THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Twilight Saga belong to Stephenie Meyer, but I responsible for the OCs, OOCs, few additional pack's rules, misappropriation of any canonical, mythical, and historical characters, and also circumstances for this story.

.


.

79. Prasangka

Sunday, November 10, 2013

12.52 AM

.


.

Ketika ia kembali, waktu sudah lewat tengah malam. Dilihatnya kawanan tengah berkumpul di ruang tengah keluarga Cullen. Adam dan Caleb tidak ada di antara mereka, jadi sudah pasti operasi itu masih belum selesai. Seperti biasa kalau sedang ada urusan seperti ini, Embry dan Quil kebagian jadi seksi sibuk—pergi ke rumah sakit terdekat untuk mencari tambahan morfin dan obat-obatan lain. Entah di mana Josh, mungkin bersama kawanan pengkhianat Sam—setelah ketahuan selama ini ia menjadi mata-mata Sam, tak hanya Brady, bahkan Seth tak lagi menaruh peduli padanya. Kini di lobi dadakan rumah sakit khusus kawanan itu hanya ada Ben, Pete, Clark, dan Harry.

"Mana Brady?" belum-belum ia sudah disodori pertanyaan dari Ben.

"Entah. Mungkin ke tempat Collin."

"Ia sendiri di hutan?" entah mengapa urusan Brady kelihatan menarik minat Harry. Padahal biasanya ia tidak terlalu akrab dengan siapapun anggota Gossip Guys.

"Aku membebaskan patroli dan melarang siapapun, termasuk Brad, memasuki hutan sementara waktu. Jadi kuharap tak masalah."

"Kau mengosongkan hutan?"

"Berjaga-jaga. Aku tak ingin ada masalah tambahan saat kawanan terkonsentrasi di sini."

Harry diam, agak menekur. Dengan wajah lesu, Seth menyurukkan diri di sofa. Pikirannya kacau.

"Apa yang Brady bicarakan?" tanya Ben lagi.

Apa mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya? Tidak. Jadi ia hanya memutuskan menjawab dengan cara aman.

"Uhm, ia mengatakan padaku tentang … kondisi saat Jacob ditemukan," itu jelas bukan bohong.

"Yeah, memang seram…," gumam Clark. Yang lain juga tampak menundukkan kepala dengan wajah ngeri.

Seth menatap berkeliling, memindai segenap kawanan. Dicobanya meraba ekspresi mereka. Ada kekhawatiran, ada kesedihan, ada juga antisipasi akan perintah terbaru sang Alfa mengenai situasi terkini. Tapi tak ada kecurigaan, setidaknya padanya.

"Jadi apa menurutmu ia bunuh diri?" tanya Ben lamat-lamat. Di wajahnya ada sedikit rasa prihatin.

Seth tak langsung menjawab.

"Tidak," bukan ia yang berkata, melainkan Harry. Suaranya pelan bak gumaman. "Kau lihat bekas luka di tubuh Jacob…"

"Mungkin saja ia melukai dirinya sendiri."

"Kita tahu Jake tidak mungkin melakukan hal seperti itu…"

"Tapi mungkin ia merasa bersalah atas insiden Korra," bantah Ben. "Mungkin ia berniat menghilangkan rasa bersalahnya, atau takut dan marah dengan dirinya sendiri. Kau tahu, jika ia bisa melukai Korra, ia bisa saja satu saat melukai si hibrida tunangannya itu."

"Dan membuatnya nekad melompat dari tebing? Bukan cara yang efektif bagi seekor serigala untuk mati, Ben."

"Kau tahu pikirannya tidak waras. Tidak ada orang waras akan tega…," kata-kata Ben terhenti di udara. Sekilas ia melirik Seth, agak was-was. Seth tahu kelanjutan kata itu, dan ia tidak ingin memikirkannya. Kawanan pun tahu, topik itu sudah jadi topik terlarang belakangan, sehingga mereka pun langsung diam, tak berani berkata apapun.

Seth berusaha lepas dari jebakan pikiran yang membuat hatinya terpelintir dan mengalihkan perhatiannya dengan memindai keberadaan kekasihnya. Hanya untuk mendapati bahwa gadis itu tidak dilihatnya di manapun antara ruang tengah, ruang makan, dan dapur.

Sesaat ia panik. Ia berusaha menenangkan diri, menajamkan inderanya. Bau Korra selama ini selalu agak tipis, sulit dirasakan dalam wujud manusia, tapi bukan berarti tidak bisa dideteksi sama sekali. Jacob bilang baunya memuakkan—penilaiannya jelas tersaput ketidaksukaannya pada sang adik, tapi memang Collin mengakui bau Korra agak manis. Mirip parfum bernuansa tropis, demikian menurut Collin, aroma buah tropis nan segar, agak bercampur aroma santan yang berasal dari shampoo yang ia pakai. Entah bagaimana caranya para Black itu bisa mendeteksi bau Korra, karena sejujurnya, jangan kata Seth, bahkan Embry yang tergolong punya hidung terbaik di kawanan pun mengaku kesulitan mencium baunya. Ini terbukti di perkemahan, bahkan dengan adanya bau Korra menyelimuti tempat itu, hasil ia berputar-putar merambah hutan berkali-kali, mereka kesulitan mendeteksi jejak terbaru. Sepanjang mereka bersama, hanya ada satu titik ketika bau gadis itu menguat dan itu jelas pengaruh feromon, jadi Seth tak bisa menyatakan itulah bau Korra. Kini pun, bahkan setelah mengumpulkan konsentrasi maksimal, tak bisa ia rasakan secuil pun keberadaan gadis itu.

"Mana Korra?" tanyanya.

"Tadi pergi bersama Alice dan Jasper," jawab Ben.

Jadi Jasper membawa Korra pergi, begitu? Tentu saja, Jacob sedang terbaring di meja operasi di dalam sana; indera penciuman vampir maupun serigala lebih dari cukup untuk menangkap bau darah sepekat dan seintens itu. Meski belakangan kendali Jasper akan darah manusia terbilang sangat bagus, belum lagi ditambah memang para vampir tidak tergiur pada bau darah serigala—meski mereka mengaku pemangsa hewan sekalipun—Korra justru kebalikannya. Atau mungkin ia hanya bereaksi begitu pada darah Alfa.

Kadang dengan adanya mereka tinggal serumah, Seth bertanya-tanya bagaimana Korra bisa mengatasi insting teritorial dengan bersikap merunduk, mengingat Jacob sepertinya sudah siap mencabik-cabik gadis itu setiap ada kesempatan. Lebih lagi dalam urusan darah… Mungkin Korra tidak sama dengan para vampir, ia tidak terpikat dalam artian merasa haus karena hanya itulah makanannya. Kekuatan dalam darah Alfa, itulah yang ia butuhkan. Kekuatan dan kekuasaan. Seperti dalam legenda. Karenanya ia hanya akan merasakan tarikan itu jika ada pemicunya, seperti dalam pertarungan satu lawan satu, kala ia lemah, atau seperti yang sudah-sudah, ia mengadakan kontak oral dengan darah itu.

Dengan adanya ia di posisi Alfa sekarang, bukankah itu berarti ia juga sama? Bagaimana jika Collin ada di posisinya? Akankah Korra juga tergiur untuk mengeringkannya?

"Kenapa, Seth?" tanya Ben ragu, melihat Seth tampak cemas.

"Tidak," ia buru-buru menggeleng. "Aku hanya agak … ehm, khawatir…"

"Masa sih kau takut Jasper malah menyerangnya?"

"Tidak, aku tidak mengkhawatirkan itu. Aku hanya…" ia tak bisa melanjutkan.

"Apa menurutmu kami tak seharusnya melepaskan pandangan darinya?" tanya Harry dari tempatnya duduk. Entah mengapa saat mengatakan itu, ia bicara dengan nada yang agak berbahaya. Matanya, anehnya, sesaat membuat Seth merinding.

"Yeah...," ujarnya tak jelas.

"Oh…," Pete mendadak menunduk muram. "Apa kau memprediksikan Korra akan menjadi yang selanjutnya?"

Baik Harry maupun Seth mengernyit pada ucapan pemuda itu.

"Yang selanjutnya?"

"Yeah, kau tahu…" kata-kata Pete menggantung kala wajahnya menjadi semakin suram.

"Apa maksudmu … Jacob tidak bunuh diri atau melukai dirinya sendiri, tapi ini ulah… mereka?" seakan terinspirasi dari ucapan Pete, Clark angkat bicara.

"Dan … kali ini kembali mereka menargetkan para Black… Lagi…" nada horor dalam suara Pete makin kental.

'Lagi'? Oh, apa mereka menganggap kalimat tadi sebagai 'penjagaan' atas Korra, dan bukan 'pengawasan'? Tapi ia merasa itu wajar. Serangan atas Black adalah pola yang terus berulang selama ini. Bahkan walau Korra bukan anggota kawanan dan jelas ibunyalah yang berada di balik semua serangan, tahu betapa tidak pandang bulunya Ariana, Korra juga bisa menjadi target. Yang sangat mudah, jika perlu ditekankan.

Tapi bukan cuma itu yang membuat sebersit peringatan terdengar di kepalanya kala mendengar ucapan Pete. Meski galurnya agak jauh, Ben dan Pete juga Black. Mereka bahkan pernah ikut jadi korban. Hingga saat ini, satu-satunya Black yang belum pernah diserang hanya Quil, yang sampai dijuluki The Luckiest Black on The Earth. Bahkan Embry yang tidak ketahuan jelas asal-usulnya pun ikut diserang—membuat anak-anak berspekulasi macam-macam, yang separuh lebihnya nyaris tidak masuk akal. Dengan statistika bahwa tak ada satu pun dari mereka yang bisa menang melawan gerombolan Sang Ibu, wajar jika mereka ketakutan.

"Jadi itu alasan kau membiarkan Brady di hutan sendiri? Karena ia bukan Black dan takkan diserang?" cecar Harry.

"Aku tidak bilang aku meninggalkan Brady. Kubilang ia pulang ke tempat Collin. Mungkin ia hendak menjemput dan mengungsikan Collin ke sini."

"Tapi itu aneh. Seharusnya jika yang seperti ini terjadi, kau takkkan mengosongkan hutan, tapi menyuruh kami semua berjaga."

"Itu Jacob, bukan aku. Apa kau mau menggugat keputusanku?" tekannya, agak tak sabaran. Melihat Harry tak lagi bicara, Seth melanjutkan, "Kasus ini adalah insiden pertama setelah kejadian di jurang. Aku tak bisa memberlakukan pola yang sudah-sudah dan mengambil kesimpulan seenaknya. Bisa jadi target mereka kini bergeser. Sudah kukatakan aku harus mengambil tindakan preventif. Saat ini aku tidak bisa meresikokan siapapun, tak hanya yang berdarah Black, terjun di lapangan atau memasuki tanah Quileute hingga ada kejelasan."

"Apa?!" anak-anak protes bersamaan.

"Yang benar saja, Seth!"

"Itu artinya La Push tanpa perlindungan!"

"Kalian sudah tahu kekuatan mereka dari serangan selama ini," jelas Seth. "Kecuali kita punya persiapan lebih, aku takkan menurunkan kalian untuk menjadi santapan lintah."

"Kami tidak takut," Ben yang punya hubungan darah generasi ketiga dengan marga Black langsung maju.

"Aku tahu kau tidak takut. Tapi berani tidak berarti bodoh. Bagaimana caraku mempertanggungjawabkan kepemimpinanku pada Jacob, entah jika ia sadar atau aku yang mendatanginya di alam baka, kalau kalian semua mati?"

Anak-anak terdiam.

"Berarti benar kan, Jacob diserang dan bukan bunuh diri?" mendengar Seth bicara soal 'serangan', tuntutan itu segera datang dari Clark, yang anehnya entah mengapa terdengar agak … berharap. "Ini sama seperti dahulu kan? Ulah gerombolan Sang Ibu?"

Seth tidak menjawab.

Ya, apa memang Jacob benar-benar diserang? Siapa yang melakukannya? Sungguhkah kelompok Sang Ibu kembali bergerak, kian marah karena Ariana ditangkap? Kalau begitu, mungkin saja ia takkan hanya menargetkan Black, tapi membasmi seluruh kawanan sekalian. Kierra sudah mengatakan akan membiarkan Carlisle menangani ini, tapi apa memang yang bisa ia lakukan?

Atau justru … Oh, ia tak ingin memikirkan itu.

"Tidak," di sisinya Harry menggeleng menjawab pertanyaan Clark, lantas meneleng menatap Seth. "Kau tadi pergi ke TKP, kan?" Baru saja Seth mengernyit atas tebakan ini, Harry sudah menjelaskan panjang lebar, "Kau tidak mungkin begitu lama di hutan hanya untuk bicara dengan Brady. Dan kau juga tak mungkin meresikokan diri berkeliaran di hutan sendirian, ketika mungkin kau juga akan diserang…"

Patut diakui Harry cukup tajam. Kini tak ada alasan bagi Seth untuk tak mengaku.

"Benar," katanya.

"Lantas?"

"Lantas apa?"

"Jangan berputar-putar, Seth," ia tampak agak kesal karena ucapannya sebelumnya hanya dianggap angin lalu, atau terang-terangan berusaha dihindari. "Tadi aku sudah menyebutkannya. Soal luka di tubuh Jake. Kau pastinya bisa menyimpulkan sesuatu kan?"

Benar kata Brady. Bahkan walau ia tidak mengatakannya, tidak mungkin tidak ada anggota kawanan yang juga sampai pada kesimpulan itu.

Luka di tubuh Jacob bukan luka biasa. Luka cakaran. Dari ukurannya, dari bentuknya… Itu jelas bukan cakar vampir, tapi serigala. Lantas bekas pertempuran di tepi jurang… Jika Jacob tidak bunuh diri atau melukai dirinya sendiri, hanya ada satu kesimpulan.

"Ia memang diserang, tapi pelakunya bukan Sang Ibu…"

"Korra tidak ada hubungannya dengan ini," tukas Seth, sadar ke mana ucapan Harry menuju. Dari suaranya yang bergetar, ia tahu ia sendiri tidak yakin. Lekas dibuangnya jauh perasaan itu, dan kembali menegaskan, "Ia bersamaku. Aku berani bersumpah demi harga diriku."

Ia menekankan rahangnya begitu keras hingga bisa dirasanya asin itu di bagian dalam mulutnya. Matanya memandang tak hanya pada Harry, tapi juga seluruh kawanan. Dilihatnya sebagian dari mereka menelan ludah, sebagian lainnya tampak terperangah.

"Apa maksudmu Korra? Pasti yang Harry maksud adalah si Putih atau si Hitam...," kerung muncul di kening Clark.

"Meski ya, aku tak bisa bilang Korra sama sekali tak punya andil…" gumam Harry nyaris tak terdengar.

Tapi bicara di kelompok serigala, apalah yang bisa ia simpan untuk dirinya sendiri? Belum-belum, ia sudah dapat hardikan. Bukan dari Seth, melainkan dari Ben.

"Apa?" Harry memberanikan diri menentang sang Beta Pertama Tingkat Dua di hierarki baru kawanan. "Ia anak buah si Putih. Bisa saja kan, ia ingin menuntut tanggung jawab Jacob? Jika dulu saja ia sampai menuntut waktu Cole melukai Noah, apalagi sekarang? Mungkin saja Korra jadi pion si Putih untuk mengalihkan perhatian Seth…"

"Dan untuk apa ia melakukan itu?"

"Karena Seth Alfa dan seharusnya punya jadwal patroli malam ini, tentu… Jika ia tak ada di tempat, tak ada yang bisa berkomunikasi dengan Jacob…"

"Bicara apa kau? Jacob tidak desersi lantas membangun kawanan sendiri, Bodoh!"

"Lantas mengapa kita tak bisa mendengarnya?"

"Itu karena ia membuat tembok mental!"

"Kalau begitu mengapa ia tidak meminta tolong? Ia tahu kita patroli…"

"Itu karena ia tidak diserang!"

"Di sana ada bekas pertempuran, Ben!"

"Kau ini bicara apa? Itu bisa jadi bukan bekas pertempuran! Tanah bekas dilunyah bisa berarti apapun! Jacob ribut dengan dirinya sendiri, merasa bersalah, histeris, mencakar-cakar tubuhnya…" rupanya Ben masih bersikukuh dengan teori bahwa Jacob bunuh diri. Atau tepatnya, bahwa Jacob sudah terjangkit kegilaan Oddyseus.

"Kau yang menipu diri sendiri. Jelas dia diserang!"

"Aku sependapat dengan Harry," ucap Clark.

"Kapan sih kau tidak mengekor Harry? Lihat kenyataan, dong! Katakan, Pete!" ia melirik untuk meminta dukungan sahabatnya.

"Sayangnya, aku … setuju dengan Harry…," bisik Pete galau.

"Pete!" desis Ben dengan nada tak percaya.

"Maksudku, aku menganggap Jacob juga diserang … oleh gerombolan Sang Ibu," ralat Pete melihat atasan barunya sudah mau meledak.

"Tidak, pelaku penyerangan ini bukan gerombolan si Ibu, melainkan gerombolan Alfa Putih!" tekan Harry.

"Tidak ada bukti…"

"Bukti ada di mana saja jika kau mau melihatnya! Seluruh rentetan kejadian ini, waktunya terlalu bertepatan! Tidak ada kebetulan sesempurna ini! Sudah pasti Korra terlibat. Bahkan kini Brady tidak kembali…" ia menambahkan dengan satu tatapan maut yang membuat bulu roma Seth merinding.

"Seth bilang ia hanya kembali ke La Push untuk menjaga Collin."

"Tentu saja. Menjaga 'yang seharusnya menjadi Alfa sah'," Harry bahkan tidak tersenyum. "Dengan adanya kembali darah Black diincar, dan kekuasaan atas kawanan dipertaruhkan … atau diperebutkan, tepatnya, wajar jika Brady…"

"Apa yang ingin kaukatakan sebenarnya?" potong Ben. "Kau benar-benar curiga Korra akan tega turut andil dalam pembunuhan kakaknya? Bahkan tega menghabisi Brady untuk menutup mulutnya dan mengincar Collin juga? Untuk apa kaubilang? Kekuasaan? Demi Tuhan! Ia sahabat Brad dan Cole!"

"Aku tidak bilang begitu. Aku cuma bilang Korra itu pion…"

"Apa kalian anjing-anjing bodoh tak pernah bisa menilai secara realistis?" suara Ben meninggi kala ia menekankan, setengah marah, setengah putus asa. "Dengar ya, Korra itu korban! Jangan selalu pandang ia sebagai terdakwa!"

Harry diam, meski di sisinya, Clark kelihatan mengernyit. Jelas ia mempertimbangkan ucapan Harry. Meski Brady telah memperingatkannya soal ini, tak urung kala menghadapinya langsung, dan membayangkan kemungkinan itu, Seth merasa batinnya terkoyak.

Karena ya, itu mungkin. Dan jika itu benar, hanya ada dua yang mungkin melakukannya. Coret Noah, ia masih bocah untuk ukuran serigala, kekuatannya takkan mungkin menandingi Jacob. Tapi Phat? Alfa Thailand yang telah memiliki pengalaman satu abad. Atau lebih buruk lagi, Kuroi.

Tidak, Kuroi tak mungkin melakukannya. Ia seharusnya tahu jika itu terjadi. Sebagaimana dibuktikan di hutan waktu pencarian Collin, entah bagaimana ia bisa merasakan ke mana Kuroi melangkah. Apalagi jika sampai serigala itu bertarung dengan si mantan Alfa. Ia mungkin larut dalam emosi yang melandanya ketika bersama Korra, tapi manalah mungkin instingnya melewati yang seperti itu? Benar kan?

Tapi mungkin tidak. Di hutan tadi, ia tak bisa merasakan ketika Kuroi mendekat. Mungkin memang itu tanda bahwa ikatan mereka telah terputus sepenuhnya.

Kembali diingatnya ketika Kuroi mendatanginya di hutan. Gadis itu menuntutnya karena dipikirnya Seth akan menjadi duri dalam daging. Dibandingkannya sosok itu dengan sosok dingin yang menyiksa Ariana di gubuk. Kuroi akan melakukan apa yang menurutnya benar. Dia selalu mengesampingkan pertimbangan emosional. Patuh tanpa tanya pada apapun perintah Kierra.

Apakah Kierra memerintahkan Kuroi membunuh Jacob?

Brengsek. Mengapa urusan ini ada di saat seperti ini? Tidakkah mereka seharusnya fokus pada urusan Sang Ibu?

"Kuroi?" terdengar suara bingung Ben, yang seketika menghentak Seth.

"Apa?" tanyanya.

"Kau yang apa… Kenapa kau malah terus bergumam 'Kuroi Kuroi'. Apa maksudmu Kuroi Kanna? Ada apa dengan dia?"

Ia langsung menutup mulut. Apa secara tak sengaja ia mengeluarkan pikirannya tadi? Termasuk bagian yang berbahaya? Agak khawatir, dianalisanya ekspresi kawanan. Sedikit kelegaan muncul begitu ia melihat memang ada sedikit kebingungan, dan bersit curiga yang makin menjadi dari mata Harry. Tapi tak ada kemarahan. Sama sekali. Syukurlah.

Memang pengetahuan tentang kawanan Kierra hingga detik ini masih rahasia di kawanan. Dari sikap Korra yang terus memasang topeng 'anak buah Kierra' di depan kawanan, Seth tahu ia punya pertimbangan untuk tetap menutupinya. Sebagian dirinya menginginkan segalanya dijernihkan sebelum makin tumbuh ranjau-ranjau yang akan menghancurkan kawanan di kemudian hari. Namun sebagian dirinya yang lain justru berusaha memahami alasan-alasan Korra. Jelas, dengan kondisi sekarang, terungkapnya kebenaran hanya akan menimbulkan masalah baru bagi kawanan, lebih lagi bagi dirinya. Ia menjadi Alfa, Jacob jatuh tak lain tak bukan akibat Korra, tak kurang ia sendiri yang ikut andil dalam seluruh skema itu. Dan kini ia di gerbang pernikahan yang akan mengantarkannya sebagai Maharaja aliansi. Setelah mereka menikah, sudah jelas sebagai pasangannya, Korra akan memiliki kontrol atas kawanan. Bagaimanapun kenyataannya, ini terlihat seolah ia sengaja berkomplot dengan Kierra dan rela menjual kawanan, bahkan Jacob, demi kedudukan.

Bahkan Brady dan Kuroi pun menganggap begitu. Dan Seth tak bisa menyalahkan mereka. Saat ini pun, ia sudah merasa muak dengan dirinya sendiri.

Tapi apa yang harus dilakukan tetap harus dilakukan. Rasanya ia jadi mengerti ada di posisi Sam.

Dengan menekan perasaan bersalahnya, Seth menggeleng dan bergumam, "Tidak, maksudku si Hitam... Aku ... ingat waktu bertemu dengan Kierra di hutan saat kamping, Kierra meminta kita memanggil mereka dengan sebutan Ka'bat'lah dan Shi'pa atau Shironui dan Kuronui."

Ada kernyit ketidakpercayaan di wajah Ben namun kemudian segera hilang ketika ia tampak mempertimbangkan sesuatu dengan serius. "Hei, jangan-jangan...," ucapannya berhenti begitu saja, dan lantas ia tertawa sendiri. "Tidak, itu konyol."

Aneh sekali Ben tidak mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Biasanya ia lebih parah daripada Collin.

"Kenapa?" tanya Pete.

"Tidak... Tadi aku berpikir, jangan-jangan si Hitam itu Kuroi Kanna. Maksudku, namanya 'Kuroi'. Dia sahabat Korra, dan si serigala hitam itu jelas serigala asing."

Dari caranya bicara, jelas ia tidak tahu apa-apa. Jadi Brady benar-benar menepati kata-katanya dan tidak bicara apapun, heh?

"Hahaha, benar. Itu konyol," tawa Pete. "Kalau begitu sih, yang pantas memakai nama Black itu Sam."

"Eh, tapi dipikir-pikir, nama Kierra juga berarti 'hitam' kan? Padahal dia serigala putih... Nama kecilnya juga, siapa itu?"

"Tupkuk."

"Ya, Tupkuk. Itu Bahasa Makah, kan? Artinya juga 'hitam'. Dan dia Kepala Suku... Pasti menarik ya, kalau ternyata keluarga Black itu keturunannya..."

Jantung Seth serasa tercerabut.

"Oh, itu karena keluarga Black mengambil nama mereka dari Shi'pa, putri terakhir yang dirasuki Kierra," jelas Pete santai. "Mereka menuntut kembalinya takhta ke tangan mereka setelah berhasil menggulingkan Kaliso, kalau tak salah. Meski punya hubungan darah dengan inangnya, keluarga Black bukan keturunan Kierra."

"Shi'pa sendiri, siapa yang memberi nama?"

"Mungkin Kierra...," Pete agak merenung. "Dia kan memang mengincar para putri keturunan kepala suku. Ia mendidik mereka sebagai prajurit dan memilih yang paling kuat untuk dijadikan inang. Mungkin saja ia kelewat narsis hingga menamai salah satunya dengan arti namanya."

Pernyataan Pete membuat dahi Seth berkerut. "Lho, kau tahu dari mana?" tanyanya.

"Menebak."

Tidak aneh. Sudah bakat alami para Gossip Guys untuk mereka-reka detail tidak penting seperti itu. Tapi bahwa tebakan itu nyaris mendekati kebenaran ... mau tak mau Seth menelan ludah.

"Tapi si serigala putih dan hitam itu ... siapa mereka ya?" Ben agak menerawang. "Hei, Seth," tiba-tiba ia berpaling, yang langsung membuat Seth awas. Benar saja. "Kau kan pernah bersama mereka waktu mencari Cole. Masa kau tidak tahu siapa mereka?"

"Memang tidak. Mereka kelewat berhati-hati, sehingga tetap berada dalam wujud serigala. Mereka berhubungan denganku lewat Korra dan Noah," ia berbohong.

"Yah, sayang sekali...," gerutu Ben kecewa.

Seth membuang muka, berusaha tampak wajar sementara menekan perasaannya. Astaga. Berat rasanya menjadi Alfa kala ia harus mengkhianati kawanannya sendiri. Tapi ia sudah terikat. Ia hanya harus melakukan tugasnya hingga akhir. Saat itu terjadi, mungkin ia akan dikutuk. Seperti Sam, namanya akan tercemar selamanya. Tak masalah. Ia sudah rela untuk menanggalkan semua citra baiknya.

Kembali diingatnya pembicaraannya dengan Korra sebelumnya. Korra mengatakan Seth belum menjadi Alfa yang benar-benar sah karena Jacob dan Cole masih hidup. Kelihatannya ia tak bisa begitu saja kembali ke kawanan Quileute guna mendapatkan kembali hak Black-nya, sehingga ia baru bisa memiliki kekuasaan sebagai pasangan Alfa jika Seth jadi Alfa. Dengan menimbang Sang Ibu mungkin adalah putri Kierra, bahkan walau ia menyatakan tidak mencampuradukkan perasaan pribadi, mungkin saja ia memang ingin menghancurkan marga Black.

Ya, kematian Jacob akan baik bagi kawanan mereka.

Seandainya memang benar Kuroi yang membunuh Jacob…

Seandainya Kierra memang merencanakan seluruh skema ini untuk mengambil alih kawanan…

Jika seluruh kawanan ada di tangan Kierra, akan lebih mudah baginya untuk mengendalikan semua. Mengatasi Sang Ibu pun jadi persoalan kecil. Atau mungkin malah ia mengikuti saran Carlisle untuk berdamai dengan putrinya sendiri, dan berusaha meredam apapun skema balas dendam antara Sang Ibu dan keluarga Black, serta kemarahan kawanan, dengan merengkuh semuanya dalam satu wadah.

Bahkan dengan itu, ia bisa mengembalikan kekuasaannya di suku ini…

Selanjutnya tinggal Collin. Perkara mudah dengan menimbang kondisi Collin yang nyaris tanpa daya sekarang. Ia menikahi Seth, dan segalanya beres.

Oh, kalau begitu memang urusan Jacob yang terusir adalah skema Kierra. Toh memang nyatanya anak-anaknya takkan bisa dilahirkan, kan? Mereka sudah nyaris mati di dalam kandungan, tak bisa tumbuh, demikian kata Korra. Janin itu tidak kompatibel dengan tubuhnya. Tidak cocok. Mengapa tak sekalian saja menggunakan mereka demi kepentingannya?

Brengsek.

Seth tak tahan lagi. Lekas ia mengeluarkan ponselnya, mengirim sms, lantas bangkit.

"Mau ke mana, Seth?" tanya Clark, menghalangi jalannya.

"Pulang ke rumah Black. Harus ada yang mengatakan ini pada Billy."

"Kami sudah mengatakan padanya…"

"Tapi tidak dari keluarganya sendiri. Ia pasti terpukul. Aku yakin ia butuh bersama Korra sekarang."

"Tapi…"

"Apa kau mau bilang bahwa aku dan Korra menjadi tahanan hingga tersangka pelaku penyerangan terhadap Jacob diketahui?"

"Eh? Apa? Tidak…"

"Kalau begitu minggir."

"Tapi…," kali ini Pete bangkit dan ikut menghalangi. "Jika kau dan Korra diserang juga…"

"Aku bisa menjaga diri." Jika memang kemungkinan itu benar, ia bahkan tak perlu takut pada apapun.

"Tapi kau dan Korra tanggung jawab kami, Seth," ujar Ben. "Kau sudah bilang tak mau meresikokan siapapun memasuki tanah Quileute. Kami… Tunggu, apa itu?"

Tak hanya perhatian Ben, tapi juga kawanan, yang teralihkan demi mereka merasakan sesuatu yang lain. Begitu mendadak. Bau yang berbeda, kehadiran sesuatu yang berbeda. Bau manis bercampur bau serigala…

Hibrida.

Dan bukan sembarang hibrida.

Hibrida Quileute, sudah jelas.

.


.

Kegundahan melanda Brady kala dilarikannya kakinya menembus hutan menuju kediaman keluarga Littlesea. Beribu pikiran dan kemungkinan berkecamuk, nyaris seluruhnya berbalut ketakutan.

Dengan adanya Jacob jatuh dan kawanan berkumpul di rumah Cullen, pertahanan suku nol besar. Memang ia sendiri yang meminta Embry mengosongkan hutan untuk bicara berdua dengan Seth. Tapi sesudah itu pun, kawanan tak juga kembali. Ia mengerti jika Seth masih berpegangan pada teori kosong bahwa Kierra tak mungkin menjadi dalang di balik serangan ini—yang berarti hanya menyisakan satu tersangka, yakni Sang Ibu dengan motif balas dendamnya—dan melarang semua Black patroli untuk mencegah jatuhnya korban baru, sedangkan mereka yang tidak berdarah Black seperti Caleb dan Adam harus bertugas di meja operasi. Tapi apa yang dilakukan Clark dan Harry di sana? Apa mereka terlalu pengecut untuk berjaga sendirian?

Atau mereka tidak peduli jika satu lagi serangan terjadi pada satu calon korban yang sudah jelas? Ya, sudah bukan rahasia bahwa duet serigala skeptis itu tidak akur dengan Geng Gosip. Jika mereka tempo lalu begitu membenci Collin karena menjadi penyebab langsung insiden jurang, adakah alasan mereka tidak merasa lebih baik Collin mati saja? Jika timbunan batu di dasar jurang tak mampu membunuhnya, tidakkah mereka merasa lebih baik Cole dibantai oleh siapapun musuh mereka—entah Kierra atau Sang Ibu?

Apapun alasannya, ia masih tak mengerti mengapa mereka membiarkan hutan tak dijaga. Semua ini belum selesai dengan tumbangnya Jacob. Siapapun pelaku penyerangan itu, sudah jelas Collin adalah target kedua. Jika Kierra berada di balik semua, dengan tunduknya Seth, Collin adalah satu-satunya halangan baginya untuk melakukan klaim penuh. Sedangkan jika dalang serangan adalah Sang Ibu, katakan saja memang ia menginginkan pemusnahan total.

Ya, setiap saat Kierra bisa saja mengutus si Hitam atau si Emas, atau bisa saja mendadak sepasukan lintah nekad menyerbu rumah Littlesea. Siapapun tahu akan seperti apa hasilnya nanti. Dengan keadaan sekarang, jangan kata membela diri, untuk berubah pun Collin tak mampu.

Collin sendirian di sana. Tanpa perlindungan. Tanpa bisa melindungi diri.

Bel rumah bercat biru itu berdering panjang tanpa ada yang menjawab, membuat tingkat was-was di dada Brady melonjak ke titik tertinggi. Nyaris saja ia akan mengitari rumah, berusaha mengendus bau Collin, ketika akhirnya terdengar suara langkah tertatih-tatih menuju pintu depan, diiringi bunyi kayu beradu dengan lantai dan suara seperti sesuatu diseret dengan susah payah.

Pintu terbuka dan sosok Collin tampak di ambang pintu. Tidak ada pipi yang bersemu merah dan mata yang berkilat-kilat penuh semangat. Tidak ada seruan ceria menyambut kedatangannya. Yang ada hanyalah wajah kuyu yang dilihat Brady dalam beberapa minggu ini. Mata yang begitu suram. Nyaris tanpa kehidupan.

Selalu, setiap kali melihat Collin, Brady merasa dadanya teriris. Biasanya Cole selalu gesit, tak pernah sedetik pun mau diam. Dari sananya dia anak yang aktif, hanya bisa tahan duduk lama kalau sedang konsentrasi dengan keramik atau rajutannya. Sekarang ia terkurung di rumah, tak bisa kemana-mana sendiri, bahkan untuk bergerak pun harus tergantung pada alat bantu.

Namun kali ini ada yang berbeda. Collin tampak lebih rapi ketimbang biasanya. Ia memakai jeans, bukan celana piyama katun atau celana selutut yang biasa dipakainya di dalam rumah. Ia juga memakai kemeja, padahal biasanya ia tidur telanjang dada. Anehnya lagi, kemeja itu tidak kusut. Syal hijau yang sudah beberapa hari bertengger di lehernya tertata apik. Ia bahkan menyisir rambut.

"Kau mau pergi?" kerung Brady, begitu melongok ke dalam dan dilihatnya tas besar sudah teronggok di pojok ruangan, dekat sofa.

Collin tak menjawab, hanya bergeser memberikan ruang bagi Brady untuk masuk. Tertatih, ia bergerak menuju sofa. Mendudukkan dirinya lantas meluruskan kaki dan punggung. Ketika menyusulnya, Brady sempat menangkap buku telepon terbuka di meja pojok, menampakkan halaman layanan pemesanan taksi.

Rupanya memang ia hendak pergi.

"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Brady lagi.

Memang sudah beberapa hari ini Collin dinyatakan boleh berjalan, meski masih harus ditopang kruk. Namun tulang punggungnya tidak bisa tegak dan masih memakai penyangga setelah hancur dalam kejadian di jurang. Jelas terlalu lama berdiri masih merupakan siksaan baginya.

Jadi mana mungkin dengan kondisi itu, Collin bisa meninggalkan rumah?

"Cole?" desak Brady, mengambil tempat di sisi Collin.

Membiarkan pertanyaan itu tergantung, Collin justru menanyakan hal lain. "Korra akan menikah, kan? Bulan depan?"

Ia tak tahu bagaimana harus bereaksi.

"Tak perlu disembunyikan, Brad," gumam Collin dengan seiris senyum sendu. "Aku dengar dari Ben waktu ia mengembalikan DVD kemarin."

Mulut Ben memang harus dipasangi retsluiting. Sudah berapa kali Brady menekankan untuk menyembunyikan hal ini dari Collin? Setidaknya menunggu kondisi fisik dan psikologisnya kembali normal.

Brady tak sampai hati untuk menjawab. Lebih dari apapun, ia bisa memahami ada di posisi Collin kini—oh, ia pernah ada di sana, ia tahu rasanya disakiti. Jika ia Collin, sudah pasti ia ingin pergi sejauh-jauhnya, tak pernah lagi kembali ke La Push.

Jadi dibentangkannya lengannya, menawarkan bahunya. Collin lebih tinggi sekitar 15 cm daripada Brady, perawakannya lebih tegap dan jika poninya tidak dipanjangkan, wajahnya yang bergaris tegas akan membuatnya tampak jauh lebih garang. Biasanya ia selalu tegar dan tak pernah menunjukkan kelemahan di hadapan siapapun, tidak terkecuali di depan Brady. Tapi kali itu, rasanya Collin kembali menjadi Collin tujuh tahun lalu, adik bungsu kawanan. Dan ia kembali menjadi tak hanya sahabat atau pengikut Collin, tetapi juga kakak dan penjaganya. Seperti dulu kala ia berusaha menyabarkan Collin yang menangis karena Jacob meninggalkannya dan Sam bersikap keras padanya, kali itu juga ia memberi apa yang dibutuhkan Collin: kehangatan.

"Waktu akan menyembuhkan segalanya," ucapnya penuh pengertian. "Kelak kau akan menemukannya, seseorang yang ditakdirkan untukmu…"

"Tentu," sambut Collin. "Aku tahu apa yang digariskan takdir untukku."

Meski ada kejanggalan dalam kalimat itu, tak bisa tidak Brady menangkap kepedihan di sana. Itu hanya membuatnya makin mempererat pelukannya, seakan ia sendiri yang merasakan perih itu.

Mereka berkubang dalam kebekuan yang panjang. Sebelum lantas Collin berujar, pelan bagai berbisik, "Karena itulah, aku harus pergi, Brady…"

"Aku mengerti," disandarkannya kepalanya pada kepala Collin, sementara tangannya menepuk-nepuk bahu pemuda itu. "Tapi ini bukan waktu yang tepat. La Push memang berbahaya, tetapi jauh lebih berbahaya jika kau sendiri di luar sana. Setidaknya di sini kau punya kawanan."

"Justru itu masalahnya. Mereka bukan kawananku, tapi kawanan Seth."

"Mengapa kaubilang 'kawanan Seth'? Kami sahabatmu, Cole. Apa kau tidak percaya pada kami lagi?"

Pemuda itu menggeleng. "Aku tak meragukan persahabatan kalian," tuturnya. "Hanya saja, kau tahu, loyalitas dan keberpihakan kadang tak memandang urusan persahabatan…"

"Apa maksudmu?"

Collin mengangkat kepala. Ada keseriusan di matanya kala bertanya, "Jika saatnya tiba, siapa yang akan kalian pilih? Aku atau Seth?"

"Kau atau Seth?"

"Kau tahu, jika kami harus membentuk kawanan terpisah."

"Membentuk kawanan terpisah?" ia tak yakin ia mendengar dengan benar.

"Jika Jacob tidak bangun lagi, apa kalian akan tetap memberikan mandat pada Seth? Apa kalian akan membiarkan aku memimpin, atau membiarkan aku pergi? Karena dengan kondisi ini, aku tak bisa berada di posisi manapun di bawah Seth."

Bukan isi pertanyaan Collin yang merisaukan Brady, melainkan detail lain.

Takut-takut ia mengangkat suara. "Apa Ben mengatakan padamu soal Jacob?"

Kapan?

"Tidak. Tapi aku tahu yang terjadi."

"Kau … tahu?"

Bagaimana?

Collin terperangkap di rumah ini sejak insiden Korra. Ia hanya tahu Jacob pergi. Kadang anggota Gossip Guys atau Caleb datang, entah untuk menghibur atau memeriksa kondisi kesehatan Collin. Tapi mereka selalu menutup-nutupi segala perkembangan soal kondisi Korra dan Jacob. Apalagi soal jatuhnya Jacob. Oh, demi Tuhan, itu baru terjadi beberapa jam lalu! Brady adalah anggota kawanan pertama yang datang menemuinya. Bagaimana bisa Collin mengetahui hal ini?

Collin tidak menjawab, justru mengembalikan permasalahan ke topik awal.

"Kalian telah mengangkat Seth menjadi Alfa tanpa melalui izin Jacob maupun aku. Bagaimana jika aku menuntut hakku?"

Rasanya Brady terlempar ke dunia lain. Ia seakan menghadapi seseorang yang lain, seseorang yang bukan-Collin. Sejak kapan Collin hendak menuntut kedudukan?

Tapi mungkin ini wajar. Seth bagaimanapun telah merebut gadisnya. Meski kemarin-kemarin ia telah mengatakan bahwa ia akan berusaha merelakan Korra, siapapun tahu kata-kata Collin tidak keluar dari dasar hatinya. Dengan perkembangan situasi sekarang, sangat mungkin Collin telah merasakan beban Alfa jatuh di pundaknya. Serigala adalah hewan yang sangat teritorial, lebih lagi seorang Alfa. Boleh jadi serigala dalam dirinya hendak meneguhkan harga diri di mata kawanan dan menegaskan batas-batas teritorial, dengan menjatuhkan Seth yang dianggapnya sebagai penghalang dan perampas tak hanya pasangan, tetapi juga kedudukannya.

Sedikit kengerian menyelusup di benak Brady. "Apa kau … hendak menantang Seth?" ucapnya nanar.

"Dengan keadaan seperti ini?" Collin terkekeh masam, menunjuk dirinya. "Aku jelas takkan punya kesempatan. Seth akan mudah mencari cara untuk membalas dendam atas perlakuanku di dasar jurang. Jika ia tak mencincangku dan meminum darahku seperti seharusnya, sangat mungkin ia akan mengusirku."

Jika dalam keadaan normal, Brady mungkin akan menganggap ucapan itu aneh. Seth tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi sekarang ia tidak yakin apa yang harus ia percaya. Seth jelas bukan Seth yang ia kenal. Ia orang lain. Entah ia sukarela menjadi boneka yang digerakkan, begitu bodoh untuk menilai kebenaran, atau sudah dirasuki sehingga matanya terbutakan. Brady tak tahu lagi.

Collin mengalihkan tatapannya dari Brady. Matanya tidak terfokus sementara jemarinya melilit-lilit ujung syal. "Katakan, Brady," katanya kemudian. "Apa benar Korra adalah Alfa Putih?"

Lagi-lagi, bisakah ia menjawab? Namun diamnya Brady nyaris merupakan konfirmasi. Collin mendengus. Gurat senyum sendu kembali tampak di wajahnya, sebelum ia bangkit dari pelukan Brady, menarik kruk dan memaksa kakinya terseok-seok melangkah ke jendela.

"Kau tahu apa arti pernikahan ini bagi kawanan, ya kan Brady?"

Dalam diam Brady mengangguk.

Jujur saja, Brady heran dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Collin dari tadi. Tapi ia bahkan tak dapat memproduksi kesangsian apapun. Benaknya terlalu dipenuhi satu pertanyaan: apa sebenarnya motif Kierra?

Sudah jelas urusan pernikahan ini tidak semata didasarkan pada cinta, tetapi kepentingan politik. Kierra membutuhkan status untuk kembali ke kawanan Quileute. Entah apa yang menghalanginya untuk melakukan klaim penuh dengan cara mudah, yakni membunuh Jacob dan Collin, dan malah memilih cara yang sulit seperti ini. Entah apa juga yang membuatnya memilih Seth, karena kalau ia memilih Collin, segalanya jadi lebih mudah. Collin Putra Mahkota. Jika Jacob tidak tewas pun, sudah dipastikan ia akan pergi, dan jika Kierra cukup licin, ia bisa dengan lancar memperdaya Collin guna menjadikan dirinya pasangan Alfa baru. Toh Collin sudah jatuh kaki di kepala, kepala di kaki, di hadapan inangnya.

Apakah Seth memiliki sesuatu yang lain? Sesuatu yang membuatnya lebih unggul daripada Collin? Apakah Korra takut dengan kutukan incest? Atau, mungkinkah ia memang benar-benar mencintai Seth?

Dengan segenap hati sejujurnya Brady ingin mempercayai alasan terakhir. Ia adalah yang paling awal menyadari hubungan Korra dan Seth, jauh sebelum anggota kawanan yang lain. Ialah yang tak sengaja menangkap pikiran Jacob dan Seth yang alpa mereka tutupi, dan ia pula yang sempat memergoki langsung Korra dan Seth bertengkar lantas berciuman di bawah pohon pada acara api unggun, tersembunyi dari yang lain. Jika ia Ben, mungkin rahasia ini akan menyebar lebih awal di kawanan, tapi meski anggota Geng Gosip, ia bukan Ben. Sejak awal memang ia pandai menudungi pikiran. Akan tetapi, berbeda dari Seth, nyaris tak ada yang peduli atau tahu bakatnya itu. Ini untungnya jadi anggota paling pendiam dari geng paling ribut di kawanan. Brady tak punya identitas sendiri. Ia nyaris selalu ada di latar belakang, hanya dipandang dalam statusnya sebagai 'pengikut Collin'. Kedudukannya dalam hierarki pun terbilang menengah, bahkan ia hanya punya satu anak buah yang sudah lama ia abaikan. Jika ia bisa menutup-nutupi urusan Roxanne bahkan dari Collin, manalah mungkin ia tak bisa menutupi urusan Korra?

Tapi Brady punya agenda sekaligus motif tersendiri dalam hal ini. Bukan karena ingin melindungi Seth dari amarah Jacob, melainkan ingin melindungi Collin dari rasa sakit hati. Ia tak ingin Collin merasakan apa yang pernah ia rasakan. Ia ingin memberi pengertian perlahan, sehingga Collin dapat berbesar hati menerima, menyadari tak ada gunanya memendam cinta pada sang sepupu. Syukur-syukur jika ia jatuh cinta, atau malah mengimprint orang lain.

Sayangnya, imprint yang ia harapkan menjadi jalan keluar bagi Collin justru datang pada orang yang sama sekali tidak ia harapkan—Seth. Tidak, seharusnya ia bisa menduganya. Mana ada ceritanya Seth bisa langsung jatuh cinta pada serigala tak dikenal dengan hanya melihat bayangannya sekilas—terlepas dari urusan gosip konyol Ben—jika bukan ia merasakan tarikan itu? Jacob sudah mengatakan bagaimana ia merasakan tarikan pada Nessie, bahkan ketika Nessie masih ada di dalam kandungan. Urusan tatapan mata itu hanya syarat yang memastikan imprint itu tersegel. Jika ini urusan belahan jiwa, sudah jelas takdir mereka saling terkait. Tinggal tunggu waktu.

Tak mungkin Kierra tidak tahu ini. Apapun yang ia usahakan untuk menghentikan takdir, bahkan mencegah Seth bertemu Kuroi, hanya akan berbuntut kegagalan. Korra sudah jelas bertarung di pertempuran yang tak bisa ia menangkan.

Lantas mengapa ia begitu bersikukuh mempertahankan Seth? Atau Seth yang begitu memaksa?

Ia tahu Korra dan Seth selalu bertengkar, terutama belakangan, tapi Seth terus berusaha bertahan. Menyangkut Seth, ia bisa mengerti setidaknya tiga alasan. Satu, moral. Cinta atau ketertarikan urusan belakangan. Ini masalah tanggung jawab. Ia telah salah melangkah dengan mendekati Korra, bergerak terlalu jauh malah. Lantas begitu tahu kenyataan, apa mungkin ia langsung mundur dan mengejar serigala impiannya? Tidak, itu sangat tidak-Seth. Dua, harga diri. Seth tidak pernah memandang imprint sebagai hal romantis, sekali pun tidak. Ia menganggapnya kutukan. Dengan adanya imprint menghancurkan kakak yang sangat ia sayangi, dua kali, jelas ia tak mau mengikuti jejak para serigala yang begitu mudah menyerah begitu vonis imprint jatuh. Dan tiga—oh, Brady enggan memikirkan ini, sama saja ia memandang Seth sebagai pemuda oportunis brengsek—adalah karena Seth tahu, posisinya sebagai pasangan Kierra adalah posisi yang sangat strategis. Menjadi pasangan Kuroi hanya menempatkannya pada posisi sulit, nyaris tanpa keuntungan apapun. Tapi menjadi pasangan Maharani? Bayangkan saja.

Bicara soal imprint, mungkin inilah alasan Kierra begitu memaksa bertunangan di saat seperti ini. Omong kosong itu keinginan Korra, sudah jelas Kierra adalah yang paling diuntungkan dengan pernikahan ini—dengan atau tanpa dasar cinta. Hanya ikatan pernikahan satu-satunya peluang untuk memutus imprint secara permanen, sekaligus menjadikan dirinya pasangan Alfa secara sah. Lantas ia bisa menjadikan Seth miliknya, sekaligus melandaikan jalan menuju tampuk pimpinan suku ini. Ia tak heran jika kelak, Kierra akan menyingkirkan Seth dengan suatu cara, lantas melenggang menuju kursi puncak. Tanpa berbagi dengan siapapun. Seperti dahulu.

Apa betul? Benarkah hanya dengan mengucapkan janji pernikahan, Seth bisa memutus imprint sepenuhnya? Apa memang imprint takkan memiliki pengaruh pada serigala yang telah menikah?

Kini kala ia berusaha melihat motivasi Kierra, rasanya Brady bisa memikirkan satu alasan lain. Korra adalah inang yang langka, ia memiliki darah Black murni. Dan ya, Seth memiliki satu kelebihan dibandingkan Collin. Ia memiliki darah tiga keluarga. Bayangkan betapa hebatnya keturunan mereka—jika memang mereka bisa menghasilkan anak. Mereka bisa menyediakan calon inang yang sangat menggiurkan bagi Kierra, dari segi darah maupun kekuatan. Tak hanya jiwanya, darahnya pun akan abadi. Tidak pun, ia bisa menancapkan pengaruhnya atas suku ini, membangun sebuah dinasti. Bukan tak mungkin ia ingin menggunakan suku ini demi menaklukkan dunia.

Jika benar itu motif Kierra, sesungguhnya ia cukup membiarkan saja Seth dan Kuroi bersama, lantas menunggu putra mereka cukup umur. Toh sebagai serigala, ia takkan menua. Atau mencari anak lain yang memiliki darah Clearwater—anak Leah, misalnya, itu kalau memang ada keajaiban dan ia bisa punya anak, di manapun ia berada kini. Namun ada satu masalah. Korra tidak cocok baginya, demikian menurut Seth. Satu saat Korra akan mati. Artinya ia tak punya banyak waktu, apalagi untuk bertaruh demi sesuatu yang belum tentu akan ada.

Jika ia begitu terburu-buru, apakah itu artinya ia sadar masa hidup Korra takkan lama?

Bayangan Korra yang harus ditinggalkan Kierra dalam jangka waktu dekat membuatnya miris. Korra sahabatnya walau bagaimanapun, setidaknya pernah menjadi sahabatnya. Dan tentunya, kehilangan Korra akan membuat Collin sedih. Ia tak pernah ingin Collin bersedih.

Tapi dibandingkan hal itu, ada sesuatu yang lebih merisaukannya.

Bagaimanapun, pemikiran bahwa Kierra mengincar posisi Alfa ini mengerikan, memang. Karena dua hal.

Satu, Kierra-lah yang paling mungkin ada di balik serangan atas Jacob.

Dua, Kierra pasti akan menyingkirkan Collin. Cole hidup artinya kedudukan Seth masih bisa digugat. Tak ada gunanya ia menjadi pasangan Seth jika Seth bukan Alfa tunggal dengan hierarki darah tertinggi.

Collin benar. Ia tak boleh ada di sini. La Push adalah tempat paling tak aman di seluruh dunia.

Tanpa sadar, kakinya membawanya mendekati Collin.

"Aku akan mendukungmu apapun yang terjadi," ucapnya tanpa ragu. "Aku akan mengikutimu, mendampingimu, melindungimu. Dengan taruhan apapun."

Pemuda itu berbalik, menatap matanya. Ada sirat tajam yang aneh, seakan ia berusaha menilai. Menembus jauh ke dalam jiwa Brady.

"Bahkan jika aku melepaskan diri dan pergi dari sini? Kau akan menjadi serigala terasing, Brady…"

"Aku tidak akan terasing jika bersamamu. Kita bisa membentuk kawanan nomad. Kierra membuktikan, kita tak benar-benar butuh tanah selama kita punya kawanan."

"Bukankah itu artinya kau mengkhianati Seth? Kau bukan Black, Brady. Jika kau mengikutiku, kau bisa dianggap desersi. Tanah ini takkan menerimamu lagi."

"Seth tidak pernah menjadi Alfaku," ujar Brady. "Tidak Sam, tidak juga Jacob. Sejak awal pun, Alfaku adalah kau. Sudah kewajibanku untuk mengikuti rajaku."

"Bahkan ke Neraka sekalipun?"

"Jika kau menginginkan tubuhku sebagai sampan agar kau bisa menyeberangi lautan darah, atau sebagai pijakan agar kau bisa mendaki tebing paku tajam, Cole, pasti akan kuberikan."

Ia bisa merasakannya, kala ia mengatakan itu, seketika beban yang sangat berat menekan dadanya. Sakit terramat sangat mencengkeram dadanya, tapi pada saat bersamaan ia merasakan sesuatu yang aneh. Seakan dadanya disayat dan dibelek, sementara jantungnya dikeluarkan, dilempar ke wajahnya dalam keadaan masih berdenyut. Ia merasa hampa. Tak berdetak.

Collin melangkah mendekatinya, menarik Brady ke pelukannya. Kali itu, posisi mereka terbalik. Karena Collin-lah yang mengusap punggung Brady, seakan berkata segalanya akan baik-baik saja.

"Kita akan pergi sebelum fajar," janjinya. "Rasa sakit itu akan lenyap segera begitu kita melangkah keluar dari tanah ini."

Itu berarti ia tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal. Pada ayahnya. Pada Ginny. Selamanya ia takkan bisa menginjak tanah ini lagi, takkan bisa bertemu mereka yang ia sayangi…

Memang selalu ada harga untuk apapun. Selama Collin aman, ia akan rela membuang segalanya.

Seolah tahu kegundahan hatinya, Collin kembali mengusap punggung Brady. Membuat jejak lingkaran-lingkaran kecil nan menenteramkan.

"Jangan khawatir," bisiknya. "Kita akan kembali. Ketika waktunya tepat, aku akan merebut kembali apa yang menjadi hakku."

Dan menunaikan sumpah…

.


.

Seisi kawanan dicekam ketegangan ketika menangkap keberadaan makhluk tak diundang, tepat di depan hidung mereka.

Ada hibrida menerobos rumah vampir, di bawah penjagaan serigala?

Sial.

Ben sudah hampir meledak ketika Seth justru mengangkat tangan menyuruhnya tenang. Dari aromanya, dan dari getar kekuatan yang mereka rasakan, makhluk itu jelas bukan sembarang hibrida.

Dan hanya ada satu yang mampir di kepalanya.

Sang Ibu.

Dengan sigap ia memberi kode memerintahkan kawanan keluar dan berpencar. Mengepung rumah itu. Ben dan Pete segera mengambil arah utara dan timur, sementara Clark dan Harry mengambil arah barat dan selatan. Sedang ia?

Jika ada musuh memasuki wilayah mereka, menudungi keberadaannya lantas membuka selubung tepat di depan hidung mereka, lebih lagi jika dilakukan tak lain oleh sang jenderal sendiri, itu hanya berarti satu.

Ini bukan peristiwa musuh melanggar teritori. Ini pasti disengaja.

Mereka menginginkan kontak.

Kepala untuk kepala. Jenderal hanya bisa dihadapi oleh Jenderal juga.

Diliriknya kamar tempat operasi Jacob berlangsung. Sudah pasti Carlisle juga merasakan ini, tetapi ia tak mungkin meninggalkan Jacob di titik ini. Kierra tak ada. Begitu pula Jasper. Artinya hanya ia yang bisa menghadapi.

Ia berusaha menajamkan inderanya. Bau itu kian pekat, berasal dari lantai atas. Ia menarik napas, sementara menapaki tangga satu-satu. Sama sekali tidak terburu-buru. Tenang, penuh kendali.

Sekejap kemudian inderanya menangkap suara lain. Gesekan biola. Gelombang nada-nada lembut menghiasi udara. Lirih, anggun…

Nada yang pernah ditangkapnya. Sering, malah.

Nada yang acap mengalir dari denting-denting piano Edward.

Nada yang kerap mengalun dari gesekan dawai biola Carlisle.

Nada yang adakalanya mengalir dari senar-senar harpa Renesmee.

Nada yang sekali tempo pernah didengarnya dari petik gitar Jasper.

Nada yang kadang digumamkan Alice atau Esme.

Itu bukan lagu Tchaikovsky atau Mozart atau Beethoven atau Vivaldi atau Bach atau siapapun nama yang selalu didengung-dengungkan para vampir pecinta musik klasik itu. Carlisle bilang itu ciptaannya sendiri, nada yang ia buat untuk mengenang seseorang yang sudah tewas di masa lalu. Nada melankolis yang tak hanya mengingatkannya pada kematian, tetapi juga pada masa-masa indah yang sudah lama hilang. Nada yang mengingatkannya pada kehidupan.

Bagaimana mungkin … nada itu … kembali muncul kini?

Debar jantungnya meningkat kala kakinya membawanya ke asal suara. Ruang kerja Carlisle. Meneguhkan diri, disingkapnya daun pintu besar bergaya Baroque yang menutupi ruangan besar itu. Siluet seseorang membelakanginya di ambang jendela yang terbuka. Cahaya bulan yang pucat nyaris membuatnya tak bisa mengenali apapun, ditambah tirai putih yang melambai-lambai menutupi sebagian pandangan, tapi bisa dilihatnya sosok itu. Perempuan. Rambutnya hitam dan panjang, melayang tertiup angin malam.

"Selamat malam," sapanya di ambang pintu, menahan diri untuk tak lantas berubah dan menerjang sang musuh. Bukan hanya karena alasan etis—tidak ada yang boleh menyerang lawan kala sang lawan mungkin menunjukkan kehendak untuk berunding—atau karena ia takut merusak ruang kerja Carlisle. Lebih dari itu, ia merasa tak yakin bisa menang. "Maaf jika aku kurang sopan," lanjutnya. "Apakah kau Sang Ibu?"

Wanita itu tidak menjawab, terus saja menggesek dawai biola. Nada yang mengalun begitu indah, murni bak aliran air. Bak angin membawanya terbang tinggi. Sayup sepoi seirama gesekan ujung-ujung dedaunan…

Tidak. Ia tak boleh larut.

"Apa yang kaulakukan di sini?" terdengar suara itu di tengah alunan biola. Lembut. Manis.

Ia tak pernah melihat jelas sosok Sang Ibu sebelumnya. Ia tak ikut pertempuran di jurang sehingga bayangan tentang Sang Ibu hanya didapatnya dari Ben dkk. Sewaktu mencari Collin, mereka hanya berhadapan dengan Ariana dan anak buahnya, sedangkan Sang Ibu sama sekali tak muncul. Di bayangannya, yang disebut Sang Ibu tentunya wanita paruh baya dengan raut wajah berwibawa yang sudah dimakan usia. Tetapi tidak. Dari sosoknya, dan suaranya, ia seperti berusia … berapa? 20-an? 30-an? Takkan lebih dari 35…

Tapi ia hibrida. Tentu saja ia takkan menua.

"Bukankah itu yang seharusnya kutanyakan?" jawabnya tenang. "Apa yang kalian lakukan di rumah ini? Tidak. Apa yang kalian lakukan di tanah kami?"

Mengapa ia menanyakan itu? Bukankah jawabannya sudah jelas? 'Membalas dendam pada marga Black'. Tapi entah mengapa seakan instingnya merasakan sesuatu yang lain. Lebih dalam dari sekadar dendam…

Dilihatnya sosok itu tertawa bergemerincing.

"Tanah kalian? Aneh sekali. Apa perjanjian telah berubah? Kupikir tanah ini bukan milik kalian lagi sejak Clakishka membagi wilayah?"

'Clakishka'? Sayangnya ia tak sehebat Brady dalam sejarah, atau sepeduli Collin dalam silsilah suku, sehingga tak bisa langsung menangkap siapa itu. Tapi 'membagi wilayah'? Apa maksudnya perjanjian bangsa Quileute dengan bangsa kulit putih? Atau perjanjian Ephraim dengan keluarga Cullen nyaris seabad setelahnya? Mengapa ia mengungkitnya?

Ia memutuskan mengangkat topik yang lebih umum. "Perjanjian teritorial dengan bangsa kulit putih hanya berlaku pada tataran resmi," ujarnya, merujuk pada Treaty of Olympia, pakta resmi yang ditandatangani suku-suku Semenanjung Olympic pada pertengahan abad ke-19. Bagaimanapun ia harus berhati-hati. Tak semua vampir dan hibrida layak tahu tentang pembagian teritorial di wilayah ini. "Secara adat tanah ini adalah…"

"Milikku," potongnya dengan nada pasti yang membuat Seth tergagap.

"Mi, milikmu?"

Mengapa ia mengklaim teritori vampir sebagai tanahnya?

Belum lagi ia bertanya lebih jauh, terdengar lesatan gerak di udara dan lantas sosok lain muncul di belakangnya. Tak perlu menoleh pun ia sudah tahu siapa itu. Carlisle.

Si dokter vampir maju lamat-lamat, mengambil alih posisi pemimpin, dan Seth membiarkannya. Ia mungkin Alfa, tapi bukankah Kierra sendiri yang telah memberi wewenang pada Carlisle untuk melakukan perundingan dengan Sang Ibu? Dan Carlisle jelas jauh lebih matang, lebih berpengalaman. Lebih tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi kali ini, tak urung Seth menangkap keganjilan dalam tindak-tanduk Carlisle. Dari penampilannya, ia tampak seakan memaksakan diri mundur dari meja operasi dengan terburu-buru. Terlihat dari sekilas noda darah di ujung lengan kemejanya yang digulung, tanda ia hanya mencopot jubah operasi dan sarung tangan tanpa mengganti pakaiannya. Terlalu riskan jika menimbang ia menerima kedatangan seekor hibrida yang jelas bertanggung jawab atas pemangsaan besar-besaran di Semenanjung Olympic dalam beberapa bulan terakhir. Belum lagi artinya ia mengabaikan Jacob, meninggalkannya dalam kondisi kritis di tangan para dokter amatir.

Apa artinya Jacob sudah selesai ditangani?

Atau malah … ia tak punya harapan?

Lekas dibuangnya pikiran itu. Carlisle takkan meninggalkan kewajibannya, ia yakin, apapun alasannya, bahkan jika ia menanti-nanti kesempatan langka bertemu hibrida ini sekalipun. Nyawa pasti lebih penting. Jika ia meninggalkan Jacob, itu pasti karena ia punya alasan kuat. Karena ia bisa dan boleh, bukan hanya harena ia harus atau mampu.

Namun bukan hanya itu yang mengherankan Seth. Wajah beku Carlisle yang ditangkapnya, memang antisipatif dan penuh topeng ketenangan, tetapi sekilas ia bisa menangkap segurat ekspresi lain. Ketegangan, jelas. Yang tidak ia mengerti adalah antusiasme. Dan … apa itu? Rindu?

Aneh.

*Selamat datang, Skahr'let…,* ucap Carlisle dalam bahasa Quileute beraksen kental, yang membuat alunan lagu itu seketika berhenti di tengah-tengah. Jika ia tak cukup berlatih menghadapi kejutan selama ini, mungkin Seth akan terperanjat. Ia tak terkejut jika Carlisle bisa bahasa Quileute. Sudah pasti ia bisa, jika ia membuat perjanjian dengan Ephraim atau lebih jauh lagi, mungkin Kierra. Yang membuatnya terkejut adalah yang lain.

'Skahr'let'? Itu bukan nama yang lazim…

Apa maksudnya 'Scarlett'?

Itukah … nama Sang Ibu?

Carlisle mengenalnya?

Bagaimana … mungkin?

Sekilas permainan angin menyibak tirai putih yang menutupi sosok wanita itu. Ia menarik biola Carlisle dari bahunya, lantas meletakkannya dengan lembut di dekat bingkai jendela. Perlahan, ia berbalik, rambut panjangnya yang hitam dan panjang melambai dihela angin, menutupi sebagian wajahnya. Namun ketika melangkah dan menyibak rambutnya, seketika Seth menahan napas.

Ia mengenal wanita itu. Sangat. Kulitnya. Raut wajahnya. Lekuk hidungnya. Matanya.

"Mom?" bisiknya tercekik.

Nyaris tak mengindahkan kehadirannya, wanita itu melangkah satu per satu dengan tenang sekaligus anggun. Dan kata-kata yang keluar dari lisannya membawa Seth ke dunia antah-berantah.

*Salam jumpa lagi, Bapa…*

Sekilas wajah Carlisle membeku, namun kemudian perlahan melunak, dan senyum menghiasi bibirnya kala ia mengucapkan satu frasa dengan lembut. *Kau pulang…*

.


.

Catatan:

Selesai! HUAHAHAHAHAHAHAHAHA! Maaf aku delay sampe 2 bulan begini (apa 3 bulan ya?) Kacau banget memang belakangan. Aneh karena setelah wisuda, aku nyaris ga punya waktu buat nulis… Kalo ada pun, malah ga ada ide. Begitu jadi malah jadi rusak begini. Huaaaaaanggg… Entah kenapa kayanya juga agak muter2 n g pas sasaran… masih ga beres nih otak…

Btw aku cek2 lagi tulisan2 yang dulu2 n baru sadar kalo ada bagian yang hilang dari Chapter 71. Afterlife. Aku lupa coz di catatan aku, masih pake judul aslinya yaitu Kosong. Aku masukin lagi tuh di bagian akhir chapter itu. hwehehehe… Adegan Jacob ngobrol sama Embry. Apa yang diobrolin ada sedikit disinggung sih sama Seth di chap 75…

Hmmm makasih untuk yang masih mau baca. *bungkuk-bungkuk* Yang kemaren kasi ripiu anonym (Guest, SCS, Rhie) serta yang login makasih berat yaaaa… Maafin banget aku baru bisa update lagi. Semoga yang selanjutnya ga kena WB lagi. Amin.

Setelah dipikir-pikir lagi, judul chapter 78 dan 79 asa kebalik ya? Abis aneh, masa Tuduhan dulu baru Prasangka? Hahaha… Tapi emang nyambung sama isinya, jadi aku ga ubah :D

Oh ya, aku mau tanya nih. Mending sesi terakhir itu (pertemuan Seth dan Scarlett) dimasukin sini atau dimasukin chap selanjutnya aja ya? Ato malah didrag ke atas? juga perlukah chap 77 dan 78 dijadiin 3 chap? Thx ya…