Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku pun segera bergegas pulang bersama miwa. Berita tentang insiden itu segera tersebar ke seluruh penghuni sekolahan, dan kini telingaku kelewat kenyang mendengar cerita tentang insiden itu dalam berbagai versi. Namun yang pasti, korban tersebut adalah siswi kelas 1-B yang merupakan adik kelas ku, dan di pastikan dia telah tewas.
"ne.. ne.. (your name)-chan, ayo ikut aku belanja" kata miwa riang padaku. Aku mengangguk menyanggupinya. Dan kini kami pun mampir di sebuah supermarket. Miwa segera menyeretku ke rak berisi berbagai macam teh.
"aku traktir kau teh, hehe.. lumayan kan untuk melengkapi koleksi teh mu di lemari hm?" godanya sambil mengambil beberapa teh. miwa ternyata sudah tahu kalau aku maniak teh, yah, walau aku baru memulainya beberapa minggu yang lalu.
"baiklah, aku memilih teh camomille, rosella, jasmine.."
"etetetete.. kau ini memanfaatkan traktiranku yha?" tanyanya curiga. Aku kikuk dibuatnya.
"baiklah, aku memilih green tea saja" aku pun mengambil sekotak teh green tea dari rak yang memang tinggal satu. Namun sebuah tangan menyerobotnya dan mengambil lebih cepat dariku. Karena kesal akupun segera menoleh untuk melihat siapa yang berani-beraninya mengambil teh itu. namun yang kulihat adalah seorang lelaki berambut magenta dengan mata tajam dwi warna. Seketika ciutlah nyali dan niatku untuk marah-marah padanya.
"ah, sensei juga belanja di sini? Kebetulan sekali" celetuk miwa dengan riangnya, astaga anak ini.
"yha, stok green tea ku tengah habis" jawabnya singkat.
"eh, jadi sensei gemar minum teh juga? Wah.. lihat-lihat (your name)-chan, kalian sehobi" goda miwa sambil menyikut pinggangku. Dasar anak ini.
"yha, eh maksudku.." ucapanku terhenti ketika tahu sensei berambut merah itu pergi menuju kasir untuk membayar dan pergi. "miwa!" aku menatap tajam miwa. Namun miwa nampak memalingkan muka sambil bersiul-siul tidak jelas.
"ahk, cepat pilih teh yang akan kau ambil. Aku ada urusan setelah ini." Katanya mengalihkan perhatian, aku pun menurut sambil mengambil sekotak teh krissan. Yah, setidaknya ialah yang mentraktirku teh, bahkan sebagai permintaan maaf ia juga membelikanku coklat.
"tidak mau mampir kerumahku dulu untuk minum teh?" tawarku padanya, namun ia menggelengkan kepalanya pelan.
"kapan-kapan saja, hari ini aku ada urusan sepele yang tidak patut di sepelekan. Hehe.. Bye-bye (your name)-chan!" katanya sambil melambai dan berlari menuju arah yang berlawanan denganku. Aku pun segera melangkah untuk pulang, tinggal beberapa blok lagi hingga sampai di pintu gerbang rumahku.
"aku pulang" kataku ketika memasuki rumah yang gelap, tak ada yang menjawab. Tentu saja, karena ayah,ibu dan adikku memilih tinggal di desa untuk menemani kakek dan nenekku yang semakin hari semakin mengkhawatirkan saja keadaanya.
Aku menyalakan saklar lampu dan teranglah keadaan sekitar. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri di rumah besar bergaya jepang kuno ini, kata ayah rumah ini adalah peninggalan turun temurun dari kakek buyut kami. Walau begitu tetap saja aku sedikit kesulitan mengurus rumah tua sebesar ini.
"nyaa.." shiro, kucing ku yang berbulu putih selembut kapas itu mengeong saat menyela di kakiku. Aku kemudian berjongkok untuk mengelus bulunya. Setelah mandi dan berganti baju,aku memberi makan shiro lalu pergi ke dapur untuk memasak. Sederhana saja, aku membuat onigiri isi plum asam dan ikan asap.
Kulihat langit malam dari jendela, nampak indah dengan bintang bertaburan di sana. Namun juga entah kenapa menakutkan. Aku membuka lemari tempat dimana aku menyimpan bahan makanan, disana terjejer beberapa koleksi tehku. Awalmula aku menjadi maniak teh karena aku ingin menenangkan pikiranku yang akhir-akhir merasakan firasat buruk. Aku tak habis pikir akan penyebabnya, namun yang pasti ada hal yang terjadi di luar sana. Dan aku terlalu takut untuk menyelidiki.
Aku meletakkan teh krissan yang baru saja ku beli, namun kemudian aku mengambilnya sebuah dari kotaknya dan menyeduhnya. Setelah itu aku duduk di beranda memandang kolam ikan mas yang baru saja kubersihkan kemarin. Malam yang tenang di temani seteko teh krissan yang hangat dan shiro yang bergelung manja.
"hh.. setidaknya aku masih bisa menenangkan diriku sejenak" kataku sambil menyesap teh krisan ku perlahan. Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan melompati pagar kayu tinggi, dan firasat burukku makin kuat. Aku seketika terkesiap saat mendengar debuman keras di halaman rumah.
"hai gadis kecil, maukah kau bersenang-senang denganku?" seorang pria dengan kecepatan tinggi berdiri di hadapanku, matanya merah menyala, gigi taringnya panjang hingga aku terduduk lemas ketakutan ia tampak seperti..
"vampire" kataku tanpa sadar. Pria itu tampak menyeringai menakutkan seolah mengiyakan, dan dengan cepat membuka mulutnya lebar-lebar bersiap menyerangku, namun tanpa di duga shiro melompat dan mencakari wajah pria itu. ia menyerang membabi buta hingga pria itu kerepotan. Aku mundur perlahan ke dalam rumah untuk memanggil polisi. Namun gerakanku terhenti saat tubuh shiro terkoyak dan tetesan darahnya menciprat kemana-mana hingga menodai beningnya air kolam. Dan tubuh shiro yang tak utuh itupun terlempar tepat di kakiku.
Rasa takut ku mendadak menguap,tergantikan amarah yang luar vampire itu kini menatapku garang, aku balik menatapnya sinis. Segera aku berlari menuju ruang keluarga dimana terdapat katana terpajang di sana, vampire itu mengikutiku dengan cepat. Aku segera memasang kuda-kuda dengan katana di tanganku.
"sudahlah. Kita akhiri saja keributan ini.. jangan membuang-buang tenagamu dengan senjata yang bahkan tidak dapat melukaiku" kata vampire itu dengan tenang. Aku tergugu mendengarnya, benar juga, hanya perak lah yang dapat melukainya. Eh, tapi bila ku serang matanya untuk mengalihkan perhatian lalu kabur ku rasa itu akan berhasil.
"tapi tak ada salahnya untuk mencoba bukan?" kini aku menyeringai pada vampire itu. namun tiba-tiba tubuh vampire itu terbelah dua dengan darah hitam mengucur darinya, vampire itu tewas di tempat kemudian dengan perlahan tubuhnya mengering dan menjadi abu. Hei, siapa yang menebasnya saat aku saja belum bergerak?
"merepotkan saja..eh? Kenapa kau hendak menyerang vampire dengan senjata mainan itu (name)-cchi?" tanya seorang pria tinggi besar bak raksasa dengan rambut ungu sebahu yang terurai. aku makin terkejut dibuatnya, pria tersebut mengenggam pedang berkilau, umm .. mungkin dari perak. Jadi dialah yang telah menebas vampire tadi dan menyelamatkanku?
"jadi kau yang telah menyelamatkanku? Trimakasih.. tapi siapa kau? Dan darimana kau tahu tentang diriku?" aku penasaran.
"murasakibara atsushi, aku tahu dirimu dari akashi-cchi. Aku kesinipun karena di perintahkan olehnya" jawabnya dengan malas.
"Akashi-cchi? Aku bahkan tidak mengenalnya, apa dia pemimpinmu?" tanyaku penasaran. Murasakibara tidak menjawab, ia hanya mendekatiku hingga tepat di depanku lalu menyejajarkan tubuhnya agar bisa bertatapan langsung denganku. Mata kecubung itu menatapku tajam.
"aku terlalu malas menjawabnya, tanyakan saja padanya saat bertemu. Oyasumi (name)-cchi" ia pun menyentuh dahiku dengan telunjuknya, dan entah kenapa pandanganku memburam kemudian gelap dan aku tak sadarkan diri.
...
Aku terbangun dari tidur. Kulirik jam di hanphone ku menunjukkan pukul 6 pagi. Kepalaku pusing entah kenapa. Sepertinya aku kemarin mengalami sesuatu yang berat. Tapi apa? Kulihat shiro tengah meringkuk pada karpet kamarku, aku lega melihatnya. Aku keluar kamar dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan shiro yang masih terlelap. Aku langsung memeriksa beranda, kolam ikan dan ruang kluarga, tidak ada apa-apa disana kecuali keadaannya normal-normal saja.
"hhh.. tentu saja tidak ada apa-apa.. apa sih yang ku khawatirkan?" kataku pada diri sendiri sambil memijit kepalaku yang pusing. Aku mengirim sms pada miwa untuk mengatakan padanya bahwa aku tidak dapat masuk hari ini. Setelah itu aku beranjak ke dapur untuk sarapan walau sekedar beberapa lembar roti dan segelas teh manis hangat.
Shiro mendekatiku saat aku tengah bersantai usai sarapan. Ia hanya menatapku dengan intens,tak biasanya ia bersikap seperti itu. bisanya ia akan mengeong atau menggesek-ngesekkan tubuhnya pada kakiku dan kemudian minta dielus atau di pangku, ah, mungkin dia hanya lapar. Aku pun mengeluarkan sekotak makanan kucing kemudian menuangkannya ke dalam mangkuk makanan milik shiro.
"ayo makan, sarapan sudah siap shiro" kataku sambil mengelusnya,lagi-lagi aku dibuat heran. Selain mengacuhkan elusanku, ia pun seolah enggan memakan makanannya. "shiro, apa kamu juga sakit?" tanyaku dengan was-was. Shiro malah melenggang pergi menuju kamar, karena pensaran, aku pun segera mengikutinya.
"baiklah, ternyata kamu Cuma sedang ingin bermalas-malasan yhak?" tanyaku sambil mengelusnya yang meringkuk di karpet. "terserahlah, aku juga mau tidur lagi" dan ucapanku di akhiri dengan rebahnya diriku pada empuknya kasur.
...
"apa maksudmu berbuat seolah-olah kamu masih manusia biasa?" suara berat itu kini menginterupsi.
"saya hanya ingin menjalani hari-hari saya dengan damai sebelum saya lepas kendali dan terbunuh di tangan anda, tuan" jawab seseorang dengan tenang
"ouh.. tapi kurasa bukan aku yang akan membunuh mu" sang tuan nampak menyeringai
"lantas siapa?" orang tersebut mulai gugup
"kenapa kau bertanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya?" dan kini sang tuan pun menatap pada orang yang kini menundukkan kepala, sedih.
TBC
...
Huaaa.. mohon maaf sebersar-besarnya atas segaa typo saya yang mungkin membingungkan para pembaca :"v / tapi saya akan berusaha memperbaikinya kok. Hehe
Semoga fic ini bisa menghibur :v /
