THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight Saga. I responsible for any misappropriations of her works.
.
.
80. Kesangsian
Wednesday, November 27, 2013
.
.
Waktu berjalan lambat, terlalu lambat.
Berapa lama menit bergulir semenjak kehadiran si hibrida? Sepuluh menit? Dua puluh menit? Setengah jam? Ia tidak tahu. Ia bahkan tak bisa menghitung.
Akhirnya ia berhadapan langsung dengan dengan makhluk yang bertanggungjawab atas semua serangan dalam empat bulan terakhir. Scarlett Cyra Black, demikian Carlisle menyebut namanya. Ia mengatakan nama keluarga itu dengan sedikit ragu, dan wanita yang dipanggil Scarlett itu tertawa sinis, tapi ia tak mengoreksi apapun.
'Black'…
Diakah sang istri pertama Jacob Black I? Ibu Zacharias dan Joanna?
Diakah … putri Kierra?
Yang artinya … calon anak tirinya?
Tidak, tidak, bukan itu intinya.
Jauh dibanding apapun, jika ia bisa memutar waktu, ia tak ingin menghadapi saat ini. Andai saja ia masih berada di hutan ... terserah jika Brady memojokkannya atau bahkan menantangnya bertarung. Atau mungkin lebih baik jika ia saja yang terlempar dari tebing curam menggantikan Jacob. Rasanya semua itu masih lebih dapat diterimanya. Karena kini, tanpa ampun, ia disodokkan pada kenyataan mengerikan tentang latar belakang keluarganya. Masa lalu mereka.
Teori bahwa Joanna adalah keturunan hibrida telah mampir di kepalanya, tapi melihat bukti langsung beda halnya dengan memandangnya dalam bentuk wacana. Dibanding apapun, kemiripan makhluk itu dengan Sue membuat perutnya seakan diaduk-aduk. Rasanya seakan melihat ibunya sendirilah sang iblis. Yang berusaha membunuhnya, tak kurang.
Ya, itu bukan Sue. Sudah pasti. Ia terlalu muda. Dan ia berlagak tak mengenalinya. Tak mungkin Sue selama ini menjadi dalang semua konspirasi mengerikan ini, berusaha memecah belah dan mengadu domba. Apa untungnya?
Namun anehnya, mereka begitu serupa. Seakan ia melihat ibunya limabelas atau duapuluh tahun lalu. Dalam versi yang lebih mempesona. Seakan ia melihat Kierra, dalam versi ibunya. Gerakannya lamat-lamat, namun penuh perhitungan. Senyumnya begitu penuh percaya diri. Begitu mempesonanya ia, hingga ia serasa merinding. Rasanya ia tak tahu lagi ia merinding karena apa: terpukau oleh keelokan makhluk di hadapannya, merasa asing, atau malah terbalut kengerian. Wanita itu tidak berasal dari dunia ini, ia pasti berasal dari dunia lain yang tak dihuni makhluk fana.
Atau ya, ia memang berasal dari dunia lain.
Sekilas ia melirik biola yang tadi dimainkan si hibrida. The Red Mendelssohn rupanya; Stradivarius 1720 yang mudah dikenali karena dilapisi pernis merah. Biola yang katanya termahal kelima di dunia itu dibeli Carlisle dari seorang violis terkenal beberapa tahun lalu, katanya mirip dengan biola lamanya yang pernah raib nyaris seabad tahun lalu, dan sejak saat itu selalu dibawa ke mana-mana.
Dan melihat hibrida itu begitu mengakrabi biola itu…
Setelah sedikit perkenalan singkat, dan basa-basi busuk yang ia bahkan tak ingin mendengar, Carlisle meminta agar Seth sudi meninggalkannya berdua dengan makhluk itu. Logikanya berteriak-teriak menolak, insting dan perasaannya lebih lagi, tapi anehnya ia hanya mengangguk. Apakah itu karena ia merasa mual, atau ia merasa takut? Akan kemungkinan? Akan kebenaran di balik kemungkinan itu?
Oh, ia bahkan menarik seluruh kawanan yang mengepung rumah Cullen, menjauh ke hutan. Meninggalkan rumah itu di luar batas jangkauan pendengaran, meski ia tak bisa meresikokan benar-benar meninggalkan penjagaan. Bisa saja acara 'perundingan' ini adalah jebakan. Kapan saja mereka bisa menyerang. Dan jika kemungkinan terburuk benar-benar terjadi, entah ia membunuh Carlisle, atau bahkan Carlisle ditarik ke kubu mereka, maka…
Ia segera mengutuk diri ketika otaknya memproduksi kemungkinan itu.
Kawanan terus ribut dan ia terpaksa menurunkan Titah, pertama kali dalam sekian lama ia menjabat, untuk menyuruh mereka diam. Pikirannya berkecamuk sehingga ia terpaksa mendorong seluruh perasaan dan pertimbangannya ke kotak terlarang, memasang selimut mental rapat sehingga bahkan ia pun tak bisa mengaksesnya. Ini terlalu berat untuk bisa ditanggungnya sekarang. Dan tak ada gunanya berpikir. Tak ada gunanya menimbulkan praduga. Karena ia hanya akan terperosok masuk lubang hitam. Terserap ke jurang tanpa dasar. Takkan bisa kembali pada kenyataan. Dan lebih buruk, ia bisa menggerek kawanan bersamanya.
Tapi batinnya menolak. Akalnya memberontak. Keingintahuannya menggelegak.
Ia ingin tahu kebenaran. Ia perlu tahu kebenaran. Ia harus tahu kebenaran.
Kini ia di sana, di tengah hutan. Kepalanya terus berupaya mengumpulkan dan mencerna butir demi butir informasi, selagi akal sehatnya berusaha menguatkan mental agar tak hancur karenanya.
'Bapa'… Brengsek. Ia memanggil Carlisle 'Bapa'.
Wanita-mirip-Sue-Clearwater, dalang penghancur suku yang merupakan tersangka utama penyerangan atas Jacob, tersangka putri Kierra, memanggil Carlisle 'Bapa'.
Ia telah sampai pada kesimpulan bahwa sang Ibu adalah putri Kierra. Ini masih kemungkinan, nyaris tak ada bukti pendukung selain legenda yang menyatakan bahwa Kierra adalah hibrida. Namun bagaimana jika darah hibrida itu ternyata lebih kuat daripada perkiraannya? Bagaimana jika sumber darah itu bukan cuma dari satu pihak, melainkan dua?
Ada dua kemungkinan tambahan di sini.
Satu, kemungkinan kecil itu salah. Sang Ibu tidak mendapatkan darah hibridanya dari Kierra, tapi dari vampir lain.
Dua, bagaimana jika bukan hanya Kierra putri dari seekor vampir, bagaimana jika ia menikahi seekor vampir?
Diingatnya sikap Kierra yang tak mau kalah sekaligus berusaha tampak profesional secara berlebihan di depan Carlisle. Memang ia selalu sok formal, tetapi Seth selalu merasa itu tak perlu. Dan Carlisle pun, ia sudah jelas kenal Kierra lebih dari yang ia sangka. Sudah pasti mereka pernah hidup pada zaman yang sama. Jika hubungan mereka lebih dekat daripada apa yang tampak…
Jika ia bersikap begitu bukan karena bawaannya, melainkan karena ia ingin menutupi sesuatu, atau tepatnya menghapus sesuatu…
Apa Carlisle dan Kierra…
Tidak. Itu tidak mungkin sama sekali.
Tapi lantas diingatnya Carlisle terang-terangan berusaha mencegah rencana Kierra untuk membunuh Sang Ibu. Jika memang mereka ada hubungan, alasan Carlisle berpihak jadi mudah dimengerti. Ia pasti ingin melindungi keluarganya.
'Keluarga'…
Hibrida serigala dan vampir…
Tidak! Berhenti berpikir ke arah sana!
Astaga, mengapa ia harus menderita kekisruhan begini? Ini tak seharusnya begini sulit. Mengapa ia tak mengambil cara mudah: bertanya langsung pada Carlisle?
Tidak, tidak. Apa yang mau ia tanyakan? 'Hei Carlisle, apa kau entah bagaimana … kebetulan … mantan kekasih calon istriku dan … ehm, berhubung mungkin ia juga salah satu leluhurku, apa kau juga leluhurku?'
Bagaimana jika jawabannya adalah 'ya'? Astaga. Bayangkan betapa kacaunya situasi itu.
Ia ingat beberapa kali ini, Carlisle selalu menatapnya dengan pandangan aneh setiap ia dekat-dekat Korra. Apa itu sikap protektif? Atau malah … cemburu?
Tidak. Mana mungkin Carlisle cemburu? Hei, siapa bilang ia mantan kekasih Kierra? Apa ada bukti? Dan kalaupun memang begitu keadaannya, lantas kenapa? Ia sekarang sudah punya Esme, demi Tuhan!
Jika ada orang yang bahagia selain Alice dengan rencana pernikahan Seth dan Korra yang sangat tidak tepat waktu, itu adalah Esme. Ia bahkan turut merencanakan dekorasi pernikahan, dan berkenan meminjamkan kapal pesiar untuk bulan madu ke Pulau Alice di Bermuda. Esme juga yang menjadi sponsor tunggal seluruh penyelenggaraan upacara dan resepsi yang anggarannya cukup untuk membeli satu rumah mewah di Los Angeles.
Sebenarnya Seth tak ingin pesta yang sedemikian ribet, ia sudah siap hanya dengan catatan sipil. Rasanya tabungannya cukup kalau hanya untuk perayaan sederhana makan-makan bersama kawanan, yang pastinya tidak bisa dikatakan 'kecil'. Itu, sebelum mendadak Alice ikut campur menambahkan detail macam-macam yang membuat anggarannya membengkak. Tadinya ia pikir Korra si setan hemat itu pasti tak setuju dengan rencana Alice, tapi rupanya ia salah. Justru anak itu kelihatan sangat antusias.
Wajar sebenarnya, tak hanya di usianya Korra masih menganggap tinggi ide-ide romantis, Seth juga tahu pernikahan ini memiliki arti lain. Meski Kierra ataupun Korra tak mengatakannya, ia curiga Kierra ingin menjadikan acara ini sebagai upacara penobatan resmi pasangan Maharani dan Maharaja terbesar kubu shifter saat ini. Itu sudah jelas jika melihat daftar undangan yang disodorkan Korra. Dari sekitar 200 tamu undangan, hanya ada empat manusia: Billy, Sue, Charlie, dan Emily. Ia bahkan tidak mengundang sahabat-sahabatnya di sekolah. Selebihnya, selain kawanan, adalah nama-nama asing yang pastinya adalah kawanan bawahan Kierra. Bahkan di antaranya, terselip beberapa nama pemimpin klan vampir.
Bukan kehadiran para penghisap darah yang membuat pikiran Seth terbebani. Mereka pastinya takkan bisa apa-apa dengan menimbang jumlah shifter yang terkonsentrasi di sana, jadi Seth tidak perlu khawatir. Perkara antisipasinya akan insting teritorial Alfa juga tidak masalah, mengingat bagaimanapun shifter yang datang adalah kawanan taklukan yang artinya kelak akan menjadi bawahannya. Yang ia permasalahkan adalah mengapa Kierra tidak mengodok kantong sendiri, menimbang betapa tinggi harga dirinya, dan malah tampak senang-senang saja menerima 'sumbangan dana' para lintah.
Ia yakin Kierra tidak semiskin tampaknya. Korra bilang walau judulnya Maharani, Kierra tidak mengambil keuntungan finansial apapun, tapi Seth tidak percaya. Ia toh bisa saja menimpakan beban pada kawanan bawahan. Ia yakin Phat yang merupakan putra mahkota kerajaan terkaya di dunia mampu menopang seluruh biaya.
Ya, memang campur tangan para Cullen di sini bisa jadi memiliki maksud politis. Entah Kierra meminta upeti, atau mereka berupaya menyogok sang Maharani demi hubungan baik. Tapi kalau melihat keriangan Alice dan Esme, rasanya ia tak bisa menangkap setitik pun keterpaksaan.
Jika memang Carlisle mantan Kierra, tidak mungkin kan dia begitu suportif? Setidaknya seharusnya ia ingin menyingkirkan Kierra.
Tapi bisa saja kan, Esme pura-pura baik untuk meniadakan kesempatan suaminya bersama, ehm, kembali pada sang mantan? Mungkin ia yang paling senang jika Kierra menghilang dari bursa.
Hah! Apa lagi yang ia pikirkan? Esme adalah vampir terbaik dan tertulus sepanjang usia jagat raya. Kurang peduli apa ia pada Korra? Berulang kali mengatakan hal seperti 'kasihan gadis itu' atau 'gadis yang malang' atau 'ia sudah melalui begitu banyak kesulitan', seakan meniadakan fakta mengenai siapa dan seperti apa wujud asli 'gadis malang' itu. Sering ia sendiri yang membawakan Korra minum—dengan menutup mata dan hidung, secara teknis maupun kiasan, bahwa itu adalah darah calon cucu-menantunya—atau mengganti cairan infusnya, kadang mengingatkan Carlisle jika sudah tiba waktu pemeriksaan rutin si pasien. Korra saja, yang terang-terangan mendelik kalau kwartet Cullen itu bilang mau berburu—ia terus menggerutu hingga Seth bosan mengenai mengapa mereka tidak makan darah donor saja ketimbang membunuh hewan-hewan tak bersalah, padahal Carlisle dokter yang jelas punya akses atas bank darah—pernah berkata betapa inginnya ia memiliki ibu seperti Esme.
Hei, bukankah kadang memang seperti itu para perempuan yang saling bersaing dalam cinta? Jika bukan mereka saling melontarkan diri untuk bertarung bak dua macan betina, mereka akan berusaha tampak bak peri yang manis dan penuh tenggang rasa. Padahal itu merupakan upaya untuk menarik simpati, dengan menunjukkan dirinya lebih baik ketimbang lawannya.
Jika memang Kierra dan Carlisle ada hubungan tanpa sepengetahuannya…
Ya, aneh sekali mereka berada di dua kubu yang terpisah tapi mau saja bekerjasama. Setiap saat Kierra menatap dingin dan tajam, seolah memendam dendam… Dan Carlisle, mengapa ia terlihat begitu lembut dan kooperatif pada makhluk yang jelas separuh-musuh? Oh, bukan sekali Seth mendapati mereka saling melontarkan pandangan seolah berkomunikasi dalam bahasa yang tak terungkapkan, atau bicara berbisik-bisik berdua dalam bahasa asing seakan sengaja agar Seth tidak bisa menangkap.
Oke, ia mungkin harus menerima jika memang mereka memiliki hubungan di masa lalu. Tapi mengapa mereka harus menyembunyikan darinya?
Dan perasaan itu … apakah itu masih ada? Apa ada jaminan itu takkan berkembang lagi?
Tunggu. Jikapun ya, mustahil mereka akan mau mengembangkan perasaan itu. Kierra ada di dalam tubuh Korra sekarang. Tubuh bocah. Bukan ia meremehkan calon istrinya sendiri, tapi bagaimanapun secara fisik ia tak bisa dibandingkan dengan Esme.
Tapi bukankah Korra bilang Kierra tidak cocok dengan tubuhnya dan menginginkan inang lain? Bagaimana jika ini alasannya—ia mencari tubuh yang lebih cantik, sehingga ia bisa bersaing dengan Esme? Bisa jadi…
Ya Tuhan, Leah!
Tidak. Tidak. Tidak. Apa lagi yang ia pikirkan?
Astaga. Apa ini? Ia cemburu pada Carlisle?
Cukup! Berhenti! Berhenti!
Lebih dari urusan cinta masa lalu, apa artinya ini bagi kawanan? Selama ini, Carlisle memaksa berada di tengah-tengah. Mendukung kawanan, ya, mendukung Kierra, ya. Lebih parah lagi, ia tak mau mengambil tindakan paling mudah dan paling logis yang seharusnya mereka ambil: membunuh Scarlett.
Bukan artinya Seth mempertanyakan keputusan Carlisle. Itu benar tak hanya secara moral. Jika penyelesaian bisa dicapai dengan jalan damai, sekaligus mencegah bibit busuk berkembang di kemudian hari, mengapa tidak?
Tapi kini ia jadi mulai mempertanyakan motif itu. Jika Carlisle kekasih Kierra. Jika Scarlett adalah putri mereka… Wajar jika Carlisle ingin melindungi keluarganya.
Jika menimbang bahwa ia menempatkan keselamatan keluarganya dibandingkan kawanan… Tidakkah itu berarti para mereka berada di pihak yang berlawanan?
Timbang persoalan tanpa emosi, Seth. Jangan terburu-buru. Kau harus berkepala dingin.
Ya, seperti biasa otaknya kelewat banyak memproduksi kemungkinan. Tapi kali ini ia harus menganalisa perlahan. Jangan sampai ia terburu-buru mengambil kesimpulan, atau melihat fakta tidak sebagaimana adanya. Kenyataan mungkin hanya satu, tapi cara manusia memandang fakta itulah yang mempengaruhi kebenaran, atau setidaknya apa yang dianggap sebagai kebenaran. Oh, bahkan sebuah paradigma mempengaruhi seluruh kenyataan yang terkait sesudahnya. Ia pernah salah menilai, dan lihat bagaimana jadinya semua ini bergulir.
Dan lagi, tidak ada bukti, kan? Hanya sepatah kata dari vampir hibrida yang mirip Sue Clearwater bukan bukti apapun.
Setidaknya ia harus menemukan bukti.
Pikir, Seth!
Ada satu petunjuk. 'Clakishka', nama yang terlontar dari bibir wanita itu.
Ia tahu nama itu. Di mana ia pernah mendengarnya?
Clakishka? Dalam kekisruhan pikirannya, selubung pikirannya bak saringan dan tiba-tiba didapatinya Harry menyelusup.
Sial! Apa Harry mendengar?
Tapi kalau dari ketenangan serigala itu, kelihatannya tidak.
Clakishka…, tekur Harry. Bukankah itu nama kecil How-yak II?
Oh, aku tahu itu! Ben terlihat senang karena akhirnya tahu sesuatu yang diketahui Harry. Putra kepala suku yang menandatangani Treaty of Olympia. Ia berganti nama jadi Jacob Black I waktu memerintah, kau tahu, sewaktu ada gelombang Anglikanisasi…
Ia pernah dengar soal How-yak II. Tapi Clakishka dan How-yak II adalah orang yang sama?
Kau tidak tahu, Seth? Kukira nilai Sejarah-mu bagus? ujar Harry sinis.
Kata-kata Harry tadi seakan menampar Seth tepat di wajah. Ya, ia lupa satu hal yang penting. Sangat.
Sumber jawaban atas pertanyaannya mungkin ada di tempat yang begitu dekat, yang sebenarnya pernah ia sentuh.
Dengan cepat Seth berbalik, memacu kakinya ke arah barat.
Hei, mau kemana kau, Seth? panggil Ben.
Sudah kukatakan tadi. Pulang.
Tapi kaubilang para Black tidak boleh memasuki tanah Quileute…
Ya, itu tetap berlaku untuk kalian. Perketat pengawasan. Pastikan hibrida tadi tidak membawa pasukan.
Kau sendiri?
Ada yang harus kukerjakan.
Benar, ia butuh bukti. Sesuatu yang jika disodorkan di depan hidung makhluk-makhluk yang selama ini selalu memendam rahasia dan mangkir dari kebenaran, mereka takkan bisa membantah.
.
.
Halaman itu terhampar di hadapannya. Seperti setiap kata merangkai makna, seperti itu juga makna tersebut menamparnya bertubi-tubi.
Kembali jemarinya menelusuri deretan index, lantas mengebet-ngebet halaman buku Treaties and Reservations on The Olympic Peninsula. Buku suplemen Sejarah Amerika itu sudah lama ia abaikan, nyaris tak pernah disentuhnya lagi sejak ia lulus SMA dan berkutat di dunia tak yang ada hubungan dengan mata pelajaran itu. Dua tahun ini, ia hanya punya tiga dunia: dunia mistis yang hanya berurusan dengan serigala dan lintah, dunia perkuliahan di bidang Sains Kelautan yang seluruhnya berkutat dengan ilmu eksakta, serta dunia pekerjaan yang hanya berurusan dengan perhitungan turun naik harga saham. Apa pernah ia perlu mengingat deretan angka, nama, dan fakta yang selama SMA harus dijejalkan susah-payah ke kepalanya?
Teori itu benar: manusia hanya akan menyimpan informasi yang menurutnya penting atau dibutuhkan. Permasalahannya, definisi 'penting' dan 'dibutuhkan' di otak manusia tidak sekadar subyektif. Itu terbentuk di alam bawah sadar yang bahkan tak bisa dikendalikan oleh id dan ego manusia yang bersangkutan.
Karena jika otak bekerja secara obyektif, ia takkan melupakan memori sepenting ini. Tidak sedikitpun.
Clakishka… Entah mengapa nama itu lewat dari perhatiannya. Mungkin itu wajar. Dalam buku yang tidak terlalu tebal itu, ia hanya dua kali menemukan nama Clakishka. Tokoh kecil, nyaris tidak penting dibanding peran banyak orang yang tertera di sana. Tapi bahwa ia tercatat dalam sejarah menyatakan lebih dari kelihatannya.
Ia putra How-yak II, kepala suku tahun 1888 hingga 1908. Hanya 20 tahun ia memerintah, sebelum digantikan putranya. Buku itu tidak menyebutkan banyak pencapaiannya, tapi menyebutkan beberapa kejadian penting yang terjadi sebelum dan saat ia memerintah.
Tampaknya Clakishka lahir setelah ayahnya dan beberapa utusan dari suku sekitar menandatangani Treaty of Olympia pada 1855. Inti perjanjian itu adalah pembagian wilayah, atau tepatnya penjualan tanah pada orang kulit pucat, sekaligus upaya segregasi. Pertemuan pertama dilangsungkan di Sungai Chehalis, tanpa kehadiran utusan dari suku Quileute, dan dinyatakan gagal karena suku-suku yang ada menolak sederet pakta. Baru empat bulan kemudian beberapa poin perjanjian disetujui, termasuk pemindahan ke reservasi di wilayah suku Quinaielts. Namun, tahun berikutnya suku Quileute menyatakan bahwa mereka tidak pernah menyetujui poin tersebut, menganggap mereka ditipu untuk menandai perjanjian yang dikira sebagai perjanjian perdamaian, serta menolak dipindahkan. Meski demikian, mereka tetap menerima bangsa asing yang menetap di wilayah mereka.
Tentu saja urusan 'hidup berdampingan' ini tidak lewat tanpa masalah. Pada 1880-an, terjadi serangkaian konflik. Salah satunya terjadi antara seorang dukun bernama Obi dengan seorang pedagang kulit pucat, dalam persengketaan menyangkut 'pagar'. Mereka nyaris baku hantam sebelum Clakishka, yang juga merupakan kerabat sang dukun—saat itu belum menjadi kepala suku—mendamaikan keduanya.
Rupanya persengketaan itu bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir, hingga akhirnya pada 1889 Presiden Cleveland menerima permintaan untuk menengahi persengketaan lahan itu dengan menyatakan tanah tersebut sebagai milik Quileute. Saat itu Clakishka sudah naik takhta menggantikan ayahnya. Dengan latar belakangnya yang hidup bersisian dengan bangsa asing sejak awal, kelihatannya ia cukup berpikiran terbuka. Hal ini terlihat dari fakta bahwa ia masih membiarkan si pedagang asing menetap di tanah Quileute, meski terusir dari tempat tinggalnya yang semula.
Namun, keributan tak selesai sampai di situ. Tujuh bulan kemudian, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan banyak rumah, kano, peralatan memancing, serta berbagai perlengkapan upacara. Disinyalir bahwa sang pedagang berada di balik kebakaran tersebut, sehingga penduduk mengajukan petisi untuk mengusirnya. Tapi baru pada 1898, pihak berwenang benar-benar mengabulkan permohonan tersebut.
Seth sudah hampir mengabaikan informasi yang bukan sekali ini dibacanya tersebut ketika matanya terantuk pada satu nama.
Nama yang tidak asing.
Dan Pullen…
Ya, sang pedagang kulit pucat itu bernama Pullen.
Dan apa dulu kata Carlisle ketika mereka harus pergi setelah perubahan Bella? 'Kita akan kembali. Kita selalu kembali.'
Selalu kembali.
Mengapa rasanya ia tidak merasa terkejut?
.
Baru saja ia hendak menutup buku yang sedang ia baca, tahu-tahu saja dering keras telepon rumah memenuhi ruangan. Seth mengerang, ingat ia meninggalkan androidnya di rumah Cullen sesaat sebelum ia berubah, dan lekas keluar kamar untuk mengangkat telepon. Belum lagi ia mengucap halo, suara nyaring Korra sudah memecah gendang telinganya.
"Seth!" seru gadis itu di sisi sana. "Untunglah kau ada di rumah! Aku bingung mau menelepon kemana…"
"Oh, kau sudah pulang?" ia tak bisa menahan nada dingin kala melontarkan kalimat itu.
"'Kan kau yang tadi meng-sms Jasper menyuruhku lekas pulang. Kau masih lama di rumah? Ada yang ingin kami rundingkan…"
Rundingkan? Tentang Sang Ibu?
Seth menghela napas berat sebelum menjawab setengah hati, "Aku segera kembali."
"Perlu aku mengutus seseorang untuk menjemputmu kesana?"
Siapa? Nona Hitam? Bagaimana jika ia sendiri yang berusaha membunuhku?
"Tidak perlu."
"Tapi di hutan berbahaya."
"Aku yakin Carlisle telah berhasil meminta gencetan senjata sementara waktu," balasnya tanpa sedikitpun antusiasme.
"Ngg, ya, memang sih… Tapi…"
"Bagaimana Jacob?" ia mengganti topik yang menyesakkan itu dengan menarik topik lain—yang sejujurnya lebih menyesakkan.
"Carlisle bilang operasi pertamanya cukup berhasil. Tidak bisa dibilang sukses karena persentase keberhasilannya baru 20%. Mereka akan melakukan operasi kedua setelah melihat kemajuan penyembuhannya."
"Oh, syukurlah… Ada hal lain yang perlu kutahu?"
"Ngg," nada suara Korra terdengar lebih tegang, agak ragu, daripada sebelumnya. "Maaf Seth, aku tidak bisa mengatakannya lewat telepon."
Sebegitu seriusnyakah?
"Baik. Aku segera meluncur."
"Oh, Seth," Korra menahannya tepat ketika ia akan menutup telepon.
"Apa?"
"A, aku rindu kamu…," ujarnya malu-malu. Aneh, sejak kapan Korra malu, atau tepatnya, sejak kapan Korra mengatakan 'rindu'? "Cepatlah pulang, dan … hati-hati..."
Apa ia bilang? 'Pulang'? Cih.
Jeda cukup lama sebelum akhirnya ia menjawab singkat, "Ya."
"Aku mencintaimu, Seth. Sangat…"
Korra tak biasanya mengatakan cinta, terlebih jika dibalut dengan nada penuh harap. Entah berapa ratus kali ia terus berharap Korra mengatakannya, tapi saat itu, lidahnya begitu kelu untuk menjawab. Akhirnya ia hanya bisa membalas, "Aku tahu." Dibayangkannya sorot kekecewaan di mata Korra, tapi kali itu ia tak bisa menggerakkan apapun dalam dirinya untuk memenuhi kebahagiaan gadis itu.
Tidak sama sekali.
Ia menutup telepon tanpa salam atau kecupan, kemudian bangkit dan menuju lemari pakaian. Diselipkannya tangannya mencari sesuatu yang ia sembunyikan di bawah hambalan baju paling atas. Tak lama ia menemukan apa yang ia cari, dan tanpa banyak bicara memasukkannya baik-baik ke tas kanvas yang biasa dipakainya untuk menyimpan pakaian jika ia terpaksa berubah dengan harus membawa lebih dari satu item busana. Segera ia melucuti pakaian dan memasukkannya ke tas yang sama, lantas melompati jendela untuk mengambil wujud serigala.
Ketika ia berlari, matahari sudah menampakkan diri di ujung cakrawala. Dirasakannya kehangatan tatkala garis-garis sinar keemasan menyentuh permukaan bulunya. Dan kali itu baru ia sadari, bulu-bulunya membiaskan cahaya itu. Samar, tipis, tapi ia bisa melihat sedikit kilau lemah. Yang hanya membuatnya makin mengutuk, sebelum memacu kakinya lebih cepat.
Pertama kali dalam seumur hidup menjadi serigala, ia membenci dirinya.
.
Di salah satu kelokan jalan yang berliku-liku membelah hutan bak ular raksasa, satu mobil melaju meninggalkan La Push.
.
.
Apakah waktu yang berjalan sangat lambat, ataukah ruang yang memulur? Karena jarak yang biasa ditempuhnya seakan berlipat ganda.
Kian cepat ia memaksa kakinya berlari.
Fakta yang ia temukan serasa bukan pencerahan. Bukan kebanggaan diraihnya, bukan pula kelegaan. Kadang justru mengetahui kebenaran merupakan beban.
Inikah beban yang ditimpakan padanya sebagai Alfa? Pantas saja Jacob kehilangan kewarasan, kalau begitu.
Setidaknya ada dua hal yang merisaukannya kini. Satu, fakta kecil yang ia temukan tidak mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan yang ada, melainkan menambahnya. Dua, fakta itu membuka kemungkinan lain yang tidak terelakkan. Pembatalan perjanjian. Mungkin malah perang.
Dan Pullen…
Apakah kebetulan saja nama pedagang asing itu mirip nama klan vampir tetangga mereka? Atau mereka, setidaknya satu saja di antara mereka, adalah orang yang sama?
Ia sama sekali tak aneh dengan perbedaan ejaan yang terbilang minor. Sejarah dibentuk oleh mereka yang menang atau berkuasa, itu sudah jelas. Fakta saja bisa dipelintir, apalagi sekadar nama? Kesalahan fakta bisa terjadi, sengaja atau tidak, kesalahan nama lebih galib lagi. Fakta menjadi sejarah, dan sejarah menjadi legenda. Apa yang aneh?
Namun sebagaimanapun sejarah itu berubah, selalu ada jejak. Selalu ada tanda-tanda yang jika kau cukup jeli melihat dan cukup lihai menelusurinya, kau akan bisa menemukan kebenaran.
Tapi sungguh, bukan kebenaran ini yang ia inginkan.
Tidak karena jika benar, artinya apa yang mereka ketahui mengenai keluarga Cullen selama ini salah. Kapan mereka kira pertama kali para lintah itu datang dan mengadakan perjanjian? 1930-an, pada masa Ephraim? Kini sudah ada bukti mereka telah menetap setidaknya sejak 1880-an. Ia takkan lagi heran jika ternyata mereka telah menetap jauh sebelumnya. Pada masa Kierra, misalnya.
'Kembali', heh?
Pernyataan itu bukan sekadar pernyataan kosong sekarang.
Jika itu benar, artinya ada kemungkinan lebih besar bahwa Scarlett memang benar putri mereka. Oh, mereka bahkan tak perlu menjadi sepasang kekasih untuk bisa menghasilkan keturunan. Apa kata Alice? Ia dikenal dengan haremnya? Sama sekali tidak aneh jika ia pernah mencoba-coba tidur dengan makhluk di luar bangsa Quileute, entah apapun kedudukannya atau apapun jenisnya. Siapa pula yang bisa menolak seorang wanita cantik yang punya kekuasaan besar, termasuk kekuasaan untuk membantai jika orang yang bersangkutan tidak menurut. Tidak begitu pun, yang judulnya lelaki selalu mudah diperkosa nyaris 'dengan keinginan sendiri', seperti yang telah Korra buktikan atasnya berulang kali.
Tapi masih ada satu keraguan di sini. Kaliso… Korra bilang Seth adalah keturunan Kaliso, kan? Ia dan Korra memiliki satu leluhur yang sama yakni Joanna, sangat mungkin putri Scarlett, jika menimbang Scarlett adalah 'sang perempuan misterius', istri pertama Jacob I. Jika memang Scarlett adalah putri Kierra dan Carlisle, di mana posisi Kaliso?
Atau … mungkinkah ada galur lain?
Mungkinkah ia dan Korra tidak berasal dari satu leluhur? Bisa jadi Kaliso menikahi wanita lain sepeninggal Kierra dan melahirkan leluhurnya, sementara Kierra justru mendapat anak dari pria lain sebelum kematiannya. Selama ini ia tidak pernah mempertimbangkan siapa kemungkinan ayah si perempuan misterius dengan asumsi bahwa darah perempuan itu pasti mengalir dari Kierra.
Tunggu. Jika begitu, artinya tidak perlu menempatkan Kierra di sana. Mungkin saja Scarlett adalah putri Carlisle dari wanita lain. Kierra juga tidak pernah mengiyakan bahwa Sang Ibu adalah putrinya, kan? Malah ia terlihat begitu marah ketika Seth mengutarakan kemungkinan itu.
Tunggu, tunggu. Ini makin tidak masuk akal dan mulai kontradiktif. Yang mana yang benar?
Kemungkinan A, teori lama bahwa Sang Ibu adalah putri Kierra dan Kaliso. Itu tidak menjelaskan mengapa Sang Ibu malah memanggil Carlisle 'Bapa'. Hei, persetan soal panggilan 'Bapa' itu. Itu tidak harus berarti 'ayah' kan? Mungkin saja itu panggilan kehormatan, atau apalah…
Ugh, tetap terasa tidak benar.
Kemungkinan B, Sang Ibu adalah putri Kierra dan Carlisle. Sang Ibu adalah ibu Zacharias sang Alfa terbuang, leluhur Korra, dan Joanna, leluhurnya. Itu menjelaskan mengapa Zacharias diasingkan, ia pasti memiliki darah lintah yang kelewat kental di samping darah serigalanya. Mungkin pertumbuhannya terlalu cepat, atau bahkan ia benar-benar makan orang… Siapa tahu saja, kan? Tapi ini tidak menjelaskan di mana posisi Kaliso.
Kemungkinan C, Zacharias dan Joanna tidak berasal dari satu ibu. Mungkin Kierra dan Carlisle memang pasangan, dari mereka hadir Sang Ibu, yang lantas melahirkan Zacharias. Joanna mungkin lahir dari wanita lain yang merupakan putri Kaliso. Entah jadinya Joanna seibu dengan Joshua Black, atau malah Jacob I mempunyai istri ketiga... Yang jelas intinya leluhurnya dan leluhur Korra tidak punya hubungan darah sama sekali. Kemungkinan ini adalah yang paling sulit. Artinya banyak detail yang masih misteri.
Termasuk soal Leah … dan dirinya.
Kemungkinan D, Carlisle adalah ayah Scarlett dari wanita lain. Entah siapa, yang jelas pasti ia wanita Quileute. Jika ia pernah hidup di masa Kierra, tidak ada kemungkinan ia tidak pernah mengawini salah satu…
Tunggu.
Masih ada kemungkinan E. Jika ia menempatkan Carlisle di generasi yang lebih tinggi…
Kierra seorang hibrida dari ibu wanita Quileute. Jadi siapa ayahnya? Mengapa antara ia dan Carlisle seakan ada satu hubungan, yang lebih dari urusan majikan dan budak?
Tidak mungkin.
Ya, kan?
Dunia pasti sudah terbalik.
Tidak, tidak, coret kemungkinan yang terakhir itu.
Lagipula Old Quil mengatakan bahwa ayah Kierra adalah vampir mata merah. Ia sudah menyerahkan diri setelah kematian istrinya, lantas tewas dicabik-cabik.
Tapi legenda bisa saja terpelintir kan?
Karena kalau kemungkinan yang terakhir ini benar, semua yang terjadi selama ini adalah sebuah kebohongan besar. Tentang kasus Bella, tentang kasus Renesmee… Jika Carlisle tahu, jika ia sendiri mengalaminya dan tahu apa konsekuensi jika bangsanya berhubungan dengan manusia, ia tak boleh hanya tinggal diam. Dan Jacob pun tidak bisa memutuskan pengecualian atas hukum yang telah ditetapkan Ephraim. Pengecualian itu sama sekali tidak valid.
Oh ya, tidak hanya kemungkinan E. Jika salah satu kemungkinan itu benar, artinya Carlisle sudah selayaknya dinyatakan sebagai musuh mereka sejak berabad-abad lalu.
Semoga ia salah. Semoga ia alpa mempertimbangkan kemungkinan F yang jauh lebih mudah.
Kepalanya pening. Sangat.
.
.
Matahari sudah cukup tinggi ketika ia menginjakkan kaki manusianya di garis pepohonan terdalam yang mengitari rumah Cullen. Serigala Harry dan Clark, yang tengah tidur-tiduran di pelataran bak anjing penjaga, segera mengangkat kepala, menoleh ke arahnya. Tak lama mereka bangkit dan mendekat.
"Mana Ben dan Pete?" tanyanya, melihat dua serigala itu tidak ada di sana.
Harry menguik kecil, mengarahkan moncong ke dalam rumah. Dari dalam, Seth bisa mencium bau masakan. Sudah jelas dua serigala itu tengah berpesta pora menghabiskan isi kulkas yang tak pernah disentuh si empunya.
"Kalian tidak ikut?"
Harry dan Clark menggeleng. Tampak keengganan di raut wajah keduanya, dan Seth tidak perlu bertanya mengapa.
"Baiklah. Kalian boleh berburu," ia memberi mereka izin meninggalkan pos. "Jangan terlalu jauh dan tetap hati-hati."
Kedua serigala nyaris identik itu mengangguk, kemudian pergi tanpa diperintah dua kali. Langkah mereka agak gontai. Jelas mereka kelelahan gara-gara berjaga semalaman. Dalam hati Seth mempertanyakan kembali keputusannya memperbolehkan mereka pergi berburu hanya berdua, tapi tak mungkin juga menyodokkan makanan milik lintah pada dua serigala sinis itu kalau memang mereka tidak menginginkannya.
Mengenyahkan satu lagi pikiran buruk yang mendadak muncul, Seth melangkah masuk. Benar saja, Ben dan Pete tengah sibuk di dapur, membantu Esme menggoreng segunung telur dan ham seraya tak henti mengunyah. Mereka masih tak terlalu menerima para vampir, tapi setidaknya mereka mau menurunkan sedikit bendera permusuhan jika itu berarti setumpuk makanan hangat, gratis pula. Di sofa, dilihatnya Quil dan Embry tergeletak nyaris tak bernyawa—energi mereka pasti habis setelah bulak-balik ke kota mencari entah-apa-yang-diminta-Carlisle-untuk-operasi-Jacob. Seth juga merasa lelah. Tapi saat ini ia tak ingin tidur.
"Pagi, Seth," sapa Esme ketika ia mendekati dapur untuk mengutil apel dari keranjang buah di bar dapur. Ben dan Pete ikut sumringah melihat kedatangan Alfa mereka, namun mulut mereka terlalu penuh untuk bicara satu kata pun, sehingga mereka hanya memberi kode dengan mengangkat gelas susu, menawari Seth ikut makan. Meski biasanya serigala akan menyambar apapun yang disodorkan di depan hidungnya, kali itu Seth tidak bernafsu untuk apapun.
"Tidak, terima kasih," tampiknya. "Pagi juga, Esme," ia berpaling pada si wanita vampir, memaksakan diri tersenyum sembari mengecup pipi Esme, yang dibalas dengan senyuman yang tak kalah manis. Walaupun Seth pastinya bau setelah berlarian dalam wujud serigala, wanita itu sama sekali tak menampakkan wajah jijik.
Belum lagi Esme menawari Seth makan, Alice muncul dari ruangan lain sembari membawa sekeranjang roti Prancis, yang langsung diserbu dua babi kelaparan. Alice tak mempedulikan mereka dan memutuskan untuk mengganggu adik bungsunya.
"Oh, hai Seth... Astaga, kenapa wajahmu itu?" ia terkikik. "Kau kelihatan lebih vampir daripada vampir..."
Ya, ia tahu. Ia sempat melihat cermin waktu di kamarnya tadi dan melihat bayangan yang tampak di sana begitu mengerikan. Bibirnya pucat, mukanya kuyu dengan mata cekung. Bahkan ia punya lingkaran hitam di bawah mata yang lebih parah daripada panda. Jika ia merambah hutan dalam wujud manusia seperti saat ini, serius, ia bisa disangka vampir kelaparan yang sedang mencari mangsa dan langsung diburu.
Seth tidak tahu apa ia lelah karena tidak tidur semalaman atau karena banyaknya pikiran yang membebaninya. Atau mungkin efek tidak tidur itu yang membuat pikirannya kacau. Yang jelas ia sedang tidak ingin membalas candaan garing Alice.
"Mana Korra?" tanyanya. Entah mengapa belakangan ia jadi terus menanyakan keberadaan orang-orang.
"Di atas bersama Carlisle," jawab Esme seraya menuang tumis brokoli yang baru masak ke mangkuk besar di hadapannya. "Mereka menunggumu, Seth. Kau mau langsung ke atas atau sarapan dulu?"
Seth melirik masakan di hadapannya. Baunya enak, tapi rasanya ia mencium sedikit aroma yang tidak tepat.
"Aku akan ke atas saja," katanya. "Tolong sisakan untukku, Esme," ia menambahkan, ingat untuk memberi sedikit senyum agar Esme tak merasa tersinggung.
"Yakin kau tidak makan dulu?"
"Tidak, terima kasih. Aku sudah makan sedikit di hutan tadi," ia berbohong.
Ketika ia berbalik dan memanjat tangga ke lantai dua, ia mendengar Esme berbisik di balik punggungnya dengan nada prihatin. "Seth kelihatan makin kurus. Ia makan tidak sebanyak biasanya belakangan… Apa karena masakanku tak enak?"
"Tidak, Esme… Ia memang sedang banyak pikiran," didengarnya Alice menimpali dengan nada prihatin yang sama.
"Oh Tuhan, pemuda yang malang…"
Sudah kebiasaan Esme untuk menambahkan embel-embel 'malang' pada semua makhluk. 'Rusa yang malang', 'singa yang malang', 'Bella yang malang', 'Jacob yang malang', Korra disebutnya 'gadis yang malang', dan kini Seth pun digelari malang. Ia takkan heran kalau satu saat Aro Volturi pun akan disebut 'vampir tua yang malang'.
Tidak ingin memikirkan apapun lagi, dengan berat ia menapak tangga terakhir yang menghubungkannya ke lantai atas.
.
.
"Masuklah, Seth," ucap Carlisle dari dalam bahkan sebelum Seth mengetuk. Seth menyiapkan hati sekali lagi, dan mendorong pintu berat berukir itu.
Ketika ia menutup pintu berat di belakangnya, dirasakannya jejak si hibrida sudah hilang. Carlisle duduk di balik meja, wajah yang biasanya tenang dan penuh kendali itu agak sedikit berbeda—tampak lelah dan tegang. Seakan ia melihat Carlisle dalam versi 10 tahun lebih tua. Agak jauh, dilihatnya sosok Korra bersandar di ambang jendela dengan tangan bersidekap, wajahnya sama kusut dengan Carlisle, kalau tidak mau dikatakan lebih kusut lagi. Ia hanya tersenyum sekilas ketika Seth masuk, tapi tidak lantas mendekat dan memeluknya atau apa. Ia bahkan tak memberi salam. Sudah jelas ia sedang memasuki mode Kierra.
Huh, sungguh manis untuk orang yang tadi bilang 'rindu' dan 'cinta'.
Sekilas ia menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Jelas apapun yang Carlisle bicarakan dengan si hibrida, pembicaraan itu berlangsung damai. Tak ada satu benda pun yang hancur, terjatuh, atau sekadar bergeser dari posisinya. Kecuali tentu saja, biola yang tadi dimainkan si hibrida, yang kini tergeletak di atas meja. Di sebelahnya tampak sebuah kotak kayu berukir dengan tutup yang terbuka.
Tunggu. Kotak itu... Rasanya ia kenal…
"Silakan duduk," terdengar suara Carlisle, menyadarkan Seth dari pikirannya yang simpang siur.
Pemuda itu segera menancapkan dirinya di kursi di depan meja. "Apa yang ia katakan?" tanyanya langsung pada bisnis.
"Sebelumnya," ujar Carlisle lamat-lamat. "Ada yang ingin kautanyakan?"
Sejujurnya, banyak. 'Siapa perempuan itu?' 'Benarkah ia Sang Ibu?' 'Mengapa kau memanggilnya Scarlett?' 'Apa kau mengenalnya?' 'Benarkah ia putri Kierra?' 'Apa Kierra mengenal, atau bahkan menjalin hubungan dengannya?' 'Mengapa ia menyebut tanahmu sebagai tanahnya?' 'Apa ia yang bertanggung jawab atas insiden Jacob? 'Mengapa ia memanggilmu Bapa?' 'Siapa sebenarnya kau?' 'Ada hubungan apa kau dengan Kierra?' 'Ada andil apa kau dalam semua ini?'
Ia sudah akan merangkai argumentasi dan hipotesisnya sendiri, siap melontarkannya di hadapan dua makhluk itu. Tangannya menyelinap ke balik saku, menyentuh satu-satunya benda yang mendekati definisi 'bukti' yang ia punya. Sementara matanya liar menapaki jengkal demi jengkal ruangan, mencari bukti-bukti lain.
Hingga akhirnya matanya tertumbuk pada kotak yang tergeletak di atas meja. Dan satu ingatan melayang memasuki ruang terdepan otaknya.
Ya, ia tahu kapan dan di mana ia pernah melihat kotak itu.
Kotak kayu dengan ukiran Quileute. Diberikan Alice pada Korra ketika mereka pertama bertemu, bahkan sebelum ia dan Korra jadian. Bersama kotak itu, ia juga memberikan sepucuk surat dan … sebuah liontin.
Liontin emas dengan ukiran sulur-sulur melengkung bertakhtakan rubi merah.
Liontin dengan lukisan wajah Leah, atau mungkin mirip-Leah, ia tak tahu bedanya kini.
Liontin yang sama yang pernah dilihatnya tergantung di leher Korra.
Liontin yang, menurut Korra, hilang di hutan.
Liontin yang ia lihat, bersama Jacob, tergantung di leher Ariana, namun foto di dalamnya telah berganti dengan foto Korra.
Liontin yang ia ambil kembali dari Ariana setelah mereka menangkapnya.
Liontin yang kini terselip di sakunya. Potongan kebenaran yang tersembunyi. Potongan puzzle yang menunggu di mana ia akan ditempatkan.
Apa arti benda ini?
Ia mengalihkan pandangan menatap mata emas nan tenang dan jernih dokter vampir itu. Pertanyaan itu mengambil wujud di ujung lidahnya, siap terlontar setiap saat. Entah apa jadinya nanti. Kebenaran yang menyambut cahaya, atau justru menyeret mereka ke kegelapan?
Namun akhirnya, pertanyaan yang terlontar hanya satu. "Mengapa ia ke sini?"
Carlisle tak langsung menjawab, memejamkan mata seraya mengaitkan jari-jemarinya di atas meja. Wajahnya terlihat berat.
"Scarlett…," katanya akhirnya, "menjawab tantangan perang."
"Tantangan?"
"Ia dikirimi 'surat pemberitahuan', atau tepatnya 'surat tantangan', diletakkan langsung di depan pintu utama jaringan terowongan bawah tanah…"
Memangnya jaringan itu masih berfungsi? Tapi saat ini, bukan itu pertanyaan terbesar yang mencuat di benak Seth.
"Surat pemberitahuan?"
"Diukir pada … sebelah potongan kaki Ariana…"
.
.
Catatan:
Oke, chap ini kelar. Aku punya sekitar 4 alternatif buat chap ini, ga ada satu pun yang bagus. ugh.
Btw aku niat buat ngegabungin pertemuan Seth dengan Scarlett di chap lalu dengan chap ini. Tapi malah awal chap ini begini jadinya. Kalo mau digabungin, apa mendingan awal chapnya diubah ya? hmmm… bingung.
Btw aku belum sempet cek ricek chap ini hingga sore nanti. Jadi kalo banyak typo ato kata yg ilang dll, bilangin ya, ntar aku perbaiki
Thx ya :D
.
.
DELETED SCENE
Sebenernya aku bikin versi lain soal terbukanya kemungkinan siapa itu Clakishka, yang juga ngasi latar belakang tambahan tentang masa lalu Kierra. Aku ga yakin buat masukin ke adegan di atas, karena dengan kekalutannya, agak mustahil Seth mau lama-lama ngedengerin celotehan bocah2 di hutan... Jadi kumohon kali ini, aku minta bantuan temen2 buat kasi masukan... Yang mana yang lebih masuk akal, perlukah yang ini dimasukin ke scene di atas, atau yang di atas udah cukup?
.
.
.
Ada satu petunjuk. 'Clakishka', nama yang terlontar dari bibir wanita itu.
Ia tahu nama itu. Di mana ia pernah mendengarnya?
Clakishka? Dalam kekisruhan pikirannya, selubung pikirannya bak saringan dan tiba-tiba didapatinya Harry menyelusup.
Sial! Apa Harry mendengar?
Tapi kalau dari ketenangannya, kelihatannya tidak.
Clakishka…, tekur Harry. Bukankah itu nama kecil How-yak II?
Oh, aku tahu itu! Ben terlihat senang karena akhirnya tahu sesuatu yang diketahui Harry. Kepala Suku yang menandatangani Treaty of Olympia. How-yak II adalah putranya. Ia berganti nama jadi Jacob Black I waktu memerintah, kau tahu, sewaktu ada gelombang Anglikanisasi…
Ia pernah dengar soal How-yak II. Tapi Clakishka dan How-yak II adalah orang yang sama?
Kau tidak tahu, Seth? Kukira nilai Sejarah-mu bagus? ujar Harry sinis.
Itu membuktikan bahwa Seth adalah tipe yang belajar dadakan sebelum ujian, jadi ingatannya cepat raib, sambung Clark.
Kau terlalu banyak memikirkan angka, sih…, Pete ikut nimbrung.
Atau memang Sejarah itu tidak penting, Ben mengambil kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya soal pelajaran yang paling ia benci. Yeah, memang faktanya ia benci semua pelajaran kecuali Seni Musik. Kita 'kan hanya akan menyimpan informasi yang menurut kita penting atau dibutuhkan…
Jujur saja, kalau kata-kata itu diucapkan Harry atau Brady, ia tak terlalu kaget. Tapi Ben dan Pete? Ben adalah anak paling pemalas di kawanan kalau soal sekolah. Belakangan ia lebih suka main band atau menjadikan urusan patroli sebagai alasan untuk bolos, sehingga sudah jelas masa depannya takkan jauh dari dua Black lain: Collin yang sudah empat tahun di SMA dan terancam tidak lulus dengan kondisi kesehatannya kini, dan Jacob yang memang memilih drop-out. Sedangkan Pete, dia memang dapat nilai bagus karena menempel pada si jenius Ben Two, tapi itu dalam pelajaran eksakta. Nilainya dalam pelajaran sosial nyaris menyedihkan.
Jahat sekali sih kau, Alfa, Pete langsung manyun. Cuma karena aku termasuk geng Cole dan Ben, kan bukan berarti aku sama dengan mereka. Masa kau langsung mengira aku tukang mencontek pekerjaan Bennie? ia memanggil Ben Two dengan nama kesayangan yang langsung membuat Harry dan Clark mengerang.
Kau mau bilang aku bodoh? gonggong Ben.
Tidak. Cuma sekolah bukan prioritas utamamu, itu saja… Lagipula setiap orang punya kecerdasan berbeda, kau tetap hebat kok dalam yang lain meski kecerdasan eksakta dan logikamu rendah…
Ben berusaha mencerna sejenak sebelum akhirnya berteriak, Itu sama saja, Bodoh!
Cukup kalian berdua! Akhirnya Sang Alfa tak tahan juga lama-lama mendengar keributan tanpa juntrungan anak buahnya. Kalau kalian masih mau ribut sendiri, sebaiknya kalian berubah balik!
Belakangan kesabaran Seth nyaris mendekati titik kritis dan kawanan lebih dari tahu untuk tidak main-main. Bagaimanapun kedudukan Alfa adalah kutukan; semanis dan sesabar apapun seseorang, mereka takkan bisa tidak stress begitu ada di kursi puncak. Entah karena beban di pundak mereka terlalu menekan, atau memang kawanan saja yang susah diurus. Itu sudah terbukti pada Sam dan Jacob, apa ada jaminan itu takkan terjadi pada Seth?
Hei, omong-omong soal sejarah, aku jadi ingat sesuatu, Ben angkat bicara. Seth mulai awas, tapi ia agak menarik napas lega begitu mendengar kelanjutan ucapan Ben. Kau tahu, Korra juga tertarik pada Sejarah Quileute, lho…
Tidak aneh, gerutu Harry, entah mengapa agak kesal. Anak-anak tahu alasannya: meski freshman, Korra mengambil beberapa kelas senior. Nilainya bagus-bagus, terutama di bidang ilmu sosial, padahal ia hobi mabal. Tentu saja Harry merasa terintimidasi.
Tapi Korra kadang suka sok tahu, lanjut Ben. Aku dengar dari teman bandku yang sekelas dengannya di Sejarah Amerika, pernah satu waktu nilainya anjlok. Esainya super-mengada-ngada hingga Mrs. Potts mengomelinya di depan kelas. Namun Korra bersikukuh ia benar. Ia agak heboh diskusi dengan Brady dan Collin di kelas Budaya setelahnya, sampai dimarahi Mrs. Lahote. Waktu Brady menunjukkan beberapa buku teks, ia marah besar.
Oh ya, aku ingat, seru Pete. Aku, Korra, dan Brady juga sempat diskusi soal sejarah Quileute abad ke-18.
Masa?
Yup. Ia marah waktu kubilang tidak ada kepala suku perempuan, bilang tak tanggung-tanggung ada enam kepala suku perempuan berturut-turut. Waktu di acara api unggun dan Old Quil cerita soal Kierra, aku sampai tercengang, lho. Itu kan tidak ada di buku teks. Tadinya kupikir ia tahu dari hasil riset ibunya yang belum dipublikasikan.
Tentu saja ia tahu, ya kan? Kepala suku yang ia sebut itu ternyata Alfanya…, Ben menayangkan gambar dirinya terkekeh dan tos dengan Pete.
Cih, Korra memang curang, Harry mengutarakan pendapat pribadi dengan nada skeptis. Ia bisa dapat nilai tinggi itu, jangan-jangan dibantu Alfanya?
Sudahlah Harry, jangan cemburu begitu, sambut Ben dengan senyum dikulum. Bagaimanapun Korra kan tidak bakal lulus tahun ini. Jadi meski nilainya di atasmu, kau masih berpotensi jadi lulusan terbaik, kok. Tenang saja...
Omong-omong, Pete kelihatan malas menerjunkan diri ke dalam pancingan standar Ben untuk menggoda Harry dan kembali fokus ke urusan Korra. Waktu itu Korra marah waktu Collin bergosip tentang istri Kepala Suku Kaliso, ia mengingat-ingat.
Seth mendadak awas.
Oh, ya… Penyihir yang dibakar di tebing, sambut Ben.
Memangnya ada? kerung Harry.
Tidak ada di buku teks, Harry.
Lho, Collin tahu dari mana kalau tidak ada di buku?
Banyak cara untuk tahu sejarah selain dari buku, lah…, ucap Ben dengan bangga, seolah bilang 'Gosip jauh lebih bisa diandalkan ketimbang sejarah'.
Oh ya, aku lupa kalau urusannya menyangkut kalian Geng Gosip, urusannya takkan jauh dari kabar burung, Harry berdecak.
Tidak juga, kok. Itu termasuk legenda suku.
Oh ya? Memang dia dapat sumber dari mana?
Mana kutahu? Jaringan Cole kan luas… Mungkin saja ia dapat dari Old Quil, berkaitan dengan 'hak khusus calon Alfa'.
Atau ia mengarang indah. Lagipula banyak legenda yang tidak ketahuan asal-usulnya. Sejarah yang terpelintir… Sama sekali tidak obyektif.
Masa kau tak tahu bahwa sejarah memang subyektif? Sejarah kan dibentuk oleh pihak yang menang atau berkuasa, atau disusun berdasarkan hipotesis orang yang bahkan tidak pernah mengalaminya? Mungkin saja mereka menafsirkan dari legenda…
Tapi penyusunan teori itu dilakukan dengan sistematika tertentu! Tidak seperti kalian tukang gosip…
Cukup! lerai Seth sebelum dua serigala itu malah mempertentangkan esensi sejarah versus gosip, yang sama sekali tidak relevand engan kondisi sekarang. Apa memang cerita soal si istri Kepala Suku Kaliso?
Dia dibakar di tebing…
Ya, aku tidak tuli, Ben. Maksudku mengapa?
Ia dituduh melacurkan diri pada budak kulit pucat dan menjual rahasia suku. Mereka juga bilang ia mempraktikkan sihir dengan menghisap jiwa dan minum darah perempuan muda.
Penyihir dan pelacur… Hah, standar sekali, ejek Harry. Skema yang biasa dijatuhkan pada perempuan yang dibenci pada abad itu. Paling-paling urusannya cuma si suami bosan dan ingin menikahi wanita lain.
Nah, itu kan tidak mungkin. Sudah jelas sang suami yang kedudukannya lebih rendah. Ia mendapatkan takhta Kepala Suku setelah membunuh istrinya kan?
Maksudmu?
Istri Kepala Suku Kaliso… itu Kierra kan? tunjuk Ben. Karenanya Korra marah. Pastinya ia tak sudi Alfanya dijelek-jelekkan.
Jadi kenapa? biar kata tak melihat langsung, Seth bisa membayangkan wajah Harry. Lengkap dengan mata yang memicing dan alis sebelah berkerut menyepelekan. Sudah reaksi standarnya jika berhubungan dengan geng gosip.
Tunggu. Kata siapa itu Kierra? Clark ikut sumbang pikiran. Kaliso kan kejam, mungkin saja ini kisah tentang istri keduanya.
Tidak, karena kalau ada legenda lain yang menyangkut penggulingan Kierra, pasti legenda itu akan kita kenal jejaknya. Penggulingan Kierra adalah suatu kisah yang dahsyat dan menentukan dalam sejarah suku itu, mana mungkin tak ada satu legenda pun yang menyinggung masalah itu? ujar Ben pasti. Seth tidak tahu dari mana ia mendapatkan teori absurd itu, tapi patut Seth akui meski tidak logis, ada beberapa aspek yang benar.Hanya ada satu kisah mengenai Kepala Suku Kaliso dan itu adalah kisah ini, tambahnya.
Jadi bagaimana ceritanya? tuntut Seth.
Mereka mengeksekusi perempuan itu di tebing, ketika ia baru saja melahirkan. Ia dicabik-cabik lantas jenazahnya dilempar ke dalam api. Anaknya juga dibakar bersamanya.
Seth menunggu.
Lalu? tanyanya setelah sekitar lima menit Ben tak kunjung bicara.
Apa?
Kelanjutannya...
Ya sudah. Kau mau cerita apa lagi?
Entah mengapa Seth merasa kecewa. Kisah ini tidak baru sama sekali, atau memberikan pandangan baru baginya.
Oh, ada satu lagi, tiba-tiba Ben berseru penuh semangat seakan ingat sesuatu. Setelah kepergiannya, desa diguncang wabah. Banyak putri suku yang dinyatakan tertular. Kaliso membunuh mereka semua, namun wabah tidak berhenti. Para Tetua Suku percaya bahwa wabah ini adalah kutukan mendiang Wanita Penyihir. Bahwa rohnya masih bergentayangan dan meneror desa. Mereka meminjam kekuatan kegelapan untuk membinasakan roh itu dan mengusirnya.
Oke. Sekarang kita bisa yakin bahwa Wanita Penyihir yang disebutkan itu adalah Kierra, simpul Seth. Lalu apa hubungannya dengan Clakishka?
Tidak ada.
Tidak?
Memangnya aku bilang ada hubungan dengan Clakishka? Tidak kan?
Lagi-lagi Seth kecewa.
Clakishka adalah tokoh sejarah, Seth, tidak ada hubungannya dengan legenda isapan jempol itu, ujar Harry dingin. Ia tokoh besar, lho. Bahkan sebelum ia diangkat, ia sudah berusaha mendamaikan perseteruan antara orang kulit pucat dan bangsa Quileute.
Tak mau kalah dengan Ben, ia pun mulai memamerkan kemampuan Sejarahnya.
Kau tahu setelah Treaty of Olympia pada 1855, tanah Quileute dikerdilkan kan? Bahkan ada semacam upaya segregasi. Kita dipaksa untuk mendiami wilayah tertentu tapi kita menolak. Nah, pada masa How-yak, sebagian orang kulit putih tinggal di tanah Quileute, mengklaim tanah tersebut sebagai miliknya. Tentu saja ada banyak persitegangan. Yang paling terkenal adalah yang terjadi tahun 1880-an. Seorang pemukim kulit pucat bertengkar dengan dukun Quileute yang tinggal dekat tanahnya, karena masalah pagar. Mereka nyaris bunuh-bunuhan, sebelum Clakishka mendamaikan mereka. Hebatnya, ia melakukan itu tujuh tahun sebelum ia naik takhta.
Oh, aku ingat! Kisah Dukun Obi, kan?
Tumben ingatanmu bagus, Ben.
Tentu saja. Korra bulak-balik bertanya soal itu, kok, senyum Ben sumringah.
Korra? Seth mulai awas.
Yup. Ia bertanya apa ada alasan selain 'pagar' dan apa yang dimaksud dengan 'pagar'.
Jawabanmu?
Pagar ya soal pagar. Mungkin Dukun Obi merasa tanah yang diaku si kulit pucat itu sebagai tanah suku, lantas melewatinya atau menanam sesuatu di atasnya. Wajar kan? Memang ada konsep yang berbeda antara bangsa kulit pucat dan kita tentang pengertian 'kepemilikan atas tanah'.
Oke, aku paham, Ben. Lantas apa yang terjadi?
Well…, Ben agak tak yakin.
Pemukim kulit pucat ini terus mencari masalah, Harry mengambil alih dialog Ben. Beberapa tahun setelahnya, putri Dukun Obi bersitegang dengannya. Ia pun diusir dari tanahnya. Lantas tahun 1895, terjadi kebakaran besar hingga warga desa terpaksa mengungsi. Diduga ini adalah perbuatan si pemukim kulit pucat.
Pemukim kulit pucat, pemukim kulit pucat… Memangnya ia tak punya nama?
Ya, tentu saja ada. Namanya… Nggg… Harry agak bingung. Siapa ya?
Ah, begitu saja kau lupa. Payah.
Memang kau tahu?
Tentu saja. Namanya…, dan Ben terdiam.
Tuh, kau sendiri lupa, tunjuk Harry, nyaris tertawa saking puasnya.
Tidak. Aku ingat sesuatu yang lain… agak aneh karena bukannya membalas ejekan Harry, Ben malah menekur. Entah mengapa pikirannya terdengar tegang dan acak. Sesaat kemudian ketika ia kembali bersuara, pikirannya berbalut kengerian. Hei Seth, katanya serius. Mereka selalu kembali, kan?
Siapa?
Para lintah…
Ya…
Kau tahu alasannya? Selain jawaban konyol bahwa tempat ini suram tanpa cahaya matahari. Karena aku yakin mereka lebih aman kalau tinggal di Alaska atau sekalian saja di Kutub Selatan. Mereka bahkan tak perlu dekat-dekat peradaban.
Untuk investasi, jawab Seth dengan pernyataan resmi Carlisle yang pernah diucapkan beberapa tahun lalu ketika ia menanyakan pertanyaan yang sama. Harga properti di Forks akan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa dekade ke depan, menurut Alice. Mungkin Carlisle berniat membuka resort atau semacamnya. Dan kau tahu mereka hobi ngebut, mungkin mereka mencari tempat tinggal yang meski dikelilingi hutan, tetap dekat dengan fasilitas jalan raya.
Yang benar saja! Forks adalah kota logging, yang mendasarkan perekonomian pada penebangan hutan! Entah kapan 'kenaikan harga properti yang signifikan' akan terjadi di sini!
Bahkan Harry menyadari sesuatu yang salah, atau aneh, dalam ucapan Ben. Kau mau bicara apa? tanya Seth, mewakili kernyitan di benak Harry yang juga ia rasakan.
Bahwa keluarga Cullen berbohong, atau apa yang kita ketahui salah, dengan mengira bahwa mereka pertama kali mengadakan kontak dengan Ephraim. Mereka sudah jelas menetap di sini sejak jauh sebelumnya. Dan kau tahu, selalu ada fakta sejarah yang kabur atau dipelintir, kan?
Maksudmu apa sih? Harry makin menuntut.
Ben masih ragu, tapi kemudian ia mengatakan dengan kalimat terbata-bata, Nama pemukim itu … Dan Pullen.
'Pullen'...
Oh ya, mereka memang selalu kembali…
.
.
Gimana? Plissss komen yaaa... Aku galau euy
