Kuroko No Sutori

Pairing : AkaKuro

RATE T

Romance, Friendship, Drama, (a little bit Humor, maybe)

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Kuroko no Sutori punya saya~

Warning! Boys Love, OOC, Typo(s)

Happy Reading!

.

Sore telah datang menyelimuti langit yang tadinya biru kini menjadi warna orange. Sekolah sudah usai sekitar pukul empat sore, membuat seluruh murid Teiko pulang kerumah masing-masing, tapi tidak dengan para tim basket yang masih sibuk dengan latihan mereka sendiri karena latihan hari ini ditiadakan mengingat Akashi—pelatihnya ada sedikit urusan yang tidak bisa ditunda. Momoi kini tengah sibuk menulis catatan perkembangan untuk tim mereka, sedangkan empat orang lagi sedang bermain basket.

"Kagami! Rebut bolanya dari Kise!" teriak Aomine kepada pemuda berambut merah hitam itu, pemuda itu langsung menghadang Kise yang tengah mendribble bola tersebut.

"Tanpa disuruh pun aku akan menghadangnya!" teriak Kagami ke Aomine yang sekarang sedang menghadang Kise.

"Kagami-cchi tidak akan bisa merebut bola dariku—ssu." Kise berhasil menghindar dari Kagami lalu berlari menuju ring lawan, Aomine yang menyadari itu langsung ikut berlari mengejar Kise. "Bakagami! Pertahanan dan gerakanmu lemah!" teriak Aomine kepada Kagami membuat si empunya menjadi emosi.

"Ahomine! Beraninya kau menyebutku baka!" teriaknya kesal. Kise yang hampir memasukkan bola tersebut kedalam ring itu, langsung mendecak kesal karena Aomine telah menggagalkan serangannya dan kini mendribble bola tersebut ke ring yang berlawanan.

"Terlalu cepat mengalahkanku, Kise! Oi, Kagami… ambil bola nya!" teriak Aomine dengan semangat sambil mengoper bola ke Kagami, Kagami yang menerima operan itu langsung berlari. Tanpa aba-aba, Kise langsung menghadang Kagami dengan cepat, Kagami yang menyadari hal itu langsung mengoper bolanya ke arah Aomine, tetapi Murasakibara mencuri operan bola tersebut dan membawanya kembali, membuat Kise berteriak senang.

"Maju, Murasakibara-cchi!" teriak Kise sambil berlari mengikuti Murasakibara sedangkan Kagami dan Aomine mendecak kesal dan menyusul mereka berdua.

"Ki-chan, Dai-chan, Muk-kun, Kagamin, semangat yaa!" teriak Momoi dari kejauhan saat melihat mereka berempat kini menjadi lawan.

Saat ini mereka sedang berlatih di gedung tersebut, karena saat mendengar latihan basket hari ini ditiadakan, para anggota tim basket lainnya langsung memilih pulang kerumah daripada menetap lama-lama di gedung tersebut, kecuali mereka yang tengah sibuk bermain basket.

Karena kekurangan dua orang mereka tidak bisa bermain tiga lawan tiga. Juga karena saat Kagami mengajak Aomine bermain satu lawan satu, tiba-tiba Kise merengek untuk ikut dan diakhiri dengan pertengkaran kecil. Mau tidak mau, Murasakibara diseret paksa untuk ikut bermain karena Midorima sedang tidak ada ditempat.

"Wajah mereka bersemangat sekali," gumam Momoi sambil tersenyum tipis.

"Ah—Tetsu-kun lama sekali datangnya atau jangan-jangan ia tidak datang!" ujarnya sedikit panik sambil melirik jam tangannya. Kuroko sudah berjanji akan datang setelah ia sibuk dengan urusan klub nya sendiri.

Kadang Momoi tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda berambut biru itu yang memilih masuk ke klub sastra—yang menurutnya membosankan itu, karena di klub itu hanya sekedar membaca buku atau berbicara mengenai buku-buku terbaru. Tidak seperti klub basket yang penuh dengan orang yang bersemangat dan berenergik untuk latihan sana sini.

Tetapi Momoi juga tahu bahwa Kuroko tidak suka mengeluarkan banyak keringat dan ia juga tidak terlalu bisa bermain basket seperti yang diceritakan oleh Kise, walau Momoi sepertinya curiga kalau Kuroko menyimpan alasan lain yang enggan untuk diceritakan, tidak mungkin ia tidak bisa bermain basket padahal katanya… ia sempat masuk ke klub basket sewaktu SMP, aneh kan? Ia juga sudah menyerah menyuruh Kuroko untuk masuk ke klub yang ia tempati, pemuda itu selalu menolaknya dengan cara halus.

"Sepertinya tim Aomine-kun kalah ya, Momoi-san," ucap Kuroko tiba-tiba sambil menyeruput minumannya dengan tenang, menyadarkan lamunan si gadis rambut pink itu.

"Iya—Eh? Huwaaaaa! Tetsu-kun! Sejak kapan kamu ada disampingku?" tanya Momoi terkejut saat melihat Kuroko berada disampingnya dengan tiba-tiba. Ia akui, ia masih belum terbiasa dengan keberadaan Kuroko yang selalu muncul tiba-tiba yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Sumimasen, Momoi-san… aku tidak bermaksud mengagetkanmu," ujar Kuroko sambil menundukkan kepalanya kepada Momoi.

"Tidak apa, Tetsu-kun… ini karena aku belum terbiasa dengan kelakuanmu yang suka muncul tiba-tiba… hehe," katanya lagi.

"Ano—kemana Midorima-kun?" tanya Kuroko sambil mengedarkan pandangannya.

"Oh, Midorin sedang ada urusan, jadi dia tidak bisa ikut latihan." Kuroko hanya mengangguk singkat—dan apa itu Midorin? Sepertinya Momoi sudah mulai ketularan Kise dan Murasakibara memanggilnya dengan nama yang terdengar aneh.

"Sudah selesai urusanmu, Tetsu-kun?" Kuroko mengangguk sekali lagi.

"Bagaimana hari pertamamu berada di klub sastra itu?" tanya Momoi lagi.

"Mereka tidak menyadari keberadaaanku," ucap Kuroko dengan singkat membuat Momoi sweatdrop mendengarnya. Sepertinya telah menjadi hal biasa bagi Kuroko jika orang lain tidak menyadari keberadaannya.

"Sou ka… tapi akhirnya mereka menyadarimu kan?" Kuroko mengangguk, si gadis rambut pink itu hanya tersenyum tipis. 'Syukurlah mereka menyadarimu, Tetsu-kun,' batinnya.

"Tapi setelah itu mereka melupakanku…" Momoi sweatdrop sekali lagi. Hawa tipis yang Kuroko miliki benar-benar membuat Momoi sedikit kagum, sampai anggota klubnya sendiri melupakannya.

"Bakagami! Gara-gara gerakanmu yang lambat kita jadi kalah!" Sepertinya diseberang sana ada dua orang pemuda yang tengah berantem, Momoi yang menyadari itu langsung menghampirinya, terlihat Kise yang berusaha menengahi dan Murasakibara yang cuek tanda ia tidak peduli dengan mereka dan sibuk memakan snacknya yang sempat ia tunda.

"Bukannya kau yang dari tadi terus mendribble bola dan tidak mengoper padaku! Ahomine!"

"Oi oi… Aomine-cchi, Kagami-cchi… tenanglah, ini kan hanya latihan—ssu!"

"Mine-chin dan Kaga-chin jangan bertengkar, perbedaannya kan hanya 2 poin."

"Dua poin itu sangat penting, tahu!" bentak mereka bersamaan.

"Lain kali aku tidak mau setim dengan si Aho ini," ujar Kagami sambil menunjuk ke arah Aomine. Menyadari hal itu, Aomine menarik kerah baju Kagami dan menatapnya dengan kesal.

"Kau mengajakku berantem, huh?" Kagami menyeringai sambil menarik kerah baju milik Aomine, mereka berdua sama-sama mengeluarkan aura hitam yang membuat Kise mundur beberapa langkah.

"Kagamin, Dai-chan jangan bertengkar!" Momoi berusaha menengahi mereka berdua.

Kagamin?

"Eto—kalian berdua tenanglah—ssu." Kise dan Momoi berusaha menghentikan mereka berdua, tapi apa daya… mereka tidak mendengarkan perkataannya dan sibuk menatap satu sama lain dengan tatapan marah.

"Kagami-kun, Aomine-kun… tenanglah," tiba-tiba Kuroko muncul ditengah-tengah mereka berdua, membuat mereka berdua berteriak dan mundur beberapa langkah.

"Kuroko/Tetsu!" jawab mereka bersamaan. Si pelaku yang dipanggil hanya berdiri sambil menyeruput minumannya.

"Doumo…" ia pun hanya menundukkan kepalanya dengan singkat.

"Kuroko-teme…! Jangan suka mengagetkan orang lain seperti itu!" tangan Kagami dengan santainya melayang di atas kepala Kuroko sambil meremas kepalanya.

"Ittei—Kagami-kun, yamette kudasai…" ucapnya sambil menepis tangan milik si rambut merah hitam itu yang suka meremas kepalanya. Aomine hanya menghela nafas melihat temannya yang suka muncul secara tiba-tiba seperti itu.

"Haaaah… lebih baik aku pulang terlebih dahulu," Aomine pun mulai berjalan kearah bangkunya untuk mengambil tas miliknya, tetapi gerakannya ditangan oleh sebuah tangan yang menarik ujung bajunya.

"Aomine-kun sudah janji akan menemaniku ke toko buku, apa kamu lupa?" Kuroko lah yang menarik ujung baju milik Aomine, membuat ia mendengus pelan.

"Aku tidak jadi ikut, sedang tidak mood gara-gara bakagami!" katanya lagi, Kagami yang mendengar itu dahinya berkedut tanda tidak suka dengan perkataan yang dilontarkan pemuda tan tersebut.

"OI!" teriak Kagami.

"Dan lagi kau kan sudah banyak yang menemani, jadi tidak masalah…" Kuroko menggeleng pelan, lalu kembali menatap Aomine.

"Bukankah Aomine-kun yang bilang kita harus pergi sama-sama dengan semuanya?" ujar Kuroko, membuat Aomine terdiam.

"Aomine-kun seperti anak kecil saja, tidak mau mengaku kalah... ini kan hanya latihan biasa," timpalnya lagi, giliran dahi Aomine yang berkedut mendengar ucapan dari Kuroko.

"Oi...Tetsu!" Aomine menarik pipi Kuroko dengan keras, membuat si pemilik pipi itu meringis kesakitan sambil mengusap pipinya yang memerah.

"Aomine-cchi jangan terlalu kasar dengan Kuroko-cchissu!" kini giliran Kise yang tidak terima melihat perlakuan kasar kepada Kuroko, yah… walaupun hanya mencubit pipinya saja, tapi cubitannya bisa membuat pipi Kuroko memerah.

Aomine terdiam sambil menatap Kagami dengan tatapan kesalnya, selanjutnya ia langsung mendekat ke arah Kagami sambil mengusap lehernya, "Warui…" ujarnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain bermaksud meminta maaf, kenapa ia menjadi tsundere seperti Midorima?

Kagami yang mendengar kata maaf dari Aomine langsung meninju pundaknya dengan pelan sambil tersenyum, "Selanjutnya one on one denganku, dan aku pasti akan mengalahkanmu biar puas," ujar Kagami. Aomine menyeringai saat mendapat ajakan dari temannya.

"He? Bukannya kau yang nantinya akan kalah denganku?" Aomine menyeringai.

"Hm! Aho, sampai sekarang kita masih seimbang. Selanjutnya aku akan benar-benar mengalahkanmu!" Kagami juga menyeringai, tidak mau kalah. Kali ini muncul lah aura berapi-api dari mereka berdua membuat yang lain facepalm.

"Haaaah?! Apa aku tidak salah dengar? Kau akan mengalahkanku? Mimpi!" teriak Aomine sambil mendekatkan wajahnya kearah Kagami.

"Tentu saja aku yang akan menang, mengingat gayamu saat bermain basket seperti anak liar!" teriak Kagami tidak mau kalah. Baru saja mereka berdua baikan, kini mereka malah bertengkar lagi. Dua-duanya benar-benar sangat keras kepala.

"Apa kau bilang? Bukannya gerakan kau yang sangat lambat seperti siput yang menyusahkanku? Apalagi saat aku melihat lompatanmu yang asal-asalan itu!" teriak Aomine semakin menjadi. Kini aura hitam mulai bermunculan di antara mereka berdua, membuat yang lain hanya ber sweatdropria dan menonton pertunjukan yang gratis ini.

"Eto… kenapa mereka menjadi bertengkar lagi—ssu?"

"Entahlah… tapi ini bukan yang pertama kalinya mereka bertengkar~," kata Murasakibara sambil sibuk memakan snacknya.

"Kalau Kagami-kun dan Aomine-kun masih bertengkar, aku tidak mau berteman dengan kalian semua, menyusahkan…" tiba-tiba Kuroko berkata yang membuat mereka berdua terdiam dan memandang Kuroko. Bukan mereka berdua saja, yang lain juga ikut terdiam dan memandang Kuroko yang tengah menyeruput minumannya.

"Eh? K-Kuroko-cchi tidak serius kan?"

"Aku serius."

"Huwaaa… Tetsu-kun jangan seperti itu! Kagamin! Dai-chan! Berhentilah bertengkar seperti anak kecil!" Momoi memasang ekspresi wajahnya dengan kesal.

"Kuro-chin marah… Kaga-chin dan Mine-chin harus bertanggung jawab."

"Kenapa kalian berisik sekali—nodayo," tiba-tiba Midorima datang dari pintu masuk gedung tersebut dan menyilangkan tangannya di dadanya.

"Ah… Midorin…"

"Mido-chin~."

"Midorima-kun, doumo…" ucap Kuroko sambil menundukkan kepalanya, Midorima hanya mengangguk singkat.

"Suara kalian itu sampai terdengar dari luar—nodayo, berhentilah bertengkar seperti anak kecil," ucapnya lagi sambil memandang Kagami serta Aomine yang sekarang sama-sama memalingkan wajahnya kearah lain. Dari mimik mukanya sudah terlihat bahwa mereka masih kesal.

"Ceh!"

"Taiga, Daiki… bisa jelaskan kenapa kalian sangat berisik sampai terdengar dari luar?" tiba-tiba muncul lah sesosok pemuda dari belakang Midorima sambil menatap tajam kearah pemuda berambut merah hitam dan biru tua itu, mereka yang merasakan tatapan pembunuh dari pemilik mata heterochromatic itu pun langsung bergidik ngeri.

'Eh tunggu—dia kan…'

"Akashi-cchi~," panggil Kise dengan senang, melihat pelatihnya sudah hadir. Akashi yang sudah terbiasa dengan sifat Kise memilih untuk tidak terlalu memperdulikannya dan tetap menunggu penjelasan dari dua orang itu.

"Tadi waktu Kagami-cchi dan Aomine-cchi melawan diriku dan Murasakibara-cchi, mereka kalah—ssu… mereka tidak terima dan malah bertengkar—ssu, padahal Kuroko-cchi sudah melerainya tetapi mereka malah bertengkar lagi."

"Oi! Kise!"

"Ki-chan benar, padahal Tetsu-kun sudah susah payah melerai Dai-chan dan Kagamin tetapi mereka malah tetap bertengkar seperti anak kecil," timpal Momoi sambil berkacak pinggang, Aomine langsung mendelik tajam kearah Momoi, tetapi si gadis rambut pink itu sudah biasa dengan tatapan miliknya jadi sudah tidak terpengaruh sama sekali.

"Kuroko? Tetsu? Siapa yang kalian berdua maksud?" Tanya Akashi sambil menopang dagunya—berpikir. Ia jadi penasaran dengan orang yang mereka berdua maksud, karena sejak dari tadi ia tidak merasakan kehadiran orang yang memiliki nama tersebut.

"Oh—Tetsu-kun… loh? Tadi dia ada disampingku?" Momoi yang menyadari bahwa Kuroko menghilang langsung melirik kanan kiri.

"Eh? Kuroko-cchi menghilang lagi—ssu! Jangan-jangan ia beneran marah lalu memilih pergi!" Kise panik kesekian kalinya karena kelakuan Kuroko yang suka menghilang tanpa sebab. Kagami dan Aomine pun sibuk mencarinya dengan mengedarkan pandangnya tetapi hasilnya nihil, sepertinya Kuroko sudah pergi dari tadi.

"Oi, Kagami! Ini semua kesalahanmu!" teriak Aomine, lagi-lagi memulai pertengkaran dengan pemuda yang ada didepannya.

"Ha?! Lagi-lagi kau menyalahkanku! Bukannya kau yang bersikap egois? Sampai menolak ajakan Kuroko padahal kau yang berjanji menemaninya ke toko buku," teriak Kagami. Lagi-lagi mereka berdua bertengkar, membuat orang yang ada disitu menghela nafas.

"Atsushi, hentikan mereka berdua…" perintah Akashi, Murasakibara yang mendengar perintah dari Akashi mau tidak mau langsung melerai mereka berdua dengan cara menarik kerah baju untuk saling menjauh. Merasa tidak terima ditarik kasar, Aomine pun melayangkan protes.

"Oi! Murasakibara—"

"Daiki, Taiga… kalau kalian tetap berisik, maka latihan kalian akan kulipat gandakan," ancam Akashi, membuat dua pemuda itu terdiam dengan sekali ancaman.

"Wakatta yo!"

"Huh! Tetsu-kun menghilang lagi, hari ini kita tidak jadi pulang dengan Tetsu-kun!" Momoi menggembungkan pipinya.

"Kuroko-cchi teganya meninggalkanku sendirian—ssu!" rengek Kise. Tenanglah Kise kau tidak sendirian, masih banyak orang disekelilingmu itu.

Akashi berpikir sebentar, siapa orang yang mereka maksud? Ia berusaha mengingat nama itu… rasanya ia pernah mengenal nama itu di suatu tempat. "Apa orang yang kalian maksud adalah Kuroko Tetsuya?" tanya Akashi sekali lagi, diikuti oleh anggukan Kise dan Momoi. Ternyata ia adalah anak yang pernah ia tolong saat hampir terjatuh dari tangga dan juga yang menabraknya.

"Akashi-cchi kenal dia—ssu?" tanya Kise, Akashi menggeleng, "Tidak, hanya saja aku pernah bertemu dengannya," jawabnya.

"He? Dimana?" tanya Kise penasaran.

"Hm… bukan urusanmu, Ryota," jawabnya membuat Kise menggembungkan pipinya.

"Dia bukan anggota dari klub basket, kan?" tanya Akashi membuat yang lain menggeleng.

"Kuroko bukan anggota dari basket, ia sudah berhenti sejak SMP… katanya," timpal Kagami.

"Benar—ssu, saat ini aku berusaha mengajaknya bermain, aku penasaran dengan skill yang ia miliki," kata si pemuda pirang itu.

"Oh…"

"Mungkin kalau Akashi-cchi melihatnya, Akashi-cchi akan penasaran dengannya—dia juga suka muncul tiba-tiba—ssu." Momoi ikutan mengangguk.

"Kuro-chin suka memakai sihirnya~," kata si tinggi itu sambil tetap mengunyah snacknya.

"Sihir?" Akashi mengernyitkan alisnya. Menurut ia sangat mustahil jika ada orang yang memiliki sihir seperti itu, ini bukan dunia fantasy atau semacamnya. Murasakibara hanya terlalu mengada-ada.

"Anak itu suka muncul dan hilang secara tiba-tiba—nodayo."

"Tetsu itu seperti hantu…" kata Aomine dengan nada seram, si Kagami langsung menjitak kepala Aomine membuatnya meringis pelan, ia tidak terima kalau temannya dikatai hantu, padahal terkadang ia sendiri juga suka pikir kalau Kuroko itu seperti hantu. "Oi, Bakagami! Kenapa kau menjitakku?" Kagami hanya menggidikkan bahunya, si pemuda tan hanya menggeram.

"Buktinya sekarang Tetsu-kun hilang mendadak lagi," Momoi menggembungkan pipinya.

"Dai-chan dan Kagamin nanti harus meminta maaf dengan Tetsu-kun," katanya lagi diikuti dengan wajah protes dari mereka berdua seolah berkata kenapa-harus-aku? Memang-aku-salah-apa? Duh... mereka berdua ini pura-pura bodoh atau bagaimana ya? Jelas-jelas mereka berdua yang salah karena membuat Kuroko marah.

Akashi yang melihat pertengkaran kecil dari murid-muridnya itu hanya menghela nafas. Ia langsung memutar balik badannya dan berjalan ke arah pintu gedung, sebelum ia menapakkan kakinya ke depan pintu tersebut ia berpesan kepada murid-muridnya yang ada disitu.

"Shintarou jangan lupa kunci pintunya, dan kalian semua—" Akashi terdiam sebentar, "Jika kalian masih betah berada di sini, besok aku akan menambahkan menu latihan kalian biar kalian puas dan tidak berusaha mengambil kunci pintu gedung ini dengan seenaknya dari ruang klub basket tanpa sepengetahuan dariku," ucap Akashi dengan menolehkan kepalanya ke belakang lalu melemparkan tatapan yang tajam, semuanya langsung bergidik ngeri kecuali Murasakibara yang sibuk dengan snacknya.

"Aomine-cchi yang mengambil kunci itu—ssu," kata Kise sambil menunjuk ke Aomine.

"Oi! Yang mengusulkan ide terlebih dahulu itu kau kan, Kise?!" Aomine tidak terima dituduh seperti itu.

"Err—kapan ya?" Kise menggarukkan pipinya sambil bersiul membuat si pemuda tan itu geram lalu menjepit kepala si pirang itu di ketiaknya.

"Itte-te-te! Aomine-cchi, sakit!"

"Rasakan ini!" Akashi yang tidak memperdulikan itu semua langsung melangkahkan kakinya menjauhi gedung tersebut, setelah Akashi hilang dari pandangan mereka semua, mereka pun langsung menghela nafas lega.

"Kalau begitu ayo kita pulang, aku tidak mau kalau besok porsi latihanku ditambah gara-gara kalian—nanodayo!" kata Midorima sambil mengambil tas nya yang berada dibangku tersebut, ia tidak terima kalau ia ikut terlibat gara-gara temannya, padahal ia sendiri tidak ikut bermain. Sedangkan yang lain pun mengikuti dari belakang yang juga mengambil tas-tasnya.

"Akashi-cchi lagi badmood ya—ssu? Dia mengeluarkan aura yang membuatku merinding," katanya sambil mengusap lengannya.

"Ini gara-gara kalian mengambil kunci gedung dengan seenaknya saja—nodayo," timpal Midorima sambil membetulkan kacamatanya yang hampir merosot.

"Tetsu-kun sudah pergi… huh!" Momoi menggembungkan pipinya, ia masih kesal karena Kuroko seenaknya menghilang begitu saja.

"Kuroko-teme… pergi begitu saja, besok akan kuremaskan kepalanya." Kagami menggepal tangannya, ia sudah merasa gatal ingin meremas kepalanya.

"Kagami-cchi jangan kasar kepada Kuroko-cchi!"

"Kalian memanggilku?" kini Kuroko muncul lagi dari diantara mereka semua membuat mereka terkejut karena kehadirannya.

"Tetsu-kun!"

"Kuro-chin dari mana saja?"

"Membuang sampah… minumanku sudah habis," katanya dengan nada tenang. Padahal disisi lain ia bermaksud menghindar dari orang yang bernama Akashi, ia hanya tidak biasa jika berhadapan dengan orang yang tatapannya setajam pisau dan auranya yang terasa mengerikan.

"Lama sekali?" Aomine bertanya kepada Kuroko, tetapi orang yang ditanya malah memilih diam, tidak mungkin ia mengatakan bahwa entah kenapa ia sengaja menghindar dari pelatih mereka.

"Kuroko-cchi~ aku senang kau tidak meninggalkanku~." Kise pun langsung memeluk Kuroko begitu erat membuatnya lagi-lagi menahan nafasnya.

"Oi, Kise! Kau membuat Kuroko sesak nafas!" protes Kagami sambil menarik kerah baju Kise supaya ia melepaskan pelukannya dari Kuroko.

"Huwaaa! Kagami-cchi lepaskan!" Kise meronta dari genggaman Kagami, membuat si pemuda berambut merah hitam itu melepaskannya.

"Sudahlah—nodayo, kalau kita tidak cepat pergi dari sini, besok Akashi-sensei akan menambahkan porsi latihan kita semua!"

"Kalau begitu ayo kita ke toko buku untuk menemani, Tetsu-kun…" kata Momoi sambil menarik lengan Kuroko dan berjalan mendahului mereka. "Tunggu, Kuroko-cchi, Momoi-cchi!" Kise pun berlari kecil menyusul mereka berdua.

"Aku mau ke mini market juga~." Mereka semua pun langsung melesat pergi dan mengikuti Momoi serta Kuroko dari belakang.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Kuroko merebahkan dirinya dikasur yang empuk, ia lelah. Setelah berkali-kali diseret kesana kemari, padahal tujuan dia hanya ke toko buku untuk membeli buku bacaannya yang keluaran terbaru, ia tidak tahu bahwa setelah dari toko buku itu ia akan diseret untuk pergi ke mini market menemani Murasakibara belanja snacknya dan mampir ke Maji Burger untuk sekedar membeli makan malam dan mengobrol.

Kuroko juga tidak bisa memakai jurus andalannya, mengingat Kise yang terus merangkul pundaknya dan Momoi yang memeluk lengannya dengan erat, sungguh… ia lelah dengan sifat mereka berdua yang selalu menempel dengannya setiap hari.

Tiba-tiba hp Kuroko bergetar membuat sang pemilik langsung mengambil hpnya, ia sudah tahu jelas siapa yang akan mengirimkan pesan kepadanya jika malam sudah tiba.

[ From : Ogiwara-kun

Kuroko? Bagaimana kabarmu hari ini? Ah! Kau pasti baik-baik saja! Saat ini aku sedang merasa bahagia… kau mau tahu apa yang sedang ku gembirakan? Jika penasaran, harap membalas pesanku! :D ]

Kuroko tersenyum geli, sepertinya ia percaya diri sekali jika ia akan membalas pesannya karena rasa penasarannya terhadap Ogiwara.

[ To : Ogiwara-kun

Konbanwa… aku baik-baik saja, Ogiwara-kun sendiri bagaimana kabarnya disana? Dan aku tidak penasaran dengan apa yang Ogiwara-kun rasakan, pasti soal basket lagi.]

Kuroko langsung menekan tombol send dan menit berikutnya ia merasakan hpnya bergetar kembali.

[ From : Ogiwara-kun

Hahahaha… seperti biasa, Kuroko tahu semua tentangku. tapi yang ini berbeda… entah kenapa aku sangat merasa senang sampai-sampai seharian ini aku tersenyum sendiri!]

Kuroko langsung membalas pesan tersebut, jujur saja… sekarang ia mulai penasaran dengan Ogiwara yang sedang bahagia sampai seperti itu.

[ To : Ogiwara-kun

Baiklah, Aku menyerah… Ogiwara-kun, bisakah kamu memberitahukan hal apa yang Ogiwara-kun senangi sampai harus tersenyum-senyum sendiri? ]

Tidak perlu menunggu lama sampai Ogiwara membalas pesannya kembali, Kuroko pun langsung membuka pesan tersebut.

[ From : Ogiwara-kun

Sekarang aku sudah berhasil masuk ke tim inti basket disekolahku ini, Kuroko! Para senpai telah menyadari bakatku hehehe, sekarang aku tidak perlu duduk di bangku cadangan lagi. Aku sangat senang apalagi jika bertemu denganmu dan melawanmu, aku rindu saat kita bermain basket seperti dulu, mengingat kau tiba-tiba berhenti waktu sudah kelas 3. Kuharap disekolahmu sana kau masuk ke tim basket lagi! :) ]

Kuroko langsung ikut senang saat membaca pesan dari sahabatnya itu, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya sekarang telah bermain di tim inti, mengingat Ogiwara sangat terobsesi dengan permainan basket. Di sisi lain, Kuroko terdiam membaca pesannya. Sebenarnya ia ingin bermain basket seperti dulu lagi, tetapi Kuroko tidak bisa... ia sudah tidak ada feel untuk bermain permainan tersebut.

[ To: Ogiwara-kun

Maaf, Ogiwara-kun… tetapi di SMA ini, aku tidak masuk ke klub basket… aku masuk ke klub sastra, sepertinya aku akan menghabiskan waktuku untuk membaca buku daripada bermain basket. Hanya dengan menontonmu dari kursi penonton saja sudah membuatku senang, oh ya! Di sekolahku ada beberapa pemain basket yang berbakat sepertimu, kuharap kau melawannya saat pertandingan telah tiba. Mereka pasti juga akan semangat jika menemukan lawan yang tangguh sepertimu.]

Kuroko sadar… baru kali ini ia mengetik pesan yang sangat panjang ke sahabatnya, mungkin sahabatnya akan terheran-heran melihat pesannya yang lumayan panjang itu.

[ From : Ogiwara-kun

Kenapa, Kuroko? Kau tidak seperti dulu yang tidak gampang menyerah dan keras kepala jika menyangkut soal basket. Sampai sekarang aku penasaran denganmu yang tiba-tiba ingin berhenti bermain basket saat kita sama-sama naik kelas 3, Aku berpikir kau mempunyai alasan lain yang tidak bisa kau ceritakan dan kuharap kau akan menceritakannya padaku suatu hari nanti. Tetapi untuk sekarang aku tidak akan memaksamu untuk masuk ke klub basket, tapi jika kau berubah pikiran… jangan segan-segan mendaftarkan dirimu dan aku akan menunggumu saat pertandingan telah tiba.]

Kuroko hanya tersenyum tipis saat membaca pesan dari sahabatnya, untuk saat ini dia belum bisa menceritakan kepada siapa-siapa alasan sebenarnya kenapa dia berhenti dari klub basket.

[ To: Ogiwara-kun

Ha'i… Kuharap kau tidak akan mati kebosanan menungguku yang akan berubah pikiran untuk masuk ke klub basket, Ogiwara-kun. ]

Tiba-tiba ada balasan dari Ogiwara setelah semenit ia mengirimkan pesannya kepada sahabatnya itu, cepat juga.

[ From : Ogiwara-kun

Hahaha aku tidak akan mati kebosanan karena aku percaya kau pasti akan berubah pikiran, Kuroko. Oh ya… apa disana kau sudah mempunyai banyak teman? Atau kau masih tetap memakai jurus andalanmu untuk menghilang kesana kemari. Mengingat hal itu, aku yang sudah tiga tahun bersamamu masih tidak terlalu biasa dengan hawa tipismu itu, Kuroko. Kuharap kau tidak menakuti para murid lain atau tidak di cap sebagai penunggu disekolah sana. :p ]

Kuroko yang mendapatkan pesan dari sahabatnya hanya merenggut kesal.

[ To : Ogiwara-kun

Percaya diri sekali, Ogiwara-kun. Hm… bisa dibilang aku mempunyai teman baru, tetapi hampir dari mereka semua memiliki sifat yang aneh dan unik, aku tidak terbiasa berhadapan dengan mereka jadi aku lebih memilih sering kabur dari mereka. Tetapi, mereka suka sekali mencegatku dan menyeretku kesana kemari sehingga sekarang aku memilih diam dan pasrah. ]

Kuroko langsung menekan tombol send.

[ From : Ogiwara-kun

Hahaha… aku jadi ingin melihat wajahmu yang pasrah itu, Kuroko. Tidak seperti biasanya kau menyerah begitu saja… tetapi tidak apa, aku sangat senang jika kau mempunyai teman disana. Aku sempat khawatir tadinya jikalau kau tidak mempunyai teman satu pun disana, andaikan saja aku diperbolehkan pindah kesana dan tinggal sendiri, maka kita sudah satu sekolah dan aku juga pasti akan menyeretmu masuk ke klub basket dengan paksa, Kuroko. ]

Kuroko yang membaca itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, untungnya ia tidak satu sekolah dengannya mengingat Ogiwara pasti akan terus menyeretnya hingga ia masuk ke klub basket. Tapi tanpa Ogiwara disini pun, ia merasa bahwa ia juga sedang dipaksa masuk ke klub basket oleh teman-teman barunya. Kenapa mereka sangat ingin menyeret Kuroko untuk bergabung ke klub basket? Padahal berkali-kali Kuroko menolaknya dengan cara apapun tetapi mereka tetap saja mengajaknya dan alasan mereka penasaran dengan skill yang Kuroko miliki.

Yah… perlu diketahui, Kuroko memiliki skill yang terbilang kuat tetapi sayangnya, Kuroko tidak mengembangkan skill yang ia miliki karena sudah terlanjur berhenti dari tim basket, hanya Ogiwara dan teman setim nya sewaktu SMP yang tahu skill yang ia miliki.

"Tetsu-kun? Ayo kita makan malam, Kaa-san sudah selesai memasak dan Kaa-san juga membuat minuman kesukaanmu." Tiba-tiba ibunya mengetuk pintunya dengan pelan lalu masuk kekamar Kuroko yang tengah berbaring di atas kasurnya.

"Baik, Kaa-san… aku akan kesana sebentar lagi," ujarnya. Ibunya pun langsung tersenyum dan menutup pintu kamarnya dengan pelan.

Kuroko langsung membalas pesan kepada sahabatnya yang disana.

[ To : Ogiwara-kun

Terimakasih karena sudah menghawatirkanku, Ogiwara-kun… tetapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Ah! Aku sudah dipanggil Kaa-san untuk makan malam, kau juga jangan sampai lupa makan ya, Ogiwara-kunJaa ne. ]

Kuroko meletakkan hpnya diatas meja belajarnya, lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Saat ini… Kuroko serta teman-temannya sedang sibuk duduk di taman belakang gedung sekolah sambil memakan bekalnya masing-masing. Seperti biasa, Kuroko selalu memakan roti vanilla yang ia sukai dengan minuman kesukaannya—vanilla milkshake.

"Kagami-cchi hari ini membawa bekal yang terlihat menggiurkan—ssu, apakah ibumu yang membuatkannya?" kata Kise sambil melirik bekal yang ia makan dengan lahap.

"Tidak."

"He? Lalu siapa yang membuatkanmu bekal, apakah ia pacarmu?" tanya Kise sekali lagi, penasaran.

"Kaga-chin boleh aku meminta telur gulungmu? Sepertinya enak~," Murasakibara mengelap ilernya saat melihat makanan Kagami yang terlihat menggiurkan, Kagami yang tahu itu menyodorkan bekalnya kepada Murasakibara yang dengan senang hati melahap dua telur gulungnya sekaligus.

"Enak~."

"Kagami-cchi jawab pertanyaanku—ssu!" Kise merasa tidak senang diabaikan.

"Oh… ini aku yang buat sendiri," kata Kagami dengan tenang. Kise mengerjapkan matanya tidak percaya.

"BOHONG!" teriak Kise tidak percaya, Aomine yang ada disampingnya hanya menutup telinganya.

"Itu benar, karena aku tinggal sendiri jadi aku harus mengurus keperluanku sendiri," ujarnya lagi.

"Orang tua Kaga-chin dimana?"

"Di Amerika."

"Woa... pantas saja logat englishmu masih kental, Kagami-cchi! Ternyata kau pindahan dari Amerika," ujar Kise lagi.

"Sugoi, Kaga-chin~."

"Kagamin bolehkah kau mengajariku? Kau belum pernah sekalipun mengajariku memasak. Nanti aku ingin membuatkan bekal untuk Tetsu-kun dan yang lainnya," kata Momoi dengan mata berbinar-binar, Aomine yang mendengar hal itu langsung bergidik ngeri. Sepertinya ia harus menjauhkan Kagami untuk sementara waktu agar Momoi melupakan tujuannya untuk belajar memasak.

"Boleh saja, tapi aku ini guru yang tegas loh…" katanya lagi sambil tersenyum bangga.

"Momoi-cchi mau membuatkan kami bekal? Sepertinya bukan ide yang buruk—ssu! Aku belum pernah merasakan masakanmu," kata Kise dengan senang.

"Sat-chin… aku juga mau dibuatkan~," timpal Murasakibara. Sedangkan, Midorima yang juga berada disitu hanya terdiam sambil tetap memakan makanannya begitu pula halnya dengan Kuroko.

"Oi, Satsuki! Kau mau membuat kami semua jadi kelinci percobaan, huh?" tiba-tiba Aomine membuka suaranya, Momoi yang mendengar hal itu langsung menatap tajam ke pemuda tan itu, tetapi yang ditatap terlihat biasa saja.

"Lebih baik kau jangan mengajari Satsuki, Kagami… bisa-bisa kau pingsan saat mencoba masakannya, masakannya benar-benar luar biasa mematikan," lanjutnya lagi sambil meminum jus. Momoi yang mendengar itu pun langsung panas kupingnya. Yang lain? Hanya menatap dengan wajah bertanya. Maksudnya mematikan apa ya?

"Dai-chan! Berhenti menjelekkan masakanku! Aku juga pasti akan bisa memasak kalau yang mengajari adalah Kagamin," katanya lagi dengan kesal.

"Mau siapapun yang mengajarimu tetap saja hasilnya tidak akan baik," jawab Aomine, membuat si gadis pink itu terlihat sangat kesal.

"Eto—Aomine-cchi jangan terlalu kasar dengan perempuan—ssu." Kise berusaha menengahi mereka berdua, Momoi yang sudah terlihat ingin menangis kini langsung berlari memeluk Kuroko.

"Tetsu-kun, huwaaaaaa! Dai-chan jahat, hiks! Padahal aku sangat berniat untuk belajar masak, hiks…!" teriak Momoi sambil menangis dipelukan Kuroko, Kuroko yang sedikit kaget dengan tingkah Momoi tiba-tiba hanya menghela nafas dan mengelus rambut Momoi agar ia kembali tenang.

"Aomine-kun, kau sangat kasar kepada perempuan," ujar Kuroko dengan wajah datar sembari mengelus kepala Momoi agar gadis yang memeluknya ini berhenti menangis.

"Oi—apa yang kukatakan itu benar! Dan kau Satsuki, berhenti berpura-pura menangis!" ujar Aomine tidak terima. Ia hapal betul bahwa teman kecilnya ini hanya berpura-pura menangis.

"Huwaaaa! Tetsu-kun! Hiks…" teriak Momoi, membuat Kuroko tetap mengelus kepala si gadis berambut pink itu dengan halus.

"Mine-chin harus meminta maaf kepada Sat-chin."

"Sepertinya keberuntungan untuk zodiak Virgo berada diurutan terbawah—nodayo."

"Ck! Baiklah, sesuka hatimu saja… Satsuki." Aomine mengalah ia memilih untuk diam daripada ia semakin di ceramahi oleh teman-temannya karena membuat seorang perempuan menangis.

Momoi yang mendengar itu kembali tersenyum dan berhenti menangis, ia pun langsung menghampiri Kagami, "Ne… Kagamin, janji akan mengajariku memasak ya?" kata Momoi diikuti oleh anggukan setuju dari Kagami. Sedangkan Aomine hanya menepuk jidatnya dengan pelan, ia juga tidak berhasil memperingati teman-temannya untuk tidak memakan masakan Momoi yang terbilang luar biasa itu.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Hari sudah semakin sore, terlihat di atas langit sudah berubah menjadi gelap. Sekolah pun sudah sangat sepi mengingat sekitar satu jam lalu bel pulang sudah berbunyi, membuat para murid Teiko berhamburan keluar untuk pulang kerumahnya masing-masing. Tapi tidak dengan Kuroko, ia baru saja menyelesaikan rapat klubnya walau ia disana juga dilupakan oleh anggota-anggotanya, jadi… untuk pertama kalinya, Kuroko tidak pulang bersama teman-temannya karena saat teman-temannya ingin menunggunya, Kuroko menolak halus dan mengatakan bahwa mereka bisa pulang terlebih dahulu tanpa menunggunya. Teman-temannya yang tadinya memaksa untuk tetap menunggunya, kini berhasil menuruti perkataan Kuroko. Dan mereka pun mau tidak mau bergegas untuk pulang kerumah. Walau Kuroko sendiri sebenarnya tidak keberatan ditinggal sendiri seperti ini, ia sudah biasa.

Sekarang ini Kuroko hanya berdiam diri didepan pintu masuk sekolahnya, kenapa ia tidak segera pulang? Kuroko hanya menghela nafas melihat air yang terus turun membasahi pepohonan dan dedaunan disekitar sekolahnya itu, tanah yang tadinya kering kini menjadi basah diguyur oleh air tersebut. Oh rupanya Kuroko sedang berteduh dari yang namanya hujan, ia terpaksa menunggu hujan sampai berhenti karena tidak membawa payung, padahal saat jam istirahat makan… cuacanya sangat cerah.

Kuroko merutuki dirinya sendiri karena tidak membawa payung, padahal ia sudah membaca berita cuaca untuk hari ini bahwa diprediksi akan terjadinya hujan, tetapi Kuroko malah mengacuhkannya dan tidak membawa payungnya. Haaah… sungguh, Kuroko sangat menyesal.

Bukannya berhenti, hujannya malah semakin lebat… ditambah lagi langit yang sudah mulai gelap karena ketutup oleh awan hitam, ia tidak mungkin berlama-lama berteduh disini. Apalagi hawa yang sudah semakin dingin membuatnya tambah menggigil padahal ia memakai jaket.

Kuroko yang tidak tahan dengan hawa yang dingin itu, mau tidak mau ia harus mencari payung yang nganggur, ia pun masuk lagi kedalam sekolah menuju tempat loker penyimpanan sepatu, di sana ada tempat untuk menaruh payung dan biasanya seseorang pasti akan ada yang meninggalkan payungnya di sana. Sibuk mencari sana sini, Kuroko akhirnya menemukan apa yang ia cari—sebuah payung bewarna putih bening, ia pun merasa bahwa dewa keberuntungan sedang berada dipihaknya. Tidak perlu menunggu lama, Kuroko langsung mengambil payung tersebut dan membukanya. Ia pun langsung berjalan menerobos hujan tanpa takut kebasahan. Ah… ingatkan Kuroko untuk berterimakasih kepada seseorang yang meninggalkan payungnya di sana, ia juga akan mengembalikan payung tersebut esok harinya.

Kuroko menapakkan kakinya di jalan yang basah, hujan yang tadinya begitu deras, kini menjadi sedikit reda… Kuroko berjalan pelan melewati genangan-genangan air sambil membaca buku tentunya. Tidak hujan tidak panas, Kuroko selalu menyempatkan dirinya untuk membaca buku nya itu. Sebegitu cintanya kah Kuroko kepada buku-bukunya? Jawabannya—iya.

Saat Kuroko sibuk membaca bukunya, tanpa disadari matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya dan membuatnya penasaran.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Akashi melempar kaleng coffee kosong ke tong sampah terdekat dengan bangkunya, sebelum melempar ia meremas kaleng itu dengan kasar menandakan bahwa ia sedang sangat kesal, ia tidak peduli air hujan yang membasahi kepala dan badannya hingga basah kuyup. Sekarang ini ia sangat kesal kepada orang tuanya—lebih tepat ayahnya, ia merogoh hpnya dari sakunya yang kini bergetar pelan. Ditatap hpnya itu dengan wajah dinginnya, ada panggilan dari ayahnya—saat ini ia sedang tidak ingin mengangkat dan berbicara dengan ayahnya. Ia sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan ayahnya saat ia mengangkat telepon itu.

Akashi merasa ia sudah malas menjabat menjadi direktur disekolah yang ayahnya tunjuk, ia lebih ingin menjadi pelatih di klub basket daripada mendapatkan jabatan tinggi yang sungguh menyusahkan itu. Walau saat ini Akashi menjadi pelatih di sekolah itu, tetap saja ia menjadi tidak fokus jika mengurus hal sekaligus. Karena ayahnya sangat keras kepala itulah yang membuatnya menjadi direktur termuda di sekolahnya. Bayangkan saja, Akashi baru berumur 21 tahun… dimana saat umur segitu masih disibukkan dengan berbagai tugas-tugas kuliah. Tetapi karena otak Akashi yang sudah terlewat jenius, ia berhasil tamat kuliah terlebih dahulu dibandingkan orang pada umumnya.

Akashi membanting hpnya yang terus bergetar tanpa henti membuatnya geram. Hp itu ia banting ke tanah hingga layarnya yang tadinya hidup langsung mati, sengaja memang… supaya ia tidak di telepon berkali-kali oleh sang ayah. Akashi menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya berusaha menenangkan dirinya yang sedang dilanda emosi. Baju dan celananya yang sudah sangat basah membuatnya sedikit kedinginan.

"Anosumimasen." tiba-tiba suara menginterupsinya membuat ia mendongakkan kepalanya ke atas, mata heterochromatic bertemu mata biru langit. Saat ini pemuda didepannya itu memayunginya agar ia tidak terkena air hujan lagi. Akashi tidak terkejut dengan kedatangan pemuda itu, ia hanya menatapnya dengan wajah dinginnya dan dibalas tatapan datar.

"Sensei… kalau anda terus berada disini, anda bisa sakit…" katanya lagi, membuat Akashi itu mendengus pelan. Sakit? Kata itu tidak ada didalam kamus Akashi Seijuuro, ia tidak akan gampang sakit hanya karena hujan yang seperti ini.

Pemuda yang memayungi itu menghela nafas melihat Akashi hanya terdiam dan menatapnya dengan tatapan tajam, seolah mengatakan bukan-urusanmu-lebih-baik-kau-pergi-saja.

"Sensei… jika anda tidak keberatan, saya akan meminjamkan payung ini agar sensei secepatnya pulang kerumah," katanya lagi. Kini dahi Akashi berkerut, kenapa orang ini sangat peduli dengannya? Yah… namanya juga Akashi Seijuuro, pasti banyak orang yang akan memperdulikannya.

"Tidak butuh," jawabnya dengan ketus. Ia tidak butuh belas kasihan dari orang lain.

"Frustasi boleh asal jangan disini, sensei... ini tempat umum." Kata-kata yang barusan diucapkan oleh Kuroko terdengar seperti larangan baginya, maksudnya... si Akashi tidak boleh marah-marah gak jelas disini, entar kalau ada orang yang lewat disangkanya itu orang gila—ups!

"Bukan urusanmu, anak kecil sepertimu tidak pantas menasehatiku." Akashi dongkol disaat ia lagi badmood malah ada orang yang bikin dia tambah badmood, untung dia tidak melempar sebuah gunting ke orang yang dihadapannya karena sekarang ia sedang tidak membawa gunting, beruntunglah kau Kuroko.

Giliran Kuroko yang dongkol saat ia mendengar kata anak kecil yang keluar dari mulut si surai merah, padahal Kuroko udah niat nolongin dia malah dikata-katai. Kau juga Kuroko... niat nolongin orang tapi malah bikin orang itu tambah badmood.

Kuroko memutar bola matanya, "Anda adalah orang keras kepala yang saya temui, sensei…" pemuda yang kita ketahui bernama Kuroko itu langsung duduk disebelah Akashi sambil memayungi dirinya dan Akashi agar tidak kebasahan, membuat Akashi semakin terheran-heran dengan tingkahnya.

"Kenapa kau malah duduk disini?" tanyanya, membuat Kuroko menolehkan kepalanya ke kiri.

"Menemani sensei… sepertinya sensei sedang dalam masalah yang serius sampai harus membanting hpnya ke tanah," katanya lagi dengan wajah yang datar sambil melirik hp Akashi yang tergeletak tidak berdosa di atas tanah. Kuroko merasa kasihan melihat hpnya bukan orangnya, lebih baik hpnya buat dia saja... biar dia punya dua hp. Duh, Kuroko... kau ini sebenarnya niat nolongin orang gak sih?

'Seharusnya aku tidak usah peduli dengannya dan langsung pulang kerumah,' batin Kuroko sambil menghela nafas pelan, karena saat perjalanan pulang tidak sengaja ia melihat Akashi tengah duduk di bangku dan bajunya yang sudah basah kuyup, oh ayolah... sebagai anak didikan dari orang tua yang baik ia tidak bisa membiarkan orang yang terlihat sedang putus asa atau dalam kesulitan, tentunya ada rasa ingin menolong.

Walau tadi Kuroko sempat bersumpah bahwa ia tidak mau berurusan dengan orang yang bernama Akashi Seijuuro. Tetapi, niat jeleknya tadi langsung ia hapuskan melihat Akashi yang sepertinya sedang frustasi, mau tak mau ia melangkahkan kakinya mendekat dan bermaksud memayunginya agar hujan tidak lagi membasahi si pemuda bersurai merah itu.

"Ho..." Akashi hanya merespon singkat.

"Ah, saya tidak akan bertanya masalah apa yang sedang sensei alami karena itu bukan urusan saya," timpalnya lagi membuat Akashi terdiam beribu bahasa, bukan urusan katanya—eh? Kalau begitu ngapain ia repot-repot duduk disampingnya dan memayunginya?

Saat itu juga mata Akashi menangkap sesuatu dibalik jaket pemuda itu, ada sesuatu yang menonjol di bagian perut dibalik jaket itu, pemuda itu pun juga dari tadi memegang perutnya seolah ada sesuatu didalam jaket itu. Kuroko yang melihat Akashi sedang menatap perutnya pun berdehem, "Ano… aku memungutnya sewaktu berjalan pulang," katanya seolah ia bisa membaca pemikiran pemuda berambut merah itu. Tanpa aba-aba, Kuroko membuka resleting jaketnya hingga menampilkan sesuatu yang berbulu—tunggu berbulu?

Akashi langsung tahu apa itu saat melihat apa yang pemuda ini simpan, sebuah anjing kecil dengan bulu hitam putih yang terlihat bulu-bulunya sedikit basah karena terkena air hujan, anjing itu tengah tertidur tenang di balik jaket tersebut, Kuroko langsung mengelus badannya dengan pelan membuat anjing itu menggeliat kecil.

"Kenapa kau tidak segera membawanya pulang?" tanya Akashi sambil melihat anjing itu yang masih tertidur dengan lelap.

"Em… saya tidak bisa membawanya pulang," kata Kuroko dengan nada ragu, Akashi hanya menatapnya dengan tanda tanya.

"Kalau begitu kenapa memungutnya?" tanyanya lagi.

"Saya tidak bisa meninggalkannya, sepertinya ia dibuang oleh majikannya… tetapi saya tidak bisa membawanya pulang karena ibu saya alergi terhadap hewan yang berbulu," kata Kuroko sambil tetap mengelus badan anjing itu.

"Jadi… kau ingin membawanya kemana?" mendengar pertanyaan dari Akashi, Kuroko hanya menggeleng pelan tanda ia tidak tahu.

"Dasar…" Akashi langsung berdiri dari bangkunya lalu mengambil hpnya yang sempat ia abaikan, sang pemuda bersurai biru muda hanya menatap gerak geriknya saja.

"Kemarilah… Apartemenku berada di dekat sini, kalau kau terus saja berdiam diri sini, anjing itu akan mati kedinginan." Ia pun langsung berjalan tanpa memperdulikan Kuroko yang masih duduk dibangkunya sambil tetap memegang payungnya dan memeluk anjing kecil itu. Kuroko sedikit kaget saat menyadari Akashi menawarinya untuk singgah ketempatnya, tapi mau tidak mau ia harus mengikutinya demi keselamatan anjing ini. Ia pun langsung mengikuti Akashi dari belakang.

Ternyata Akashi Seijuuro tidak seburuk yang ia pikirkan.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Kuroko mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang Akashi berikan padanya, ia pun juga mengusap bulu anjing yang basah itu dengan sebuah handuk. Menyadari perlakuan Kuroko terhadapnya, anjing itu pun langsung bergerak kesana kemari dan bermanja-manja dengan Kuroko, membuat si pemuda bersurai biru muda itu tersenyum tipis.

"Berikan dia susu hangat," Akashi meletakkan piring yang berisi susu hangat didepan anjing tersebut, Kuroko langsung mengangkat anjing kecil itu ke depan piring yang berisi kan susu hangat dan menyuruhnya untuk minum. Anjing itu pun menurut, lalu mulai meminum susu hangat itu dengan pelan.

"Kau juga… ganti bajumu," Akashi melempar kemeja putihnya ke Kuroko, lalu ia pun berjalan ke sofa miliknya sambil meletakkan dua cangkir yang berisi teh hangat. Sepertinya Akashi sudah terlebih dahulu mengganti bajunya yang basah dengan yang baru, terlihat ada sebuah handuk kecil yang melilit di lehernya. Ia pun mengusap rambutnya yang basah dengan handuk yang melingkar di lehernya.

"Arigatou, sensei…" kata Kuroko. Ia pun segera pergi ke kamar mandi terdekat untuk mengganti bajunya yang sedikit basah karena terkena air hujan saat ia sempat memayungi sensei nya itu. pemuda yang memiliki mata heterochromatic itu hanya memandangnya sembari meminum teh nya yang masih hangat.

Tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengganti bajunya, Kuroko pun langsung keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat Akashi dan anjing kecilnya itu berada. Anjingnya yang melihat Kuroko tengah berjalan mendekatinya langsung menghampirinya dan mengelilingi kakinya. Kuroko pun berjongkok lalu mengelus kepala anjing kecil itu dengan pelan. Akashi hanya melihat mereka, lebih tepatnya ia melihat baju yang Kuroko pakai—cukup kebesaran untuknya.

"Ah, sensei… terimakasih telah meminjamkan saya baju, besok akan saya kembalikan…" ujarnya saat ia merasa sedang di tatap oleh Akashi, sepasang mata heterochromatic hanya terdiam.

"Ano, sensei… apa sensei tinggal sendirian?" tanya Kuroko sambil mengedarkan pandangannya melihat apartementnya yang cukup luas, ia penasaran kenapa orang yang terbilang kaya ini malah tinggal sendirian di apartemen, walaupun apartemen ini terbilang mahal harganya. Mengingat tempatnya juga sangat strategis.

"Rumah dan orang tuaku berada di Tokyo," kata Akashi dengan singkat, Kuroko mengangguk paham seakan mengerti. Lalu kembali mengelus kepala anjing kecil itu membuat anjing kecil itu menggeliat senang.

"Jika kau menyayanginya maka ia akan semakin susah dibuang," sebuah suara menghentikan aktifitasnya, membuat Kuroko menolehkan kepalanya dan menatap pemuda berambut merah itu yang sedang menyeruput teh hangatnya.

"Ah… benar juga," katanya sambil berbalik menatap anjing kecil itu yang tengah duduk didepannya.

"Jadi? Akan kau apa kan anjing itu?" tanyanya lagi, Kuroko menggeleng pelan. Ia tidak tahu mau di kemana kan anjing ini, Kuroko merasa tidak tega jika ia membuangnya lagi. Kuroko hanya terdiam sambil tetap mengelus kepala anjing itu, Akashi yang melihat itu juga menatapnya dalam diam.

"Lebih baik kau minum terlebih dahulu teh yang sudah kubuat," katanya. Kuroko langsung menolehkan kepalanya menatap cangkir yang ada di meja dekat Akashi duduk. Ia pun beranjak lalu mengambil secangkir teh yang ada dimeja tersebut, dia pun langsung duduk di sofa dan meminumnya dengan pelan.

"Arigatou, sensei..."

"Guk!" Tiba-tiba anjing itu melompat ke atas sofa dan berjalan mendekati Akashi lalu ia pun mengusapkan badannya ke pinggang Akashi, anjing itu pun langsung naik ke paha Akashi dan tidur disitu dengan tenang. Melihat tingkah manja dari anjing tersebut membuatnya mengernyit heran, karena selama ini Akashi belum pernah mendapat perlakuan seperti ini apalagi memelihara hewan.

"Tidak sopan…" gumamnya saat ia melihat anjing itu tengah berbaring di atas pahanya seolah anjing kecil itu merasa nyaman.

"Bukan tidak sopan, tetapi ia hanya ingin berterimakasih kepada sensei karena telah menolongnya," Kuroko membuka suaranya, sepasang mata heterochromatic hanya menatapnya dalam diam.

"Bukankah kau yang menolongnya?" Kuroko menggeleng pelan. "Saya hanya memungutnya, sensei…"

"Sepertinya setelah hujan telah berhenti, mungkin saya akan menaruhnya kembali ditempat saya mengambilnya," Kuroko tersenyum sedih saat melihat anjing kecil itu, ia merasa tidak tega jika membuangnya kembali. Hanya orang yang tidak punya perasaan yang tega membuang anjing kecil yang lucu ini.

Akashi yang melihat itu hanya mendengus pelan mendengar perkataan Kuroko, sudah terlanjur di pungut kenapa harus dibuang kembali?

"Sensei… cobalah untuk mengelusnya," kata pemuda berambut biru muda itu, Akashi hanya meliriknya dari sudut matanya lalu kembali menatap anjing kecil ini yang sudah duduk dihadapannya sambil balik menatapnya, sepertinya anjing ini meminta Akashi untuk mengelusnya.

Akashi menaruh cangkir tehnya ke meja, lalu memposisikan tangannya untuk mengelus kepala anjing kecil itu. Lembut—pikirnya saat ia mengelus pelan kepalanya yang dipenuhi dengan bulu-bulu yang halus.

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi aksi Akashi yang sedang asyik mengelus kepala anjing kecil itu, ia menolehkan kepalanya menatap pemuda bersurai biru muda itu tengah melihat hpnya yang berbunyi.

"Moshi-moshi, kaa-san?" Kuroko mengangkat telepon tersebut, Akashi sudah menebak yang ditelpon nya itu adalah ibunya.

"Ha'ikaa-san, aku akan segera pulang, aku sedang berada dirumah sensei sambil menunggu hujan reda… baik, kaa-san, aku tidak akan pulang terlalu malam… ya, sampai nanti kaa-san." Kuroko memutuskan sambungan telponnya.

"Sensei… sepertinya saya harus pulang, kaa-san sudah menelepon dan hari sudah malam, anjing ini biar saya taruh kembali ditempat saya memungutnya… terimakasih karena telah memberinya tumpangan sementara," kata Kuroko sambil berdiri dari sofa yang ia duduki. Akashi melirik anjing kecil itu, anjing itu tengah memasang wajah sedih seolah ia mengetahui perkataan dari pemuda bersurai biru muda itu.

"Kau… Kuroko Tetsuya, kan?" tanya kepada pemuda yang ada dihadapannya itu, diikuti oleh anggukan singkat darinya.

"Ha'i, sensei… saya rasa kita sudah pernah bertemu," kata Kuroko.

"Ya, kau adalah orang yang kemarin hampir jatuh dari tangga dan yang juga menabrakku," kata Akashi dengan ketus. Sedangkan Kuroko hanya memasang wajah datarnya, sebenarnya Kuroko sangat tidak biasa berhadapan dengan orang seperti ini, karena… orang yang ada dihadapannya ini merupakan seorang direktur dari sekolahnya, sudah sedari tadi juga Kuroko terpaksa memasang wajah datarnya untuk menyembunyikan kegugupannya. Ia pun sebenarnya ingin cepat-cepat keluar dari apartemen milik pemuda tersebut.

"Jadi kau yang dikabarkan mempunyai sihir yang bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba?" tanya pemuda berambut merah itu, Kuroko yang mendengarnya hanya menatapnya dengan bertanya-tanya.

"Saya tidak mempunyai sihir seperti itu, sensei…" katanya.

"Aku juga tidak percaya kau mempunyai hal yang mustahil seperti itu," ujar Akashi.

"Duduklah, tidak sopan jika kau berbicara padaku sambil berdiri," Akashi memerintah Kuroko untuk kembali duduk, tanpa butuh waktu yang lama… Kuroko kembali duduk manis di sofa tersebut.

"Pertama, berhentilah menggunakan kata formal dihadapanku." Kuroko terdiam sesaat.

"Baiklah, sen—"

"Kedua, berhenti memanggilku dengan sebutan sensei jika bukan di dalam kelas, aku hanya tidak suka mendengarnya," potong Akashi dengan cepat.

"Baik, Akashi-san—"

"Tidak menggunakan –san." Kuroko terdiam lagi. Pantas saja Kise dan Murasakibara berani memanggil pelatihnya ini dengan sebutan aneh-aneh mereka, pelatihnya saja tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Maaf, Akashi-san saya tidak bisa… karena anda adalah orang yang patut saya hormati, jadi saya tidak bisa memanggil anda seenaknya," tolak Kuroko dengan halus, membuat pria yang dihadapannya itu menatapnya dengan tatapan yang tajam, seolah ia tidak suka kalau perintahnya dibantah.

"Hanya orang tertentu yang kuperintahkan seperti itu termasuk kau." Lama kelamaan Kuroko kesal dengan orang yang ada dihadapannya ini, pemaksa sekali.

"Jadi jangan membantahku, Tetsuya." Tunggu sebentar! Kenapa ia jadi memerintah sesuka hatinya dan apa itu yang ia katakan? Apa Kuroko tidak salah dengar? Seenaknya saja ia memanggil nama kecilnya.

"Guk!" Anjing kecil yang sempat terabaikan oleh dua orang itu, kini melangkah mendekati Kuroko dan lompat ke atas perutnya untuk menjilat pipi lembut Kuroko. Akashi yang melihat itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah lucunya, ia pun berpikir tidak ada masalah jika mencoba untuk memeliharanya.

"Anjing itu… kau boleh menaruhnya disini," katanya, membuat sepasang mata biru langit itu membulat, tidak percaya dengan apa yang dilontarkan oleh Akashi.

"Maaf?" Akashi mendengus pelan, ia tahu bahwa orang yang ada didepannya ini mendengar tetapi tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

"Kau boleh menaruh anjing kecil ini ditempatku, Tetsuya." Mendengar itu, Kuroko langsung memasang wajah senang dibalik wajah datarnya.

"Tapi—kau harus setiap hari ke apartemenku untuk mengurusnya, aku tidak mau repot-repot mengurusnya karena ini bukan bagian dari pekerjaanku," lanjut Akashi dengan cepat, wajah Kuroko yang tadinya senang kini berubah menjadi datar kembali.

"Setiap—hari?" tanyanya memastikan pendengarannya tidak salah, Akashi hanya mengangguk singkat.

"Tapi—"

"Tidak ada kata tapi… jika kau ingin mengurus anjingmu ini maka datanglah setiap hari, karena aku hanya menawarkan tumpangan saja," potong Akashi lagi membuat Kuroko memilih diam. Akashi bermaksud memberikan tumpangan kepada anjing kecil itu sebagai balasan karena Kuroko telah menolongnya dan membuatnya melupakan masalahnya sejenak.

'Tapi jika setiap hari aku kerumahnya, maka setiap hari aku akan pulang malam…' batin Kuroko tidak terima, sebenarnya Kuroko sangat malas jika ia selalu pulang malam, karena Kuroko tidak terlalu suka pulang dengan keadaan gelap, apalagi sendirian.

"Akan kuantar kau pulang kerumah setelah dari rumahku, kupastikan kau akan selamat sampai tujuan." Akashi terkekeh geli, sedangkan Kuroko terkejut mendengar tawaran dari orang yang ada dihadapannya ini, seolah ia bisa membaca pemikiran Kuroko saat ini.

"Anggap saja itu sebagai balas budi," ucapnya lagi.

"Tidak usah sampai mengantarku sensei, saya tidak ingin menyusahkan anda terlalu jauh," tolak Kuroko dengan halus, lebih tepatnya ia takut disangka sebagai seorang penjilat karena berhasil menggoda Akashi Seijuuro hingga sang direktur muda itu mau repot-repot mengantarkan Kuroko menggunakan mobilnya yang mahal.

"Aku tidak terima penolakan, Tetsuya." Kali ini Kuroko menghela nafas dan mengelus dadanya mencoba bersikap sabar menghadapi makhluk yang ada dihadapannya. Ternyata orang ini adalah tipe yang suka memerintah dan tidak suka dibantah.

"Baiklah—saya mengerti." Akashi hanya tersenyum tipis melihat Kuroko yang sudah menyetujui perkataannya, ia pun lalu berdiri dari sofanya.

"Akan kuantar kau pulang sekarang, biarkan saja anjing itu disini," katanya sambil mengambil kunci mobil miliknya, diikuti oleh anggukkan kecil dari Kuroko.

Kuroko pun mengambil tas nya, sebelum ia berlari keluar menyusulnya, ia pun mengelus kepala anjing itu dengan pelan dan berkata, "Kau tunggu di sini ya, jangan berbuat macam-macam…" katanya, diikuti oleh gonggongan si anjing tersebut tanda ia mengerti apa yang dikatakan oleh Kuroko. Setelah itu Kuroko langsung melesat pergi meninggalkan anjing itu yang sedang duduk manis.
.

.

To Be Continue

Author note: HOREE! Akhirnya ada adegan AkaKuro! xD #plak, ah maaf ya kalau kurang puas dengan adegannya ugh~ Oh ya! jika ada Typo(s) yang seenaknya nyelip mohon dimaklumin ya . saya juga merasa saya bikin cerita alurnya lambat ya? Tapi saya gak suka alur yang cepat-cepat gak berasa nanti feel nya ugh~.

Ah aku dengar Akashi tidak suka dengan anjing yang gak penurut, kan? Tenang aja... gukguknya nurut kok, jadi Akashi biasa-biasa saja. #plak.

Ah, sekali lagi ini cerita hanya fiksi yang characternya juga udah saya rombak sana sini , mungkin saja Ogiwara akan menjadi pemain berbakat yang hampir sama dengan para Kisedai lainnya, tapi saya belum memikirkan sampai situ sih xD #plak... I hope you like my stories~

Time to balas review~

AulChan12 : Hahaha... lebih gampang bikin adegan percakapan Kuroko dengan temannya daripada Akashi #dilempargunting. Oh ya, ini sudah update semoga suka dengan jalan ceritanya~

Vanilla Tetsuya Blue : Ini sudah dilanjut, maaf gak terlalu cepat... sengaja #sayakhilaf. Silahkan membaca~

zhichaloveanime : wakakaka saya setuju juga denganmu, sekumpulan pelangi minus Akashi mereka adalah orang-orang yang aneh #dilempar, lucu ya? bagus deh bisa menghiburmu xD . Ini sudah ku update, maaf gak cepat.

Tet-chan : Iya iya nih saya kasih adegan Akakuro nya walau gak banyak x3 #plak .

OnyxShapphireLovers : Okay makasih telah review~ ini sudah di update x)

Deidara : Nih nih Akakuro nya udah mulai PDKT... XD maaf maaf kalau chap 1 dan 2 Akashinya gak terlalu dimunculin, belum saatnya hehehe x3

sejalahzy : Iya nih Akashi moodnya serem terus, kenapa ya? Mari kita cari tahu! XP duh ternyata suka banget adegan Akashi nyiksa GOM O.O ... sepertinya di chap ini saya gak munculin adegan Akashi nyiksa nyiksa para pelangi XD

AkaSunaSparKyu : Ini Akashi nya xD udah saya keluarkan dia dari lemari(?), AoKise ya? mungkin lebih ke persahabatan mereka sih... soalnya fokus ke pair Akakuro sisanya friendship :'3 . Updatenya maaf gak kilat hiks~

Sachiru Mikachi : Ha-hahaha... saya nyebelin ya? #mojok #plak. Oke! ini sudah ada adegan Akakuronya cekidoot~ semoga suka ya

Eien : Pink-san? Pingsang? Pingsan? O.O #plak . just call me Pink no tambah embel-embel aneh... serius nama penname saya udah aneh ditambah lebih aneh jadi sangat aneh(?) XD, ini udah updet kok... silahkan~ ^^

Kihyunwon : Sudah di updateeee~ arigatou

love akashi-kun : iya... saya juga suka lihat Kuroko dikelilingi GOM + Kagami, iya maaf sengaja ini interaksinya gak terlalu dibanyakin di awal-awal, maklum Akashi kalau pertama kali sok jual mahal jadi pdktnya agak susah #dilempargunting... trus Kuroko nya juga sifatnya terlalu datar jadi susah juga nyuruh dia godain Akashi #dibunuh. Ah ini sudah update walau gak kilaat.

Oke, sekian dan terimakasih atas review kalian #bungkuk2

Akhir kata,

Mind to review?

_Pinkuru_