Previous Chap :
"Mereka siapa, Sasuke?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Hinata. Mata sayunya memandangi mereka berdua—orang yang asing baginya—dengan tatapan bingung. Sasuke mengabaikan pertanyaan Hinata, karena tatapan onyx-nya sedang memperhatikan raut shock Sakura dan juga tatapan heran dari Sai. Sampai akhirnya, Sakura berdesis.
"Wa-Wanita?" Dengan tubuh gemetar ia memundurkan langkahnya. "Gaun merah..." Ditatapinya Hinata dengan pandangan horor. "Lagi mau buka baju...?" Ia menelan ludah. "Ha-Habis itu... Uchiha-san... mengatakan... 'ce-cepat... turunkan'...? Jangan-jangan... turunkan... ritsleting, ya?" Sakura semakin memucat. Kalimatnya yang terbata semakin merancau.
"Dengar, aku bisa menjelaskan—" Sasuke berniat menyela, tapi suara Sakura sudah terlebih dulu menjerit histeris.
"KYAAAAAAAAAAAA!"
.
.
Saat ini sudah ada empat orang yang mengisi ruang tengah apartemen Uchiha. Yang duduk di sofa personal, Sasuke. Sedangkan yang duduk berjejer di sofa panjang ialah Sai, Sakura dan Hinata. Semuanya terdiam. Sakura menunduk. Tak peduli hembusan AC mengitari udara, dahi wanita kantoran yang bernama Sakura itu masih dialiri keringat dingin.
Lama tak ada obrolan di sini, Sasuke bertanya. "Kau tidak apa, Haruno?"
Sakura menegakkan posisi duduk. "Go-Gomen ne, Uchiha-san... a-aku benar-benar tidak sadar bisa berteriak sekencang tadi." Ia meringis pelan sambil memegangi keningnya yang pening. "Sepertinya aku kena darah rendah, ja-jadi mudah kaget..."
Sasuke mengangguk kecil, tidak lagi bersuara. Di samping itu Sakura merutuk habis-habisan dirinya yang sebelumnya sempat menjerit kencang setelah memergoki bosnya sedang bersama wanita seksi di apartemen. Entahlah siapa yang bersalah di momen tersebut; Sasuke dan Hinata yang lupa mengunci pintu, atau Sakura yang memang kelewat norak. Sakura melirik sinis ke arah Hinata yang berada di sebelahnya. Matanya mengernyit sementara Hinata tersenyum padanya.
Ah, benar-benar parah. Wanita berponi rata itu manis, imut, berkulit putih mulus, dan juga... dadanya sangat berisi. Sakura menggeram dalam hati. Kalau Sakura bukan sekretaris yang sopan, mungkin dirinya akan menanyakan siapa dia dengan teriakan lantang. Setaunya kan Sasuke adalah duda satu anak yang masih lajang...
"Mm, ada yang mau minum?" Hening terlalu lama, Sai berinisiatif menawarkan sesuatu. Tapi hal itu segera menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Ah, Uchiha-san, Sai-kun, sepertinya aku sudah harus pulang. Tugasku kan sudah selesai. Ma-Maaf mengganggu."
Sakura berdiri, lalu melewati Sasuke sambil ber-ojigi hormat. Lalu saat Sakura akan keluar, Sasuke memanggilnya. "Haruno."
"Ya, Uchiha-san?" Sakura menelan ludah.
"Terima kasih karena telah menjemput Sai." Ucapnya, singkat. Sakura tersenyum bahagia. "Tapi kuharap kau tidak menggosip apa-apa tentang kejadian barusan di kantor."
Sakura tersenyum paksa. "Te-Tentu saja..."
Setelah itu Sakura pergi dari apartemen. Sai menoleh ke ayahnya. "Ayah, memangnya kenapa Sakura-san menjerit heboh sih pas masuk apartemen?"
Sasuke melirik Hinata. Tentu saja karena gadis sok inosen itu sempat membuka rok sampai pakaian dalamnya terlihat. Jelas bahwa Sakura mengira mereka akan berbuat hal yang aneh-aneh, kan? Wajar dia berteriak—walau seharusnya tak sampai sekencang itu.
"Memangnya tadi apa yang Ayah lakukan bersama dia?" Sai melirik Hinata ragu-ragu.
Sasuke menghela nafas. "Sudahlah, jangan kau bahas."
.
.
.
HAPPILY EVER AFTER
"Happily Ever After" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Romance, Drama, Fantasy
AU, OOC, Typos, etc.
(inspired from enchanted)
.
.
FIFTH. Bersatu
.
.
Sesudah keadaan menenang, mulailah Sai berani memperhatikan Hinata yang tak jauh di sebelahnya. Baru kali ini ia melihat dari dekat wanita asing bersurai panjang itu. Seperti informasi yang pernah dijabarkan, paras Hinata manis. Ekspresinya memancarkan kelembutan, dan juga terlihat ramah. Iris lavender pucatnya pun sempat membuat Sai terpaku berdetik-detik. Sai menelan ludah. Ingin menyapa, tapi ia terlalu malu.
Tapi karena Hinata merasa ada anak kecil yang memperhatikannya dari tadi, ia menoleh dan menatap Sai. Kedua sudut bibir merah Hinata melengkungkan senyum. "Halo..."
Jadi Sai yang salting. Dengan memalingkan wajah ia menjawab. "I-Iya, halo." Sai berusaha mengeluarkan kalimat di ujung lidah. "Na-Namaku Sai... salam kenal."
"Ah, namaku Hinata. Salam kenal ya, Sai..."
Sai menatap Hinata. Jantungnya berdebar kencang. Pipinya memerah. Suatu saat Sai sampai menundukkan kepala dan memejamkan mata kuat-kuat. Duh, malunya. Sementara itu Sasuke yang menyadari interaksi keduanya pun hanya menghela nafas. Entah kenapa dapat ia rasakan Sai menyimpan ketertarikan berlebih ke Hinata.
"Sai, lebih baik kau ganti baju dulu. Sebentar lagi kau akan kuantar ke tempat les."
Sai mengangguk. Dengan berlari ia segera ke kamar.
"Dia temanmu?" Tanya Hinata, polos. Sasuke menggeleng.
"Dia anakku."
"Pantas kalian mirip..." Ucapnya. "Lalu di mana istrimu?"
Suasana menghening. Dengan wajah datar Sasuke meneruskan. "Dia sudah meninggal setahun yang lalu."
"E-Eh? A-Aku tidak bermaksud, maafkan aku..."
Sasuke berdecak. "Daripada memikirkan itu, seharusnya kau minta maaf soal kejadian barusan."
Hinata mengerjapkan mata. "So-Soal apa?"
"Soal yang tadi, yang kau membuka rokmu!" Sasuke berubah marah. Hinata sampai takut sendiri. "Kau pikir itu sopan, hah?"
"Ta-Tapi..." Hinata mengerucutkan bibir. "Tapi kan waktu itu cuma kelihatan paha—"
"Kau bilang 'cuma', hah?" Sasuke berdiri. "Jadi kalau pahamu dilihat lelaki lain kau fine-fine saja? Begitu?"
Hinata mengadah. Ia ketakutan sendiri. Memangnya dia salah bicara, ya? "Ma-Maksudku... kan itu hal yang... cukup sepele... jadi kupikir tak akan apa-apa..."
Sasuke menahan nafas. Kesal rasanya berbicara dengan orang seperti ini. Apalagi Hinata melihat matanya dengan tatapan bening yang tak tau apa-apa. Dia tidak sedang memancing atau apa, dia hanya bertanya. Tapi menyebalkan. Tak tahan lagi, Sasuke mendekatkan wajahnya ke Hinata. "Seharusnya kau bersyukur, keluarga inilah yang menolongmu kemarin malam. Kalau tidak, aku yakin kau sudah diperkosa bergilir oleh orang-orang jalanan."
Hinata membelalakkan mata. "D-Diperkosa?"
"Kau mengerti apa maksud kalimatku, hn?"
Masih dengan ekspresi sama, Hinata membuka mulut. E-Eh, a-apa... jangan-jangan Sasuke pernah diperkosa juga?"
Sasuke kesal. Sangat kesal. Lebih kesal dibandingkan masa-masa di mana ada karyawan yang menumpahkan kopi ke dokumen kerjaannya. Seandainya Hinata adalah bawahannya di kantor, mungkin karena kelemotannya ia akan Sasuke pecat secara sadis, plus bentakan. Tapi karena sosok Hinata adalah gadis freak yang ada di depannya, jadilah Sasuke marah dengan satu cara. "Tsch, kau iniiiii...!"
Telapak tangan Sasuke menempel di wajah Hinata, ia dorong sampai punggung gadis itu menyentuh sofa. Tapi bukannya tersinggung atas perlakuan Sasuke, Hinata malah tertawa-tawa sendiri. Barangkali ia mengira Sasuke sedang bercanda dengannya. Sedangkan di balik tembok, Sai yang sudah siap dengan tas lesnya hanya memandangi mereka yang ada di ruang tamu dengan senyuman. Bocah itu senang ayah dan Hinata sudah akrab.
Eh, tapi...
"Namanya... Hinata?" Sai bermonolog, mencoba mengingat-ingat. Rasanya saat di parkiran apartemen, ada pria aneh yang menanyai 'di mana Hinata?' berkali-kali kepadanya dan Sakura, yang tanpa Sai ketahui bernama Naruto. Tapi apa benar orang itu mencari Hinata yang ini? Sai berniat melaporkan ke Sasuke, tapi panggilan Hinata menyela pikirannya.
"Sai? Kenapa cuma berdiri di situ? Ayo ke sini..."
Sai jadi gugup dan melupakan niatnya. Lagi pula untuk apa ia bilang ke Sasuke atau ke Hinata tentang Naruto? Dia masih belum ingin Hinata pergi dari sini. Suasana rumah menjadi lebih hangat karena kehadirannya. Dia suka wanita itu. Segeralah Sai menarik celana ayahnya. "Ayah, ayo ke tempat les..."
Sasuke menghela nafas dan segera mengambil kunci mobil. "Ayo."
"Itterasshai..."
Itulah kalimat yang Sai dan Sasuke dengar sebelum mereka berdua benar-benar pergi. Keduanya serentak menoleh dan mendapati Hinata yang sudah berdiri, tak lupa dengan senyum dan lambaian tangan. Sai pun menelan ludah, lalu mencoba menjawab dengan lantang.
"I-Ittekimasu!" Katanya, ia tersenyum sedetik, lalu pergi begitu saja mendahului Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya memandangi Hinata dari kejauhan dan berujar pelan sebelum ia keluar.
"Hn, ittekimasu."
Sasuke hanya berpikir, sudah lama ia tak mendengar kalimat itu saat pergi dari apartemen. Terakhir kali kalimat itu diucapkan oleh istrinya. Dengan nada yang sama, ekspresi yang sama. Sasuke pun melamun ketika ia jalan menuju lift. Sebuah perasaan rindu mendadak menguar ke relung hatinya.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Jauh dari tempat di mana Hinata dan Naruto berada, Ino sedang menghadapi kesialannya. Tadi siang ia baru saja ditangkap oleh Gaara, sang penyihir, dan karena itulah sekarang ia sedang berguling-guling di sebuah kandang kecil buatan Gaara. Kedua tangan dan kakinya terikat, mulutnya disumpal sihir. Dia tak bisa bebas.
"Hmh! Mffhh!" Geraman Ino terus keluar. Kakinya berkali-kali menendangi jeruji besi. Kedua mata Ino terpejam, sedangkan dirinya berteriak kencang sampai wajahnya memerah. "Mffff! Mhhh! Hmm!"
"Ck..."
Suara decakan dikeluarkan Gaara. Pria berambut merah darah itu baru keluar kamar mandi dengan sehelai handuk di pundaknya. Ternyata ruangan yang seperti kamar hotel ini adalah tempat yang disewa Gaara. Disewa dengan paksa, maksudnya—resepsionisnya diberi mantra agar bisa memberikannya kamar. Pria itu melirik sinis Ino yang ada di kurungannya. "Bisa kah kau diam?" Ujar Gaara. Ino masih berbicara tak jelas. Gaara mendengus. "Jangan kau cemaskan Pangeran dan Puteri itu. Sebentar lagi mereka akan mati di tanganku. "
Sang peri terbelalak. Batinnya menduga-duga, apa dia adalah penyihir yang mengirim Hinata ke bumi? Apa tujuannya? Ino meringis pelan. Mendadak dirinya sedih. Dia terus kepikiran dengan Hinata yang belum ditemukan. Apalagi Naruto. Pangeran Naruto kan sangat merepotkan. Bagaimana caranya dua insan itu bisa bertemu kalau tidak dengan bantuannya? Ino membalikkan tubuhnya. Ia sangat kesal dengan penyihir ini!
"MHH! HMM!"
Lagi-lagi suara cicitan peri itu membuat Gaara terganggu. Televisi yang kini pria tersebut tonton sampai tak bisa membuatnya fokus mendengar audio acara. Dan karena kesal, akhirnya Gaara segera menyentak Ino bersama ayunan tongkat sihir di tangannya. "DIAM!"
BLAR!
Tak sengaja, cahaya sihir hijau menyerang jeruji tempat Ino berada. Terjadi ledakan yang cukup besar sampai asap tebal mengerubuni kamar. Gaara sedikit kaget. Ada beberapa bagian besi yang terpental. Memangnya dia baru saja memberikan sihir apa sih sampai bisa begini? Gaara segera berdiri dan memeriksa keadaan di sudut ruangan.
Dan ketika asap putih ini sedikit membias, lama-lama mata jade Gaara dapat menangkap sebuah siluet seorang wanita dewasa. Ia pun terperangah saat mendapati sosok peri yang awalnya kecil, seukuran genggaman tangan, kini sudah menjadi seorang manusia bertubuh normal—nyaris sama dengannya. Tak hanya itu, sayap Ino pun menghilang.
Gaara menelan ludah. Lantas ia melihat tongkat sihirnya sesaat, lalu kembali mengamati peri yang nyatanya sedang pingsan itu. Ah, ternyata benar... ia salah mantra. Tapi kenapa dia malah mengubah peri ini menjadi manusia?
"Ck, sial."
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Setelah perdebatan yang cukup lama antara Sasuke dan Sai, akhirnya Hinata mereka izinkan untuk tinggal selama beberapa saat di kediaman Uchiha. Hal itu diumumkan saat makan malam di hari yang sama, dan tentu saja Hinata menerima hal itu dengan hati gembira. Ia bersyukur ada keluarga baik seperti mereka berdua yang mau menampungnya di sini. Tapi tentu saja Sasuke menekankan, kalau ia mau numpang, Hinata diharuskan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga yang biasanya Sasuke dan Sai lalaikan. Seperti contohnya memasak, mencuci dan menyapu. Itu saja. Untuk Hinata yang sedari dulu suka bersih-bersih, jelas ia menyanggupinya dengan mudah.
Dan karena itulah, hari-hari yang berlalu di keluarga Uchiha menjadi lebih berwarna dari biasanya. Sai menyadari hal itu. Sasuke, ayah yang jarang menghabiskan waktu bersamanya, kini jadi lebih sering pulang cepat. Suara pria itu pun lebih sering keluar, walau kadang cuma nasihat yang ia berikan ke Hinata apabila wanita polos itu berperilaku salah. Tak jarang Sai tertawa jika melihatnya berinteraksi.
Diam-diam Sai berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan Hinata kepada keluarganya.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Bel pulang sekolah di gedung bertuliskan St. Cattleya berbunyi. Lima belas menit berselang, banyak siswa-siswi yang pulang dengan tas ransel mereka masing-masing, tak lupa dengan senyum lebar, serta tangan kanan yang berpegangan dengan orangtua masing-masing. Tapi tak seperti biasanya, Sai hari ini belum pulang. Bocah bersurai hitam pendek itu masih sibuk di meja kelasnya yang dipenuhi oleh kertas lembar dan krayon. Ia tampak serius menggambar sebuah hewan yang menyerupai kucing raksasa, apalagi kalau bukan singa.
"Anak-anak, ini sudah jam pulang loh. Lebih baik bereskan peralatan kalian dan lekaslah pulang. Kasihan kalau ayah dan ibu kalian jadi lama menunggu di depan..." Sang guru menasihati. Sai pun mengangguk patuh dan memasukkan pak krayon ke tas dan mengapit buku gambarnya di lengan.
"Hitomi-chan, kamu tadi buat cerita apa?"
"Aku? Aku mau menceritakan kucingku~"
"Kok kucing sih? Tidak kreatif, ah."
"Habisnya mudah sih. Memangnya kamu sendiri mau buat apa?"
"Aku belum tau. Nanti aku mau minta saran ibuku saja..."
Sai yang sudah keluar kelas tak sengaja mendengar obrolan dua anak perempuan yang jalan di depannya. Sai Uchiha terdiam sebentar lalu melirik buku gambarnya. Tiap halaman ada gambar singa dengan berbagai macam pose. Gambaran Sai tentu saja bagus untuk usia sepantarannya, tapi Sai menghela nafas panjang, tampak tak puas. Segeralah ia robek gambar itu dan menguwel-uwelnya menjadi bola.
Hari ini kelasnya memang disibukkan oleh pelajaran prakarya, di mana anak-anak disuruh membuat cerita yang harus diilustrasikan ke 10 kertas gambar. Nantinya cerita itu akan mereka story telling-kan di depan kelas saat pengambilan rapot. Tugas praktek yang menyenangkan, kan? Tapi sayang Sai tidak sependapat. Ia pusing. Lagi tak punya ide akan menggunakan cerita apa.
Tin!
Mendadak Sai yang sedang berjalan dikagetkan oleh suara klaksonan mobil. Ia menoleh dan mendapati mobil nissan Sasuke sudah berada di sebelahnya. Sai agak kebingungan sendiri, tumbenan dia cepat dijemput.
Tapi segeralah ia abaikan dulu pikiran itu. Ia takut membuat Sasuke terlalu lama menunggu. Segeralah tanpa pikir panjang Sai membuka pintu depan, namun baru saja ia menarik sedikit, terlihatlah sesosok wanita bersurai biru gelap panjang di bangku yang biasa ia duduki, tepat di sebelah Sasuke. Itu Hinata, dan dia tersenyum lembut. "Selamat siang, Sai..."
Sai terbengong. Kedua iris hitamnya lurus ke depan, ke wajah Hinata. Dia terbelalak. Tanpa sadar bibirnya bergerak tanpa dia perintahkan. "I-Ibu?"
"Ibu?" Hinata memiringkan kepalanya, bingung. Sedangkan Sasuke yang berada di bangku pengemudi menoleh. "Sai tadi bilang apa?"
Sai mengerjap sebentar dan kemudian mundur untuk memasuki pintu mobil bagian belakang. "Ma-Maaf..." Setelah itu mobil Sasuke kembali melaju. Deru roda yang menggilas jalanan terdengar dan lantunan radio yang sedang memutarkan lagu pop jaman sekarang terdengar ke seisi kabin. Sai sedikit mengerjap.
Kenapa dia tadi melihat Hinata seperti ibunya dulu, kala beliau masih sering menjemputnya sekolah?
Bukankah itu aneh?
Sai menghela nafas dan mencoba melihat ke depan. "Tumben Ayah membawa Hinata-san untuk menjemputku..."
"Kita mau makan di mall."
"Oh..." Diam-diam Sai kecil bersorak senang. Akhirnya dia bisa keluar bersama ayah dan Hinata. Benar-benar bagaikan mimpi.
"Ne, ne, Sasuke... itu gedung apa? Bentuknya lucu..." Hinata tampak antusias memperhatikan seisi jalanan.
"Itu bukan gedung. Itu tower."
"Kalau yang itu?"
"Tokyo Park. Taman bermain."
"Wah, besar, ya?" Hinata melirik ke belakang. Ia tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Sai dari belakang memperhatikan interaksi mereka dalam diam. "Apa Sai pernah ke taman bermain?"
"E-Eh... aku? Pernah..." Ucap Sai, malu-malu. Pipinya memerah dan hatinya berdesir senang. Tak disangka, Hinata benar-benar mengubah ayahnya sedikit demi sedikit. Mobil yang biasanya kosong, tak ada suara, tak ada bunyi, kini jadi berisi. Paling tidak ada obrolan, ada senyuman, dan ada kontak mata. Ini seperti keluarganya yang dulu, sebelum ibunya pergi meninggalkan mereka.
Jadi tidak heran Sai sempat salah mengira Hinata adalah ibunya. Perawakan dan hawa mereka sangatlah mirip sih.
"Ano... ada apa, Sai? Kamu kok dari tadi murung?" Hinata bertanya pelan. Sai menggeleng cepat tanpa suara. "Apa Sai marah karena aku telah mengambil tempat dudukmu? Awalnya aku duduk di belakang loh, tapi Sasuke bilang aku harus di depan. Soalnya kalau posisinya Sasuke di depan dan aku di belakang, katanya dia bisa dianggap supir..." Hinata sambil tertawa pelan sementara Sasuke mendesah malas.
Sai lama-lama jadi berani memperhatikan wajah ayu Hinata. Ia tersenyum. "Tidak, tidak apa. Aku hanya sempat melamun karena tugas prakaryaku. Makanya salah buka pintu..."
"Eh, tunggu... tugas prakarya?"
"Iya. Jadi aku harus buat 10 gambar di kertas. Lalu saat pengambilan rapor nanti, aku harus menceritakan secara jelas di depan kelas."
"Wah, pelajaran yang menarik, ya? Semoga aku bisa melihatmu tampil..."
"Be-Benarkah? Pengambilan rapor memang harus dihadiri orangtua. Hi-Hinata-san mau melihatku tampil?" Sai langsung terlonjak senang. Hinata mengangguk.
"Aku akan datang bersama Sasuke."
Sasuke memasang wajah datar. Ada dua hal yang menjadi alasan. Satu, dia belum tentu bisa datang. Dan dua, Hinata belum tentu masih bersama mereka sampai tiga bulan ke depan—saat pengambilan rapor mid semester nanti.
"Apa Sai sudah menentukan ide prakaryanya?"
"Be-Belum sih..."
"Bagaimana kalau cerita dongeng?" Hinata merekomendasikan. "Tentang cerita pangeran, putri, dan juga penyihir jahat? Di duniaku dulu banyak sekali kisah seperti itu tiap harinya. Ada Cinderella, Snow White, sampai Putri Duyung pun ada."
Sai mengangguk. "Ah, aku tau cerita mereka. Tapi sayangnya Ayah tidak suka. Jadi kupikir lebih baik aku memilih cerita yang lain, Hinata-san."
"Hmm? Sasuke tidak suka, ya?" Pandangan mata bulat Hinata beralih ke Sasuke yang masih menyetir di sampingnya. Sasuke berdesis ketus.
"Apa lihat-lihat?"
"Kenapa Sasuke tidak suka dunia dongeng? Padahal dunia dongeng sangat indah loh."
"Indah dari mana? Dunia dongeng hanyalah kisah imajinatif, fiktif dan irasional."
"Kok begitu?" Hinata mengerucutkan bibir. "Kapan-kapan ke dunia dongeng yuk?"
"Ini saja kau lagi tidak bisa pulang, bagaimana bisa kau mengajak kami ke dunia khayalanmu itu?"
"Iya juga sih." Hinata menaruh jari telunjuknya di depan bibir. "E-Eh, tapi dunia dongeng bukan khayalan, Sasuke..."
"Terserahlah."
Di belakang Sai hanya tertawa pelan.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Naruto adalah pangeran negeri dongeng. Yang terhormat, yang dikelilingi harta berlimpah, dan yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan hanya dalam sekejap kata.
Hanya saja di dunia manusia ini, di bumi lebih tepatnya, hal-hal yang berbau kekuasaan tersebut takkan bisa didapatkan oleh pria berambut pirang keemasan itu dengan mudah. Sekarang ia malah sedang terkapar di bangku memanjang halte dan membungkus tubuh besarnya di balik sweater yang baru ia beli kemarin. Musim gugur kali ini ia jalani hanya dengan kain tersebut. Padahal biasanya kalau sudah kedinginan begini ia sering menyamankan dirinya di kamar istana sambil menyesap segelas cokelat hangat terbaik. Oleh karenanya sekali dua kali Naruto berdecak.
"Akkhh, menyebalkan!" Pria itu membuat orang-orang di sekitarnya terkejut. Ia bangkit menjadi terduduk dan mengacak-acak rambut. "Sudah nyaris sebulan aku di sini dan aku masih tak punya informasi tentang keadaan Hinata! Kemudian peri kecil itu dengan sialannya meninggalkanku seorang diri!" Naruto kemudian meratapi pakaiannya yang kini sudah berubah menjadi kaus oblong murah dan celana panjang pemberian orang. "Bahkan aku menjual pakaian pangeranku hanya untuk makan dan berganti pakaian setiap hari! Sial!" Naruto uring-uringan tak senang. "Aku mau pulaaang!"
Ya, benar sekali. Bagaimana caranya seorang Naruto bisa betah? Dia terpaksa menjual pakaian pangerannya yang super mahal itu ke sebuah toko. Alhasil uang yang ia dapat sih lumayan, jumlahnya sampai ratusan ribu yen. Tapi percuma juga kan apabila Naruto tak bisa mengorganisir keuangannya dengan baik? Seperti misalnya, karena tak tau harus mencuci pakaian di mana, Naruto selalu membuang pakaian kotornya saat ia berganti baju. Cari uang pun ia tidak tau caranya. Ah, sudahlah, ini menyebabkan sebuah kesimpulan; lama-kelamaan uangnya pasti akan habis juga.
Dan kalau sudah habis? Mati sudah.
Ckiiit.
Mendadak terdengar suara bis di depan halte. Pintu otomatis bis terbuka dan seorang kenek menatap Naruto heran. "Permisi, apa Anda mau naik?"
Naruto berdiri serentak. Matanya beriris birunya berkaca-kaca. "Iya, tapi antarkan aku ke dunia dongeng! Sekarang!"
"Hah?" Orang itu terbengong.
"Antarkan ke dunia dongeng! Aku pangeran di sana!"
Merengek seperti itu pun percuma, karena yang ada Naruto malah didorong oleh kenek bis dan langsung meninggalkan blondie gila itu di halte. Naruto yang kesal kembali ngamuk di sela kesendiriannya. Hingga pandangannya terhenti pada sesosok wanita yang sempat dia kenali lewat rambutnya yang mencolok. Dia Sakura Haruno, orang yang setaunya pernah ia introgasi soal Hinata di basement apartemen tempo hari. Dia sedang di dalam mobil di pinggiran halte. Dari kaca mobil yang transparan, wanita itu sedang duduk di bangku kemudi sambil menelfon seseorang.
"Ne, Kin, kau sudah sampai belum? Aku sudah di depan halte." Ucap Sakura ke Kin Tsuchi yang ia telfon. Beberapa saat kemudian raut kesalnya berganti jadi terkejut. "Apa!? Kau tidak jadi ikut aku!? Sudah dijemput sama Zaku!? Seharusnya kau bilang dari tadi! Aku sudah menunggumu hampir sejam, tau!" Bibir Sakura mengerucut, ia pun menjalankan mesin sambil mengeluarkan gerutuan panjang.
Tapi ketika pedal gas baru ia injak, mendadak ada suara seseorang dari bangku belakang.
"Hei, antarkan aku ke dunia dongeng."
Mata emerald Sakura membulat, lalu ketika ia melirik ke kaca tengah kabin, terlihatlah sosok familiar Naruto yang telah mengisi jok terbelakang. Sakura tersentak luar biasa. Nyaris saja ia banting stir karenanya.
"KE-KENAPA KAU ADA DI DALAM MOBILKU!?"
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Aku bener-bener minta maaf atas keterlambatan ini. Semoga dimaklumi, ya. Dan untuk informasi sedikit, aku sempet ngebuang beberapa scene HAP yang kupikir ngga terlalu penting (gomen). Jadi ada baiknya kalau membaca ulang supaya kembali inget #dzigh.
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Hyou Hyouichiffer, mokedja, Date Kaito, IndigOnyx, Honey, Miss A, Tong Air, Uchipon, Bonbon 0330, FP GUDANG FANFICT SasuHina-Indo, Miss, lavender hime chan, OraRi HinaRa, narihiazura, Guest, hinata-lovers-25, Guest, chika, Guest, hi-chan, yukiko miyuki, altadinata, feri-irawan-39750, Icha uzumaki, Mikisaragi, duar, lina tyolina.
.
.
Pojok Balas Review :
Sempet diedit, ya? Iya. Kapan lanjut? Mulai sekarang udah kucepetin kok. Walopun udah nonton Enchanted, tetep penasaran sama ini. Makasihh. Kalo Ino ketangkep, Naruto nyari Hinata pake apa? Ahaha, ngga tau juga tuh. Aku suka humor di fict ini, pas. Thankss. Boleh copas ke fanpage? Boleh asal ada disclaimer pengarangnya, ya. Sempet lupa sama fict HAP. Iya, gomen kelamaan. Sai pengen Hinata jadi mamanya, ya? Maybee. Ending-nya SasuHina atau NaruHina? SasuHina. Sasuke bakalan deket sama Sakura atau gimana? Kayaknya ngga lebih dari partner kerja deh.
.
.
Next Chap :
"Ukuran pinggul dan dadamu besar juga."
Kalau dapurku bisa rapi, nanti aku akan membiarkanmu tinggal di sini deh."
"Hinata-san jadi ibuku saja, ya?"
"Menurutmu siapa duluan yang akan kubunuh?"
.
.
Review kalian adalah semangatku :'D
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
