Hup! Digelapnya malam, sebuah bayangan meloncat memasuki sebuah kantor polisi. Ia menoleh kekanan-kirinya. Mencari suatu barang yang sangat ia butuhkan sekarang.
Ia melihat ke arah lemari kaca. Disana terdapat beberapa barang bukti, termasuk sebuah boneka bertampang sedih yang ditemukan di lokasi pembunuhan Ghaida Farisya, member JKT48. Ia segera berlari menuju lemari kaca itu dengan berseri-seri, "kutemukan kau,".
Ia mencongkel pintu dengan jepit rambut yang ia bawa. Krek...pintu lemari kaca itu berhasil ia buka. Ia segera mengambil boneka itu dan mengusap rambutnya, "tidak ada waktu lagi, kita harus menyusun rencana untuk membunuhnya,". Tak sengaja, ia menyenggol sebuah vas sehingga jatuh dan pecah.
PRANG! "Huh, suara berisik apa itu?" tutur seseorang polisi yang menjaga kantor saat itu.
"Oh tidak, kita harus cepat keluar dari sini!" bayangan itu segera mengantongi boneka itu dan meloncat keluar kantor polisi melalui jendela—sama seperti saat ia meloncat masuk.
"Hah!? Kenapa vasnya pecah!?" seru polisi itu yang berjongkok dan memegang pecahan vas bunga itu, "Huhu...padahal aku menabung untuk membelinya,".
"Huh? Sepertinya ada yang aneh," ucapnya. Ia segera melihat sekeliling, termasuk lemari kaca. Ketika ia melihat lemari kaca, ia tak menyadari apapun. Tapi, 5 derik kemudian, ada sesuatu yang berbeda dari lemari kaca itu. Ia membulatkan matanya sambil berjalan menuju lemari kaca. Pintu lemari kaca yang dicongkel, dan, salah satu barang bukti tentang pembunuhan oshinya tercinta telah hilang.
Spontan, ia menghubungi atasannya, "Pak, gawat pak!"
"Ada apa?"
"Salah satu barang bukti pembunuhan Ghaida Farisya...hilang pak!"
"Apa!? Bagaimana bisa!?"
"Saya tak tahu bagaimana orang itu bisa masuk, tapi, ia telah mencongkel pintu lemari kacanya, pak!"
"Kurang ajar, cepat cari barang bukti itu!"
"Ba-baik, pak!" polisi itu segera bergerak mematuhi perintah atasannya.
Sementara itu, bayangan bersama boneka itu telah melarikan diri. Boneka itu menangis lagi—menangis darah. "Kenapa...kenapa harus lagi...?"
JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 2 - Kidnapped by Doll!
Rated: T
Genre: Mystery, Horror, Fantasy, dll.
Disclaimer: HUMAN!
WARNING(!): OOC, TYPO, GAJE, ABAL, Chara-died (jgn bunuh saya jika oshi anda terbunuh TAT)v)
Naomi POV
Sudah 3 hari semenjak kematian Ghaida. Kemarin, adalah hari pemakamannya. Banyak member JKT48 yang datang kepemakamannya, termasuk fans-fansnya. Tapi, sepertinya, ada yang tak senang dengan banyaknya simpati orang atas meninggalnya Ghaida. Aku tak tahu siapa, tapi, ia terlihat sangat marah dan kesal. Seperti ingin lebih mencabik tubuh Ghaida, yang sudah meninggal.
Aku berjalan menuju member JKT48 yang sedang bersantai ditempat rahasia kami.
"Hai, semua!" sapaku.
"Hai," sapa member JKT48 yang ada, yaitu Sendy, Yupi, Delima, Sonia, dan adik kecilku, Sinka.
"Hei, apa Melody sudah datang?" tanyaku.
"Belum," member JKT48 itu hanya menggeleng.
"Oh..." aku hanya beroh ria dan duduk disamping Sinka. Tapi, ia malah menggeser sedikit dariku.
"Hei, aku punya berita buruk untuk kalian," tuturku.
"Berita buruk? Apa itu?" tanya Delima menoleh ke arahku.
"Jangan bilang kalau ada member lain yang terbunuh!" seru Sendy.
"Ti-tidak, tidak ada yang terbunuh lagi, Sendy," ucapku.
Sendy menghela nafas lega.
"Terus?" tanya Sinka dengan sorot mata yang dingin.
"Salah satu barang bukti dari lokasi pembunuhan Ghaida telah hilang...,"
"APA!?" semua tercengang kaget.
"Ba-bagaimana bisa!?" seru Yupi.
"Seseorang telah mencongkel lemari kaca—dimana semua barang bukti disimpan—dan mengambil salah satu barang bukti," jawabku, "yaitu, sebuah boneka,"
"Boneka?" semua terlihat tak terlalu kaget, kecuali Sendy.
"Bo-Boneka...!?" Sendy terlihat tercengang dengan keringat dingin.
"Ada apa, Sendy?" tanya Sonia mengelus pundak Sendy.
"A-aku yakin, hilangnya boneka itu akan membawa bencana bagi JKT48...!" jawab Sendy.
"Apa maksudmu, Sendy?" tanya Sinka.
"Aku yakin, tidak lama lagi, akan ada seorang member JKT48 yang terbunuh," jawab Sendy.
"A-apa!? Hi-hilangnya boneka itu tidak mung—" ucapan Sinka terputus.
"Semuanya!" seseorang.
Semua menoleh kebelakang, "Rica! Melody!"
Rica dan Melody berlari menuju ke arah kami. "Hah..hah..hah.." Rica terlihat ngos-ngosan, sementara Melody terlihat cuek dan biasa-biasa saja.
"A-ada apa, Rica? Melody?" tanya Sonia.
"Me-Melody menemukan ini saat ingin mengganti baju setelah perfom," Rica mengasih kami sebuah robekan kertas.
Kami segera mendekat dan membaca tulisan dikertas itu:
Seorang member akan meninggal, malam ini
Dibawah merahnya bulan
Seorang gadis kelahiran kemerdekaan
Akan menjadi korban selanjutnya
Bersiaplah, dengan tangisan darah
Apel biru kemerahan akan menghabisi nyawanya
Kami semua mengerutkan kening dan membelalakkan mata. "Su-sudah kubilang kan," ucap Sendy mulai terisak.
"Sendy," Sonia mengelus pundak Sendy.
"Seorang gadis kelahiran kemerdekaan? Maksudnya?" tanyaku sedikit bingung.
"Bodoh, itu artinya gadis yang lahir saat kemerdekaan!" jawab Sinka.
"Kemerdekaan? Emangnya ada member JKT48 yang setua itu?" tanyaku tambah bingung.
"Bukan itu maksudnya, bego'!" seru Sinka sweatdrop dengan kakaknya itu.
"Terus, apa?"
"Seorang member JKT48 yang lahir pada kemerdekaan RI, Naomi," jawab Melody.
"O-oh..." aku ber-oh ria.
"Itu artinya, seseorang member JKT48 yang lahir pada kemerdekaan RI akan meninggal malam ini," gumam Yupi.
"Ya, itu benar sekali," Melody mengangguk.
"Dan, satu-satunya member yang lahir pada kemerdekaan RI adalah..." semua membulatkan matanya.
"LIDYA!"
~{JKT48 Fanfiction}~
Normal POV
"Ugh..." Sinka serasa ingin membanting hpnya, "bacotan banget sih si Lidya itu! Udahlah gak jelas keberadaannya, hpnya gak diangkat-angkat, kemana sih tuh anak!?"
"Tau' tuh, ah, nyebelin kali!" gerutu Naomi.
"Nanti, kalo ketemu anaknya, kita banting yuk badannya!" ajak Sinka.
"Ayo! Nanti, kita patahin lehernya," ucap Naomi setuju.
"Kita juga harus bawa gergaji,"
"Dan golok,"
"Kapak juga!"
"Garpu juga!"
"Untuk apa garpu?"
"Untuk congkel matanya!BWAHAHAHA!"
"HAHAHA! Setuju banget, nanti, kita putusin kaki ama tangannya!"
"Otaknya keluarin dari kepalanya!"
"HAHAHAHA! Iya, iya, setuju banget!"
"BWAHAHAHAHA!" dan keduanya tertawa tak jelas. Sedangkan yang lain sweatdrop. "Kadang berantem, kadang selaras, hubungan kakak-adik yang unik!" tutur Rica.
"Setuju!" Delima menyetujui perkataan Rica.
Melody menoleh kebelakang, "Viny..,". Ia menyenggol lengan Yupi yang ada disebelahnya.
"Huh, ada apa Melody-neesan?" tanya Yupi.
"Itu ada Viny!" Melody menunjuk ke arah Viny.
"Viny? Emang kenapa dengan Viny?" tanya Yupi bingung.
"Viny kan teman dekatnya Lidya kalo gak salah, mungkin saja ia tahu dimana Lidya,"
"Oh ya! Pemikiran bagus Melody-neesan!" seru Yupi setuju, "ayo, kita hampiri dia," Yupi menarik tangan Melody menuju Viny.
"Viny!" panggil Yupi.
Orang yang disebutpun menoleh ke belakang, "Yupi, Kak Melody, ada apa?"
"Kami ingin bertanya," jawab Melody.
"Apa itu, kak?" tanya Viny.
"Kau tahu dimana Lidya?" tanya Yupi.
Viny tertunduk, "a-aku tidak tahu,"
Merasa ada yang tak beres dengan wajah Viny yang ditekuk, Yupi angkat bicara, "apa ada masalah dengan Lidya?"
"Li-Lidya menghilang sejak tadi pagi, ketika ia ingin berangkat ke sekolah," jawab Viny mulai terisak.
"A-apa!?" Melody dan Yupi tercengang kaget.
"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi terhadapnya," Viny makin tertunduk.
Yupi memegang pundak Viny, "kita akan menemukannya, sebelum sesuatu yang buruk menimpanya!"
Viny melihat ke arah wajah Yupi, lalu mengangguk.
"Jadi, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah...apa?" gumam Yupi.
"Menenangkan dan memberitahu mereka?" usul Melody menunjuk ke arah Naomi-Sinka.
"Hmm...ide yang bagus kak Melody," usul Melody diterima dengan baik oleh Yupi.
~{JKT48 Fanfiction}~
"APA!? LIDYA MENGHILANG!?" seru semuanya kecuali Melody dan Viny terkejut.
"Bagaimana bisa!?" tanya Rica yang tak percaya.
"Pagi tadi, ia izin keluar untuk membeli sarapan. Tapi, sampai siang ini, ia tak kunjung balik. Ibu dan Ayahnya pergi menuju tempat dimana Lidya biasa membeli sarapan. Tapi, kata pemilik toko itu, yang sudah mengenal Lidya, ia tak datang pagi ini. Ibu dan Ayahnya kalang kabut dan meminta polisi untuk mencarinya, tapi sampai siang ini, ia masih belum ditemukan," jawab Viny panjang kali lebar.
"Ooh..." semua ber-oh ria.
"Jadi, kita harus mulai darimana? Ia bisa dimana saja," tanya Sinka.
"Apel biru kemerahan akan menghabisi nyawanya..." gumam Rica.
"Ada apa, Rica?" tanya Melody.
"Hmm...Apel biru kemerahan," Rica bergumam, "aku tahu kita harus mulai darimana!"
"Darimana?" semua bertanya-tanya.
"Kita mulai dari Perkebunan Almarhum Kakek Alan!" jawab Rica.
"Kenapa dimulai disana?" tanya Naomi.
"Karena, menurut kertas tadi, Apel biru kemerahan akan menghabisi nyawanya, itu artinya, nyawanya akan melayang ditempat dimana terdapat apel berwarna biru kemerahan. Dan, aku pernah melihat apel berwarna seperti itu di perkebunan Almarhum Kakek Alan!" jawab Rica.
"Emang ada yang warna begituan?" batin semuanya.
"Ayo, kita bersiap menuju perkebunan Almarhum Kakek Alan!"
"OKE!"
~{JKT48 Fanfiction}~
Diperkebunan Almarhum Kakek Alan [7/03/2014 15.45 WIB]
"Hah, capek kali!" seru Naomi.
"Cuman jalan 15 menit ajapun," tutur Melody.
"15 menit tapi jalannya...gila...buas banget...batunya setajam pisau!" sambung Sinka.
"Tapi, kaki kalian baik-baik saja," ucap Melody dengan polosnya.
"Ya iyalah, orang kita gak lewat batunya," ucap yang lain sweatdrop.
"Tapi, Kak Melody keren kali ya, jalan diatas batu itu, gak terasa sakit," tutur Delima.
"Iya, keren banget!" sambung Sonia.
"Itu udah biasa, ayo!" ajak Melody yang tak peduli dengan pujian itu.
Yang lain hanya mengikuti Melody. "Jadi, kita berpencar disini, semua bawa HP kan?" tanya Rica.
"BAWA!" teriak semua kecuali Melody yang hanya mengangkat HP-nya.
"Kalo bertemu dengan Lidya, telepon oke?" tanya Rica lagi.
"OKE!" teriak semua kecuali Melody yang hanya menganungkan jempol.
"Oke, sekarang berpencar!" perintah Rica.
"SIAP, BOS!" teriak semua kecuali Melody yang udah ilang ditempat.
"Gila, Kak Melody kayak hantu aja, hilang dalam sekejap," tutur Sinka.
"Setuju," Naomi menyetujui ucapan adiknya.
~{JKT48 Fanfiction}~
Disuatu kegelapan, terlihat seorang gadis dibekap oleh sapu tangan yang diikatkan di mulutnya. Tangan dan kakinya diikat oleh tali. Ia berusaha keras untuk melepaskan diri. Ia juga berusaha untuk berteriak, tapi, tak ada yang datang untuk menyelamatkannya.
Ia menatap tajam boneka yang berada didepannya. Tapi, tatapan itu berubah menjadi takut ketika boneka itu berjalan menujunya.
"Lidya sayang, aku tak keberatan untuk membunuhmu, karena kau telah menyakiti hatiku, dasar adik yang sombong," ucap boneka itu
"MMMFFF!MMMMMFFFF!" seru gadis itu berusaha teriak sekuat mungkin.
~{JKT48 Fanfiction}~
"Hah, luas banget sih kebun Kek Alan!" gerutu Naomi.
"Hahaha, iya, saking luasnya kita ketemu lagi, kak!" seru seseorang.
"Huh?" Naomi menoleh ke arah kanannya, "Sinka?"
"Yup, itu aku!" ucap Sinka. Dan, pada akhirnya, mereka mencari keberadaan Lidya bersama-sama.
"Hei, lihat kak, Apel biru kemerah-merahan!" seru Sinka menunjuk yang ia maksud.
"Iya," Naomi dan Sinka segera berlari menuju pohon itu.
"Ugh!" Sinka segera mengambil satu apel itu dan memakannya, "Mmm...asam-asam manis,"
"Masa'?" Naomi yang penasaran segera mengambil Apel aneh itu, "iya, asam-asam manis,".
"Huh, kakak dengar itu?" tanya Sinka.
"Dengar ap—" ucapan Naomi terputus.
"Sssshhh...diam,"
Naomipun diam. Hening. Tidak ada suara apapun. "MMMFFF! MMMFFF!" tiba-tiba, terdengar sebuah teriaka. "Suara siapa itu?" seru Naomi, "mungkinkah..."
"Lidya!" seru Sinka. Kakak beradik ini segera berlari menuju sumber suara.
BRAK! Naomi dan Sinka menendang pintu yang menutup sebuah rumah. Mereka segera berlari menuju sumber suara. "LIDYA!" Naomi dan Sinka segera menghampiri Lidya yang sudah bersimpah darah. Tangan kanannya terputus dan itu sangat mengerikan bagi kedua kakak beradik ini. "Ce-cepat, telepon Rica, dan yang lain!" perintah Naomi.
"Ba-baik," Sinka segera merogoh HP-nya dan menelepon Rica.
"Nao...mi..." ucap Lidya lirih.
"Lidya, bertahanlah," ucap Naomi memegang tanagn kiri Lidya.
"Maafkan aku,"
"U-untuk apa?"
"Untuk semua yang telah kuperbuat kepada kalian semua. Aku terlalu sombong, keras kepala, egois, aku ini...sangat menyedihkan!"
"Itu tidak benar! Kau tidak menyedihkan, kau tidak sombong, kau tidak keras kepala, kau baik, Lidya,"
"Didetik-detik terakhir ini, aku ingin minta maaf kepada kalian semua. Terutama dirimu yang telah tiada. Maafkan aku karena terlalu sombong, egois, keras kepala, yang telah menyakiti hatimu. Kau sangat tabah dan sabar, hiks...kumohon...maafkan aku. Dan, sampaikan maafku ke Kak Melody. Aku sangat bersalah atas kematiannya karena telah menabraknya dengan mobilku. Kumohon, maafkan aku dan..hiks...terima kasih," Lidya tersenyum sambil menangis dan memejamkan matanya.
"Tidak, tunggu, Lidya, tidak, jangan pergi! Tidak, LIDYA!" seru Naomi.
"Lidya," Sinka tak dapat membendung air matanya lagi.
"Lidya!" Rica dan yang lain baru datang dan langsung tercengang melihat nasib Lidya yang sangat mengenaskan ini.
"Tidak, Lidya," seru Viny tak kuasa melihatnya.
"Yang sabar ya, Viny," Yupi mengelus rambut Viny.
Melody yang berdiri dibelakang hanya tertegun melihatnya. "Permintaan maaf, diterima," Melody tak dapat membendung air matanya. Perlahan, jatuhlah air mata dari mata kirinya. Ia segera berlari menjauh dari tempat itu.
~{JKT48 Fanfiction}~
17 menit kemudian, datanglah para polisi dan mengangkut jasad Lidya. "TIDAK, LIDYA!" Ibu dan Ayah Lidya sangat terpukul atas nasib anaknya itu. Viny dan yang lain tak henti-henti menangis. Tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka telah menghilang.
Disuatu tempat, boneka yang tadi bersama Lidya sekarang sedang bersama seseorang sambil melihat para polisi mengangkut jasad Lidya.
"Menyenangkan, bisa membunuhnya," ucap boneka itu.
"Iya, memang," orang yang bersamanya mengangguk setuju.
"Tadi, katamu, ia meminta maaf kepadaku?"
"Iya,"
"Mungkin, aku akan memaafkannya, karena, sekarang ia senasib denganku,"
"Memang,"
"Apa kita akan melakukannya lagi?"
"Tentu, karena, seseorang yang sombong tak boleh ada dimuka bumi ini,"
...Chapter 2 is Completed...
Nacchan: Yeah! selesain 2 FF sekaligus! #maksudnya chapnya
Ryouta: Emang yang satu lagi apa? YWMK aja blom dilanjutin!
Nacchan: Kataomoi Finally~! Alias KF!
Ryouta: Oh, yang itu, kasian kali ya, si itu, siapa, lupa!
Nacchan: Iyalah, kasian-kasianin aja
Ryouta: Jangan lupa review semuanya!
Nacchan: Ja nee~!
Ryouta: Eh, tunggu, Review yang gak login blom dibales!
Nacchan: Oh ya, lupa! Kita balas dulu ya, kita lihat, dari...
~ Kenji
Hahaha, thanks Kenji-san! Oke, ini udah lanjut, mudah-mudahan bagus ^^
Nacchan: Oke, itu aja yang gak login,, sekali agi, thanks Kenji-san
Ryouta: Oke, sekarang, kami tutup dulu
Nacchan: Ja nee~
Ryouta: See you in the next chapter!
Nacchan: Tapi, kan ini bukan tempat lo -_-"
Ryouta: Disesi perbincangan, Nat! -0-
!~Arigatou Gozaimasu~!
