Airmata itu mengalir turun, membasahi kedua pipi merahnya ketika rasa sesal itu telah menghujam hatinya, menggerogoti sekujur hatinya yang untuk kesekian kalinya terluka.

Ia kembali mengiba pada dirinya sendiri.

Merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan dan membuat dirinya terjelembap kedasar jurang yang semakin mendalam.

Ia tak bisa menebus segala kesalahannya terhadap sang nenek yang selalu menjadikan dirinya sebagai prioritas utama dalam kehidupan sang nenek.

Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Karena ia sudah terlambat untuk menyadari...

Ia telah kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya.

Ia terlanjur menyakiti sang nenek...

Hingga rasanya ia tak pantas lagi untuk menerima kasih sayang dari siapapun.

Ia telah menyia-nyiakannya kasih sayang itu, menganggap hatinya selalu kekurangan perasaan cinta...

Dan sekarang, siapa yang akan memberikan kasih sayang seperti neneknya selama ini untuk dirinya? Siapa? Siapa yang akan meredakan rasa sakit ini? Katakan siapa?!

.

.

.

.

.

Eunhyuk menyernyitkan keningnya tak suka tatkala sosok yang berdiri di bawah pohon sakura yang tengah ia panjat, berteriak kepadanya dengan mengatainya idiot. Bahkan tatapan menusuk itu seakan tak memberikan rasa ampun kepadanya jika saja Eunhyuk tidak mengubris perkataan sosok itu.

"Kau membentakku?! Brengsek!" Desisnya tak terima. Ia segera turun dari atas dahan pohon sakura dan menghampiri sosok pria yang masih berdiri diam tanpa mengalihkan tatapan tajam itu kepada Eunhyuk yang kini telah berada tepat didepan pria bermarga Lee itu dan menarik kerah kemeja Donghae.

"Kau yang brengsek, Lee Eunhyuk! Kau pantas mendapatkan sebutan itu!" Tungkas Donghae. Membuat Eunhyuk marah, Eunhyuk berniat mengarahkan tinjunya tepat dirahang Donghae. Namun dengan sigap, Donghae segera meraih pergelangan tangan Eunhyuk yang berniat memberikannya pukulan dan mencengkramnya dengan kuat.

"Lepaskan, sialan! Beraninya mengataiku idiot dan brengsek! Memangnya kau siapa?! Lepaskan! Aku ingin memukulmu, bajingan!" Pekik Eunhyuk seraya berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman kuat Donghae. Bahkan tangannya yang lain sudah memukul-mukul dada bidang Donghae yang terbalut mantel musim dingin.

"Dengarkan aku Lee Eunhyuk! Kau harus bertemu dengan nenek sekarang!"

"Tidak mau! Jangan paksa aku untuk bertemu dengannya! Lepaskan aku!"

"Tidak sebelum kau menuruti perintahku!" Desis Donghae menahan amarahnya pada Eunhyuk. Abaikan dengan emosinya, ia disini bukan untuk menyakiti Eunhyuk. Ia hanya ingin membawa Eunhyuk untuk melihat neneknya yang terbaring lemah diklinik desa, ia tak mau Eunhyuknya terlambat jika tidak bertemu dengan nenek dari pria manis itu.

'Bertahanlah sebentar lagi, aku akan membawanya kehadapanmu nek.'

"Kenapa kau memaksaku?! Setelah apa yang telah ku lakukan kepadanya, masih pantaskah aku bertemu dengannya lagi?! Aku bahkan membentaknya dan memarahinya, apakah pantas aku menemuinya lagi dan menganggap bahwa aku adalah cucu kesayangannya?! APAKAH PANTAS?! JAWAB AKU LEE DONGHAE!" Eunhyuk sontak berteriak keras, melepaskan rasa sesak yang akhir-akhir ini membuncang hatinya hingga ia tak sanggup untuk bertemu sapa dengan sang nenek yang sangat ia rindukan.

Ia tidak pernah sekalipun membenci neneknya, ia bahkan tak pernah berfikir akan menganggap neneknya adalah seorang pengganggu yang mengusik kehidupannya. Saat itu ia hanya terlalu kalut ketika sang nenek membawa ibunya untuk datang dihadapannya. Ia hanya tidak bisa menghilangkan memori kelam itu, ia hanya belum siap untuk dipertemukan kembali dengan sang ibu kandung. Tapi neneknya, tanpa seijin darinya, telah membawa sang ibu untuk menemuinya dan itu membuat Eunhyuk marah.

Ia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri ketika kembali bertatap muka dengan sang ibu, ia terlalu marah dan kecewa, sehingga ia mempersalahkan sang nenek akan perbuatan baiknya terhadap Eunhyuk.

Dan sekarang haruskah ia bertemu dengan sang nenek setelah apa yang ia lakukan terhadapnya? Ia telah menyakiti sang nenek! Mengatakan hal yang tak sepantasnya ia ucapkan kepada wanita paruh baya itu, lalu masih pantaskah ia menerima kasih sayang sang nenek atas perlakuan kejinya terhadap wanita baik hati itu?

Tidak! Tidak sama sekali! Ia tidak pantas mendapatkan kebaikan dari sang nenek lagi! Ia telah membuat sang nenek kecewa atas apa yang dilakukannya! Ia terlalu malu untuk menerima kata memaafkan dari mulut sang nenek.

Eunhyuk tercekat saat pemikirannya membuat hatinya terasa sangat sakit. Ia bahkan sampai lupa bagaimana caranya untuk bernafas, hingga membuat Donghae yang masih menggenggam pergelangan tangan Eunhyuk, segera mengatupkan pipi Eunhyuk yang memerah dengan kedua telapak tangannya.

"Dengarkan aku! Saat ini aku tidak bisa memberikan alasan yang tepat untukmu atas semua pertanyaanmu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menemuinya, mengatakan maaf padanya, dan mengatakan seberapa cintanya kau akan dirinya. Sebelum semuanya terlambat dan akan membuatmu menyesal, kau... Kau harus menemuinya... Ne, nenek sedang kritis..."

"A,apa?!" Eunhyuk membelalakan kedua mata bulatnya tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya dari bibir tipis Donghae. Sekujur tubuhnya terasa melemas dan pikirannya mendadak kosong ketika mendengar bahwa sang nenek dalam keadaan kritis.

'Ne, nenek... Nenek...'

"Ka, kau bilang apa? Ne, nenek kritis? Donghae, kau... Kau bercandakan?" Gumam Eunhyuk lirih. Ia tersenyum aneh dengan kedua bola matanya yang bergerak gelisah, menatap wajah Donghae tak tentu arah.

Ia berharap apa yang dikatakan Donghae hanya gurauan semata, agar ia mau menuruti perkataan Donghae untuk menemui neneknya di klinik. Namun melihat raut wajah Donghae yang terlihat begitu serius dan tampak mengkhawatirkannya, membuat nafas Eunhyuk hilang entah kemana, bahkan senyum yang sempat ia sunggingkan dengan paksa sontak memudar dari wajah bodohnya. Ia tanpa sadar mencengkram mantel Donghae yang berada tepat di dada pria itu. Tubuhnya hampir saja roboh jika saja Donghae tidak menahan tubuhnya didalam pelukan pria dengan julukan ketua osis itu.

Sakit sekali, hatinya sangat sakit... Ia tak tahu harus berfikir apa, bahkan rasanya untuk sekedar bernafaspun ia tak sanggup melakukannya lagi. Apa yang ia lakukan memang tidak sepantasnya dimaafkan, ia rela jika neneknya membencinya atas segala perbuatan yang telah ia lakukan pada nenek, asalkan neneknya tidak meninggalkannya.

Neneknya...

Harus tetap hidup untuk menemaninya...

Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika sang nenek pergi meninggalkannya...

Tidak ada yang akan memberikannya kasih sayang hangat seperti sang nenek..

Tidakkah ini terlalu menyakitkan?

Jangan pergi...

Jangan pergi meninggalkanku...

Nenek...

Maafkan aku...

"Do, Donghae... Bagaimana ini? Aku takut."

"Tenanglah, aku akan selalu menemanimu..."

.

.

.

.

.

.

Entah sejak kapan salju yang turun membasahi permukaan tanah desa kecil ini kini telah tergantikan dengan gemericik air hujan dari tumpukan awan gelap di atas cakrawala. Tangan lembut yang selalu menghantarkan kehangatan itu kini berubah menjadi dingin seperti tumpukan salju yang dikepal menjadi bola kecil. Bahkan kedua mata senja yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang itu, kini telah terpejam untuk selama-lamanya.

Eunhyuk terdiam tanpa berniat berpindah dari tempatnya duduk di samping ranjang sang nenek yang baru saja pergi meninggalkannya sendiri. Tangannya yang hangat begitu erat menggenggam tangan kriput yang telah berhenti mengalirkan jiwa didalam tubuh senja wanita yang sudah terkikis oleh waktu itu.

Kedua mata musangnya hanya menatap raga sang nenek dengan tatapan kosong, tanpa mempedulikan sekitarnya yang kini tengah menangisi kepergian sang nenek. Bahkan ia tak mempedulikan jeritan pilu sang ibu yang melahirkannya, ia pun tak mempedulikan sosok Donghae yang terdiam di ambang pintu ruang pasien yang tengah menatap iba pada dirinya.

Untung saja ia masih sempat menemui sang nenek, mengucapkan kata maaf yang tidak sepantasnya diberikan pengampunan oleh wanita yang telah tenang dialam sana itu. Ia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai sang nenek, berterima kasih karena sosok itu telah mau menerima seorang cacat hati seperti dirinya, yang mau menyayanginya tanpa adanya balasan sedikitpun.

Yang bisa ia lakukan hanya menangisi diri sendiri di dalam hatinya yang kembali terkoyak. Nafasnya tercekat ketika senyum senja itu begitu hangat menghiasi wajah pucat itu. Ketika sang nenek memberikannya sebuah pengampunan yang tidak mampu Eunhyuk bayangkan betapa luar biasanya perbuatan wanita hebat itu.

Neneknya masih mencintainya, mengatakan bahwa ia tidak boleh bersedih dan harus menerima sang ibu yang datang untuk menemuinya dan melupakan masa kelam yang membuat hatinya terluka selama ini. Neneknya menyuruhnya untuk selalu menjaga dirinya baik-baik, mengatakan bahwa Eunhyuk tidak perlu memikirkan apapun kecuali masa depannya kelak. Tidak boleh ada rasa sakit, tidak boleh merasa tidak sempurna dan paling menderita. Karena sang nenek berkata, ia akan sangat sedih jika ia harus melihat cucu kesayangannya memendam rasa sakitnya sendirian. Ia tidak mau, karena ia tidak akan bisa menjaga Eunhyuk seperti dulu lagi.

"Kau tidak boleh bersedih, masih ada ibumu yang menyayangimu, masih ada Donghae yang mencintaimu. Nenek tidak apa-apa, jangan khawatir. Nenek akan selalu menyayangimu. Ingat Jangan bersedih, nenek akan sangat tersiksa jika melihatmu menderita. Jaga dirimu baik-baik dan nenek akan melindungimu diatas sana. Jangan lupa tetaplah tersenyum ya? Kau harus bahagia, cucu nenek harus bahagia. Karena nenek bahagia telah memiliki cucu manis sepertimu sayang... Sekarang nenek bisa pergi dengan tenang... Karena Donghae yang akan menjagamu sekarang."

Eunhyuk segera beranjak dari tempat duduknya, melepaskan genggamannya dari tangan sang nenek, kemudian meraih selimut putih yang dipakai untuk menyelimuti separuh tubuh sang nenek dan menariknya untuk menutupi sekujur tubuh nenek hingga kepalanya.

"Selamat tidur... Maafkan aku... Maafkan aku... Nek..." Ujarnya dengan suara lirih yang tak mampu didengar oleh siapapun. Entah kemana perginya airmata yang ada di pelupuk matanya saat ini, ia bahkan tidak bisa membiarkan dirinya untuk menangis dan meneriakan bahwa nenek jangan pergi darinya. Ia tidak bisa apa-apa kecuali membiarkan neneknya pergi kerumah Tuhan.

Ia perlahan membungkukan tubuhnya di samping jenazah sang nenek yang masih terbaring diatas ranjang, dan kemudian beranjak meninggalkan kamar dimana sang nenek telah dirawat oleh dokter desa selama seminggu ini.

Mengabaikan sang ibu yang langsung menerjang tubuh neneknya yang telah terbujur kaku di atas ranjang, meninggalkan Donghae yang tanpa ia sadari tengah menatap punggung sempit itu dengan tatapan khawatir dan juga iba.

"Sesuai janjiku nek. Aku janji akan menjaganya untukmu..." Ucap Donghae seraya mengalihkan tatapan matanya tepat di tempat sang nenek Eunhyuk berbaring.

"Berjanjilah agar kau mau melindungi Eunhyuk dan menyayanginya seperti aku yang telah begitu besar menyayanginya sebagai cucuku..."

"Aku berjanji nek, aku mencintai cucumu dengan tulus... Aku tidak akan membiarkannya terpuruk... Nenek tenang saja!"

"Terima kasih Donghae, berkat kau... Eunhyuk bisa berubah... Terima kasih banyak..."

.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari dimana nenek Eunhyuk akan disemayamkan. Seluruh warga desa yang mengenal segala kebaikan sang nenek semasa hidup, datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir pada nenek yang begitu luar biasa baik bagi kehidupan setiap orang yang pernah di bantu oleh wanita tua itu.

Ibu Eunhyuk dengan pakaian hanbok serba hitam tampak menyambut para pelayat tepat di depan pintu rumah sang ibu yang telah melahirkan ibu Eunhyuk, mengabaikan kedua mata sembabnya yang tampak membuat wajahnya semakin memucat. Dan di sampingnya terdapat sang adik ipar dari mendiang adiknyaă…ˇ Shindong, turut menyambut kedatangan para warga desa yang berniat memberi penghormatan terakhir pada ibu mertuanya.

"Bibi Song, dimana Eunhyuk?" Bibi Song atau ibu Eunhyuk sontak memalingkan wajah sendunya tatkala mendengar suara seseorang yang baru memasuki rumah mendiang nenek Eunhyuk. Ia tersenyum kecil mengetahui siapa seseorang yang baru saja mengajukan pertanyaan akan keberadaan anaknya yang manis itu.

"Ah, Donghae... Sejak tadi pagi Eunhyuk tidak kunjung keluar dari kamarnya... Bibi sudah membujuknya untuk turun, namun ia seakan tidak mendengar apa yang bibi ucapkan padanya." Sahut ibu Eunhyuk dengan suara seraknya akibat menangis sejak kemarin sore.

Donghae yang mendengar ucapan ibu Eunhyuk hanya mendengus gusar, ia mengusak surai belakang kepalanya sebelum kembali menatap wanita cantik dihadapannya.

"Bolehkah saya melihatnya?"

"Tentu saja, bibi rasa... Ia pasti akan mau mendengar ucapanmu... Katakan padanya, sebentar lagi kita akan membawa mendiang neneknya ke laut untuk penaburan abu." Ucap wanita itu dengan senyum yang terukir di wajahnya. Donghae hanya bergumam, ia undur diri dari ibu Eunhyuk dan segera membalikan tubuhnya untuk melihat keadaan Eunhyuk dikamarnya.

Belum sempat ia menaiki anak tangga, suara ibu Eunhyuk sontak mengintrupsi pergerakannya menuju lantai atas.

"Tolong dampingi dia Donghae... Sejak kepergian neneknya, Eunhyuk seperti kehilangan jiwanya. Bibi memang bukan ibu yang baik untuknya, tapi kau bisa menenangkan hatinya... Bibi mengandalkanmu..." Ujar ibu Eunhyuk dengan suara parau. Airmata kembali membasahi kedua pipi ibu Eunhyuk, merutuki betapa jahatnya ia akan apa yang telah ia perbuat terhadap anaknya sendiri. Disaat seperti ini sang ibu malah pergi tanpa menemaninya untuk memperbaiki hubungannya dengan Eunhyuk.

Donghae yang melihat betapa menyedihkannya wanita itu hanya tersenyum kecil. "Bibi tenang saja. Serahkan semuanya padaku. Aku tidak akan pernah meninggalkannya dan akan terus mendampinginya seumur hidupku nanti." Ucapnya dengan tekad yang kuat kepada ibu Eunhyuk yang memandanginya dengan kedua mata yang terlapisi oleh airmata. Ia berjanji pada sang nenek akan membahagiakan Eunhyuk kelak, ia tidak akan pernah melepaskan Eunhyuk kapanpun juga. Karena sekarang, separuh hatinya ada dalam pria manis itu.

"Aku akan selalu mencintainya meski kau larang sekalipun bibi Song."

.

.

.

.

.

Tubuhnya yang kini terbalut dengan pakaian serba hitam, tampak sangat berantakan tatkala tubuh rampingnya ia biarkan tergeletak begitu saja di atas ranjang miliknya yang kini terasa sangat dingin dan membuatnya seakan menerawang menembus waktu saat sosok yang telah pergi darinya itu terasa begitu nyata kehadirannya, seakan ia masih hidup di dalam rumah ini.

Ia membiarkan tubuhnya tertelungkuk dengan kepalanya yang ia miringkan tepat menghadap sebuah jendela yang berada di dekat meja belajar kamarnya saat ini. Sorot matanya tampak kosong, memandangi tanpa arti beberapa cabang pohon yang telah di selimuti oleh tumpukan salju dari balik jendela kamarnya.

Bahkan ia sampai tak mendengar bahwa pintu kamarnya telah terbuka dan menampilkan sosok Donghae dengan stelan jas hitam yang sama persis seperti yang sedang Eunhyuk kenakan saat ini.

"Eunhyuk-ah." Suara yang menyeruak dari dalam kamarnya yang berasal dari bibir tipis Donghaepun tak di gubris oleh Eunhyuk sama sekali, seakan jiwanya tidak berada di tempat itu. Hingga menimbulkan desahan pasrah dari sosok yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana Eunhyuk terbaring saat ini.

"Eunhyuk-ah, bangunlah." Titah Donghae pelan, seraya menghalangi pandangan Eunhyuk yang kini sedikit terusik ketika seseorang tengah berdiri tepat dihadapan wajahnya.

Eunhyuk melirik sosok yang ia ketahui adalah Donghae dan kemudian memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dari saat ia melihat keluar jendela dikamarnya tadi. "Pergi." Gumam Eunhyuk lirih namun masih dapat didengar oleh Donghae yang kembali hanya mampu menghembuskan nafas lelahnya.

"Bangun, kau harus mengantarkan nenek ketempat peristirahatan terakhirnya." Ujar Donghae pelan, berniat membujuk Eunhyuk dengan cara halus, mengingat saat ini situasinya sedang tidak baik untuk sekedar membentaknya atau memarahi Eunhyuk yang sedang dalam kondisi berduka karena kepergian sang nenek.

"Kau saja. Aku ingin tidur." Sahut Eunhyuk dengan suara yang nyaris hilang. Ia perlahan memejamkan kedua matanya dan mencoba mengabaikan sosok Donghae.

"Apa seperti ini caranya? Kau membiarkan nenekmu tetap bersedih karena tingkahmu yang seperti ini?! Kau tidak ingin mengantarkan kepergiannya?! Jawab aku!" Habis sudah kesabaran Donghae, masa bodo dengan sikap lembut untuk menjaga perasaan Eunhyuk. Toh pria manis itu telah membuat kesabarannya habis karena sikap buruk Eunhyuk.

Donghae sontak menarik pergelangan Eunhyuk dengan kuat, hingga membuat tubuh lemas itu terbangun dan hampir menyebabkannya terjatuh dari atas ranjang.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

"JUSTRU APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! KAU TIDAK BISA SEPERTI INI TERUS LEE EUNHYUK!" Bentak Donghae dengan amarah yang tidak sepenuhnya meledak. Ia sadar, seharusnya bukan cara seperti ini memperlakukan lelaki rapuh itu. Namun jika sosok didepannya tampak bagaikan mayat hidup seperti ini, bisa dipastikan mendiang nenek Eunhyuk tidak akan bisa tenang dialam sana! Ia sudah berjanji akan menjaga Eunhyuk dan mendampinginya disaat apapun, maka dari itu kabut duka yang masih menyelimuti perasaan pria manis itu, akan ia hapus dan menggantikannya dengan kebahagian baru yang akan Eunhyuk rasakan.

Ia juga tidak ingin Eunhyuknya diam seperti ini! Jika ia ingin menangis, menangis saja! Jika ia ingin teriak, maka teriak saja! Kenapa malah menutup diri seperti ini? Apa gunanya Donghae jika Eunhyuknya saja tidak mempercayainya?!

Eunhyuk bungkam saat bentakan Donghae tanpa sadar membuat dadanya terasa sangat sakit. Apa yang sedang ia lakukan? Apa? Kenapa seperti ini? Kenapa hari ini harus terjadi? Neneknya telah tiada, apakah ini hanya mimpi? Ia merasa sang nenek masih ada ditempat ini, menyerukan namanya dengan penuh kasih sayang, tersenyum lembut padanya seraya memberikannya cake strawberry yang paling lezat seantero dunia. Tapi apa yang terjadi? Ia bahkan tidak mampu memikirkannya.

"Nenek masih ada di rumah ini... Do, Donghae... Ia masih di rumah ini... Bersamaku... Di, dia masih ada disini..." Eunhyuk memejamkan matanya ketika rasa sakit itu masih begitu terasa didalam hatinya. Ia mencoba memukul dadanya dan meremas seprai pada ranjangnya untuk meredam rasa sakit yang tiba-tiba saja membuat dirinya kesulitan dalam bernafas.

Donghae yang melihat perubahan sikap Eunhyuk, segera menangkup kedua pipi Eunhyuk yang memanas dan mengelusnya dengan lembut agar Eunhyuk membalas tatapan mata Donghae yang terlihat tidak fokus.

"Dengarkan aku!"

"Tidak! Nenek masih ada disini Donghae! A, aku bahkan masih dapat menghirup aroma tubuhnya di kamarku! Akh! Sakit sekali, mengapa sesakit ini?! Uhh, nenek... Dimana dia? Donghae! Nenekku dimana?!" Eunhyuk menatap Donghae dengan airmata yang kini telah membasahi pipi pucatnya. Ia meraih kedua tangan Donghae yang berada dipipinya dengan kedua tangannya.

Eunhyuk tahu jawaban dari segala pertanyaannya yang begitu membuat hatinya sesak, ia tahu, sangat tahu. Namun ia tidak bisa menerima jawaban itu, ia masih tidak mau menerima bahwa neneknya sudah tidak akan bisa bersama dengannya lagi. Ia telah pergi kepada sang pencipta. Dan itu tidak bisa ia bantahkan.

Donghae tercekat, ia segera mengalihkan pandangannya kearah lain saat mendapati tatapan menyedihkan itu dari kedua bola mata Eunhyuk yang tergenang oleh lapisan airmata. Ia tidak tahan harus melihat Eunhyuk dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Ia berharap kejadian ini tidak akan pernah terjadi, seandainya saja nenek Eunhyuk kembali sehat... Mungkin Eunhyuk tidak akan semenderita ini.

"Maafkan aku... Maafkan aku Eunhyuk-ah... Aku tidak bisa menahan kepergian nenek ke rumah Tuhan... Aku tidak bisa membuatnya tetap disini untuk menemanimu... Maafkan aku..." Gumam Donghae seraya membawa tubuh bergetar Eunhyuk kedalam pelukannya.

"Dasar bodoh! Hiks, kenapa kau yang minta maaf padaku?! Idiot! Hiks..."

.

.

.

.

.

.

Saat itu, ketika pertama kalinya Lee Eunhyuk menginjakan kakinya dirumah kampungan itu.

Eunhyuk yang masih dipenuhi oleh rasa marah, kecewa dan penuh rasa benci akan kehidupan yang telah aku alami akibat perbuatan kedua orang tuanya yang memutuskan untuk bercerai tanpa memikirkan perasaan Eunhyuk.

Ayah dan ibu menolak keberadaan Eunhyuk, hingga ibu membawanya ketempat yang jarang ia kunjungi ketika pria manis itu masih bersama dengan kedua orang tuanya.

Disana, di ambang pintu berbahan kayu jati itu. Ada senyum hangat yang begitu merekah, menyambut dengan kasih sayang yang begitu Eunhyuk inginkan selama hidupnya ini.

Senyum senjanya menyapa Eunhyuk dengan riang, seakan dialah orang yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya untuk tinggal bersama sang nenek.

.

.

Eunhyuk semakin memeluk bejana kecil berwarna putih didalam dekapan hangatnya, tatkala langkah kakinya semakin berat menelusuri jalan bebatuan yang akan menuju tepi pantai untuk penaburan abu jasad sang nenek.

Donghae berjalan disampingnya, mencengkram kuat bahu Eunhyuk supaya langkah kakinya tetap kokoh mengarungi sisa terakhirnya bersama tubuh sang nenek.

.

.

"Cucuku! Selamat datang! Akhirnya kau datang juga! Kemarilah, nenek ingin memelukmu!"

Eunhyuk tertegun ketika tangan senja itu tiba-tiba saja menarik tubuhnya kedalam sebuah pelukan hangat yang begitu menenangkan hatinya yang telah remuk, ia bahkan hampir saja menjerit kesakitan jika saja ia tak menyadari bahwa sosok ibu yang membuangnya masih berdiri diam di belakang tubuhnya saat ini.

"Tolong jaga dia bu... Aku tidak bisa merawatnya... Maaf..."

"Masuklah Eunhyuk-ah! Segera naik kelantai atas lalu beristirahatlah. Ada yang harus nenek bicarakan dengan ibumu!" Titah sang nenek, hanya dibalas kebisuan dari bibir ranum sang cucu.

Eunhyuk hanya menuruti kemauan sang nenek, aku memang ingin keatas dimana kamarnya berada. Namun makian, amarah dan juga kekecewaan sang nenek kepada ibunya, membuat langkah kakinya terhenti.

.

.

"Kau bisa naik? Kemarilah, aku akan membantumu." Suara Donghae yang begitu lembut ditelinga Eunhyuk. Menyadarkan dirinya bahwa ia telah sampai di tepi pantai, di hadapannya telah tersedia perahu yang akan membawanya ketengah laut untuk upacara penaburan abu.

Eunhyuk menoleh, menatap Donghae dengan tatapan sakit yang begitu menyiksa hatinya.

"Donghae.."

"Kau harus melakukannya... Ada aku disini, tenanglah..." Ucapnya menenangkan. Ia menengadahkan telapak tangan kanannya menghadap Eunhyuk, menunggu tangan kuatnya disambut oleh jemari lembut milik Eunhyuk.

.

.

"Ibu tidak pernah mengajarkan mu untuk melakukan hal kejam seperti itu kepada Eunhyuk! Kemana hati nuranimu?! Kau membawanya kesini untuk apa? Apa kau tidak menyayanginya selama ini sebagai anakmu?! Setega itukah hatimu?!"

"Dengarkan aku ibu! Aku tidak bisa merawatnya disaat hatiku hancur! Mengapa ibu tidak mau mengerti keadaanku?! Suamiku menceraikanku, dan itu membuatku sakit!"

"LEBIH SAKIT SIAPA DIBANDINGKAN EUNHYUK YANG KAU TINGGALKAN?! IBU BENAR-BENAR KECEWA PADAMU! KAU MENYAKITI CUCUKU!"

Eunhyuk hanya mampu diam membisu ketika ia tidak bermaksud menguping sebenarnya, namun ia hanya ingin tahu... Seberapa besar harapannya akan keberadaan neneknya yang menyambut kedatangannya dengan hati yang sangat gembira. Dan ia tak menyangka, bahwa sang nenek tengah membelanya. Menyerukan suara hatinya meskipun ia tak pernah bisa menyampaikannya pada sang ibu kandung.

Ia tertohok ternyata dalam hidupnya, ia masih memiliki seseorang yang begitu menyayanginya sampai sedemikian rupa. Di hari pertamanya ditempat sang nenek, seharusnya ia menyadari...

Bahwa di dunia ini, ia masih memiliki cinta yang begitu luar biasa dari neneknya yang selalu mengajarinya untuk selalu tersenyum bersamanya, memakan masakannya, dan juga bermanja padanya, mengajarinya memahami cintanya dan juga kebaikannya.

Bahkan ketika ia marah, neneknya selalu memaafkannya, hingga disaat akhir hidupnya sekalipun.

Neneknya bahkan tetap memberikan sebuah senyum gembira untuk dirinya..

Hanya untuk dirinya...

.

.

Eunhyuk menatap sosok Donghae yang masih setia merengkuhnya dengan kehangatan yang membuat hatinya tenang. Entah mengapa dekapan itu seakan sudah sangat familiar ia rasakan selama setengah tahun terakhir ini.

Pelukannya, seperti saat nenek memeluknya.

Tatapan lembut itu, seperti saat nenek menatapnya.

Senyum lembut itu, seperti saat nenek menyambut kedatangannya selepas pulang sekolah.

Semua yang ada pada pria itu... Seperti milik nenek...

Kasih sayangnya seperti milik nenek...

Hanya saja, Eunhyuk merasa ada yang berbeda...

Entah apa itu, ia tak mengerti...

"Sekarang, ini saatnya kau melepaskan kepergian nenek. Kau tahu? Ia telah bahagia dialam sana, bertemu dengan ibuku dan juga menjagamu dari sana... Lantas apa yang kau takutkan lagi?" Donghae tersenyum simpul, melihat wajah sendu Eunhyuk yang kini menatapnya dengan tatapan memberatkan. Ia mengusap pipi berisi Eunhyuk dengan lembut, kemudian mengecup kening Eunhyuk penuh sayang.

"Ada aku disini, aku akan selalu bersamamu... Aku mencintaimu.." Ujar Donghae tersenyum jenaka. "Sekarang kau bisa menaburkan abu jasad nenek di lautan ini, kau akan selalu menemuinya di seluruh penjuru dunia ketika kau mendaratkan pandanganmu di lautan lepas ini. Ia selalu ada di hatimu, dan sekarang waktunya kau bahagia akan apa yang telah nenek ajarkan padamu semasa hidupnya." Tutur Donghae seraya merapihkan surai Eunhyuk yang kian tak tentu arah akibat angin kencang dan gelombang air laut yang sedikit membuat perahu yang mereka naiki bergoyang.

Eunhyuk mengangguk pasrah, menahan tangis yang akan meledak kapan saja jika ia tak bisa mengendalikannya. Perlahan tangan lentiknya yang terbalut sarung tangan putih, membuka penutup bejana kecil yang masih dalam dekapannya, meraih abu milik sang nenek dan menghempaskannya ke dalam lautan lepas.

'Nenek... Terima kasih... Aku sangat menyayangimu... Beristirahatlah dengan tenang... Aku akan baik-baik saja disini... Karena Donghae berjanji akan selalu bersamaku... Selamat jalan... Nenek.'

.

.

.

.

.

End

.

.

.

.

.

Next chap Epilog :)