Hembusan angin sore, perlahan menggoyangkan surai halus seorang namja yang saat ini tengah bersantai diberanda rumahnya, bersama dengan seorang namja tambun yang tengah menyantap sebuah cake strawberry dan secangkir teh hangat.
Sang namja bertubuh lebih kurus dibandingkan dengan namja yang sejak tadi sibuk makan itu, perlahan mengarahkan jemarinya menuju puncak kepalanya. Memilin dan mengelus surai lembutnya yang tengah dihembuskan angin dengan tatapan menerawang.
"Aa, pasti sekarang tangannya mulai terasa gatal… Dasar bodoh." Gumamnya lirih, membuat namja tambun yang berada disampingnya mendongakkan wajahnya menatap teman sekaligus keponakannya itu.
"Ehm? Khau bichala phadaku?" Tanya sang namja tambun itu dengan mulut yang dipenuhi cake strawberry. Hingga sang namja kurus menolehkan wajahnya membalas tatapan sang paman.
"Ck, untuk apa berbicara dengan paman tukang makan sepertimu?! Huh, apa yang kau lakukan?! Mana jatah cake punyaku?!" Pekik Eunhyuk kesal, saat mendapati bahwa piring kecil yang tadi terdapat cake strawberry favoritnya kini hilang tanpa sisa.
"Huh? Paman pikir kau tak mau, makanya paman makan saja.."Jawab sang paman dengan tampang tak berdosa. Ia malah kembali melahap cake strawberry yang beberapa menit lalu baru ia curi dari piring Eunhyuk.
Eunhyuk membelalakan matanya tak percaya kepada tingkah sang paman. Bagaimanapun, cake itu adalah makanan favoritnya! Apa lagi itu buatan sang nenek.
Eunhyuk tak terima akan perlakuan ini! Ia sontak berdiri dan menatap sang paman dengan tatapan garang.
"Paman Shindong! Cepat kembalikan cake milikku!" Ucapnya berang, ia memiting leher sang paman dengan lengan kirinya dan tangan kanannya meninju-ninju kecil perut sang paman. Membuat namja bernama Shindong itu terkejut akan kelakuan keponakannya.
"Ugh! Eunhyukkie! Lepaskan paman! Ohok ohok!" Sang paman segera meletakkan sendok keatas piring cake yang kini telah kosong tak berisi, ia memukul-mukul kecil lengan sang keponakan yang masih mengunci pergerakab tubuhnya.
"Tidak mau! Keluarkan semua cake yang ada pada mulutmu paman! Itu makanan favoritku!" Sahut Eunhyuk sebal. Ia mengalihkan tangan kanannya untuk mencengkram kedua sisi dagu sang paman dan membuat mulut yang masih terisi cake itu terbuka.
"Eunhyuk-ah! Kau sedang apa dengan pamanmu huh?! Ayo, jangan bertingkah tak sopan seperti itu! Atau nenek tidak akan memberikanmu cake strawberry lagi!" Suara sang nenek yang baru saja keluar menuju beranda depan rumahnya, sontak membuat Eunhyuk terkejut. Ia mengalihkan wajahnya guna untuk dapat menatap sang nenek yang tengah tersenyum simpul kepadanya.
"A, andwae! Tapi ini semua karena paman mengambil cake strawberry milikku!" Eunhyuk menunjuk sang paman yang saat ini tengah mengatur nafasnya, tak mempedulikan tatapan Eunhyuk yang tampak lucu ketika memandanginya.
Sang nenek tersenyum seraya menghampiri sang cucu yang berada di samping meja makan mini dengan sang paman, dikedua tangan sang nenek nampak membawa beberapa cake dan juga secangkir teh yang sepertinya untuk dirinya sendiri diatas nampan itu. Kemudian sang nenek meletakkan nampan tersebut diatas meja mini tempat dimana keributan berasal.
"Sudah ya? Jangan marah pada paman, sebentar lagi ia akan segera ke Seoul bersama dengan tuan Lee untuk membahas permasalahan di ladang selama 3hari… Jadi selama 3hari, dia tidak akan bisa memakan cake enak buatan nenek.." Ucap sang nenek dengan lembut, mengelus pundak sang menantu dari anak perempuannya yang telah meninggal bernama Nariㅡadik dari ibu yang melahirkan Eunhyuk.
Sang paman hanya mengulas senyum ketika mendapati hanya sebuah dengusan kesal dari sang keponakannyaㅡEunhyuk.
"Ayo dimakan, tuan Lee sebentar lagi akan tiba.." Titah sang nenek, mengajak Eunhyuk untuk kembali duduk disamping sang paman. Tanpa perlawanan yang berarti, Eunhyuk hanya mampu menuruti perkataan sang nenek. Ia kembali terduduk, dan meraih beberapa potong cake strawberry ke atas piring miliknya.
"Jadi paman akan pergi ke Seoul? Dengan paman Lee? ayah Donghae yang sok ikut campur itu?" Eunhyuk berujar kepada sang paman, seraya menyantap cake buatan neneknya yang amat sangat terasa enaknya. Membuat sang nenek menarik pipinya dengan gemas.
"Selalu begini, bicaralah yang sopan pada orang lain! Siapa yang mengajarimu bicara seenaknya begitu?! Apaㅡ"
"Iya! Aku minta maaf!" Ucap Eunhyuk sebal, ia menepis jemari sang nenek yang baru saja membuat pipinya sakit akibat dicubit keras. Memotong ucapan sang nenek, supaya dirinya tak lagi mendengar kelanjutan dari perkataan yang terkesan tak berbelas kasihan sama sekali.
Bagaimanapun, ia adalah korban dari hancurnya hubungan antar suami dan istri didalam kekeluargaan. Ia korban dari ketidak harmonisan kedua orang tuanya yang tiap hari selalu melontarkan kata-kata kasar dan tak berguna, hingga dirinya harus memahami.
Bahwa dirinya telah tercemar, oleh tindakkan orang tuanya yang tak pernah mau memandanginya sebagai seorang anak..
Dia hanya permen karet, sudah dibuang karena tak terasa manis lagi..
Sang nenek yang melihat perubahan sikap Eunhyuk, hanya bisa tersenyum dan perlahan mengelus surai kemerahan Eunhyuk dengan lembut.
"Mianhae, nenek keterlaluan memarahimu…" Kata sang nenek tulus. Berusaha menyalurkan kasih sayangnya kepada sang cucu yang ia sadari, bahwa sosok yang terlihat kuat diluar itu sebenarnya telah hancur lebur didalam hatinya. Perasaan kecewa dan marah, rasa tak diinginkan dan tak berguna itu, menjadi kelemahan bagi sang cucu kesayangannya.
Eunhyuk hanya mampu memejamkan matanya dengan mulut yang masih dipenuhi cake strawberry itu, merendahkan kembali gejolak emosinya yang bisa meningkat kapan saja jika sudah mengingat kedua orang tuanya dan juga kondisi dirinya yang begitu lemah.
"Sudah tak apa… " Bisiknya pelan, seraya kembali memasukan sepotong cake kedalam mulutnya yang masih dipenuhi cake. Hingga sang paman dan sang nenek hanya mampu saling bertatapan penuh rasa iba.
.
.
.
.
.
"Baiklah, kami berdua pamit ya? Ah, tolong titip Donghae disini ya nek? Dia memang anak yang tak bisa diajak mandiri, saya cemas jika setibanya saya kembali ke desa.. Rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan mendiang istri saya jadi terbakar karena kecerobohannya." Seorang namja berkisar usia 45 tahun saling bersua kepada sang nenek yang tengah berdiri tak jauh dari beranda rumahnya. Namja yang tak lain adalah ayah dari Donghae tengah berpamitan kepada nenek Eunhyuk yang akan pergi ke Seoul bersama dengan paman Eunhyuk bernama Shindong itu.
Membiarkan sang anak yang tengah mendengus sebal menanggapi perkataan sang ayah yang akan segera berangkat ke Seoul selama 3hari.
"Sudah sana pergi" Ucap Donghae dingin, membuat sang ayah hanya mampu terkekeh geli menanggapi perkataan sang anak. Eunhyuk masih duduk diam seraya melahap cake strawberry yang masih tersisa, menatap pemandangan dihadapannya dengan tatapan datar.
"Baiklah, sampai bertemu lagi nanti.." Sang ayah dari Donghae itu segera berjalan memasuki mobil bak terbuka miliknya, diikuti dengan Shindong yang duduk dikursi kemudi.
"Ah! Tuan Lee!" Pekikan sang nenek kembali membuat tuan Lee menghentikan gerakkannya untuk masuk kedalam mobil. Tuan Lee tampak tertegun kala pandangannya mendapati sebuah keras sederhana dari sang nenek.
"Tolong, titip ini… Dan berikan pada ibu Eunhyuk." Gumam sang nenek pelan, agar Eunhyuk tak sampai mendengar ucapannya.
Hingga akhirnya mobil itu mulai melaju, meninggalkan perkarangan rumah sederhana milik nenek Eunhyuk. Namun tak ayal, pandangan yang janggal itu membuat Eunhyuk curiga.
"Eoh, kau benar Eunhyuk yang badung disekolah? Aku tak menyangka, kau suka cake strawberry?" Suara baritone khas Donghae segera mengalun merdu, mengiringi langkahnya untuk ikut duduk dikursi meja mini di hadapan Eunhyuk. Ia menopang dagunya, menatap Eunhyuk yang kembali melanjutkan makannya.
Namun yang ia dapat bukanlah sebuah tanggapan dari bibir Eunhyuk, melainkan sebuah aksi bodoh yang kini telah dilakukan oleh Eunhyuk.
Bagaimana tidak, sosok dihadapannya tengah melahap cake strawberry dengan begitu brutal. Ia terus memasukan cake itu kedalam mulutnya yang masih dipenuhi cake, terus menerus, hingga sosok itu mengeluarkan sedikit airmata dan perasaan mual yang mulai datang melanda Eunhyuk.
"Ohok!" Akhirnya Eunhyuk terbatuk, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Donghae yang melihat itu segera membantu Eunhyuk untuk mengeluarkan cake yang lama kelamaan terasa mual.
"Sudah, buang saja… Lalu minum tehnya.." Bisik Donghae mengelus punggung Eunhyuk, namun Eunhyuk hanya menggeleng.
"Tidak apa, uhuk! Semua baik-baik saja.. Tidak apa-apa.." Ucapnya pelan, hingga ia tak sadar...
Setetes airmata mengalir melewati pipinya…
Donghae hanya mampu terdiam, menyaksikan sosok dihadapannya yang terlihat begitu..
Hancur..
.
.
.
.
.
.
Eomma…
Kenapa aku harus terlahir dari rahimmu?
Kenapa aku harus terlahir dengan keadaan eomma dan appa seperti itu?
Tidakkah… Aku sempat diharapkan didunia ini untuk hadir ditengah keluarga kecil yang telah kalian bangun bersama?
Lalu kenapa?
Kenapa aku dibuang?
.
.
Suara baritone dan suara lembut dari seorang wanita tua, tampak terdengar riang disebuah ruangan yang kini tengah dipenuhi berbagai macam makanan khas korea yang diletakkan diatas meja kayu berwarna coklat kehitaman itu.
Donghae yang tampak asik bercengkrama dengan nenek Eunhyuk, sesekali ia memasukan nasi beserta lauk pauk kedalam mulutnya. Tanpa mengindahkan sesosok namja lain yang saat ini tengah menatap kosong makanan yang tersaji diatas meja.
Sesekali hanya hembusan nafas lelah yang keluar dari bibir ranum milik Eunhyuk itu, lalu dengan gerakan lambat ia segera memasukan nasi beserta lauknya juga kedalam mulutnya dengan sendok yang tersemat dijemari kanannya.
"Bukankah besok adalah peringatan kematian eomma mu? Tapi appamu malah pergi ke Seoul selama 3hari, apa tak menghalangi kalian berdua untuk mengunjungi HyunSoo?" Ucap sang nenek kepada Donghae, seraya memasukan daging gurita kedalam mangkuk milik Donghae yang masih dipenuhi dengan nasi.
"Gwaenchana, appa menitipkan pesan padaku untuk eomma. Jadi tak masalah jika aku mengunjungi eomma ditepi pantai besok." Sahut Donghae ramah, ia sedikit membungkukan kepalanya hormat saat mangkuknya dipenuhi lauk gurita yang baru saja diambilkan oleh sang nenek.
Eunhyuk yang masih diam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri, mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua manusia yang berbeda usia dan gender di hadapan dan samping kirinya itu.
Ia tahu bahwa namja sok ikut campur disampingnya memang tak memiliki seorang ibu lagi, namun ia baru menyadarinya kalau besok adalah peringatan kematian eomma dari namja bermata teduh itu.
"Apa perlu nenek antar kau kesana?" Tanya sang nenek cemas. Membuat Donghae hanya mampu tersenyum simpul.
"Tak usah, aku bisa sendiri… Lagi pula tak begitu jauh dari desa." Jawab Donghae dengan senyum yang semakin melebar, ia kembali menyantap makanannya yang sempat beberapa menit tertunda. Hingga matanya yang teduh sedikit melirik sosok namja manis yang sejak tadi tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Ia diam seraya mengunyah makanan yang berada didalam mulutnya, menatap sosok disampingnya yang tengah tertunduk dalam seraya menyantap makanannya tanpa minat sedikitpun.
Kemudian tanpa memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi dengannya, ia meraih daging gurita yang berada didalam mangkuknya dan meletakkannya diatas mangkuk nasi Eunhyuk. Membuat sang pemilik mangkuk, mau tak mau harus mendongakkan wajahnya menghadap wajah Donghae.
"Kau diam saja sejak tadi, kau yang ku tahu adalah sosok yang berisik. Apa karena ada aku disini? Kau jadi merasa tak nyaman?" Ujar Donghae santai, pandangan matanya menatap Eunhyuk dengan sorot mata yang terkesan tak bersahabat. Sampai-sampai Eunhyuk merasakan dirinya hampir sulut emosi.
"Cih, jangan mengatakan kau kenal padaku! Aku bukan temanmu!" Ujar Eunhyuk ketus, ia kembali menatap mangkuk nasi miliknya dan melahap sisa-sisa nasi dengan kesal. Membuat sang nenek hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eunhyuk! Jangan bersikap kasar seperti itu! Berhentilah bersikap demikian!" Titah sang nenek tegas. Eunhyuk hanya tertawa hambar menanggapi suruhan sang nenek. Ia segera meletakkan sendoknya disamping mangkuk nasi yang masih sisa setengah itu, lalu beranjak dari tempatnya duduk.
"Maaf, aku sudah kenyang." Ucap Eunhyuk pelan, namun dapat didengar oleh sang nenek dan juga Donghae. Kemudian ia segera pergi, meninggalkan meja makan yang mendadak terasa hening.
"Maafkan dia. " Suara sang nenek perlahan memecahkan keheningan yang sempat tercipta. Donghae menatap sang nenek yang sepertinya masih ingin membicarakan sesuatu padanya.
"Dia memang sedikit kasar, tapi ketahuilah… Dia anak yang baik, dia hanya korban dari hilangnya sebuah kasih sayang di masa pencarian jati dirinya… Nenek harap.. Donghae mau memakluminya ya?" Kata sang nenek yang kini dipenuhi oleh rasa prihatin dan juga kecemasan. Ia begitu mencintai cucunya, dan Donghae dapat merasakan itu dari pancaran mata sang nenek.
Donghae kembali melayangkan senyum menenangkan yang telah diwariskan ibunya terhadap dirinya, kepada sang nenek. Kemudian dengan mantap ia mendalami iris kelam sang nenek dan dengan keteguhan hatinya ia melafalkan kata yang begitu indah.
"Tanpa nenek katakanpun… Aku tahu… Aku amat sangat tahu… Maka dari itu, ijinkan aku mengenalkannya kembali kepada sebuah hubungan kasih sayang… Jika nenek berkenan, aku ingin selalu berada disisinya dan menjaganya… Meski saat ini ia tak menyadarinya, tapi sampai kapanpun aku yang akan menopangnya didalam pelukanku.." Terang Donghae kepada sang nenek. Pancaran matanya yang terasa menusuk sang nenek, perlahan membuat wanita paruhbaya itu tersenyum lembut. Ia menitihkan airmata, tanpa berhasil ia cegah sekalipun.. Airmata itu tak mampu terhenti.
"Ia merasa dirinya berantakan, bahkan ia mengatakan bahwa dirinya tak sempurna… Dia memang diam jika menyangkut dengan masalah orangtuanya, namun hati nenek selalu bisa membaca setiap jengkal pandangan matanya terhadap semuanya… Ia hancur, ia bahkan tak mampu menata kembali serpihan-serpihan kelam dirinya… Nenek merasa… Merasa tak berguna…" Sang nenek hanya mampu terisak pelan ketika semua yang ia pendam selama ini, kini dapat ia ungkapkan dari sosok Donghae dihadapannya. Dengan tangan yang selalu gemetar, sang nenek segera mengusap pipinya yang basah oleh tetesan airmata.
Donghae hanya mampu terdiam ketika sang nenek mulai beranjak dari tempatnya duduk, dan kemudian pergi meninggalkannya menuju dapur yang terletak tak jauh dari ruang meja makan.
"Bodoh… Kau masih merasa kurang? Meski kau sadar bahwa wanita cantik yang tergerogoti jaman itu… Telah mencintaimu sedemikian banyak? Dasar Lee Eunhyuk bodoh, bocah bodoh yang mampu membuatku terjerumus didasar hatinya.."Gumam Donghae pelan, tanpa menyadari sesosok namja bersurai coklat kemerahan tengah berjongkok pasrah tak jauh dari ruang makan disisi kanan ruang tamu itu.
Dengan wajah yang tertelungkup diantara dua sisi lututnya yang tertekuk, ia hanya mampu terdiam dan memandang hampa kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
.
.
.
.
.
.
Aku hanyalah sebuah kesalahan dari hubungan keluarga kecil ini..
Kalau saja tak ada pertengkaran.. Jika saja tak ada perceraian..
Maka aku tak akan cacat hati seperti ini..
.
.
Mata sipit bagaikan rubah berbulu putih yang selalu berkelana disekitar pegunungan bersalju itu, tampak menatap sesosok namja yang tengah sibuk mempersiapkan berbagai macam persembahan untuk peringatan kematian sang mendiang ibunya.
Tatapan acuh tak acuh itu masih tetap tak dipedulikan oleh namja sok ikut campur disana, membuat dirinya mendengus sebal diperlakukan tak sopan oleh namja berjulukan ikan dikelasnya karena kesukaannya memakan ikan-ikanan khas lautan itu.
"Wae?" Tanya Donghae tanpa mengalihkan pandangannya yang kini hampir selesai mengemasi perlengkapan ziarahnya. Hingga Eunhyuk yang berdiri diambang pintu kamar, sedikit terkejut dibuatnya.
"Apa? Kenapa?" Sahut Eunhyuk acuh sembari balik bertanya. Donghae segera menoleh menatap Eunhyuk yang sejak tadi menatapnya.
"Idiot, aku bertanya kenapa kau malah balik bertanya?"Ucap Donghae gemas. Ia segera beranjak dari kamar Eunhyuk, seraya mengangkat tas ransel miliknya yang dipenuhi perlengkapan upacara.
Eunhyuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu melirik Donghae segan.
"Ku dengar.. Kau akan kemakam ibumu? Bo, bolehkah… Aku… I, ikut?" Eunhyuk terlihat gugup kala tatapan Donghae yang terlihat tajam, terus memandangnya tanpa berkedip.
Dengan senyum hangat khas Donghae, namja bermata teduh itu segera meletakkan tanganya dikepala Eunhyuk dengan sedikit keras. Sesekali mengusapnya hingga surai lembutnya berantakan.
"Tentu saja… Aku akan sangat senang jika kau ikut! Kajja!" Donghae segera beranjak lebih dulu meninggalkan Eunhyuk dibelakangnya.
Eunhyuk terdiam, menatap punggung lebar Donghae sendu.
"Lain kali, aku mohon padamu… Jangan membicarakan ku disaat aku bisa mendengar perkataanmu dengan jelas… Kau membuatku… Ingin tahu…" Ucapnya entah pada siapa.. Ia mengelus surainya yang sempat dihancurkan oleh tangan Donghae, lalu berjalan menyusul Donghae yang kini berdiri didepan pintu rumah sang nenekㅡmenunggunya dalam sebuah senyuman hangat.
.
.
.
.
.
Tbc ini klo di wp chapter 3 sama 4 yang dijadiin satu, soalnya terlalu pendek klo gak digabungg, hehehe makasih ya udh mau baca ff iniii #bow
