Previous Chap :
Mendengar hal tersebut, Sasuke terdiam. Jangan bilang apa yang Sai maksud tadi adalah... bra?
"Di sana ada pengaitnya, kau tinggal membuka bagian itu."
"Di mana?"
"Di belakang..."
"Tapi ini susah." Tak terdengar suara lagi. Lalu muncul. "Ayah, aku benar-benar tidak bisa..."
Sasuke berdesis kesal, mengumpat pikirannya yang sempat pergi ke alam lain. Akhirnya ia bangkit untuk menghampiri Sai yang masih berada di kamar mandi. Sepertinya hari ini Sasuke memang sedang diuji oleh Tuhan.
.
.
Malam itu Sai terbaring di atas kasur kamarnya yang empuk. Tapi bukannya tertidur, ia malah terus terjaga sepanjang malam. Sering kali ia memejamkan kedua matanya erat-erat, mencoba sebisanya untuk tidur. Tapi belum sampai dua detik, kesadaran Sai sudah kembali pulih. Saat ia ulang kegiatan tadi agar dapat tertidur lelap, hasilnya tetap tidak berhasil.
Sai tidak bisa tertidur. Mungkin itu semua karena ia masih mencemaskan seseorang. Siapa lagi kalau bukan wanita asing yang berada di sofa ruang tengahnya?
Sai mengusap matanya sembari bangkit dari tempat tidur. Dibukanya gorden, lalu dilihatnya tetesan air hujan yang membasahi permukaan luar gedung apartemen. Hujan malam ini deras sekali. Pasti Hinata kedinginan...
Tidak tahan dengan rasa cemasnya yang semakin membesar, Sai keluar kamar. Dihampirinya Hinata di sofa. Wanita itu masih terlelap dengan kemeja longgar berwarna abu yang telah dipakaian Sasuke kepadanya—pada saat beberapa jam yang lalu.
Berhubung telah mengetahui keadaan Hinata, awalnya Sai ingin balik ke ruangannya, siapa tau dia bisa tidur setelah tau Hinata tak kenapa-napa. Namun Uchiha kecil itu menahan langkahnya ketika melihat kedua tangan Hinata yang memeluk dirinya sendiri.
Sai mendesah cemas. Ini pasti karena ayahnya tidak memperbolehkan Hinata tidur di kamarnya. Akhirnya wanita itu berakhir di sini, kedinginan. Dengan segera Sai bergegas ke kamar. Berhubung stok selimutnya cuma ada dua, ia berikan selimut terakhirnya yang tadi ia pakai ke Hinata. Ia selimuti puteri itu agar ia merasa hangat.
Setelah selesai, Sai terduduk di karpet yang berada tepat di sebelah sofa. Dia pandangi wajah Hinata. Dimulai dari bulu matanya yang lentik, kulit yang halus dan bibir tipisnya yang sedikit pucat. Sai menghela nafas sambil tersenyum manis.
"Dia... benar-benar seperti Puteri..."
.
.
.
HAPPILY EVER AFTER
"Happily Ever After" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Drama, Fantasy, Romance
AU, OOC, Typos, etc.
(inspired from enchanted)
.
.
THIRD. Para Penjemput
.
.
Tepat di jam enam pagi, seperti kegiatannya sehari-hari, Sai berdiri di depan cermin. Dia sudah terbalut oleh seragam sekolah khas St. Cattleya. Rambut hitamnya dia sisir rapi, lalu ia kenakan tasnya yang telah berisikan buku dan alat tulis. Tepat di jam 8.15 ia keluar kamar. Pertamanya ia melihat meja makan. Ada piring berisi sarapan yang telah disediakan oleh Sasuke. Menu hari ini ialah telur mata sapi dan beberapa sosis ayam. Wewangian makanan itu membuat Sai ingin langsung menyantapnya cepat-cepat, tapi ia sama sekali belum lupa dengan kehadiran tamu di rumah ini.
Setelah mengambil piring Sai langsung duduk di karpet sebelah sofa lagi. Ia makan sambil mengamati Hinata yang masih terlelap. Tiap kali anak itu mengunyah, pasti ia akan terus memfokuskan matanya ke wajah Hinata. Seandainya Sai sudah besar, dapat diyakini banyak yang bilang Sai sedang mengalami apa yang dinamakan jatuh cinta. Tapi sayang, karena usianya masih 9 tahun, rasanya perasaan yang dia miliki untuk gadis itu hanyalah kekaguman semata.
Sasuke yang baru saja keluar kamar—bersama dasi dan tas kerja di tangannya—melihat ke anak tunggalnya. Ia menghela nafas. Agak heran kenapa Sai bisa sebegitu perhatiannya ke Hinata. Berhubung ia sudah makan dari setengah jam yang lalu saat Sai mandi, Sasuke hanya menenggak habis kopi dan berujar.
"Sai..."
Orang yang dipanggil itu tidak menyahut, ia masih terus sibuk dengan Hinata.
"Uchiha Sai..." Sasuke mengulang panggilanya, kali ini menggunakan suara yang satu tingkat lebih keras.
"I-Iya?" Akhirnya Sai menoleh.
"Ayo berangkat. Kau sudah harus ke sekolah."
Sai mengangguk pelan dan berdiri. Setelah menaruh piring kotornya di dapur, ia langsung keluar apartemen. Tapi sebelum Sasuke menutup pintu, Sai memandangi Hinata dari kejauhan. Wajahnya memelas. "Tapi Ayah, dia belum bangun..."
"Dia tidak akan ke mana-mana."
"Baiklah..."
Kemudian Sasuke tutup pintu dan mengunci apartemennya dari luar.
Cklek.
Beberapa saat kemudian, tidak ada suara lagi yang terdengar di dalam apartemen milik keluarga Uchiha. Palingan suara yang tersisa di sana hanyalah hembusan angin yang melewati celah jendela saja. Tapi tiba-tiba saja jari tangan Hinata bergerak. Bukan cuma itu, kedua kelopak matanya pun berkedip pelan.
Butuh hitungan menit sampai akhirnya pemilik iris lavender indah itu membuka mata. Ia perhatikan plafon apartemen Sasuke yang berada di atasnya. Wanita itu terdiam di kala kedua manik matanya mulai bergerak. Dia miringkan wajah dan memandangi suasana sekitar. Susah payah terduduk, lalu meraba pakaian yang dikenakannya.
Ia tidak lagi memakai gaun tenunan Ino. Kini pakaiannya sudah menjadi kemeja longgar yang kebesaran. Dia pun tak diberi celana. Hanya celana dalam, itu pun celana dalam pria. Saking besarnya ukuran pakaian tersebut, sesaat Hinata berdiri, ia dapat merasakan kemeja itu dapat menutupi tiga per empat pahanya. Lalu pandangan Hinata menjelajah. Ditatapinya segala perabotan yang tertata di ruangan ini. Setelah beberapa detik terlewat, Hinata sadar bahwa ini bukanlah rumahnya.
"Ino...?" Panggilnya lembut, walaupun masih terdengar serak. Dia sempat berharap akan ada peri berambut pirang yang mendatanginya, tapi nyatanya tidak ada. "Dei...?"
Bersama wajah khawatir, Hinata meremas ujung kaus Sasuke yang membungkus tubuhnya. "Dei? Ino? A-Apa kalian ada di sini?"
Lagi-lagi tidak ada yang menjawab.
Entah kenapa hembusan nafas Hinata menjadi sedikit memburu. Wajahnya tertunduk dan setitik air mata menghiasi sudut kedua matanya. Ia ingin keluar dari sini. Sambil menghapus air mata yang hendak mengalir, Hinata mencari pintu keluar. Dan saat menemukannya, kenop pintunya tak bisa diputar. Dirinya terkunci. Dicarinya lagi pintu lain. Ada yang terbuka sih memang, tapi itu hanya sebatas ruang tidur dan kamar mandi—bukan jalan keluar.
Kemudian Hinata menemukan jendela. Ia buka jendela itu lebar-lebar dan memandang apa yang ada di bawahnya. Dan saat menyaksikan keadaan pagi kota metropolitan seperti Tokyo, Hinata menelan ludah. Kini di hadapannya, terpampanglah pemandangan kota asing yang sama sekali tidak dia kenali. Dimulai dari bangunan, tanah sampai ke pepohonannya.
Apa jangan-jangan ia benar-benar dibuang ke dunia ini—ke bumi?
Tapi ia pun menghela nafas, lalu menautkan kedua tangannya agar dapat mengurangi kecemasannya yang sekarang. Ia berharap, akan ada seseorang yang dapat menolongnya.
"Naruto, kamu ada di mana?"
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Di dalam mobil Sasuke, ada Sai yang duduk di sebelah kursi kemudi. Keadaan di dalam sana terasa seperti biasa—dingin dan sunyi. Sasuke fokus menyetir, sedangkan Sai hanya terdiam sembari memandangi jalan. Itulah satu-satunya kegiatan yang selalu dilakukan oleh kedua orang keturunan Uchiha tersebut.
Tapi berhubung kali ini keluarga mereka kedatangan tamu asing—Hinata. Sai jadi mempunyai banyak topik yang bisa dibahas bersama Sasuke di saat ini juga. "Ayah..." Sai melirik sekilas ke Sasuke. "Apa Ayah menyimpan makanan di rumah?"
"Tadi kau bisa lihat sendiri kan di kulkas?"
"Bukan, maksudku... makanan yang sudah jadi."
"Untuk apa?"
"Dia, wanita itu..." Dengan lirih Sai berkata, bahkan nyaris terdengar berbisik. Jujur saja, dia lumayan ragu membuka topik seperti ini. Masalahnya entah kenapa Sasuke terlihat sangat tidak suka ke Hinata. Tak ada respons Sasuke, Sai melanjutkan. "Kalau dia sudah bangun, aku takut dia kelaparan."
Sasuke berpikir sebentar.
"Jadi... apa ada makanan di rumah?"
"Tidak." Kalimat tadi langsung membuat Sai membisu. Tapi karena mengerti, Sasuke pun meneruskan. "Seperti apa katamu... dia wanita. Dan kalau dia adalah seorang wanita yang tidak tau diri, mungkin dia akan menggunakan dapur kita untuk memasak."
Akhirnya sebuah senyum tersungging di bibir Sai. "Baguslah..." Namun raut wajah milik anak kecil itu berubah lagi, menjadi khawatir. "Ayah, bagaimana kalau tiba-tiba saja dia kabur dari apartemen?"
"Aku sudah mengunci rumah."
Kedua bahu miliknya kembali rileks. Sai memang sempat takut apa bila sepulang sekolah ia tidak bertemu lagi dengan Hinata. "Oh, ya. Sesudah mengantarku... Ayah mau ke mana?"
"Pulang."
"Dan kalau seandainya wanita itu sudah sadar dari pingsannya... apa yang akan Ayah lakukan?"
"Memberikannya ke orang yang mencarinya. Mungkin polisi."
Kali ini, jawaban Sasuke membuat Sai sedikit terkejut.
"Kalau diserahkan ke polisi, itu tandanya aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya dong?"
"Iya. Itu memang sudah seharusnya."
"Tapi..." Sai sedikit menggeleng. Tatapannya berubah. Sebenarnya, ada sesuatu hal yang ingin sekali ia katakan kepada Sasuke, tapi ia sedikit sungkan. Diawali dengan menelan ludah, Sai mencoba mengeluarkan kalimat tersebut dengan tenang. "Aku ingin ada orang yang menemaniku di saat Ayah bekerja."
Sasuke menaikkan salah satu alisnya, heran—tampaknya ia tidak terlalu menganggap kalimat Sai yang tadi adalah sesuatu penting. Tanpa suara Sasuke memutar stir, menempatkan mobil yang sedang dibawanya memasuki daerah depan sekolah.
Setelah sampai dan mobil berhenti, Sai masih menghadap ke Sasuke—menunggu jawaban.
Menyadari bahwa pandangan Sai begitu memelas, Sasuke melepaskan seat belt Sai dan kemudian menjawab. "Kalau kau butuh orang yang bisa menemanimu, aku bisa membayar baby sitter untuk—"
"Aku ingin seorang ibu."
Sai menyela Sasuke dengan kalimatnya yang cukup ditekan. Anak berumur 9 tahun itu menatap ayahnya dengan pandangan serius, walaupun kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Sasuke terdiam kaku. Setelahnya, Sai langsung membuka pintu mobil agar dapat keluar.
Blam!
Ketika pintu kembali tertutup, Sasuke mengernyit. Ia luruskan pandangannya ke depan dan menyenderkan punggungnya ke kursi. Ia mendesah berat.
"Seorang... ibu?"
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Di dalam sebuah gedung yang memuat banyak orang kantoran yang sedang berkerja, terdengarlah suara deringan telfon di meja pegawai wanita berambut merah muda. Tanpa melepaskan pandangan seriusnya ke majalah fashion yang baru dia baca, ia mengangkat ganggang telfon itu ke telinganya.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?" Lalu Sakura mendengarkan suara dari seberang. "Uchiha-san, ya? Tunggu sebentar..." Ditekannya tombol penghubung jaringan telfon ke sebuah ruangan utama. Tapi tampaknya sang direktur perusahaan tidak sedang berada di ruangannya. "Maaf, Uchiha-san sedang tidak bisa dihubungi. Ada pesan yang bisa Anda tinggalkan?" Tangannya meraih pulpen ungu di meja, segera mencatat kalimat inti yang dikatakan si penelfon tadi.
"Baiklah, nanti akan disampaikan..."
Setelah menutup telfon, Sakura menghela nafas. Diregangkannya tubuhnya yang pegal karena sudah terlalu lama terduduk di bangku kerjanya. Karena iseng, dia senggol Kin Tsuchi—teman kantor di sebelahnya—yang sedang sibuk dengan ketikannya sendiri di komputer.
"Apa, Sakura?"
"Lihat ini, Kin. Ramalannya kerenn..." Sakura menunjuk ke sebuah halaman yang memuat ramalan zodiak. Kin mendekatkan kursinya untuk melihat. Tentu saja yang namanya ramalan adalah topik yang sangat digemari para perempuan, tak terkecuali Sakura dan Kin.
"Katanya, di bulan ini keperuntunganku sedang bagus. Kesehatan membaik, keuangan stabil, dan yang terpenting... akan sebuah langkah besar untuk perkembangan asrmaraku." Sakura melebarkan senyumannya. "Ah, aku sih inginnya Uchiha-san semakin baik padaku..."
Kin tertawa kecil. "Dasar bodoh, jangan terlalu berharap ke workaholic seperti Uchiha-san. Apa lagi sebelumnya ia pernah menikah dan mempunyai seorang anak."
"Tapi kan istrinya sudah meninggal. Dan Uchiha-san baru berumur 35 tahun, mana mungkin ada pria sukses yang ingin lajang terus?"
"Sudahlah, kau ini berharap terlalu besar kepadanya. Mentang-mentang kau adalah sekertaris yang sering dia andalkan untuk menjaga Sai, kau malah seperti itu..."
"Ssst, suaramu terlalu keras..." Sakura malah terkikik geli. Ia justru senang karena Kin kembali mengingatkannya kalau Sasuke 'selalu' meminta bantuan Sakura untuk mengurus anak tunggalnya. "Itu kan hanya rahasia di antara aku dan Uchiha-san—"
Trrrr...
Telfon di meja Sakura berdering. Ia segera mengangkatnya.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?"
'Haruno.'
Mendengar suara itu, dengan seketika kedua emerald milik Sakura langsung terbelalak. Sasuke, sang direktur perusahaan tempat ia berkerja ini, sedang menelfonnya. Segeralah ia mengasih isyarat ke Kin bahwa yang menelfonnya sekarang adalah Sasuke Uchiha.
"Ya, Uchiha-san?"
'Hari ini aku tidak datang ke kantor. Tunda beberapa kegiatan yang sekiranya tidak terlalu penting.' Katanya dengan nada datar.
"Baik..."
'Dan juga... apa nanti siang kau sibuk? Kalau tidak, aku butuh bantuan.'
Ia hilangkan segala keterkagetannya dengan sebuah gelengan cepat. Setelah itu, barulah ia sanggup menjawab. "I-Iya! Tentu, tentu saja! Butuh bantuan apa, Uchiha-san?"
'Nanti kau jemput Sai, lalu antarkan dia pulang ke apartemenku. Hari ini aku sedang ada urusan.'
Dalam hati, Sakura bersorak gembira. Jika ada sound effect yang terdengar di dalam hatinya, pasti semua orang yang di lantai ini sudah mendengar suara petasan—tanda ia benar-benar bahagia dengan apa yang tadi Sasuke katakan kepadanya. Tapi berhubung ia belum menjawab Sasuke, akhirnya ia mengiyakan. Dan akhirnya pria berambut raven itu menutup sambungan telfon. Setelah menaruh ganggang telfon ke tempatnya, Sakura mengarahkan posisi duduknya ke Kin. Tentu saja untuk memamerkan senyumannya.
"Mukamu menakutkan, Sakura." Kin sweatdrop.
Sambil tertawa senang Sakura memeluk Kin erat. "Uchiha-san meminta bantuan kepadaku loh~!" Ia menjerit histeris. "Dan kali ini ia memintaku untuk mengantar Sai ke apartemennya! Ah, itu berarti aku bisa melihat di mana tempat ia tinggal dong? Aaaaaa, senangnyaa~!"
Lalu setelah ber-fansgirling ria, Sakura melirik sekilas ke majalah yang baru saja ia baca. Tampaknya ramalan—yang menjelaskan kemajuan hubungan asmaranya—tadi benar. Sambil tersenyum lebar, Sakura mengambil majalah tersebut dan tersenyum lebar.
"Sudah pasti hubungan asmaraku ini bersama Uchiha-san, kan~?" Bisiknya riang ke diri sendiri. "Tidak mungkin ada yang lain, karena hanya dialah pangeranku!"
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Di suatu daerah di pusat kota Tokyo, Jepang, ada seorang pangeran dan peri yang baru saja jatuh di semak-semak taman. Orang itu adalah Naruto dan Ino. Dengan wajah bad mood pria itu berdiri dan menepuk-nepuk debu yang ada di pakaiannya.
"Oke, elit sekali cara seorang pangeran datang ke bumi! Dasar sumur sialan!"
Ino, peri berukuran kecil itu hanya menghela nafas berat. Ia pandangi pangeran pirang itu dengan wajah bete. Pasalnya, ya karena dia lah mereka bisa jatuh ke bumi. Jadi ceritanya beberapa prajurit kerajaan bersama pangeran sedang mencari keadaan sumur ajaib yang berada di tengah hutan. Peri-peri dan hewan juga ikut membantu. Dan ketika Ino menemukan sumur itu untuk memberitahukannya ke pangeran, bukannya berpikir atau membuat rencana terlebih dulu, pangeran yang terkenal karena sifat cerobohnya ini malah masuk ke sumur tanpa basa-basi. Mau tidak mau Ino pun ikut masuk ke sana lantaran tak boleh membiarkan pangeran pergi sendiri.
Ah, nasib. Jadilah mereka berdua di sini. Ke dunia bumi tanpa bilang dulu ke siapa-siapa. Pasti sekarang mereka yang dicari-cari.
"HINATAAAA!"
Ino melirik Naruto yang nyatanya sudah berjalan sambil teriak-teriak.
"HINATA! KAU DI MANAAAAA?"
Peri itu mengikutinya sambil menepuk muka. Tak heran kini Naruto menjadi pusat perhatian orang-orang di taman. Alasan utamanya sih ada tiga. Pertama, Naruto adalah pria tampan. Kedua, dia memakai pakaian yang kelewat formal—baju pangeran. Dan ketiga, dia freak—gila, berisik... dan apalagi?
Naruto sebenarnya sadar dia telah diperhatikan oleh seluruh anak-anak, ibu, bapak, ataupun kakek dan nenek yang ada di taman dengan pandangan heran. Tapi ia tidak peduli. Malah bagus mereka mendengar. Siapa tau mereka bisa membantunya, kan?
"HINATAAAA! JAWAB AKU!"
Sembari menghela nafas, peri kecil itu terbang menuju Naruto dan hinggap di pundaknya. Dia tarik daun telinga sang pangeran dan berbisik di sana. "Pangeran, lebih baik jangan teriak-teriak seperti ini..."
"Memangnya kenapa?" Tanyanya dengan suara menantang. "Aku seorang pangeran. Tidak ada yang boleh memerintahku!"
Karena kau seperti orang gila!—Ingin sekali Ino menjeritkan hal itu. Tapi ia berusaha menahan diri karena wajib menjaga kesopanan di depan pria ini.
"Pangeran Naruto..."
"Apa?"
"Ini bukan dunia dongeng. Anda tak akan dianggap seorang pangeran lagi di sini..."
"Eh? Aku... bukan pangeran di sini?" Naruto mengerjap polos. Ino mengangguk. Dalam hitungan detik raut wajah Naruto memelas. Jika ia punya kuping kucing, pasti kupingnya sudah turun ke bawah tanda ia sedih. Lalu dengan gerak lambat ia duduk di bangku taman. Terdiam. Merenung. Ino jadi merasa bersalah.
"Emm, jangan murung, Pangeran. Kita kan harus mencari Puteri Hinata."
"Ah, iya! Kau benar!" Naruto dengan seketika kembali semangat. "Ayo, Peri! Kita pergi mencarinya! Tapi ke mana!?"
Ino sweatdrop sesaat. Tapi tak apalah.
"Dari hidungku sih..." Peri cantik itu mencoba mengendus udara. "Dia sepertinya ada di sebuah gedung. Ah, di gedung sana!" Ino menunjuk sebuah apartemen. Naruto mengangguk dan langsung berlari. "E-Eh, tunggu, Pangeran!"
Dan jauh dari mereka berdua, sudah ada seorang pria berjubah hitam yang berdiri tegak memperhatikan mereka. Kupluknya ditarik ke belakang dan terlihatlah wajah seorang Gaara, penyihir ilmu hitam. Dengan tampang sinis ia perhatikan Naruto dan peri kecil itu yang kini berlari menjauh.
"Sial, karena mereka ke sini aku juga disuruh ikut ke sini." Geramnya, kesal.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Hai #ditimpukbaskom. Sudah berapa lama aku ngga nge-update fict ini? Heheh. Gomen, yaa. Aku emang suka lama kalo ngetik. Maaf juga kalo lagi-lagi SasuHina-nya belom kerasa. Tapi tenang aja, chap depan udah ada interaksi SasuHina-nya kok. Semoga masih ada readers yang mau menunggu... :)
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Guest, Minji-d'BlackJack, Mauree-Azure, Sabaku no Ligaara, Guest, Lollytha-chan, suka snsd, Hyou Hyouichiffer, ulva-chan, Chaos Seth, Sora Bee, Guest, rin, Guest, Funko unko-chan, Guest, Guest, Lavender hime chan, Daiyaki Aoi, Kertas Biru, Guest, Uchiha 'Phyta' No Aka Suna, Tatsu Hashiru Katsu, OraRi HinaRa, Angin malam, Mont Fleuri, Mikaniku94, asdfghjkl.
.
.
Pojok Balas Review :
Semakin seruu. Terima kasihh. Aku suka penulisanmu. Terima kasih banyak. Update IBWFY dong. Akan diusahakan. Chap 3 SasuHina-nya mesti ada semi-M-nya, yaa. Haha, sayangnya ngga adaa. Memangnya Gaara bakalan turun juga, ya? Iyaa. Sasuke memangnya ngga berminat mencari ibu baru, ya? Kasihan Sai. Tau tuh, dasar Sasuke. Handycam kapan update? Udah complete hehe. Gomen endingnya mengecewakan. Kok di chap 2 Sasuke nyuruh Sai ngegantiin baju Hinata? Karena Sasuke menghindari sesuatu. Apa Sasuke ngeliat daleman Hinata? Mau tidak mau harus liat. Apa nanti Naruto akan bersikap konyol? Haha, sepertinya. Lega Sasuke ngga punya pacar. Iya, tapi Sakura main juga loh di sini. NHL kelompok yang menyedihkan di FNI. Aku merasa diriku tidak menyedihkan kok :) Di sini Karin itu ibunya Naruto, ya? Bukann. Lain lagi. Kalo Naruto itu pangeran di kerajaan dongeng, sedangkan Karin itu ratu di kastil penyihir. Apa nanti ada scene Hinata menyanyi seperti di film Enchanted? Nggaa.
.
.
Next Chap :
"Sai-kun, aku Sakura. Masih ingat, kan?"
"Tsch, peri itu sedikit berbahaya."
"Dengar... aku pria, dan kau wanita. Tentu saja itu tidak boleh."
"KYAAAAAAAAAAAA!"
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
