THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight and related characters/circumstances. Don't believe any myths and hictorical accounts written in this story… hehehe…
.
.
84. Cermin Retak (Sejarah Hitam -3-)
Saturday, April 19th, 2014
05:17 PM
.
.
Jeda semenit—semenit yang teramat membekukan—menyusul, sementara ketiga makhluk di sana berkubang dalam keheningan mencekam. Seth tak berani mengucapkan satu kata pun, walau beribu pertanyaan menumpuk dalam dadanya. Carlisle masih memejamkan mata, kepalanya tengadah merasakan angin, seakan mencari jejak roh orang-orang yang ia cintai… Dan Kierra, ia hanya menunduk, menggigit bibir. Tangannya sempat terulur hendak menggapai Carlisle, namun setengah detik kemudian kembali jatuh.
Tenggorokan Seth terasa kering. Ketika ia memberanikan diri bicara, suara yang keluar terdengar bagai tercekik.
"Jadi … kau tahu … tentang garis keturunan lain keluarga Black?"
"Belum lama," vampir itu nyaris mendesah.
'Belum lama' adalah kata yang relatif. Jika mengikuti alur pembicaraan Carlisle, pastinya itu setelah kasus enam tahun lalu. Meski demikian, tetap saja Seth merasa dikhianati.
Selama ini, bahkan ketika dipisahkan jarak, bukankah mereka tak pernah lepas berhubungan? Ia menelepon Alice dan Jasper nyaris setiap bulan, ber-Twitter-ria setiap menit, bertatap muka via Skype tiap akhir pekan—jika sang Ratu Hati dan tangan kanannya, si Jenderal Kaki Panjang itu, tidak sedang mengurus fashion show atau belanja, tentu. Oh, ia bahkan selalu meninggalkan komentar di status Facebook dan blog Alice. Belakangan dengan segala urusan patroli dan kasus serangan vampir, memang kuantitas komunikasi mereka berkurang, tapi seharusnya mereka paling tidak memberi potongan informasi. Apapun.
Dan apa yang ia dengar dari Alice? Hanya sekeping ramalan tidak jelas… Sementara mereka menggenggam seluruh kebenaran.
Mencatat dalam hati bahwa kelak ia akan menuntut penjelasan dari dua makhluk itu, Seth menekan perasaan pribadinya, memutuskan menanyakan hal yang mengganggunya sejak tadi.
"Ketika kau kembali pada masa Ephraim … ketika kau mengikat perjanjian dengannya … apa kau tahu … bahwa…," ia tak tega mengutarakan lanjutannya.
Apa Carlisle tahu … bahwa Ephraim membantai Zacharias dan Tatiana?
Apakah selain Scarlett, Carlisle juga memiliki dendam?
Dan jika begitu, apakah selama ini … ialah dalang di balik semuanya? Apa ia berusaha mengadu domba dengan halusnya, melancarkan muslihat tanpa ia sendiri bergerak, demi membalas dendam?
Carlisle kelihatannya mengetahui arah pembicaraan Seth, karena ia langsung menjawab, "Jika kau bertanya apakah aku datang ke sini untuk mengintai suku, mencari titik lemah kalian, membentuk keluarga sebagai topeng, padahal sesungguhnya menggalang kekuatan untuk menghancurkan sukumu … jawabannya tidak, Seth… Bohong kalau dikatakan aku tak punya kebencian sama sekali terhadap mereka yang menyakiti Scarlett. Tapi aku tidak menyimpan kemarahanku sedemikian besar hingga menjadi dendam. Terlebih Clakishka sudah tewas… Membalas dendam pada keturunannya bukan hanya tindakan yang salah sasaran, tetapi juga bisa menimbulkan perang. Tak ada yang diuntungkan."
"Tapi keturunan Clakishka secara turun-temurun memusuhi keturunan Scarlett… Mana mungkin kau bisa menutup mata? Zacharias, Tatiana… Korey… Bagaimana mungkin kau menjalin hubungan baik dengan orang yang menyakiti keluargamu?"
"Mungkin alasannya … karena aku tidak tahu," ucapnya penuh sesal. "Seperti kukatakan, saat itu aku bahkan tidak tahu Scarlett dan kedua anaknya masih hidup, lebih lagi tahu tentang Tatiana. Aku berhubungan dengan Ephraim hanya sebatas kedudukannya sebagai kepala suku. Kami menghormati batas-batas teritori masing-masing. Tak ada wewenangku untuk mengetahui, terlebih campur tangan, dalam urusan internal suku."
"Tapi Scarlett pastinya masih ada di sini, 'kan? Bersembunyi? Mengawasi keturunannya? Mana mungkin ia tidak berusaha melindungi?"
Bukannya menjawab, Carlisle justru membalik pertanyaan, retoris. "Ia sendirian, Seth. Menurutmu apa yang bisa ia lakukan?"
Rasanya Seth bisa meraba kejadian saat itu. Bagaimana perasaan seorang ibu kala hanya bisa menyaksikan pembantaian keluarganya, sedang ia tidak bisa melakukan apa-apa… Api yang membakarnya, kian berkobar dari waktu ke waktu, namun tak punya kanal untuk disalurkan. Ketika keturunan terakhirnya, Ariana, diusir bersama Korra, mungkin ia mengikuti mereka, mengawasi dari jauh… Dan akhirnya, ketika berita tewasnya Korra muncul, ketika Ariana merasa hidupnya berakhir, ia memutuskan sudah tak ada kata 'diam' lagi. Ia menampakkan diri di hadapan Ariana, mengatakan sudah saatnya untuk membalas. Bersama, mereka membangun pasukan…
Itu sebabnya ia mengambil nama 'Sang Ibu'. Karena seperti itulah ia memandang dirinya. Seorang ibu yang menjadi sumber kehidupan. Seorang ibu yang menjaga, meski di balik bayangan. Seorang ibu yang bertarung demi melindungi keturunannya. Seorang ibu yang mengamuk menuntut pembalasan atas luka yang diderita putra-putrinya…
"Lalu apa kau tahu…," Seth menelan ludah, "bahwa ia bisa mengubah manusia menjadi vampir aneh? Vampir bercakar?"
"Sejujurnya, aku tak pernah tahu itu, Seth... Dahulu, ia tak pernah sekalipun memangsa manusia. Dan Kierra sendiri tak punya kemampuan untuk mengubah manusia, meski ya, ia memiliki racun. Tapi jika ya pun, aku sama sekali tidak merasa aneh. Dendam mengubahnya…"
"Aku tahu kau tidak bisa melacaknya. Tapi tidakkah Scarlett berusaha menghubungimu?"
"Pasti ada alasan mengapa ia menutupi jejaknya dariku. Mungkin ia melihat aku berhubungan dengan Ephraim, dan ia membenciku… Mungkin ia melihatku membentuk keluarga, dan ia merasa tersisih… Atau ia tak ingin melibatkanku dalam rencana balas dendamnya, tahu aku pasti akan menghentikannya."
"Artinya kau tidak tahu ia membentuk pasukan?"
"Tidak."
"Bahkan ketika La Push diserang gerombolan vampir bercakar?"
"Kau tahu kami tak tahu soal itu, sebelum kau sendiri yang mengatakannya, dan Alice mendapat penglihatan. Sungguh awalnya aku tidak menghubungkan gerombolan itu dengan putriku."
"Lantas … bagaimana kau tahu … Sang Ibu adalah … Scarlett?"
"Sama seperti kalian, awalnya aku tidak tahu. Aku benar-benar kehilangan jejaknya selama lebih dari seabad, ketika akhirnya Alice mengatakan seseorang memasuki rumahku dan mencuri kotak Quileute yang kusimpan. Bahwa ia tak bisa mengetahui siapa pelakunya, tapi bisa mengetahui kejadian itu, meski samar, menjadi petunjuk bahwa pelakunya bukanlah manusia biasa, vampir, atau kalian para serigala."
"Kotak?" Seth mengernyit. "Apa itu kotak berukir yang Alice berikan pada Korra?" ia mengingat masa yang lalu, ketika ia dan Korra bertemu dengan Alice secara kebetulan pada kencan pertama mereka—kencan yang dirusak oleh telepon Jacob. Saat itu, Alice, yang seperti biasa mengatakan ia punya firasat akan bertemu seseorang yang spesial, menyerahkan sebuah hadiah pada Korra. Sebuah kotak berhiaskan ukiran Quileute. Kotak, yang selanjutnya ia lihat tersimpan di meja Carlisle...
"Benar. Kotak itu. Kotak yang pernah diberikan oleh Kierra padaku, berabad-abad sebelumnya. Satu-satunya harta yang kubawa dari tanah ini. Ketika itu, aku menyangka pelakunya adalah Kierra—Mr. Black sudah memperingatkanku bahwa ia akan datang. Tapi aku tak bisa mengatakannya pada keluargaku, ditambah aku masih belum begitu yakin. Jadi aku mengutus Emmet dan Jasper, tanpa mengatakan pada mereka hal yang sesungguhnya. Tapi di sana mereka tidak hanya menemukan satu jejak, tapi dua…"
"Dua? Maksudmu Kierra dan Scarlett?" rasanya ia tak perlu jawaban atas pertanyaan itu.
"Tidak hanya itu. Emmet dan Jasper bahkan sempat bersinggungan dengan seorang hibrida berkulit tembaga, yang mereka katakan begitu mirip Sue Clearwater. Baru saat itulah aku tahu Scarlett masih hidup. Lebih buruk, ia menjadi pemimpin gerombolan vampir yang mengancam tanah ini."
"Tunggu, mundur dulu sebentar," ada satu kata yang mengganjal dari kalimat Carlisle, satu lagi yang membuatnya merasa tersesat. "Tadi kaubilang 'Billy memperingatkanmu bahwa Kierra akan datang'? Billy tahu soal Kierra, oke… Tapi mengapa ia memperingatkanmu? Apa ia tahu bahwa kau tahu tentang Kierra? Dan bagaimana kau tahu tentang Kierra? Sesudah ia terusir, maksudku. Apa setelah kau kehilangan Scarlett, kau berusaha melacak keberadaan Kierra?"
"Ceritanya panjang...," ucap Carlisle sabar, seakan sudah menduga berondongan pertanyaan itu.
"Katakan saja. Toh sudah tanggung."
Carlisle tak langsung menjawab, menarik napas panjang yang tidak ia butuhkan, dan menoleh memandang perempuan itu. Sesaat Seth melihat sorot mata Kierra yang aneh, begitu sendu, sebelum ia membuang muka.
"Sejujurnya, aku merasa bersalah, sangat-sangat bersalah soal itu…," ujar Carlisle. "Aku tidak mencari Kierra, awalnya, atau setidaknya tidak mencarinya di tempat yang benar. Aku begitu yakin Kierra akan kembali ke sini, merasuki putri Quileute. Tapi aku mendengar bahwa Kaliso memasang kutukan, dan bodoh sekali, aku percaya…"
Ingin rasanya Seth tertawa getir, jika bukan ia terlalu tegang.
"Ya, 'kutukan' adalah sesuatu yang sulit dipercaya, Seth, terlebih oleh orang yang skeptis. Tapi aku melihat bukti itu. Aku menunggu dan menunggu kembalinya Kierra. Aku begitu yakin ia akan berusaha mengambil alih takhta. Tetapi tidak. Selama puluhan, bahkan ratusan tahun, keluarga Black berkuasa. Tidak ada tanda-tanda keberadaan serigala betina sama sekali. Dan aku menyerah. Kupikir roh Kierra mungkin memang telah benar-benar musnah. Atau, yang sangat kuharapkan, rohnya akhirnya bisa menyeberang.
"Bukannya aku tidak tahu tentang keberadaan shifter di tempat lain. Dunia mereka begitu misterius bagi kami para vampir. Yang kami tahu, mereka mendiami hutan dan gurun Asia, daerah tropis Amerika, serta pegunungan Eropa. Meski terkadang saling berbenturan, biasanya kami hidup terpisah, sama-sama bersembunyi dari yang lain, menghindari konflik sekaligus mata-mata ingin tahu manusia.
"Sekitar era Perang Dunia I, aku mendengar rumor bangkitnya kekuatan shifter di Asia, dipimpin oleh seekor serigala betina. Tapi itu sama sekali bukan berita baru. Biasanya seekor Alfa jantan cenderung berupaya meneguhkan batas-batas teritorinya, sedangkan Alfa betina… Entah apa sampel ini cukup untuk dijadikan trend, tapi memang faktanya, pernah muncul beberapa kali kekuatan shifter yang terfokus pada upaya penguasaan suku lain, membentuk semacam aliansi, dan kesemuanya dipimpin oleh para betina. Aku tidak mengerti alasannya. Yang jelas karena itu pula, begitu rumor itu muncul, aku tak lantas mengaitkannya dengan Kierra. Terlebih kekuatan ini terpusat di Asia, yang memang terkenal sebagai basis beragam jenis suku shifter. Bahkan ketika Jasper memasuki keluarga kami, dan sempat bercerita bahwa ia sempat ambil bagian dalam perang melawan kelompok shifter nomad yang dipimpin seekor serigala putih di Brazil, aku masih tidak beranggapan itu Kierra.
"Baru ketika melihat reaksi para Volturi saat melihat kalian, tepatnya kontras antara sikap Caius dan Aro, kutahu ada yang salah…
"Shifter memang selalu menjadi momok yang menakutkan. Mereka tidak mengancam manusia dan berpotensi mengekspos keberadaan kami seperti Anak-Anak Bulan, tetapi keberadaan para shifter mengancam eksistansi kami. Karenanya aku heran mereka langsung kabur tanpa memaksakan perang.
"Sama seperti aku, beberapa vampir yang sangat matang bisa menudungi pikiran dengan baik, menyelimuti pikiran mereka dalam lapis demi lapis pikiran lain. Sama sepertimu," ia tersenyum sekilas pada Seth. "Sebagai pembaca pikiran, Aro pasti mengetahui cara yang baik untuk melindungi pikirannya sendiri. Tapi detik itu, ia kelepasan beberapa hal. Edward memberitahukannya padaku sesudahnya. Alasan ia menarik pasukan bukan hanya karena memutuskan masalah Renesmee bukan persoalan yang layak ditanggapi dengan perang. Ia takut…"
"Takut Volturi tidak bisa mengatasi kekuatan gabungan kita?"
"Hmmmm… lebih bisa dikatakan, ia takut dengan apa, atau siapa, yang ada di belakang kalian…"
"Kami?"
"Tepatnya, dengan Kierra."
"Hah? Bagaimana bisa?"
"Kau tahu, Seth, berkali-kali dalam sejarah, terjadi bentrokan antara vampir dan shifter. Pemimpin mereka, kami mengenalnya dengan sebutan 'Sang Maharani', terbunuh di Brazil pada 1948. Baru kemudian aku tahu bahwa pembunuhnya, tak lain tak bukan, adalah Jasper…"
"Tunggu. Jasper? Tapi … bukankah Kierra dan Jasper … bersahabat?"
"Kau takkan bisa mengatakan itu jika melihat hubungan mereka dua bulan yang lalu. Tapi sebagaimana kukatakan, Kierra tidak mengedepankan perasaan jika berhubungan dengan kepentingan aliansi. Kurasa ia telah mengatasi rasa dendamnya…"
Atau ia menginginkan sesuatu.
"Dan kematian inang Kierra saat itu…," Seth mengembalikan persoalan ke topik semula. "Itu tidak menghentikannya, 'kan?"
"Benar. Kematian sang ratu tak serta merta meneguhkan kemenangan bangsa vampir. Memang sempat ada vakum selama beberapa tahun, tapi pemimpin baru muncul. Ia menyatukan kekuatan shifter yang tercerai-berai, menguatkannya bahkan. Para vampir kembali terancam… Akhirnya, demi menghentikan perang, kedua belah pihak melakukan perjanjian gencetan senjata. Ini bukan perjanjian yang mengikat seluruh vampir dan shifter, tetapi hanya kelompok yang bernama Aliansi dan beberapa klan vampir terpandang. Salah satu poinnya adalah mengenai penghormatan atas daerah-daerah tertentu. Para vampir tidak boleh menyerang wilayah yang dikuasai Aliansi, begitu pula sebaliknya. Tapi sudah jelas, meski ada perjanjian itu, mereka selalu berusaha saling menjatuhkan satu sama lain, kadang dengan cara kotor…"
"Apa maksudmu…," kata-kata Seth rasanya tercekat di tenggorokan.
"Ya, benar," angguk Carlisle. "Ia mengira kalian adalah bagian dari Aliansi. Ada dua ketakutan yang ada di benak Aro saat itu. Satu, kita adalah umpan yang dipakai untuk memancing Volturi agar menghancurkan klan kalian, yang membuat Aliansi memiliki alasan untuk menyerang balik. Dua, Aliansi sengaja menjauhkan Volturi dari sarangnya, agar Volterra kosong dan mereka bisa mengambil alih…"
"Tapi…," Seth tak tahu bagaimana harus bereaksi, "Itu tidak benar. Kami tak pernah bergabung atau ditaklukkan oleh siapapun. Oh brengsek, bahkan kami tak tahu tentang Aliansi…"
"Ya. Memang itu aneh. Dan tepatnya, itulah yang membuatku mempertanyakan tentang Aliansi… Siapa sebenarnya mereka, siapa pemimpin mereka… Mengapa Aro sampai menarik kesimpulan prematur mengenai hubungan kalian dengan Aliansi…
"Jawabannya muncul beberapa tahun kemudian. Kami mendapat bocoran bahwa terjadi insiden di Volterra, dalam perundingan antara petinggi Aliansi dan para Volturi. Marcus tewas, akan tetapi hal ini ditutupi dengan rapat. Entah bagaimana cara mereka mengatur kesepakatan—karena insiden itu sudah lebih dari cukup untuk memicu perang—yang jelas perang dapat dielakkan. Dan perjanjian itu menyingkap satu hal yang tak pernah kusangka sebelumnya. Nama sang pemimpin: Gweneira Rajagopalachari-McLeod, Kierra XV. Sang serigala putih. Dan bahwa, anehnya, meski sang pemimpin ini jelas berkebangsaan India, dalam wujud serigala, secara fisik ia membawa ciri genetik Greywolf, subspesies penghuni daerah utara Amerika.
"Aku merasa terkecoh. Selama ini aku selalu menganggap Kierra hanya bisa merasuki putri Quileute, sehingga aku tak pernah memperhitungkan kemungkinan rohnya akan berkelana begitu jauh, terlebih mengambil alih raga seorang non-Quileute. Namun, terlalu gegabah untuk menyimpulkan bahwa ia adalah Tupkuk-ku atau hanya kebetulan bernama sama, hanya dari bukti itu. Karenanya aku tak mengambil tindakan terburu-buru. Aku berusaha mengumpulkan informasi… Mengintai dari jauh…
"Kejadian yang tak disangka-sangka hadir bersamaan. William Black mendadak menghubungiku, mengatakan ia mendapat kabar dari mantan kekasihnya, bahwa putrinya, Coraline Black, tewas di Volterra. Ia memintaku menyelidiki detail kejadian itu, serta jika bisa mencari cara untuk membawa kembali jenazah sang putri. Jujur aku tak tahu bagaimana harus bereaksi menghadapi masalah ini. Aku tak pernah tahu Mr. Black memiliki putri lain, lebih lagi ia seorang shifter, serta—lebih parah lagi—telah ditaklukkan oleh Kawanan Inti Aliansi dan turut mengikuti perundingan di Volterra.
"Setelah didesak, Mr. Black mengakui bahwa ia telah mengetahui perubahan putrinya sejak satu setengah tahun sebelumnya. Jared dan Paul tak sengaja melihat seekor serigala Quileute betina di hutan Guatemala, dan setelah melakukan banyak penguntitan dan pelacakan, mereka menyimpulkan bahwa serigala itu adalah putri Mr. Black. Dewan Suku memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari kawanan. Mereka tak bisa membawa gadis ini ke tanah Quileute, karena keberadaan calon pewaris baru dalam garis darah Black dikhawatirkan akan menimbulkan pertikaian, terlebih karena gadis itu berubah sendirian, dan otomatis telah menjadi Alfa. Namun, mereka tetap mengawasi serigala ini. Mungkin, Mr. Black menginginkan gadis ini kembali ke suku kelak, menggantikan Jacob… Jika tidak begitu pun, aku yakin ia ingin putrinya terlindung.
"Rupanya gadis ini bukan serigala sembarangan, melihat bagaimana ia mampu membunuh seekor Alfa jantan kawanan macan Sumatera dan mengklaim anak buahnya, waktu usianya 14 tahun. Namun, akhirnya ia pun tunduk di bawah kuasa seorang serigala yang jauh lebih kuat."
"Kierra…," bisik Seth.
"Ya. Kierra," akur Carlisle, agak terlalu tenang untuk ukuran pembicaraan ini.
"Tapi katamu Jared dan Paul mengawasi, kan? Mengapa mereka tak berusaha membela Korra?"
Ya, jika mereka ada begitu dekat… Jika sesungguhnya Korra tak sendiri… Jika Korra tak perlu sampai diklaim Kierra… Maka semua ini tak perlu terjadi.
Apa saat itu mereka lalai dan tak ada di tempat? Kalau tidak begitu pun, apa mereka tak peduli dengan Korra, bahkan lebih senang jika ia mati saja sekalian? Seth tahu eks-kawanan Sam sangat berharap Sam kembali memimpin, atau setidaknya Collin menjadi Alfa (minus duo Clark dan Harry, tentu). Jika Jacob pergi, dan Korra tewas, tidak ada lagi halangan…
"Tidak, aku yakin bukan itu alasannya…," ucap Carlisle pelan, dan sesaat Seth terpana. Apa kesinisan itu tercermin di wajahnya? "Bagaimanapun takkan ada yang ingin ikut campur dalam pertarungan antar-Alfa, terlebih dalam pertarungan perebutan klaim. Aku pernah melihatnya, Seth, pertarungan semacam itu tak menyisakan ruang sedikit pun bagi serigala biasa untuk turut campur. Kau tahu betapa tinggi harga diri para Alfa; itu bisa dianggap penghinaan bagi pihak yang bersangkutan.
"Dan di akhir pertarungan, tentu saja, Korra kalah… Ia terluka parah sekali, tapi masih hidup…
"Penaklukan Korra berarti sang pemenang berhak mengklaim kepemilikan atasnya. Korra dan ibunya pun berpisah, karena ia harus mengikuti tuannya yang baru. Meski begitu, mereka masih sering berhubungan. Hingga, ya … hingga peristiwa terbunuhnya Korra.
"Patut kauketahui, Seth, perundingan itu tertutup, hanya diikuti oleh empat petinggi Aliansi: sang Maharani, wakil dan jenderalnya, serta seorang penasihat—seorang harimau sabertooth, mantan penguasa aliansi yang dikenal sebagai Alexandra. Memang beberapa shifter turut mengawal di luar, tapi tak mungkin Marcus sampai membunuh seseorang yang bahkan tidak masuk ke kastil. Yang berarti satu: putri Mr. Black adalah salah satu dari mereka yang dekat dengan Kierra.
"Aku berusaha menyelidiki ke Volterra, tentunya dengan akses dalam. Kejadian itu cukup mengguncang, tapi disimpan rapat-rapat. Dari yang kutahu, Kierra membawa 'Putri Mahkotanya' dalam perundingan—ia punya kebiasaan untuk menempatkan calon inang selanjutnya di dekatnya—dan tahu-tahu, Marcus menyerang. Namun gadis itu tidak tewas, meski sempat koma bahkan sudah dinyatakan meninggal; Kierra bahkan sudah mempersiapkan kremasinya. Rasanya aku tak perlu mengatakan bahwa gadis itu adalah Korra…
"Meski Mr. Black sangat lega begitu tahu bahwa putrinya ternyata masih hidup, bagiku kasus ini membingungkan, sangat. Pertama, siapapun tahu shifter takkan mungkin bertahan dalam kondisi terpapar racun vampir. Kedua, bagaimana mungkin ada serigala Quileute betina lagi muncul, setelah Leah?
"Maka aku menyelidiki latar belakang gadis itu. Kutemukan bahwa ia adalah keturunan Tupkuk, dari galur Zacharias yang tak pernah kusangka ada. Kenyataan tentangnya sangat terkubur, hingga bahkan William Black pun tidak tahu, sampai saat itu…
"Lalu hal itu terjadi…"
Wajah Seth seakan membiru mendengar nada mencekam dalam intonasi Carlisle. Ya, ia tahu ke mana ini menuju…
"Kierra tewas…" bisiknya.
"Bukan Kierra, tapi Gwen," ralat si vampir. "Ingat Seth, Kierra tidak bisa mati." Ada kepastian dalam nada itu yang membuat Seth bergidik.
Carlisle mengalihkan pandangannya menatap garis-garis cahaya pagi yang membias di antara pepohonan, sedetik tampak hanyut dalam pikirannya. Matanya terfokus pada garis-garis itu, seakan ingin menghitung satu per satu. Apakah ia melihat setiap garis itu sebagai wakil dari jiwa-jiwa yang menjadi korban Kierra? Jika ia bisa menyediakan tubuh-tubuh untuk memastikan Kierra tetap hidup, rohnya takkan pernah mati, akankah itu ia lakukan?
"Lalu?" todong Seth, tak ingin membiarkan pria itu lama terhanyut.
"Kau tahu," lanjutnya, "Kierra memiliki kebiasaan untuk mengontrol kawanan taklukannya secara rutin, serta menghadiri undangan para bangsawan vampir untuk memperbaharui berbagai kesepakatan. Saat itu terjadi bentrokan antara shifter legendaris Himalaya, kalian mungkin mengenalnya sebagai Yetti, dengan klan vampir Tibet. Kierra datang untuk menyelesaikan persoalan dengan damai. Namun…," Carlisle berhenti bicara, mendesah berat. "Kau tahu kelanjutannya."
Tanpa diberi tahu pun Seth sudah paham. Kierra pernah mengatakan padanya. Serangan para vampir di Himalaya. Kawanan hancur. Tewasnya sang inang yang berbuntut perpindahan roh Kierra.
"Jadi Billy sudah tahu … sejak awal … bahwa Korra adalah…" kata-kata itu tak sanggup meluncur dari lisannya. Kierra…?
Sudah lama ia menduga demikian, memang. Tapi betapa dunia hancur, kala dilihatnya Carlisle mengangguk. Matanya tampak prihatin.
"Dan Billy bisa sampai tahu, itu pasti karena Jared dan Paul terus mengintai 'kan?"
Bisa didengarnya sendiri rasa terkhianati dalam suaranya. Terbayang di benaknya, kejadian saat itu. Kawanan Kierra dikeroyok—mungkin oleh jumlah yang tak sedikit, jika menimbang bahwa mereka bisa sampai dibantai habis. Lalu dua serigala pengkhianat itu—Jared dan Paul—hanya memperhatikan dari jauh.
Sam pasti tahu hal ini. Billy pasti tahu. Kejadian tersebut belum lewat setahun. Saat itu Sam pasti sudah membentuk kawanan di belakang punggung Jacob. Alasannya sudah jelas kini: ia membentuk kawanan terpisah untuk mengawasi Korra tanpa sepengetahuan kawanan. Mungkin Sam membutuhkan posisi Alfa untuk mempermudah hubungan dengan kawanannya sendiri, walau Seth masih tidak tahu apakah koneksi telepati kawanan masih bisa dilangsungkan dalam jarak sejauh itu. Tentu saja ada kemungkinan kedua: si ular itu membutuhkan posisi Alfa untuk menghubungi Kierra.
Apapun niat Sam, yang jelas dua cecunguk kroni-kroninya ada di tempat kala kawanan Kierra dibantai. Mengapa mereka tidak turun tangan? Tidak ingin keberadaan mereka diketahui? Atau mereka diperintahkan untuk diam, menunggu makhluk-makhluk haus darah itu menghabisi Kierra? Agar mereka bisa membebaskan Korra?
Kalau begitu, bodoh benar mereka tidak mengecek terlebih dahulu kedudukan Korra dalam kawanannya. Karena justru dengan tewasnya Gweneira, Korra terpaksa menanggung roh Kierra ketika ia belum siap…
"Tapi kelihatannya proses pergantian tubuh ini tidak berjalan seperti seharusnya," sambung Carlisle, mengembalikan perhatian Seth, yang batinnya sibuk merapal sonata sumpah serapah kepada Sam. "Dua bulan kemudian Mr. Black kembali menghubungiku, menanyakan apa mungkin aku mengetahui sesuatu tentang seekor serigala bernama Kierra alias Tupkuk dalam sejarah Quileute. Tidak, mereka tidak tahu siapa aku dan apa hubunganku dengan Kierra. Tidak tahu juga bahwa aku memang tengah menyelidiki Kierra. Mereka hanya tahu sekelumit legenda simpang siur tentang Kierra si Iblis Perasuk Raga, dan bahwa serigala yang menaklukkan Korra pun memiliki nama yang sama. Mr. Black mengatakan padaku bahwa putrinya—Kierra dalam cangkang putrinya, tepatnya—menghubunginya untuk mengabarkan bahwa sang ibu tewas, dan ia butuh tumpangan. Ia tahu aku pernah tinggal cukup lama pada masa Ephraim, dan tahu banyak tentang legenda-legenda yang bahkan sudah punah. Dengan itu, ia berharap dapat mengetahui seperti apa sesungguhnya Kierra, apa yang ia incar, dan apa yang harus dilakukan suku.
"Jadi aku bercerita… Padanya… Sama seperti saat ini ketika aku bicara padamu. Segala yang kuketahui tentang Kierra…"
Seth terkesiap.
"Legenda itu…," bisiknya nanar. "Sumber legenda itu … darimu…"
"Ya…," ucapan Carlisle menggantung di angkasa, mendayu-dayu dalam kesadaran Seth. "Kau tahu seperti apa legenda oral—dari masa ke masa terus ditambahkan, dikurangi, direvisi, diubah sesuai kebutuhan… Ketika aku sempat menyelidiki tentang Kierra pada zaman Scarlett, kudapati bahwa legenda yang masih lestari sangat jauh dari kenyataan, dan tidak mengatakan satu pun kebenaran. Aku tak mengatakan seluruhnya, tentu. Tapi setidaknya, itu yang bisa kulakukan. Jika aku bisa menjelaskan hubungan Kierra dengan suku ini, kebenaran yang terpendam… Kuharap dengan demikian, kesalahan masa lalu tidak akan terulang."
"Tapi itu bukan langkah yang tepat," geram Seth dengan suara yang menggema jauh di dalam dadanya. "Cerita itu justru memosisikan Kierra sebagai iblis. Dan bagi Kierra sendiri, itu hanya mengingatkan Kierra akan masa lalunya, ketika suku ini mengkhianatinya…"
"Itu bukan maksudku," bela Carlisle, masih tetap tenang. "Aku tak tahu bahwa kisah itu akan disampaikan kembali di depan Kierra dan kawanan, dalam versi yang … menurut Kierra sendiri, agak berubah dari apa yang kuceritakan. Aku tak ingin lempar tangan, tapi mungkin Dewan Suku memiliki pertimbangan tertentu untuk…"
"Kau ingin menyalahkan Old Quil karena ceritanya tidak sesuai versimu?!" geraman Seth makin keras. Dirasanya gemetar itu mulai menjalari ujung-ujung jemarinya. Lekas ia mengepal, berusaha berkonsentrasi. Menumpulkan semua rasa yang menggejolak. Menekan tekanan uap yang kian berkulminasi dalam dadanya. Tidak. Tidak sekarang.
"Seth, kumohon, tenang…"
"Aku tenang! Aku sudah sangat tenang!" serunya. Dalam kekisruhannya, ia berbalik dari mereka berdua, menghantamkan tinjunya pada sebatang pohon besar. Pohon itu tak langsung roboh, tentu, bertahun-tahun ia telah mendisiplinkan dirinya untuk tak menumbangkan pohon atau menghancurkan rumah walau semarah apapun ia. Tapi tak urung getaran yang ditimbulkan membuat dahan-dahannya bergetar ribut, menghujankan dedaunan.
Seth menggeram, menarik tangannya dari lubang yang ia timbulkan di batang pohon. Menarik napas dalam, ia kembali menghadap mereka berdua. Carlisle masih kelihatan datar, tapi Kierra agak tercengang. Ia memilih tidak memedulikan perempuan itu dan kembali pada si vampir.
"Di sini yang jadi masalah bukan aku, Carlisle, tapi kau!" ia menuding. "Coba dengar dirimu sendiri! Apa yang bisa kusimpulkan dari ceritamu, memangnya? Bahwa kau ada di balik semua kejadian, tahu nyaris semua kebenaran, dan kau menyimpannya untuk dirimu sendiri? Tidakkah kau sadar kau mengkhianati semua orang? Kierra, Scarlett… Suku… Keluargamu!"
"Seth…"
"Kini kutanya," suara Seth meninggi, "apa keluargamu tahu ini?"
"Sudah kukatakan Edward tahu, dan Alice juga…"
"Edward dan Alice… Tentu…," ia menggerutu. "Dan Jasper, tampaknya… Lalu Esme?" ia memicing. "Apa Esme tahu ini?"
Carlisle menghela napas, namun tak menjawab.
"Apa Esme tahu ini?" ulangnya.
"Sungguh, Seth, ini bukan masalah," Kierra angkat suara. "Apapun yang kausimpulkan, ini tidak…"
Seth tidak menanggapi apapun ucapan perempuan itu. Matanya tetap tertuju pada Carlisle. "Apa. Esme. Tahu. Ini?" kembali ia mengulang. Tiap patah kata yang ia ucapkan mengandung penekanan.
Carlisle menatapnya. Sorot matanya seakan memperhitungkan. "Ya. Esme tahu," ujarnya pelan.
"Sampai mana Esme tahu?"
"Semuanya."
"Termasuk hubunganmu dengan Kierra?"
"Ya…"
Dan Esme masih menerima Kierra! Esme menerima Korra! Ia tahu Esme begitu lembut bak malaikat. Tapi melihat betapa kedekatan Kierra dan Carlisle, pembicaraan rahasia yang mereka bagi seolah hanya mereka yang tahu artinya, pertukaran tatapan nan intens seolah dunia hanya milik berdua, yang kadang dilakukan dengan mencuri-curi seakan mengandung sejuta makna... Bagaimana mungkin Esme tak cemburu?
Tapi tunggu.
Kisah Kierra yang diceritakan Old Quil itu … kisah itu tidak hanya terfokus pada Kierra pada masa kekuasaannya. Kisah itu lebih terfokus pada asal-usul Kierra. Siapa ayahnya, siapa ibunya, bagaimana latar belakangnya… Pertanyaannya, bagaimana mungkin hal itu diketahui? Bukankah ibu Kierra telah diusir dari suku? Bukankah Kierra lahir dan tumbuh terasing, jauh dari suku, bahkan tak tahu asal-usulnya? Ketika Kierra kembali dan mengklaim posisi kepala suku dengan membunuh keluarga kepala suku yang asli, apakah ia memang mengetahui bahwa itu adalah paman dan saudara-saudaranya sendiri? Bagaimana mungkin ia tega, jika memang ia tahu? Lebih lagi, bagaimana caranya ia bisa sampai tahu? Mungkin saja akhirnya, ketika jati dirinya sebagai Pejuang Roh diketahui, orang-orang menghubungkannya dengan para pejuang roh dalam legenda, berkesimpulan bahwa sang kepala suku baru mereka memiliki darah Quileute. Tapi kekuatan Pejuang Roh telah lenyap sejak berabad-abad sebelumnya, tak mungkin mereka langsung berkesimpulan bahwa Kierra adalah putri salah satu putri kepala suku mereka yang hilang… Bahkan walau sifat hibrida Kierra diketahui, dan orang membuat kesimpulan dengan menghubungkan semua titik… Tetap saja kisah itu terlalu detail…
Kisah yang hanya mungkin diceritakan oleh orang yang mengetahui kejadian tersebut…
Dan kisah yang diceritakan Carlisle, bukankah…
Sejak awal Seth merasakan ada yang ganjil dalam kisah Carlisle, tapi baru kali ini ia benar-benar menyadarinya. Penggunaan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Kata ganti 'dia' yang aneh… 'Dua kematian' yang disebutkan Carlisle saat mengatakan ia takut Scarlett akan menjadi 'yang ketiga'…
Ada berapa sebenarnya orang yang diceritakan Carlisle?
Dia menceritakan Kierra dan Scarlett, jelas… Scarlett adalah putri Kierra, yang Carlisle ambil dari tangan Kaliso ketika Kierra dieksekusi di tebing. Bayi yang hampir dibunuh Carlisle, dengan cara menenggelamkannya ke danau, sebelum ia sadar dan mengangkatnya sebelum bayi itu mati, lantas membawanya pergi.
Lantas siapa bayi yang ia katakan ditinggalkannya di tepi danau?
Carlisle pergi sewaktu Kierra melahirkan, ia tak tahu prosesnya sama sekali.
Lantas siapa bayi yang ia katakan merangkak keluar dari rahim ibunya? Ibu yang sudah pasti tewas di tempat ketika melahirkan, bukan orang yang sama yang tewas di tangan sepasukan serigala marah…
Dan danau itu… Danau tempat Carlisle hampir menenggelamkan Scarlett… Ia mengatakan tempat itu adalah awal semuanya, tempat ia pertama kali bertemu dengan orang yang ia cintai… Tapi bukankah Kierra menangkap Carlisle pada pertempuran di dermaga? Apakah sebelumnya mereka pernah bertemu? Kapan?
"Ada 'dia' yang lain dalam ceritamu…," kesadaran itu tiba-tiba mencuat. Rasanya ingin Seth meredamnya saja, memotong tunas yang baru tumbuh agar tak berkembang dan menimbulkan macam-macam dugaan, yang ia tahu takkan mengarah ke hal baik. Tapi tidak bisa. Kemungkinan ini terlalu jelas untuk diabaikan…
Ya, ada sesuatu yang aneh. Entah bagaimana, Seth menangkap bahwa ada satu lagi orang yang dikisahkan Carlisle. 'Dia' yang tersamar…
Dan bahwa kunci dari semua itu adalah satu hal. Nama.
Nama 'Scarlett'… Carlisle mengatakan ia mengambil nama itu dari seseorang, kan? Yang namanya melambangkan batu rubi yang bertakhta di kalung yang sedang Seth genggam. Seseorang yang ia cintai…
'Kierra' adalah nama yang diambil Tupkuk dari perbendaharaan bahasa bangsa kulit pucat. Keduanya memiliki arti yang sama: hitam. Kierra kelihatannya menyukai benar warna itu. Bahkan inangnya yang terakhir pun, yang katanya ia rawat sejak kecil, memiliki varian nama itu dalam bahasa Quileute: Shi'pa…
Sedangkan Scarlett … nama itu berarti 'merah tua'.
Merah…
Dan kata Quileute untuk 'merah' adalah…
Astaga. Teka-teki ini begitu mudah! Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya hingga saat ini? Fakta itu telah disodokkan bulat-bulat di depan wajahnya!
Dua bayi dalam kisah Carlisle. Alasan Carlisle begitu takut dengan kehamilan Kierra. Alasan Carlisle nyaris trauma dengan kehamilan siapapun. Alasannya mengikuti Kierra dengan setia, walau serigala iblis itu lebih dari pantas untuk mati. Alasannya mengatakan bahwa Kierra dan Scarlett adalah dosa dan penyesalannya. Alasan ia mengutuk dirinya sendiri… Batu merah delima di liontin itu… Cerita Old Quil…
Hanya ada satu jawaban.
Dilihatnya di depan matanya, Kierra kelihatannya sadar apa yang terbit di dalam benaknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Dan samar, Seth melihat ujung-ujung jari perempuan itu bergetar.
Berarti memang benar.
Hubungan Carlisle dan Kierra yang sebenarnya adalah … adalah…
Tapi… Bukankah itu berarti…
"Oh Tuhan, jangan katakan…"
"Stop!" teriak Kierra. "Jangan katakan, Seth. Apapun yang kaupikirkan, jangan katakan!"
"Mengapa? Tidakkah itu kebenaran?"
"Benar atau salah, tetap, jangan katakan apapun."
Mata Seth memicing. "Apa itu rahasia? Berbahaya jika seseorang tahu? Atau memang kau tak ingin mengakuinya?"
"Kau tidak tahu apa yang kaulakukan, Seth!" Oh, dia memanggilnya 'Seth' sekarang? "Ada hal yang sebaiknya tetap terpendam."
"Seperti apa? Seperti bahwa mungkin sumber kutukan yang turun-temurun menimpa keluarga Black adalah dari kalian?"
"Itu takhyul! Tak pernah ada kutukan!"
"Tidak, heh? Oh, Kierra… Aku yakin kau percaya hukum karma… Roh Semesta tak mungkin membiarkan perbuatan keji kalian lewat begitu saja…," kentara betul ada sirat jijik pada kalimat terakhir.
"Tidak ada perbuatan keji apapun yang kulakukan!"
"Oh ya? Membantai orang-orang? Menciptakan pasukan vampir? Mengumpankan manusia kepada para peliharaanmu?" ia melirik pada Carlisle, mendesis dari balik gerahamnya yang terkatup rapat, "Melakukan incest…"
"Itu tidak benar…"
"Tak perlu mengelak lagi, Kierra… Bukti sudah terpampang jelas!"
"Harus berapa kali kukatakan? Scarlett bukan putrinya!"
"Oh ya? Lantas siapa ayah Scarlett?"
"Siapa lagi? Kaliso!"
"Serigala tak bisa membuahimu, Kierra! Kau alergi terhadap sperma serigala! Aku sudah lebih dari tahu tentang hal itu!"
"Kau terus berpegang pada hal tak berdasar hingga kau lupa satu hal! Jika memang aku, sebagai hibrida, tidak bisa dibuahi oleh serigala, lantas mengapa Scarlett bisa mengandung hingga melahirkan? Mengapa kau bisa membuahiku?"
Seth mengerjap, sadar tak bisa menjawab pertanyaan pertama. "Tapi…," sanggahnya, "rahimmu beracun hingga tak ada janin yang bisa bertahan… Karenanya anak kita…"
"Ya, itu yang terjadi pada putra pertama dari tubuh asliku… Demikian pula pada janin-janinku selanjutnya…," suara Kierra bergetar lirih. "Tapi alam selalu menemukan jawaban… Aku tak tahu apa yang terjadi, seiring perpindahanku dari satu inang ke inang lain, tubuhku makin kuat… Terlebih para inangku berada dalam satu garis keturunan… Tubuhku beradaptasi, Seth… Shi'pa mungkin tak hanya inangku yang paling tepat, ia juga wadah yang layak untuk berkembangnya janin di rahimku…"
"Itu alasanmu? Jangan kira aku bodoh, Kierra! Shi'pa berkuasa selama 35 tahun! Kalau begitu, dengan banyaknya selirmu, seharusnya kau memiliki puluhan anak… Oh, kau bahkan tak bisa dengan pasti mengatakan janin di rahimmu benih dari siapa!"
"Kau mungkin berpikir aku akan memeras benih siapapun demi mendapat keturunan. Itu memang benar, tapi kenyataannya, aku tak pernah meniduri budak lain sejak mengangkatnya sebagai pasangan tetapku! Dan akhirnya, nyata bahwa hanya Kaliso yang bisa membuahiku. Itu pun tidak mudah. Aku berulang kali keguguran sebelum akhirnya Scarlett benar-benar bisa tumbuh…"
"Itu tidak masuk akal!"
"Aku tidak tahu, Seth! Kaupikir aku bisa tahu jawaban dari semua misteri? Mungkin karena secara genetik mereka cocok. Mungkin karena Kaliso masih sedarah dengan Shi'pa. Mungkin karena ia yang ditakdirkan bagiku, dan seharusnya aku mengimprintnya jika aku tidak memberlakukan hukum bodoh itu. Mungkin memang benar seperti katamu, hukum karma itu ada, dan Roh Semesta menghukumku atas apa yang pernah kulakukan pada Kaliso… Mungkin karena … aku… mencintainya…"
"Bohong!" bentak Seth, benar-benar muak dengan kata 'cinta' yang terucap dari bibir yang begitu kotor oleh kebohongan itu. "Apa buktinya bahwa Kaliso adalah ayah Scarlett?"
Seperti diduganya, perempuan itu diam.
"Nah, kau tidak bisa mengatakannya, kan?"
Tapi kemudian matanya bergerak memandang Seth dengan tatapan sendu. Suaranya begitu lirih, ragu, kala berbisik, "Kau, Seth…"
"A-apa?"
"Buktinya … adalah dirimu sendiri."
Buktinya … adalah Seth?
Bagaimana mungkin?
Tunggu. Bukankah sebelumnya Korra pernah mengungkit ini, bahwa ia adalah keturunan Kaliso? Pertanyaannya, dari mana ia yakin?
Satu-satunya bukti jejak genetik adalah DNA. Apa ia pernah mengecek DNA Seth, memperbandingkannya dengan Kaliso? Kaliso sudah mati ratusan tahun yang lalu… Apakah Kierra menyimpan sampeltulang atau rambutnya? Tapi mungkin ada indikator yang lebih mudah… Seperti warna bulu … atau…
Sesaat ia terhenti.
Tunggu, bukankah Carlisle mencurigai Leah sebagai keturunan Kierra karena kemiripannya dengan Shi'pa? Tadi ia mengatakan sesuatu yang aneh sesudah kalimat tentang Leah. 'Dan kau juga…'
Apakah itu berarti… ia … dan Kaliso…
Pikirannya tanpa sadar mengembara ke masa-masa ketika mereka bersama. Betapa lembut Korra kala memandang bola matanya, menarikan jemari menyapu rahangnya, menyentuh setiap senti wajahnya… Betapa sering ia mengatakan Seth pasti akan lebih tampan bila memanjangkan rambut… Dan kala menatapnya, entah mengapa Seth merasa tak hanya ada sirat keterpesonaan dan nafsu (ia tak ingin mengatakan 'cinta') dalam mata Korra… Seolah ia mencari sesuatu, merindukan sesuatu… Seolah matanya melihat melampaui dirinya...
Dan kesadaran itu memukulnya telak. "Kau … menginginkanku karena itu…," ia berucap, nanar. "Karena kau melihat kemiripanku dengan mendiang suamimu…"
Kierra lagi-lagi tak bereaksi. Dan itu sungguh membuatnya hancur.
Apakah selama ini Kierra hanya memandangnya sebagai cerminan Kaliso?
Korra tidak mencintainya. Ia hanya menuruti perintah, karena ia tidak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Dan ternyata Kierra juga tidak. Oh, ia sudah tahu motif Kierra, mulai dari urusan kekuasaan hingga anak. Tapi setidaknya, ia merasa ia diinginkan. Bahwa perempuan itu melihat sesuatu yang hanya ada padanya, jika bukan cinta. Tapi bahwa nyatanya, Kierra hanya melihat bayangan orang lain…
Tidakkah itu sama dengannya? Ia yang juga melihat Korra sebagai seseorang yang lain?
Ada cermin besar di antara Kierra dan Seth… Cermin dengan permukaan ganda. Dan mereka tidak memandang sosok satu sama lain yang asli di balik cermin, melainkan bayangan yang terpantul di permukaannya, bayangan yang muncul dari harapan dan idealisasi mereka sendiri…
"Carlisle," Seth merasa dadanya sudah sedemikian berlubang hingga ia tak merasakan apapun lagi. Kata-kata yang ia keluarkan begitu datar, tanpa emosi. "Ada yang ingin kubicarakan berdua dengan Kierra. Bisakah kau meninggalkan kami?"
Carlisle tak langsung menolak atau mengiyakan. Matanya rawan menilai keadaan. Ada ketidaksetujuan di sana.
"Kumohon," tambah Seth, demi melihat vampir itu masih tetap bergeming.
"Tidak apa, Bapa," Kierra menoleh padanya, masih dengan senyum sendu. "Pergilah."
"Tup…"
"Jacob membutuhkanmu, kau harus mengecek keadaannya, bukan? Aku dan Seth akan segera menemuimu di rumah. Aku bisa menangani masalah di sini."
Pertimbangan kembali berkelebat di mata pria itu, sebelum akhirnya ia mengangguk, meski ragu.
"Apapun yang kauinginkan, kumohon jangan lakukan hal gegabah," ia menujukan kalimat itu pada Seth. "Pikirkan kawanan, dan suku… Jangan sampai kau terbawa emosi dan akhirnya melakukan yang akhirnya akan kausesali."
"Aku tahu," geram Seth di antara gemeretak giginya.
Masih menyimpan kekhawatiran, Carlisle berbalik. Tak lama terdengar gemerisik dedaunan, tanda pria itu berlari menembus hutan, diikuti pandangan rawan Kierra.
.
Jeda cukup lama sementara Seth menajamkan telinga dan inderanya, berusaha merasakan jejak keberadaan penguping manapun. Termasuk Carlisle, jika memang ia bukannya pulang dan masih mengawasi mereka. Ketika dirasanya hanya tertinggal mereka berdua dalam radius dua kilometer, barulah ia bicara.
"Maukah kau jujur padaku?"
"Soal apa?" perempuan itu berpaling menatapnya. "Bukankah aku sudah mengatakan padamu semua?"
Ya, kecuali satu. "Jacob. Maukah kau mengakui peranmu di balik jatuhnya Jacob?"
Kierra tertawa. "Kau tak usah mengusir Carlisle hanya untuk mengatakan tuduhan kosong ini lagi, Seth. Sudah kukatakan, aku tidak bertanggung jawab atas apapun yang menimpa Jacob. Aku punya alibi kuat. Dan jika salah satu anak buahku yang melakukannya, jika memang Jacob dijatuhkan atas namaku, kau akan tahu."
Ia tersenyum sinis kala mengatakan itu, seolah mengatakan 'jika itu yang terjadi, kawananmu sudah menjadi milikku sekarang."
"Tetap saja," Seth balas tersenyum. "Kalaupun Scarlett pelakunya, kau takkan mengatakannya, kan?"
Kata-kata Seth yang menyudutkan membuat kepala Kierra tersentak.
"Sudah kukatakan aku tidak menilai dengan perasaan pribadi! Jika aku masih mempertimbangkan siapa Scarlett, aku sudah ada di pihaknya dan kalian semua telah terbantai! Kita di ambang pertempuran sekarang, Alfa! Maukah kau tidak mengungkit lagi urusan darah dan bersikap profesional?"
"Jadi kau masih tak mau mengakuinya?"
"Kau mau aku mengaku untuk sesuatu yang tidak kulakukan?"
"Baik kalau begitu. Kau tahu posisiku sebagai Alfa dan aku harus mengambil keputusan. Berat bagiku mengatakan ini, tapi kuminta kau dan kawananmu, juga si lintah penggunting-dalam-lipatan itu, angkat kaki dari tanahku sebelum senja tiba."
Mata Kierra melebar.
"Kau … mengusir kami?" desisnya tak percaya. "Tapi bagaimana dengan ancaman Sang Ibu? Kalian tidak bisa bertahan sendirian!"
"Oh, jangan berpura-pura kau benar-benar peduli, Kierra. Kehadiranmu sendiri di tanah ini sudah memperumit keadaan. Dengan menilai hubungan kalian, aku jadi curiga malah kau sendiri berkonspirasi dengan Sang Ibu demi mendapatkan kembali takhtamu."
"Tidak!" bantah Kierra, nyaris berteriak. "Kalau itu yang terjadi, aku pasti telah membiarkan kalian mati di hutan sejak awal! Mungkin aku sendiri yang membunuhmu dalam tidur!"
"Tapi kau sengaja membuat penanganan masalah ini jadi berlarut-larut, ya 'kan? Dengan kekuatanmu, jika kau ingin melindungi kami, sejak awal kau sudah mengerahkan aliansimu untuk menolong."
"Kami sudah menawarkan bantuan. Jacob menolak…"
"Oh, aku tidak bodoh, Kierra," dengusnya. "Jika kau tidak menutupi identitasmu, jika kau terus terang sejak awal mengenai dirimu dan ancaman yang ada, Jacob pun akan membuka matanya… Jika kau tidak diam-diam melakukan manuver politik di belakang kami… Dengan para Tetua, Sam, dan para Cullen…"
"Itu karena aku tak ingin kalian salah paham!"
"Tidak. Alasan sesungguhnya adalah karena Carlisle ingin melindungi Scarlett dan keturunan Zacharias. Dan kau mendukungnya."
Ya, Seth berani bertaruh, Carlisle sudah tahu apa ancaman bagi suku sejak awal. Alice mendapat penglihatan, lantas ia mengirim Emmet dan Jasper untuk menyelidiki. Kejadian itu sudah sejak acara api unggun, tapi tak sekalipun ia menghubungi seorang pun dari kawanan dalam perkara ini, terlebih memperingatkan, sungguhpun Seth selalu menjaga hubungan dengan Jasper. Sudah jelas alasannya adalah ia tidak menginginkan pertumpahan darah, terlebih perang saudara. Menimbang seperti apa Carlisle, sangat mungkin ia sudah ikut campur dari awal, dengan mengambil posisi di tengah. Mungkin diam-diam ia berusaha mencari perdamaian dengan Sang Ibu. Namun ternyata masalah bergerak kian pelik, sehingga kini ia memutuskan untuk membuka diri.
Namun Carlisle bodoh jika dipikirnya Seth akan mengerti dan menganggap semua selesai begitu saja. Apa karena selama ini Seth selalu berpikiran terbuka dan menunjukkan sifat sedia bekerjasama, dipikirnya ia akan menerima pernikahan itu? Pernikahan yang ia harapkan menjadi jalan keluar. Apa dipikirnya dengan pernikahan itu, kemarahan Sang Ibu teredakan, melihat akhirnya garis keturunan Zacharias dan Joanna bersatu, dan Kierra kembali berkuasa? Apa dipikirnya itulah akhir bahagia yang semua orang nantikan?
Sayangnya itu takkan terjadi. Jangan harap Seth akan melupakan bahwa mereka menutup mata ketika Sang Ibu membantai semua garis keturunan Joseph Black. Jangan harap Seth melupakan bahwa makhluk itu, ayah Kierra-lah, yang menjadi pangkal seluruh masalah. Jika ia tak pernah menginjakkan kaki di tanah Quileute, jika ia tidak menculik putri Quileute dan menodainya… Jika Kierra tidak pernah dilahirkan, jika Kierra tidak kembali … semua ini takkan terjadi.
Dan kini Jacob terbaring di sana… Entah siapa yang menyerang... Adakah artinya ia mengetahui siapa sang penyerang? Tatkala segalanya sama saja kini: mereka semua musuh.
"Tapi aku akan berbaik hati, Kierra. Kuharap dengan ini, aku memberikan pilihan yang mudah bagimu, dan bagi Carlisle. Pergilah, jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Cari tempat lain untuk membangun keluarga bahagia yang kalian inginkan. Taklukkan seluruh dunia jika kau mau, tapi jauhkan cakarmu dari tanah kami. Jika kau kembali, aku takkan menjamin bahwa aku takkan melakukan apa yang pernah dilakukan Kaliso…"
"Kau tahu kau akan mati sebelum melakukannya!" seru Kierra. "Tidakkah kau sadar, kalian tengah di ujung tanduk?"
"Jika memang takdir kami untuk hancur di tangan putrimu, maka biarkan itu terjadi." Itu toh lebih baik ketimbang tunduk di bawah cakar Kierra. Selamanya terjajah bak keledai bodoh…
"Dan pernikahan kita?"
Pertanyaan itu membuat Seth terkekeh.
"Pernikahan, Kierra? Itu yang kaupertanyakan sekarang? Tidakkah sudah jelas? Dengan adanya semua ini, apa kaupikir aku masih bisa melakukannya?"
Wajah Kierra tampak kaku. Detik-detik berlalu dengan hanya ada horor di wajah itu, sebelum akhirnya ia tersadar dan berujar lamat-lamat, bak habis diterjang truk.
"Apa maksudmu … kita putus?"
"Ya…"
"Mengapa?"
"Astaga. Apa harus kautanyakan itu? Kau menyimpan terlalu banyak hal. Kau berbohong padaku, pada semua orang. Kau, kalian, merencanakan sesuatu di balik punggung semua orang."
"Aku telah membuka semua pada-mu!"
"Ya, aku, keledai bodohmu. Pelacur tololmu. Sampai kapan kaupikir aku akan terus tunduk padamu, mengkhianati kawananku sendiri? Tidak, sudah cukup, Kierra. Aku tidak bisa menanggung semua ini lagi."
"Kau … kau tidak bisa melakukan ini, Seth. Pernikahan kita kurang dari sebulan lagi. Persiapannya tinggal sedikit lagi. Undangan sudah disebar…"
"Jauh lebih baik membatalkannya sekarang ketimbang kelak setelah kita menikah."
"Kau tidak tahu apa yang kaukatakan. Ini masalah kecil, kan? Kita bisa mengatasi ini, Seth. Kita selalu bisa…"
"Aku kira ini bukan masalah kecil." Ya, tidak ada ceritanya semua urusan mengenai Kierra disebut 'masalah kecil'—yang manapun. "Terlalu banyak rahasia, terlalu banyak topeng. Kau tidak mempercayaiku. Aku tidak tahu bagaimana harus mempercayaimu. Bahkan kau tidak mencintaiku, kau hanya melihat bayangan Kaliso padaku. Hubungan ini murni kebohongan sejak awal. Aku tidak sanggup."
"Tapi … kau pernah bilang kita akan berusaha. Kau menolak imprintmu demiku, kan?"
"Karena aku berpikir kau Korra…"
"Apa bedanya? Selama ini pun kau berhubungan denganku, bukan Korra. Kau mencintaiku, bukan Korra."
Penekanan Kierra rasanya membuat dunia gulita. Jadi ternyata memang benar…
"Kalau begitu maafkan aku, Kierra. Ini kesalahan."
Mendengar kata 'kesalahan' itu, seolah darah hilang dari wajah Kierra. Ingin rasanya Seth berbalik meninggalkannya, hanya untuk menghindar dari tatapan itu. Tatapan kosong, seolah tersakiti, dan terkecewakan. Tatapan yang mengingatkannya pada mata Leah… Tapi sebelum ia sempat membuang muka, tanpa aba-aba, perempuan itu sudah melangkah mendekat. Meraih tangan Seth dan menangkupkannya di pipinya.
"Seth, kumohon…," bisiknya.
"Kau tak bisa merayuku, Kierra," tekan Seth, melepaskan tangannya dari genggaman Kierra. Ia berusaha mati-matian untuk tidak menangkap getar bibir itu, atau kaca-kaca yang menggenang di pelupuk mata itu.
"Tidak. Aku memintamu untuk mempertimbangkan. Pikirkan ini. Aku bisa memberimu segalanya. Bayangkan Seth, kita bisa menyatukan kekuatan. Sukumu, dan aliansiku… Kita takkan terkalahkan. Bahkan menghadapi bangsawan vampir manapun… Kau tahu bagaimana aku bisa membawa suku pada kejayaan. Kita bisa mengulang semua itu."
"Kau membuat ini terdengar seperti pernikahan politik, Kierra. Aku sudah katakan, aku tidak silau dengan kedudukan, kekuasaan, atau harta. Jika aku menerima pernikahan ini, aku tidak hanya menjual harga diriku, tetapi juga kawanan dan suku…"
"Mengapa kau terus mengatakan seolah aku menuntut kedudukan atas kawananmu? Kau telah salah paham melihatku, Seth. Apa yang kutawarkan dari pernikahan ini, adalah cinta … dan perlindungan."
"Maksudmu, jika aku menolak, kau akan berusaha menaklukkanku dengan kekerasan?"
"Bukan begitu…"
"Maaf, Kierra. Memang tadinya ya, ketika aku mengatakan akan mencoba, meski aku tahu siapa kau, aku mempertimbangkan kepentingan suku. Tapi setelah semua ini, kusadari bahwa pernikahan seharusnya tidak didasarkan pada hal lain selain cinta."
"Tapi aku mencintaimu. Harus berapa kali kukatakan?"
Tak tahan lagi dengan kata-kata itu, Seth berbalik. Tapi Kierra begitu keras kepala. Dijangkaunya tangan Seth, memaksanya kembali berpaling padanya. Bahkan ketika Seth menggeram, ia justru menghamburkan diri ke arahnya. Ditumpukannya kepalanya pada dada Seth. Ditempelkannya telapak tangan berajah itu di dadanya.
"Rasakan ini, Seth," ucapnya. "Kau telah memberikan kesetiaanmu padaku, aku telah memberimu hatiku. Kita satu… Jika kau tak ada, bagaimana jantung ini bisa berdetak?"
Kepalanya bergerak menengadah. Matanya berusaha mencari mata Seth.
"Tidakkah kau bisa lihat ketulusanku?" ujarnya sungguh-sungguh. "Aku tahu sekarang ini adalah saat yang genting dan tak menentu, dengan urusan Scarlett dan sebagainya. Tapi semua akan selesai, dan saat itu tiba, kita bisa memulai dari awal… Memperbaiki segalanya…"
Sedetik, ia bergetar.
Mata itu … Mata hitam milik Korra … menatapnya dengan sorot yang sama. Sorot yang berkali, kali, berpuluh kali, beratus kali, pernah dilihatnya. Sorot penuh cinta, penuh pengharapan… Mata yang membuatnya terhanyut… Dan kembali, perasaan yang lain itu mengambil alih. Kenangan hari-hari yang mereka habiskan bersama … kala mereka tertawa dan bercanda, merajut harapan… Betapapun semua berbalut kepura-puraan, baginya itu sungguh nyata.
Dan sungguh ia ingin menyerah, memeluk gadis itu dan mengatakan segalanya akan baik-baik saja. Tidak peduli siapa ia. Korra. Kierra… Tak peduli apa yang ia rencanakan di balik sorot mata itu. Tidak peduli keadaan suku, dunia, apapun. Tidak karena ia tidak perlu tahu. Tidak karena ia, mereka, bisa bahagia.
Tapi apakah itu bahagia? Ketika tumbuh di atas puing-puing kebenaran, dibalut akar rambat bernama kebohongan dan kepura-puraan?
Tidak. Ia tidak boleh luluh kali ini.
"Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi," ucapnya, menghela tubuh Kierra, "dan kau tahu itu…"
Namun Kierra masih berusaha berpegangan pada tali yang mengikatnya pada sang kekasih, kendatipun tali itu sudah demikian rapuh dan nyaris putus. Tangannya terulur, jari-jemarinya terentang, berupaya meraih apapun yang masih bisa ia genggam.
"Demi apapun, kumohon…," bisiknya dengan suara yang kelewat memelas untuk ukuran harga dirinya. "Beri aku, beri kita kesempatan… Aku mencintaimu, Seth, sangat…"
"Sayangnya, aku tidak," geleng Seth, berusaha menjaga nada suaranya tetap tegas. "Dan kurasa takkan pernah," dengan satu kata final, diputuskannya benang-benang terakhir yang menautkannya pada sang perempuan—'cangkang' itu. "Selamat tinggal, Kierra."
Seharusnya ia bisa melihatnya. Ekspresi kosong pada wajah Kierra. Air mata yang menetes di pipi tanpa bisa tangannya bergerak untuk menghapusnya. Getar di ujung jemarinya yang makin menjadi, menjalar ke sekujur tubuhnya. Bibirnya yang berbisik, begitu pelan hingga nyaris tanpa suara, dalam peringatan yang seolah tidak lahir darinya, 'Larilah, Seth…'
Tapi ia tidak melihatnya. Tidak karena batinnya pun teriris kala mengucap kata itu, dan ia memaksakan diri berpaling…
Semua terjadi begitu cepat hingga kesadarannya tidak punya waktu untuk menangkap seluruh kejadian satu per satu.
Suara robekan keras mengoyak pagi, seiring auman nyalang yang memekakkan telinga, menggaung di antara pepohonan. Instingnya bereaksi cepat. Tanpa benar-benar otaknya memerintah, ia sudah meledak mengambil wujud serigala. Namun baru saja ia berbalik mengambil ancang-ancang, tahu-tahu sesuatu menyabet sisi tubuhnya. Tak sempat ia bertahan, tak sempat ia menghindar. Bak seonggok karung, tubuhnya terpental hingga menabrak sebatang pohon sepelukan orang dewasa. Terdengar bunyi derak kala batang pohon itu bertabrakan dengan tubuhnya, dan ia tidak tahu apakah bunyi derak itu berasal dari batang pohon yang retak, atau memang tulang punggungnya patah. Sedetik kemudian, ia terjerembap ke tanah, diiringi tumbangnya pohon tersebut, langsung menimpa dan merobohkan pohon lainnya. Dan belum lagi ia bangkit, sesosok serigala putih sudah berlari—tidak, melompat menerjangnya.
Tunggu! Kierra! teriaknya, berusaha menjangkau dalam koneksi antar-Alfa.
Tapi Kierra tidak berhenti, oh—bahkan Seth tidak yakin ia mendengar. Pikirannya begitu jauh, tak terjangkau. Cakarnya terus terayun secara membabi buta, menargetkan bagian manapun yang bisa ia raih. Perih terasa menyiksa setiap kali cakar-cakar itu menghantam tubuhnya, tidak hanya menggores kulit, tetapi juga merobek jaringan dagingnya tanpa ampun. Namun dalam hujan serangan itu, sesaat ditangkapnya mata sang serigala, dan mendadak, ia membeku.
Mata itu merah, seperti warna mata sang Alfa yang pernah ia lihat sewaktu pertemuan di tepi sungai. Tapi ada sesuatu yang lain.
Mata itu seperti bukan mata Kierra yang biasa. Kierra dalam wujud serigala yang pernah ditemuinya bermata merah bak batu rubi, dengan kilat yang memancarkan aura kuat. Mengintimidasi, sekaligus juga anggun dan penuh percaya diri. Seakan ia melihat mata seorang ratu yang memiliki kuasa atas segalanya dan tahu bagaimana cara menggenggam dunia. Namun kali ini, keanggunan itu lenyap sudah. Seakan terbakar dalam bara, yang murni tercipta dari kebencian dan kemarahan. Menjadikannya, entah bagaimana, begitu hampa. Tanpa kehidupan. Tanpa jiwa.
Dan ia bisa merasakan sakit itu. Perih itu. Bukan perih akibat kuku-kuku tajam sang serigala yang menyayat dagingnya. Bukan sakit akibat taring sang serigala yang merobek ototnya. Tidak, itu bukan apa-apa. Tidak sebanding dengan perih yang dirasa Kierra. Tak sebanding dengan perih yang mengoyaknya, akibat dusta yang ia torehkan sendiri.
Itukah yang membuatnya membuatnya bahkan tak bisa mengerahkan kekuatannya untuk membela diri? Itukah yang membuatnya jangan melayangkan cakar menahan serangan Kierra, untuk berguling lepas pun tak sanggup? Atau … lebih tepat dikatakan … enggan? Seakan sesuatu menahannya…
Saat itu, bukan Kierra yang ada di matanya. Tapi Leah. Leah yang tersakiti. Leah yang terus menjeritkan sakitnya dalam diam. Ia pernah bersumpah untuk takkan pernah membuat seorang perempuan, siapapun, dalam keadaan apapun, untuk merasakan sakit yang sama. Ia pernah bersumpah untuk takkan pernah meninggalkan Korra, apapun yang terjadi. Sumpah yang akhirnya terbukti hanya kata-kata kosong belaka…
Tak ada seutas kata pun keluar dari bibirnya. Bahkan tidak teriakan sakit. Tidak apapun.
Syarafnya tumpul. Indranya tumpul. Otaknya tumpul. Segala sensasi akan rasa, ruang, waktu, lenyap sudah. Mungkin ini akhirnya, pikirnya. Ramalan itu sudah terwujud. Korban telah jatuh. Mungkin apa yang terjadi sudah ditakdirkan. Apapun yang mereka usahakan, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubahnya. Hanya satu sesalnya, bahwa kawananlah, sukulah yang harus menanggung akibat kelak…
Dalam kesadarannya yang sudah hampir lenyap, sekilas ia menangkap kelebatan hitam di sudut matanya, melengkung bak busur panah, sebelum segalanya menggelap.
.
.
"Korra!" pemuda itu tersentak dari tidurnya, nyaris berteriak. Segera saja setiap pasang mata di ruangan kecil itu berpaling padanya, menatapnya dengan pandangan terusik. Sang pemuda mengedarkan pandangan memohon maaf dalam diam, untuk kemudian membanting punggung ke sandaran kursi dan menghela napas berat.
Satu sentuhan di lengannya meminta perhatian. Collin berpaling ke sisi. Ditangkapnya mata Brady, menatapnya penuh kekhawatiran.
Dipaksakannya sebersit senyum, sementara meremas tangan sang sahabat.
"Mimpi buruk?" tanya Brady. "Tentang Korra?"
Collin menggigit bibir, menimbang haruskah ia mengatakannya. Tapi akhirnya ia bicara juga. "Ya, aku melihatnya. Terikat di tiang pancang yang didirikan di atas tebing di tepi pantai, di bawah kakinya tumpukan kayu bakar menggunung. Ia menangis, berteriak minta tolong. Banyak orang di sekitarnya, menari dan memukul genderang, bersorak-sorai menunggu saat hukuman matinya. Lantas seseorang mendekat, menyulut tumpukan ranting. Aku berlari ke arahnya, berusaha membebaskannya. Tapi begitu aku melompat ke dalam api, api itu berubah menjadi lautan ganas. Susah payah kami berusaha berenang, tapi begitu aku melihat daratan, ombak besar datang dan memisahkan kami. Menerkamnya, menyeretnya..."
Lagi. Mimpi yang serupa dalam beberapa hari terakhir. Sejak ia bangkit dari kubur, terus saja ia mengalami mimpi buruk. Detail adegannya berubah-ubah, tetapi intinya tetap sama. Korra di ujung tanduk, menjerit meminta pertolongan. Ia berusaha membebaskan, tapi terus dan terus, ada kekuatan lain, yang lebih besar, memisahkan mereka berdua. Menelan gadis itu.
Melihat wajah pucat Collin, wajah Brady berubah biru, campuran dari kekhawatiran dan kengerian. "Mungkinkah itu pertanda? Sesuatu yang buruk tengah terjadi di rumah? Haruskah kita pulang?"
Jiwa Korra memanggilnya, entah bagaimana ia tahu. Seperti ketika di jurang, ia merasa ia dan Korra terhubung dalam ikatan yang tak bisa ia jabarkan. Ia bisa merasakan Korra, dan Korra bisa merasakannya. Dan kini, Korra membutuhkannya.
Dan betapa menyesal ia, ketika dipaksakannya kepalanya menggeleng.
"Tidak, Brad. Enam bulan. Enam bulan dan waktu yang kita nanti tiba… Kita hanya perlu bersabar…"
"Tapi … ketika saat itu datang…," Brady tak bisa mengatakan kelanjutannya.
"Ya," Collin mengalihkan pandangannya ke luar jendela pesawat. Menatap lapisan awan yang melayang rendah dan hamparan hutan hijau yang mengintip jauh di bawahnya. "Ketika saat itu tiba, aku harus menuntaskan semuanya… Aku harus membunuh Korra…"
Dipejamkannya matanya. Lagi, bayang wajah penuh senyum gadis yang selalu ia cintai, melayang di sana.
.
.
Catatan:
Mumpung lagi libur nih, aku aplod… Doain aku bisa kelarin LoK cepet-cepet juga biar bisa aplod hehehe
Chapter 84 FIN!Yeaaaahhh!
Udah stress nih nulisnya, bagian akhir (yang Kierra diputusin) terus diganti. Jujur aja versi ini aku ga begitu suka, tapi aku puyeng jadi mo move on kekeke… jangan heran kalo nanti aku rombak dikit2… paling urutan dialognya aja sih… /authortidakbertanggungjawab /dibantai
Oya makasih buat yang masih ngikutin smp chapter ini. Tenang aja, bakal selesai kok dikit lagi :D Terutama buat yang baru baca… AyuAnggraini, Korin, Qunny… luv uuuu… Rhie, Veronica, Sky, n Kukuh yang tetep ripiu… Makasih beraaaatttt….
R&R?
