"Mmmm..." seorang gadis sedang bersenandung kecil. Ia sedang menjahit di kursi goyangnya. Dengan wajah yang riang. Tersenyum bahagia. Melihat jahitannya. Tak peduli bahwa tangannya berdarah. Ataupun hawa kegelapa tengah mendatanginya.

Ia melihat hasil jahitannya, tersenyum miris, "Kematian itu..akan segera datang kepadaku.."

"Apakah aku akan selamat..."

"Atau mati seperti yang lain...?"

"Mungkin, memang tak ada kata maaf bagimu..."

"Maka, secepatnyalah engkau datang, menjemput nyawaku.."

"Karena, aku sudah tidak tahan lagi.."

"Dengan semua kegelapan yang menghantuiku dalam 6 bulan terakhir ini.."

JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 5 - She Knows the Death is Coming
Rated: T
Genre: Mystery/Horror/Thriller
Disclaimer: HUMAN(!)
Warning(!): OOC, Typo, Gaje, Abal, OOT(mungkin), de el el. Yang oshinya mati, tolong jangan bunuh Nacchan, ya! Ini hanya fiksi belaka!

.

.

Theater [15/03/2014, pukul 15.36] Naomi POV

Sudah 5 hari semenjak meninggalnya Jeje. Dan, para polisi itu masih belum menemukan siapa pelakunya. "Polisi kampret, kerja tuh yang bener napa sih!?" batinku mengejk para aparat. Bukannya ku bermaksud mengejek, tapi, aku sangat penasaran dengan pembunuh keluargaku. Dan, aku sama sekali tidak ingin kehilangan lagi.

Dari kemarin, aku tidak melihat Sinka, adikku. Ketika aku pulang pun, aku tak bisa menemukan sosoknya. Aku bergumam, "Kemana dia?", "Apa yang dia lakukan?" walaupun pada dasarnya aku kurang peduli dengan kegiatannya. Namun, jika keadaannya mengancam seperti ini, tentu saja aku khawatir. Ia adalah adikku.

"Hai Naomi," sapa Rica menghampiriku.

Aku menoleh ke belakang, "Oh, hai Kak Rica."

"Ada apa? Kau sepertinya terlihat mencari sesuatu."

"Oh, tidak ada, hanya mencari Sinka, apa kakak tahu dimana dia?"

"Hmm...entahlah, tapi, sepertinya ia sudah keluar dari theater tadi."

"Ohh, begitu.." aku manggut-manggut mengerti.

"Apa kau tahu? Semenjak hari meninggalnya Jeje, Sinka...sedikit berubah."

"Eh?" aku menoleh ke arah Rica.

"Kau tahu, dia menjadi semisterius Melody. Kadang-kadang menghilang, kadang-kadang muncul secara tiba-tiba."

"Betulkah?"

"Ya, betul, dia bertingkah aneh. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan."

"Yang ia sembunyikan...?" aku mulai berpikir. Penasaran apa yang ia sembunyikan. Apa dia betul menyembunyikan sesuatu dari dunia?

"Hai, Kak Rica, Kak Naomi," sapa seseorang.

Aku dan Rica menoleh, "Oh, hai Vanka," sapa kami. "Hai juga, Dhike," lanjut kami.

"Hai," Dhike hanya tersenyum kecil.

"Aku dan Kak Dhike ingin pergi ke taman hiburan, Kak Naomi dan Kak Rica ingin ikut tidak?" ajak Vanka.

"Tentu, bagaimana denganmu, Naomi?" jawab Rica dan segera menoleh ke arahku.

"Tentu, kenapa tidak?" aku menyetujui nya.

"Ya sudah, ayo, kita segera pergi!" tutur Vanka dengan riangnya.

"Vanka riang sekali, ya," tutur Rica.

"Bukankah selalu begitu? Senyuman riangnya selalu membuat orang lain tersenyum," ujarku.

"Bagaimana kalau itu senyuman palsu?" tutur Dhike.

Rica dan aku segera menoleh ke arah Dhike, "Kau bilang apa Dhike?" tanya Rica.

"Huh? Aku tak bilang apa-apa, kok," jawab Dhike bingung kepada kami.

"Oh, ku kira kau bilang sesuatu, Dhike," ujar Rica.

Dhike hanya manggut-manggut.

"Kak Dhike! Kak Naomi! Kak Rica! Ayo cepetan!" teriak Vanka dari kejauhan.

"Iya, sabar Vanka," jawab Dhike berlari menuju Vanka, yang diikuti oleh ku dan Rica.

End of Naomi POV

~{JKT48 Fanfiction}~

Di suatu ruangan gelap..[15/03/2014, pukul 15.49]

Seseorang di tengah kegelapan, yang hanya ditemani oleh sebuah lilin, tengah menulis sesuatu di buku bersampulkan merah itu. "Aku membencinya, aku membencinya, mengapa ia selalu peduli dengan orang lain!? Mengapa!? Mengapa ia selalu melihat ke arah orang lain!? Mengapa tidka diriku!? Kau yang memintanya! Kau yang meminta kematian!" seru orang itu dengan wajah yang berkerut penuh amarah sambil menuliskan sesuatu di buku bersampul merah itu.

Krek...suara pintu terbuka.

Orang itu menoleh ke belakang. Ia melihat seseorang berjubah membuka pintu dan membuat cahaya masuk. "Siapa kau!? Apa maumu!?" seru orang itu.

"Mengapa kau ingin membunuhnya?" tanya orang berjubah.

"Karena dia selalu menoleh ke orang lain, bukan ke diriku," jawab orang itu meremas-remas kertas di buku bersampul merah itu.

"Betulkah itu?"

"Itu betul! Sudah terbukti! Ia sama sekali tidak peduli kepadaku!"

"Tapi, mengapa dia mencarimu tadi?"

"Apa...?" orang itu menatap orang berjubah tak percaya.

"Ia mencarimu, dengan wajah penuh kepedulian. Mengkhawatirkanmu, dan kau ingin membunuhnya?"

"Pembohong, ia tak pernah peduli ataupun mengkhawatirkanku!"

"Bagaimana jika keadaannya berbeda?"

"Apa maksudmu?"

"Pada keadaan ini, tentu saja ia khawatir kepadamu, takut kehilangan dirimu."

"Pembohong."

"Tidak, aku tidak bohong," orang berjubah itu berbalik, "Lakukan sajalah apa yang ingin engkau lakukan, namun, berpikirlah 2 kali untuk melakukannya." Orang berjubah itu berjalan dan kembali menutup pintu.

Krek...pintu kembali tertutup. Cahaya yang masuk kini pudar. Orang itu semakin meremas-remas bukunya, "Pembohong, yang kau laukan hanyalah ingin melidungi dia."

.

.

"Padahal dirimu melakukan hal yang sama dengan apa yang ingin ku lakukan, bahkan lebih keji, dan, kaulah yang membuat kami kehilangan semuanya, aku tahu itu, aku tahu semuanya...!"

~{JKT48 Fanfiction}~

Taman hiburan...[15/03/2014, pukul 18.57]

"Huaaa! Menyenangkan sekali hari ini!" tutur Naomi riang.

"Iya, sudah lama aku tidak bermain kesini," ujar Rica.

Naomi, Rica, Dhike, dan Vanka selesai bermain di taman hiburan. Mereka mengalami hari yang menyenangkan sekali.

"Menyenangkan sekali," Dhike tersenyum kecil.

"Menyenangkan sekali~!" ujar Vanka, "Untuk hari terakhirku."

"Eh?" semua menoleh ke arah Vanka, mendengar ucapannya.

"Hari...terakhirmu..?" tanya Naomi bingung.

"Ya, hari terakhirku," jawab Vanka.

"Pagi ini," Vanka menutup matanya, "Aku bisa merasakan hawa kegelapan itu mendekat. Tanganku berdarah karena terkena jarum saat menjahit. Namun, darah itu tidak keluar sedikit, namun, sangat banyak. Dia menghampiriku bersama senpainya. Membilang bahwa mereka akan membunuhku. Namun, aku membilang mereka."

Flashback On (Vanka POV)

"Jangan bunuh aku sekarang," ucapku.

"Maksudmu? Kau yang menginginkannya secepatnya, Vanka," ucap nya.

"Tolong, bunuh aku sore ini, setelah aku tampil di theater untuk terakhir kalinya, dan bermain dengan Kak Dhike, Kak Rica, dan Kak Naomi."

"Bermain dimana?"

"Datang saja ke alun-alun kota. Aku yakin kami akan melewatinya, bunuh aku disana, setelah aku merasakan semua kesenangan selama satu hari ini."

"Baiklah, kami akan membunuhmu, sore ini, ayo, kita pergi."

Dan, dia juga senpainya menghilang bersama hawa kegelapan itu. Aku memandangi tanganku yang berdarah banyak, tersenyum, "Aku tahu, kau tak akan pernah memaafkanku, senpai."

Flashback Off (End of Vanka POV)

"Di alun-alun kota?" tanya Naomi. Ia melihat sekelilingnya, "Sejak kapan kita di..."

"Alun-alun kota..." lanjut Dhike.

"Tapi, Vanka, mengapa kau ingin dibunuh!? Sore ini!? Disini!?" seru Rica.

"Karena kelakuan jahatku," jawab Vanka, "Juga, karena aku yang telah menyebabkan dia mati."

"A-apa...!?" semuanya tercengang.

"Kau menepati janjimu, Vanka," ujar seseorang. Semuanya menoleh ke sumber suara. "K-kau!" seru Rica. "Boneka terkutuk dan orang berjubah!" lanjut Naomi.

Vanka tersenyum ke arah mereka, "Tentu saja. Aku tak ingin berlama-lama hidup disini."

Boneka itu tampak menunjukkan wajah psikopatnya, ia mengeluarkan sebuah pisau dapur, "Hidupmu akan berakhir ini, Vanka!"

Vanka menutup matanya sambil tersenyum, "Silahkan, akhiri hidupku sekarang juga."

"Tunggu dulu, Vanka!" Naomi ingin mencegahnya, namun, tak bisa. Seperti ada sesuatu yang menghalanginya, seperti ada dinding penghalang di depannya.

"Kau tak boleh mengganggu kematiannya, Naomi! Vanka yang memintanya," ujar orang berjubah itu.

"Ugh, sialan!" seru Naomi memandang marah orang berjubah itu.

ZRRRAASSH!

"Agh.. .." nafas Vanka tersengal-sengal. Darah berceceran dimana-mana. "VANKA!" seru ketiganya. Dinding penghalang itu telah tiada. Ketiganya menghampiri Vanka yang berceceran darah.

"Tidak, Vanka, bertahanlah," ucap Naomi.

"Vanka..." Dhike memandang Vanka penuh iba.

Vanka tersenyum, "Te...rima kasih...untuk..segalanya...sayonara.." Vanka menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.

"Tidak, Vanka, jangan..." Naomi, Rica dan Dhike berderai air mata.

"Mari kita pergi dari sini," boneka dan orang berjubah itu pergi secara misterius.

"Tidak..." kesedihan, meliputi mereka.

~{JKT48 Fanfiction}~

Theater [15/03/2014, pukul 23.55]

Tap..tap..tap..suara hentakan kaki melintasi ruang-ruang di theater.

"Dhike," panggil orang berjubah tadi.

Dhike menoleh ke belakang, "Untuk apa kau mencariku, orang berjubah?"

"Kau ingin membantuku?"

Dhike memasang wajah datar dengan penuh kepenasaraan kepada orang berjubah itu.

"Untuk membunuh yang terakhir?"

"Siapa?"

"Dia adalah..."

.

.

"Yang termuda diantara kita..."

...Chapter 5 is Completed...


Nacchan: Yak! Satu hari selesai nih chapter!

Arisu: Huaaa~! Vanka udah gak ada!

Nacchan: Elo ngapain disini? Ryouta mana?

Arisu: Huh? Lagi bobo'

Nacchan: (sweatdrop) o-ohh...

Arisu: HYAAAHAHAHA! Dhike membantu sang Killer and the Doll!

Nacchan: (sweatdrop) kenapa elo seneng?

Arisu: Karena oshi aku menjadi jahat, HUAHAHAHA! (tertawa laknat)

Nacchan: (sweatdrop) mari kita tinggalkan saja anak yang disana, jangan lupa mereview ya minna-san~ Jaa ne~

Arisu: (masih tertawa laknat)

!~Arigatou Gozaimasu~!