Previous Chap :

"S-Sasuke... apa yang kau lakukan...?"

Sasuke pun tersadar. Ia langsung memalingkan badan, agak memunggunginya. Tapi tak dapat ditutupi, pria itu menunjukkan gelagat panik. "Aku mau tidur. Bisa kau keluar?"

Hinata meninggalkan album itu di kasur dan segera pergi tanpa suruhan kedua. Buru-buru ia hempaskan diri di sofa ruang tengah, lalu ia bungkus wajahnya yang memerah dengan selimut tebalnya yang tersedia. Ia malu. Mulutnya terus bergumam aneh, mengikuti perutnya seolah bergejolak tanpa. Tapi perasan seperti ini... membahagiakan.

Dia menyentuh bibirnya sendiri.

Itu... ciuman pertamanya.

.

.

Pagi itu Sasuke bangun dengan mengelus kasar wajahnya.

Ia teringat persis kejadian kemarin, dimana ia sempat memirip-miripkan Hinata dengan rupa istrinya dan mencium wanita tersebut secara tiba-tiba. Itu semua jelas murni ketidak-sadarannya dalam bertindak. Dan karenanya tak heran Sasuke berkali-kali mengumpat dalam hati dan segera bergegas ke kamar mandi agar dapat membasuh muka dengan air dingin. Ia sungguh menyesal telah melakukannya. Apalagi saat ini statusnya adalah duda dan status Hinata adalah bertunangan. Masa iya Sasuke melupakan istri aslinya sejenak dan menyentuh bibir wanita yang nantinya akan menikahi pria lain?

Di lain sisi, hampir sama dengan Sasuke, Hinata juga bangun dengan pikiran berat yang masih menghantuinya—tentu saja mengenai perihal kemarin. Walau sejak malam tadi dia tak bisa tidur, tak bosan-bosan Hinata menggeleng untuk menghapus sisa bayangan wajah Sasuke yang mendekat, sama-sama memejamkan mata, dan membiarkan bibir polos ini dikecup olehnya. Ia gigit bibir bawah dan otomatis pipinya yang merona ia tutupi dengan selimut tebal yang ia pakai.

Tapi tak bisa.

Ciuman itu benar-benar membuat Hinata bagai terbuai ke angkasa. Ia kaget, terkejut, bingung sekaligus malu. Dia tak tau harus memasang wajah seperti apa jika Sasuke sudah bangun dan berlalu lalang di ruang tengah. Cepat atau lambat mereka akan berpapasan, kan? Karena itu Hinata memutuskan untuk terus bergelung di atas sofa; tak peduli di jam tujuh Sasuke telah memasuki area dapur untuk membuat sarapan—pria itu tampaknya tau diri, jadi dia tak perlu menunggu Hinata memasakkan makanan. Juga walau Sai memintanya untuk ikut makan ketika menu pagi ini telah siap disediakan oleh Sasuke di meja.

"Hinata-san, ayo makan bersama. Nanti keburu dingin loh..."

Hinata, yang masih tak berani mengeluarkan kepala dari selimut, menjawab. "Ti-Tidak apa. Aku akan makan nanti. Sai duluan saja..." Bisiknya. Karena Sai masih bersikeras membujuk, takut nanti ia sakit, Hinata menurunkan selimut sampai ke batas hidung. Tapi ketika ia juga mendapati Sasuke yang berjalan melewati ruang tengah untuk mengambil sesuatu di kamar, dengan segera gadis berponi rata itu langsung bersembunyi. "Ngg... maaf... aku belum bisa keluar. Sepertinya aku sedang masuk angin..."

Sai diam sesaat. Ekor matanya lantas memperhatikan Sasuke yang baru keluar kamar. Dari atmosfir berbeda yang ia tangkap, dapat ia simpulkan bahwa ada sesuatu hal yang terjadi di antara dua orang dewasa penghuni apartemen ini. Ia tarik nafas dan mencoba bertanya. "Hinata-san bertengkar lagi dengan ayah, ya?"

Hinata mengintip lesu dan menggeleng. "Ti-Tidak kok... kenapa berpikir seperti itu?"

"Habisnya... kan kalian suka begitu tiba-tiba."

Mata lavendernya menyipit sedih. Dia merenung sebentar, lalu mendesah kecil. Kali ini selimut ia jauhkan dari wajah agar senyumannya untuk Sai dapat terlihat jelas. "Kami tidak bertengkar. Jadi jangan khawatir, ya—"

"Sai, ayo makan. Kita harus berangkat sebentar lagi."

Suara Sasuke muncul dan omongan Hinata langsung terhenti di detik yang sama. Tubuhnya bagaikan tersengat listrik, kaku dan dingin. Langsunglah ia meringis. Jelas sekali ia ingin kembali menyembunyikan wajahnya tapi tak ingin membuat Sai curiga. "Sai... gomen ne. Ta-Tapi sungguh, hubungan kami baik-baik saja... a-aku cuma masuk angin... angin AC kemarin dingin sekali..."

Sai pun tersenyum, mencoba percaya. Bocah itu menarik kembali selimut Hinata sampai ke leher wanita itu dan kemudian mematikan AC melalui remote yang tersedia. "Kalau begitu cepatlah sembuh..." Sai kecup dahi Hinata dan menyusul Sasuke yang sedang menghabiskan sarapannya di meja sebelah dapur.

Sedetik Sasuke melirik Hinata yang masih tergulung kain selimut, mamasang wajah beraut berat, lalu dia memalingkan wajah untuk kembali membaca koran pagi.

.

.

.

HAPPILY EVER AFTER

"Happily Ever After" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]

Romance, Drama, Fantasy

AU, OOC, Typos, etc.

(inspired from enchanted)

.

.

EIGHTH. Penyihir

.

.

Tengah hari, saat Sasuke dan Sai tak ada di rumah, Hinata sudah mencoba untuk melakukan kegiatannya yang seperti biasa di kediaman Uchiha ini. Menyapu, mengepel dan membersihkan sudut demi sudut apartemen hingga tak ada lagi debu yang menempel. Paling tidak memang hanya itulah yang bisa ia lakukan sebagai imbalan karena mereka telah sudi menampungnya selama ini—bahkan memberikannya makan segala. Hanya saja untuk sekarang, lekungan manis yang biasa tercipta di bibirnya absen. Suasana hati Hinata lagi berbeda. Dia yang biasanya melakukan pekerjaan rumah tangga dengan sukarela dan bahagia pun seolah melakukannya dengan terpaksa.

Wajahnya tertekuk dan gerakannya pun lesu. Tak ayal lantai yang sudah bersih pun ia terus sapu berulang-ulang tanpa henti. Sadar atas kelakuan bodohnya, Hinata berhenti dan menghela nafas.

Pipinya memanas.

Tak terasa tiap kali ia melamun, pikirannya selalu melayang-layang ke scene kemarin. Scene di mana Sasuke dan dirinya ciuman di kamar. Ciuman yang cukup lama, berterus, dan saling memagut. Dan oh ya ampun, itu ciuman pertama Hinata. Bahkan dengan Naruto yang notabene calon suaminya saja belum pernah sampai ke tahap tersebut. Seingatnya mereka hanya pernah melempar senyum canda, berpelukan dan berpegangan tangan. Tidak lebih.

"A-Ah..."

Hinata menggeleng kepalanya dan mendudukkan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Dengan membungkuk, ia tutupi wajahnya yang memerah dengan tangan. Ia pun mengingat-ingat setelah ciuman itu selesai Sasuke langsung menyuruhnya pergi dan kemudian pria itu muncul lagi dengan sikap cueknya di pagi hari. Hinata benar-benar terpuruk. "Apa Sasuke juga memikirkan hal itu...?" Tanyanya ke diri sendiri, sedih. "Apa jangan-jangan... dia tidak menganggap itu adalah suatu hal yang penting...?"

Hinata terdiam sebentar. Kalau dilihat dari gerak-geriknya tadi sih...

"Sepertinya tidak, ya...?"

Mood Hinata benar-benar jatuh ke lubang terendah.

Tapi tak apa. Dia cuma tidak tau kalau si raven yang sedang ia pikirkan itu sedang berkondisi sama dengannya. Semua orang di tempat kerja saja sampai heran; karena sejak awal masuk ke kantor Sasuke terus saja melakukan kesalahan-kesalahan sepele. Seperti misalnya tersandung saat berjalan, menumpahkan kopi ke dokumen penting, sampai melamun dan tak fokus saat meeting dimulai. Hari ini Sasuke Uchiha—yang masih bebal dengan wajah datarnya—benar-benar kacau. Dan itu semua diakibatkan oleh memikirkan kejadiannya bersama Hinata, persis seperti dirinya.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Di waktu yang kurang lebih sama, Gaara si penyihir aliran hitam itu baru saja berdecak kesal.

Di tempat penginapan yang menjadi tempat istirahatnya, ia kembali diingatkan oleh gagak hitam yang terbang jendela tempatnya menginap dan menyampaikan pesan bahwa Ratu Penyihir di dunia dongeng, Karin, menyuruhnya untuk segera membunuh Hinata tanpa perlu menunda-nunda lagi. Wanita sadis berambut merah panjang itu sudah terlebih dulu cemas. Masalah besar akan terjadi apabila Naruto berhasil mengembalikan Hinata ke dunia mereka, dan menuntut Gaara dan dirinya untuk bertanggung jawab.

Karena itulah Gaara dengan malas menutup jendela, mengusir gagak dan berbalik sebentar untuk berpikir. Lalu pria berpakaian kaus hitam itu memandang jam, ini sudah pertengahan hari.

Trak trak trak!

Terdengar suara gerak-gerik besi yang bersinggungan dengan lantai. Dari bunyinya yang nyaring dapat Gaara tebak siapa yang sengaja membuat kegaduhan tersebut. Dia mendekati sebuah jeruji besi di samping tempat tidurnya dan memandangi peri kecil bernama Ino yang telah berubah menjadi manusia. Tubuhnya yang kini membesar telah Gaara berikan penjara berukuran sedang untuknya—walau tetap kesempitan. Dan tentu seperti kebiasaannya sejak tertangkap, wanita bersurai emas itu masih gemar memberontak sekalipun mulut hingga kakinya telah telah disumpal sihir agar dibuat kaku. Tubuhnya bergerak terus tanpa henti bagaikan ikan kehilangan air. Dan itu semua menyebabkan suara berisik yang teramat menyebalkan.

Dari pandangan kedua aquamarine-nya, Ino memaksa untuk dibebaskan. Tapi sayang tak bisa semudah itu.

Gaara berjongkok di depan kandang besi berukuran sedang itu dan mengamati wajah penuh kebencian yang diberikan Ino untuknya.

Gaara memasang ekspresi datar, lalu dia menghela nafas. "Diamlah sedikit, jangan berisik."

Bukannya menuruti Gaara, Ino malah semakin liar menggerakkan badannya—menciptakan suara-suara besi yang cukup membuat ngilu didengar. Lagi pula siapa juga yang senang ditahan dengan posisi telungkup di tempat sempit seperti ini? Mana ada?

Mendengus, Gaara pun berdiri dan menendang kerangka besi lebih keras dua tingkat. Ino yang dahinya terbentur akibat guncangan tadi sampai diam dibuatnya. Hanya pandangan bencinya yang sedikit bertahan. Dapat ditebak gadis itu sedang merutuki perbuatan Gaara secara habis-habisan di dalam hati.

"Kau ingin dibebaskan?" Tanyanya. Tangan Gaara bergerak, jeruji besi hilang dalam sekejab. Tapi percuma karena Ino yang masih diselubungi sihir itu tak bisa berkutik ke mana-mana. "Permintaanmu sudah kukabulkan. Tapi sebagai gantinya, kau harus berkerja sama denganku." Ia naikan dagu Ino agar tatapan mereka bisa kembali bertemu. "Kita bunuh Hinata Hyuuga bersama-sama."

Dengan tegang Ino menggeleng keras. Tapi gerakan tongkat Gaara mengeluarkan sinar-sinar sihir yang membuat Ino tak bisa mengelak. Ia pejamkan matanya sesaat—takut melihat kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Tapi lama kelamaan kesadaran Ino meredup. Matanya yang kini terbuka menampilkan tatapan kosong.

Kontrol otaknya sudah dialihkan. Wanita itu sudah dikendalikan oleh mantra Gaara. Lalu dengan sedikit sihir dapat ia buat asap mengerubuni tubuh Ino dan membiarkan sosok manusia itu menyusut perlahan-lahan. Dia buat sosok Ino yang awalnya seperti dua puluh lima tahunan itu menjadi sepuluh tahun lebih muda.

"Baiklah, siapkan mentalmu itu untuk membunuh orang. Kita akan memulainya nanti siang."

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Karena Sasuke pernah membelikannya kue, Hinata memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk kejadian kali ini: memberikan sesuatu sebagai permintaan maaf.

Dan berhubung ia tak memiliki uang untuk membeli apapun, Hinata memutuskan untuk membuat hidangan spesial menggunakan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Toh, masih ada ayam dan rempah-rempat di dapur. Dia bisa bereksperimen apa saja, mumpung dia masih ingat beberapa resep enak yang pernah ia makan bersama peri-peri kecilnya saat masih tinggal di tengah hutan.

Agak sedih memang jika mengingat kenangan yang berlalu di dunia dongeng—terutama jika kembali mengingat Ino yang menghilang. Tapi setelah dia menyakinkan diri, tepat di jam sebelas siang tadi Hinata mencoba memulai memasak. Di awal-awal dia menumis segala bumbu di dapur. Setelah wewangian memukau selera menguar dari sana, barulah ia masukan ayam utuh—yang sudah dikuliti dan organ dalamnya dibersihkan, tentunya—ke wajan. Sambil menunggu ayam jadi, ia berpikir.

Rasanya ada yang kurang. Menu ini terasa biasa.

Mungkin ia harus buat kue?

Ada pisang di kulkas—pemberian tetangga. Ia bisa membuat banana bread, mungkin?

Setelah adonan pisang yang diberikan tepung itu dia taruh ke loyang kecil dan dipanggang, ia aduk ayamnya kembali dan kemudian Hinata beres-beres dapur hingga akhirnya ia melihat jam. Dari jarum panjang yang menunjuk ke angka 13.46, mungkin dalam hitungan menit Sasuke akan memulangkan Sai. Sedangkan dirinya sendiri: random—kadang tetap tinggal di apartemen, kadang langsung kembali ke kantor. Jadi kalau saja nanti Sasuke tidak sibuk, mungkin Hinata akan berani mengajak Sasuke makan siang bersama dirinya dan Sai. Kalau tidak bisa ya minta maafnya akan dia tunda untuk nanti, pas menjelang makan malam.

Eh, tapi Hinata belum menyiapkan kalimat apapun untuk Sasuke.

Nanti dia harus minta maaf seperti apa—?

Ting tong.

Agak kikuk Hinata maju-mundur saat berjalan ke arah pintu, agak tidak yakin. Tapi setelah ia buka pintu dan mengintip siapa orang yang ada di hadapannya, tidak tau kenapa dirinya malah lega saat ia mendapati dua sosok yang bukanlah Sasuke dan Sai, melainkan dua anak kecil dengan paras yang lucu-lucu.

Satu lelaki berambut merah darah, dan satunya lagi seorang perempuan berambut pirang terurai.

"Permisi, kami ingin mempromosikan kue cokelat..."

Gadis lima belas tahunan itu mengangkat sebuah nampan high tea—semacam tempat kue; tiga susun—berisi kue cokelat dengan hiasan pola-pola yang manis. Hinata sempat terpana melihat barang dagangan mereka, namun ketika ia akan memuji dan melirik anak tersebut, terkejutlah ia saat ia dapati sepasang manik aquamarine yang teramat khas. Mata itu mirip...

"Ino?"

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Tin.

Sasuke mengklakson pelan sosok anak tunggalnya di bangku depan SD St. Cattleya, karena memang itulah tempat dimana Sai selalu duduk sendirian untuk menunggu dirinya jemput. Tanpa perlu berkemas apa-apa lagi dia hampiri mobil sang ayah dan masuk. Bocah berambut hitam legam itu terdiam ketika ia duduk di sebelah bangku kemudi. Senyum tak terlukis di bibirnya, dan terkadang matanya melirik ragu ke Sasuke yang kini menyetir untuk membawanya pulang.

Suasana diam di dalam mobil membuat Sasuke jadi sedikit bingung sendiri. Jelas ini sungguh berbeda dari hari biasanya kalau Hinata ikut bersamanya menjemput Sai. Apa mungkin karena Hinata selalu menanyakan keseharian Sai di sekolah? Kalau cuma itu alasannya, kenapa tidak ia tiru saja?

"Bagaimana harimu?"

"Eh?" Mata oniks anak itu lumayan kaget saat ayahnya mendadak bertanya. Diawali dengan senyum susah payah Sai mengangguk malu-malu. "B-Baik, tapi saat pelajaran olahraga lari jauh... aku terjatuh."

Sasuke meliriknya. "Ada luka?"

"Iya..." Sai menunjukkan lutut kanan yang tak tertutup celana pendeknya. "Ada sedikit baretan. Tapi tak apa, sudah tidak sakit."

Sesudah melihatnya, Sasuke mengangguk. "Sudah kau obati?"

"Tidak. Cuma kubasuh air."

"Kenapa tidak pakai obat merah?"

Bibir Sai otomatis maju satu cm. "Habisnya aku takut perih."

"Dasar. Kau ini lelaki. Nanti beli saja obat merah sekalian dengan plester lukanya di minimarket apartemen."

Sai mengangguk tanpa suara. Mungkin dia dinasihati, tapi entah kenapa senyuman bocah itu lama-lama mengembang. Sepertinya ada juga rasa bersyukur karena hari ini Sasuke jadi beberapa tingkat lebih peduli kepadanya. Terkekeh tak jelas, Sai mulai berani menyalakan radio untuk mengisi suasana—lagi-lagi Uchiha Tunggal ini juga mengikuti tingkah laku Hinata yang gemar mencari tau saluran radio yang enak didengar karena rasa penasarannya. Hanya saja karena ia gunakan benda itu untuk sekedar benda peramai, ia kecilkan volumenya sampai suara yang tercipta malah terdengar seperti bisikan. Utamakan mengobrol dalam mobil saja deh.

"Ngomong-ngomong... apa tadi pagi ayah bertengkar dengan Hinata-san?"

Pada akhirnya pertanyaan itu keluar dengan mulus dan nyaris membuat Sasuke tersentak. "Apa kami terlihat seperti orang yang bertengkar, hn?"

"Jadi kalian benar-benar tidak bertengkar? Ayah tidak bohong, kan? Rasanya tadi pagi Hinata-san seperti tak ingin melihat ayah..."

Tamparan keras buat Sasuke. Kejujuran Sai tampaknya membuat dia semakin tak enakan. Pasalnya dia lah yang salah. Agak gila rasanya kalau ada yang tau bahwa dia telah mencium wanita asing tanpa sebab yang jelas. Karena itu lebih baik kapan-kapan dia minta maaf—lagi. Tapi... harus diingat kembali, Sasuke tak terbiasa minta maaf duluan.

Sasuke berdeham untuk membalas kalimat Sai. "Kami tidak ada masalah apa-apa. Mungkin dia cuma sakit."

"Iya sih. Tadi dia bilang masuk angin..." Ucapnya, sedih. Lalu dia teringat—mumpung mereka berdua sudah sampai di parkiran depan lobi apartemen. "Mungkin aku akan sekalian membelikannya obat di minimarket."

"Ya, sama obat merah untukmu. Jangan sampai lupa." Kata Sasuke seraya memberikan uang dan kunci cadangan untuk masuk ke apartemen. "Bisa sendiri, kan?"

"Iya."

"Kalau begitu aku duluan ke atas."

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

"Ino?"

Di depan pintu apartemen Hinata masih berdiri tegang. Matanya memberikan tatapan tanya ke seorang anak perempuan di depannya. Sedangkan ia—yang dipanggil Ino oleh Hinata—cuma tersenyum bingung sekaligus melirik partner di sebelahnya yang bersurai merah. Bocah lelaki yang memiliki raut agak tak bersahabat itu berdeham. "Jika Neesan tertarik dengan kuenya, apa boleh kami masuk ke dalam?"

Hinata menatap Gaara dan mengangguk penuh makna. Sebenarnya ia lebih mempersilahkan Gaara dan Ino masuk karena dia merasa familiar dengan wajah si anak perempuan. Mirip perinya. 80% mirip. Hanya saja Ino bukanlah manusia dan ia pasti akan mengenalinya kalau bertemu pandang seperti tadi, bukannya terheran-heran.

Setelah Hinata meminta mereka duduk, barulah Ino tersenyum dan kembali promosi. "Ini cokelat olahan yang kami masak sendiri di dapur pribadi. Sudah kami bungkus rapi juga menggunakan tangan sendiri. Pokoknya enak dan paling diminati deh. Di dalam cokelatnya saja terisi krim lembut dengan berbagai rasa. Jumlahnya ada lima puluh pieces per high tea. Kalau mau yang per pack bisa lebih murah tapi lebih sedikit rasanya." Katanya, lalu Ino dengan tatapan kosongnya tersenyum lebar. "Apa Neesan tertarik?"

Kalimat tadi membuat Hinata agak lambat menjawab. Dari tadi dia terlalu fokus mengamati wajah Ino. Gaara yang memperhatikannya dalam diam langsung sedikit mengerti kalau Hinata menyadari peri tersebut. Seharusnya sebelum ke sini ia mengubah wajah Ino terlebih dulu, ya.

"A-Ah, ya. Terima kasih. Kalian buat sendiri cokelatnya? Hebatnya kecil-kecil sudah bisa jualan..."

"Iya, soalnya uang yang kami kumpulkan akan kami sumbangkan ke fakir miskin. Ini termasuk kegiatan sosial sih." Dalihnya, lancar. Hinata tersenyum percaya.

"Kalau begitu, apa Anda mau mencobanya?" Ucap Gaara agak datar seraya memberikannya bungkus kue dengan cokelat di dalamnya. Mumpung masih dingin..."

"Oh, ya? Boleh dicoba?"

"Dengan senang hati jika Kakak mau..."

Di samping itu, Ino yang memandang Hinata dengan tatapan datar mulai bersikap aneh. Tubuhnya gemetar—terlihat dari kedua tangan yang ia taruh di pangkuan pahanya. Buliran keringat juga mulai menghiasi pelipisnya. Itu memang disebabkan oleh hati nuraninya yang ingin memberontak, menahan Hinata yang sedang memegang cokelat dari Gaara agar tidak memakannya. Cokelat itu racun. Hinata bisa mati bahkan jika lidahnya menyentuh cokelat bulat itu. Namun apa daya kalau sihir Gaara menguncinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Hinata membuka bungkusnya dan mencium adonan bulat itu. "Sepertinya enak. Wanginya manis."

"Itu dari bubuk kokoa terenak yang pernah kami coba. Rasanya terjamin kok."

"Begitukah?"

Gaara tersenyum dan melihat Hinata dengan senyuman tipisnya. "Silahkan makan..."

Hinata mengangguk dan kemudian mengarahkan cokelat itu ke mulutnya, namun tiba-tiba saja tangan wanita berponi itu ditepis keras. Cokelat pemberian Gaara lantas jatuh ke lantai dan mereka dengan serentak menoleh ke arah Ino yang berada persis di sebelah Hinata. Ino yang kini memejamkan matanya rapat-rapat mulai terengah. Tangannya gemetar luar biasa. Tapi pada akhirnya bibirnya pun mencoba berbicara.

"Pu-Puteri... itu..." Ucapnya. "Racun..."

Gaara terbelalak. Akan membekap Ino tapi terlambat.

Hinata terperangah. "I-Ino? Apa itu... kau—?"

BLAR!

Belum sempat Hinata menyelesaikan pertanyaannya, tongkat sihir Gaara keluarkan dan sebuah mantra pun menyerang Ino, membuatnya terlempar jauh dan Hinata memekik kencang. Gaya kekuatan dari sihir tadi mampu membuat Hinata jatuh terperosok ke lantai. "Kurang aja!"

Hinata meringis kesakitan memegangi pundaknya, tapi kesadarannya terlalu berkeinginan untuk melihat peri kecilnya yang telah lama hilang—itu bukan manusia biasa yang sekedar mirip. Dia tegakan wajah dan menatap Ino yang terkapar sendirian di sudut ruangan. Tubuhnya tak bergerak. "Ino!" Segeralah ia hampiri Ino dan sebelum sihir Gaara yang melaju mengenai dirinya, Ino susah payah meletakkan kalung kristal kuning ke permukaan tangan Hinata. "Te-Temui Naruto... dan kembalilah ke dunia dongeng dengan ini, Puteri Hinata—"

BLAR!

Karena guncangan kristal kuning itu terjatuh, Hinata belum sempat merengutnya kembali karena matanya sudah terlalu terbelalak karena melihat tubuh Ino langsung terpecah belah menjadi ribuan keping; yang kemudian hilang ditelan udara. Hinata tak bisa berucap sepatah kata pun. Air mata mulai menggenang dan lidahnya pun kelu.

"I-INO!" Hinata menangis. Tangannya mencoba menggapai titik-titik cahaya Ino yang mulai samar. "INO!"

Bersama sihir yang ia tujukan ke dirinya sendiri, perlahan-lahan asap putih mendominasi tubuhnya dan dalam hitungan detik sosok polos dari Gaara versi kecil berubah menjadi sosok penyihir dewasa berjubah hitam. Wajah familiar yang rasanya pernah ia temui sebelum ke bumi.

"Payah. Cuma tugas mudah seperti ini saja dia gagal. Peri tak berguna lebih baik lenyap dari sini."

Tangisan Hinata pecah di detik Ino benar-benar hilang dari pandangannya. Dia tak peduli sudah berapa banyak linangan air yang tercipta di pipinya. Bahkan tak lagi memperhatikan Gaara yang mulai berjalan ke dekatnya, tak lupa dengan tongkat sihir yang dia pegang erat.

"Nah, sekarang giliranku memusnahkanmu..."

Tak disangka, kini Gaara telah berada di depannya, pria itu berjongkok. Dan dengan seringai di bibir, ia menusuk leher Hinata dengan ujung tongkat sihirnya yang sedikit tumpul. Terpaksa Hinata mengadahkan wajah dan tak bisa lagi menghentikan tangisannya. Pola pikirnya blank, tak ada yang bisa ia lakukan.

Dan ketika tongkat Gaara berjalan turun, kali ini menyentuh dadanya—tepat di arah jantung—yang ada di pikirannya saat ini cuma satu: Sasuke.

"Selamat tinggal."

Ketika Gaara akan melancarkan sihirnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan, menampilkan Sasuke yang langsung terkejut dengan kekacauan yang terjadi langsung di ruang tengahnya. Oke, memang tidak terlalu berantakan, namun barang-barang di atas meja ruang tengah jatuh semua, stoples-stoples kaca pun pecah berantakan di atas lantai. Dan yang paling membuatnya terperangah ialah saat dia temukan pria asing yang kini mojok dengan Hinata, juga dengan tongkat anehnya. Mereka lagi apa? Pacaran? Bermain? Bertengkar?

"Apa-apaan ini?"

"Oh, kami sedang berpesta." Gaara jauhkan tongkatnya dari Hinata, lalu pria itu tersenyum. "Ada masalah?"

Gaara langsung mengibaskan tongkatnya ke depan Sasuke. Tiga sinar yang berturut keluar dari tongkatnya mengarah ke pria itu. Tapi karena Hinata refleks mendorong bahu Gaara, cuma ada satu serangan yang mengenai tas pria raven tersebut. Dua lainnya membentur tembok—membuat sisa bekas gosong yang cukup mencolok. Beruntung, Sasuke juga sempat melindungi bagian perutnya dengan tas kerja yang ia pegang. Tapi karena ia merasa pegangan tas itu jadi menyakitkan, ia jatuhkan benda itu dan melihat seperti percikan setruman di sana.

Sasuke menatap Gaara lagi dan ia lihat pria itu memukul pipi Hinata dengan siku, menyuruhnya agar tidak mengganggu, dan ia lancarkan serangan kedua ke Sasuke seraya berdiri.

Lagi, Sasuke menghindar, kali ini menunduk. Dan karena dia tau ini pasti ulah pria berambut merah itu dan tongkat anehnya, lantas Sasuke langsung berlari ke arahnya tanpa perlindungan apapun. Mantra berikutnya Gaara arahkan ke wajah Sasuke, tapi tangan pria itu menangkisnya sendiri dengan berani, dan sebelum terjadi apa-apa lagi, dengan nekat Sasuke menerjang Gaara. Tangannya ia pukul sehingga tongkat sihirnya jatuh dan di detik yang sama Sasuke langsung menyerang pipi Gaara. Keras dan telak.

Nyaris jatuh, Gaara menggunakan kakinya untuk menopang berat badannya, dan satunya lagi untuk menendang Sasuke. Pria itu limbung ke belakang dan kemudian tiba-tiba asap tipis mengitari dari tubuh Gaara. Dari cara ia berdecak dapat diketahui bahwa penyihir sialan itu hendak pergi.

Poof!

Pria itu berubah menjadi sebuah kelelawar hitam kecil yang kemudian mengambil tongkatnya dengan kaki lalu kabur begitu saja lewat jendela yang terbuka.

Sepeninggal pria itu, Sasuke yang jujur saja gemetar mencoba menormalkan nafasnya sembari terduduk di lantai dekat Hinata. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dinginnya bercucuran. Jujur saja ini salah satu pengalaman teraneh yang penah ia miliki; bertarung dengan penyihir. Aneh sekali hidupnya.

Masih mencoba menenangkan diri, Sasuke melirik Hinata yang keadaannya kurang-lebih sama darinya. Ia mencoba bertanya. "Siapa orang tadi, hn? Temanmu?" Sasuke berniat menghapus keringatnya dari dahi, tapi tangan kanannya yang sempat kena sihir Gaara kaku seperti keram. Cukup menyakitkan sehingga Sasuke sedikit mengerang. "Ck, sial..."

"S-Sa-Sasuke... k-kau tak apa?"

Suara lembut Hinata membuatnya menoleh. Ingin menjawab seadanya tapi saat ia melihat raut wajah Hinata dari dekat, yang ada dirinya lah yang khawatir. Dia begitu memperihatinkan. Ekspresi Hinata tampak seperti orang yang baru saja kehilangan pernafasan. Air mata terus mengalir dari sudut matanya dan terengah cepat. Iris lavendernya bergerak melirik Sasuke, agak menyipit, dan kemudian ia peluk Sasuke sampai wajahnya menabrak bahu pria itu. Membiarkan tetesan air matanya menjatuhi kemeja Sasuke yang masih melekat di tubuhnya.

Sasuke yang kurang mengerti benar apa yang terjadi cuma bisa belas memeluk wanita tersebut. Dia tau pasti ada sesuatu kejadian sebelum dia datang, tapi masih belum berani untuk bertanya langsung.

"Ayah...?"

Sasuke menoleh dan dapat ia lihat sesosok anak kecil yang berdiri di hadapan pintu apartemennya. Dengan bungkusan bening di tangan ia memasang wajah heran dan juga sedih. Apalagi kalau melihat Hinata yang kini menangis sesenggukan di dekapan ayahnya. Sai ingin bertanya, namun Sasuke terlebih dulu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Tak apa, kami tidak bertengkar." Katanya, seolah bisa menebak pikiran anak tunggalnya. "Nanti akan kuceritakan."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Well, aku ngga gitu suka pertarungan fantasi sih. Tapi apa boleh buat. Gomen chap ini agak aneh dan mengecewakan...

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

namika ashara, katsumi, Clara Merisa, AprilliaSiska, hee chan, OH SEKYUNG, sin, mey lovenolaven, nadya ulfa, kensuchan, ulvha, Momo tomato, Cahya Uchiha, anita-indah-777, re, orihara, Luluchai10, alta0sapphire, yukiko miyuki, Hyuchiha, linachan, Kafuu-Chino, Guest, Rini desu, rahayup5, Dark Side, Rhosgobel, beby, Stacie Kaniko, MiyuA, Guest, Nabila, SHU, ucihagremory, LMNTRX-SKY, apikachudoodoll, Zee-leven Seven, Opung, shihushi-mayu2, Ichika, Misaki Takeru, pia-pio, SasuHina 4evErxX, wurichan, Novi, Guest, hisnalatiffa, dream, Haekal Uchiha.

.

.

Pojok Balas Review :

Kok Sasuke malah jadiin Hinata kayak bayang-bayang istrinya? Faktor kemiripan sih. Kapan Hinata pergi dari rumah Sasuke? Maunya kapan haha. 1st oneshoot kok ngga update? Sebentar lagi. Aku harap ada scene dewasanya. Doa aja. Ekstrain NaruSakunya, ya. Chap ini ngga ada sih, tapi ya semoga bisa di kedepannya. Update KW dong. Huhu, iya akan diusahain. Ada berapa chap lagi? Belasan mungkin, tapi ngga ampe angka 15 kok. Kok aku ngerasa chap ini mirip sama satu fict zo di akun lain, ya? Haa yang mana. Ingin Gaara baik dan jatuh cinta sama Ino. Hahah. Aku kira istri Sasuke itu Shion, ternyata Hitomi (OC). Iya. Ga kepikiran siapa-siapa lagi soalnya.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU