THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight. Part of Quileute's history and legends were never been existed, it's only my weird imagination.

Warning: Violence, biased truth, twisted and manipulated history, prejudgement, interracial war. Contains materials only suitable for above 16 or someone with wider frame of mind.

.


.

82. Sejarah Hitam

Friday, January 31st, 2014

10.54 AM

.


.

"Rupanya benar," dengus Seth pelan, tertawa masam. "Seharusnya aku tahu lebih awal…"

"Ini tidak seperti yang kaupikirkan!" teriak Kierra. Wajahnya benar-benar sudah merah padam. "Scarlett bukan putri kandungnya!"

"Kierra, kumohon…," erang Seth, benar-benar lelah sekarang. "Carlisle sudah mengakuinya…"

"Aku tidak ada dan tidak pernah ada hubungan dengannya!" Kierra masih bersikukuh. "Mengapa kau harus terus mengutarakan tuduhan yang sama lagi dan lagi, dan tak pernah mendengarkan penjelasanku? Karena aku menyerahkan hati dan tubuhku padamu, lantas kaupikir aku akan melakukan hal yang sama pada budak lain? Bahkan walau ia lintah sekalipun?" ia mengepalkan tangannya begitu keras, hingga Seth bersumpah ia melihat darah menetes akibat kuku-kuku yang melesak menembus permukaan telapak tangannya. Sesuatu yang menurutnya tidak perlu, tidak perlu sama sekali.

Kierra tak pernah sedemikian kehilangan kendali atas ketenangannya, sehingga sesaat ia nyaris lupa itu bukanlah Korra. Jelas, kini setelah topengnya terlepas, ia bisa melihat satu hal di balik sikap tenang perempuan itu. Ketidakamanan. Rasa takut.

Baru ia sadari kebenaran kata-kata Alice. Dan itu membuatnya menggemeretakkan gigi.

Rupanya memang benar: Kierra-lah yang sebenarnya mengenakan topeng Korra di hadapannya selama ini. Membelah kepribadiannya menjadi dua. Satu tetap sebagai Kierra Sang Alfa, dan satu sebagai Korey. Ini urusan pencitraan. Sebagai Maharani, ia harus tampak tangguh dan sempurna tanpa cela. Tidak memberikan cinta pada siapapun juga, karena cinta adalah pangkal kelemahan. Sedangkan sosok Korey ia jadikan sebagai pelepasan, tempat ia bisa melepas topeng beratnya dan menikmati hidup… Tidak, ia tak bisa berpikir sedemikian naïf. Sosok Korey juga topeng. Dengan itu ia berusaha meraih simpati dan cinta, bak anak kecil merengkuh dunia dalam genggamannya. Dengan itu ia merengkuh Billy, Sam, Old Quil, Collin, Brady, Seth, nyaris seluruh kawanan... Terutama Seth, sang Beta, karena jelas pesonanya tidak mempan pada Jacob. Dengan itu ia bisa menyusup lebih dalam. Dengan itu ia memastikan dirinya diterima di suku yang mencapnya sebagai penjahat.

Ia tahu itu karena ia sendiri menempuh jalan yang sama. Orang bilang 'menjadi diri sendiri' itu bagus, tapi jujur saja, tidak ada orang yang menerimamu jika kau seratus persen menjadi dirimu sendiri. Orang hanya bisa menerima sesuatu yang bisa diterima—kekurangan yang dianggapnya wajar, kelebihan yang tidak mengintimidasinya, sesuatu yang dibutuhkan—bukan dirimu seutuhnya. Karenanya mengubah diri itu penting. Setiap orang berubah. Setiap orang bisa berubah. Setiap orang harus berubah. Menyesuaikan diri dengan apa yang diperlukan. Ia menanggalkan dirinya yang ceria dan lugas, berusaha menjadi pribadi yang seperti dirinya kini, agar ia bisa diterima. Agar ia dan Jacob bisa kembali diterima. Walau itu berarti menekan dirinya yang sebenarnya. Bahkan walau itu berarti hanya mengubah penampilan luar, hanya memakai topeng, sedangkan dirinya yang asli tersembunyi di dalam. Menunggu waktu yang tepat agar bisa kembali muncul ke permukaan dan menyatakan, 'Inilah saya.'

Ia tak bisa memikirkan alasan apapun mengapa Kierra harus menempuh jalan yang sedemikian sulit, selain menjauhkannya dari kebenaran. Agar satu saat kala Kierra harus menampakkan wujud aslinya di hadapan Seth, atau siapapun, mereka akan tetap memandangnya sebagai Korra. Dan memang berhasil, bukan?

Tapi mengapa kini ia begitu terlihat tidak aman?

Karena seluruh topengnya terlucuti dan ia sudah putus asa?

Atau itu hanya akting? Apa lagi rencana yang ia punya?

"Tak perlu terus menyangkal," katanya dingin. "Tidak bisakah kau menegakkan kepalamu dan mengakuinya saja?"

"Apa yang harus kuakui jika itu memang tidak benar?"

"Oh ya? Kalau memang kau tidak menikahi Cullen, lantas mengapa liontin ini bertuliskan huruf C?"

"Itu ejaan lain namaku! Kierra alias Cyra, apa yang salah? Keduanya punya arti yang sama!"

"Berhenti menganggapku bodoh, Kierra! Kaupikir aku akan tertipu oleh hal seperti itu? Oke, taruhlah memang begitu. Lantas mengapa Scarlett memanggilnya Bapa?"

"Siapapun memanggilnya Bapa, demi Roh Langit! Dia pendeta! Tentu saja semua orang memanggilnya Bapa!"

Kata-kata itu membuat Seth menggeram. "Pendeta? Apa lagi permainanmu? Aku kenal dia! Sejak kapan Carlisle jadi pendeta?" Ia mengatakannya dengan yakin, tapi entah mengapa keraguan menyelinap di hatinya.

Benar, 'kan?

Ya, setelah sekian tahun ini, melewati begitu banyak waktu bersama, mendengar begitu banyak kisah, apa yang ia ketahui tentang Carlisle?

Tidak ada.

Tidak ada sama sekali.

Lantas apakah ia berhak menyatakan bahwa ia kenal makhluk itu?

Mungkin itu yang membuatnya menoleh pada sang vampir, seakan berusaha mencari konfirmasi. Dilihatnya makhluk itu diam, matanya melirik Kierra dan sekilas ia melihat ekspresi yang aneh. Apa itu? Kecewa? Kenapa? Karena Kierra masih saja menyangkal?

Bertekad takkan kalah, Seth meneguhkan diri. Apapun kebenaran yang kelak akan muncul, ia tetap harus berkepala dingin. "Jadi bisa jelaskan?" ujarnya, nyaris berupa perintah. "Apa sebenarnya hubungan kalian? Dan apa urusan dia berada di tanah ini saat itu? Ia bukan cuma sekadar melintas kan? Ia pasti menetap, dalam rentang waktu yang cukup lama juga, jika boleh kutambahkan."

Wajah Kierra tampak pasi. Adalah Carlisle yang maju mendobrak suasana mencekam itu, dengan satu kalimat, yang meski ringan, tetapi berat adanya. "Baiklah," biar kata itu berisi penyerahan, ia tidak mengatakannya dalam nada kalah, "aku akan jelaskan, dengan satu syarat."

"Kau tidak dalam posisi untuk menawar, Carlisle, dan kau tahu itu."

Apakah nada bicaranya, atau ketegasan dalam suaranya yang tak biasa, yang membuat Carlisle tidak bicara, apalagi menyanggah? Mungkin vampir itu tahu kapan saatnya menyerah. Mungkin ia merasa ucapan Seth benar, atau akhirnya mengakui siapa yang berkuasa di sini. Atau malah ia tahu kapan saat mengulur benang layang-layang, sementara meretas jalan menuju kemenangannya.

Hanya ada jeda dedaunan yang bergemerisik ribut kala ketiga makhluk yang ada di sana terdiam, saling menimbang posisi masing-masing. Sebelum akhirnya Carlisle menghela napas. Ketika ia bicara, kata-katanya mantap dan tenang, namun hati-hati.

"Benar katamu, Seth, aku memang telah ada di sini sejak era Kierra," ia memulai cerita. "1790, ketika Kierra menangkapku sebagai tawanan dalam pertempuran di dermaga yang kelak disebut Port Angeles. Selama lebih dari tiga dekade aku ada di tanah ini, mendampingi Kierra dalam setengah masa kekuasaannya. Waktu itu ia belum dikenal dengan nama itu. Orang menyebutnya Kepala Suku Tupkuk, penguasa tunggal semenanjung ini, yang juga berambisi menaklukkan seluruh benua. Ia ratu bagi seluruh jenis makhluk yang hidup di Olympic saat itu, dari berbagai jenis dan ras. Tangguh dan kuat, ya, tapi juga berdarah dingin. Ia rela menghalalkan segala cara demi tujuannya. Tapi tak ada yang berani melawan, satu pun. Serigala manapun bukan tandingannya, lebih lagi para vampir."

"Tunggu," sela Seth, agak merasa tersesat dalam potongan informasi ini. "Apa maksudmu dengan vampir bukan tandingan Kierra?"

"Kau tahu maksudku. Jika manusia menganggap vampir tangguh, mereka tidak memperhitungkan Tupkuk. Baginya, vampir adalah makhluk yang rapuh bak boneka porselen. Begitu mudah pecah berkeping-keping, hancur jadi debu…"

"Bukan itu yang kutanyakan. Maksudku, mengapa kau menyebutkan tentang vampir? Dalam bentuk jamak… Apa ada vampir di La Push saat itu? Selain kau?"

"Nomor satu, saat itu belum ada La Push. Nomor dua, memang ada vampir di tanah Quileute. Bukan hanya satu, tapi banyak. Pada masa itu, komposisi penduduk Quileute terdiri atas empat kelompok ras—jika patut dikatakan demikian: masyarakat Quileute asli yang terdiri atas serigala dan manusia, orang-orang pribumi yang terdiri atas suku-suku non-Quileute, budak kulit putih dan hitam, serta para vampir."

"Apa maksudmu … ada vampir yang datang dari Dunia Lama seiring dengan kedatangan bangsa kulit putih, sepertimu? Dan di sini, mereka menciptakan yang lain, lantas menyerang suku? Lantas Kierra mengalahkan mereka dan menjadikannya tawanan?"

"Bukan hanya tawanan, tapi pasukan."

Jadi sebenarnya ia salah ketika langsung berasumsi bahwa Carlisle-lah ayah Scarlett, dengan anggapan bahwa ia adalah vampir yang ada di La Push pada zaman Kierra? Jika ada begitu banyak vampir, maka kandidat ayah Scarlett pun sangat banyak…

Tidak, tidak. Itu pasti Carlisle. Ia Dan Pullen, 'kan?

Namun bukan itu sesungguhnya yang membuat alisnya mengerung dan otaknya serasa buntu.

"Pasukan?"

"Kau ingat kasus dengan para vampir baru enam tahun lalu?" tanya Carlisle. Melihat Seth mengangguk, ia melanjutkan, "Itu bukan pertama kalinya semenanjung ini menghadapi satu kelompok vampir terlatih yang terkoordinasi. Jauh sebelumnya, lebih dari tiga abad yang lalu, telah terbentuk pasukan yang hampir serupa. Hanya, perbedaannya, mereka tidak dipimpin oleh seorang vampir, tetapi oleh … serigala."

Kesadaran itu menghantam Seth hingga rasanya ia tak bisa bernapas. "Kierra … membentuk pasukan vampir?!"

Jadi itukah alasannya ia dicap sebagai penjahat dan suku tidak mau mengakui kepemimpinannya? Itukah alasannya, namanya dihapus dari sejarah, padahal justru pada masanyalah Quileute mencapai puncak kebudayaan? Itukah alasannya mengapa ia dieksekusi dan rohnya diusir? Karena ia telah melakukan dosa terbesar yang tak termaafkan? Tak hanya bersekutu dengan vampir, tapi juga … membentuk pasukan?

Untuk apa? Mempertahankan kekuasaan? Menggulingkan para serigala? Menekan mereka?

Itukah yang akan terjadi kelak, lagi, jika ia kembali berkuasa?

"Ini tidak seperti yang kaupikirkan," seolah bisa membaca pikirannya, Kierra membela diri. "Aku tidak melakukannya demi diriku! Aku melakukannya demi suku!"

"Oh, katakan itu pada yang percaya, Perempuan Iblis," Seth benar-benar benci pada makhluk itu. "Apa yang kauperbuat dengan mereka? Menyuruh mereka membantai suku?"

"Tidak," gelengnya. "Aku tak pernah membiarkan mereka menyentuh bangsaku!"

"Lantas untuk apa?"

"Untuk menghalau bangsa asing," bukan Kierra yang menjawab, melainkan Carlisle. "Itu taktik yang ia lakukan pada pertempuran di Port Angeles, dan terbukti berhasil. Kierra memperkenankan penciptaan mereka untuk berada di garis depan dalam pertempuran."

Itu membuat Seth makin terkesiap. "Kau menciptakan vampir untuk memusnahkan manusia?!"

"Hanya kulit pucat!" masih, perempuan itu berusaha membela diri. "Aku berusaha melindungi suku dari cengkeraman para penjajah!"

Ya, patut diakui itu taktik yang efektif, meski tidak sepenuhnya efisien. Ia bisa mengurangi korban prajurit manusia dan tak perlu meresikokan para serigala terluka karena serangan meriam. Tapi bukankah itu artinya menambah populasi vampir?

Tidak, tidak, itu bukan masalah. Vampir baru sangat sulit mengendalikan diri sendiri. Mereka bisa dengan mudah saling membantai antarmereka sendiri demi memperebutkan mangsa, ketika populasi makin sedikit. Yang tersisa pastilah orang-orang pilihan, yang tak hanya tangguh, tetapi juga terbukti mampu bertahan hidup. Mungkin lebih sulit untuk mengendalikan mereka, tapi bukan berarti tak bisa. Jika sejak awal mereka dilatih, tak ada alasannya mereka tak bisa didisiplinkan di bawah taring para serigala.

Tak heran bahwa waktu itu Volturi sempat nyaris kalang kabut melihat kehadiran shifter di tanah ini. Atau mengapa Volturi takut pada Kierra hingga menawarinya posisi tinggi segala. Ini bukan cuma urusan perang antara vampir dan Anak-anak Bulan. Rupanya pernah terjadi di masa lalu, ketika vampir terjajah dan dieksploitasi. Vampir sebagai senjata… Dan serigala sebagai pengendali…

Apa pembenaran yang dibuat Kierra? Melindungi suku dari bangsa kulit putih? Yang benar saja!

"Mereka tetap manusia!" teriak Seth. "Apa kau tak berpikir kalau kau sendiri juga penjajah?" Oh ya, lebih buruk, malah. Ia pembantai dan pemusnah massal, penjahat perang yang lebih parah daripada Hitler. Volturi jauh, jauh, jauh lebih baik. Mereka membunuh manusia untuk bertahan hidup. Sedang Kierra?

Yang seperti itukah calon istrinya, Sang Maharani Aliansi Shifter? Bagaimana masa depan suku kelak, jika Kierra dibiarkan menjadi Alfa? Jika Kierra merekrut kawanan memasuki aliansi? Bagaimana masa depan Bumi, jika Kierra menguasai seluruh shifter? Mungkinkah ia akan menggunakan mereka untuk menjajah seluruh dunia, termasuk vampir dan manusia?

"Dan kau," ia menunjuk Carlisle. "Kau tahu ia seperti itu dan kau bukan hanya membiarkan, tapi juga mendukungnya?"

"Kierra tidak seburuk yang kaupikirkan, Seth."

"Tidak buruk apanya?!"

"Ia sudah katakan, ia melindungi suku, seperti kalian."

"Ia membunuh kepala suku yang sah, kakek dan pamannya sendiri!"

"Itu karena ia tidak tahu…"

"Mengapa kau harus membelanya?" ia begitu tidak sabar hingga bukan lagi menggeram, tapi menghardik. "Apa kau tidak melihat kebenaran?!"

Tapi reaksi Carlisle masih tenang, terlalu tenang untuk ukuran makhluk yang ada di ujung tombak. "Aku melihat lebih dari yang kaulihat," ujarnya. "Ia memang bukan pemimpin welas asih yang dicintai rakyat, tapi ia membawa bangsanya bertahan melewati masa-masa sulit. Di balik semua sikap kerasnya, aku melihat ketulusan Kierra, perjuangannya, kasih sayangnya… Ketika aku berada begitu dekat dengannya, aku tidak melihat seorang penjajah dan tiran haus darah, aku melihat seorang pemimpin yang selalu disalahartikan, dan … anak yang kehilangan arah…"

Lagi, mendengar kata itu, ditambah dengan cara Carlisle mengatakannya, sesuatu bergolak di dada Seth. Baru kini ia sadari bagaimana cara Carlisle menatap Kierra. Ia menghormati Kierra, jelas, tetapi ada hal yang jauh lebih besar. Rasanya ia melihat keteduhan dari sorot mata itu. Hasrat ingin melindungi, berselimut kerinduan dan … cinta.

Rasa marah menggelegak begitu saja, dan lebih dari apapun, dirasanya satu hal: kecemburuan. Serigala dalam dirinya merasakan hasrat untuk mempertahankan teritori, terlebih terhadap makhluk yang memang sejak awal merupakan musuh. Tapi rasionalitasnya berusaha untuk bertahan. Tidak hanya karena ia memandang Carlisle, hubungan mereka selama ini, serta posisi sang vampir sebagai pemimpin klan sekutu. Kesabaran adalah satu-satunya senjata yang tersisa baginya. Ia perlu mengetahui kebenaran. Lebih dari apapun, ia perlu mereka untuk menghadapi musuh saat ini.

Enemy of my enemy is my friend, bukan begitu?

"Kierra memang melakukan banyak hal kontroversial, Seth, patut kuakui itu," ujar Carlisle lagi. "Urusan pasukan vampir itu hanya satu dari seribu. Jika kau ada di sana saat itu, kau pasti terheran-heran dengan kemampuannya bertahan di tengah hujan cacian, tuduhan, dan pemberontakan. Dan nyaris … tak ada yang mengerti ia," suara itu turun hingga nyaris berupa bisikan. Seth seakan melihat kecamuk perasaan yang aneh berkelibat di wajah itu, sebelum Carlisle menarik napas yang tak perlu ia lakukan, dan bercerita dengan suara pelan, "Selain pasukan vampir, di antara kebijakan kontroversial tersebut, ada dua yang dianggap dosa terbesar Kierra, yang menjadi pangkal kejatuhannya. Pertama, ia dikatakan mengotak-ngotakkan tanah Quileute. Kedua, ia dinilai membuka diri pada orang asing."

"Maksudmu?"

"Kau tahu, pada masa itu tanah ini dihuni berbagai ras. Semula mereka hidup berdampingan, walau bukan tanpa benturan. Namun keadaan masih bisa terkendali, sebelum wabah cacar menjangkiti para budak dan masyarakat pribumi non-Quileute. Untuk mengendalikan penularan, sekaligus menghentikan pertikaian antarras, Kierra memberlakukan sistem isolasi. Ia menempatkan para budak di daerah dekat percabangan sungai yang kini dikenal sebagai Forks, sedangkan para vampir ditempatkan di tanah yang kini menjadi teritori kami. Tanah itu awalnya termasuk tanah Quileute. Kierra memperbolehkanku menggunakannya sebagai wilayah perburuan untuk membendung ketidaksukaan sebagian serigala, yang merasa keberatan jika aku berburu di dekat perkampungan."

Anehkah, bahwa Kierra, yang notebene anti-perburuan hewan liar, seakan memberi toleransi pada gaya hidup Carlisle, hingga memberinya wilayah perburuan segala? Carlisle, seorang budak…

Tidak. Tidak aneh sama sekali.

Seth memilih menekan kecemburuannya hingga titik terendah. "Bukankah Kierra membenci bangsa asing?" ia menanyakan poin selanjutnya dalam daftar dosa Kierra. "Mengapa ia bekerja sama dengan mereka?"

"Ia tidak melakukannya dengan sukarela," jelas Carlisle sabar. "Itu adalah langkah strategis. Pada masa itu, dunia berubah. Awalnya Kierra selalu dapat menghalau kekuatan asing, tapi tugas itu makin lama makin sulit, terlebih karena suku tidak sepenuh hati memihaknya. Banyak petinggi suku yang merasa langkah Kierra menggalang kekuatan vampir bukan hanya merupakan pengkhianatan bagi suku, tetapi juga ancaman bagi mereka. Dan bangsa-bangsa kulit pucat menilai ini sebagai kesempatan. Bukan cuma sekali mereka menawarkan bantuan pada musuh-musuh Kierra. Quileute bukan cuma penguasa wilayah, melainkan juga perdagangan. Dan Kierra adalah kunci semua kekuatan itu. Jika Kierra tumbang, jika mereka bisa menunggangi pihak yang menjatuhkan Kierra, maka mereka bisa menguasai semua, sekaligus menyingkirkan pesaing."

Ya. Ia ingat ini dari pelajaran Sejarah. Bangsa asing yang mengincar posisi penting di kawasan ini saat itu pastinya bukan cuma satu, tapi banyak. Bangsa yang berada pada posisi puncak dan saling bersaing adalah Inggris dan Spanyol. Sama sekali tidak aneh jika mereka memanfaatkan persitegangan antarsesama Quileute, dengan suatu janji. Sekali merengkuh dayung, tak hanya dua atau tiga pulau terlampaui, bahkan bisa empat sampai lima sekaligus.

"Satu hal yang kukagumi dari Kierra," lanjut Carlisle, "Ia selalu bisa melihat melampaui apa yang dilihat kebanyakan orang. Ia tak segan untuk membuka diri pada kemungkinan baru, pada perubahan. Meski demikian, ia sendiri tetap memegang teguh prinsipnya sejak awal. Ia berubah, tapi ia tidak terhanyut…

"Tentu saja Kierra sadar bahwa persaingan Inggris dan Spanyol hanya akan berakibat buruk pada suku. Siapapun yang menang, sukulah yang dirugikan. Ia menyadari bahwa ada satu titik ketika ia tak bisa lagi menggunakan kekuatan untuk menghabisi mereka semua. Bukan cuma itu, ia melihat potensi bangsa asing, dan tahu sebenarnya ia bisa memanfaatkan apa yang dimiliki bangsa asing demi kemajuan suku. Akhirnya ia menempuh kebijakan yang sama sekali berlawanan dengan sikap politiknya di awal."

"Kerjasama…," bisik Seth, berusaha memfokuskan isi kepalanya pada fakta, dan bukan pada nada kekaguman berselaput kasih yang kental dalam kalimat Carlisle.

"Ya," angguk Carlisle. "Ia membuka diri pada bangsa asing. Alih-alih membiarkan tanahnya menjadi rebutan, ia justru memberi Inggris dan Spanyol tempat. Dengan itu, ia tak hanya meredakan persaingan perebutan wilayah, tetapi juga menumpulkan upaya mereka untuk merengkuh sekutu demi menggulingkannya. Ia memindahkan posisinya dari yang semula target untuk dikalahkan, menjadi pihak yang merengkuh semuanya.

"Tapi ia tidak memberi secara cuma-cuma. Ia menghargai tanahnya dengan harga sangat mahal, belum lagi ditambah berbagai pajak. Sebenarnya dengan itu, ia memberi keuntungan besar pada suku. Mengimbangi pencapaian budaya bangsa asing, ia juga berusaha menguatkan kebudayaan Quileute dan suku-suku lain. Alhasil di masanya, Quileute menjadi pemimpin di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan."

Seth menggelengkan kepala, berusaha membuang gambaran yang merasuki kepalanya dalam pengaruh kata-kata Carlisle. "Kau membuat Kierra tampak sebagai pemimpin yang bijaksana dan berpikiran maju. Tapi kalau begitu, mengapa ia digulingkan?"

"Dunia politik tidak semudah itu, Seth. Kebijakan itu mungkin membawa pengaruh baik, tapi ada banyak pihak yang merasa tidak senang. Kierra memang melakukan semua atas nama suku, tetapi bagi yang lain, ia dinilai tamak. Dan kau tahu, ketamakan adalah sifat dasar semua makhluk. Bangsa asing melihat bahwa beragam kebijakan yang diterapkan Kierra merugikan mereka, dan menginginkan penguasaan mutlak lepas dari campur tangan Quileute. Mereka juga merasa terhina, karena Kierra menolak permintaan untuk memerdekakan budak kulit pucat. Rupanya hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mendendam pada Kierra."

"Apakah itu … keluarga Shi'pa?" ucap Seth nanar.

"Benar. Sangat ironis, pihak yang menjatuhkan Kierra justru keluarga dari inangnya saat itu. Wajar jika mereka mendendam. Selama berdekade-dekade, mereka terpinggirkan. Bukan hanya sekali mereka mengadakan pemberontakan, tapi Kierra selalu berhasil menumpasnya. Mereka merasa berhak atas takhta Quileute. Dan mereka memiliki penawaran lebih. Jika Kierra memberikan kesempatan berdagang, mereka memberikan hak monopoli. Jika Kierra menyewakan tanah, mereka bisa memberikannya."

Suara Carlisle miris, sangat, dan Seth bisa menangkap nada ironi di sana. Ya, ia juga merasa begitu. Mereka menyingkirkan Kierra dengan tuduhan menyalahgunakan haknya sebagai kepala suku dengan mengotak-ngotakkan tanah, tapi mereka sendiri menjual tanah mereka.

"Tentu saja penawaran ini disambut baik," lanjut Carlisle setelah jeda beku yang mengiris sukma. "Untuk pertama kalinya, bangsa Quileute dan bangsa asing: merdeka atau budak; dari berbagai jenis: vampir, manusia, dan serigala, bersatu melawan satu musuh."

"Mengapa para vampir juga ikut menentang Kierra?" kerung Seth bingung. "Bukankah mereka anak buahnya?"

"Ya, memang," angguk Carlisle. "Tapi itu bukan tanpa tentangan juga. Bagaimanapun tentu mereka tidak suka berada di bawah kendali seekor serigala. Seperti para budak lain, mereka ingin bebas."

"Lalu apa yang terjadi? Perang terbuka?" kerut di dahi Seth kian tebal. Seingatnya, tidak ada satu buku teks pun yang menyebutkan perang setelah peristiwa penyerangan kapal Rusia pada 1802. Seandainya urusan vampir dan serigala ini ditutup-tutupi pun, dengan skalanya, tidak mungkin perang besar di Olympic tidak disebutkan sama sekali.

"Tidak. Mereka tidak melakukannya secara frontal. Mereka hanya memberi dukungan penuh, siap menekan implikasi yang timbul seandainya suku memang mengkudeta Kierra."

"Mengapa? Jika mereka semua bersekutu dan menyerang Kierra sekaligus, Kierra akan mudah digulingkan…"

"Masalahnya, tidak semua orang membenci Kierra. Ada pula kubu-kubu yang mendukung Kierra, entah memang menyetujui kebijakannya atau menganggap Kierra adalah kekuatan yang mampu menjadi poros penyeimbang saat itu. Patut diingat, Seth, meski Semenanjung Olympic sendiri bukan merupakan pusat perdagangan, tapi dengan adanya Kierra menguasai seluruh pesisir barat Amerika, bahkan hingga selatan, ia juga menguasai rute dagang strategis nyaris seluruh benua. Berabad-abad para pedagang yang datang dari barat, maksudnya dari Asia dan Pasifik, mengadakan pertukaran secara tradisional dengan suku-suku pribumi di benua ini. Dengan kedatangan bangsa asing, terutama karena jalur perdagangan mereka di Asia pun berusaha dikuasai, tentu saja mereka merasa terintimidasi. Kierra mampu memberi mereka rasa aman dan kepastian. Jika Kierra jatuh, perdagangan pasti dikuasai bangsa kulit pucat. Jadi tentu saja mereka mendukung Kierra.

"Dukungan suku-suku luar terhadap Kierra merupakan ancaman bagi bangsa kulit pucat. Perang terbuka di Olympic pasti akan mengguncang perekonomian. Bukan mustahil seluruh suku-suku pribumi akan sekaligus memblokade perdagangan, bahkan menyerang bangsa kulit pucat. Karenanya mereka hanya mendukung di balik layar, dengan mengedepankan intrik internal suku untuk melemahkan pemerintahan Kierra. Mereka menginginkan suksesi yang aman, agar stabilitas politik tetap terjaga."

"Tapi itu tidak mungkin kan?" sanggah Seth. "Apapun yang terjadi, pergantian kepemimpinan, apalagi jika melalui kudeta, akan memiliki dampak negatif…"

"Memang. Dan nyatanya, itu yang terjadi. Ketika Kierra jatuh, suku-suku di selatan kehilangan kepercayaan pada suku ini, dan memerdekakan diri. Kaliso sebagai pengganti Kierra rupanya tidak cukup tangguh untuk mencegah kehancuran, bahkan meski ia memerintah dengan tangan besi. Akhirnya, ia sendiri dikudeta oleh keluarga Shi'pa yang mengusungnya… Entah apa yang terjadi, tapi kudengar, Kaliso juga dibantai."

"Dan kau?"

"Maaf?"

"Di mana kau ketika semua itu terjadi? Kau pendamping setia Kierra, kan?" tanpa sadar ia mengatakan kalimat terakhir dengan sinis. "Jangan katakan kau tidak bisa memprediksikan semua itu. Jika kau sebegitu setianya pada Kierra, seharusnya kau bisa mencegah…"

Bersit sendu muncul di wajah vampir itu. Nada sendu sama yang juga muncul di wajah Kierra. Di depan matanya, perempuan itu menggigit bibir, lantas mengulurkan tangan, menggenggam tangan Carlisle. Mata mereka bertemu, seakan bertukar kata-kata yang tak terucapkan, dan akhirnya—betapa kecemburuan di dada Seth lagi-lagi bergolak—dilihatnya Kierra tersenyum, meski pedih. Dan Carlisle, oh sialan, Carlisle membalasnya. Dengan senyuman yang lembut. Seakan menguatkan.

Senyuman Korra. Sentuhannya. Tatapan mata penuh pengertian yang bahkan jarang diberikan padanya… Kata-kata dalam koneksi telepati yang sekali lihat pun orang lain tahu apa artinya… Dibagi untuk orang lain.

Brengsek. Itu Kierra. Kierra. Mengapa ia harus cemburu? Ia bahkan tidak mencintai perempuan itu.

Ya, ia tidak mencintai Kierra. Bahkan walau seandainya perempuan itulah yang selama ini bersamanya, dengan menyaru sebagai Korra. Bahkan walau seandainya selama ini, ketika ia mengira melihat tawa Korra, sebenarnya ia melihat Kierra. Bahkan walau seandainya selama ini, ketika ia merasa kagum pada kecerdasan dan keluasan pengetahuan Korra, serta sikap independennya yang tidak biasa ia tampilkan, sebenarnya ia mengagumi Kierra. Bahkan walau seandainya selama ini, ketika mereka menghabiskan saat-saat berdua, ketika ia menata mimpi dan harapan, sebenarnya ia membangunnya bersama Kierra. Bahkan walau seandainya kekasih yang dikenalnya bukanlah Korra, melainkan Kierra. Tidak, ia tak mau mengakuinya. Ia tidak mencintai seekor rubah keji. Tidak setitikpun.

Tidak sama sekali.

Tidak … 'kan?

Brengsek, Seth. Fokus.

"Ya, kau benar, Seth, aku di sana," jawab Carlisle akhirnya, masih tak melepaskan genggaman tangannya atas Kierra. "Dan kau patut menyalahkanku. Karena aku di sana, aku telah mempertimbangkan semua. Bukan, aku tahu semua. Dan aku tak bisa mencegah apapun… Aku justru … membiarkan, bukan, memungkinkan semua terjadi…"

"'Memungkinkan'?"

"Kekisruhan di tanah Quileute pada masa-masa akhir pemerintahan Kierra itu … sebagian besar … terjadi karena aku."

"Kau?"

"Ya, aku," Carlisle mengangguk. "Aku bukan hanya budak atau pendamping, aku penasehat Kierra. Aku, seekor Makhluk Dingin. Yang seharusnya menjadi musuh suku. Kierra mungkin memiliki balatentara vampir, tetapi mereka hanya alat. Peliharaan. Makhluk yang lebih rendah derajatnya ketimbang anjing. Mereka tidak memiliki kemerdekaan, lebih lagi hak untuk bicara dan mengeluarkan pendapat. Tapi aku? Kierra menghargai pendapatku. Sangat. Akulah yang memintanya melakukan lokalisasi para budak dan Makhluk Dingin, memisahkannya dari masyarakat Quileute lain. Akulah yang memperkenalkan Kierra pada budaya asing, membuatnya menyadari potensi yang bisa ia kembangkan demi suku. Akulah yang meminta bangsa Quileute untuk membuka diri. Akulah yang memintanya mempertimbangkan untuk mengadakan kerjasama dengan bangsa asing dan menyewakan tanah. Aku pula yang memberikan pertimbangan tentang pajak dan lain-lain. Bahkan … akulah yang memberinya nama itu: Kierra."

"Kau … memberinya nama?"

"Tupkuk, atau Shi'pa saat itu, menginginkan nama yang lebih universal, yang bisa dengan mudah diingat dan dilafalkan orang kulit pucat. Dia memilih nama Cyra, tapi selanjutnya, orang malah melafalkan kata itu dengan Ki-er-ra, sehingga ia mengejanya demikian."

Penjelasan itu tak berguna, tidak karena bukannya memperingan beban di hati Seth, itu justru memperberatnya. Kierra menaruh kepercayaan pada lintah, heh? Menempatkannya begitu tinggi... Rupanya ia salah ketika menganggap Kierra cerdas, karena nyatanya ia bodoh. Ya, bodoh. Sangat...

Seperti dia. Seperti Jacob. Bahkan juga para Tetua.

Seperti seluruh kawanan saat ini.

Suara Carlisle mengambang dan berpilin di langit pagi yang beku. Bak kabut, menjerat seluruh indera Seth. Gelap ia rasa, hingga tak satu cercah mentari pun, yang menyelusup dari celah-celah dedaunan, yang sanggup menembusnya.

"Suku sejak awal membenci kediktatoran Kierra, ya... Mereka menganggap Kierra penjajah, ya... Mereka berulang kali mencoba memberontak, ya... Tapi tak ada yang lebih mereka benci ketimbang Kierra berada di bawah kendali seekor lintah, dan membuka diri pada bangsa yang mereka anggap hina."

"Artinya kau memang menunggangi Kierra…" geramnya sinis.

"Tidak!" sanggah Kierra, melepaskan tangannya dari genggaman Carlisle dan maju ke muka. "Jangan berpikir buruk tentangnya. Ia berusaha untuk melindungi suku, tidak seperti yang kalian kira! Jika tak ada dia, sudah sejak awal suku hancur!"

Cih. Apa-apaan si Kierra ini, terus saja membela seekor vampir? Apa sebegitu tinggi ia menaruh kepercayaan? Itu tak mungkin terjadi jika mereka tak punya hubungan tertentu, kan?

Sudah jelas kini. Alasan mengapa Kierra mengangkat makhluk ini sebagai penasehatnya, walau ia harus mengorbankan suku. Cinta.

Cinta yang membuatnya menghancurkan suku. Dan cinta yang menghancurkannya juga pada akhirnya.

Carlisle dan Kaliso.

Ya, cinta. Satu kata tolol, bodoh, dan sudah jelas merupakan kelemahan Kierra. Pangkal kehancurannya.

"Dan reaksi suku dengan kehadiranmu?" tanyanya pahit.

"Tentu saja mereka membenciku," jawab Carlisle. "Terutama setelah Kierra memberi hak bagiku untuk menempati bagian tanah ini. Menempati dan memanfaatkan, bukan memiliki, karena berdasarkan hukum suku, tak ada seorang pun yang bisa memiliki bagian manapun dari Bumi selain suku, meski Kepala Suku berhak mengatur penggunaannya."

"Ya, aku tahu soal Hukum Kepemilikan Tanah, Carlisle, terima kasih," ujar Seth dingin. "Tapi kau belum menjawab tentang reaksi suku. Mereka tak tinggal diam, bukan?"

"Tentu," angguk Carlisle. "Tadi sudah kubilang, keluarga Shi'pa berusaha memperluas pengaruh, mencari celah dan menggalang dukungan untuk menjatuhkan Kierra. Dan akhirnya, mereka menemukan jalan dengan mempengaruhi orang yang paling dekat dengan Kierra saat itu. Tak lain, selir kesayangannya, Kaliso. Tidak, saat itu kedudukannya bukan selir, melainkan suami. Kierra begitu mencintainya hingga menikahi pemuda itu, tak tahu bahwa di balik sikapnya yang diam dan patuh, Kaliso memendam dendam hingga ke akar."

"Dendam?"

"Ya. Keluarga Kaliso terbantai di tangan Kierra, setelah mereka terbukti mendalangi pemberontakan. Kaliso dipaksa menjadi budak, namun lama-kelamaan Kierra jatuh cinta padanya. Mungkin … terlalu mencintainya. Hingga bahkan ia tak hanya menjadikan Kaliso suami dan pendamping, tetapi juga memberinya kekuasaan. Inilah yang akhirnya menjadi bumerang baginya. Dan bagai kutukan, akhirnya tiba saat itu. Ia mengandung."

Seutas tarikan napas tanpa sengaja keluar dari mulut Seth. Tapi Carlisle kelihatan tidak peduli, dan melanjutkan.

"Berpuluh tahun, Kierra menginginkan keturunan yang mewarisi darahnya, tetapi keinginan itu tak pernah terwujud. Ia sudah hampir menyerah, ketika—bagai keajaiban—ia mendapati dirinya mengandung. Namun itu bukan tanpa harga. Entah karena gen hibrida dalam tubuhnya dan gen serigala dari benih itu bertabrakan, atau apa, tubuh Kierra melemah dari hari ke hari. Enam bulan masa yang ia butuhkan hingga jabang bayi itu lahir, dan selama enam bulan itu, ia terus menapaki tangga menuju kehancuran.

"Suku makin membenci Kierra dengan kehamilan itu. Mereka menyebarkan desas-desus bahwa itu bukan anak Kaliso, melainkan anakku. Memang, dibandingkan Kaliso, aku lebih dekat dengan Kierra. Masyarakat suku menganggapku selir yang lebih berbahaya, ular yang lebih patut dibenci karena turut mencampuri kebijakannya. Kutahu, mereka takut dengan apa yang mungkin lahir dari rahim Kierra, dengan kemungkinan akulah yang membuahinya. Mereka mungkin dan pasti akan memberontak.

"Aku berusaha memperingati Kierra, namun ia tak menanggapi. Di luar urusan ia selalu menyepelekan pemberontakan—karena berkali-kali, ia selalu dapat menanganinya dengan mudah—pikirannya begitu tersita oleh hal-hal lain, seperti rencananya di masa depan dan urusan kehamilannya. Kutahu sejak bersinggungan dengan bangsa asing dan mengetahui banyak hal yang ada di luar sana, ia ingin merambah dunia. Ia ingin menguasai dunia… Dengan kehamilannya, ia yakin akan bisa membangun suku yang lebih kuat, yang mewarisi darahnya. Ia positif dunia akan ada di genggaman tangannya. Tanpa tahu impiannya akan terhenti di tengah-tengah, tepat saat itu.

"Bukan berarti Kierra tidak punya firasat soal ini. Setidaknya, meski tidak menduga adanya pemberontakan, ia tahu tentang apa yang akan terjadi jika ia melahirkan. Melihat apa yang terjadi dengan tubuhnya dalam enam bulan, tak mungkin ia bisa bertahan. Namun, ia tetap bersikap tegar. Memiliki anak adalah impiannya dan demi itu ia telah bersiap untuk mati. Karenanya ia sudah mempersiapkan pengganti jauh-jauh hari. Rencananya, begitu ia melahirkan dan tubuhnya tak kuat lagi, ia akan langsung merasuki calon inang lain. Seperti biasa. Kematian tak pernah menjadi sesuatu yang ia takuti, karena ia tahu rohnya abadi.

"Namun akulah yang pengecut, akulah yang begitu bodoh…

"Apa yang Kierra tahu tak seperti yang aku tahu. Janin itu takkan mungkin dilahirkan dengan normal. Saat itu dunia pengobatan belum seperti saat ini. Jika orang melahirkan normal pun beresiko mati, bagaimana dengannya? Tak ada yang bisa kulakukan… Aku tidak bisa melihatnya mati, tidak dengan cara itu. Aku tidak bisa melihat makhluk apapun yang ada di rahimnya merobek perutnya untuk keluar. Tidak lagi. Bahkan walau kutahu ia tidak akan benar-benar mati. Bahkan walau kutahu ia akan kembali hidup, meski dalam tubuh lain. Jadi aku pergi. Begitu saja, aku pergi. Aku tidak ada di sisinya untuk membantunya melewati penderitaan dan rasa sakit itu. Aku bahkan tak ada untuk menggenggam tangannya. Aku pergi sejauh-jauhnya, menenggelamkan diri dalam perburuan. Menunggu saat ketika aku kembali dan Kierra menyambutku, dengan tubuh yang baru, tetapi tak kurang suatu apa. Dengan wajah berseri, menggendong anak yang ia dambakan. Aku berharap, akhirnya bisa melihatnya benar-benar bahagia…

"Dan hal buruk itu terjadi.

"Di tengah perburuan, aku teralihkan ketika hidungku mencium bau manis yang aneh. Aku mengenal betul bau itu: bau tubuh vampir yang terbakar, berasal dari barat. Samar kudengar jeritan dan teriakan susul-menyusul. Begitu menoleh, kulihat bumbungan asap ungu pekat, tinggi mencapai langit. Seketika kurasakan firasat buruk. Nyata bahwa firasat itu datang begitu terlambat. Seandainya saja aku datang sejam, atau bahkan semenit, tidak, cukup sepuluh detik lebih cepat…

"Aku menyaksikan detik terakhir ketika tubuh itu terkoyak. Ditarik oleh empat ekor serigala ke empat penjuru berbeda, tercabik bak sepotong daging panggang, tepat di depan mataku. Mereka tak menunggu untuk melemparkan tubuhnya ke api unggun yang membumbung tinggi, yang penuh oleh potongan-potongan tubuh termutilasi. Tak ada satu pun pelayan pribadi dan calon inang Kierra, jadi aku yakin mereka semua ikut dibunuh. Aku tak sanggup bergerak, bahkan tak sanggup mengeluarkan jeritan, tidak satu patah pun. Seluruh kuasaku, jiwaku—jika memang aku masih memilikinya—seakan ditarik lepas dari ragaku. Aku tinggal selongsong, beku, tanpa rasa, tanpa jiwa.

"Ini semua kesalahanku. Aku seharusnya bisa melihat ini, seluruh tanda-tandanya jelas ada di hadapanku. Kaliso sering menerima sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, seakan mendapat pesan rahasia… Tak jarang ia pergi mengendap-ngendap, kala Kierra sedang tidur… Kaliso dekat denganku, aku menganggapnya putraku sendiri, dan ia pernah mengatakan tak ingin aku terus ada di tanah ini, karena tak tahu apa yang akan terjadi. Saat itu aku mendapat firasat sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, aku tak pernah menduga akan demikian kejadiannya. Tidak karena aku percaya, seperti juga didengungkan Kierra dengan binar cinta yang menutupi matanya, bahwa Kaliso takkan mungkin menyakiti bayinya. Aku juga percaya bahwa para serigala menjunjung tinggi kode kehormatan. Menyerang wanita yang lemah dan tanpa pertahanan sama sekali bukan cara ksatria. Mereka mungkin memberontak, tapi mereka takkan melakukan dengan cara sekeji dan serendah itu.

"Nyata bahwa kami menilai mereka kelewat tinggi. Atau mungkin terlalu rendah, karena jelas mereka telah memperhitungkan semua. Mereka tahu Kierra akan mencapai titik terlemah ketika melahirkan. Dan itu saat yang mereka pilih untuk melakukan pemberontakan, bahkan meski mengorbankan harga diri.

"Kesadaranku pulih ketika kudengar tangisan bayi. Dan di sana, kulihat makhluk itu. Terbungkus kain putih, menggeliat di tangan seorang lelaki. Lelaki itu tertawa terbahak. Dan tanpa belas kasih, ia mengangkat si bayi tinggi-tinggi, siap melemparkannya ke api yang berkobar.

"Aku tak tahu apa yang kulakukan, ketika aku keluar dan berjalan mendekati api. Mungkin kuinginkan pembalasan. Tapi mungkin juga kuinginkan akhir yang sama. Mungkin, aku ingin menyusul mereka.

"'Berikan bagianku,' demikian kukatakan, dengan tetap menegakkan kepala, bertekad jika takdirku datang, aku akan menyambutnya dengan penuh kehormatan.

"Kutunggu serigala-serigala itu meringkusku, membuntungiku, melempar tubuhku ke dalam api. Tapi ia tak kunjung memberikan yang kuinginkan. Ia hanya menatapku lama sekali. Dan tahu-tahu, ia menghampiriku, menyurukkan bayi di tangannya ke dadaku. Mengatakan satu hal yang tak pernah kuperkirakan. 'Kau yang memulai semua ini, dan kau yang harus menuntaskannya. Bawa dia dan pergilah! Aku tak peduli kau mau mati atau apa, pergi dari sini dan jangan pernah menginjak tanah ini lagi!'

"Lama aku terdiam, tak tahu yang harus kulakukan atau apa perintah itu benar. Namun mereka tak menungguku larut dalam pertimbanganku sendiri. Beberapa prajurit mendorongku, menghelaku pergi. Masih sempat retinaku menangkap bayangan sosok itu. Kaliso. Lelah, ya, tapi kepuasan jelas terpancar di wajahnya. Ia tampak begitu hidup, begitu bahagia, seperti tidak pernah kulihat sebelumnya. Air mata berlinangan di pipinya, berkilau tersorot cahaya api, kala ia mengucap, begitu lirih bak berbisik, 'Akhirnya bisa kubalaskan dendammu, Ayah, Ibu, Kakak… Kukirim ia kembali ke tempat seharusnya ia berada.'

"Itu terakhir kali aku melihat Kaliso.

"Ketika kupalingkan wajahku dari tubuh yang terbakar itu, kusadari aku telah mengkhianatinya. Jiwaku kotor dan berkarat, begitu rusak hingga aku tak yakin cangkang ini masih berjiwa. Bahkan Neraka pun takkan menerimaku. Dan di sini aku, terkutuk hingga keabadian. Apa yang harus kulakukan dengan hidupku, yang tak layak lagi dikatakan hidup, setelah semua yang berharga bagiku terenggut?

"Lagi-lagi aku pergi ke tempat itu, tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Itu tempat semua bermula. Tentunya itu tempat yang bagus untuk mengakhiri segalanya.

"Saat itu aku mengutuk, mengapa tempat itu bukan tebing dengan batu-batu kasar bertonjolan di bawahnya. Aku mungkin tahan banting, tapi siapa yang bisa menjamin aku takkan pecah berkeping-keping jika jatuh dari ketinggian dan menabrak karang? Aku bisa kembali disatukan, tapi tentunya itu takkan terjadi jika tak ada yang menyatukanku. Jika aku menenggelamkan diri ke danau, akankah aku mati? Jikapun tidak mati, bisakah aku membatu di dasar danau? Menutup semua indraku; tidak bergerak, tidak hidup, tidak merasa… Memasuki ketiadaan… Itu sama saja dengan mati. Tapi hidup seperti ini? Apakah ini layak dikatakan hidup?

"Dengan berbagai bayangan cara bunuh diri, aku meletakkan bayi itu di rerumputan, lantas melangkah memasuki danau. Kutinggalkan semua di belakangku: cinta, harapan, duka, keterikatan pada dunia… Mungkin aku takkan pernah bisa memasuki Dunia Atas tempat mereka berpulang, tapi setidaknya di sana, aku bisa meleburkan batas antara terang dan gelap, nyata dan tiada. Dengan hanya bayangan mereka… Dengan hanya kenangan tentang mereka bersamaku.

"Namun tiba-tiba terdengar suara tangis dan langkahku terhenti. Aku menoleh ke belakang, menatap kembali apa yang seharusnya telah kutinggalkan. Bungkusan kain itu bergerak-gerak, dan aku harus menahan kuat-kuat instingku untuk tak lantas kembali dan mendekapnya. Kuteguhkan diriku. Aku pernah melakukan ini sebelumnya. Aku bisa melakukannya lagi, kali ini dengan pilihan yang tepat.

"Kembali aku berpaling, meneruskan langkahku. Tapi bayi itu menangis makin keras, membuat berjuta keraguan menyesaki dadaku. Apa yang akan terjadi padanya bila aku meninggalkannya begitu saja? Bisakah ia bertahan di alam liar sendirian? Akankah ia justru terancam, dengan serigala-serigala yang membenci darahnya? Akankah takdir kembali berputar, dan kembali, ia akan menempuh jalan yang sama dengan Kierra? Aku berbalik untuk mengambil bayi itu, lantas kembali berjalan memasuki danau. Tidak, aku takkan meninggalkannya di belakang. Aku akan membawanya. Mengantarnya ke dunia tempat seharusnya ia berada, bersatu dengan ibunya. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk terakhir kali, sebelum aku mengundurkan diri dari dunia.

"Ia menggeliat-geliat di pelukanku, tangisnya makin keras kala air danau yang dingin menyentuh kakinya. Kurundukkan wajahku mencium keningnya, sebelum perlahan menurunkan tubuhnya ke air, menenggelamkan separuh tubuhnya. Ia tak lagi menangis, ia menjerit. Tangannya yang kecil lepas dari kungkungan kain yang menyelimutinya, terangkat, menggapai-gapai mencari pegangan di udara yang kosong. 'Ini tidak akan sakit,' bisikku padanya, kala hanya tinggal kepalanya di atas air. 'Hanya beberapa detik, dan kau akan memasuki dunia tempat tak ada lagi perih, tak ada lagi sakit…'

"Bagai mengerti kata-kataku, suaranya padam bahkan sebelum aku benar-benar menenggelamkannya. Kuturunkan ia makin dalam. Sontak ia berontak, riak-riak dan cipratan kecil muncul di sekeliling tubuhnya. Gelembung-gelembung udara muncul dari hidung dan mulutnya; bola-bola kecil transparan bak hujan salju di balik dome kaca yang bergerak terbalik. Bukannya turun, hujan salju itu justru muncul ke permukaan, menciptakan gelembung udara di permukaan danau sebelum akhirnya pecah, memudarkan sosoknya di balik tabir air. Awalnya banyak, namun perlahan mereda seiring redanya hentakan kaki dan tangannya. Tubuhnya mulai membiru. Bibirnya makin pucat. Sedikit lagi, pikirku…

"Bola mata hitam itu menatapku dari balik permukaan danau yang mulai tenang, bak memandang menembus kaca, dan bukan tuduhan dan kemarahan yang ada di sana, melainkan kesedihan. Sesaat, hanya sesaat, sebelum akhirnya mata itu menutup. Sedikit lagi, pikirku, menatap gelembung-gelembung terakhir yang mengapung meninggalkan tubuhnya seiring hilangnya tarikan napas di sosok kecil itu. Sedikit lagi, dan semua akan berakhir…

"Kesadaran seketika menghentakku. Apa yang kulakukan? Anak ini adalah satu-satunya peninggalan Kierra. Ia begitu menginginkan bayi ini. Deminya, ia rela mempertaruhkan nyawa. Jika ada satu-satunya yang patut disalahkan atas semua ini, itu adalah aku. Aku, makhluk terkutuk tak berjiwa. Tak hentikah aku mengundang kemalangan bagi mereka yang kukasihi? Dan kini, seolah belum cukup, aku juga akan mengotori tanganku dengan darah bayi tidak berdosa?

"Sontak aku mengangkat tubuhnya dari air, membawanya ke tepi. Tubuhnya dingin, sangat. Kaki dan tangannya terkulai lemas. Bibirnya begitu biru, napasnya hanya tinggal seutas, detak jantungnya begitu lemah… Penyesalan dan rasa marah pada diriku sendiri menyergap dadaku begitu rupa. Oh Tuhan, ia hanya seorang bayi yang baru dilahirkan. Begitu kecil, rapuh, dan tak berdaya… Ia tidak layak menerima semua ini…

"Berharap semua belum terlambat, hati-hati kubalikkan tubuhnya agar tengkurap di lengan bawahku, menepuk-nepuk punggungnya, berusaha mengeluarkan air yang merendam paru-parunya. Aku tak punya apapun untuk menghangatkannya, karena seluruh bajuku dan kain tenun yang semula dipakai menyelimuti tubuhnya pun telah basah kuyup. Kunyalakan api, lantas meletakannya di atas alas daun-daunan untuk menjaganya tetap hangat.

"Bagai keajaiban, beberapa jam kemudian, detak jantungnya perlahan membaik. Aku tak pernah merasakan lonjakan kebahagiaan di hati yang dingin dan beku ini, tidak sejak berabad-abad, sehingga aku seakan merasakan kehangatan mengisi dadaku. Dan aku bersumpah, demi roh Kierra, di atas kubur ia yang kucintai, aku akan menjaga bayi ini. Aku takkan pernah meninggalkannya. Takkan kubiarkan apapun menyakitinya.

"Aku membawa bayi itu pergi. Kunamai ia Scarlett Cyra Cullen. Scarlett, seperti namanya… Seperti warna batu rubi di permukaan liontin tempat kulekatkan lukisan wajah Shi'pa. Oh, ia begitu menyukai liontin itu. Seringkali ia berkaca, memperbandingkan bentuk mata, bibir, hidung, warna kulit dan rambutnya dengan sosok di lukisan. Ia sering mengatakan betapa cantik perempuan itu, betapa ia ingin menjadi sepertinya suatu hari kelak. Ia sering tidur dengan menggenggam liontin itu di jemarinya yang mungil, tak hendak melepaskannya bahkan walau aku hati-hati berusaha mengurainya. Scarlett, putri kecilku yang manis. Lambang dosaku."

.


.

Catatan:

Maaf lamaaaaa Saudara-saudara… Sejarah Hitam selesai! Awalnya susah banget bikin 2k kata aja, tapi tahu-tahu jadi dan seluruhnya 12k kata! Dan bagian terakhirnya aku masukin ke chap Jatuh, jadi kayanya adegan penaklukan kawanan baru muncul di chap 84. Aku yang ngeditnya aja pusing, jadi deh aku bagi dua. Aku post dulu satu ini, bagian keduanya aku post besok ato lusa yaaa…

Maaf banget banget banget…

Btw bisa nangkep keganjilan dalam cerita Carlisle ga? hahaha...

R&R pleaaaase?