Cinta itu tak terbatas
Cinta itu banyak cara untuk membahagiakan siapapun
Cobalah memahami itu semua
Sebelum segalanya menjadi terlambat bagimu
.
.
.
.
.
.
Donghae melirik sosok yang sejak tadi terdiam tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kebun apel yang berada dibelakang sekolahnya tanpa memandang namja tampan itu sama sekali, membuat sang ketua osis itu hanya menggaruk pipinya yang terasa tidak gatal sama sekali. Ia tidak suka dengan keterdiaman namja bersurai kecoklatan disampingnya saat ini.
Baru saja ia menyatakan perasaannya kepada sosok imut itu, namun seorang wanita memanggil Eunhyuk dengan begitu lembut dan membuat namja manis bermarga Lee itu berlari menjauh menuju halaman belakang sekolah yang dekat dengan perkebunan apel dihadapan mereka.
Banyak hal yang ingin Donghae pertanyaan, soal bagaimana perasaan Eunhyuk dengannya, dan siapa wanita cantik yang seusia dengan mendiang ibunya itu. Namun melihat keterdiaman Eunhyuk, membuatnya mengurungkan niat untuk berbicara dan menemani namja bermata sipit itu.
"Dia…. Siapa?" Tanya Donghae tak tahan karena keterdiaman Eunhyuk. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Eunhyuk.
"Eunhyuk." Panggil Donghae ketika ia tak mendapatkan jawaban pertama dari bibir ranum Eunhyuk.
"Lee Euㅡ"
"Eommaku, dia eommaku…" Eunhyuk menoleh perlahan menatap mata teduh Donghae yang berada disampingnya. Senyum sendu terpancar begitu jelas diwajah Eunhyuk yang kini tampak memerah dikedua pipinya karena cuaca dingin yang mulai menyelimuti kota terbesar kedua sekorea selatan itu.
Donghae menatap dalam tepat pada retina sendu milik Eunhyuk, mencari kepedihan yang begitu terpancar dari mata indah itu. Pantas saja mengapa Eunhyuk begitu menghindari sosok wanita yang memanggil namja manis ini dengan lembut dan hati-hati, ternyata dia adalah….
"Sumber kesakitanku adalah dia… Dan Abeojiku… Aku hanya terkejut ketika ia tiba-tiba saja berada dihadapanku. Aku kira dia tidak akan berani untuk menemuiku lagi setelah mengirimkanku tinggal dirumah nenek." Eunhyuk tertawa pelan saat mengingat tingkah bodohnya yang segera berlari meninggalkan wanita yang telah melahirkannya tadi, dia hanya terkejut saja karena wanita itu datang menemuinya.
"Ini pasti ulah nenek, akhir-akhir ini dia seperti menyembunyikan sesuatu padaku. Rupanya dia memanggil eomma, cih… Siapa juga yang ingin menemuinya? Bukankah dia sendiri yang membuangku kesini? Lantas mengapa ia kembali?" Eunhyuk mengalihkan pandangannya dari sorot mata Donghae yang tetap menatap penuh kelembutan kepada Eunhyuk yang kini tengah menatap kebun apel, enggan memperlihatkan sorot luka batinnya kepada Donghae.
"Eunhyuk-ah."
"Aku sedang mencoba membencinya, mengubur semua kenangannya dalam hidupku setelah membuangku kesini! Lalu mengapa! Mengapa nenek memanggilnya kemari?! Punya hak apa nenek atas kehidupanku?! Dia, dia…." Emosinya meluap hingga keubun-ubun, nafasnya memburu tak karuan ketika bayangan masa lalu melingkupi kepalanya begitu saja. Bagaimana ia saat itu dicampakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana saat ia di buang kerumah sang nenek dikarenakan orangtuanya tidak menginginkannya.
Dibagian mana ia tidak harus membenci sosok yang ia harapkan mau mengurusnya ketika perceraian yang menjadi jalan keluar untuk ketidak harmonisan orangtuanya?
Donghae diam seraya mendengarkan dengan baik perkataan menyesakkan dari bibir namja yang disukainya, ia tak bisa berkata apapun karena disaat seperti ini tidak pantas sama sekali jika ia memberikan nasihat pada Eunhyuk yang terlihat sangat rapuh.
"Aku tidak ingin melihat nenek untuk saat ini, bisakah… Aku main kerumahmu?" Eunhyuk mengalihkan pandangannya kembali kepada Donghae, memfokuskan diri penuh harap pada Donghae yang menatapnya dalam diam.
"Aku akan ambilkan kunci rumahku dahulu di rumah nenekmu."
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk diam seraya mengamati tingkah Donghae yang kalang kabut membenahi isi kamarnya yang sedikit berantakan, ini hari kedua dimana Donghae mendiami rumah sang nenek karena ayahnya dan paman Shindong sedang pergi ke Seoul. Jadi sangat wajar jika rumah ini jadi sangat berantakan.
"Aku bisa duduk di ruang tamu jika kau mau." Eunhyuk menunjuk sebentar ruang tamu yang berhadapan tepat didepan kamar Donghae. Donghae memandang cepat kearah Eunhyuk, dan segera menggelengkan kepalanya atas penolakan untuk perkataan Eunhyuk barusan.
Eunhyuk kembali diam seraya masih mengamati tingkah Donghae yang beberapa kali tersandung oleh karpet cokelat yang berada dilantai berbahan kayu jati itu. Ia sedang tidak bersemangat berselisih dengan Donghae, dan kepalanya terasa sangat pening.
Tok tok
Eunhyuk menoleh kearah pintu masuk rumah Donghae saat mendengar suara ketukan dari luar sana dan kembali menatap namja tampan yang tengah merapihkan serpai pada ranjangnya.
"Ada yang mengetuk pintu… Coba kau lihat Donghae-ah." Seru Eunhyuk, membuat Donghae segera menghentikan kegiatannya. Ia menatap Eunhyuk sebentar dan kemudian berlari untuk membukakan pintu kepada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Eunhyuk mengamati setiap gerak gerik Donghae yang tengah berlari menuju pintu rumahnya dan berniat membukakan pintu, namun mata kecilnya sontak terbelalak ketika melihat siapa seseorang yang mengetuk pintu tadi.
"Kau mengatakannya pada nenek?!" Eunhyuk menatap Donghae dengan tatapan marah. Donghae diam seraya mengusak surai dibelakanh kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Eunhyuk dan mempersilahkan sosok separuh baya itu untuk masuk kerumahnya.
"Eunhyuk-ah." Suara lembut sang nenek, mengalihkan pandangan Eunhyuk kepada sang nenek yang tengah menatapnya khawatir. Membuat Eunhyuk segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Pulanglah nek, aku akan menginap dirumah Donghae." Sahut Eunhyuk enggan untuk menatap sang nenek. Donghae hanya bisa terdiam seraya menahan diri untuk tidak membawa Eunhyuk kedalam dekapannya.
Sang nenek menghela nafas berat saat menerima perlakuan Eunhyuk terhadapnya, ia tahu bahwa sang cucu akan marah kepadanya. Namun apa daya, semua ini ia lakukan untuk Eunhyuk. Tidak ada sama sekali maksud buruk akan keputusannya memanggil kembali anak perempuannya yang notabenenya adalah ibu kandung Eunhyuk untuk menemui anak laki-lakinya yang telah menderita selama ini.
"Mianhae nak… Ne, nenek tidak bermakㅡ"
"Kalau ku bilang pulang ya pulang nenek! Apa perkataanku kurang jelas?!" Pekik Eunhyuk seraya menatap tajam mata senja sang nenek yang mulai terlapisi oleh bening-bening airmata.
"Nenek memanggilnya karena nenek pikir, kau merindukannya… "
"Memang kapan aku mengatakan bahwa aku merindukannya?! Seseorang yang telah mencampakan anaknya mana mungkin dengan tidak tahu malu ingin menemui anaknya?! Aku yakin dia hanya terpaksa menerima permintaan nenek!" Eunhyuk berniat memasuki kamar Donghae ketika sebuah suara mengintrupsi pergerakannya.
"Eunhyuk-ah, e… Eomma merindukanmu sayang…" Ia tahu suara siapa ini, tanpa perlu membalikan tubuhnya untuk melihat siapa pemilik suara itu. Ia sangat hafal suara itu, bahkan sejak didalam rahim wanita itu… Suara itu yang selalu menyanyikan lagu merdu dan membisikkan kata-kata sayang dengan lembut kepada dirinya.
Namun Eunhyuk segera menepis pikiran bahwa sebenarnya ia juga merindukan sosok lembut wanita itu, meskipun hanya sedikit.
"Pulanglah, aku tidak ingin bertemu dengan kalian berdua." Nada tajam yang begitu menusuk segera menghantarkan Eunhyuk menuju kamar Donghae, dan menutup dengan kasar pintu kamar itu.
Menyisakan tiga orang yang masih berdiri mematung di ambang pintu dengan pikiran mereka masing-masing.
Donghae menggaruk pipinya yang mendadak terasa gatal, tangannya yang lain masih menggenggam knop pintu rumahnya.
"Se, sebaiknya nenek dan Imo kembali saja kerumah. Biar aku yang akan membujuk Eunhyuk untuk pulang." Ucap Donghae memecahkan keheningan. Sehingga kedua wanita yang berbeda usia itu menatapnya penuh harap.
"Tolong jaga Eunhyuk." Kata sang nenek dengan senyum lembut. Ia kemudian berbalik dan pergi bersama dengan ibu Eunhyuk, meninggalkan kediaman Donghae.
Donghae menutup pelan pintu rumahnya, ia membuang nafas pelan dan kini menatap lurus kearah pintu kamarnya yang tertutup rapat saat ini.
'Jangan seperti ini Eunhyuk-ah, bagaimanapun juga kau seharusnya tidak seperti ini.'
.
.
.
.
.
.
"Eomma…" Wanita cantik itu mencengkram tali tas cokelatnya dengan erat, mencoba menahan gejolak hatinya yang ingin sekali memeluk Eunhyuk dalam dekapannya. Wajahnya tampak gusar, membuat sang eomma dari wanita yang menjadi ibu Eunhyuk menatapnya dengan iba.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Eunhyuk anak yang baik. Tenang saja." Senyum lembut yang menghiasi wajah senja itu perlahan mampu menenangkan wanita cantik yang kini menyandang marga Song sama seperti nenek Eunhyuk.
Ia tersenyum simpul, menggenggam tangan sang ibu yang sudah menjaga dengan baik anaknya dan kini menuntunnya pulang menuju rumah yang akan selalu menjadi tempatnya berpulang.
"Aku menyayanginya ibu."
"Dia juga menyayangimu."
'Seharusnya aku tahu.'
.
.
.
.
.
.
Pintu itu perlahan terbuka, menampakan suasana kamar yang tampak sepi dan tenang. Dapat ia lihat sosok itu yang saat ini tengah berbaring diataa ranjangnya dengan wajah yang disembunyikan di bawah bantal empuknya.
Donghae menghela nafas panjang melihat pemandangan itu, sedikit mengusak surainya yang sempat turun menutupi keningnya.
"Eunhyuk."
Tak ada respon dari sosok yang masih setia dengan bantal menutupi wajahnya. Mungkinkah Eunhyuk tengah menangis? Dengan ragu Donghae segera menghampiri ranjangnya yang Eunhyuk tiduri dan berdiri seraya berkacak pinggang di bibir ranjang.
"Buka bantalmu sebelum aku melemparnya kesembarang tempat!" Tegurnya dengan suara yang sedikit keras, membuat Eunhyuk sontak menarik bantal dari wajahnya dan melempari Donghae dengan itu.
"Aku tidak suka dengan nada bicaramu! Kau yang mengatakan pada nenek bahwa aku ada dirumahmu kan?! Iyakan?!" Eunhyuk segera mendudukan dirinya diatas ranjang Donghae dan menatap penuh kemarahan pria yang saat ini juga sedang memandang kearahnya dengan marah.
"Aku mengatakannya karena dia begitu mengkhawatirkanmu! Apa itu salah?" Seru Donghae membenarkan, Eunhyuk kembali melemparinya dengan selimut tebal milik pria tampan itu hingga mengenai wajahnya.
"Brengsek! Kau membuatnya datang bersama wanita itu, apa kau senang memperlakukanku seperti ini?! Kau puas sekarang hah?!"
"Demi apapun dia itu eommamu!"
"Mana ada seorang ibu membuang anaknya?! Kau pikir untuk apa dia datang kemari untuk menemuiku setelah dia membuangku kerumah nenek?! Saat itu dia benar-benar tidak menginginkanku untuk ikut dengannya, lantas mengapa ia datang? Apa dia akan memungut kembali sampah yang ada dalam tempat sampah?!" Bentak Eunhyuk, wajahnya memerah menahan amarah dan juga airmata yang akan siap keluar kapan saja. Pikirannya kalut sekarang ini.
Sejenak suasana menjadi sangat hening dan mencekam. Eunhyuk terdiam dengan pikiran yang begitu berkecambuk, ia menutup matanya guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Jadi bagimu, tempat nenekmu adalah tempat dimana kau dibuang oleh eommamu begitu?"
Eunhyuk membuka matanya cepat, namun ia enggan menatap Donghae saat ini. Nada suara pria yang masih berdiri disamping ranjang itu terkesan sangat mengintimidasi dirinya.
"Apa nenekmu tidak berharga sehingga kau memperlakukannya seperti itu?"
Eunhyuk mengigit bibir bawahnya saat pikirannya mengingatkannya akan kejadian beberapa menit yang lalu terhadap nenek yang ia sayangi, bagaimana dirinya begitu marah dengan nenek dan tak ingin melihatnya.
"Apa seperti ini sikapmu terhadap eomma yang telah melahirkanmu kedunia ini? Meskipun tak pernah ada alasan yang ia sampaikan terhadap keputusannya yang mengirimkanmu dirumah nenek? Tanpa adanya eommamu, kau tak mungkin bisa terlahir didunia ini…"
Eunhyuk menutup telinganya dengan kedua tangannya, enggan untuk mendengarkan perkataan Donghae yang menyakitkan.
"Kau akan menyesal Eunhyuk-ah, pikirkan baik-baik. Kau bisa pulang jika kau mau dan mendengarkan setiap perkataan eommamu. Aku yakin dia sangat menyayangimu, bahkan nenekmu selalu membuatmu bahagia dengan caranya." Donghae perlahan menaiki ranjangnya yang tampak berantakan akibat ulah Eunhyuk tadi.
Eunhyuk terkejut saat decitan ranjang membuatnya menurunkan kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi telinganya. Airmata tanpa ia sadari telah jatuh membasahi kedua pipinya yang memerah.
Eunhyuk berniat menoleh untuk melihat sosok yang baru saja menaiki ranjang, namun wajahnya sudah ditarik oleh pria itu dan merasakan bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Donghae.
Mata sipit itu perlahan membulat akibat perlakuan tiba-tiba dari pria yang baru saja memarahinya, namun tak berapa lama ia mulai memejamkan matanya.
Menyisakan isakan-isakan kecil dari bibir Eunhyuk yang masih terbungkam oleh bibir tipis Donghae.
.
.
.
.
.
.
Terkadang kita memang tidak pernah mengerti bagaimana caranya cinta itu bekerja..
Bahkan kebahagiaanpun tak pernah lepas dari cinta itu sendiri..
Cinta sulit dimengerti dan tak ada alasan apapun untuk membuktikan kepada orang yang dikasihinya..
Sebelum semua terlambat, cobalah pikirkan baik-baik..
.
.
.
.
.
.
Ia tak ingin penyesalan itu datang menghampirinya
Ketika ia hanya ingin mempertahankan amarahnya yang menjadi sumber kesakitannya selama ini
Namun segalanya menjadi sangat terlambat sekarang
Ketika ia menyadarinya
Semua telah berakhir..
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk membuka matanya perlahan ketika dirinya merasa ia memang seharusnya terbangun dari tidurnya saat ini, sesekali ia menerjap membiasakan retina matanya dari sinar mentari yang menembus jendela kamar milik Donghae.
Ia segera beranjak dan terdiam sejenak tatkala ingatannya menampilkan kejadian yang mengejutkannya tadi malam sebelum ia terlelap, dimana saat itu pria yang telah mengusik hidupnya telah menciuminya dengan begitu lembut dan tak terduga.
Eunhyuk menyentuh kedua belah bibir merahnya dengan jemarinya, bagaimana saat bibir tipis itu menyentuhnya membuat Eunhyuk ingin sekali menutup wajahnya dengan yang sama seperti yang dipakai oleh para pencuri dan membuat Donghae tak perlu melihat wajah malunya yang memerah.
"Kenapa lembut sekali? Aigo, ini membuatku gila.." Dengus Eunhyuk seraya mengusak surai lembutnya yang masih terlihat berantakan. Perlahan ia membawa kedua kakinya untuk meninggalkan kamar Donghae dan berniat mencari pria tampan itu, meskipun tak ingin karena rasa malu.
Saat pria manis itu membuka pintu kamar Donghae dan menghadap langsung kearah ruang tamu, hanya keheninganlah yang ia dapat disana. Kemana Donghae? Gumam Eunhyuk pada dirinya sendiri. Ia segera menghampiri dapur yang berada di bagian belakang rumah yang lumayan besar itu, namun Donghae benar-benar tidak diketemukan keberadaannya.
"Kemana dia? Apa dia sudah berangkat sekolah? Aigo, kenapa aku tidak dibangunkan eoh?!" Gumamnya pada dirinya sendiri, ia melirik jam dinding yang menggantung diatas pintu yang mengarah pada ruang tamu dan menyernyit karena melihat jarum pendek jam tersebut yang menunjukan pukul 05.55 waktu bagian Busan.
"Yang benar saja, mana mungkin ia berangkat sekolah jam segini. Lalu mana orang itu?" Eunhyuk menggelengkan kepalanya tak mengerti, ia beranjak dari dapur menuju ruang tamu dan mendudukan dirinya di sofa panjang berwarna cream tua itu. Mungkin saja Donghae sedang berada di luar untuk berolah raga.
Namun suara gaduh dari arah luar membuat Eunhyuk menengadahkan kepalanya kearah pintu keluar rumah khas perdesaan itu, ia menyernyit bingung saat pintu itu terbuka lebar dengan begitu kencang dan menampakan sosok Donghae yang kini tampak kacau dan berantakan.
Tatapan tajam yang sarat akan banyak hal itu menjadi pemandangan pagi hari Eunhyuk, namja manis itu menyernyit tak suka tatkala mata itu terus saja mengrogoti rasa malunya karena kejadian semalam. Tapi sepertinya kali ini ada sesuatu.
"Ke, kemana saja kau? Kenapa kau ribut sekali?" Tanya Eunhyuk gugup, mencoba memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa menit yang lalu.
Donghae terdiam, ia mengalihkan pandangannya kearah lain seraya mengusak wajahnya yang dipenuhi dengan peluh. Ia mendengus sebelum kembali menatap Eunhyuk yang saat ini telah berdiri menghadap dirinya.
"Ada apa denganmu? Kau habis berolah raga eoh? Kenapa wajahmu aneh begitu?" Eunhyuk yang mulai penasaran segera menghampiri Donghae yang masih berdiri diambang pintu, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Tidak, aku berniat kepasar tadi." Sahut Donghae pelan, nafasnya masih tidak teratur akibat dirinya mengebut dengan sepedanya untuk segera sampai menemui Eunhyuk. Eunhyuk tertawa remeh mendengar penuturan Donghae yang menyebutkan dirinya berniat pergi kepasar, oh ayolah yang benar saja?
"Mwoya? Maksudmu, seorang Lee Donghae pergi kepasar? Jadi kau berniatㅡ"
"Tadinya memang seperti yang kau pikirkan. Aku kepasar untuk memasakkan sesuatu untukmu, tapi sesuatu telah terjadi ketika akuㅡ" Donghae menghentikan perkataannya saat dirinya menatap Eunhyuk yang masih tersenyum simpul, ia hanya ragu apakah ia harus mengatakannya atau tidak.
"Apa? Kejadian apa?" Tanya Eunhyuk bingung saat Donghae tidak melanjutkan perkataannya. Ia mulai merasa penasaran, pria didepannya terlalu bertele-tele.
"Lee Eunhyuk…" Donghae memejamkan matanya, mencoba menepis pemikirannya saat membayangkan reaksi apa yang akan Eunhyuk tunjukan ketika ia mengatakan hal yang sebenarnya. Ia hanya tak ingin melihat sosok didepannya menangis lagi seperti semalam, ia terlalu tak ingin melihat raut wajah Eunhyuk yang pasti akan lebih menyedihkan dari pada semalam.
Eunhyuk mulai dilanda rasa khawatir yang begitu mengerikan, pikirannya mendadak tertuju pada sang nenek yang semalam sempat ia bentak dan dimarahinya. Padahal Donghae belum mengatakan apapun, tapi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan neneknya.
"Katakan Donghae, apa yang terjadi sebenarnya?" Eunhyuk segera meraih lengan Donghae yang menggantung diudara ketika ia sedang mengusak surainya yang sedikit basah oleh keringat. Donghae membuka matanya guna untuk menatap wajah Eunhyuk yang mendadak panik. Tidakkah hal ini bisa dihentikan? Demi apapun aku tidak suka melihat raut wajah itu.
"Aku hanya memohon padamu sebelum aku mengatakannya padamu.." Ujar Donghae berusaha setenang mungkin, meskipun tidak dipungkiri bahwa sebenarnya ia sedang dilanda kepanikan juga.
"Iya, iya, cepat katakan!" Ucap Eunhyuk gusar. Tanpa Eunhyuk sadari, tangannya semakin mencengkram kuat lengan Donghae. Tatapan matanya menujukan ketakutan yang begitu kentara, membuat Donghae mau tak mau mengajukan permohonan pada namja manis di hadapannya.
"Tolong jangan pernah merasa dirimu bersalah.."
"Kenapa?! Kenapa dengan nenek?" Eunhyuk seakan mengabaikan permohonan Donghae, ia mencoba membuat Donghae mengatakan apa yang telah terjadi dengan terus menarik lengan pria bermata teduh itu.
"Berjanjilah padaku bahwa kau akan baik-baik saja dan tidak menyalahkan dirimu sendiri."
"DONGHAE!"
Keheningan seketika melanda di sekitar mereka saat Eunhyuk tiba-tiba membentak Donghae yang terus mengoceh tanpa mengindahkan pertanyaan Eunhyuk yang semakin membuatnya berpikiran buruk akan keadaan sang nenek. Donghae menatap wajah Eunhyuk dengan sorot mata tajam namun bukan untuk mengintimidasi, melainkan karena ia tidak suka mengatakannya pada Eunhyuk. Donghae sangat yakin, saat ia mengatakannya.. Maka Eunhyuk akan sangat terpukul.
Donghae menghela nafas panjang, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aku melewati rumah nenek tadi, saat aku berniat untuk mampir sebentar… Aku melihat eommamu menjerit ketakutan memanggil siapapun, dan saat aku melihat kedalam rumah… Nenekmu.. Nenekmu telah terkapar tak berdaya karena jatuh… Dari tangga…" Donghae memberanikan diri untuk menatap wajah Eunhyuk yang saat ini tengah terkejut tak karuan. Ia sudah menduga ini, maka dari itu ia berharap ini tidak akan terjadi.
"Dia berada di klinik desa, ka.. Karena itu aku mengayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi untuk menemuimu dan membicarakan ini padamu…" Lanjut Donghae menatap sendu kepada Eunhyuk yang terlihat tak mempercayai apa yang telah didengarnya. Tatapan kosong namun sarat akan keterkejutan bercampur dengan ketakutan yang sangat ingin Donghae hapus dari wajah itu.
"A, aku mohon… Antarkan aku… Ke, ketempat nenek.." Ucap Eunhyuk terbata, ia melepas cengkraman tangannya dari lengan Donghae dengan lemas. Pikirannya porak poranda, ia bahkan seperti lupa bagaimana caranya bernafas.
Donghae mengepalkan tangannya, kemudian ia meraih tangan Eunhyuk dan menuntunnya keluar dari rumah Donghaeㅡsetelah menutup pintu terlebih dahulu.
Donghae menghampiri sepedanya dan kemudian membawanya mendekati Eunhyuk yang masih melamun dengan kedua bola matanya yang bergerak-gerak gelisah.
"Naiklah, cepat.." Ujar Donghae lembut, membuat Eunhyuk menatapnya dan kemudian segera menaiki jok belakang yang kini telah di tambah dengan bantalan agar tidak membuat Eunhyuk kesakitan lagi.
Merasa Eunhyuk sudah siap, ia segera mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Berharap semoga sang nenek yang berada di klinik desa baik-baik saja.
Aku mohon nenek, jangan tinggalkan Eunhyuk.
Jangan tinggalkan dia.
.
.
.
.
.
.
Wanita cantik itu menoleh saat derap langkah kaki menggema di ruang klinik yang selalu sepi itu, ia mendapati seorang pemuda yang diketahui bernama Donghae itu tengah menghampirinya dan tatapan matanya tertuju pada seseorang lagi yang melangkah tepat dibelakang Donghae.
"Imo bagaimana keadaan nenek?" Tanya Donghae setelah sampai dihadapan wanita cantik yang kini berusia 37 tahun itu. Eunhyuk yang berada dibelakangnya hanya diam seraya mengamati pintu yang saat ini masih tertutup dengan pandangan kosong.
Wanita cantik itu tersenyum simpul. Ia sedikit melirik Eunhyuk yang berada dibelakang tubuh tegap Donghae, berharap sang anak mau menatapnya meski hanya sesaat.
"Sejak tadi Dokter belum juga keluar dari ruangannya." Sahut wanita itu lembut, menyesakkan memang anak semata wayangnya enggan bertatap muka dengannya.
"Mengapa tidak masuk saja?" Tanya Donghae lagi memastikan, ia berniat masuk bersama Eunhyuk jika diijinkan oleh dokter.
"Tidak, saya tidak berani melihat keadaan eomma.." Jawab wanita itu seraya tersenyum sendu. Ia mengalihkan pandangannya dari Donghae, menatap pintu putih itu dengan harapan bahwa ibunya akan baik-baik saja.
Tiba-tiba pintu dihadapan mereka terbuka dan menampilkan penampilan dokter muda yang baru saja mengecek kondisi wanita yang sudah terkikis oleh waktu itu.
"Bagaimana dokter?" Tanya wanita cantik itu cemas. Kedua tangannya saling menggenggam erat, siap menerima apa yang akan dokter muda itu katakan.
Sang dokter segera menutup pintu ruang rawat itu, Eunhyuk sedikit melihat sosok sang nenek yang terbaring di atas ranjang rumah sakit sebelum dokter itu menutup kembali pintunya.
"Sebaiknya kita bicarakan ini diruangan saya, silahkan sebelah sini." Ujar sang dokter mengajak wanita itu ke ruangannya yang tak jauh dari ruang rawat. Meninggalkan Eunhyuk dan Donghae didepan pintu bernuansa putih itu.
Donghae melirik Eunhyuk yang sejak tadi diam tak berbicara.
"Kau ingin melihatnya?" Tanya Donghae pelan.
Eunhyuk terdiam sejenak, setelahnya tanpa mengatakan sepatah katapun ia berpaling dan berjalan meninggalkan Donghae yang tampak kebingungan melihat tingkah Eunhyuk yang mengkhawatirkan.
Donghae segera mengikuti langkah Eunhyuk yang keluar dari klinik desa dan segera menyamakan langkahnya dengan Eunhyuk. Mungkin kali ini sebaiknya dia diam.
Donghae mencoba mencairkan suasana dengan bersiul, tapi sepertinya ini tidak membantu sama sekali. Ia melirik Eunhyuk yang masih diam tanpa berkata apapun padanya, dan ia baru menyadarinya bahwa Eunhyuk masih mengenakan seragam sekolahnya yang tidak diganti oleh namja manis itu sejak semalam. Bodohnya dia tidak meminjamkan pakaiannya pada Eunhyuk semalam, lagi pula habis insiden penciuman itu ia menyuruh Eunhyuk untuk tidur.
Ia mengusak surai belakang kepalanya, mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Hm… Sebaiknya kita pulang saja, ku rasa kau harus mengganti pakaianmu dulu." Ujar Donghae, membuat Eunhyuk menatapnya dan kemudian menatap pakaian yang melekat ditubuhnya.
"Ah, iya.." Sahut Eunhyuk singkat.
Kembali keheningan itu melanda mereka berdua, Donghae menggaruk tengkuknya dan sepertinya ia harus segera mengambil sepedanya dulu.
"Aku ambil sepedaku dulu, tetaplah disini." Titah Donghae dan kemudian segera meninggalkan Eunhyuk sebentar. Meninggalkan Eunhyuk yang berdiri mematung menatap arah dimana Donghae pergi untuk mengambil sepedanya.
Ia tertawa kecut, menertawakan kebodohannya yang telah ia lakukan. Ingatannya berputar-putar pada kejadian kemarin yang ia lakukan, ia masih ingat jelas wajah sedih sang nenek yang menghiasi wajah senja itu, bagaimana ia telah menyakiti hati sang nenek yang selama ini bersedia menyayanginya tanpa imbalan apapun, ia baru menyesali akan mulut lancangnya yang melontarkan kata-kata menyakitkan semalam.
'Aku tidak ingin melihat nenek untuk saat ini'
'Punya hak apa nenek atas kehidupanku?!'
'Pulanglah aku tidak ingin melihat kalian berdua'
'Aku tidak ingin melihat nenek'
'Pulanglah..'
"Tidak… Ma, maafkan aku… Maafkan perkataanku… Aku mohon… Jangan tinggalkan aku…" Lirih Eunhyuk, tenggorokannya terasa tersendat mengingat perkataannya semalam. Dadanya mendadak sangat sakit, ia takut… Takut bahwa Tuhan mengambil nenek dari kehidupannya.
Nenek…
Jangan tinggalkan aku..
.
.
.
.
.
.
Ini kesekian kalinya Donghae membujuk Eunhyuk untuk menjenguk neneknya yang sudah siuman sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan saat ini paman Shindong telah kembali dari Seoul dan membantunya untuk mau memnjenguk sang nenek yang saat ini selalu menanyakan keberadaan Eunhyuk.
Sedikit kesal memang melihat tingkah kekanakan Eunhyuk, beberapa kali ia mencoba untuk berbicara pada namja itu namun tak pernah digubris oleh Eunhyuk..
Hari ini ia memutuskan akan menjenguk nenek Eunhyuk dan memohon ijin karena dirinya tidak bisa menghadiri pelajaran disekolah. Semalam ia melihat nenek Eunhyuk datang kedalam mimpinya dan didalam mimpi itu sang nenek ingin membicarakan sesuatu padanya.
Donghae mendengus, saat ini ia merasa sangat gusar. Ingatannya kembali pada saat ibunya meninggal dulu, kejadiannya sama persis seperti sekarang. Ibunya datang kedalam mimpinya dan berbicara banyak pesan padanya, ia takut ini petanda..
Petanda yang sangat ia harapkan tidak pernah terjadi dalam kehidupan Eunhyuk.
Aku berharap semua akan baik-baik saja.
Aku mohon jangan menyerah nek..
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk menatap langit yang sedikit mendung itu dengan tatapan hampa, ia bersandar pada batang pohon yang dirinya naiki di belakang halaman sekolah. Sesekali ia membersihkan mantelnya yang tertimpa oleh tumpukan salju.
Ia menghela nafas panjang, kepalanya terasa sangat berat akhir-akhir ini. Sudah hari keempat dimana ia telah memutuskan untuk tidak akan bertemu dengan sang nenek yang berada diklinik desa, beberapa kali ia mendengar Donghae berkata neneknya berniat akan dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar namun sang nenek enggan melakukannya.
Eunhyuk memejamkan matanya, ia merindukan nenek, ia ingin sekali menemuinya dan meminta maaf. Namun entah mengapa ia merasa tidak pantas lagi untuk bertemu pandang dengan sang nenek, ini kesalahanya, ini semua salahnya.
Mungkin jika ia tidak mengatakan hal yang menyakitkan itu, neneknya tak akan seperti ini. Ia menyesal telah membentak neneknya, ia sungguh merasa menyesal karena mengatakan hal yang tidak sepantasnya ia ucapkan terhadap orang yang telah begitu sempurna menyayanginya.
Eunhyuk mengusak wajahnya yang kini telah basah oleh airmata, membayangkan wajah terluka sang nenek begitu menyiksanya. Sakit sekali.
"Turunlah bodoh."
Eunhyuk membuka matanya terkejut ketika suara tajam seseorang membuatnya mengalihkan pandangannya ke bawah pohon yang tengah ia naiki.
Tampak Donghae yang tengah menatapnya tajam, Eunhyuk menyernyit tidak suka dengan ucapan Donghae tadi.
"Apa makㅡ"
"KU BILANG TURUN IDIOT!"
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Okey sampai ketemu di chapter akhir :)
