Previous Chap :

"S-Sa-Sasuke... k-kau tak apa?"

Suara lembut Hinata membuatnya menoleh. Ingin menjawab seadanya tapi saat ia melihat raut wajah Hinata dari dekat, yang ada dirinya lah yang khawatir. Dia begitu memperihatinkan. Ekspresi Hinata tampak seperti orang yang baru saja kehilangan pernafasan. Air mata terus mengalir dari sudut matanya dan terengah cepat. Iris lavendernya bergerak melirik Sasuke, agak menyipit, dan kemudian ia peluk Sasuke sampai wajahnya menabrak bahu pria itu. Membiarkan tetesan air matanya menjatuhi kemeja Sasuke yang masih melekat di tubuhnya.

Sasuke yang kurang mengerti benar apa yang terjadi cuma bisa belas memeluk wanita tersebut. Dia tau pasti ada sesuatu kejadian sebelum dia datang, tapi masih belum berani untuk bertanya langsung.

.

.

Di suatu detik Hinata membuka kelopak mata.

Ia mengerjapkan beberapa kali, lalu memandangi langit-langit kamar yang berada di atasnya dengan tatapan kosong. Nyaris semenit terdiam lantas Hinata memiringkan tubuh. Niatnya kembali memejamkan mata dan merilekskan diri, tapi ia sudah terlebih dulu dikejutkan oleh suasana ruangan yang terasa familiar ini. Hinata bangkit, lantas menatap keseliling dengan cemas. Baru ia sadari ternyata dia sedang berada di kasur besar milik Sasuke. Sendirian di tengah kegelapan. Cuma ditemani oleh temaram lampu meja yang disengajakan redup.

"Eh?" Timming yang tepat, saat jarum jam menunjukkan pukul 21.00 malam, Sai membuka pintu. Dia datang dengan seteko air minum yang sengaja ia bawakan untuk Hinata. Wanita berponi rata itu ditatapinya, rasa cemasnya kini tercampur lega. "Syukurlah sudah siuman. Hampir tiga hari Hinata-san tidak sadarkan diri."

"Iya, kah?" Hinata memegang perut dan menelan ludah. Ternyata benar. Kerongkongannya kering dan perutnya pun keroncongan. Lapar. Ia terima segelas air putih yang bocah itu tawarkan untuknya.

"Aku akan coba minta ayah memasak."

"Ah, tunggu, Sai." Kata Hinata, menghentikan Sai yang tergesa. "Di mana... Sasuke? Ini kan kamarnya dia?"

"Selama Hinata-san menempati kamar, Ayah tidur di sofa."

Hinata menelan ludah, jadi tak enakan. Dengan gerak yang cukup lambat karena belum mengumpulkan tenaga, dia susah payah berdiri. Dia usap kepala bersurai hitam milik Sai dan maju duluan ke ruang tengah. Dan ya, di sana sudah ada sofa yang ditiduri Sasuke dengan gaya seenaknya. Dia tampak nyenyak walau lipatan selimut yang tersedia di sana ia tindih begitu saja.

"Tumben Sasuke jam segini sudah tidur. Pasti kemarin dia bekerja sampai larut, ya?"

"Bukan. Justru Ayah sudah menyelesaikan kerjaannya dari sore tadi. Kan Ayah memang sengaja tidak ke kantor—kerja di rumah. Sekalian menjagamu saat aku lagi di sekolah, katanya."

Hinata terdiam. Ia bersimpuh di lantai dekat sofa yang Sasuke tempati, dan ia belai pipi pria raven itu. Senyum penuh syukur ia lukiskan di bibirnya.

"Terima kasih... Sasuke..."

.

.

.

HAPPILY EVER AFTER

"Happily Ever After" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]

Romance, Drama, Fantasy

AU, OOC, Typos, etc.

(inspired from enchanted)

.

.

NINTH. Pangeran dan Putri

.

.

Cahaya pagi menembus jendela yang sudah dibuka. Udara pagi yang lembut menyusup masuk. Nyanyian merdu burung yang mulai bercicit pun menghiasi indra pendengaran masing-masing insan yang mengisi apartemen tinggi ini.

Sasuke memiringkan badan dan menggaruk pelipisnya yang gatal. Kemudian ia berdecak singkat untuk membenarkan letak tidurnya. Tapi—ah, Sasuke langsung membuka mata. Baru ia sadari sudah lebih dari belasan jam ia tertidur. Kepalanya jadi pusing dan seperti biasa, badannya luar biasa pegal karena ia meniduri sofa. Pria itu mengusap wajahnya penuh rasa bersalah. Jadi ini ya yang dirasakan oleh Hinata kalau ia tidur di ruang tamu ini? Tapi kenapa dia tak pernah mengeluh?

"Ah, selamat pagi, Sasuke..."

Sasuke terlonjak saat mendengar suara itu dan kemudian langsung mengernyit heran. Ternyata Hinata sedang menyapu ruang tengah, tapi karena melihat Sasuke yang bergerak-gerak di sofa, jadilah ia menghampirinya dan membungkukkan badan untuk melihat langsung wajah tampan Sasuke yang masih lecak di atas sofa.

"Apa kamu sudah sehat?"

"Kenapa jadi aku yang seolah-olah sakit, hn?" Sasuke memasang wajah malas. Ia mengubah posisinya jadi terduduk dan mengusap acak rambut dongkernya. "Bagaimana keadaanmu?"

Hinata cuma tersenyum. "Baik. Kalau Sasuke sendiri bagaimana?"

"Aku sudah sehat dari kemarin."

"Baguslah." Hinata menghela nafas lega. "Dan ah, terima kasih karena sudah menjagaku dan menolongku. Aku tak tau harus melakukan apa untuk membalas kebaikanmu selama ini..." Dia kembali menunduk dalam-dalam, membuat baju longgar yang kini Hinata pakai menampilkan bahu putihnya. Sasuke melirik, menatap bahunya. Ada bekas kemerahan. "Ngomong-ngomong... kenapa Sasuke tidur di sini?"

"Karena kau tidur di kasurku."

"Kasur Sasuke kan besar, kenapa tidak tidur di sebelahku?"

"Mungkin bagimu itu bisa dilakukan, tapi tidak buatku." Sasuke membuang muka dan bertopang dagu. Ia menatap Hinata yang duduk di sebelah sofa. "Ngomong-ngomong, aku mau tanya soal pria yang kemarin yang menyerangmu." Sasuke menarik baju Hinata, melihat lebih bahunya tanpa malu karena ini memang persoalan serius. "Kau diapakan saja olehnya?"

Hinata menarik lagi bajunya hingga mencapai leher. "Ah, tidak apa. Ini cuma sihirnya..."

Sasuke menatapnya tak percaya. "Cuma sihir? Kau yakin?"

"Mm."

Sasuke menghela nafas. "Setidaknya kau tidak digigit olehnya."

"Tapi tanganmu juga kena, kan?" Ia pandangi salah satu tangan Sasuke yang berwarna kemerahan. Agak mencolok, memang. "Bekasnya bisa hilang dengan sendirinya sih... tapi mungkin membutuhkan waktu lama."

"Ya, tak apa. Jangan khawatirkan aku."

"Mm..." Hinata menunduk sendu.

"Kenapa? Ada masalah lain?"

Hinata menggeleng cepat. "Aku cuma jadi teringat temanku yang sempat dibunuh penyihir itu..."

Sasuke terdiam sejenak. Ia memang tak tau siapa teman yang dimaksud wanita itu, tapi yang jelas ia bisa membiarkan kedua tangannya memeluk Hinata. Membiarkan Hinata membenamkan wajah di dadanya. Hinata pun menutup mata dan membalas pelukan Sasuke. Tak ada tangisan memang, hanya ada helaan nafas yang cukup panjang—tapi setidaknya beban yang Hinata rasakan seolah membias hilang.

"Sudah, kau tak perlu mengingatnya lagi."

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Hari itu Sakura sedang sibuk-sibuknya di kantor.

Dimulai dari ia mendudukkan diri di bangku kerjanya, hingga matahari yang bersinar di atas sana lengser menjadi sore hari, banyak sekali telefon yang berdatangan kepadanya. Ya, bagian itu memang salah satu pekerjaannya yang mudah. Tugasnya kan cuma mengucapkan salam dan mengalihkan sambungan telfon ke Sasuke atau ke orang-orang lain yang memiliki jabatan penting di kantornya. Tapi kalau setiap beberapa belas menit sekali ponsel itu berdering, rasanya menyebalkan juga, kan? Fokus Sakura saat mengetik laporan di laptopnya pun sampai hilang berkali-kali.

Kriiiing...

Nyaring suara telfon kembali mengisi pendengarannya. Sakura yang sedang menghitung dalam hati serta merta membanting pulpen—angka-angka yang sempat dia simpulkan jadi berantakan dalam seketika. Inginnya menjawab dengan membentak, tapi karena Sakura adalah sektretaris yang baik, ia utamakan berdeham dan memberikan salam sesuai ajaran formal perusahaan. "Ada yang bisa dibantu?"

"Hei, Sakura, aku kelaparan! Kau tidak membuatkanku makanan ya hari ini!"

Sakura menepuk mukanya dan kemudian berdesis. Jelas ia tau siapa yang menelfonnya sekarang. Naruto tentunya. "Aku lupa. Sana masak ramen instan. Kau suka ramen, kan?"

"Iya sih. Tapi masalahnya aku tidak bisa menyalakan kompor."

"Kalau tidak bisa lebih baik kau tak usah coba-coba! Aku tidak ingin kau meledakkan rumahku!" Sakura berdesis. Ia merasa jengah saat menyadari sudah ada beberapa karyawan lain yang seolah menasihatinya: 'jangan gunakan telfon kantor untuk ngobrol!'. Wanita muda itu nyengir sebentar. Tuh kan, dia jadi menyesal meletakkan nomor kantor di dekat telefon apartemen. "Sudah dulu ya, Naruto. Ini telfon kantor, bukan ponselku. Jadi lebih baik kau diam di rumah sampai aku kembali. Mengerti?"

"Iyaaa."

Pip.

Sakura meletakkan kembali gagang telefon dan menghela nafas, di sebelahnya Kin Tsuchi—sahabatnya di kantor—terkikik geli. "Yang nelfon tadi siapa?"

"Entah. Orang iseng kayaknya." Ia tertawa hambar. Ingin rasanya ia ngadu ke Kin soal Naruto lagi, tapi takutnya malah dia yang dimarahi habis-habisan karena telah menampung orang asing di apartemennya. Sakura cemberut. Ia bertopang dagu dan melirik layar laptop. Sudah sampai mana ya dia di laporan ini?

"Haruno."

Suara itu membuat Sakura tersentak. Ia menoleh dan mendapati Sasuke di sampingnya. "Ya, ada apa, Uchiha-san?"

"Aku ada perlu." Ucap Sasuke sambil membenarkan map yang ia pegang—kelihatannya untuk hari ini dia akan pulang cepat lagi. "Tapi, tunggu, biarkan aku bereskan ini sebentar."

Sakura mencoba berpikir. "Uchiha-san mau aku menjemput Sai?"

"Bukan. Aku yang akan menjemput Sai sekarang." Sasuke menghela nafas. "Kalau tidak salah, kau pernah membawa orang ke kantor ini, kan? Yang berambut pirang jabrik?"

Duh, kenapa jadi bicarain Naruto?—Sakura membatin. "Eh... i-iya sih. Kenapa memangnya?"

"Apa dia saudaramu?"

"Iya, dia saudaraku. Saudara jauh." Ucapnya ragu.

"Kau yakin dia saudara?" Tanyanya penuh selidik.

"Ti-Tidak sih. Aku juga kurang yakin. Tapi yaa... begitulah."

Jawaban aneh Sakura malah membuat Sasuke semakin memperserius wajahnya. Ya, inilah yang ia cari. Pria itu bukanlah saudara Sakura dan Sasuke ingat dia pernah mengucapkan hal yang nyaris serupa dengan apa yang Hinata katakan di awal pertemuan mereka. Ada beberapa part yang menjadi kecocokan mereka di sini.

"Bagus. Tolong kau antarkan dia nanti ke apartemenku Sabtu nanti. Aku ingin mengajak makan malam kalian berdua."

Sakura tersentak bukan main. Kin yang menguping di sebelahnya pun sampai menganga dibuatnya. "Ta-Tapi dia aneh, Uchiha-san."

"Aneh bagaimana?"

"Dia selalu mengaku dirinya sebagai pangeran dongeng dan hal-hal aneh lainnya."

Benar, kan?

Sasuke memasang senyum tipis. Dia menatap Sakura walau ada sepercik rasa ragu di sana. "Ya, karena itulah, tolong kau datang bersamanya ke apartemenku. Aku ingin mengenalnya lebih lanjut."

Karena pria pirang itu dan Hinata... benar benar serupa. Ada banyak kemungkinan bahwa pangeran yang ditunggu oleh Hinata adalah Naruto. Kalau salah tak apa, kalau benar, Hinata bisa pulang ke dunia asalnya yang antah berantah dengan segera.

Sasuke tersenyum, nyaris tak terlihat memang. Namun entah kenapa ia melewati hari ini dengan lesu.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

Sore menjelang malam Naruto baru selesai beres-beres rumah Sakura. Pria berkaus oblong itu melempar sapunya ke lantai begitu saja, menjajah kamar mandi Sakura, dan kemudian membaringkan tubuhnya yang segar sehabis mandi ke kasur. Ya, kasur pinkmilik Sakura, tentunya. Kenapa? Karena kasur yang sedang ia tiban ini super empuk. Kalau gadis itu berada di rumah, pasti dia diusir dengan kejam dan disuruh tidur di futon yang kempes dan keras. Oleh sebab itu tak ada Sakura di rumah ini adalah hal yang cukup indah baginya. Ia nyalakan AC, lalu menidurkan tubuhnya. Persis seperti kucing.

Cklek!

Tak lama terdengar suara kunci yang dibuka dari luar. Bunyinya yang grasak-grusuk membuat Naruto ikutan panik. Dengan mata yang setengah terbuka ia matikan AC, membereskan tempat tidur—menghapus jejak-jejaknya di sana—dan kemudian lari ke luar kamar. Tapi sialnya saat ia buka pintu, Sakura masih dengan baju kerjanya berdiri tepat di depan kamar. Naruto memejamkan mata, sedikit mengira cewek itu akan marah-marah seperti biasa dan memukulinya saat tau Naruto menggunakan kamarnya untuk bersantai. Tapi kali ini tidak. Bukannya diamuk, Sakura Haruno malah langsung memeluknya erat.

Naruto tersentak kaget.

"Narutooooo! Aku diundang makan malam di rumah Uchiha-san! Dan itu semua berkatmu! Ahahah!" Sakura yang bahagia tanpa sadar menjepit Naruto sampai si pirang nyaris kehilangan kata-kata. Pria itu sedikit merasa canggung. Sakura melepaskannya dan langsung beranjak ke depan lemari, berniat memeriksa pakaian apa yang sekiranya cocok di Sabtu nanti. "Pakai baju apa, yaa~?"

Naruto menyentuh dadanya sebentar. Seperti ada yang aneh di sana saat si Galak Sakura datang dan mendadak menerjangnya dengan pelukan. Dia telan ludah dan melirik Sakura sekilas. "A-Apaan sih? Aku masih tidak mengerti maksudmu. Siapa Uchiha-san? Lalu kenapa berkat aku? Memangnya aku berbuat apa?" Naruto melirik sebungkus daging beserta ramen supermarket yang ada di ruang tengah. "Hei, ini pasti untukku, kan? Makasih!"

"Hari ini kita makan teriyakki ramen. Khusus untukmu."

Naruto nyaris terharu mendengarnya. Dia mendekati Sakura yang masih sibuk dengan gaun-gaun di lemari dan pria itu membentangkan tangan. Alis Sakura naik satu.

"Kenapa?"

"Mm..." Dia menunjukan wajah polos walau senyumannya sudah terpampang lebar. "Pelukan lagi yuk?"

Sakura mengernyit tapi jujur senyuman dan gaya Naruto yang sudah menunggu kehadirannya mampu membuatnya sedikit berdebar. "Buat apa?"

"Karena hari ini kita berdua sama-sama senang..."

Sakura menghela nafas. Dia jatuhkan dress-nya di atas kasur dan menghampiri Naruto. Ia peluk tubuh dewasa Naruto yang kemudian balas mendekapnya. Dia sampirkan pipinya ke kepala merah muda Sakura dan memejamkan mata.

"Hei, mau pelukan seberapa lama?" Sakura menepuk punggungnya sambil tertawa geli.

"Tunggu, ini lagi menikmati suasana. Ternyata aku baru sadar kalau memeluk dan dipeluk orang itu menyenangkan."

"Memang. Kau jarang dipeluk, ya?"

"Begitulah."

"Katanya sudah punya tunangan?" Goda Sakura.

Naruto tersenyum sedih. "Kami memang sudah bertunangan tapi aku belum pernah memeluknya." Lalu dia terdiam sebentar dan berbisik. "Tapi... kau ini sebenarnya kecil, ya?"

Sakura mengadah dan wajah mereka berhadapan dekat.

"Kau juga wangi."

Sakura menahan nafas. Omongan Naruto yang dipadu dengan wajah tenangnya membuat Sakura tak bisa berkata-kata, atau bahkan tertawa untuk menanggapinya sebagai candaan. Yang ada hanya tangan Naruto yang masih melingkari pinggangnya, juga manik mata mereka yang bertemu dalam jarak yang kurang dari sejengkal. Bibir pria itu ia lirik. Begitu penuh dan menggoda. Sakura menelan ludah. Menahan diri agar tidak membayangkan Naruto langsung bergerak maju dan mengecupnya—tapi, hei! Pikiran kotor dari mana itu?

Apa karena posisi mereka yang terlalu dekat? Ini sudah terlalu intens.

Sakura mendorong Naruto dan mencoba tertawa kecil—walau masih kelihatan gugup. "A-Aku mau mandi dulu. Kau siapkan piring, mangkuk dan gelas di meja dulu, ya?"

Naruto diam sebentar lalu dia menampilkan kembali senyuman lebarnya. "Hm!"

Sakura menghela nafas dan mengusap wajah.

Padahal dalam hati, sudah ada jantung yang berdegup dengan sangat kencang kala itu.

.

.

~zo : happily ever after~

.

.

"Pokoknya, kalau sudah masuk ke apartemen Uchiha-san, kamu tidak usah banyak bicara; jaga omongan juga. Cukup jalan dengan biasa, dan sadar segala kodeku kalau tiba-tiba tubuhmu aku tarik atau dorong. Pokoknya jangan sampai berbuat yang aneh-aneh." Ucap Sakura saat mereka sudah menaiki lift dimana kamar Sasuke dan Sai berada.

Sabtu yang ditunggu-tunggu Sakura sudah datang dan kini tinggal berjalan beberapa langkah lagi setelah lift dibuka untuk masuk ke kediaman Sasuke Uchiha. Selama menunggu lift yang sedang membawanya ke lantai atas, Sakura menceramahi banyak hal ke Naruto. Tak ia lupa agar selalu mengoreksi pakaian Naruto—membenarkan kerah kemejanya—agar pria itu terlihat rapi.

"Apa kau ingat semua hal yang kukatakan?"

"Iya, iya. Kau ini terlalu banyak aturan. Acara makan malam biasa saja rasanya seperti lagi akan dijodohkan." Naruto menghela nafas.

"Tidak usah banyak gaya, kayak pernah dijodohkan saja."

"Kau lupa ya kalau aku memang sudah pernah dijodohkan dengan seorang putri cantik di Negeri Dongeng?"

"Huh, terserah." Sakura angkat bahu, tak acuh.

"Prosedurnya lumayan ribet seperti ini. Tapi lebih ribet perjodohan."

"Salahmu sendiri mau dijodohkan."

"Iyalah. Putrinya cantik begitu. Mana mungkin aku menolak."

"Dasar, kau ini... cuma melihat orang dari cantik-jeleknya saja, ya?"

"Siapa bilang? Kau tidak cantik tapi aku masih mau menemanimu, kan?"

"Sialan!" Sakura menginjak sepatu pinjaman Naruto sampai pria itu berdesis nyeri. Bersamaan dengan itu lift terbuka, ia tarik tangan Naruto agar terus mengikutinya sampai keduanya berdiri di sebuah kamar 1150 milik Sasuke. Sakura menarik nafas dan menghembuskannya kembali. Sebelum ia menekan bel, ia pastikan dress selututnya yang berwarna peach terlihat sempurna dan ia lirik sinis dulu ke arah Naruto di sebelah.

"Oke, Naruto. Persiapkan dirimu. Uchiha-san adalah bosku dan aku tidak ingin kau mengacaukan imejku di depannya. Mengerti?"

Naruto mengangguk paham. Sakura pun menekan bel.

Ting tong.

Dengan detak jantung yang berdegup kencang Sakura menunggu sahutan dari dalam. Dan benar saja, dalam hitungan detik, sudah ada Sasuke yang membukakan pintu. Muka Sakura nyaris meleleh saking panasnya saat itu. Malam-malam seperti ini, Sasuke membukakan pintu apartemennya dengan wajah super tampan dan pakaian yang cukup rapi—jelas ini bukan acara santai, dan ya, Sakura beruntung dia tidak salah kostum; toh, dress sederhananya tak begitu belel atau lebay, kan? Wanita itu dengan sopan memberi hormat, memaksa Naruto juga melakukan hal yang sama.

"Selamat malam, Uchiha-san. Terima kasih karena telah mengundang kami ke sini."

"Yo." Sapa Naruto yang langsung dilirik oleh Sasuke. Tapi dengan cepat telinga pria itu dijewer Sakura.

"Bodoh! Sopanlah sedikit!" Desisnya.

"Iya, aku tau!"

"Silahkan masuk..." Sasuke memperlebar pintu dan membiarkan kedua tamunya masuk. "Tapi sebelum ke meja makan, perkenalkan, saya Uchiha Sasuke, atasan Sakura Haruno. Kita pernah bertemu dan kuharap kau masih mengenalku."

"Ya, salam kenal juga." Naruto menjabat tangan Sasuke dengan semangat. "Aku Naruto, pangeran dari Negeri Dongeng."

"Na-Naruto!" Sakura langsung malu tapi hal itu ditampik oleh Sasuke yang tersenyum tipis. Dia dan Hinata memang satu spesies.

"Bagaimana keadaan kerajaanmu, Pangeran? Sudah cukup lama kan kau meninggalkannya?" Ia putuskan melanjutkan topik ini sampai Sakura dibuatnya terheran di tempat.

"Iya sih, tapi masih ada ayah dan ibu yang menjabat sebagai ratu dan raja, jadi kupikir tidak apa kalau bepergian sebentar ke Bumi."

"Ma-Maaf, Uchiha-san... tolong jangan dihiraukan. Dia memang suka ngawur."

"Tak apa." Ucap Sasuke, singkat. "Justru orang seperti dia yang ingin kutemui." Ia berjalan duluan ke arah meja makan. Naruto jadi menyikut Sakura.

"Hei, bosmu ini tidak homo, kan?"

"Sembarangan! Mana mungkin Uchiha-san begitu!" Walau rasanya cemas juga. Sakura masih belum punya alasan yang logis kenapa Naruto bisa membuatnya sampai diundang makan malam ke sini. Dia pun menggelengkan kepala, menghapus pikiran buruknya, lalu memasuki rumah Sasuke lebih dalam. Tiap ornamen yang terpajang di sana ia perhatikan. Ada sebuah rasa syukur yang ia panjatkan. Entah sudah berapa lama dia ingin berlama-lama di sini, menikmati kebersamaan dengan sang bos tampan nan kaya seperti Sasuke. Dan inilah waktu yang paling tepat untuk merasakannya.

Kini kawasan meja makan yang berada di dekat dapur terlihat jelas. Di sana sudah ada dua orang yang menghuni ruang makan. Yang pertama adalah Sai Uchiha, anak tunggal dari Sasuke, dan juga Hinata, yang baru berbalik dan akan meletakkan ayam panggang ke tengah meja makan.

"Selamat datang di kediaman Uchiha..." Wanita yang sedang diikat ponytail itu tersenyum. Di saat itu matanya menatap lembut ke Sakura, lalu saat beralih ke si pirang di sebelah wanita itu, iris lavendernya terbelalak lebar. Dia, pria itu, sungguh familiar. Dimulai dari penampilan, cara pandangan, hingga mimik wajah. Apalagi ketiga garis di masing pipi yang sudah menjadi karakteristik khasnya. Hinata yang tak mampu berkata-kata lantas menutup mulut dengan telapak tangan.

"Na-Naruto?"

Ia juga menampilkan ekspresi yang sama. Terkejut. Sama sekali tidak menyangka ada wanita yang telah lama ia cari-cari selama ini. "Hi-Hinata! Hinata kau di sini!" Lantas ia peluk Hinata erat-erat. Menumpahkan segala perasaan rindunya dalam beberapa detik yang saat ini tersedia untuk mereka.

Sai juga Sakura mengerjap bingung ke arah mereka berdua. Sedangkan Sasuke menghela nafas. Ada perasaan lega yang bercampur gelisah untuk saat ini. Entahlah mengapa. Padahal ini semua benar; Sasuke memag sengaja mengundang Naruto ke sini karena dia yakin Hinata dan Naruto memiliki latar belakang yang sama. Bisa jadi Naruto adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh Hinata, dan nyatanya tepat. Mereka saling mengenal.

Tapi sama sekali tak ia ketahui bahwa menyaksikan wanita bersurai indigo panjang itu dipeluk oleh lelaki lain, nyatanya bisa semenyakitkan ini.

"Tunggu, tapi kenapa aku bisa menemukanmu di sini, Hinata!? Apa kau diculik olehnya? Kau diculik olehnya, hah!?" Dia menunduh Sasuke. Dengan sebuah pisau roti yang dia tarik dari wadah alat makan dia acungkan lempengan perak tumpul itu ke wajah Sasuke, tapi Sakura langsung menahannya dari samping.

"Naruto, apa-apaan ini!? Kau harus menjelaskan semuanya padaku! Aku tidak mengerti!" Sakura bolak-balik menatap Naruto dan Hinata yang masih diam di tempatnya berdiri. Dan tampaknya Sai memiliki pertanyaan yang sama. Ia telan ludah dan melanjutkan. "Kami butuh penjelasan."

"Aku dan Hinata sudah dijodohkan sejak lama, saat kami berdua masih ada di Negeri Dongeng! Lalu tiba-tiba Hinata hilang di bumi, dan aku, Pangeran Naruto, datang ke sini untuk menyelamatkan Putri Hinata! Dia!" Ditunjuk olehnya Hinata di ujung meja makan. "Tapi nyatanya Putri Hinata sudah berada di sini, di rumah bosmu, Sakura! Pria itu menculik Hinata-ku—!"

"Bu-Bukan... bukan seperti itu..." Hinata buru-buru meralat. "Bukan seperti itu, Naruto. Dia Sasuke Uchiha. Sasuke dan putranya-lah yang menyelamatkanku dari nasib buruk di bumi ini..."

Naruto menggeram. Dia turunkan pisau rotinya dan mendengus. Nada rendah kembali mengalun pelan dari mulutnya. "Aku tak peduli. Yang jelas, dengan ini kau bisa pulang bersamaku, Hinata. Kau dan aku harus pulang ke Negeri Dongeng dan melanjutkan acara pernikahan sakral kita yang tertunda."

Hinata menggigit bibir. Ia melirik Sasuke sekilas, menatapnya cukup lama. Hingga dengan perasaan yang berat dia mengangguk.

"Y-Ya."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Update. Akhirnya NaruHina ketemu. Apa nasib SasuHinaSai dan NaruSaku, ya? Ada yang bisa menebak? :D /halah.

.

.

Thanks for Read & Review!

Special Thanks to :

Virgo Shaka Mia, anita-indah-777, d sally, Katsumi, Hee -chan, enchep-cheptie, sariindah731, hinatauchiha69, Beby, guess, Cahya Uchiha, Rini desu, blackeyes947, namika ashara, Luluchai10, Taiga'sGF, ulvha, Haekal Uchiha, geek, Uzumaki NaMa, uchina, shihushi-mayu2, Lala, Sarah Hyuzumaki, Guest, Dark Side, Clara Merisa, sasuhina lovers, Misaki Takeru, Lope – qyuubi-kun, misa, fifi, I, nona dinda, Masamune434.

.

.

Pojok Balas Review :

Pengen ada scene GaaHina buat manas-manasin Sasuke. Kalo bisa sih aku juga mau. Adain scene yang hot, ya. Haha.Sepertinya masih agak panjang ceritanya. Udah dipersingkat kok. Ino udah lenyap, ya? :) Kukira Hinata bakal makan racunnya, jadi Sasuke bisa nyium dia. Pengennya gitu sih, tapi yaa... begitulah. Kapan SasuHina saling menyadari perasaan masing-masing? :') Gaara kenapa mau disuruh-suruh Karin? Soalnya Karin Ratu penyihir, dan dia cuma bawahannya.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU