Orang ini datang begitu saja dalam kehidupanku.
Dengan tingkahnya yang selalu mencampuri urusan orang lain, membuatku tanpa sengaja harus berurusan dengan ketua osis menyebalkan itu.
Apa sebenarnya maunya?
"Tanpa nenek katakanpun… Aku tahu… Aku amat sangat tahu… Maka dari itu, ijinkan aku mengenalkannya kembali kepada sebuah hubungan kasih sayang… Jika nenek berkenan, aku ingin selalu berada disisinya dan menjaganya… Meski saat ini ia tak menyadarinya, tapi sampai kapanpun aku yang akan menopangnya didalam pelukanku.."
Aku hanya ingin tahu..
Kenapa ia bicara seperti itu pada nenek?
.
.
.
.
.
"Kau melamun." Eunhyuk menerjapkan matanya ketika mendengar suara baritone Donghae mengintrupsi kegiatan melamunnya.
"Hah?"
"Astaga, yang benar saja. Bisa-bisanya kau melamun sambil berjalan begitu, ck!" Donghae tertawa rendah ketika melihat wajah Eunhyuk yang sepertinya masih diatas awang-awang itu.
"Kau berpamitan dululah pada nenek, aku pulang kerumahku dulu untuk mengambil sepedaku. Aku tak akan lama!" Ujar Donghae seraya beranjak dari beranda rumah nenek Eunhyuk. Eunhyuk menggaruk pipinya yang tidak terasa gatal sama sekali, matanya masih menerjap ketika punggung tegap itu perlahan menghilang dari pandangan matanya.
"Sial, gara-gara dia aku harus menunjukan tampang bodohku. Aigo, kau memalukan sekali Eunhyuk!" Jeritnya frustasi, sang nenek yang baru saja keluar dari dalam rumah terkejut ketika melihat cucu kesayangannya bertingkah aneh. Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya dan segera memakaikan jaket yang cukup tebal diatas bahu Eunhyuk, membuat sang empunya bahu tersentak kaget.
"Astaga nenek! Kau mengagetkanku!" Pekiknya seraya mengelus dadanya yang hampir membuat jantungnya terlepas dari sana. Sang nenek mengusak surai Eunhyuk penuh sayang, senyum tak lepas dari paras senjanya yang begitu lelah.
"Diluar sudah mulai terasa dingin, pakai jaket dan hati-hatilah dijalan bersama Donghae." Eunhyuk mengangguk patuh ketika sang nenek memberikannya pesan kasih sayang yang selalu membuat hatinya menghangat.
"Aku pergi." Eunhyuk segera mengecup pipi sang nenek, dan bergegas menyusul Donghae yang telah tiba dengan sepeda ontelnya itu.
Meninggalkan sang nenek yang masih menatap Eunhyuk dengan tatapan sendu.
"Donghae anak yang baik untukmu, Eunhyuk-ah"
.
.
.
.
.
"Bisakah kau pelan sedikit?! Pantatku sakit karena sepeda mu ini!" Eunhyuk memukul pinggang Donghae, hingga sang korban pemukulan memekik keras akibat rasa sakit yang mulai menjalar kesekujur tubuhnya.
"Ya! Kau gila ya?! Aku sedang mengendarai sepeda dengan kau yang membuat segalanya jadi terasa berat! Tidak bisakah kau diam saja?!" Donghae berujar sengit seraya terus mengayuh sepedanya, padahal ia sudah sepelan mungkin mengendarai sepedanya, namun sosok yang tengah ia bonceng itu sungguh sangat berisik dan menganggu indera pendengarannya.
"Lain kali buatlah bantalan untuk ini, pantatku sangat sakit ketika kau sengaja melewati bebatuan dan membuatku harus menerima pantatkulah yang paling menderita!" Dengus Eunhyuk, tangannya kembali mengenggam sisi ransel yang Donghae bawa di punggungnya.
"Oh ayolah! Siapa yang sengaja melewati jalan yang penuh bebatuan begini?! Lagipula memang inilah jalan satu-satunya menuju pemakaman eommaku! Kau jugakan yang tadi meminta ikut! Jadi nikmati saja perjalanannya! Sebentar lagi kita akan sampai ditepi pantai!" Eunhyuk menerjapkan kedua matanya ketika ia mendengar kata 'tepi pantai' dari bibir tipis Donghae, ia sedikit memiringkan kepalanya dan matanya tanpa ia sadari tengah berbinar tatkala retina matanya melihat laut didepan sana.
"Donghae itu laut!"
"Memangnya kau belum pernah lihat laut ya?!"Donghae mendengus ketika ia harus kembali merelakan telinganya yang sempat berdengung akibat pekikan Eunhyuk dibelakangnya tadi.
Namun tanpa Eunhyuk sadari, pria yang memiliki gelar sebagai ketua osis itu tengah tersenyum lebar.
.
.
.
.
.
"Berdirilah disebelah sana, aku mau melakukan penghormatan dahulu dengan eommaku." Donghae meletakan ranselnya di samping sebuah pemakaman yang terletak tak jauh dengan tepi pantai, mengeluarkan beberapa buah dan juga soju untuk diberikan kepada sang eomma yang sudah bahagia dialam sana.
"Kau mengusirku?"
Donghae mengerutkan keningnya tak mengerti akan perkataan Eunhyuk, ia mendongak hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Mwoya?"
"Kau mengusirku eoh?"
Donghae menghembuskan nafas kasar, ia menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang menghadap Eunhyuk yang dia akui sangat menyebalkan itu.
"Aku tidak berniat sama sekali untuk mengusirmu, tapi memangnya kau mau menemaniku memberikan penghormatan pada eommaku?!" Donghae segera menghampiri Eunhyuk yang berdiri tak jauh dibelakangnya tadi, dan memberikan sentilan sayang yang mendarat tepat dikening Eunhyuk.
"Auch! Apa yang kau lakukan?! Ini sakit tahu!" Pekik Eunhyuk tak terima. Ia berniat berkomentar lebih lanjut, namun langkah Donghae yang berbalik membuatnya harus kembali menutup mulutnya.
"Sudahlah, jangan ganggu aku."Ujar Donghae seraya kembali berlutut dihadapan makam eommanya dan mulai melakukan penghormatan kepada sang eomma.
Eunhyuk diam sembari mengelus keningnya yang masih terasa sakit. Mata bulatnya tak pernah lepas dari punggung pria yang selalu mencampuri urusannya itu.
"Aku… Ingin tahu, ke.. Ketika semasa eommamu masih bersamamu.. A, apa saja yang telah ia lakukan denganmu… Aku.." Eunhyuk tergugup saat ia berniat membuka pembicaraan lagi dengan Donghae. Matanya menatap enggan sosok Donghae yang masih membelakanginya dan kini sibuk dengan mengupas beberapa buah apel untuk sang eomma.
"Kemarilah" Titah Donghae tanpa menatap sedikitpun sosok Eunhyuk yang masih berdiri dibelakangnya.
Eunhyuk mengalihkan pandangannya kearah lain, ia melangkahkan kakinya untuk sekedar menghampiri deburan ombak yang membasahi permukaan pasir ditepi pantai itu. Melangkah melewati makam dimana eomma Donghae bersemayam, mengabaikan sosok pria yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Mau kemana?" Donghae segera bangkit, dan sedikit berlari menghampiri Eunhyuk.
Eunhyuk hanya diam, matanya tak lepas dari hamparan laut yang diterpa oleh sinar mentari yang semakin meninggi.
Donghae menghela nafas panjang, ia mengikuti arah pandang Eunhyuk seraya mengusak surai hitamnya yang sedikit mengkilap karena terkena terpaan sinar matahari.
"Eommaku adalah sosok yang paling hebat dalam sejarah hidupku. Aku bersyukur dilahirkan dari rahimnya." Donghae mengalihkan pandangannya kearah lain, ketika Eunhyuk menolehkan wajahnya kearah pria itu. Ia tak ingin melihat raut wajah pria manis disampingnya, ketika dengan gamblangnya ia menceritakan sosok eommanya semasa hidup dulu.
"Dia sosok humoris yang sangat keibuan, memang aneh ketika aku mengatakan dirinya sangat keibuan. Mengingat eommaku memang seorang ibu, tapi dia sosok yang sangat enerjik. Bahkan aku pernah dikejar-kejar olehnya ketika tanpa sengaja mematahkan alat pancing yang biasa dia gunakan untuk memancing." Senyum tak pernah lepas dari sosok Donghae saat kepalanya berusaha mengingat wajah eommanya yang sudah lama meninggalkannya itu.
"Dia yang selalu ada untukku, sampai pada akhirnya penyakit yang ia derita membuatnya harus meninggalkanku dengan abeoji di rumah. Aku sungguh merindukannya jika sudah melihat pantai, ia suka laut makanya dia senang sekali memancing. Bukankah eommaku aneh?" Donghae menolehkan wajahnya agar menatap wajah Eunhyuk yang masih asik mendengarkan ceritanya. Eunhyuk terdiam dengan tatapan matanya yang tak lepas dari paras Donghae.
"Iya, eommamu sangat unik ya." Eunhyuk hanya memberikan senyuman kecut kepada Donghae, sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain dan segera beranjak menuju sepeda Donghae yang terparkir tak jauh dari makam eomma Donghae.
Langkahnya seakan melambat saat sentuhan dilengannya membuatnya harus kembali menatap sang empunya tangan.
"Kau… Merindukan eommamu?" Tanya Donghae lembut, tangannya mencengkram pelan lengan Eunhyuk yang di balut dengan jaket berwarna orange. Eunhyuk terdiam sesaat dan kemudian tertawa pelan.
"Aku membencinya malah." Eunhyuk menarik tangannya dari genggaman Donghae, dan kembali melangkahkan kakinya menuju makam eomma Donghae. Ia berdiri dihadapan makam itu dan memberikan penghormatan.
Donghae yang melihat itu hanya mampu terdiam dengan wajah sendu, mencoba memahami apa yang baru saja Eunhyuk katakan kepadanya.
"Setidaknya kau masih bisa bertemu dengannya." Ucapan Donghae mampu membuat tubuh Eunhyuk menegang. Tatapannya kini kembali mengarah pada sosok Donghae yang masih terdiam dihadapannya.
"Bagaimanapun dia tetap eommamu.." Donghae beranjak, berniat menghampiri sepedanya dan menuntunnya agar mendekat dengan Eunhyuk.
Donghae meraih ransel miliknya dan meletakkannya pada dudukan yang berada dibelakang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Eunhyuk tak mengerti. Donghae tak mengubris perkataan Eunhyuk dan terus membenahi letak ranselnya supaya bisa membuat sang boncengan tak mengeluh sakit lagi dipantatnya.
"Sudahlah naik saja." Titah Donghae, ia segera menaiki sepedanya dan menunggu Eunhyuk untuk naik kesepedanya juga.
Dengan enggan Eunhyuk segera mendudukan dirinya dibelakang Donghae, ia sedikit kebingunan ketika tidak ada ransel di belakang punggung Donghae untuk menjadi pegangannya supaya tak terjatuh. Dengan perlahan ia mengepalkan kedua tangannya dan hanya meletakkan kedua tangannya diatas pahanya.
Donghae kembali mengayuh pedal sepedanya pelan, mengajak Eunhyuk untuk setidaknya berjalan-jalan sejenak dengannya dipinggir pantai. Suasana hening saat pembicaraan tadi membuat mereka tidak tahu harus berkata apa.
Bahkan Donghae tak tahu..
Eunhyuk tengah menangis dibelakangnya..
Menahan isakan yang akan keluar dengan bebasnya dari bibir ranum itu..
Harusnya Donghae tahu…
Eommanya tidak sebaik eomma Donghae yang telah tenang dialam sana..
Jika dia memang ibu yang telah melahirkan Eunhyuk..
Mengapa ia seperti dibuang?
Mengapa?
.
.
.
.
.
.
"Nenek, sedang apa?" Wanita paruh baya yang tengah duduk di beranda rumah, sontak terkejut ketika indera pendengarannya mendengar suara cucu kesayangannya yang kini sudah duduk dihadapannya. Sang nenek segera menaruh secarik kertas di belakang punggungnya.
Eunhyuk menatap sang nenek bingung, ia melirik tangan sang nenek yang terjulur kebelakang seakan menyembunyikan sesuatu.
"Wae geure?" Tanya Eunhyuk.
"Ah, aniya! Ada apa? Cucu nenek lapar?" Tanya sang nenek mencoba mengalihkan pembicaraan. Eunhyuk menggeleng pelan, ia menopang dagu seraya menatap sang nenek lekat-lekat.
"Menurut nenek, eomma Donghae seperti apa?" Tanya Eunhyuk, ia sedikit menengok kearah pintu masuk rumahnya dan tidak menemukan Donghae yang menyusulnya keluar. Ia kembali menatap sang nenek.
"Kenapa menanyakan eomma Donghae?" Tanya sang nenek, dengan senyum yang pelahan menghiasi wajahnya yang kini tak semuda dulu.
Eunhyuk terdiam seraya jemari lentiknya membentuk sebuah pola abstrak di atas meja yang menjadi tempat favoritnya ketika menanti senja dan juga sepotong strawberry cake buatan sang nenek.
"Aku hanya merasa sepertinya eomma Donghae benar-benar hebat." Ujar Eunhyuk, ia tersenyum kecut ketika bayangan kepalanya hanya menampilkan sosok ibu yang telah membuangnya.
Seketika senyum senja itu memudar, sinar matanya meredup saat mata tuanya menangkap raut wajah kelam sang cucu kesayangannya itu.
"Aku tak keberatan jika mereka berdua memutuskan untuk berpisah, hanya saja… Mengapa aku seakan tak diinginkan oleh mereka? Jika ia memang eommaku, tidak seharusnya ia bertindak demikian. Seharusnya aku…." Perkataan Eunhyuk terhenti ketika retina matanya justru melihat sang nenek yang tengah menangis dihadapannya.
"Apa kau tidak suka tinggal dengan nenek?" Tanya sang nenek disela isakannya yang membuat hati Eunhyuk memcelos. Eunhyuk menggeleng, matanya terpejam disaat matanya ikut memanas juga.
"Aku suka disini, setidaknya masih ada nenek yang menyayangiku…"ㅡMeskipun itu masih terasa ada yang kurang dalam hatiku. Batin Eunhyuk melanjutkan.
"Maka dari itu, kau harus bahagia bersama nenek… Arraseo?" Lanjut sang nenek. Eunhyuk tersenyum, jemarinya terangkat untuk menghapus airmata sang nenek yang masih terjatuh membasahi pipi keriput itu.
"Mianhae, membuatmu menangis.."
Eunhyuk bahkan tak menyadari bahwa sosok yang sempat ia cemaskan agar tak mendengarkan pembicaraannya dengan sang nenek, kini tengah bersembunyi di balik pintu dan mendengar dengan jelas semua hal yang Eunhyuk bicarakan.
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk mendengus kesal, saat sosok yang terbaring disampingnya terus membuatnya hampir terjatuh dari ranjangnya sendiri. Semua yang Eunhyuk pakai saat tidur, seperti bantal dan selimut telah direnggut paksa oleh sosok menyebalkan disampingnya. Oh ayolah, masa ia yang harus menderita dengan kepala yang tak beralaskan bantal dan juga tubuhnya yang harus rela menggigil kedinginan?
Sontak Eunhyuk beranjak dari ranjangnya, dan kakinya segera menendang pantat pria bermarga Lee itu dengan brutal.
"Bangun kau bodoh! Berani sekali kau menguasai ranjang, bantal, dan selimutku?! Bangun jika kau memang berniat berkelahi denganku!" Pekik Eunhyuk geram, kakinya terus menendang-nendang pantat Donghae hingga sosok itu terbangun dengan erangan kesakitan yang keluar dari bibir tipis Donghae.
"Oh ayolah! Besok kita harus sekolah, dan kau malah membuat keributan di sini?!" Geram Donghae tak terima karena pantatnya menjadi korban kekerasan oleh Eunhyuk. Donghae berbalik untuk dapat menatap wajah kesal Eunhyuk terhadapnya.
"Lihat kau hampir membuatku terjatuh diatas ranjang jika kau terus memakan habis bagian ranjangku! Kau itu menumpang tapi dengan seenaknya kau merenggut semuanya." Eunhyuk memekik seraya menarik bantak dan juga selimut dari tangan Donghae. Eunhyuk kembali memposisikan tidurnya tanpa mau mendengarkan komentar dari Donghae terlebih dahulu, ia memungungi Donghae dan menutup seluruh badannya dengan selimut.
Donghae hanya mampu berdecak melihat tingkah Eunhyuk yang menjengkelkan itu. Ia segera menyusul Eunhyuk dan membaringkan tubuhnya memunggungi sosok Eunhyuk.
"Hei."
"Apa lagi?!" Donghae memekik kesal seraya menutup kepalanya dengan bantal.
Eunhyuk mendengus mendengar balasan yang ia terima dari Donghae.
"Selamat.. Ber, bermimpi indah.." Ucap Eunhyuk pelan, dan dengan segera ia memejamkan matanya. Namun matanya kembali terbuka saat sosok disampinnya menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan membuat tubuhnya terlentang akibat Donghae menariknya.
Eunhyuk diam seketika saat matanya membulat karena jarak wajahnya dengan Donghae dekat. Dapat ia lihat mata teduh itu memandanginya begitu dalam dan hangat.
"Selamat malam.." Ucap Donghae, dan setelahnya sebuah kecupan lembut mendarat dengan mudahnya disudut bibir Eunhyuk.
Membuat mata bulat itu kembali membelalakan matanya atas perlakuan yang ia terima dari seorang Lee Donghae.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaikan mimpi indah di saat petir menggelegar kala sang raja malam menyelimuti permukaan bumi..
Udara dingin yang hinggap dihatinya perlahan menghangat tatkala sentuhan itu membuatnya merasakan kembali sebuah kasih sayang yang telah lama hilang..
Jahatkah ia jika hatinya mulai mengakui keberadaan sosok itu sebagai penyelamat dalam kekelamannya?
Bukan maksudnya ia tak menyayangi sang nenek, hanya saja..
Ini begitu berbeda…
Terlalu indah..
Ini terlalu indah..
.
.
.
.
.
.
Jemari lentik nan indah itu perlahan menyentuh sudut bibirnya yang menawan. Masih begitu jelas dalam ingatannya ketika semalam pria yang Eunhyuk akui menyebalkan itu, menyentuh sudut bibirnya dengan bibir tipis yang sungguh tak ia sangka akan bertindak sejauh itu.
' Dasar bibir lancang! Tak punya sopan santun!' Batin Eunhyuk tak terima. Ia segera mengusak surainya yang telah berantakan dan akan semakin berantakan karena tingkahnya, membuat sang nenek yang baru saja meletakan semangkuk sereal di atas meja makan, menyernyit tak mengerti akan kelakuan cucu kesayangannya itu.
"Waeyo?" Tanya nenek Eunhyuk memastikan apakah cucunya baik-baik saja atau tidak.
"Eoh? Aniya, ah! Serealll~" Pekik Eunhyuk ketika melihat semangkuk sereal kesukaannya telah tersaji dihadapannya. Yah sebenarnya ia berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan sang nenek, mana mungkin ia akan mengatakan bahwa semalam pria yang menumpang dirumahnya telah memberikan kecupan selamat malam disudut bibirnya dan membuatnya jadi salah tingkah begini.
Dengan kesal Eunhyuk segera meraih sendok yang tadi tergeletak di samping mangkuk serealnya dan memakan sereal jagung itu dengan brutal.
"Ah, tadi Donghae sudah berangkat duluan. Nenek dengar dia ketua osis disekolah ya? Benar-benar hebat." Ucap sang nenek ketika ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia berniat mencuci piring sebelum suara nyaring dari kursi yang bergeser memekakan telinganya.
Sang nenek menoleh untuk menatap cucunya yang tiba-tiba saja beranjak dari meja makan, dan melihat wajah manis sang cucu yang kini memerah padam.
"Kenapa lagi denganmu eoh? Tidak biasanya pagi ini kau seribut ini, cobalah ceritakan pada nenek apa yang terjadi padamu hari ini." Sang nenek segera mendekati Eunhyuk yang kini tengah menangkupkan kedua pipinya dengan tangan-tangannya yang halus.
"A, aniya… Aniya nenek, se… Sebaiknya aku segera berangkat kesekolah… A, aku berangkat.." Ujar Eunhyuk terbata-bata, ia merasa semakin aneh saja jika terus-terusan mengingat kejadian semalam. Dengan tergesa-gesa, ia meraih tas ranselnya yang tidak jauh dari tempatnya duduk dan mengecup singkat pipi nenek kesayangannya.
Meninggalkan sang nenek yang kini tersenyum lembut melihat punggung Eunhyuk yang semakin hilang dari pandangan buram retina matanya.
"Donghae pasti akan selalu membahagiakanmu, sayang."
.
.
.
.
.
Donghae mendengus sebal tatkala retina matanya belum juga melihat sosok yang kini benar-benar merusak pikirannya, waktu sudah hampir menunjukan pukul tujuh pagi, akan tetapi sosok manis itu tak kunjung juga menampakan batang hidungnya.
"Benar-benar, seharusnya tadi aku membangunkannya!" Gumamnya sebal. Ia melangkahkan kakinya kesana kemari, mengabaikan beberapa siswa dan siswi yang memandanginya dengan tatapan heran.
Lonceng tanda masuknya jam pelajaran pertama telah berbunyi, namun sosok itu belum juga tiba. Donghae kembali menghembuskan nafasnya sedikit lebih keras, ia berniat menutup pintu gerbang sekolah, namun ia urungkan ketika matanya telah melihat sosok itu dari kejauhan.
Senyum simpul terpantri begitu saja pada bibir tipisnya saat melihat tingkah Eunhyuk yang tengah berlari menuju pintu gerbang sekolah yang akan segera ditutup oleh Donghae.
"Terlambat eoh?" Tanya Donghae sedikit mengejek ketika Eunhyuk sudah sampai dihadapannya.
Eunhyuk terengah-engah, ia berusaha kembali menetralkan degub jantungnya yang mengencang akibat dirinya berlari tadi. Kedua tangannya ia tumpu dikedua lututnya, sedikit melirik Donghae yang baru saja melontarkan pertanyaan yang menyebalkan menurutnya.
"Kau mau masuk eoh? Tapi sebelum itu kau terpaksa harus diberikan sanksi terlebih dahulu oleh ku. Dan itu adalah peraturannya." Ujar Donghae santai. Eunhyuk yang tak terima segera menegakkan tubuhnya dan menatap Donghae kesal.
"Tidak mau! Aku tidak mau di berikan sanksi olehmu!" Pekik Eunhyuk tertahan, membuat Donghae tertawa pelan mendengar penuturan Eunhyuk yang sangat lucu menurutnya.
"Kau ini, kau ingin aku yang memberikanmu sanksi atau guru kedisiplinan yang akan memberikanmu hukuman berat hm? Yang mana yang akan kau jalani?" Donghae memajukan wajahnya tepat didepan wajah Eunhyuk yang kini telah melebarkan kedua matanya.
Mata bulat itu hanya bisa menerjap-nerjapkan kelopak matanya saat mata Donghae tak kunjung juga berpaling dari penglihatannya. Sorot kehangatan begitu terpancar jelas dari mata teduh Donghae, membuat Eunhyuk segera memalingkan wajahnya akibat tidak tahan ditatap selembut itu.
"Arraseo! Hukum saja aku sesukamu!" Dengus Eunhyuk pasrah. Entah kenapa kejadian semalam melintas begitu saja di pikirannya, namun melihat perlakuan Donghae padanya sekarang seakan tidak pernah terjadi apapun semalam. Apa mungkin Eunhyuk terlalu berlebihan saat menerima perlakuan seperti itu? Bahkan sang pelaku tidak menunjukan wajah bersalah sama sekali.
'Dasar pria brengsek yang menyebalkan.' Batin Eunhyuk tak suka.
"Wae? Jangan menatapku dengan tatapan menjengkelkan seperti itu bodoh! Cepat berdiri ditengah lapangan, hingga jam delapan nanti kau harus mengangkat satu kakimu dan kau dilarang keras untuk menyentuh tanah sejengkalpun!" Titah Donghae seraya mengarahkan jari telunjuknya menuju pusat ditengah halaman sekolahnya yang cukup luas. Eunhyuk yang mendengar itu segera menendang tulang kering Donghae hingga sang korban penendangan memekik kesakitan.
"AIGOO! YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Jerit Donghae penuh amarah. Astaga, kenapa bocah di hadapannya yang sangat manis ini memiliki kekejaman yang benar-benar mengerikan?
"Itu hadiah khusus untuk orang menyebalkan sepertimu, ketua osis Lee Donghae!" Ujar Eunhyuk sinis. Tanpa menghiraukan geraman Donghae kepadanya, ia segera melangkahkan kakinya menuju halaman sekolah yang merangkap sebagai tempat untuk sarana olahraga juga dan memposisikan tubuhnya ditengah halaman yang sangat luas itu.
"Dasar kasar! Auh, sakit sekali." Geram Donghae tertahan, dengan kesal ia segera beranjak pergi. Mengabaikan Eunhyuk yang saat ini mulai menjalani masa hukumannya.
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk menengadahkan wajahnya saat beberapa butiran salju mulai turun memutihkan permukaan bumi. Ia menerjapkan matanya saat mengingat ini adalah hari pertama dimana salju turun di bulan desember, ia sedikit tersentak saat tubuhnya mulai kembali oleng akibat kaki kanannya yang ia angkat karena hukuman yang sedang dijalaninya.
"Aish, sial.. Sudah jam berapa ini? Seharusnya hukuman ini sudah usai, tapi mengapa dia tidak menyuruhku masuk?!" Dengus Eunhyuk seraya kembali membenahi posisi berdirinya. Kaki kirinya mulai terasa kebas akibat udara dingin yang semakin menusuk tulang. Matanya mengamati sekeliling guna untuk menemukan sosok Donghae yang telah memberikannya hukuman menyebalkan ini, sesekali ia melihat beberapa siswa dan siswi yang melewatinya seraya tertawa mengejek kepada Eunhyuk. Yah, mereka senang melihat Eunhyuk sengsara yang telah dikenal meresahkan karena tingkahnya yang selalu mengganggu beberapa murid disekolah itu.
"Waktumu sudah selesai, cepat sana kembali kekelasmu." Suara baritone seseorang sontak mengalihkan pandangannya dari beberapa siswa dan siswi yang mengejeknya, ia melihat sosok Donghae yang berdiri tak jauh darinya.
"Hm? Oh." Eunhyuk segera menurunkan kaki kanannya hingga kembali menapaki tanah. Tanpa memperhatikan Donghae yang masih memandangnya dalam diam, ia meraih tas ranselnya yang sempat dijatuhkannya supaya tak membebaninya saat menjalani sanksinya karena terlambat kesekolah tadi.
"Kau.. Tidak mengenakan mantel tebal?"
Eunhyuk melirik Donghae sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Enggan berbicara dengan pria yang membuatnya uring-uringan sejak pagi tadi itu.
Donghae menyernyit saat Eunhyuk berniat untuk pergi mengabaikannya, namun matanya sontak membulat ketika tubuh Eunhyuk ambruk tiba-tiba dengan memegangi kaki kirinya.
"Eunhyuk-ah!" Pekik Donghae panik, ia segera menghampiri tubuh Eunhyuk yang tengah berlutut menahan sakit dikakinya.
"Appoyo!" Eunhyuk meringis saat kakinya didera rasa sakit ketika ia mencoba untuk melangkahkan kakinya tadi. Kakinya keram, dan itu hal yang biasa terjadi jika Eunhyuk merasakan cuaca dingin.
"Luruskanlah kakimu! Cepat!" Titah Donghae seraya menarik kaki kiri Eunhyuk dengan sedikit kencang karena rasa panik yang menderanya, menyebabkan pekikan keras dari sang pemilik kaki.
"Pelan-pelan bodoh! Kau itu keterlaluan sekali! Dari awal kau selalu saja membuatku kesal! Kau menyebalkan tuan sok ikut campur! Kenapa kau memperlakukanku seolah-olah tidak ada yang terjadi apapun diantara kita semalam! Menjauh dariku, ssshh.. Appo appooo, singkirkan saja tanganmu! Aku tidak butuh dibantu olehmu!" Lain dimulut, lain juga di hati, lain juga pikirannya, itulah yang dialami Eunhyuk saat ini. Mulutnya saja yang memaki, namun hatinya merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan, dan lihat tangannya yang begitu erat mencengkram lengan Donghae yang sedang memberikan pijatan-pijatan kecil di kakinya yang perlahan mulai pulih dari keramnya.
"Astaga, berisik sekali. Kau itu terlalu berisik untuk ukuran laki-laki. Sudah merasa baikan hm?" Donghae beralih menatap wajah Eunhyuk yang mulai memerah karena cuaca dingin, menyebabkan Eunhyuk yang mengalihkan pandangannya untuk menghindari kontak mata dengan pria dihadapannya.
Donghae tersenyum melihat tingkah Eunhyuk yang terkesan mengabaikannya, ia menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba merasakan gatal dan sedikit berdeham supaya ia mendapatkan kembali perhatian Eunhyuk kepadanya.
"Hm, mungkin kau tak suka akan perlakuanku semalam. Mianhae, jika kau merasa terganggu.. Maka lupakan saja…" Gumam Donghae hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, meski demikian Eunhyuk dapat mendengarnya dengan jelas karena jarak diantara mereka yang cukup dekat.
Eunhyuk memfokuskan pandangan matanya yang kini telah berpusat pada Donghae yang sedikit salah tingkah karena ditatap oleh Eunhyuk dengan begitu dalam.
"Beritahu aku…"
Donghae mempertemuakan sorot matanya dengan mata bulat Eunhyuk yang masih menatapnya begitu dalam.
"Maksudmu?"
"Beritahu aku, bagaimana caranya agar aku bisa melupakan perlakuanmu semalam…" Senyum luka itu begitu saja terpancar dari wajah memerah akibat udara dingin yang semakin lama semakin dingin saat tubuh kecil itu tidak di lapisi oleh mantel yang cukup tebal. Donghae tak habis pikir bahwa dirinya harus melihat senyum terpaksa dari bibir tebal Eunhyuk, tidak ada maksud dalam dirinya untuk menyakiti pria manis dihadapannya. Sebenarnya bukan tanpa alasan ia mencium Eunhyuk semalam, hanya saja ia ingin Eunhyuk memahami pelan-pelan perasaannya.
"Aku tidak bermaksud…"
"Aku ingin tahu… Kebahagiaan apa yang akan kau berikan untuk orang sepertiku? Apa aku semenyedikan itu? Hahah, astaga.. Apa yang sedang ku bicarakan? Sebaiknya aku pulang saja, kurasa tak ada gunanya mengikuti jam pelajaran berikutnya." Eunhyuk segera beranjak berdiri, mengabaikan rasa kebas yang masih bisa ia rasakan di bagian betisnya.
"Bodoh sekali.." Eunhyuk menghentikan langkah kakinya saat mendengar Donghae tertawa dan mengatainya bodoh. Sehingga membuatnya kembali mengarahkan pandangannya kearah Donghae.
"ApㅡAh!" Bentakan Eunhyuk terhenti karena Donghae tiba-tiba saja menyentil keningnya dengan sedikit keras.
"Jadi maksudmu, kau suka aku perlakukan seperti semalam? Aish, sulit sekali mengakuinya. Jika kau suka, maka tidak perlu kau lupakan." Ucap Donghae dengan senyum sumringah yang membuat Eunhyuk kebingungan.
"Apㅡ"
"Kebahagiaan itu, hanya perlu kau rasakan sejak berada disini bersama dengan nenekmu. Dan aku… Akan melengkapinya… Kau hanya perlu merasakannya saja…" Perlahan namun pasti, bibir tipis itu menyentuh permukaan kulit pipi merona Eunhyuk dengan lembut. Mencoba menyalurkan rasa sayang yang ia harap dapat menyadarkan pada suatu hal yang telah melandanya begitu besar terhadap pria manis itu.
'Kau harus merasakannya Eunhyuk-ah, kebahagiaanmu tidaklah kurang. Tapi kau menutup segala kebahagiaan yang akan menghampirimu. Kasih sayang yang telah disalurkan oleh nenekmu, tidaklah kurang seperti yang kau pikirkan. Kau hanya memikirkan kesakitan yang kau alami saja, tapi kebahagiaanmu kau tutup rapat-rapat.'
"Dengar, aku menyukaimu."
Eunhyuk membelalakan mata bulatnya semakin lebar tatkala suara Donghae yang mengutarakan perasaannya menggema begitu saja didalam otaknya. Ia menatap wajah Donghae yang tersenyum mempesona kepada dirinya.
"Love ya.." Ucap Donghae lagi seraya mengelus pipi Eunhyuk.
Eunhyuk hanya bisa mematung ketika Donghae melafalkan kata-kata cinta padanya, ia tak habis pikir apa yang lagi-lagi didengarnya dari bibir tipis pria yang selalu Eunhyuk katakan menyebalkan itu.
"M, mwoㅡ" Belum sempat Eunhyuk melanjutkan ucapannya kepada Donghae, suara lembut seorang wanita tiba-tiba saja memanggil nama Eunhyuk.
"Eunhyuk-ah.."
Nafasnya seakan tercekat ketika suara yang sangat familiar dikepalanya, mendadak terdengar kembali di panca pendengarannya yang sempat tuli akibat ucapan Donghae tadi.
'Su, suara itu? Suara... Mustahil!' Eunhyuk menolehkan wajahnya cepat kearah sumber suara seseorang yang memanggilnya dengan begitu lembut dan telah mengintrupsi kegiatannya dengan Donghae yang telah lebih dulu menatap seseorang yang baru saja memanggil Eunhyuk tadi.
DEG
.
.
.
.
Tbc
buru2 banget ya updatenya wakakakak, biar cepet tamatt hahaha
