Gadis berambut hitam kecoklatan itu berusaha untuk tetap tenang dan tak takut dengan sekelilingnya. Ia tahu dimana ia sekarang. Theaternya, dimana ia dan teman-teman JKT48nya tampil untuk menghibur fans mereka.
Tapi, theater itu gelap.
Tak diketahui sudah malam atau masih siang.
Gadis itu menoleh keselilingnya.
"Hei, anak muda.."
"Hi!?" deliknya kaget.
"Bersiaplah untuk mati..."
"A-apa...!?"
"Kau akan mati sebentar lagi..."
"M-m-m-mati...!?"
"Tak usah takut..." ucap seseorang.
Gadis itu menoleh ke belakang, "Kak Dhike!?"
"Karena memang sudah takdirmu untuk mati, bukan?"
"T-tapi..kak..."
"Waktunya untuk mati—"
JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 6 - Last Person
Rated: T
Genre: Mystery/Thriller/dll.
Disclaimer: Yasushi Akimoto-sama
Warning(!): OOC, Typo, gaje, abal, yang oshinya mati jgn bunuh Nacchan yak,, deelel.
.
.
.
"HUAA!" gadis berambut hitam kecoklatan itu terbangun. Ia menoleh ke kanannya, tirai jendelanya berkibar di hembus angin. Jendelanya terbuka, membiarkan sinar mentari dan angin masuk ke kamarnya yang tak begitu luas. Gadis bernamakan Nabilah itu terbingung-bingung di buatnya.
"Bukankah tadi malam sudah ku tutup jendela ini?" gumamnya.
Krek...lalu, pintu kamarnya di buka oleh seseorang. Member JKT48 generasi pertama itu menoleh ke arah pintu kamarnya, "Pagi sayang," ucap seorang wanita, ibu dari Nabilah.
"Pagi Ma," sapa Nabilah, "Apa mama yang membuka jendela ini tadi?"
"Tidak, kenapa?"
"Itu aneh, kemaren malam sepertinya sudah ku tutup jendela itu," Nabilah menoleh ke arah jendela kamarnya.
Ibu Nabilah duduk di sampingnya, "Mungkin kau lupa menutupnya, apa ada barangmu yang hilang?"
Nabilah melihat sekeliling, "Sepertinya tidak ada."
"Itu adalah awal yang bagus, oh ya, tadi, ada yang mencarimu, loh."
"Siapa ma?"
"Itu, siapa namanya...mama lupa."
"Teman SMP aku atau member JKT?"
"Member JKT."
"Apa dia lebih tua dariku?"
"Ya, lebih tua, seperti sudah...kuliahan. Dia kalau gak salah...centernya JKT, ya?"
"Kak Melody maksud mama?"
"Ah, iya, itu dia! Melody! Aduh, kok mama bisa lupa sih?"
"Yah, itu kan bukan teman mama sih..."
"Oh ya, dia titip pesan, katanya, nanti siang, ia menunggumu di theater."
"Menungguku di theater?"
"Yeah, begitulah dia bilang," Ibu Nabilah berdiri, "Nah, ayo, sekarang kita sarapan dulu."
"Baiklah," Nabilah beranjak dari kasurnya dan mengikuti ibunya.
~{JKT48 Fanfiction}~
Rumah Nabilah [16/03/2014, pukul 11.23]
"Ma, Nabilah pergi dulu, ya~" tutur Nabilah berlari keluar dari rumah.
"Iya," jawab Ibu Nabilah.
"Hai Nabilah!" sapa Shanju, salah satu member JKT48.
"Oh, hai Kak Shania, apa kabar?"
"Baik, bagaimana denganmu?"
"Baik juga."
"Kamu mau ke mana?"
"Ke theater."
"Ngapain?"
"Ketemu sama Kak Melody."
"Ohhh..." Shanju ber-oh ria, "Eh, kau sudah dengar belum?"
"Dengar apa, kak?"
"Kalau Vanka meninggal kemarin sore."
"APA!? VANKA MENINGGAL!?"
"I-iya..." jawab Shanju, "Jangan keras-keras dek."
"Oh ya, maaf kak," Nabilah menutup mulutnya, "Serius tuh kak, Vanka meninggal kemarin?"
"Iya, kata Kak Rica, yang membunuh Vanka adalah pembunuh yang selama ini membunuh member-member kita."
"Yang..membunuh member-member kita...?"
"Iya, dan," jawab Shanju mengangguk, "Kata Dhike, ia menerima pesan."
"Dari?"
"Dari si pembunuh."
"Pe-pesan apa?"
"Katanya, berhati-hatilah bagi anggota generasi pertama. Salah satu dari kalian akan mati."
"A-apa..?'
"Tunggu, itu belum selesai."
"Belum selesai?"
"Ya, lanjutannya, dengan boneka terkutuknya yang ditinggali jiwa yang haus akan dendam masa lalu, seseorang berjubah yang selalu melancarkan serangan dendam masa lalu, dan..."
"Dan...?"
"Dan, seseorang di antara kita yang membenci dirimu."
"Eh? Maksud kakak?"
"Seseorang. Dari JKT48. Generasi pertama. Akan. Membantu. Keduanya. Membunuh. Targetnya." Shanju mengucapnya dengan terpenggal-penggal.
"Tapi, siapa...?"
"Seseorang yang membenci dirimu."
"Seseorang yang membenci diriku?"
"Yang membenci diri kita. Dia adalah orang yang akan membantu kedua pembunuh berantai JKT48."
"Tapi, siapa yang tega membunuh kita...?"
"Siapapun yang membenci kita," ucap Shanju sewot sambil menatap garang Nabilah.
"Hehe," Nabilah terkekeh, "Oh ya, kakak mau kemana?"
"Kakak mau ketemu Kak Rica."
"SHANJU!" panggil orang-orang yang akan ia temui di toko es krim temen Sonya yang ada di chapter yang lalu-lalu.
"Oh, itu mereka, sampai jumpa nanti, Nabilah-chan~" ujar Shanju melambai pada Nabilah dan berlari menuju Rica en fren.
"Sampai jumpa, Kak Shania!" ujar Nabilah melambaikan tangan dan terus berjalan menuju theater.
"Hai girls!" sapa Shanju.
"Hai Shan," sapa Rica, "Dek Nabi mau kemana?"
"Oh, ke theater," jawab Shanju.
"Ngapain?" tanya Sonia—yang sedang menikmati es krimnya.
"Ketemu sama Melody," jawab Shanju.
"Sama Dhike juga?" tanya Naomi.
"Gak tahu, Nabilah cuman bilang sama Melody," jawab Shanju, "Emang kenapa?"
"Gak ada, soalnya, Dhike tadi pergi ke theater juga. Barangkali mereka bertiga bersama-sama," jawab Naomi.
"Oh," Shanju ber-oh, lalu menoleh ke arah Sonya, "Hai Son."
"Hai Shan," sapa Sonya.
"Turut berduka atas RIP nya sahabatmu, Son," tutur Shanju.
"Tak apa, aku sudah ikhlas," jawab Sonya.
"Dan, turut berduka atas meninggalnya teman kita, Vanka," lanjut Shanju.
"Iya," semua menunduk.
"He!? Vanka meninggal!?" seru Sinka yang baru datang.
Semua menoleh ke arah Sinka. "Iya dek, Vanka meninggal," jawab Naomi.
"Kapan!?" tanya Sinka kaget.
"Kemaren, sore," jawab Rica tertunduk.
"How can it be!?" seru Sinka.
"Ya, bisa-bisa saja, sudah kehendak Tuhan," jawab Shanju.
Sinka menatap tajam ke arah Shanju. Shanju yang mengetahuinya terlonjak kaget, dan melanjutkan omongannya, "D-dia..mungkin..menjadi...salah satu incaran...dari..pembunuh berantai itu..."
Sinka mengumpat kesal, "Dasar cewek bangsat."
"Kau kenal dengan pembunuhnya, Sinka?" tanya Sendy.
"Huh?" Sinka menoleh ke arah Sendy, "Tidak. Tapi, aku punya firasat bahwa pembunuh itu adalah salah satu dari kita."
"Salah satu dari kita...?" gumam Sendy.
"Pastilah salah satu dari kita, tak ada yang lebih mengenal kita selain salah satu dari member JKT48," lanjut Shanju.
"Hei, tadi aku melihat Nabilah, dia mau kemana?" tanya Sinka.
"Ke theater," jawab Yupi.
"Bareng?" tanya Sinka lagi.
"Melody...kalo gak salah," jawab Shanju mengingat kembali.
"Dan, Dhike kayaknya," lanjut Naomi.
"Ikut ke theater, yuk!" ajak Sinka.
"Eh, ngapain!?" seru Rica bingung.
"Yah, siapa tau mereka pengen latihan lagi buat nanti perfom, kita kan bisa nebeng ikut latihan," jawab Sinka.
"Oh, baiklah, ada betulnya juga," Rica berpikir. Semua setuju, dan mengikuti Sinka yang berjalan menuju theater.
Di theater [16/03/2014, pukul 12.35]
"Halo...?" Nabilah membuka pintu theater, entah bagaimana, suasana di sana sangat sepi, sunyi, dan gelap. "Kak Melody...?"
Nabilah melangkah masuk. Tiba-tiba, ada yang berlari di belakangnya, dengan sangat cepat. "Hah!?" Nabilah menoleh ke belakang, ia hanya melihat pintu yang ia buka, membiarkan sedikit cahaya masuk.
"NABILAH!" seru seseorang mencengkram kuat Nabilah dari depan. "HUAAA!" sontak, Nabilah kaget dan berteriak, "K-k-kak...Dhike..!?" ia melihat senpai-nya bercucuran keringat dingin. Raut wajahnya menandakan ia sedang khawatir, ketakutan.
"Waktunya untuk mati—"
Nabilah membulatkan matanya, mengingat kembali mimpi buruk yang ia alami kemarin malam. Tentang theater yang gelap. Suara yang memanggilnya. Dan, Dhike yang mengklaim, bahwa maut akan menjemputnya. Nabilah menelan ludah, mencoba untuk tegar dan tak khawatir sama sekali, "I-iya, kak? A-ada apa?"
"Tolong kakak, Nabilah! Tolong kakak!" seru Dhike histeris, cengkramannya semakin kuat. Nabilah sedikit meringis kesakitan, namun, ia tahan, "To-tolong...dari apa, kak...?"
"Dari dia Nabilah! Dari dia!" Paras Dhike yang cantik semakin menunjukkan rasa takut yang hebat.
"Si-siapa...kak...?"
"Dari—" belum sempat Dhike menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba, sesuatu seperti menariknya menjauh, "KYYAAAAAA!" dan menghilang dari mata Nabilah.
"KAK DHIKE!" panggil Nabilah. Ia akui, sekarang ia merasa sangat takut. Tubuhnya bergemetar hebat. Ia ingin lari dari tempat itu, namun, seperti ada sesuatu yang menahannya. Ia tak bisa bergerak. Keringat dingin bercucuran dari pelipis nya. Ia melihat ke kana-kiri, memastikan tidak ada apa-apa disana.
"Nabilah," panggil seseorang. Suara yang menyenangkan. Sangat familiar di telinganya.
"Nabilah! Apa yang kau lakukan!?" Nabilah menoleh ke belakang. Seorang gadis kecil berambut hitam pendek seleher dengan baju terusan berwarna kuning sedang memanggilnya. Ia sadari, bahwa, itu buakn theater, ia mengenal tempat itu. "Taman bermain," ya, itu adalah taman bermain di rumahnya yang lama, sebelum ia pindah saat kelas 5 SD. Gadis kecil yang memanggilnya, seperti familiar dimatanya.
"Aku sedang bermain, kenapa sih!?" jawab Nabilah kecil kesal.
"Kau dipanggil sama mama-mu, tau!"
"Lalu apa!? Aku tak peduli, aku masih ingin main."
"Nabilah, pulang sekarang! Mama-mu memanggilmu!" Gadis kecil itu menarik lengan Nabilah kecil agar segera pulang.
"Ih, apaan sih!?" Nabilah kecil mengelak dan mendorong gadis itu hingga jatuh ke tanah. "Hah!?" Nabilah terkejut, "A-aku...mendorongnya!?"
"Ada apa ini!?" Seorang gadis berambut hitam-coklat datang dengan nada yang sedikit tinggi, jika dilihat-lihat, gadis itu lebih tua 5 tahun dari Nabilah kecil.
"Kau tak apa?" Gadis berambut hitam-coklat itu membantu temannya—gadis berambut hitam—berdiri. Gadis yang ia bantu hanya mengangguk lemah.
"Nabilah, kau di cari ibumu! Cepat pulang!" teriak gadis berambut hitam-coklat itu dengan nada yang lebih tinggi dari tadi.
"Cih, dasar," dengan nada kesal, Nabilah kecil menuruti apa perkataan gadis berambut hitam-coklat itu.
Nabilah melihat sekelilingnya. Seperti tempat itu di putar menuju ke suatu masa. Ia bisa melihat Nabilah kecil dan gadis berambut hitam tadi sedang berjalan keluar dari minimarket.
"Kenapa sih, kamu selalu mengikutiku!?" gerutu Nabilah kecil kesal.
"Aku disuruh ibumu untuk menjagamu, Nabilah," jawab gadis itu dengan lemah.
"Aku bisa sendiri, kok! Tak usah di jagain!" Nabilah kecil mulai berjalan di zebra cross.
"Tunggu Nabilah! Jangan menyebrang dulu!" teriak gadis itu, namun, Nabilah kecil yang keras kepala, tidak mengubris ucapan itu.
TIIINN! TIIINNN!Suara klakson truk yang mendekat. Nabilah kecil menoleh, dan membulatkan mata.
"Awas!" pekik Nabilah.
"Nabilah!" Gadis berambut hitam tadi berlari, memeluk, dan mendorong Nabilah kecil agar tidak terkena tabrakan dari truk itu.
"KYYAAAAA!" teriak Nabilah tak sanggup melihatnya. Ia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ketika ia kembali membuka matanya, ia terkejut, terkaget.
"Rumah sakit?" gumam Nabilah. Lalu, ia melihat gadis berambut hitam-coklat saat ia melihat kejadian di taman bermain. Ia sedang berlari tergesa-gesa. "Hei, tunggu!" seru Nabilah mengikuti gadis itu. Gadis itu berlari dan mendobrak sebuah pintu di rumah sakit.
Ia linglung, mencari seseorang. Ia melihat Nabilah kecil terbaring, ia berlari ke arahnya. "Nabilah," ujar gadis itu, "Kau tak apa...?" tapi, Nabilah kecil yang masih pingsan tak dapat mengubris apapun. Nabilah hanya iba melihatnya.
"Bagaimana ke adaan anak saya, dok?" tanya suara yang familiar di telinga Nabilah, maupun gadis itu. Gadis itu segera menoleh ke belakang, gorden yang menutupi ranjang lainnya. "Ibu?" ujar gadis itu. Ia menjalan mendekat, namun tak berani membuka gorden itu.
"Anak ibu...separuh dari otaknya...telah rusak." Gadis itu, maupun Nabilah terlonjak kaget. "Apa...!?" ujar gadis itu tak percaya. "Bagaimana dengan anak saya, dok!?" tanya suara yang sangat familiar dengan Nabilah. "Mama!" tutur Nabilah. "Anak ibu terkena gegar otak, dan, kemungkinan, ia mengalami, amnesia."
"Amnesia...?" Nabilah bergumam kepada dirinya sendiri.
"Ya amnesia," ujar seseorang.
Nabilah menoleh ke belakang. Seorang gadis yang lebih tinggi darinya beberapa senti berdiri di belakangnya. Mengenakan sebuah baju putih terusan berlengan panjang dengan bagian bawah yang sudah agak koyak. Mata nya tidak terlihat begitu jelas oleh Nabilah, karena terhalang poni. Rambutnya bergaya segi sebahu. Nabilah merasa familiar dengan gadis itu, namun, siapa...?
"Kau tau aku amnesia?" tanya Nabilah.
"Aku tau kau menjalani terapi."
"Kau menunjukkan semua peristiwa ini kepadaku?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Untuk mengingatkanmu kembali, akan masa lalumu."
"Mengingatkanku kembali?"
"Ya, mengingatkanmu kembali akan masa lalumu," sekeliling keduanya mulai berubah, seperti gambar-gambar itu bergerak dengan cepat. Satu persatu, muncul adegan-adegan dimana Nabilah kecil yang keras kepala dan marah selalu menghina, memarahi, menyakiti gadis bermabut hitam pendek yang telah mengorbankan dirinya.
Nabilah melihatnya satu-persatu, yang semakin lama, semakin takut, pusing, bingung, dan, semua itu bercampur menjadi satu.
"Akan ku kembalikan ingatanmu."
Tap...tap...tap..
"Masa-masa dahulu dimana kau menghinaku."
Tap...tap...tap...
"Dan, kita di pertemukan kembali di sebuah audisi."
Tap...tap...tap...
"Dimana kau menjadi yang termuda."
Tap...tap...tap...
"Dimana kau menjadi..."
Tap...
"Yang terakhir." Nabilah membulatkan matanya. Dibelakang gadis itu, terlihat sebuah bingkai foto besar, beserta foto yang familiar baginya. Salah satu foto yang di pajang di theater. "K-kau, a-adalah—"
BRAKKK!Seseorang membanting pintu theater. Ia mendapati ruangan sepi, sunyi, dan gelap. "Apa ada orang disana, Sinka?" tanya seorang gadis loli di belakangnya.
"Tidak ada, tidak ada apa-apa disini," jawab Sinka.
"Eh? Seharusnya 'kan ada Nabilah, Kak Melody, dan Kak Dhike," tutur Sonia.
"Akan ku cek mereka," Sinka langsung berlari begitu saja hingga tak terlihat oleh mata.
"Eh, Sinka, tunggu!" panggil Sonia.
"Mana Sinka?" tanya Naomi.
"Menghilang secara misterius," jawab Yupi dan Sonia berbarengan.
"Bagaimana bisa begitu..?" Naomi menatap datar kedua loli tersebut.
"Ada Melody, Nabilah, sama Dhike gak?" tanya Shanju.
"Gak tau, suasana theater sepi dan gelap, seperti gak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya," jawab Yupi melihat sekilas theater yang akan menjadi tempat perfom mereka nanti.
"Hah?" Shanju menatap datar Yupi. "Apa maksudmu dengan 'gak ada tanda-tanda kehidupan'!?" lanjut Delima. "Yah, maksudnya, kayak gak ada orang gitu..." jawab Yupi menoleh ke arah keduanya.
"Kami berempat masih ada disini~" ujar seseorang—suara yang familiar. Sendy bergidik ngeri. Tentu saja, ia hafal suara itu. Suara pembunuh teman-temannya di JKT48.
"A-a-apa...?" tanya Sendy bergemetar hebat.
"Aku, seniorku, Nabilah, dan Sinka. Kami mempunyai rencana masing-masing."
"Re-rencana...apa...!?"
"Telusuri theater ini dengan membagi 3 kelompok, dan, kau akan menemukan satu titik gelap disana."
"S-satu..titik gelap..!?"
"Hentikan atau lanjutkan? Hahahahaha~" suara itu makin memudar.
Sendy bergidik ngeri. "Ada apa Sendy?" tanya Sonya yang menyadari pekikan Sendy. "Bo-boneka itu, be-berbicara, padaku.." jawab Sendy.
"Apa yang dia katakan?" tanya Naomi antusias.
Sendy mengambil nafas panjang, lalu membuangnya, "Dia, seniornya, Nabilah, dan Sinka mempunyai rencana masing-masing. Bagi menjadi 3 kelompok, dan telusuri jalan yang berbeda, maka, kalian akan menemukan satu titik gelap disana."
"Satu titik gelap?" gumam Rica.
"Hentikan atau lanjutkan?" lanjut Sendy.
"Eh, apa Sendy?" tanya Yupi.
"Hentikan atau Lanjutkan," jawab Sendy, " Itu yang di ucapkan oleh boneka itu sebelum suaranya menjadi samar."
"Jadi, kita bagi menjadi 3 kelompok," tutur Rica. "Kita ada berapa orang?"
"Tujuh orang," jawab Delima.
"Satu kelompok isinya 2 orang, yang 3 orang berarti beruntung," ujar Rica, "Oke, kupilih."
"Yupi sama Sonia," lanjut Rica. "Sip!" Yupi mengancungkan jempolnya.
"Sonya sama Delima," lanjut Rica. "Oke," ujar Sonya dan Delima tersenyum.
"Sisanya sama aku," ujar Rica. "Oke, kita semua masuk ke dalam."
Semuanya memasuki theater, dan, Rica mulai mengarahkan sana-sini. Akhirnya, ketiga kelompok mulai bergerak. Yang pertama, mari kita lihat kelompok Duo Loli XD
"Wawa," panggil Yupi.
"Ya, Permen?" tanya Sonia.
"Wawa takut gak?"
"Entah kenapa, Wawa gak ngerasa takut, kalo Permen, gimana?"
"Permen masih rada-rada takut sih, tapi, kalo sama Wawa, pasti semua tenang-tenang ajah. Wawa kan pelindung aku."
"Permen juga pelindung aku."
"Aku sayaaaaang Wawa!" Yupi memeluk Sonia.
"Aku juga sayaaaang Permen!" Sonia membalas pelukan Yupi.
Wujud asli dari boneka yang keliling dunia(?) untuk membantai orang-orang yang ia benci hanya sweatdrop berat melihat kedua loli yang di satukan oleh Rica. "Ah, terserahlah, yang penting, ku tuntun mereka dulu." Dia terbang mendekat.
"Hai, kalian berdua!" sapa gadis itu.
"Uwa! Wawa! Ada orang!" seru Yupi.
"Iya Permen! Aku melihatnya juga!" seru Sonia.
"Ya ampun, ku tulis kalian nanti di Death Note-ku," batin gadis itu, "Kalian akan melewati seperti ruang labirin, dan, tak ada yang pernah berhasil sampai di ujung. Jika kalian berhasil sampai di ujung, maka, kalian berhasil menemukan satu rencana dari masing-masing orang, selamat menikmati perjalanan kalian~" gadis itu terbang pergi. Dan, Yupi, dan Sonia melihat sebuah pintu kayu yang terbuka sendiri, menunjukkan jalan memasuki labirin.
"Wawa mau masuk?" tanya Permen.
"Wawa penasaran dengan rencananya! Jadi, Wawa harus masuk!"
"Wawa masuk, Permen masuk!"
"AYO!" bersama-sama, mereka bergandeng tangan dan memasuki labirin itu. Gadis yang melayang-layang di langit-langit theater tadi hanya sweatdrop dan terbang pergi menuju kelompok yang menjadi sasaran selanjutnya, kelompok Sonya dan Delima.
Gadis itu memperhatikan keduanya terus-menerus. Kedua gadis generasi pertama dari JKT48 itu hanya menciptakan suasana hening dan terus berjalan tak tentu arah, berlawanan dengan duo Loli tadi. "Baiklah, ini timingnya!" Gadis itu mendekat dan berdiri di depan keduanya.
"UWAAAA!" keduanya berteriak senyaring mungkin sambil berpelukan. "Ya Tuhan, hantu-pun masih merasakan yang namanya telinga bakal budek," batin arwah itu, "Kalian berdua akan kutuntun kepada masa-masa seseorang yang menjadi salah satu list dari pembantaian! Selamat menikmati!" Gadis itu menjentikkan jari. Lalu, muncul lubang besar di bawah keduanya. Sonya dan Delima melihat ke bawah, "KYAAAAAA!" dan mereka terjatuh ke dalamnya. Setelah suara teriakan itu semakin jauh, lubang itu tertutup dengan sendirinya. "Oke, yang terakhir," arwah itu terbang melayang menuju kelompok Rica.
Jika kau bertanya, kelompok ini yang paling serius mencari apa rencana yang dipersiapkan ke-4 orang yang disebutkan Sendy. "Khukhu, Sendy, serius banget~" gumam arwah itu—yang ternyata paling suka ngeganggu Sendy.
Gadis itu lalu mendarat di depan ketiganya. Ketiganya—ralat, Rica dan Naomi doang—sudah bersiap untuk menyerang gadis itu. Sementara Sendy sembunyi di balik kaki kiri Rica.
"Ya ampun, Sendy, elo," batin gadis itu, "Kalian akan ku tuntun menuju satu titik gelap!"
"Apa?" tanya Rica.
"Kalian akan mengetahui rencana utama dari semua ini!"
"Bagaimana kami mengetahuinya!?" tanya Naomi.
"Jalan lurus saja! Jangan berbelok, walaupun di depanmu adalah tembok!"
"Apa kau menyuruh kami mati juga!?" seru Sendy yang secara tiba-tiba mendapat keberanian.
"Ikuti saja perkataanku, ja na!" gadis itu pergi entah kemana.
"HEI!" teriak Sendy.
"Khukhukhukhu~" tawa gadis itu.
"Apa musti kamu memberi tahu mereka dan menuntun mereka?" tanya seseorang dengan jubah dan tudung hitamnya.
"Tak apa, aku hanya ingin mereka tau rencana utama kita, biar seruan dikit, dan, agar mereka tau rencana gadis itu."
"Bagaimana mereka tau siapa aku sebenarnya?"
"Mereka hanya kaget dan tak akan marah terlalu lama."
"Bagaimana kau tau itu?"
"Percaya padaku," ujar gadis itu, "Dengan begini, semua akan menjadi lebih seru."
~{JKT48 Fanfiction}~
Di tempat duo loli...
"Hua, Wawa! Ternyata kita udah sampe di ujung!" seru Yupi.
"Cepatnya kita sampai! Padahal baru 5 menit yang lalu si hantu bilang ke kita!" tutur Sonia.
"Iya yah, baru 5 menit," Yupi memeriksa jamnya, "Berarti kita loli terhebat, Wa!" Yupi dan Sonia bertos ria.
"Wawa dan Permen gitu loh~" ujar Sonia. Lalu, mereka mendengar suara yang agak berisik.
"Suara apa itu, Wa?" tanya Yupi.
"Sssshhh...kecilkan suara mu, Permen!" jawab Sonia.
"Ups, sorry."
"Tak apa, oke, kita diam-diam berjalan menuju asal suara itu," pandu Sonia. Yupi hanya menuruti dan mengikuti Sonia. Di sebuah ruangan, ia melihat seseorang dengan sesuatu.
"Itukan..." Sonia terbelalak.
"Sinka," lanjut Yupi ikut terbelalak.
Sinka tersenym sangat lebar kepada hasil karyanya, "Dengan ini, aku bisa mengalahkanmu, dan membunuhmu." Sinka menoleh ke belakang dengan tatapan mengerikan, "SHINTA NAOMI!"
Sonia dan Yupi saling tatap, "Apa!?"
.
.
...Chapter 6 is End...
Nacchan: Huaaaa~ Sebenarnya sih masih panjang, cuman, males, jadi, Nacchan potong disini!
Ryouta: (Natap Nacchan sinis) kemana ja lo? baru nongol
Nacchan: Syori ma bro! K-13 terlalu seperti Bapaknya Marinir bagiku
Ryouta: Hah? Nacchan pake K-13 di sklh?
Nacchan: Iyeee...TAT (nangis bombay #plak)
Ryouta: Cup, cup, yang tabah (nepuk-nepuk pundak Nacchan)
Nacchan: Makasih ma bro TAT)/ okeh, semuanya, jgn lupa ripiu yak~ Ja naaa~
Ryouta: Bye~
Nacchan: Eh, tunggu, ada ripuw yang belom di jawab
Ryouta: Oh yeh, lupa, dari si...
~Leman Sem
Iya, lama juga gak kesini, jadi dokumen pada ke hapus TAT (yang tabah nak) haha, yang sabar nak, yang ikhlas ngelepasin dia...~Syip! Syip! Gak usah sampe' nyolong golok ane jugah keles -,- #plak #dibunuhLeman
Nacchan: Okeh, cekian dri kami, ja nee~
Ryouta: (lambai-lambai tangan aja)
