Sakura memperhatikan Naruto dari jauh. Bahkan saat pulangpun, entah fikiran apa yang merasukinya sehingga dengan beraninya dia mengikuti Naruto

"kau.."

"penguntit"

Sakura terkesiap. Naruto menangkap basah Sakura yang mengikutinya

"ano... aku... aku"

Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh, betapa cerobohnya dia

"aku mau ke kedai ramen ichiraku"

Jawab Sakura karena tak jauh didepan mereka ada kedai ramen. Naruto juga sebenarnya ingin mampir ke kedai itu, tapi karena ia tidak diberi uang saku oleh ibunya terpaksa Naruto hanya menelan ludah

"oh.."

"ehem.. kau mau menemaniku?"

"aku tidak punya uang"

"aku yang akan menelaktirmu"

Jawab Sakura cepat, takut kalau naruto menolak. Naruto berpikir sejenak. Tak ada salahnya jugakan menerima tawaran dari sakura?

"baiklah"

Sakura tersenyum tipis kemudian melebar senang. Mereka duduk berdua dikedai, Naruto menyeruput nikmat ramenya dengan lahap, Sakura hanya fokus melihat pemilik bola mata shafire blue itu. Dulu.. saat Naruto belum kehilangan ingatanya dia selalu memaksa Sakura untuk menemaninya ke kedai ichiraku, Sakura hanya memasang wajah cemberut karena tidak suka diajak pergi bersama Naruto. Walaupun sering kesal dan jengkel, tapi kadang-kadang Sakura mengabulkan keinginan Naruto untuk menemaninya ke kedai

"kau tidak mau memakanya?"

Naruto membuyarkan lamunan Sakura

"eh?"

"sini biar aku sajah yang menghabiskanya"

Tanpa aba-aba Naruto langsung menyambar mangkuk ramen milik Sakura dan langsung menghabiskanya kurang dari sepuluh menit.

Dasar Naruto. Ternyata kebiasaan lamanya ini tidak berubah meskipun telah mengalami kecelakaan. Sakura merogoh dompetnya didalam tas dan membayarkanya

"Naruto hari ini kita pulang bersama yah?"

Pinta Sakura penuh harap. Karena Sakura telah mentelaktirnya, jadi dengan terpaksa Naruto mengiyakan ajakan Sakura. Mereka berjalan beriringan. Sebenarnya Sakura ingin menggandeng tangan Naruto, tapi dia tidak berani dan memendam keinginanya

"ah ayunan itu!"

Sakura menunjukan ayunan kayu sederhana yang menggantung dipohon yang besar di depan halaman akademi. Sakura menarik tangan Naruto dan mengajaknya memasuki halaman tempat mereka sekolah dulu. Sakura duduk riang diatas ayunan

"ini tempat sekolah kita dulu"

Sakura tersenyum pada Naruto mencoba mencairkan suasana

"apa kau mengingatnya Naruto? Dulu kita sering bermain bersama. Oh ya diayunan sini kau sering duduk berayun. Saat yang lain bermain bersama, kau malah duduk sendirian disini"

"aku tidak mengingatnya"

Jawab Naruto datar

"eh.. kau mau mencoba naik ayunan ini? Ayunan ini meskipun sudah tua sepertinya aman"

Naruto memegangi kepalanya

"kau.. kenapa Naruto?"

"eh tidak Sakura-chan, aku ingin pulang sajah"

Sakura seperti terkena sengatan listrik. Dia tidak salah dengarkan? Naruto memanggilnya dengan sebutan akhiran –chan?. Panggilanya dulu. Untuk sesaat Sakura mematung, kemudian dia tersadar karena Naruto terus memegangi kepalanya

"ayo kita pulang Naruto"

Naruto terus sajah memegangi kepalanya. Sakura berubah menjadi lebih khawatir

"Naruto-kun?"

Naruto menggelengkan kepalanya, ia memundurkan langkahnya kemudian langsung pergi meninggalkan Sakura. Kepalanya terasa sangat pening dan berat. Sakura mengejar Naruto dengan langkah tergesa-gesa.

"Naruto awas !"

Sakura mendorong Naruto, tanpa disengaja Sakura sekarang malah ada diatas tubuh Naruto

"hei, nona kalau jalan lebih hati-hati!"

Ucap supir itu kesal

"maafkan kami tuan"

Sakura bangkit dan membungkukan badanya. Supir itu kemudian pergi meninggalkan Naruto dan Sakura

"kau tidak apa-apa Naruto?"

Pipi sakura merona merah, karena tadi ia berada diatas tubuh Naruto

".."

Hening Naruto tidak menjawab

"Naruto?"

Kali ini Sakura menyentuh pundak Naruto. Dan.. bruuk! Naruto pingsan. Sakura sudah pucat pasi disanah

.

.

Minato,Kushina serta Sakura sedang berada diruang tunggu. Sementara Naruto berada dalam penanganan medis diruang UGD. Sakura sudah gemetar, bila terjadi apa-apa dengan Naruto Sakuralah yang paling bertanggung jawab disini

"Sakura kau tidak apa-apa?"

Kushina melihat ekspresi ketakutan diwajah Sakura. Dokter Tsunadepun keluar dari ruangan UGD

"bagaimana kondisi Naruto dok?"

"kondisi Naruto sebenarnya baik-baik sajah. Tapi karena dia mengalami kecelakaan dan dipaksa mengingat hal yang ia lupakan ia menjadi syok. Syaraf otaknya menjadi tegang. Tapi selebihnya ia baik-baik sajah"

Jawabnya tenang. Minato serta Kushina menghela nafas lega.

"Naruto hanya perlu beristirahat sajah. Dia sudah diperbolehkan pulang bila sadar nanti. Oh ya Minato, sebaiknya Naruto jangan dipaksakan mengingat ingatanya yang hilang. Kondisinya belum seutuhnya stabil, bila ia kembali dipaksa mengingat lagi mungkin bisa sedikit berpengaruh pada kondisinya. Saya permisi dulu"

Sakura menunduk lemah. Ya dia mengerti. Dialah yang memaksakan Naruto untuk mengingatnya. Minato sudah masuk terlebih dulu keruangan, sementara Kushina menemani Sakura diruang tunggu

"bibi.. bolehkah aku melihat Naruto?"

"tentu sajah boleh Sakura"

Sakura mengamati lekat-lekat Naruto yang sedang beristirahat disanah. Setiap detik ia memandangi Naruto seakan tak ingin melewatkan setiap sentipun tubuh kekar yang sedang terbaring itu. Kushina mengajak Minato untuk keluar ruangan agar memberikan privasi kepada Naruto dan Sakura disanah. Denga gemetar Sakura menyentuh lembut wajah Naruto. Sekujur tubuh Sakura sudah lemas disanah, hatinya.. hatinya yang sudah sakit kembali diremas dengan kenyataan yang pahit.

'Apa yang telah kau lakukan Sakura? Gadis bodoh! Lihat apa yang telah kau lakukan! Karena kaulah Naruto menjadi seperti ini! Karena kaulah Naruto menderita, karena kaulah Naruto mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Sekarang apa yang akan kau perbuat Sakura? Kau mau membuat Naruto lebih menderita lagi? Kau.. kau sudah terlalu kejam pada Naruto, coba ingat sudah berapa banyak pengorbanan yang telah Naruto lakukan untukmu?

Sudah berapa kali naruto menjagamu Sakura? Naruto menciumu pada festival Hanabi bukan karena dia mencari kesempatan atau memanfaatkanmu, justru karena Naruto ingin melindungimu dari bahan taruhan dia terpaksa menciumu. Ia ingin menjagamu. Dan astaga Sakura.. Naruto bahkan rela mati untukmu, dia mengalami kecelakaan demi menyelamatkanmu Sakura. Kau kejam! Kau jahat Sakura! Kau tak pernah sadar akan kebaikan Naruto selama ini.. tidak pernah!.'

Sakura menunduk lemas. Sakura menutup kedua lubang telinganya.

"cukup..aku mohon cukup!"

Sakura sudah bersimpuh, merasakan kesesakan merasuki rongga dadanya. Tidak, Sakura harus kuat sekarang. Ia mencoba bangkit, menghapus air matanya dan kembali memndangi wajahnya dan membelainya dengan lembut

"Naruto... maafkan aku"

Air matanya kembali meleleh

"nanti bila kau sudah sadar aku janji tidak akan mengganggumu lagi"

Isak tangisnya menguar menggema diruangan sudah tak dapat ditahanya lagi

"Naruto.. aku selama ini sadar, ternyata kaulah yang selalu ada untuku, keulah yang menjagaku rela menderita karenaku. Naruto aku sudah begitu bodoh. Bodoh karena mengabaikanmu dan mengacuhkanmu, karena itukah Naruto hanya aku sajah yang tak kau ingat? Karena kau sudah cukup menderita selama ini kau melupakanku? Dan tak ingin mengingat apa-apa lagi semua tentangku Naruto?"

Sakura tersenyum getir. Sebisa mungkin meredam rasa sakit dihatinya yang semakin membunuhnya

"aku...aku akan pergi Naruto seperti ingatanmu yang hilang. Aku hanyalah sebuah ingatan yang seharusnya memang dilupakan. Aku tak akan menjadi ingatan yang selalu kau ingat. Tidak akan pernah.."

Sakura sebisa mungkin berusaha tegar dan mengumpulkan kekuatan yang ada

"meskipun kesadaran ini datangnya terlambat tapi aku tak akan menyesalinya Naruto. Karena kaulah aku bisa merasakan rasanya begitu dicintai setulus hati."

Sakura memegang dadanya berusaha kuat

"dan Naruto.. "

"selamat akhirnya sekarang hatiku sudah seutuhnya kau genggam. Meskipun kau tidak ingat, meskipun kau melupakanku tapi aku aka selalu mengenangmu sebagai kenangan yang abadi"

"Naruto.."

bisiknya pelan mencoba mendekat kearah telinga Naruto

"aku mencintaimu, kau akan selalu menjadi ingatan terakhirku.. bahkan bila aku mati nanti"

Jemari lentik Sakura membingkai wajah Naruto ia mencium lembut bibir Naruto. Setetes air mata terjatuh diwajah Naruto. Sakura bangkit, sebelum pergi meninggalkan Naruto Sakura memandangi Naruto. Ia ingin mengingat memory ini, ia ingin agar saat seperti ini bisa sakura kenang selalu. Sakura tersenyum. Senyum yang tulus karena ada sebuah "keihklasan" disanah. Senyum yang tulus agar Naruto bisa bahagia, meskipun itu artinya Sakura harus membantai hatinya sendiri. Membunuh paksa cintanya yang tekah tumbuh, dan celakanya sudah mengakar kuat jauh sebelum kesadaran itu datang

.

.

.

TBC