THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Based on Twilight Saga by Stephenie Meyer
.
.
Delapanpuluh enam - Takluk
Monday, June 15, 2015
05.18 PM
.
.
Carlisle membeku ketika ia membuka pintu, dan dilihatnya—tak lain tak bukan—pria itu.
"Sam?" kening sang vampir berkerut, seolah itu mungkin. "Mengapa baumu…?"
"Berubah?"
"Nyaris seperti … bau tanah."
"Bau busuk bangkai, maksudmu?" Melihat wajah prihatin Carlisle, ia hanya menampakkan senyum kecut. "Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak ke sini untuk membicarakan itu. Sudah dengar sesuatu tentang Kierra?"
Air muka Carlisle berubah berat. "Tidak sedikit pun. Jasper dan Alice saat ini sedang berusaha melacaknya. Tapi jika ia tidak ingin ditemukan, ia takkan ditemukan dengan mudah, bahkan oleh kawanannya sendiri."
"Kecuali oleh orang-orang yang ia kehendaki…," ucap Sam, nyaris berupa bisikan, tapi tak cukup pelan untuk luput dari pendengaran siapapun, lebih lagi vampir.
"Maaf?"
"Aku baru saja mendapat laporan, bahwa kawanan menemukan seekor vampir berkeliaran di hutan."
Rasanya Carlisle bisa merasakan beban berat menggantung dalam kalimat Sam. Dalam situasi seperti sekarang, vampir berkeliaran bukanlah sesuatu yang asing, dan bukan kewajiban Sam untuk melapor padanya. Tapi dalam konteks ini, ucapan itu hanya berarti satu.
"Menurutmu, itu … dia?"
"Ada dua kemungkinan. Tapi dari apa yang kudengar, sepertinya mereka menemukan sesosok mayat vampir, tak jauh dari tempat mereka mengendus pelarian itu. Dalam kondisi retak-retak. Aku tak bisa tidak berpikir ke sana."
"Dan kini mereka mengejarnya?"
Sam tak perlu menjawab. Dan ketiadaan jawaban itu sudah berarti segalanya.
Jika ia bukan Carlisle, mungkin ia akan bertanya apa alasan Sam malah ada di sana, di tempat yang tak seharusnya ia datangi, dan bukannya menjaga tanah Quileute seperti seharusnya. Tapi ia lebih dari tahu, dan pertanyaan yang keluar dari lisannya hanya satu, "Menurutmu ada unsur kesengajaan di sini?"
Sam menggeleng, wajahnya tampak berat. "Sulit dikatakan… Aku ingin percaya semua hanya kebetulan. Tapi instingku mengatakan sebaliknya," ia berdecak. "Itu belum seberapa. Anak-anak menangkap baunya mengarah ke wilayah Quileute."
"Astaga! Collin Littlesea!" Carlisle tercekat. Tapi sekali lagi, lawannya menggeleng.
"Paul sudah mengecek. Mereka tidak ada."
"Tidak ada?"
"Collin dan Brady sudah pergi. Baunya menjauh dari perbatasan, agak pudar dan tersaputi bau knalpot. Dari kepekatannya, sepertinya mereka berangkat sejak fajar."
Penculikan adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin, terutama jika menimbang bahwa musuh mereka sudah menentukan waktu pertempuran. Jadi kemungkinannya hanya satu. Entah apa yang membuat satu-satunya Black dengan hak Alfa penuh saat ini malah melarikan diri, dan apa pula takdir yang menunggu kawanan dengan kekosongan takhta. Tapi sejujurnya, jika ia boleh berpendapat, ia justru merasa lega Collin pergi.
"Itu belum semuanya."
"Belum?"
"Jared dan Paul melaporkan bahwa mereka menangkap bayangan sosok yang disinyalir adalah dia. Dengan rambut putih."
Mata Carlisle langsung membelalak.
"Rambut putih?!"
"Kau tahu sesuatu?"
"Tidak. Tapi aku pernah mendengar legenda lama, yang selama ini aku sangsikan kebenarannya. Apa mungkin ia…," ia tak meneruskan kalimatnya. Beban berat menguar dari sang vampir, kala ia hanyut dalam pikirannya sendiri. Begitu lirih, lisannya mengucapkan satu kata, nyaris tak tertangkap, "Terjebak…"
Mata sang mantan Alfa menyipit. Ia tampak menimbang-nimbang sesaat, tapi kemudian ia menegakkan diri dan berkata, "Justru karena itu aku datang. Aku ingin kau memberitahuku, berdasarkan pengalaman, apa hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya?"
"Kierra kehilangan kendali dan terjebak dalam wujud serigalanya?" Carlisle mengerung. "Tidak, tidak setahuku."
"Tapi itu memang pernah terjadi, 'kan? Ketika Tupkuk yang pertama tewas, dan rohnya merasuki serigala betulan… Legenda mengatakannya: ia memporak-porandakan kawanan, membantai kepala suku, bahkan sampai meminum darahnya. Itu semua ia lakukan karena terbutakan amarah, bukan?"
Ekspresi lawan bicaranya berubah. Pandangannya, berikut kata-kata sesudahnya, terlihat lebih hati-hati dan waspada.
"Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan?"
"Tak lain, jika memang menurutmu kami berhadapan dengan ancaman yang mempertaruhkan nyawa, selain dari Sang Ibu, sebaiknya kaukatakan."
Sesuai prediksi Sam, Carlisle lekas menggeleng keras. "Tidak. Kita sudah membicarakan ini sejak awal, Sam. Kalian tak perlu selalu memandangnya sebagai ancaman."
"Tapi ia memang ancaman, bukan? Terlebih dengan adanya ia kehilangan kendali, aku takut semua bisa berakhir dengan terciptanya kolam darah."
"Tidak jika mereka yang menjadi pesaingnya sudah tumbang."
"Dan Collin Littlesea? Apa mungkin Kierra akan mengejarnya?"
"Kierra takkan melukai Collin. Korra takkan membiarkannya."
"Dan dari mana kau tahu Korra masih memiliki kendali atas tubuhnya sendiri?"
"Dari mana kau tahu ia tidak?"
Tidak bisa tidak, Sam mendesah. "Carlisle, aku tahu siapa ia bagimu, tapi kau tak perlu selalu melindunginya. Kutekankan sekali lagi, kita berada di pihak yang sama. Aku butuh Kierra, suku butuh Kierra. Karenanya kami setuju untuk ambil bagian. Tapi jika memang ia sampai lepas kendali dan mencelakakan semua, kita harus memikirkan tindakan…"
"Aku tidak mengatakan itu karena ingin melindungi Kierra," potong Carlisle. "Apa yang terjadi pada Seth mungkin di luar batas, sebagaimanapun aku pribadi menganggap Seth layak mendapatkannya. Tapi jika Kierra memang hilang kendali sepenuhnya dan membiarkan sisi serigala buasnya mengemuka, Seth pasti sudah mati saat ini. Masih ada kesadaran Kierra, dan juga Korra, dalam tubuh itu, aku yakin."
"Seperti juga kau yakin masih Scarlett-mu dalam diri Sang Ibu?"
Di situ Carlisle menunduk. Suaranya lirih, nyaris berupa bisikan saat berucap, "Sam…"
"Tidak, Carlisle! Di sini aku, kami, meminta ketegasanmu. Waktu tiga bulan yang kami berikan sudah habis. Bukan hanya kau tidak berhasil membujuk Sang Ibu, kini kita pun berada di ambang perang. Dengan tak lain, dua prajurit terkuat kami tumbang dan dua lainnya tak ketahuan rimbanya. Dan aku? Aku sudah mempertaruhkan semua, Carlisle! Kawananku takkan bisa jadi kekuatan bagi suku jika pertempuran itu terjadi! Jika memang ini bagian dari rencana rahasiamu untuk menghabisi kami, katakan saja!"
"Sam!"
Nada peringatan dalam seruan itu membuat Sam terhentak. "Maaf, Carlisle…," ia menarik napas. "Kau tahu aku sudah di ambang batas sekarang. Dengan semua rentetan kejadian ini, dan semua perhitungan kita meleset … dan tubuhku pun…"
"Maafkan aku, aku meminta terlalu banyak dari kalian…," ujarnya. "Tapi kumohon, beri aku kesempatan."
"Kesempatan apa? Kalau kau belum sadar juga, Scarlett sudah menampik semua usaha perdamaian. Besok—besok, Carlisle—semua akan ditentukan!"
"Dan hingga besok adalah waktu yang kubutuhkan. Percayalah, Sam, kita masih bisa menghindari perang ini."
Mata Sam makin terpicing mendengarnya. "Sudah berapa kali kau bicara hal yang sama? Terus terang saja, penyelesaian masalah ini jadi berlarut-larut karena kau tak bisa mengambil sikap! Kau tak bisa menegaskan di mana seharusnya kau menempatkan diri, dan kau menyeret kami bersamamu!"
"Di mana aku menempatkan diri?" bereaksi terhadap perubahan nada bicara Sam, vampir itu mendesis. "Di sini aku tidak hanya bertindak sebagai diriku sendiri. Aku kepala keluarga, kepala sebuah klan. Dan lebih penting lagi, aku adalah pemimpin sebuah faksi yang berusaha netral. Aku berusaha menjadi bumper dari kalian makhluk-makhluk yang selalu siap menyerang tanpa berpikir dua kali atau berhenti untuk memikirkan akibat dari tindakan kalian!"
Jelas, kekisruhan ini telah menggerogoti Carlisle dari dalam. Ia tidak senetral yang selalu berusaha ia tekankan, demikian yang Sam tangkap. Ia memiliki kepentingan. Semua keputusan yang ia buat, semua langkah yang ia ambil, sebagaimanapun ia menyangkal, semua selalu melibatkan satu status yang tidak ia katakan: ia sebagai seorang ayah.
Tapi apa dampaknya bagi suku? Dan terutama … "Akan di mana kalian berpihak, jika Kierra pindah ke kubu Sang Ibu?"
Pertanyaan itu keluar dengan begitu tiba-tiba hingga Sam pun terhentak. Ia bahkan tidak sadar ia menyuarakan isi hatinya keras-keras. Tapi tak ada jalan kabur kini. Jadi dengan memperkokoh pijakannya pada lantai linoleum di bawah kakinya, ia mengelaborasikan pertanyaan tadi.
"Aku tak tahu, tapi entah di sisi mana hatimu, kau juga menginginkannya 'kan? Jika Kierra dan Scarlett bisa bersatu, dan kalian bisa kembali menjadi keluarga…"
Lawan bicaranya lekas memotong, "Yang kuinginkan adalah Scarlett bisa kembali pada akal sehat dan menyudahi dendamnya, lantas perdamaian antara keluargaku dan suku bisa benar-benar terjalin."
Penekanan itu, bagaimanapun, terasa aneh. Sesuatu yang membuat Sam tidak bisa menahan dirinya untuk menimpali, "Sesuatu yang nyaris tidak mungkin, bukan? Jika menimbang yang telah dan akan terjadi…"
"Sesuatu yang terus aku perjuangkan, dan aku takkan berhenti berharap hingga saat terakhir." Ia tampak menerawang kala menambahkan dengan nada sesal, "Oh, Sam, kita telah sampai pada titik ini…"
Sam tahu apa yang Carlisle maksudkan. Jika ada yang benar-benar menginginkan persandingan antara dua kekuatan supranatural di Semenanjung Olympic, itu adalah Carlisle. Dan mereka telah melakukan sesuatu yang sangat progresif dalam lima tahun terakhir. Ikatan antara Renesmee dan Jacob tak hanya bisa dipandang sebagai penyatuan dua orang yang memiliki takdir imprint, tetapi juga memiliki politik. Tapi pasti Carlisle delusional jika menganggap kasusnya akan bisa diselesaikan dengan cara yang sama.
"Mungkin kau harus simpan harapanmu, Carlisle. Kau, lebih dari siapapun, pasti tahu bahwa bibit buruk antara keluargamu dan suku kami tak hanya didasarkan pada dendam lama, tetapi juga sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Bukan aku berusaha mengungkit, dan terus mempersalahkanmu atas semuanya. Tapi bola kaca yang pecah tak bisa begitu saja direkatkan kembali tanpa meninggalkan cacat."
"Aku tahu…," suara Carlisle terdengar lemah. "Tapi setidaknya sedikit lagi. Kumohon…"
Sedikit lagi…
Ia tidak tahu apa batas dari 'sedikit lagi'.
.
.
Ha! Tertangkap kau! seru Quil gembira.
Matahari sudah tinggi ketika perjuangan mereka membuahkan hasil. Melalui serangkaian taktik pengejaran super-rumit dan perintah ultra-memusingkan yang membuat anak buahnya mabuk, lewat pengejaran yang makan waktu nyaris sejam, akhirnya mereka berhasil juga mengepungnya.
Keberhasilan ini tercapai bukan tanpa halangan. Rencana pengepungan di padang rumput nyata telah gagal, demikian pula tiga skema lain yang dikembangkan dalam waktu singkat. Tapi ketika mereka hampir menyerah, keajaiban datang. Makhluk sial itu—entah karena lelah dan mengambil keputusan buruk atau apa—mendadak mengambil arah ke tepi laut. Kawanan lekas mengejar, dan lewat sekian taktik pengecohan, mereka berhasil memojokkannya di tebing, tanpa celah lagi untuk kabur. Di hadapan makhluk itu adalah tanjung curam dengan batu-batu kasar bertonjolan dan ombak keras menggulung di kedalaman lebih dari 20 meter di bawah sana. Bahkan vampir pun takkan bisa selamat jika nekad melompat. Cadas-cadas tajam akan menyula tubuhnya jika ia terbuat dari tulang dan daging, atau membuatnya pecah berkeping-keping jika ia terbentuk dari batu. Jika entah dengan keajaiban apa ia bisa utuh, bukan tak mungkin ia akan hanyut tergulung ombak.
Tampaknya memang itu hal yang mungkin terjadi, melihat makhluk itu berhenti di bibir tebing. Ia masih memunggungi kawanan, tapi tak mengambil langkah apapun. Tidak melompat, tidak berbalik melawan. Angin laut menerpa tubuhnya, membuat gaunnya berkibar-kibar. Mungkin itu akan jadi pemandangan yang indah memukau—seorang gadis berdiri di tepi laut, dengan gaun nyaris transparan ringan melambai. Tapi tidak bagi kawanan.
Jika memang ia hibrida dan bukannya Makhluk Dingin, ia masih sangat muda, mungkin malah di bawah usia Renesmee, demikian kesimpulan Quil. Tubuhnya begitu mungil. Rambutnya memiliki potongan pendek, tipis membentuk kerangka kepalanya. Warnanya yang putih keperakan tampak kontras dengan kulitnya yang berwarna tembaga kecoklatan bak terbakar matahari. Kilau samar di permukaan kulitnya menandakan siapa dirinya. Ia hanya mengenakan gaun musim panas pendek berwarna putih. Bahannya yang ringan melambai membuat kulitnya tampak membayang. Dan dari balik kain tipi situ, Quil bisa melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti.
Tiga garis sejajar, menorah punggung makhluk itu secara diagonal. Quil sudah cukup tahu apa artinya bahkan walau tak ada bukti kuat yang mendukung kesimpulannya.
Serigala. Dari bentuknya, dari ukurannya, dari kedalamannya, dari jarak antargaris … tak ada yang bisa membuat luka cakar seperti itu selain serigala. Bahkan tidak vampir bercakar yang belakangan meneror La Push.
Tapi itu juga yang membuatnya ragu. Jika makhluk di depannya vampir, tidak ada yang patut dipertanyakan, meski semua menjadi aneh karena ada kekhasan vampir yang tak bisa ia dapati dari makhluk di hadapannya: bau, dan insting yang menegaskan bahwa itu adalah vampir. Tapi jika makhluk itu adalah hibrida, itu akan mendorong pada pertanyaan lain.
Hibrida, sebagaimana ditunjukkan oleh Renesmee, memiliki kecepatan penyembuhan yang mengagumkan. Jika begitu, apakah berarti luka itu baru didapat? Jika ya, siapa yang melakukannya?
Nama Jacob tercetus begitu saja dalam sisi entah mana pikiran komunal kawanan, walau seharusnya nama lain—Si Hitam, misalnya—terdengar sebagai jawaban yang lebih masuk akal. Tapi tak urung, kemungkinan bahwa makhluk itulah yang bertempur dengan Jacob dan menjatuhkannya dari tebing sempat menghebohkan kawanan. Mereka makin gatal hendak menyerang, memaksa Embry berteriak menyuruh mereka tenang. Quil nyaris bersyukur, sebelum Embry beralih menatapnya dengan mata berharap, memintanya mengambil keputusan.
Keputusan untuk menyerang makhluk itu dan mencabik-cabiknya, ia bisa mendengar Clark menggeram di ujung sana.
Dan Quil tidak bisa melakukannya. Bukan karena ia menganut paham "dilarang membunuh". Oh, dengan senang hati ia menjunjung tinggi prinsip "habisi dulu, selidiki belakangan" jika berhadapan dengan Makhluk Dingin dan sebangsanya. Tapi ia merasa tidak bisa menyerang begitu saja.
Satu, pada tubuh Jacob ditemukan luka cakar dan makhluk di hadapan mereka, apapun ia, jelas tidak bercakar. Clark menentangnya, bersikukuh bahwa jika Sang Ibu bisa menciptakan vampir bercakar, tak aneh jika ia juga bisa melahirkan hibrida bercakar—ide absurd, bagaimanapun. Dua, apakah benar hibrida ini lawan? Ia belum tentu menyerang Jake, tapi ia sudah jelas telah menghabisi vampir! Dan tiga, ada sesuatu dari bekas cakaran itu yang mengganggunya.
Garis cakaran yang sudah nyaris sembuh … dan kombinasinya dengan punggung mungil berkulit tembaga…
Di mana ia pernah melihatnya?
Dirasakannya seseorang—Ben?—bergerak-gerak gelisah di salah satu sudut pikiran komunal kawanan. Pikirannya terjaga, meski ia bisa merasakan satu emosi yang kuat. Ketegangan.
Ia bisa mengerti jika kawanannya tegang. Oh, ia bahkan merasa takut!Kawanan telah menderita kekalahan berturut-turut hingga saat ini. Apa ada kesempatan bagi mereka untuk menang?
Justru saat itu, terdengar gemerisik dedaunan di hutan belakang mereka. Telinga Quil bangkit ketika bau yang tak asing menyeruak dan insting membela diri mengemuka. Tak lain, serigala asing memasuki teritori mereka. Tapi begitu ia menangkap sekilas kelebatan tubuh yang keluar dari tudung hutan, kelegaan membasuhnya.
Tak lain, Si Hitam dan Si Putih. Mereka mungkin kawanan asing, tapi mereka bukan musuh. Kawanan pasti bisa menang.
Namun bukannya ketakutan dan nekad melompat atau apa, makhluk itu justru menderaikan tawa. "Kalian pikir kalian akan menang?" kicaunya. "Tidakkah kalian tahu, kalian sudah terkepung?"
Ia tak seharusnya mendengarkan cericit tikus yang hampir mati. Tapi di sana ia membeku. Bukan karena isi kalimat itu, atau keyakinan dalam cara ia membawakannya. Tapi lebih karena suara itu tak asing…
Tapi tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena menyusul perkataan makhluk itu, suasana mendadak berubah. Gestur Si Hitam dan Si Putih berubah kaku. Sikap mereka waspada, kepala lurus dengan tubuh, telinga nyaris rebah, dan kaki erat mencengkeram tanah. Sorot mata mengancam yang mereka tunjukkan, anehnya, tidak ditujukan pada si makhluk asing, melainkan pada kawanan. Dan saat itulah kesadaran itu menghantam kawanan bak palu godam.
Sudah kuduga! geram Clark marah, yang diamini seisi kawanan.
Semua sesuai prediksi sejak insiden jurang. Kawanan Kierra berkonspirasi dengan gerombolan Sang Ibu untuk menghabisi mereka dari dua arah. Serigala kuat jika berkelompok, tetapi mereka nyaris tak berdaya tanpa kepala, karenanya mereka menghabisi para Alfa satu per satu sebelum memutuskan untuk menghabisi kawanan.
Melihat keadaannya, tak aneh jika di balik pepohonan sana, Sang Ibu telah bersiaga dengan pasukannya. Tak ada urusan mereka tak bisa mencium bau manisdalam radius 2 km, toh nyatanya memang vampir-vampir sial itu bisa menutupi bau. Sang Ibu menyatakan ini periode gencetan senjata menunggu waktu perang yang disepakati, tapi itu hanya akal bulus. Membuat mereka merasa aman, lantas menjauhkan mereka dari benteng, menjebak dan membantai…
Gemerisik pepohonan dan keheningan yang mencekam seolah memberi penegasan akan ketakutannya. Benar, di balik kerimbunan hutan itu, dewa maut bersemayam…
Menggeram marah, Quil menyiagakan kawanan, bersiap untuk bertahan atau menyerang. Tapi belum lagi mereka mengambil kuda-kuda, sekali lagi pepohonan tersibak, memberi jalan bagi kemunculan dua sosok lain. Dan mata Quil membelalak penuh kengerian ketika menyadari siapa gerangan kedua sosok itu.
Brengsek! Paul dan Jared!
Sungguh Quil ingin mengutuk dirinya sendiri. Mengapa ia harus menyuruh Clark untuk menghubungi Sam demi meminta bantuan? Bukannya ia mengecilkan kemampuan dua senior itu, tapi mereka sudah lama sekali tidak berubah. Paul dan Jared akan terjebak dalam pertarungan yang mungkin tidak bisa mereka menangkan! Seharusnya mereka aman di La Push—atau bahkan tak perlu menginjak tanah terkutuk ini sama sekali. Setidaknya dengan begitu, dua serigala akan lolos dari pembantaian, dan dua imprintee takkan merasa sedih.
Mengutuk ketiadaan koneksi antara mereka dan dua serigala itu, Quil menyalak, memberi kode pada Paul dan Jared untuk segera melarikan diri. Tapi entah lamban hingga tidak menangkap situasi yang mengancam, atau malah terlalu bodoh hingga berniat bunuh diri , bukannya berbalik, kedua serigala itu malah mendekat.
Quil makin panik. Di kepalanya berkelibat bayangan-bayangan terburuk mengenai apa yang akan dihadapi kawanan. Apa yang akan didapati Sam dan Seth—itu jika ia masih bisa bangun—ketika hari ini berakhir? Atau malah ia pulih begitu terlambat, dan yang ia dapati hanyalah kuburan massal tanpa nisan, dengan isi tak lebih dari tulang belulang? Apa reaksi Jacob di alam sana, tahu Quil tak bisa menjaga kawanan? Jika Paul dan Jared tidak selamat, bagaimana Quil harus menghadapi Rachel dan Kim? Bagaimana Claire nanti, jika Quil pun tak selamat?
Tapi tunggu. Paul dan Jared datang dari arah hutan, bukan? Apakah itu berarti tidak ada pasukan Sang Ibu di sana? Kalah begitu, mengapa makhluk itu mengatakan bahwa mereka telah terkepung?
Semua renteten pikiran itu berhenti tiba-tiba, ketika Paul dan Jared menghentikan langkah sekitar lima meter dari kawanan. Tepat di garis yang sama dengan kedua serigala musuh. Mata mereka tak lepas dari kawanan, memandang tajam, tapi tenang. Sikap mereka waspada, gerakan mereka mantap. Seakan mereka tahu apa yang mereka lakukan. Seakan mereka tahu apa yang sedang dan telah terjadi. Seakan mereka tahu apa yang tidak kawanan ketahui.
Seakan mereka adalah bagian dari kawanan musuh.
Bagaimana … mungkin?
Belum lagi habis tanda tanya di benak Quil, makhluk yang berdiri di sisi tebing kembali bersuara.
"Sudah kukatakan, kalian kalah jumlah," lantunan nada-nada itu terdengar manis, tapi bak duri merobek-robek dada Quil, ketika ia berhasil menautkan suara itu dengan suara seseorang dalam memorinya. "Sebaiknya kalian menyerah tanpa perlawanan, dan aku berjanji, tidak akan ada darah yang tertumpah."
Dan ia berbalik. Sebersit senyum tampak di wajah yang membuat dunianya gelap.
.
.
Mata merah. Rambut putih. Gerak yang tenang dan penuh kendali. Nada suara yang seakan memegang segalanya.
Dan senyum di wajah itu…
Serentetan pikiran berkecamuk di benak kawanan, tumpang tindih satu sama lain, berdengung bak suara lebah hingga nyaris ia tak bisa menangkap satu per satu. Tapi semuanya menyuarakan satu hal yang sama.
Korra?
Korra vampir?
Bagaimana mungkin?
Pertanyaan 'bagaimana mungkin' menjelaskan segalanya. Bagaimana mungkin Korra menjadi vampir, bahkan jika memang benar ia dan Seth diserang di hutan, lantas ia tertangkap dan ter/digigit? Apapun skemanya, Korra adalah serigala. Bahkan jika benar dugaan Jacob bahwa siapapun dari garis keturunan Zacharias Black memiliki darah hibrida—sehingga alih-alih membunuh, racun vampir akan mengubah mereka—hal tersebut tidak berlaku bagi Korra. Gen serigala Korra telah mencapai kematangan, tak diragukan lagi, mereka semua telah melihat wujud serigala Korra. Dan itu berarti seharusnya racun vampir akan benar-benar beracun baginya. Lantas mengapa?
Atau mungkin itu bukan Korra? Mungkinkah itu seseorang yang lain, putri Ariana yang lain? Kembar diturunkan secara genetik, dan keluarga Black selalu memiliki putra dan putri kembar dari generasi ke generasi. Mungkinkah Ariana melahirkan dua putri kembar, yang satu mewarisi gen serigala sementara satunya mewarisi gen hibrida? Gen yang sangat tipis, hanya terbangkitkan ketika racun vampir benar-benar memasuki nadinya, seperti ditunjukkan oleh kasus Ariana?
Karena tidak mungkin itu Korra! Racun vampir mungkin mengubah warna mata, tapi tidak warna rambut. Tidak pernah ada kasus seperti itu. Lagipula proses perubahan setidaknya makan waktu tiga hari. Dan Korra baru menghilang beberapa jam!
Jadi kesimpulannya hanya satu: itu bukan Korra. Itu sama sekali bukan Korra!
Tapi Korra pasti tahu, bukan? Ia pasti tahu ia memiliki saudari kembar, jika mereka tumbuh bersama, lebih lagi berada dalam satu kawanan yang sama. Mengapa ia tak pernah mendengar tentang kembaran Korra sebelumnya, bahkan tidak cerita seperti 'aku memiliki kakak perempuan selain Bex dan Rach, tapi ia telah meninggal'? Mengapa ia menyembunyikan hal seperti itu? Apa Billy tahu?
Tapi seolah bisa meraba kecamuk batinnya, Korra jadi-jadian di hadapannya tertawa mengejek.
"Siapapun aku: Korra atau bukan-Korra, apa itu penting bagimu, Quil?"
Mata Quil, sebagaimana seluruh kawanan, membelalak. Bagaimana mungkin ia bisa mengetahui namanya? Tidak, tidak. Ada yang lebih penting dari itu: bagaimana bisa ia mengetahui jalan pikirannya?
Apa itu terlihat di gestur atau sorot matanya? Ataukah makhluk di depannya memiliki kemampuan membaca pikiran atau semacamnya?
Korra-palsu itu kembali tertawa, dan sungguh Quil ingin merobek-robeknya karena berani-berani menodai image Korra. Korra adalah representasi sempurna dari citra seorang Daddy's little princess, begitu sempurna hingga ia berharap Claire pun akan sepertinya kelak. Bahkan di usia mendekati 17 tahun, ia tampak begitu polos, manis, dan apa adanya. Kesuciannya tak ternoda oleh apapun, bahkan oleh kenyataan bahwa selama ini ia sembunyi-sembunyi berkencan dengan si bodoh Seth di belakang punggung kakaknya sendiri, atau lebih buruk: bahwa ia adalah bagian dari kawanan asing yang meneror La Push. Aneh rasanya, melihat seringai jahat tertera di sana. Dan ia yakin kawanan pun merasakan hal yang sama. Kecuali Clark, tentu, yang terang-terangan mendengus di ujung sana.
Siapa kau sebenarnya? ia menyalak, tak merasa perlu repot-repot berubah balik demi menyuarakan pertanyaan itu. Jika memang makhluk di depannya bisa membaca pikiran, tak ada gunanya ia meresikokan diri hanya untuk mendapat jawaban.
Di hadapannya, makhluk itu kembali membuka mulut.
"Kau menanyakan tiga pertanyaan," ucapnya. "Satu: siapa aku? Dua: apa aku adalah vampir atau hibrida? Dan tiga: apa aku memiliki kemampuan membaca pikiran, karena kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa tahu apa yang ada dalam pikiranmu? Tahukah kau, bahwa jawaban atas tiga pertanyaan itu hanya satu?"
Ia bergerak mendekat. Sorot matanya begitu penuh percaya diri, sama sekali tak ada ketakutan, sama sekali tak ada keraguan.
Kian dekat, Quil bisa kian jelas melihat satu per satu bagian tubuhnya. Bentuk matanya. Lekuk hidungnya. Kurva bibirnya. Tajam rahangnya. Dan sekejap, seluruh keserupaannya dengan Korra membuatnya terpana. Begitu terpana hingga ia bahkan tak menyadari gadis itu berhenti, hanya selangkah di hadapannya. Ia melihat bibir itu bergerak, dan barulah ia sadar untuk menangkap kata yang keluar darinya.
"Karena aku," makhluk itu berujar mantap, "adalah Alfamu."
Menyusul kalimat itu, Korra-palsu itu mengangkat tangan, seakan hendak menyentuh kepala serigala di hadapannya. Refleks Quil menyalak, menghentakkan rahangnya siap menerkam tangan makhluk itu, membuntunginya bila perlu. Sayang sekali, makhluk itu keburu menarik tangannya dan melompat mundur, menghindar dari terkaman si serigala.
"Uh, agresif…," decaknya. "Ternyata memang benar kau memiliki darah Black… Tapi sayangnya, itu tidak cukup untuk membuatmu menjadi Alfa. Bagaimana jika kau menyerah saja, dan menerimaku sebagai Alfa?"
Menerima seekor lintah sebagai Alfa? Cih, jangan harap! Sekadar memberi penekanan pada penolakannya, ia sengaja meludah ke tanah. Sesuatu yang hanya mendapat balasan tawa ringan si bajingan itu.
"Sayangnya, itu bukan tawaran," ucapnya. "Kalian membutuhkanku, lebih daripada aku membutuhkan kalian. Kalian hanyalah kawanan tanpa Alfa. Takdir kalian untuk tersula di ujung tombak pertempuran."
Quil sadar beberapa anggota kawanan bergetar di bawah kalimat itu, tapi ia menolak menyerah. Mengetatkan rahang, ia menggertak, Rupanya kau tidak kenal siapa Alfa kami. Asal kau tahu saja, para pemimpinmu yang mengaku bangsawan itu tunggang langgang hanya melihat bayangannya enam tahun lalu.
Menyebalkan sekali, karena bukannya gemetar, makhluk itu malah tertawa. "Kau yang tidak kenal siapa aku. Pikirmu aku tunduk pada Volturi?" ia menampakkan senyum licik. "Dan siapa yang kaumaksud dengan Alfa kalian? Jacob yang terbaring sekarat, mungkin bahkan takkan bisa bangun lagi… Jikapun ia bisa kembali dari kondisi koma, tidakkah lebih mungkin ia menderita cacat permanen? Apa yang seperti itu bisa jadi Alfa? Dan Seth… Huh, kalian sungguh berharap pemuda lemah itu memimpin kalian?"
Ada sesuatu yang tidak ia katakan di balik kalimatnya. Kebenaran, nyaris sebuah pengakuan, yang Quil tangkap sejelas-jelasnya bak petir di tengah hari bolong.
"Akulah yang telah menjatuhkan Alfamu."
Detik itu pula Quil kehilangan segalanya. Kontrol, pikiran jernih, semua. Dan kali itu, tak ada satu pun kawanan yang tidak jatuh pada jurang yang sama.
Tapi mereka salah jika menganggap semua akan selesai tanpa perlawanan.
Tak butuh lebih dari sedetik ketika udara dipenuhi suara lolongan mencekam. Menyusul auman dahsyat pembuka pertempuran, para serigala menyerang.
.
.
Pertempuran itu berlangsung cepat. Tak perlu ahli nujum untuk meramalkan bagaimana jalannya, akhirnya telah digariskan bahkan sebelum serangan pertama dilancarkan.
Di pinggir tebing, tak lagi didapati gadis bermata merah yang meminjam rupa Korra. Menggantikannya, dengan tubuh terbalut warna yang sepadan dengan nyala matanya, seekor serigala berdiri jumawa. Seringai kemenangan menghiasi wajahnya.
Quil mendesis kala kelebatan-kelebatan pertempuran tadi kembali membayang di benaknya. Bagaimana ketika ia menerkam. Bagaimana ketika sasarannya menghindar dengan kecepatan yang tak bisa ditandingi vampir manapun. Bagaimana ketika senyum terkembang di wajah Quil, merasa dapat memetakan gerakan makhluk itu, dan bersiap untuk menjerat mangsanya. Bagaimana ketika ia melakukan manuver yang biasanya hanya bisa dilakukan serigala taktis seperti Seth atau Collin, dan seulas rasa bangga mengembang di dadanya ketika sedetik, makhluk tadi tampak pucat. Gerakannya agak terhambat, menunjukkan bahwa ia tersudut, dan Quil dengan mantap mengarahkan moncongnya untuk membuntungi kepala makhluk itu.
Tapi justru di titik itu Quil melakukan kesalahan.
Alih-alih menghindari terkaman dan melompat ke punggungnya—yang sudah ia perkirakan, karena ia sudah menyiapkan diri untuk berputar dan mengarahkan cakarnya demi menyayat makhluk itu pada detik yang sama—mendadak makhluk itu mengubah ritme gerakan. Ia tak lagi melakukan teknik resisten mundur-lompat dalam tempo cepat yang sejak awal ia lakukan. Mendadak berubah agresif, ia tak lagi menghindar dan bertahan, melainkan menyerang.
Serangan yang makhluk itu lancarkan bukanlah serangan sembarangan. Ia tidak memiliki cakar, dan seperti layaknya vampir, ia pun tak bertaring, tapi bukan berarti itu mengurangi ancaman yang ia bawa. Setiap gerakannya ditujukan pada titik-titik vital yang alpa Quil tutupi, atau bagian yang terekspos ketika sang serigala melakukan serangan atau bertahan. Seolah ia tahu setiap titik kelemahan lawan yang ia hadapi.
Quil melompat mundur pada saat yang tepat ketika makhluk itu mengincar kepalanya, dan lekas bersiap melancarkan serangan balasan. Namun, mendadak gerakannya berhenti.
Di hadapannya, ia menyaksikan hal yang tak pernah diduganya mungkin. Sesuatu yang menentang segala hukum yang ia ketahui.
Karena tepat di sana, di depan matanya, ia sempat menangkap makhluk itu bergetar hebat sebelum ia melompat. Sepermilidetik ia melayang, dan pada mili detik berikutnya terdengar suara keras ketika ia meledak di udara. Rasa dingin menusuk menyusul sebentuk bayangan putih yang mendadak berkelebat menyilang di ruangan matanya, dan detik berikutnya ia tersungkur di tanah. Perih mengiris tak hanya tubuh, tapi juga hatinya, seiring tanah yang berubah merah oleh genangan darah yang mengalir dari luka terbuka di dadanya.
Apakah Quil merasakah kengerian ketika kesadaran mengenai jati diri sosok itu menghantamnya, pada saat yang sama tatkala makhluk itu menerjangnya? Ataukah ia terlalu shock, hingga tangan dan kakinya terkunci? Yang jelas itu tak ada hubungannya dengan sosok besar berbulu putih yang bergerak perlahan ke arahnya, lantas mengarahkan cakar-cakarnya mencengkeram kaki dan tangan Quil, menahannya di tanah.
Dan di sana ia merasakan tak hanya ketakberdayaan, tapi juga penghinaan, ketika sang serigala menindihnya. Memasungnya. Merampok segala kuasa yang ada padanya.
Menyerahlah, gelombang suara yang asing menyerbu kepalanya, dalam gaung berat yang tak bisa ia pungkiri kekuatannya. Tunduk, dan aku tak perlu membunuhmu.
Gaung itu, tekanan itu…
Sosok itu … Mata merah itu… Bulu putih itu… Nada suara itu…
Kekuatan itu… Kuasa itu…
Hanya ada satu kata.
Kierra…, bisik Quil, antara desisan dan geraman. Antara kengerian dan kemarahan.
Kierra si serigala putih… Siluman kejamyang bahkan setelah kematiannya, menggunakan tubuh putri-putri Quileute untuk menjajah suku mereka sendiri. Dan bahkan setelah diusir, masih juga tak bisa meninggalkan hasratnya untuk berkuasa dan menebar teror, lantas berusaha mengambil alih kawanan-kawanan lain. Makhluk gila kuasa yang telah menodai nama baik para serigala Quileute sebagai pelindung dan pecinta damai…
Makhluk yang mencuri wajah Korra…
Ya, ia mengerti sekarang. Makhluk di hadapannya bukanlah vampir ataupun hibrida. Ia jelmaan Kierra.
Apakah Korra mengetahui hal ini? Apakah ia tahu kembarannya dirasuki Kierra, dan ia bergabung dengan kawanan mereka hanya sebagai bentuk loyalitas? Apakah selama ini ia ditekan, dipaksa untuk mengabdikan diri, dan tak bisa menolak ketika mereka membuatnya kembali ke La Push, menjadi mata-mata untuk menyusup ke kawanan? Karena tak mungkin Korra melakukan semua dengan kehendaknya sendiri. Korra yang begitu manis dan polos… Korra, gadis kecil yang dicintai semua orang… Korra, gadis hanya ingin kembali pada pelukan ayahnya…
Kau sinting! desis Quil murka. Tidak akan kami tunduk padamu, Siluman!
Ia bisa merasakan secercah senyum membayang pada wajah sosok di hadapannya, dan rasa bangga akan kemenangan yang mengilat di matanya. Sayangnya, kau harus, suara itu kembali bergema, menekan seluruh syarafnya, memberati simpul-simpul ototnya. Otaknya serasa digencet beban ribuan ton. Lihat sekelilingmu! Lihat apa yang terjadi pada kawananmu!
Ia tak ingin. Oh, sungguh seluruh kehendak di hatinya menolak perintah itu. Rasa kebencian membara di hatinya, membuatnya ingin berontak. Dengan segenap kekuatan, otaknya memaksa anggota tubuhnya bergerak, mengangkat cakar dan menyabet tubuh di hadapannya, berguling lepas, apapun. Tapi cengkeraman itu terlalu menekan, memaksa seluruh sel di tubuhnya tunduk.
Tanpa perlu makhluk itu menekankan cakarnya, kepala Quil berpaling. Dan seketika itu juga api membakar kedua bola matanya, menyaksikan adegan horor yang membayang di hadapannya.
Di sana, di tanah yang hancur bekas dilunyah, lima serigala terkapar, nyaris tak mampu mengangkat tubuh. Sekujur tubuh mereka dipenuhi bekas cakaran dan bulu mereka basah berbalut darah. Mata mereka, yang biasanya menyala oleh semangat, tampak padam. Gelap dan tanpa harapan.
Samar, ia bisa merasakan kesadaran mereka. Pertanyaan mereka. Kengerian mereka. Dan juga … keputusasaan mereka.
Keparat! ia tidak menujukan makian itu hanya pada serigala—monster, apapun—yang memasung tubuhnya, tapi juga pada dua serigala yang berdiri di latar belakang, menjaga jarak dari tubuh lunglai sahabat-sahabatnya. Apa martabat kalian begitu rendah hingga tega mengkhianati kami, hah?! Kawanan kalian, saudara-saudara kalian sendiri!
Tapi kemarahannya hanya berbalas angin. Dan begitu ia menajamkan konsentrasi, berusaha meraih kesadaran mereka, menuntut jawaban, ia tak menemukan apapun. Bahkan tidak sekelebat jejak apapun.
Di tengah kebingungannya, kembali suara serigala itu berkumandang.
Jangan repot-repot, Quil. Jared dan Paul—dan juga Sam, tentu, tapi mungkin kau sudah tahu itu sekarang—tidak bergabung dengan kawananku. Atau belum, tepatnya. Tapi itu tidak lama lagi. Segera, kau akan mendapati kalian semua sebagai bagian dari kawanan yang sama.
Jangan harap! ia lekas membentak. Mungkin saja Jacob dan Seth tidak berdaya. Tetapi kami masih memiliki pewaris Black yang lain, yang bahkan telah dilatih sejak kecil untuk memikul jabatan Alfa. Kujamin, begitu ia turun tangan…
Oh, Collin Littlesea, maksudmu?
Sudah tak ada apapun dalam diri Quil untuk merasa kaget. Diam-diam ia melirik pada Jared dan Paul. Ia tak tahu apa yang membuat dua serigala pengkhianat itu menanggalkan harga diri dengan malah memihak kawanan asing, tapi pasti mereka telah menjual semuanya.
Kelihatannya kau tidak tahu posisimu sendiri. Collin Littlesea telah tiada, apa kau tahu itu?
Dirasakannya kengerian merayap demi mendengar kalimat terakhir. Jika Collin pun jatuh sebagai korban…
Oh, tenang, Quil… Aku tidak membunuh Collin, atau tepatnya aku tidak punya kesempatan untuk melakukannya. Sepertinya ia telah mencium kedatanganku, dan seperti seekor tikus pengecut, ia lari tunggang langgang meninggalkan La Push…
Apa maksudmu?
Kau telah mendengarku, serigala putih itu—Kierra—kembali menampakkan seringai licik. Kalian di ambang pertempuran dan bukannya memikul takdirnya dan terjun memimpin kalian ke medan laga, ia malah melarikan diri bersama pengikut setianya…Tidak ada keraguan lagi, aku sudah mengeceknya.
Pembohong! hardik Quil. Aku kenal Collin! Ia adalah serigala paling berani dan paling loyal, berbeda dengan cecunguk-cecunguk hina itu! Pantang ia menyerah, apalagi lari dari hadapan musuh!
Oh, benarkah? Bagaimana bisa kau begitu yakin?
Pikiran Quil mendadak dibombardir rentetan memori yang bukan miliknya. Rumah keluarga Littlesea yang kosong… Jejak bau mereka yang tipis di udara… Jejak ban berlumpur tertera di aspal jalanan, meninggalkan La Push…
Quil lekas menghardik, memutus gelombang ingatan itu. Bajingan kau! desisnya. Kau boleh membunuhku, kau bahkan boleh menghancurkan kawanan. Tapi berusaha memuntir pikiran kami, menghina saudara kami… Apa kaupikir kami begitu bodoh untuk jatuh pada tipuan murahan seperti itu? Untung di kawanan kami ada seorang jenius visual bernama Collin Littlesea, dan darinya kami belajar bahwa gambaran mental seperti itu bisa dibuat! Ya, Collin yang sama yang sedang berusaha kaukotori namanya! Hanya ia yang akan kami akui sebagai Alfa!
Gaung terdengar dari kawanan, tanda mereka pun mengamini pikiran Quil. Dalam hati Quil merasakan sedikit kelegaan, tahu dalam keadaan apapun, walau telah nyata-nyata kalah, kawanan takkan tunduk semudah itu. Kelegaan yang segera sirna seketika itu juga, ketika satu auman membelah udara, menggema dan menggaung, beresonansi mengisi tiap relung, tiap ruang, tiap pori dalam aliran darah dan serabut otot mereka. Beban maha berat menyesaki dada mereka, dan serigala dalam diri mereka bergetar. Bukan oleh kemarahan, tapi oleh ketakutan.
Wah wah wah, siluman itu kembali mengejek. Patut kuakui, Quil, loyalitasmu pada bocah Littlesea itu sangat patut diacungi jempol. Tapi jika kau berpikir hanya ialah satu-satunya pewaris darah Black yang tersisa, kau salah.
Bajingan! Meski tak berdaya, Quil masih mampu melawan instingnya untuk tunduk dan mempersembahkan lehernya kepada sang serigala putih. Jadi itu sebabnya, kau menawan Korra dan mencuri wajah kembarannya…
Tanpa diduganya, justru kalimat terakhir memancing tawa serigala di hadapannya.
Untuk kesekian kalinya kau mengucapkan kata itu. 'Kembaran Korra', hah? Astaga, betapa naifnya kau…
Bukan hanya nada sinis dalam kalimat itu, tapi juga nada misterius yang membalutnya—seolah ia tahu sesuatu yang tak mereka tahu—yang membuat Quil mendesis, Apa lagi maksudmu?
Kau pasti tahu prinsip hanya ada satu Alfa, kan? Dengan prinsip yang sama, berarti tidak ada dua serigala berdarah Black bisa terlahir dengan hierarki yang sama. Katakanlah kita tak bisa menghindari kelahiran lebih dari satu calon Alfa dalam satu generasi, itu pun mereka terlahir dengan strata yang berbeda. Tapi bagaimana menentukan strata, jika ada dua serigala yang berkembang pada saat yang sama, dan terlahir dari rahim yang sama?
Kelahiran kembar hanya mungkin terjadi jika bayi yang bersangkutan adalah carrier, atau jika bayi satunya lagi mewarisi gen lain yang membuatnya cukup kuat untuk bertahan, seperti dalam kasus Joanna dan Zacharias. Tapi kaulihat, itu tidak terjadi dalam kasus Korra. Aku dan Korra, sebagaimana kaulihat, adalah serigala. Ditambah kita semua tahu, Ariana meninggalkan William pada saat ia mengandung Korra. Jadi menurutmu, apa mungkin Korra memiliki saudari yang tidak kauketahui?
Ia tidak mengatakannya langsung, tetapi justru apa yang tidak ia katakan berteriak lebih lantang daripada seharusnya.
Siluman keji itu … makhluk terkutuk itu … lebih buruk dari sekadar membajak tubuh kembaran Korra… Ia membajak tubuh Korra!
Korra Black. Gadis kecil yang selama ini bersama mereka. Gadis malang yang telah berhasil mengambil simpati dan kasih sayang mereka. Gadis tegar yang berhasil bertahan melalui apapun masa lalunya yang suram, dan menapaki hari dengan senyum dan tawa ceria, dan karenanya beroleh kekaguman dan rasa hormat mereka. Gadis yang dengan kemanisan dan keluguannya telah mendapat tempat tersendiri tak hanya dalam keluarga dan suku, tapi juga dalam hati mereka.
Tapi semua hanya topeng.
Keceriaan itu. Kemanisan itu. Keluguan itu. Semua topeng belaka. Cadar yang menutupi kebejatan dan kehinaan di baliknya. Tipuan yang sengaja dipakai untuk memperdaya, sementara di baliknya ia menjalankan muslihat untuk menjebak dan menghancurkan.
Kini tawa itu terdengar mengerikan. Senyum itu terlihat menjijikkan. Segala tentangnya terasa memualkan.
Ya, Korra adalah aku, dan aku adalah Korra, konfirmasi si serigala tenang, sama sekali tak merasakan gumpalan rasa jijik yang mengaduk-aduk perut Quil. Tapi cangkang ini hanya sementara. Ia seorang Black, mungkin, tapi ini hanya tiketku untuk masuk, bukan berarti aku akan bertahan ketika ia tak lagi berguna. Tentu saja begitu aku mendapatkan tubuh yang lebih layak, aku akan segera meninggalkannya.
Brengsek! Quil tak bisa untuk tidak meludah. Cairan kental menyiprat, mengenai wajah sang serigala. Sedetik ia merasakan kepuasan, berharap si serigala langsung gelap mata, dan ia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari pitingan dan melancarkan serangan. Tapi semua itu musnah detik berikutnya, berganti dengan teror, kala dilihatnya mata Kierra kian tajam menusuk. Alih-alih mengangkat kaki depan untuk menghapus ludah itu, Kierra justru makin memperketat cengkeramannya. Membuat tulang-tulang kaki Quil berderak di bawahnya.
Lolongan Quil membelah udara, diikuti rintihan para serigala lain, yang juga merasakan rasa sakit yang diderita pemimpinnya.
Suara Kierra tetap tak berubah kala bicara dengan nada menggurui, Astaga Quil, kupikir kakekmu mengajarkan lebih baik. Ia pria yang sangat sopan, kau tahu… Dan sangat berpikiran terbuka, jika menimbang bahwa ia bersedia mendukung rencanaku sejak awal.
Pikiran Quil buntu. Apa maksudnya?
Ini semua tidak seharusnya seperti ini, kau tahu, serigala itu melanjutkan. Kau tahu, bukan hanya aku yang menginginkan taktaku, aku tahu kalian juga membutuhkanku. Kalian cuma gerombolan serigala yang tak punya tujuan, kehilangan pegangan, makin lemah dari hari ke hari. Sementara kalian menghadapi ancaman di depan mata. Tentu saja hanya aku yang bisa memimpin kalian, mengembalikan kejayaan suku ini. Jika para Tetua sampai tidak bisa melihat hal seperti ini, mereka sudah buta.
Tapi seperti kataku, ini tak seharusnya bergerak seperti ini. Ada jalan yang jauh lebih mudah, dan jauh lebih tidak menyakitkan. Jacob akan pergi, walau bagaimanapun. Dan benar katamu, Korra seorang Black. Garis keturunannya yang tercemar membuatnya tidak diakui, dan sulit untuk menjadi Alfa kawanan kalian jika ia sudah menjadi bagian dari kawanan lain, tapi itu bisa diperbaiki dengan mudah.
Pernikahan…
Rasa dingin mengaliri pembuluh nadi Quil, membuatnya bergidik. Kata yang selama ini terdengar begitu indah, kini terdengar bagai mimpi buruk. Tak hanya satu, gelombang demi gelombang kesadaran yang mengikutinya menghantam bertubi-tubi. Tentang siapa Seth, kedudukannya, potensinya… Semua yang hanya berujung pada satu kesimpulan: ia hanya pion. Pion dalam permainan licik yang tak pernah sukarela ia mainkan. Pion yang ujungnya berakhir dengan dikorbankan…
Mengapa? tuntutnya. Seth orang baik! Ia sama sekali tidak layak diperlakukan begini!
Karena memang tidak seperti itu seharusnya. Kau salah jika mengira aku memang berencana mencelakakan Seth. Integrasi kawanan yang kuinginkan, adalah dengan jalan yang lebih halus. Aku menginginkan pernikahan ini, ya, dan lebih dari apapun, aku menginginkan penerus dari Seth. Sebuah kehormatan, kurasa, jika aku menginginkannya sebagai pendampingku. Begitu banyak Alfa menginginkan kedudukan itu, menjadi seorang Maharaja dari kekaisaran yang luas. Bayangkan kejayaan dan kemuliaan yang tak hanya ia, tapi juga suku ini bisa dapatkan. Tapi sayangnya, kalian membuat segalanya begitu sulit…
Tentu saja Seth takkan menginginkannya! Kau tak kenal Seth jika berpikir ia makhluk gila kuasa sepertimu! Dan detik itu, kesadaran akan apa yang terjadi menenggelamkan Quil, membuatnya berbisik, ngeri. Karena itu, kau menyerang Seth… Ia menolakmu begitu kau mengungkap siapa dirimu sesungguhnya … dan kau…
Ia bisa melihat bayangan itu di dalam kepalanya. Kasih sayang dan cinta di wajah Seth yang berubah menjadi rasa terkhianati, detik ketika Kierra mengungkap semua kebenaran. Penolakan Seth. Kierra yang gelap mata dan menyerang Seth seketika itu juga. Seth yang terlalu shock untuk berubah dan mempertahankan diri…
Tubuh Seth yang hancur teraniaya… Mungkin tidak punya kesempatan pulih…
Bajingan! Bajingan! Bajingan!
Quil tak bisa menahan diri lagi.
Bunuh aku! teriaknya. Aku takkan begitu saja memberikan kekuasaan ini padamu! Bunuh aku!
Baik, jika itu memang keinginanmu…
Ia memejamkan mata, menunggu hujaman taring atau sabetan cakar yang akan menyudahi semua. Namun serangan yang dinanti tak kunjung datang. Tidak karena satu suara mendadak berkumandang.
Tidak!
Siapa itu?
—Ben?
Ia membuka mata, dan dilihatnya sosok serigala Ben menggeliat-geliat di bawah cengkeraman si serigala hitam. Matanya berkaca-kaca.
Tidak! Hentikan, Korra, kumohon…, rintihnya. Kami semua sahabatmu, kami semua saudaramu… Jangan lakukan ini…
Bukan Kierra, tapi justru Quil yang balas membentak, Jangan ikut campur, Ben!
Quil, kumohon… Itu Korra, Korra, Quil!
Dia bukan Korra! Korra sudah mati! Ya, Korra sudah mati, detik ketika Kierra mengklaim tubuhnya.
Dia Korra! Aku tahu, entah ada berapa persen di dalam kesadarannya, aku tahu Korra masih ada. Tidak mungkin semua itu … semua itu … palsu…
Bayangan demi bayangan berkelibat di dalam kesadaran komunal kawanan. Tak disangkal lagi, Ben, sebagai salah satu Gossip Guys, termasuk bagian dari lingkaran dalam Korra. Pandangannya tentang Korra bias, dan sebagian besar merupakan dampak berantai dari imaji Collin mengenai gadis yang ia cintai. Dalam keadaan biasa, mungkin bayangan itu bisa menyentuh hati Quil. Tapi tidak saat ini.
Melihat ia tak mampu menggoyahkan tekad Quil, Ben ganti berusaha menjangkau Kierra. Korra, Korra, dengar aku, kumohon. Jika kau membunuh Quil, jika kau ingin mendapatkan klaim tunggal dengan membunuh semua wangsa Black, artinya kau harus membunuh kami semua! Kau harus membunuhku dan Pete; kami juga Black! Dan Embry, Embry takkan mau mengikutimu jika Quil mati. Lalu sisanya … kawanan takkan tunduk sukarela padamu. Dan apa artinya, jika kami semua mati? Tidak ada kawanan yang bisa kaudapatkan, bukankah semua sia-sia?
Menyedihkan, siapa memang yang bisa tergerak oleh omongan kosong macam itu? Tapi mungkin Quil terlalu menganggap enteng Ben, atau malah terlalu menganggap tinggi Kierra, karena serigala itu malah menoleh.
Oh, kau memiliki penawaran?
Melihat Kierra tampak tertarik, Ben melanjutkan, tampak berharap. Kumohon, lepaskan Quil!
Dengan harga apa?
Apapun! Kami … kami akan tunduk. Kami akan menyerahkan diri… Kumohon…
Mata Quil seketika membelalak. Brengsek, Ben! Diam! Kau tidak punya hak untuk mengambil keputusan!
Tapi Quil!
Ben benar…, suara yang lain menimpali. Ingat, Quil, kau juga tidak punya hak untuk mengambil keputusan mutlak!
—Clark?
Ya, ini bukan cuma menyangkut nyawamu dan kami semua, ini menyangkut keberlangsungan kawanan! Keberlangsungan suku!
—Harry!
Seperti yang ia bayangkan tentang Clark dan Harry. Dua bocah itu memang pengecut, tapi Ben? Selama ini ia sok berani, tapi sekarang malah bertindak tolol dengan menawarkan kawanan pada musuh? Apa yang ada di pikirannya?
Collin takkan suka, jika ia kembali dan kita semua musnah!
—Pete! Kau tidak usah ikut-ikutan! Lagipula apa-apaan, masa kau percaya Collin kabur?
Karena kalau tidak, ia tidak perlu menuntutmu menyerah demi mendapatkan kawanan, kan? Dan Collin, aku yakin, tidak pergi demi menyelamatkan dirinya sendiri. Ia mungkin hanya menunggu waktu yang tepat. Kau harus mempertahankan kawanan hingga saatnya Collin kembali!
Bukan berarti kita harus menyerah, Bodoh! Aku tak mau jadi budak!
Quil, dengarkan aku! serigala lain angkat bicara. Bukan harga dirimu saja yang dipertaruhkan di sini!
—Embry, kau juga?
'Harga diri'? Serendah itukah moral kawanan sekarang? Entah dengan alasan apa, ia tak pernah bermimpi kawanan akan begitu mudah menyerah pada seekor penjajah. Di sini ia hanya ada sebagai pengemban amanat Jacob dan Seth. Apa kata mereka, jika kawanan jatuh ketika berada di tangannya? Ia lebih baik mati!
Ini bukan cuma masalah harga diri! tangkis Embry. Ingat, Quil! Kita masih punya satu musuh! Dan ia akan dengan mudah membantai seluruh suku, jika tak ada kita untuk mempertahankannya!
Dan kaupikir jika kita menyerah, kita bisa mempertahankan suku? Tidakkah kaulihat, mereka bekerjasama!
Sekali lagi, itu anggapan tidak berdasar! Kita punya prioritas, dan prioritas kita adalah mengenyahkan ancaman Sang Ibu! Jika kita bergabung, paling tidak kita punya pemimpin yang tahu apa yang harus dilakukan, dan bisa menyatukan kekuatan kawanan yang terpecah.
Embry benar! Kumohon, Quil!
Quil!
Quil!
Quil!
Quil menggeram. Apa-apaan, sudah demikian putus asanyakah mereka?
Tapi tak bisa tidak, ia melihat kenyataan itu. Kawanan yang terbaring tanpa daya, terpiting di bawah cengkeraman serigala-serigala musuh. Mereka sudah kalah berulang kali, dipencundangi tanpa ampun… Entah apa yang membuat mereka masih tetap bisa bertahan hingga detik ini, tapi dengan adanya kekalahan bertubi-tubi, wajar jika semangat mereka kian menipis, berganti dengan ketidakpercayaan terhadap kemampuan sendiri. Jika mereka turun ke medan perang dengan keadaan seperti ini, sudah jelas siapa yang kalah.
Diedarkannya pandangannya pada sosok saudara-saudaranya. Mata mereka begitu sendu, lemah dan tanpa cahaya. Tapi mereka menatapnya dengan sorot berharap, sorot memohon. Ya, ia pemimpin mereka saat ini. Ia bertanggung jawab atas mereka semua. Ialah yang menentukan masa depan mereka semua…
Masa depan yang nyaris mustahil ada. Karena kalau bicara realistis, dengan arah angin bertiup sekarang, mereka tak punya harapan untuk menang. Sama sekali.
Jika ada sesuatu yang bisa ia lakukan…
Jika ada sesuatu, apapun, yang bisa ia lakukan…
Mereka nyaris tidak punya harapan. Tapi bisakah … ia menukar kemerdekaan mereka demi sebuah harapan? Bukan untuk menang, tetapi setidaknya untuk bertahan…
Tampaknya kegalauan hatinya sampai pada sang serigala putih, karena ia membusungkan dada dengan puas. Lihat, kawananmu sendiri sudah menyerah. Sekarang semua tergantung keputusanmu. Apakah kau akan tetap mempertahankan kekeraskepalaan dan harga dirimu, atau kau akan bersikap bijak dan mendengarkan keinginan mereka? Aku bisa saja membunuhmu, tidak masalah sama sekali, dan kawanan tetap akan menjadi milikku, sukarela atau tidak. Tapi aku akan berbaik hati di sini. Kau bisa menyerah dan menyatakan sumpah setia padaku, dan bukan hanya aku akan mengampuni nyawamu, aku akan membiarkanmu menjadi wakilku di kawanan. Win-win solution, bukan? Yah, setidaknya wakil sementara, hingga Seth pulih, tentu saja.
Quil terhentak oleh kalimat terakhir. Seth?
Ya, ia sekarat, bukan? Lukanya tak bisa menutup karena kandungan racun dalam darahnya. Tapi tak usah khawatir, kebetulan sekali, aku memiliki satu-satunya penawar untuk menyembuhkannya.
Keparat! Kau yang menyebabkan ini! Kau yang…
Oh, tenang, Quil. Bukankah kukatakan aku memiliki obatnya? Aku akan memperbaiki semua kesalahan ini. Aku akan menyembuhkan Seth. Aku akan memimpin kalian untuk menggulung gerombolan Sang Ibu dan mengembalikan keamanan di La Push. Setelah itu, aku akan menikahi Seth sesuai rencana—atau mungkin sebaiknya kulakukan itu terlebih dahulu, sebelum kita terjun ke medan perang? Lebih cepat lebih baik, bukan? Lalu kita semua akan bahagia, seperti seharusnya.
Jangan harap!
Oh, Quil… Jangan keras kepala. Coba pikirkan kakekmu… Betapa sedihnya ia, jika cucu tunggalnya tidak ada untuk merawatnya. Bayangkan imprintmu… Bayangkan kawananmu… Bayangkan sukumu… Jika kau tak ingin berpikir sejauh itu, coba bayangkan Seth… Ia takkan selamanya koma, kau tahu. Butuh waktu enam jam hingga racunnya menyebar, sebelum ia tak tertolong lagi. Itu artinya tak sampai dua jam, mungkin bahkan tak sampai satu jam lagi. Apa kau ingin ia mati?
Sosok Seth, pucat dan tak lagi bernapas, membayang di pelupuk matanya. Seth, yang telah berusaha menyatukan dan membangun kawanan melewati masa-masa tidak menentu. Seth, yang telah dan terus berjuang hingga detik ini. Seth, yang terjerat dalam skema yang ia tak tahu ada...
Apa kau benar-benar bisa memulihkan Seth?
Tentu. Kau tahu itu, bukan? Aku yakin dokter vampirmu itu telah mengatakannya.
Penawar bisa seekor ular adalah darah ular itu sendiri, demikian kata pepatah. Dan jika memang Seth bisa pulih … jika makhluk itu bisa menyembuhkan Seth… Jika dengan kemerdekaannya, ia bisa membayar nyawa Seth…
Detik itu, ia tahu ia telah kalah.
Menutup mata rapat-rapat, menggigit keras-keras kehendaknya untuk melawan, membuang jauh-jauh harga dirinya, Quil berujar lemah, Aku menyerah…
Setemporer apapun, seorang Alfa memiliki semacam pijar bara api yang menyala di dalam jiwanya. Percik aura itu mengangkatnya lebih tinggi ketimbang yang lain, menjadikannya memiliki kuasa lebih, menjadikannya sosok yang wajib dipatuhi dan dihormati. Sekaligus juga membuatnya menanggung beban lebih berat ketimbang yang lain. Dan dengan satu kata itu, dirasakannya beban tersebut terlepas begitu saja. Ia merasa ringan, bak melayang, sebelum lantas terjatuh, terjatuh, terjatuh… Terjun bebas ke jurang tanpa dasar.
Senyum kemenangan terkembang di wajah serigala di hadapannya, ketika ia melepaskan cengkeramannya. Mengambil jarak dari tubuh Quil, ia membusungkan dada dengan pongah. Arogansi dan kuasa menguar darinya kala mengucapkan kalimat yang menentukan nasib seluruh suku.
Aku Coraline Louise Black, Kierra XVI, putri William James Black dan Ariana Koriandra Black, keturunan Taha Aki dari jalur T'lopa. Dengan kuasa yang ada padaku, aku menyatakan klaimku sebagai Alfa Quileute!
.
.
Catatan:
Yihaaaaa! Selesaaaaaaiiiii!
Akhirnya! Setelah sekian lama hiatus *ngumpet* akhirnya selesai juga walau tertatih-tatih! Serius ga tau kenapa, mood n otak ga bisa kerjasama, akhirnya dengan susah payah KELAR! Cuma kisaran 7k sih tapi kayanya cukup hehehe.
Makasih buat yang masih sedia baca, terutama yang masih bersedia susah payah ninggalan ripiu. Luv u all...
PS. Aku ganti judul Ch.85 karena judul yang sebelumnya mau kupake di Ch.87. Jadi jangan heran ya kalo judul itu muncul lagi... hehehe
Rae
