Previous Chap :
"Aku dan Hinata sudah dijodohkan sejak lama, saat kami berdua masih ada di Negeri Dongeng! Lalu tiba-tiba Hinata hilang di bumi, dan aku, Pangeran Naruto, datang ke sini untuk menyelamatkan Putri Hinata! Dia!" Ditunjuk olehnya Hinata di ujung meja makan. "Tapi nyatanya Putri Hinata sudah berada di sini, di rumah bosmu, Sakura! Pria itu menculik Hinata-ku—!"
"Bu-Bukan... bukan seperti itu..." Hinata buru-buru meralat. "Bukan seperti itu, Naruto. Dia Sasuke Uchiha. Sasuke dan putranya-lah yang menyelamatkanku dari nasib buruk di bumi ini..."
Naruto menggeram. Dia turunkan pisau rotinya dan mendengus. Nada rendah kembali mengalun pelan dari mulutnya. "Aku tak peduli. Yang jelas, dengan ini kau bisa pulang bersamaku, Hinata. Kau dan aku harus pulang ke Negeri Dongeng dan melanjutkan acara pernikahan sakral kita yang tertunda."
Hinata menggigit bibir. Ia melirik Sasuke sekilas, menatapnya cukup lama. Hingga dengan perasaan yang berat dia mengangguk.
"Y-Ya."
.
.
Setelah pertemuan Naruto dan Hinata, malam ini acara makan malam di apartemen keluarga uchiha terasa dua kali lipat lebih ramai dari biasanya. Dentingan peralatan makan berbahan perak bertemu dengan piringan kaca. Suara obrolan tak henti-hentinya terdengar.
Malam yang menyenangkan. Cuma Hinata saja yang sedikit lebih pasif dari biasanya. Tapi hal itu bisa diatasi dengan mudah. Sudah ada Naruto di sisinya. Bahkan Naruto sampai rela menggeser kursinya hanya untuk duduk di sebelah Hinata. Jadi memang posisi makan mereka di ruang makan adalah: Naruto dan Hinata yang bersebelahan, di hadapan mereka ada Sai dan Sakura, serta Sasuke yang berada di ujung, sendiri, mengisi sisi samping Hinata dan Sai, sebab memang dialah tuan rumahnya.
Sai memandangi mereka semua sambil mengunyah daging.
Memang sih dia suka suasana ramai. Tapi rasanya seperti ada yang aneh. Dia lebih suka makan bertiga bersama Hinata dan ayahnya. Walau hanya ditemani oleh suara televisi, setidaknya Sasuke ikut peran dalam berbicara. Kemudian Sai melirik Sasuke.
Apa karena dia merasa... Naruto akan mengambil ibu—ah, Hinata mereka?
Sai menghela nafas, sedih. Ia jadi tak bernafsu menghabiskan makan malam.
.
.
.
HAPPILY EVER AFTER
"Happily Ever After" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Fantasy, Drama, Romance
AU, OOC, Typos, etc.
(inspired from enchanted)
.
.
TENTH. Rasa
.
.
"Di bumi aku menemukan banyak pengalaman yang bisa kuceritakan. Kuharap nanti kau mau mendengarkannya."
Masih di makan malam ini Naruto membuka obrolan. Tidak kehabisan bahan obrolan, dia mulai bercerita ini dan itu. Hinata cuma tersenyum sambil tertawa sedikit—walau dapat semua orang di sana rasakan bahwa dia sedikit terpaksa sekalipun ada beberapa kalimat yang terasa benar-benar lucu.
"Ah, Hinata, aku mau buah yang ada di depanmu dong. Suapin juga. Aaa..." Dengan riang pria bergelar pangeran itu menunjuk mulutnya yang sudah terbuka lebar.
"Naruto, kau kan bisa ambil dan makan sendiri." Sakura yang geram langsung menusukkan garpunya ke tangan Naruto—jengah dengan ketidak sopananya. Dia saja risih, bagaimana dengan Hinata dan Sasuke, coba?
"Kenapa? Bukannya wajar jika ada pasangan yang bermesraan seperti ini?" Tanya pria itu, polos.
"Tapi kau terlihat lebay, bodoh!"
Melihat Naruto dan Sakura yang kini adu mulut, Hinata yang berniat patuh menyuapkan buah jadi diabaikan untuk sementara. Wanita itu menurunkan tangannya dan kemudian menggunakan kesempatan ini untuk sedikit menghindar—mengambil beberapa minuman kaleng dari kulkas untuk diletakkan ke meja, juga menaruh beberapa piring dan sendok kotor ke dapur. Tak banyak hal yang bisa ia lakukan saat kembali duduk di meja makan; Sakura dan Naruto masih berdebat panas. Jadilah Hinata melirik Sasuke. Sama seperti anak tunggalnya, pria itu diam saja—walau memang biasanya juga begitu. Hinata memperhatikannya hingga mendapati ada saus yang menempel di dagu Sasuke. Dengan perlahan Hinata mengambil serbet yang masih baru di sebelahnya.
"Ng, Sasuke, permisi..." Ia mengelap lembut noda di wajah Sasuke yang kelihatan tak menolak dibantu.
Di keadaan yang mendadak hening ini, dalam hitungan detik Sasuke dan Hinata menjadi pusat perhatian penghuni meja makan. Sai tersenyum, Naruto terdiam dan Sakura menyeringai sambil melirik Naruto. Diam-diam wanita bermarga Haruno itu jadi senang saat melihat Naruto tak begitu diacuhkan oleh Hinata. Apalagi tampang Naruto yang sedikit lesu karena menyaksikan tunangannya bersikap sedemikian lembutnya ke Sasuke.
Tapi tunggu.
Kenapa dia... malah senang Naruto jadi seperti itu?
Bukannya dia menyukai Sasuke?
Apa perasaannya sudah berpindah?
"Tidak mungkin." Sakura berdesis agak keras sampai Sai menoleh padanya. Gadis berambut pink itu pucat mendadak. Dia seharusnya cemburu melihat Sasuke bersama Hinata—tapi kenapa ia malah bahagia melihat Naruto yang menonton kemesraan mereka berdua? Memangnya dia suka sama Naruto, hah? Tidak. Pasti bukan karena itu. Dia cuma sebal Naruto terlalu manja sama cewek lain.
"Ada apa Sakura-san? Apa ada yang aneh dengan masakannya?" Sai mengungkit Sakura yang tadi memekik sendiri.
"Ti-Tidak kok. Tidak apa." Sakura minum air putih sementar itu Naruto mencibirnya.
"Mungkin dia tersedak tulang. Dia sering seperti itu kalau terlalu semangat makan—"
"Naruto." Delikan Sakura membuat Naruto sadar bahwa dua tanduk wanita pink itu sudah muncul.
"Ehehe, gomen, gomen. Yang tadi itu... cuma bercanda."
Hinata memperhatikan mereka, lalu tersenyum lemah. "Kalian berdua... lucu sekali ya. Cocok bila jadi pasangan."
Naruto mengernyit dan Sakura juga menatapnya dengan tatapan terkejut. Refleks Hinata langsung menutup mulutnya sendiri dengan punggung tangan.
"Apa-apaan, Hinata? Kita kan sudah tunangan..."
Hinata menelan ludah. "Mm... m-maaf..."
Sakura menurunkan pandangan ke piringnya. Dalam diam dia berpikir.
Sepertinya... ada yang salah dengan perasaan dua wanita yang mengisi meja makan ini.
keadaan menjadi hening hingga akhirnya Sasuke meletakkan perangkat makannya. Dia lap mulutnya dengan serbet dan kemudian menyandarkan punggung ke kursi—tanda ia baru selesai makan. "Jadi... kapan kalian putuskan untuk kembali?"
Gerakan makan Hinata terhenti.
Naruto menyahut. "Kembali ke mana?"
"Ke dunia kalian berdua."
Dengan pandangan sendu Hinata melirik Sasuke. Agak sakit rasanya mendengar Sasuke yang mengungkit hal seperti itu di saat-saat seperti ini.
"Entahlah. Aku dan Hinata jatuh ke sini karena ada portal khusus—semacam sumur sihir. Karena itu kupikir kami harus menemukan portal lainnya untuk kembali ke dunia dongeng."
"Portal itu... semacam pintu masuk, ya? Memangnya di sini ada yang seperti itu?" Sakura menambahkan.
"Aku tidak tau juga. Biasanya yang tau urusan seperti ini cuma penyihir atau mungkin peri."
Sai dan Sakura kebingungan, sedangkan Sasuke menghela nafas sendiri. Sedikit lega lebih tepatnya. "Jadi kalian masih akan tetap di dunia ini sampai tau caranya kembali?"
"Ya, mungkin." Di saat mata semua orang sedang terfokus ke Sasuke, tanpa ada yang mengetahui tangan Hinata berpindah ke leher, tepatnya menggenggam bandul kalung yang sedang ia pakai. Itu adalah kristal yang sempat Ino berikan padanya. Dia diminta untuk menunjukkan benda itu saat bertemu Naruto. Bisa jadi batu ini berguna untuk membantu mereka pulang.
Tapi...
Hinata menelan ludah.
Dia tidak ingin berpisah dengan keluarga kecil nan hangat ini.
Maaf, Ino...
"Tapi aku yakin, cepat atau lambat aku dan Naruto pasti pulang... kami hanya perlu menunggu."
"Iya. Hinata benar. Siapa tau ada orang kerajaan yang datang dari dunia dongeng dan menjemput. Hanya saja aku juga tidak tau harus menunggu seberapa lama lagi..."
"Tiga bulan... mungkin... atau dua..." Hinata berbisik. "Lagi pula aku ada janji sama Sai."
"Ah, iya! Hinata-san sudah berjanji mau datang ke acara story telling-ku nanti saat acara kenaikan kelas!" Sai bersorak senang. Lalu ia melempar tatapan penuh harap ke sang ayah. "Lalu bagaimana? Hinata-san masih tetap akan di sini, kan?"
Sasuke mengiyakan tanpa suara—hanya pejaman mata.
"Lalu bagaimana dengan Naruto-san?" Sai bertanya dan Sasuke langsung menatap Naruto dengan tatapan stoiknya. Oh, pasti Sai mengira Naruto akan bergabung dengan mereka di rumah ini. Hal itu mungkin bisa terjadi—
"E-Em, sepertinya jangan deh. Selain merepotkan, dia juga masih terlibat utang denganku." Kata Sakura menambahkan. Agak tidak enak juga sih menyela obrolan mereka. Tapi... kalau saja Sakura boleh jujur, dia sedikit tidak rela melepas teman ngobrolnya itu di apartemen. Walau menyebalkan Naruto benar-benar pria yang baik. Hal apapun yang membosankan pasti akan selalu lebih berwarna jika ada Naruto di sampingnya.
"Tapi bukannya lebih baik jika bertukar posisi?" Tiba-tiba Naruto memberikan saran yang lumayan mengejutkan. "Seperti aku yang jadinya tinggal di rumah ini dan Hinata yang tinggal bersama Sakura. Aku cemas jika Hinata tinggal di tempat yang hanya dihuni oleh lelaki."
Kalimat frontal Naruto membuat Sakura menganga, tapi juga setuju. Dia benar, tapi protesannya sungguh tidak sopan.
Hinata mencoba angkat bicara. "A-Aku—"
"Tidak bisa. Sai membutuhkannya." Sasuke melirik Sai sekilas dan mengencangkan kepalan tangannya di atas paha. "Dan aku juga... sangat membutuhkannya."
Hinata menunduk. Susah payah menutupi senyuman teduh penuh rasa syukurnya.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi?" Naruto pun mendesah malas dan kemudian dia melanjutkan acara makan malamnya.
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
Brukh.
Itulah bunyi yang terdengar saat Sakura membanting tas beserta tubuhnya ke kasur. Ia benamkan wajahnya yang masih terias make-up ke bantal dan memejamkan mata dengan penuh rasa syukur. Akhirnya ia bisa pulang.
"Hari ini melelahkan... tapi menyenangkan!"
"Iya, benar."
Ranjang Sakura kembali bergoyang. Saat menoleh tau-tau ada si pirang Naruto yang tergeletak di sebelahnya. "Iya, lelah. Padahal kerjaan kita cuma makan, ya."
Sakura mengernyit. Ia ambil guling dan melemparkannya ke Naruto. "Jangan tidur di sini!"
Naruto mengerucutkan bibir. "Di futon kan keras, sofa apalagi. Sakura jahat nih."
"Biarin. Kan karena kamu juga, make up dan rambut yang susah payah kutata demi Sasuke jadi kurang berguna. Yang ada Sasuke-san malah lebih memperhatikanmu." Ucapnya. Dia baru ngeh kalau Sasuke memang mengajaknya makan malam agar membawakan Naruto ke rumah. Ya, karena Naruto semata. Ia ingin mempertemukannya dengan Hinata.
"Jelas, aku kan pangeran." Katanya, agak tidak nyambung. Sakura melirik sebal Naruto yang kurang menanggapinya, namun pria itu sudah bergumam sendiri dengan kedua mata tertutup. Sepertinya dia ngantuk. Gadis merah muda itu menghela nafas. "Tak kusangka orang sepertimu bisa jadi pangeran. Gelar dari faktor keturunan memang mengerikan." Sakura mengusap rambut pirang Naruto sampai acak-acakan. Ya, setelah penjelasan mengenai Naruto dan Hinata di rumah Sasuke, sedikit demi sedikit Sakura mulai percaya omongan aneh seputar dunia dongeng. Lalu ia tertawa. "Tapi kapan lagi kan aku menyuruh seorang pangeran mencuci kamar mandi?"
"Jika aku mengadu ke ibuku kau bisa dikenai hukum gantung, tau."
"Dasar manja." Lagi, Sakura mendengus. Ia memutar tubuhnya jadi tengkurap. Tapi lama-lama keheningan ini membuatnya kembali bersuara. "Hei, Naruto..."
"Hm?"
"Kau ini... benar-benar pangeran, ya?"
"Kenapa kau bertanya lagi?" Dengan mata yang berat Naruto menatapnya.
"Lucu saja. Pada awalnya aku kira kau adalah cosplayer gila yang sudah tidak waras." Sakura memberikan cengiran lebar. "Dan juga, yang Hinata itu tunanganmu, ya?"
"Ya, aku dijodohkan dengannya—tapi kami belum sempat menikah."
"Eh, tunggu... kalian dijodohkan? Dan kau mau?"
Kepala kuningnya mengangguk. "Tentu saja. Kabarnya dia seorang putri yang sudah lama tinggal di hutan. Terkenal karena paras cantik, hati yang lembut serta nyanyian merdunya. Siapa yang tidak mau menikahi wanita seperti itu?"
Sakura mengangguk tak paham. "Tapi jarang sekali ada orang yang senang dijodohkan—dari cerita-cerita novel yang kutau sih begitu—kan tidak saling mencintai. Mm, apa jangan-jangan kau tipe orang yang bisa mencintai perempuan hanya karena wajahnya?"
"Hah? Wajah?"
"Saat berbicara dengan Hinata tadi, aku dengar kalian baru beberapa kali bertemu—di dunia dongeng pun jarang mengobrol, kan? Itu tandanya kau hanya menilai Hinata dari penampilan fisiknya saja. Ya walaupun aku yakin dia perempuan baik-baik sih..." Tapi Sakura tetap merinding sendiri saat ia bayangkan kejadian tempo hari dimana ia melihat Hinata membuka roknya sendiri di depan Sasuke. Kelewat polos katanya. Hanya kelewat polos.
"Aku memang cuma pernah dua kali berbicara dengannya, tapi karena kurasa cocok ya aku menyetujui perjodohan itu. Lagi pula kalaupun dari awal aku hanya tertarik dengan wajahnya, itu tidak salah juga, kan? Toh, bukan sesuatu yang buruk."
"Bagi aku sih buruk. Kau harus melihat perempuan dari luar dan dalamnya."
"Aku melihat perempuan itu memang dari luar-dalamnya kok. Lihat saja, aku masih senang berada di sampingmu." Mata biru Naruto menatapnya. "Padahal wajahmu biasa-biasa saja dan sifatmu menyebalkan; luar-dalammu sama-sama negatif."
Sakura sweatdrop. Dia lempar Naruto menggunakan guling. "Keluar sana."
"Malaaas... nanti dulu dong, punggungku cuma ingin bertemu kasur..."
Sakura Haruno melirik jam. Ini sudah hampir tengah malam. Sebenarnya ia ingin cuci muka, ganti baju dan lain-lain (mengusir Naruto dari kamarnya) tapi sayangnya dia juga malas bergerak. Jadilah ia coba memejamkan matanya lagi di sebelah tubuh Naruto.
"Hei, Naruto..."
"Hm?"
"Menurutmu, seperti apa hubungan Sasuke dan Hinata?"
"Biasa saja. Kenapa?"
Sakura menghela nafas. "Kau ini tidak peka, ya. Apa tadi kau tidak lihat wajah mereka? Raut sedihnya kelihatan sekali. Seperti tidak ingin berpisah."
"Entah. Yang aku lihat Hinata senang bertemu denganku."
Sakura melipat kedua tangannya di dada. Naruto benar-benar payah. "Coba ya pikirkan. Berhubung kau jatuh ke dunia ini sejak Juni, itu tandanya sudah hampir enam bulan dong mereka tinggal bersama? Masa tidak pernah terjadi apa-apa?"
"Maksudnya apa sih?"
"Begini; mereka itu satu rumah, Sasuke berstatus single parent, dan mereka... orang dewasa!"
"Lalu?"
"Siapa tau di apartemen itu mereka pernah ciuman..." Sakura memulai gosipnya—kebiasaan yang tanpa sadar sering muncul.
"Mana mungkin!" Naruto jadi kaget sendiri. "Hinata tidak akan seperti itu! Dia hanya mau dicium olehku!"
"Kata siapa? Perempuan mana pun pasti mau dicium sama Sasuke Uchiha."
"Tidak dengan Hinata. Aku yakin—"
Sret.
Sakura terbangun dan tiba-tiba langsung menindih tubuh Naruto. Ia tundukan kepala hingga surainya menjatuhi leher pria itu. "Lalu kalau Sasuke-san menyerang Hinata secara tiba-tiba, bagaimana?"
Naruto terdiam. Kedua iris safirnya cukup terbuka atas ulah Sakura. tapi bukannya kaget atau mendorong gadis itu—karena dapat diyakini tenaga pria sepertinya akan cukup memutar-balikkan Sakura, Naruto malah diam. Pria itu memasang wajah polos yang sangat tampan di mata Sakura.
"Menyerang? Seperti apa?"
Suara Naruto; suara bariton yang menipu—berat dan dewasa, namun terasa bodoh. Terutama dirinya, Sakura Haruno, yang kini malah menatapnya dalam-dalam, dan secara tak sadarkan diri ia menunduk, mencium pelan bibir Naruto. Sentuhan kecil yang sungguh mengejutkan bagi dua pihak yang ada di sana. Dalam hitungan detik Sakura tersadar, dan tanpa perlu ditanya sudah ada buliran keringat dingin yang membubuhi kulitnya. Lantas wanita itu berdiri di sisi ranjang dan kemudian menarik Naruto agar bangkit dari kasur. "Tidurlah di luar. Aku capek."
Naruto meraba bibirnya dengan ujung jari, menatap Sakura dan menutup pintu, keluar. Tapi kakinya tak lagi melangkah. Diam-diam dia bersandar di pintu. Jantungnya berdegup kencang dan entah kenapa ada semburat merah yang melapisi kedua sisi pipinya.
"Jantungku berdebar..."
Dia memegang dadanya.
"Aneh."
.
.
~zo : happily ever after~
.
.
"Dan begitulah kisah ini berakhir... mereka bahagia selama-lamanya."
Hinata menutup buku dongeng pop-up yang baru ia bacakan ke Sai. Kisah yang diangkat oleh buku itu adalah si boneka kayu Pinokio. Sai sendiri yang beli khusus untuk Hinata—dan pada akhirnya buku cerita itulah yang hari ini menemani Sai sebelum ia tidur. Kemudian Hinata melirik lembut Sai yang berada di sebelahnya. Bocah itu tersenyum dan menarikkan selimut ke batas dagunya. "Terima kasih, Hinata-san."
Hinata tersenyum. "Jangan bosan-bosan minta diceritakan olehku, ya."
"Mm..." Sai tersenyum lalu ia menggenggam tangan Hinata. "Jangan juga bosan tinggal di keluarga kami."
"Tentu saja." Hinata kemudian mencium kening Sai dan mematikan lampu. Ia beranjak pergi dari kamar anak itu dan berniat kembali ke sofa ruang tengah. Masak dan bersih-bersih dari pagi sampai malam rasanya sudah membuat tangan dan tubuh lelahnya meminta untuk diistirahatkan lebih cepat. Tidur. Tapi masalahnya saat ia baru sampai ke ruang tengah, di sofa sepanjang tiga meter yang biasa ia tempati ada seorang pria yang mendudukinya. Masih menggunakan baju kemeja putih dan celana kain panjangnya yang ia gunakan saat makan malam tadi.
Mata obsidiannya menatap lurus layar televisi di hadapannya. Cukup lama, sampai dia sadar telah diperhatikan dan kemudian memandang Hinata yang masih berdiri di samping sofa. "Kenapa?"
"Ng... tidak. Tidak apa." Hinata duduk di sebelahnya, lalu kemudian menarik selimut yang sebelumnya terlipat rapi di sana. "Sasuke belum mau tidur?"
"Ini jam 23.00 dan aku masih mau nonton televisi."
"Mm... kalau aku sih mau tidur."
"Oh, mentang-mentang sofa ini adalah tempat tidurmu, aku mau kau usir? Begitu?"
"E-Eh, aku tidak bilang seperti itu." Hinata cemberut—walau iya sih dia ingin tidur melintang di sofa. Karenanya dia menarik selimut dan berpindah ke sofa personal di sisi samping meja, ingin tidur, tapi Sasuke menahan tangannya. "Tidak usah pindah. Temani aku di sini."
Hinata mengerjap. Ia pun duduk dan menutupi kedua kaki jenjangnya dengan selimut tipis. "Tapi posisinya... tidak enak..."
Sasuke melihat Hinata yang menyandarkan kepalanya ke lengan sofa sebelah—dijadikan sebagai bantal—kedua kakinya yang sudah naik ia tekuk sebisa mungkin agar tidak mengenai Sasuke. Pria itu pun menghela nafas. Dia ambil kaki Hinata dan menaruhnya perlahan di atas pahanya sendiri. Hinata langsung panik.
"Ta-Tapi kan tidak sopan..."
"Ya sudah, putar posisimu. Kepalamu yang di sini."
Hinata menatapnya dulu lalu memutar posisinya dengan nurut. Ia letakan bantalnya di samping paha Sasuke dan kemudian ia menidurkan kepalanya di sana, kakinya ia luruskan ke lengan sofa. Masih agak tertekuk sih, tapi setidaknya ini jauh lebih nyaman dibanding yang tadi. Kemudian sambil menarik selimutnya sampai sebatas leher dia melirik tontonan Sasuke. Setelah beberapa iklan hanya ada tayangan ulang dari berita tadi sore.
"Memangnya malam-malam seperti ini apa yang biasa kamu tonton, Sasuke?"
"Aku cuma menonton ini."
"Berita?"
Sasuke menggeleng.
"Lalu apa? Tayangan selanjutnya?"
"Bukan—tapi ini."
Hinata mengadah dan kebetulan Sasuke juga sedang menghadap ke bawah, ke arahnya. Pandangan mata mereka yang kontras bertemu. Hinata memperhatikannya dalam diam. Tak mampu berkata atau pun bertanya lebih.
"Sejujurnya aku ingin bertanya."
Lalu dapat ia rasakan telapak tangan Sasuke menyentuh keningnya. Mengusapnya. "Apa pria yang barusan Sakura bawa... benar-benar tunanganmu?"
Hinata memalingkan wajah. "Iya."
"Kau menyukainya?"
"Mm..." Ada sebesit rasa ragu yang menggantung di sela-sela hati kecilnya. "Dulu saat dijodohkan olehnya, aku merasa sangat terhormat dan senang sekali saat pangeran seperti Naruto melamarku. Toh, bagaimanapun juga aku hanyalah puteri hutan biasa yang tidak dikenal di mana-mana."
"Lalu bagaimana dengan sekarang? Masih menyukainya?"
Hinata kembali menatap Sasuke. Ia tersenyum lemas. "Entah. Mungkin aku masih menyukainya."
Mungkin.
Ya, mungkin.
Sasuke terdiam sesaat, dia kemudian merendahkan kepalanya, berniat mencium bibir merah muda Hinata yang sedikit tebuka. Dan Hinata pun yang terbelalak cuma bisa terdiam, ia gemetar saat ia rasakan ada bibir yang menciumnya pelan. Sekedar menempel.
Hinata sempat merasakan seberapa lembutnya bibir Sasuke, namun dengan mata terpejam ia jauhkan kepala Sasuke yang tertunduk. Dia menutup bibirnya dan berucap tegas—sekalipun dengan berbisik parau. "Ma-Maaf, Sasuke, aku tidak bisa. Aku sudah ditunangkan, dan pangeranku sudah ada di sini." Ia menarik nafas dalam-dalam dan mata lavendernya yang dipenuhi kesedihan menatap Sasuke. "Kupikir sudah saatnya kita tau batasan dalam berteman."
Oh. Berteman, ya?
Sasuke yang tidak terbiasa menerima penolakan diam-diam menghela nafas cukup panjang. Sempat kesal—rasa ingin memiliki Hinata saat ini serasa benar-benar meledak hingga terasa sakit untuk menahannya. Namun ketika Hinata berniat pergi, ia berdiri dan menahan tangannya.
"Sa-Sasuke?"
Sasuke hanya menatapnya tanpa bersuara.
"Sasu?"
"Hinata."
Satu panggilan nama dari Sasuke membuat Hinata terpaku di tempatnya berdiri. "Y-Ya?"
"Aku tau ini salah, tapi aku telanjur mencintaimu."
Hinata rasa ia lupa cara bernafas. Paru-parunya sesak
"A-Aku—"
"Aku mencintaimu, Hinata."
Hinata menggeleng kecil—bukan dalam maksud menjawab—lalu ia menunduk dan melontarkan kalimatnya. "Aku mencintai Pangeran Naruto..."
Sasuke menatapnya sendu. Rasanya sakit. Seperti ada yang menggoreskan pisau belati ke hatinya. Lalu perlahan-lahan Sasuke melepaskan tangan Hinata. berniat berbalik dan pergi. Namun, sesuatu di dalam dirinya memaksanya untuk terus bertahan, terus melihat Hinata, dan terus berkeinginan untuk mendapatkannya.
Sasuke membelai pipi Hinata. Wajahnya merah padam selayaknya gadis yang baru menyatakan cinta—dan benar, memang itu yang barusan ia lakukan—namun tubuhnya gemetar aneh. Dia ketakutan. Dia melawan apa kata hati kecilnya.
Sasuke mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga wanita itu.
"Lalu... bagaimana kalau aku menganggap bahwa ucapanmu itu adalah sebuah kebohongan?"
Hinata tercekat. Matanya tertambat di oniks Sasuke yang menagih jawaban.
"Apa kau sendiri juga berharap seperti itu?"
Hinata memejamkan mata dengan gugup, ada bibir Sasuke yang menciuminya lagi. Kali ini pria itu menangkap bibir bawahnya, membelainya dengan lidah, lalu pada akhirnya, Hinata pun menggerakkan kedua lututnya, sedikit menegakkan tubuh dan mencengkram baju Sasuke. Tidak. Hinata tidak lagi menolak. Dia membalasnya; menyambut ciuman Sasuke dengan bibir merahnya. Tangan Hinata meremas kemejanya, Sasuke memeluknya lebih erat, menghempaskan pelan tubuh kecil itu ke permukaan sofa dan menibannya dengan pagutan lembut yang mendebarkan.
Tidak ada yang tahu, akan sampai manakah sentuhan mereka berakhir. Yang jelas satu per satu pakaian mereka terlempar begitu saja di lantai hingga tak tersisa sehelai benang pun. Hanya ada mereka, juga siaran televisi yang terus menyala sepanjang malam.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Sedang berpikir cara seperti apa yang bisa digunakan untuk menamatkan fict ini dengan cepat...
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Virgo Shaka Mia, Guest, qq, Hee-chan, namika ashara, keita uchiha, shu, Guest, gurls, Mishima, siska906, sasuhinalemonxx, Katsumi, TheMagicGirl1, diah eka, Jasmine DaisynoYuki, Azalea Ungu, blackeyes947, Hyou Hyouichiffer, Logic, yuka, anita-indah-777, UcSaHyHi, nadya ulfa, Nurul851, cintya-cleadizzlibratheea, HinaTama, Uzumaki NaMa, Rini desu, luchaaai, Nameami565, SafiraUciha, Himarura Kiiromaru, kensuchan, shihushi-mayu2, Masamune434, nuruss-chan, rara chan23, Ami, AmiChan, Inolana WillowShimmer, Bofit, leinalvin775, Guest, lavender, hinatauchiha69, Guest, Halloo, HyugaRara, anarabilqis, Catty Cat-Chan, Sasya547, Rossianaruhina, miyaauw, Orihime Kumiko, Lily, Eve Seven, uchihaxhinata, himeka, peppy-san XD, Hyuga6, Mi nubi, Zia Zeezee, anarayuki, fina, Mawar.
.
.
Pojok Balas Review :
Aku sangat suka fict ini. Terima kasih banyaak. Kapan SasuHina sadar mereka saling suka? Mm, mungkin sebentar lagi? Awalnya agak absurd, tapi makin lama makin jelas. Haha, iya, maaf kurang bisa ngeceritainnya. Chap 10 harus lebih panjang. Haha, 3k udah lumayanlah. Gimana perasaan Sasuke ya kalo NaruHina balik ke dunia dongeng? :) Aku suka scene NaruSaku-nya. Thanks. Mereka kebagian porsi juga di chap ini. Bentar lagi tamat? Pengennya gitu. Ino-nya mati? Ngga sama Gaara dong? :) Ada typo. Thanks.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
