Dari dulu selalu saja begitu. Orang lain selalu yang di utamakan. Orang lain. Orang lain. Dan orang lain.

Maunya apa sih!?

Hubungan dengan keluarga juga gak dekat. Satu - satunya orang yang bisa ku andalkan hanya kau.

Tapi, kau terlalu sibuk dengan 'orang lain' itu.

Sesekali menoleh lah kesini. Beri aku perhatian juga, sama seperti mereka yang kau perhatikan.

Aku bukan orang lain. Aku bukan orang asing. Kita mempunyai darah yang sama.

Kau adalah kakak ku, sudah seharusnya kau memperhatikan adik kecilmu ini.

Tapi, kenapa...?

"Memberi pelajaran saja tidak cukup. Kau harus lenyap dari dunia ini."

"Apa itu yang kau inginkan, Sinka?"

Sinka menoleh ke belakang, "Heh. Kau punya nyali juga ya untuk menghampiriku, Rica."

"Tentu saja, kita kan sama - sama manusia. Hanya saja kau sudah dilewat batas, Sinka."

"Tidak kok, ini benar - benar pantas ia terima."

"Sekali lagi ku tanya, apa ini yang kau inginkan Sinka? Betulkah?"

"Jangan memengaruhi ku dengan ucapanmu! Keputusanku sudah bulat!"

"Ucapanmu getar, kau gugup. Kau takut kau mengambil kesalahan, Sinka," Rica menyeringai.

"Tidak, aku tidak! Kau benar - benar menjengkelkan, Rica!" Sinka melempar beberapa benda tajam ke arah Rica. Rica dapat menghindarinya, namun ada beberapa yang melukai tubuhnya.

"Pikirkan lagi Sinka, apa ini yang kau inginkan?" ujar Rica bersiap dengan kuda - kudanya.

"Grrrr..." Sinka mengepalkan tangannya, "KU BUNUH KAU!"

JKT48: 泣く人形のための報復
Chapter: 8 - The Reason
Rated: T
Genre: (rencananya) Mystery/Thriller tau nya jadi fail XD
Disclaimer: Yasushi Akimoto-san
Warning(!): Typo, dan sisanya ada di chapter kemaren. Dan juga ini gak ada thriler2nya jdi jgn takut membacanya, dan ini adalah fic teraneh yang akan anda baca karena alurnya sama sekali gak jelas, tiba2 udh nyampe ke dunia lain XD, terus, fic ini kemungkinan besar mengancung unsur yuri (saya suka sekali yuri diantara member 48 fams #plak) jadi hati2 saja jika anda tidak ingin muntah2 trus (beruntunglah saya sebagai fujoshi tidak memasukkan unsur homo disini)

.

.

.

[Sinka POV]

Sejak kecil aku memang tak dekat dengan orang tua ku. Mungkin alasannya karena mereka sibuk bekerja. Lagipula aku juga gak peduli dengan mereka. Urusan mereka ya urusan mereka, ngapain aku tahu? Yang penting kan bisa jajan.

Satu - satunya keluarga yang pada saat itu menemaniku adalah kakak. Ya, Kak Naomi selalu menemaniku kemana - mana. Tentu saja aku sangat bahagia bersamanya. Ia begitu menyenangkan! Dia tahu semua yang ku sukai. Dan, selalu menuruti permintaanku―gak semua sih.

Tapi, seiringnya kami dewasa, tentu saja Kak Naomi menjadi super sibuk mengurusi sekolahnya. Tentu saja itu membuat ku kesal, aku juga kesal dengan sekolah sih. Aku terus - menerus mencari perhatian Kak Naomi, namun ia terlalu sibuk dengan tugasnya.

Serasa di PHP-in tahu.

Jadi, aku mencari kesenangan lain. Kawanku menyarankan tentang anime dan j-pop dari Jepang. Dan akhirnya aku kecanduan. Apalagi yang tentang yandere anime atau psycho anime. Aku punya banyak koleksinya. Terlebih dengan Mirai Nikki. Aku juga suka dengan idol group, AKB48. Mereka keren, lagu - lagunya juga, dance nya juga. Mungkin karena mereka aku menjadi suka menyanyi dan menari.

Di samping itu, aku juga belajar dari Mirai Nikki, bahwa kita harus mempertahankan apa yang kita punya,walaupun itu harus mengorbankan nyawa orang lain.

Awalnya aku ragu, namun aku mulai terbiasa dengan itu. Satu persatu aku membunuh orang - orang yang dekat dengan Kak Naomi. Dan, bodohnya lagi, polisi - polisi itu tak bisa memecahkan kasus ini.

HAHAHAHAHA! Tentu saja ini membuatku senang. Terlalu banyak menonton Mirai Nikki dan Detective Conan adalah opsi yang bagus bagi hidupku. Dan karena para pengganggu sudah tak ada, waktunya untuk mengambil kembali kakak tersayangku.

"Kak Naomi, ayo main," ajak ku kepada Kak Naomi.

"Maaf Sinka, tapi kakak ada janji dengan teman kakak, maaf ya! Kakak akan segera balik," seru Kak Naomi berlari meninggalkan rumah.

Aku mengepalkan tangan, "Manusia bodoh mana yang telah menantangku, hah!?"

Waktu pun berlalu. Aku menjadi tidak peduli lagi dengan segala macam hal tentang Kak Naomi. Mungkin dia menjauhiku, atau apa? Entah, aku tak peduli lagi. Yang aku pedulikan hanya orang lain. Ngapain juga aku peduli dengan mu. Aku juga punya teman. Teman yang lebih berharga darimu. Dari teman - temanmu yang bodoh.

Menyebalkan. Menjengkelkan. Menjijikan.

Aku menatap Kak Naomi dan teman - temannya bercanda dari jendela. Aku meremas gorden jendelaku, "Menyebalkan, dasar manusia bodoh tak tahu diri," geramku. Aku segera menutup jendela dengan gorden dan meninggalkan pemandangan itu.

Malamnya, aku menyamar, dan membunuh orang - orang itu. Memotong - motong mereka, dan membakar mereka. Membersihkan semua noda dan bukti. Aku mengeceknya sampai tiga kali. Abunya ku simpan, untuk kenang - kenangan sih. Ku simpan di halaman belakang rumah kami, ku kubur. Ketika aku kembali ke kamar, aku merebahkan diri di ranjang. "Hah...rasakan itu, manusia bodoh. Makanya, jangan kelewatan jika ingin tetap berteman dengan kakakku," aku menyeringai, terlihat senang sekaligus mengerikan.

.

.

Pada akhirnya kami keterima di sebuah idol group, adik pertama AKB48 di luar Jepang, JKT48. Kami berada di generasi yang sama, yaitu generasi kedua. Kami berlatih bersama, melakukan kegiatan bersama. Aku dan Kak Naomi kembali dekat. Tentunya aku merasa bahagia sekali. Kami pulang bareng, tampil di panggung yang sama, mengenakan baju yang seragam. Semua terasa menyenangkan kembali. Seketika aku melupakan rasa benci itu. Rasa kesal itu―mungkin tidak. Aku masih merasa kesal jika ada yang mendekati Kak Naomi. Namun, hasrat membunuh itu tidak ada lagi karena kami menjadi dekat sekarang.

Tapi si pengurus tim―bangsat―itu malah menempatkan diriku dan Kak Naomi di beda kegiatan. Ada perasaan untuk membunuh para pengurus tim itu. Namun, mereka orang besar yang berada di backstage JKT48, kalau ku bunuh bakal masuk media. Yang dicurigai juga bakal member-member JKT48, kan? Terlalu beresiko. Jadi, poker face saja ke mereka sudah cukup.

Semakin lama waktu berjalan, kehidupan kembali lagi menjadi normal. Dimana Kak Naomi sibuk dengan urusannya, sedangkan aku bersama member alin bermain seperti anak kecil. Tentu saja aku merasa sebal. "Sibuk melulu, ku bunuh juga nanti dosennya," batinku melihat Kak Naomi mondar-mandir didepanku yang sedang menonton TV, "Kak, Sinka lagi nonton! Jangan mondar-mandir didepan dong!"

"Iya, iya, maaf Sinka. Aduh...liat catatan kakak, gak?" tanya Naomi pusing tujuh keliling.

"Tauk, dapur kali. Kakak kan tadi bawa-bawa buku ke dapur."

"Oke, makasih," Naomi langsung melesat menuju dapur. Aku hanya memutar bola mata dan kembali menonton. Aku menonton serial anime mingguan di channel khusus anime, Animax Asia.

"Sinka, liat kotak pensil kakak gak? Sama dompet kakak?"

"Tauk ah, di kamar paling."

"Kalo HP kakak?"

"Kamar mandi," jawabku dengan nada malas. Mana ku tahu barang-barang kakak! Orang kakak yang make' kok. Nanya nya ke aku pula'. Pelupa banget sih.

"Aduh Sinka, sekarang jam berapa!?"

"Kan kakak punya jam."

"Kakak lagi masang sepatu, gak bisa liat!"

"Jam delapan kurang seperempat."

"A****! Kakak berangkat dulu, jaga rumah ya Sinka! Jangan lupa makan siang."

"Cepatlah pergi sana," jawabku acuh tak acuh. "Makanya jangan jadi orang sibuk. Kalo konsultasi sama aku, kusaranin bunuh tuh dosen."

Yah, tak seburuk dulu sih. Sekarang kami lebih banyak berbicara. Kak Naomi juga mengupayakan untuk makan malam di rumah. Kami juga sering ke theater bareng. Kadang enggak soalnya Kak Naomi terlalu SIBUK. Sampai akhirnya aku sudah berada di batas kesabaranku. Aku bete, aku kesal, aku jengkel, dan aku merasa harus membunuh dosen Kak Naomi.

Bayangkan aja Minggu juga harus masuk, pagi-pagi pula! Tuh dosen bikin anak orang masuk RSJ aja. Yang lebih parah masuk ke perut bumi. Lo dosen dari planet mana sih!? Penampakannya bikin kesel tahu. Hati-hati lo ama kakak gue. Sekali lagi lo bikin kakak gue tersiksa, tiada ampun buat lo, A*****.

"Hoaamm..." aku menguap keluar dari kamar.

"Pagi Sinka," sapa Kak Naomi terdengar tergesa-gesa.

"Demi sempak Neptunus, kakak mau kuliah lagi?"

"Kenapa demi sempak Neptunus?"

"Karena sempak Neptunus warnanya kuning―eh, tunggu. Gak ada hubungannya sempak Neptunus sama kakak pergi kuliah pagi di hari Minggu. Kenapa kakak malah ngikutin? Mending bolosnya. Ini kan hari Minggu, waktunya refreshing."

"Hahaha, gak bisa Sinka, nanti nilai kakak dikurangin. Kakak juga gak bisa lulus nanti. Kakak pergi dulu ya, sarapan ada di meja makan. Oh ya, kamu pergi ke theater duluan aja hari ini, kakak nyusul. Sampai jumpa nanti," dan Kak Naomi pun melesat keluar dari rumah sambil berlari-lari.

Aku mendecih kesal sambil mengunci pintu rumah. Aku berjalan menuju dapur, terdapat nasi goreng disana. Aku berpikir nanti saja makannya, lagi gak laper. Tapi sebenarnya aku gak nafsu makan karena yang disuguhin nasi goreng, padahal kemaren aku mintanya spageti. Aku pergi ke halaman belakang lewat pintu dapur. Aku menatap taman bunga yang kurawat bersama Kak Naomi. Aku kembali menyeringai, "Hari ini adalah pengajaran terakhirmu, dosen sialan."

.

.

.

Berita itu menyebar dengan luas. Namun tak pernah terungkap misterinya. Jadilah si dosen laknat itu menjadi urban legend di Indonesia. Menurut media, banyak siswa yang nangis bahagia―bahkan bersujud syukur―atas meninggalnya si dosen. Dan menyebut-nyebut si pembunuh sebagai Dewi Fortuna mereka―iya kalo pembunuhnya cewek, kalo cowok? Untungnya pembunuhnya cewek sih. Banyak massa yang geleng-geleng kepala ngelihat tingkah laku para siswa. Namun, guru yang bekerja di kampus itu berkomentar, "Wajar saja mereka bertindak seperti itu. Dosen yang dibunuh memang mengajar seperti siksaan bagi para murid. Mereka disuruh masuk di Minggu pagi, dan harus mengerjakan tugas mereka di sekolah kalau tak dikumpulkan di hari H. Walaupun sudah midnight, mereka tak boleh pulang kecuali mereka menyelesaikannya. Jadi maklumi saja."

Aku tertawa melihatnya. Aku merasa senang karena tindakan kejahatan itu sudah membuat banyak orang bahagia―dan sedikit orang yang bersedih. Kulihat ada beberapa orang siswa yang bersedih. Aku langsung berpikir bahwa siswa itu adalah seorang masokis.

Tetapi, walaupun tuh dosen sudah ku bunuh, Kak Naomi masihs aja sibuk. Ini lah, itu lah. Capek deh. Palingan kami ketemu di theater, di pagi hari, atau pas makan malam. Udah, itu doang. Dia jarang banget dirumah. Membuatku semakin kesal, kesal, dan kesal. Dan, akhirnya batas kesabaranku mencapai klimaks.

Di malam itu, ku tatap cermin dihadapanku, "Sudah ku putuskan. Akan ku bunuh Kak Naomi."

"Kau ingin membunuh seseorang?" tanya sebuah suara.

Aku menoleh ke belakang, namun tak menemukan siapa-siapa. "Kau tak bisa melihatku. Karena aku sudah mati. Kecuali aku mau menampakkan diri kepadamu."

"Memangnya kau siapa? Salah satu orang yang ku bunuh atau arwah nyasar?"

"Aku adalah salah satu teman di grup mu, Sinka."

"Siapa?"

"Menurutmu siapa? Aku kan sudah mati."

"Ng..." aku begrumam, lalu mulai menyimpulkan, "Kau Frieska? Arwah Frieska? Adiknya Melody?"

"Ya, itu aku. Namun tak semuanya aku. Maksudku, hanya aku sebagian. Maksudku―"

"Maksudmu apaan sih!? Ngomong yang jelas."

"Aku adalah bagian dari diri Frieska yang berniat membunuh siapa saja yang telah mencelaku semenjak aku lahir. Melody berhasil membangkitkan aku. Aku bersyukur karenanya. Nah, karena kau ingin membunuh orang, aku ingin memberimu saran."

"Saran? Saran apaan?"

"Dengarkan saja, dan bunuhlah dia." Ku tebak si arwah lagi menyeringai.

Lalu ia menjelaskan ku tentang pengetahuannya soal membunuh. Sebenarnya aku sudah tahu banyak dari Mirai Nikki dan Detective Conan, tapi informasi darinya cukup bermanfaat. Aku menyeringai mendengar pendapatnya. Aku juga mendengar rencananya terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat terhadapnya.

"Tolong rahasikan hal ini dari member yang lain. Jadilah gadis berwajah dua, pasang topengmu."

Aku tersenyum, "Pasti. Aku selalu memakainya."

.

.

.

Normal POV

Sinka masih menyerang Rica dengan ganas. Rica yang tak bersenjata terus saja menghindar, kabur, lalu menyerang ketika ada kesempatan. Shanju yang memerhatikan sebenarnya ingin menolong, namun masih ada banyak anjing yang mengejarnya. Jadi, ia berusaha menjauhkan diri dari pengejaran para anjing itu.

"Ada apa Rica? Mengapa kau hanya menangkis setiap seranganku? Balaslah seranganku! Balaslah juga kau bisa! Oh...atau kau takut? Kau takut salah langkah dan terbunuh karenaku?" tanya Sinka dengan seringai di wajahnya.

"Kau mengerikan Sinka. Aku lebih sudi dibunuh oleh Jenderal berpangkat tinggi dibandingkan dirimu! Setidaknya terdengar keren kan, orang yang sebanding dengan si jenderal akhirnya terbunuh juga. Aku menjadi terkenal seketika~" jawab Rica masih menghindari serangan.

"Itu sama sekali tidak keren!" Sinka dengan ganas menyerang Rica. Ia tersenyum puas ketika pisaunya mengenai perut Rica. Ia mengambil kembali pisaunya, sedangkan Rica memegang perutnya yang menguncurkan darah.

"Wow, wow, wow, Sinka. Kau seorang psycho sejati. Tak segan-segan kau menusuk perut ku," Rica terkekeh.

"Aku tak peduli kau siapa. Selagi kau orang yang menghalangi rencanaku membunuh Shinta Naomi, akan ku habisi."

"Kau serius, Sinka? Kau serius bisa membunuh Naomi?"

"Aku sudah membunuh banyak orang! Sudah ku bunuh teman-temannya agar ia bisa dekat denganku, namun rencana itu tak pernah berhasil. Ia selalu saja sibuk! Selalu sibuk! Maka dari itu kuputuskan dengan membunuh Naomi, aku akan bersamanya selalu, selalu."

"Kau mengerikan, mengerikan sekali..."

"Berisik. Karena kau menghalangi siasatku, maka aku harus membunuhmu juga!"

"Apa kau yakin membunuh Naomi? Kalau kau membunuhnya, dia gak bakal bicara atau merespon mu loh."

"Aku tidak peduli. Selagi Kak Naomi bersamaku, akan bahagia."

"Selamanya? Apa selamanya?"

"Tentu saja selamanya. Selamanya ku kan bahagia, selagi Kak Naomi bersamaku."

"Lo homo banget sih, psycho lagi. Siscon banget! Anjirr...gue gak percaya ada member seperti lo di JKT48," gumam Rica menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya ucapan itu ia tujukan untuk tidak pada siapa-siapa. Namun berhasil menyinggung Sinka.

"Berisik. Kau akan mati sekarang, Rica!" Sinka mengancungkan pisaunya.

"Ugh...perutku kau buat sakit," Rica menatap tajam Sinka, "sepertinya aku bisa saja terbunuh disini."

"Itu sudah pasti."

Sambil berteriak, keduanya saling menyerang satu sama lain. Walaupun bertangan kosong, Rica berhasil menyederai tulang Sinka dan merebut salah satu pisaunya. Mereka bertarung dengan sangat cepat. Shanju yang berada didekat mereka―dia sudah berhasil kabur dari para anjing―sampai bingung dibuatnya. "Yang mana Rica, yang mana Sinka?" gumamnya bingung.

Ia memerhatikan lantai di bawah mereka, penuh dengan darah. Shanju bergidik, "Dua orang ini pasti udah main tusuk badan. Oey, ini tuh tubuh, bukan daging ayam yang main ditusuk-tusuk!" batinnya.

Hingga keduanya berhenti dan saling mendorong, bertahan dengan kaki mereka. Keduanya menyeringai, membuat Shanju tambah bergidik. "Kau ...masih.. serius...? Membunuh...Naomi...?" tanya Rica.

"Sudah...kuputuskan...!' jawab Sinka.

"Pikirkan...seklai..lagi...Sinka...pikirkan!"

"Apa.. ..ku...pikirkan, hah!?" Sinka mendorong lebih kuat sehingga Rica terjatuh, "sudah cukup! Aku akan membunuhnya, dan kita akan bersama, selamanya."

"Udahlah homo, siscon lagi," komentar Shanju.

"Diam!" Sinka menatap tajam Shanju. Shanju langsung melirik ke arah lain. Lalu teringat tujuan awalnya dan berlari menghampiri Rica. Tapi Rica menyuruhnya untuk diam ditempat. Ketika Shanju membantah, Rica malah melayangkan sebuah pisau. Akhirnya Shanju menjadi penonton tanpa bayaran(?)

"Aku akan membunuhmu sekarang Rica, ada ucapan terakhir?" Sinka tersenyum lebar sambil memegang pisau berlumuran darah.

"Kau akan menyesal jika kau membunuh Naomi! Walaupun kalian selalu bersama selamanya, tapi Naomi sudah tak bernyawa. Apa kau mau seperti itu? Apa kau mau menjadi orang yang mencabut nyawa kakakmu?"

"Ugh, dari tadi kau berkata seperti itu. AKU SUDAH MUAK!" Sinka sudah siap untuk menikam Rica. Rica hanya tersenyum melihat tindakan Sinka. Namun, pisau Sinka terjatuh karena sebuah pisau menancap menembus lengannya. "ARGH!" Sinka memegangi tangannya yang tertusuk pisau.

Rica langsung menoleh ke kiri, "Shanju!"

"Reflek, maaf Rica, tolong jangan lempari kau pisau!" Shanju udah kalang kabut, takut member tertua di generasi satu itu melemparinya pisau seperti tadi.

"Itu kena nadinya, Shanju! Nadi! Dia bakal mati!" seru Rica.

"Ya ampun! Demi sempak Neptunus! Kau bercanda kan, Rica!?" Shanju mendekati Rica dan Sinka. Sinka sudah ambruk sekarang setelah mencabut pisau itu dari lengannya, dipangkuan Rica.

"Shanju! Rica! Sinka!" Naomi bersama Sendy, Yupi, dan Sonia mendekat. Naomi duduk disamping Sinka, "Sinka, kau tak apa!?"

"Tak apa kepalamu! Udah jelas aku sekarat gini!" seru Sinka sewot, meringis kembali memegang tangannya.

"Sinka, jangan bilang begitu," ucap Sonia.

"Heh, memang sudah akhir dari hidupku sekarang," napas Sinka sudah terdengar tersesak.

"Padahal kau bilang tadi akan mengakhiri hidupku," tutur Rica.

"Haha, sepertinya Tuhan berkata lain," Sinka berusaha mengambil napas panjang, "kalian harus cepat kembali ke theater. Jalan terus ke sebelah Timur, disana kalian akan menemukan pintu, masuklah. Hati-hati dengan para anjingnya, dan monster yang lain. Kalian harus menyelamatkan Nabilah dari si arwah itu. Kalian harus menidurkan kembali sisi jahat Frieska dan mengembalikan Melody ke akal sehatnya."

"A-apa maksudmu!?" tanya Naomi tak mengerti.

"Melody berhasil membangkitkan sisi jahat arwah Frieska yang meminta balas dendam dan mengurung sisi baiknya. Saat ini sisi baik Frieska bersama member yang tak bersama kalian disini sedang melindungi Nabilah dari mereka. Kau harus menidurkan kembali sisi jahat Frieska dengan mengingatkannya hal-hal kebaikan yang berada di diri Frieska. Kau...mengerti kan?" jawab Sinka.

"Kurasa, ya, aku mengerti," Naomi sudah cemas. Dia tak peduli lagi soal member JKT48 yang sudah banyak terbunuh. Ia sekarang fokus terhadap adiknya.

Sinka tersenyum, "Kenapa kau cemas gitu? Tetaplah menjadi dirimu ketika aku sudah pergi, oke? Jangan seperti Melody."

"Apa maksudmu!? Kau akan bertahan hidup!" seru Naomi, matanya berkaca-kaca, "iya...kan?"

"Aku selalu sayang Kak Naomi. Selalu sayang. Selamanya," Sinka tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu menutup matanya.

"Sinka, Sinka! SINKA!" Naomi mengguncang-guncangkan tubuh Sinka, namun adiknya tak kunjung bangun. Semua berduka―apa Rica juga berduka?Wajahnya terlihat datar, pikiran Shanju mulai melayang dari dukanya.

"Siscon berakhir tragis. Sad ending, aku benci sad ending," batin Shanju menghapus air matanya.

"Mungkin kita harus segera pergi? Aku mendengar geraman hewan buas," ajak Rica meletakkan Sinka di lantai dan beranjak. Yupi, Sonia, dan Shanju mengikutinya.

Sendy menghampiri Naomi dan menepuk bahunya, "Ayo, semangatlah! Sinka akan sedih jika kau begini terus." Sendy membantu Naomi berdiri.

"Jadi, selama ini Melody dan Dhike yang membunuh teman-teman kita?"

"Kurasa hanya Melody, karena yang―ugh..―bersama boneka itu hanya satu orang saja."

"Heh, kau masih takut dengan boneka itu?"

"Tentu saja! Dia benar-benar menakutkan!"

"Hahaha, ayo, kita ikuti yang lain," ajak Naomi tertawa pelan sambil menghapus air matanya.

"Tentu, ayo," Sendy menerimanya dengan senyuman. Keduanya pun menyusul yang lain, yang sudah berada di depan mereka, cukup jauh.

~{JKT48 Fanfiction}~

"Aku membunuh Frieska!? Bagaimana bisa!?" tanya Nabilah tak mengerti.

"Bukankah Frieska meninggal karena tertabrak truk?" tanya Delima tak yakin.

"Truk itu berjalan melenceng―menghindari sesuatu," jawab Dhike.

"Menghindari Nabilah," Sonya mengambil keputusan. Semua menoleh ke arah Sonya.

"Apa? Tapi, tunggu, aku―" Nabilah tak bisa melanjutkan kata-katanya, tertunduk, "aku membunuh Frieska...?"

"Ya, kau membunuhnya. Walau tak secara langsung, tapi kau membunuhnya Nabilah. Kau menyebabkan truk itu melenceng dan menabrak Frieska," kata Dhike.

"Bagaimana bisa? A-aku.." Nabilah tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Mungkin kau tidak sadar bahwa kau telah membuat truk itu melenceng Nabilah. Beruntunglah kau saat itu Ve langsung menarikmu ke pinggir," ucap Dhike menatap Nabilah sinis.

Nabilah jatuh berlutut, matanya berkaca, membulat tak percaya. Ia telah membunuh Frieska? Ia telah membunuh salah satu teman JKT48-nya? Ia telah membunuh seseorang yang sangat perhatian padanya sewaktu kecil? Yang ia lupakan? Serius? Nabilah tak percaya. Ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan kanan hingga mata kanannya hanya melihat samar-samar.

"Maka dari itu, kau harus mati Nabilah," Dhike sudah bersiap-siap membunuh Nabilah, namun Sonya segera melancarkan tendangan memutar―yang ia pelajari di manga Yoshikawa Miki―sehingga senjata itu jatuh. Delima melesat mengambilnya dan menjaganya.

"Aku tahu kau juga punya dendam terhadap Nabilah, tapi gak sampe bunuh-bunuhan, kan? Sado amet," seru Sonya.

"Sado?" tanya Delima mengerutkan dahi.

"Sadistik dalam bahasa Jepang," jawab Sonya kembali menoleh ke arah Dhike, "kau akan menyesal nanti, Dhike. Kau akan merasa menyesal dan bersalah."

"Aku sudah menetapkannya, Sonya. Tekadku sudah bulat. Membunuh Nabilah tak akan membuatku menyesal," Dhike menatap tajam Sonya.

"Dhike, mungkin kau memang freak, tapi enggak psycho kayak Melody. Melody membunuh Nabilah, membunuh kau, membunuh aku, dia, JKT48, seluruh orang di dunia pun di gak masalah, dia gak akan menyesal. Selagi yang ia mau ia dapatkan. Namun kau berbeda. Kau hanya sampai tingkatan freak Dhike. Kau tak sanggup membunuh orang. Tapi hanya sebatas melukainya."

"Bagaimana kau tahu? Aku tak akan pernah merasa bersalah dan menyesal."

"Karena sekarang aku merasakan hal yang sama denganmu. Aku ingin membunuhmu, mencincangmu, dan memakanmu! Namun, aku harus menerima konsekuensinya. Kau akan mati, kau tak akan ada lagi di dunia ini. Aku salah, bersalah. Masuk penjara jika para polisi berhasil melacakku. Kebohongan sekecil apapun, disimpan seberapa eratpun, pasti akan terbongkar Dhike."

"Sonya, lo ngelantur paan sih? Dhike-nya bingung tahu! Gue ama Nabilah juga bingung!" seru Delima.

"Bising! Gue juga gak tahu apa yang gue bicarain," seru Sonya kesal lalu menoleh kembali ke Dhike, "intinya, gue yakin elo pasti ngerasa menyesal dan bersalah. Walaupun elo merasa elo senang dia mati, orang yang elo benci, namun percaya deh sama gue, pasti ada rasa―walauun kecil―kalau elo merasa tak nyaman karena bersalah."

"Darimana kau tahu hal itu? Bagaimana kau bisa tahu? Memangnya kau pernah membunuh orang?"

"Ya, pernah," jawab Sonya, tatapannya menjadi serius, "aku pernah membunuh seseorang. Dan dia adalah ayahku."

.

.

...Chapter 8 end...


Nacchan: Oke, apa ini? Sampah ini! Ngelantur apa lo disini!? Anjirr...absurd banget. Udahlah gitu Sonya malah mancing2 masa lalunya. Sinka mati? Kok bisa? Padahal rencananya Rica yang mati! Apaan sih ini!? Gila!

Ryouta: Elo yang bikin kok

Nacchan: Gue tahu! Ryuu-chan, kayak mana bikin cerita tapi alurnya tetep nyambung, sih!? Gak jelas amet makin kesananya. Agh...paan sih... *frustasi*

Ryouta: JANGAN MANGGIL GUE RYUU-CHAN, NJIRR!

Nacchan: Iye, iye, ah. Ugh...pokoknya jangan lebih dari chapter 10...kalo bisa chapter besok dah THE END nih FF

Ryouta: Paan nih? FF JKT baru?

Nacchan: Enggak! Gak, gak, gak, itu gue bikin manual, bikin di sekolah, soalnya bosen kan nunggu guru 2 jam gak masuk2, tiba berharap gak dtg malah dateng. Kamvreett bgt tuh guru.

Ryouta: Terserah deh―kok nama gue dipanggil!? Pake Ryuu-chan lagi, njirr..FF apaan sih ini?

Nacchan: Ttg penyihir yang menyegel sihirnya di dalam lagu buatannya. Sekilas mirip YWMK? Yak, memang. Rencananya pengen di publish setelah nih FF selesai. Main charanya ada 9, Melody, Ve, Haruka, Naomi, Ayen, Yupi, Michelle, Elaine, Gracia. OOC mungkin karena Nacchan nulis sesuai Nacchan memandang karakternya.

Ryouta: Njirr..banyak banget Girls Love-nya

Nacchan; BIARIN! BERISIK AMET SIH LU!

Ryouta: Yah, terserah, oh ya buat leman slm, makasih banyak udah mau nunggu nih FF gak jelas karya Nacchan-abal-abal. Jangan frustasi mas, nungguin FF gak jelas kayak gini.

Nacchan: Geh...realita yg dikatakan Tukang Kebonnya Veranda pun membuat Nacchan kehilangan nyawanya.

Ryouta: kenapa masih bisa ngomong?

Nacchan: Ah, bising lu. Udah kebanyakan nih kita ngomong. Makasih semua readers dan reviewers! Sekian dari kami~

Ryouta: Sampai jumpa!