Sex Toys

Chapter 3

.

.

SasuSaku

Naruto belong to MK

MA for Lemon and Gore

Sci-fi, Crime

#Warning : AU, Thypo, DarkSasuke! NC-21, PWP, BDSM! Hard Lemon! Hard Gore!

Sumber pendukung : Wrong Way, SAW, Unrested, The Texas Chainsaw Massacre, Hallowen, House of Wax (Film)

FP : CreepyPasta

Novel : Death Silence, 24 Another Billy, The Untold Story of Ryan.

.

.

.

A/N : huwaaa~~ gak nyangka pada minta adegan Gore nya ditambahin, story nya di perjelas dan diperkuat, serta adegan SasuSakunya di perbanyak. Kalo Gore siihh odes usahakan ( odes serius melakukan pendalaman adegan Gore dengan menambah wawasan dr berbagai sumber ) tapi maapkan hamba jika masih kurang berkenan. Yang mau kasih saran sumber Gore yg asooyy juga boleh kok. Maapkan berbagai kekurangannya, odes masih dalam tahap belajar :(

Dan aduuhh plisss dong, yang UNDERAGE, tolong bgd, ini fict tidak di desaign untuk kalian. Odes males kena omel, jadi nekat baca, dosa ditanggung pak RW masing-masing yaaa~

Oohyaa, bagi teman-teman readers yang ingin berteman atau sekedar bertegur sapa atau mungkin ada yang mengganjal dan ada pertanyaan, silahkan PM Odes atau boleh juga add fb : Odes Destriyana. Jika ada yang kurang berkenan bukanlah lebih baik jika dibicarakan atau ditanyakan secara pribadi ketimbang melempar tuduhan tidak beralasan yang hanya mengandalkan spekulasi semata? Odes orangnya terbuka kok. Kalo suka akan bilang suka. Begitu juga ketika benci seseorang atau bahkan suatu chara. Bar-bar? Kampungan? Fans karbit? Terserah. Yang jelas odes gak bersembunyi di balik akun kloningan dan berani mempertanggungjawabkannya.

Ketika odes jujur dan justru dibilang frontal en bar bar.

Ketika pertemanan itu cuma bullshit dan bertepuk sebelah tangan.

Boleh kesel? Marah? Sedih?

Engga!

Yang mereka mau tau cuma cerita buatan lo! Yg bikin mereka tertarik cuma kisah yg lo tulis. Seperti apa perasaan lo saat mungkin para DEWA yang selalu benar dengan segala komentarnya itu nyakitin lo, gak usah lu ekspos. Gak usah lo peduliin. Perasaan lo yaa derita lo sendiri.

Diem. Gak usah banyak bacot. Lo telen aja semua mentah2. (Curahan Hati Odes)

Yaahh pokoknya untuk semua readers yang udah mendukung, untuk semua cinta dan makian, untuk semua rasa benci dan sayang yang tercurahkan, untuk semua perhatian dan komentar, odes ucapkan beribu terimakasih. Kalian adalah sumber penyemangat odes di kala lelah dan sedih menyapa karena perkataan mereka yang hanya bisa menghina.

Salam sayang,

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

Odes

-000000-

Gadis manis bercepol dua itu tampak tengah berjalan sendirian memasuki rumahnya di malam yang mulai beranjak larut. Dia baru saja membeli cemilan untuk dimakan saat malam hari jikananti perutnya merasa lapar. Dan setelah menaruh berbagai belanjaannya di dapur, gadis itu segera kembali ke kemarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Dibukanya laptop yang sudah stand by yang berada di ranjang miliknya. Seseorang di seberang sana tengah melakukan web cam dengannya. Seorang pemuda dengan tubuh atletis, helaian hitam yang memanjang sebatas punggung itu tengah memamerkan dada bidangnya dengan hanya mengenakan celana boxer berwarna merah dan hitam untuk mentupi bagian bawah tubuhnya.

"Maaf lama menunggu..." ucap gadis bernama Tenten itu sambil mengaktifkan kembali pembicaraan mereka melalui web camera yang terpasang di laptop.

"Kau lama..." ujar kekasihnya di sebreran layar. gadis itu dapat melihat wajah sang kekasih yang sedikit tidak sabar.

"Hahhahaha.. memangnya kau belum puas, Honey? Kita kan sudah melakukan 2 ronde sepulang sekolah tadi di ruang olahraga..." sahut Tenten dengan nada manja. Pemuda bernama Hyuuga Neji itu mendekatkan wajahnya ke kamera.

"2 ronde belum cukup sayang. Jadi ayoo kita lanjutkan...!"

Menyanggupi ajakan sang kekasih, Tenten mulai membuka piyama tidurnya sehingga hanya menyisakan underwear berwarna putih untuk menutupi dada dan bagian vitalnya saja. Mata Neji membulat melihat pemandangan tubuh indah sang kekasih ini. Selalu dapat membuatnya meneguk air liur berkali-kali.

"Cepatlah sayang... 'adikku' ini sejak tadi sudah tak sabar..." desak sang pemuda sambil menggenggam sesuatu di selangkangannya yang telah mengeras.

Tenten tersenyum menggoda. Dia sangat suka membuat Neji terbakar birahi terlebih dahulu. Foreplay yang dia lakukan selalu dapat membuat kekasihnya mencapai klimaks penuh kenikmatan, lebih dari sekedar mereguk puncak birahi semata. Karena itu, Tenten sangat menyukai tahap "pemanasan" ini.

Dan untuk membuat sang kekasih bertambah panas, Tenten mulai menggoyangkan tubuh indahnya di depan kamera. Seringai menggoda dan aksi nakal tangannya yang terkadang meremas gemas sex appeal nya sendiri membuat deru nafas Neji mulai tak beraturan melihat pemandangan di hadapannya itu.

Sang gadis mulai melepas Bra putihnya. Menjatuhkannya sembarangan di lantai. Kemudian dengan sengaja memijat kedua bukit kembarnya pelan, memilin putingnya sambil mendesah-desah erotis.

"Ngghhh... mmmmpphh..aaahhhh..." matanya terpejam dengan mendongak ke atas, menandakan kenikmatan yang tengah melilit tubuh indahnya. Mendengar erangan gadisnya, juga gerakan erotis sang kekasih yang merangsang sendiri payudaranya membuat Neji makin cepat meremas dan mengocok penisnya sendiri. Semua rangsangan dari Tenten telah membuat kejantannya ereksi penuh.

"Sekarang buka bagian bawahmu...!" Perintah Neji di sela nafasnya yang memburu. Tenten menjawabnya dengan senyuman penuh arti dan mulai melucuti underwear bagian bawahnya sehingga sekarang dia telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

Tenten mulai mengangkangkan kakinya ke arah kamera sehingga vagina yang basah dan memerah itu terlihat jelas di depan kekasihnya. Lalu dengan kedua jarinya, Tenten mulai mengocok sendiri vaginanya, membuat tonjolan sebesar biji jagung itu menegang akibat rangsangan penuh ulahnya sendiri,

"Ooohhh... aahhh... Neji-kun. Ini nikmat sekali sayang..." racau gadis bercepol dua itu tak jelas diantara nafasnya yang tersenggal menahan api birahi yang menggelak.

"Uuuhhhh Honey... kau sangat nakal. Kau tahu caranya merangsangku dengan sempurna. Lanjutkan honey... ahhh.. buat...aku...klimaks...aaahhhh..."

Tenten terus melakukan one hand servicenya. Matanya terpejam dan terbuka, mulutnya kadang sedikit membuka disertai erangan erotis yang lolos begitu saja, terkadang terkatup rapat dengan menggigit bibir bagian bawahnya sambil mendesah tak karuan menikmati ulahnya sendiri.

"Aaassssshhh Neji-kun... aaahhhhh... ahhhh...ini... aku... ahhhh..ahhhh.." gadis itu seolah tak bisa berhenti mendesah tak karuan menahan nikmat. Terlebih saat dilihatnya sang kekasih makin cepat mengocok penisnya naik turun dengan mata tajam terfokus ke arahnya. Deru nafas pemuda itu pun semakin tak beraturan.

Lalu saat Tenten makin cepat mengocok liangnya dan sebelah tangannya yang lain memilin putingnya, Neji merasa ledakan klimaks akan segera melanda dirinya. Pemuda itu pun makin cepat, makin keras, makin kuat memijat penisnya. Membayangkan kejantanannya itulah yang tengah mengamuk di vagina kekasihnya!

"Uuughhhh Shit! Aaaahhhhhhhh~~..." lolongan panjang disertai muntahan lahar panas dari kejantanannya itulah yang menjadi puncak klimaksnya. Menyembur sangat banyak dalam 3 kali tembakan. Tak lama, gadisnya pun juga ikut menikmati klimaksnya. Lelehan cairan itu membanjiri vaginanya menetes membasahi seprai tempat tidurnya.

"Aaaahhhh aku puas sekali malam ini Honey... terimakasih." Ucap Neji sambil mengecup ke arah kamera, memberikan ciuman jarak jauh pada kekasihnya.

"Aku juga Sayang, sekarang aku lelah, aku mau tidur. Sampai besok di sekolah..." ujar Tenten sambil membalas ciuman jarak jauh sang kekasih.

"Baiklah, Nice dream Honey..." Neji pun mematikan sambungan web cameranya.

Tenten segera membersihkan diri dan juga penampilannya. Sudah 3 bulan sejak mereka menjalin kasih, inilah yang selalu keduanya lakukan setiap malam kala tak bisa saling menyentuh secara nyata. WebCam Sex!

Gadis itu merasa lelah yang luar biasa. Namun tepat saat dirinya akan jatuh tertidur, sebuah e-mail masuk ke dalam gadgetnya. Dengan malas Tenten membuka e-mail gelap yang tidak diketahui siapa pengirimnya tersebut.

Betapa terkejutnya gadis itu saat menyadari bahwa isi e-mail itu adalah adegan panasnya bersama sang kekasih siang hari tadi di ruang olahraga. Tampaknya adegan itu direkam secara candid tanpa diketahui mereka berdua.

Wajah Tenten memucat saat membaca tulisan di e-mail gelap tersebut

'Temui aku di ruang olahraga, besok! Jika tidak, aku akan menyebarkan rekaman video ini.'

-00000-

Gadis bersuai semerah darah itu menggeliat, membuka matanya perlahan. Saat sinar lampu yang terang benderang menyorot tepat di matanya, refleks, gadis itu segera mengatupkan kembali kelopak matanya.

Merasa gadis itu mulai bergerak, sang pemuda menghentikan keasyikannya.

Menyayat lapisan demi lapisan kulit dan daging di perut rata gadis remaja itu!

"Kau sudah bangun?" Sebuah kalimat tanya dengan nada ceria, cenderung manis namun gadis berhelai semerah darah itu tetap mampu menangkap nada intimidasi di sana. Pemuda itu memang melontarkan kalimat tanya namun sama sekali tak membutuhkan jawaban darinya.

Gadis itu mengintip dari mata sebelah kirinya yang masih terbuka, lewat sebuah pantulan di lampu yang berpendar terang di atasnya, gadis itu melihat sendiri bagaimana pemuda gila itu tengah membedah bagian perutnya!

"AAAAAAA~... aaaaahhhhhh " gadis itu seketika menjerit. Itu mungkin yang ingin dia lakukan sekarang. Menjerit sekeras - kerasnya. Namun apa daya suara yang terdengar hanya berupa cicitan burung yang terluka.

"Sssstttt... tenang. Apa yang kau takutkan, gadis cantik?" Tanya pemuda raven itu sambil mengusap bagian pipi sang gadis lembut. Karin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha melepaskan diri atau paling tidak memberikan reaksi penolakan keras pada tindakan professor gila ini.

"Aaaaa...aaaaa..." gadis itu terus berusaha berbicara atau berteriak meminta pertolongan. Namun sekeras apapun usahanya, suara yang diinginkan tak pernah terdengar. Itu semua karena sang professor telah memotong sebagian pita suaranya dan menanamkan sebuah logam penghambat bunyi disana.

"Kau tidak perlu takut... aku hanya membedah sedikit bagian perutmu. Menghilangkan ovarium milikmu. Kau tentu tidak ingin hamil dan memiliki anak saat ini bukan..?!" Seringai keji itu tergambar jelas di wajah tampannya. Tanpa sadar tubuh Karin gemetar ketakutan menanggapi perkataan pemuda itu.

Seketika tubuh gadis itu terasa lemas. Pemuda gila ini telah menghilangkan kesempatannya sebagai wanita untuk menjadi seorang Ibu. Tanpa ovarium miliknya, dia sudah tak lagi merasa lengkap sebagai seorang wanita.

Airmata deras mengalir di pelupuk sebelah matanya yang terbuka. Tega sekali... tega sekali pemuda ini melakukan hal begini kejam dan sadis pada dirinya.

"Kau tidak perlu marah padaku. Aku hanya melakukan yang seharusnya. Lagipula dengan sedikit operasi di bagian lambung dan pencernaanmu, kau kan bisa tetap mempertahankan tubuh langsingmu itu... kau seharusnya berterima kasih...padaku..." sambil mengintimidasi gadis itu, tangan Sasuke tak mau kalah. Kini sang Uchiha mulai meraba liar tubuh gadis belia itu. Meninggalkan luka yang masih menganga di bagian perut sang gadis berhelai semerah darah tersebut.

Terus dirangsangnya bagian puncak bukit kembar yang kenyal itu hingga puttingnya mengacung tegak. Karin mulai bergerak gelisah saat tubuhnya menerima rangsangan yang begitu hebat dari sang pemuda.

Tiba-tiba gerakan sang pemuda untuk merangsang gadis ini terhenti saat dilihatnya tubuh sang gadis memucat. Dengan sigap Sasuke memeriksa suhu tubuh dan detak jantungnya. Rupanya gadis ini terkena serangan Hipotermia mendadak yang membuat tubuhnya sedikit kejang dengan raut mulai membiru.

Tubuhnya yang sudah 3 hari selalu telanjang bulat tanpa sehelai benangpun, asupan makanan dan air yang sangat sedikit diterima tubuhnya, tekanan mental yang begitu kuat hingga rasa sakit yang tak pernah terbayangkan sebelumnya membuat gadis ini mendadak berada dalam kondisi sangat kritis karena kekurangan asupan oksigen ke bagian otak.

Dengan cekatan, Sasuke bergegas menjahit luka di bagian perut gadis tersebut. Kemudian menyuntikkan sejenis obat perangsang pacu jantung untuk menaikkan detak jantungnya seperti semula. Namun tanpa diduga justru darah lah yang mengalir dari sela hidung gadisnya itu.

Sasuke berspekulasi telah ada pembuluh darah yang pecah dari tubuh gadis ini. Maka tidak ada pilihan lain. Sasuke menyuntikkan morphine ke dalam tubuh remaja SMU tersebut. Dengan 2 kemungkinan yang akan terjadi. Jika berhasil denyut jantung gadis itu akan kembali seperti semula. Namun jika gagal, gadis itu akan mati sia -sia.

Ditunggunya beberapa saat obat yang disuntikkannya bereaksi dan bekerja. Sasuke mengamati setiap perubahan di tubuh gadis itu. Lalu setelah beberapa saat menunggu, sebelah mata gadisnya yang tidak dia jahit terpejam perlahan. Bersamaan dengan detak jantungnya yang menghilang dengan cepat. Uzumaki Karin telah meninggal dunia!

Sang professor tampan itu murka. Dengan penuh emosi Sasuke membanting segala peralatan yang berada di sekitarnya. Percobaannya untuk membuat Toy Sex dari tubuh gadis asli gagal di percobaannya yang pertama!

Namun bukankah sang professor telah menemukan target berikutnya?

-000000-

*keesokan harinya,

Suasana di kantin Konoha Gakuen riuh seperti biasa saat jam istirahat tiba. Semua anak berebut mendapatkan makan siang, ada pula yang hanya sekedar bercengkrama, seperti yang dilakukan keempat gadis cantik yang tampak lebih sibuk mengobrol ketimbang memakan makan siang mereka.

"Kau tahu kemana Karin? Sudah 3 hari dia tidak masuk sekolah... apa sih yang dipikirkan gadis itu?!" Seorang gadis berambut pirang panjang dengan seragam sekolah ketat sehingga menonjolkan lekuk tubuh indah khas gadis remaja seusianya itu sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya anggun.

Ketiga temannya, yang diajak bicara, seorang gadis berambut indigo dengan sepasang mata lavender indah, seorang gadis bersurai merah muda serupa permen kapas, dan gadis manis bercepol dua hanya menanggapi pertanyaan teman pirang mereka dengan ekspresi sama tidak tahunya.

"Apa... terjadi sesuatu pada Karin-nee?" Tanya gadis berhelai indigo itu dengan raut cemas. Gadis bernama Hyuuga Hinata itu adalah gadis dengan tindak tanduk paling pemalu dibanding ketiga temannya yang lain.

"Entahlah.,, mungkin dia hanya sedang sibuk dengan kekasih barunya..." kali ini Haruno Sakura, gadis dengan suraian merah muda lah yang menjawab. Suasana diantara mereka mendadak hening seketika saat gadis berambut pirang bernama Yamanaka Ino kembali mencoba menghubungi ponsel Karin namun hasilnya tetap sama seperti beberapa hari yang lalu. Ponsel gadis berhelai semerah darah itu tidak lagi aktif.

Lalu pandangan ketiga gadis cantik itu serentak tertumbuk pada gadis bercepol dua yang sejak tadi hanya diam saja tanpa melontarkan satu kata pun. Hari ini Tenten terlihat tidak seperti biasa. Hanya diam dengan wajah tegang yang selalu tertunduk. Padahal biasanya gadis itu selalu menjadi yang paling ceria diantara mereka berlima.

"Kenapa? Kau sakit?" Tanya Sakura sambil memeriksa suhu tubuh sahabatnya dengan menyentuh bagian dahi gadis bercepol dua tersebut. Tenten terlonjak kaget dengan sentuhan Sakura, seolah gadis itu baru saja berteriak di telinganya.

"Kami-sama.., kau ini kenapa sih?!" Omel Ino yang ikutan terlonjak kaget dengan gerakan Tenten yang tiba-tiba.

"Aahhh... A-aku... tidak.. apa-apa?" Jawab gadis itu dengan terbata. Baik Sakura maupun Ino memicingkan mata mereka, tidak langsung percaya dengan jawaban sahabat mereka itu.

"Apa sesuatu terjadi dengan hubunganmu bersama Neji-nii...?" Tanya Hinata. Hyuuga Neji, kekasih dari Tenten merupakan kakak sepupu dari Hinata.

"Aaahhh... oohh... tidak..." jawab Tenten dengan raut lesu. Sejak semalam gadis itu memikirkan e-mail gelap yang dikirim padanya. Seseorang yang merekam dan mengancam akan menyebarluaskan rekaman adegan mesumnya bersama sang kekasih di ruang olahraga sekolah. Gadis manis itu ragu, haruskan dia menemui orang misterius tersebut? Bagaimana jika diancam untuk menerahkan sejumlah uang?

"TENTEN..! astaga~~ ada apa sih denganmu?" Teriak Ino dengan suara keras. Gadis itu kembali terlonjak kaget. Sementara Sakura dan Hinata hanya menatapnya dengan pandangan menyelidik,

"Biar kuambilkan obat untukmu di UKS..." ujar Sakura sambil melangkah pergi diiringi anggukan Ino dan Hinata.

-''0000000''-

Gadis itu berjinjit untuk menggapai kotak obat yang ditaruh diatas lemari. Tepat saat telinganya menangkap suara pintu UKS yang ditutup rapat dengan suara pelan.

Sakura menoleh dan mendapati pemuda berambut kuning jabrik itu berjalan mendekatinya dengan seringai mesum yang tergambar jelas di wajah tampannya.

Pemuda bernama Uzumaki Naruto itu lalu dengan sengaja menghimpit tubuh Sakura hingga merapat di dinding. Sang gadis berhelai merah muda itu tampak ketakutan dengan wajah memucat.

"Ma-mau apa Naruto-kun...?" Tanya Sakura takut-takut pada pemuda yang juga berstatus kekasih dari sahabatnya, Hyuuga Hinata tersebut.

"Aku..,? Sedang tidak enak badan. Kenapa?" Tanya pemuda berambut kuning itu yang entah bagaimana Sakura menangkap nada menggoda di balik kata-kata pemuda itu.

"Kalau bgitu, aku permisi... " elak Sakura sambil berusaha membebaskan diri dari himpitan sang pemuda. Namun Naruto tidak semudah itu memebiarkan gadis merah muda itu lari. Dengan cepat, sebelah tangan sang pemuda mencekal tangan Sakura, menghimpitnya hingga dada mereka saling bersentuhan dan mulai melumat bibir gadis itu kasar.

Ciuman liar penuh nafsu itu membuat tubuh Sakura memanas. Antara ketakutan juga api liar dalam tubuhnya yang mulai menanggapi rangsangan yang diberikan. Sesekali Naruto mengajak lidahnya dan lidah Sakura bergulat, hingga saling menukar saliva.

Tangan Sakura mendorong tubuh Naruto menjauh, namun karena tenaganya tidak cukup kuat hingga sang pemuda tak bergeming sedikitpun. Naruto melepaskan lumatannya sejenak, memberi jeda untuk mereka mengatur nafas.

"Jangan... Naruto-kun..." lirih Sakura dengan wajah memerah.

"Aku sedang tegang Sakura-chan... dan Hinata-hime sedang datang bulan.." bisik pemuda kuning itu sambil menyurukkan wajahnya di tengkuk mulus gadis merah muda itu. Menjilatnya lembut kemudian memberikan kecupan-kecupan dengan tingkat rangsangan yang berbeda-beda.

"Aaaannghh..." desahan itu lolos dari bibir mungil Sakura. Ada perasaan bersalah secara tidak langsung pada sahabatnya, Hinata. Begitu pula perasaannya pada Kushina ba-san, Ibu dari Naruto yang telah merawatnya sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.

"To-tolong jangan...seperti ini... aahhhh..." erangan kembali terdengar saat sang pemuda dengan berani meremas payudara gadis itu sedikit kencang.

"Ayolah Sakura... aku sudah tidak bisa menahannya. Penisku sakit karena tegang sejak jam pelajaran tadi..." bisik Naruto sambil menggigit cuping telinga sang gadis merah muda.

"Ja-jang... jangan aaahhh..." gadis itu berusaha sekuat tenaga menolak, namun kalah dengan tenaga kuat sang pemuda dan tenaganya sendiri yang melemah.

Saat tangan Naruto mulai membuka kancing kemeja sekolah Sakura, tepat saat itulah satu sosok masuk ke ruang UKS tersebut. Sosok itu adalah Uchiha Sasuke!

-000000000-

Pemuda itu membuka pintu UKS dan terhenyak mendapati pemandangan di depannya. Seorang gadis berhelai merah muda dengan kancing kemeja bagian atas yang terbuka beberapa, dengan wajah memerah menahan tangis dan berusaha mendorong sang pemuda berambut kuning jabrik yang tampak menghimpitnya penuh nafsu. Bukan hanya Sasuke yang tampak kaget karena kedua muridnya itu pun sama terkejutnya dengan guru baru mereka itu.

"Apa... yang kalian lakukan?" Tanya sang Uchiha dengan nada mengintimidasi dan pandangan tajam. Sepasang onyx miliknya menatap lekat sang pemuda kuning itu. Sementara Naruto akhirnya membenarkan posisi tubuhnya dengan tidak lagi menghimpit Sakura.

"Saya... hanya ingin membantu Sakura-chan yang tidak enak badan, Sensei..." jawab Naruto dengan tenang, bahkan raut wajahnya terlihat menantang ke arah sang guru muda.

Sasuke memperhatikan gerak-gerik Sakura dengan seksama. Tangannya yang gemetar berusaha mengancingkan kemejanya. Gadis itu tampak mati-matian menahan airmatanya agar tidak tumpah.

"Kau sakit, Haruno?" Tanya Sensei muda itu padanya. Sakura hanya menggangguk kecil sambil menundukkan pandangannya. Gadis itu terlalu malu untuk menatap wajah gurunya ini. Meski dalam hati dia sungguh sangat bersyukur karena Senseinya ini telah menyelamatkannya.

"Ayoo Saku-chan.. kuantar ke kelas..." Ujar pemuda kuning itu sambil menggandeng tangan gadis merah muda yang sejak tadi hanya diam sebelum keduanya melangkah pergi, Sasuke langsung menghentikan kedua muridnya. Dilepaskannya genggaman tangan sang pemuda, kemudian dirinya lah yang mengambil alih, menggenggam tangan murid wanitanya itu.

"Jika sakit, sebaiknya kau pulang, Haruno... dan kau, kembalilah ke kelas. Sebentar lagi pelajaran akan di mulai..." ujar Sasuke dengan nada memerintah. Naruto terlihat tidak suka, namun pemuda kuning itu akhirnya pergi setelah sebelumnya menunjukkan wajah tidak menyenangkannya pada sang guru.

Setelah pemuda kuning itu pergi, Sakura baru berani mengangkat pandangannya. Ditatapnya pemuda tampan yang juga merupakan guru pengganti mata pelajaran Biologi ini sambil tersenyum penuh syukur.

"Kuantar kau pulang..." sang pemuda raven itu menggenggam tangan muridnya kemudian menggandengnya dengan langkah pelan. Gadis merah muda itu tak bisa membohongi dirinya yang sempat salah tingkah dengan keadaan ini.

"Terimakasih Sensei..." ucap gadis itu sungguh sungguh saat mereka berdua berada di dalam mobil Sasuke yang melaju membelah jalanan yang cukup padat di siang hari ini.

"Lain kali, lakukanlah diluar jika kalian ingin melakukan perbuatan seperti tadi..." ujar pemuda itu tetap dengan pandangan lurus ke tergeragap saat sang guru menunjuk bagian lehernya, dimana terdapat bekas tanda kemerahan di sana.

Gadis itu menunduk malu sambil berusaha menutupi bagian lehernya. Rasanya dia tak sanggup lagi mengangkat wajahnya karena kepergok sang guru nyaris berbuat asusila di lingkungan sekolah.

"Kali ini aku akan diam.. tapi jika kau dan pacarmu itu mengulang perbuatan kalian..." belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Sakura telah menyelanya.

"Dia... bukan pacarku, Sensei..." jawab gadis merah muda itu pelan. Sasuke kini menatapnya.

"Lalu...? Kalian...?!" Ujar pemuda itu dengan nada tak percaya.

"Kami hanya teman. Naruto-kun adalah kekasih dari sahabat saya..." jawab Sakura lagi. Masih dengan pandangan tertunduk.

"Kenapa kau tidak menolak? Kau juga menyukainya?" Selidik Sasuke lagi. Diam-diam pemuda itu memperhatikan gerak-gerik gadis merah muda itu melalui ujung onyxnya meskipun tatapannya tetap ke depan, mengemudikan mobil SUV nya.

"Bukan begitu... saya hanya merasa tidak bisa menolaknya karena keluarga Naruto-kun sudah sangat baik pada saya selama ini..." gadis merah muda itu tersenyum getir.

Tiba-tiba mobil di depan mereka mengerem mendadak. Dan itu membuat Sasuke pun refleks menginjak rem kuat-kuat hingga tubuhnya dan Sakura sedikit terhentak ke depan.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke langsung saat melihat kening muridnya sedikit membentur dashboard. Dengan panik pemuda itu memegang wajah gadis merah muda itu, memastikan kondisinya.

"Ti-tidak apa-apa Sensei..." jawab Sakura dengan wajah merona merah. Pada saat itulah, Sasuke benar-benar memperhatikan penampilan gadis cantik ini. Dan pandangan onyxnya terpaku pada dada Sakura yang cukup besar dengan bra berwarna hijau yang terlihat menerawang di balik kemeja sekolahnya dan rok yang sedikit tersingkap.

Pikiran Sasuke mulai kacau. Gairahnya dengan cepat merambat naik disuguhi pemandangan tubuh indah remaja SMU ini. Namun pemuda tampan itu. masih dapat menguasai diri meski sesuatu yang tadinya tertidur dengan nyamannya di sela selangkangannya mulai terbangun.

"Sensei... tidak apa-apa?" Kali ini gadis merah muda itulah yang balik mengajukan pertanyaan. Menatap sang guru dengan raut cemas di balik sepasang emerald indah miliknya.

"Tidak apa-apa...," jawab Sasuke cepat untuk menutupi kegugupannya.

Tak lama pemuda itu sampai mengantarkan gadis merah muda itu hingga tiba di sebuah rumah. Tampak megah berdiri di kelilingi taman yang begitu asri. Sekilas Sasuke memperhatikan nama keluarga yang tertera di depan gerbang. UZUMAKI.

Sakura pun pamit dan berterimakasih telah diantarkan pulang oleh sang guru yang juga telah menyelamatkannya dari tindak pelecehan yang dilakukan Naruto padanya.

"Terimakasih banyak Sensei..." ucap Sakura di jendela saat gadis itu telah turun dari mobil kemudian melenggang pergi masuk ke dalam rumah besar tersebut.

Sasuke masih terdiam di dalam mobil. Terangsang seperti ini sungguh menyiksa dirinya. Dengan sebuah sentuhan, pemuda itu membuka pemutar video di dalam televisi mobilnya. Kemudian memilih beberapa video dewasa dari ribuan koleksinya untuk di putar, menemani onaninya dengan one hand service.

Kaca mobil pemuda itu gelap dan suasana sepi di perumahan elit itu menguntungkan Sasuke. Dia begitu terlena dengan adegan adegan panas di video khusus dewasa tersebut. Tangannya tak berhenti memijat penisnya yang sudah ereksi penuh, nafasnya mulai memburu. Matanya terpaku pada adegan demi adegan syahwat itu.

Namun saat dirinya hampir klimaks, gadgetnya berbunyi, tanda e-mail masuk. Itu adalah e-mail dari muridnya yang rekaman video panasnya bersama sang kekasih sudah ada ditangannya. Jangan tanya bagaimana sang professor muda dapat mendapatkan alamat e-mail gadis itu. Bukankah sekolah menyimoan semua data dari semua siswanya?

Sebuah balasan e-mail yang dikirim Sasuke tadi malam.

/" baiklah, saya setuju. Kita bertemu jam pulang sekolah. Tapi saya mohon rekaman video itu jangan disebar luaskan."/

Sasuke tersenyum sumringah. Semua akan menjadi menarik bukan?!

.

.

.

TO BE CONTINUE~

-00000-