjin dengan sedih, dia sangat ingin menjelaskan soal hal ini sejak dulu. Tapi dia takut hal itu akan membuat Seokjin terluka dan dugaannya benar. Bahkan reaksi Seokjin benar-benar diluar bayangannya. Dia tidak menyangka Seokjin akan shock hebat seperti ini.
"Pergi.."
Namjoon terdiam saat dia mendengar Seokjin mengucapkan itu dengan lirih. "Sayang.." panggilnya pelan.
"PERGI DARI SINI!" teriak Seokjin keras.
Namjoon memejamkan matanya, dia rasa Seokjin butuh waktu untuk mencerna semua permasalahan ini. "Oke, aku pergi. Jangan berbuat bodoh, sayang."
Seokjin mendengar suara langkah kaki menjauh dan tak lama kemudian dia mendengar suara pintu yang ditutup. Seokjin membuka matanya secara perlahan, tubuhnya masih gemetar hebat. Trauma masa lalunya yang sudah mulai sembuh kembali dan membuatnya ketakutan setengah mati.
Seokjin meremas rambutnya sendiri dan menjerit keras. Dia ingat rasa sakit saat makanan beracun itu melewati tenggorokannya. Rasa sakit di tenggorokannya, panas di perutnya, dan perasaan disaat dia sesak nafas karena sekarat, kembali menghantui pikiran Seokjin.
Seokjin menatap ke arah telepon yang berada di meja yang tidak jauh darinya. Seokjin merangkak ke arah telepon itu, setelah mengambilnya, jemarinya menekan sederetan angka yang sudah dihafalnya.
"D-Dokter C-Choi? A-aku.. perlu bantuanmu.."
.
.
.
.
.
.
.
Jimin melangkah menghampiri Yoongi dengan senyum di wajahnya. Dia berjalan perlahan dan duduk di sebelah Yoongi yang sedang membaca majalah di ruang tengah.
"Hello, baby sugar~"
Yoongi menoleh ke arah Jimin, "Hei, kau tidak ke kantor?"
"Aku cuti. Aku bosan di kantor terus. Kau sendiri?"
Yoongi melirik jam dinding, "Ini masih siang, Jim. Aku akan berangkat sore nanti."
"Tidak bisakah kau mengambil cuti juga?"
Yoongi menoleh ke arah Jimin, Jimin terlihat sedang cemberut. Yoongi tertawa dan mengecup pipi Jimin, "Tidak bisa, Chim-Chim. Kasusku belum selesai."
"Aah, kasus mutilasi itu? Kemarin aku melihat beritanya di TV. Reporter itu bilang kasus ini mirip dengan yang terjadi 7 tahun lalu. Kau ingat? Kasus Suga."
Yoongi menegang saat mendengar nama 'Suga', dia berdehem dan kembali membalik halaman majalahnya. "Tidak, itu sudah terlalu lama."
"Oya? Tapi bukankah si Suga itu sangat terkenal? Aku ingat dulu dia masuk media selama satu tahun penuh karena pembunuhan acak yang dia lakukan. Dia juga memutilasi korbannya kan? Kurasa karena itulah para reporter mengaitkannya dengan kasus mutilasi sekarang ini."
Yoongi menggigit bibirnya, "Aku.. tidak ingat."
"Hmm, oke. Tapi mungkin kau bisa mendapatkan sedikit referensi dari kasus itu. Mungkin saja pelaku mutilasi kali ini adalah si Suga itu."
"Bukan!" sentak Yoongi. "Bukan Suga!"
Jimin mengerjap pelan, dia kaget karena Yoongi tiba-tiba saja menaikkan nada suaranya.
Yoongi terdiam, dia menutup majalahnya. "Aku harus pergi kerja."
Jimin menatap Yoongi dengan pandangan bingung, "Yoongi Hyung?"
Jimin menatap punggung Yoongi yang melesat cepat ke arah kamar mereka di apartemen. Yoongi menutup pintunya dan Jimin hanya bisa terpaku di sofa.
"Dia kenapa?" gumam Jimin. "Dia.. tidak mungkin mengenal Suga, kan?"
.
.
Yoongi berdiri bersandar di pintu dan perlahan-lahan dia jatuh terduduk. Dia menekuk lututnya dan memeluknya. Tubuhnya menegang saat Jimin membahas Suga. Setelah kemarin kebiasaan lamanya kembali, sekarang Jimin tiba-tiba membahas Suga.
Yoongi memejamkan matanya dan menggeleng, "Tidak, Yoongi. Itu masa lalu. Lupakan. Kau tidak boleh membuat Jimin mengetahui hal ini."
Yoongi menggeleng keras dan mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak boleh membiarkan kasus Suga diangkat lagi ke permukaan oleh media. Dia harus segera menyelesaikan kasus mutilasi yang sedang ditanganinya. Dia tidak boleh membiarkan Suga kembali dibicarakan oleh media.
Dia harus menyelesaikan ini secepatnya.
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon menekan bell apartemen Hoseok dengan brutal. Demi Tuhan, dia sudah berdiri di sini selama 45 menit dan menekan bell secara konstan tapi Hoseok tidak juga membuka pintunya. Jihoon tahu Hoseok masih di apartemen karena tadi dia sempat menelepon kantor CSI.
"Hyungie! Buka pintunya!"
Jihoon sudah mengangkat jemarinya untuk kembali menekan bell, tapi tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan munculah wajah Hoseok.
"Apa? Aku sedang tidur."
"Ini sudah hampir sore, Hyungie. Kau tidak pergi kerja?"
Hoseok menggaruk kepalanya, "Aku akan pergi nanti."
"Kapan?" Jihoon mendorong tubuh Hoseok masuk ke dalam agar dia juga bisa masuk.
Hoseok melangkah masuk dan berjalan ke arah dapur sambil menggaruk kepalanya. "Kau mau minum apa, Jihoonie?"
"Hmm?"
"Kau mau minum apa? Aku hanya punya air mineral dan minuman beralkohol."
Jihoon membulatkan matanya, dengan cepat dia sudah berdiri di sebelah Hoseok yang sedang mengintip ke dalam kulkas. "Astaga, Jung Hoseok! Sudah kubilang berhenti minum-minum!" Jihoon memukul kepala belakang Hoseok keras.
Hoseok meringis seraya mengusap kepalanya, "Apa sih, aku kan hanya minum sesekali."
"Apanya yang sesekali? Kulkasmu penuh dengan minuman mematikan itu!" Jihoon menatap Hoseok sengit.
Hoseok meringis, "Oke, aku kalah."
Jihoon mendengus, dia menadahkan tangannya ke arah Hoseok.
"Apa?" tanya Hoseok.
"Berikan kunci apartemenmu. Akan kubuang semua minuman itu saat kau kerja."
"H-hei, jangan! Itu mahal. Lagipula apartemenku memakai password."
Jihoon mengerjap, "Oiya ya, aku lupa. Ah, sudahlah. Intinya berikan akses masuk ke apartemenmu."
"Akan kuberikan asalkan kau berjanji kau tidak akan membuang koleksiku."
Jihoon menggeram kesal, "Minuman itu tidak baik untukmu. Lagipula, kenapa sih kau senang sekali meminum itu?"
'Karena minuman itu bisa membantu melupakan rasa bersalahku padamu.' Hoseok membatin, lalu dia menghela nafas pelan. Dia tidak akan bisa mengatakan itu pada Jihoon.
"Karena aku suka. Kau tahu aku sudah mengoleksi itu sejak aku masih kuliah."
Jihoon memutar bola matanya, "Oke, kalau begitu akan kusembunyikan di tempat yang bagus."
"Jihoonie.."
"Hyungie, ini demi kepentinganmu sendiri."
Hoseok menghela nafas pelan, "Oke, aku mengalah."
Jihoon tersenyum lebar, "Yeay! Jadi, apa passwordnya?"
Hoseok melirik Jihoon yang menatapnya dengan pandangan berbinar, "Tanggal lahirmu."
"Eh?"
"Passwordnya itu tanggal lahirmu."
Wajah Jihoon perlahan-lahan berubah menjadi merah pekat. Dia menggaruk pipinya dengan canggung. "Oh, okay.."
Hoseok melirik wajah malu-malu Jihoon yang terlihat begitu manis. "Damn!" Hoseok mengumpat pelan kemudian dia mendorong tubuh Jihoon hingga tubuh itu membentur kulkasnya.
Jihoon hendak mengerang sakit tapi bibirnya sudah dibungkam oleh Hoseok yang menciumnya. Hoseok menciumnya dengan begitu kasar dan menuntut, membuat Jihoon kesulitan mengimbanginya.
Jihoon meremas tengkuk Hoseok, kakinya melayang karena Hoseok memeluk pinggangnya dan sedikit mengangkatnya. Hoseok selalu melakukan itu agar Jihoon tidak perlu berjinjit atau mendongak saat menciumnya.
Jihoon terengah-engah saat akhirnya Hoseok melepaskan ciumannya. "Hyungie.."
Jihoon menyadari mata Hoseok menggelap karena nafsu dan Jihoon yakin kalau Hoseok tidak akan berhenti dan puas hanya dengan ciuman tadi. Hoseok mendekatkan wajahnya lagi dan Jihoon memejamkan matanya.
Namun saat bibir mereka hanya berjarak satu inchi lagi, ponsel Jihoon berdering dengan begitu keras hingga Hoseok langsung menarik wajahnya menjauh.
Jihoon menggigit bibirnya canggung, Hoseok menjauh dari tubuh Jihoon dan masuk ke dapur. Sementara Jihoon berlari ke arah tasnya di ruang tengah.
Jihoon mengambil ponselnya dan dia melihat nama 'Christian' di sana. "Chris? Ada apa?"
Hoseok melirik Jihoon saat dia menelepon. Hoseok mendengar Jihoon berulang kali mengucapkan nama 'Chris'. Hoseok berjalan menghampiri Jihoon dengan satu gelas berisi air mineral, dia melihat Jihoon kembali memasukkan ponselnya ke tas.
"Siapa?" tanya Hoseok.
"Christian Lee, temanku."
Hoseok mengerutkan dahinya, "Temanmu?"
"Huum, teman baruku. Aku bertemu dengannya di café kemarin. Dia itu orang yang waktu itu menabrakku di universitas waktu aku mengikutimu bekerja."
Hoseok mengerutkan dahinya, dia tidak tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh Jihoon. "Apa aku mengenalnya?"
"Kau.."
Ucapan Jihoon terhenti karena kali ini ponsel Hoseok berdering dengan nyaring. Hoseok berjalan ke arah ponselnya dan mengambilnya. "Ya?"
"Hoseok, cepat ke kantor. Aku menemukan petunjuk penting!"
Hoseok mengangguk, "Hn.." dia kembali melempar ponselnya ke sofa.
"Siapa?" tanya Jihoon.
"Yoongi. Aku harus pergi sekarang."
"Oh, kalau begitu aku juga pulang saja. Christian mengajakku pergi."
Hoseok mengerutkan dahinya tidak suka.
"Ka-kami cuma mau ke perpustakaan kota kok, Hyungie." Jihoon menjelaskan dengan cepat saat dia menyadari raut wajah Hoseok yang tidak bersahabat.
"Hmm, kabari aku kalau kau sudah sampai di sana."
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menjerit keras dengan nafas terengah-engah. Dia menatap sekeliling dan menghela nafas lega saat dia menyadari kalau dia ada di kamarnya. Jungkook mengusap wajahnya kasar. Dia benci mimpi buruk yang terus dialaminya.
"Sial! Kenapa aku memimpikan itu lagi?!" ujarnya frustasi.
Jungkook mencoba menenangkan dirinya dan melupakan mimpi saat dia berada di sebuah lemari dan menyaksikan sebuah pembunuhan sadis tepat di depan matanya sendiri. Jungkook bergidik saat dia kembali mengingat semua darah itu.
Jungkook melirik jam di meja nakasnya dan dia melompat bangun saat sadar kalau dia terlambat, amat sangat terlambat untuk bekerja.
"Oh, shit! Taehyung akan memarahiku!"
Jungkook bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi, dia mencuci wajahnya dan terhenti saat dia melihat pantulan wajahnya di cermin. Dia terpaku menatap matanya sendiri, dia ingat kemarin dia melihat bola mata coklat Taehyung dan merasa kalau dia pernah melihatnya sebelumnya.
Dan sekarang Jungkook ingat di mana dia pernah melihat bola mata itu.
Dia melihat itu, di tengah ruangan penuh darah tempat mayat bergelimpangan. Ruangan yang selalu menjadi objek mimpi buruknya.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa yang kau temukan?" tanya Hoseok pada Yoongi.
"Hei, aku menemukan penemuan besar. Kau tahu kan kalau seluruh sidik jari korban dihapus dengan cara dilepas? Jadi karena itu kita tidak bisa mendapatkan sidik jarinya. Dan kedua tangannya bersih dari bulu, begitu juga kakinya. Tapi.. aku menemukan satu helai bulu yang luput dibersihkan, aku berhasil menemukan identitas korban melalui tes DNA dan beruntungnya aku, aku menemukan DNA yang serupa dengannya dari data rumah sakit. Kelihatannya orang ini mengikuti perawatan lengkap hingga data DNAnya tersimpan di rumah sakit."
Hoseok menatap layar komputer di hadapannya, "Park Minho?"
"Yap, ulzzang terkenal di universitas itu."
"Selain itu aku juga menemukan sidik jari berdarah di bagian lipatan lutut kaki korban. Aku mencarinya dan ternyata itu adalah sidik jari dari Christian Lee, salah satu mahasiswa di sana."
"Siapa?"
Yoongi menekan-nekan keyboard dan wajah seorang pria muncul di layar. "Christian Lee."
Hoseok memperhatikan wajah di layar dan matanya melebar saat dia mengenali kalau orang itu adalah orang yang menanyakan Jihoon dan orang yang sama dengan yang waktu itu menabrak Jihoon.
'Christian Lee, temanku.'
'Huum, teman baruku. Aku bertemu dengannya di café kemarin. Dia itu orang yang waktu itu menabrakku di universitas waktu aku mengikutimu bekerja.'
"Sial! Jihoon!"
"Kenapa, Hoseok?"
"Jihoon berada bersama dia! Jihoon dalam bahaya!"
To Be Continued
.
.
.
Hai!
Kemarin ada banyak yang masih bingung ya?
Jadi, bagaimana sekarang? Sudah tidak bingung atau semakin bingung? Hehehe
Aku tidak bisa memastikan kapan update. Tapi kuharap kalian mau sabar karena aku pasti update kok. Hehehe
.
.
.
Thanks
