"Dimana ini!?" seru Sonya kaget.
"Pekarangan...?" tanya Delima.
"Pekarangan rumah...siapa?"
"Mana ku tahu."
"Ayo kita jelajahi."
"Tunggu dulu, haruskah?"
"Tentu saja, kita harus cari tahu tempat apa ini, dan keluar dari sini, SE-CE-PAT-NYA."
"Errr..."
"Apa lagi!?"
"Kau tahu...rasanya aku pernah datang kesini."
"Betulkah? Kapan?"
"Mmm...enggak lama dari hari ini deh pokoknya."
"Betulkah?"
"Eh, bukan! Bukan! Udah lama banget! Pas aku masih kecil deh..."
"Jauh banget salahnya..."
"Yeah, pokoknya gitu deh."
BRAKK! PRANG! Suara benda jatuh dan pecah terdengar dari dalam rumah. "Suara apa itu?" tanya Sonya. "Suara benda jatuh dan pecah," jawab Delima. "Benda apa...?" Sonya menatap Delima. "Tanya rumahnya lah, mana ku tahu!" jawab Delima.
Sonya dan Delima memasuki rumah itu. "Wow, kita tembus," seru Sonya. "Hebat..." Delima bertepuk tangan.
"Menjauhlah dari aku, dasar gadis bodoh!" seru seseorang.
"Tidak bisa, aku harus berada di sampingmu. Mama mu menyuruhku untuk menjagamu!" seru seorang gadis.
Sonya dan Delima melihat ke arah kedua orang itu. Wajah mereka tampak familiar. "Bukankah itu..." Sonya menggantungkan kalimatnya. "Nabilah dan Frieska?" lanjut Delima.
JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 7 - Last Person: Part 2
Rated: T
Genre: Mystery/Thriller/dll.
Disclaimer: Yasushi Akimoto-san
Warning(!): OOC, typo, gaje, abal, bakal ada CharaDead, jika mereka adalah oshi anda - anda sekalian, dimohon untuk tidak membunuh Nacchan keh (*peace), deelel.
.
.
.
Yupi dan Sonia merinding di tempat. "Ke-kenapa Sinka mau membunuh Naomi...?" tanya Yupi.
"Entahlah, Permen, tapi tentu saja ini adalah hal yang tak bisa kita biarkan!" jawab Sonia.
"Apa yang harus kita lakukan, Wawa!?"
"Ng...kita tentu saja harus menghentikan Sinka! Dan, mencegahnya bertemu dengan Naomi!"
"Tapi, bagaimana caranya Wawa!? Bagaimana!?"
"Enggg...entahlah, aku pun juga bingung."
"Kalau begitu, ayo kita main hide and seek. Biasanya seorang pembunuh, rencananya di ketahui oleh seseorang, pasti orang itu akan dikejarnya dan dibunuh. Jadi, ayo kita main hide and seek dengan Sinka!"
"Kalo kita mati, kayak mana!?"
"Mmmm...hanya Tuhan yang tahu! Kalau Wawa takut, Wawa balik aja, kasih tahu Naomi dan yang lainnya! Biar aku yang menangani Sinka."
"Tidak, Wawa akan mengikuti Permen hingga akhir."
"Baiklah Wawa, ini adalah antara hidup dan mati. Mari kita perjuangkan ini bersama - sama!"
"Yosh!" Sonia berjalan ke arah pintu, menghalangi satu - satunya cahaya yang menyinari ruangan itu. "Wa-Wawa...?" tanya Yupi bingung. Sinka menoleh ke belakang, "Sonia? Sedang apa kau disini!?"
"Cih," Sonia menyengir, "aku tahu apa yang kau rencanakan Sinka! Dan, aku tak akan membiarkanmu melakukannya! Apapun alasanmu! Apapun yang terjadi! Tapi, tentu saja aku tidak akan membunuhmu, nanti aku dikira loli psycho oleh para fans-ku."
"Loli psycho?Kedengaran keren!" batin Yupi.
"Heh, jadi begitu," Sinka terkekeh dan menoleh ke arah Sonia. Glek! Sonia menelan ludahnya. "Yupi, lari.." perintah Sonia. "Tapi, Wawa..." Yupi menolak untuk pergi. "Pergi Permen! Siapkan jebakan!" perintah Sonia. "B-baik..." Yupi berlari pergi.
BRUM! Sebuah gergaji mesin Sinka nyalakan. "Grrr..." suara anjing - anjing buas yang kelaparan juga terdengar. Kaki Sonia gemetar, keringat dingin turun dari pelipisnya. Sebenarnya ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dan, ia tak yakin bisa lari dari terjangan anjing - anjing itu. "Bunuh dia, anjing - anjing ku!" perintah Sinka menggila, "HAHAHAHAHAHAAA!" dengan tawa psikopatnya dan suara gergaji nya.
"GRRR!" anjing - anjing itu berlari ke arahnya. Kaki Sonia gemetar hebat. "Apa yang terjadi!? Kenapa aku tak bisa bergerak!? Oh tidak, aku terlalu takut! Apa aku bisa selamat!?" batin Sonia.
WUSHH! Tiba - tiba, ada seseorang yang menarik lengannya. Mau tak mau, Sonia harus berlari mengikuti jejaknya memasuki labirin. "Shanju?" tanya Sonia ketika melihat sosok yang menariknya. "Yo!" sapa Shanju menarik lengannnya. "SINI!" teriak Yupi melambaikan tangan. Shanju dan Sonia pergi berlindung di tempat Yupi.
"GRR!" anjing - anjing itu masih mengejar. "Yosh! Rasakan ini anjing - anjing nakal!" seru Yupi melempar seekor kucing putih ke tengah - tengah jalan mereka. "Meow...?" kucing itu terlihat bingung ketika anjing - anjing itu berhenti seketika. Air iler dari mulut semua anjing itu mulai menetes. Si kucing berjengkit kaget dan langsung lari. "GUK! GUK!" anjing - anjing itu langsung mengejar si kucing.
"Fyuh, selamat dari cobaan pertama!" Yupi dan yang lain menghela nafas lega. "Shanju kok tiba - tiba muncul?" tanya Sonia bingung. "Dari tadi aku bersama kalian, tahu!" jawab Shanju. "Terus, kok tadi gak nampak ya? Pas kita masuk ke theater!" tanya Yupi. "Aku tadi melihat bayang - bayang dua orang lagi berbincang," jawab Shanju, "mengenai target selanjutnya."
"Siapa target selanjutnya?" tanya Yupi penasaran.
"Targetnya adalah―" ucapan Shanju terputus ketika muncul sebuah makhluk aneh dengan mata kirinya yang tak ada, rambut putih, dan tubuh tanpa kulit. "KYAAAAAAAAAAA!" teriakan Sonia dan Yupi sukses membuat telinga seekor gajah menjadi budeg. "Cepat lari dari sini! Kita harus bersembunyi!" perintah Shanju. Ketiganya langsung berlari sekencang tenaga.
"Gila! Tuh makhluk kencang banget!" komentar Yupi.
"Apa yang harus kita lakukan Shanju!? Shanju!?" seru Sonia panik.
"A-aku tidak tahu, pokoknya kita harus lari dulu!" jawab Shanju.
Langkah Yupi terhenti sebentar, "Hei, sebelah sini! Ada ruangan!"
Shanju dan Sonia berbalik dan mengikuti Yupi. Mereka memasuki ruangan itu dan menguncinya.
BUG! Makhluk itu terus - menerus menabrak pintu ruangan itu. "Fyuuhhh...untung pintunya terbuat dari besi!" Sonia bernafas lega.
"Jadi, siapa targetnya?" tanya Yupi penasaran.
"Targetnya adalah―" ucapan Shanju terhenti lagi.
"―Adalah kalian!" seru seseorang dengan bunyi gergaji. Ketiganya menoleh ke belakang.
"SINKA!"
~{JKT48 Fanfiction}~
Rica, Naomi, dan Sendy berjalan lurus sesuai permintaan si arwah. "Apa kita benar - benar harus mengikuti kata arwah itu?" tanya Sendy. Ia ketakutan, tentu saja. Sendy sangat takut terhadap arwah itu, dan suasana sekeliling mereka terlihat begitu mencekam. "Mana ku tahu, saat ini, kita berjalan lurus saja!" jawab Rica. "Ya, itu benar," sambung Naomi.
Lalu, langkah mereka terhenti. Jalan buntu. Tidak, ada dua jalan di samping kanan-kiri mereka. "Apa yang harus kita lakukan? Menabrakkan diri seperti orang gila atau belok ke salah satu jalan ini?" tanya Sendy.
"Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di cup!" Rica memilih jalan dengan cara tradisional. "Lewat kiri," ujarnya berjalan ke arah kiri. "Serius tuh?" tanya Naomi kurang yakin. "Gak sih," jawab Rica terhenti dan menoleh ke belakang, "aku cuman pengen tahu aja apa yang ada disana," dan melanjutkan langkahnya.
Sendy dan Naomi sweatdrop ditempat. "Kalo kita mati disana, kita harus menyalahkan Rica," ujar Naomi. "Setuju," Sendy mengangguk setuju.
Naomi dan Sendy pasrah mengikuti jejak Rica. Selama perjalanan tidak ada hal aneh, menyeramkan atau apapun yang terjadi. Hingga mereka menemukan jalan buntu lagi. Dengan lukisan besar di dinding. Rica mendekati lukisan itu dan membaca tulisan di bawahnya. "Lady in Red..." baca Rica. "Mirip kayak di game Ib!" seru Naomi. "Game Ib?" tanya Sendy.
"Itu loh, game thriller yang sering ku mainin waktu break time. Yang ku teriak - teriak merinding sendirian!" jawab Naomi mengingatkan.
"O-oh..." Sendy ber-oh ria.
"UWAAAAA!" teriak Rica kaget dan berlari mundur. Sendy dan Naomi menoleh. Lukisan itu tiba - tiba hidup. "Jangan - jangan kita nyasar kayak si Ib," komentar Naomi. "Se-sekarang apa yang harus kita lakukan!?" tanya Sendy panik. "Tentu saja lari," jawab Naomi.
"ROAR!" Lukisan itu mengejar mereka. "UWAAAAAA!" ketiganya langsung berlari ketempat semula. Mereka terus berlari hingga masuk ke jalan kanan. Lukisan itu masih mengejar.
"Lihat! Ada pintu!" seru Sendy menunjuk ke arah pintu besi.
"Masuk sana?" tanya Naomi.
Rica menoleh ke belakang, lukisan itu masih mengejar. "Apa boleh buat, kita masuk."
Rica, Naomi, dan Sendy memasuki ruangan itu. BRAK! Mereka membanting pintu itu. "Hah, hah, hah..." ketiganya mengatur nafas. Sendy duduk bersandar ke pintu, "Capek! Benar - benar capek! Aku gak pernah ingat ada lukisan itu di theater!"
"Dan, aku gak pernah ingat ada jalan dan ruangan ini di theater!" sambung Naomi.
"Mungkin saja ini adalah teka - teki yang dibuat oleh si arwah nyebelin itu," jawab Rica.
"Mungkin saja," Naomi mengangguk setuju.
"Bagiku itu benar - benar dia yang buat," Sendy menoleh ke arah lain.
"GRRRRRR..." suara geraman buas. "Suara apa itu?" tanya Naomi. "Merinding..." tutur Sendy. "Sendy berdiri! Kalau kita harus lari, kita sudah siap!" perintah Rica menggandung tangan Sendy untuk berdiri.
"O-oke..." dengan sangat terpaksa, Sendy berdiri.
"Grrrrrr..." suara geraman itu semakin dekat.
"Suara apa sih itu...!?" tanya Naomi geram.
"Suara geraman?" tanya Rica.
"Suatu masalah," jawab Sendy.
Ruangan itu gelap. Dan, tiba - tiba terlihat cahaya - cahaya merah yang menatap ke arah mereka. "Cahaya apa itu?" tanya Rica.
"Err...sesuatu?" jawab Rica.
Salah satunya mendekat, dan tampaklah jelas sosok dari mereka. "Anjing buas...!?" seru Sendy kaget.
"GUARRHH!" anjing - anjing itu menyerang mereka. "UWAAA!" mereka langsung membuka pintu dan berlari.
"Shit! Ada lukisan itu lagi!" gerutu Rica kesal.
"Serahkan padaku!" seru Naomi berlari lebih kencang. "HIAATTT!" Naomi meloncat dan menginjak lukisan itu. "Rasakan ini! Rasakan ini! Rasakan ini! Matilah! Matilah! Lukisan aneh! Mati dan mati! MATILAH!' teriak Naomi terus - terusan menginjak lukisan itu.
"Entah kenapa aku merasa kasihan sama si lukisan itu," komentar Rica.
"Tidak denganku, ia pantas menerimanya," sepertinya Sendy tak setuju dengan pernyataan Rica.
"Ayo Naomi, jangan keenakan nginjak tuh lukisan!" perintah Rica melalui Naomi yang disusul oleh Sendy.
"Oke!" Naomi segera menyusul Rica dan Sendy. Mereka telah sampai di titik awal, dimana jalan untuk maju-terus-pantang-mundur mereka berakhir. "Kemana kita sekarang!?" tanya Sendy panik.
"Ngg...nggg..." Rica menoleh ke arah kanan dan kirinya, "mungkin kita harus mencoba perkataan si arwah!"
"Apa!? Apa kau gila!? Aku gak mau kepala ku bocor gegara nabrakin diri ke dinding!" seru Sendy menolak.
"GUARRHH!" anjing - anjing itu semakin dekat.
"Gak ada pilihan lain Sendy, ayo!" Naomi menarik Sendy menabrak dinding itu yang di dahului oleh Rica.
"Eh, tu-tunggu, tidak!" seru Sendy menolak.
Dan, ketiganya menabrak dinding itu. Bukannya merasa sakit, mereka malah seperti menabrak kain dan sampai di sisi lain dunia(?)
"Dimana ini!? Apakah kita sudah mati!?" teriak Sendy panik.
"Belum bodoh!" Naomi memukul kepala Sendy.
"Sakit," ringis Sendy.
"Kita harus berjalan lurus," tutur Rica berjalan.
"Eh, Rica?" Naomi dan Sendy menoleh ke arah Rica.
"Ayo, nanti tiba - tiba ada Yuki-Onna yang membekukan kita atau Sadako lewat, aku gak mau itu sampai terjadi," jawab Rica.
"Err..." Naomi dan Sendy terdiam di tempat memikirkan kata - kata Rica. 5 menit kemudian, keduanya kembali bergabung dengan Rica. Tempat itu sangat gelap. Benar - benar gelap. "Sebenarnya kita masih di theater, kena jutsu ilusi, atau nyasar ke dunia lain?" tanya Sendy sedikit merinding. "Kita nysar ke alam baka," jawab Rica. "AKU SERIUS, RICA! AKU SERIUS!" teriak Sendy sewot.
"Nyalain senter aja kalo gitu," usul Rica. "Rica, jangan bersikap bodoh. Tak ada satupun dari kita yang membawa senter," tutur Naomi menatap datar Rica.
Rica merogoh sakunya dan mengeluarkan HP-nya. Lalu menyalakan senter dari HP-nya. "Kau kali yang bodoh. Di HP kita kan ada senternya. BUOOOODOOOHHH!" sepertinya Rica kenikmatan membilang Naomi 'bodoh' (balas dendam ceritanya).
"Ciiihh..." cibir Naomi.
"Eh, kita dimana sekarang!?" tanya Sendy. Rica mengarahkan cahaya ke seliling, "Kok banyak kardus gini? Isinya apa? Daging?"
"Iya, isi dari semua itu adalah daging, Rica!" seru seseorang. Rica, Sendy, dan Naomi menoleh ke sumber suara. Rica mengarahkan cahayanya ke situ.
"Sinka!" seru ketiganya. "Ya...itu aku," Sinka tersenyum mengerikan dengan gergaji mesin di tangannya dan beberapa anjing buas di dekatnya.
"A-apa yang terjadi, Sinka!?" tanya Sendy merinding.
"Jelaskan apa yang terjadi, Sinka!" perintah Naomi.
"Apa? Kak Naomi belum tahu apa yang terjadi disini!?" tanya Sinka terus tersenyum.
"Apa jangan - jangan...selama ini kau yang membunuh member JKT48?" tebak Rica.
"Bohong," ucap Naomi tak percaya, "itu bohong, 'kan?"
"Haha, tentu saja itu bohong. Untuk apa aku membunuh member JKT48? Tak ada gunanya bagiku. Aku hanya mengikuti alur, Na-o-mi," jawab Sinka memenggal nama Naomi.
"Mengikuti...alur..?" tanya Naomi tak mengerti.
"A-apa maksudmu dengan itu, Sinka!?" tanya Sendy tidak mengerti.
"Dia juga akan membunuh salah satu member JKT48," jawab seseorang. Rica, Sendy, dan Naomi menoleh ke belakang, "Shanju! Sonia! Yupi!"
"Si-siapa..?" tanya Sendy mulai merinding. Shanju melirik ke arah Naomi. "Eh?" Naomi bingung dengan mata yang membulat.
"Dia berencana untuk membunuhmu, Kak Naomi!" seru Yupi.
"A-apa!?" seru Naomi tak percaya.
"Haha, itu benar, Naomi. Aku akan membunuhmu!" seru Sinka tertawa.
"A-apa maksud dari ini semua Sinka!? Kenapa kau mau membunuhku!? Untuk apa!?" tanya Naomi tak mengerti.
"Tak ada alasan khusus," Sinka menatap Naomi dengan senyuman terukir di wajahnya, "hanya untuk kesenangan pribadi."
"Kesenangan pribadi!?" dahi Naomi mengkerut.
"Oh, mungkin ada," seru Sinka tiba - tiba. "Sebuah hukuman."
"Hukuman?" tanya Rica.
"Hukuman apa!?" tanya Sonia.
"HUKUMAN KARENA TELAH MENYAKITI HATIKU SELAMA INI! SELAMAT TINGGAL, NAOMI! KAU AKAN TERBUNUH HARI INI!" teriak Sinka menyerbu Naomi yang diikuti oleh anjing - anjing itu. Ke-6 member itu terbelalak.
~{JKT48 Fanfiction}~
"Nabilah...Nabilah...bangun!" panggil seseorang.
"Uhmm..." Nabilah sedikit membuka matanya, "hah!? Dimana aku!?"
"Entahlah, aku pun juga tidak tahu."
"Siapa disana!?"
"Oh, kau lupa denganku. Ah, sudahlah, biarkan."
"Lu-lupa..?"
"Oh ya, kau kan memang kena amnesia. Maaf - maaf."
"Siapa dirimu!? Apa maumu!?"
"Teater dimana biasa kau tempati untuk tampil ini dijadikan arena terakhir oleh dia dengan dibantu oleh orang dalam. Dan terdapat seseorang yang berencana untuk mengikuti alur cerita ini."
"Apa maksudmu!? Aku sama sekali tak mengerti!"
"Hah...terserah deh. Pokoknya, tempat yang lihat nanti bukan lagi teatermu, melainkan arena terakhir. Oh ya, saat kau bertemu dia, tolong tidurkan lagi arwah balas dendamku yang telah dibangkitkan, oke? Kau pasti tahu. Sampai jumpa..."
"He-hei, tunggu! Aku sama sekali tak mengerti! Hei!"
Nabilah mendecih kesal. Sama sekali tak tahu apa - apa. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi!? Arena terakhir? Cerita? Arwah balas dendam? Kenapa dia sama sekali tidak ingat akan hal itu!?
"Jadi, kau sudah bangun, Nabilah?" tanya seseorang. Nabilah menoleh, "Suara itu..." Nabilah terbelalak.
~{JKT48 Fanfiction}~
"HUAA!" semua menghindar. Naomi berlari bersama Sendy dan Shanju. "Jangan lari...Naomi..." seru Sinka. "Dia gila! Dia benar - benar sudah gila!" seru Sendy panik, "apa yang harus kita lakukan sekarang!? Dia sama saja dengan harimau kelaparan sekarang! Apalagi anjing - anjing itu!"
"Mungkin sekarang kita lari dulu dan sembunyi di balik boks - boks ini!" usul Shanju. "Lari zig - zag aja," usul Naomi.
"Kenapa?"
"Kalo yang ngejar kita itu monster kayak di belakang sono, mana mungkin bisa berhenti!"
Shanju dan Sendy menoleh ke belakang. Bukan Sinka dan anjing - anjing buas lagi yang mereka lihat.
"SHININGAMI!" teriak keduanya takut. "Dalam hitungan ke-3 berpencar," pimpin Naomi. "Satu, dua..."
"TIGA!" seru Naomi. Ketiganya mulai berjalan di jalan yang berbeda, dan berzig - zag.
"Lah, ngapain masih ngikutin aku!?" seru Naomi kaget melihat sosok Sendy berada di sebelahnya.
"Gak tahu, aku takut sendirian habisnya!" jawab Sendy.
"Ya elah," Naomi mendesah. "GRAAAA!" beberapa anjing buas menerjang Naomi.
"UWAAA!" Naomi sesegera mungkin meghindar dengan berbelok arah. "Naomi!" panggil Sendy panik.
"TAK APA! AKU TAK APA!" teriak Naomi dari kejauhan. Semua tertuju pada Naomi. Sendy bersembunyi di balik salah satu kotak disana, "Hah...hah...hah...sebenarnya apa yang terjadi sih!?"
"Sepertinya ini yang terjadi," tutur Sonia.
"Eh, Sonia!?" seru Sendy kaget.
"Ada salah satu member yang pengen balas dendam. Terus mereka membunuh orang - orang yang terkait dengan masalahnya. Setelah itu, ada salah satu member yang mengikuti alur ini untuk mencoba membunuh member yang ia benci. Salah satu contohnya si Sinka," jelas Sonia.
"Wah, Sonia pintar."
"TENTU SAJA AKU PINTAR! Kalo aku gak pintar, nanti fans pada kecewa denganku."
"Karena itu kau giat belajar..?"
"Tentu saja tidak! Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku juga! Dan menjadi seperti Cici!" mata Sonia berbinar.
"Errr..." Sendy menatak Sonia tidak yakin.
"Grrrr..." suara geraman. Sonia dan Sendy menoleh ke atas. Terdapat beberapa anjing buas bawahan Sinka.
"UWAAAAA!" sontak Sonia dan Sendy berteriak dan segera belari dari kejaran para anjing. "GUK! GUK!" anjing - anjing itu mengejar mereka. "Hah..aku capek! Aku capek!" seru Sendy.
"Aku juga!" Sonia setuju.
"Kita telah dipindahkan ke dunia mana sih!? Masa' teater segede' ini!"
"Mana ku tahu!"
"GUK! GUK!" si anjing menggonggong lagi.
"UWAAAAA!" teriak kedua member jKT48 itu.
~{ JKT48 Fanfiction }~
"Aku baru tahu kalo Nabilah dan Frieska adalah teman masa kecil," tutur Sonya.
"Aku juga," Delima mengangguk setuju.
"Tapi kok Nabilah gak pernah cerita - cerita, ya?"
"Entahlah, Frieska dna Melody pun tak pernah."
"Terus kenapa kayaknya Nabilah di masa lalu itu lebih kejam ya?"
"Dan sekarang ia baik - baik dengan Frieska tanpa seperti ada suatu masalah di masa lalu."
"Itu karena Nabilah kena amnesia," jawab seseorang.
Sonya dan Delima menoleh. Mata mereka membulat. "K-kau arwah yang tadi!" seru Delima.
"Apa maksudmu dengan Nabilah kena amnesia!? Tunggu dulu, apa maumu!?" seru Sonya bersiaga.
"Aku hanya ingin meminta kalian membantu Nabilah," jawab arwah itu.
"Hah!? Membantu Nabilah!? Emang apa yang akan terjadi pada Nabilah!?" seru Sonya.
"Dia adalah orang terakhir dalam daftar. Aku ingin kalian menyelamatkannya."
"Kenapa kami?" tanya Delima.
"Teman - teman yang lain sedang ada urusan dan terjebak di ruang halusinasi yang dibuat oleh diriku yang lain."
"Dirimu yang lain?" tanya Delima lagi.
"Iya. Karena perlakuan kejam Nablah sewaktu kecil, muncul niat di dalam diriku untuk membantai semua orang yang telah berlaku kejam kepadaku. Tapi, aku kubur niat itu dalam - dalam. Namun, dia membangkitkan niatan itu di dalam diriku. Tapi, aku menolak. Jadi, kami terbagi dua. Aku yang ini, dan aku yang berniat balas dendam. Dan, arwah diriku yang berniat balas dendam berdiam diri di dalam sebuah boneka, yang mirip denganku. Jadi, aku ingin kau menyelamatkan Nabilah dari mereka."
"Diriku ini diriku itu...pusing..." sepertinya Sonya kebingungan.
"Perlakuan kejam sewaktu kecil? Jangan - jangan kau..." Delima menyadari sesuatu.
"Ya, aku Frieska. Aku arwah Frieska."
"BOHONG!" teriak Sonya.
"Tapi, itu yang sebenarnya."
"Jadi selama ini yang membantai member JKT48 adalah arwah Frieska yang berniat balas dendam," gumam Delima.
"Ya, begitulah. Sepertinya aku telah menjadi seorang pembunuh," gumam Frieska cengengesan.
"Bukan sepertinya lagi, tapi sudah jadi," tutur Sonya.
"Haha..."
"Lalu, dia siapa?" tanya Delima.
"Kurasa kau tahu siapa orangnya, pokoknya sekarang kalian harus masuk ke dalam pintu sebelah sana dan selamatkan Nabilah," jawab Frieska menunjuk pintu di belakang Delima dan Sonya.
Delima dan Sonya menoleh ke belakang, terdapat sebuah pintu berukir di belakang mereka.
"Hei, Frieska―" ucapan Sonya terhenti.
"Sampai jumpa," ucap Frieska tiba - tiba menghilang.
"WOI, TUNGGU! MASIH BANYAK YANG INGIN KUBICARAKAN DENGANMU!" teriak Sonya sewot.
"Yah, daripada kita gak ngapa - ngapain, mending ikutin petunjuk si Frieska dan menyelamatkan Nabilah," tutur Delima mulai berjalan.
"Kira - kira dia itu siapa ya, Delima?"
"Aku punya satu tebakan sih, cuman aku kurang yakin."
"Siapa?"
"Ng...aku tak mau membicarakannya."
"Geezz..."
Krek...Delima dan Sonya membuka pintu itu. Dan mereka kembali ke pintu masuk teater. "Apa - apaan ini...!?" Sonya merasa kesal.
"Bersyukurlah kita dapat kembali, daripada terjebak disana terus!" Delima menjadi bijak.
"Sok bijak," Sonya menatap sinis Delima.
"Pokoknya ayo cari Nabilah, kurasa dia ada di backstage."
"Hei, jangan hiraukan aku! Hei, tunggu aku! Delima!" Sonya mengejar Delima ke belakang panggung.
BRAK! PRANG! BUG! Suara benda - benda jatuh dan pecah. "Apaan tuh!?" tanya Sonya.
"Sepertinya Nabilah sedang melarikan diri," Delima segera berlari ke backstage.
"Eh, Delima!" Sonya mengejar Delima.
Ketika mereka sampai di backstage, mereka segera mencari keberadaan Nabilah. "Itu Nabilah!" seru Sonya menunjuk ke arah Nabilah yang berwajah panik. "NA―" teriak Sonya segera di hentikan Delima.
"Jangan teriak! Nanti mereka tahu!" seru Delima.
"Oh, ya ya," Sonya manggut - manggut mengerti.
"Kita sembunyi di lemari itu!" Delima menunjuk ke sebuah lemari yang ukurannya cukup besar. Keduanya memasuki lemari itu. Ketika Nabilah mendekati lemari itu, Sonya menarik Nabilah masuk ke dalam dan membekap mulutnya.
"MM! MMM!" Nabilah mencoba memberontak.
"Ssstt! Tenang Nabilah, nanti ketahuan," bisik Delima. Nabilah pun berhenti memberontak.
"Dimana kamu, Nabilah..?" tanya seseorang.
"Ayo sini, keluar," sambung seseorang. Kedua suara itu sangat familiar.
"Jangan sampai kita kehilangan dia," seru suara ketiga. Suara yang benar - benar familiar di telinga mereka.
Ketika ketiga suara itu mendekati lemari, Sonya dan Delima dapat melihat ketiganya dengan jelas dari ventilasi di lemari. "Tidak mungkin..." Sonya menahan nafas.
"Sudah kuduga," wajah Delima mengkerut, "dia adalah Melody!"
"Dimana sih dia!?" cibir suara kedua, Melody.
"Tapi, kenapa ada Dhike segala!?" seru Sonya heboh.
"Mana ku tahu," jawab Delima.
"Cih, dia menghilang," gerutu Dhike.
"Apapun yang terjadi, kita harus menemukannya, dan membunuhnya!" seru si boneka yang berada di pundak Melody.
"Apa itu boneka yang dibicarakan Frieska?" gumam Sonya.
"F-F-Frieska..!?" Nabilah tergagap takut.
"Iya, sisi baik Frieska yang tidak mempunyai niat apapun untuk membunuhmu," jawab Delima.
"Sebenarnya, pembantaian terhadap member JKT48 ini adalah kesalahanmu," seru Sonya.
"A-aku!?" tanya Nabilah tak mengerti.
"Gara - gara kamu bersikap jahat pada Frieska dulu, makanya tumbul niatan membunuh siapapun yang membuat dia tidak senang. Sebenarnya Frieska tak mau membunuh siapa - siapa, namun Melody membangkitkan niatan itu dan arwahnya terbagi menjadi dua. Jadi, arwah yang ada di dalam boneka itu adalah arwah Frieska yang mempunyai niatan balas dendam," jawab Delima.
"A-aku tak begitu ingat tentang masa laluku," Nabilah tertunduk.
"Frieska bilang kamu amnesia," jawab Sonya.
"Aku tahu," Nabilah mengangguk.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Delima.
"Si boneka menunjukkan kilasan balik tentang diriku," jawab Nabilah, "dan aku tak percaya Frieska dapat bertahan hidup dengan setengah otak yang berfungsi," jawab Nabilah lirih.
"A-apa..!?" Delima dan Sonya tercengang.
"Ayo kita cari ke depan!" Melody mulai berlari yang diikuti oleh Dhike.
"Bagaimana...kalian tahu tentang semua itu!?" tanya Nabilah.
"Arwah Frieska yang baik memberitahu kami," jawab Delima.
Nabilah manggut - manggut mengerti. "Nah, sekarang bagaimana caranya menidurkan si boneka? Si Frieska main ilang aja tadi," tya Sonya.
"Entahlah, aku bukan dukun soalnya," jawab Delima.
"Cara yang sama dengan bagaimana caranya Melody membangkitkan Frieska?" usul Nabilah.
"Ya, tapi gimana cara dia ngebangkitin Frieska..?" Delima menghela nafas berat.
"Mungkin kita harus bertanya pada Melody," usul Sonya.
"Hah!? Melody itu sedang memburu Nabilah bersama si boneka dan Dhike!" seru Delima.
"Kalo gitu one-by-one sama mereka," usul Sonya.
"Hei, hei, bagaimana caranya kita bisa menang!? Sedangkan mereka sudah membunuh beberapa orang!" seru Delima.
"Gimana kalo kita ngemisahin si Dhike dari Melody dan si Boneka. Terus kita interogasi dia. Tapi pertama, kita harus punya senjata dulu. Senjata tajam kalo bisa," usul Sonya.
"Hmm...boleh juga sih. Agak beresiko. Gimana Nabilah? Mau tinggal disini atau ikut?" Delima dan Sonya menoleh ke arah Nabilah.
"Ikut! Aku gak mau sendirian!" jawab Nabilah.
"Baiklah, ayo kita keluar sekarang dan cari senjata!" Delima sedikit membuka pintu lemari, dan memberi isyarat. Setelah mereka menemukan senjata, mereka mulai mencari Dhike. "Baiklah, tetap bersama dan jangan terlalu berisik," bisik Delima. Sonya dan Nabilah mengangguk.
Ketiganyapun mencari sosok Dhike yang sendirian.
"Dhike!" panggil Melody. "Sembunyi!" bisik Delima. Ketiga gadis itu pun bersembunyi.
"Iya?" tanya Dhike.
"Kita akan berpencar disini. Kau kesebelah sana, kami ke sebelah sini," jawab Melody.
"Oke," Dhike mengangguk mengerti, dan keduanya pun berpencar.
"Ayo," pimpin Delima. Akhirnya ketiganya bersama Dhike berada di tempat sunyi dan sepi, yang jauh dari Melody dan si Boneka. Ketiga gadis itu saling tatap dan mengangguk.
"Dhike!" ketiganya pun menunjukkan diri. Dhike yang bersenjata kapak menoleh ke belakang, "Oh, Sonya dan Delima. Bersama dengan target. Ada apa ini..?"
"Harusnya kami yang bertanya seperti itu! Ada apa ini!?" seru Sonya.
"Tidak ada, hanya pelampiasan saja. Aku hanya mengikuti alur," jawab Dhike.
"Beritahu kami alasannya, Dhike!" perintah Delima.
"Untuk apa kuberitahu? Bukankah Nabilah seharusnya menyadari kesalahannya?" jawab Dhike tersenyum sinis.
"Aku tahu Nabilah bersalah, namun gak sampe pake acara bunuh - membunuh kan!?" seru Sonya kesal.
"Tentu saja harus," jawab Dhike, "karena dia telah melakukan dosa yang sangat besar."
"Dosa?" tanya Sonya bingung.
"Dosa apa?" sambung Delima.
"Karena Nabilah," Dhike menatap tajam Nabilah, "yang telah menyebabkan Frieska meninggal."
"A-apa...!?" Sonya, Delima, dan Nabilah tercengang.
"A-aku...membunuh...Frieska..!?" Nabilah tercengang, tak percaya.
.
.
...Chapter 7 end...
Ryouta: Udah berapa abad elo ninggalin nih fic!?
Nacchan: gak nyampe abad juga kale...
Ryouta: Hah...kayaknya nih cerita masih agak panjang
Nacchan: Haha..sepertinya begitu
Ryouta: Makin lama makin aneh ya alurnya
Nacchan: Haha, makasih
Ryouta: Hei, aku mengejekmu
Nacchan: AKU TAHU ITU!
Ryouta: Bising...
Nacchan: Ngeselin amet...oh ya, minna, mungkin di chapter selanjutnya bakal ngecangkup flashback alasan Sinka dgn kelakuannya dna penyelesaian masalah dengan Sinka (blom dgn Dhike & Melody & si Boneka). Dan sedikit cuplikan mengenai nasib si Sonya, Nabilah, Delima, ama Dhike.
Ryouta: Tuh kan, makin lama makin aneh alurnya
Nacchan: Berisik! Oh, Nacchan mau balas ripiuw yang belom terbalas
~ Guest
Oke! Ini udah lanjut!
Nacchan: Sekian dari Nacchan! Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
Ryota: Dadah~
