Malam hari―tepatnya tengah malam―Jeje memeluk lututnya. Merinding sendirian di pojokan kamarnya. Mengingat hal yang tadi ia temui siang kemarin. Sebuah boneka dengan bayang-bayang seorang perempuan mengenakan baju putih dan rambut hitam yang tak terlalu panjang. Suara yang ia dengar, setelah terngiang di kepalanya cukup lama, akhirnya, ia merasakan bahwa suara itu tak asing di telinganya.

"A-apakah...mungkin...!?" matanya membulat.

Semakin ketakutan mengingat masa lalunya. Lalu, ia melihat sosok boneka yang ia lihat siang ini. "Ti-tidak...!" seru Jeje merinding.

"Matilah..." ucapnya mendekat.

"Tidak!"

"Matilah..." ucapnya sekali lagi.

"PERGI! PERGI DARI HADAPANKU!" teriak Jeje ketakutan.

Lalu, muncul bayang-bayang seorang gadis berbaju putih yang ia lihat siang ini. Jeje terpojok dengan tubuh yang bergemetar hebat. Keringat dingin turun dengan cepat dari pelipisnya.

Gadis itu menunjukkan matanya yang berwarna merah mencekam, "Matilah kau, Jessica Vania!"

"TIDAKK!"

JKT48: 泣く人形のための報復

Chapter: 4 - My Revenge, I Hate You!

Rated: T

Genre: Mystery/Horror

Disclaimer: Not me

WARNING(!): OOC, Typo, Gaje, Abal, dll.

.

.

Rumah Jeje [10/03/2014, pukul 08.45]

"Jeje, ayo bangun!" tutur Travis.

Jeje membuka matanya, "Ugh..." ia membulatkan matanya dan langsung mengecek tubuhnya dan sekeliling kamarnya.

"Ada apa?" tanya Travis.

"Ti-tidak ada! Aku akan mandi!" seru Jeje langsung turun dari ranjangnya dan pergi menuju kamar mandi.

Travis hanya menatapnya bingung. Sementara itu, di luar jendela kamar Jeje, terdapat seseorang berjubah hitam yang menutupi kepalanya dengan tuudng hitam bersama sebuah boneka.

"Kenapa kau tidak membunuhnya tadi?"

"Tenang, tak akan ku biarkan dia hidup untuk besok hari."

Orang itu hanya mengedipkan matanya melihat boneka di sampingnya.

~(JKT48 Fanfiction)~

Theater [10/03/2014, pukul 14.35]

"Hei, apa kau dapat berita terbaru dari kematian member-member kita?"

"Tidak, para polisi masih menyelidikinya."

"Aku penasaran siapa yang membunuh mereka..?"

"Dan,mengapa..?"

"Revenge." "Hah!?" Jeje merasa hembusan dingin di telinganya. Seketika, ia bergemetar hebat merasakan dinginnya hembusan itu.

"Re-Revenge...!?" batinnya.

Drrrtt... ia bisa merasakan bahwa HP-nya bergetar. Ia meraih HP-nya dari sakunya. Ia mendapat pesan dari Travis bahwa ia telah sampai. Segera, jeje berkemas, mengambil tasnya dan bergegas menuju Travis. Tapi, sebelum dia sampai di mobilnya...

BRUK!

Ia menabrak seseorang. "Heh, kalo jalan tuh liat-liat dong!" omel Jeje yang segera bangkit dan menemui Travis.

Gadis yang ia tabrak segera bangkit. "Kau tidak apa, Melody?" tanya Naomi yang segera menghampiri Melody.

"Yeah..." Melody mengangguk pelan dan melirik ke arah Jeje yang sudah menjauh darinya.

Naomi menatap kesal Jeje yang sudah menjauh, "Grr...gadis itu...!"

"Sudahlah, cewek gak penting kayak dia itu gak usah di urusin, hidupnya juga cuman sebentar lagi kok," tutur Rica.

Naomi dan Melody menoleh ke arah Rica, menatapnya dengan curiga. "Semoga," lanjut Rica.

~(JKT48 Fanfiction)~

"Cewek sialan, kenapa pula dia harus tabrak gue, hah!?" keluh Jeje sambil menghentak-hentakkan kakinya menaiki mobil.

BRAKK!

Ia membanting pintu mobilnya. "Pintunya bakal rusak jika kau terus menerus membantingnya!" tutur Travis.

"I don't care! Cepetan, pulang ke rumah!" perintah Jeje.

Travis mengangguk dan mengegas mobil yang ia kendarai itu. Ia sempat melirik sepupunya itu.

Badan Jeje gemetar, sepertinya ia menyimpan sesuatu.

Sementara itu, hati Jeje tidak tenang. Malam itu...boneka itu...gadis itu...suara itu...

Aku yakin, dia pasti―

BRUKK!

"Aduh! Ada apa sih!?" keluh Jeje.

"Tuh, motor yang nyelonong lewat," jawab Travis.

Jeje membuka jendela mobilnya, namun tak bisa. "Hei, Travis! Jangan kunci jendelanya! Aku harus teriakin dulu itu pengendara motor!" seru Jeje.

"Jaim sedikit kek, kan malu member JKT teriak-teriak gak jelas! Jadi hot news," tutur Travis.

"Salahkan motor brengsek itu, orang lampu merah masih juga jalan! Ayo, cepetan ke rumah!"

"Iya, iya," Travis kembali mengegas mobilnya.

~(JKT48 Fanfiction)~

Sesampainya di rumah, Jeje langsung menuju kamarnya. Sedangkan Travis menuju kamarnya. Setibanya di kamar, ia di kagetkan oleh kehadiran seseorang berjubah dan bertudung hitam dengan sebuah boneka yang melayang.

"Apa maumu!?" tanya Travis.

"Yang ku mau adalah kerja sama antara kau dan aku," ucap boneka itu.

"Kerja sama?" tanya Travis bingung.

"Ya, kerja sama untuk membuat seorang Jessica Vania tidak membuka matanya di keesokan harinya."

Travis tertegun, "Maksudmu...membunuhnya...?"

"Ya, betul sekali."

"Jadi, kau ingin bekerja sama dengan kami?" tanya orang yang berjubah.

Travis tertunduk, lalu menunjukkan wajah psikopatnya, "Tentu. Tentu saja aku mau."

~(JKT48 Fanfiction)~

Jeje's Room [10/03/2014, pukul 16.56]

Jeje POV

Aku menyelimuti diriku dengan selimutku. Aku merinding. Bergemetar hebat karena takut. Boneka itu, gadis itu, aku tahu siapa dia. Seseorang yang selalu ku ejek, ku labrak, dan hal buruk lainnya. Dan, sekarang, ia mengincarku, membalas dendam kepadaku.

Lalu, aku teringat suatu masa. Dimana secara SENGAJA aku membunuh sepupuku sendiri. Dia bernama Troy. Aku iri kepada Troy karena ia bisa melakukan apapun dan selalu mendapat pujian. Aku menjambak-jambak rambutku, Apa yang telah kulakukan!? Kau membahayakan nyawamu sendiri, Jessica!

Aku membuang selimutku. Aku mengambil jaketku dan aku memakainya. Lalu, meraih pistol yang ku punya. Aku punya feeling bahwa Travis dan boneka itu akan datang untuk membunuhku. Sejujurnya, aku tak pernah tahu bahwa Troy mempunyai saudara bernama Travis, namun, aku tak peduli. Aku menutupi kepalaku dengan tudung di jaketku. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan melompat turun dari kamarku. Aku berlari memasuki hutan yang dekat dengan rumahku.

Aku tak peduli apapun sekarang ini, aku akan terus berlari, lari, dan lari. Menghindari ancaman kalian semua. Dan, aku, pada akhirnya, akan selamat.

"Tak peduli seberapa jauhnya kau lari..."

Aku berlari tak tentu arah, guna menyelamatkan diriku.

"Kau akan mati, Jessica Vania!"

"AKU TIDAK AKAN MATI!" teriakku sambil terus berlari tak tahu kemana.

End of Jeje POV

Sementara itu, di kamar Jeje...

BRAKK!"Jessica Vania..." ucap Travis yang menendang pintu kamar Jeje.

Ia melihat sekeliling, mencari sosok seorang Jessica Vania, namun, ia tak menemukan sosok yang di cari. "Ia melarikan diri," ucap orang berjubah.

"Tch, dasar!" seru Travis meloncat keluar dari jendela kamar Jeje. Begitu juga boneka dan orang berjubah yang mengancam keselamatan member JKT48 itu. "JANGAN LARI KAU, JESSICA VANIA!" teriak Travis mengejar Jeje.

Orang berjubah dan boneka itu tertegun. "Wow, ambisinya untuk menghabisi Jeje sangat besar," tutur orang berjubah itu.

"Yeah," boneka itu tersenyum mengerikan, "I love that boy."

Boneka itu melayang mengikuti Travis, begitu jubah orang berjubah itu.

~(JKT48 Fanfiction)~

Theater [10/03/2014, pukul 17.14]

Naomi berhenti meneguk milo-nya yang ia beli.

"Ada apa, Naomi?" tanya Sendy.

"Aku mendapat bad feel," jawab Naomi.

"Bad feel?" tanya Rica menoleh ke arah Naomi.

"Seseorang, akan meninggal, malam ini," jawab Naomi.

"A-apa!?" seru semuanya (Sendy/Rica/Yupi/Viny/Sonia/Delima) minus Naomi kaget.

Naomi membuang milonya ke tong sampah di dekatnya dan berlari entah kemana. Dia hanya mengikuti perintah kakinya.

"Kak Naomi, tunggu!" seru Sonia mengejar Naomi, begitu juga yang lain. Mereka sekarang sudah memasuki hutan dan hanya mengikuti arah yang kaki Naomi ambil.

Di Hutan [10/03/2014, pukul 18.07]

Jeje POV

Aku beristirahat sebentar setelah berlari cukup jauh dari rumah. "Akhirnya, ku temukan dirimu," tutur Travis yang bersama boneka mengerikan itu dan seseorang berjubah hitam.

Aku membelalakkan mataku dan berlari lagi.

"Kau tidak bisa lari kemana-mana, Jeje!" Travis dan kedua teman barunya mengejar Jeje.

"Tak peduli seberapa jauhnya kau lari..." kata-kata itu terngiang di kepalaku. Apa aku benar-benar akan mati sekarang?

"Kau akan mati..." Apakah itu benar...?

Akhirnya aku sampai di sebuah tempat, dimana seluruhnya rumput. Yang disekelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang melingkar membentuk bentuk lingkaran. Aku melihat ke belakang. Ketiganya masih ada. Mengejarku, menginginkan nyawaku, setelah apa yang ku perbuat.

Aku berjalan mundur, bergemetar ketakutan. Berharap untuk tidak menutup mata sekarang, namun, Tuhan berkata lain.

ZRRASSHH!

"Argh..." aku memuncratkan darah dari mulutku. Travis menusuk jantungku. Seketika, kedua orang yang mengikutinya menghilang. "Rasakan itu Jessica, itulah pembalasanku, setelah apa yang telah kau perbuat terhadapku, aku akan membencimu selamanya," ucap Travis menatap kosong diriku.

Aku membulatkan mataku. "Aku tahu, Tuhan pasti berkata lain," batinku. Lalu, aku mendongakkan kepalaku ke Travis dan tersenyum, "Ma-afkan...a-ku...T―" belum sempat kuselesaikan kata-kataku, pandanganku mulai kabur dan aku...

End of Jeje POV

Travis POV

Gadis itu kini tergeletak di depanku, tanpa nyawa yang menempati tubuh itu. Aku menatapnya kosong. Akhirnya, aku berhasil memenuhi misiku.

"JEJE!" teriak seseorang. Aku mendongakkan kepalaku. Melihat siapa yang berteriak. Ternyata member-member JKT48 yang kemarin ku temui. Tapi, kulihat, kurang 2 orang di antara mereka. Melody dan...kalau tidak salah, Sinka.

"Jeje," walaupun Naomi yang datang duluan pertama kali, tapi, Rica duluan yang menghampiri gadis tanpa nyawa itu.

"Jeje, Jeje, Jeje bangun...!" Rica coba membangunkan Jeje, namun, tidak bisa. "Tidak, kenapa...kenapa aku ngomong seperti itu...!?" lanjutnya terisak.

"Jeje," member yang lain hanya tertunduk.

"Kembalilah ke alammu, Troy," ucap orang berjubah menyentuh punggung ku.

Aku tersenyum, "Terima kasih." Lalu, tubuhnya hilang menjadi debu.

End of Travis POV

Semuanya minus Rica melihat ke arah orang berjubah itu. Lalu, mata mereka tertuju pada boneka yang berada di sampingnya, tengah melayang-layang ria.

"K-kau!" seru Sendy mulai gemetar.

"Apa yang kau inginkan!?" seru Naomi.

"Aku? Inginkan? Yang ku inginkan?" Boneka itu tersenyum, "Adalah balas dendam atas perbuatan mereka. Ayo, kita pergi," Boneka itu berbalik. Orang berjubah itu hanya mengikutinya.

"Hei, tunggu!" Naomi ingin mengejarnya, namun, di tahan oleh Viny. Viny menggeleng lalu menoleh ke arah Rica dan Jeje. Naomi menatap sedih ke arah 2 member itu. Walaupun Jeje adalah seseorang yang mengesalkan dan egois juga sombong, namun, tetap saja, Jeje adalah salah satu dari JKT48. Salah satu dari teman mereka. Salah satu dari keluarga mereka. Jika Jeje kehilangan nyawanya, tentu saja, semua akan merasa kehilangan dirinya.

Orang berjubah tadi menoleh ke belakang, "Tinggal dua lagi."

...Chapter 4 is Completed...


Nacchan: Akhirnya, selesai dalam satu hari, NYAHAHAHA!

Ryouta: ...

Nacchan: Hah, butut! Sinyal error, mati lampu, apes dah!

Ryouta: hahaha, kasihan deh lo

Nacchan: (sweatdrop aja) Oh ya, mari kita balas review yg gak login~

~ Leman Slm

Iya, Jeje nya meninggal TAT, iya, Ryouta dari fic Nacchan 'YWMK'

Ryouta: Kayaknya Jeje disini kayak tokoh baik, ya?

Nacchan: Iya, padahal dua-duanya (Jeje & Travis) tokoh jahat-jahat smua #PLAK

Ryouta: Ohh...oke, jangan lupa review, minna!

!~Arigatou Gozaimasu~!