Previous Chap :

Di tepi jalan yang sepi karena hujan deras, Sai melihat seseorang wanita muda yang sedang memeluk diri sendiri. Dia sepertinya kedinginan. Bahkan rambut indigo panjangnya yang dikuncir itu sudah acak-acakan. Lalu gaun indahnya yang lumayan mencolok itu tampak kebasahan, sehingga wanita yang sedang berteduh di bawah sebuah toko kosong tersebut membuatnya penasaran.

"Ayah, itu siapa...?" Bertepatan dengan Sasuke yang menutup sambungan ponsel, Sai bertanya.

.

.

Karena kalimat Sai yang tadi, sontak Sasuke menoleh ke jendela yang persis di samping anaknya. Di sana—meski derasnya hujan agak mengaburkan pandangan—terlihatlah sosok seorang wanita. Kulitnya yang seputih salju dan raut manisnya mencolok. Sasuke sampai mengamatinya lama. Dia sedang memeluk diri sendiri, bajunya basah kuyub, tubuhnya menggigil. Tapi tidak seperti Sai yang perihatin, Sasuke malahan memalingkan wajahnya kembali ke depan. Kembali memperhatikan rambu lalu lintas.

"Ayah..." Bocah berusia 9 tahun itu memanggilnya lagi.

"Biarkan saja." Sasuke memilih untuk tidak menggubrisnya. Palingan kalau mobil mereka sudah jalan dan melewati wanita tersebut, Sai tidak akan membahasnya lagi.

"Tapi... dia kehujanan."

"Terus?"

"Aku kasihan..."

"Lalu kenapa?"

"Maksudku... mungkin dia butuh kita." Sai sendiri bingung dengan apa yang ia ucapkan.

Sasuke menghela nafas. "Di jalan, kita pernah bertemu dengan berbagai macam orang yang kelaparan dan kehujanan, tapi kenapa kalau orangnya 'dia' kau tiba-tiba bilang begitu?"

"Aku... tidak tau."

"Sai, dia wanita asing. Kita sama sekali tidak mengenalnya."

"Kita kan bisa sedikit membantunya. Aku kasihan."

"Ada saatnya kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain, Sai."

Sai memandangi Hinata lagi. "Tapi apa Ayah tidak peduli padanya? Dia perempuan, sendiri, kehujanan, dan dia seperti orang kebingungan—"

"Sudahlah, jangan dibahas."

Sai tersentak. Ia sadar dirinya menyebalkan, dan mungkin Sasuke kesal karena itu. Tapi ketika melihat wanita bergaun lebar itu kehujanan, Sai jadi simpati. Ia benar-benar ingin menolongnya. Ia pandangi lampu merah di depan. Sebentar lagi lampunya akan berubah hujau. Dengan modal nekat, Sai berteriak kencang.

"Kalau Ayah tidak mau menolongnya, maka aku yang akan ke sana!"

Sasuke terkejut bukan main saat mendengar kelantangan Sai. Dia pandangi anak semata wayangnya itu dengan tatapan datar. Sai terlihat menahan emosinya dalam-dalam. Ekspresinya serius. Baru kali ini ia diteriaki oleh anaknya sendiri. Pada akhirnya Sasuke menghela nafas. Pria berambut raven itu segera maklum dan menginjak gas. Ia miringkan mobilnya ke trotoar. Dengan kasar ia menglepas seatbelt dan membuka pintu.

"Sai, kau tunggu di mobil."

.

.

.

HAPPILY EVER AFTER

"Happily Ever After" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]

Drama, Fantasy, Romance

AU, OOC, Typos, etc.

(inspired from enchanted)

.

.

SECOND. Tamu Baru

.

.

Sesudah keluar dari mobil, Sasuke berjalan menuju bagasi untuk mengambil sebuah payung besar. Ia mekarkan payung dan barulah ia berjalan ke arah wanita asing yang Sai maksud. Dari jendela dalam mobil, Sai memperhatikan ayahnya.

Masih dengan raut datar, Sasuke mendekati Hinata. Diam-diam mata onyx-nya langsung meneliti penampilan wanita itu. Ada dua hal yang membuat dirinya heran. Pertama, gaun yang dikenakannya. Bukannya itu gaun mahal? Tidak mungkin orang miskin bisa asal memakainya, kan? Kedua, sepertinya dia bukan gelandangan. Terlebihnya, sebutan gelandangan mungkin terlalu kasar untuknya. Wanita itu cantik dan bersih. Dia seperti puteri raja. Hanya saja dia berdiri di tempat yang tidak tepat. Di bawah tetesan hujan, sambil memeluk dirinya sendiri yang bergetar kedinginan.

Jadi, tersisalah satu kesimpulan yang menyelinap di benak Sasuke. Mungkin saja orang ini adalah turis yang tersesat.

Lalu setelah Sasuke meminimalisir jarak di antara mereka hingga tersisa dua meteran, Hinata yang sadar bahwa ada pria di dekatnya pun sedikit mengadah. Dia pandangi mata hitam Sasuke yang masih serius memperhatikannya. "Kau..." Sasuke membuka suara. "Kau sedang apa di sini?"

Wanita itu mengerjap pelan. Lalu ia maju beberapa langkah dan...

Brukh.

"—!" Sasuke terkejut. Tentu saja, bagaimana caranya kau tidak kaget kalau ada wanita yang baru kau tanya keadaannya langsung menerjangmu sampai kau nyaris terjatuh? Saking kagetnya Sasuke sampai tak sadar bahwa payung yang dipegangnya tadi telah terlepas, sehingga membiarkan pakaian rapinya ikut dibasahi oleh ribuan tetes air hujan.

"T-Tu-Tuan..." Wanita ayu itu berbisik lirih. Jari-jari lentik Hinata mencengkram kerah seragamnya erat. Tubuh depan mereka menempel dan jarak wajah mereka hanya berjarak beberapa cm. Dari jarak ini Sasuke dapat merasakan embun nafas Hinata. Hangat. "A-Aku... sekarang ada di mana?"

Sasuke mematung. Dia tidak mengerti apa yang wanita ini bicarakan. Apa dugaannya benar? Dia sungguhan turis yang tersesat?

"A-Aku di mana...?" Intonasi wanita itu mengeras, terlihat sekali dari nadanya kalau ia sedang frustasi.

"Sebentar, biar kujelaskan." Sambil menyentak pelan tubuh Hinata agar mereka tak terlalu menempel, Sasuke menyela pertanyaan Hinata. "Kau ada di Tokyo, Jepang..."

Hinata menelan ludahnya sendiri. Jemarinya ia taruh di bibir, dan tatapannya teralih ke jalanan. Ia berpikir. "Tokyo itu a-apa...? A-Aku tidak mengerti..."

Sasuke menghela nafasnya. Siapa wanita ini? Jika dugaannya benar—orang tersebut tersesat—masa dia tidak mengenal Tokyo? Apa dia pura-pura bodoh, atau memang orang gila? Tuh, dia bisa berbahasa Jepang, kan?

Mengingat permintaan Sai padanya, Sasuke mengambil payungnya terlebih dulu dan menegakkan badan. Sekalipun percuma, tetap Sasuke jadikan payung itu sebagai penangkal hujan bagi mereka berdua. "Sekarang... kau yang jelaskan padaku. Kenapa kau bisa hujan-hujanan di sini?"

"A-Aku... aku juga tidak tau..." Saat Sasuke akan kembali bertanya, Hinata langsung menambahkan. "Awalnya, aku akan menikah dengan seorang pangeran..."

Sasuke mengernyit. "Pangeran?"

"Iya, be-beberapa hari yang lalu dia melamarku." Jelasnya lirih. "Tapi... tiba-tiba saja ada seorang pria yang mendorongku ke sebuah sumur." Linangan air mata kembali melintasi pipinya. "Dan tidak tau kenapa, aku sudah berada di sini..."

Sasuke terdiam. Ia menyimak, tapi ia tetap tak menangkap apa maksud Hinata menceritakan itu. Lagi pula apa-apaan yang dia jelaskan tadi? Pangeran? Jatuh ke sumur?

"Tempat ini... m-membuatku takut. Semua orang yang di sini tak ada yang kukenal. Mereka j-juga tak ramah padaku..." Ditatapnya lagi mata Sasuke. Lalu Hinata maju selangkah. "Semuanya... semuanya menyeramkan. Lalu—"

"Tunggu." Suara berat Sasuke membuat kalimatnya terhenti. "Kau ini sedang bercerita tentang apa, hn? Mendongeng?" Hinata menggeleng lemah. "Kau pikir aku ini bodoh atau apa?"

Hinata menelan ludahnya. Ia jadi terisak karena orang itu tak mempercayai ceritanya. "Tuan m-mengira aku berbohong?"

"Ya."

"Tidak! Aku tidak berbohong! Kau harus percaya padaku!" Sontak saja Hinata menjerit histeris.

"Terserah, aku tidak peduli..." Sasuke akan berbalik kembali ke mobil. Lebih baik ia tinggalkan wanita aneh itu sendiri di sini. Barangkali dia adalah orang gila. Tapi sebelum Sasuke melakukannya, sebuah tangan mencegahnya dengan sebuah tarikan kencang.

Brukh!

Sasuke merasakan tubuhnya terdorong ke belakang sampai ia terjatuh. Bersama desisan kesal Sasuke membuka mata, melawan segala tetesan hujan yang sempat menerpa wajah dan juga kelopak matanya. Tadi baru saja Hinata mendorongnya. Dan kini wanita itu sedang berada di atas tubuhnya.

"Aku serius, Tuan..." Hinata masih bersikeras. "Aku tidak berbohong. Kau harus menolongku..."

Mereka sangat dekat. Bahkan Sasuke dapat melihat kedua mata beriris lavender itu menatapnya penuh harap, lalu bibir kecilnya terus bergerak untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi kepadanya. Sasuke ingin menjauhkan wanita itu darinya. Sadar atau tidak, Sasuke yakin mereka sudah jadi pusat tontonan orang-orang yang melewati mereka dengan kendaraan.

"Tsch, lepaskan!" Sasuke jadi murka sendiri karena Hinata memaksanya.

"Ta-Tapi... kamu harus pe-percaya padaku dulu... tidak ada lagi yang mau mempercayaiku..." Ia terus bersikukuh, tidak mau menyingkir dan tetap ingin pria ini mebantunya. Tangisan Hinata semakin kencang. Baru Sasuke sadari bahwa Hinata sudah dari tadi meneteskan air mata. Namun karena dirinya sudah terlalu kelelahan, entah kenapa Hinata jadi lemas sendiri. Tenaganya makin lama makin menghilang. "Kau... harus percaya... pa-padaku..."

Karena itu kini Hinata ambruk di atas dada bidang Sasuke.

Sasuke mengerang kesal. Didorongnya tubuh Hinata agar dia bisa bangkit. Dan baru saja ia akan berdiri, Sai sudah berada di sampingnya. Sai ternyata juga ikut keluar dari mobil. Anak itu mememegangi payung yang lain. Raut wajahnya khawatir.

"Ayah, d-dia kenapa...?"

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Di basement apartemen di mana mereka tinggal, Sasuke memarkirkan nissan hitam metaliknya dengan rapi di suatu tempat. Tanpa bicara apa-apa ia keluar, disusul Sai. Kemudian Sasuke buka pintu belakang dan mengeluarkan seorang wanita yang masih tak sadarkan diri. Mereka berjalan menuju pintu lift. Sai mengiringi Sasuke di sebelahnya.

Setelah berada di lift, berkali-kali Sasuke membenarkan posisi Hinata di gendongannya. Masalahnya tubuh mereka lagi sama-sama basah. Berat jadinya. Apalagi saat ini Hinata sedang menggunakan gaunnya yang besar. Sasuke hanya berharap tangannya tidak sakit karena masih banyak kerjaan di laptop yang harus ia selesaikan malam ini.

Ting!

Setelah berada di lantai 15, pintu lift terbuka. Sasuke dan Sai keluar. Dan setelah sampai di kamar apartemennya yang bernomor 1510, Sasuke segera merebahkan tubuh Hinata ke sofa hitam di ruang tengah. Sai langsung duduk di lantai sebelah sofa dan memperhatikan ayahnya yang sedang meregangkan badan.

"Jadi dia ini sebenarnya kenapa, Ayah?"

Pria berumur 35 tahunan itu membuka jas dan dasinya secara paksa. "Entahlah. Kemungkinan besar dia adalah orang gila."

Alis Sai mengernyit. "Kenapa Ayah menyebutnya gila?"

"Dia terus mengumamkan hal aneh..." Sasuke mendengus, merasa dirinya bodoh karena mengingat kalimat yang diutarakan Hinata. "Dia mengaku dirinya telah dilamar pangeran. Kemudian dia didorong orang dan jatuh ke sumur. Tau-tau dia ada di sini, di Tokyo. Ck, aku tidak mengerti. Dia terlalu banyak membaca dongeng."

"Itu memang tidak mungkin sih..." Sai mencoba mengutarakan pendapatnya. "Tapi bagaimana kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya? Sejak aku melihatnya tadi, dia seperti orang yang kebingungan... jadi mungkin saja—"

"Dongeng hanya ada di buku." Malas membahas, Sasuke memilih berjalan ke kamar.

"Tapi—"

Sebelum Sai melanjutkan kalimatnya, dengan cepat Sasuke mendahuluinya. "Dan dongeng adalah hal yang tak nyata. Kau mengerti, Sai? Jadi kalau kau percaya dengan wanita ini hanya karena kasihan, kebodohanmu sudah melebihi batas."

Sai terdiam, lalu lama-lama wajahnya tertunduk, tidak berniat lagi untuk membuka topik pembicaraan.

"Iya, Ayah..."

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

"APA!?"

Suara tersebut mengejutkan seluruh penghuni hutan. Bahkan burung gereja yang tadinya bertenger santai di dahan pohon pun buru-buru terbang karena dikagetkan oleh teriakan tadi. Tentu saja di karena di sana ada Naruto, sang pangeran dari kerajaan dongeng. Karena Hinata yang tak kunjung datang, malam itu Naruto mendatangi tempat tinggal Hinata di daerah hutan barat.

"DI MANA CALON ISTRIKU?" Sambil menjambak rambut jabriknya sendiri, Naruto berteriak frustasi. "Di mana dia? DI MANA DIAAAAAA?"

"Te-Tenang dulu, Pangeran Naruto..." Matsuri, sang penasihat pangeran, mencoba menenangkan.

Dengan nafas terengah Naruto melemparkan pandangan sinis ke dua peri Hinata yang menjadi juru bicara atas kekacauan ini. Mereka adalah Ino dan Deidara—kedua peri kembar yang sudah berlumur keringat dingin itu. "CEPAT JELASKAN PADAKU!"

"Ka-Kami tidak tau dia ada di mana, Pangeran. Tapi biarkan aku menjelaskannya..." Ino bercoba bercerita. "Tadinya, aku bersama Puteri Hinata berada di kereta kuda yang akan membawakan kami ke istanamu. Namun karena mengantuk, aku tertidur. Dan setelah aku terbangun, aku baru sadar Puteri Hinata sudah menghilang."

"Dari mana aku bisa percaya seluruh kata-katamu?" Naruto berdecak. "Kau bisa saja bohong!"

"Aku saksinya! Tentu saja aku tidak akan berbohong! Kusir kereta kudamu juga hilang, kan!?"

Kasihan dengan saudarinya, Deidara ikut andil menambahi kesaksian Ino. "Iya, dugaan sementara kami... dia diculik." Sekarang, barulah Naruto membeku di tempatnya. Dia shock. Deidara menelan ludah dan melanjutkan pembicaraannya. "Dan kau harus menolongnya!"

"Menolong Hinata? Aku bahkan tidak tau dia ada di mana!"

Masih dengan keterkejutannya, Naruto merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga. Seharusnya besok mereka sudah bisa mengucapkan sumpah setia pernikahan di gereja terbesar di dunia dongeng, tapi kini apa? Hinata malah menghilang. Kenapa jadinya malah seperti ini?

"Kata burung-burung yang ada di pinggir hutan, mereka sempat melihat Puteri Hinata didorong oleh seseorang ke sumur. Lalu dia menghilang..."

Penjelasan Ino membuat Naruto terbelalak. "Sumur? Sumur di tengah hutan?"

"Iya, apa kau tau sesuatu, Pangeran?"

"Itu sumur ajaib. Siapa yang jatuh ke sana akan terlempar ke dunia lain..." Naruto berdiri. "Aku harus menyusulnya. Aku harus menyelamatkan Hinata!"

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Di kawasan timur dunia dongeng yang gelap, kastil hitam berdiri megah dan sanalah ia berada. Sibuk dengan cermin ajaibnya yang selalu berkata apa yang tidak ia ingin dengar. Itu tempat di mana Karin—yang adalah Ratu Penyihir—tinggal. Dan seperti biasa, penyihir tersebut sedang marah. Ia merutuki segala ucapan jujur yang keluar dari cermin ajaibnya yang baru saja mengatakan bahwa Hinata masih hidup di alam lain.

"GAARA! DI MANA KAU!?" Bentakannya terdengar ke seluruh kastil. Suaranya memantul, dan menggema ke segala arah. Dan mau tidak mau Gaara yang mendengarnya di lantai bawah pun harus menahan kesabarannya lagi dan segera menuju ke tempat Karin yang ada di lantai teratas.

Saat ini Karin sedang di puncak emosinya. Guratan-guratan kekesalan terus muncul di wajahnya, menyebabkan dia yang sebenarnya cantik itu sedikit berkurang karena adanya hal-hal tersebut.

"Aku heran kenapa Yang Mulia Ratu perlu marah sampai sebegininya." Cermin yang membentuk sebuah wajah itu tersenyum, tapi tak lama kemudian cermin datar itu langsung dihantamkan oleh sebuah pukulan dari wanita berkacamata kotak itu.

"DIAM! Aku tidak menyuruhmu untuk berbicara!"

"Tapi apa yang kusampaikan itu benar Yang Mulia Ratu, lagi pula kasihan jika Puteri cantik seperti Hinata memiliki umur yang pendek."

"DIAM! DIAM! DIAAAM!" Kali ini dia pukuli cermin ajaib tersebut—walaupun ia tau kaca yang terpasang di sana tidak akan bisa pecah. Karena kesal, akhirnya Karin pun melepaskan cermin tadi, dan menelungkupkan wajah cermin itu ke lantai dan menginjak-injaknya.

"Cermin ajaib sialan! Kau hanya bisa membuatku marah!"

Di belakang Karin, Gaara sudah muncul dari lubang portalnya. Dipandanginya sang ratu seenaknya itu dengan tatapan datar sampai akhirnya Karin menyadari kedatangan Gaara di ruangannya. Menggunakan sorot pandangan yang tajam, ia mendekati si rambut merah dan menusukan tongkat sihirnya tepat di leher Gaara. Memaksanya agar Gaara mengadah.

"Gaara, ke mana kau membawanya?"

Gaara terdiam, dan tetap menatap kedua mata Karin tanpa takut.

Tidak mendapatkan jawaban, segeralah Karin meneruskan kalimatnya. "Dia masih hidup, sialan!"

"Ya, masih hidup, tapi dia sudah kubuang ke dunia lain. Kau puas?"

Sambil berdecak, Karin mundur selangkah, tidak lagi di posisi mengancam Gaara dengan tongkatnya. Lagi pula, pria itu pun tampaknya sama sekali tidak takut pada Karin. "Aku tidak puas! Yang kuminta itu kau membunuh Hinata! Bukan mengasingkannya!"

"Dia tidak mempunyai keluarga atau pun teman di sana..." Gaara mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Hinata-mu akan mati perlahan-lahan."

"Kalau dia tidak mati?"

Iris jade Gaara langsung menemui mata Karin. "Aku yang akan turun ke dunia sana untuk langsung membunuhnya."

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Kembali lagi ke apartemen milik keluarga Uchiha. Setelah Sasuke meletakkan Hinata yang masih basah kuyub ke atas sofa, ia mencoba untuk tidak mau lagi peduli dengan wanita itu, dan langsung meninggalkannya ke dalam kamar agar dapat berganti baju. Ia biarkan Sai yang mengurusinya. Peduli setan. Toh, Sai yang membawanya ke sini—bukan dia.

Namun tidak seperti ayahnya, Sai sama sekali tak keberatan ada Hinata di rumah ini. Dia malah merawat wanita asing itu dengan penuh kasih sayang. Dia pandangi wajah Hinata yang pucat, dan juga tubuhnya yang gemetaran karena kedinginan. Dengan panik Sai langsung menyelimuti Hinata menggunakan selimut miliknya yang ia ambil di lemari. Sama sekali tak sungkan jika kain tersebut basah. Lalu karena tidak tau lagi harus berbuat apa, Sai memilih untuk merebus air panas untuk membuat kompres hangat.

"Uh..."

Lirihan Hinata keluar saat Sai sibuk di dapur. Buru-buru Sai mendekat lagi, melihat keadaannya.

"Uhmm..." Hinata bergumam, air mata wanita itu sudah mengalir dari kedua matanya yang terpejam. Pipinya memerah. Ia seperti sedang mengalami mimpi buruk. "Ahh, hiks..."

Menyerah karena pengetahuannya yang minim, Sai berlari ke kamar ayahnya. "Ayah..." Sasuke yang tadinya sempat memejamkan matanya yang lelah di atas kasur itu sedikit terbangun. Panggilan Sai membuat Sasuke yang sudah berganti baju menoleh ke arahnya. "Hn?"

"Dia kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Wanita itu menggumam terus... aku takut dia kenapa-napa."

"Aku tidak tau. Abaikan saja."

Sai menarik-narik lengan pakaian Sasuke. Mau tidak mau duda satu anak itu membuka kelopak matanya yang berat lalu menoleh ke arah Sai. "Apa lagi?"

Sai pun memasang tampang memelasnya. "Ayah, coba lihat keadaannya dulu. Pastikan saja kalau dia baik-baik saja. Aku cemas..."

Sasuke mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan, dan berakhir dengan menyisir poninya ke belakang. Ia coba bangkit dari kasur. "Memangnya dia kenapa?"

"Dia sepertinya sakit. Tapi aku tidak mengerti juga. Eh, apa mungkin karena pakaiannya basah, ya?"

"Hn... bajunya harus diganti." Sasuke memperhatikan Hinata dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Tapi kemudian ia teringat sesuatu; kan dirinya laki-laki, dan Sai juga laki-laki. Lalu siapa yang bisa mengganti pakaian Hinata?

Sasuke sempat berniat keluar dan mengetuk tetangga. Siapa tau ada yang bisa membantunya. Tapi mengingat bahwa ini sudah malam, dan Sasuke adalah pria anti-sosial yang kurang sering bergaul dengan tetangga, dengan kesal ia mengurungkan niatnya. Ia kembali mengamati Sai yang kini sibuk mengeringkan rambut indigo panjang Hinata menggunakan handuk kering.

Disuruhnya Sai menghentikan kegiatan tersebut, karena Sasuke langsung mengambil tubuh Hinata ke gendongannya. "Sai, kau bisa mengganti pakaiannya?" Sasuke bertanya sembari membopong tubuh Hinata ke kamar mandi milik Sai—di apartemen ini kamar mandi ada dua, milik Sai dan milik Sasuke.

Sai pun memiringkan wajah, bingung. "Bisa, tapi aku tidak mengerti pakaian perempuan. Kenapa tidak Ayah saja?"

"Aku tidak bisa." Sasuke menjawab cepat. Ia tidak mau dianggap sebagai pria dewasa yang hobi memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Karenanya setelah ia menaruh Hinata ke bath tub kamar mandi yang kering, Sasuke berjalan ke kamar untuk mengambilkan pakaian yang bisa Hinata kenakan. Kemeja yang menurutnya paling sempit.

"Pakaikan dia bajuku saja."

Sai menerimanya dan mengangguk. "Baiklah..."

. . .

Setelah kembali ke kamarnya, Sasuke lagi-lagi menyerahkan segala urusan wanita asing itu ke anaknya. Dia baru ingat kalau ia masih ada kerjaan. Sasuke berjalan ke meja kerja dan menyalakan laptopnya di sana. Sambil menunggu proses loading PC, Sasuke menghela nafas panjang. Ia sentuh keningnya yang sedikit berdenyut. Rasanya ia menyesal telah membawa Hinata ke sini. Kenapa dia tidak langsung membawanya ke polisi, atau mungkin ke psikiater saja tadi?

Tak lama kemudian, Sasuke membuka mata lalu mencoba untuk kembali fokus pada laptopnya yang sudah menyala. Tapi baru saja ia mengeklik sekali sesuatu dokumen di file-nya, tiba-tiba Sai memanggilnya—lagi.

"A-Ayah..."

"Hn?"

"Bagaimana cara melepaskan ini?" Terdengar suara Sai dari kejauhan. Pasti dia masih kerepotan menggantikan baju Hinata.

Karena pintu kamarnya terbuka, Sasuke sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar sampai kamar mandi. "Biasanya gaun ada ristleting di bagian punggung. Cukup tarik ke bawah."

Sai bergumam sebentar, tampak ragu untuk menjelaskannya. "Bukan, maksudku... sesuatu yang ada di dalam gaunnya. Kaitan di punggung..."

Mendengar hal tersebut, Sasuke terdiam. Jangan bilang apa yang Sai maksud tadi adalah... bra?

"Di sana ada pengaitnya, kau tinggal membuka bagian itu."

"Di mana?"

"Di belakang..."

"Tapi ini susah." Tak terdengar suara lagi. Lalu muncul. "Ayah, aku benar-benar tidak bisa..."

Sasuke berdesis kesal, mengumpat pikirannya yang sempat pergi ke alam lain. Akhirnya ia bangkit untuk menghampiri Sai yang masih berada di kamar mandi. Sepertinya hari ini Sasuke memang sedang diuji oleh Tuhan.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Ugh, aku tau ini update-annya tetep lama. Habisnya mau bagaimana lagi? Kapasitas kemampuan ngetikku memang kecil sih...

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

aku sukaaaaaaaa, L, Chappy Siegrain direjek loginnya trusditabraktrukdigilasStumdi, Hyou Hyouichiffer, sasuhina lovers, Mine, Hitayo Mangetsu, D. n, Laguna Stream, yuuaja, sasuhina-caem, ayumi kido, Amenyx, Laguna Stream, harunaru chan muach, babyblue, Mamoka, Classico Blu, sabaku no ligaara, Lollytha-chan, lavender hime chan, yuki-hime hikaru, Kertas Biru, IndigOnyx, Hinata eguci-chan, suka snsd, Ulva-chan, Pablo Hirunata, Inolana WillowShimmer, narusaku20, kiriko mahaera, molly, Citrus, Guest, Akeboshi.

.

.

Pojok Balas Review :

Ini ceritanya bakalan kayak Enchanted, kan? Awalnya iya, tapi makin ke sana pasti sedikit kubelok-belokin supaya ngga terlalu sama. Deskripnya emang banyak, tapi mudah dimengerti. Terimakasihh. Sai anaknya Sasuke? Iya. Nanti Naruto sama Sakura, dan Gaara sama Matsuri aja. Matsuri kayaknya udah jarang kelihatan lagi. Sasuke nanti jangan punya pacar, ya? :) I'll Be Waiting For You kapan update? Sedikit lagi. Fict ini bagus tapi kamu bener-bener menirunya. Lebih baik fict ini dihapus. Benarkah? Bagaimana Anda tau aku benar-benar menirunya padahal aku baru menulis 1 chap? Oke, aku tau chap kedua ini masih tetap sama. Tapi aku sudah membuat draft untuk beberapa chapter ke depan yang lumayan berbeda jauh dari Enchantednya sendiri. Well, tetap terima kasih banyak untuk kritiknya :) Ini sepertinya terinspirasi dari film Walt Disney. Kalau saya benar, tolong cantumkan di fict kamu. Hm, sebenarnya aku sudah menulisnya tiga kali; satu di summary, satu di dekat warning, dan satu di A/N akhir. Jadi benar ya ini endingnya SasuHina? Iya. Fict ini sepertinya akan panjang. Hmm... sepertinya sih. Siapa istri Sasuke yang dulu? Entah, liat aja nanti :) Banyakin scene GaaHina-nya, ya? Oke, tapi sekarang SasuHina dulu, yaa. Sikap Hinata masih kurang ceria. Kalo Hinata terlalu ceria nanti jadi kayak Sakura. Aku ingin buat Hinata di sini lembut dan ramah aja :D Naruto-nya manis, dia lebih mending dibandingin pangerang Edward (Enchanted). Wkwk, makasihh. SasuHina-nya jadiin semi-M. Mana bisa :') Aku harap ini beda 55% dari Enchanted. Iyap, akan kuusahakan :)d Apa karena Hinata mirip sama Istri Sasuke yang dulu jadi Sai pengen nolong dia? :) Fict SasuHina pertama yang bikin aku tertarik. Terimakasihh. Sai di sini cewek atau cowok? Cowok dong. Nanti ada scene Hinata nyanyi, ngga? Kayaknya ngga.

.

.

Next Chap :

"Dia... benar-benar seperti Puteri..."

"Dan kalau seandainya wanita itu sudah sadar dari pingsannya... apa yang akan Ayah lakukan?"

"Memberikannya ke orang yang mencarinya. Mungkin polisi."

"Aku ingin punya seorang ibu."

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU