Seseorang tengah berjalan di gelapnya malam. Ia berjalan menuju suatu pemakaman. Disana, ia menuju sebuah batu nisan. Sesampainya disana, ia menaruh bunga mawar di atas kuburan itu.
Ia tersenyum, lalu, memandang ke arah langit. Entah mengapa, bulan kali ini, bersinar tidak terlalu terang. Tidak lama kemudian, terdengar suara petir dan terlihat kilat yang menandakan akan segera turun hujan.
Benar saja, tak berapa lama, hujanpun turun. Tapi, rasanya ada yang aneh dengan hujan ittu. "Hujan darah, hah..?" batin orang itu. "Hmm...mungkin akan menyenangkan bila membiarkan waktu berjalan sejenak sebelum membunuh orang yang selanjutnya, bagaimana, menurutmu?" ia menoleh ke arah batu nisan yang kini diatasnya terdapat sebuah boneka yang tengah duduk.
"Hmm...boleh juga."
.
.
JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 3 - Free Day
Rated: T
Genre: Mystery, Horror, Fantasy, dll.
Disclaimer: HUMAN!
WARNING(!): OOC, TYPO, GAJE, ABAL, Chara-died (jgn bunuh saya jika oshi anda terbunuh TAT)v)
.
.
Theater [9/03/2014, pukul 13.45]
"Kapan pemakam Lidya?" tanya Sonia.
"Entahlah, mungkin besok," jawab Viny.
Yang lain hanya manggut-manggut.
"Hei, apa ada yang lihat Melody?" tanya Rica yang tiba-tiba datang.
"Emang kenapa, kak?" tanya Sendy.
"Ini, kemarin aku meminjam novelnya. Dan, aku ingin mengembalikannya," Rica menunjukkan novel yang ia pinjam dari Melody.
Yang lain hanya ngangguk-ngangguk.
"Konnichiwa, minna," sapa seseorang.
Semua menoleh ke arah sumber suara, "Melody/Kak Melody/Melody-neesan!".
"Melody, ini, novelmu," Rica memberikan novel Melody yang ia pinjam.
Melody hanya mengangguk dan menerimanya. Ia memasukkan novel itu ke dalam tasnya yang berwarna hitam.
"Kak Melody dari mana? Pakaiannnya serba hitam!" tanya Delima.
"Dari makam Frieska."
"O-oh..." Delima sedikit tertunduk dan mengerti.
Suasana menjadi hening. Tak ada yang berbicara.
"Hei, aku penasaran dengan pembunuh yang membunuh member JKT48 ini," tutur Naomi.
"Yeah, aku juga," lanjut Rica.
"Dan, aku penasaran dengan member selanjutnya yang akan dibunuhnya," lanjut Sonia.
"Ini semua membuatku...pusing, marah, dan..takut," tutur Sendy.
"Bersedih," Delima menunduk.
"Ya," Viny menyetujui ucapan Delima.
Yupi dan Melody hanya diam dan tak banyak berbicara. Yupi melirik ke arah Melody. Melody membalas tatapan itu dengan tatapan mau-pergi-bersantai-sedikit-?
Yupi tersenyum, "Hei, ayo, kita pergi beli es krim, atau kue, atau apalah yang penting bisa dimakan! Santailah sedikit, cepat atau lambat, kita pasti dapat menemukan pembunuhnya!"
"Ayo! Kita beli es krim di toko Delilah Cream! Toko es krim itu baru dibuka kemarin, katanya enak loh es krimnya!" usul Rica.
"Hmm...boleh juga...!" gumam Viny.
"Ayo, kita ke sana!" seru Sonia.
"AYO!" seru semuanya. Yang tadi terlihat sedikit suram, sekarang terlihat sedikit bahagia.
"Tapi, itu tak berlangsung lama..."
~{JKT48 Fanfiction}~
Mereka telah sampai di toko Delilah Cream...
Ting!Suara bel ketika mereka memasuki toko es krim itu. Cukup sepi, mungkin karena baru buka, kali ya?
"Selamat da—" ucapan orang itu terputus, "loh, Melody, Sonia, Delima, Rica, Sendy, Yupi, Viny, Naomi, dan Sinka!"
"Sonya!?" seru semuanya kaget kecuali member generasi 2 kita. Mereka hanya mengedipkan mata mereka 2 kali.
"Ka-kau bekerja..disini..!?" tanya Rica kaget.
"Ng-nggak, aku disini membantu temanku, Delilah. Lagipula, aku lagi tidak ada kerjaan!" tutur Sonya, mantan member JKT48.
"Ohh~" semua ber-oh ria.
"Ayo, silahkan, kalian mau pesan apa?" tanya Sonya.
"Aku..." Yupi melihat-lihat daftar menu, "Banana Split!"
"AKu mau es krim rasa stoberi!" seru Sendy.
"Rasa rasberry," lanjut Rica.
"Aku mau rasa Blueberry!" tutur Sonia.
"Aku mau rasa peppermint!" lanjut Viny.
"Sama seperti Yupi," kata Sinka.
"Aku mau...rasa vanilla aja," kata Delima.
"Aku coklat!" seru Naomi.
"Blackcurrent," jawab Melody.
"Oke, tunggu sebentar, silahkan duduk dulu~!" tutur Sonya.
Member JKT48 itu langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tak menunggu lama, pesanan mereka pun datang. Mereka memakan es krim mereka dengan lahap. "Mm...manis~" tutur Sendy.
"Hah~ Serasa di nirwana~" ujar Naomi (Nirwana: Surga)
"Mm...Banana Split-nya enak beud~!" tutur Yupi keasyikan makan Banana Split-nya.
"Enak banget!" seru Viny.
"Blueberry-nya manis banget..." ucap Sonia.
"Manisnya..." tutur Rica.
"Kayaknya berat badanmu naik deh, Kak Rica..!" goda Sinka.
"Di-diam, kau, Sinka! Emangnya berat badanmu gak naik, apa!?" elak Rica.
"E-eh..!? Berat badanku turun kok!" dan, keduanya saling adu mulut.
"Vanillanya enak banget, bikin sendiri ya?" tanya Delima.
"Iya," Sonya mengangguk, "aku dan Delilah bersama temanku satu lagi—namanya Mia—membuat es krimnya sendiri."
"Sonya," panggil Melody.
"Iya, Melody?" tanya Sonya menoleh ke arah Melody.
"Ekstra besar, tolong!" jawab Melody menyerahkan tempat es krimnya kepada Sonya.
"Cepatnya!" batin semua selain Sonya dan Melody—tentunya.
"Siip~!" Sonya mengedipkan matanya dan menerima tempat es krim itu.
Ting! Sepertinya ada orang lain yang memasuki toko. Semua menoleh ke arah pintu.
"Selamat datang, eh, Jeje!" seru Sonya.
"Hah?" Jeje menurunkan kacamata hitamnya, "oh, Sonya, jadi kau bekerja disini?"
"Tidak, hanya membantu teman," jawab Sonya.
"Oh," Jeje hanya ber-oh singkat, "aku ingin es krim rasa blackcurrent!"
"Oke, sebentar," jawab Sonya yang ingin mengisi tempat es krim—sebut sajalah gelas—dengan es krim blackcurrent.
"Itu untuk siapa?" tanya Jeje menunjuk ke arah gelas.
"Eh, apa?" tanya Sonya menoleh ke arah Jeje.
"Es krim itu, untuk siapa?"
"Oh, ini untuk Melo—"
"What the hell!? Kau mendahulukan Melody daripada aku!?"
"E-emangnya ada masalah dengan itu...?"
"Tentu saja ada! Seharusnya kau melayani aku duluan, bukan cewek degil itu!" seru Jeje menunjuk ke arah Melody.
"Jaga mulutmu, Jeje!" seru Rica menggebrak meja.
"Heh, mentang-mentang kau yang paling tua, kau bisa mengaturku seenaknya, hah!?" seru Jeje.
"Dasar cewek bangsat!" desis Rica menggeram.
"What!? You say me what!?"
"Cewek bangsat!" jawab Rica penuh dengan amarah.
"Oh, jadi kau mengajakku berantem, hah!?"
"Kau yang mengajakku duluan!"
"Kau yang mengajakku duluan! Dasar kau, sama saja seperti Melody, cewek degil!"
"Kau bilang aku apa, cewek bangsat!?"
"Dasar cewek DEGIL!"
"Dasar kau cewek bangsat! Kenapa kau harus hidup di dunia ini hah!?"
"Itu seharusnya menjadi kata-kataku! Kenapa harus ada orang-orang seperti kalian yang hidup di dunia ini, hah!?"
"He-hei, sudahlah..." Sonya mencoba melerai.
"Jangan berantem..." lanjut Sendy.
Jeje ingin mengucapkan sesuatu, tapi, ucapannya terhenti ketika...
BRAKK! TING! "Jessica Vania! Hentikan!" seru seseorang.
Jeje menoleh ke arah orang itu, "cih, Travis."
"Cepat bawa cewek itu keluar dari toko ini!" perintah orang itu—Travis.
"Baik!" orang-orang yang diperintahpun membawa seorang Jessica Vania keluar dari toko es krim itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan! TRAVIS!" seru Jeje yang mencoba terlepas dari genggaman orang-orang itu.
Travis berjalan ke arah Rica dan yang lainnya. "Maafkan aku atas perilaku sepupuku!" tutur Travis membungkuk.
"Bilang kepada sepupumu agar menjaga mulutnya sebelum mulutnya ku robek!" seru Rica yang penuh emosi.
"Baik," Travis menunduk.
"Oh ya, es krimnya Jeje...jadi..?" tanya Sonya.
"Jadi, tolong dibuatkan," jawab Travis menoleh ke arah Sonya.
Sonya membalasnya dengan senyuman dan anggukan, "baiklah."
Melody berjalan menuju Sonya, "es krim-ku? Sudah?"
"Sudah," Sonya mengangguk dan menyerahkan gelasnya kepada Melody, "ini!"
"Terima kasih," Melody menerima gelas itu dan melahap es krimnya lalu kembali ke mejanya, tapi tak ingin duduk.
"Aku mengerti perasaanmu, Travis," bisik Melody sambil melahap es krimnya.
"Eh?" Travis menoleh ke arah Melody.
"Perasaan dimana seseorang mengambil hal yang paling kita sayangi. Aku tahu itu. Perasaan itu."
Travis memalingkan mukanya dari Melody dan mengepal tangannya.
"Mau ku traktir es krim?" tanya Melody.
"Eh? Ti-tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri, kok!" jawab Travis.
"Oke, aku belikan!" seru Melody berjalan menuju Sonya.
"He-hei! Ti-tidak perlu!" seru Travis.
"Sonya," panggil Melody.
"Iya, Melo?" tanya Sonya.
"1 es krim coklat, dan, tolong isi gelas ini lagi.." Melody menyerahkan gelasnya.
"Tidak sampai hitungan 10 detik!" batin semuanya.
"Baiklah," ucap Sonya tersenyum. Ia melaksanakan tugasnya. "Aku tak percaya, Jeje sangat berbeda dari yang dulu ku kenal.." gumam Sonya.
"Sebenarnya, sama aja dari dulu ampe sekarang," jawab Melody yang mendengar gumaman Sonya.
"Eh..? Bagaimana...bisa...?"
"Kau seperti di hipnotis oleh cewek itu dan menjadi pengikutnya, Sonya. Tapi, untungnya kau memutuskan untuk keluar dari JKT."
"Be-benarkah begitu...!?"
"Iya," Melody mengangguk.
"Ti-tidak mungkin..."
"Itulah yang terjadi.."
Sonya menggelengkan kepalanya, "biarlah yang lalu berlalu. Sekarang aku tahu seperti apa dia. Jadi, tidak ada yang harus dikhawatirkan! Oke, ini dia es krimmu, Melody!"
"Terima kasih," Melody menerimanya lalu berjalan ke arah Travis.
"Nih, punyamu!" Melody memberikan es krim coklat kepada Travis.
"Te-terima kasih.." ucap Travis agak canggung.
Melody tersenyum kecil, walau tak ada yang menyadarinya. Namun, senyuman itu tak bertahan sampai 5 detik. Ia menatap es krimnya. "Hitam..." batinnya.
Sementara itu, di luar toko...
"Lepaskan aku!" seru Jeje memberontak.
"Lenyaplah..."
"Hah!?" Jeje menyadari sesuatu, "su-suara siapa itu..!?"
"Pergilah..."
Jeje menoleh ke belakang, "siapa!?"
"Hilanglah dari muka bumi ini..."
"Kutanya siapa!?"
"Kekuatan balas dendam itu berisiko besar..."
Kali ini, mata Jeje membulat. Ia bisa melihat sebuah boneka berjalan ke arahnya, dengan bayang-bayang seseorang mengenakan baju putih dan rambut yang tak begitu panjang menutupi mukanya.
"Tak peduli seberapa jauhnya kau lari..."
Jeje semakin membulatkan matanya, merinding ketakutan melihat sosok yang ia lihat.
"Kau akan mati, Jessica Vania!"
Kini Jeje sangat ketakutan ketika melihat mata penuh darah dari sosok itu. Ingin berteriak, tapi tak bisa. Kakinya gemetar hebat.
"Tunggu kedatanganku...Jessica Vania.."
...Chapter 3 is complated...
Nacchan: Aha! Akhirnya selesai juga! Kayaknya chapter ini pendek banget, yak!
Ryouta: Pendek banget!
Nacchan: (Ngapain nih anak disini terus!?) Lo ngapain disini!?
Ryouta: Bosen~
Nacchan: Gimana keadaan syutingnya!?
Ryouta: Hancur
.
.
.
Nacchan: What the (sensor), (sensor), (sensor), (sensor), (dan sensor-sensor lainnya)
Ryouta: *sweatdrop* (nih author kebanyakan sensor)
Nacchan: (masih bilang sensor-sensor lainnya)
Ryouta: Okeh, minna, jangan lupa review ya!
!~Arigatou Gozaimasu~!
