THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Twilight Saga by Stephenie Meyer.

.


.

78. Tuduhan

Monday, August 26, 2013

4:36 PM

.


.

Beberapa hari tinggal seatap dengan keluarga Cullen, akhirnya ia tahu satu hal. Ada benteng tebal di antara dua pemimpin tertinggi dua ras yang tengah berusaha bekerjasama: Carlisle dan Kierra.

Awalnya ia tidak menyadarinya, berhubung setiap kali memergoki mereka berbincang berdua, kedua makhluk itu selalu memakai bahasa-entah-apa dan segera berhenti ketika menyadari Seth mendekat. Ketika akhirnya Kierra menyertakan Seth dalam pembicaraan tiga pemimpin mengenai kondisi keamanan La Push, mereka juga masih terlihat biasa—saling menyapa dengan sopan dan bicara dengan bahasa formal. Namun, beberapa kali perbincangan itu terjadi, barulah Seth bisa menangkapnya. Keduanya selalu, entah sengaja entah tidak, mengambil posisi yang berseberangan.

Ini aneh, sungguh. Ia selalu mengira mereka bersekutu, dilandasi kepentingan yang sama. Mengapa mereka memiliki konsep yang begitu berbeda?

Ditambah, ia tak pernah tahu bahwa di balik sikap tenangnya, rupanya Carlisle adalah sosok keras kepala yang tak mengenal kata mundur. Soal Kierra, ia bisa menduganya. Tapi Carlisle?

Ia merasakan panasnya situasi yang berlangsung di balik adu argumentasi paling tenang, tapi juga paling menegangkan, yang pernah ia saksikan, ketika untuk pertama kalinya diadakan pertemuan lima pemimpin. Satu raja, satu ratu, satu pangeran, dan dua jenderal: Carlisle, Kierra, Seth, Jasper, dan Sam. Sejujurnya, ia masih memendam perasaan buruk tentang Sam setelah apa yang ia lakukan di balik punggung kawanan selama ini. Tapi setelah Sam turut membantunya dalam pencarian Collin, ditambah kini jelas Kierra meminta mereka bekerjasama, adakah yang bisa ia lakukan? Apalagi sudah jelas mereka punya agenda penting: menghancurkan gerombolan vampir Sang Ibu.

"Kita harus menyatukan cara pandang kita mengenai Sang Ibu sebelum memutuskan satu rencana," ujar Jasper agak lelah, setelah selama satu jam terus mendengarkan Carlisle dan Kierra mempertahankan pendirian masing-masing.

"Anda tak perlu bingung, Mr. Whitlock," ujar Kierra, "Kita hanya perlu all-out. Jika ada kesempatan, bunuh dia di tempat."

"Kierra, aku sudah mengatakan pendapatku soal ini. Upaya damai lewat perundingan harus lebih didahulukan," kembali Carlisle menekankan.

Kierra lagi-lagi memperlihatkan sorot mata datar. Bibirnya tersenyum kala bicara sopan, tapi tajam. "Mr. Cullen, saya sudah mengatakan. Dari pola serangan selama ini, tak ada kemungkinan Sang Ibu akan menerima perundingan."

"Kita sama sekali belum mencoba itu, Kierra."

"Saya rasa mencoba pun percuma. Lagipula, dengan apa saya harus memberikan pemberitahuan? Apa api ungu cukup?"

Api ungu?

"Kami telah menangkap salah satu pimpinan mereka, vampir bernama Ariana Black. Kami bisa membuat sandi asap jika memang diperlukan, atau mengukir surat di tubuh Ariana, Anda tahu cakaran saya bisa menembus kulit vampir."

Seth membelalak. "Sandi asap?! Api ungu?! Jika maksudmu kau ingin membunuh Ariana untuk menggertak Sang Ibu, sebaiknya urungkan niatmu itu," ujarnya tegang.

"Jika yang Anda maksud adalah takut hal itu membuat Korra bersedih, Anda tak perlu khawatir, Alfa Clearwater. Ia sudah lama mempersiapkan diri dengan akhir pertarungan ini."

"Ini tetap tidak benar," ujar Carlisle. Seth lebih dari setuju dengannya.

"Saya tidak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan keamanan suku, Mr. Cullen. Ada waktunya kita perlu bersikap profesional."

"Kierra benar," Sam sependapat. "Ariana adalah salah satu pemimpin mereka. Dia sudah bukan dia yang dulu lagi. Dendam membuatnya gila."

"Ditambah kematiannya akan memberikan pukulan telak bagi Sang Ibu. Hal ini bisa kita manfaatkan untuk memancing ia keluar," timbang Jasper.

Jadi Jasper bersisian dengan Kierra dan Sam? 3 lawan 2?

"Aku yakin ada cara lain untuk memancing Sang Ibu keluar," ucap Carlisle. "Kalian pernah memaksanya keluar sewaktu serangan di jurang. Sebelumnya pun, Jasper, Emmet, dan Korra pernah bersinggungan dengannya. Ia memang pemimpin yang hanya diam di balik layar, tapi bukan berarti ia takkan muncul."

"Lantas bagaimana cara yang Anda sarankan?" tanya Kierra agak sinis. "Mengirim surat? Menulis iklan di surat kabar? Menulis huruf sandi di pepohonan?"

"Kita bisa mengirim Ariana sebagai utusan… Tentu saja tanpa mengukir pesan di tubuhnya," Carlisle sudah mengantisipasi ide Kierra yang absurd. "Jika kita memperlihatkan itikad baik, mereka akan menyambutnya jauh lebih baik."

"Maksudmu mengembalikan sang pemimpin mereka?" Sam menginterupsi.

"Carlisle," Jasper ikut memberi pertimbangan. "Ariana adalah satu-satunya kelemahan mereka yang kita berhasil kita pegang, dan untuk mendapatkannya tidak mudah. Kembalinya Ariana berarti mengembalikan kekuatan mereka…"

"Justru itu tujuanku. Jika ia menilai bahkan kita bisa memberikan sesuatu yang begitu berharga, mungkin ia akan tergugah dan bersedia berunding…"

"Maaf, tapi tidak ada perundingan, Mr. Cullen," tekan Kierra. "Mereka harus digilas habis, sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan."

"Kierra, coba timbang dari posisi Sang Ibu. Mereka memiliki dendam, tapi itu berakar dari dendam pribadi. Jika kita bisa memberi pengertian…"

"Jika demikian, Sang Ibu telah membawa dendam pribadinya sampai level yang mencengangkan. Itu tidak bisa diterima…"

"Kau tidak kenal dia. Ia pasti telah mengalami hal yang sangat mengerikan…"

"Maaf jika saya katakan, bahwa toleransi Anda, Mr. Cullen, sudah kelewat batas…"

"Dan aku juga perlu katakan, rasa tegamu, Kierra, sudah kelewat batas…"

"Sang Ibu sudah mengancam tak hanya suku, tapi juga keselamatan orang-orang di sekitar sini. Entah berapa puluh, berapa ratus manusia yang sudah ia ubah dan ia jadikan pion bunuh diri. Dan ia tampak tak peduli prajuritnya itu mau mati atau tidak, selama ia bisa menciptakan teror. Ini bukan main-main, sudah terlalu banyak orang hilang dan saya tidak yakin agen kita di otoritas resmi sanggup untuk menutupinya lagi."

Agen di otoritas resmi? Siapa?

Oh. Jangan katakan … Charlie?

Ya. Jika Sue sebagai Tetua terlibat, tak ada jaminan calon suaminya tidak. Tapi untuk berpikir bahwa dua orang yang tinggal seatap dengannya, selama ini menyembunyikan banyak hal… Rasanya ia jadi mengerti perasaan Jacob.

Cukup, Seth. Fokus pada inti pembicaraan.

Kierra masih melanjutkan. "Saya telah mencapai kesepakatan dengan para bangsawan vampir, permasalahan di sini akan saya tangani. Jika saya tidak berhasil menyelesaikannya, itu berarti kredibilitas saya akan dipertanyakan."

Begitu? Jadi itu alasannya para Volturi brengsek itu kali ini tidak muncul? Padahal sudah jelas ada penciptaan pasukan vampir besar-besaran di kawasan sini. Dalam skala yang jauh lebih mengerikan daripada pasukan vampir baru enam tahun lalu. Tentu saja, jika mereka turun tangan, mereka akan bersinggungan dengan aliansi. Lagipula yang menjadi sasaran kali ini adalah satu suku yang potensial menjadi musuh mereka. Bahkan walaupun aliansi gagal menanganinya, mereka justru diuntungkan.

"Dia tidak harus menjadi korban bagi harga dirimu, Kierra…"

"Anda lebih dari tahu seperti apa saya, Mr. Cullen. Ini bukan masalah harga diri. Jika saya jatuh di sini, saya mempertaruhkan kepercayaan dan keamanan seisi aliansi."

"Yang penting tetap penyelesaian, bukan pembantaian. Aku bisa menawarkan pembicaraan dengan Sang Ibu, agar ia sudi menarik pasukannya…"

"Saya sudah katakan itu tidak mungkin…"

"Karena kau belum pernah menjadikanku titik tombak dalam perundingan."

"Jika Anda berpikir kemampuan Anda memelintir kalimat dan mempengaruhi orang bisa menembus Sang Ibu, mungkin Anda perlu berpikir dua kali. Dia adalah satu contoh jelas dari iblis yang terbakar amarah dan yang jelas tidak menerima kata-kata logis…"

"Ia tidak seburuk itu pada awalnya…"

"Lagi, Anda bersikap subyektif…"

"Tidak ada orang yang jahat sejak awal, Kierra… Sesuatu mengubahnya. Itu berarti dengan pendekatan yang tepat, ia bisa berubah…"

Kierra diam agak lama. Ketika ia kembali bicara, kata-katanya, anehnya terdengar agak sinis, "Anda berpikir apa yang pernah Anda lakukan pada saya bisa diterapkan padanya?"

Eh, apa?

Apa yang ia katakan tadi? Apa yang pernah Carlisle lakukan? Apa maksudnya? Apa Kierra pernah bersinggungan dengan Carlisle di masa lalu?

Mungkin wajar. Mungkin hubungan mereka memang terjalin lebih lama. Kapan Carlisle membentuk klannya menjadi salah satu klan yang disegani di dunia vampir? 1950-an, sejak Alice dan Jasper bergabung? Kapan Kierra membentuk aliansi? Akhir 1800-an?

Tapi bukankah mereka ada di benua yang berbeda? Basis Kierra adalah di Asia, sedangkan Carlisle di Amerika…

Ah, apa benar begitu? Kierra mungkin juga pernah berusaha merekrut kawanan di Amerika. Jika tidak, mana mungkin ia bisa bertemu Jasper di Brazil pada 1940-an?

Setelah jeda cukup panjang, Carlisle menjawab tenang, "Itu benar."

Jawaban itu, seperti diduganya, membuat Kierra berdecih. "Anda tak bisa melakukan generalisasi," ujarnya. "Lagipula, apa yang pernah Anda lakukan, bukankah itu temporer? Anda tak pernah bisa menyucikan kembali sesuatu yang telah tercemar, Mr. Cullen, betapapun Anda berusaha…"

Seth mengernyit kala arah pembicaraan mereka berdua sepertinya berkembang ke arah yang lebih pribadi. Diliriknya Sam dan Jasper. Keduanya tampak tegang, tapi kelihatan tak ingin menginterupsi pembicaraan apapun. Ia mencondongkan tubuh pada Jasper, hendak bertanya, tapi Jasper memberikan kode mata baginya untuk diam.

Carlisle dan Kierra tampak berpandangan, saling menilai, namun Kierra mendadak memutuskan kontak mata darinya dan menghadap Seth.

"Alfa Clearwater, Anda pemilik tanah ini dan kawanan Andalah yang terancam oleh gerombolan Sang Ibu. Bagaimana pendapat Anda?"

Kierra menanyakan pendapatnya? Apa ia tidak salah dengar?

Tapi ia membersihkan kerongkongannya dan berkata, "Aku setuju dengan Carlisle."

"Tidak aneh," terdengar gerutuan Sam di salah satu sisi meja. Tapi Seth tidak mempedulikannya dan melanjutkan.

"Konflik antara kawanan dengan Ariana dan Sang Ibu didasari oleh dendam keluarga. Ini sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan damai. Jika kini kita menggilas mereka, tidak ada jaminan dendam yang sama takkan berlanjut. Suku takkan diuntungkan apapun."

"Tapi Anda tahu siapa putri Ariana dan dia dipastikan takkan hidup untuk mewarisi dendam ibunya. Lagipula saya yakin, takkan ada perlakuan buruk apapun lagi yang akan dilakukan suku ini padanya, bukan?"

Menelan ludah, Seth menjawab, "Benar," tapi menyadari ke arah mana ucapannya bisa ditafsirkan, ia buru-buru mengoreksi, "Tapi aku tidak menginginkan perang ini terus berlanjut. Sudah banyak anggota suku yang tumbang. Jacob terancam di luar sana, kita tak tahu apa yang akan terjadi padanya selagi kita bicara. Lantas ada Collin dan aku. Jikapun ini selesai kini, bagaimana jika hukum karma terus berputar?"

"Hukum karma?"

"Kau tahu, para Tetua memprediksikan ada semacam … kutukan … yang mengikat keturunan Zacharias dan keturunan Joshua Black."

"Kutukan itu tidak ada, Alfa Clearwater."

"Aku tidak tahu itu ada atau tidak, tapi memang faktanya mengatakan demikian. Setiap generasi keturunan mereka selalu saling mencinta dan kemalangan mengintai mereka. Tatiana dan Ephraim, Korey dan William, Ariana dan Billy…" Korra dan Collin… "Ehm, kau pasti tak ingin jika … eh, kelak putri kita, maksudku putri atau putraku dan Korra, akan menjalani takdir yang sama juga, bukan?"

"Sayangnya, Alfa, putri kalian sudah tewas bahkan sebelum dilahirkan. Dibunuh oleh … tak lain tak bukan…"

Seketika bayangan yang sudah berhari-hari ia lawan itu kembali bermain, tak hanya di ruangan matanya, tapi juga mengotori jiwanya. Lekas ia mengenyahkan bayangan itu. Jauh.

"Jadi, kau sudah lihat bukti bahwa kutukan itu memang bekerja."

"Kalau memang begitu ketakutan Anda, mungkin dengan langsung menghancurkan sumber kutukan itu, yakni Sang Ibu, kita bisa menghapus kutukan itu."

"Aku tidak yakin, Kierra… Tunggu," ia mengernyit. "Apa maksudmu sumber kutukan itu adalah Sang Ibu?"

Kierra tampak diam sejenak, tapi lantas ia bicara dengan ketenangan tak tergoyahkan, "Saya hanya menebak. Jika ia memang pangkal seluruh garis keturunan Zacharias Black dan ia disakiti oleh keluarga Black, bisa jadi memang dendamnyalah yang menghasilkan kutukan itu."

Jadi memang ia juga sampai pada kemungkinan itu. Lantas apakah ia tahu … bahwa…

"Kierra," Seth bicara hati-hati. "Apa mungkin memang … ia putrimu?"

"Mungkin bukan berarti iya!" pertama dalam kesekian kali ia mendengar suara Kierra meninggi, kala ia menatap Seth dengan sorot tak hanya tajam, tapi juga berbalut amarah.

"Apa mungkin ini alasan kau ingin menghabisi Sang Ibu? Karena kau melihat bayangan orang itu?" ia tidak berkata spesifik tapi ia tahu Kierra menangkap.

"Tidak," tegas Kierra. Matanya kian tajam.

Meski patut diakui ia gemetar, Seth berusaha mengatasi ketakutannya dan bersikap tenang. Benar, meski Kierra berada di puncak kesadaran Korra kini, sudah jelas kesadaran Korra pun sedikit banyak mempengaruhinya. Ia bisa melihatnya kini. Jika ia bisa meluluhkan Korra, tak ada alasannya ia tak bisa meluluhkan Kierra.

"Coba pertimbangkan ini," ia bicara dengan nada lembut seraya menatap mata Kierra, membayangkan ia sedang menatap mata Korra, berusaha membujuknya seperti biasa. "Apakah kau benar-benar ingin menghabisi keturunanmu sendiri? Aku tahu mungkin kau membenci dia, tapi tidakkah pernah melintas di pikiranmu, seandainya saja persoalan ini bisa diatasi dengan baik? Mungkin kau memiliki kesempatan untuk kebahagiaan yang kauinginkan?"

Kierra tampak terpana sejenak, sekilas berbagai pertimbangan tampak membayang di wajahnya. Tapi lantas ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Ketika matanya kembali membuka, kalimatnya kembali tenang sekaligus tegas, "Ribuan kali sudah saya tekankan, saya tidak mencampurkan urusan pribadi dalam penilaian saya…"

"Tapi Kierra," Seth nyaris putus asa. "Bayangkan seandainya kini kita mengedepankan kekerasan. Bukankah itu akan beresiko menimbulkan lebih banyak dendam? Tidakkah mereka akan mencari cara untuk … entahlah… Mungkin setelah dulu mendendam pada keluarga Black, kini mereka akan mendendam pada seluruh suku? Dan jika mereka lolos, lantas menggalang kekuatan… Mempersiapkan serangan berikutnya untuk menghancurkan seluruh suku…"

"Karenanya saya menyarankan untuk membasmi habis mereka saat ini. Total."

"Kawanan kalah waktu serangan di jurang, Kierra. Aku tak hendak meresikokan mengorbankan sekitar separuh kekuatan kawanan, bahkan lebih. Bisa jadi justru kami yang digilas."

"Waktu itu kalian bergerak tanpa persiapan. Dengan strategi yang tepat, saya yakin ia bisa dihancurkan. Kekuatan gabungan kita semua lebih dari cukup. Saya bahkan bisa menawarkan bantuan aliansi."

"Kierra, kau tak mengerti…," potong Carlisle. "Yang ingin Seth katakan adalah, kekerasan itu justru akan makin memperburuk keadaan…"

"Benar."

"Kierra," Sam kembali angkat bicara. "Ingat, mereka takkan berhenti sebelum seluruh darah Black musnah. Perjanjian kita adalah…"

Seth menahan geramannya. Beraninya si ular ini kembali mendesis…

Dengan mengumpulkan seluruh tekad, ia menegakkan diri dan berkata dalam nada yang begitu mirip Jacob, "Aku Alfa Quileute sekarang dan pendapatku harus dipertimbangkan." Kemudian ia menambahkan dengan suara lebih pelan, ditujukan hanya pada Sam. "Kau harus bersyukur aku tidak lantas mengusirmu keluar tanah ini. Jadi tutup mulutmu."

Ketika ia mengatakannya, disadarinya itu. Wibawa Alfa bergaung menekan dalam tiap patah kata yang ia ucapkan. Tak ada yang bisa ia pengaruhi di sini, tapi efeknya rupanya lebih dari mengesankan. Karena Sam membelalak dan Kierra, anehnya, tampak terpukau.

Ketika mereka akhirnya pulih, Kierra mengerjap dan berujar, "Memang benar, Alfa. Kami harus mengedepankan pendapatmu…"

"Kierra!" peringat Sam, yang langsung berhenti tatkala Kierra mengangkat tangan memintanya diam.

Deheman Carlisle menengahi mereka. "Ia tanggung jawabku, Kierra," ucapnya yakin. "Percayakan padaku untuk menangani ini."

Kierra tak langsung menjawab. Lama ia hanya menatap Carlisle, namun akhirnya mendesah dan bicara pelan, "Anda tahu Anda hanya akan membahayakan diri Anda sendiri." Seiris senyum tampak di wajah Carlisle, namun Kierra lekas menimpali, agak terlalu buru-buru untuk ukurannya, "Jangan salah tangkap. Anda adalah salah satu pemimpin di kubu tengah. Jika Anda tewas, akan lebih sulit bagi saya untuk menyeimbangkan kekuatan…"

Kata-kata itu membuat senyum Carlisle makin mengembang. Entah mengapa, ia terliat agak … puas…?

Seth merasa kemampuannya menilai ekspresi orang, yang dipelajarinya bertahun-tahun dari Jasper, agak sedikit kacau saat ini. Mengapa pula Carlisle harus merasa puas?

"Terima kasih, Kierra," ucap Carlisle.

"Saya tidak mengatakan saya setuju dengan rencana Anda."

"Tapi kau akan memberi kesempatan. Itu sudah cukup."

Kadang-kadang tingkat percaya diri Carlisle yang berlebihan membuat Seth terpana. Memangnya Kierra secara eksplisit bilang ia akan memberi kesempatan?

Mengapa Kierra tidak mengoreksinya?

"Tunggu, Carlisle," Sam maju bicara. "Jika kau gagal, itu artinya satu kekuatan kita berkurang. Kita sudah kurang orang di sini, tak lain tak bukan Jacob dan Collin tak bisa digunakan. Jika kau sampai mati…"

"Tenang saja," senyum si vampir.

"Jika Anda gagal, saya akan memanggil bantuan dari aliansi," ujar Kierra cepat. Lantas ia menoleh pada Seth. "Jika Anda sudi memberi izin, tentu, Alfa," ia menunduk sopan.

Kadang Seth merasa agak kikuk dengan sikap Kierra dalam mode Alfa. Satu pertanyaan: mengapa ia terus mempertahankan sikap formal? Bukankah ia sudah mengakui posisi Seth sebagai pasangan Korra, yang berarti pasangannya juga? Terlebih setelah mereka resmi bertunangan…

Ya, pertunangan mereka sudah diumumkan secara luas, setidaknya di kalangan kawanan dan keluarga Cullen, keesokan hari setelah acara lamaran mendadak itu. Seolah mereka tidak tahu terlebih dahulu… Bahkan sebelum ia sempat bicara, Alice sudah melompat-lompat, sudah jelas ia menguping malam sebelumnya. Esme seperti biasa, tampak sumringah, segera memeluknya dan mengucapkan selamat. Carlisle menghampiri dengan senyuman, yang mungkin harus ia tekankan, tidak setulus biasanya dan agak hambar, tapi menjabat tangannya dan mengucapkan kata-kata sama. Tapi yang paling tidak bisa ia mengerti adalah Jasper. Kakak angkatnya itu hanya diam, ada keterpanaan aneh di wajah batunya sekilas sebelum melirik Seth dengan mata memicing. Gelengan kecil yang terasa bak peringatan tampak di kepalanya.

Kenapa? Bukankah ia dan Alice yang terus mendorongnya agar melamar Korra?

Tapi melihat sikap Kierra yang masih saja menjaga jarak kadang membuatnya bingung. Apa ia ingin mengatakan pada Seth bahwa hanya Korra-lah yang bertunangan dengannya, bukan dirinya? Atau ia ingin menunjukkan profesionalitas di hadapan para pemimpin yang lain? Atau menyetarakannya dengan para petinggi lain seperti Sam dan Billy, yang selalu ia panggil dengan sebutan formal Alfa Uley dan Tetua Black? Atau, sebagaimana ia sebutkan tadi, menunjukkan bahwa ia 'memisahkan urusan pribadi dengan urusan suku'… Bagaimanapun rasanya itu tidak perlu…

"Bagaimana, Alfa Clearwater?" tanya Kierra lagi.

Apa tadi ia bilang? Bantuan dari aliansi? Apa itu artinya kawanan shifter entah dari mana akan memadati La Push? Bagaimana efeknya nanti, dengan adanya Alfa-Alfa lain? Bukankah itu artinya konsentrasi kekuatan di pihak Kierra akan lebih besar? Bisakah mereka mengatasi masalah apapun yang timbul?

Astaga, apa lagi yang ia takutkan? Mereka berusaha membantunya… Bahkan mempertimbangkan posisinya, bisa jadi ia juga memiliki hak atas seluruh kawanan taklukan…

Jadi tak ada yang bisa ia katakan selain, "Tentu."

"Terima kasih," tanggap Kierra. Tak lama ia kembali pada rapat, membicarakan beberapa detail rencana cadangan.

Perlukah ia bertanya siapa pemimpin nomor satu di sini?

.


.

"Seth, tunggu sebentar," tahan Kierra setelah mereka bubar. Seth agak tergagap. Kierra tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Ia bertahan di sana, menunggu. Satu per satu peserta rapat kali itu mengundurkan diri, meliriknya dengan tatapan penuh makna, tapi tak bicara apapun.

Begitu sudah tidak ada lagi makhluk lain di ruang makan itu, ia mendekat, memeluk pemuda itu dari belakang. Seth berbalik. Dilihatnya bukan Kierra, tapi Korra, tersenyum padanya dengan tatapan mesra.

"Eh, ya … K, Korey?" bahkan setelah berusaha membiasakan diri beberapa minggu ini, kadang ia masih merasa gugup dengan perubahan mode Korra dan Kierra yang secara konstan terus berganti.

"Carlisle bilang aku sudah boleh keluar, jadi mau tidak kita pergi makan malam?"

"Makan malam?"

"Sudah lama, kan, kita tidak benar-benar berkencan?"

"Setiap hari juga kita bareng… Dan lagi, bukankah baru kemarin kita pergi ke Seattle, mengukur badan untuk gaunmu?"

Alice dengan semena-mena sudah menetapkan hari ulang tahun ke-17 Korra sebagai hari pernikahan mereka, dan seperti standarnya nge-bos dengan segala urusan detail pernikahan. Sebenarnya Seth tidak setuju, demikian pula Kierra, yang menganggap penyelesaian urusan Sang Ibu sebagai prioritas utama, dan meminta tanggal pernikahan diundur hingga kasus itu mencapai kejelasan. Apalagi Jacob masih belum ketahuan rimbanya… Tapi Alice, yang didukung seisi kawanan, mendesak mereka untuk segera menikah. Vampir gila-pesta itu mengutarakan argumen paling tidak logis bahwa sedikit perayaan bagus untuk mendongkrak moral kawanan, semacam sikap optimis bahwa masa depan tak sesuram apa yang mereka sangka. Ben malah menambahkan alasan absurd, bahwa mereka mungkin tak perlu menunggu lebih dari dua bulan untuk mendapat kabar kehamilan kedua Korra, karena Seth 'Si-Alfa-tinggi-syahwat yang-tak-mengerti-konsep-alat-pengaman' itu jelas takkan sanggup menahan diri untuk menabur benih lagi, dan mereka tak mau keluarga Black harus menempuh rangkaian gosip kejam masyarakat karena lagi-lagi ada anggotanya yang terlibat kasus kehamilan di luar nikah.

Tentu saja Seth mati-matian menolak alasan itu, terutama yang kedua. Astaga, dalam minggu ini saja, sudah lelah rasanya ia dicap macam-macam oleh kawanan. Sebagian besar cap yang mereka beri padanya malah saling bertentangan. Bagaimana mungkin ia dijuluki 'Tuan-Pasif-di-Ranjang' jika dalam waktu bersamaan ia dicap 'diam-diam-menghanyutkan' dan 'binatang-cabul-yang-hobi-membuntingi-anak-orang'? Ke mana itu citra yang berusaha ia bangun bertahun-tahun sebagai 'wakil-Alfa-bijaksana yang-tenang-dan-berpikiran-bersih'?

Tapi apa yang bisa ia lakukan, ketika Korra kelihatan bahagia sekali dengan rencana itu? Tiap hari ia dan Alice mengurung diri berdua berjam-jam, membicarakan detail ini dan itu. Mereka sudah bak kembar siam. Dengan selera dan sikap yang sama.

Korra bilang ia sebenarnya ingin pesta adat Quileute sepenuhnya, dengan busana yang ia tenun dan sulam sendiri, tapi itu tak mungkin, sehingga ia menerima ide Alice untuk melangsungkan pesta bernuansa traditional-romantic. Kemarin ia dan Jasper terpaksa mengintili dua setan kecil itu keluar-masuk butik, bridal shop, dan flower-decorator di Seattle, merancang gaun bridesmaid, dekorasi, katering, musik pengiring, kartu undangan, dan entah apa lagi. Tatkala mereka mulai mencericit membicarakan nama-nama jenis item fashion dan merk desainer, rasanya ia sudah terlempar ke angkasa luar dan bertemu alien.

Oh, dia bahkan tak tahu Korra tahu fashion sampai dia bertemu Alice. Ia selalu tampil biasa saja, dengan baju diskonan. Pasti Alice telah mempengaruhinya hingga ke dasar. Kini mereka menjadi semacam fusi dua kekuatan setan-fashion. Mengerikan.

Dan coba tebak siapa konsultan utama adat Quileute yang mereka pakai? Ya, siapa lagi? Kierra. Sudah jelas nanti Kierra akan memaksa dilangsungkan upacara aneh-aneh yang sudah punah ratusan tahun.

Seth sudah mengerang membayangkan apa kostum yang mereka sudah persiapkan untuknya. Kemungkinan besar ia takkan lolos hanya dengan tuxedo. Semoga saja Korra tak lantas menyuruhnya pakai cawat.

Oh, Tuhan…

Korra membuat pola lingkaran kecil-kecil di dada Seth, berusaha merayunya. "Maksudku hanya kita berdua saja…," katanya dengan kerlingan menggoda.

Hm? Korra akhirnya mau lepas dari kembar siamnya? Aneh sekali…

"Tapi dengan situasi sekarang…," Seth mencoba berargumen.

"Kawanan pasti bisa meng-cover… Alfa juga sudah memberi izin, dan Embry bisa menggantikanmu… Kalau ada apa-apa, kawanan Sam bisa menangani. Kau harus sedikit merenggangkan pikiran, Sethie…," ia meraih pelipis Seth, mengurut-urutnya lembut. "Kau terlalu tegang dan lelah… Tadi saja aku sempat menangkapmu agak kurang konsentrasi…"

"Uhm, maaf."

Korra tersenyum. "Aku tahu di sini tak ada privasi sama sekali… Di rumah ada Dad, dan di rumahmu ada Sue dan Charlie… Jadi bagaimana kalau malam ini kita…," ia menarikan jemarinya menelusuri lengan bawah Seth, "… menghabiskan malam di luar? Menyewa kamar di kota atau…?" ia membiarkan kalimatnya menggantung, mengerling dengan tatapan yang membuat Seth berhenti bernapas.

Ia mengerjap, tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Korey, tapi kau … baru saja…"

"Aku sudah baik-baik saja, jadi kurasa tidak masalah… Kalau kau masih ragu, nanti akan kupastikan lagi dengan Carlisle…"

"Eh? Ah? A, APA?! CARLISLE?!" suaranya meninggi tanpa ia sadari. Ia baru sadar ketika Korra mendelik memperingatkan. "Ehm. Maaf," ia kembali menurunan suara. "Astaga, kau mau bicarakan apa padanya?"

"Ia kan dokter…"

"Tapi…," wajah Seth merah padam.

"Ayolah. Siapa juga tahu seperti apa hubungan kita. Dan kini kita bertunangan, jadi…," ia menarik tubuh Seth hingga condong padanya, meletakkan bibirnya begitu dekat dengan telinga Seth. Bisa dirasakannya tiupan napas Korra, juga sekilas sentuhan kulit lembut menyapu cuping telinganya, kala gadis itu berbisik lirih dengan suara seksi, "Kurasa aku harus menunaikan tugas … sebagai pasangan Paduka Yang Mulia Alfa…"

Seth menelan ludah. Jika ia mau, meski tubuhnya begitu kecil dan sama sekali tak berbentuk, Korra bisa jadi begitu … menggairahkan.

Jemari Korra yang semula mencengkeram bagian depan kaosnya kini merambat naik, kembali menelusuri rahangnya, menyapu bibirnya, lantas menyelusup ke antara helai-helai rambutnya. Entah sudah berapa ratus kali ia melakukan itu, tapi selalu saja Seth merasakan sensasi yang sama seperti yang ia rasakan pertama kali Korra melakukannya. Perutnya serasa diaduk-aduk, dunia seakan diputar balik, dadanya mengguruh ketika dilihatnya kelopak mata Korra menutup, bibirnya yang indah dan tebal terbuka sedikit, dan jarak antara mereka menyusut perlahan tatkala Korra menarik kepalanya mendekat…

"Ups," Korra mendadak melepaskan diri, menggigit bibir dan menatap dengan agak-malu-malu, sebelum mengalihkan pandangan ke arah pintu, tampak antisipatif. Seth menguatkan inderanya, dan mendengar tapak-tapak halus melintasi ruangan. Tak lama, sosok Carlisle sudah tampak di ambang ruang makan, berdehem-dehem, tampak berusaha tidak memandang mereka.

"Maaf menginterupsi," katanya, memberikan kode agar Korra mengikutinya. Korra mengangguk, lantas kembali menatap Seth.

"Waktu pemeriksaan rutin," katanya. "Kau mau patroli lagi? Nanti jangan lupa jemput ya…"

"Aku kan memang akan pulang ke sini," ujar Seth, merunduk mencium bibir Korra. Mungkin terlalu lama, karena Carlisle kembali berdehem-dehem. Korra melepaskan diri darinya, senyum di bibirnya tak hilang tatkala mengikuti Carlisle kembali ke ruangannya.

Dengan kepala terasa agak melayang, Seth buru-buru bersiap-siap melakukan tugas patroli. Mungkin ia memang harus menukar shift malamnya dengan Embry.

.


.

Oke, Guys, stop menggosipiku dan tetap pertahankan kewaspadaan, perintah Seth setelah sekitar seribu kali, kawanannya terus saja menggodanya perkara satu hal: rencana kencannya malam itu dengan Korra.

Para serigala yang sedang patroli saat itu—Ben, Pete, dan Brady—hanya tertawa dan kembali menggumamkan sekitar selusin kata-kata ejekan. Seth memutar bola mata, tidak menanggapi sama sekali, dan segera berubah balik.

Sementara ia keluar dari hutan menuju pekarangan rumahnya tempat ia memarkirkan mobil, ia merangkai sebaris rencana. Setelah ini ia akan menjemput Korra, lantas mengajaknya nonton dan makan malam. Mungkin Korra ingin sedikit shopping—belakangan ia agak ketularan Alice semenjak Alice membawanya safari-fashion di Seattle—tapi ia rasa itu wajar saja untuk merenggangkan pikiran. Rasanya ia juga butuh beberapa pakaian 'normal'. Alice memang memborong beberapa helai baju bermerk untuknya pada pesta belanjanya yang terakhir, tapi beberapa pakaiannya tidak bisa dipakai, dalam artian terlalu mencolok. Meski ia sangat menyayangi Alice, jangan harap ia mau memakai kemeja ketat berwarna kuning kenari, apalagi jika dipadukan dengan vest putih, jeans ketat, topi fedora, dan kacamata besar berbingkai putih tebal—sebagaimanapun Alice bilang itu sedang 'in', dan Korra menyatakan sambil tertawa-tawa bahwa ia tampan dalam balutan pakaian menjijikkan itu. Ia percaya dengan selera fashion Alice, tapi ia tidak percaya dengan penilaian gabungan Alice dan Korra. Bagaimanapun duo setan cilik itu memang usil dan hobi mempermalukannya dengan menyuruhnya menjajal pakaian-pakaian aneh.

Dan setelah acara itu, berhubung … yeah … rencananya … ia dan Korra akan … uhm, menghabiskan malam berdua—hanya berdua, tanpa gangguan para vampir tukang menguping urusan orang—sudah jelas apa yang pasti terjadi. Setidaknya ia bisa berharap…

Buru-buru ia menempeleng dirinya sendiri pada titik itu. Rupanya benar apa yang dikatakan Ben: otaknya kotor. Korra mungkin belum pulih benar. Dan masih ada sangat banyak waktu sesudah mereka menikah nanti… Malam ini mereka mungkin hanya akan menikmati sedikit privasi…

Tapi kata-kata Korra tadi bermain-main di benaknya. Bahwa ia akan … menunaikan tugas … sebagai pasangan Paduka Yang Mulia Alfa…

Kembali ia menghantam dirinya. Apa itu? Huh, tak pernah ada dalam kamus Korra untuk tunduk dan melayani dirinya. Yang ada malah ia yang memiliki kewajiban itu.

Bayangan itu berkelebat tanpa permisi. Korra, dalam balutan cat-suit hitam dan stiletto 12 cm, memegang cemeti, melecutinya yang terantai di kepala tempat tidur. Bergerak mendekatinya dengan tatapan yang penuh percaya diri. Setiap gerakannya begitu anggun dan lambat. Suaranya bak gaung Titah Alfa, begitu penuh kuasa… Menuntut ketertundukannya. Merampas kemerdekaannya. Tapi juga begitu … menggetarkan… Saat Korra menjambak rambutnya, erangan yang ia keluarkan tanpa sadar menyingkap apa yang ia rasakan; bukan harga diri yang terinjak, tapi hasrat yang menggejolak. Saat Korra mencakari tubuhnya, perih luka yang ia timbulkan terasa hingga jiwanya. Seakan gadis itu mengukir namanya sendiri di sana. Saat Korra memaksanya melakukan apapun yang ia perintahkan… Saat Korra menghukumnya untuk kesalahan sekecil apapun… Dan hukuman itu, luka itu, cakaran itu, membangkitkan gairahnya yang terpendam… Membuatnya ketagihan... Tiap kali ia menginginkan lebih dan lebih...

Dan kala ia menelengkan kepalanya dengan sikap submisif, membiarkan Korra menandainya, menghisap darahnya…

Seth! Cukup! Hentikan fantasi tololmu!

Brengsek memang si Ben, memasukkan ide itu ke kepalanya. Dan kini, kala ide itu bergaung, beresonansi, tak urung ia tak bisa melepaskan bayangan itu dari kepalanya. Seakan ia kian merasa tergoda dan makin tergoda olehnya…

Korra… dalam cat suit hitam… Begitu anggun, namun juga tak mengenal belas kasih… Kejam… Begitu penuh kuasa… Begitu kuat… Begitu … mempesona…

Hitam…

Siluet tubuh yang semampai, tinggi, dan ramping. Surai hitam panjang…

Seth membelalak. Segera kesadarannya menghancurkan bayangan itu.

Apa-apaan dia? Mengapa ia malah membayangkan … dia?

Seth menggeram, menginjak gas lebih keras untuk menghalau rasa bersalahnya. Kian hari rasa bersalah itu kian menumpuk, ia sudah merasa cukup buruk hingga detik ini. Tak perlu ditambah satu pengkhianatan lagi.

Justru saat itu, lagi-lagi, ia harus berhadapan dengan kenyataan.

Seth membanting setir begitu keras ketika, begitu mendadak, sosok besar hitam melompat dari balik pepohonan, menghalangi jalannya.

"ASTAGA!" teriaknya, menekan klakson keras-keras. "APA KAU MAU MEMBUNUHKU?!"

Sosok itu tidak bergeming, memberinya kode untuk mengikutinya. Berdecak, Seth memarkirkan mobilnya dengan lebih rapi di tepi jalan, lantas turun dan mengikuti si hitam ke balik pepohonan.

Belum sepuluh meter ia memasuki hutan, tahu-tahu dirasakannya aura dingin menusuk memerindingkan bulu roma. Instingnya merasakan keberadaan sesuatu di sisi kanannya. Ia berputar, dan seketika ditangkapnya bayangan sosok putih berdiri beku. Rambut panjang nan hitam menjuntai menutupi wajahnya…

"HUAAAAA~!" teriaknya kaget. Seketika ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal membentur lantai hutan.

Sosok itu mendekat, menyibak rambutnya.

"Oh Tuhan, Kuroi…" erang Seth. "Apa kau tak punya cara muncul yang lebih normal?"

Seth bangkit, menepuk-nepuk celananya seraya menahan gerutuannya soal 'ada-dendam-apa-si-Sadako-hingga-terus-membuatnya- jantungan', di bawah tatapan dingin Kuroi. Itu biasa, sebenarnya. Tapi entah mengapa, kali ini aura mencekam yang menguar darinya berlipat ganda.

"Ada apa?" tanyanya, ketika ingat Kuroi punya tugas jaga di salah satu titik strategis. "Apa ada tanda-tanda serangan?"

"Tidak, Kuriiwateru-sama, saat ini saya datang untuk hal lain," jawabnya.

"Oh?"

"Saya dengar Anda bertunangan dengan Korra-chan."

"Eh … oh, ehm, iya … memang…" Astaga, mengapa ia harus gemetar?

"Kami tidak bisa menerima itu begitu saja."

Seth melongo. Apa? Kuroi menyatakan ia tidak bisa menerima? Apa? Apa? Apa ini artinya…

"Apa yang sesungguhnya Anda rencanakan, Kuriiwateru-sama?" Suara itu tak lembut, apalagi penuh sirat kesedihan dan kekecewaan. Ia bukan Kuroi yang dilihatnya beberapa kali sebelum ini, sang gadis pemalu dengan suaranya yang bergetar. Sebaliknya, suara itu hati-hati dan penuh perhitungan. Sebagaimana seharusnya suara seorang jenderal.

Lekas ia mengutuk dirinya. Tadi Kuroi bilang 'kami'. Tentu saja ini urusan kawanan.

Ia menarik napas. Dilihatnya sosok gadis itu, menatapnya tajam.

"Apa maksudmu, Kuroi?" Seth menjaga suaranya tetap tenang.

"Saya tahu Anda meniatkan sesuatu dengan keberadaan Anda di sisi Alfa kami."

"Salahkah jika aku ingin ada untuk gadis yang kucintai?" Ketika dilontarkannya kata-kata itu di depan Kuroi, ia tahu dadanya tercabik. Apakah ini perasaannya, ataukah ini perasaan Kuroi? Ditatapnya gadis itu, mencari-cari tanda-tanda emosi apapun. Tapi tidak ada. Kuroi begitu datar, tenang. Matanya begitu tanpa ekspresi.

Kecuali bahwa kemudian sudut-sudut bibirnya perlahan bergerak setelah jeda waktu yang sangat panjang. "Baik Anda maupun saya tahu alasan itu tidak sepenuhnya benar," ucapnya. "Bukan begitu, Kuriiwateru-sama?"

Seth tidak menjawab. Astaga, bisakah ia menjawab?

Tidak ada senyum. Bola mata hitam Kuroi menatapnya dari dua celah sempit itu, tampak seakan ingin menuntutnya, memaksanya menjelaskan. Dan Seth harus berjuang lebih dari keras untuk tak memberikan apa yang gadis itu inginkan.

Lagi-lagi harus ditahannya rasa sakit yang mengoyak dadanya kala dipaksanya lidahnya menari. "Apa kau meragukanku, Kuroi? Kau masih memandangku ancaman?"

Kuroi tak langsung menjawab. Lama ia hanya memandang Seth sebelum akhirnya berujar pasti, "Benar."

Seth memaksakan seiris senyum di wajahnya. "Kalau begitu kau harus meluruskan pikiranmu. Kau tahu Alfaku sendirilah yang menentukan di mana letak kesetiaanku."

"Itu yang menjadi kekhawatiran saya, Kuriiwateru-sama. Saya tahu Anda berusaha ada di tengah dan menyeimbangkan segalanya. Tapi Anda berada di antara perahu-perahu yang mungkin akan bergerak berlawanan arah, mungkin malah berbenturan. Jika Anda tidak memihak, ada saatnya ketika Anda akan tercabik dan tenggelam, atau justru hancur terhimpit," ia mengatakan hal yang sama seperti yang pernah Sam katakan. "Atau, yang lebih saya takutkan, Anda akan berusaha menenggelamkan perahu yang saat ini Anda tumpangi demi menyelamatkan perahu lain…"

Seth tertawa. Gadis ini tajam, sangat. "Kau mencurigaiku menjadi mata-mata untuk menghancurkan kalian dari dalam?" Tidakkah seharusnya kata itu ditujukan pada Korra, dan bukan dirinya?

"Tidak. Saya curiga Anda memiliki agenda tersendiri untuk mengubah haluan perahu kami, menyejajarkan dengan perahu lain. Atau jika tidak berhasil, Anda akan menghancurkannya."

"Dan menyakiti Korra?"

"Selalu ada harga untuk segala sesuatu, itu yang saya tahu."

"Kalau begitu kau tidak mengenalku, Kuroi. Aku tak pernah mengambil pilihan dengan resiko yang tak terelakkan. Aku selalu mencari jalan aman…"

"Itu yang saya maksud dengan mengubah haluan. Anda berusaha mencampuri kebijakan kawanan. Tidak saat ini saja. Sejak awal, bahkan. Apa Anda mendekati Korra-chan bukan hanya karena mengira ia saya, tetapi dengan menimbang bahwa ia bagian dari kawanan asing yang mungkin mengancam kawanan Anda? Apa mungkin sejak awal Anda sudah mengendus kemungkinan bentrokan antarkawanan dan berpikir jika Anda bisa menyelusup, Anda bisa menghindarkan bentrokan itu?"

"Astaga, kau memang menilaiku terlalu tinggi. Katakan: apa mungkin kulakukan itu? Kalian begitu berselubung kegelapan, mana mungkin aku bisa tahu apa yang kalian incar sejak awal? Bahkan kini pun, apa aku tahu?"

"Saya tidak tahu jika itu mungkin atau tidak. Yang jelas saya tahu Anda tidak bisa kami sepelekan."

"Demi Tuhan, Kuroi! Perlukah kau memasang penjagaan penuh padaku?"

"Ya," tandas gadis itu pasti. "Karena saya tahu apa yang Anda bisa lakukan, Kuriiwateru-sama. Penilaian Korra-chan dan Kierra-sama mungkin tersaput mendung. Tapi saya tidak. "

"Oh, benarkah?" Seth menampakkan seringai skeptis.

Jika senyuman Seth selalu dapat meluluhkan Korra, atau bahkan mungkin Kierra, tidak demikian halnya dengan Kuroi. Ia begitu tak tergoyahkan. Tidak ketika ia jelas memberi penekanan, "Kesetiaan tertinggi saya adalah pada Kierra-sama. Saya akan melakukan apapun demi keberlangsungan aliansi."

Mau tak mau Seth tertawa. "Apa kau belakangan terlalu banyak bergaul dengan Sam, Kuroi? Kau sama kakunya dengannya…"

Namun Kuroi tak bereaksi dengan sindiran itu. "Saya tahu apa yang dikatakan Korra-chan tentang saya," ujarnya. "Tapi Anda perlu tahu, kewajiban dan tanggung jawab adalah satu-satunya yang saya junjung tinggi. Saya tak pernah mencampurkan perasaan pribadi pada penilaian saya."

Kuroi sama saja berkata, 'Jangan kaupikir karena Korra mengatakan aku punya perasaan padamu, aku bisa dengan mudah jatuh dalam pelukanmu. Aku tidak memiliki kelemahan yang bisa kaumanfaatkan.'

Aneh sekali pikirannya menyuarakan kata-kata yang tak pernah dibayangkannya akan keluar dari mulut Kuroi. Dan Seth hanya bisa menyeringai karenanya.

Dan di mana ia mendengar kalimat itu sebelumnya? Oh ya, Kierra.

'Tidak mencampurkan perasaan pribadi', begitu?

"Dan selalu, Kierra percaya pada penilaian dan pertimbanganmu, bukan begitu, Kuroi?" seringainya. "Otak yang menggerakkan kawanan kalian bukan Kierra atau Sam, tapi kau…"

Ya. Kuroi sang Beta. Pola yang sama ternyata muncul tak hanya pada kawanannya, tapi juga kawanan serigala asing ini. Mengapa ia tidak merasa heran?

"Saya tidak berani berkata demikian lancang…," tukas gadis itu. "Kierra-sama adalah pemegang otoritas mutlak."

"Bukan berarti ia tak bisa dikendalikan…" Seth membiarkan kata-katanya menggantung. Apakah ia menyudutkan? Atau justru mengakui kekalahannya? Entahlah.

Tak diduga itu membuat gestur Kuroi menegang. "Apa itu yang Anda niatkan?" tembaknya langsung. "Anda berharap bisa mengendalikan Kierra-sama?"

Jika mau dikatakan, gadis ini memang mengerikan. Seribu, sejuta kali lebih mengerikan ketimbang Korra. Adakah yang bisa ia lakukan untuk meluluhkannya?

"Jika kau mengira kau bisa membacaku, lantas apa yang akan kaulakukan, Kuroi?" tantangnya. "Mengatakan pada Kierra bahwa aku musuh dalam selimut? Membunuhku?"

"Jika saya harus."

Kata-kata itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun. Seketika bulu kuduk Seth meremang.

Benarkah Kuroi mampu membunuhnya? Tidakkah seharusnya mereka saling terikat?

Tidak. Mereka tidak terikat sejak ia memilih Korra. Ia telah menolak Kuroi. Ia sendiri yang telah menolak imprint. Dan efek itu telah dirasakannya: rasa sakit itu… Bahkan jika pun Kuroi tak akan membunuhnya karena menganggapnya ancaman bagi kawanannya, tubuhnya sendiri yang akan membunuhnya.

"Baik," ia menarik napas panjang.

Satu per satu, dilangkahkannya kakinya menjembatani jarak antara ia dan Kuroi. Kuroi hanya diam, tapi ia menegang ketika tahu-tahu, Seth menarik tangannya.

"Ku, Kuriiwateru-sama! A, apa yang Anda..."

Seth tidak mempedulikan protes ataupun perubahan ekspresi gadis itu. Menahan tangan Kuroi yang bersikeras melepaskan diri dari cengkeramannya, ia mengarahkan tangan itu ke batang lehernya sendiri, menekankannya ke sana.

"Kau bisa bunuh aku, Kuroi...," bisiknya.

"A, apa?"

"Jika itu memang kehendakmu, kau tahu aku tak bisa menolak. Nyawaku ada dalam genggaman tanganmu. Seperti ia pernah kauselamatkan, seperti itu juga ia bisa kaucabut dengan mudah. Namun satu yang harus kauingat, Kuroi. Aku tak pernah meniatkan apapun selain menempatkan segalanya pada jalur yang semestinya. Kau benar mengenai satu hal: aku tidak menginginkan bentrokan terjadi di tanah ini, dengan alasan apapun. Segala yang bisa kulakukan untuk menyelesaikan segalanya dengan jalan damai, akan kulakukan. Meski harga diriku, atau bahkan nyawaku taruhannya."

Ya, bahkan meski nyawanya taruhannya.

Mata sipit itu membelalak. Oh, bahkan ia tak tahu Kuroi bisa membelalak. Terdengar geram tertahan gadis itu sebelum ia berseru, "Le, lepaskan!"

Ia tak lagi menahan tangan itu. Dilihatnya gurat aneh yang tak bisa ia terjemahkan dari Kuroi, yang berusaha keras mengembalikan topengnya yang tenang dan beku, sebelum gadis itu berbalik, kembali ke kegelapan hutan.

Dan didengarnya kalimat terakhir Kuroi, kembali ke dirinya yang dingin seperti biasa.

"Saya akan mengawasi Anda, Kuriiwateru-sama."

.


.

Di sanalah mereka: hotel kecil bintang tiga di pinggiran Port Angeles, duduk berselonjor di tempat tidur, saling berangkulan sementara menonton televisi.

Tentu saja seharusnya ia bisa mencari hotel yang lebih baik. Pergi ke Seattle seperti dahulu, mencari kamar yang ada di tingkat 10 atau bahkan lebih, menikmati pemandangan night view cahaya lampu kota, sesuatu yang takkan bisa mereka dapatkan di La Push. Tapi Seth khawatir untuk meninggalkan La Push terlalu jauh di saat seperti ini.

Beberapa jam mereka habiskan dengan ritual standar kencan: makan malam. Sebenarnya Seth ingin berjalan-jalan menikmati udara malam, tapi Carlisle sudah berpesan agar ia tak mengajak Korra jalan terlalu jauh. Karena mereka terlambat masuk bioskop untuk mendapatkan tiket film yang sudah lama Korra nanti-nanti, akhirnya di sanalah mereka terdampar. Menonton DVD film kartun dan sesekali tertawa. Sederhana, tapi setidaknya di sana, mereka memiliki dunia sendiri, meski tak jauh dari La Push dan bayang-bayang hutannya yang muram mengancam.

Oh, bahkan tidak ada cat-suit, atau cemeti, atau borgol, atau tali tambang, atau perkakas lain dalam bayangan imajiner Ben yang tidak ia tahu namanya. Tadi Seth menyempatkan iseng-iseng masuk ke toko yang menjual alat bantu dewasa, dengan wajah merah padam tentu saja, dan setengah kelegaan membasuhnya ketika tahu toko itu tutup. Setengahnya lagi? Rasanya tidak perlu dikatakan.

Ucapan Kuroi tadi mengganggunya lebih dari yang seharusnya. Tidak, ini bukan soal Kuroi yang tidak menerima, bagaimanapun sebagian kecil hatinya berharap. Tidak, tidak, ia bahkan tak boleh membiarkan sebagian kecil hati bodoh itu berharap. Ini masalah kawanannya mengira ia punya agenda tersembunyi. Jika mereka sampai pada anggapan itu, apakah Kierra juga? Lantas apakah Kierra akan berusaha mempengaruhi Korra? Akankah itu mempengaruhi hubungan mereka? Sudah jelas Kierra menerapkan batas-batas tegas urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi tadi sewaktu di rapat. Bagaimana jika ia bertindak lebih jauh? Menyingkirkan Seth dari posisi 'pendamping Alfa', misalnya?

Gawat jika begitu kejadiannya.

Seth berkonsentrasi pada masa kini, memberikan segala kehangatan dan kelembutan yang selalu disukai Korra. Mengusap-usap kepala Korra yang bertumpu di dadanya seraya menghujani puncak kepalanya dengan ciuman. Korra tersenyum, mendekapnya lebih erat.

Sekarang satu-satu. Daripada urusan kecurigaan Kuroi, ada hal yang agak membuatnya penasaran.

"Omong-omong, tadi Carlisle bilang apa?" tanyanya.

Korra sekilas melepaskan pandangan dari layar televisi. "Apanya?"

"Kalimat dalam bahasa entah-apa yang terakhir itu, lho, sebelum kau pergi. Kelihatannya ia serius."

"Apa? Oh, itu… Tidak, tidak penting."

Korra seakan menghindar, jadi mana mungkin Seth tidak curiga?

"Korra, ayolah…"

"Bukan apa-apa, Seth…"

"Benar bukan apa-apa?" ia memicing. Dilihatnya Korra mengangguk cepat. "Kau tidak mau cerita?" Korra menggeleng. "Yakin?" ia tiba-tiba menyusupkan jemarinya ke perut Korra, mulai menggelitik.

"Awww… Seeeeth~! Geliiii~!" jerit gadis itu, meronta-ronta hingga jatuh telentang di kasur. Seth memanfaatkan kesempatan itu untuk memerangkap Korra, terus menyerang. Ia tahu Korra lemah dalam dua hal: berenang dan segala menyangkut urusan gelitik-menggelitik.

"Yakin tidak mau cerita?" tanyanya lagi, mempercepat kelitikannya, membuat Korra makin heboh menggeliat dan tertawa-tawa.

"Aaaah, berhenti, berhenti!"

"Tidak kalau kau tidak mau cerita."

"Aaah, ya ya ya, ampuuuun… Aku menyeraaaah…"

"Betulan?"

"Betul."

"Demi apa?"

"Janji Alfa, aku menyerah!"

Seth berhenti menggelitik, kini merebahkan dirinya di sisi Korra, berbaring miring.

"Jadi?" tuntutnya.

"Uhm, janji takkan marah?"

Ia mengangguk.

"Uhm… Carlisle hanya…," ia menggigit bibir, "berpesan untuk tidak melakukan … eh, coitus."

"Hah?"

"Vaginal intercourse…"

Rahang Seth langsung turun. Apa sebenarnya yang dibicarakan mereka berdua?

"Jangan dipikirkan. Dia terlalu khawatir, itu saja," ia terlihat sok tak peduli. "Lagipula, memangnya kenapa kalau tidak bisa? Masih banyak teknik lain, ya kan?"

Seth masih belum bisa menjawab. Apa mungkin Korra memang … belum pulih benar?

Melihatnya membeku, Korra menggeser tubuhnya mendekat. Meletakkan tangannya di dada Seth, dia berujar lirih, "Maaf Seth, aku tidak berniat untuk merusak suasana atau mungkin … membuatmu … kurang puas atau…," gadis itu menggigiti bibir, meliriknya dengan agak takut-takut. Jujur saja Seth belum pernah melihat Korra seperti ini. Biasanya dia selalu percaya diri, dan menempatkan kepuasannya sendiri di atas segalanya. Memangnya dia pernah mau peduli perasaan Seth, atau apa Seth puas atau tidak?

Tapi Seth harus akui, mungkin, sikap Korra yang dominan dan penuh percaya diri itulah yang justru membangkitkannya. Mereka begitu saling melengkapi satu sama lain… Seth tidak pernah tahu ia masokis sebelum Korra menjajah tubuhnya.

Dan melihat Korra yang kelihatan merasa tidak aman… Itu sangat … aneh.

Dia pasti bukannya tidak apa-apa.

Oh, tunggu… Kenapa dia bersikap seperti itu? Jangan-jangan, dia pikir… Seth merasa kecewa? Karena sudah berharap macam-macam dan nyatanya tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan? Memangnya Korra berpikir ia cowok seperti itu?

Ia lekas menggelengkan kepala, mengenyahkan pikirannya yang mulai melayang ke mana-mana. "Tidak, tidak, Korra… Aku mengerti. Maksudku, kau … eh … Mungkin sebaiknya kita pulang saja, atau…"

"Tidak usah. Aku yakin aku masih bisa melakukannya."

"Kalau Carlisle bilang jangan, ya jangan, Korey. Nanti terjadi apa-apa pada tubuhmu. Jangan memaksakan diri. Aku tidak apa-apa, kok."

"Tidak," ia bangkit dari tidurnya, memanjat tubuh Seth dan duduk di pangkuannya. Ada determinasi di matanya.

Ia mulai menjalankan jemarinya menyusuri satu per satu kancing kemeja Seth, melepaskan kancing-kancing itu dari sarangnya. Tak lama tangannya menyelusup ke balik lembar tipis itu, menjelajahi wilayah yang sudah berkali-kali ia taklukkan. Ujung-ujung jemarinya mulai membentuk motif-motif abstrak melingkar di permukaan tubuhnya, bak sihir membuat ujung-ujung syaraf Seth menggeletar penuh kenikmatan. Entah bagaimana tubuh kecil dengan jemari-jemarinya yang mungil itu mampu membawanya sampai ke tingkat itu, Seth tidak tahu dan tak mau peduli. Tidak ketika di sana, tiap sentuhan Korra, desah napasnya, mampu membawa pikiran Seth melayang. Terlebih kala gadis itu merundukkan tubuh di atasnya. Menyentuhkan bibirnya menelusuri garis rahang Seth.

"Kau tenang saja, Seth, serahkan padaku," bisiknya di telinga Seth. "Malam ini kau tak perlu pikirkan macam-macam. Aku akan pastikan pikiranmu kembali jernih…"

.


.

Ia tidak tahu ke mana kakinya membawanya. Ia bahkan sudah tak tahu lagi apa ia masih memiliki pikiran, atau bahkan perasaan.

Satu sudah jelas: ia bukan hanya salah, ia juga telah kalah.

Ia kalah dari dirinya sendiri.

Ia telah gagal melindungi kawanannya.

Dan lebih lagi, ia telah menyakiti adiknya.

Bagaimana mungkin ia sampai melakukan itu—mengemukakan kecurigaan tanpa dasar? Mengapa ia terbawa kebenciannya? Mengapa ia mengira ia telah melihat kebenaran?

Mengapa, untuk membuktikan hal yang ia sangka sebagai kebenaran itu, ia menempuh cara itu? Ia sadari rasa kefrustrasiannyalah yang mendorongnya melakukannya. Tidak ada cara lain, demikian ia terus menggemakan dalam dadanya. Kejam, tapi apapun ia lakukan demi sebuah pembuktian.

Dan ketika kenyataan mengkhianatinya…

Ia mempertaruhkan segalanya dan detik itu, ia kehilangan segalanya. Kepercayaan kawanannya, rasa cinta adiknya, dan bahkan ia telah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Alfa seperti apa dia?

Ia tidak layak untuk apapun… Bahkan untuk hidup…

Melihat adiknya saat itu, ia dihadapkan pada kenyataan yang mengerikan. Bukan, bukan Kierralah sang iblis, melainkan dirinya sendiri. Tak pernah ia sangka, ular besar itu selama ini bersemayam di dalam dirinya. Kekuatan kegelapan yang bisa membutakan segala akal sehatnya. Lebih buruk lagi, sang iblis mampu membuat kepalanya mengira bahwa semua bisikan itu adalah kebenaran. Sang iblis mampu membuatnya mengira bahwa apa yang ia lakukan benar.

Mengerikan … betapa sang iblis mampu menjungkirbalikkan segala yang ia tahu.

Tak pelak kini perasaan itu menyelinap dalam dirinya. Ketakutan. Jika ia memiliki setan itu dalam dirinya, yang tiap saat mampu mengubahnya jadi iblis, apa ada jaminan setan itu takkan kembali menyergapnya? Mengendalikannya? Jika ia sanggup menyakiti adiknya sendiri, apa ada jaminan satu saat ia takkan menyakiti yang lain? Kawanannya? Ayahnya? Imprintnya?

Bayangan sosok Renesmee, terbaring tanpa daya di tengah ruangan yang hancur berantakan, sekilas berwujud di ruang matanya. Pakaiannya compang-camping. Satu cakaran besar melintang di wajah hingga dadanya. Satu kakinya tercabik. Kolam darah menggenang dalam radius 2 meter di sekitarnya. Matanya yang tanpa kehidupan menatapnya dengan sorot menuduh…

Ia lari, lari, lari.

Pergi dari bayangan itu. Pergi dari kenyataan. Ia tak tahu lagi batas antara bayangan dan kenyataan.

Tapi ke manapun ia melangkah, bayangan itu terus menerornya. Tubuh ringkih adiknya yang jatuh di tengah hujan. Adiknya yang memandangnya dengan sorot sedih sekaligus pasrah. Tubuh Renesmee yang tak bergerak. Sorot mata Renesmee yang beku.

Adiknya. Imprintnya. Korra. Ness. Korra. Ness.

Ia meraung, melolong, mencakari dirinya sendiri.

Tapi setiap kali luka itu tertera, setiap kali itu pula tubuhnya menyembuhkannya. Sedalam apapun cakarnya menancap, selebar apapun cakarnya menyayat. Tubuhnya tak membiarkannya mencapai akhir itu: kematiannya. Rasa sakit di tubuhnya datang dan pergi. Tapi rasa sakit di dadanya makin menyiksa. Luka di hatinya tersayat makin lebar dan lebar dalam tiap detiknya. Membusuk dan bernanah.

Itu hukumannya. Selama keabadian. Menyandang rasa sakit itu. Rasa bersalah itu.

Adakah yang bisa membebaskannya dari kutukan ini?

Sosok serigala merah itu berdiri di ujung tebing sebuah tanjung di tepi laut. Puluhan meter di bawah kakinya, air yang hitam berdebur-debur mengerikan menabrak karang. Cadas dengan ujung-ujungnya yang tajam berdiri mengancam. Siap mengoyak, menghujam, menyeret, menelan jiwa-jiwa menuju kegelapan.

Jika ia jatuh ke sana, akankah cadas menghujamnya? Akankah batu-batu itu sanggup merobek dagingnya? Akankah ia hancur pada detik ia menabrak karang? Jika ia lepas dari hantaman karang, akankah tubuhnya terseret ombak, mengantarnya ke dunia lain? Ataukah tersula di sana, masih hidup, jaringan di tubuhnya kembali terakit dan ia di sana selamanya, menggeliat kesakitan sementara ujung-ujung cadas menembus daging dan jantungnya, memasungnya hingga dunia kiamat?

Ya. Itu mungkin hukuman yang tepat bagi iblis sepertinya. Terkutuk di bumi, dan kelak kala ajal berkenan menyambutnya seiring akhir dunia, ia akan terpanggang di kerak neraka.

Jadi direngkuhnya akhir itu. Ia mundur sejenak, mengambil ancang-ancang. Dirasakannya angin terakhir kali membelai bulu-bulunya. Dirasakannya segala kenangan: kebahagiaan dan kesedihan, kebencian dan ketakutan, harapan dan kengerian, kala ia berlari, menyongsong penghakiman baginya.

.


.

Ia masih berada di awang-awang ketika tahu-tahu terdengar getar telepon dari atas meja di sisi tempat tidur. Ia mengangkat kepalanya sedikit, mengintip. Tampak ponselnya menyala; foto dan nama seseorang—entah siapa, tidak terlalu jelas dari sudut ini—menari-nari di layar.

"Biarkan … saja…," di antara desahan putus-putusnya, Korra merampok kembali perhatiannya. Terperangkap di bawah tubuh Korra, tak ada yang bisa Seth lakukan selain mengangguk, mengembalikan konsentrasinya pada irama permainan gadis itu. Korra kembali menghujani leher dan dadanya dengan rentetan kecupan dan gigitan, sesekali menghisap. Seth melenguh keras, melemparkan kepalanya ke belakang. Tubuhnya sedikit melengkung, membentuk siluet kurva yang nyaris horizontal.

Tidak digubris sama sekali, ponsel itu mulai menyanyikan nada-nada romantis 'I See The Light' Mandy Moore. Sejak jadian dengan Korra, mereka sudah menetapkan OST Rapunzel itu sebagai lagu kebangsaan mereka berdua, dan Seth lebih dari senang hati untuk memakai versi instrumentalnya sebagai nada dering. Tangannya menggeliat, berusaha melepaskan diri dari jerat syal Korra, tapi Korra lekas menampar tangan itu dan memperkuat ikatannya pada tiang tempat tidur.

"Biar-kan saja… Nan-ti juga … ber-henti ...," perintah Korra putus-putus. Dan apalah daya Seth untuk menentang?

Tak lama suara dering itu menghilang, meninggalkan mereka kembali pada dunia milik mereka berdua. Seth kian larut kala Korra meningkatkan kecepatannya, membawanya pergi menembus batas langit.

Dering itu kembali mengganggu. Sekali. Dua kali. Makin lama makin berdeterminasi.

"Uh… Korey, tung—mmmh, oh Tuhan—tunggu sebentar, Korey … mungkin … itu penting…"

"Uhm, se, sedikit lagi, Seth…"

"Kumohon, Korey…"

"Jangan bicara…"

"Seseorang mungkin saja sekarat!"

Korra mengerang, berhenti. Diurainya simpul syal yang membelit tangan Seth, tapi ia masih tak mau mencabut diri darinya. Dengan mata mendelik, diawasinya tangan Seth yang akhirnya bebas menggapai-gapai permukaan meja, mencari androidnya.

Satu hal mengenai android yang ia tidak suka: bahkan untuk mengangkat telepon, ia harus memakai fitur touch-screen. Itu mudah dalam keadaan normal, tapi coba lakukan itu dalam situasi setengah mengantuk. Atau … situasi lain yang sejenis.

"Siapa?" tanya Korra kesal.

"Brady," Seth membaca nama yang tertera di layar. "Ada apa, ya?"

Ia menggeserkan jemarinya di layar, mengangkat telepon. Segera suara Brady terdengar.

"Seth!" panggilnya.

Hummm? Bukankah ia sudah bilang ia ingin mengambil libur malam ini? Anak-anak juga pastinya tahu apa agendanya, karena mereka seperti biasa terus menggodanya seharian ini ia patroli. Dan kalau Brady yang menelepon, mungkin tak terlalu penting. Ia sudah menyelesaikan patrolinya sekitar tiga jam lalu. Lagipula, beberapa hari ini ia cuma meributkan kondisi Collin.

Diliriknya Korra yang berdecak sebal, turun dari tubuhnya. Gadis itu duduk berselonjor di sisinya, mengawasi dengan tangan bersidekap.

"Uhm, Brady, aku agak … eh, sibuk…"

"Aku tahu. Tapi kumohon Seth, cepat pulang!" ada nada terburu-buru dan panik dalam suaranya.

Segera rasa panik yang sama mencengkeram hatinya. Ada apa? Apa yang terjadi?

"Seseorang terluka?" serunya.

"Tidak, tapi kami menemukan Jacob."

"Jacob?!"

Ia langsung bangkit, memunguti pakaian yang berserakan seraya tetap mempertahankan pembicaraan dengan Brady di telepon. Dilihatnya Korra menurunkan sikap awasnya, tampak berusaha menangkap isi pembicaraannya dengan Brady.

"Kami menemukan tubuhnya terbaring di cadas di tepi laut. Kelihatannya dia jatuh dari tebing dan menghantam karang."

Rasa ngeri menohoknya seketika. Siapapun tahu betapa bagus kelenturan tubuh serigala. Jacob termasuk pelompat yang hebat. Ia takkan mungkin melompat dan menabrak karang jika bukan ia sengaja melakukannya.

"Dia bunuh diri?!"

"Tidak tahu. Tapi dia belum mati. Kaki dan tangannya bengkok ke arah yang salah, Kepalanya terbentur hingga tengkoraknya hancur, demikian pula kelihatannya tulang punggungnya hancur, tapi ia masih bernapas."

"Kalian sekarang di mana?"

"Kami masih di tanjung, sedang berusaha memberi P3K dan mengangkat tubuh Jacob. Kami akan segera membawanya ke rumah Cullen."

"Baik. Aku temui kalian langsung di sana."

Lekas ia menutup telepon, memakai pakaian dengan terburu-buru. Korra tampak agak shock, diam mematung di tempat tidur.

"Korra," ia menghampiri gadis itu, memunguti pakaiannya dan meletakkannya di pangkuan Korra yang masih membeku. Mungkinkah berita ditemukannya Jacob dalam kondisi itu mengguncangnya? "Kau tak apa? Kita segera pulang," katanya.

Korra memutar kepalanya begitu pelan, terlihat masih shock.

"Jacob…"

"Ia pasti akan pulih. Carlisle akan menanganinya…"

.


.

Brady lekas menyambutnya begitu memasuki carport rumah Cullen. Wajahnya tegang, sangat.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Seth, turun dari mobil. Di sisi lain, Korra ikut turun dan memperhatikan pembicaraan mereka dengan tegang.

"Sama sekali tidak baik," ucap Brady, "Carlisle, Adam, dan Caleb sedang melakukan tindak operasi. Terus terang tubuhnya hancur… Tapi…," sekilas ia melirik Korra. "Seth, bisa kita bicara?"

"Ya, tentu…"

"Di hutan…"

Ada sesuatu yang aneh dalam suara Brady yang tak bisa begitu saja ia sepelekan. Menenangkan Korra sekali lagi dan mengantarnya ke pintu depan, ia pun lekas pergi ke balik pepohonan mengikuti Brady.

Ada apa? tanyanya begitu ada di dalam hutan. Brady bahkan mengajaknya berlari, dan suara pikirannya aneh—sangat bertumpuk.

Hutan sepi tanpa keberadaan siapa pun. Sudah jelas semua orang berkumpul di rumah Cullen. Entah apa yang mereka pikirkan, karena bisa jadi musuh justru menyerang dengan memanfaatkan kesempatan itu. Tapi mungkin itu wajar. Kawanan tak mungkin tak khawatir. Meski sudah dianggap gila, Jacob adalah mantan Alfa mereka.

Mmm, Brady, bisa kau kembali dulu ke rumah Cullen dan meminta beberapa anak patroli? Ia tak pernah ingin memberi Titah pada Brady. Dengan perkembangan situasi belakangan, sedikit lagi mungkin ia sudah akan sama kacaunya dengan Collin.

Aku tidak bisa, Alfa.

Apa?

Aku tak ingin ada siapapun mendengar kita sekarang.

Eh?

Kau bisa melindungi pikiranmu dari Korra?

Mengapa bahkan Brady harus menanyakannya?

Kumohon, Seth.

Brady menegaskan, terlalu tegas, bahwa ini pembicaraan hanya antara mereka berdua. Meski tak pernah tahu apakah jaringan pikiran Korra memang terhubung dengannya atau tidak, dan masih menaruh tanya akan motif Brady, Seth melakukan hal standar: memasang selimut pikiran, mengurung pikirannya bersama Brady.

Ada apa sebenarnya?

Brady memberi gambaran keadaan Jacob saat ia ditemukan. Tubuh yang hancur. Beberapa bagian vitalnya tertusuk cadas tajam. Kakinya bengkok mengerikan, bahkan ada banyak sekali tulang yang hancur, termasuk rusuk dan tulang punggung. Tak terhitung serpihan-serpihan batu cadas yang menembus jaringan kulitnya. Tubuhnya begitu rusak, hingga bahkan metabolismenya pun tak bisa bekerja.

Lalu apa benar dia bunuh diri?

Brady tak langsung menjawab. Sebaliknya, Seth bisa merasakan lapis demi lapis pikiran yang simpang siur. Bayangan-bayangan tanpa wujud, kata-kata, perdebatan, dugaan, kecurigaan, bantahan…

Brady! bentaknya, berusaha mengembalikan konsentrasi si serigala coklat lumpur. Katakan padaku apa yang terjadi…

Bayangan itu kian jelas. Bekas-bekas pertarungan yang terjadi di puncak tebing. Bekas luka panjang bak cakaran di tubuh Jacob…

Luka cakaran?!

Brady menelan ludah. Seth, apa benar Korra bersamamu sepanjang malam?

Mana mungkin kau bertanya seperti itu! Sudah jelas kan?

Apa tak mungkin kau kecapekan, tertidur, lantas ia menyelinap keluar?

Kami bahkan belum tertidur. Mengapa kau perlu… Astaga, ia terperanjat kala menyadari ke mana pertanyaan Brady mengarah. Tidak. Jangan katakan kau…

Aku tak tahu lagi, Seth… Hanya mereka kawanan serigala lain yang kita tahu. Dan anak-anak berpikir … mungkin ... setelah apa yang Jacob lakukan pada salah satu anggota kawanannya… Si Alfa Putih…

Korra, Brady? Sudah kubilang ia ada bersamaku! Apa perlu kutampilkan buktinya?

Aku tidak yakin, Seth… Kau tahu gambaran mengenai suatu kejadian bisa direkayasa… Lagipula kesaksian orang yang berhubungan dengan tersangka tidak bisa dijadikan alibi.

Apa maksudmu?

Entahlah. Aku tidak ingin mengatakan ini... Selama ini aku mempercayaimu sepenuhnya, tapi…

Tapi apa?

Seth, aku … aku tidak bisa lagi percaya padamu.

Apa?

Pertengkaran yang membuat Jacob marah itu, kau yang memicunya. Kau terang-terangan melawan Jacob saat Jacob berusaha mengupas topeng Korra. Kau tahu Korra serigala putih, tapi kau membelanya. Lantas Jacob menghilang, dan yang kita tahu ia sekarat kini. Dan kau bertunangan dengan Korra… Sebagai pasangan Kierra, otomatis tak hanya Alfa, kau pun menjadi Maharaja…

Katakan apa maksudmu!

Aku hanya berpikir… Mungkinkah … kau … bersekongkol dengan Kierra…

Brady!

Aku tidak tahu lagi, Seth… Di sana ada tunanganmu, imprintmu, dan kemudian Jacob membunuh anakmu… Kau punya lebih dari sekadar motif…

Oke. Katakan sebenarnya yang mana tuduhanmu: aku bersekongkol dengan Kierra, membuat jebakan untuk membuat Korra memancing amarah Jacob, mengorbankan anakku sendiri agar aku bisa menjatuhkan Jacob dan mendapat simpati kawanan, lantas meluncur menempati takhta; atau aku diam-diam bersama Kierra menyerang Jacob di tebing sebagai balas dendam karena ia mencelakakan calon istriku dan membunuh anakku! Karena kau tak bisa menuduh keduanya sekaligus, Brady… Tuduhan A membuat tuduhan B tidak valid, demikian pula sebaliknya.

Aku masih tidak mengerti. Tapi yang kutahu memang keduanya mungkin…

Seth menggeram. Beraninya Brady menganggapnya seperti itu…

Saat ini hanya aku yang punya pikiran seperti ini, dan aku tidak membaginya dengan yang lain. Tapi bukan berarti yang lain takkan punya pikiran ke sana… Mereka toh tahu aku keluar untuk bicara denganmu.

Apa maksudmu?

Jika aku mati di sini, jika kau memang ingin membungkamku, itu hanya akan membuktikan bahwa tuduhan itu benar… Siapapun akan dengan mudah menghubungkan semua petunjuk…

Kau tahu aku tidak melakukan semua itu!

Sudah kukatakan, aku tidak tahu. Bahkan sesudah kau menapak di pucuk pimpinan, kau masih saja menutupi identitas Korra. Aku tahu kau tak ingin timbul keguncangan dalam kawanan, tapi itu bisa juga ditafsirkan bahwa kau tak ingin kawanan menangkap maksud kalian, dan merencanakan penguasaan total… Aku sudah tak tahu lagi apa yang harus aku percaya. Tapi yang jelas satu hal: aku tidak percaya lagi padamu, Alfa…

Brady…

Saat ini, kau ada di puncak pimpinan. Tapi kekuasaanmu tidak mutlak. Jacob nyata masih hidup, dan kalaupun ia tewas, masih ada Collin.

Kalian sendiri yang memilihku menjadi Alfa!

Ya, tapi legalitas mandat kawanan masih di bawah mandat langsung Alfa atau hierarki darah. Setahuku, dengan perkembangan situasi sekarang, bisa jadi Collin juga terancam.

Ia tak percaya ini. Yang benar saja! Kawanannya sendiri—Brady, lebih daripada yang lain, yang tahu segala soal Korra—menuduhnya berada di balik apapun yang menimpa Jacob? Dan bahkan mengiranya akan potensial membunuh Collin demi—ya Tuhan—kedudukan Alfa?

Sekali lagi aku tidak tahu, Seth. Dengar, aku akan menutup mulut. Tapi aku akan mengawasimu…

.


.

catatan:

fast update lagi nih...

Jacob bunuh diri? hahaha, rupanya saia kejam! Tapi rupanya dia (mungkin) diserang, dan Brady mengira Seth dan Korra punya andil dalam hal ini... Bagaimana Seth harus membuktikan bahwa ia tak bersalah jika Brady tak bisa percaya satu-satunya bukti yang ia punya? Dan lagi, benarkah kawanan Korra memang tidak punya andil?

R&R?