Cerita ini berlanjut.
Selamat membaca :v /
...
"(your name)-chan!.. (your name)-chan!.. bangun!" seseorang mengguncang-nguncang tubuhku. Aku menggeliat lalu membuka mata. Kulihat miwa yang tersenyum lega. Akh, jadi aku tadi beneran tidur yha.
"hah... syukurlah kau tidak papa" iyha, tapi kau menganggu tidurku.
"kenapa kau di sini? Bukannya kau seharusnya masih di sekolah?" tanyaku.
"hei, ini sudah 1 jam dari bel pulang sekolah, aku menjengukmu, saat tahu pintu rumah tidak di kunci dan keadaan sunyi tentu aku jadi panik dan langsung mencarimu" kata miwa memburu dengan nada khawatir. Aku tersenyum mendengarnya.
"trimakasih ya.. aku sudah baikan kok" kataku lalu bangkit. " ayo kita makan siang bersama. Dari tadi kau belum makan kan?" tanyaku, miwa mengangguk antusias. Kami pun pergi ke dapur untuk memasak dan makan bersama.
"ne.. ne.. (your name)-chan.. kamu tahu tidak?" tanya miwa setelah menandaskan makanannya.
"apa?" tanyaku sambil membereskan wadah-wadah kotor.
"ternyata guru tampan berambut merah itu mengajar sastra jepang di kelas kita lho" miwa mengatakannya sambil terkikik senang, aku shock di buatnya. " dan namanya itu akashi seijuuro"
"oh.. pantas rambutnya merah" kataku acuh.
"dan ada murid pindahan yang keren sekali lho... namanya kise ryouta"
"pasti warna rambutnya kuning" tebakku asal.
"iyha, bener eh, kok kamu tahu?" miwa menatapku curiga.
"nebak dari nama nya" jawabku santai. "lanjutkan ceritamu"
"ok, aku lanjutkan. Dia anaknya keren sekali lho, sepertinya dia seorang model. Anaknya juga menyenangkan, baik dan ramah. Banyak anak perempuan yang ribut ingin berbicara dengannya, suasana kelas menjadi gaduh hingga akashi-sensei menghukum nya berdiri di belakang kelas" miwa mengakhiri cerita panjangnya dengan meneguk segelas ice tea yang baru saja kubuat. Hhh.. anak ini. "Oh yha hampir lupa, ada lagi seorang anak pindahan yang suka sekali menghilang dan tiba-tiba muncul, namanya.. um.. ah! Kuroko tetsuya" kata miwa dengan antusias. "coba tebak apa warna rambutnya?"
"yha jelas hitam" jawabku mantap, namun miwa malah tertawa.
"hahahahha.. salah, warnanya biru muda" kata miwa dengan nada penuh kemenangan.
"heh!?" aku kaget, namun kemudian kembali tenang.
"dia anaknya manis-manis imut gitu deh, sayang wajahnya selalu datar dan sangat sulit menyadaari keberadaanya, apalagi mencarinya" kata miwa sambil terkikik. "kamu pasti menyesal deh gak bisa masuk hari ini" ejek miwa padaku.
"hh.. yha yha, sahabatnya sendiri sakit malah diejek. Iya deh, sekarang aku faham..." kataku pura-pura kecewa, padahal dalam hati cekikikan tidak jelas. Miwa mulai gelagapan, ia nampak menyesal.
"ah, eh, maksudku tidak begitu (your name)-chan.." ucapan miwa terputus saat aku mendadak memeluknya.
"hehehe.. iya-iyha.. aku tadi Cuma mau ngoda kamu kok" kataku dengan nada santai, miwa nampak lega.
"kamu ini" miwa pun kembali meneguk sisa ice tea nya. aku pun berjalan menuju kulkas untuk mengambil ice tea tambahan, namun tanpa sengaja aku menginjak ekor shiroe.
"akh! Maaf shiroe, aku tadi tidak menyadari mu" kataku menyesal, namun anehnya shiroe tetap diam seolah tidak terjadi apa-apa. Ia lalu menoleh menatap miwa, aku pun menoleh pada miwa. Miwa yang jadi objek tatapan mata gugup di buatnya.
"oi shiroe, dia ini sahabatku yang sering main kesini, jangan-jangan kau memang sakit beneran yha sampai-sampai lupa ingatan?" kataku sambil menepuk-nepuk pelan kepala shiroe.
"eh? Shiroe sakit?" Miwa tampak kaget.
"errr.. entahlah, tapi dari tadi sikapnya aneh. Dia jadi kucing pendiam yang aneh" kataku sambil menatap khawatir pada shiroe. Miwa menarik tanganku keluar menuju beranda.
"yuk duduk di beranda, di sini panas". Dan kini aku duduk santai bersama miwa memandangi kolam ikan mas yang air jernihnya memantulkan cahaya langit sore.
"astaga, sudah sore rupanya" kata miwa lalu masuk ke rumah lagi saat belum genap semenit kami duduk. Aku pun menghela napas mengekorinya. Ia nampak berkemas-kemas dan mengenakan sepatunya.
"besok kamu sekolahkan?"
"yha, ku usahakan" jawabku sekenanya, miwa cemberut. Namun lalu tersenyum maklum.
"baiklah, aku pulang dulu yha (your name)-chan. bye-bye" katanya sambil berlalu.
"bye-bye" kini hanya tinggal keheningan yang menemani ku. Aku memandang lukisan di dekat pintu masuk, itu adalah lukisan bunga sakura nan indah. Miwa lah yang melukisnya, ia memang pandai melukis dan menggambar.
Awal kami bertemu adalah di taman bermain pemukiman rumah kami saat usia kamu masih lima tahun, waktu itu kami memulainya selayaknya persahabatan biasa, berkenalan, bermain bersama, bersenang-senang bersama, berusaha masuk sekolah yang sama, saling berbagi suka dan duka, curhat ngalor ngidul entah masalah kluarga atau sampai makanan kesukaan.
Dia adalah orang ter absurd yang ku kenal, aneh, tak terduga, suka tertawa, namun di balik itu semua tersimpan hati yang sehangat mentari dan seputih salju.
Daripada di bilang sahabat mungkin kami lebih sesuai di sebut saudara. Apalagi faktor kluarga kami yang sama, namun berbeda untuk kasus miwa. Orang tuanya meninggal karena kebakaran di rumah, ia satu-satunya korban selamat. Beruntung ia mempunyai kakek dan para paman yang baik hati dan tulus menyayanginya. Ia berkali-kali di ajak untuk tinggal bersama salah satu keluarganya, bahkan olehku, namun ia tetap menolak dan lebih senang tinggal sendiri di sebuah apartemen tak jauh dari tempat tinggal ku.
Walau tiap bulan ia selalu dikirimi uang oleh para pamannya dan dikirimi hasil panen kakeknya. Ia tetap ingin berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan bekerja sebagai penulis dan pelukis. Yah, dialah inspirasiku. Dia selalu tabah dalam menghadapi segala cobaan dan terus maju ke depan.
"prak!" bunyi gaduh terdengar dari arah gudang. Yah, kurasa sudah waktunya berhenti bernostalgia. Aku segera berlari menuju sumber bunyi. Bukan tikus atau barang pecah yang ku dapat. Namun shiro yang tengah terduduk menatapku di atas sebuah peti tua. Aku terheran melihatnya.
"hhh.. kukira kau menemukan tikus, shiro" komentarku sambil mendekati shiro. Shiro melompat turun dari peti lalu dengan isyarat mata seolah berkata 'bukalah'. Aku heran, namun setelah ku amati aku terkejut bukan main.
"jangan-jangan ini yang di maksud ayah, peti yang berisikan harta karun peninggalan kakek buyut." Hatiku berdebar-debar. Bagaimana tidak, Jika isinya emas dan berlian dan berbagai macam harta yang tak ternilai harganya harus ku apakan? bila itu harta kenapa ayah dulu tidak mencarinya sampai ketemu? Dengan gugup aku membuka peti tersebut secara perlahan.
Dan yang ku dapati adalah sebuah pedang yang bilahnya berkilau indah dan pegangannya berwarna emas motif sulur yang nampak elegan, ah, ada sebuah mirah delima menempel anggun pada batas antara bilah dan pengangannya. tak hanya itu, aku juga menemukan sebuah belati yang nampak seperti tiruan dari pedang tersebut, namun dalam ukuran kecil tentunya.
"woah, aku tak menyangka kakek buyut punya barang seperti ini" aku mengambil pedang tersebut dengan hati-hati seolah barang itu dari kaca tipis yang mudah pecah. Ternyata pedang ini cukup berat mengingat panjang dan ukurannya. Dan aku juga mengangkat dengan tenang belati kecil yang merupakan tiruan pedang tersebut. Kuamati kilau dua benda tersebut, apa ini terbuat dari perak? Jika memang perak, berarti ini bisa untuk membunuh vampire kan. Lalu kenapa kakek menyimpan benda seperti ini? Ah, pasti memang hanya untuk koleksi.
"apa keluargamu belum menceritakan apapun tentang perjanjian mereka?" sebuah suara mengomentariku. Aku segera menoleh dan melihat surai merah itu lagi.
...
"apa saya boleh meminta sesuatu?"
"boleh, tapi aku bukan peri baik hati yang dapat mengabulkan segala permintaanmu"
TBC
