Kuroko No Sutori

Pairing : AkaKuro

RATE T

Romance, Friendship, Drama, (a little bit Humor, maybe)

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning! Boys Love, OOC, Typo(s)

Happy Reading!

Kuroko POV

"Aku berangkat, Kaa-san…" ujarku kepada ibuku yang sedang berdiri di depan pintu rumahku, menungguku selesai memakai sepatuku. Aku pun berdiri dan membuka pintu rumahku dengan pelan.

"Hati-hati dijalan, Tetsu…" ujarnya dengan suara yang lembut, aku mengangguk singkat sebelum pintu rumah kututup kembali.

Setelah itu aku mulai berjalan menuju sekolah ku yang baru, sejenak aku berpikir… ini baru hari kedua aku bersekolah disana. Aku pun membuka buku ku yang tadi ku ambil didalam tasku, entah ada angin apa… aku ingin cepat membaca bukuku kembali sebelum buku ini hendak kukembalikan. Batas peminjaman buku hanya 3 hari, dan aku baru saja membaca 2 buah buku dari 4 buah buku yang kupinjam. Sesekali aku menguap dikarenakan udara pagi membuatku sedikit mengantuk. Salahku juga karena kemarin aku asyik membaca buku sampai larut malam.

Saat sedang sibuk dengan buku yang kubaca, secara tiba-tiba ada yang memanggilku dengan nada nyaring lalu sedetik kemudian aku merasakan badanku dipeluk.

"Kuroko-cchi~ aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi disini—ssu!" ujar orang yang memelukku itu, ah aku sudah tahu siapa orang yang memelukku dengan sesuka hatinya.

"Kise-san? Ohayou…" sapa ku dengan sopan membuat si pemuda itu tersenyum senang.

"Kau ingin kesekolah kan? Ayo kita pergi bareng—ssu… bolehkah, Kuroko-cchi?" ajaknya kepadaku, aku pun mengangguk singkat tanda setuju. Ia pun langsung berteriak 'Hore' membuatnya jadi mirip seperti anak kecil yang dikasih permen.

Kami pun langsung melanjutkan perjalanan yang sempat ketunda, ia yang sibuk dengan hp nya sedangkan aku yang sibuk dengan bukuku.

"Ne…Kuroko-cchi…" panggilnya membuatku sedikit beralih kepadanya tetapi masih fokus dengan buku bacaanku.

"Ya, Kise-san?" jawabku.

"Ruang kelas Kuroko-cchi ada dimana?" Aku berpikir sebentar, "Hm… 1-B," jawabku.

"Sou ka ternyata Kuroko-cchi sekelas dengan Kagami-cchi dan Aomine-cchi! Aku kelas 2-A sekelas dengan Midorima-cchi, —ssu…" Aku mengangguk singkat.

"Oh ya! Aku belum mendapatkan jawaban dari Kuroko-cchi!" katanya sambil menjentikkan jarinya, aku langsung memandang ia dengan heran.

"Jawaban apa?"

"Itu… alasan Kuroko-cchi yang sudah tidak bermain basket itu—ssu… saat aku mendengarnya, aku jadi sedih—ssu, padahal bermain basket itu menyenangkan!" Aku pun terdiam, kenapa orang ini sangat ingin mendengar alasanku yang berhenti bermain basket?

Aku menghela nafas pelan lalu menutup bukuku dan memasukkannya kembali ke dalam tas, "Tidak ada alasan khusus, Kise-san…" kataku.

"Pasti ada—ssu! Kuroko-cchi bisa menceritakannya kepadaku, aku pendengar yang baik—ssu," ujarnya sambil menepuk dadanya dengan percaya diri. Ah… dia tipe pemaksa juga.

Aku menghela nafas sekali lagi, "Tidak ada alasan yang khusus, hanya saja aku berhenti bermain basket sejak aku naik kekelas 3 SMP, aku harus fokus dengan pelajaranku…Kise-san," Aku menjelaskan kepadanya berharap ia mengerti, ia pun mengangguk-angguk tanda ia mengerti.

"Tapi… walau naik kekelas 3 SMP, Kuroko-cchi kan masih punya waktu luang untuk bermain basket, tidak perlu mengundurkan diri—ssu."

"Ah soal itu… aku sudah berpikir untuk tetap berhenti saat sudah kelas 3," jawabku.

"Hee? Kenapa? Alasannya tidak logis—ssu, Kuroko-cchi suka bermain basket kan?" tanyanya lagi.

"Suka."

"Kalau begitu kenapa harus berhenti?" tanyanya lagi. Ah… rasanya aku ingin membungkam mulutnya supaya ia tidak menanyakan lagi alasanku yang berhenti bermain basket.

"Kalau suka, gabung aja ke klub basket kami… pasti menyenangkan—ssu." Aku menggeleng, membuat Kise menjadi murung melihat penolakan dariku.

"Sou kagomen Kuroko-cchi, aku memaksamu kah?" tanyanya dengan nada pelan, bisa kulihat mimik mukanya berubah menjadi sedih. Sebenarnya aku juga bukanlah orang yang tega.

"Kise-san… sebenarnya ada alasan lain, kenapa aku berhenti…" kataku dengan nada serius, Kise pun juga memandangku dengan wajah serius, ia ingin mendengarkan alasan lain lagi dari mulutku.

"Tetapi itu bukan alasan yang khusus sih…" kataku sekali lagi.

"Tak apa—ssu!" katanya dengan maksa, aku menutup mataku sebentar lalu membuka mataku dan menatapnya.

"Yang pertama, aku mencintai buku daripada basket," kataku asal, kulihat Kise langsung terjatuh dengan tidak elitnya saat mendengarkan apa yang kukatakan.

"Kuroko-cchi berhenti bercanda—ssu." Ia langsung bangkit dari jatuhnya.

"Aku tidak bercanda, Kise-san..." Aku menatap serius memastikan bahwa aku memang tidak bercanda, Kise yang melihatku serius hanya tersenyum garing.

"Lalu yang selanjutnya?" tanyanya penasaran.

"Kedua… alasan tadi yang kita bicarakan," Kise mengangguk mengerti.

"Ketiga—" Aku berdiam sebentar, Kise semakin memasang muka yang sangat serius. "—Aku tidak terlalu ahli bermain basket, aku tidak bisa menshoot, dunk atau apapun itu… aku hanya bisa memberi pass ke tim ku," kataku. Kise terbelalak kaget seolah tidak percaya lagi dengan apa yang kukatakan.

"HAAAH?"

"Ah, keempat… aku tidak terlalu suka mengeluarkan keringat ataupun kelelahan," kataku lagi.

"Chotto—Kuroko-cchi, aku tidak mengerti dengan alasan ketigamu yang err—hanya bisa memberi pass?" Kise menggaruk bagian kepalanya yang gatal, aku mengangguk singkat. Kise terdiam.

"Kuroko-cchi ternyata tipe orang yang suka bercanda—ssu."

"Apa aku terlihat seperti bercanda?" tanyaku sekali lagi, rasanya kalimat ini sudah kulontarkan tadi. Kise langsung menatap kearahku dengan wajah serius.

"Jadi yang tadi itu benar?" Kali ini aku tidak mengangguk melainkan aku hanya menatapnya dengan wajah datarku.

Kise mengalihkan pandangannya kearah lain, "Ah… jadi itu benar ya… baiklah! sepertinya aku mengerti—ssu, kalau begitu… bagaimana kalau sesekali Kuroko-cchi datang ke gedung klub basket dan melihatku bermain~," katanya lagi, aku ingin menolak tetapi melihat matanya berbinar-binar layaknya anjing kecil yang lucu, aku pun mengurungkan niatku dan malah mengangguk tanda setuju.

"Ha'i, Kise-san… kalau aku ada waktu aku akan datang kesana," aku tidak yakin apakah aku akan ada waktu untuk kesana atau tidak.

"Tidak boleh—ssu! Kuroko-cchi harus datang! Ah… jangan memanggilku dengan sebutan –san, membuatku terlihat tua—ssu."

"Jadi mau kupanggil apa?"

"Bagaimana kalau Kuroko-cchi memanggilku dengan nama Kise-cchi, biar terlihat akrab—ssu," jawabnya dengan cepat.

"Baiklah, Kise-kun," Kise menggembungkan pipinya, aku tersenyum geli… mana mungkin aku memanggilnya dengan embel aneh seperti itu, sangat tidak cocok dengan sifatku yang datar seperti ini.

"Padahal aku ingin dipanggil dengan nama Kise-cchi, tapi tak apalah… kalau begitu aku boleh kan memanggil Kuroko-cchi?"

Telat, kenapa baru minta izin sekarang?

"Ya tidak apa," kataku, Kise menyengir lebar. Tidak berasa lamanya kami berjalan, ternyata kami telah sampai di area sekolah. "Yosha! Kalau begitu aku langsung kekelasku ya… bye Kuroko-cchi," ujarnya sambil melambaikan tangannya kearahku dan meninggalkanku yang membalas lambaian tangannya.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Normal POV

Kuroko langsung melangkahkan kakinya menuju kelasnya, ia pun membuka pintunya dengan pelan hingga menimbulkan suara bunyi pintu digeser.

Kuroko melihat sekitar, murid-murid yang ada dikelasnya itu tidak menyadari keberadaannya dan sibuk dengan urusannya sendiri, sudah terbiasa dengan itu… Kuroko melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas tersebut dan berjalan menuju bangkunya.

"Yo, Kuroko…" sapa Kagami saat melihat ia sedang berjalan menuju bangkunya.

"Ohayou gozaimasu, Kagami-kun…" sapanya balik, Kagami mengangguk singkat , "Ah… untuk semalam terimakasih sudah mengantarkan tasku," katanya lagi.

"Ha'i… lain kali jangan tinggalkan tas sembarangan, Kagami-kun…" Kagami hanya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sambil mengatakan maaf kepadanya.

"Yo…" tiba-tiba Aomine muncul dari belakang Kuroko, sepertinya ia juga baru datang, Kuroko menoleh kebelakang, "Ohayou, Aomine-kun…" Aomine menguap lalu berkata, "Ohayou, Tetsu…" katanya sambil duduk dibangkunya.

Kuroko pun langsung berjalan menuju tempat duduknya, ia meletakkan tasnya di atas meja dan membuka bukunya kembali. Belum sempat ia membaca… Kagami sudah terlebih dahulu membuka suara.

"Tiap hari membaca buku apa tidak bosan?" tanyanya kepada Kuroko, Kagami memutar badannya kebelakang untuk melihat lawan bicaranya, Kuroko tidak menatap Kagami melainkan matanya terfokus kepada bukunya.

"Tidak…"

"Kurasa suatu hari nanti kau akan menikah dengan buku-bukumu," kata Kagami bermaksud menyindir.

"Sepertinya begitu…" jawab Kuroko dengan tenang, Kagami terdiam.

"Oh… Kise mencarimu—"

"Aku sudah bertemu dengannya tadi pagi, Kagami-kun," potong Kuroko dengan cepat, ia sudah menebak perkataan Kagami. Mendengar itu, Kagami hanya mendengus pelan lalu mengacak-acak rambut Kuroko… membuat si pemilik rambut biru muda itu sedikit kesal.

"Berhenti mengacak rambutku, Kagami-kun…" protesnya.

"Dan berhenti membaca bukumu terus lalu mulailah mencari seorang teman." Kuroko yang mendengar itu hanya diam dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Aku sudah punya teman…" ujarnya.

"Siapa?" Kuroko langsung mengangkat bukunya dihadapan Kagami. "Ini, temanku…" lanjutnya.

"Baka! Maksudnya teman manusia, Kuroko-teme!" protesnya.

"Percuma saja, semua orang pasti akan melupakanku…" katanya dengan nada pelan, Kagami memandang nya dengan heran.

"Huh? Maksudnya?" Kagami memandangnya dengan tatapan bertanya.

"Oi, Kagami… Tetsu, apa yang kalian bicarakan?" Tiba-tiba Aomine menggeser bangkunya kemeja Kuroko berniat untuk ikut nimbrung dengan mereka berdua.

"Tidak ada hal yang penting, Aomine-kun…"

"Oh… bagaimana saat istirahat kau ikut kami makan siang," tawar Aomine diikuti oleh anggukan Kagami.

"Aku sangat berterimakasih, tetapi maaf… aku ingin makan sendiri," tolak Kuroko dengan halus. Bukannya Kuroko tidak mau makan bersama mereka, tetapi beginilah sifatnya…ia tidak terbiasa dengan orang yang baru ia kenal.

"Hei ayolah, bisa-bisa kau akan mati sendiri jika terlalu lama sendiri seperti itu, Kuroko-teme…" Kagami memaksa. Apa maksudnya dengan mati sendiri karena terlalu lama sendiri ya?

"Hm… tidak ada salahnya ikut dengan kami, biar kukenalkan kau kepada anggota tim basket kami atau kau sudah mengenalnya terlebih dahulu?"

"Ha'i… Murasakibara-kun, Midorima-kun dan Kise-kun, ya kan?" Kagami dan Aomine mengangguk bersamaan.

"Sepertinya kau sudah mengenal mereka…" kata Kagami.

"Kemarin sempat berbicara dengan mereka bertiga…" kata Kuroko. Kagami mengangguk tanda ia mengerti.

"Oh ya soal tas… terimakasih sudah mengantarkan tasku, Tetsu…" ucap Aomine, diikuti dengan anggukan pelan dari Kuroko. "Sama-sama…" Tiba-tiba bel sekolah pun sudah berbunyi, murid yang ada dikelas pun menghentikan aktifitas mereka dan mulai duduk di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Aomine yang sudah kembali ketempat duduknya dan Kagami yang sudah memutar balik badannya kedepan.

Suara pintu kelas di geser, lalu muncullah seseorang dengan gaya rambut panjang berwarna hitam yang mencapai dagunya, ia memiliki mata yang tampak lembut dengan bulu mata yang luar biasa panjang. Ia juga memiliki tinggi kira-kira 188 cm.

"Ohayou, minna-san…" sapanya dengan riang dan dijawab oleh semua murid yang ada disitu,

"Perkenalkan nama saya Reo Mibuchi, disini saya akan mengajar tentang pelajaran sastra jepang, semoga kalian tidak bosan dengan mata pelajaran yang saya berikan…" ucapnya sambil mengedipkan matanya, siswi yang disana pun langsung berteriak senang. Kuroko hanya menatap datar, reaksi yang sangat umum jika siswi dikelasnya melihat orang yang terbilang keren.

"Baiklah… sekarang buka buku halaman 19, kita mulai dari BAB 1 dulu, okay?" katanya sambil tersenyum ramah plus tak lupa sensei itu mengedipkan matanya membuat siswi yang ada dikelas tersebut menjadi tambah semangat menjawab perkataan guru itu. Sedangkan siswa yang ada disana hanya memasang wajah aku-ingin-muntah melihat sensei nya yang ternyata sedikit err—genit.

Kuroko pun membuka buku pelajarannya lalu menyimak guru tersebut yang sekarang sibuk menjelaskan pelajarannya.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

(SKIP TIME)

Bel pelajaran pun dibunyikan tanda pelajaran pertama sudah berakhir, Kuroko menghela nafas lega, akhirnya ia bisa beristirahat sejenak untuk lanjut ke pelajaran kedua.

"Oke… sampai disini dulu pelajaran kita, pastikan kalian memahami apa yang sensei jelaskan, ya? Karena ini baru hari kedua, sensei tidak akan memberikan kalian tugas…" ucapnya sambil tersenyum ramah. Reo-sensei pun keluar dari ruangan kelas membuat kelas yang tadinya diam kini menjadi ricuh. Kuroko yang masih sibuk berada ditempatnya kini membuka bukunya melanjutkan membaca lagi. Kagami dan Aomine yang daritadi tertidur saat pelajaran Reo-sensei kini masih tetap tertidur. Beruntunglah Reo-sensei tidak melihat mereka atau mungkin ia melihat mereka tapi tidak menegurnya.

Kagami pun terbangun dari tidurnya lalu menguap. 'Pulas sekali tidurnya?'

"Oh sudah bel pelajaran pertama," katanya kepada diri sendiri.

"Kagami-kun… tidak baik jika tidur dalam pelajaran," Kuroko pun menasehatinya.

"Aku kekurangan tidur, Kuroko…" jawabnya.

"Tapi tidak sopan jika Kagami-kun tidak mendengarkan pelajaran yang sensei berikan," kata Kuroko lagi. Kagami melihat tatapan Kuroko yang serius pun langsung menghela nafas, "Baiklah… aku tidak akan tidur dalam pelajaran," Kuroko langsung mengangguk singkat.

Tiba-tiba pintu digeser pelan, murid yang tadinya ricuh kini langsung terdiam melihat seorang guru telah memasuki ruangan kelas, kali ini bukan guru yang keren yang diharapkan para siswi, membuat mereka tertunduk lesu sekaligus menjadi malas… Ada-ada saja. Kagami langsung berbalik ke depan dan membuka buku catatannya dengan ogah-ogahan. Kuroko pun mengeluarkan buku catatannya beserta kotak pensilnya untuk menyatat.

'Haaah… semoga pelajaran cepat berakhir,' batin Kuroko, lama-kelamaan dia juga merasa bosan dengan pelajaran yang belum berakhir, maklum… Kuroko masih terbawa suasana malasnya selama liburan.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Bel pelajaran kedua pun berakhir, siswa/siswi pun langsung pada ricuh di kelas, karena istirahat telah tiba. Begitu pula dengan Kuroko langsung merebahkan kepalanya di atas meja.

Kuroko menegakkan kepalanya mengambil bukunya lagi dan mulai beranjak dari tempat duduknya untuk pergi kekantin, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam lengannya secara tiba-tiba, membuat Kuroko sedikit terkejut.

"Kuroko, kau sudah janji dengan kami ingin makan bersama kan?" Kagami membuka suara terlebih dahulu, ia sudah berdiri dibelakang Kuroko untuk menghentikannya yang ingin keluar dari kelas.

'Kapan aku ada janji dengan mereka?' batinnya.

"Ano… Aku rasa aku tidak pernah merasa ada janji dengan kalian berdua," katanya dengan khas wajah datarnya.

"Jangan banyak alasan, ikut kami berdua…" giliran Aomine menarik lengan Kuroko begitu erat dan menyeretnya, merasa tidak terima Kuroko sedikit memberontak.

"Aomine-kun, tolong lepaskan aku…" pinta Kuroko sambil menggoyangkan lengannya berusaha lepas dari genggaman Aomine.

"Tidak… hari ini kau ikut kami makan siang," kata Aomine diikuti oleh anggukan dari Kagami. Kuroko terdiam, percuma ia meminta mereka melepaskan tangannya, mereka tidak akan menuruti keinginannya. Jadi, Kuroko lebih memilih terpaksa mengikuti mereka padahal ia ingin pergi ke kantin untuk membeli makan lalu pergi ke tempat yang sepi untuk membaca buku.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Di gedung basket, terdapat 3 pemuda dengan rambut warna warni dan seorang gadis yang berambut warna pink. Kelihatannya mereka berbincang-bincang di dalam gedung tersebut sambil menunggu seseorang.

"Jadi begitu ceritanya, Ki-chan! Aku jadi penasaran dengannya, dia sepertinya tipe pemalu, kyaa~," kata seorang gadis yang memiliki rambut berwarna pink, mimik mukanya tampak terlihat bahagia sekaligus malu-malu.

"Hee? Hanya sebuah eskrim… Momoi-cchi jadi jatuh cinta—ssu, tapi aku tetap mendukung Momoi-cchi!" kata Kise, Momoi mengangguk senang. "Aku suka tipe yang gentle~," katanya.

"Tetapi sebelum aku sempat berterimakasih, ia malah menghilang," lanjutnya lagi dengan tangan menopang dagunya, terlihat berpikir. Dua orang lainnya hanya sibuk mendengarkan Momoi bercerita tentang laki-laki yang ia sukai.

"Mine-chin dan Kaga-chin telat~." Pemuda tinggi itu yang terlebih dahulu membuka suara, ia merengut kesal karena ia sudah mulai lapar.

"Aku lapar… aku mau makan dulu…" katanya lagi sambil mengambil kotak makanannya dan membukanya.

"Murasakibara-cchi jangan makan dulu! Kita harus menunggu mereka datang," kata Kise sambil mengambil bento miliknya.

"Benar kata Ki-chan!" timpal gadis yang berambut warna pink, tampaknya ia satu-satunya perempuan diantara mereka bertiga. Gadis itu bernama Momoi Satsuki, manajer dari tim basket Teiko… ia juga siswi baru disini tetapi sudah ditunjuk menjadi manager, ia teman kecilnya Aomine, tetapi dia dan Aomine tidak satu kelas.

"Tapi aku lapaarr! Aku mau makaaan! Aku juga kehabisan maibou ku!" rengek si rambut ungu itu. Midorima menggelengkan kepalanya pelan melihat anggota tim intinya seperti itu.

Midorima mengeluarkan sesuatu dari balik kantong belanjanya lalu memberikannya kepada Murasakibara yang tengah merengut.

"Ini snack yang tidak sengaja kubeli—nanodayo, kau bisa memakannya… itu bukan berarti aku peduli ya! Hanya saja aku kebetulan membelinya saat aku membeli lucky itemku ini—nodayo!" katanya sambil menunjukkan lucky item berupa sebatang wortel, Murasakibara yang melihat snack itu langsung menyambarnya dengan cepat tanpa memperdulikan lucky item milik Midorima.

'Dasar Tsundere,' batin Momoi dan Kise bersamaan.

"Midorima-cchi… dari sekian banyak barang yang bisa dijadikan lucky item kenapa harus sebatang wortel?" tanya Kise dengan heran.

"Karena untuk hari ini, lucky itemku berupa sebatang wortel—nanodayo," jawabnya, Kise hanya mengangguk dan berkata "Oh." Ia sudah terbiasa kalau temannya itu maniak Oha Asa.

"Yay~ Mido-chin ternyata baik juga," Murasakibara membuka bungkusan snack itu lalu mulai memakannya.

"Kagami-cchi ternyata lama juga—ssu, aku juga mulai lapar…" kata Kise sambil memegang perutnya. tiba-tiba pintu gedung itu terbuka lebar.

BRAK!

"Osh! Sorry terlambat," Aomine melangkah masuk diikuti oleh Kagami dari belakang.

"Kalian telat—ssu," kata Kise.

"Hahaha… Sorry, tadi aku dan Kagami kekantin dulu untuk membeli makanan," katanya sambil menunjukkan kantong belanjanya yang berisi kotak bento.

"He? Dai-chanbento untukku mana?" tanya Momoi, Aomine menunjukkan kantong belanjanya sekali lagi. "Satu… dua… Eh? Kok ada lima?" Momoi menghitung.

"Satu untuk kau, satu untukku, dua untuk Kagami dan—"

"DUA?" Kise memotong ucapan Aomine dengan cepat.

"Satu tidak akan cukup," ujar Kagami.

"Porsi makanmu ternyata sama dengan Murasakibara—nanodayo," timpal Midorima. Murasakibara hanya sibuk mengunyah makanan miliknya sendiri.

"Dai-chan, satu lagi untuk siapa?" tanya Momoi, ia penasaran dengan pemilik bento tersebut.

"Oh! Ini—"

"Kagami-kun bisakah kau melepaskan lenganku?" seseorang tiba-tiba membuka suara, ia merasa ia lelah di seret-seret seperti ini. Semua orang yang ada disitu pun langsung terdiam, mencari sumber suara.

"KUROKO-CCHI?" Kise yang pertama kali melihat Kuroko dibelakang Kagami yang sibuk melepaskan lengannya dari genggaman Kagami.

Kagami melepaskan genggamannya, "Sorry… Kuroko, kalau kau tidak seperti itu, kau pasti akan tiba-tiba menghilang," katanya lagi. Giliran Kuroko yang merasa kesal, ia sebenarnya tidak ingin berkumpul dengan banyak orang seperti ini, apalagi jika belum kenal.

"Setidaknya aku bisa jalan sendiri, Kagami-kun…" katanya sambil mengusap lengannya yang sedikit memerah karena genggaman dari Kagami.

"Oh aku tidak percaya denganmu jika aku tidak menarik lenganmu."

"Kuro-chin~ ternyata kau datang juga…" Murasakibara melambaikan tangannya. Kuroko yang merasa mereka melihat dia dengan tatapan bingung langsung membungkukkan badannya.

"Doumo…" sapanya. Tiba-tiba, Momoi langsung berjalan kearah Kuroko.

"Ne! Siapa namamu?" tanya Momoi dengan tatapan berbinar-binar. Kuroko yang melihat itu sedikit melangkah mundur… dia kan gadis yang ia temui kemarin sore. "K-Kuroko Tetsuya, desu…"

"Kuroko…Tetsuya? Ah! Tetsu-kun! Perkenalkan namaku Momoi Satsuki dari kelas 1-A! dan terimakasih untuk eskrim kemarin, kyaa~ aku jadi menyukaimu, Tetsu-kun!" Momoi langsung memeluk Kuroko, membuat si pemuda biru muda itu menjadi sangat terkejut dengan tingkah Momoi yang tiba-tiba memeluknya.

"He? Jadi yang memberi eskrim kemarin itu adalah Kuroko-cchissu?" tanya Kise, Momoi mengangguk senang sambil tetap memeluk Kuroko dengan erat, membuat ia susah sedikit bergerak.

"Ano—"

"Tidak boleh—ssu! Kalau yang Momoi-cchi sukai itu Kuroko-cchi, aku tidak mengijinkannya—ssu!" giliran Kise yang memeluk Kuroko dengan erat, membuatnya tambah susah bergerak.

"Ano—"

"He? Kenapa Ki-chan? Aku kan menyukai Tetsu-kun!"

"Tidak boleh—ssu! Aku juga suka Kuroko-cchi! Dia manis!" ucapnya sambil tetap memeluk Kuroko dengan eratnya, Kuroko yang mendengar perkataan mereka berdua hanya mendengus pelan, tidak terima ia dikatai manis, padahal dia ini adalah laki-laki tulen.

"Kuro-chin memang manis seperti permen, aku jadi ingin memakannya," kata Murasakibara dengan tiba-tiba, membuat semua yang ada disitu terdiam saat mendengar perkataan Murasakibara yang sedikit ambigu itu.

Midorima berdehem, "Kalian seperti anak kecil saja—nodayo."

"Kise-chin dan Sat-chin memperebutkan Kuro-chin~, kasihan dia…" kata Murasakibara sembari memakan snack nya, ia sibuk menonton Kise dan Momoi yang menarik-narik lengan Kuroko, sehingga Kuroko menjadi kewalahan.

"Satsuki! Kise! Hentikan itu! Kalian membuat dia tambah takut," protes Aomine sambil menarik kerah baju Kise untuk menjauhkannya dari Kuroko, dan Momoi menggembungkan pipinya… menatap Aomine dengan tatapan tajam.

Kuroko yang merasa lengannya telah lepas, langsung bersembunyi dari balik punggung Kagami sehingga sang pemilik itu hanya menghela nafas.

"Lihat? Kuroko jadi takut dengan kalian berdua," timpal Kagami sambil berkacak pinggang.

"Sudahlah, lebih baik kalian memakan makanan kalian terlebih dahulu, daripada bertengkar yang tidak penting-nodayo." Midorima berusaha menengahi mereka berdua, jujur saja… ia juga sudah mulai terasa lapar. Yang lain mengangguk tanda setuju, Aomine dan Kagami mulai mengambil posisinya duduk di sebelah Momoi, sedangkan Kagami disebelah Aomine dan Kuroko mau tidak mau harus ikut duduk di sebelah Kagami dan Kise. Dari sekian banyak orang kenapa ia harus bersebelahan dengan pemuda pirang yang berisik ini?

"Aku mau duduk dekat Tetsu-kun!" protes Momoi.

"Sudahlah Satsuki… biarkan ia lepas darimu sebentar," jawab Aomine membuat Momoi mendelik tajam begitu pun dengan Kuroko yang tidak mengerti maksud perkataan Aomine itu. Mereka duduk secara melingkar, satu persatu membuka bento miliknya begitu pun dengan Kuroko.

"Ittadakimasu…" ucap Kuroko pelan lalu mulai memakan bentonya satu persatu.

"Ne… Kuroko-cchi, habis makan mau one on one denganku—ssu?" tanya Kise ke Kuroko yang langsung ia tolak dengan cepat.

Kise menggembungkan pipinya, Kagami memandang heran. "Kise! Jangan memaksa orang dan lagi memangnya Kuroko bisa bermain basket?" tanya Kagami sambil menatap Kuroko yang sibuk melahap bentonya dengan tenang.

"Err—Kuroko-cchi dulu pernah bermain basket sewaktu ia SMP," timpal Kise.

"He~ Tetsu-kun pernah bermain basket? Kalau begitu kenapa tidak bergabung di klub ini?" tanya Momoi, berharap pemuda yang sekarang ia sukai itu bergabung ke klub ini.

"Terimakasih ajakannya tetapi aku tetap menolak," kata Kuroko dengan tenang, ia masih sibuk dengan aktifitasnya.

"Hm? Apa kau takut berhadapan dengan orang sehebatku, Tetsu?" kali ini giliran Aomine yang membuka suara, Kuroko hanya menatapnya dengan wajah datar… percaya diri sekali orang ini? Dan lagi apa hubungannya dengan ia yang tidak mau masuk ke tim basket.

"Jangan! Kalau Kuro-chin masuk bisa-bisa ia mati berdiri karena pelatihnya adalah Aka-chin." Kali ini Murasakibara membela Kuroko. Tapi apa maksudnya dengan mati berdiri? Memangnya pelatih mereka sekejam apa sih?

"Murasakibara berhenti memanggil pelatihmu dengan kata anehmu itu—nanodayo!" protes Midorima.

"Aka-chin tidak pernah mempermasalahkannya…"

"Itu benar Midorima-cchi, Akashi-cchi tidak pernah marah jika kami memanggilnya begitu," timpal Kise. Rasanya, ia ingin melemparkan dua orang ini ke ring basket. Tapi, Midorima mengurungkan niatnya. Yang pertama mereka adalah anggotanya dan Kedua—tidak mungkin ia bisa melemparkan dua orang itu… mengangkatnya aja sudah berat apalagi melemparnya.

"Terserahmu—nodayo!"

Kuroko yang daritadi diam langsung menutup kotak bentonya, tampaknya ia sudah terlebih dahulu menyelesaikan makanannya. "Gochisousama deshita."

"Cepat sekali makannya, Tetsu-kun…" kata Momoi sambil melahap makanannya, Kuroko hanya mengangguk singkat. Itu karena mereka yang makannya sambil mengobrol makanya lama, sedangkan Kuroko hanya diam daritadi.

"Bagaimana kalau kita one on onessu, kau tertarik Kagami-cchi?" tawar Kise, Kagami hanya menyeringai tanda ia setuju.

"Kau pasti akan kalah, Kise…" katanya dengan percaya diri.

"Oi! Jangan lupakan aku! Aku juga ingin bermain!" teriak Aomine, tidak terima jika dirinya telah dilupakan.

"Kalau begitu kalau kita main tiga lawan tiga—ssu?" kata Kise.

"Tidak mau… aku lelah," tolak Murasakibara.

"Boleh saja tapi kita kurang satu orang." Midorima menaikkan kacamatanya dengan jari telunjuknya. Kuroko yang merasa ada tanda aneh, perlahan-lahan ia pun mundur kebelakang.

"Bagaimana kalau kita ajak Kuroko-cchiare?" Kise yang menyadari pemuda biru muda itu tidak ada disampingnya langsung melirik kiri dan kanan.

"Ah... dia hilang—nodayo."

"KUROKO-CCHI HILANG!" teriaknya panik, ia tidak menyangka bahwa anak itu menghilang dengan cepat.

Momoi mengerjapkan matanya berkali-kali, tidak percaya bahwa Kuroko sudah tidak ada disitu lagi, "Ce-cepat sekali ia menghilangnya?"

"Che! Dasar, Tetsu… ia kabur begitu saja!" Midorima hanya mengerjapkan matanya tanpa berkata apapun. Murasakibara yang tampaknya cuek sibuk mengunyah bento nya.

"Kuro-chin memakai sihirnya lagi…"

"Kuroko-teme! Seenaknya kabur begitu saja," Kagami mengepalkan tangannya dengan geram, ia tidak suka jika orang itu tiba-tiba pergi tanpa permisi terlebih dahulu.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Kuroko yang akhirnya bisa lepas dari orang-orang aneh tersebut, kini ia bernafas lega. Tidak mau membuang waktu istirahatnya… ia pun berjalan ke kelasnya untuk melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti—yaitu membaca buku.

Kuroko berjalan pelan menuju kelasnya, saat ia ingin berbelok ke arah kanan, tiba-tiba saja dia menabrak seseorang membuat orang itu mau tidak mau menjatuhkan barang miliknya. Kuroko yang menyadari itu langsung mendongak melihat orang tersebut.

Mata biru Kuroko membulat saat orang yang ia tabrak ternyata orang yang kemarin menolongnya. Bisa dilihat, orang tersebut balas menatap tajam ke arahnya, pertanda ia tidak suka dengan kelakuan sifat Kuroko yang seenaknya menabraknya.

"Kau—orang kemarin yang hampir jatuh karena kelalaianmu dan sekarang kau malah berani menabrakku," ucapnya dengan nada dingin, matanya menatap tajam kearahnya. Kuroko yang balas menatapnya kini mengeluarkan keringat dingin… secepat kilat, ia langsung membungkukkan badannya.

"S-sumimasen! Aku tidak sengaja…" ucapnya seraya membungkuk, lalu dia mulai berjongkok dan memunguti barang-barang yang dibawanya. Sekilas ia melirik tulisan buku tersebut… Kuroko terkejut saat ia menyadari buku yang dipegangnya adalah milik Akashi Seijuuro.

Akashi—Seijuuro?

Jadi… orang yang menolongnya kemarin dan orang yang ia tabrak hari ini adalah seorang guru? Kalau begitu, ia juga pelatih tim basket disekolah ini kan? Belum lagi, Kuroko menyadari bahwa ia direktur di sekolah ini—mengingat itu, Kuroko menelan ludahnya sendiri. Bisa-bisa ia di cap sebagai murid yang tidak sopan.

"Sudah selesai memungut bukuku, hm?" katanya dengan nada dingin, Kuroko yang menyadari itu berjengit kaget… cepat-cepat ia membereskan barang bawaan milik guru tersebut, berdiri lalu memberikannya kepada guru itu.

"Hontou ni sumimasens-sensei, aku berjalan sambil melamun…" ucapnya dengan membungkuk sekali lagi sambil memberikan barang yang masih ia pegang, berharap guru itu memaafkan atas tindakannya yang ceroboh.

"Hm…" guru itu tidak terlalu peduli dengan permintaan maaf dari Kuroko, ia hanya mengambil barang yang ada digenggaman Kuroko lalu melesat pergi begitu saja, meninggalkan Kuroko yang masih membungkuk dan tidak berani mendongakkan wajahnya menatap guru itu.

Setelah ia pergi, barulah ia bernafas lega... aura yang ia berikan kepada Kuroko sangatlah buruk, bahkan Kuroko bisa merasakan hawa-hawa mencekam di sekelilingnya. Kuroko menyadari satu hal, jangan terlalu berurusan dengan guru tersebut.

Kuroko pun jadi ingat perkataan Midorima yang mengatakan bahwa Akashi itu adalah pelatihnya, ia semakin tidak mengerti mananya yang sisi baiknya seperti yang dikatakan Kise, ia yang baru bertemu dua kali dengannya hanya merasakan aura hitam mengelilinginya, mengerikan jika berurusan dengannya. Kuroko juga semakin mengerti dengan perkataan Murasakibara saat ia tidak memperbolehkannya masuk ke tim basket itu. Ternyata pelatihnya seram!

Kuroko menggelengkan kepalanya pelan, ia pun juga tidak sudi dan tidak ingin masuk ke tim yang isinya orang-orang aneh ditambah lagi dengan pelatihnya yang sangat menakutkan itu—mengingat ia juga menjabat sebagai direktur disekolah ini, membuat Kuroko makin tidak ingin bertemu dengannya.

Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi, Kuroko mendecak kesal… gara-gara kesalahannya ia jadi tidak sempat melanjutkan membaca bukunya. Mau tidak mau, Kuroko langsung melesat kekelasnya dengan langkah yang cepat.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Bel terakhir berbunyi kembali, menandakan para murid Teiko sudah diperbolehkan untuk pulang kerumahnya masing-masing. Begitu juga dengan Kuroko yang sibuk membereskan peralatannya untuk dimasuki ke tasnya, disamping itu Kagami mulai mengganggunya lagi.

"Kuroko! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu yang tadi…" Kuroko yang sibuk membereskan bukunya kini menghentikan aktifitasnya.

"Yang mana, Kagami-kun?" Kuroko memiringkan kepalanya, ia tidak mengerti apa yang pemuda ini bicarakan.

"Yang saat istirahat siang kau menghilang itu, Tetsu…" kali ini Aomine sudah berdiri di samping mejanya dengan membawa tasnya.

"Oh… itu—"

"Kau menghilang saat kami ingin mengajakmu bermain basket, apa kau sengaja kabur?" tanya Kagami lagi, Kuroko yang mendengar itu langsung mengangguk singkat.

"Aku merasakan ada hal aneh jadi aku lebih memilih kabur…" jawabnya jujur sambil melanjutkan aktifitasnya membereskan buku-bukunya.

"Ayolah, Tetsu… kami hanya memakaimu sebagai tambahan… kami tidak akan mengoper kepadamu atau memintamu memasukkan bola, gara-gara kau kabur, kami tidak jadi bermain tiga lawan tiga." Aomine mendecak kesal, Kuroko yang sudah sukses menutup tasnya kini berdiri dari tempat duduknya.

"Itu bukan urusanku, Aomine-kun…" kata Kuroko sambil menatap datar ke arah Aomine dan Kagami, jujur saja… ia jadi merasa kesal dengan tingkah dua orang yang ada dihadapannya ini. Mereka bermaksud menyalahkan Kuroko yang kabur begitu saja.

"Dan lagi kalian kan bisa bermain dua lawan tiga, apa bedanya dengan membawaku bermain tetapi aku tidak bermain?" tanya Kuroko lagi.

"Setidaknya kami ingin melihat cara bermainmu," timpal Kagami, Kuroko hanya memasang wajah tidak mengerti, ia heran dengan orang-orang yang dari klub basket ini… dari kemarin ia seperti dipaksa masuk ke tim basket secara tidak langsung, membuat Kuroko semakin tidak suka.

"Tetsu… aku hanya penasaran dengan gayamu bermain dan alasanmu yang berkali-kali menolak setiap Kise mengajakmu gabung," katanya sambil memegang pundak Kuroko.

"Kise-kun pasti sudah menceritakan alasannya kepada kalian, ya kan?" Kagami maupun Aomine mengangguk secara bersamaan.

"Kalau begitu untuk apa memintaku menceritakannya lagi?" Kuroko menghela nafas pelan. Ia sangat pusing kalau terus-terusan ditanyai soal basket.

"Err—kami penasaran denganmu yang katanya hanya bisa mengoper bola—" Aomine menggaruk pipinya dengan telunjuk jarinya.

"Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu… Kuroko!" ucap Kagami seraya mendaratkan tangannya di rambutnya dan mengacak-acaknya.

"Iie desu… kalau Kagami-kun dan Aomine-kun tetap memaksa seperti Kise-kun… aku tidak akan bosan mengucapkan tidak berkali-kali," kata Kuroko, wajahnya sekarang terlihat kesal.

"Aku tidak mau gabung ke klub basket lagi…" lanjutnya dengan menggembungkan pipinya kesal, membuatnya terlihat manis dimata Aomine dan Kagami.

Kagami menghela nafas, "Baiklah, jika kau berubah pikiran… jangan segan-segan untuk bergabung," ucapnya sambil tersenyum, Aomine mengangguk tanda setuju. "Aku tidak segan-segan mengajarimu jika kau mau," timpalnya.

"Mungkin aku akan mengajarimu cara shoot bola," kata Aomine.

'Kenapa mereka berdua memaksa sekali?' batinnya facepalm.

Pintu di buka dengan kasar, menampilkan pemuda berambut kuning yang sekarang tengah melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga.

"Ayo kita pulang sama-sama—ssu!" siapa lagi kalau bukan si pirang yang berisik—Kise Ryouta. Momoi pun langsung muncul disamping Kise dan ikut menyapa mereka. Kuroko yang menyadari bahwa ia akan diseret pulang bersama mereka kini mulai siap-siap memakai jurus andalannya—misdirection untuk menghilang.

"Yo, Kise…" sapa Kagami yang dibalas dengan anggukan dari si pemuda pirang itu.

"Karena semua telah berkumpul, mari kita pulang Tetsu—are?" tanpa disadari Kuroko sudah menghilang dari pandangannya padahal baru beberapa detik Aomine mengalihkan pandangannya, dan sekarang ia telah menghilang lagi. Kagami yang menyadari hal itu juga ikutan terkejut, ia masih belum terbiasa dengan sihir Kuroko yang suka menghilang.

"Kuroko-cchi tadi ada disini—ssu?" Tanya Kise.

"Sepertinya Tetsu-kun kabur lagi…" Momoi pun menjadi sedih saat ia mengetahui orang yang ia sukai tidak ada.

"Apa boleh buat, kalau kita tidak terlalu memperhatikannya… anak itu akan seenaknya menghilang," timpal Kagami sambil memijit keningnya.

"Mine-chin~ aku mendapatkan Kuro-chin," Murasakibara langsung menunjukkan wujudnya dibalik pintu kini tengah memeluk Kuroko yang berusaha untuk kabur dengan Midorima yang berada disampingnya.

"Anak ini berusaha kabur lagi—nodayo, untung aku sempat melihatnya," kata Midorima.

"Tetsu-kun~," wajah Momoi kini berubah menjadi riang saat ia melihat Kuroko didekapannya Murasakibara.

"Hanashite kudasai, Murasakibara-kun…" protes Kuroko, rencananya untuk kabur gagal, karena ia tidak sengaja berpapasan dengan Midorima dan Murasakibara, saat ia mencoba kabur… Murasakibara langsung memeluknya dari belakang.

"Kuroko-cchi~ sebegitu bencinya kah dengan kami sampai harus kabur seperti itu?" rengek Kise sambil perlahan mendekat ke Kuroko, melihat itu… ia menjadi sedikit merasa bersalah. Bukannya benci… hanya saja ia tidak terbiasa dengan banyak orang seperti ini.

"Ki-chan benar! Tetsu-kun tidak menyukai kami kah?" timpal Momoi dengan nada sedih, ia terlihat ingin menangis. Kuroko yang melihat mata Momoi berkaca-kaca… langsung menepuk-nepuk kepala Momoi dengan pelan seolah berkata jangan-menangis-Momoi-san. Momoi yang kepalanya tengah di elus kini ekspresinya berubah menjadi senang sekaligus muncul semburat merah tipis di pipinya menandakan ia sedikit malu dengan perlakuan Kuroko.

"Sumimasen… Kise-kun, Momoi-san… bukannya aku tidak menyukai kalian, hanya saja—" Kuroko berdiam sebentar ia ragu ingin melanjutkan perkataannya.

"Hanya saja apa, Kuroko-cchi?" tanya Kise penasaran.

Kuroko menatap mereka dengan wajah datar, "Hanya saja aku tidak terbiasa dengan orang-orang aneh…" katanya dengan nada yang datar. Membuat semua orang disana terdiam.

Kagami langsung meletakkan tangannya di kepala Kuroko lalu meremasnya dengan geram, "Jadi… maksudmu kami ini sekumpulan orang aneh, Kuroko-teme!" kata Kagami dengan wajah geram, sedangkan Kuroko hanya menatapnya dengan wajah datar.

"Ittai—Kagami-kun," katanya dengan wajah datar.

"Kau ingin mengajakku bertengkar, huh?" kata Kagami lagi.

"Iie desu… pertengkaran itu tidak baik, Kagami-kun…" ucap Kuroko dengan santainya.

"Teme! Akan kurematkan kepalamu!"

"Ittai… Kagami-kun," Kuroko hanya memasang wajah datarnya seolah tidak peduli dengan kelakuan Kagami yang tengah meremas kepalanya.

"Kuroko-cchi jahat! Mengatakan kami orang aneh!" rengek Kise tidak terima.

"Oi! Yang Tetsu maksud orang aneh mungkin hanya kau seorang, Kise. Dan berhenti teriak-teriak didepanku!" Aomine langsung menutup kupingnya.

"Aomine-cchi, hidoi—ssu!"

"Ne, Tetsu-kun! Apa aku termasuk orang yang aneh?" tanya Momoi penasaran, Kuroko menggeleng.

"Tidak kalau untuk Momoi-san," katanya dengan wajah datar, membuat wajah si gadis pink itu berseri-seri.

"Mido-chin… apa kita termasuk orang aneh juga?" Murasakibara bertanya ke Midorima, sang pemuda berambut hijau itu hanya mendelik ke arah Murasakibara yang tengah memakan snack miliknya.

"Sepertinya kau termasuk, tetapi aku tidak…" kata Midorima, ia juga tidak terima kalau ia disebut orang aneh seperti mereka.

Kuroko melepaskan tangan Kagami dari kepalanya, "Sumimasen, aku hanya bercanda…" ujarnya dengan nada datar, semua yang ada disitu menatap Kuroko dengan tatapan Kau-tidak-terlihat-seperti-bercanda.

"Kau tidak terlihat seperti bercanda, Tetsu…" Aomine facepalm.

Kuroko berdehem sebentar, "Aku hanya tidak terbiasa dengan banyak orang, jadi maafkan aku jika aku kabur seperti tadi," Kuroko membungkukkan badannya kepada mereka semua.

"Sou ka… ternyata tipe Tetsu-kun adalah tipe pemalu juga ya? Aku jadi makin menyukai Tetsu-kun!" Momoi pun langsung memeluk Kuroko dengan erat, membuatnya jadi sulit bernafas.

"Ano... bukan—"

"He~ Kuro-chin ternyata pemalu juga…" Murasakibara pun membuka suaranya.

"Kuroko-cchi ternyata pemalu! Jadi terlihat semakin manis—ssu!" giliran Kise yang memeluk Kuroko, padahal ia baru saja terlepas dari pelukan maut milik Momoi, sekarang ia kembali dipeluk erat oleh pemuda pirang itu.

"Kise! Kau membuat anak orang susah bernafas," protes Aomine.

"Kau tidak perlu merasa malu—nodayo."

"Ya itu benar! Karena mulai hari ini kau adalah teman kami, Kuroko… jadi bersiaplah jika kami menyeretmu sana-sini," ucap Kagami sambil memukul punggung Kuroko dengan kuat. Kuroko yang merasakan itu, langsung meringis pelan, tidak terima dengan perlakuan yang Kagami berikan.

Teman—eh? Rasanya seperti déjà vu saja, ia jadi ingat dengan teman dekatnya—Ogiwara yang berada di Tokyo sana. Saat masih SMP, ia hanya mempunyai satu orang teman saja… karena itu ia tidak terbiasa jika ia dikelilingi oleh banyak orang.

Kuroko tersenyum tipis, entah ia merasa senang atau merasa sial… pada hari keduanya ia mendapatkan beberapa teman yang menurutnya sedikit aneh. Lebih tepatnya merekalah yang mau mengobrol dengannya terlebih dahulu, dan tidak bosan dengan tingkahnya yang suka menghilang. Kuroko pikir, kalau ia terus menggunakan hawa tipisnya… mereka mungkin akan segera melupakan, tetapi sampai sekarang… mereka pernah melupakannya dan tetap mendekatinya.

"Arigatou gozaimasu…" Kuroko membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah menganggapnya sebagai teman. Kini tangan Aomine pun mendarat dikepala Kuroko lalu mengelusnya dengan pelan.

"Kalau begitu ayo kita pulang—ssu!" teriak Kise dengan semangat.

"Sebelum itu aku ingin mampir membeli eskrim," timpal Momoi dengan senang.

"Aku juga mau~ Maibou ku sudah habis lagi…" ujar Murasakibara. Kuroko yang melihat tingkah mereka semua kembali tersenyum tipis, sekarang ini entah kenapa ia merasa senang, Kagami yang menyadari itu langsung menarik lengan Kuroko.

"Jangan sampai hilang ya, Kuroko!" katanya, diikuti oleh anggukan kecil darinya. Mereka pun langsung berjalan keluar dari kelas tersebut dan pergi menuju mini market bersama-sama.

'Mempunyai teman banyak tidak buruk juga,' batin Kuroko yang mengikuti mereka dari belakang.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Kuroko merebahkan dirinya dikasur yang empuk, hari ini ia tidak melanjutkan membaca bukunya karena sudah keburu lelah. Sekilas ia mengingat kejadian sebelumnya, baru pertama kali ia berkumpul dengan teman-teman barunya… agak canggung, tetapi karena tingkah mereka yang konyol membuat rasa canggung Kuroko berkurang.

Mereka pun juga sempat bertukar nomor hp—lebih tepatnya mereka memaksa Kuroko supaya ia memberitahukan nomornya.

Kuroko membuka hpnya lalu mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya yang berada di Tokyo. Walau ia sudah mempunyai teman baru di Kyoto tetapi ia tidak akan mungkin melupakan sahabatnya yang sudah menjadi temannya selama tiga tahun di masa SMPnya.

Setelah selesai mengirimkan pesan kepada Ogiwara… Kuroko langsung meletakkan hp nya kembali saat ibunya sudah berteriak menyuruh Kuroko untuk makan. Berhubung karena perut Kuroko yang sudah lapar, ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang makan.

.

.

To Be Continue

AUTHOR NOTE: haha...hahaha! Rasanya Akashi munculnya sepotong-potong ya? Tapi tak apa, ini baru chapter dua #plak. Baru sadar kalau aomine sama ibunya tetsuya sama-sama manggil tetsu, mereka jodoh! #plak. abis aku gak tau ibunya biasa manggil apa, kalau pakai -chan... errr entah kenapa aku tidak biasa sih. #digiles, untuk chapter dua aku lebih fokuskan ke friendship sih, jadi maaf ya kalau kurang greget semoga kalian suka membaca ceritaku dan tidak bosan karena ini baru awal :')

Dan maaf jika masih ada typo(s) yang nyempil, diriku masih manusia biasa yang tak luput dari kesalahan #plak

ah! time to balas review~

Deidara : Oke ini sudah dilanjut! semoga kamu suka :D

soomancutetralala : Um... umur akashi ya? uum... ummm... bagusnya berapa? *kok situ malah nanya balik?* xD belum kepikiran, gomen~

.9 : Oke ini sudah dilanjut~ silahkan membaca ^^

zhichaloveanime : eto.. gak oneshoot kok, mungkin karena kepanjangannya ya chap 1 nya o.O ? ini sudah updet semoga suka . ... iya Tetsu kayak hantu gitu, emang dasarnya dia hantu #dor

Miss Cocoa : sudah di lanjut~ :3

Scarlet : Ha'i Ha'i ini sudah updet semoga suka ya .

Guest : okay sudah di next :3, and call me pink okay~ #plak

Mimo Rain : Yosha! sudah update!

sejalahzy: wanjiir~ sudah updet kok xD #digiles

Tet-chan: Err.. Akashi kan sudah muncul di chap 1 XD, kalau Kurokonya hilang beneran sudah dipastikan ia sedang kuikat di lemari baju #jahat! #dilempargunting

hinamorilita-chan : Teruslah penasaran karena saya akan membuat anda penasaran muahahaha! #evillaugh xD just kidding~ umur akashi ya? hm.. kita lihat saja nanti *sok misterius* iya ada mas ogi, aye juga suka ama mas ogi tapi cinte aye cukup untuk mas akashi seorang #apasih xD

Akari Kareina : Iya dong.. Himuro ganteng unyu gimana gitu, cocok jadi sensei dia XD . wwkkw kayaknya saya juga mikir si Akashi pedo banget XP

AulChan12 : Yosha! makasih reviewnya... ini sudah updet :3

Indah605 : Silahkan dibaca untuk chap 2 nya ~ jangan lupa tinggalkan jejak(?) ^^

Sachiru Mikachi : Iya sih... saya juga mikirnya kalau Kagami ama Kisedai nyatu kan ketemu Aomine trus tuh... trus mereka berantem deh, aku paling suka liat dua orang ini beragumen #dilempar tapi entah kenapa Aomine dan Kagami cocok jadi sahabat satu sama lain ya wkwkkw. Rencananya pengen bikin Akashi setingkat sih, tapi klu sprti itu ntar kurang greget ugh~ . ntar saya munculin babang oginya. minta harem!Kuroko? Eto... bukannya dari pertama si Kuroko udah harem aja tuh dikelilingi cowok-cowok keceh dan 1 cewek cantik , buat aye iri aja #gigittisu

Oke sekian dan terimakasih atas review kalian #bungkuk.

.Akhir kata,

Mind to review?

_Pinkuru_