The Dark Side of The Truth
Pair:
Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: M (for dark theme and some adult scene)
Length: Chaptered
Summary:
Kebenaran akan menjelaskan segalanya, tapi kadang kebenaran itu sendiri akan membawa sebuah hal gelap lainnya. "Some words are better left unspoken." / VKook, NamJin, MinYoon and Hoseok fanfiction. BL. AU.
Warning:
Fiction, BL, AU. Inspired by I Need U MV and Dope MV.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 7
Hoseok berlari cepat ke arah sebuah villa yang terletak di dalam hutan, dia mendobrak pintu dengan cepat dan berlari ke dalam. "Jihoon! Jihoonie!" teriak Hoseok keras.
Beberapa polisi segera menerobos masuk ke dalam sementara Hoseok berlari ke lantai dua villa itu. Hoseok membuka semua pintu dan dia terhenti saat dia membuka pintu sebuah kamar, dia melihat Jihoon terikat di kursi dengan Christian yang sedang menodongkan pisau ke lehernya.
Hoseok melirik ke bawah dan dia melihat darah menggenangi bagian bawah kursi yang diduduki Jihoon. Hoseok menatap Christian tajam, "Apa yang kau lakukan pada Jihoonku?"
"Aku hanya mengiris pergelangan tangannya, dan karena dia panik, dia cepat kehilangan banyak darah. Jihoonmu akan segera mati."
"Brengsek! Lepaskan Jihoon!"
Christian tertawa mengerikan, "Tidak akan, aku akan menampung darah Jihoonmu dan menggunakannya untuk mandi. Aku butuh darahnya agar aku tetap tampan."
"Kau sinting."
Christian menyeringai, "Sinting atau tidak, yang jelas Jihoonmu akan mati."
Hoseok menggerakkan tangannya ke belakang, mencoba mengambil pistolnya.
"Berhenti atau Jihoonmu mati lebih cepat."
Hoseok menggeram marah tapi kemudian dia mendengar suara tembakan dan Christian langsung terjatuh ke belakang. Hoseok menoleh ke belakang dan dia melihat Yoongi, masih memegang pistolnya, berdiri di ambang pintu.
"Kau membunuhnya?" tanya Hoseok.
"Aku menembak bahu kirinya, untung Jihoon dalam posisi duduk, jadi aku tidak mengenainya." Yoongi menyimpan pistolnya dan berjalan ke arah Christian lalu menendang jauh pisaunya, "Kau akan menjadi tahanan paling tampan, Christian. Jangan khawatir." Yoongi menekan luka di bahu Christian, biar bagaimanapun juga dia tidak bisa membiarkan Christian mati. Dia tersangka dalam kasus ini.
Hoseok segera melepaskan tali di tubuh Jihoon dan Jihoon langsung jatuh terhuyung ke depan. "Jihoonie? Jihoonie kau mendengarku?"
Hoseok meraba nadi Jihoon dan nadi itu berdetak dengan sangat lemah, tubuh Jihoon juga mulai mendingin dan wajahnya pucat pasi. Hoseok menoleh ke arah Yoongi, "Dia sekarat."
"Kita harus segera pergi dari sini."
.
.
.
.
.
.
.
Dokter Choi tersenyum kecil menatap Namjoon yang terlihat begitu kusut di hadapannya. Seokjin sudah dirawat di rumah sakit selama dua hari dan dia tidak mengalami kemajuan sedikitpun. Dan hal ini amat sangat menyiksa Namjoon.
"Pikiran Seokjin tidak bisa menerimanya, Namjoon. Kau penyebab traumanya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan olehmu di masa lalu. Tapi Seokjin tersiksa karena itu. Aku.. tidak bisa menyembuhkannya lewat terapi kejiwaan seperti dulu."
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Namjoon sedih.
"Kau melakukan kejahatan di masa lalu, aku seharusnya melaporkanmu kepada polisi, kau tahu? Tapi sayangnya aku tidak memiliki bukti selain ingatan kacau Seokjin." Dokter Choi melipat tangannya di atas meja, "Aku menghubungimu karena kau adalah satu-satunya keluarga Seokjin, kau tunangannya, calon suaminya. Jadi aku harus memberitahu keadaan Seokjin padamu."
"Ya, terima kasih, Dokter Choi."
"Dan sekarang aku butuh persetujuanmu untuk sesuatu."
Namjoon mengangkat pandangannya dan menatap Dokter Choi, "Apa itu?"
"Kau harus memilih, kau ingin Seokjin tetap menjadi seperti sekarang atau kau mengizinkanku untuk menghapus dirimu dari ingatannya?"
Namjoon membulatkan matanya, "Apa maksudmu?"
"Satu-satunya cara untuk menolong Seokjin adalah dengan hipnoterapi. Aku akan menghipnotisnya dan membuatnya lupa akan dirimu dan seluruh trauma masa lalunya. Dulu aku ingin melakukan ini, tapi Seokjin yang dulu jauh lebih kuat daripada Seokjin yang sekarang. Seokjin yang dulu bisa mengatasi traumanya tanpa hipnoterapi, tapi Seokjin yang sekarang, jelas butuh hipnoterapi."
"Seokjin akan.. melupakanku?"
"Kurasa ini yang terbaik. Aku sudah menjadi dokter Seokjin sejak lama. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri, dan karena itu aku memintamu untuk menjauhi Seokjin, Namjoon."
"Aku.."
"Jauhi Seokjin, biarkan Seokjin merasakan kebahagiaannya lagi. Seokjin tidak pantas menerima semua kegilaan dan trauma mendalam ini."
Namjoon terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. Selama ini dia berusaha menjadi kebahagiaan Seokjin. Tapi dia juga tahu kalau dialah penyebab penderitaan Seokjin. Namjoon menggeleng pelan dan tubuhnya gemetar, dia tidak sadar kalau ternyata dia sudah mulai menangis. Dia mencintai Seokjin, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Seokjin menjadi gila seperti sekarang.
"Jauhi Seokjin, pergilah dari kehidupannya, Namjoon. Jangan pernah muncul lagi di hadapannya."
"Apa.. apa tidak ada cara lain?"
"Tidak ada, kalau kau tidak ingin kehilangan Seokjin, seharusnya kau tidak melakukan hal yang membuat Seokjin trauma."
"Tapi aku.. aku tidak bisa kehilangan dia.."
"Tapi dia menderita, Namjoon. Dia amat sangat menderita. Kau harus melepasnya."
"Aku akan mengizinkanmu melakukan hipnoterapi padanya, tapi kumohon.. jangan minta aku untuk menjauh dari Seokjin. Aku.. aku tidak bisa kehilangan dia."
Dokter Choi menggeleng tegas, "Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. Kau harus memilih salah satu, apa kau ingin Seokjin bahagia, atau kau ingin membiarkannya mati perlahan seperti itu?"
Namjoon terdiam, dia terisak dan menatap cincin pertunangannya. "Aku mencintainya, Dokter.."
"Dan rasa cintamu itu membunuhnya secara perlahan, Namjoon."
Namjoon menunduk menatap cincin pertunangannya, "Apa Seokjin masih memakai cincin pertunangan kami?"
Dokter Choi terdiam, dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin. "Kami melepaskannya karena kami takut benda ini akan membahayakan Seokjin. Seokjin sedang berada dalam kondisi kejiwaan yang tidak stabil, bahkan kami harus memasukkannya dalam ruang isolasi. Jadi kami.. melepas cincinnya."
Namjoon mengambil kotak cincin itu dengan tangan gemetar, dia membukanya dan melihat cincin milik Seokjin ada di sana. Namjoon tahu dia harus memilih, Seokjin berhak bahagia, dan jika kebahagiaan Seokjin akan datang bukan dengan melalui Namjoon, maka Namjoon harus menerimanya.
Namjoon menutup kotak itu dan menatap Dokter Choi, "Lakukan hipnoterapi itu. Aku.. bersedia menghilang dari ingatan dan kehidupan Seokjin." Namjoon meneteskan airmatanya tepat setelah dia mengatakan itu, dadanya terasa sesak, dia berharap Tuhan mencabut nyawanya saat itu juga.
Dokter Choi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Baiklah."
"Tapi Dokter Choi.."
"Ya?"
"Berjanjilah kau akan membahagiakan Seokjin. Berjanjilah kalau kau akan memperlakukannya seperti keluargamu. Berjanjilah padaku."
Dokter Choi mengangguk, "Aku akan mengangkat Seokjin sebagai anak tepat setelah hipnoterapi itu selesai. Tapi Namjoon, kau harus berjanji kalau kau akan benar-benar menghilang dari kehidupan Seokjin."
Namjoon mengangguk mantap, "Aku bersumpah. Aku akan mengurus surat pengunduran diriku secepatnya. Aku akan menebus dosaku."
Dokter Choi mengangguk paham, "Baiklah, kau bisa pergi sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung berjalan menghampiri Jungkook yang sedang sibuk di dalam lab, dia berhenti tepat di depan Jungkook dan Jungkook mendesah kesal, dia berbalik dan bermaksud untuk pergi tapi Taehyung menahan tangannya.
"Apa?" tukas Jungkook galak.
"Maafkan aku."
Jungkook mendengus, "Maafmu tidak akan memutar waktu. Kau tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi."
Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan memohon, "Kookie, kumohon.."
Jungkook mendelik menatap Taehyung, "Jangan pernah memanggilku seperti itu atau aku akan membunuhmu."
"Aku akan membantumu menemukan pelaku pembunuhan malam itu, Jungkook. Aku akan membantumu." Taehyung merogoh bagian dalam pakaiannya dan melepas kalung yang selalu dipakainya, "Kau lihat? Ini kalung yang aku ambil malam itu, dan kurasa ini ada hubungannya dengan kematian keluargamu."
"Berhenti mengingatkan aku soal hal itu!" Jungkook menatap Taehyung tajam, "Jangan pernah membahas soal keluargaku lagi. Kau.. kau tidak pantas mengucapkan itu." Jungkook melepas sarung tangan yang dikenakannya, "Aku keluar dari kasus ini."
Jungkook berbalik dan berjalan keluar meninggalkan lab. Taehyung menghela nafas pelan, dia tidak tahu dia harus meminta maaf dengan cara apa. Jungkook jelas membencinya.
Taehyung menunduk menatap meja dan kemudian dia mendengar suara 'piip' pelan dan sebuah kertas keluar dari mesin di hadapannya. Taehyung melirik kertas itu dan membaca hasilnya, Taehyung memperhatikan setiap tulisan yang tertera di sana.
"Hmm? Bukankah ini bahan dasar untuk cairan pemutih? Tapi ini bahan yang cukup kuat, bahan ini jarang digunakan. Kenapa sekolah butuh bahan seperti ini?"
Taehyung terdiam sebentar kemudian dia membelalakkan matanya saat dia merasa dia mendapatkan sesuatu. Dia menyambar kalungnya di atas meja dan berlari keluar, dia harus segera menyelesaikan kasus ini agar dia bisa segera mencari dalang di balik pembantaian keluarga Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon menatap surat pengunduran dirinya dengan tatapan kosong, dia sudah memutuskan kalau dia akan menghilang dari kehidupannya yang sekarang. Dan dia juga berencana untuk mengakui semua dosanya, sudah saatnya semua orang mengetahui kebenaran soal dirinya.
Namjoon melepaskan cincin berukiran diávolos dari jarinya dan meletakkannya di meja, bersamaan dengan sebuah flashdisk yang dia masukkan dalam amplop. Namjoon menuliskan 'untuk Taehyung' di bagian atas amplop berisi flashdisk tersebut.
"Maafkan aku.." gumam Namjoon pelan.
Namjoon merogoh bagian dalam pakaiannya dan menarik keluar kalung berbandulkan cincin milik Seokjin, "Maafkan aku, Jinnie.."
Namjoon berdiri dan menatap seisi ruangannya, dia yakin dia akan merindukan masa-masa saat dia bekerja di ruangan ini. Namjoon tersenyum sedih dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Dia sudah siap.
Dia sudah siap untuk menghilang selamanya.
.
.
.
.
.
.
.
Hoseok menatap Jihoon yang terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit. Dokter bilang Jihoon kehilangan banyak darah dan dia harus dirawat selama beberapa hari. Hoseok menggenggam tangan Jihoon, "Jihoonie, bangunlah.."
Hoseok mengusap buku-buku jari Jihoon perlahan, "Apa kau ingat dulu kau selalu mengatakan kalau kau akan berada di sisiku selamanya? Kau akan menepati ucapanmu, kan?"
Jihoon tidak bergeming. Dokter bilang Jihoon akan segera sadar, tapi dia tidak bisa memastikan kapan Jihoon akan sadar.
"Jihoon, kurasa aku selalu membahayakanmu, ya? Apa kau tidak membenciku? Apa kau benar-benar tidak membenciku setelah semua yang aku lakukan padamu?"
Hoseok menatap Jihoon sedih, "Haruskah aku pergi, Jihoonie? Apa aku harus pergi agar kau bisa bahagia? Aku seperti kutukan bagimu, kau selalu menderita saat sedang bersamaku. Bahkan aku.. aku adalah yang membunuh kedua orang tuamu."
Hoseok menundukkan kepalanya, "Itu benar. Aku adalah orang yang membunuh orang tuamu, aku yang memberi mereka tiket perjalanan yang menyebabkan mereka tewas karena pesawat mereka dibajak. Aku juga menyebabkan kematian kedua orang tuaku karena mereka kecelakaan saat hendak menemuiku di rumahku. Aku ini kutukan, Jihoon. Aku tidak pantas berada bersamamu."
Hoseok merasakan pandangannya mulai mengabur karena airmata, "Aku juga menyebabkanmu nyaris terbunuh, karena hari itu aku mengajakmu ikut bersamaku hingga kau harus bertemu dengan pembunuh itu. Aku.. benar-benar tidak pantas untuk bersama denganmu, Jihoon."
"Aku ini kutukan, semua yang berada di sekitarku pasti akan merana. Kadang aku berpikir, kenapa bukan aku saja yang mati? Kalau aku mati, aku pasti akan menyelamatkan semua yang berada di sisiku, kan?"
Hoseok tersenyum dengan airmata yang mulai mengalir dari matanya, "Aku ini kutukan, tapi aku dengan kurang ajarnya malah jatuh cinta padamu."
Hoseok mengelus pipi Jihoon lembut, "Maafkan aku karena sudah jatuh cinta padamu. Aku.. aku tidak pantas untukmu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, Jihoonie.."
Hoseok bergerak bangun dan mengecup dahi Jihoon, airmatanya menetes dan jatuh ke pipi Jihoon. "Kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Selamat tinggal."
Hoseok menjauhkan dirinya dari Jihoon dan berjalan keluar dari ruang rawat Jihoon. Tepat setelah pintu itu tertutup, Jihoon membuka matanya. Sebenarnya dia sudah sadar sejak Hoseok memulai pengakuannya, tapi Jihoon tidak berani membuka matanya. Dia ingin mendengar semuanya dan ternyata dia mendengar kenyataan yang sangat mengejutkan.
Hoseok adalah orang yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Hoseok adalah orang yang membuatnya sebatang kara.
"Apa.. apa yang harus aku lakukan?" gumam Jihoon pelan.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi membuka pintu apartemen mereka dan melangkah masuk ke dalam. Dia membuka sepatunya, "Jimin? Aku sudah pulang."
Yoongi mengerutkan dahinya saat dia tidak mendengarkan balasan dari Jimin, dia berjalan masuk dan dia melihat Jimin tengah duduk di ruang tengah apartemen mereka.
"Jimin? Kenapa?" tanya Yoongi.
Jimin menatap Yoongi, kemudian melemparkan kertas-kertas yang dipegangnya ke meja. Yoongi mengerutkan dahinya bingung, tapi dia memutuskan untuk mengambil kertas-kertas itu dan membacanya.
Kertas-kertas itu adalah hasil DNA, dan kertas itu menjelaskan bahwa ada kecocokan antara benda-benda yang diuji dengan DNA dari seluruh korban milik Suga.
"Kau adalah Suga, benar?" ujar Jimin datar.
Kertas-kertas itu terlepas dari tangan Yoongi dan berserakkan di bawah kakinya, dia tidak menyangka Jimin akan mengetahui kepribadiannya yang dulu.
"Ji-Jimin.. aku.."
"Kau adalah Suga, makanya kau bisa memiliki pemahaman tersendiri soal pembunuh. Itu karena kau adalah pembunuh!" Jimin berdiri dan menatap Yoongi tajam.
"Kemarin aku menemukan kotak hitam penuh dengan barang-barang berisi pisau, tali, bahkan mata pisau gergaji. Aku meminta Daehyun memeriksanya dan ternyata kau benar-benar Suga." Jimin mendengus keras, "Aku tidak percaya ini, aku berpacaran dengan seorang pembunuh gila. Aku tidur seranjang dengan seorang pembunuh sinting yang meminum darahnya sendiri!"
"Jimin!" sentak Yoongi.
"Apa? Kau pikir aku tidak tahu soal Suga yang hobi meminum darah korbannya, hah? Kau pikir aku tidak tahu kalau disaat kau tidak meminum darah korbanmu, maka kau akan meminum darahmu sendiri? Aku mengetahui itu dari gelas yang kutemukan dalam kotak itu. Kau tidak membersihkannya dan di situ Daehyun menemukan darah dari seluruh korban beserta air liurmu, Suga. Kau meminum darah mereka."
Yoongi tergagap, dia tidak menyangka Jimin akan mengetahui segalanya secepat ini.
"Sekarang kau hanya perlu memilih, apa kau akan membunuhku dan Daehyun karena mengetahui rahasia ini, atau kau akan menyerahkan dirimu pada polisi."
"Jimin itu masa lalu.."
"Dan apakah kau pikir masa lalu akan terlupakan begitu saja hanya karena kau sudah menjalani hidup dengan baik saat ini?" Jimin menggeleng, "Kita hidup dari masa lalu kita, Min Yoongi." Jimin mengambil pisau milik Yoongi yang dia letakkan di sofa dan melemparnya ke atas meja.
"Pilih. Bunuh aku atau serahkan dirimu ke polisi."
"Aku akan dihukum mati kalau aku menyerahkan diri ke polisi."
"Kau berani menghilangkan nyawa orang lain tapi kau tidak berani kehilangan nyawamu sendiri? Lucu sekali."
Yoongi mengambil pisaunya di atas meja, "Aku tidak bisa membunuhmu. Aku terlalu mencintaimu, Jimin. Kau adalah orang yang membawaku ke dunia yang lebih baik, aku tidak akan bisa membunuh malaikat penolongku." Yoongi mengangkat pisaunya, "Dan aku tidak akan mau mati sebagai Suga. Jadi.."
Jleb
Yoongi menusukkan pisaunya ke perutnya sendiri, dia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. "Jadi.. biarkan aku.. mati.. sebagai Min Yoongi.."
Yoongi jatuh terduduk dengan darah yang mengalir deras dari perutnya. Jimin segera menangkap tubuh Yoongi dan meletakkan kepalanya ke pangkuannya.
"Astaga, Hyung…" Jimin panik, dia tidak mau kehilangan Yoongi secepat ini. Dia hanya terlalu kaget mengetahui fakta soal Yoongi yang ternyata adalah Suga, dia berharap Yoongi menyerahkan dirinya ke polis, bukannya bunuh diri seperti ini.
Yoongi mengulurkan tangannya yang berlumuran darahnya sendiri ke pipi Jimin, "Kau.. harus tahu.. uhuk.. kau harus tahu kalau aku.. mencintaimu.. sebagai Min Yoongi.." Yoongi tersenyum lemah dan terbatuk lagi, memuntahkan darah dari mulutnya dan setelahnya matanya terpejam.
"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Hyung? Yoongi Hyung?" panggil Jimin berulang kali.
Yoongi tidak bergeming, dia tetap diam dengan wajah yang semakin pucat dan darah yang mengalir deras dari perutnya.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung melangkah masuk ke ruangan Namjoon dan dia mengerutkan dahinya bingung saat dia tidak melihat Namjoon. Dia baru saja menangkap tersangka kasus pembunuhan itu yang ternyata adalah guru olahraga di sekolah itu.
Dia bermaksud untuk mengajak Namjoon menginterogasi guru itu, tapi ternyata Namjoon tidak ada di kantornya. Taehyung berjalan ke meja Namjoon dan dia melihat surat pengunduran diri beserta sebuah amplop bertuliskan namanya. Dan di atas amplop itu ada sebuah cincin.
Taehyung mengambil cincin itu dengan dahi berkerut, dia mengamati cincin itu dan seketika itu juga dia membulatkan matanya saat melihat ukiran di cincin itu. Ukiran di cincin itu adalah kata dalam bahasa Yunani, diávolos, bahasa Yunani untuk iblis.
Bahasa yang sama dengan yang tertera di kalung yang selalu dipakainya. Kalung yang ditemukannya di rumah Jungkook pada malam berdarah itu.
"Namjoon, kau.."
To Be Continued
.
.
.
.
Ini sudah chapter menuju akhir cerita. Semuanya jadi rumit ya? Aku juga merasa begitu *eh?*
Sudah jelas kan? Siapa dalang utama dalam penderitaan Seokjin, Taehyung, dan Jungkook? Hahaha
Dan sudah tahu kan, dosa apa yang dilakukan Hoseok pada Jihoon?
Lalu, sudah jelas kan Suga itu siapa?
Jadi.. apa yang belum jelas? Apa lagi yang harus aku jelaskan? Haha
Oya, kemarin ada yang bertanya, apakah ini akan happy end?
Hmm, bagaimana menurut kalian? Kira-kira cerita ini akan happy end atau tidak?
.
.
.
Oya, sedikit keterangan untuk membuat kalian mengerti alur waktu cerita ini.
Satu, Seokjin dirawat di rumah sakit sejak chapter kemarin. Satu hari sudah berlalu karena di akhir hari Hoseok menemukan fakta kalau Christian adalah pelaku pembunuhan. Kemudian hari ini Namjoon menemui dokter Choi, makanya dokter itu bilang Seokjin sudah dirawat selama dua hari.
Dua, perjalanan menuju villa milik Christian, penangkapan Christian, dan beberapa prosedur lainnya akan memakan waktu kurang lebih satu hari. Makanya Jimin bisa memiliki waktu untuk mendapatkan hasil DNA dari barang-barang yang ditemukannya di kardus karena dia sudah menemukan barang-barang itu saat Yoongi sedang pergi bekerja, sebelum dia menemukan lokasi Christian.
Tiga, tidak ada yang menyadari kepergian Namjoon karena Taehyung sedang sibuk mencari tersangka, Jungkook sudah keluar dari kasus itu, Hoseok mengurus Jihoon, dan Yoongi mengurus Christian.
Kenapa Jihoon sudah sadar saat Hoseok menemaninya? Karena Jihoon sudah pingsan sejak di villa, jadi mereka bergegas membawa Jihoon ke rumah sakit. Saat sedang ditangani, keluarga dilarang untuk masuk dan menemani pasien, pasien boleh ditemani setelah kondisinya stabil. Dan Jihoon hanya butuh transfusi darah, makanya dia bisa sadar saat Hoseok berbicara.
Aku menjelaskan ini agar kalian tidak bingung. Karena kurasa beberapa pasti akan bingung dengan kondisi di dalam cerita jika tidak memikirkannya sampai seperti ini. Hehe.
.
.
.
Thanks
