The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 6
Seokjin berbaring dengan tenang di sebuah kursi malas dalam sebuah ruangan. Dia memejamkan matanya dan perlahan dia mulai merasa tenang. Ruangan itu beraroma seperti teh hijau dan melati serta bau kayu manis. Aroma yang lembut itu membuat Seokjin semakin tenang, selain itu suhu ruangan yang tidak terlalu dingin atau panas juga membuat Seokjin merasa jauh lebih tenang.
"Nah, sekarang. Fokus pada pikiranmu dan cobalah untuk tenang. Tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan."
Seokjin bisa mendengar suara lembut seorang wanita dan Seokjin menuruti ucapannya. Dia menarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan pula. Setelah empat kali mengatur nafas, Seokjin mulai merasa dia mengantuk.
"Seokjin, kau masih mendengarku?"
"Ya.."
"Bagus, sekarang fokuslah kepada suaraku dan ceritakan apa yang kau lihat di pikiranmu dan apa yang mengganggu pikiranmu."
"Aku.. sedang duduk di taman. Aku menunggu Ibu, dia bilang akan segera datang menjemputku dengan membawa es krim." Seokjin melihat sebuah taman dalam pikirannya dan dia tersenyum kecil saat mengingat perasaannya saat itu. "Aku menunggu dan menunggu, tapi Ibu tidak datang.."
"Lalu, apa yang kau lakukan?"
"Aku menunggu, lalu ada seorang paman aneh bertubuh tinggi yang memberiku satu kotak biskuit cokelat. Aku menolak snack itu karena Ibu bilang aku tidak boleh berbicara dengan orang asing atau menerima pemberian dari orang asing."
"Hmm, baiklah. Bisa jelaskan seperti apa paman itu?"
"Paman itu tinggi, kurasa dia lebih tinggi dari Ayah. Dia memakai setelan jas seperti yang digunakan Ayah saat bekerja tapi dia memakai warna hitam dan dia memiliki tato di punggung tangannya yang menjalar hingga ke pergelangan tangan. Aku melihatnya saat dia memberiku biskuit."
"Tato apa yang dia miliki?"
"Sebuah kata. Aku tidak tahu apa arti kata itu."
"Baiklah, sekarang apa yang dilakukan paman itu?"
"Dia bersikeras memintaku memakan biskuit itu. Aku tetap tidak mau lalu ada seorang anak laki-laki yang menghampiri kami."
"Siapa anak itu?"
"Aku.. tidak tahu. Tapi anak itu membujukku dan aku menurut padanya karena dia mengatakan kalau dia memakan biskuit yang sama."
"Apa yang kau ingat dari anak itu?"
"Dia.. memakai kalung dengan liontin berbentuk oval dan di liontin itu tertulis kata yang sama dengan yang ada di tato paman tadi."
"Okay, jadi apa yang menganggumu?"
"Aku.. melihat kata yang sama dengan tato dan liontin itu."
"Dimana kau melihatnya?"
Seokjin terdiam, kejadian tadi pagi saat Namjoon memberinya cincin yang memiliki ukiran kata yang sama merasuk dalam kepalanya. Seokjin merasa tubuhnya gemetar, dia merasakan elusan lembut di punggung tangannya, tapi itu tidak berhasil. Seokjin sangat tegang dan dia mulai menangis.
"Seokjin, tenanglah."
Seokjin terisak begitu keras dan airmata membanjiri wajahnya, "A-aku.. melihat kata itu.."
"Berhenti, Seokjin. Jangan paksakan dirimu."
"A-aku melihatnya.. a-aku.. melihatnya di cincin milik tunanganku.."
Tepat setelah Seokjin mengeluarkan kalimat itu dengan nada lirih, Seokjin menjerit histeris, tubuhnya meronta dalam kursi santai itu hingga dokter yang sejak tadi menanganinya kewalahan dan memanggil beberapa perawat untuk menahan tubuh Seokjin.
Tiga orang perawat pria menahan tubuh Seokjin untuk tetap berbaring walaupun Seokjin terus berteriak histeris dan menggeliat kasar agar bisa lepas dari cengkraman tiga perawat pria itu.
"Tahan lengan kirinya!" seru dokter wanita yang sejak tadi menangani Seokjin. Dia kembali dengan membawa suntikan berisi obat penenang, dan setelah cairan itu disuntikkan ke dalam tubuh Seokjin, rontaan Seokjin berangsur-angsur berhenti dan akhirnya Seokjin terlelap.
Tiga perawat itu melepaskan cengkraman mereka dari tubuh Seokjin dan melangkah mundur.
"Dokter Choi? Apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya salah satu perawat.
Dokter Choi menghela nafas, "Bawa Seokjin ke salah satu kamar, ikat dia di tempat tidur, bisa gawat kalau dia mengamuk."
Tiga perawat itu mengangguk dan mereka bergegas mempersiapkan Seokjin untuk dibawa ke ruang rawat.
Dokter Choi melirik kertas-kertas yang berserakan di sudut, tadi sebelum sesi konsultasi dimulai Seokjin terus mencoret-coret kertas itu dengan pandangan kosong. Dan ternyata Seokjin menulis kata yang sama, sebuah kata dalam huruf Yunani, kata yang berarti iblis.
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon meremas rambutnya frustasi. Dia tidak juga berhasil menghubungi tunangannya sejak kejadian tadi siang. Seokjin tidak datang ke kantor tanpa kabar, dan ini membuat beberapa orang kelimpungan. Seokjin adalah dokter utama dan nyaris seluruh jenazah ditangani olehnya, makanya saat Seokjin tidak datang untuk kerja, semua orang kewalahan mencari pengganti sementara untuk Seokjin.
"Namjoon, kau masih belum bisa menghubungi Seokjin?"
Namjoon mengangkat kepalanya dan dia melihat Taehyung berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Namjoon menggeleng lemah, "Minta dokter forensik lain untuk menangani mayat-mayat itu."
Taehyung menyilangkan tangannya di depan dada, "Seokjin sudah mengautopsi korban terbaru itu, aku butuh hasilnya."
Namjoon mengerang kesal, "Cari saja di meja Seokjin! Dia pasti meletakkannya di laci paling atas."
Taehyung terdiam sebentar, "Oke." Taehyung berbalik namun dia terhenti, "Hei, Namjoon."
Namjoon mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung, "Apa?"
"Berhenti membohongi dirimu sendiri."
Namjoon membelalakkan matanya, "Kau.."
"Aku dipanggil detektif terbaik bukan tanpa alasan. Aku tahu.. kau menyembunyikan sesuatu, tapi aku tidak tahu itu apa. Dan semua orang berhak memiliki rahasia, jadi aku tidak akan bertanya." Taehyung melemparkan senyum tipis dan berlalu keluar dari ruangan Namjoon.
Namjoon terdiam cukup lama setelah Taehyung pergi. Dia menunduk menatap mejanya. Dia tahu dia harus berhenti membohongi Seokjin dan memberikannya dunia palsu dimana Namjoon berperan sebagai sosok pangeran berkuda putih untuknya. Dia tahu dia harus menunjukkan kepada Seokjin siapa dirinya sebenarnya, siapa dia di masa lalu dan sekarang.
Tapi Namjoon tidak siap. Dosanya terlalu banyak hingga dia yakin Seokjin akan membakarnya hidup-hidup atas apa yang pernah dia lakukan. Seokjin hanya mengetahui satu dosa diantara dosa lainnya dan reaksi Seokjin benar-benar diluar dugaan Namjoon.
Jadi, bagaimana jika semua orang yang menjadi korban atas perbuatannya mengetahui segalanya? Apa yang akan mereka lakukan padanya?
Namjoon takut. Dia amat sangat takut mengetahui reaksi orang-orang yang lain. Dia berusaha bersembunyi selama sekian tahun ini namun Tuhan seolah menamparnya dengan kenyataan yang dia terima saat ini.
Ya, saat ini semua korban dari perbuatannya berada di satu tempat bersamanya.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Saat ini dia sedang melakukan operasi besar-besaran untuk membersihkan apartemen yang dia tinggali bersama Yoongi. Jimin sangat suka keteraturan dan kerapihan, makanya dia benar-benar tidak nyaman melihat apartemennya yang mulai berantakan.
Jimin bersenandung riang seraya merapihkan tumpukan kardus di dalam gudang kecil di apartemennya. Jimin mengangkat kardus-kardus itu dan membongkar isinya untuk kemudian membuang barang yang benar-benar sudah tidak terpakai lagi.
Jimin membuka sebuah kardus dan dia tertegun saat melihat bahwa kardus itu berisi sebuah kotak kulit berwarna hitam yang cukup besar. Jimin mengeluarkan kotak itu, "Apa ini?" gumamnya.
Jimin mencoba membukanya namun kotak itu terkunci. Jimin menarik-narik penutup kotak dan tiba-tiba saja engsel penutup kotak itu patah dan kotak itu pun terbuka. Bagian dalam kotak itu ditutupi kain berwarna hitam dan saat Jimin menyingkapnya, Jimin melihat sebuah pisau yang besar berada di bagian paling atas dari isi kotak.
Jimin mengerutkan dahinya, tangannya yang terbalut sarung tangan itu mengangkat pisau tadi dan memperhatikannya. "Ini.. bukan punyaku. Apa ini milik Yoongi Hyung? Tapi untuk apa dia memiliki benda semacam ini?"
Pisau itu sangat bersih hingga Jimin bisa memantulkan cahaya dari bilah pisau itu. Jimin berhenti memperhatikan bilah pisau saat dia melihat sesuatu terukir di pinggir bilah pisau. Jimin menyipitkan matanya dan memperhatikan ukiran yang sepertinya digores dengan sengaja dengan menggunakan pisau lainnya.
"Apa itu?" gumam Jimin sambil terus berusaha membaca. "Su.. Suga?"
Seketika itu juga pisau yang dipegang Jimin terjatuh dan mendarat dengan suara cukup keras di dalam kotak. "Suga? Pisau ini.. milik Suga?"
Jimin menutup kotak tadi dan kembali memasukkannya ke dalam kardus, dengan segera dia berlari keluar dari gudang dan menutup pintunya lalu menguncinya. Jimin jatuh terduduk di depan pintu gudangnya.
"Jika pisau itu milik Suga, maka Yoongi Hyung adalah Suga? Si pembunuh itu?"
Jimin terdiam dengan mata yang membelalak ngeri. Dia berpacaran dengan seorang pembunuh yang masih buron!
Jika Jimin tidak salah ingat, masa kadaluarsa suatu kasus pembunuhan adalah sekitar 20-30 tahun, dan itu berarti kasus Suga yang baru terjadi kurang dari 10 tahun lalu itu masih berlaku. Dan jika Yoongi adalah Suga, haruskah Jimin melaporkannya pada polisi?
Jimin menggeleng tegas, "Tidak, tidak. Aku harus memeriksanya dulu." Jimin berdiri dan berjalan ke arah kamarnya, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Ah, Daehyun? Untunglah kau segera mengangkat telepon dariku."
"Ya, ada apa, Jim?"
"Aku butuh bantuanmu. Kau ahli forensik bagian DNA, kan?"
"Ya, benar."
"Aku butuh kau memeriksa beberapa barang. Kalian memiliki arsip DNA dari seluruh korban Suga, kan?"
"Ya, tentu saja. Selama Suga belum tertangkap, barang bukti berupa DNA itu tidak akan kami musnahkan."
"Sekarang aku akan mengirimkan beberapa barang kepadamu. Tolong periksa apakah di barang-barang itu ada DNA dari korban Suga. Dan tolong, jangan sampai Yoongi tahu."
"Hmm, oke. Tapi untuk apa kau memeriksanya? Kau kenal salah satu korban Suga?"
"Tolong lakukan saja."
"Okay."
Jimin melempar ponselnya kembali dan mengulum bibirnya, "Semoga saja apa yang aku lakukan ini benar."
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung berjalan melintasi koridor dan dia berpapasan dengan Jungkook. Taehyung terlihat terkejut, tapi dia berhasil menanganinya dengan baik. Dia berjalan menghampiri Jungkook, "Aku sudah mendapatkan hasil autopsi korban."
Jungkook mengangguk dengan tenang dan kaku, terlalu kaku malah.
"Aku akan memeriksa ini dan kau teruskan penelitianmu soal barang-barang yang kau temukan di kelas."
Jungkook mengangguk lagi.
"Oke, kalau kau butuh sesuatu, aku ada di mejaku." Taehyung berjalan melewati Jungkook.
"Taehyung-ssi.."
Taehyung berhenti berjalan dan berbalik, "Ya?"
"Kenapa kau tidak menolongku waktu itu?"
"Maaf?"
"Kenapa kau tidak menolongku? Padahal kau tahu aku bersembunyi dalam lemari. Apa kau tahu? Karena kau tidak menolongku, aku terjebak di sana selama 24 jam penuh dan diselamatkan oleh polisi karena laporan warga yang mencium bau busuk dari rumahku."
Taehyung merasa tubuhnya menegang, dia terpaku menatap Jungkook yang menatapnya dengan tatapan terluka.
"Kenapa kau tidak menolongku? Butuh waktu 10 tahun bagiku untuk bisa melupakan sedikit kesadisan yang terjadi di malam itu. Apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku? Terjebak sendirian dalam mimpi buruk karena melihat kejadian malam itu. Apa kau tahu kalau aku mengalami mimpi buruk soal malam itu berulang-ulang? Apa kau tahu kalau aku melihat kejadian saat orang tuaku dan kakakku mati terbunuh dengan tercabik-cabik setiap malamnya dalam mimpi? Apa kau tahu itu, Taetae?" Jungkook menghapus setitik airmata di pipinya.
Taehyung tersentak keras saat mendengar panggilan 'Taetae' yang dilontarkan Jungkook padanya. Dia merasa sangat familiar dengan panggilan itu.
"Apa kau tahu kalau karena itu aku memiliki kelainan jiwa yang aneh? Apa kau tahu kalau satu-satunya yang bisa membuatku tenang adalah dengan membahayakan diriku sendiri? Kenapa kau pergi waktu itu, Taetae? Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak melapor kepada polisi? Padahal kau tahu aku ada di sana, dan aku masih hidup di tengah mayat-mayat itu."
Taehyung tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia merasa lidahnya kelu seolah-olah diberi lem super kuat. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa, dia terpaku mendengar ucapan Jungkook.
"Kau tahu, Taehyung? Sebaiknya kita segera selesaikan kasus ini karena aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Jungkook berbalik dan melangkah pergi dari sana.
Taehyung terhuyung dan punggungnya menghantam dinding koridor. Dia mencengkram dadanya yang terasa sesak. Dia ingat, dia ingat alasan kenapa dulu dia datang ke rumah penuh darah itu.
Itu karena dia ingin mengajak temannya bermain di rumahnya. Itu karena dia ingin mengajak si pemilik bola mata hitam kelam itu bermain. Anak kecil yang selalu memanggilnya 'Taetae'.
Teman masa kecilnya.
Seseorang yang selalu Taehyung panggil dengan sebutan 'Kookie'.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok meninju permukaan dinding kamar asrama Christian Lee dengan kesal. Christian Lee menghilang, bersama dengan Jihoon yang juga menghilang dari rumahnya. Pihak universitas mengaku tidak tahu soal perginya Christian karena tidak ada kabar mengenai absennya Christian dari kelas-kelas yang harus dihadirinya.
Hoseok menggeram kesal, dalam hatinya dia amat sangat mengkhawatirkan Jihoon. Dia belum menebus dosanya pada anak itu dan dia jelas tidak siap kehilangan Jihoon.
"Aku sudah bertanya pada semua orang, mereka semua tidak tahu kemana kiranya Christian Lee pergi." Yoongi berjalan menghampiri Hoseok dengan nafas terengah.
"Sial! Jihoon!" Hoseok meninju permukaan dinding itu lagi hingga menimbulkan lebam di tangannya. "Ini salahku, seharusnya aku lebih memperhatikan dengan siapa Jihoon pergi."
Yoongi menepuk bahu Hoseok pelan, "Kita akan menemukan Jihoon dan dia akan baik-baik saja. Tenanglah sedikit."
"Anu.."
Hoseok dan Yoongi menoleh serempak dan mereka melihat seorang mahasiwi berdiri tak jauh dari mereka.
"Ka-kalau kalian mencari Christian, aku sempat mendengarnya berbicara soal rencana keberangkatannya ke villa di telepon."
Hoseok melangkah cepat ke arah mahasiswi itu dan mencengkram bahunya, "Dimana tempatnya?" desaknya tidak sabar.
"A-aku tidak tahu. Aku hanya mendengarnya berbicara di telepon dan dia meminta villanya dibersihkan karena dia akan ke sana sebentar lagi."
Yoongi berdecak, "Tanpa alamat yang jelas, GPS pun tidak akan sanggup menemukan villa itu."
Hoseok terdiam, "GPS? Astaga, GPS!" Hoseok bergegas mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya.
"Ada apa?" tanya Yoongi.
"Dulu Jihoon pernah iseng menyambungkan GPS pelacak di ponselku dengan ponselnya. Dia bilang dia melakukan itu agar dia tahu aku berada di mana. Dan jika Jihoon bisa melacak keberadaanku, maka seharusnya aku juga bisa melacak keberadaan Jihoon." Hoseok tersenyum lega saat dia melihat kalau ponsel Jihoon masih terhubung dengan ponselnya.
Hoseok mengangkat ponselnya dan menunjukkannya pada Yoongi, "Aku dan dia masih terhubung. Kita harus segera pergi ke lokasi ini."
Yoongi mengangguk cepat.
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon mengerang pelan dan perlahan dia membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjapkannya pelan untuk membiasakan matanya dengan cahaya. Dia bermaksud untuk mengusap matanya namun tangannya tidak bisa digerakkan, Jihoon melihat kondisi tubuhnya dan dia menyadari kalau dia terikat di kursi dan mulutnya disumpal dengan kain.
Jihoon mencoba menjerit dan meronta, namun jeritannya teredam oleh kain di mulutnya.
"Oh, kau sudah bangun?"
Jihoon mengangkat pandangannya dan dia melihat Christian tengah duduk di sofa tak jauh darinya. Jihoon baru menyadari kalau saat ini dia berada di dalam kamar super mewah dan bagus dengan nuansa warna merah di mana-mana.
Jihoon menatap Christian denga tajam.
"Kau pasti bingung ya kenapa kau bisa berada di sini?" Christian menyeringai, "Kau berada di sini, karena aku akan mengupasmu satu demi satu. Aku akan mengambil darahmu."
Jihoon membelalakkan matanya dan dia meronta semakin keras.
"Ssh.. jangan meronta. Kau akan melukai dirimu sendiri. Dan kalau kau terluka, darahmu akan ternoda." Christian berdiri dari duduknya dan mengambil sebuah gergaji bulat di meja. "Nah, kau mau langsung dipotong saja? Aku suka darah yang bermuncratan saat aku memotongmu, darah itu akan teresap di seluruh tubuhku." Christian menyeringai menyeramkan.
Jihoon menatap gergaji bulat itu dengan ngeri, dia menggeleng keras. Airmata sudah mengalir di pipinya.
'Hyungie, tolong aku..'
To Be Continued
.
.
.
.
Taraaa~
Chapter enam selesai!
Bagaimana? Koneksi diantara mereka sudah jelas kan? Ada beberapa yang memiliki koneksi satu sama lain dan ada juga yang tidak, lho. Hahaha
Ada yang masih bingung? Kalau bingung, tunggu chapter-chapter berikutnya saja~
Oke, jangan lupa review ya guys. Aku sayang kalian!
.
.
.
Thanks
