Previous Chap :
"Dari hidungku sih..." Peri cantik itu mencoba mengendus udara. "Dia sepertinya ada di sebuah gedung. Ah, di gedung sana!" Ino menunjuk sebuah apartemen. Naruto mengangguk dan langsung berlari. "E-Eh, tunggu, Pangeran!"
Dan jauh dari mereka berdua, sudah ada seorang pria berjubah hitam yang berdiri tegak memperhatikan mereka. Kupluknya ditarik ke belakang dan terlihatlah wajah seorang Gaara, penyihir ilmu hitam. Dengan tampang sinis ia perhatikan Naruto dan peri kecil itu yang kini berlari menjauh.
"Sial, karena mereka ke sini aku juga disuruh ikut ke sini." Geramnya, kesal.
.
.
Sesudah mengantar Sai ke sekolah, Sasuke pulang dulu ke apartemen untuk bersantai dan membereskan sisa-sisa perkerjaannya yang belum rampung. Karena itu tepat di pukul 09.00 Sasuke telah memarkirkan mobilnya ke basement. Ia mengunci pintu mobil dan segera memasuki apartemen. Ia gesekan ID card ke lift, dan secara otomatis benda itu segera membawanya ke lantai di mana kamarnya berada. Sesampainya di depan kamar apartemen, tangan Sasuke bertahan di kenop pintu tanpa bergerak. Ia terdiam. Baru ingat bahwa ia baru saja meninggalkan Hinata di dalam sana. Dan wanita tersebut bukanlah teman, sepupu, istri atau kerabatnya. Hanya orang asing.
Menyadari hal itu, Sasuke menghela nafas. Seharusnya ia tidak meninggalkannya sendirian. Bukan—Sasuke bukannya sedang mengkhawatirkan keadaaan wanita tersebut. Sasuke malah berharap agar gadis itu tidak merusak ataupun mencuri barang-barang miliknya. Negative thinking? Mungkin iya. Semuanya wajar—akhir-akhir ini kan memang banyak modus penipuan yang bervariasi. Jadi tak salah juga Sasuke menaruh curiga kepadanya.
Sembari menghembuskan nafas, pria dewasa itu memasukan kunci ke dalam lubang pintu. Setelah terbuka, suasana yang terlihat di depannya adalah... ruang tamu yang sepi dan kosong.
Hinata? Dia menghilang.
Sasuke mengernyit. Seingatnya, sewaktu ia pergi wanita itu masih tertidur di sofa. Tapi yang sekarang ia temui hanyalah selimut kusut saja, tak ada Hinata. Bingung, Sasuke pun segera mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia perhatikan segala perabotan rumah yang masih rapi—nyaris tak berubah sejak ia meninggalkan ruangan ini.
Hanya saja, ada pintu-pintu kamar dan juga jendela ruang tengah yang terbuka lebar. Tanpa berpikir lagi, Sasuke langsung mencari Hinata di setiap sudut apartemennya. Namun hasilnya nihil, gadis itu tidak dapat ditemukan. Sasuke berdecak dan berpikir. Sampai tiba-tiba saja ia mendapati pintu di kamar pribadinya yang sedikit terbuka lebar. Itu adalah pintu yang akan menghubungkan kamar ini dengan balkon.
Dan ketika ia memasuki balkon kamar, angin sejuk dari luar menyapa, mengayunkan helaian-helaian dongkernya. Pria itu sedikit menyipitkan mata ketika mendapati sinar matahari yang cukup terik. Dan ketika matanya sudah bisa beradaptasi dengan cahaya, ia melihat lurus, tepat ke seorang wanita berkemeja longgar yang sedang membelakanginya. Sasuke terheran. Apa yang sedang ia lakukan?
"Hei, kau..."
Hinata menoleh. Tubuhnya menyamping dan terlihatlah bahwa ia sedang memegang watering can—alat penyiram. Sepertinya wanita berumur 24 tahunan itu sedang memberikan air segar ke taman kecilnya di daerah balkon. Awalnya raut wajah Hinata seperti kebingungan. Tapi lama-lama ia tersenyum.
"Ah, kamu... Tuan yang kemarin." Ucapnya, ramah. "Okaeri."
.
.
.
HAPPILY EVER AFTER
"Happily Ever After" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
(inspired from enchanted)
.
.
FOURTH. Siapa Wanita Asing Itu?
.
.
Usai menutup semua pintu dan jendela yang sebelumnya terbuka, Sasuke menyalakan AC ruang tengah. Setelah merasakan ada yang menyebarkan udara dingin ke sekitar, ia duduk di sofa. Di sebelah Hinata mengikutinya. Wanita tersebut memandangi Sasuke dengan senyum di bibir merahnya. Pandangan dari mata bulatnya seolah bercahaya, ia sedang senang. Berbeda dari kondisi Sasuke yang lagi pusing-pusingnya.
"Sekarang... apa bisa kita mulai?"
"Mulai apa?" Hinata memiringkan wajah, bingung.
"Penjelasan tentang siapa dirimu dan juga kenapa kau bisa kehujanan seperti kemarin." Sasuke berkata. Nadanya datar. "Sekarang, katakan siapa namamu..."
"Oh, iya... aku Hinata." Habis itu Hinata diam.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Alasannya mana?" Sasuke memejamkan mata. Tampaknya butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi wanita yang susah berpikir cepat itu.
"A-Alasan kenapa aku bisa terdampar ke sini, ya?" Tanyanya. Ia baru sadar kalau Sasuke sinis kepadanya. Dia jadi gugup seketika. "Ta-Tapi Tuan pasti tidak akan percaya. Soalnya... kemarin aku pernah bilang—sewaktu Tuan menghampiriku di tengah hujan—tapi Tuan malah menganggapku bohong, kan?"
"Ya, memang." Jawabnya tak acuh. "Aku butuh alasan yang lebih masuk akal."
"Tapi... aku tidak mengada-ada. A-Aku terlempar dari dunia dongeng, sehingga aku berakhir ke bumi, ke kota yang sama sekali tak kukenal ini."
Mendengar cerita aneh itu lagi, Sasuke menghela nafasnya panjang-panjang. Bisa gawat kalau wanita itu menjelaskan hal seperti tadi ke polisi—karena niat awal Sasuke memang ingin menyerahkannya ke polisi. Tapi apa dia harus menyerahkan Hinata ke psikiater dulu?
Sasuke memejamkan mata. "Terserahlah. Aku tidak peduli. Sekarang, katakan di mana tempat tinggalmu? Akan kuantarkan."
"Dunia dongeng."
"Tsch, aku serius. Jangan main-main."
"T-Tuh, kan? Tuan pasti tidak mempercayaiku..." Iris lavender Hinata menatap onyx Sasuke dengan pandangan yang berkaca-kaca.
Lelah dengan pembicaraan bodoh ini, Sasuke pun berdiri. Kedua kakinya membawa pria itu ke dapur yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Ia mau minum. Hinata yang ditinggal di ruang tengah menggigit bibir bawahnya.
Apakah ada cara lain untuk membuat Sasuke percaya kepadanya?
Setelah berpikir selama beberapa detik, Hinata memejamkan mata. Dia sedang bingung. Seandainya ada Ino dan Deidara—peri kesayangannya—mungkin situasinya tidak akan terlihat sulit seperti ini. Hinata mendesah pelan. Dilihatnya kedua tangannya sendiri yang kadang meremas kain kemeja yang saat ini ia kenakan. Segeralah sebuah pertanyaan menghampiri kepala Hinata.
"Tuan...?"
"Hn?"
"Ini... baju siapa?"
Masih dengan menggengam gelas, Sasuke melirik Hinata. "Aku."
"Ini baju Tuan?"
"Ya."
Hinata mengerjap pelan. Ia berdiri dan memperlihatkan bahwa kemeja itu mampu menutupi setengah pahanya. Ia tertawa kecil dan menoleh lagi ke Sasuke. "Baju Tuan... mirip gaun, ya?" Tentu saja Hinata menyebut kemeja tadi adalah gaun. Wajar—selain ukuran kemeja Sasuke terlalu besar baginya, Hinata juga tidak pernah mengenakan pakaian laki-laki.
"Bukan." Sasuke menggeleng singkat. "Itu hanya kebesaran."
Hinata ber-ohh pelan. Dia lirik Sasuke yang kini bersandar di dinding dapur, segeralah ia berdiri dan mendatangi Sasuke. Sasuke mengamati Hinata. Ia terheran. Untuk apa Hinata mendekatinya?
Lalu setelah wanita berwajah polos itu berada di hadapannya, mereka berdua terdiam dan saling berpandangan. Tiba-tiba saja, salah satu tangan Hinata terulur. Ia menempelkan telapak tangannya di dada Sasuke. Pria raven tersebut sedikit tersentak.
"Lalu kenapa pakaian Tuan yang ini bisa pas di tubuh Tuan?" Hinata mengadah sekaligus bertanya.
Di saat itulah, Sasuke merasakan dirinya dengan Hinata sangat dekat. Wanita ini terbilang mungil—tidak tinggi dan hanya sebatas lehernya. Dan saat wanita itu mengadah, dapat Sasuke lihat mata amethyst Hinata yang bulat. Dia sedikit terpana dengan tatapan inosen tersebut. Pria itu menahan nafas. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar.
Memalingkan wajah, Sasuke menurunkan pandangannya. Namun ia malah memperhatikan sebuah pemandangan yang seharusnya tak ia lihat. Kancing kemeja Hinata yang belum sepenuhnya terkait membuat pundak dan belahan dada putih wanita itu menjdi terekspos di matanya. Sasuke meringis pelan. Ingin membenarkan kerah Hinata, tapi dirinya tak sanggup. Lebih baik ia dorong pelan Hinata untuk menghindarinya.
"Tuan? Tuan mau ke mana?"
"Mau menelfon jasa cleaning service." Tak ada pikiran lain di benak Sasuke.
"Tapi aku bisa bersih-bersih kok, Tuan..."
"Jangan panggil aku dengan sebuan Tuan." Selanya. "Cukup Sasuke."
"Eh?"
Sasuke menatapnya lurus-lurus. "Panggil aku Sasuke."
"Ng... ka-kalau begitu... Sa-Sasuke. Sasuke..." Dengan kedua mata yang mengarah ke lantai, Hinata mengeja nama Sasuke berkali-kali.
Lalu Hinata kembali melihat Sasuke yang meletakkan ponselnya ke telinga. Hinata memang tidak tau apa fungsi dari benda kecil yang Sasuke gunakan itu, tapi segeralah Hinata menghampirinya lagi dengan senyuman lebar.
"Tidak perlu memanggil jasa cleaning service, Sasuke. Aku juga bisa bersih-bersih..."
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Ketika matahari siang berada di posisi tertingginya, itulah waktunya sekolah St. Cattleya dibubarkan seperti biasa. Sai, si anak kecil berambut hitam, segera berjalan keluar kelas dan duduk di bangku tempat ia terbiasa menunggu ayahnya. Sambil membaca buku catatan matematikanya, Sai terdiam. Lebih baik ia belajar dibandingkan melamun. Iya, kan?
"Ibu! Lihat apa yang kubuat di kelas prakaryaa! Lucu, ya!"
Suara anak kelas 1 SD yang baru dijemput ibunya membuyarkan lamunan Sai. Pertamanya ia pandangi orangtua-anak itu sampai mereka hilang di ujung jalan. Matanya berpendar kemudian Sai langsung mencubit pipinya sendiri, ia tak boleh mengamati interaksi keluarga lain seperti itu kalau ia tak mau bersedih.
Tin!
Bertepatan dengan itu, muncullah sebuah mobil merah yang lumayan familliar di matanya. Jendela terdepannya diturunkan dan terlihatlah Sakura yang tersenyum. "Sai-kun, aku Sakura Haruno. Masih ingat, kan?"
"Haruno-san...?" Sai mengernyitkan matanya sebentar, tanda ia berpikir. Dan ketika ia melihat pakaian yang tengah digunakan Sakura, ia mencoba menjawab.
"Kalau tidak salah... kau asisten ayah di kantor, ya?"
"Benar sekalii. Ayo pulang bersamaku, ayahmu lagi tidak bisa menjemput..."
Sai mengangguk dan duduk di bangku sebelah Sakura. "Sai-kun, kenapa wajahmu lesu? Lagi capek, ya?"
Sai melirik ke samping, tepat ke Sakura yang sedang menyetir. Ia menggeleng. "Tidak. Tidak apa..."
"Hehe, kupikir Sai-kun jadi lesu karena dijemput olehku..." Kata Sakura. Dia pun memutar stir. Mobil sedan berwarna merah yang sedang Sakura kendarai itu berbelok. "Sekolah sama rumahmu dekat kok. Jadi kalau sudah pulang, langsung tidur saja ya biar isi tenaga?"
"Mm..." Sai menjawab singkat. Dalam hati Sakura mengaduh. Padahal ia ingin Sai lebih responsif dalam menjawab kalimatnya. Kan siapa tau kalau mereka berdua akrab, Sai bisa curhat tentang kebaikan Sakura Haruno ke ayahnya. Yah, itu inginnya Sakura sih. Tapi apa boleh buat kalau anak ini sama seperti ayahnya? Sama-sama pendiam?
Setelah menit demi menit dilewati oleh keheningan, Sakura memarkirkan mobilnya. "Nah, sampai..."
Sai langsung melepaskan seat belt dan turun dari mobil. Sambil menunggu Sakura yang lagi mematikan mesin mobil, Sai memutar tubuhnya dan menatap lurus ke ujung basement. Di parkiran di ujung sana, terdapat seorang pria asing berambut pirang jabrik. Pakaian formal ala pangerannya sangat mencolok dan pandangan dari mata sapphire-nya terus mengarah ke Sai.
Diam-diam Sai menelan ludah. Ia takut. Apalagi saat Naruto berjalan mengarah ke tempat mereka. Ia berlari ke arah Sakura dan menarik-narik kain roknya. "Haruno-san, ada orang menyeramkan di sana..." Adunya. Sakura melihat ke Naruto—sesuai tunjukkan Sai. Tapi ia tak begitu menghiraukan.
"Tenang aja, Sai-kun, paling dia cuma cosplayer biasa."
Bersamaan dengan itu Sakura menutup pintu mobil. Ia melihat Sai yang kali ini sudah memeluk pinggangnya. Sakura mengernyit dan memutar tubuhnya. Dan benar saja, pria jabrik yang Sai anggap aneh itu kini sudah berada di hadapannya. Tepat di depan wajahnya. Sakura sampai menjerit dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil menarik Sai. "K-Kau! A-Apa-apaan!? Siapa kamu!?"
Naruto menatap datar Sakura. Ia menghela nafas dan kembali mendekatkan wajah. "Di mana Hinata?"
"Eh? Hinata? Kami tak mengenal siapa Hinata..."
Naruto menyipitkan mata. "Kenapa tidak kenal!? Kau seharusnya kenal! Mana Hinata!?"
Sakura kesal. Ia dorong tubuh Naruto agar pria tampan itu bisa mundur dan kemudian meneriakinya balik. "KAMI TIDAK TAU SIAPA HINATA, DASAR GILA!"
"TIDAK USAH TERIAK JUGA, YA!"
"KAU DULUAN YANG TERIAK!"
"CEWEK JELEK!"
"A-Apa katamu!?" Sakura kesal setengah mati. Dibandingkan membalas kataan Naruto dan imejnya semakin turun di mata Sai, Sakura segera menarik Sai ke lift. Naruto juga berjalan pergi keluar basement. Tapi sebelum Sai benar-benar pergi, anak kecil itu memperhatikan punggung tegap Naruto. Entah kenapa kalau di lihat-lihat, pria itu memiliki beberapa kesamaan dengan wanita asing yang saat ini ada di apartemennya.
Setelah ditinggal Sakura dan Sai, Naruto pun mencari orang lain di basement. Ternyata bukan cuma Sakura saja yang ditanyai 'di mana Hinata?' darinya, melainkan semua yang ia temui selalu ia tanyai begitu. Karena ia kesal tak mendapatkan hasil apa-apa, kadang Naruto langsung bertanya dengan seruan kencang. Dan tentu saja itu membuat ia cuma mendapatkan kalimat hinaan yang tak ada hentinya.
30 menit keliling tempat parkir, Naruto akhirnya keluar setelah ia diusir satpam apartemen. Ia segera mengadah ke atas dan melihat Ino yang baru saja turun. "Bagaimana, Pangeran?"
"Tidak ketemu. Kau?"
Ino menggeleng. Dirinya mengelap pelan keringat yang membubuhi keningnya. Lagi pula perintah pangeran yang satu ini aneh sekali. Masa dia disuruh cari Hinata lewat semua jendela yang ada di apartemen? Tak terbayang lah sebagaimana capeknya. Jelas-jelas jendela apartemen ini bisa sampai ribuan.
"Kenapa bisa tidak ketemu? Katamu bau Hinata ada di gedung ini!?"
"Aku juga yakinnya begitu, Pangeran. Mungkin kapan-kapan kita harus memeriksa kamar gedung ini satu per satu."
Sedangkan dari kejauhan, ada orang yang mencuri dengar obrolan Naruto dan Ino dari balik pohon. Orang itu adalah Gaara. Ternyata penyihir itu sudah mengamati mereka berdua, terutama Ino yang banyak memberikan informasi penting ke Naruto. Pria berjubah hitam itu menggerakan irisnya ke arah seekor peri yang kini menjelaskan ke Naruto tentang pencarian mereka yang selanjutnya. Ia pun berdecak.
"Peri itu sedikit berbahaya..."
Jangan sampai Naruto bisa membawa Hinata kembali ke negeri dongeng.
"Eh, tapi kita tunda dulu pencariannya. Aku lapar." Naruto mengusap perutnya yang rata. "Kita bisa makan di mana?"
Ino menggaruk pelipisnya. "Tapi kita kan tidak punya uang, Pangeran."
"Apa? Lalu bagaimana? Memangnya tidak ada ya yang mau memberikan makanan ke kita?"
"Mana ada, kan di bumi berbeda dengan dunia dongeng..."
Naruto cemberut. Tapi mendadak dirinya terbelalak saat ia melihat selembar uang bernominal besar—10.000 yen tulisannya—di aspal yang ia injak. Sepertinya itu uang yang tak sengaja tertiup angin. "Eh, Ino! Itu uang, kan!? Kenapa aku bisa seberuntung ini!?" Dengan semangat Naruto ingin mengambil uang tersebut, tapi angin itu berhembus dan uang itu terbang ke arah barat. Naruto pun segera mengejarnya kencang, meninggalkan Ino.
Ino hanya menghela nafas melihat pangerannya yang begitu aneh. Tapi ketika ia akan mengejar Naruto, tubuhnya seperti ditangkap oleh sebuah tangan, tangan yang menggenggamnya dengan kencang. "Eh?" Ino menoleh dan dia terbelalak lebar.
Ia melihat Gaara, penyihir dari negara dongeng yang kini sudah menyeringai tipis kepadanya. Ino mencoba lepas. Sayap kecil yang berkepak di punggungnya tak bisa digerakkan. Kaki dan tangannya ia gerakan. Dan sebelum ia berteriak, ibu jari Gaara menahan omongannya.
"Sstt..." Bisiknya. "Tak akan kubiarkan kau membantu pangeran bodoh itu menemukan Hinata."
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Sasuke menggunakan satu hari ini untuk tak ke kantor. Dan di momen yang langka itu, ia ingin sekali menghabiskan waktu di depan laptop, bekerja sampai malam menjelang. Niatnya begitu. Tapi karena tadi pagi Hinata mengajaknya untuk bersih-bersih membantunya, inilah Sasuke Uchiha yang sekarang; dia terkapar di lantai sambil menghapus buliran keringat di leher dan keningnya. Nafasnya terengah dan ia lepaskan celemek bersih-bersihnya dengan kasar.
Tenaganya habis untuk bersih-bersih selama lima jam.
Sedangkan Hinata yang baru menyelesaikan kegiatan cuci-mencucinya cuma menghela nafas lega dan mengembangkan senyum. "Makanya, supaya ngga langsung kerja banyak begini, ada baiknya kamu membersihkan rumah setiap hari, Sasuke. Miniml tidak tiga hari sekali."
"Iya, berisik." Sasuke berkomentar pedas. Segeralah ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya kini lengket. Tenaganya pun habis. Padahal ia cuma mengerjakan tiga per empat kerjaan Hinata—tidak semua. Ah, tau begini lebih baik ia menelfon jasa cleaning service. Sebelum menghilang dari ruang tengah, Sasuke memanggil Hinata. "Kau... mandilah di kamar Sai."
"Mm, baiklah..." Hinata mengangguk kecil. Dia taruh lap basah itu ke gantungan, lalu ia berjalan ke kamar mandi yang Sasuke tunjuk. Sasuke memang memperbolehkan wanita itu membersihkan diri di kamar mandi milik Sai. Dan setelah melihat Hinata memasuki kamar Sai, Sasuke juga mandi di kamarnya sendiri. Setelah bersih-bersih dan segar, Sasuke mengenakan pakaiannya sambil berpikir.
Kira-kira pakaian apa yang akan ia pinjamkan ke wanita aneh itu? Mana mungkin kan ia memberikan pakaian miliknya lagi ke Hinata?
Ah... mendadak ia teringat. Seingatnya masih ada baju mediang istrinya di sini. Sasuke menutup lemari pakaiannya, lalu menatap lurus lemari putih di sebelahnya. Ketika ia membuka lemari antik itu, wangi harum bunga yang begitu lembut menguar dari sana. Sasuke terdiam. Ia masih ingat, itu wangi istrinya, seorang wanita yang paling ia cintai yang sekarang sudah berada di sisi Tuhan. Perlahan-lahan, satu per satu kenangan manis dirinya bersama sang istri terulang di pikirannya. Tapi ia hentikan hal itu dengan cara berdecak. Jangan sampai semua itu membuatnya mood-nya terguncang kembali.
Tanpa berpikir lagi, ia ambil tiga dress rumahan dan juga pakaian dalam secara asal. Ia tutup lemari itu dan berjalan keluar. Awalnya Sasuke membawakan pakaian itu ke kamar Sai. Tapi saat melihat kamar mandi di dekat kamar itu sudah terbuka, Sasuke mengernyit. Saat ia periksa, kamar mandi tersebut kosong. Kira-kira sekarang Hinata lagi di mana?
Sasuke kemudian berkeliling dan berjalan ke ruang tamu. Tau-tau benar saja, Hinata lagi ada di sana. Dia sedang menikmati hembusan AC yang menerpa tubuhnya yang hanya dengan selembar handuk putih yang melilit tubuhnya. Leher, pundak, tangan, paha dan betisnya terlihat. Sasuke sampai tak bisa berkata-kata. Ia kejut bukan main. Kulit-kulit mulus itu secara terang-terangan menggoda pertahanan Sasuke. Ini cobaan berat.
Dalam diam Sasuke menelan ludah. Seandainya dia adalah pria yang tidak bisa menahan diri, mungkin ia akan menyerang wanita itu... sekarang juga.
"Eh, Sasuke?" Sadar diperhatikan, Hinata menoleh ke belakang. Rambut lurusnya yang masih basah bergoyang pelan. "Kebetulan, aku ingin bertanya."
"Tentang?"
"Yang ini namanya apa?" Hinata menunjuk AC yang terpajang di dinding atas.
"Angin dari AC." Sasuke menjawab. "Kenapa? Kau suka?"
Hinata mengangguk pelan.
Sasuke menghela nafas. "Lebih baik kau memakai baju." Sasuke berjalan mendekatinya dan menjejerkan beberapa pakaian istrinya ke meja. "Sekarang kau tinggal pilih..."
Sesudah meletakkan pakaian itu di atas meja, tanpa banyak bicara Sasuke langsung berjalan ke kamarnya. Sebelum Sasuke menghilang dari balik pintu, Hinata menyempatkan diri untuk berterima kasih.
Setelah Sasuke berada di dalam kamar, pria itu memejamkan matanya sesaat dan menggeram sesaat. Segeralah ia ambil ponselnya dari meja lalu menelfon nomor polisi kenalannya. Tapi saat suara deringan terdengar, Sasuke menutup sambungan cepat-cepat. Ia inginnya segera menyerahkan Hinata ke polisi agar masalah wanita tersebut bisa diurus. Tapi bagaimana dengan Sai? Dia pasti akan kecewa.
Tapi... untuk apa juga ia mempertahankan wanita asing ini di rumahnya?
Cklek.
"Sasuke?"
Suara itu sontak saja membuat Sasuke lupa untuk apa ia memegang ponsel. Ia melihat ke arah pintu yang terbuka dan menemukan Hinata yang sudah memunculkan kepalanya dari sela pintu yang barusan ia buka.
"Apa?"
"Aku sudah memakai gaunnya..."
Sasuke beranjak ke luar, memeriksa penampilan Hinata.
"Ba-Bagaimana?" Dengan malu-malu, Hinata bertanya. Dirinya terbalut gaun cantik sebatas lutut yang berwarna merah.
Sasuke terdiam selama beberapa detik. Sekilas ia melihat imej istrinya di ekspresi malu-malu milik Hinata. "Bagus..."
"Tapi aku lebih suka yang ini..." Hinata menunjukkan gaun berwarna hijau muda dengan corak bunga-bunga. Ia serahkan pakaian yang ingin ia pakai itu ke Sasuke. "Coba pegang ini sebentar, Sasuke..." Tadinya Sasuke berniat untuk tidak menanggapi lagi. Namun karena tau-tau Hinata mengangkat roknya tinggi-tinggi—sampai celana dalamnya terlihat—mau tidak mau pun Sasuke tersentak.
"Kau—kh! Hentikan!"
Hinata tersentak. Dengan wajah bertanya, ia menatap Sasuke. "I-Iya? A-Ada apa?"
Sasuke berdecih. Susah payah matanya tak terpaku pada celana dalam yang kenakannya. "Jangan gantu baju di depanku!"
Hinata mengerjapkan matanya. Tangannya masih saja memegangi roknya yang akan ia angkat. "Tapi... aku sudah biasa mengganti pakaian di depan teman-temanku."
"Siapa temanmu, hah? Hewan!?"
Hinata berpikir sebentar. Di dunia dongeng kan ia memang tidak memiliki teman yang berwujud manusia. "I-Iya sih... mereka hanya peri dan hewan."
Sasuke benar-benar menghela nafas yang teramat sangat panjang. "Dengar... aku pria, dan kau wanita. Tentu saja itu tidak boleh."
"O-Oh... be-begitu, ya?" Ia berbisik. "A-Aku mengerti."
"Yang penting, turunkan sekarang juga."
"Eh? Turunkan apa?"
"Tanganmu!"
"Ta-Tangan?"
"Iya! Cepat turunkan—!"
Cklek.
Mendengar pintu apartemen yang barusan terbuka, mendadak Sasuke langsung berbalik ke belakang, tepat ke arah kedua orang yang sudah mematung di depan apartemen. Di sana sudah ada Sakura dan Sai. Mereka berdua memasang ekspresi terkejut—tentu saja.
Sasuke benar-benar benci situasi ini. Selain karena mereka cuma berdua di apartemen, dan juga Hinata yang nyaris membuka gaunnya, pasti mereka 100% salah paham. Sedangkan Hinata hanya memasang wajah polosnya sambil pelan-pelan menurunkan rok. "Mereka siapa, Sasuke?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Hinata. Mata sayunya memandangi mereka berdua—orang yang asing baginya—dengan tatapan bingung. Sasuke mengabaikan pertanyaan Hinata, karena tatapan onyx-nya sedang memperhatikan raut shock Sakura dan juga tatapan heran dari Sai. Sampai akhirnya, Sakura berdesis.
"Wa-Wanita?" Dengan tubuh gemetar ia memundurkan langkahnya. "Gaun merah..." Ditatapinya Hinata dengan pandangan horor. "Lagi mau buka baju...?" Ia menelan ludah. "Ha-Habis itu... Uchiha-san... mengatakan... 'ce-cepat... turunkan'...? Jangan-jangan... turunkan... risleting, ya?" Sakura semakin memucat. Kalimatnya yang terbata semakin merancau.
"Dengar, aku bisa menjelaskan—" Sasuke berniat menyela, tapi suara Sakura sudah terlebih dulu menjerit histeris.
"KYAAAAAAAAAAAA!"
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Aaaaaa, gomen ne lama update. Semoga masih ada yang mau baca, yaaa! :')
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Mungkin Abstrak, Hyou Hyouichiffer, asdfghkl, AA Jebug DEPAPEPE, Lollytha-chan, sabaku no ligaara, ore, Uchiha 'Phyta' No Aka Suna, Bonbon 0330, IntisariHidup, Yuumeko Hana, OraRi HinaRa, vivi, guest.
.
.
Pojok Balas Review :
Fict ini bakalan sampe berapa chap? Entah. Kayaknya panjang, tapi lama update-annya ngga bakalan nentu. Bakalan ada semi-M-nya, ngga? Kayaknya sih ngga ada. Aku suka kelakuan Sai. Hehe, sama. Jangan bilang Sasuke mau jadiin Sakura jadi istrinya. Ngga kok. Kan fict ini agak kubedain dari Enchanted. Banyakin interaksi SasuHina-nya. Sipp. Naruto-nya lucu. Arigatouu.
.
.
Next Chap :
"Apa kau mengerti apa yang telah barusan kau perbuat?"
"Tapi kenapa sasuke melarang Sai-kun berimajinasi? Padahal cerita dongeng itu sangatlah indah dan mengagumkan..."
"Ya. Imajinatif. Fiksi. Irasional."
"Ke-Kekuatan apa itu!? Aaaaa, Hinata! Tolong aku!"
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
