THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Based on Twilight Saga by Stephenie Meyer.

.

Maaphin Sodara-sodara... Tadi pagi salah apdet... /*dibantai*
Ampuuunnnn... Ini dia chap yang bener:


.

81. Dakwaan

Friday, January 3rd, 2014

02.34 AM

.


.

Benarkah … yang ia dengar?

Surat pemberitahuan … diukir pada potongan kaki Ariana…

"Kapan?"

"Tiga jam lalu…"

Itu artinya segera setelah Jacob dibawa kemari. Korra langsung pergi begitu ia dan Seth sampai. Itukah yang ia lakukan? Memutilasi ibunya sendiri?

Tak mungkin Ariana dibiarkan hidup hanya dengan satu tangan dan satu kaki. Pasti ia sudah dipereteli, dicabik-cabik dengan keji… Ia tidak melihat bumbungan api atau asap ungu semalaman ini, tapi itu tidak perlu. Ia tahu persis metoda Phat dalam pemusnahan vampir: remukkan hingga jadi debu. Untuk apa repot-repot membakar—menebang pohon atau menyulut api di hutan berpotensi menimbulkan kebakaran, yang berarti memperkosa alam, sebagaimana yang selalu didengungkan Korra dan pastinya juga dianut Kuroi—jika seekor serigala bisa menunaikan tugas dengan meminimalisasi kerusakan pada Ibu Bumi?

Brengsek. Ini salahnya. Ia seharusnya melindungi Ariana. Meski penjahat, Ariana tetap anggota suku dan calon mertuanya. Ariana masih punya harapan untuk disadarkan, ia yakin itu. Peperangan antaranggota keluarga ini tak seharusnya menjadi kolam darah. Jika Korra tak mampu, atau tak ingin melindungi ibunya sendiri, ia yang harus melakukannya.

Namun ia begitu larut dengan kondisi Korra pasca-keguguran hingga alpa mengecek keadaan Ariana. Wanita itu berada di tangan seorang penjagal, yang tidak hanya berdarah dingin, tetapi juga tak berbelas kasihan dan sama sekali tak menghiraukan hak-hak tawanan perang. Semua kejadian ini seharusnya sudah diprediksinya setelah mendengar langsung niat Kierra pada saat rapat. Apalah arti Ariana baginya, selain mayat hidup? Jaminan, barang pertukaran... Alat. Ia, yang sama sekali tak mengurungkan niat untuk melawan putrinya, tak mungkin takkan tega membantai ibu dari inang yang ia tempati. Inang yang dengan mudah akan ia buang kelak saat ia tak lagi membutuhkannya.

Lebih dari apapun, satu yang ia sesalkan. Alice dan Jasper. Keduanya bersama Kierra kan? Bagaimana mungkin mereka membiarkan serigala tak berperasaan itu memutilasi ibunya sendiri, siapapun ia? Oh ya, mereka memang antek-antek Kierra. Entah mereka sudah dipengaruhi hingga ke akar atau memang mereka tak berdaya menentang Kierra. Seperti Sam dan para Tetua. Atau bahkan Carlisle. Atau malah dirinya.

"Lantas apa maksudmu dengan 'menerima tantangan?'" tanyanya.

"Pertempuran penghabisan," meski jawaban itu sudah ia prediksi, dirasanya kata itu menusuk dadanya. "Terbuka. Tidak ada serangan diam-diam atau gerilya atau apapun. Ia bahkan menyatakan bersedia melakukan gencetan senjata hingga saatnya tiba."

"Kapan?"

"Ia memberi kita hak untuk menentukan waktu. Baginya ini adalah pertempuran balas dendam, jadi ia siap kapan saja, sekarang pun bisa. Aku mengatakan akan merundingkannya dahulu dengan yang lain."

Itu artinya kemungkinan perdamaian telah sama sekali tertutup. Tak ada pilihan lain…

Kawanan masih sangat lemah. Jacob dan Collin, dua yang paling kuat dalam kawanan, jelas tak bisa diturunkan. Ia tak tahu apa Brady akan mau mendukung. Yang lain jelas hanya akan jadi babi panggang...

Dalam rasa shock, kecewa, dan marah yang berbaur jadi satu, ia sudah hampir membentak, mungkin malah berubah dan menyerang siluman itu, ketika Carlisle maju dan menahannya.

"Sarungkan kemarahanmu, Seth. Jika kau ingin menuntut, kita lakukan di luar. Hanya bertiga."

Tak bisa tidak ia menggeram.

"Kau mendukung tindakan barbar ini?"

"Tidak, sama sekali tidak. Tapi kau tahu, sebaik apapun sistem kedap suara di ruangan ini, tetap tidak bisa lepas dari pendengaran vampir dan serigala."

Jadi masih ada yang mereka sembunyikan, hah? Tentu saja. Jika melihat betapa manisnya Esme di bawah sana, mungkin malah wanita itu tak tahu menahu tentang hubungan sang suami dengan sang ratu. Dan kawanan? Hah! Memang sejak awal mereka hanya bidak tak berharga, 'kan?

"Baik," angguknya. "Tapi ini kulakukan hanya karena aku memandangmu dan tak ingin menimbulkan kesulitan lebih lagi. Dan kau," ia menunjuk pada Kierra, "kau tetap berhutang penjelasan."

"Tentu, tentu," tak pernah sekalipun Seth begitu membenci kalimat legendaris Jacob diucapkan oleh orang lain sebelumnya, hingga tanpa sengaja ia mengeluarkan geram pelan. Tapi rupanya Kierra sama sekali tak menangkap, atau ia memang tak peduli. Begitu ringannya ia melompat dari jendela, tak menoleh ke belakang sama sekali kala melintasi pekarangan dan menghilang ke balik kerimbunan pepohonan dengan kecepatan pesawat siluman. Menoleh sekilas padanya dengan pandangan mata nyaris memohon, Carlisle mengekor di belakangnya.

Menahan emosi apapun, Seth lekas mengikuti. Butuh penciuman serigala untuk mengendus ke mana mereka pergi, karena jelas kecepatannya dalam wujud manusia tidak sebanding. Sempat ia nyaris kehilangan jejak, namun akhirnya ia bisa menangkap keberadaan mereka berdua, jauh di jantung hutan wilayah Cullen, cukup terlindung dari pendengaran para serigala.

Tak banyak basa-basi, ia merangsak maju. Jika bukan Carlisle lagi-lagi menahannya, mungkin ia sudah memojokkan perempuan itu dan memitingnya ke batang pohon, langsung membuntungi kepalanya sekalian.

"Apa maksudmu melakukan itu?" tuntutnya.

Kierra sama sekali tak kaget ia langsung dituduh tanpa pendahuluan macam-macam, atau ia memang sudah mengantisipasi pertanyaan itu sejak awal. "Mata untuk mata," ia menjawab, sama sekali tak terpengaruh sikap Seth yang kelewat kasar untuk ukurannya. Dengan tenang ia bersandar di sebatang pohon. Tangannya terlipat di depan dada. "Ia menjatuhkan Alfa Black dan saya hanya membalas."

Begitu saja? Ia mengakuinya?

Ia mengucapkannya tanpa emosi, seolah itu kaki seseorang yang acak, seseorang yang tidak ia kenal sama sekali. Seseorang yang tak pernah ia agungkan. Seseorang yang tidak pernah ia sebutkan namanya dan kisah-kisahnya dengan bersemangat, dengan binar rindu berpijar di matanya. Seseorang yang tidak pernah ia cintai dan mencintainya balik.

Lebih lagi, bagaimana mungkin ia menjadikan Jacob sebagai alasan? 'Membalas', heh? Yang benar saja!

"Seth," peringat Carlisle.

Seth memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ketika ia membuka mata, perhatiannya khusus terpusatkan pada Kierra. "Apa Korra tahu soal ini?" tanyanya, berusaha keras meredakan getar dalam suaranya.

Kierra tak langsung menjawab.

"Apa kau menyembunyikan soal ini dari Korra? Atau malah ia sendiri ambil bagian?"

"Saya sudah katakan, ia sudah mempersiapkan diri untuk hal seperti ini…"

Jawaban itu, jujur saja, sama sekali tidak menjawab pertanyaan, bahkan nyaris bisa dikatakan keluar konteks. Tapi sudah jelas ke mana kalimat itu bisa diartikan, Kierra memaksakan kehendak dengan memaksa Korra tunduk.

Ya, tidak mungkin 'kan Korra sendiri sukarela menyiksa dan tak hanya membunuh sang ibu, tapi juga menodai tubuhnya? Ia terlalu mencintai Ariana untuk bisa melakukan sesuatu sekejam itu. Tahu seperti apa dia, kesadaran Korra pastilah tidak terima dan mengamuk habis-habisan di dalam. Bukan hal aneh jika Kierra memojokkan, membungkam, bahkan memusnahkannya sekalian. Tidak begitu pun, dengan situasi semacam ini, bisa saja Korra malah begitu putus asa hingga tak lagi punya kehendak untuk bertahan.

Membayangkan kekasihnya terkerangkeng dalam tubuhnya sendiri, tidak memiliki daya sama sekali bahkan untuk menyuarakan kehendak, membuat dada Seth bergejolak. Rasanya sungguh ia ingin mencabik-cabik Kierra, tak peduli jika kekuatan mereka begitu tak sebanding atau bahkan jika para Tetua memiliki rencana tertentu yang bersangkutan dengannya.

Oh, Kierra, si Penyihir Keji itu… Betapa Seth ingin merontokkan seluruh serat pembentuk tubuhnya. Tidak hanya mengusir, tetapi juga membakar setiap tetes energi penyusun rohnya… Memusnahkannya hingga bahkan tak ada jejak pancaran energi ektoplasma. Hingga rohnya takkan pernah bisa bereinkarnasi, lebih lagi pergi ke Dunia Atas. Oh, bahkan roh itu takkan pernah lagi memiliki tempat di Dunia Bawah atau Dunia Tengah. Di manapun. Musnah. Hilang. Lenyap. Lebur ke dalam ketiadaan.

Jika ia tidak ingat bahwa tubuh itu adalah tubuh kekasihnya… Jika ia tak ingat bahwa jiwa kekasihnya pun ada di sana… Jika ia tidak ingat bahwa Korra dan Kierra satu… Jika ia tak ingat bahwa Korra membutuhkan Kierra lebih besar daripada Kierra membutuhkan Korra…

Ya, jika Kierra terusir dari tubuh Korra, masih ada kemungkinan ia bisa mencari raga lain. Tapi bagaimana dengan Korra? Ada ataupun tidak Kierra, akhir Korra telah dipastikan, tetapi ketiadaan Kierra akan mempercepat proses itu.

Ia kembali menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga kesabarannya tetap di ambang batas normal.

"Mengapa?" tanyanya.

"Saya sudah menjawab…"

"Mengapa kau perlu melakukannya? Kita sudah bicarakan ini, Kierra. Carlisle bersedia untuk membuka perundingan…"

"Pembicaraan damai sudah tidak memungkinkan lagi, Alfa. Keadaan tidak bisa terkontrol dengan jatuhnya Alfa Black. Berikutnya mungkin sasarannya adalah Anda dan Littlesea. Kita berpacu dengan waktu. Saya tak bisa membiarkan…"

Oh, sekarang Kierra menjadikan ia dan Cole sebagai alasan?

"Apa memang Sang Ibu yang melakukannya?" potongnya.

"Maaf?"

"Apa kau benar-benar mengira aku percaya Sang Ibu-lah yang menjatuhkan Jacob?"

Tak diduganya kalimat itu membuat Kierra mengumandangkan sebait tawa. "Oh Roh Semesta, Anda berdua memang tidak mempercayai saya rupanya," ucapnya merdu, tapi dengan nada meremehkan. "Sudah dua kali dalam pagi ini saja saya mendengar pertanyaan yang sama. Bayangkan jika Anda mendapat pertanyaan seperti itu, setelah Anda berjuang mati-matian…"

'Anda berdua'? Apa artinya Carlisle pun menanyakan hal yang sama?

Diliriknya Carlisle dengan pandangan bertanya, namun Carlisle sama sekali tak bereaksi. Tidak mengangguk, tidak menggeleng. Gesturnya kaku. Pandangannya tertancap pada mereka berdua. Tapi apa itu ekspresi yang tergambar pada wajahnya? Emosi apa yang bisa ia tangkap? Tidak ada.

Emosi vampir begitu sulit dibaca, lebih lagi Carlisle, tapi bukan berarti tidak bisa. Meski sepandai apapun Carlisle menutupi emosinya, tak urung Seth merasakan sesuatu yang salah dari tindak-tanduk Carlisle. Ia tidak santai seperti biasa—sama sekali tidak. Carlisle sudah berlatih berabad-abad untuk tampil seperti manusia. Ia tahu bagaimana merilekskan otot-ototnya yang lebih mirip karet atau pegas ketimbang serat-serat sendi pengikat tulang yang disisipi pembuluh darah. Ia terbiasa melakukannya hingga kadang, dalam situasi tertentu, reaksi tubuhnya lebih mirip manusia ketimbang vampir. Dan kini, ia tak melihat sesenti pun otot-otot itu bergerak. Semula Carlisle memposisikan dirinya di antara Seth dan Kierra, namun begitu Seth mengungkit Sang Ibu, ia terlihat seakan menjaga jarak.

Itu aneh? Ya.

Satu yang Seth tahu. Dia tidak bereaksi apapun untuk membela Kierra. Jika tadi ia menahan Seth, itu karena ia tak ingin Seth bertindak gegabah. Ia melindungi Seth. Dia sudah bertemu Sang Ibu, tak mungkin ia tak menanyakan apa Sang Ibulah yang bertanggung jawab atas jatuhnya Jacob. Ditimbang dari hukum perang, jika memang Sang Ibu pelakunya, ia takkan mungkin tak mengklaim apa yang ia lakukan, karena hal itu adalah suatu kemenangan di pihak mereka. Jika itu terjadi, Carlisle pasti sudah mengatakannya dari tadi. Apa untungnya jika Carlisle menutupi hal itu dari mereka? Tak perlu ia melindungi Sang Ibu, toh akhirnya mereka akan bertemu di medan laga…

Kecuali jika pelakunya bukan Sang Ibu…

Yang artinya hanya satu.

Ia tak tahan lagi. "Jangan main-main!" serunya. "Kau sendiri yang menjatuhkan Jacob!"

Sama sekali tidak aneh baginya, kala Kierra menampakkan ekspresi terperanjat.

"Saya menjatuhkan Jacob? Apa yang Anda katakan, Alfa? Jelas Sang Ibu..."

"Oh, kumohon, Kierra… Jangan melempar tuduhan untuk sesuatu yang kaulakukan."

"Saya punya alibi kuat. Bukankah saya bersama Anda terus pada saat kejadian?"

"Kau pernah melakukan trik ini sebelumnya." Tak perlu dikatakan pun, dualisme sosok Kierra dengan pembagian kesadaran yang jelas, ditambah kemampuan telepati dalam wujud manusia, meruntuhkan alibi apapun yang ia punya. "Tak perlu kau sendiri yang melakukannya. Kau bisa memerintahkan Kuroi."

Benar, tak ada kemungkinan lain. Bekas pertarungan di pinggir tebing… Tanah bekas dilunyah… Luka cakaran di tubuh Jacob, bersanding dengan luka-luka yang didapatnya ketika membentur karang…

Rasanya ia bisa melihat gambaran itu dengan begitu jelas. Pertarungan dua serigala. Hitam dan merah. Si Hitam yang telah begitu berpengalaman, bertarung dengan begitu taktis, sementara si Merah tak kuasa berbuat banyak dengan segala emosi dan tekanan yang melandanya. Sejak awal kemenangan telah ditentukan.

"Dan kau punya motif," ia mengingat kata-kata Brady. "Sebelumnya pun, kau sendiri mengatakan bahwa Jacob adalah satu-satunya halanganmu untuk mengklaim kawanan sepenuhnya."

"Astaga, Alfa!" seru Kierra, masih dengan tampang terkejut. Jika itu akting, Seth sama sekali tak merasa aneh. "Anda serius menuduh saya yang berada di balik jatuhnya Jacob? Anda kira saya akan tega melakukan itu pada kakak inang saya?"

"Nyata-nyata kau tega membuntungi Ariana."

Lagi-lagi ia mengingat sosok Ariana yang ia temui di hutan pada insiden kamping. Mengenakan jaket Korra, dengan loket berisi foto dirinya dan Korra tergantung di leher. Lantas sosok Ariana di gubuk, yang bak kesetanan dan terus tidak mengakuibahwa Korra masih hidup. Tapi jelas satu: ia mencintai putrinya. Ia begitu mencintai putrinya hingga ia membenci Kierra. Kierra yang merenggut Korra darinya. Kierra yang memaksa Korra menjadi budaknya. Kierra yang merampas kemerdekaan kehendak Korra dan membajak tubuhnya. Kierra yang menjadikan Korra sama sepertinya: iblis.

Begitu dalam kebencian Ariana pada marga Black, dan begitu kuat daya pikat Sang Ibu, hingga ia kembali untuk membalas dendam. Jadi bayangkan jika ia sampai, dan ia juga bertemu dengan gerombolan Kierra di tanah yang sama. Melindungi tanah Quileute. Melindungi kawanan. Pasti dipikirnya dua makhluk yang sangat ia benci, Black dan Kierra, bekerja sama. Kebenciannya jelas berlipat ganda. Tak heran ia tak lagi menimbang apapun, dan berkehendak menghancurkan mereka semua.

Brengsek.

Ia bisa melihat wajah Kierra berubah biru. Perang tampak tergambar sebelum perempuan itu menarik napas, mengumpulkan ketenangan, dan berujar dengan suara penuh kendali, "Baik. Saya mengerti jalan pikiran Anda. Dengan seluruh alur yang terjadi belakangan, wajar jika Anda menaruh curiga pada saya. Tapi Anda perlu pikirkan ini. Kami selama ini berusaha melindungi kawanan Quileute. Kami menolong Alfa Black tiga kali. Untuk apa saya mendorongnya dari tebing saat ini, jika saya bisa saja membunuhnya sejak jauh-jauh hari? Dan jika saya memang menginginkan ia mati, untuk apa saya berusaha membalas atas apa yang menimpanya? Untuk apa saya mengirimi kelompok Sang Ibu surat tantangan?"

"Jawabannya mudah. Kau ingin mengadu domba kawanan kami dengan Sang Ibu. Kau ingin kami sama-sama mati agar kau bisa memunguti sisanya. Tanpa halangan ataupun ancaman sama sekali di kemudian hari."

"Itu tidak menjawab mengapa saya harus memilih saat ini, Alfa! Begitu banyak kesempatan jika saya hanya ingin kalian semua hancur. Mengapa saya harus menolong kawanan kalian dalam pertempuran di tebing? Mengapa saya harus mempertaruhkan diri saya dan kawanan saya untuk melindungi tanah ini? Mengapa saya harus membuka jati diri saya, jika itu berarti menempatkan diri saya di posisi yang dirugikan? Saya bisa bungkam selamanya dan bahkan Anda pun tak bisa menebak. Dengan berbagai cara, saya bisa menduduki posisi puncak dengan mudah bahkan tanpa membangkitkan kecurigaan sedikit pun."

"Ini adalah keahlianmu, bermain dengan trik psikologis… Kau bermain dengan segala kontradiksi. Kau berusaha menciptakan ketidakjelasan, keraguan…"

"Dan apa untungnya jika saya melakukan itu?" sergah Kierra. Jelas, meski ia mengatakan dengan nada sama mantapnya seperti biasa, ada sedikit ketidaksabaran di sana. "Sadarlah, Alfa. Pikiran Anda disaputi kabut kecurigaan sehingga Anda tidak bisa menilai dengan jernih. Anda mulai seperti Alfa Black, menuduh tanpa bukti, berusaha memaksakan fakta yang ada demi mendukung kesimpulan prematur tak berdasar."

"Kau harus mengakui, setakberdasar apapun kecurigaan dan tuduhan Jacob, ia nyaris selalu benar, bukan begitu?"

Ya. Apa prasangka Jake yang membuatnya rungsing sendiri hingga sejauh ini? Hubungannya dengan Korra? Cek. Sam berkhianat? Cek. Para Tetua berkonspirasi? Cek. Korra adalah Alfa Putih? Itu juga cek. Ia tidak mendasarkan tuduhannya pada analisa logis dengan bukti kuat, tapi patut diakui, insting Alfa memang tajam. Selalu, hanya satu yang kurang: bukti.

"Oh, Alfa!" Kierra melempar kedua tangannya ke udara dengan sikap putus asa. "Haruskah Anda seperti ini, terus curiga dan menyerang? Apa gunanya itu? Kini ketika kita jelas-jelas menghadapi ancaman di depan mata…"

"Ancaman yang kausebabkan, jika patut kugarisbawahi."

"Apa Anda tidak mendengar apa yang saya katakan sejak tadi? Kami hanya membalas…"

"Tetap, itu seharusnya bisa dihindari jika kau tidak bertindak demikian gegabah."

"Anda menyebut saya gegabah? Apa yang akan Anda lakukan, jika Anda ditempatkan pada posisi saya? Saya sudah katakan, ancaman Sang Ibu bukan hanya pada para Black, tapi bahkan mungkin seluruh kawanan! Ini bukan keputusan yang mudah, tapi saya harus! Saya berusaha melindungi kalian semua!"

"Dengan suatu kepentingan…"

"Ya, patut saya akui, saya punya kepentingan. Saya punya perjanjian yang harus saya junjung. Bukan hanya harga diri saya yang dipertaruhkan, tapi juga seluruh aliansi."

Mata Seth langsung mendelik curiga.

"Perjanjian apa?"

"Itu tidak penting," elak Kierra. "Yang jelas di sini, Anda tak bisa terus memperlakukan saya seolah saya musuh, ketika saya berusaha menjadi sekutu Anda."

"Bagaimana mungkin itu tidak penting?" kali ini Seth benar-benar kehilangan kesabarannya. "Aku mempertaruhkan kawananku di tangan seorang asing, yang bukan hanya Kepala Suku dengan reputasi sebagai penjajah dan pembantai, tapi juga dengan itikad yang sangat perlu dipertanyakan! Coba katakan, jika kau ada di posisiku, bagaimana mungkin itu tidak penting?!"

"Rupanya usaha saya selama ini bukan bukti yang cukup di mata Anda, Alfa? Baik. Anda Alfa dan saya tetap harus menghormati penilaian Anda. Jadi bagaimana saya harus membuktikan itikad saya?"

"Berkata jujur."

"Saya sudah sangat jujur."

"Kau belum mengatakan semua padaku," tekan Seth, tak melepaskan pandangan sedetikpun dari Kierra.

"Saya sudah mengatakan semua yang dibutuhkan untuk menjalin hubungan baik."

"Belum. Masih banyak detail yang kausembunyikan," ia melirik Carlisle. "Yang kalian berdua sembunyikan."

Kierra menegang. "Untuk apa?"

"Kau tahu, aku menjual harga diriku di sini. Kau memintaku menikahimu, kau memintaku menjadi pengkhianat bagi kawananku sendiri. Kau memintaku melakukan banyak hal yang bertentangan dengan nuraniku dan aku perlu tahu mengapa aku harus melakukannya." Kata-kata Seth, meski begitu pedih isinya, dikatakan dengan nada tegas dan tajam. Jelas ia tak hendak mundur selangkah pun. "Jadi katakan, apa maumu di sini? Siapa Sang Ibu? Siapa sebenarnya kau dan apa hubunganmu dengannya?" ia menunjuk Carlisle, yang wajahnya makin tegang hingga rasanya ia benar-benar berubah menjadi patung batu.

"Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu," ujar Kierra. Kelihatan benar ia berusaha menghindar.

"Tidak," tekan Seth dengan ketegasan yang tidak biasanya ia tampilkan hingga sesaat ia sendiri pun tidak percaya. "Kutekankan sekali lagi, akulah Alfa Quileute saat ini. Aku, Kierra, bukan kau. Kau hanya roh yang bahkan tak bisa menginjak tanahku jika bukan kau mengklaim tubuh tunanganku. Dan fakta bahwa aku berkenan mengabaikan fakta tentang jatidirimu dan menutupinya dari kawanan berarti akulah yang memberimu tempat di suku ini."

"Seth, Kierra benar," akhirnya Carlisle angkat suara, setelah sekian lama hanya menjadi pengawas. "Ini bukan saat yang tepat. Kita seharusnya mengedepankan persatuan, bukan saling tuduh dan curiga…"

"Kumohon jauhkan tanganmu dari urusan ini, Carlisle. Aku tak ingin melawanmu…"

"Sayangnya aku harus."

Oh ya, ia harus melindungi keluarganya. Tentu. Tipikal Carlisle. Siapapun yang salah, keluarga selalu bersama, bukan begitu?

Ya, melihat gerak-gerik Carlisle dan Kierra, ia bisa menilai kini. Teorinya sudah nyaris pasti merupakan kebenaran.

Cih.

"Dan kau hendak mengabaikan kemungkinan bahwa Kierra memang pelakunya? Demi Tuhan, begitu takutnyakah kau pada kekuasaan Kierra,"—betapa terbutakannyakah ia oleh cinta—"hingga kau rela menutup mata dari apa yang sedang Kierra lakukan pada kawanan? Pada kami?"

Bagaimana dengan Scarlett? Apakah ia akan lebih memilih Kierra ketimbang Scarlett?

"Kierra mengatakan bahwa ia tidak menyerang Jacob."

"Dan kau percaya?"

Carlisle tak serta-merta menjawab, dan itu sungguh membuat Seth tertawa lemas, menepuk jidat dalam kesadaran yang memukulnya.

Tentu saja Carlisle mendukung Kierra. Penuh. Seperti Sam. Seperti para Tetua. Bahkan lebih.

Oh Tuhan, Jasper mengatakannya. Ia bilang, 'Menurut Carlisle, Kierra pandai menari dan membuat syair.' Tentu saja ia tak hanya hidup sezaman dengan Kierra, dia mengenalnya! Lebih dari kenal! Dan ia bahkan mengatakan 'Carlisle takkan mengizinkan' ketika ia menanyakan mengapa mereka tak melawan Kierra.

Tapi apa artinya ini bagi kawanan?

"Baik," angguknya. "Kau sudah dengan sangat jelas menerangkan posisimu, dan kini akan kujelaskan posisiku. Posisi kawanan, tepatnya."

Carlisle tampaknya sadar arah ucapan Seth karena ia berujar, agak tegang, "Patut kuingatkan, perpecahan antara kita tidak akan membawa ke mana-mana… Tanpa Kierra, kau takkan bisa menghadapi ancaman Sang Ibu."

Pilihannya adalah mati digilas Sang Ibu atau mati di bawah cakar Kierra, begitu? Mungkin ramalan Alice memang benar…

Ia meneguhkan diri kala berkata, menyambung kalimat Carlisle, "Dan kami bisa mati terhormat."

Ya. Itu pilihan yang benar. Itu pilihan yang pasti dipilih Jacob dan Collin kan?

Harga diri. Bagi Alfa, harga diri adalah segalanya. Ia lebih baik mati ketimbang jadi budak.

Tapi itu artinya menggadaikan kawanan... Akankah ia meninggalkan mereka, sementara ia berpulang ke Dunia Lain, penuh puja puji dan bertabur kalungan bunga dengan status mati terhormat sebagai pahlawan? Membiarkan kawanannya tertindas?

Apa memang itu lebih mulia? Ataukah itu hanya jalan keluar yang cepat bagi seorang pengecut?

Lekas ia menggelengkan kepala keras-keras. Tak boleh ada apapun yang menggoyahkan tekad ini.

"Berpikirlah lurus, Seth," suara Carlisle kembali beresonansi, memintanya berpikir ulang. "Ini sama sekali tidak sepertimu. Kau seharusnya mengedepankan keselamatan suku. Jika seluruh kawanan terbantai habis, siapa yang akan melindungi suku?"

Jika biasanya ia selalu mendengarkan apapun kata si vampir, kali ini tidak. Yang ada hanya kemarahan. Kebencian. Alangkah kagetnya ia, bahwa lebih dari separuhnya berbalut kekecewaan. Kekecewaan dan kecemburuan.

"Jangan berpura-pura seolah kau peduli pada suku, Carlisle…," geramnya. "Aku tahu pasti siapa dirimu!"

Wajah Carlisle seketika membeku.

"Oh ya, aku tahu, Carlisle. Aku tak mau mengatakan ini, tapi memang secara hukum, kau bisa ada di sini karena izin dari kami. Penerimaan kalian sebagai sekutu bergantung pada penilaianku. Aku memang menghormatimu, bisa dikatakan besar di bawah asuhanmu, tapi jika kaupikir aku akan mengabaikan kebenaran dan tetap memberimu tempat setelah apa yang telah dan akan kaulakukan, kau harus berpikir ulang….

"Anda tidak bisa menggugat kehadiran klan Cullen di tanah ini, Alfa," sambar Kierra bahkan sebelum Carlisle membuka mulut. "Keluarga mereka telah menjalin kesepakatan dengan Alfa-Alfa sebelum Anda. Anda harus menghormati hal tersebut."

Seth menahan gejolak emosi yang nyaris terpancar di wajahnya.

Ini kesempatannya untuk mengetahui kebenaran. Jika ia harus bertindak licik, maka tak ada jalan lain.

"Benar," angguknya. "Tapi kesepakatan bisa berubah. Terlebih mereka jelas telah melanggar."

"Jika maksud Anda kasus enam tahun lalu, Alfa Black sendiri yang telah berkenan memberikan kelonggaran," tunjuk Kierra. Patutkah ia merasa aneh bahwa seorang Alfa yang notebene terputus dari tanahnya sendiri selama lebih dari seabad kelihatannya mengetahui kasus Bella? "Dan seorang Alfa tak bisa menganulir hukum yang ditetapkan Alfa pendahulunya," tambahnya.

"Kebetulan sekali kau menegaskannya, Kierra. Kau benar, aku tak bisa membatalkan Hukum Jacob. Tapi jika memang begitu, sama artinya pengecualian yang ditetapkan Jacob tidak sah, bahkan walau ia keturunan Ephraim sekalipun. Kelihatannya memang Jacob tidak tahu hukum itu ketika menghadapi kasus Bella," ia mengarahkan pandangannya pada Carlisle, mencoba menilai reaksi vampir yang selalu berselimut ketenangan itu. Tidak adanya sanggahan sama sekali membuat dadanya serasa berlubang. "Kau tahu apa yang membuatku merasa terkhianati?" sambungnya dengan nada ketara sekali perih. "Kalian jelas mengetahui Hukum Alfa dan kalian memanfaatkan ketidaktahuan Jacob demi kepentingan kalian."

"Kau tahu bukan demi kepentingan kami," Carlisle angkat suara. "Saat itu memang tidak ada jalan lain. Jika tidak, tak hanya dua nyawa yang dipertaruhkan."

"Ya, ya, kau memang benar. Tapi pertimbangan itu bisa saja di kesampingkan. Hukum yang lebih dulu ditetapkan punya kedudukan lebih tinggi dan aku jelas punya hak dan kewajiban untuk menegakkannya. Terlebih ketika aku tahu bahwa kau tidak seperti apa yang kauakui selama ini."

Bukan Carlisle, tapi justru Kierra yang memperlihatkan ekspresi awas.

"Apa maksud Anda?" desisnya.

"Selama ini kami mengira—entah kami yang begitu bodoh menarik kesimpulan seenaknya, atau memang kau sengaja menutupi fakta—bahwa keluarga Cullen pertama kali datang ke semenanjung ini pada masa Ephraim." Meski ia menjawab ucapan Kierra, kata-katanya ditujukan hanya pada satu orang. "Tapi kemudian aku menemukan fakta lain… Siapa kau, apa hubunganmu dengan Kierra," ia mengarahkan pandangannya pada Carlisle, "dan juga apa yang telah kauperbuat pada suku."

Wajah Carlisle melunak. Bersit paham, dan senyum lembut yang begitu ia kenal terbit di sana sebelum kemudian ia berujar, tenang, "Rupanya kau sudah menyadari tentang kisah Pullen dan Clakishka…"

"Ya," Seth balas tersenyum. Itu bukan senyum kemenangan, sungguh. Ia justru merasa dirinya runtuh. "Clakishka adalah Jacob Black I. Lantas Dan Pullen… Itu kau, 'kan?

Dilihatnya Carlisle mengangguk, tak melepaskan setitik pun senyum dari wajahnya.

"Sejujurnya, aku heran mengapa aku begitu bodoh hingga baru bisa menebak sekarang… Semua fakta sudah disodorkan di depan wajahku sejak awal…" kekeh Seth dengan wajah hampa. "Soal Clakishka dan Pullen bahkan tertera di buku sejarah, demi Tuhan! Persengketaan soal 'pagar', dan mengapa kami turun-temurun terus membenci kalian, padahal sudah jelas Ephraim menerima kalian dan bersedia berunding. Belum lagi bahwa kalian adalah makhluk tak berbahaya. Alasannya adalah karena kalian memang musuh, setidaknya kau memang musuh." ia menarik napas, berusaha meneguhkan hatinya untuk tak hancur berkeping-keping kala mengucapkan kata itu. "Ada yang kauinginkan dengan tanah kami, ya 'kan?"

"Tanah kalian?" ada kerung di wajah porselen itu.

"Benar. Kau memperebutkan lahan dengan suku kami, membumihanguskan pemukiman Quileute lebih dari seabad lalu, lantas kembali dan tinggal begitu dekat… Dari apa yang kuketahui, sangat mungkin kau sudah ada di sini sejak masa Kierra. Tapi kau berpura-pura tidak mengenal kami sebelumnya, menjalin persekutuan, sedangkan sesungguhnya menempelkan mata dan terus mengawasi."

"Jika maksudmu aku ingin merebut dan menguasai tanah Quileute, kau salah…"

"Aku tidak mengatakan itu. Tapi pasti ada alasan mengapa kau terus kembali ke sini…"

Urusan 'kembali' itu sepertinya menyinggung sesuatu yang sensitif, karena mendadak Kierra kembali angkat suara. "Mereka tidak selalu kembali ke sini," sanggahnya. "Ini hanya masalah persepsi. Keluarga Cullen memiliki investasi properti di mana-mana, dan mereka menggilir menetap di masing-masing tempat setiap sekian tahun sekali. Sulit menyatakan bahwa mereka selalu kembali hanya ke satu tempat saja."

"Oh, Kierra, kumohon jangan mengemukakan alasan yang jelas sangat dibuat-buat," erang Seth. "Kita semua tahu apa arti semua ini."

"Tidak ada arti apapun!" Salahkah ia, kala melihat upaya Kierra ini justru sangat mencurigakan? Pembelaannya yang kelewat bersikukuh, ketenangannya yang tertanggalkan … apa yang ingin ia tutupi?

Menahan rasa berlubang yang membuat dadanya rontok, Seth melanjutkan, ditujukan pada Carlisle.

"Kurasa aku tahu jawabannya. Hanya satu. Tempat ini berarti bagimu, karena keberadaan seseorang. Masa lalumu."

Dan ia merogoh ke dalam saku, mengeluarkan sebentuk benda yang sejak awal bersarang di sana. Benda itu dingin, namun terasa panas menyengat di genggaman tangannya. Seakan ia terbakar hanya dengan menyentuh…

Benda lonjong itu terbuka di genggaman tangannya. Liontin loket emas bertakhtakan rubi merah. Permukaan bagian depan liontin itu dihiasi ukiran rumit sulur-sulur bergaya Baroque, mengitari emblem melengkung yang jelas membentuk huruf C. Dan begitu ia membuka loket itu, foto Korra dan ibunya yang semula mengisi bagian dalamnya tak ada lagi, sebagai gantinya tampak lukisan seorang wanita berambut hitam panjang dengan wajah yang sama sekali tidak asing.

Leah

Mata Kierra membelalak.

"Dari mana kaudapatkan itu?" Ia bahkan tak menggunakan ragam bahasa halusnya yang biasa.

"Ariana, tentu saja. Kuambil diam-diam sewaktu di Gubuk Penyihir … Tanpa sepengetahuan Kuroi," ia menambahkan cepat-cepat demi dilihatnya mata Kierra blank sejenak, gestur yang sudah jelas berarti ia berusaha menghubungi—mungkin malah meneror—anggota kawanannya. "Ia tidak memperhatikan apapun dan hanya terfokus pada upaya menyiksa Ariana, mana ia peduli jika satu atau dua benda kecil menghilang?"

Aneh rasanya melihat wajah yang biasanya tenang itu tampak shock. Menarik napas panjang, Seth kembali melanjutkan.

"Pertama kali aku melihat loket ini, aku bingung kapan Leah pernah dilukis dengan dandanan seperti ini. Mengapa foto ini jatuh ke tanganmu, dan lebih lagi … mengapa Alice memberikannya padamu di hari pertemuan pertama kalian. Tapi lantas begitu kau bicara tentang Joanna, dan lebih lagi, begitu melihat seperti apa Sang Ibu, barulah aku benar-benar mengerti." Ia menarik napas berat. "Gadis ini…," bisiknya dengan nada yang ketara sekali nyeri. "Shi'pa, bukan? Dirimu yang terakhir?"

Kierra tak menjawab.

"Embry pernah mengemukakan teori mengenai pengelompokan warna bulu serigala, dan bertanya-tanya mengapa warna buluku dan Leah pucat, karena tidak ada satupun gen bulu pucat dari ketiga keluarga yang ada. Jawabannya sebenarnya mudah, kami mendapatkan gen itu darimu, sang serigala putih. Sama seperti Korra yang memiliki bulu peach. Namun padanya, darah Black lebih kuat, sehingga bulunya tak sepucat kami. Kecenderungan warna muda juga muncul pada beberapa serigala lain seperti Embry dan Brady, tetapi tak ada yang sepucat kami. Itu mungkin karena kami menjadi muara beberapa galur keturunanmu, melalui putrimu, Scarlett. Namun pertanyaannya adalah mengapa setelah ratusan tahun menjadi Alfa, kau hanya menghasilkan satu keturunan? Tahu seperti apa kau, dominatrix yang bisa memaksakan kehendak pada siapapun, aku yakin kau memiliki entah berapa ratus budak seks…"

Mendengar kata terakhir, tak menunggu kalimat itu selesai, Kierra lekas membentak dengan wajah merah.

"Saya menghormati Anda karena Anda adalah Alfa tanah ini," serunya, kembali dalam mode formal, meski kali ini sama sekali tak ada ketenangan yang biasa, "tetapi Anda perlu menjaga ucapan Anda atau…"

"Atau apa?" tantang Seth. "Atau kau akan menyerangku? Terus terang saja, Kierra, kenapa kau perlu menahan diri? Aku terbukti tak berguna bagimu. Segalanya selesai begitu kau membunuhku. Kawananku milikmu. Apa yang kautunggu? Lakukan sekarang!"

"Itu…"

"Tidak bisa? Kenapa? Karena Korra mencintaiku? Huh, omong kosong, Kierra! Siapapun tahu yang ada di hati Korra hanya Collin!"

"Alfa Clearwater!" peringatnya.

"Oh, kau tak perlu memanggilku begitu, Kierra. Kenapa kau tidak panggil aku seperti biasa, dengan nama panggilan kesukaanmu: 'Sethie'? Hm, Korey?"

Perempuan itu mengerjap.

"Apa maksud Anda?"

"Ya, aku tahu, Kierra. Tak usah berpura-pura lagi. Sejak awal, yang menjalin hubungan denganku bukan Korra, melainkan kau…"

"Apa? Bagaimana mungkin Anda…"

"Korra tidak sungguh-sungguh mencintaiku," sambar Seth sebelum Kierra sempat bicara lebih jauh. "Atau setidaknya, ia tidak mencintaiku sebesar dia mencintai seseorang yang lain. Dan mudah ditebak, orang itu adalah Collin Littlesea."

"L-Littlesea? Apa maksud Anda dengan Korra mencintai Littlesea? Itu tidak benar! Ia hanya menganggapnya kakak!"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Kierra. Kau tahu Korra dan Collin saling mencintai. Kutukan yang mengikat keluarga Black turun-temurun pastinya mengikat mereka juga. Tidak mungkin perasaan itu hanya dari sebelah pihak. Tapi sebagaimana juga yang lain, mereka ditakdirkan untuk tak bisa bersatu. Dan kali ini, halangan itu adalah kau," ia mengarahkan tatapan penuh tuduhan. "Kau melihat perasaan Korra sebagai ancaman. Entah kau mempengaruhinya atau memaksanya, kau membuat Korra mengira ia mencintaiku. Atau malah ia tidak mencintaiku sama sekali, ia hanya menjalankan perintah."

"Alfa, apa yang Anda katakan? Saya yang paling tahu perasaan inang saya sendiri. Mengapa Anda harus selalu begitu pencemburu? Anda boleh tidak percaya pada saya, tapi mengapa Anda tidak percaya pada Korra?"

"Kenapa aku harus percaya? Saat ini tidak ada satu pun yang aku percayai… Bahkan terlalu angkuh rasanya jika kukatakan bahwa yang bersamaku adalah kau, bahwa kau mencintaiku, karena nyatanya tidak. Seperti kaukatakan—atau Korra katakan, aku tak tahu bedanya kini—kau mendekatiku dengan suatu alasan, dan aku tak menganggap itu adalah cinta. Kau ingin mengembalikan kekuasaanmu atas kawanan Quileute, ya kan? Dengan memanfaatkan aku…"

"Tidak…"

Seth tidak mendengar sanggahan Kierra. "Ya, tentu saja kau bisa saja memilih Collin," lanjutnya. "Tapi aku boneka yang lebih baik bagimu, karena aku bisa kauatur. Pertimbanganku lebih luas, tetapi itu juga yang membuatku lembek dan tidak bisa mengambil keputusan tegas. Seperti sekarang, ketika aku sudah tahu segala tentangmu, dan aku masih saja tak bisa mengambil tindakan. Jake atau Collin takkan bersikap seperti ini, mereka akan menyerangmu tanpa ragu. Tapi aku tidak bisa. Jacob memaksaku bersumpah untuk melindungi kawanan, apa jadinya jika aku melawan dan aku kalah? Apa jadinya jika kau memimpin kami tanpa adanya aku sebagai buffer? Apa yang akan terjadi dengan Collin jika ia yang berada di puncak, dan bukan aku? Kau bisa membaca itu kan? Kau selalu bisa membaca seluruh sifatku…"

Kierra tidak berkata apapun. Namun Seth bisa melihat, ketenangan yang berusaha perempuan itu perlihatkan sejak awal telah pudar. Topengnya menipis dan menipis hingga hanya menyisakan sedikit selubung, begitu nyaris tembus pandang hingga rasanya ia bisa melihat sosok yang ia kenal.

Korey…

Korey-nya

Dan itu membuatnya sesak, sangat.

"Namun itu bukan semuanya. Kau memiliki maksud lain..."

Bisik dedaunan memberi aksentuasi pada ucapan Seth. Seolah roh-roh semesta mendukungnya, mengiringinya, melindunginya.

Ditariknya napas panjang sebelum berujar, mantap.

"Kau mendekatiku, bukan hanya ingin merengkuh kawanan Quileute ke dalam aliansi, ya 'kan? Kau bisa dengan mudah mengalahkanku kalau kau mau, tapi kau malah berusaha membuatku percaya kau mencintaiku. Alasannya hanya satu: kau mengira aku memiliki apa yang tidak dimiliki Collin. Kau menginginkan keturunan, seseorang yang mewarisi darahmu, dan bukan karena gennya bereaksi begitu rohmu memasukinya. Sayangnya, tak semua orang, bahkan juga tak semua serigala yang bisa membuahimu…"

Salahkah ia, kala saat itu ia melihat gurat aneh di wajah Kierra? Sekilas … sedih?

Tidak, ia pasti salah. Monster tidak mungkin merasa sedih.

"Ini juga berhubungan dengan … mengapa … kau memilihku…," bisiknya dengan wajah tertunduk, sementara dirasakannya jiwanya, hatinya, menggapai-gapai berusaha mencari pegangan, agar tak hancur dalam tiap kata yang dikemukakan otak dan bibirnya sendiri. "Jika kau mendekatiku murni karena aku Beta, pasti sudah kaulakukan sejak awal. Tapi tidak, awalnya kau bersikap biasa-biasa saja terhadapku. Kau berubah setelah tahu Leah adalah kakakku. Pasti karena kau melihat kemiripan antara dirimu dan Leah, ya kan? Yang lantas menggiringmu pada kesimpulan bahwa aku dan Leah memiliki darahmu. Ya, kau menginginkanku karena kau tahu dari mana darah serigalaku berasal. Jika tidak sembarang serigala bisa menjadi ayah dari anakmu, mungkin aku bisa…"

"Tidak," perempuan itu menggeleng. "Itu tidak benar."

Ia sama sekali tak menghiraukan Kierra dan meneruskan. "Tapi kau salah. Aku mungkin memiliki darahmu, tapi darah serigala di tubuhku terlalu kuat… Alasan mengapa kau tidak bisa mempertahankan janinmu bukan karena kau tidak bisa mengklaim kesadaran Korra sepenuhnya, dan mengubah tubuhnya menjadi tubuh inang yang sempurna bagimu, tetapi karena aku. Kau memiliki darah vampir. Sebagaimana vampir, kau memproduksi senyawa yang beracun bagi kami. Benih dariku, sebagaimana serigala lain, tidak akan bisa berkembang dengan layak di rahimmu, siapapun yang kauklaim. Dan aku jadi menduga-duga…"

Seth mengangkat kepala, menatap ke kedalaman mata Kierra.

"Jika seorang serigala tidak bisa membuahimu, lantas siapa ayah Scarlett?"

Apa yang ada di mata itu? Keterperangahan? Karena apa? Karena Seth benar? Karena ia tak menduga Seth bisa menebak? Atau karena ia sedang berusaha mencari celah untuk kabur?

Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, menahannya di sisi tubuhnya, menguatkan dadanya agar tak hancur berkeping-keping.

"Pete mengatakan bahwa Kierra dieksekusi karena dianggap melacurkan diri pada budak kulit pucat," lanjutnya, nyaris menggemeretakkan gigi. "Itu pasti anggapan yang sangat phalliosentris, tapi jika kita kembalikan pada konteks masa itu, apa yang aneh? Kierra memiliki seluruh budak dan seluruh serigala di Olympic, ia bebas 'memakai' siapa saja yang ia mau. Jadi apa yang sebenarnya terjadi hingga Kierra dianggap melanggar hukum suku?"

Ia memberi jeda sejenak pada kalimatnya, mengedarkan mata pada dua makhluk lain di sana.

"Jawabannya sudah jelas. Kierra berhubungan dengan musuh suku. Dan ia bukan cuma musuh biasa. Melihat siapa Kierra, sangat mungkin orang ini bukan manusia. Makhluk non-manusia dan non-serigala yang tinggal di tanah Quileute masa itu... Makhluk yang memiliki kesepadanan genetik lebih besar dengan Kierra, dan karenanya, benihnya mampu bertahan dalam kondisi rahim Kierra yang teracuni... Tak lain, Makhluk Dingin," Ditolehkannya kepala ke satu titik, mati-matian menahan hasratnya untuk tidak menjerit dan meraung kala menunjuk, "Kau, Carlisle."

Ia bisa melihat wajah Kierra yang pucat, napasnya yang tertahan, kelopak matanya yang membelalak. Jika Kierra menampakkan ekspresi horor, tidak demikian halnya dengan Carlisle. Ia masih begitu datar.

"Jadi kau tak menyangkal? Benar 'kan, ia putrimu dan Kierra? Ia memanggilmu 'Bapa'… Scarlett Cyra Black, huh? Scarlett Kierra Cullen, maksudmu?"

"Itu tidak benar!" jerit Kierra. Astaga, berapa kali sudah ia menyanggah? Apa ia tidak lelah mempermainkan kebenaran? "Mengapa aku harus memiliki anak dari seekor lintah?"

"Aku tidak bertanya padamu, Kierra. Aku bertanya pada Carlisle." Ia bahkan tak tahu dari mana ia beroleh keberanian itu. Astaga, apa ia ingin mati? Tapi ia meneguhkan diri dan berpaling pada pria itu. "Aku tidak bertanya sebagai Alfa. Aku bertanya sebagai sekutumu, sahabatmu, putramu. Kau sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku selama ini, mentorku, orang paling bijak dan paling patut dihormati di antara seluruh makhluk. Aku percaya bahwa tak ada satu katapun kebohongan yang keluar darimu. Bahkan setelah semua ini, aku masih berusaha untuk percaya. Jadi kumohon, bisakah kau tidak mengkhianati kepercayaanku? Katakan, apa benar Scarlett adalah putrimu?"

"Tidak!"

Bantahan itu, seperti diduga, tidak keluar dari Carlisle, melainkan dari Kierra. Ketika Seth menoleh padanya, dilihatnya Kierra bukan lagi Kierra dalam wujud yangs selalu ia tampakkan: sosok berwibawa dengan penguasaan diri dan ketenangan yang sempurna. Sebaliknya, wajah itu merah padam, tangannya mengepal, dan napasnya tersegal. Seakan ia ada di ambang kesabarannya, siap berubah kapan saja.

Ia pasti punya permohonan mati karena alih-alih membuatnya gentar, ia justru seakan menantang. "Tidak perlu membantah lagi, Kierra…" ujarnya.

"Tidak karena ini kenyataannya!" seru Kierra. "Biar ratusan tahun berlalu, biar ribuan kali kau terus menuduhku, jawabanku tetap sama! Aku tak ada hubungan dengannya, lebih lagi mengandung anaknya!" Dan betapa heran Seth, ketika ia berpaling pada Carlisle, wajahnya sarat permohonan. "Kumohon, Bapa," bisiknya, "jangan lakukan ini…"

"Kita tak bisa menyembunyikan ini selamanya, Tup…," ucap Carlisle. "Seth berhak tahu."

"Tapi…"

"Aku tahu apa yang kulakukan…"

Lama rasanya waktu berlalu dengan hanya bisikan dedaunan terdengar. Bahkan Kierra tak lagi bersuara, walau kepalanya tetap menggeleng dan matanya membelalak penuh kengerian. Dan begitu Carlisle menggerakkan bibir untuk bicara, seakan waktu membeku.

"Kau benar… Scarlett adalah putriku."

Pengakuan Carlisle, yang diucapkan tanpa keraguan sedikitpun, sungguh membuat Seth ingin mengundurkan diri ke dalam kehampaan.

.


.

catatan:

Happy Holidays! Met tahun baru semuanyaaaa... Gimana nih liburannya? xixixi...

Maafin ya baru apdet. Sebenernya sih pengen tanggal 24 Desember lalu, sekalian ngerayain 1 tahun TAB dan 28 tahun aku (hehehe udah tua... /*ngumpet) tapi malah gagal mulu masuk target. Ini aja udah berapa kali ganti versi...

Sebenernya di chapter ini rencananya udah mau masuk kesimpulan. Tapi ga dapet2 titik yang pas, jadinya malah gini deh. Ga mungkin juga udah berantem aja sama Scarlett tanpa tahu situasi sebenernya, jadi kayanya masih 3 chap lagi deh baru adegan pertarungannya masuk.

Yup. Ada lubang SANGAT BESAR dalam teori Seth. Bisa nebak? hehehe...

Oya, thx berat ya buat yang ngasi review chap kemaren. Jackpot buat yang ngasi ripiu ke-180!

Guest: I LOVE YOU! Aku tahu maksudmu baik, jadi makasih banget buat dukungannya, semoga kita bisa ketemu di fandom lain, ato mungkin orific... Hihihi...

Rhie: Hehehe opsi F ga tau... Makanya Seth bilang 'semoga dia belum memperhitungkan opsi F' karena dia ga kepikiran... xixixixi... Oya makasih udah ngingetin salah apdet...

Aku tahu chap ini pendek, jadi sebagai bonus, aku pengen ngasi teaser...

Next:

Chap 82. Sejarah Hitam

"Ketika kupalingkan wajahku dari tubuh yang terbakar itu, kutahu aku mengkhianatinya... Jiwaku begitu kotor hingga bahkan Neraka takkan menerimaku. Aku adalah makhluk tanpa jiwa, terkutuk hingga keabadian..."

.

"Maaf, Kierra... Terlalu banyak kebohongan dan aku tidak yakin bisa menanggung semuanya. Aku tidak bisa lagi bersamamu..."

.

Dilihatnya bibir itu berbisik, 'Larilah, Seth...' Tapi baru saja ia berbalik, didengarnya ledakan keras, dan sedetik kemudian, begitu saja, satu cakaran besar mendarat, merobek punggungnya, mengantarkannya ke jurang kegelapan tanpa dasar.

.

Chap 83. Jatuh

Makhluk itu menapak satu per satu dengan langkah mantap sekaligus anggun. Aura penuh kewibawaan menguar darinya. Matanya yang merah menatap tajam ke depan, tak mendaratkan satu pandangan sedikit pun pada mereka. Tak ada seulas pun senyum di bibirnya. Ketika ia mengeluarkan suara, suara itu tak seperti apapun yang pernah keluar dari pemilik wajah itu sebelumnya. Begitu agung, begitu menggetarkan, begitu mengintimidasi.

Begitu tanpa kasih.

"Aku Korra Black dan aku mengklaim posisiku sebagai Alfa Quileute. Tunduk kalian semua!"

Dan seketika belitan rantai besi nan berat menjerat, mengikat, menggayuti kaki mereka. Memaksa kaki-kaki itu tersuruk ke tanah.

.

See u soon! (I hope)