THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Based on Twilight Saga by Stephenie Meyer. Some details were taken from historical accounts, but some parts already reinterpreted to suit my imagination

.


.

83. Mawar Rubi (Sejarah Hitam -2-)

Tuesday, February 24th, 2014

.


.

Apakah waktu tak lagi bermakna? Apakah semesta telah luruh? Apakah dunia tak lagi memiliki dimensi? Karena di sana, Seth merasa seluruh kebenaran yang ia tahu hancur, keping demi keping runtuh dalam kata demi kata yang diucapkan Carlisle.

"Aku merawatnya, membesarkannya, mengajarinya banyak hal…," suara Carlisle menari-nari dalam kesadaran Seth. Nada yang lembut, meski juga terasa sendu… "Seluruh cintaku, seluruh harapanku, seluruh anganku, kucurahkan padanya. Aku berusaha mengembalikan semua yang hilang, menebus dosaku padanya dan pada ibunya. Nyaris seluruh Amerika, bahkan beberapa tempat di Eropa, pernah kami singgahi, demi mencari hidup yang lebih baik. Kami hidup sederhana, seringkali menghabiskan tahun-tahun di desa terpencil atau hutan, menghindari keramaian, tapi kami bahagia.

"Aku takkan mungkin melupakan saat-saat indah itu, ketika ia memanggilku 'Papa' dengan lidah cadelnya, ketika ia mencoba-coba bermain dengan biolaku… Ia selalu ingin aku memainkan lagu kesayangannya sebelum ia tidur, lagu yang kubuat sebagai kenangan akan sang mawar rubi dalam hidupku. Dan selalu, ketika lagu itu baru setengah jalan, ia akan memohon padaku untuk naik ke tempat tidur dan mengeloninya hingga pulas. Ia sangat suka bergelung di sisiku, satu tangannya menggenggam liontin kesayangan yang menjuntai di dadanya, sementara jemari-jemari tangan satunya bermain dengan kancing-kancingku…

"Dalam skala hidupku, waktu berjalan cepat. Terlalu cepat, malah. Rasanya ia begitu cepat tumbuh hingga aku selalu merindukan masa ketika gadis kecil itu masih ada, bergelayut di bahuku atau berlari-lari, melompati pepohonan dari dahan ke dahan saat mengejar buruan. Seperti ibunya, ia pandai mengendus jejak, lihai menebar perangkap, juga begitu lincah dan tangkas. Namun kesehariannya, Scarlett adalah seorang yang romantis. Ia menyukai puisi, sangat, dan selalu menaburi segala di sekitarnya dengan bunga-bunga. Keinginannya sewaktu kecil adalah menjadi anak baik dan manis, agar kelak bisa menjadi bidadari dan bertemu dengan ibunya yang sudah menjadi malaikat di surga. Entah siapa yang memasukkan ide itu ke kepalanya, tapi itu membuatku disesaki kepedihan. Ibunya adalah makhluk fana, dan Scarlett juga tidak abadi. Entah kapan, yang jelas ia akan meninggalkanku. Jadi selalu, aku berusaha membuat semua detik berharga. Kuharap ia bisa merasakan kebahagiaan yang tak pernah ibunya rasakan.

"Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik, sangat, juga cerdas dan memesona. Pada usia 12 tahun, ia sudah bak gadis usia 18, ranum dan matang. Kupikir itu karena darah serigalanya. Kutunggu ia berubah, namun saat itu tak kunjung tiba. Anehnya, pertumbuhannya melambat sejak saat itu, lebih lambat ketimbang manusia biasa, dan benar-benar berhenti pada usia 20. Meski bingung, kuanggap ini berkah. Kutahu serigala bisa memilih untuk hidup abadi, atau setidaknya memiliki jangka hidup yang sama dengan vampir, dan kuharap inilah yang terjadi padanya.

"Ketika ia cukup besar, kuceritakan semua padanya. Asal usulnya. Jati dirinya. Agar ia bisa mengenang dan mencintai ibunya seperti aku mencintainya.

"Meski bahagia bersamaku, selalu ada yang kurang dalam hidup Scarlett. Ia begitu ingin kembali, mengunjungi tanah kelahirannya. Aku berusaha mencegahnya. Aku takut kejadian sama puluhan tahun silam akan kembali terulang, aku takut mereka akan mengancam Scarlett. Namun ia memiliki tekad sekeras ibunya. Akhirnya, aku tak bisa lagi menolak. Mei 1883, 48 tahun setelah kematian Kierra, kami kembali.

"Semenanjung ini sudah sangat berubah hingga nyaris tak bisa kukenali. Pemukiman Quileute yang semula ada di pedalaman hutan bergeser mendekati pantai. Mereka menyebut pemukiman itu La Push, pelesetan dari kata Prancis yang berarti 'pantai'.

"Kucari tanda-tanda kembalinya Kierra, tapi tak ada satupun. Jangan kata kehadirannya, jejaknya pun sudah terhapus sepenuhnya. Tak ada peringatan atau tugu untuk mengenang jasanya, tak ada petilasan apalagi makam... Tak ada pasukan vampir; mereka semua mungkin sudah dibantai atau kabur pada masa kekacauan sesudah kudeta. Bahkan tak ada pula daerah kekuasaan nan luas yang dulu ia perjuangkan. Yang tersisa hanya legenda simpang siur tentang roh penyihir yang menunggangi tubuh gadis-gadis muda, yang kemudian dikutuk agar tak pernah kembali. Namun seperti dalam kisah tragedi Yunani, sang pahlawan pun tak bisa lepas dari jerat Takdir. Ia menjadi kepala suku lalim lagi gila, dan akhirnya mati, dibantai rakyatnya dengan keji. Lebih kejam daripada hukuman yang ia timpakan pada Tupkuk, tubuhnya tak hanya tercerai-berai, tengkorak kepalanya hancur lumat. Potongan-potongan tubuhnya dipancang di empat penjuru mata angin agar dimakan gagak, sebagai peringatan sekaligus membuang sial. Setelahnya, suku hidup damai, melanjutkan masa keemasan yang pernah dirintis Shi'pa. Saat itu kepala suku mereka adalah seorang lelaki paruh baya. How-yak namanya.

"Kami menempati bekas-bekas pondok Kierra. Jika dulu tempat itu adalah pusat suku, saat itu posisinya agak jauh dari pemukiman, dekat perbatasan Makah. Tanah itu sudah jadi belantara. Kami membangun semua dari awal. Di sana, kudirikan nisan peringatan untuk Kierra, pengganti makam yang tak pernah ada.

"Penerimaan para pendatang terhadap kami, khususnya para pedagang kulit pucat, sangat baik. Namun kami tidak semudah itu diterima suku asli. Serigala-serigala baru yang ada jauh lebih lemah ketimbang pada masa Kierra, tetapi mereka bisa mengendus makhluk apa kami, meski tak bisa benar-benar melacak jati diri kami. Beberapa yang percaya takhayul menyalahkan kami atas semuanya—jumlah tangkapan ikan yang berkurang, kabut asap dan debu tebal, gempa bumi, musim dingin yang berat tahun itu, hingga warna langit yang merah—meski tak berani mengonfrontasi langsung. Rasanya ingin aku membawa Scarlett pergi sebelum sesuatu yang buruk terjadi, tapi gadis itu bersikukuh akan mempertahankan apa yang memang menjadi haknya. Tidak, Seth, kala ia mengatakan itu, bukan tekad untuk menguasai yang kulihat, tapi harapan untuk diakui. Harapan untuk berada di tempat seharusnya ia berada. Aku melihat Tupkuk, berpuluh tahun sebelumnya, usahanya yang terus-menerus untuk menjadi bagian dari suku, memiliki orang-orang yang menyebutnya keluarga... Aku melihat gadis itu, dan harapannya untuk kembali… Suku ini bagaimanapun adalah keluarganya, saudara-saudaranya. Apakah aku memiliki hak untuk memisahkannya dari rumahnya sendiri? Apakah aku bisa bilang tidak, bahkan walau kutahu itu mungkin akan menyakitinya?

"Tak perlu kukatakan bahwa mereka berusaha mengusir kami dengan segala cara. Tapi tak ada yang lebih membuatku marah ketimbang suatu waktu, seorang dukun yang bernama Obi menghadang Scarlett dan menumpahkan cairan berbahaya padanya. Entah dari mana ia mendapatkan itu—dan Seth, sebelum kau bertanya, ya, Scarlett memang hibrida, tapi karena itu juga, ia memiliki beberapa kelemahan manusia—yang jelas itu membuat kulit lengannya melepuh. Aku kehilangan kendali dan menyerang lelaki tua itu, hanya untuk berhadapan dengan tak kurang dari tiga serigala. Itu bukan jumlah yang tak bisa kutangani, tapi pertarungan terbuka di tanah serigala, kutahu, hanya akan mengundang masalah. Justru itu yang mereka inginkan: seekor Makhluk Dingin membunuh serigala. Bukan, seorang kulit pucat membunuh anggota suku.

"Kala aku sedang mempertimbangkan apa yang harus kulakukan, seseorang datang untuk melerai. Dari baunya kutahu bahwa ia keturunan keluarga Shi'pa. Ia sepertinya memiliki kedudukan penting, karena dua serigala itu berhenti mengancamku. Sejujurnya, aku tidak ingin bermanis-manis dengan keturunan pengkhianat, tapi aku tak punya cara lain agar kami bisa diterima. Ia pun kelihatannya cukup terbuka, menyatakan bersedia berunding. Selama di La Push, aku telah menancapkan pengaruh dalam dua aspek yang vital bagi suku: kesehatan dan perdagangan, sehingga mereka tak bisa mengusir kami begitu saja. Jika ia pemimpin yang bijak, sudah barang tentu ia menyadarinya.

"Perundingan berbuah persetujuan, dan persetujuan berbuah hubungan baik. Ia mulai sering bertandang ke rumah kami. Awalnya kunjungan-kunjungan resmi, namun makin ke sini, ia datang hanya untuk mengobrol atau bertanya hal-hal yang tidak ada hubungan dengan kedudukannya. Ia rupanya Putra Mahkota Quileute, calon kepala suku yang sudah dipastikan akan naik jika sang ayah meninggal atau pensiun.

"Ya, Seth, aku yakin kau sudah menebak bahwa ia adalah leluhur kalian, Jacob Black I. Namun 'Jacob Black' hanya nama alias yang digunakannya dalam surat-surat resmi dan sebagainya, di suku ia dikenal dengan nama Clakishka. Ia pemuda yang baik, patut kukatakan. Ia baru menginjak 16 tahun, tapi di usianya yang belia, ia membuktikan diri tak hanya sebagai jenderal yang bijaksana dan tangguh di lapangan, tapi juga berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Ia banyak mempelajari pengetahuan bangsa kulit pucat, menguasai lima bahasa, dan penuh rasa keingintahuan. Matanya bersinar cemerlang dan tutur katanya bersemangat. Kadang kala kami berinteraksi, sedetik aku melupakan siapa ia dan seperti apa darahnya. Dan saat itu, aku menyadari bahwa aku menyukainya.

"Namun, bukan aku saja yang merasakan itu. Putriku juga. Bahkan, ia memandang pemuda itu dalam tatapan yang sama sekali berbeda. Segala yang berhubungan dengan Clakishka membuatnya berlaku tidak wajar. Jika ada kabar Clakishka akan berkunjung, ia akan sibuk menata mawar-mawar dalam jambangan, menyiapkan teh dan camilan yang takkan mungkin kusentuh, juga menata ulang ruang kerjaku, dengan merapikan lemari dan meletakkan buku-buku yang sekiranya menarik di meja. Semua ia lakukan sembari bersenandung. Bahkan ia sengaja menyulam taplak meja dan penutup piano dengan hiasan bunga-bunga cantik, yang hanya dipakai pada hari-hari kedatangan Clakishka. Namun jika yang bersangkutan tiba, ia langsung pura-pura sibuk mengurusi surat-surat dagang atau merapikan ruang klinik. Pada kesempatan lain, ia lekas mengubur diri di balik tumpukan buku-bukunya yang menjulang. Tetapi seringkali kutangkap ia melirik sembunyi-sembunyi pada pemuda itu.

"Hal yang sama kulihat dari si pemuda. Ketika ia datang, acapkali matanya merambah rumah. Meski begitu banyak yang ia tanyakan, kelihatan benar ia berusaha menghindari topik mengenai putriku—sesuatu yang aneh, menurutku. Jika mereka bertemu pandang, begitu saja, rona merah mengaliri wajah keduanya tatkala mereka saling membuang muka. Jika Clakishka pulang, Scarlett akan termangu berjam-jam di depan jendela, mendesah dan menerawang. Ia juga sering menggubah syair atau memainkan melodi-melodi bernada romantis dengan biolaku.

"Bukannya senang, perkembangan itu membuatku dicekam ketakutan. Ia, bagaimanapun, adalah keturunan keluarga yang berada di balik kejatuhan Kierra. Mereka memang membuka diri walau tahu kami Makhluk Dingin, tetapi siapa yang bisa menjamin akan sama halnya, jika mereka tahu tentang hubungan kami dengan kepala suku paling dikutuk sepanjang sejarah? Aku telah melakukan riset sepanjang kehadiranku di La Push. Faktanya, tidak hanya kebenaran mengenai Kierra terkubur, jasa-jasanya dilupakan dan semua kekejamannya dibesar-besarkan. Tak ada kutangkap jejak keberadaan seorang kepala suku perempuan dalam lima dekade terakhir, tidak juga serigala betina, sehingga aku nyaris mempercayai kebenaran legenda mengenai kutukan Kaliso. Lebih dari keselamatanku sendiri, aku khawatir pada putriku. Ia mungkin berusia nyaris limapuluh tahun, tetapi ia begitu polos dan tak berpengalaman dalam urusan percintaan. Ia tak tahu bagaimana seorang kekasih bisa berubah menjadi lebih mengerikan ketimbang iblis.

"Melalui serangkaian pertimbangan, kuutarakan langsung hal itu pada Scarlett. Ia awalnya menyangkal, tetapi begitu terus kupojokkan, ia akhirnya mengaku bahwa ia menyukai Clakishka. Bukan hanya belakangan, atau sejak pemuda itu menolongnya. Ia sudah menaruh hati jauh-jauh hari, sejak ia tak sengaja melihatnya dalam sebuah perburuan, tak lama setelah kami mendarat. Akan tetapi, ia terus memendam rasa itu. Dan baru kusadari, sesungguhnya pemuda itulah alasan Scarlett ingin tinggal.

"Pengakuan itu membuatku serta-merta melarang. Bagaimana mungkin aku bisa menyetujui hubungan berbahaya itu? Namun ia tak menerima alasanku. Pembicaraan kecil itu berubah menjadi perdebatan, dan perdebatan meningkat menjadi pertengkaran, pertengkaran pertama yang pernah terjadi dalam 49 tahun ini. Aku mengatakan ia gegabah dan membiarkan perasaannya melampaui pertimbangan rasionalnya, sedangkan ia mengatakan aku picik serta tak bisa memaafkan, padahal selama ini aku terus mengajarkan tentang kasih sayang. Ketika keadaan memanas, ia melayang pergi. Kucoba mengejarnya, tetapi tak lama aku sudah kehilangan jejak.

"Berjam-jam aku mencarinya, dan ia tak juga kutemukan. Kucoba bersabar dan menunggu. Keesokan paginya, ia belum juga pulang, begitu juga esoknya lagi. Beragam pikiran buruk berkecamuk sehingga sekali lagi aku mencari, lagi-lagi tanpa hasil. Namun ketika aku pulang, ternyata ia sudah sampai di rumah. Tak kurang suatu apa, tapi ia tak sendiri. Tak lain, ia membawa Clakishka. Dan yang membuatku berang, kusadari bau serigala itu melingkupi putriku.

"Pemuda itu segera menjelaskan duduk permasalahannya sebelum aku bertindak. Rupanya setelah pergi, Scarlett bertemu dengan Clakishka di hutan. Mengetahui perasaan masing-masing, mereka sepakat untuk menikah. Jika aku tidak setuju, mereka akan nekat kawin lari. Sia-sia sajalah aku berusaha mencegahnya; tekad mereka sudah bulat.

"Tak ingin kehilangan putriku, aku berusaha menahan diri. Patut kuakui, jika mengesampingkan urusan darahnya, Clakishka adalah pemuda yang baik. Mungkin Scarlett benar kala mengatakan aku terlalu terikat pada masa lalu. Aku teringat Kierra, betapa inginnya ia untuk menjadi bagian suku ini. Aku mengingat dia, dan betapa ia ingin kembali… Benar, mungkin aku harus menghapus dendamku. Mungkin aku memang harus merestui mereka.

"Jika aku menerima dengan kelewat mudah, tidak demikian halnya dengan keluarga Clakishka. Sebagai calon kepala suku berikutnya, ia hanya boleh menikah melalui dua cara: perjodohan atau imprint. Sayangnya, Scarlett tidak memenuhi satu pun kriteria tersebut. Akibatnya ia terancam kehilangan haknya atas takhta."

"Tunggu," sela Seth. Setelah sekian lama menahan napas, akhirnya ia tak tahan juga untuk mengutarakan satu dari jutaan pertanyaan yang menyesaki dadanya. "Maksudmu Scarlett tidak mengimprint Clakishka? Atau sebaliknya?"

"Jika kau lupa, Seth," jawab Carlisle sabar, "Scarlett bukan serigala, ia tidak bisa mengimprint. Sedangkan Clakishka… Aku percaya, imprint pada seorang calon Alfa berbeda dengan pada serigala kebanyakan. Imprint pada mereka harus memenuhi setidaknya dua fungsi, reproduktif dan politis."

"Maksudmu?"

"Jika serigala biasa bisa menikahi siapa saja, asal dengan izin Alfanya, tidak demikian halnya dengan para Alfa. Pernikahan mereka bersifat eksogami, dan tidak sembarang. Mereka hanya bisa mengimprint seseorang jika imprint tersebut dapat menguatkan tak hanya garis keturunannya, tetapi juga kedudukan suku. Serigala dalam dirinya secara otomatis akan mencari upaya untuk mengikat aliansi, dengan memilih seseorang yang paling kuat atau memiliki darah paling tinggi di antara calon-calon pendamping dari suku-suku sekitar. Selama berabad-abad, sekutu terdekat dan terkuat bagi Quileute adalah Quid'dich'cha'at, sehingga lazimnya, pasangan para Alfa diambil dari suku itu."

"Tapi Jacob tidak…"

"Itu karena Renesmee dianggap sebagai putri dari klan terkuat di daerah ini. Persekutuan antara klanmu dan klan kami tentunya dapat memperkuat suku, atau demikian menurut alam bawah sadarnya."

Kening Seth berkerut. "Itu aneh sekali," protesnya. "Kau berusaha memberi landasan logis bagi proses imprint, tapi itu aneh dan sama sekali tidak masuk akal."

"Itu mungkin berlawanan dengan apa yang kauyakini, tapi aku percaya itu benar… Setidaknya saat itu," ia menambahkan kalimat terakhir seraya mengerling pada Kierra.

Meski memiliki segudang ketidaksetujuan, Seth menelan kembali protesnya. "Kalau begitu, lantas mengapa ia tidak mengimprint Scarlett? Scarlett jelas sangat kuat, jika ia putri dari sang mantan kepala suku…"

"Ada dua kemungkinan. Nomor satu, ia tidak dianggap sebagai bagian suatu klan yang potensial sebagai aliansi suku, sehingga alam bawah sadar sang calon Alfa tidak menaruh perhatian padanya. Nomor dua, kalaupun ia dianggap kuat, Hukum Imprint Kierra yang membatasi imprint dalam satu darah telah menganulir kemungkinan tersebut."

"Hukum apa?"

"Pada masanya, Kierra selalu bertanya-tanya mengenai proses imprint. Ia berkesimpulan bahwa imprint memiliki tujuan reproduktif, guna mendapatkan keturunan yang kuat. Karenanya ia sangat ketakutan jika terjadi imprint dalam satu darah, terutama dari darah para keturunan kepala suku. Ia takut mereka sanggup menggulingkannya. Karenanya ia menurunkan hukum itu."

"Memangnya itu bisa terjadi? Imprint adalah pasangan jiwa, dua orang yang sudah ditakdirkan sejak awal, mereka bersatu karena memang sudah demikian seharusnya. Bagaimana bisa hukum yang diturunkan seorang Alfa bisa memutus ikatan itu?"

"Ya, itu dia kesalahan persepsi yang sudah mengakar di kalangan kalian para serigala," ucap Carlisle hati-hati. "Namun pernahkan kau bertanya, apa sebenarnya imprint bagi kalian?"

Seth mengerjap. Mengapa Carlisle bertanya begitu? Ia sudah tahu semua teori yang beredar di kalangan serigala mengenai dasar imprint. Apa ia memiliki maksud tertentu di baliknya?

Merasa tak mendapat jawaban, atau memang diamnya Seth merupakan izin baginya untuk mengemukakan teorinya sendiri, Carlisle melanjutkan. "Itu adalah ketika insting, atau alam bawah sadar seekor serigala berusaha mendeteksi aura pasangan yang menurutnya paling cocok, atau menurut definisi kalian, 'belahan jiwa.' Nah, aku ingin mengutarakan dua teori di sini, kau bisa menolak salah satu atau keduanya, tentu saja. Pertama, teori yang berpijak pada anggapan bahwa Titah Alfa bisa mempengaruhi seluruh mekanisme dalam kehidupan kalian para serigala, baik individual maupun kelompok, termasuk mempengaruhi ikatan perkawinan. Nyatanya, memang di zaman dulu, dan sampai sekarang pun masih dianut oleh beberapa kawanan, Alfa adalah penguasa dan pemilik seluruh kawanan. Perkawinan seekor serigala bawahan, apalagi dengan anggota kawanan lain, harus selalu dilakukan atas izin Alfa. Alfa juga bisa mengatur pernikahan anggotanya dengan anggota kawanan lain, dengan tujuan tertentu, atau memilih pasangan yang ia suka. Sedangkan teori kedua lebih bersifat psikologis. Karena prinsip imprint adalah belahan jiwa tersebut, banyak di antara kalian yang memilih untuk tidak mencari pasangan, jika tidak mengimprint siapapun. Di lain pihak, kau tahu cara kerja Titah Alfa, ia menjerat alam bawah sadar seseorang, yang berpengaruh pada alam sadarnya. Artinya, jika seorang Alfa bisa menutupi alam bawah sadar seorang serigala sehingga insting itu tumpul kala berhadapan dengan 'sang belahan jiwa', mungkin ia akan mengira bahwa ia tidak merasakan imprint. Terlebih, Hukum Alfa lebih tinggi tingkatannya ketimbang Titah. Ia tak hanya mengikat sementara, tapi selamanya, hingga bahkan tak bisa dibatalkan oleh Alfa-Alfa sesudahnya…"

Jika tidak ingat ia berhadapan dengan Carlisle, mungkin Seth akan tertawa. Bukankah Jacob mengatakan begitu merasakan imprint, ia merasa kuatnya ikatan itu melampaui ikatan-ikatan lain yang ia punya, termasuk kesetiaan pada suku? Lantas mengapa Titah seorang Alfa bisa menumpulkan imprint?

Itu tidak masuk akal. Sangat.

Atau memang ia tidak ingin percaya.

Sungguh, memikirkan betapa besar kekuasaan Alfa membuatnya ngeri. Ia sudah berhadapan dengan dua Alfa selama ini, tiga tepatnya. Ia sendiri Alfa, dan rasanya ia tak pernah menyadari sejauh itu.

Rona skeptis di wajahnya rupanya disadari Carlisle, karena vampir itu tersenyum, dan berkata tenang, "Aku pernah melihat buktinya, Seth. Aku tahu itu mungkin."

Tak urung ketika ia menyatakan itu, Seth menangkap vampir itu melirik Kierra. Apakah salah, ketika ia melihat sekilas kegugupan di wajah perempuan itu? Dan ia mengingat dirinya sendiri, kasus imprintnya sendiri. Imprint itu, seharusnya bersifat mutual, kan? Mengapa Kuroi seakan tidak merasakannya?

Tidak, bukannya ia mengharap Kuroi juga merasakan tarikan itu, tidak karena ia sendiri tak sepenuhnya menginginkan itu terjadi, tapi mengapa tarikan imprint itu begitu lemah? Karena perkawinan serigala harus melalui izin Alfa? Karena Kierra menumpulkan kemungkinan Kuroi mengimprint siapapun untuk memiliki Seth untuk dirinya sendiri? Tidak, lebih tepat dikatakan karena Kierra tak ingin kehilangan Kuroi jika serigala itu harus bergabung dengan kawanan lain untuk bersama pasangan barunya?

Kalau begitu betapa jahatnya ia, betapa egoisnya... Bahkan pada orang yang disebutnya tangan kanannya, ia bisa melakukan tindakan setega itu?

Dan memang, ia tahu sendiri seperti apa kekuasaan Kierra, kan? Bukankah ia sendiri pernah merasakannya? Ketika di dasar jurang, ketika ia tak sengaja menjadi saksi transaksi berbahaya antara Sam dan kawanan Kierra… Kierra menghapus ingatannya, entah dengan cara apa, bukan? Itu tak pernah dilakukan Jacob ataupun Sam. Apa memang seorang Alfa memiliki kekuasaan sebesar itu, ataukah hanya Kierra? Ia bisa mengerti jika saat itu, Kierra berusaha menutupi identitasnya. Semua demi kepentingan kawanan, demi aliansi. Tapi bagaimana dengan kasus Kuroi? Jika ia melakukannya demi kepentingan pribadi, bukankah itu namanya penyalahgunaan kekuasaan?

Tapi ia bicara tentang Kierra. Kapan ia pernah tidak bertindak egois?

"Tapi Clakishka bersama Scarlett, 'kan?" Seth berusaha mengembalikan pembicaraan ke topik semula. "Bukankah itu artinya Clakishka berhasil mendobrak Hukum Alfa?"

Aneh sekali, ucapan ini membuat aura di sekitar mereka berubah, seakan ada mendung setebal lapisan stratosfer menudungi Forks. Ketika akhirnya mendung itu menipis dan Carlisle bicara, suaranya begitu lirih dan berat, seakan pundaknya dibebani massa 9 kiloton.

"Sayangnya tidak, Seth," ujarnya.

"Tidak?"

"Ya, Clakishka memilih Scarlett ketimbang kedudukannya. Ya, meski ia ditentang seisi suku, terutama sang ayah, ia memilih hengkang dari sukunya dan hidup bersama kami. Tapi itu tidak lama..."

Carlisle memberi jeda pada ceritanya. Ia menarik napas panjang, kepalanya tengadah sementara matanya merambah tautan ranting-ranting di atas sana. Seakan ia mencari kekuatan. Seolah apapun yang akan diceritakan adalah hal yang berat, hal yang menyesakkan.

"Awal musim dingin 1884, Clakishka dan Scarlett menikah. Tekanan dari keluarga Clakishka makin keras, hingga kami memutuskan untuk mengalah, pergi bertiga ke utara atau ke Eropa. Namun rencana itu harus ditunda. Kondisi Bumi begitu tak stabil setelah ledakan Krakatau tahun sebelumnya. Banyak gempa bumi, tsunami—meski tidak menghantam semenanjung ini—belum lagi cuaca dingin yang ekstrem, sehingga kami kesulitan mendapatkan kapal. Ketika kami akhirnya bisa berlayar dua tahun kemudian, lagi-lagi itu tidak mungkin karena Scarlett mendapati dirinya mengandung.

"Aku berulang kali berusaha meyakinkan Scarlett untuk menggugurkan kandungannya. Aku sudah menyaksikan dua kematian, aku tak ingin menjalani kesedihan untuk ketiga kalinya karena hal yang sama. Namun Scarlett bersikukuh, demi melihat Clakishka begitu bahagia, tanpa tahu bencana yang mengintai di balik kebahagiaan kecil itu. Jika waktu hidupnya hanya enam hingga sembilan bulan lagi, ia memilih untuk tetap di sini, agar bisa dimakamkan di tanahnya.

"'Di sini, butir-butir debu Ibu bertaburan mengisi udara,' demikian katanya, 'Di sinilah rumah bagiku dan keturunanku. Rohku dan Ibu akan selalu melindungi mereka.'

"Aku berdoa dan berdoa, dan bagai keajaiban, pada awal musim gugur tahun itu, ia melahirkan. Lemah, sangat, tetapi ia dan bayinya selamat. Ia melahirkan bayi kembar, kami menamakan mereka Zacharias dan Joanna.

"Namun siapa sangka, apa yang kami nilai sebagai kebahagiaan justru ditafsirkan berbeda oleh sang ayah sendiri. Perlahan sikapnya berubah. Mereka sering bertengkar untuk hal-hal sepele. Dan pemicunya adalah satu hal yang tidak terduga: anak kembar.

"Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa bisa demikian. Awalnya juga aku tak mengerti. Aku berusaha menjadi ayah yang baik dan tidak ikut campur urusan keluarga putriku, tetapi aku tak bisa membiarkan hal ini berlanjut. Satu hari, aku menanyainya langsung. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaanku, justru menanyakan pertanyaan lain, 'Apa Zacharias dan Joanna benar-benar putraku?'

"Sungguh aku tidak tahu dari mana ia mendapat ide itu. Selama ini, tak pernah sekalipun Scarlett dekat dengan lelaki. Ia lebih senang menyendiri. Tapi mendengar jawabanku, Clakishka hanya mendengus, dan menyatakan bahwa tak pernah ada anak kembar dalam keluarga Black."

Mata Seth menyipit. "Apa maksudmu tak ada anak kembar dalam keluarga Black? Rachel dan Rebecca kembar, dan di atasnya pun, banyak pasangan kembar…" Anak-anaknya sendiri, mendiang anak Korra … tiga bayi kembar…

"Itu hanya berlaku pada anak perempuan, Seth," jelas Carlisle. "Atau tepatnya, anak yang tidak ditakdirkan menjadi pewaris Alfa. Kau tentunya tahu hukum 'hanya ada satu Alfa', kan? Ini seperti seleksi alam. Takkan mungkin lahir anak-anak lelaki kembar, karena gen mereka akan saling bertarung, membunuh, memangsa satu sama lain di dalam kandungan, hingga hanya tersisa satu pemenang…"

"Mustahil…," bisik Seth.

"Aku juga berpikir itu tidak mungkin. Tapi itu yang mereka yakini, jadi tentu mereka memiliki alasan tersendiri."

"Aku tak pernah dengar itu sebelumnya! Bahkan Jacob dan Billy pun takkan mengiyakan!"

"Begitu mudah pengetahuan punah dari generasi ke generasi, Seth… Kau pasti tahu itu."

"Tapi…," ia berusaha memutar otak, mencari seribu satu penyangkalan. "Joanna perempuan… Mungkin itu alasannya. Ia bukan kandidat Alfa, sehingga gen Zacharias tidak menganggapnya saingan…"

Namun kata-kata Carlisle buru-buru menghapus argumen itu. "Sayangnya, prinsip seleksi alam tidak melihat apakah lawannya merupakan saingan atau tidak, karena kita tidak bisa memasukkan unsur 'pasangan' di sini. Ia hanya menilai kuat atau lemah. Yang lemah dimangsa, yang kuat bertahan. Jika sampai ada bayi perempuan lolos dari seleksi ini, hanya ada dua kemungkinan. Satu, gen bayi perempuan itu sangat kuat, sama kuat dengan gen bayi lelaki yang memang ditakdirkan menjadi penerus. Yang nyaris tak mungkin, menurutnya. Ia mengetahui sifat hibrida Scarlett—tanpa tahu siapa ibunya yang sesungguhnya—tapi ia percaya, dengan kebohongan yang ditanamkan suku sejak kematian Kierra, bahwa takkan mungkin ada serigala betina lahir lagi, dengan atau tanpa darah vampir di nadinya. Jika ia bukan serigala, ia sudah seharusnya mati. Dua, mereka bukan serigala karena mereka bukan anak Clakishka.

"Entah tuduhan Clakishka memang didasari ketidakpercayaan atau mencari pembenaran, aku tak tahu. Tentu saja jawabannya adalah nomor satu, tetapi ke mana tuduhan itu mengarah sungguh membuatku tak nyaman. Aku berusaha membela martabat putriku, dan setelah pembicaraan panjang, Clakishka berjanji akan memendam kecurigaannya. Meski begitu, kelihatan benar ia tak sepenuhnya menerima. Sikapnya makin aneh. Ia kian sering menjauh, mengasingkan diri, bepergian entah ke mana. Scarlett sangat pandai mencari jejak, jauh melebihiku, tapi setelah satu hari ia berusaha mengikuti Clakishka, ia pulang dengan wajah kusut. Ia sering menangis seraya memeluk anak-anaknya, tanpa mau mengatakan apapun. Dan selanjutnya, tiba-tiba saja, Clakishka mengajukan cerai.

"Scarlett tentu saja tidak terima, terlebih ia mengetahui alasan di balik semua itu. Clakishka memiliki perempuan lain, katanya, ia pernah memergoki mereka ketika membuntuti suaminya. Clakishka menyangkal, tetapi karena terus disudutkan, ia pun mengaku bahwa ia mengimprint seorang gadis Makah, meski bersikukuh bahwa itu baru terjadi setelah pernikahannya renggang. Mereka bertengkar sangat hebat. Clakishka kelepasan melontarkan semua kecurigaan yang selama ini disimpannya, dan demi membela diri, begitu saja, Scarlett membongkar semua jati diri kami.

"Urusan Makhluk Dingin dan perselingkuhan masih bisa ditoleransi, tapi tidak demikian halnya dengan 'keturunan Kierra'. Mendadak, masalah ini bukan lagi masalah keluarga. Ini masalah suku. Clakishka pulang ke sukunya, dan kembali membawa pasukan. Mereka merampas Zacharias dan Joanna, mengatakan bahwa kedua anak itu akan diawasi secara ketat, hingga bisa diputuskan boleh dibiarkan hidup atau harus dibunuh.

"Kami berusaha melawan, tapi kami kalah jumlah. Ketika para serigala menyiapkan kayu bakar, kami sudah mengira inilah akhir semuanya. Tapi rupanya Clakishka masih memiliki nurani. Ia membuang kami ke tanah yang dahulu diberikan Kierra padaku. Ia berjanji akan merawat Zacharias dan Joanna, serta menegaskan garis-garis batas agar kami bisa hidup berdampingan, walau tak bisa mengizinkan kami untuk bertemu. Clakishka bahkan masih memberi hak untuk berdagang—hal yang nyaris mustahil dengan situasi saat itu. Aku tak punya pilihan selain menerima. Pilihannya itu atau mati.

"Jelas perpisahan ini berat bagi Scarlett. Setelah kami pindah, ia lebih sering menerawang. Ia tidak mau berburu, lebih lagi mengurusi masalah perdagangan. Pendek kata, ia tidak berusaha untuk hidup. Ia sering pergi ke perbatasan, menunggu-nunggu jika satu saat salah satu anak atau suaminya melintas. Tapi di luar itu, aku merasa ia bak mayat hidup. Lebih daripada mayat hidup..."

Kala ia mengatakan itu, sungguh Seth dapat merasakan horor dalam nada suara vampir itu. Dan ia bisa melihatnya, sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya, tertutup oleh wajah rupawan yang senantiasa muda, dan ketenangan yang tak tergoyahkan. Baru, kali itu, ia melihat Carlisle sebagaimana adanya: mayat. Mati dari dalam. Sekarat.

Ya, Carlisle selalu tenang dan optimis, selalu berusaha melihat sisi positif dari segala sesuatu. Ia selalu memberi harapan pada orang-orang... Ia bak lilin yang terapung di atas kolam. Ia bukan pelita, lebih lagi mercusuar. Cahayanya kecil dan redup, tiap saat terancam padam oleh hembusan angin atau cipratan air. Tapi ia tetap menyala, cahaya kecilnya mampu menembus pekat, menumbuhkan cercah harapan tatkala segalanya gulita. Membuat orang percaya dan sanggup menyalakan sendiri pelita di dalam dirinya. Tapi siapa sangka di balik semua itu, ia menanggung beban tak kasat mata, yang beratus-ratus tahun bertumpuk di pundaknya? Kesedihan dan kehilangan... Sakit dan perih...

Mungkin itu alasannya Carlisle selalu bisa menjadi lilin dalam kegelapan. Siapakah yang paling bisa mengerti harapan, selain mereka yang pernah kehilangan segalanya hingga tenggelam dalam lautan keputusasaan? Siapakah yang paling bisa mengerti arti cahaya, selain mereka yang pernah larut dalam pekatnya kelam? Siapakah yang paling bisa mencari jalan keluar, selain mereka yang pernah tersesat dalam labirin berliku? Siapakah yang paling bisa menghargai hidup, selain mereka yang sudah mati? Dan siapakah yang paling bisa memberi cinta, selain mereka yang pernah terdustai olehnya?

Lagi, suara lembut itu mengalun. Mengisahkan akhir yang menjadi awal segalanya...

"Tahun berganti. How-yak meninggal dan Clakishka diangkat menjadi kepala suku dengan gelar How-yak II. Tak berapa lama, kami mendengar desas-desus bahwa Clakishka mendapat seorang putra dari pernikahannya yang kedua. Itu bukan urusan kami, tapi rupanya Scarlett berpikir lebih jauh. Jika lahir penerus baru, yang dinilai lebih layak karena lahir dari proses imprint, demikian menurutnya, pasti penerus yang terdahulu akan disingkirkan. Itu anggapan yang kelewat paranoid, tentu, karena dari statusnya saja, sudah jelas Zacharias tidak akan pernah diberi hak waris, bahkan aku tidak yakin Clakishka mengakuinya sebagai anak. Namun, Scarlett tidak mau mendengar. Pada suatu hari ketika aku pergi berburu, ia menyelinap pergi tanpa kutahu, hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan 'Selamat tinggal'.

"Diburu ketakutan, segera aku menyusul ke perbatasan. Namun aku mendapati keganjilan. Tak ada serigala satu pun, ada suara-suara panik dari arah pemukiman, dan kabut asap tebal serta bau kayu terbakar memenuhi hutan. Perasaan ngeri mencengkeramku, mengingat kejadian sama puluhan tahun sebelumnya. Nekad aku menerobos masuk. Yang kulihat bukan tumpukan kayu bakar berisi potongan tubuh putriku, melainkan api besar melalap pemukiman.

"Dalam kepanikan, aku berusaha mencari keluargaku. Tapi tak kutemukan satu pun jejak mereka. Menyadari kehadiranku di TKP, para serigala—yang tidak berhasil menyelamatkan desa—mengejar dan menangkapku dengan tuduhan sebagai pelaku pembakaran. Meski tak bersalah, apa yang bisa kulakukan demi membuktikan alibiku? Tanpa penyelidikan ataupun sidang, mereka nyaris melemparku ke api, tatkala Clakishka mendapati kejadian itu dan buru-buru membebaskanku. Ia mengatakan bahwa aku tak bersalah, ia sendiri bisa menjadi saksi. Pelakunya adalah Scarlett. Ia membakar pemukiman demi membebaskan anak-anaknya. Namun malah mereka terjebak di dalam api.

"Aku tak tahu apa yang seharusnya kurasakan begitu mendapat berita itu. Aku ingin menyerang lelaki itu, agar tak ada pilihan lain bagi mereka selain mengirimku ke ketiadaan. Namun bagai membaca jalan pikiranku, Clakishka menyuruhku mengurungkan niat tersebut. Scarlett takkan memaafkan jika aku mati di tangannya, katanya. Ia meninggalkanku di sana, sendiri dan hampa. Dengan tangis yang tak mampu tersalurkan, dengan duka yang kubawa seumur hidup…

"Tatkala aku melihat ke belakang, kusadari hidupku terus berputar dalam skema yang sama. Mereka yang kukasihi datang dan pergi. Namun seperti kata Scarlett, pada setiap bulir debu yang bertaburan mengisi mengisi rongga udara, di sana roh mereka bersemayam. Selamanya mereka akan bersamaku. Tubuhku memang beku, rongga dadaku kosong dengan tiadanya jiwa di sana, tetapi kasih sayang bisa membuatku merasakan kembali hati yang sudah rusak entah sejak kapan. Cinta bisa membuatku kembali merasa hangat. Selama aku bisa menggenggam kenangan akan mereka di hatiku, selama itu pula aku bisa merasa kembali hidup.

"Entah mengapa aku tak percaya ia telah tiada, dan aku berusaha melanjutkan hidup untuk mencari jejak keberadaannya. Semua tanpa hasil, tentu saja. Melihatku yang tak kunjung pergi, suku berusaha mengusirku secara permanen, bahkan hingga melayangkan petisi ke presiden. Jawaban yang mereka tunggu hadir delapan tahun kemudian. Akhir musim panas 1898, 15 tahun setelah menginjak pantai ini, aku bertolak meninggalkan Semenanjung Olympic.

"Aku berkelana tanpa tujuan, mencari arti hidupku, menambal lubang hitam yang menganga besar di dalam dadaku. Aku berusaha kembali membangun keluarga. Bahkan takdir berbaik hati padaku, dan memberiku seorang pasangan tempat cintaku bermuara.

"Keluarga baruku tidak tahu sama sekali tentang masa laluku. Tidak juga Edward. Aku selalu berusaha menyembunyikan ingatan tentang masa laluku dengan baik, kelewat baik malah. Aku tak ingin mereka melihatku sebagaimana adanya: monster yang bergelimang darah, yang tak bisa melindungi keluarganya sendiri.

"Namun, meski aku tak lagi sendiri, tak ada yang menggantikan kenangan akan mereka. Terus, aku merasakan tarikan untuk kembali. Lagi. Dan lagi. Pada 2003, kami kembali ke sini, seperti biasa. Hingga satu saat, dalam sebuah pertemuan resmi dengan para Tetua Quileute, kilasan masa lalu kembali hadir. Scarlett, Scarlett-ku yang cantik, Scarlett-ku yang kurindukan, muncul di hadapanku.

"Kepala Suku William Black mengenalkannya sebagai Sue Uley-Clearwater, wakil sementara keluarga Uley di Dewan Suku—berhubung wakil sesungguhnya, yakni sepupunya, Joshua Uley, tidak ada di tempat—sekaligus istri salah satu Tetua bernama Harry Clearwater. Sikapnya kaku dan penuh kewaspadaan, seakan tak mengenaliku, entah itu benar atau pura-pura. Dan baunya … aku merasakan jejak Scarlett, tapi terlalu samar sehingga aku tak yakin.

"Jika ia merahasiakan identitasnya, tak ada alasan bagiku untuk membongkar kedoknya di hadapan suku yang pada akhirnya menerimanya. Ia memiliki suami dan dua anak. Ia bahagia, begitu kupikir. Aku tak peduli itu putriku atau bukan, melihatnya seakan hidup kembali dan mendapatkan kebahagiaan yang ia impikan sudah cukup bagiku. Namun hasratku berkata lain, sehingga aku berusaha menghubunginya diam-diam. Kuupayakan berusaha sebaik mungkin menjaga profesionalitasku, sementara melempar petunjuk dan mencari setiap tanda, untuk meyakinkannya agar ia mau membuka jati diri di hadapanku. Namun saat yang kutunggu tak pernah datang, hingga aku nyaris menyerah dan menganggap kemiripan itu hanya kebetulan.

"Kebingunganku makin bertambah ketika Sam membawa kawanannya dalam latih-tarung gabungan. Puluhan tahun berada di suku kalian, aku tak pernah sekali pun melihat ada serigala abu-abu. Lebih aneh lagi, ia betina. Hanya ada satu betina dalam sejarah Quileute, dan garis keturunannya sudah pasti tidak berlanjut. Ketika akhirnya aku melihat wujud manusianya, sewaktu Jacob membawanya ke rumah, aku nyaris tak bisa bicara. Dia begitu mirip Shi'pa… Garis wajahnya, tatapan matanya yang tajam, sikapnya yang keras… Lantas kau… Dan kalian berdua bernama Clearwater, seperti perempuan itu…

"Aku berusaha menutupi keingintahuan dan kekacauan hatiku saat itu, tetapi kondisinya sungguh tak memungkinkan. Kau tahu, situasi Bella ketika mengandung Renesmee sangat parah, hingga tanpa sengaja, aku kelepasan mengingat adegan mengerikan yang berusaha kupendam rapat-rapat dalam memori terlarangku.

"Bayangan ketika seorang bayi—suci dan tak bersalah, namun lahir dari dosa ayahnya—merangkak keluar dengan merobek perut sang ibu, lantas menenggak darah ibunya sendiri… Tawanya, senyumnya, ketabahannya, harapan di matanya, kata-katanya yang berusaha menabahkanku... Semua hilang seiring padamnya nyala kehidupan di matanya. Tak ada yang bisa kulakukan, tidak sama sekali. Aku hanya bisa menjeritkan tangis yang bahkan tak bisa kukeluarkan, kala aku menghalau pemangsa kecil itu dan memeluk tubuhnya yang tak bernyawa. Dan bayangan itu terus menghantuiku—wajah terakhirnya sebelum tertutup tirai kain putih, disusul timbunan lapis demi lapis tanah, kala kukuburkan ia di tengah hutan di tepi danau… Dan bayi itu… Si pemangsa itu… Ketika aku menerjangnya, apakah yang kulihat hingga aku mengurungkan niat untuk membunuhnya? Oh, aku tahu anak imortal, Seth, aku tahu mereka monster yang menyaru dalam topeng bayi tak berdosa… Namun, hanya kutemukan mata hitam bulat bersaput ketakutan… Mata sama yang dipenuhi tanya, kala mengintip kepergianku dari balik semak... Lantas bayangan itu tergantikan sosok wajah mungil di balik tabir air. Bibir dan wajahnya membiru, tangan dan kakinya meronta-ronta berusaha mencari pegangan, matanya penuh sirat ketidakmengertian, bersit permohonan... Tetapi aku terus menahan tubuhnya di balik air, seraya berharap semua cepat selesai. Agar aku bisa mengantarkan bayi itu ke alam baka…"

Kata-kata Carlisle padam dan vampir itu memejamkan mata rapat-rapat, sementara rahangnya bergemeretak. Seth tak bisa tidak melihat tak hanya duka, tetapi juga penyesalan di sana.

"Edward marah besar, tentu. Antara kecewa dengan kebohongan yang kupendam berdekade-dekade, dan takut nasib sama akan menimpa anak istrinya. Ia memojokkanku, menuntut penjelasan. Kilasan memori itu makin menjadi-jadi, ketakutan demi ketakutan berpusing dalam pikiranku, menimbun kami dalam beribu kemungkinan mengerikan. Hingga ia mengambil keputusan itu: memaksaku membujuk Bella untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi gadis itu begitu keras kepala. Bodoh, ya, namun di baliknya aku melihat harapan dan cinta. Aku mengingat Kierra, dan kali itu, aku bertekad takkan kalah.

"Begitu semua selesai, ia mendorongku untuk melacak tentang asal-usul kalian. Setelah satu abad lebih berada dalam kegelapan, akhirnya aku tahu mengenai kebohongan Clakishka. Memang, Scarlett berusaha mendapatkan kembali anaknya. Namun ia gagal. Pemukiman itu terbakar secara tak sengaja sewaktu ia berusaha melarikan diri. Kedua anaknya masih hidup. Joanna terbukti bukan serigala—entah mereka berusaha menekan perubahannya atau memang ia tidak memiliki gen itu—sehingga suku tak lagi menganggapnya ancaman dan membiarkannya tinggal di antara mereka. Sedangkan Zacharias dikucilkan sejak perubahan pertamanya. Clakishka tidak tega membunuhnya, juga tidak bisa menetapkannya sebagai pewaris. Untuk menghindari perang suksesi, ia memberinya sebidang tanah yang semula menjadi rumah kami, meski lebih bisa dikatakan mengurungnya di sana. Masyarakat menghindari tanah itu, dengan mengatakan bahwa tempat itu adalah tanah orang terbuang, tanah terkutuk."

.


.

Catatan:

Maaf Sodara-sodara… sebenernya chap ini (sampe yang bagian di atas) udah kelar dari 3 minggu yang lalu. Tapi aku pending karena aku pengen nyampe target (ada adegan yang harusnya udah masuk) tapi akhirnya aku ga bisa masukin adegan itu… Juga tadinya mo disinkronin sama LoK, tapi LoK juga belum sampe… Hixxxxx…

Oh ya, sekadar catatan, tahun kembalinya Carlisle dan Scarlett, 1883, adalah tahun meletusnya Krakatau (23 Agustus). Mereka datang sebelum Krakatau meletus, dan efek dari letusan di Selat Sunda ini mempengaruhi iklim Bumi selama bertahun-tahun. Termasuk warna merah di langit, yang bahkan bisa diliat dari Eropa. (Letusannya aja kedengeran dari New York, apalagi dari La Push yaaaa?) Kayanya lebih dramatis gitu kalo orang-orang yang percaya superstition jadi nganggap itu ada hubungan dengan kedatangan para vampir… hahaha...

Nama Clakishka dan Dukun Obi memang tertulis dalam sejarah, walau nama alias Clakishka (How-yak II dan Jacob Black I) murni fiktif, demikian juga hubungannya dengan Scarlett. 1898 adalah tahun dikeluarkannya petisi dari Presiden Cleveland untuk mengusir Dan Pullen, seorang pemukim kulit putih yang dikabarkan sering bentrok dengan penduduk asli. Entah apa kemiripan nama ini benar-benar disengaja atau kebetulan... hahaha... *tanya Tante Stephie*

Soal 'lilin' itu, aku agak terinspirasi lagi Candle on The Water yang soundtrack Pete's Dragon (Disney). Luv it banget :D

Review dan Flame dipersilakan… *pasrah*