Sex Toys
Chapter 4
SasuSaku
MA for Lemon and Gore!
Sci-fi, Crime
#WARNING: AU, Thypo, DarkSasuke! NC-21, PWP,BDSM! Hard Lemon! Hard Gore!
Sumber pendukung : Wrong Way, SAW, Unrested, The Texas Chainsaw Massacre, Hallowen, House of Wax (Film)
FP : CreepyPasta
Novel : Death Silence, 24 Another Billy, The Untold Story of Ryan.
-000000-
Gadis bercepol dua itu terlihat bergerak gelisah sedari tadi. Terus menerus kedua kaki jenjangnya tak pernah berhenti bergerak, seolah sedang mengalihkan semua perasaan yang sedang berkecamuk dipikirannya saat itu. Wajahnya pucat dan pias, menandakan bahwa gadis itu benar benar sedang dilanda stress berat.
Apa pasal? Rekaman video mesumnya dengan sang kekasih, Hyuuga Neji saat ini berada di tangan orang misterius yang gadis itu tak dapat tebak apa maksud dan tujuannya. Namun apapun yang diinginkan orang misterius itu, gadis cantik itu bertekad untuk memenuhinya. Karena jika sampai rekaman video itu tersebar, mereka bukan hanya terancam dikeluarkan dari sekolah, tetapi juga diusir dari keluarga besar mereka.
Sudah 30 menit terlewati namun orang tersebut belum juga menampakkan tanda tanda akan datang. Tenten semakin gelisah. Terlebih saat kedua orangtuanya mulai mengiriminya pesan dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Gadis itu beranjak pergi. Dengan hati yang masih diliputi kecemasan karena si orang misterius tersebut belum juga datang dan masih memegang satu kelemahannya. Namun baru beberapa saat kakinya melangkah, langkah gadis manis itu terhenti oleh sosok yang telah berdiri di depan pintu ruang olahraga.
"Sasuke-Sensei..." seru gadis itu sedikit tergeragap kaget melihat sosok guru barunya itu tengah berdiri diam disana. Wajah tampannya terlihat menyunggingkan sedikit senyuman.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah ini sudah lewat dari jam sekolah?" Tanya pemuda itu sambil berjalan mendekat. Entah hanya refleks tubuhnya atau memang karrna merasakan ada hal yang tidak beres dengan sosok di hadapannya ini, Tenten melangkah mundur.
"A-aku... menunggu seseorang, sensei..." jawab Tenten sekenanya sambil menundukkan pandangan. Entah mengapa sepasang onyx sang guru menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Menunggu siapa? Kekasihmu?"
"Bu-bukan sensei..." elak Tenten lagi.
"Lalu? Menunggu siapa?" Tanya Sasuke lagi dengan jarak yang semakin dekat. Tenten bisa merasakan nada menggoda di kalimat yang diucapkan gurunya tersebut.
Gadis itu kian melangkah mundur saat alarm dalam dirinya menyala. Entah mengapa sosok professor muda di depannya ini terlihat berbeda dibanding kesehariannya saat mengajar di kelas.
"Kau menunggu suasana sepi hingga kau dan kekasihmu memiliki tempat untuk melakukan hal mesum di sini bukan?!" Kalimat dengan nada mengejek itu bak petir di siang bolong yang seketika menyambar gadis manis bercepol dua tersebut. Manik almond gadis itu membelalak. Bagaimana mungkin Sensei nya ini bisa mengetahui hal memalukan tersebut? Apa pemuda tampan itu ikut memergokinya bersama di orang misterius yang mengiriminya email gelap atau jangan-jangan...
Sasuke menyunggingkan seringai sexynya. Seolah menjawab pertanyaan yang tak terlontar dari bibir salah satu siswinya itu.
"Benar... Akulah yang mengirimimu email tersebut." Ujar pemuda tampan klan Uchiha tersebut dengan nada yang menunjukkan dominasinya. Wajah Tenten seketika berubah. Pucat pasi.
Gadis itu makin menenggelamkan wajahnya dengan pandangan tertunduk. Betapa malu dirinya. Ternyata orang yang memergoki perbuatan asusilanya dengan sang kekasih adalah gurunya sendiri.
"Se-sensei..aku mohon, aku akan melakukan apapun. APAPUN. Asal jangan sebarkan video tersebut Sensei, tolong...!" Gadis itu mengiba dengan lirih. Dia sudah tak sanggup lagi berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa semoga sang guru berbaik hati padanya dengan mau mendengarkan permintaannya untuk tidak menyebarkan rekan video mesumnya dengan sang kekasih tersebut.
Ekspresi Sasuke berlagak menimbang tawaran dari sang murid. Wajah tampannya terlihat berpikir, meski semua itu hanyalah pura-pura. Tentu saja. Sang professor muda akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dan bukankah bahan percobaan Toy Sex yang diinginkannya telah ada di depan mata?
-00000000-
Gadis itu mengerang tak jelas karena mulutnya disumpal oleh sebuah bulatan baja sedangkan air liurnya terus menetes keluar melalui sela sela bibirnya. Kakinya terus bergerak gelisah sementara kedua tangannya diikat menjadi satu ke atas kepala dengan tali tambang yang cukup kuat. Tubuhnya telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh indah remaja SMU tersebut.
"Ngghhh... nggfffhhh... " gadis manis bercepol dua tersebut terus menggeliat dan mengerang saat sebuah benda tumpul didorong keluar- masuk labium mayora dan minora miliknya. Vaginanya telah basah akibat rangsangan yang terus menerus dilakukan pemuda dengan helaian raven mencuat yang kini tengah menikmati mainan barunya tersebut.
"Nnggffttt... mmpphhhh..." gadis itu terus berusaha memohon ampun pada sosok sang guru yang kini berubah menjadi sosok iblis jahat dan bejad di matanya itu. Namun meski dia telah mencoba sekuat tenaga, erangannya tak pernah mendapat respon dari sang guru yang tampak sibuk dengan keasyikannya sendiri. Ingatannya samar mengingat kejadian saat sang guru membekapnya dengan sebuah saputangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya sehingga dia merasa kesadarannya melayang tanpa sempat melakukan perlawanan.
"Pelacur kecil yang nakal... kenapa kau terus mengerang seperti itu? Kau tidak puas dengan benda kecil ini? Benda ini tidak mampu memuaskanmu, hah ?!" Teriak Sasuke sambil menarik salah satu cepol gadis itu hingga kepalanya tertarik ke belakang dan rambutnya terurai. Diperlihatkannya benda tumpul yang sedari tadi mengaduk aduk liang vaginanya. Benda panjang dengan ujung bulatan kecil itu terlihat basah oleh cairan lubrikasinya sendiri.
Wajah Tenten merah padam. Antara malu dan gairah. Antara amarah dan juga hasrat yang belum mencapai puncaknya. Dia merasa terhina diperlakukan seperti ini namun juga terangsang hebat di saat yang sama.
"Sekarang apa yang kau inginkan?" Tanya pemuda itu dengan seringai menggoda sambil melepas celana dalam yang dikenakannya. Memperlihatkan benda yang telah mengacung tegak mengeras dan memanjang di sela selangkangannya tersebut. Mau tidak mau manik diamond gadis itu terpaku pada benda tersebut.
Tenten menelan ludah. Tak sanggup membayangkan jika penis sang guru itu yang akan memasuki kewanitaannya. Sedangkan kejantanan kekasihnya saja tidak sebesar dan sepanjang itu. Antara rasa ingin tahu, gelora gairah dan juga perasaan bersalah pada sang kekasih berkecamuk dalam hatinya menjadi satu.
"Kenapa kau memperhatikan penisku murid nakal? Kau menginginkannya?" Ujar Sasuke sambil mendekat dan mulai menggesek kepala kejantannya ke permukaan luar liang kewanitaan gadis remaja tersebut hingga terkadang menggesek klitorisnya dan memberikan rangsangan sempurna.
Badan Tenten bergetar hebat akibat rangsangan itu. Gairahnya memuncak dan akal sehatnya mulai melayang. Dia menginginkannya. Dia menginginkan penis sang guru mengamuk di liang senggamanya sekarang juga!
Dengan sekali gerakan menghentak pada pinggulnya sendiri, Tenten membiarkan penis besar itu menerobos kewanitaannya. Sasuke menyeringai puas, sementara Tenten sibuk mengerang dan mendesah. Pemuda raven itu akhirnya membuka bulatan baja yang sebelumnya menyumpal mulut muridnya tersebut dan membiarkan nada paling indah yang paling disukainya mengalun indah di apartment pribadinya sepanjang hari.
-000000-
Hidupnya seakan berada di tubir antara kenyataan dan mimpi buruk...
Tenten sudah tak mampu menghitung lagi berapa kali pemuda raven yang notabene merupakan gurunya tersebut melampiaskan nafsu bejatnya di atas tubuh indahnya. Gadis itu hanya bisa pasrah, hanya mampu mengerang saat sang guru berkali-kali menjamah tubuhnya. Dan bagai api dalam sekam yang tak pernah padam, gairah sang pemuda juga tak kunjung menurun apalagi tuntas hanya dengan menyemburkan cairan kehidupannya.
Saat membuka mata, Tenten tidak menemukan sosok pemuda psychopat itu di dekatnya. Gadis itu menarik sebuah nafas lega. Sekarang yang ada dipikirannya adalah bagaimana caramelarikan diri dari neraka ini.
Namun jeda sedetik, sang professor muda tampak memasuki ruangan lengkap dengan jubah putih panjang yang biasa digunakan dokter saat akan melakukan tindakan di kamar operasi. Seringai di wajah tampannya tampak ganjil dan pemuda itu hanya melirik sekilas ke arah gadis yang sudah tak mampu melakukan apa-apa tersebut.
Sasuke berjalan menuju alat-alat yang berada di sisi samping meja tempat Tenten terikat dan gadis itu hanya mampu menggumamkan doa dalam hati semoga kali ini sang guru akan melepaskan dirinya.
Namun saat melihat benda yang diambil oleh pemuda raven itu, dahi Tenten mengerut maksimal. Manik diamond nya membulat penuh. Wajah cantiknya menampakkan ekspresi ketakutan yang amat nyata.
Itu adalah sebuah mesin pemotong elektronik dengan bagian mata pisau yang nampak tajam dan berkilat !
Drrrrtttt~
Nggiinggg~
Sasuke menyalakan benda mengerikan itu dan berjalan mendekati mangsanya yang sudah terikat. Pasrah dan tak mampu melawan.
"Aaaahhh... Kumohon Kami-sama ! Kumohon berhenti..."
Jeritan dan lolongan bak hewan kesakitan tersebut terdengar di ruangan tersebut saat Sasuke dengan tenangnya mulai menggunakan alat tersebut pada tubuhnya yang telah diberikan suntikan anti-rasa sakit sebelumnya. Sang pemuda yang tampak asyik membedah perpotongan antara paha dan betis gadis tersebut justru tampak memamerkan seringai kejinya.
"Murid nakal ! Dan murid nakal harus mendapatkan hukuman..." ujarnya sambil menjilat permukaan perut yang rata dan halus tersebut. Makin lama jilatannya semakin ke atas, menuju puncak bukit yang telah menegang sejak tadi.
"Kumohon... tolong ! "
Drrttttt
Nggiiinggg~~
Ccraashhh~
"Tuhan! Kumohon berhenti... BERHENTI !" gadis manis bercepol dua itu merasakan sesuatu mengoyak lapisan kulit dan dagingnya. Rasa sakit, rasa ngilu yang tak tertahankan bercampur dengan gairah nafsu yang menderas kuat akibat tubuhnya yang dijamah liar seiring penyiksaan ini.
"Diam ! Atau perlu kupotong lidahmu? Yaaa... sebaiknya begitu. Karena kau anak nakal yang menolak meminum sperma gurumu sendiri sementara cairan menjijikkan kekasihmu justru kau telan mentah-mentah kan, pelacur?!"
Seumur hidup baru kali ini Tenten merasa ketakutan yang sangat nyata.
Pemuda itu mengambil alat biusnya, kemudian mengirim gadis cantik itu ke alam bawah sadar kembali.
.
.
,
Saat sadar, gadis itu sudah tidak menemukan diri dan tubuhnya seperti dulu. Bola matanya tampak kabur di balik lapisan aneh yang terasa mengganjal. Begitu pula saat dia mencoba bicara. Rasa sakit yang menjalari kerongkongannya, rasa tak biasa yang dia kecap di indera perasanya, begitu pun saat dia mencoba menggerakkan kaki dan tangannya. Semua mati rasa.
Lalu melalui bayangan kabur di kedua matanya, gadis itu nyaris pingsan melihat sesuatu yang tergeletak begitu saja di samping meja yang digunakan sebagai tempat tidurnya.
Itu adalah potongan lidah dan juga kaki serta tangan yang dia duga sebagai anggota tubuh miliknya!
-00000-
TO BE CONTINUE~
Hahahaaiiiiii~
Ketemu lagi sama Odes :*
Terimakasih atas komentar2 kalian di chap2 sebelumnya, next chap mungkin akan Odes usahakan membalas Review kalian. Maaf kali ini waktunya terbatas
Tenang aja, odes akan usahakan melanjutkan semua fic Odes kok gak perlu takut akan discontinue :*
See yaa :D
