Previous Chap :

Hati Sasuke bagai teremas saat melihatnya.

Ia bergumam pelan dan mengucapkan maaf ke istrinya yang sudah meninggal. Oke, sifat dan penampilan Hinata memang sangat mirip dengan Hitomi (cuma rambut Hinata jauh lebih panjang), tapi mereka tetap saja tidak sama, kan? Hinata itu bukan Hitomi yang asli ataupun reinkarnasi. Dengan berat Sasuke menutup dompet dan berjalan menyusul Sai dan Hinata ke sebuah game center Toma Mall.

Entah mengapa Sasuke merasa dia harus menjauhkan diri dari Hinata, sang puteri dongeng. Karena sebenarnya Hinata tetaplah orang asing yang masih memiliki batas-batas tertentu di keluarga pribadinya.

Ya, Sasuke meyakinkan diri. Tapi pertama-tama ia harus memisahkan Sai dengan Hinata.

.

.

Satu bulan Sasuke memikirkan cara-cara apa saja yang sekiranya ampuh untuk menjauhkan Sai, anaknya, dengan Hinata. Tapi masalahnya ini bukan perkara mudah. Mereka berdua sudah bisa diibaratkan bagai perangko dan surat. Ke mana-mana Sai minta ditemani Hinata, bahkan ketika malam menjelang, saat tidur. Tak terhitung lagi jumlah rengekan Sai yang meminta agar Sasuke mengizinkan Hinata tidur satu kasur di kamarnya. Duda satu anak itu cuma bisa mengusap poni rambutnya ke belakang ketika melihat interaksi mereka yang melebihi dari interaksi dirinya dan Sai itu sendiri.

Hinata dan Sai seperti sedang membuat kubu. Mereka berbincang-bincang seru saat makan di meja, mengerjakan tugas bersama, sampai Hinata rela meluangkan waktu untuk membacakan dongeng sebelum bocah tersebut tertidur. Jelas bukan hal yang bisa dilakukan Sai apabila bersamanya. Kini anak semata wayangnya sudah terlalu bahagia dengan kehadiran Hinata. Tapi karena alasan itulah Sai Uchiha hampir tak pernah lagi berinteraksi dengan ayah kandungnya. Sasuke tentu sadar. Dan dia merasa sangat amat tersinggung. Cukup terdiam dan berpikir sejenak. Ada satu hal yang menjadi inti semua ini: Hinata telah merebut Sai darinya.

Bangun pagi, Hinata lah yang Sai bangunkan. Saat sarapan, ia cuma bercerita ke Hinata. Dan tiap pulang sekolah, Sai lebih memilih untuk menjelaskan perkembangan pelajaran dan tugas story telling-nya dengan wanita tersebut. Semuanya serba Hinata, Hinata dan Hinata. Jadi sering rasanya jika dalam sehari Sasuke hanya disebut satu kali oleh Sai. Benar-benar seperti tak dianggap lagi. Jika mengingatnya kadang Sasuke berdecak kesal. Oke, biang keladi dari semua ini memang murni karena jadwal enam hari dalam seminggu yang memaksanya untuk bekerja. Jarang di rumah, pulang malam, tak sempat menanyakan kabar apa-apa ke Hinata dan Sai yang ada di rumah. Tapi tetap, keakraban keduanya yang seolah mendominasi terlanjur membuat Sasuke tak nyaman berada di sekitar mereka. Sasuke cuma tidak suka. Dia juga cemburu. Cemburu ke seorang wanita yang jauh lebih bisa membuat Sai nyaman dibandingkan bersamanya.

Bukannya ayah dari Sai adalah dia? Hinata cuma orang asing, kan?

Tak bisa dibiarkan.

"Sasuke, Sai sudah tidur."

Di malam yang entah ke berapa sejak Hinata tinggal di apartemennya, wanita bersurai indigo itu menghampiri Sasuke yang berada di meja kerja. Ketikannya di keyboard laptop terhenti dan ia lirik wanita itu. Ternyata dia membawa senampan kecil yang menampung cangkir kopi panas. Asapnya mengepul di udara. "Dan juga... istirahatlah sebentar. Bukannya kau sudah berada di depan komputer lebih dari enam jam?"

Sasuke terdiam. Ia alihkan pandangannya angka digital dari jam di sisi kanan samping layar desktop. Dan benar saja, ini sudah lewat tengah malam dan kerjaannya belum kunjung selesai. Ia bergumam sebentar lalu lanjut menekan beberapa huruf di laptop. "Hn."

"Kau tidak tidur?"

"Nanti."

"Tapi, Sasuke, kau bisa sakit kalau—"

"Sudahlah."

Kalimat itu membuat Hinata bungkam. Sasuke melanjutkan.

"Aku bukan anak kecil. Aku bisa mengatur diriku sendiri."

Senyuman tipis Hinata yang semula terpatri kelamaan menghilang. Ragu, ia mengangguk patuh kemudian pergi. Sedangkan Sasuke hanya menghela nafas dan menyesali perbuatannya.

Agak tidak enakan memang saat bersifat seperti itu, tapi biarlah.

.

.

.

HAPPILY EVER AFTER

"Happily Ever After" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]

Romance, Drama, Fantasy

AU, OOC, Typos, etc.

(inspired from enchanted)

.

.

SEVENTH. Sang Istri

.

.

Di waktu yang sama, saat jalanan kota Tokyo sedang disibukkan oleh segelintir sisa kendaraan yang masih saja berlalu lalang, Gaara muncul dengan jaket hitam bertudung. Ia singkirkan tudung itu lalu mengadah. Mata giok yang dia miliki menatap lurus persis ke sebuah bangunan apartemen yang berdiri kokoh di hadapannya. Sebuah apartemen mewah yang hanya mampu ditempati oleh orang-orang berada seperti keluarga Uchiha yang kaya dan hidup soliter.

Pria bersurai merah acak-acakan itu mendengus. "Oh, jadi dia tinggal di sini?"

Sudut bibirnya naik. Ia berjalan maju sambil mengeluarkan tongkat sihirnya dari balik jubah. Mantra pendek dilafalkan dan muncullah sebuah benda kecil menyerupai sebuah capung hitam—yang agak beda dari spesies capung kebanyakan. Capung tersebut berdengung menunggu perintah.

"Cari kamar Hinata. Hafalkan nomor di bagian pintunya." Katanya.

Kemudian benda yang tampak hidup itu terbang dengan kepakan sayap. Ia melesat bebas menuju jendela demi jendela gedung tinggi tersebut. Satu per satu ruangan ia jelajahi, mulai dari yang terbawah.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Keesokan harinya, makan malam di jam 18.00 berlangsung tenang. Dentingan alat makan yang mengenai piring mewarnai suasana. Tak hanya itu, selain suara berita dari televisi yang masih terdengar, Sai sesekali meramaikan pembicaraan di sekitar meja persegi tersebut. Topik kali ini yang dibahas adalah bahan story telling-an Sai yang akan dia tampilkan beberapa bulan lagi. Walau sudah terlalu sering dibicarakan, Hinata mendengarkannya dengan antusias.

"Soal presentasi story telling sekolah, aku sudah memutuskan untuk membuat cerita fabel." Ucap sambil mengunyah spicy wing-nya. Matanya menatap lurus Hinata yang berada di sebelahnya. Sasuke yang berada di hadapan mereka melirik sekilas, lalu memutuskan untuk kembali fokus makan. "Judulnya Mr Leopard. Keren, kan?"

"Ah, bagus. Apa alur ceritanya sudah selesai?"

"Mm."

"Mau kapan ilustrasinya digambar di kertas?"

"Sudah kok. Kemarin bahkan sampai kertas ketiga. Hinata-san mau lihat?" Ucapnya bangga. Kemudian Hinata mengelus kepala Sai yang duduk di sebelahnya.

"Boleh."

Sai senyum-senyum. Kedua kakinya yang tergantung terayun senang. Hinata meminum segelas air mineral di depannya, lalu ia menatap Sasuke. Pria itu diam membisu. Bahkan cara makannya saja sunyi. Hinata yang sadar cuma kebingungan sendiri. Walau tidak tau Sasuke benar-benar marah atau tidak, ia yakin atmosfir di ruangan ini serasa timpang sebelah.

"Ah, iya. Sasuke sendiri sudah dengar cerita Mr Leopard-nya Sai, belum?"

Sasuke menghentikan kegiatan makannya. Sai menyusul dengan gelengan. "Belum. Aku belum beritahu ke siapa-siapa..."

"Ceritakan sekarang saja ke kami." Hinata tersenyum lebar.

Sai menatap ayahnya penuh harap. Baru kali ini ia akan menceritakan sesuatu di depan ayahnya. Agak deg-degan juga. "Ba-Baiklah... ceritanya itu tentang—"

"Tak perlu." Sasuke yang berdiri mendadak menghentikan semuanya. Dia ambil piringnya yang belum habis sempurna lalu berbalik ke dapur—menyudahi acara makannya. "Ceritakan saja ke Hinata. Untuk apa juga kau menceritakannya kepadaku?"

Kalimat itu menjadi penghancur senyum Sai di malam ini.

"Sasuke?" Hinata heran. Sasuke pura-pura tuli. Menelan ludah, Sai kembali ia lirik. "Ah, ja-jangan terlalu memikirkan kalimat ayahmu, mungkin dia sedang capek habis pulang kerja..."

Sai menggeleng. "Tak apa. Ceritaku memang tidak penting kok."

Hinata membisu. Pandangan sendu ia keluarkan. Dapat ia yakini, Sai mendengar kalimat terakhir Sasuke sebagai sebuah tohokan. Ada sakit yang menjalar di hati bocah bersurai hitam itu. Hinata semakin khawatir hubungan keduanya memburuk. Dan berhubung panggilan dari Hinata tadi diabaikan Sasuke, lantas dia berdiri dan mengikuti Sasuke ke dapur. Walau tak begitu jauh dari meja makan, setidaknya dia bisa membelakangi Sai yang masih bergeming di tempatnya.

"Sasuke." Bisikan Hinata membuat Sasuke yang sedang melihat isi kulkas menoleh. Wajah wanita itu cemas sekaligus heran. "Ada apa denganmu?"

"Aku? Tak apa."

"Lalu kenapa kau bersikap begitu ke Sai? Dia ingin bercerita."

"Sudah kubilang, aku tidak perlu tau."

"Kalaupun tidak suka, paling tidak kau mendengarkannya..."

Sasuke berdecak. Tampang kesalnya terpampang jelas. "Dengar; kau tidak punya hak apa-apa untuk menyuruhku. Lagi pula bukannya Sai memang lebih percaya padamu sekarang? Sampai menceritakan hal-hal tidak penting seperti itu kepadamu tiap hari?"

"Hal-hal tidak penting seperti itu? A-Apa maksudmu?" Hinata meringis sedih. "Sai hanya ingin mengobrol, dan dia sangat berharap kau mau menanggapinya. Apa susahnya diam mendengarkan, Sasuke?"

Pusing. Tidak mau tau dan tidak mau dengar. Sasuke menyentak pintu lemari pendingin dan menatapnya garang. "Tau apa kau tentang kami? Kau hanya orang asing!"

Kaget. Buliran keringat mulai mengalir di pelipis dan leher Hinata. Dia gemetar takut. Sasuke baru saja bad mood dan dia yang terkena amarahnya. Lantas Hinata mengatupkan bibir. Mata lavendernya mengarah ke bawah. Terus terang saja, Hinata tidak suka sifat Sasuke hari ini. Terlalu jahat dan bebal, menurutnya. Tapi pria itu mengatakan kebenaran yang ia lupakan. Dia hanyalah orang asing di keluarga Uchiha. Orang yang seharusnya tidak ikut campur urusan Sasuke dengan anaknya. Jadilah ia hela nafas dan mencoba berkata lirih. "Maaf... atas kelancanganku."

Sejenak Sasuke beralih memandangi Sai yang masih di meja makan. Dengan kedua tangan yang telah terlipat di dada ia menghela nafas. Hinata dia tatap lagi. "Sudah berapa lama kau tinggal di sini?"

Hinata menatap iris kelam milik Sasuke. Dia dapat menebak alur pembicaraan ini. "Du-Dua atau tiga bulan, mungkin."

Kemudian pria dewasa bertubuh tinggi itu berjalan maju, saat ia melewati Hinata, dia diam sebentar untuk berbisik pelan. "Kapan kau akan pergi?"

Dan di detik itu Hinata tak bisa berkata-kata. Pupil matanya melebar.

Secara tak langsung Sasuke mengusirnya.

Oh, bukan. Bukan tak langsung.

Mungkin dalam konteks ini secara langsung Sasuke mengusirnya.

Sasuke ingin dia cepat-cepat pergi.

Hinata menunduk. Ada sebagian dari kepingan hatinya yang terasa robek oleh perkataan tadi.

Dengan bibir bergetar dia menjawab lirih, sekalipun sudah tak ada lagi Sasuke di sana.

"A-Akan k-kuusahakan... secepatnya..."

Tahan air matamu, Hinata...

Jangan nangis...

Dan bertepatan dengan keheningan di tiap wilayah ruang apartemen, sebuah benda sihir milik Gaara masuk ke kediaman Uchiha melewati sebuah celah di jendela yang kebetulan belum ditutup. Sesuatu yang menyerupai capung itu—yang sedari siang mengelilingi gedung ini—memandangi Sai di meja makan, yang sedang memperhatikan sisa makan malamnya dengan tatapan tak berselera. Tak ada urusan, dia mengepakkan sayap ke bagian kamar Sasuke, gerakan yang cepat membuat Sai hanya sedikit menoleh pelan.

Tak ada siapa-siapa di bagian kamar, benda itu terbang ke dapur. Menemukan si surai indigo, ia hinggap di suatu lemari dan menyaksikan Hinata yang membatu di tempatnya berdiri. Mata bulatnya yang merah membuka fungsi deteksi. Dia sempatkan diri menganalisa muka Hinata, dan...

Pip pip.

Ada sinar kedipan biru di bagian atas kepalanya. Itu tandanya apa yang dia lihat adalah benar, orang yang dicari-cari oleh Gaara.

Puteri Hinata dari dunia dongeng sudah ketemu.

Gaara harus tau ini secepatnya.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Awan mengambang tenang di atas langit kota Tokyo, dan beburungan bercicit senang dari luar jendela. Sakura yang siang nanti baru masuk kerja menghabiskan sisa waktunya di atas sofa. Duduk sembarangan dan ditemani oleh bantal empuk dan sebungkus keripik kentang. Televisi yang berada di hadapannya menyetel sebuah film drama romantis. Memaparkan sebuah kisah dari dua insan beda derajat yang menjalin cinta di sebuah kota indah. Cerita yang klise mungkin, tapi tetap saja membuat mata emerald Sakura Haruno tak lepas dari layar dengan tatapan berbinar.

Sedangkan di ruangan berbeda, Naruto, yang ngakunya seorang pangeran dari kerajaan dongeng, kini hanya menggunakan kaus dan celana pendek. Wajahnya ditutupi masker, dan salah satu tangannya memegang sebuah penggosok wc.

Srok srok srok.

Srok srok.

Srok.

"Ah, sial! Badanku pegal!" Belum setengah selesai membersihkan kamar mandi, si pirang jabrik itu mengeluh hebat. Ia banting sikat yang ada di tangannya dan berdiri sesaat untuk meluruskan tulang punggung. Oke, dia suka bersih-bersih, tapi badannya sama sekali tidak cocok di pekerjaan di sini. Naruto menduduki kloset yang tertutup dan menghela nafas. Ia perhatikan keadaan ruangan kecil tersebut yang penuh busa sabun, lalu melirik kedua tangannya yang sedang dilapisi oleh sarung tangan karet berwarna kuning. Dia terdiam beberapa detik, melamun, sampai akhirnya suara dari luar—berupa audio televisi—membuat pria tampan itu menoleh.

Cemberut, Naruto berdiri. Dia keluar dari kamar mandi, melepas alat bersih-bersihnya dan menghampiri Sakura. Duduk begitu saja di sofa yang sedang dipakai Sakura sebagai sandaran kaki. Wanita itu mengaduh pelan.

"Sakura..." Gumamnya sambil melipat kedua tangan. "Aku capek."

Sakura sweatdrop. "Ya istirahatlah."

"Aku ingin istirahat setiap hari."

"Maksudmu dari tugas yang tiap hari kuberikan?"

Naruto mengangguk. "Aku ini pangeran. Aku bisa capek."

Sakura menggigit chip-nya, bete. "Bukannya aku tidak memaksamu mengerjakan tugas bersih-bersih di sini?"

"Tapi kalau aku tidak bersih-bersih, pasti kau akan mengusirku."

"Tentu saja. Aku tidak bisa menampung manusia yang kerjaannya cuma bisa menghabiskan jatah air, listrik, dan makanan di apartemenku, kan?"

Naruto semakin memajukan bibirnya, melas. "Aku pangeran tau. Aku bisa membayarmu suatu saat nanti."

"Sudah kubilang, jangan terlalu keseringan membahas dirimu sebagai pangeran. Aku sama sekali tidak percaya." Sakura matikan televisinya lewat remote dan berdiri. Dia serahkan potato chips-nya ke Naruto dan beralih ke kamar. Dia bingung.

"Kau mau ke mana?"

"Ke kantor. Kalau hari ini aku memang agak siangan masuknya." Ia berkata. Naruto mengangguk, kemudian menyalakan televisi dan menonton kartun. Cukup lama, Sakura keluar dari kamar dengan pakaian formal dan wajah cantik yang terhias make up ringan. "Kalau kau capek, tidur aja dulu. Tapi aku mau semua kerjaanmu—sapu dan cuci piring—selesai saat aku datang. Bye."

"Hei, kau meninggalkanku sendiri lagi?" Naruto berkomentar sebelum Sakura benar-benar keluar apartemen. Pria itu mendekati Sakura dan kembali memasang puppy eyes. "Kalau pergi siang biasanya kau pulang malam. Aku takut sendirian, tau..." Beberapa minggu tinggal bersama Sakura membuat Naruto sering mati kebosanan dan ketakutan saat menghabiskan waktu sendirian begitu.

Sakura menoleh heran. "Lalu kau mau apa? Aku tidak bisa memberikanmu uang saku untukmu jalan-jalan ke luar. Kau bukan anakku, bodoh."

"Aku tidak minta uang jajan." Senyum Naruto berkembang. "Aku mau ikut kau ke kantor. Itu saja. Boleh?"

Sakura mengernyit, sempat menolak keras, tapi lama-lama dengan terpaksa Sakura membiarkan Naruto ikut menaiki mobilnya. Iya, dia memperbolehkan. Tapi dengan syarat berupa: dia harus memakai pakaian rapi, tidak boleh berisik atau berbuat ulah, dan ini akan menjadi kali pertama dan terakhir Naruto ikut ke kantor. Dan Naruto mengiyakan.

Akhirnya dengan ribuan basa-basi dan omelan yang Sakura keluarkan—sebenarnya untuk mematahkan keinginan Naruto ke kantornya—tau-tau mereka sampai ke parkiran gedung kantor Uchiha. Saat Sakura membawa Naruto ke ruang kerjanya, sepanjang perjalanan banyak teman-teman yang mengira bahwa Naruto—pria tampan dengan potongan kemeja dan celana hitam (pinjam dari tetangga)—adalah pacar atau calon suaminya. Ada yang berkata mereka terlalu serasi. Selain masing-masing postur tubuh yang sempurna, rambut keduanya sama-sama berwarna cerah, plus iris mata yang warna-warni. Naruto cuma bisa tertawa dan Sakura hanya menepuk muka. Abaikan saja opini mereka, batinnya.

Dan Sakura bersyukur, kini pintu ruangannya—bersama bawahan-bawahan penting Sasuke lainnya—sudah di depan mata. Segeralah ia buka pintu tersebut. Namun tak disangka ada Sasuke Uchiha berdiri di sana, berbicara dengan Aburame Shino yang mengisi jabatan bendahara. Karena itulah buru-buru Naruto langsung didorongnya kembali ke belakang, takut di ruangan itu ia tidak diizinkan membawa orang lain.

"Eh, Sakura? Kenapa?" Naruto menolak keluar.

"Ada bosku. Kau jalan-jalan keluar dulu saja."

"Ah, aku tidak mau. Isinya orang asing semua."

Sakura mendelik. "Naruto, aku sebenarnya tidak boleh membawa orang asing ke gedung ini! Pergilah dulu—!"

"Sakura."

Panggilan pria raven di ujung ruangan mengagetkan Sakura. Dengan gelalapan ia berbalik—berusaha menghalangi sosok Naruto agar tak terlihat. "Tolong berikan ini ke sesi penjualan." Mendekat, Sasuke memberikan sebuah map kepada Sakura. Kemudian oniks Sasuke beralih ke si pirang yang ada di belakang sekretarisnya. Wanita itu mengaduh dalam hati.

Merasa mata Sasuke terus memperhatikan, Naruto memicing curiga. "Apa lihat-lihat—?" Omongannya terhenti karena ada ujung heels yang menginjak sepatunya.

"Ma-Maaf, Uchiha-san. Dia... mm... dia sepupuku. Agak kurang ajar anaknya." Ia mencubit Naruto dan menyuruhnya minta maaf. Tapi Sasuke tak begitu memedulikan ketidak-sopannya.

"Siapa namanya?"

"Naruto. Pangeran Naruto." Dengan berani langsung ia tarik tangan Sasuke, menjabatnya sambil tersenyum penuh wibawa. "Dari negeri dongeng."

Untuk sepersekian detik, mata Sasuke melebar. Ada sesuatu yang membuatnya langsung teringat oleh sosok wanita di dalam apartemennya. Hinata, tentu saja.

"Kau... pangeran?"

"Iya, aku pangeran. Aku cuma lagi di bumi untuk mencari calon istriku—hmfh!"

Sakura buru-buru membekap Naruto sebelum kalimat aneh anak itu kembali keluar. "Maaf, Uchiha-san. Dia memang agak error orangnya." Dengan tertawa maksa Sakura langsung menyuruh Naruto duduk dengan rapi di mejanya. Setelah itu ia berhadapan lagi dengan Sasuke, membungkuk penuh penyesalan karena telah membawa orang asing ke tempat kerja. Sasuke mengiyakan sesaat walau pikirannya masih dipenuhi oleh sekelebat pikiran. Sebelum pergi, dia menatap Naruto sekilas.

Pangeran?

Dunia dongeng, katanya?

Pria pirang itu mirip Hinata.

Sama-sama gila.

Ah, tapi...

Di saat itu juga sebuah perasaan bersalah memasuki relung hati Sasuke. Kayaknya beberapa hari belakangan ini ia terlalu jahat ke Hinata. Sejak wanita itu tau dia tak begitu suka melihatnya dekat-dekat dengan Sai, Hinata tampak jaga jarak. Bahkan ia sudah tak pernah lagi mengantar Sai sekalipun anak tunggalnya itu memohon-mohon agar Hinata mau mengantarnya. Dan karena itulah Sai kembali seperti dulu. Selalu murung dan diliputi hawa sedih jika cuma berduaan dengan Sasuke. Seperti raut yang ia pakai saat mengingat ibunya meninggal.

Sasuke berdecak.

Padahal dia ingin membuat rencana untuk menjauhkan Hinata dari Sai, tapi apa daya kalau dia sama-sama tidak nyaman kalau situasinya seperti ini?

Pria 35 tahun itu baru sadar kalau ia sudah berlebihan.

Apa ia harus minta maaf?

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Sasuke pulang sore hari ini. Kain jas abu yang ia pakai dicengkram oleh tangan, bersamaan dengan sekantung plastik berwarna biru pastel. Pria berkemeja kantor itu masuk ke apartemennya dan menelaah sekeliling ruangan dengan mata. Hanya ada Hinata yang di ruang tengah. ia sedang menyetrika sambil menonton televisi dengan suara kecil. Hanya saja saat melihat Sasuke pulang, wanita itu jadi tiga kali lebih canggung. Tak ada suara sambutan 'okaeri' yang keluar dari bibirnya. iris lavender itu pun hanya sekilas melihatnya dan kemudian menunduk.

Tampaknya dia masih terpukul sejak kejadian seminggu yang lalu. Kejadian yang mampu memangkas hubungan mereka hingga kembali ke tahap stranger. Sasuke menghela nafas dan memalingkan wajah. Ia lepaskan kedua sepatunya sambil berpikir.

Ada yang harus ia perbaiki di sini.

"Hinata."

Wanita itu tersentak saat suara serak itu tertuju padanya. Bahunya naik dan ia membuka mulutnya. Ingin menjawab namun ragu. "Y-Ya?"

"Sai di mana?"

"D-Dia... main ke kamar tetangga."

"Kamar nenek Chiyo?"

"Iya."

Sasuke jadi teringat ada banyak tetangga yang menyenangi anak tunggalnya. Tak terkecuali seorang nenek-nenek berambut kelabu yang tinggal bersama anak perempuannya di kamar sebelah. Karena sering ditinggal sendiri di kamar apartemen, Chiyo sering mengajak Sai ngobrol dan memberikannya beberapa potong kue lezat saat bocah itu lagi tidak ada kerjaan. Sasuke melirik jam. Melihat ini sudah jam enam sore, mungkin dalam hitungan menit bocah itu akan kembali. Sasuke ingat ia sudah membatasi jam main Sai jika ia berkunjung ke tetangga.

Tapi di lain hal, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Sasuke. Ia kembalikan pandangannya ke Hinata yang menyetrika. Tatapannya sendu. Wajahnya yang menampilkan kesedihan masih terpajang kusut di sana, membuat Sasuke tidak tahan menelan ludah, menahan rasa simpati atas diri wanita itu. Karenanya Sasuke melangkah maju; ia duduk tanpa izin di sofa sebelah Hinata. Dapat ia lihat kedua bahu pemilik surai indigo tersebut naik tiba-tiba. Dia terkejut. Hinata kaget saat Sasuke mengisi sofa sebelahnya yang telah lama dingin tak diduduki. Dengan raut cemas Hinata mematikan setrikanya lalu melipat sisa pakaian. Degup jantung yang berdetak resah membuatnya ingin segera beranjak dari sana dan beralih ke dapur. Atau apa sajalah, asal dia tidak bersebelahan dengan Sasuke Uchiha yang membencinya ini—

Tapi terlambat. Saat Hinata berdiri, tangannya dipegang erat.

"Aku tak menyuruhmu pergi dari sini."

Satu kalimat yang mampu mendudukkan Hinata kembali di sebelahnya. Kali ini jarak mereka menipis—hanya sebatas setengah bentangan lengan. Suasana hening terasa dan mereka hanya duduk sambil ditemani suara televisi yang masih menyala. Di tempat duduknya, Hinata sendiri menelan ludah. Dia lagi benar-benar takut pada sosok itu, sosok Sasuke. Tapi tangan mereka yang masih bersatu, serta aroma parfum maskulin Sasuke yang menenangkan, menahannya untuk tidak ke mana-mana. Hanya saja Hinata tak kuat berlama-lama. Dia tak nyaman di posisi seperti ini. "Ada apa... Sasuke?"

Hinata yang bertanya tanpa menoleh membuat Sasuke menatapnya dari samping. "Aku membawakan sesuatu."

Plastik berukuran sedang ditaruh di atas meja. Saat dibuka terlihatlah sebuah kotak transparan yang menampung enam cupcake hias. Krimnya warna warni dan banyak hiasan seperti coklat, mesis dan manisan lain. Hinata menatapnya dengan tatapan kagum, namun juga bingung.

"A-Apa Sai ulang tahun hari ini?" Takut-takut Hinata bertanya. Sasuke menggeleng.

"Dia masih lama." Sasuke membuka kotak tersebut dan mengeluarkan cupcake dengan krim biru di atasnya. Pria itu mengupas sedikit kertas roti di bawahnya dan menyodorkannya ke Hinata. "ini buatmu."

Hinata tertegun. Sedikit lupa cara bernafas. "U-Untukku? Buat apa?"

"Makan saja."

Hinata tak menggerakkan tangan. Dia menggeleng kaku. "Itu... untuk Sai saja. A-Aku tidak terlalu membutuhkannya."

"Ini untukmu. Sai masih bisa kusisakan banyak." Sasuke mulai mendesak, dan Hinata berniat kabur lagi, tapi lagi-lagi tangannya sudah tak lagi ditahan. Hinata luar biasa bingung harus bertindak apa. Dan setelah lima detik keduanya sama-sama terdiam, Sasuke segera berbicara pelan. "Aku cuma mau minta maaf atas perlakuanku dulu."

Hinata yang menatapnya. Iris lavendernya terbeliak.

"Maaf. Aku minta maaf."

Hinata duduk lagi dengan wajah tak percaya. Ia perhatikan Sasuke yang kini memandang ke arah lain sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Agak malu. "Aku cuma iri karena Sai lebih dekat denganmu. Cuma karena hal sesepele itu. Dan butuh berpikir lama untuk menyesalinya."

Hinata menggigit bibir. Ada sebuah senyuman lembut yang akhirnya ia keluarkan juga setelah sekian lama tak pernah dia lihatkan lagi di sini. "Sai..." Katanya, mengawali. "Sai sangat menyayangi Sasuke kok. Dia bercerita banyak tentangmu."

Sasuke memaksakan dirinya terkekeh singkat. Sekalipun masih ada perasaan bersalah yang mengedap di hatinya. Cupcake yang ada di tangannya sedikit ia tekan. "Dia lebih menyayangimu."

Hinata menggeleng. "Kami berdua menyayangimu, Sasuke."

Sasuke tertegun. Dia tak bisa membalas lagi kalimat yang Hinata ucapkan kepadanya. Ada sebesit perasaan hangat yang menjalar. Dia hanya memandangi wajah Hinata, tertuju pada lekungan bibirnya yang merah muda. Detak jantung Sasuke Uchiha berdentum tanpa henti. Detik itu juga sasuke menahan diri. Ia usahakan tubuhnya agar tidak otomatis maju, merengkuhnya sampai punggung wanita itu bersandar di bantalan sofa, dan menciumi bibir menggodanya itu bertubi-tubi. Sasuke memejamkan matanya sesaat. Entah pikiran buruk itu datang dari mana. Tapi yang jelas sempat ada keinginan untuk melakukannya—yang ia jamin akan ia sesali suatu saat nanti. Tentu saja, bagaimana bisa dia berpikir untuk mencium seorang wanita yang belum lama ini ia jahati karena perasaan cemburu? Gila saja.

Karena itulah Sasuke berdiri, menahan dirinya kuat-kuat. Ia letakan cupcake birunya ke atas kotak plastik, dan kemudian pergi.

Dia anggap masalahnya dengan Hinata selesai sampai di sini.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Hari-hari menjadi menyenangkan sejak Sasuke sudah tak memiliki sentimen ke Hinata. Wanita itu mulai kembali ke sifatnya semula, perlahan-lahan meluangkan lebih banyak waktu mengajak ngobrol Sasuke. Sai yang melihat hubungan keduanya yang mulai membaik turut senang. Ekspresi bahagia terpancar dari wajah bocah kelas tiga itu. Intinya semua menjadi normal. Hanya saja suatu malam, saat Hinata beres-beres lemari buku di ruang kerja Sasuke—debu yang cukup tebal membuat Sasuke mengizinkannya merapikan barang di sana—ia menemukan sesuatu. Benda itu adalah album foto yang cukup tebal dan berat. Di bagian cover-nya didesain motif-motif luar angkasa model goresan krayon anak kecil. Penuh gambar roket dan bintang. Hinata dapat meyakini bahwa ini adalah album foto dari Sai.

Tapi Hinata ragu untuk langsung membukanya. Dia harus minta izin terlebih dulu. Dan berhubung di jam segini Sai pasti sudah tidur, lebih baik ia beralih ke kamar Sasuke.

Tok tok tok.

Suara pintu yang diketuk membuat Sasuke yang ada di dalam kamar menoleh ke arah pintu. Ia bergumam, tanda menyuruhnya masuk karena di awal ia sempat berpikir bahwa orang itu adalah Sai. Namun ketika kepala Hinata lah yang terlihat dari sela pintu, Sasuke menelan ludah dalam diam, agak menyesal. Tapi karena hubungan mereka sudah membaik, ya apa salahnya? Maka dari itu Sasuke yang sudah nyaris tertidur di kasurnya segera membenarkan posisi menjadi terduduk, lalu menyalakan lampu di meja sebelah.

"Ada apa?" Tanyanya dengan suara ngantuk, pendar lampu tidur yang menyala membuat ekspresi Sasuke tak begitu kelihatan. Hinata yang ada di sana langsung mengerjap. Dari balik cahaya ruang tengah yang masih menyala, dapat ia lihat Hinata yang mengeluarkan sebuah buku di balik punggungnya. Buku berukuran persegi yang memiliki hard cover berwarna navy blue.

"Ngg..." Ia peluk buku itu dengan penuh harap. "Saat aku beres-beres, a-aku menemukan ini... boleh aku membacanya?"

"Buku? Untuk apa kau minta izin cuma karena itu?"

Hinata menatapnya lagi, gugup. "Karena... i-ini kan album foto..."

"Album?" Sasuke mengernyitkan mata. Ingin melarangnya, tapi karena sudah terlambat, Sasuke memijat keningnya dan berdecak. Kalau saja ia belum telanjur mengatakan kalimat 'untuk apa kau minta izin' ke Hinata, mungkin ia tak akan mengizinkan wanita itu menyentuh benda pribadinya lebih mendalam. "Ya, terserah."

Dengan raut penasaran Hinata membuka album. Ia masih berdiri di ambang pintu. Kemudian Hinata membalik halaman per halaman. Tentu dengan pandangan antusias dan beberapa kali ia tersenyum kecil. "Sepertinya ini album saat kelahiran Sai... dia masih begitu kecil..."

Sasuke tak menggubrisnya, tapi Hinata pun tak menghiraukannya karena ia juga tak berharap dikomentari. Lalu ketika ia melihat Sasuke yang ada di kasur mulai memunggunginya, berniat kembali tidur, Hinata berniat keluar. Baru akan menarik daun pintu agar tertutup, ada seucap kalimat yang keluar tanpa dipikir. "Sepertinya... Sasuke sudah lama tidak membaca album ini. Mau melihatnya bersama?"

Pertahanan Sasuke bagai melonggar. Dia yang sebenarnya sudah mengantuk mendadak mendapat tenaga untuk menghadapkan wajahnya ke Hinata. Ia hela nafas, lalu menyuruh wanita berponi rata itu ke kasur. Hinata merespons senang. Dengan sopan ia naiki ranjang Sasuke dan duduk di sebelahnya. Bahu mereka bersentuhan saat mereka sama-sama menyandarkan badan ke pinggiran ranjang. Tak lupa, lampu tidur satu lagi Hinata nyalakan atas perintah Sasuke.

"Dimulai dari halaman pertama, ya?"

"Hn."

Terdengar bunyi lembaran buku yang terbuka. Terpampanglah foto Sai saat masih berada di inkubator. Jelas itu difoto dari jauh—dari balik kaca pengawas.

"Ini... Sai, kan?"

"Iya, itu Sai." Sasuke yang lupa lupa ingat juga mendekatkan wajah. Bayi bertubuh kecil itu masih merah, tidur dengan wajah kalem. "Dia lahir prematur—lebih cepat dari perkiraan. Tapi kami bersyukur dia terlahir normal."

Hinata tersenyum. "Baguslah..." Ia membalik halaman lain. Masih banyak foto Sai yang terpajang. Foto demi foto terdapat perubahan yang cukup terlihat. Ada foto saat bocah itu sudah bisa digendong oleh suster. Lemak dari kandungan ASI membuat penampilannya lebih gemukan. Kepalanya yang ditumbuhi surai hitam mulai melebat. Saat foto tidur Sai yang lain, pipinya yang putih dialiri oleh liur. Hinata tertawa manis dan menyentuh foto Sai dengan ujung jarinya. "Sai benar-benar imut..."

"Ya."

Halaman berikutnya, terlihatlah seorang wanita yang ada di atas ranjang rumah sakit mahal. Wanita itu berambut pendek sebahu, surai gelap dan paras lembut. Sewaktu di depan pintu sebenarnya Hinata sudah melihat, tapi karena ada Sasuke sekarang, lebih baik ia bertanya itu siapa—

"Istriku. Mediang istriku."

Sasuke seolah bisa membaca pikiran. Hinata menatapnya yang sedang menatap sendu halaman album. Dan Hinata sedikit menunduk. "Maaf." Matanya beralih ke foto itu lagi. "Dia sangat cantik."

"Aku tau."

Suasana aneh mulai melintas. Lalu Hinata membalik kertas. Kali ini ia temukan foto Sasuke, istrinya, dan juga Sai yang ada digendongan sang ibu. Mereka foto sekeluarga di studio, sepertinya. Dan dapat Hinata saksikan wajah Sasuke saat muda dulu, beberapa tahun yang lalu. Wajah datarnya tak terlalu mendominasi. Ada sedikit seringai di sana. Tatapannya yang sedang melihat Sai pun terasa hangat. Suatu hal di sana yang mampu membuat Hinata tersenyum.

"Kalian terlihat bahagia."

Sasuke tak lagi berbicara.

"Kau memajang foto ini?"

"Ada di dompetku. Sudah kuperkecil."

"Kenapa tidak di taruh di dinding apartemen?"

Ada jeda sejenak. "Mengingatnya hanya bisa membuatku sedih." Untuk pertama kalinya Sasuke tersenyum lirih, Hinata yang mencuri lihat agak tertegun, deg-degan. Ia tidak tau Sasuke terlihat sangat memesona di saat-saat seperti ini. Karena itu dengan sebutir kenekatan, Hinata mencoba mengganti topik. Sedikit curhat lebih tepatnya.

"Kalau di rumahku... aku tidak punya foto. Tapi pangeran pernah meminta seseorang untuk melukiskan wajahku... dan katanya pangeran menaruh gambar itu di kamar." Tapi karena sadar bahwa out of topic-nya sedikit maksa, pipi Hinata bersemu malu.

"Kau masih menunggu pangeranmu menjemput?"

Hinata tertawa hambar. "Iya. Tapi masalahnya... pangeran yang menolong puteri itu hanya ada di kisah dongeng. Dan aku... tak lagi ada di sana."

"Jadi kau sudah tidak berharap lagi pangeran itu datang?"

Hening. Hinata tak mampu menjawab. Dia malah jadi teringat oleh sosok Naruto yang entahlah dia sedang di mana. Apa dia sudah mencari istri lain untuk dia nikahi? Atau bagaimana?

"Entahlah, aku tidak tau." Tandasnya, cepat. "Tapi... aku ingin menikah. Aku ingin punya seorang bayi yang selalu menemaniku." Hinata tersenyum. Sasuke juga tak banyak berkomentar. Lalu tiba-tiba, di tengah keheningan malam, dan sinar jingga dari masing-masing lampu di sisi ranjang, Hinata berujar pelan.

"Seandainya... aku adalah ibu dari Sai..."

Kedua mata Sasuke terbuka. Sosok Hinata yang ada di sampingnya saat ini seolah berbayang menjadi dua. Satu adalah Hinata, yang nyata. dan satunya lagi adalah istrinya, yang cuma hal maya. dan dia seolah merasakan deja vu. Deja vu tentang salah satu kenangan ia dan istrinya yang tak pernah bisa ia lupakan. Hitomi juga pernah mengajaknya membaca ulang album foto Sai saat tengah malam. Kalau tidak salah sebulan sebelum kecelakaan maut merengut nyawanya. Iya. Ini kerjadian yang teramat sangat persis. Dan Hinata mengulanginya. Mengulangi kenangannya bersama sang istri.

Hati Sasuke berdesis dan ia kembali menatap Hinata.

Istrinya yang berhati lembut.

Istrinya yang begitu mengetahui seluk beluk sifatnya.

Istrinya yang tau cara mengatasi emosinya.

Istri yang disayangi dan dia rindukan.

Dan Hinata lah yang saat ini ia lihat. Dengan piyama kedodoran yang bahkan ujung kain di lengannya sedikit menutupi jemari. Dengan rambut terurai tak tersisir, namun masih jatuh sempurna menutupi bahu putihnya. Dengan ekspresi manis yang tak akan pernah membuat Sasuke bosan.

Baru ia sadari, mereka benar-benar mirip.

Hinata dan istrinya.

Poni rata yang jatuh dengan lembut di dahinya. Parasnya, kelembutannya, dan tutur katanya yang santun.

Hinata baru akan kembali berbicara, namun saat ia menyampingkan wajah, ia temui kepala Sasuke yang sudah mendekat. Tangan hangat pria itu menyentuh bahunya, memiringkan wajah, dan tanpa aba-aba lebih ia cium bibir Hinata. Agak ditekan, Sasuke mencoba bernafas lewat hidung. Hinata memejamkan mata. Tangannya masih memegang album, mematung, tak dapat bergerak. Lalu muncullah beberapa kecupan yang mampu membuat isi perutnya bagai menjerit. Bahu Hinata naik tinggi.

"Hmmmh...'

Dia yang merasakan degup jantungnya berhenti segera menjauhkan badan. Melepaskan ciuman mereka. Tapi apa daya kalau sasuke kembali menempelkannya. Dan bahkan sekarang terkesan lebih berani. Lidah pria itu ikut serta. Sempat membuka belahan mulut Hinata dan melesak masuk menyentuh lidahnya yang masih amatir. Hinata luar biasa panik. Segeralah ia menggeleng, menunjukkan penolakan. Setelah kepala mereka terpisah sejauh satu jengkal, barulah Hinata berani bertanya dengan muka tomat masak.

"S-Sasuke... apa yang kau lakukan...?"

Sasuke pun tersadar. Ia langsung memalingkan badan, agak memunggunginya. Tapi tak dapat ditutupi, pria itu menunjukkan gelagat panik. "Aku mau tidur. Bisa kau keluar?"

Hinata meninggalkan album itu di kasur dan segera pergi tanpa suruhan kedua. Buru-buru ia hempaskan diri di sofa ruang tengah, lalu ia bungkus wajahnya yang memerah dengan selimut tebalnya yang tersedia. Ia malu. Mulutnya terus bergumam aneh, mengikuti perutnya seolah bergejolak tanpa. Tapi perasan seperti ini... membahagiakan.

Dia menyentuh bibirnya sendiri.

Itu... ciuman pertamanya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Yaa udah lama ngga ngetik fict whwh, maklum ya kalo alurnya cepet. Apalagi di bagian Sasuke nyesel itu. Ngga tega buat Sasuke di sini kelamaan benci sama Hinata.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Yui, Hallow-Sama, Po, Ligaaaaaaara, Hee - chana, uchiha yardi, Hyou Hyouichiffer, Clara Merisa, Uchiha Megha-Hime, BananaYeol, Luluchai10, Haru3173, Jasmine DaisynoYuki, Coro-chan, alta0sapphire, Taiga'sGF, Guest, anita, moonlightYagami, Anne990401, Stacie Kaniko, Guest, yukiko miyuki, yamanakavidi, Elizabeth Midford, namika ashara, kensuchan, Guest, MiyuA, Hinaka Aoi, hepiwulandari22, rara chan23, re, indah11, hinatauchiha69, Revailleuchiha, pein-antimaho, Guest, Guest, Mi nubi, Shuben.

.

.

Pojok Balas Review :

Di sini NaruSaku imut. Thanks. Sasuke mau menyingkirkan Hinata? Pengennya gitu tapi males buat scene hurt. Kenapa Gaara nyebelin? Haha, kan dia antagonis. Kurang panjang. Ini udah panjang, ya. Fict ini kira-kira lebih dari 10 chap, ngga? Kayaknya iya, tapi kuusahain cepet tamat. Hinata gemesin banget. Makasihh. Agak beda dari Enchanted. Iya, sengaja :) Romance SasuHina banyakin. Mulai chap ini udah banyak kok. Usia Sasuke sama Sai berapa? 35 dan 9.

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU