THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Twilight Saga and related characters belongs to Stephenie Meyer.

.


.

Delapanpuluh lima - Pengejaran

Tuesday, November 11th, 2014

02.47 AM

.


.

"Ke mana Seth dan Korra?" entah sudah berapa kali pertanyaan itu dilontarkan. Dan jawabannya terus sama: tidak tahu.

Entah berapa kali Quil bangkit dari sofa, dan berjalan berputar-putar bak orang linglung. Entah berapa kali Embry mengintip ke balik jendela, atau mengecek jam besar yang berdiri di ruang tengah keluarga Cullen. Entah berapa kali Pete dan Ben bersikukuh hendak berubah dan melihat keadaan, yang tentu saja segera dibungkam Embry—bagaimanapun Seth sudah menggariskan dengan tegas bahwa tak ada satu pun Black yang boleh berubah, dan Embry jelas bukan orang yang hendak membangkang pada apapun perintah sang Alfa, bahkan untuk kondisi setakmenentu ini.

Seth dan Korra sudah pergi lebih dari empat jam. Bahkan hingga matahari sepenggalah naik, masih belum ada tanda-tanda kepulangan keduanya. Carlisle, yang menurut anak-anak pergi bersama mereka, sudah kembali sejak nyaris tiga jam lalu. Air mukanya memang agak aneh—terlihat berat dan khawatir, jauh dari aura positif penuh ketenangannya yang biasa—tapi itu wajar. Dalam situasi seperti ini, siapa yang masih mampu mempertahankan kewarasan? Begitu tiba, sang dokter langsung disuguhi laporan kondisi Jacob yang memburuk. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mengurung diri bersama Caleb dan Adam di ruang operasi. Jangan kata untuk ditanyai lagi perihal Korra dan Seth, bahkan batang hidungnya belum kelihatan lagi hingga sekarang.

"Aku tak tahan lagi," mengepalkan tinju, Ben bangkit dari duduknya. "Aku akan mencari mereka."

"Tidak!" tahan Embry, entah untuk yang keberapa kali hari ini. "Kau mendengar perintah Seth. Tak ada yang boleh berubah!"

"Tapi sampai kapan?" erang Ben. "Seth dan Korra belum pulang juga hingga sekarang. Mereka berdua Black!" seolah itu perlu digarisbawahi. "Kita tak tahu apa yang mengancam mereka di luar sana. Mungkin saja Sang Ibu…"

"Atau mereka sedang berasyik-masyuk," usul Clark nyinyir, "Kau tahu kita menginterupsi sesuatu yang sangat penting semalam…"

Pada kesempatan biasa, mungkin kesinisan Clark yang sudah dikenal luas takkan memancing reaksi buruk apapun, terlebih dari Ben. Tapi tidak kali ini.

"Jaga mulutmu!" peringat Ben tajam.

"Hanya bicara kemungkinan…," gerutu Clark tanpa rasa bersalah.

"Sekali lagi kau berani mengangkat mulut, atau bahkan berpikir yang tidak-tidak…"

"Hei…," ucap Embry mendadak, membungkam dua remaja yang kelihatannya setiap saat siap berubah menjadi serigala. "Kalian dengar itu?"

Pendengaran Embry memang bukan yang terbaik di kawanan—berikan titel itu pada sang Alfa baru yang sedang tidak jelas keberadaannya—dan ia pun sedang tidak ada dalam wujud serigala untuk bisa menangkap suara di luar ambang manusia normal. Tapi sikap tegangnya, plus nada awas dalam suaranya, tak urung merampok perhatian kawanan.

"Apa?" Quil lekas menyeberangi ruangan, menghampiri Embry yang berdiri di sisi jendela. Perhatiannya tertuju pada entah-apa di luar sana.

"Ada sesuatu … di balik pepohonan…"

Tanpa perlu dikomandoi, para pemuda itu lekas melesat keluar. Tak usah Embry meneriakkan perintah. Suara ledakan tindih-menindih dengan suara cabikan kain terdengar susul-menyusul, dan dalam sekejap kelima pemuda tadi sudah tidak ada. Sebagai gantinya, lima serigala sangar berdiri di pekarangan rumah Cullen.

Embry, masih dalam wujud manusia—sadar harus ada yang bisa berkomunikasi dengan sosok-entah-apa-itu—bergerak menyibak benteng serigala, maju ke muka.

"Tunjukkan dirimu!" perintahnya.

Hening. Bahkan dedaunan pun tak bergemerisik. Hanya ada ketegangan … merayap bak kabut…

"Ini adalah periode gencetan senjata dan kita berada pada teritori netral. Kami takkan menyerang jika tidak diserang. Tapi jika kau tidak menunjukkan itikad baik, kami tak segan mempertahankan diri. Jadi siapapun kau, tunjukkan dirimu!"

Jeda sejenak sebelum akhirnya terdengar bunyi berkeresek. Pepohonan dan semak tersibak perlahan, dan satu sosok—pekat, sebagaimana pekat daerah yang menudunginya—bergerak keluar dari kegelapan.

Para serigala menahan napas. Bukan karena kehadiran sosok yang sudah sangat mereka kenal itu … atau bagaimana eksistansinya, misteri yang melingkupinya, telah menjadi salah satu pemicu utama kekacauan dalam kawanan belakangan. Tetapi lebih pada aroma tajam yang menyertainya.

Dan ketegangan—beserta kengerian yang menyelimuti—kian memuncak ketika ia menampakkan diri sepenuhnya di bawah sinar matahari. Ia masih menjaga jarak, berdiri beberapa ratus meter dari kawanan. Bulunya yang hitam sempurna tampak basah dan lengket di beberapa tempat. Dan yang benar-benar membuat kawanan panik, adalah keberadaan satu sosok yang tersampir telungkup tak berdaya di punggungnya. Seorang manusia … telanjang berbalut darah…

"Seth!" teriak Embry begitu mengenali sosok itu. Benar, tak mungkin ia salah mengenali selintas bau di balik bau anyir memabukkan itu. Itu jelas Seth. Dan dia…

Instingtif, Harry dan Clark melompat ke muka. Nyaris saja keduanya menerjang si pembawa tubuh itu—siapapun dia dan apapun yang pernah ia perbuat—ketika salakan Quil menyadarkan mereka.

Tahan! Dalam situasi seperti ini, perintah Quil memiliki kekuatan setara dengan seorang Beta. Belum tentu ia yang menyerang Seth.

Benar, timpal Pete. Jika ya, ia takkan membawa Seth kemari.

Bisa jadi ia punya maksud lain! geram Clark, masih memamerkan taringnya.

Demi Tuhan, Clark! Jika tak ada dia, kau sudah membusuk di liang kubur! seru Ben tidak sabaran.

Bukan berarti ia dan kawanannya sama sekali tidak bertanggung jawab! senada dengan Clark, Harry mencela, yang langsung disambut gonggongan dari dua serigala lain.

Cukup! seru Quil. Pete, kau masuk dan panggil siapapun—Carlisle, Caleb, Adam … siapapun! Clark, Harry, kalian berdua lekas berubah balik! Berpakaian dan ambil tandu di dalam! Jangan lupa bawakan kain bersih! Dan kau, Ben, ikut aku dan Embry!

Mengalihkan perhatian dari para serigala muda itu, ia mengangguk singkat pada Embry. Embry kelihatannya mengerti maksud Quil, karena tanpa banyak bicara, ia bergegas meluncur ke arah si Hitam. Quil dan Ben menyusul di belakangnya, masih dalam wujud serigala.

Memberi hormat guna menunjukkan bahwa mereka takkan menyerang, Embry memberi kode pada si Hitam guna memintanya menurunkan tubuh Seth. Lawannya mengangguk sekilas, lantas merendahkan punggungnya. Hati-hati Embry meletakkan tubuh itu di tanah, berjaga-jaga seandainya ada tulangnya yang retak atau patah.

Untunglah, sejauh yang bisa ia lihat, ketakutannya tidak terbukti. Tetapi tak bisa tidak, batinnya teriris melihat keadaan sang Alfa. Betapa tidak, tubuhnya dapat dikatakan nyaris hancur. Luka-luka cakar nan dalam tertoreh di mana-mana. Untung saja napasnya masih bisa teraba, meski begitu tipis dan lemah.

"Kejam…," bisik Embry. "Siapa yang melakukan ini?"

Embry menengadahkan kepala, menatap sang serigala hitam, berharap bisa mendengar jawaban. Sungguh ia mengutuk keterbatasan kemampuan komunikasi mereka dalam wujud serigala. Jika saja ada Jacob…

Tapi apa perlu ia mendengar jawabannya? Hanya ada satu kemungkinan. Para vampir bercakar … untuk ketiga kalinya…

Ia tahu seharusnya Seth segera dibawa masuk, barangkali ia masih bisa ditolong. Tetapi dengan kondisinya, sungguh riskan untuk menggendong atau menggulirkannya ke punggung salah satu serigala.

Sungguh menyesal Embry atas tindakannya menurunkan Seth tadi. Seandainya saja ia mempersilakan si Hitam menggendong Seth ke dalam… Memangnya kenapa kalau seorang serigala asing melanggar masuk wilayahnya? Sial betul, insting teritorial serigala selalu bekerja lebih cepat ketimbang pertimbangan akal sehat, bahkan pada situasi darurat sekalipun.

Dan mana itu duet si serigala-serigala sinis? Lama sekali mereka mengambil tandu…

Sundulan Quil di bahunya membuat Embry tersadar akan sesuatu yang lebih penting.

"Korra…," tak tertahan nada panik dalam suaranya begitu hal tersebut terbersit di benaknya. Jika Seth diserang, bukankah lebih wajar jika sang tunanganlah yang mengantarnya pulang? Apa Korra juga diserang? "Ia … selamat, 'kan?"

Namun, bukannya membalas, atau setidaknya memberi kode, sang serigala hitam justru membuang muka.

Embry bangkit, berusaha menangkap kembali mata bulan sabit itu. Membaca apapun yang mungkin tersirat. Tanda sekecil apapun. "Korra bagian dari kalian, 'kan? Tolong katakan kalian bisa menyelamatkannya!"

Masih tak ada reaksi.

Tidak ada jawaban ini … apakah … Korra tidak selamat?

Sumpah Embry ingin mengutuk Seth. Apa-apaan ia, pakai menghamili adik Jacob segala? Jika Korra tidak hamil, yang artinya ia takkan keguguran, mungkin Jacob takkan menghilang entah ke mana karena merasa bersalah. Mungkin ia takkan sampai tertimpa musibah itu. Dan sesudah itu, bahkan setelah Korra jelas-jelas baru saja kehilangan bayinya, si Alfa tinggi-syahwat itu masih bisa-bisanya berekreasi berdua. Tidak bisakah ia menunggu barang beberapa bulan, toh sebentar lagi juga mereka menikah? Korra mungkin masih lemah, meski Carlisle bilang kondisinya sudah membaik. Dan kawanan tengah menghadapi ketegangan tidak jelas, Demi Tuhan!

Ya, jika saja sang Alfa ada di tempat, mungkin mereka bisa menjaga tanah mereka lebih baik. Walaupun Jacob memang keluar dari kawanan, seharusnya Seth tetap bisa menangkap pikirannya. Mungkin saja Jacob meminta bala bantuan melalui jaringan antar-Alfa ketika diserang. Tapi terkutuklah Seth … bukannya menjaga tanah dengan baik dalam tanggung jawabnya sebagai Alfa, dia malah berasyik-masyuk dengan gadis di bawah umur, di luar La Push pula! Bahkan setelah muncul tantangan dari sang Ibu, apa-apaan mereka pakai pergi ke hutan? Bicara dengan Carlisle? Tak peduli betapa 'rahasia'-nya hal yang mereka bicarakan, seharusnya mereka bisa melakukannya di rumah, di tempat yang aman. Lagipula apa sih 'rahasia' yang perlu dirahasiakan sekarang ini? Pengalaman sudah membuktikan bahwa rahasia selalu membawa bencana! Dan setelah itu, mengapa mereka tidak langsung pulang, malah berlama-lama di hutan? Dia tahu hutan tidak aman!

Embry lekas menggelengkan kepalanya, berusaha menertibkan otaknya. Kejernihan pikiran adalah satu-satunya yang ia butuhkan sekarang.

Syukurlah, di saat seperti itu, terdengar derap lari dari arah rumah. Tak lain, Caleb disertai Clark dan Harry. Pete tidak ada di antara mereka, mungkin ia dipaksa menggantikan posisi Caleb di meja operasi—dan Embry tak ingin membayangkan betapa tak bergunanya makhluk satu itu di sana, atau bagaimana Carlisle bisa menahan diri untuk tak mengeringkannya karena memberikan pisau bedah yang salah atau semacamnya. Kedua serigala itu sudah berwujud manusia, dan tentu saja berpakaian.

Caleb memeriksa Seth dengan tangkas. Meski wajahnya tegang, ia terlihat tahu apa yang ia lakukan. Sedikit kelegaan membasuh Embry ketika Caleb melapor, "Masih ada harapan. Tidak ada bekas gigitan."

Itu juga berarti tulang-tulangnya masih punya kesempatan untuk pulih—terlalu jauhkah jika ia berharap demikian? Dalam rawan, diawasinya Caleb memberi petunjuk pada Harry dan Clark untuk menggulirkan tubuh Seth ke tandu.

"Tunggu," tahan Embry ketika dilihatnya si Hitam hendak berbalik, begitu tandu diangkat dan keempat pemuda itu—tiga ditambah Ben, yang tidak malu-malunya berubah di hadapan seekor betina demi menandu sang Alfa—bersiap kembali. Ditariknya lembar kain bersih yang tadinya nyaris diambil Ben untuk menutupi tubuhnya, lantas diangsurkannya ke hadapan si Hitam. "Tolong berubah balik. Ada yang ingin kami tanyakan."

Si Hitam tak segera menyambut. Dari gerak-geriknya, kelihatan sekali ia ingin menolak. Tapi matanya, anehnya, terus mengekor keempat pemuda yang bergerak menjauh. Quil tidak mengikuti, wajahnya terlihat sangat tegang. Tampaknya ia menyadari apa yang mungkin terjadi pada Korra dan ingin lekas mengendus baunya.

Tapi itu dia masalahnya. Jika Korra diserang bersama Seth namun entah bagaimana tidak terluka, seharusnya ia yang membawa Seth… Jika ia terluka tapi masih bisa selamat, sudah pasti kawanannya juga membawanya ke sini—di mana lagi mereka bisa mendapatkan pertolongan lain? Tapi jika ia mati…

Satu-satunya cara hanya mendapat keterangan dari si Hitam. Mereka tak bisa terus mengulur waktu.

"Kumohon," suara Embry makin mendesak.

Ia sudah yakin si Hitam akan menampik, ketika tanpa diduga, si Hitam justru mendekatkan moncongnya. Menyundul lengannya sedikit, diambilnya kain tersebut dari tangan Embry. Matanya memberikan tatapan yang tak bisa ia nilai, sebelum ia berbalik ke arah pepohonan.

Tak lama semak-semak kembali tersibak dan satu sosok perempuan terlahir dari sana. Rambut hitamnya terurai menutupi wajah, menjurai panjang hingga lutut. Kulitnya yang putih kekuningan tampak kontras di balik tirai hitam itu.

"Luka Kuriiwateru-sama," ia bicara dengan aksen Asia yang kental, "hanya Alfa yang bisa menyembuhkan…"

Embry tak cukup punya kesadaran untuk memprotes jawaban yang jauh melenceng dari pertanyaan yang ia ajukan.

"Maksudmu … Seth?"

"Saat ini tidak ada yang bisa menjangkau Alfa. Tapi tolong Anda sampaikan hal itu pada Kuren-sama. Semoga beliau bisa menemukan suatu cara…"

"Kuren … sama?" Siapa pula itu?

"Saya tidak bisa berlama-lama. Mohon izinkan saya undur diri," perempuan itu menghormat dan bersiap pergi.

"Tung—"

"Kuroi!" belum lagi Embry melontarkan satu kata untuk menahannya, tahu-tahu saja terdengar seruan mengisi angkasa. Satu sosok—dan yang ini bukan serigala—membelah udara dalam desingan yang nyaris tak tertangkap, bahkan dengan mata serigalanya. Dalam sepersekian detik, di hadapannya sudah menjelma sang dokter Carlisle Cullen. Satu tangannya menahan tangan si perempuan. Sang serigala hitam mendesis. Kebencian jelas terpancar di matanya, seolah ia bersusah-payah untuk tak lantas meledak dan membuntungi kepala makhluk itu.

Jadi Kuroi … itukah nama si serigala misterius? Atau hanya sebutan?

Hei, tunggu. Di mana dia pernah mendengar nama itu? Rasanya seseorang yang dekat dengannya pernah menyebutkan … dan tak hanya sekali. Apa mungkin Karen? Atau adik perempuan Karen yang selalu menatapnya dengan mata curiga itu? Atau bahkan salah seorang kawanan?

Tidak, tidak, ada yang lebih penting. Mengapa terkesan seolah vampir itu mengenal Kuroi—siapapun dia? Bagaimana bisa?

"Harap singkirkan tangan Anda," terdengar suara kaku si Hitam, "atau saya takkan ragu melanggar larangan Alfa."

"Kierra...," belum pernah Embry melihat wajah vampir yang biasanya sangat tenang itu sedemikian tegang, "... apa dia baik-baik saja?"

Apa urusannya dia menanyakan apa Kierra baik-baik saja?

Wajah perempuan itu terlihat makin keras. "Tak perlu berpura-pura peduli," sahutnya tajam. "Jika kami sampai menemukan bukti bahwa Anda sengaja…"

"Kuroi, kumohon!" seru Carlisle, kali ini terdengar sangat merana.

Ucapan selanjutnya sama sekali tak bisa Embry tangkap karena ia bicara bahasa … sesuatu. Terdengar seperti bahasa Jepang, meski ia tidak yakin. Embry pernah mengikuti kursus singkat percakapan bahasa Jepang sewaktu magang menjadi tour guide tahun lalu, tidak mahir memang, tapi seharusnya ia bisa mengerti setidaknya satu kata. Tapi yang ini … entahlah.

Jika ada yang bisa ia tangkap, hanyalah bahwa percakapan itu tegang, sangat. Dan dari sikap mereka berdua … seolah mereka memang setidaknya sudah bertemu sebelumnya. Cukup kenal untuk bisa mengembangkan rasa benci, walau tampaknya hanya dari satu pihak.

"Alfa pasti akan kembali," ucap Kuroi, mendadak kembali menggunakan bahasa Inggris. Salahkah, ketika sempat ia melihat sedikit kerlingan perempuan itu? Apakah ucapannya tak hanya ditujukan pada si vampir, tapi juga pada mereka? "Ia pasti akan mengklaim apa yang sudah ia dapatkan…"

Klaim?

"Jika kau bisa menahannya, tolong katakan…"

"Tidak ada yang bisa, dan Anda tahu itu, Kuren-sama," ucapnya. "Takdir sudah digariskan sejak awal. Ketika saat itu tiba, saya tidak bisa menjamin apa yang telah Anda perjuangkan untuk mengubahnya takkan berakhir sia-sia…"

Apa maksudnya?

"Tempat ini akan membara," nada yang ia gunakan terkesan mengancam, "dan mereka yang Anda kasihi akan terbakar di dalamnya."

Ia pikir yang judulnya vampir tak punya perasaan, apalagi takut. Tidak, ralat. Ia pikir yang judulnya Carlisle tak pernah takut pada apapun. Ia selalu bisa mengendalikan reaksinya, bukan begitu? Tapi kali ini ia salah. Salah karena sang vampir membatu, seolah Kuroi telah mengutuknya benar-benar menjadi batu. Perempuan itu menarik tangannya dari cengkeraman Carlisle, menggumamkan sebaris kata yang lagi-lagi asing, dan begitu saja, ia pergi.

"Dok?" tepukan Embry di bahunya membuat si dokter tergagap. Nah, itu aneh. "Apa ada masalah?"

Jawabannya tentu saja ya.

"Tidak," dokter itu menampakkan senyum gugup. "Aku harus segera kembali. Bisakah aku minta bantuanmu, Embry?"

"Apa saja."

"Bisakah setidaknya dua dari kalian berjaga?"

"Dalam wujud serigala? Tapi Seth bilang…"

"Scarlett takkan menyerang sebelum waktu yang ditentukan," jaminnya. "Saat ini aku mengkhawatirkan yang lain."

"Apa?"

"Tidak, tidak apa-apa," ia menggeleng. "Maaf Embry, aku harus segera masuk."

"Tunggu, Dok," tahannya. "Seth … bisakah ia sembuh?"

"Aku tidak bisa menjahit lukanya," ucap si dokter. "Di dunia ini hanya satu obat yang mungkin dapat menolongnya. Tapi aku tidak yakin ia menginginkan Seth selamat…"

Ia?

"Karena itu, Em. Jika Ki … ehm, maksudku Korra datang, apapun yang terjadi, kalian jangan mengonfrontrasinya."

"Korra?" kening Embry berkerut atas perintah yang sama sekali tak berhubungan dengan kalimat sebelumnya, tetapi satu pesan tersirat di dalamnya membuat harapannya melambung. "Maksudmu … ia selamat?"

"Jangan. Pernah. Mengonfrontrasinya," penekanan itu terasa aneh. "Panggil aku sesegera mungkin. Saat ini yang tidak kita butuhkan adalah kekerasan yang tidak perlu."

.


.

Setengah jam berlalu dan tidak terjadi apapun yang berarti. Sesuai perintah Carlisle, Harry dan Clark berjaga di luar—Embry masih terlalu khawatir untuk melepas para Black, bahkan dengan jaminan Carlisle bahwa Sang Ibu takkan mengincar mereka dalam periode gencetan senjata ini. Alasannya satu: ia tak tahu dari mana Carlisle mendapat kepercayaan itu. Sejujurnya, ia bahkan tidak yakin apa ucapan Carlisle bisa dipercaya.

Jacob berhasil sekali lagi melewati masa kritis, tapi kondisi Seth masih tidak jelas. Carlisle sudah menyerah berusaha menjahit lukanya—benang yang ia gunakan selalu luruh dan luka itu kembali membuka. Cairan merah kental terus merembes keluar, membuatnya tak hanya memerban, tetapi juga menyumpal luka itu. Stok darah Seth yang bisa ditrasfusikan sudah hampir habis. Jika terus begini, kemungkinan besar Seth akan mati karena kehabisan darah.

"Tidak bisakah kau membubuhkan sesuatu?" seru Ben tidak sabaran, melihat si dokter kelihatan tidak hendak mengusahakan apapun lagi.

"Percuma," Carlisle melempar segulung perban yang sudah basah dan merah ke tong sampah. "Racun pada lukanya akan membakarnya."

Racun?

"Brengsek Sang Ibu itu!" Ben menonjokkan tinjunya ke tangannya sendiri, begitu Carlisle mengusirnya dari ruangan yang dipakai untuk merawat Seth. Para serigala yang tengah berkumpul di ruang tengah keluarga Cullen meliriknya, tampak memendam perasaan yang sama. "Jika kita bertarung nanti, aku bersumpah…"

"Aku tidak yakin para vampir bercakar itu yang melakukannya," ucap Pete tiba-tiba. Seisi kawanan menoleh.

"Apa maksudmu bukan Sang Ibu?"

"Kalian lihat ukuran cakar itu, dan bentuknya…," ia menimbang-nimbang. "Tidakkah itu familiar?"

"Maksudmu?"

"Lebih seperti … cakar serigala bagiku."

"Serigala?"

"Tunggu," Quil menyela, "Apa maksudmu 'serigala'? Jika serigala, artinya…"

"Ya. Pelakunya adalah kawanan lain itu."

"Apa?!"

"Pemimpin mereka. Mungkin itu alasannya Korra tidak kembali. Mungkin sang pemimpin tidak menyetujui pernikahan Korra dan Seth, lantas ia menyerang Seth dan menawan Korra."

"Itu tidak mungkin!" geleng Ben. "Jika itu terjadi, seharusnya ia melontarkannya sejak awal. Mereka sudah beberapa minggu bertunangan."

"Tapi Korra selalu berada dalam wujud manusia, bukan? Mungkin ia merahasiakan hal ini dari Alfanya."

"Tapi apa alasannya dia tidak setuju?"

"Untuk menguasai Korra, mungkin? Jika Korra menikah dengan Seth, bukankah artinya ia harus melepaskan Korra dan mengembalikannya ke kawanan?"

"Mustahil…"

"Kalian dengar apa kata Carlisle. Luka Seth tak bisa menutup. Dan ia mengatakan kita harus menghubunginya jika Korra datang. Jika Korra memang ditawan Alfanya, sangat mungkin ia akan datang bersama sang Alfa. Satu obat yang ia katakan … apa mungkin itu adalah … sesuatu yang hanya bisa didapat dari Alfa Korra?"

"Tidak, tidak, tidak!" Ben masih menggeleng. "Bahkan Korra ditawan Alfa Putih adalah kesimpulan yang sangat prematur. Jika memang menginginkan Seth mati, untuk apa Alfa Putih datang?"

Tak ada yang menjawab.

"Nah," pungkas Ben. "Daripada meributkan hipotesis kosong begitu, bukankah seharusnya kita…"

"Hei," belum selesai ucapan Ben, Embry angkat bicara. Nadanya serius dan penuh pertimbangan, seakan sedang memikirkan sesuatu. "Satu hal menggangguku dari tadi. Tentang ucapan Kuroi. Tidakkah kalian merasa ada sesuatu yang tak wajar?"

"Kuroi?" kening Ben berkerut.

"Carlisle memanggilnya begitu. Si serigala hitam."

"Bagaimana Carlisle bisa… Oh, sudahlah. Bagaimana mungkin itu Kuroi? Kuroi Kanna?"

"Kau mengenalnya?"

"Tentu saja. Itu teman kami di sekolah. Anak pertukaran pelajar. Teman Korra juga kok… Tapi dia kan … berambut pendek, coklat pula. Dan ia sangat lemah. Mana mungkin dia serigala?"

"Oh? Entahlah. Mungkin itu hanya sebutan. Kau tahu, arti dari…"

"Sudahlah," bentak Pete. "Intinya, apa tadi yang Kuroikatakan, Em?"

"Bahwa Alfanya akan datang … untuk mengklaim sesuatu."

Horor yang tampak di wajah Embry terkembang jelas di wajah Pete. "Oh Tuhan!" serunya.

"Apa?" Ben makin merasa bingung.

"Tidakkah kalian sadar?"

"Apa?"

"Ia telah menjatuhkan Seth. Ia pasti datang … untuk mengklaim kita semua."

.


.

"Tak bisa tidak, kita harus menghubungi Collin," putus Quil, memecah kesunyian yang mendadak muncul sesudah kata 'klaim' itu.

"Untuk apa?" tentang Ben, "Kita sudah memutuskan untuk menjauhkan Cole dari semua ini. Aku habis dimarahi Brady ketika terakhir kali aku…"

"Ini bukan lagi masalah sepele, Ben! Alfa Putih itu pelaku penyerangan Seth! Sudah jelas ia menginginkan kawanan! Jika Seth tumbang, maka halangan berikutnya adalah Collin…"

"Collin bisa apa? Saat ini untuk berubah pun ia sulit!"

"Justru itu membuatnya menjadi sasaran empuk. Kita harus menyiagakan Brady, jangan sampai ia melepaskan penjagaan atas Collin."

"Sedang kulakukan," Pete menunjukkan ponsel Seth yang baru saja disambarnya dari nakas. "Tapi nomor Brady tidak bisa dihubungi…" Ia menurunkan ponsel itu dari telinganya untuk menekan tombol redial. "Terkutuklah Brady kalau di saat begini ia malah berasyik-masyuk dengan Cole…" Melihat mata memicing kawanan, ia mengangkat bahu. "Apa? Siapapun tahu mereka punya semacam chemistry... Dan sekarang setelah Korra bertunangan…"

"Pokoknya," Quil berdehem, mencegah pembicaraan berkembang menuju arah yang tidak penting. "Katakan pada Brady untuk bersiaga. Mungkin lebih baik jika aku mengambil truk untuk menjemput Cole dan Brad. Lebih mudah mengawasi Cole di sini, tempat lebih banyak serigala berkumpul."

"Oh, dan jangan lupa untuk menghubungi Sam," tambah Embry, selangkah lebih maju ketimbang yang lain. "Josh ada di sana, ia bisa menjadi jembatan antara kawanan kita dan Sam. Jikalau memang Alfa Putih menyerang La Push…"

"Tunggu," sergah Ben. "Apa-apaan ini? Mengapa kalian memperlakukan mereka sebagai musuh lagi? Aku bisa mengerti jika itu datang dari Harry atau Clark. Tapi kalian?" Ia mengalihkan pandangan pada Pete dan Embry, memasang mata memelas. "Ayolah, Guys… Jangan sampai kita malah memperuncing permusuhan…"

"Ini bukan memperuncing permusuhan, Ben," ucap Quil tegas. "Ini namanya mempertahankan kedaulatan. Jika para Black habis…"

"Justru itu! Korra bagian dari mereka. Jika kedua kawanan bermusuhan, apa yang akan terjadi pada Korra?"

"Anggap begini, Ben," Embry menengahi. "Jika memang mereka menawan Korra, kita bisa merebutnya kembali."

"Itu maksudku. Terlalu banyak 'jika'!"

Erangan Ben, bagaimanapun, terhenti ketika terdengar lolongan serigala membelah angkasa. Harry. Keempat pemuda yang ada di dalam terhentak. Entah ketakutan, atau akumulasi ketegangan yang meningkat dalam detik demi detik berjalan, memenuhi udara seketika itu juga.

"Tenanglah," Embry berusaha menaikkan moral kawanan. "Ia tidak terdengar terluka atau semacamnya. Mereka mungkin hanya menemukan sesuatu yang mencurigakan. Belum tentu…"

Ia tidak menyelesaikan ucapannya dan memang tidak perlu. Tiada yang bisa dibodohi. Lolongan selalu menjadi tanda bahaya.

Dalam keadaan itu, Quil adalah yang pertama berhasil mengumpulkan keberaniannya dan berdiri. "Entah itu Sang Ibu, atau Kierra, kita akan mempertahankan tanah kita!" serunya. Tanpa menunggu perintah Embry, bak seorang Black sejati, ia segera meluncur keluar. Berdecak, Embry mengikutinya, disusul Ben dan Pete.

.


.

Ada apa, Harry? panggil Quil begitu kaki serigalanya menjejak tanah.

Kami menemukan bayangan seseorang—sesuatu—di hutan, lapor Harry, kelewat tegang hanya untuk fakta sekecil itu. Tanpa diminta, bayangan sosok yang tadi dilihat Harry terpampang di benak kawanan. Sama sekali tidak jelas, baik bau maupun rupanya. Hanya ada kelebatan sosok berkulit gelap, dengan warna rambut yang tak biasa—terlalu terang untuk disebut pirang, entah itu rambut beruban atau malah hasil bleaching. Tapi dari gerakannya…

Vampir, nilai Pete.

Entahlah, Pete, aku tidak yakin, nilai Embry, mengendus udara. Tidak ada jejak bau manis dalam radius 1 km.

Hibrida? usul Ben.

Jika itu memang hibrida, pastinya dia bukan Sang Ibu, pikiran Pete makin tegang. Dan itu berarti musuh baru…

Apapun, kita tak boleh melonggarkan penjagaan. Clark, tegakkan dirimu dan jangan berpikir macam-macam. Itu tujuan mereka dengan semua teror ini: menciptakan kegentaran dan membuat kita lemah. Sekarang kau yang paling dekat dengan rumah. Lari dan hubungi Sam. Embry, kau dan aku akan berusaha mengendus jejaknya. Sekecil apapun, ia pasti meninggalkan jejak. Dan kalian berdua," ia menujukan kalimatnya pada Ben dan Pete, "Bentengi rumah Cullen. Hal terakhir yang kuinginkan adalah makhluk ini—siapapun dia—lepas dari kita dan membahayakan para Alfa.

Tak ada yang mempertanyakan perintah Quil—atau bagaimana ia mendadak mengambil alih kepemimpinan sementara dari tangan Embry. Bahkan Embry pun menerima saja dan mengangguk, lantas meluncur mengikuti sahabatnya menembus hutan, mengikuti arahan Harry.

Belum sampai satu kilometer mereka berlari ketika hidung Embry mengendus sesuatu.

Bau manis, ujarnya tegang. Dan bukan bau manis biasa. Ini … disaputi bau darah … dan racun.

Brengsek! maki Quil, menyadari kelengahan kawanan belakangan. Bahkan seandainya Sang Ibu memberlakukan gencetan senjata, bukankah mereka membawa banyak pasukan vampir, yang artinya perlu diberi makan? Demi menjaga keselamatan mereka sendiri, lantas mereka mengabaikan tanggung jawab dalam menjaga tanah mereka dan nyawa masyarakatnya. Tidakkah itu sangat pengecut dan egois?

Lebih parah lagi, karena mereka percaya bahwa tugas tersebut telah ditangani oleh para serigala di luar kawanan mereka. Sam, Jared, dan Paul pasti menjaga tanah Quileute … sedangkan wilayah Cullen dijaga oleh para serigala asing. Di sini pertanyaannya: dari mana mereka bisa sebegitu yakin? Apakah sempat ada serah terima tugas secara resmi atau semacamnya? Jika benar begitu pun, serigala-serigala tersebut tak mereka kenal dengan baik dan belum jelas keberpihakannya! Bagaimana mungkin mereka bisa sebodoh itu? Di mana mereka meletakkan status sebagai 'pelindung La Push'?

Dan kini, sebagai pengganti nyawa mereka, nyawa manusia telah dikorbankan.

Bau manis itu makin tajam menusuk dalam tiap langkah. Dan sungguh hati mereka serasa mencelos, ketika tampak sepasang kaki mencuat di balik segerombol semak.

Tidak, itu bukan kaki manusia, Quil adalah yang pertama mengatasi kengeriannya sendiri dan menyadari keanehan dari kaki itu. Masih memasang kewaspadaan tinggi, ia maju, mengitari semak untuk memeriksa.

Namun, begitu menyibak semak tersebut, didapatinya kenyataan berlainan dari apa yang mereka duga.

Vampir? bisik Embry. Ada ketidakpercayaan membalut suaranya.

Ya, yang hadir di hadapan mereka sama sekali bukan mayat manusia. Tapi bukan pula mayat vampir yang biasa.

Oh, kawanan telah begitu sering melihat mayat vampir, beberapa di antaranya malah merupakan hasil kerja mereka sendiri. Hanya ada dua cara menghabisi vampir—dipereteli atau dibakar, lebih sering kombinasi keduanya—dan para serigalalah yang menjadi penyebab utama minimnya populasi vampir di kawasan ini. Tapi tak pernah sekalipun mereka menyaksikan hal seperti ini.

Mayat itu tidak termutilasi, apalagi hangus terbakar. Kulitnya yang pucat menandakan tak ada setetespun darah di tubuhnya, sehingga sekali lihat, mungkin Embry bisa saja salah mengenalinya sebagai mayat manusia sungguhan. Namun cakar di ujung jemarinya, serta tubuhnya yang dingin dan beku menandaskan bahwa ia bukan manusia. Keganjilan terlihat dari keberadaan retakan-retakan muncul di sekujur kulitnya yang terbuka. Mulutnya separuh menganga, matanya hitam pekat dan kosong … meninggalkan ekspresi hampa seolah jiwanya telah disedot keluar. Tapi tak ada yang lebih mengerikan ketimbang tenggorokannya yang koyak dengan luka terbuka sangat besar, seolah sesuatu—atau seseorang—telah merobeknya paksa.

Apa yang mampu menembus permukaan batu terkeras di dunia? Hanya ada dua : gigi tajam sesama Makhluk Dingin atau taring serigala. Tapi luka itu jelas bukan disebabkan oleh Makhluk Dingin—cabikan yang terpampang di sekeliling luka menunjukkan bahwa pelakunya menggunakan sesuatu yang tak hanya tajam, tetapi juga runcing. Tapi luka itu terlalu kecil untuk sobekan yang disebabkan oleh taring serigala.

Jadi … apa … siapa yang melakukan ini?

Mengapa ketimbang teknik mutilasi yang lebih wajar, ia justru menyerang tenggorokan sang vampir? Jika pelakunya adalah sesama vampir, mengapa ia menyerang dari bagian depan? Bukankah vampir biasanya lebih menyukai serangan dari belakang, dengan menggayuti tubuh lawan dan menyerang leher bagian samping?

Dan yang lebih penting: siapapun dia, di manakah ia berpihak?

Jika ia menyerang vampir, bukankah seharusnya mereka bisa berharap bahwa ia adalah kawan? Tapi mengapa ia merasakan suatu firasat buruk?

Kita harus menyisir lokasi ini, putus Quil.

Tidak apa, kami akan tetap berhati-hati, ucap Embry, demi didengarnya protes sebagian kawanan—dan tuntutan Ben yang memaksa ingin ikut serta. Kalian lakukan saja tugas kalian. Jika butuh bantuan, kami akan memanggil.

Tak lagi menghiraukan rengekan Ben, serigala abu-abu itu lekas meluncur menembus hutan, mengekor Quil yang berusaha mengikuti arahan Harry dalam kepalanya.

.

Belum sampai separuh jalan ketika hidung Embry mulai mencium sesuatu yang lain. Bau amis darah bercampur manis racun, ya… Tapi kali ini disaputi bau lain yang … tidak bisa dijabarkan.

Sekitar 1 km barat daya titik hijau, nilai Embry. Arah setengah 8, ia kembali mengendus untuk mempertegas, 228 CW.

Brengsek, maki Quil, demi otaknya berupaya memetakan titik itu dalam peta imaginer di kepalanya. Satu kilometer dari titik penampakan si sosok asing yang dilihat Harry, 228 derajat searah jarum jam… Bukankah itu…

Ya, pikiran Embry makin tegang. Ia mendekati La Push. Dan baunya bergerak … sangat cepat.

Lolongan Quil segera memenuhi udara. Dua kali. Diikuti teriakan perintah langsung ke kepala seluruh kawanan.

Putar arah! Tinggalkan pos! Sergap makhluk itu sebelum mencapai La Push!

Kali itu tak ada pertanyaan. Tak ada penolakan. Bahkan pula tak ada pertimbangan. Tanpa perlu dikomandoi lagi, bagai anak panah dilepaskan dari busurnya, para serigala melesat menembus ruang.

.


.

TRAKKK!

Cangkir melamin yang baru saja diisi air panas di tangannya mendadak retak. Refleks, si empunya cangkir menyerukan kata-kata makian, demi air itu tak hanya menyiram tangannya, tetapi juga tubuhnya. Masih untung ia belum memasukkan kopi yang sedianya akan ia seduh. Bukan soal kulitnya akan melepuh yang ia khawatirkan. Bisa ia bayangkan istrinya akan mengomel tinggi rendah, jika noda kopi itu berbekas di T-shirt-nya yang masih baru, hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.

Justru saat itu terdengar suara ribut berkeresak dari gerombolan pepohonan di sisi timur rumah. Baru saja ia menaruh cangkir retak tadi dan keluar rumah untuk memeriksa, teriakan panggilan seseorang sudah menggema. Ketika ia menoleh, tampak seorang pemuda yang ia kenal berlari mendekat dari arah hutan, tanpa busana.

Ia tak punya waktu untuk menggerutu—tidak kala dirasakannya kepanikan dari suara itu. Lekas dibukanya pintu belakang. Tanpa dipersilakan, juga tanpa berusaha menutupi apa yang harus ia tutupi, si pemuda tidak sopan itu menyelonong masuk. Ia bahkan tak memedulikan pekik kecil Emily dari ambang dapur—yang segera menutup sekat dan pergi dengan wajah merah padam.

"Ada apa, Clark?" tanya Sam dengan suara berwibawanya yang biasa.

Di sela-sela napasnya yang terengah-engah, si pemuda menjawab, "Siaga… Mayat… Vampir..."

Mendengar kata 'mayat', insting Sam langsung awas. "Maksudmu ada serangan lagi? Warga sipil?"

Seharusnya itu bukan lagi urusannya, sungguh. Tidak seharusnya juga Clark melapor padanya. Tapi bagaimanapun, kebiasaan lama sukar diubah.

"Tidak. Vampir… Cullen…"

"Katakan yang jelas!" bentak Sam. "Apa para Cullen tolol itu kelepasan memakan orang?"

"Bukan," Clark menarik napas panjang untuk mengembalikan ritme jantungnya yang tidak stabil—aneh sekali, bukankah serigala tidak seharusnya kelelahan hanya karena berlari beberapa kilometer? "Kami menemukan mayat vampir di tanah Cullen."

"Mayat vampir?" kerut di kening Sam makin tajam.

"Dan tidak wajar. Andai aku bisa menunjukkan padamu, Sam," ia bergidik. "Sekujur tubuhnya retak-retak… Dan tenggorokannya … tercabik. Anehnya, anggota tubuhnya utuh. Aku tak pernah melihat yang seperti itu."

Simpul-simpul ketegangan di wajah dan gestur Sam mengendur. "Aku yakin tak ada yang patut kalian khawatirkan," ucapnya. "Korban di sini adalah vampir. Mungkin si Alfa Putih…"

"Masalahnya itu jelas bukan pekerjaan serigala! Aneh sekali jika Sang Ibu melakukannya pada anak buahnya sendiri. Yang berarti ada makhluk lain, yang tidak kita kenal dan sangat berbahaya, berkeliaran di hutan. Dan Korra … menghilang… Bukan aku peduli padanya," Clark buru-buru menganulir bayang kekhawatiran dalam suaranya, demi melihat sebelah alis Sam terangkat. "Tapi jika Seth bangun dan mendapati tunangannya sudah jadi mayat..."

Bukan konteksnya, tapi satu detail dalam rentetan kalimat koreksi Clark yang membuat kening Sam kembali berkerut. Instingnya, pun pengalamannya menghadapi berbagai masalah dalam beberapa bulan ini, membuatnya merasakan sesuatu yang salah.

"'Bangun'?" tanyanya. "Memang ada apa dengan Seth?"

"Kau belum tahu?" kali ini kening Clark yang berkerut. "Kupikir entah Quil atau Embry pasti mengatakannya padamu."

"Selain jatuhnya Jacob, aku belum mendapat laporan apapun," Sam melipat tangannya di depan dada, menampakkan sikap otoritatif seorang Alfa. "Jelaskan!"

"Seth diserang. Serigala hitam membawanya ke rumah Cullen. Ia hancur dicabik-cabik, tapi untungnya masih bernapas."

Lagi? "Tapi bukankah Korra bersamanya?" Kalau tak salah, begitu 'kan yang ia dengar dari Josh kemarin? Itu memang kemarin, tetapi setelah Jacob diserang, mana mungkin Kierra meninggalkan tunangannya sendirian?

"Itu yang berusaha kukatakan dari tadi, Sam!" Clark tampak putus asa. "Dan setelah serangan itu, Korra menghilang! Aku tak tahu pelakunya Sang Ibu atau si Alfa Putih, atau malah si makhluk asing tak dikenal itu. Intinya kita menghadapi kemungkinan ancaman dari tiga arah sekaligus, tepat di saat posisi pemimpin kosong."

Tiga arah?

"Karenanya aku diutus untuk memintamu menjadi benteng. Embry dan yang lain sedang mengejarnya sekarang. Jika kita bisa mengepung dan menggencetnya dari dua arah sekaligus…"

"Tunggu. Apa maksudmu menggencet? Kalian mengejar siapa?"

"Si makhluk tak dikenal itu, tentu saja! Embry mencium baunya tadi. Ia habis makan—bau darah manusia bercampur racun, tak salah lagi—dan menuju kemari."

Bukan Sam jika tak lekas tanggap mencerna situasi. Bayang pertimbangan sekilas muncul di wajahnya sebelum ia mengangguk dan bicara mantap, "Baik. Terima kasih telah menginformasikan keadaan padaku. Sekarang kau kembalilah pada kawananmu dan pulang ke tanah Cullen. Jika ia memang menyerang, katakan pada Embry bahwa ia bisa memercayakan keamanan La Push pada kami."

"Tapi…"

"Dengar, Clark," ujar Sam serius, memusatkan seluruh pandangan pada pemuda itu. "Tak ada koneksi antara dua kawanan selama tak ada Alfa, kau paham betul hal itu, 'kan? Walau Black, baik Quil maupun Ben tidak cukup kuat untuk mengambil alih kepemimpinan. Jika Embry seorang Uley, itu berarti malah ia tak punya hak sama sekali. Saat ini yang memiliki hak hanyalah Korra dan Collin, dan kau tahu keadaan mereka berdua. Jika kita memaksakan diri bekerjasama, bukannya membantu, kita hanya akan jadi bulan-bulanan."

"Tapi kita tak tahu kekuatan musuh yang ini! Kata Embry, Josh bisa menjadi penghubung…"

"Prajurit biasa seperti Josh takkan mungkin jadi medium antarkawanan, Embry seharusnya tahu itu," jawab Sam dengan nada menggurui. "Lagipula bukankah kalian harus bersiaga di tanah Cullen? Bagaimana jika makhluk itu hanya umpan untuk menjauhkan kalian dari rumah Cullen? Sang Ibu bisa saja melanggar perjanjian gencetan senjata dan menyerang saat benteng kosong."

Kata-kata Sam membuat Clark tersadar. Mantan pemimpin mereka ini memang selalu bisa menimbang persoalan secara menyeluruh. Dalam diam ia mengangguk.

"Jelas? Kembali ke bentengmu!"

Perintah Sam dilontarkan tanpa gaung Titah Alfa, tapi itu tak mengurangi kewibawaan maupun efeknya pada mantan bawahannya. Dengan sikap siaga bak prajurit sejati, Clark menegakkan tubuh, lantas bergegas keluar rumah.

Sebelum meninggalkan pekarangan belakang kediaman Uley ke arah hutan, sempat dilihatnya seorang serigala coklat keluar dari balik hutan di sisi lain rumah dan berubah balik. Clark sempat melambai, tapi entah tak peduli atau memang tak melihat, Jared sama sekali tak membalas. Tergesa betul ia menaiki undak-undak tangga, menemui Sam yang menunggu di beranda. Keduanya tampak berbincang dengan roman serius, walau Clark tak bisa menangkap isinya. Tampaknya Sam menyadari ia memperhatikan, karena ia menoleh pada Clark dan mengibaskan tangan menyuruhnya segera pergi.

Menggigit kebingungannya mengapa bukan Sam yang berubah dan memberi instruksi pada kedua anak buahnya yang jelas-jelas tengah berjaga, Clark melompat mengambil wujud serigala dan menghilang ke balik hutan.

.


.

Pepohonan tampak pudar di sekeliling mereka ketika mereka mengejar, hampir melayang, hampir tidak menapak tanah, mengikuti jejak bau-bauan di udara.

Seekor lintah bergerak di balik pepohonan. Berlari dalam kecepatan yang mengagumkan.

Perempuan, nilai Ben ketika berhasil menangkap bayangan makhluk itu. Kulit gelap, baju putih, rambut putih pendek. Tinggi sekitar 155 cm.

Sesuai dengan deskripsi Harry, geram Quil. Jangan lepaskan dia!

Pete menyerang tepat kala lintah betina itu berbelok ketika menemui dinding cadas tinggi. Namun lintah itu menghindar pada saat yang tepat, dan justru membuat tubuh Pete menghantam cadas dengan keras. Terdengar jerit perih Pete ditingkah geram marah kawanan. Dan lintah itu bahkan tidak berbalik, tidak menengok sedikitpun, ketika melayang memanjat cadas dengan mudah.

Pete, kau tak apa? jerit Ben panik. Terdengar emosi dan kesakitan Pete, tetapi ia tidak apa-apa. Hanya perubahan kedudukan sendi minor yang hanya perlu diperbaiki sedikit, tinggal menunggu penyembuhan alamiahnya bekerja.

Kita butuh rencana! pikiran logis Harry menghentak kawanan.

Benar, akur Embry. Kita harus mengepung iblis itu. Ada usul?

Mereka berlari mengikuti sisi horizontal cadas, mencari jalan alternatif. Tidak ada cara lain. Serigala tidak bisa memanjat.

Hei, aku tahu tempat ini! seru Ben tiba-tiba. Kalian ingat? Kita pernah berlatih teknik pengepungan di dekat-dekat sini dengan Collin!

Benar! sambut Pete. Ayo kita coba teknik itu!

Tapi dari kelompok Collin, di sini hanya ada kalian berdua, Harry kelihatan tidak setuju. Kami yang lain tidak bisa mengikuti…

Tidak apa, Quil terdengar siap melompat. Adam saja bisa menyesuaikan. Mengapa kita tidak? Jelaskan, Ben!

Cadas ini akan bersambung ke ngarai dua kilometer ke utara, dekat sungai kecil. Di timur laut, ada benteng cadas lain yang masuk ke dalam wilayah Quileute, Ben mengirimkan gambaran tempat itu ke seluruh kawanan. Rencananya sederhana: pancing supaya ia terjebak di batu besar, titik X 500 meter arah barat benteng cadas. Kita harus berpencar untuk menggiringnya, lantas mengepung di titik itu.

Tapi bagaimana caranya? Ia pasti akan memanjat! Pertanyaan Harry, bagaimanapun, adalah pertanyaan sebagian besar kawanan. Namun, Ben justru tersenyum.

Justru di situ tantangannya!

Ben mengirimkan gambaran lengkap rencananya pada seluruh kawanan. Pete dan Quil menambahkan beberapa detail. Embry dan Harry sedikit mengoreksi beberapa kelemahan rencana, lantas Ben kembali mengembangkan beberapa alternatif. Dan akhirnya ketika rencana itu sudah final, mereka berpencar ke titik yang sudah disepakati.

Oke, kita mulai. Posisi kapten serangan kuserahkan pada Ben, amanat Quil menggema dalam benak kawanan. Kali ini, bahkan Harry pun tak berani memprotes.

Di ujung ngarai kembali mereka mencium bau lintah itu. Kali ini takkan ada kesalahan lagi. Ben meneriakkan kembali strateginya, memastikan rencananya sempurna.

Tepat di dekat sungai ketika Quil tidak hanya mengendus, tetapi juga menangkap sosok lintah itu. Ia mengejar. Punggung lintah itu melenting ketika ia melompat menghindari kejaran Quil, tetapi kali ini Quil sudah memperhitungkan segalanya. Ia melakukan manuver tepat waktu, menghadang si vampir. Memaksa si vampir berbelok ke timur. Sekilas dilihatnya rambut putih vampir itu. Dan tubuh langsingnya kala melenting indah menghindari terkaman keduanya.

Dia ke arahmu, Ben! seru Quil.

Aku akan mengoper ke Embry. Embry, siap di posisi! teriak Ben.

Dia berubah arah! teriak Embry, kala ia melepaskan lintah itu tidak jauh dari sungai.

Jalankan Rencana Cadangan F. Giring pada Pete. Harry, siap jadi sayap tambahan di titik E 90.6, 5.473

Brengsek, apa itu titik W 273.2, 5.473? maki Harry.

Barat, 273.2 derajat arah putaran jarum jam, 5 kilo 473 meter dari titik X.

Kalian mengapa membuat sistem yang sulit sih? komplain Harry. Pakai saja posisi pasti berdasarkan garis bujur dan lintang!

Tidak semua dari kita bisa membaca lokasi berdasarkan garis bujur dan lintang, Harry.

Tidak semua dari kita punya radar GPS untuk menentukan posisi dengan patokan suatu benda antah berantah!

Oh Tuhan!

Inilah menyusahkannya jika tidak ada sang jenderal lapangan dan mereka harus bekerjasama dengan serigala di luar regu tugas yang biasa. Di mata sebagian besar kawanan, The Gossip Guys memang kelompok remaja berisik yang hobinya cuma menggosip dan menggoda orang lain. Tetapi di luar itu, mereka adalah kesatuan yang kompak dengan sistem kerja yang rapi dan saling mendukung. Apalagi di bawah pimpinan Collin, yang kekuatan dan kemampuan kepemimpinannya diakui oleh Jacob sendiri.

Oke, cukup, lerai Embry. Kita buat acuan berdasarkan posisi tiap orang yang berjaga di pos masing-masing. Kau bisa, Ben?

Pikiran Ben ricuh sesaat, antara ingin mengutuki Harry dan mempertimbangkan saran Embry. Solusi itu memang jauh lebih sulit. Tapi akhirnya ia setuju.

Bagus, lanjutkan!

Oke, Ben menarik napas panjang dan memusatkan pikirannya guna menilai lokasi kawanan. Harry, titik E 90.6, 850.

Apa pula itu?

Kau tinggal bergerak 850 meter ke arah timur dari tempatmu sekarang, Bodoh!

Sulit memang menjadi kapten saat para prajurit yang ia bawahi belum terbiasa dengan sistem yang diberlakukan. Walau menggerutu, antara kesal harus beradaptasi dengan cepat dengan sistem rumit itu, dan kagum akan kemampuan Ben menilai posisi, Harry melesat juga ke titik yang ditentukan. Namun belum lagi sampai, ia sudah berteriak, Wow, dia berubah arah lagi!

Oke. Jalankan Rencana D. Dia meluncur ke titik N 19. ke Embry. Embry, oper ke Quil. Quil, geser arah ke N 34.1. Harry, siap jadi sayap tambahan di E 78.3. Kalian berdua giring ke Pete. Pete, maju ke S 172.9.

Siap, konfirmasi Embry dan Pete bersamaan.

Oke, berhasil. Mangsa menuju ke arahmu, Ben, seruan Pete berkumandang.

Bagus, sekarang final. Siap di posisi. Jalankan Rencana A.

Siap! seru semua berbarengan.

Mereka tengah berkonsentrasi menggiring sang lintah, berusaha menjauhkannya dari tebing dan mengepungnya di tempat yang tak memungkinkan baginya untuk kabur, ketika mendadak Embry menangkap selentingan bau di udara. Bau yang asing … tapi juga … terasa familiar…

Seperti bau yang pernah ia tangkap…

Bau serigala yang…

Apa, Embry? Serigala lain? Ben berteriak panik.

Tidak masalah, Embry menggeleng kasar guna mengenyahkan bayangan yang selintas mencuat di kepalanya, berikut kecurigaan yang menyertainya. Tetap jalankan rencana!

Embry sudah siap di posisi ketika lintah itu bergerak dari arah selatan. Menyengajakan diri mengaum keras sebagai tanda serangannya, ia menerjang. Si vampir berhasil berkelit, namun itu dia tujuannya: memaksanya si lintah bodoh itu bergerak ke timur laut. Pada saat yang bersamaan ia merasakan Quil, Pete, dan Ben meluncur dari arah yang berbeda, menuju ke titik yang sama.

Tikus masuk ke dalam perangkap! seru Ben, menangkap bayangan si lintah—yang lepas dari terkaman palsu Quil—berusaha melarikan diri ke selatan, tempat yang sudah dijaga oleh Pete dan Harry. Pojokkan di Titik X!

Sesuai komando Ben, para serigala meluncur menuju posisi masing-masing, membentuk benteng melingkar dalam radius 800 meter dari titik yang ditentukan. Lantas, dengan satu perintah, bak anak panah melesat dari busurnya, para serigala menerjang melintasi ruang kosong di antara jejeran rapat pepohonan. Langsung menuju satu arah: titik pusat lingkaran. Si makhluk yang mereka kejar sudah pasti mencium kehadiran dan memprediksi arah serangan mereka, tapi tak ada jalan keluar lain.

Strategi mereka sempurna. Perhitungan mereka sempurna. Gerakan mereka sempurna. Makhluk itu sudah jadi babi panggang bahkan sebelum langkah penghabisan dijalankan.

Itu, sebelum mendadak—sangat mendadak—satu sosok besar berbulu coklat keabuan melintas dengan kecepatan tinggi, langsung memotong jalur target.

Baik para serigala maupun makhluk yang mereka kejar sama-sama kaget oleh intrusi yang sangat tiba-tiba itu. Embry meneriakkan perintah agar seluruh pasukan berhenti berlari di jalur mereka dan mengubah haluan—tapi sia-sia. Terlambat ketika Harry—yang sejak awal juga agak sulit mengendus posisi serigala lain, bahkan rekan sejawatnya sendiri—meluncur keluar dari tudung pepohonan dan menyadari keberadaan si serigala tak diundang itu. Kecepatannya melewati batas maksimal, kakinya nyaris tak menapak, hingga upaya apapun yang ia perbuat dalam jeda kurang dari sedetik untuk mengurangi laju percepatannya mustahil dilakukan. Tak perlu sedetik, atau lebih dari satu gerakan, hingga seluruh rencana yang mereka susun rapi buyar berantakan. Dengan suara berdebam keras, Harry menabrak sosok itu, disusul Quil, dan Embry, dan Ben…

Para serigala berjatuhan di lantai hutan, saling tumpang tindih, saling bergulung. Tanah terlunyah tanpa hasil. Batang-batang semak patah tanpa makna. Beberapa pohon hancur tertimpa tubuh-tubuh raksasa. Cakar-cakar menggores udara tanpa sasaran, sebagian justru mengenai kawan sendiri.

Di tengah geram dan makian kawanan, terdengar derai tawa merdu makhluk sial itu. Dan—sebelum kawanan sempat bangkit untuk menyerbunya—dengan ringan ia melompat, memanfaatkan tubuh-tubuh serigala yang bergelimpangan sebagai pijakan untuk meraih cabang pepohonan terdekat dan menghilang ke balik kelam.

Brengsek kau, Clark! Harry, yang akhirnya menyadari siapa yang ia tabrak tadi, berhasil bangkit dari tindihan entah-siapa dan mengibaskan tubuhnya dengan kasar. Kau merusak rencana!

Maaf, bisik Clark gemetar dengan telinga menempel rapat pada kepalanya, demi untuk pertama kalinya merasakan kemarahan sahabat karibnya itu. Aku tidak sengaja. Aku … aku…

Cukup, lerai Embry. Kembali fokus pada pengejaran! Ada rencana, Ben?

Namun ia tidak mendapat respon sama sekali.

Ben?

Perhatian Embry, beserta seluruh kawanan, lekas teralih pada si kapten serangan. Sempat satu sisi hatinya mencelos, membayangkan kejadian buruk yang mungkin menimpa. Namun Ben tak kurang suatu apa. Ia hanya berdiri mematung dengan pandangan kosong. Kepalanya menoleh ke kerapatan pohon di selatan, tempat si makhluk tadi menghilang.

Ben! panggilnya lagi.

Hah! Ben tergagap. Ma-maaf… Apa?

Di tengah gerutuan dan helaan napas anak-anak yang kesal dengan kekurangkonsentrasian Ben, Embry merasakan selintas pikiran ricuh serigala muda itu. Sesuatu yang ia berusaha enyahkan—atau pendam.

Ia memutuskan tidak memedulikannya dan fokus pada apa yang ada di depan mata.

Rencana baru.

O–oh… Mmm … kita … kurasa kita…, ucap Ben ragu-ragu, suaranya agak bergetar. Ehm, lupakan saja pengejaran ini…

Apa?! seru anak-anak bersamaan.

Dia … menyerang vampir…, sepertinya memang kepala Ben terbentur keras. Biasanya ia tak pernah takut pada apapun, atau memikirkan suatu tantangan dua kali. Kerugian tidak ada di pihak kita. Kurasa.…

Omong kosong! bentak Harry. Kau sudah sepakat bahwa ia sama berbahayanya dengan vampir-vampir lain, bahkan lebih. Kita tidak butuh ancaman baru!

Benar, akur Quil. Ada ide lain?

Ya, Harry lekas menyambar kesempatan. Strategi yang dikembangkan Collin dan kelompoknya selalu sama: kejar, kepung, dan pojokkan di cadas. Padahal justru itu kelemahan utamanya: mereka pasti lolos dengan memanjat, nilainya dengan nada mengejek, melihat Ben yang biasanya petentengan malah mendadak ciut nyalinya hanya karena satu kegagalan. Kita harus mengepungnya di tempat yang jauh dari cadas atau pepohonan, Embry. Ia menujukan kalimatnya langsung pada sang serigala dengan strata tertinggi di kawanan, seakan menggarisbawahi bahwa di saat seperti ini, Embry tak seharusnya mengalihkan wewenangnya pada serigala lain, bahkan walau ia Black sekalipun. Padang rumput atau tanah lapang yang luas. Cuma itu satu-satunya jalan agar ia tidak kabur.

Oke, tanggap Embry cepat, berusaha mengabaikan dengung kesal sebagian kawanan mendengar kalimat Harry. Ingat padang rumput gersang tempat waktu itu kita menyerang seekor vampir kulit hitam? Si rambut rasta yang punya nama Prancis itu? Kenalan Bella?

Ya tidak lah Em…, jawab anak-anak serempak yang membuat Embry nyaris menempeleng dirinya sendiri. Tentu saja. Bahkan Quil saat itu belum masuk kawanan.

Yang ini, lho, ia menayangkan kilas bayangan wajah si vampir itu. Yang tidak terlalu jelas, sebenarnya, mengingat ia hanya punya kesempatan melihat barang satu-dua detik sosoknya sebelum habis dalam terkaman keroyokan Sam dan Jacob.

Em, kita tidak butuh wajah si Lauren, Lorena, Laurant, Laurent, Loreng… siapalah itu, potong Quil tidak sabar. Padang rumput di tanah Cullen, kan? ia memfokuskan pikirannya pada latar adegan itu, dengan mengesampingkan adegan yang—menurut penilaian subyektif Embry—sangat heroik itu.

Strategi kepung-terkam di tanah terbuka, 'kan? Oke, itu mudah! seru Harry, saking bersemangatnya sampai nyaris melompat lima meter ke udara.

Baik. Biar aku yang memimpin serangan, Quil maju ke muka. Kali ini takkan mungkin gagal!

Para serigala mengumandangkan lolongan perang. Didahului sang komandan, satu per satu berlari menuruti arahan Quil. Kobaran api semangat menuntut balas—dan dendam—menggelora menjadi bahan bakar energi mereka.

Semua, kecuali satu.

Dan sempat, dari benak Ben yang kisruh, Embry menangkap satu nama.

Korra…

.


.

catatan:

heyya semuaaaaa...

7 bulan baru apdet, rekor terlama juga nih hiatus... parah banget. Maafin ya para reader tercintah, sumpah belakangan ini kesibukan RL parah banget... Tapi akhirnya kelar juga ni chapter... TT^TT

terus terang chapter ini udah menggelembung (7381 words, 7424 setelah diedit), geje pula. Aku udah nulis bagian terakhir (yang pengejaran) dari entah kapan (mungkin akhir 2012/awal 2013 deh, pas aku baru nulis ceritanya) dan pemeran utama adegan itu Collin. Sesuai perkembangan cerita, aku ga bisa nampilin Collin deh, dan aku ganti jadi Ben. Aku berusaha pas-pasin karakternya, tapi tetep aja ada yang ga pas. Biar gimana ga ada yang bisa nandingin keberanian dan kecerdasan, sekaligus kengasalan Cole dalam memimpin. Tambah lagi, kadar dramanya jadi berkurang... Hixxxx

Makasih buat yang masih mau nunggu. Rhie (yang sampe nagih 2x hahaha),Tamjake, SelfQuill, Yera20ciemutt, Wahdaline, Skyesphantom, Veronica Heredia Nequam, AyuAnggraini, qunnyv19, AconitumFerox, dan mungkin yang ga kesebut... Thx berat. Spesial buat Kukuh, thx untuk jadi pembaca pertama pas draft. Di sini yang bolong2 aku isi, tapi aku masih ngerasa ga pas sih... Sori hasil chap ini agak mengecewakan (dan aku masih belum bisa nulis kata 'TAMAT' ato 'Bersambung ke Season 2') Mohon bantuan dan semangatnya untuk chapter berikutnya yaaa...

Oke. Bubbay...

Dan seperti biasa, R&R?