Previous Chapter :
Bibir Sakura mengerucut, ia pun menjalankan mesin sambil mengeluarkan gerutuan panjang.
Tapi ketika pedal gas baru ia injak, mendadak ada suara seseorang dari bangku belakang.
"Hei, antarkan aku ke dunia dongeng."
Mata emerald Sakura membulat, lalu ketika ia melirik ke kaca tengah kabin, terlihatlah sosok familiar Naruto yang telah mengisi jok terbelakang. Sakura tersentak luar biasa. Nyaris saja ia banting stir karenanya.
"KE-KENAPA KAU ADA DI DALAM MOBILKU!?"
.
.
Suatu sore setelah Sasuke mengantar Sai les Kamis ini, Sasuke pulang lagi ke rumah. Ia buka pintu kamar apartemen seraya mengitari pemandangan sekitar. Baru ia sadari ada sesuatu yang absen dari sana. Biasanya kalau ia pulang, akan ada Hinata yang menyambutnya di ruang tengah, tak lupa dengan senyum dan ucapan 'okaeri'-nya yang lembut. Tapi ke mana dia sekarang? Kenapa tidak ada di mana-mana?
Merasa dirinya malah mencari Hinata, Sasuke mengernyit sendiri dan mengusap poni tajamnya ke atas. Ada sebuah keanehan—bukannya sejak istrinya meninggal seharusnya dia sudah terbiasa dengan situasi ini? Padahal Hinata baru tinggal bersamanya selama dua bulan. Sasuke menghela nafas. Lebih baik ia ke kamar dan merilekskan diri di kasur. Otot bagian pinggangnya minta diistirahatkan—kebanyakan duduk di kantor memang tidak terlalu baik untuk kesehatan. Tapi ketika pintu kamar dibuka, tau-tau berdirilah sesosok wanita bersurai panjang yang berada di depan lemari baju istrinya. Hinata yang lagi konsen mengamati segala pakaian di sana segera menoleh cepat, persis seperti gelagat pencuri yang ketahuan melakukan aksinya. "Sa-Sasuke?"
Sasuke yang berada di ambang pintu terheran. Ingin langsung mengusirnya sih—telah menjadi aturan mutlak bahwa seorang tamu tidak boleh memasuki kamar pribadinya. Namun karena ekspresi gadis itu terlihat polos dan tidak menunjukkan gerakan mencurigakan lain, ia mencoba bertanya dulu. "Lagi apa di sana?"
"Ngg..." Wanita itu tampak ragu untuk mengucapkan kalimat. "Aku mencari sesuatu."
"Apa?"
"Ng..."
"Cari apa? Baju?" Sasuke malas menunggu.
"I-Iya."
"Bukannya aku sudah menaruh banyak pakaian buatmu di lemari kosong Sai? Kurang banyak, hn?"
"Bu-Bukan..." Hinata bergaun hijau selutut itu menggeleng, tidak mau dianggap serakah. Tapi rasanya sulit mengatakan ini ke pria dewasa yang ada di hadapannya. Bersama wajah tertunduk serta pipi yang memerah, Hinata meremas kulit tangannya sendiri, malu. "Hanya saja... aku sepertinya membutuhkan... beberapa pakaian dalam yang lebih besar."
Alis Sasuke menekuk tanpa suara. Dia kehilangan kata-kata.
.
.
.
HAPPILY EVER AFTER
"Happily Ever After" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Romance, Drama, Fantasy
AU, OOC, Typos, etc.
(inspired from enchanted)
.
.
SIXTH. Keluarga Kecil
.
.
Jadi ceritanya sore ini Sasuke akan menghabiskan banyak waktu untuk Hinata. Masih dengan pakaian kantor, dia melepaskan laci besar yang memuat seluruh pakaian dalam istrinya dan menaruhnya di meja kaca depan sofa. Semua itu dia lakukan supaya Hinata bisa memilih mana yang kira-kira muat ia pakai. Dan Sasuke cuma bisa berdecak dalam hati saat tanpa sadar dirinya terlalu fokus memperhatikan Hinata yang sedang melihat-lihat bra dan celana dalam dengan wajah sumringah. Ia cari yang kelihatan bagus dan paling besar, sepertinya.
"Boleh aku pilih yang ini? Sepertinya muat denganku." Dengan mata berbinar Hinata memilih pakaian dalam berwarna pastel. Sasuke cuma mengangguk singkat tanpa menoleh dan kembali menonton televisi—jangan sampai pikiran dewasanya beterbangan ke mana-mana.
Beberapa menit terlewat di kamar mandi, Hinata kembali dengan bibir yang melengkung turun. Dengan kening yang dihiasi sweatdrop Sasuke bertanya. "Muat?"
Dirinya menunduk. "Semuanya kalau dipakai sih muat, tapi terlalu ketat..."
Sasuke melirik benda-benda yang dipegang Hinata. Ada empat bra dan empat panty. "Coba sini, aku mau lihat."
Sasuke mengambilnya dan memeriksa ukuran di bagian belakangnya. Tercetak tulisan size S di celana dalam dan ukuran 34B untuk bra. Sasuke merenungi satu hal—bukannya pakaian istrinya muat di badan Hinata? Tapi kenapa pakaian dalamnya tidak?
"Ukuran pinggul dan dadamu besar juga." Ruangan ini hening sesaat. Ada dua yang tersentil akibat kalimat barusan. Pertama Hinata, kedua Sasuke sendiri—muka keduanya langsung diselimuti rona merah.
"A-Aku akhir-akhir ini sepertinya memang menggendut." Hinata langsung menutup muka, depresi. Sedangkan Sasuke yang langsung terbayang ukuran Hinata cuma bisa memejamkan matanya sejenak.
"Tidak, kau tidak gendut." Sasuke berdiri dan mengacak-acak helaian mencuatnya di bagian belakang. "Tapi sepertinya nanti kau harus belanja."
"Eh?"
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Lain kejadian di kediaman Uchiha, lain pula kejadian di kediaman Haruno. Sebuah apartemen sederhana yang disewa dengan harga 42.000 yen sebulan itu sedang ditempati oleh Sakura Haruno dan orang asing di depannya, Naruto, yang kini wajah tampannya telah dihiasi memar merah bekas pukulan dan juga cakaran kuku berkuteks sang sekretaris. Mereka berdua yang kini sedang berhadap-hadapan di sofa ruang tengah pun saling mengernyit tidak suka, cukup lama, hingga akhirnya Naruto menghela nafas, melonggarkan bahunya yang pegal.
"Oke, dengar. Aku bukan orang jahat seperti apa yang kau pikirkan."
"Bukan orang jahat bagaimana? Jelas-jelas tadi siang kau sempat menaiki mobilku tanpa izin dan maksa mengantarmu entahlah ke mana!"
"Memang sih..." Si jabrik mengerucutkan bibir. Oke, dia sempat melakukan apa yang Sakura ucapkan tadi, tapi bukannya setelah itu malah dia yang kena hajar habis-habisan? Padahal kan dia cuma minta tolong—walau dengan cara tidak sopan sih. Habis ya mau bagaimana lagi? Naruto sebagai warga asing bumi telah kehilangan arah. Dia ingin pulang. "Tapi ayolah, seharusnya aku tidak ada di sini. Dan dari semua orang yang pernah kutemui, cuma kau yang mukanya paling kuingat dan bisa kumintai tolong."
Sakura menghela nafas dan memijat kening. Dia jadi teringat dulu sosok bule ini sempat ia temui di basement apartemen Sasuke—ketika ia akan mengantar Sai pulang. "Kita baru pernah ketemu sekali, dan itu pun kau sangat mencurigakan."
"Aku cuma mencari calon istriku, tapi sekarang aku sudah menyerah, jadi aku ingin pulang." Rengeknya.
"Terserahlah, aku juga tidak mau peduli." Sakura geleng-geleng kepala. Sepertinya akibat kesan pertama dan kedua yang buruk, respeknya ke Naruto jadi ludes tak tersisa. Padahal kalau ada tamu atau orang yang baru ia kenal, Sakura biasanya bertingkah ramah dulu sebagai basa-basi. "Lebih baik, begini; kau sebutkan tempat tinggalmu dan aku akan membelikan tiket kereta untuk pulang. Bagaimana?"
Baru saja Sakura akan keluarkan selembar uang, mata safir Naruto menatapnya bulat-bulat. "Aku dari dunia dongeng. Apa kereta bisa membawaku ke sana?"
Sakura terdiam, alisnya tertekuk, dan kemudian ia ber-hah ria. "Apa? Dunia dongeng?"
"Iya, dunia dongeng." Naruto abaikan Sakura yang menghembuskan nafas keras-keras. "Aku pangeran di sana yang tidak sengaja turun ke bumi."
"Wake up, boy. Kau bukan anak kecil lagi."
"Aku tidak main-main. Apa yang salah dengan itu?" Sakura pusing setengah mati. Ia pun berdiri dari sofanya dan beralih ke dapur. Pandangan Naruto mengikutinya. "Kau mau ke mana?"
"Makan."
Naruto langsung terdiam dan memegangi perutnya. "Aku mau juga." Tapi baru saja dia menyusul Sakura, lelaki bersurai pirang itu terlebih dulu dikejutkan oleh tumpukan cucian piring kotor di belakang Sakura. Ada becekan di mana-mana, bungkus makanan yang belum dikeluarkan, beberapa susu diet kotakan kosong dan berbagai macam sampah lain yang berderet di sana. Naruto menganga luar biasa. "Ini dapur terjorok yang pernah kumasuki."
Sakura yang lagi membuka leci kalengan di depan kulkas cuma cemberut. "Rumah ini cuma kotor di bagian dapurnya saja kok. Jangan dijadikan masalah besar."
"Tapi tetap saja!" Naruto bergidik jijik dan Sakura melengos malas.
"Kalau kotor ya sana bersihkan. Kalau dapurku bisa rapi, nanti aku akan membiarkanmu tinggal di sini deh." Bicaranya asal sambil kembali ke ruang tengah. Tapi merasa Naruto tidak kembali mengikutinya dan tetap di sana, pada akhirnya Sakura menoleh ke belakang dan mendapati Naruto yang sedang menggulung baju lengan panjang pakaiannya. Pria tampan itu tersenyum sampai deretan gigi putih bersihnya terlihat.
"Oke, walau di dunia dongeng aku adalah seorang pangeran, akan kubersihkan dapur ini sampai rapi. Karena itu lebih baik siap-siap karena aku akan tinggal di sini!" Ucapnya dengan semangat.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
"Malam nanti kita akan ke mall, jadi pastikan jam enam sore kau sudah siap, Sai. Mengerti?"
Ada kejutan kecil di Sabtu siang ketika Sasuke mengucapkan kalimat itu ke Sai. Bocah yang saat ini sedang berkutat di meja belajar langsung menegakkan badan dan menoleh ke arah pintu, di mana Sasuke berdiri, mengabaikan buku pelajaran kelas tiganya yang terbuka. "Benarkah? Apa bersama Hinata-san juga?"
"Ya." Sasuke mengangguk singkat. "Ini memang karena dia."
Tak ada kalimat yang Sai lontarkan, namun senyuman lebarnya sudah cukup mewakili bahwa dia teramat senang dengan keputusan ayahnya di hari ini. Alasan pertama, karena dia memang sudah lama tidak ke mall bersama Sasuke. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu kan orang sibuk, paling hal terlama yang bisa dia luangkan ke Sai hanyalah makan malam bersama di luar, itu pun baru terasa menyenangkan sejak ada Hinata yang menyertai mereka. Sedangkan alasan kedua, ya tentu saja, Hinata diajak. Sai gembira bukan main.
Karenanya tepat saat jam 18.00, di sanalah mereka bertiga berada. Jalan berjejer di atas lantai keramik indah salah satu pusat mall terbesar di Tokyo, Toma Mall. Suasana gedung yang didominasi oleh warna gold dan peach, alunan live musik jazz di panggung lantai atas, serta barang-barang mahal dan indah yang terjejer di rak pameran toko. Uchiha Sai menggandeng tangan putih susu Hinata dan menarik-nariknya sesekali saat mereka melewati beberapa etalase toko yang cukup menarik baginya—seperti pet shop, game center, toko es krim dan hal-hal lainnya.
Sasuke kadang ikut tersenyum melihat keceriaan Sai. Baru ia sadari anak tunggalnya ini jauh lebih ekspresif. Suasana kaku di keluarga mereka memang mencair sejak kedatangan Hinata, Sasuke pun mengakui itu. Lalu ia pun melirik Hinata sekilas di sebelah. Tinggi Sai yang tidak sepadan—dengan dua orang dewasa yang mendampinginya—membuat Sasuke dapat melihat jelas raut Hinata yang terkagum-kagum dengan segala hal yang berada di mall. Dimulai dari mata bulatnya yang beriris jernih, pipi mulus dan surai lembut nan panjang yang membingkai wajah manisnya.
Dalam diam Sasuke terpana. Terpana oleh kecantikan alaminya.
"Ayah, sekarang kita mau ke mana dulu? Boleh langsung ke game center?"
Lamunan Sasuke pecah seketika. Sedikit berkedip cepat, ia pandangi Sai yang mengadah. Ia elus pelan rambut hitam milik Sai dan berujar pelan. "Ponimu sudah menutupi mata, jadi lebih baik kau ke tempat potong rambut dulu."
Sai awalnya tidak mau, tapi Sasuke mengharuskannya karena niat awal ke sini kan memang karena ingin membeli pakaian dalam untuk Hinata. Masa iya anak kecil itu harus ikut? Karenanya cara lembut untuk menyingkirkannya dulu ialah menaruh Sai ke barber shop. Sai yang sudah dipakaikan celemek abu cemberut di kursi tingginya—siap-siap potong rambut. Hinata tersenyum geli melihatnya..
"Sudah ya, kami tinggal sebentar."
"Eh?" Kalimat to the point Sasuke sontak membuat Sai terkejut. "Ayah tidak menungguku?"
"Tidak."
"Aku akan menunggumu kok." Hinata, wanita ber-dress bunga-bunga indigo, menawarkan diri, tapi Sasuke langsung menggeleng.
"Kau ikut denganku." Ia raih pergelangan tangan Hinata dan melirik Sai yang masih tegang di tempat. "Ada toko yang harus kami datangi sebentar."
"Ta-Tapi..." Baru kali ini Sai berani merengek—toh, ini juga pertama kalinya dia ditinggal sendirian di tempat cukur. Tapi setelah ada stylist lelaki yang sempat berbisik ke Sai, entahlah apa, dia pun mengangguk ragu, bersedia ditinggal. "Ya sudah, cepat ke sini lagi, ya."
Sasuke mengucapkan terima kasih ke orang yang mengurusi rambut anaknya dan pergi. Setelah itu si stylist langsung memandangi Sai lewat cermin persegi besar di depan mereka. "Sudah, relakan saja. Mungkin ayah dan ibumu sedang ingin berkencan."
Walau senang Hinata dikira ibunya, tetap saja Sai cemberut.
Usai dari barber shop, Sasuke menggiring Hinata ke lantai dasar Toma Mall. Ia arahkan pandangan Hinata ke toko pakaian dalam bernama Wacoal di ujung sana dan mengucapkan sesuatu kepadanya. "Kau tinggal jalan ke Wacoal, minta ukuranmu diperiksa sama SPG-nya, lalu biarkan mereka memilihkanmu pakaian dalam. Beli sekitar empat pasang, dan bayar pakai ini." Sasuke menyerahkan dua lembar uang 10.000 yen—sengaja dilebihkan agar tidak kurang. Tapi masalahnya Hinata yang sudah diberi uang sebanyak itu masih tetap tak mengerti.
"Apa Sasuke tidak mau menemaniku ke sana?" Tanyanya, polos. Sasuke memandangi toko berdinding kaca itu—sehingga apa yang ada di dalamnya kelihatan semua—dan menggeleng.
"Iya, aku tidak mau."
Hinata memandang lantai. "Ta-Tapi... aku kurang mengerti. Aku belum pernah membeli sesuatu di dunia asing seperti ini."
"Kau cukup ke sana dan lakukan apa yang kusuruh tadi."
Agak tidak yakin sih, tapi daripada membuat Sasuke marah, lebih baik ia mengangguk dan mencoba. Karenanya setelah Hinata memasuki toko Wacoal yang unik itu, Sasuke duduk di bangku seberang toko yang cukup jauh, sekitar 10 meteran untuk mengawasi wanita tersebut.
Sesampainya di sana Hinata berbicara ke salah satu SPG, mungkin dia minta ukurannya diperiksa dulu, karenanya Hinata dibawa ke bagian ruang ukur di dalam. Sasuke menghela nafas lega dan mulai melirik ponsel untuk menyibukkan diri. Setidaknya kegiatan ini berjalan lancar; tinggal menunggu Hinata keluar sambil membawa belanjaannya saja. Tapi yang tidak diduga-duga, ketika beberapa menit tak memperhatikan keadaan, mata tajam Sasuke tak sengaja melihat lambaian tangan Hinata dari dalam toko Wacoal yang berdinding transparan. Ketika Sasuke balas menatapnya dan mengernyit, wanita berponi rata itu menunjukkan dua gantungan pakaian dalam di tangan kanan dan kirinya. Jelas sekali ia menyuruh Sasuke memilihkannya mana yang bagus—merah atau kuning.
"Ck, si bodoh itu..."
Sasuke meringis sambil memalingkan wajah, malu. Tapi supaya cepat berlalu ia pilih warna merah dengan cara mengangkat tangan kanannya. Hanya saja penderitaan Sasuke belum berakhir, karena selanjutnya Hinata menaikkan dua potong pakaian dalam lagi tinggi-tinggi kepadanya. Kali ini satu bercorak polkadot dan satunya lagi zig-zag hitam. Sekarang giliran Sasuke yang membalasnya dengan sebuah death glare mematikan yang seolah berkata 'pilih saja sendiri; jangan tanya aku'. Tapi setelah Hinata mengerucutkan bibir dengan raut sedih dan ke kasir, baru ia sadari bahwa sudah dari tadi mereka berdua diperhatikan oleh beberapa spg dan pengunjung muda lainnya di Wacoal, tak lupa dengan tawa geli.
Sasuke cuma bisa menghela nafas sepanjang-panjangnya dan mengurut keningnya yang berdenyut.
"Sasuke, aku sudah belanja. Ini kembaliannya." Tak lama kemudian Hinata datang ke tempatnya dengan plastik belanjaan yang cukup besar di tangan. Sasuke menerima kembalian itu dengan kasar dan mencubit pipi tembam Hinata, gemas sekaligus kesal.
"Kau ini selalu saja buat masalah..."
Hinata mengelus pipinya sendiri dengan wajah bingung.
Selesai dari Wacoal, sesuai janji keduanya langsung menjemput Sai di barber shop. Poni Sai ternyata sudah pas dibuat sealis, begitu juga rambut panjang di tengkuknya yang telah dicukur rapi. Usai membayar, mereka bertiga berjalan lagi di mall. Sai berseru. "Ayah, nanti kita ke game center dulu, ya!" Sasuke mengangguk dan mengambil tangan Sai yang tampak girang, lalu ia menasihati.
"Jangan lari-lari..."
Sai mengadah pada Sasuke dan tersenyum lebar. Dia balas genggam tangan ayahnya erat-erat lalu menggerakkan tangan lainnya yang kosong untuk meraih Hinata. Mereka bertiga berpegangan dan Sai berujar pelan pada Hinata. "Tahun lalu aku, ayah dan ibu selalu jalan-jalan seperti ini, bergandengan tangan..."
Diam-diam Sasuke menoleh pada Sai. Lalu meluncurlah sebuah kalimat lanjutan dari bocah berusia 9 tahun itu.
"Hinata-san jadi ibuku saja, ya?"
Deg.
Di detik itu Sasuke berhenti berjalan. Tangan Sai yang ketahan akibat Sasuke membuat anak itu terheran. "Ada apa, Ayah?" Lama terdiam Sasuke melepaskan tangan dan menggeleng. Detak jantungnya bergema. Dalam keheningan ini ia menelan ludah, tak bisa berkata-kata. Perpaduan berbagai kata tadi mengubah segalanya. Tidak—ini bukan karena dia 'suka' atau 'tersentuh' sama kalimat Sai. Dia malah merasa kurang ajar dan tidak pantas. Pasalnya baru ia sadari kalau sudah beberapa bulan ini ia dan Sai terhanyut oleh kehadiran Hinata yang tinggal bersama mereka, sehingga lama-kelamaan mereka berdua melupakan sosok istri dan ibu yang sesungguhnya di keluarga Uchiha ini. Sasuke memejamkan mata, sekarang dia merasa seperti sedang berselingkuh. Padahal dulu ia pernah mengucapkan sumpah suci untuk terus mencintai istrinya di depan altar pernikahan. Kecewa sama diri sendiri, Sasuke melepaskan tangan Sai.
"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul."
Sai mengangguk dan menarik Hinata untuk terus mengikutinya. Mata lavender Hinata menatap Sasuke perihatin sekilas, tapi selanjutnya ia langsung teralih lagi ke Sai. Tanpa semangat Sasuke menatap punggung mereka berdua dan mengambil dompetnya di saku belakang. Ia buka dompet kulit berwarna hitam itu lalu melihat secarik foto kecil yang terpajang di salah satu sisi. Di sana ada foto dari Sasuke Uchiha, Hitomi Uchiha, dan anak mereka yang baru berusia enam bulan, Sai. Tiga orang di sana memancarkan senyum bahagia—bahkan sang bayi pun berekspresi demikian. Hati Sasuke bagai teremas saat melihatnya.
Ia bergumam pelan dan mengucapkan maaf ke istrinya yang sudah meninggal. Oke, sifat dan penampilan Hinata memang sangat mirip dengan Hitomi (cuma rambut Hinata jauh lebih panjang), tapi mereka tetap saja tidak sama, kan? Hinata itu bukan Hitomi yang asli ataupun reinkarnasi. Dengan berat Sasuke menutup dompet dan berjalan menyusul Sai dan Hinata ke sebuah game center Toma Mall.
Entah mengapa Sasuke merasa dia harus menjauhkan diri dari Hinata, sang puteri dongeng. Karena sebenarnya Hinata tetaplah orang asing yang masih memiliki batas-batas tertentu di keluarga pribadinya.
Ya, Sasuke meyakinkan diri. Tapi pertama-tama ia harus memisahkan Sai dengan Hinata.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
"Oke... bagaimana kemampuan bersih-bersihku?"
Naruto memutar-mutar lapnya dengan jari telunjuk sambil menaikkan kedua alis di depan Sakura. Gadis Musim Semi yang baru selesai mandi itu menyipitkan mata. Masih dengan dua handuk di leher ia mengelilingi keadaan di apartemen sederhananya. "Akan kucek dulu."
Sakura mendatangi dapur di ujung—tak bisa dilihat langsung dari ruang tamu karena ditengahi dinding tipis—dan tersentak heran memandangi segala perabotan barang yang ada di sana. Piring dan beberapa sampahnya memang sudah dibersihkan, tapi sekantong besar sampah ditaruh di sudut ruangan (tidak dikeluarkan), sedangkan piring-piring yang telah dicuci tertumpuk begitu saja di lantai. Bersih sih bersih, tapi tetap saja berantakan. Ia abaikan itu sebentar dan beralih ke kamar, katanya Naruto juga akan membereskan bagian sana. Kali ini hasilnya lumayan, meski lipatan selimut Sakura agak berantakan dan seprai kasurnya masih lecak.
"Bagus sih sekalipun agak amatir."
"Iya dong." Naruto tertawa. "Meski aku pangeran, sudah lama aku ingin coba bersih-bersih sendiri seperti ini. Dan ternyata hasilnya menyenangkan. Sayang dulu aku dilarang-larang bantu." Ia nyengir dan menyatukan kedua tangannya. "Nah, bagaimana? Apa aku boleh bekerja di sini? Boleh ya, boleh?"
Sakura mengerutkan wajah. Inginnya sih membatalkan janji dan tetap mengusir Naruto supaya pergi dari sini, tapi dirinya tidak enakan. Wajah childish Naruto begitu berseri dan penuh harap. Tapi masa iya dia mau mempekerjakan orang narsis yang selalu menjuluki dirinya sebagai pangeran? Kan tidak ada pangeran yang mau jadi pembantu. Bisa jadi dia ada niat jahat, kan?
"Nanti ya, aku pikir-pikir dulu."
Sakura berjalan ke ruang tengah lagi tapi Naruto segera menghalangi. "Hei, kenapa lagi? Kau kan butuh aku?"
"Aku sebenarnya bisa rapikan semuanya sendiri, tapi cuma tidak ada waktu saja. Lagi pula aku ini tidak terlalu punya uang banyak, bagaimana bisa aku menggaji orang yang berstatus 'pangeran' sepertimu?" Ucap Sakura agak menekan satu kata di sana. Naruto langsung menggeleng.
"Aku tidak butuh gaji. Aku cuma butuh dikasih makan tiga kali sehari dan tempat tidur. Seriusan."
Sakura mengaduh dalam hati. Tapi karena tawaran Naruto sepertinya cukup menguntungkan, lebih baik ia mengangguk. "Baiklah, mulai hari ini kau bekerja di sini."
"YA!" Naruto meninjukan pukulan ke udara. Saking girangnya hampir saja ia memeluk Sakura kalau wanita bersurai itu tidak langsung berniat menendangnya.
"Oh, ya. Aku Haruno Sakura. Namamu siapa?"
Mata biru mengarah tepat kepadanya dan ia tersenyum. "Aku Naruto. Pangeran Naruto."
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Sedangkan di sebuah kamar apartemen yang dimiliki oleh Gaara, penyihir aliran hitam itu duduk semena-mena di permukaan sofa, sedangkan matanya memperhatikan televisi. Sementara itu di bagian sudut kamar terdapat jeruji yang jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya, karena kali ini penjara itu diciptakan khusus untuk Ino, sesosok peri pirang yang sudah berpenampilan selayaknya manusia. Wanita tanpa sayap itu tak bisa berkutik—mulutnya diplester lakban dan kedua tangan dan kakinya disihir. Hingga suatu saat muncul sebuah burung gagak dari jendela yang terbuka. Burung tersebut hinggap di lengan sofa dan berkoak kencang. Gaara memperhatikan apa yang gagak itu omongi, begitu juga Ino yang terbangun karena suara tersebut.
Sesudah dua menit berbicara burung itu pergi, meninggalkan Gaara yang kini menatap lurus ke mata aquamarine milik Ino. "Sekedar informasi, pangeranmu sepertinya sudah punya tempat tinggal sendiri di dekat sini. Sedangkan sang puteri masih dalam tahap pencarian." Pria itu berdiri lalu mendekati jeruji besi Ino. "Menurutmu siapa duluan yang akan kubunuh?"
Ino memandangnya sengit tanpa suara sedangkan Gaara tertawa licik.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Update-nya udah agak cepetan, kan? :D
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Eternal Dream Chowz, Syuchi Hyu, altadinata, Guest, Hee-chan, Hallow-Sama, yukiko miyuki, Clara Merisa, Ruka, jeje chan, Hyou Hyouichiffer, Luluchai10, heartfilia69, alsa-fadila, Po, Uchiha Mega-Hime, Noorzha Lee, Iwahashi Hani, kensuchan, gheetel, yg tadi, Stacie Kaniko, ulvha, Jasmine DaisynoYuki, Anne990401, celestial bronze, LilyObsidian, lina tyolina, lavender hime chan, moonlightYagami, TheMagicGirl1, coro-chan, Rini desu, uchiha yardi, Een, rahayup5, MiyuA, Anggiie RavenIndigo, Purple diamond.
.
.
Pojok Balas Review :
Senyum sendiri bayangin kepolosan Hinata. Haha. Apa Sai bisa mendapat kasih sayang keluarga lagi? Pastinya. Apa Hinata itu ibu Sai? Bukan. Ibu Sai itu OC, Hitomi namanya. Aku harap ada persaingan GaaSasu untuk dapetin Hinata. :) Feel-nya dapet. Makasihh. Buat SasuHina versi kisah dongeng yang lain dong. Wah, susah. Liat punya author lain aja :) Sempet males liat summary-nya tapi pas dibaca enak. :) Bakalan ada pairing NaruSaku dan GaaIno, ya? :) Udah nonton Enchanted tapi aku penasaran sama fict ini. Keep reading. Apa bakalan ada pesta dansa? Kalo versiku sih belum tentu. Apa Sakura akan dibawa Naruto ke dunia dongeng? Liat aja nanti gimana ending-nya haha.
.
.
Review kalian adalah semangatku :'D
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
