Kuroko No Sutori
Pairing : AkaKuro
RATE T
Romance, Friendship, Drama, (a little bit Humor, maybe)
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Sutori © Pinkuru
Warning! Boys Love, OOC, Typo(s)
Happy Reading!
Pintu kelas terbuka dengan pelan, menampilkan sesosok pemuda dengan rambut menyerupai warna langit dan sepasang mata yang senada dengan warna rambut yang ia miliki, ia pun berjalan pelan memasuki ruangan kelasnya menuju tempat duduknya.
"Yo, Kuroko…" sapa Kagami.
"Ohayou, Kagami-kun…" ujarnya lagi sambil menaruh tasnya di atas meja. Sedangkan pemuda tan yang ada di samping Kagami sedang tertidur pulas. Setelah menyapa Kuroko, Kagami pun langsung fokus kembali ke majalah yang ia baca. Kuroko pun juga kembali berfokus kepada bukunya dan mulai membacanya kembali.
Tak berapa lama kemudian, bel masuk pun berbunyi… Kuroko sedikit kesal, ia baru saja membaca bukunya selama 10 menit. Akhirnya ia pun menutup buku yang ia baca lalu memasukkan kembali ke dalam tasnya. Begitu juga dengan Kagami, ia pun memasukkan majalah yang dengan Aomine yang masih tetap tertidur dengan pulasnya jika saja Kagami tidak membangunkannya dengan kasar, maka bisa dipastikan ia tidak akan terbangun sampai bel istirahat berbunyi.
Pintu kelas dibuka lebar, para siswi yang ada di dalam kelas terkejut saat mereka melihat orang yang akan menjadi gurunya hari ini. Seketika, wajah siswi-siswi itu pun terlihat senang, ada yang berteriak ada yang menghayal saat melihat orang tersebut, ada juga yang terkagum-kagum melihatnya, sedangkan para siswa bergidik ngeri mengetahui orang yang diajarnya itu adalah orang yang sangat patut mereka hormati di sekolah ini. Kagami dan Aomine juga tidak kalah terkejut saat melihat pelatih basketnya memasuki ruang kelasnya, sedangkan Kuroko? Dia hanya menatap datar ke orang tersebut, padahal dalam hatinya terkejut juga. Tidak menyangka bahwa orang yang ia baru saja ia temui kemarin, kini menjadi guru nya pada pelajaran pertama.
"Selamat pagi," sapa orang itu sambil menaruh buku-bukunya di atas mejanya. Para murid yang ada dikelas tersebut membalas sapaannya.
"Perkenalkan, nama saya Akashi Seijuuro yang akan menjadi guru kalian dalam pelajaran Matematika," katanya sambil membuka buku miliknya, "Baiklah langsung saja buka bukunya halaman 25," lanjutnya lagi. Para murid pun langsung mengikuti apa yang diperintahkan oleh gurunya.
"Kagami! Kenapa si Akashi itu yang mengajari kita? Bukan kah Kise bilang kalau dia tidak mengajar kelas satu?" bisik Aomine kepada Kagami.
"Mana kutahu," jawab Kagami. Kuroko yang mendengar percakapan mereka berdua menilai bahwa Aomine sangat tidak sopan memanggil sensei nya dengan sebutan nama saja.
"Kagami-kun dan Aomine-kun berhentilah berbicara, nanti sensei akan mendengarkan kalian…" kali ini Kuroko membuka suara untuk menegur mereka berdua.
"Aomine-kun juga… jangan lupa menambahkan kata sensei," lanjutnya lagi. Aomine hanya mendengus pelan saat mendengar Kuroko menasehatinya. Well… pelatihnya pernah mengatakan bahwa jika berada di luar kelas ia tidak ingin dipanggil sensei oleh anggota kesayangannya—termasuk Aomine dan Kagami. Hanya orang tertentu yang berani memanggilnya dengan tidak menggunakan kata formal itu pun jika Akashi yang memerintahnya. Pilih kasih memang, tetapi begitulah Akashi Seijuuro… jika ia tertarik dengan seseorang maka ia akan menjadikannya murid kesayangannya. Ah! Itu hanya berlaku khusus untuk klub basket saja, karena dari rumornya... Akashi hanya menyukai klub basket dan tidak dengan klub lain.
"Haah… sesekali saja aku ingin melihat guru dengan dada yang besar dan wajah yang sangat cantik, pasti aku akan lebih semangat untuk belajar," gumam Aomine sambil menopang dagunya dengan malas.
"Yang kau pikirkan hanya itu terus, dasar Ahomine, tidak heran jika otakmu itu kotor," sindir Kagami membuat dahi pemuda tan itu berkedut.
"Apa kau bi—" Tiba-tiba saja ada sebuah gunting melayang di antara Aomine dan Kagami lalu menancap di dinding belakang. Membuat dua pemuda itu langsung tidak bergeming seketika.
"Kagami Taiga, Aomine Daiki. Jika kalian masih berisik dalam pelajaranku—" seketika Aomine dan Kagami langsung menolehkan kepalanya ke depan dan langsung berkeringat dingin saat ia melihat ada aura gelap di sekitar gurunya itu. Sang pemilik aura gelap itu langsung menatap tajam ke arah mereka berdua.
"—Maka akan kupastikan mulut kalian tidak pernah bisa berbicara lagi," lanjutnya dengan singkat, padat, jelas dan mematikan. Para murid yang melihat aksi tersebut juga ikut berkeringat dingin. Rumor tentang Akashi Seijuuro yang berada di dalam kelas dan di luar kelas sangat berbeda 180 derajat itu ternyata benar ada! Saat ia berada di dalam kelas… ia akan berubah menjadi orang yang sangat kejam dan mematikan, jika ada seseorang yang berani tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelasannya saat mengajar, maka ia tidak akan segan-segan menghukum orang tersebut.
Beda dengan saat di luar pelajarannya, ia akan berubah menjadi orang yang pendiam dan bersikap tidak terlalu peduli dengan sekitar. Tetapi berbeda pula saat ia melatih klub yang ia sayangi—klub basket… ia akan berubah menjadi orang yang serius dan tegas serta bersikap friendly kepada murid-murid kesayangannya jika moodnya sedang bagus—tentunya. Terkadang ia juga memunculkan sisi lembutnya saat berada di luar pelajarannya, tapi sisi nya yang satu ini terbilang langka untuk dilihat, mungkin hanya dalam momen tertentu saja.
Semua hal yang berhubungan tentang Akashi Seijuuro sudah sepantasnya harus diketahui oleh semua murid-murid yang bersekolah di Teiko, termasuk para guru yang bekerja disekolah ini.
Aomine dan Kagami yang mendengar Akashi mengancam, langsung berjengit ngeri. "B-baik, sensei…" jawabnya bersamaan.
Kuroko yang melihat itu hanya menelan ludahnya apalagi melihat ada satu gunting melayang melewatinya dan menancap di dinding dengan rapi. Dia tidak menyangka bahwa Akashi Seijuuro adalah orang yang paling seram yang ia temui di sekolah ini.
"Bagus kalau kalian mengerti." Akashi pun melanjutkan menjelaskan mata pelajarannya, dari sekian banyak mata pelajaran kenapa harus Matematika? Pelajaran ini sungguh mematikan apalagi jika gurunya sama mematikannya dengan pelajaran ini, mau tidak mau para murid yang ada di kelas ini harus mendengarkan baik-baik apa yang dijelaskan oleh Akashi, karena jika tidak? Gunting akan kembali melayang.
Selamat berjuang!
.
Sudah berapa lama waktu berjalan, para murid termasuk Aomine dan Kagami hampir ingin muntah, otak mereka sudah dipenuhi oleh angka-angka plus rumus-rumus yang sangat banyak dan rumit. Apalagi melihat gurunya saja mereka sudah hampir mau pingsan. Gak kebayang kalau Akashi Seijuuro ternyata cara mengajarnya seperti ini, mereka serasa berada di neraka dengan Akashi sebagai dewa kematiannya—sungguh berlebihan mereka menghayal seperti itu.
"Baiklah sekarang saya akan memanggil nama kalian untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis ini," katanya sambil melihat absensi kelas, semua murid yang ada disana langsung berhenti bernafas sejenak. Takut—itu yang saat ini mereka pikirkan, bagaimana kalau sampai mereka tidak bisa mengerjakan soal itu? Sudah dipastikan gunting-gunting akan berterbangan.
Sebagian murid hanya berdoa berharap nama mereka tidak di panggil, sebagian lagi menundukkan kepalanya untuk tidak membuat kontak mata kepada sensei nya itu.
"Kalian tidak usah takut…" kata guru itu sambil tersenyum misterius, ia menyadari bahwa muridnya terlihat menghindari nya dan sangat berharap nama mereka tidak dipanggil. Melihat pemandangan yang seperti itu, Akashi tidak berhenti tertawa dalam hati. Terkadang, Akashi sangat suka melihat murid-muridnya memasang ekspresi wajah ketakutan. Akashi melirik lagi absensi itu—ia rasa ia sudah menemukan nama yang harus ia panggil.
Sepertinya menarik jika ia memanggil pemilik nama yang kemarin baru saja ia temui.
"Hm… Kuroko Tetsuya?" Aomine dan Kagami langsung terkejut dan seketika itu menoleh kebelakang dimana Kuroko duduk. Beda dengan murid lain memasang wajah tanda tanya dan melirik kanan kiri mencari orang yang dipanggil oleh gurunya. Ah… sepertinya Kuroko Tetsuya dilupakan oleh semua murid yang ada dikelasnya, kecuali Aomine dan Kagami tentunya.
"Sejak kapan ia duduk disitu?"
"Ne… anak itu, aku lupa kalau ia sekelas dengan kita."
"Aku juga, aku baru ingat kalau anak itu bernama Kuroko Tetsuya."
"Eh? Bukankah anak itu pernah mengenalkan dirinya ya? Kalau tidak salah saat hari pertama."
"Benarkah? Tetapi kenapa aku sempat tidak menyadarinya ya?" Suara bisikan murid-murid terdengar di kelas sampai masuk ke gendang telinga Akashi, maksudnya tidak ada yang menyadarinya? Akashi tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh murid-muridnya itu. Akashi berdehem untuk menyuruh muridnya diam, mereka yang mengetahui itu dalam sekejap kembali terdiam membuat suasana kelas menjadi sunyi.
"Kuroko Tetsuya." Akashi memanggil namanya sekali lagi.
"Ha'i, sensei…" Kuroko berdiri dari bangkunya, ia pun menatap Akashi dengan tatapan datarnya padahal dalam hati sudah gugup setengah mati saat namanya dipanggil. Kuroko ingin mengutuk orang yang memanggil namanya, dari sekian banyak nama di kelas ini kenapa harus ia yang dipanggil? Atau gurunya ini memang sengaja. Aomine dan Kagami hanya menatapnya dengan wajah aku-bantu-dengan-doa-saja-ya-Kuroko/Tetsu, membuat ia menghela nafas. Sepertinya dewa kesialan sedang berpihak padanya hari ini.
"Kerjakan soal di papan tulis ini," perintah Akashi, membuat pemuda bersurai biru muda itu hanya menggigit bibir enggan untuk berjalan ke papan tulis tersebut, percuma jika ia kedepan… dia aja tidak mengerti harus menulis jawaban apa didepan.
"Kuroko Tetsuya, saya paling benci menunggu," katanya lagi kali ini dengan nada yang dingin. Kuroko hanya terdiam ditempatnya, ia menggerakkan bola matanya dengan gelisah.
"Ano—sensei…" Kuroko membuka suaranya, "—Saya tidak bisa mengerjakan soal tersebut, bagaimana kalau sensei menjelaskannya sekali lagi? Agar saya mengerti," katanya sambil mengangkat tangan kanannya. Semua yang ada di dalam kelas itu terdiam mendengar ucapan dari pemuda bersurai biru muda itu. Termasuk Akashi, baru kali ini ia bertemu dengan murid yang berani memerintahnya.
Rumor-rumor yang tersebar di sekolah ini sih mengatakan bahwa perkataan Akashi adalah absolut alias mutlak, dengan kata lain—jika Akashi memberi perintah maka jangan pernah ada yang membantah, titik.
Aomine menepuk jidatnya, Kagami menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Mereka yang mendengar perkataan polos nan berani dari mulut Kuroko hanya bisa membatin, 'Kau melawannya? Maka kau akan mati, Kuroko/Tetsu!' Jika yang melawan guru itu Aomine ataupun Kagami, maka saat latihan basket pun—mereka bisa dihukum mati oleh pelatihnya.
Mereka hanya tidak menyangka… bisa-bisanya Kuroko malah menyuruh sensei nya untuk mengulangi apa yang sudah ia jelaskan secara jelas—lebih tepatnya sangat jelas.
"Kau berani memerintahku, Kuroko Tetsuya?" Akashi menatap tajam ke arah Kuroko, ia tidak suka jika ada orang yang memerintahnya, hawa disekitarnya semakin menghitam. Sepertinya Akashi tidak akan segan-segan melemparkan sebuah gunting kepadanya.
"Tidak, sensei… saya hanya meminta tolong untuk menjelaskannya kembali, karena saya kurang mengerti dengan apa yang sensei jelaskan," lanjutnya dengan tenang, padahal jantungnya sendiri sudah berdetak dengan keras seperti mau lompat keluar. Bisa-bisanya ia melawan sensei nya yang terkenal absolut ini.
Murid-murid pun semakin menegang melihat aksi Kuroko yang sangat berani membantah semua perintah senseinya. Akashi pun tak kalah terkejut karena Kuroko membalas perkataannya dengan tenang seolah tidak ada rasa takut kepadanya, apalagi saat ia mengatakan bahwa ia kurang mengerti. Sisi mana yang tidak mengerti padahal Akashi telah menerangkannya secara detail dan teliti.
"Beraninya kau—" tiba-tiba bel tanda pelajaran sudah berakhir telah dibunyikan, membuat semua murid yang ada di dalam kelas bernafas lega—termasuk Kuroko, pelajaran yang seperti neraka ini akhirnya sudah berakhir dengan selamat sentosa.
Akashi terdiam sesaat sedangkan Kuroko masih menatap dia dengan tatapannya yang terlihat tenang di mata Akashi. Ia pun menyunggingkan bibirnya—tersenyum tipis seperti menyindir.
'Heh! Menarik...' Akashi menutup bukunya lalu membereskan bukunya yang terlihat sedikit berantakan di atas meja.
"—Kuroko Tetsuya… saat pulang sekolah, kau diwajibkan untuk menemuiku diruanganku, jika tidak datang? Maka kau akan tahu akibatnya," katanya lagi sebelum ia berjalan ke luar ruangan. Kuroko hanya terdiam beribu bahasa, kali ini ia tidak bisa membantah perkataan Akashi.
"Baik…" jawab Kuroko dengan singkat, Akashi yang mendengar itu tersenyum puas, tentunya ia yang memenangkan acara debat antara ia dengan muridnya. Akashi pun langsung keluar dari ruangan tersebut, membuat Kuroko bernafas dengan lega.
"Kau gila, Tetsu…" Aomine yang dari tadi bungkam akhirnya membuka suaranya, melayangkan protes kepada Kuroko.
"Kenapa Aomine-kun? Aku tidak gila," balasnya, Aomine mendecih tanda tidak suka.
"Kenapa malah membantah si Akashi itu? Kau bisa-bisa digantung olehnya!" lanjutnya lagi.
"Aomine-kun… jangan lupa menambahkan kata sensei, dan Akashi-sensei tidak akan mungkin membunuhku," ujarnya dengan tenang, ya… Kuroko harus meyakinkan dirinya sendiri jika sensei itu tidak akan macam-macam kepadanya dan paling hanya menyeramahinya panjang lebar karena membantah seperti yang dilakukan oleh guru lain pada umumnya. Kagami hanya melihat mereka berdua berdebat, ia pun juga tak banyak membantu karena ia sendiri sedikit gentar melihat Akashi yang sebegitu mengerikannya. Yah… ibaratkan Akashi itu singa dan Kagami hanya seekor harimau. Kalau begitu Kuroko seperti apa? Mana mungkin ia berani melawan singa tersebut. Kagami sedikit salut dengan keberanian Kuroko, ya sedikit… sisanya enggak, soalnya belum tahu apa yang akan terjadi pada Kuroko selanjutnya. Padahal Kagami baru saja mengenal pelatihnya itu, tetapi cukup membuatnya untuk jangan bermacam-macam kepada Akashi Seijuuro atau gunting melayang dua kali lipat.
"Sudahlah, Aomine… bagaimana kalau kita berdua menemaninya ke dalam," Kagami memberi usul, Aomine langsung menatap Kagami dengan tatapan apa-kau-bilang? Kuroko hanya mengedarkan pandangannya ke arah lain, ia baru sadar tenyata murid lain juga ikut menggosipinya karena berani membantah guru yang absolut itu. Oke Kuroko, sekarang kau sudah jadi bintang kelas.
"Tidak apa Aomine-kun, Kagami-kun… aku bisa sendiri." Kuroko tidak terlalu yakin ia bisa sendiri, tapi jika dua orang ini ikut, mungkin situasinya akan tambah buruk.
"Kalau begitu kami menunggu diluar." Kagami memberi usul sekali lagi, kali ini Aomine mengangguk mantap mengatakan bahwa itu ide yang cukup bagus daripada harus menemaninya masuk ke dalam. Kuroko hanya memijit dahinya, jika mereka menunggunya diluar, mereka malah akan seperti bodyguardnya.
"Sudah kubilang tidak—" Pintu kelas di geser, guru selanjutnya pun masuk ke kelas. Murid yang tadinya ricuh, kini terdiam… rupanya pelajaran kedua sudah di mulai. Kagami memutar tubuhnya menghadap ke depan demikian pula dengan Aomine. "Nanti kita bahas lagi," katanya. Kuroko hanya memutar bola matanya dengan malas.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
"APA? KUROKO-CCHI DIPANGGIL AKASHI-CCHI KERUANGANNYA?" teriak Kise dengan kencangnya, membuat semuanya menutup telinganya rapat-rapat.
"Ki-chan! Kecilkan suaramu itu!" protes Momoi.
"Aho! Jangan teriak-teriak!" Aomine menjitak kepala Kise.
"Itte— Aomine-cchi tidak sopan dengan senpai nya—ssu," Kise merenggut kesal.
"Apa kau terlihat seperti seorang senpai bagiku? Sepertinya tidak."
"HIDOI!"
"BERHENTI BERTERIAK!" giliran Kagami yang meneriaki Kise, heran dengan pemuda pirang yang ada dihadapannya. Kise memanyunkan bibirnya, ia kesal.
Saat ini mereka semua sedang beristirahatnya di taman yang terletak di belakang gedung sekolah, mereka tengah menikmati makan siangnya dibawah pohon yang rindang kecuali Midorima yang ada rapat osis jadi ia tidak bisa ikut makan siang dengan mereka.
"Kuro-chin berbuat masalah kah?" tanya Murasakibara.
"Iie desu…" Kuroko menggeleng pelan.
"Lalu apa yang membuat Kuroko-cchi sampai dipanggil ke ruangannya—ssu?"
"Ano—aku tidak begitu mengerti sih, tapi sepertinya Akashi-sensei tidak suka jika ada orang yang menjawab perkataannya," kata Kuroko sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk jarinya.
"Hee?" Mereka yang ada disitu minus Kagami dan Aomine, kurang mengerti maksud dari perkataan Kuroko.
"Waktu ia dipanggil olehnya untuk menjawab soal di depan, Kuroko malah menolak dan menyuruh Akashi untuk menjelaskan pelajarannya dengan ulang," kata Kagami, Aomine mengangguk setuju, Kuroko hanya menyeruput minuman kesukaannya. "Kagami-kun, jangan lupa menambahkan kata sensei," ucapnya, Kagami hanya memutar bola matanya dengan malas saat Kuroko menceramahinya sama seperti yang ia lakukan kepada Aomine.
Kise menganga, Momoi menutup mulutnya, Murasakibara hanya menatap datar sambil memakan bento nya, karena ia belum pernah diajari oleh Akashi jadi ia belum tahu seseram apa sensei nya jika berada didalam kelas.
"T-Tetsu-kun… seharusnya kau menuruti perintahnya saja," ujar Momoi.
"Memangnya kenapa? Kalau aku menurutinya itu hanya akan membuatku malu jika tidak bisa mengerjakan soal itu, Momoi-san…" Momoi menggaruk kepalanya dan tertawa garing, benar juga sih… kalau di ingat-ingat salah satu teman kelasnya menjadi korban juga saat ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari gurunya itu.
"Ano ne… di kelasku, temanku yang cowok juga menjadi korban… saat ia tidak bisa menjawab soal, ia malah dilempari beberapa gunting, lalu ia dikasih tugas mengerjakan soal-soal yang sudah ia jelaskan sebanyak 200 soal selama seminggu! Tentunya soal itu dibawa pulang, besoknya ia langsung jatuh sakit dan sampai sekarang ia belum bisa masuk, mungkin juga ia terlalu depresi menjawab soal-soal tersebut." Kini giliran Kuroko menelan ludah, Aomine dan Kagami hanya merinding mendengarkan cerita horror dari Momoi. Bukan cerita horror sih sebenarnya… tapi mirip-mirip lah.
"Dikelasku juga ada seperti itu—ssu dan hampir sama dengan kasus Momoi-cchi, bedanya ia dipanggil ke ruangannya lalu disuruh mengerjakan 70 soal sampai selesai, ia juga dikasih batas waktu yang minim. Jika ia belum selesai saat batas waktu yang telah ditentukan, maka sudah dipastikan hari hari berikutnya ia akan disuruh mengerjakan soal-soalnya selama 2 minggu penuh. Beruntung Akashi-cchi tidak ada di tempat jadi aku menyuruh Midorima-cchi untuk membantunya karena aku tidak tega melihatnya—ssu… Akashi-cchi terlalu seram jika berada di dalam kelas." Yang lain terdiam mendengar cerita horror dari Kise, dengan otak yang pas-pasan apa Kuroko sanggup ya menghadapi hukumannya?
"K-kalau begitu minta bantuan saja kepada Midorima untuk membantu Kuroko," kata Kagami, yang lain langsung mengangguk setuju, Kuroko merasa tertolong. Untungnya saja mereka mempunyai teman yang lumayan pintar.
"Ide bagus—ssu, nanti akan kuberitahu kepada Midorima-cchi~."
"Apa kalian lupa kalau hari ini ada latihan basket?" kata Momoi mengingatkan, satu sama lain langsung berpandangan.
"Benar juga!" kata Aomine sambil menepuk jidatnya.
"Hwe~ Kuroko-cchi maafkan diriku," rengek Kise sambil memeluk Kuroko, yang dipeluk hanya menatap malas.
Kuroko yang tadinya sudah senang kini melemas, apa boleh buat? Ia harus menghadapi sensei sendirian. "Tak apa, Kise-kun… jika ia memberiku hukuman mungkin aku bisa mengerjakan soal yang ia berikan," jawabnya dengan ragu. Kuroko ragu apakah ia bisa mengerjakan soal tersebut atau tidak? Kalau tidak bisa, mungkin Kuroko akan pasrah dengan hukuman yang selanjutnya yang akan datang menemuinya. Mengingat itu, Kuroko hanya menelan ludah. Minuman kesukaannya pun ia abaikan, mengingat a penasaran hukuman apa yang akan diberikan oleh sensei nya.
Mereka semua—Kagami, Aomine, Kise, Murasakibara dan Momoi hanya menatap Kuroko dengan pandangan kasihan. Ingin membantu tetapi kalau sensei nya yang seperti itu—sama saja mereka bunuh diri. Karena, jika mereka ikut membantah… bisa dipastikan Akashi akan lebih murka dan tidak segan-segan menghukum mereka dengan cara yang sangat sadis.
"Mungkin kita akan coba bernegosiasi dengan Aka-chin~," kata Murasakibara dengan nada khasnya yang malas, ia tidak tega jika pemuda mungil yang dihadapannya ini mendapatkan hukuman yang sangat keji.
"Bagaimana caranya, Muk-kun?" tanya Momoi, Murasakibara berpikir.
"Hm~ kita beri dia kue yang lezat dan besar…" jawabannya membuat yang lain facepalm.
"Memangnya Akashi-cchi ulang tahun—ssu dikasih kue…"
"Oi, Murasakibara! Kau pikir Akashi itu seperti anak kecil yang senang dikasih kue?" Kagami bersuara.
"Akashi tidak akan mengurangi hukuman Tetsu jika kau memberinya kue." Giliran Aomine yang menambahkan.
"He? Bukannya semua orang akan senang jika diberi kue yang lezat~?" tanya Murasakibara, semua pada tepuk jidat minus Kuroko.
'Jika ia sifatnya seperti kau maka kemungkinan besar jawabannya adalah iya,' batin mereka bersamaan minus Kuroko.
"Ano—daijoubu desu, ini murni kesalahanku… jadi tidak apa jika kalian tidak bisa membantuku." Kuroko membuka suara, ia merasa tidak enak jika teman-temannya merasa kepusingan memikirkan cara-cara untuk membantunya.
"Tapi—Tetsu-kun…"
"Tidak apa-apa… aku yakin Akashi-sensei tidak akan seperti itu, aku akan meminta maaf kepadanya dan mengaku salah." Kuroko mencoba berpikir positif, berharap Akashi tidak akan menghukumnya yang tidak-tidak.
"Percuma Kuroko-cchi… meminta maaf saja tidaklah cukup—ssu…"
"Apa boleh buat, jika ia ingin menghukumku maka aku akan terima hukumannya," Kuroko menunduk lesu, hari-harinya mungkin akan dipenuhi oleh hukuman dari Akashi. Semua terdiam, mereka sudah kehabisan akal untuk memikirkan cara menghadapi pelatihnya itu. Mereka semua belum pernah dihukum seperti kasus Kuroko, palingan mereka dihukum saat latihan basket—itu pun tidak sepadan jika dibandingkan dihukum dengan soal-soal yang membuat otak ingin pecah. Lebih baik mereka dihukum sampai badan letih daripada otak mereka yang jadi korban.
Bel telah dibunyikan menandakan waktu istirahat sudah habis, Kuroko yang mendengar itu langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Kalau begitu, aku duluan—arigatou gozaimasu," katanya dengan nada lesu, ia pun langsung berjalan lesu meninggalkan mereka semua yang masih terdiam dan hanya menatap Kuroko yang perlahan menghilang dari pandangan mereka.
"Kuro-chin terlihat lesu~." Yang lain mengangguk setuju.
"Akhir-akhir ini Akashi-cchi juga terlihat sedang badmood—ssu." Mereka pun ikut berdiri dari tempat duduknya dan membereskan sampah-sampah makanannya lalu bergegas kembali ke ruang kelas mereka masing-masing.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
Kuroko berjalan melewati lorong-lorong sekolah ke tempat yang ia tuju, sayangnya ia sedang sendirian… Aomine dan Kagami yang tadinya janji ingin menemaninya tidak jadi karena ada jadwal latihan basket, Kuroko tidak mempermasalahkannya malah melarang mereka untuk menemaninya. Jika bukan Akashi pelatihnya… mungkin mereka akan membolos dan pergi menemani Kuroko.
Tak mau ambil pusing, Kuroko membuka buku nya lalu membacanya untuk sekedar menghilangkan stress. Tak berapa lama ia berjalan, akhirnya ia sampai juga ke ruangan Akashi. Kuroko berdiri di depan pintu tersebut, ia tutup bukunya lalu ia menghirup nafas panjang dan mengetuk pintu itu dengan pelan.
"Permisi, sensei…" katanya sambil mengetuk pintu itu perlahan, tanpa disuruh pun… Kuroko langsung membuka pintu itu dan terlihat Akashi sedang duduk di kursinya yang menghadap ke pintunya, bisa dilihat… Akashi menatap Kuroko yang masuk kedalam ruangannya itu sambil menopang dagunya dengan tangannya.
Kuroko yang menutup pintu ruangan tersebut dan berdiri tidak jauh dari pintu itu, ia enggan untuk melangkahkan kakinya mendekati meja milik Akashi.
"Hm… telat 2 menit, kau benar-benar murid yang suka menyia-nyiakan waktu rupanya," ujarnya ketus. Kuroko hanya mengucap sumpah serapah di dalam hatinya, baru 2 menit saja pun di permasalahkan… ia hanya bisa bersabar dan mengelus dadanya pelan.
"Maaf, sensei…" katanya dengan wajah datar, padahal dalam hati udah berapa kali ia ingin mengutuk orang itu. Akashi mendengus pelan, "Kemari dan duduk di kursi ini," lanjutnya sambil memerintah Kuroko untuk duduk di kursi yang sudah disediakan di sekat mejanya. Kuroko pun menurut lalu melangkahkan kakinya menuju kursi yang kosong itu, ia duduk berhadapan dengan Akashi.
"Jadi—hukuman apa yang akan sensei berikan? 100 soal? 200 atau 500 soal? Jika sensei memberikanku 500 soal… saya siap mengerjakannya," kata Kuroko, ternyata ia sudah siap mental jika diberikan soal beratus-ratus oleh sensei nya yang sedikit gila ini. Akashi yang mendengar ucapan dari Kuroko hanya mengernyit heran lalu seketika ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya dan terkikik geli, lucu.
Padahal ia belum sempat memberikan hukuman kepada muridnya ini, tetapi muridnya malah seperti menawarkan diri untuk minta dihukum. Masochist—eh.
Giliran Kuroko yang memandang Akashi dengan heran, jarang-jarang dia lihat guru seramnya itu tertawa geli, memangnya Kuroko ada salah bicara ya?
"Sensei, kenapa tertawa?" tanya Kuroko dengan wajahnya yang selalu datar kayak papan. Akashi yang mendengar pertanyaan dari muridnya itu langsung berhenti tertawa dan memandang lurus ke arah muridnya.
"Padahal aku tidak berniat menghukummu sejauh itu, tetapi karena kau meminta maka aku akan menga—"
"JANGAN!" potong Kuroko cepat, benar… Kuroko salah bicara, sangat salah berbicara. Bisa-bisanya ia mengatakan padanya… jika sensei nya memberikan soal sebanyak 500 maka ia sanggup mengerjakannya.
"Hm? Bukankah kau yang meminta itu, Tetsuya?" tanya Akashi dengan senyumannya bermaksud menyindir.
"Itu… saya salah berbicara, sumimasen…" kata Kuroko sambil menggerakkan matanya ke arah lain karena tidak berani menatap lawan bicaranya, Akashi mendengus geli.
"Jarang-jarang muridku mau menawarkan dirinya untuk mengerjakan 500 soal," katanya sambil tersenyum, sepertinya ia ingin tertawa lagi. Tapi karena dia itu adalah Akashi Seijuuro… ia tidak akan mungkin tertawa lepas didepan muridnya itu, sungguh akan merusak imagenya.
Kuroko hanya terdiam menggigit bibir bawahnya, ia tidak mampu membalas perkataan sensei nya lagi.
"Sensei… jika ingin menghukumku, segeralah di lakukan—saya tidak suka menunggu," jawabnya lagi kali ini seperti ada nada perintah di perkataannya itu.
"Kau berani memerintahku?"
"Tidak, saya hanya meminta tolong…" kata Kuroko, jujur saja… ia tidak mau berlama-lama di ruangan ini, ia ingin secepatnya dikasih hukuman untuk mengerjakan soal yang Akashi berikan lalu cepat-cepat keluar di ruangan tersebut.
"Sebegitu inginnya kah dikasih hukuman dariku?" tanya Akashi sambil tersenyum ramah, Kuroko yang melihat senyumnya itu hanya bergidik ngeri. Senyumnya terlihat ramah tapi mengerikan.
'Tidak, aku hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini,' batinnya.
"Sebenarnya tidak, tetapi alasan sensei memanggilku kesini kalau bukan untuk menceramahiku dan menghukumku atas ketidak sopannya saya terhadap sensei, ya kan?" Akashi terdiam, ya memang tadi ia merasa sedikit terkejut karena baru kali ini ada murid yang terang-terangan menolak perintahnya, disitu lah yang membuat ia tertarik kepada pemuda bersurai biru muda itu, walau jarang-jarang ia tertarik dengan orang jika tidak ada hubungannya dengan basket, tetapi pemuda ini berhasil membuat Akashi sedikit penasaran.
Dan dari Akashi sendiri memang tidak ada niat sama sekali untuk memberikan murid ini hukuman berat, sekali lagi… Akashi hanya tertarik dengan orang yang ada dihadapannya, apalagi kemarin ia sempat menolongnya—walau hanya sekedar duduk disampingnya dan memayunginya di tengah hujan yang lumayan deras. Ya… setidaknya Akashi menghormati apa yang dilakukan pemuda itu terhadapnya, jarang-jarang orang lain mampu mendekatinya—kecuali orang-orang tertentu yang dipilih oleh Akashi.
"Oh… baiklah." Akashi bangkit dari kursi, berjalan menuju tempat mejanya yang satu lagi yang berisi tumpukan soal-soal di pojok sebelah kanannya, Kuroko hanya melihat Akashi berjalan ke tempat itu. Mulutnya berkomat-kamit seperti mengucapkan sesuatu, oh ayolah Kuroko… berdoa saja tidak akan membuat masalahmu selesai.
Akashi mengambil beberapa lembaran kertas lalu satu buku yang terlihat tebal dimata Kuroko, ia pun berjalan ke meja tempat Kuroko dan dia duduk, lalu meletakkan lembaran kertas beserta buku itu di atas mejanya.
"Kerjakan ini," tanpa basa-basi Akashi menaruh beberapa lembaran kertas di hadapan Kuroko, sedangkan sepasang mata biru muda itu hanya mengamatinya, lalu mulai menyentuh kertas itu.
"Sensei ini—"
"Itu soalnya," jawabnya cepat. Kuroko kembali terdiam, lalu mengamati beberapa kertas yang berisi soal-soal yang akan ia kerjakan, ia pun membolak-balikkan kertas itu dengan tatapan tidak percaya lalu kembali memandang sensei nya yang masih berdiri disebelahnya sambil melipat tangannya di dadanya.
"Sensei tidak sedang bercanda kan?" tanya Kuroko—tidak percaya.
"Tidak, aku tidak pernah bercanda jika memberikan hukuman, Tetsuya," jawabnya dengan sedikit nada penekanan saat Akashi menyebut namanya.
"Tapi ini hanya 25 soal, sensei… biasanya anda—"
"Memberikan hukuman kepada murid sampai beratus-ratus soal kan?" potong Akashi cepat, ia sudah hapal betul apa yang muridnya ingin katakan kepadanya.
Kuroko kesal, "Sensei… berhenti memotong ucapanku." Akashi kembali terdiam, wah wah… muridnya ini benar-benar interesting—eh.
"Jika kau memang mau mengerjakan soal yang beratus-ratus, maka aku tidak akan segan-segan menga—"
"JANGAN!" kali ini giliran Kuroko yang memotong pembicaraan Akashi lagi, membuat sang pemilik mata heterochromatic itu terkekeh geli. Kuroko plin plan juga ya, dikasih soal sedikit ia protes, giliran mau dikasih banyak malah protes juga.
"Kau memotong pembicaraanku, Tetsuya," katanya, kali ini Kuroko yang diam.
"Sumimasen…" ucapnya pelan.
"Lebih baik kau kerjakan soal itu, tentunya aku akan memberimu waktu…" ucap Akashi lalu melirik waktu di jam tangannya. "Sekarang pukul 4 lewat 30 menit, kau akan kuberi waktu sampai pukul 6 sore… sampai aku selesai melatih anggota tim inti basketku," katanya. Kuroko hanya meneguk ludahnya, biarpun ini hanya 25 soal… tapi kalau soal ini adalah soal matematika, maka apakah ia akan selesai pada tepat waktu? Apalagi ia tidak memiliki catatan untuk menjadi referensinya dalam menjawab soal-soal tersebut.
"Maksud sensei… saya mengerjakannya disini?" tanya Kuroko—memastikan, sejujurnya ia berharap soal ini dibawa pulang, walau hanya harapan kecil—mengingat Akashi hanya memberikannya 25 soal. Tapi setidaknya di perpustakaan lebih baik ketimbang disini.
"Memangnya kau ingin aku menyuruhmu mengerjakan dimana?" Akashi malah bertanya balik.
"Dimanapun asal jangan disini." Kuroko menjawab dengan jujur—atau lebih tepatnya terlalu jujur. Akashi hanya heran mendengar jawaban muridnya itu, apa bedanya ia mengerjakan disini dengan ditempat lain?
"Kau berani memerintahku?" tanya Akashi—ulang, ia pun sudah hapal berapa kali ia menanyakan kalimat yang sama ini kepada pemuda berambut biru muda yang disampingnya. Kali ini Kuroko hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaannya.
"Itu hanya 25 soal, Tetsuya… kau pasti bisa mengerjakannya, hm…" Kuroko tertohok mendengar perkataan Akashi, bisa mengerjakannya? Kalau otaknya pintar, Kuroko pasti hanya akan memamerkan hasil raportnya yang sempurna kepada guru disini, lalu besoknya ia sudah di terima di Teiko tanpa perlu bersusah payah belajar lagi untuk mengikuti ujian masuk. Teiko mempunyai system—bisa masuk tanpa ujian asalkan nilai raportnya sempurna.
"25 soal bagi anda adalah 250 soal bagi saya," ucap Kuroko. "Setidaknya saya ingin mengerjakan di perpus—"
"Kau tidak diperbolehkan meminta bantuan kepada orang lain, Tetsuya." Akashi menatap Kuroko tajam.
"Sensei, aku tidak—"
"Berhenti berbicara atau aku akan menambahkan hukumanmu," potong Akashi lagi, sepertinya ia sudah mulai kesal dengan Kuroko yang dari tadi belum mengerjakan soal yang ia berikan padahal waktu terus berjalan.
"Baik, sensei…" jawabnya lesu, Kuroko langsung mengeluarkan kotak pensilnya. Akashi mendengus pelan, lalu ia menepuk buku yang sedari tadi diabaikan oleh mereka berdua.
"Kau lihat ini apa?" tanya Akashi sambil menepuk buku yang isinya lumayan tebal itu.
"Itu buku, sensei…" jawaban yang polos, Kuroko.
"Kau boleh memakainya untuk referensi," katanya. Kuroko yang mendengar hanya terdiam, jadi maksudnya didalam buku itu terdapat beberapa rumus yang bisa ia jadikan referensi? Kuroko mencoba melayangkan sebuah pertanyaan, tapi sayangnya Akashi menjawab terlebih dahulu.
"Ini untuk meringankan bebanmu yang katanya tidak bisa menjawab soal yang kuberikan," jawab dengan nada sedikit menyindir, Kuroko merenggut kesal.
"Arigatou gozaimasu, sensei…" Kuroko menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga walau ia diberi hukuman, tetapi hukuman yang diberikan tidaklah seseram dengan apa yang dikatakan Momoi dan Kise. Malah sebaliknya, Kuroko merasa Akashi bukan menghukumnya melainkan menyuruh ia belajar ulang karena ia sempat tidak mengerti dengan apa yang diajarkan Akashi dikelas. Sungguh aneh, bukan? Kuroko juga sempat berpikir ada yang aneh.
"Setelah selesai mengerjakan soal ini, kau harus memberikan kertas ini kepadaku yang berada di gedung basket." Kuroko mengangguk tanda menurut.
"Kalau begitu bisa kutinggal? Aku harus melatih murid-muridku." Akashi melirik jam tangannya, Kuroko mengangguk sekali lagi, lalu setelah itu Akashi berjalan ke pintunya—sebelum ia membuka pintu ia merasa namanya dipanggil oleh Kuroko.
"Sensei…" panggilnya, langkah kaki Akashi terhenti. "Boleh aku bertanya satu hal?" lanjutnya. Akashi sedikit menolehkan kepalanya.
"Hm?"
"Ano… saya hanya tidak mengerti kenapa sensei tidak menghukumku seperti yang sensei lakukan kepada murid lain?" tanya Kuroko sambil menggaruk kepalanya, Akashi hanya diam.
"Um… saya hanya tidak percaya… soalnya ini tidak seperti yang dikatakan teman-teman saya, apalagi saya sudah berani membantah perkataan sensei, jadi saya pikir saya akan diberikan hukuman yang sepadan," katanya lagi. Akashi hanya menghela nafas… lalu memutar balikkan tubuhnya dan berjalan pelan ke tempat Kuroko duduk.
"Kau tahu, Tetsuya?" Dia berjalan pelan, lalu berhenti di depan Kuroko… bisa dilihat pemuda yang memiliki mata biru mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Akashi yang juga menatapnya sambil berdiri tegap.
"Jika saja saat pelajaran, kau tidak berani menolakku untuk mengerjakan soal yang kusuruh dan berakhir memalukan di depan kelas, dengan senang hati… aku pasti akan menghukummu lebih berat lagi." Akashi membungkukkan badannya, membuat Kuroko sedikit memundurkan kepalanya karena ia rasa ia terlalu dekat dengan wajah Akashi.
"Padahal selama ini, tidak ada yang pernah berani membantah perkataanku kecuali kau—aku sedikit tertarik denganmu." Akashi tersenyum kali ini senyumannya tidak membuat Kuroko merinding.
Maksudnya?
Akashi semakin mendekatkan kepalanya, lalu berbisik pelan di telinga Kuroko. "Maksudnya adalah aku lebih menyukai orang yang jujur dan menantang sepertimu—walau saat itu kulihat wajahmu sedikit memucat," bisiknya menggoda, membuat Kuroko merasa sedikit geli karena Akashi bernafas ditelinganya.
"Dan jangan lupa satu hal—berhenti menggunakan sikap yang formal jika bukan berada di kelas, Tetsuya." Kuroko memejamkan matanya dengan erat, menahan rasa geli di telinganya.
Akashi menjauhkan kepalanya lalu melihat Kuroko dengan wajah yang sedikit memerah dibalik wajah datarnya itu. 'Heh… manis,' batinnya. Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap wajah sensei nya… ia merasa wajahnya sedikit panas, Akashi yang melihat itu tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Kalau begitu kutinggal, pastikan kau bisa menyelesaikannya tepat waktu kecuali kalau kau ingin bertemu dengan soal-soalku yang lain…" jawabnya lagi, lalu berjalan menuju pintu, membukanya lalu menutupnya pelan, meninggalkan Kuroko sendirian di ruangannya.
Tinggal lah Kuroko di ruangannya, sendirian. Dengan pipi yang masih sedikit merona dan jantung yang sedikit berdetak kencang, Suara Akashi yang tadi berbicara ditelinganya masih terngiang membuat Kuroko sedikit meremas bajunya.
'Rasanya aneh, ada apa ini?'
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
"Ryouta, gerakanmu lambat. Lari keliling lapangan ini sebanyak 25 kali!" teriak sang pelatih, Kise yang mendengar itu melayangkan protes. Saat ini, Akashi tengah melatih tim intinya dengan latihan yang sangat melelahkan.
"Ta-tapi… Akashi-cchi—" Akashi mengeluarkan guntingnya.
"Jangan protes atau akan kutambahkan!" potong Akashi dengan cepat membuat Kise merenggut kesal dan mau tidak mau ia mulai lari mengelilingi lapangan basket sebanyak 25 kali.
"Daiki, Taiga… kalian berjalanlah menggunakan tangan mengelilingi lapangan ini sebanyak 15 kali," kata Akashi dengan tenangnya, dua orang pemuda itu hanya memandang Akashi dengan pandangan syok, disuruh berjalan menggunakan tangan sebanyak 1 kali mengelilingi lapangan ini saja sudah lelah, apalagi 15 kali?
CKRIS!
"Tidak ada kata protes," kata Akashi lagi sambil memainkan guntingnya—siap-siap untuk dilempar, Kise yang mendengar itu hanya terkikik geli, beruntung ia hanya disuruh lari sebanyak 25 kali. Mau tidak mau dua pemuda itu menuruti keinginan pelatihnya atau gunting melayang, setidaknya 15 kali masih lebih baik.
"Atsushi, lari-melompat sebanyak 20 kali," kali ini Murasakibara yang menatap pelatihnya dengan tatapan tidak mau.
"Kenapa Murasakibara-cchi hanya 20 kali?!" rengek Kise sambil berlari, ia mendengar bahwa hukuman Murasakibara hanya diberi 20 kali.
"Diam atau hukumanmu akan kutambahkan, Ryouta."
"Hee~ Aka-chin aku ingin memakan snack ku dulu…" rengek Murasakibara.
CKRIS!
"Lakukan atau akan kubakar snack mu sekarang juga." Mau tidak mau Murasakibara menuruti perintah pelatihnya, melihat sang pelatih sudah menggenggam gunting miliknya.
"Shintarou, lakukan shoot mu sebanyak 30 kali, jika tembakanmu meleset maka akan kulipat gandakan jadi 2 kali," kali ini Shintarou hanya mengangguk percuma ia protes, toh ia percaya tembakannya tidak akan meleset karena ia membawa lucky itemnya. Yang lain cuman menatap pelatihnya dengan tatapan kenapa-hanya-Midorima-yang-tidak-disuruh-berlatih-yang-berat-berat? Padahal mereka tidak sadar, bahwa Midorima juga sempat ragu tadi apakah ia bisa menembakkan bola tersebut kedalam ring tanpa meleset sebanyak 30 kali.
"Aku yakin shoot ku pasti tidak akan meleset—nodayo, karena menurut lamaran Oha Asa… hari ini Cancer berada di urutan pertama," kata Midorima dengan percaya diri.
Sedangkan, Momoi? Ia hanya duduk manis sambil tersenyum menatap teman dan senpai nya itu disiksa, beruntunglah ia hanya seorang manager yang kerjanya hanya mengumpulkan informasi.
"Dai-chan, Kagamin, Muk-kun, Midorin~ ganbatte ne…" teriak Momoi sambil melambaikan tangannya ke arah mereka yang tengah berlatih. Murasakibara membalas lambaian tangan dari Momoi sambil lari melompat.
"Apa-apaan itu Kagamin?" protes Kagami.
"Momoi-cchi melupakanku ssu! kejam!" teriak Kise sambil berlari.
"Ah, aku lupa! Ganbatte ne Ki-chan~," teriak Momoi lagi sambil tersenyum.
"Andaikan Kuroko-cchi ada disini—ssu, pasti aku akan lebih semangat…" gumamnya sambil tetap berlari, ia pun sudah mulai kelelahan. Walau ia tahu… bahwa Kuroko tengah dihukum oleh pelatihnya, ia pun berdoa semoga pelatihnya tidak memberi hukuman yang aneh-aneh kepadanya—meski ia juga tidak yakin.
Akashi yang melihat mereka berlatih, langsung berjalan mendekati Momoi yang tengah duduk di bangku tersebut."Satsuki… tolong ambilkan sekaleng coffee yang berada didekatmu itu," perintah Akashi, tanpa basa basi Momoi langsung mengambil sekaleng coffee dan memberikannya kepada Akashi.
"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya Akashi kepada gadis berambut pink itu, Momoi melihat catatannya.
"Hm… sejauh ini skill mereka sudah lumayan bagus, tetapi Dai-chan dan Kagamin masih perlu di latih lagi," kata Momoi sambil melihat catatannya dengan serius, Akashi mengangguk lalu menatap murid-muridnya yang sedang berlatih.
Lalu mereka berdua kembali terdiam, Momoi pun langsung berfokus pada laporan-laporannya supaya canggungnya hilang dengan pemuda yang duduk disebelahnya sambil meminum sekaleng coffee miliknya dan menatap murid-muridnya yang sedang berlatih.
Saat lagi asyik menulis laporan miliknya, Momoi pun sadar dengan satu hal.
"Akashi-san… kudengar Tetsu-kun sedang di hukum oleh Akashi-san… apakah ia baik-baik saja?" tanya Momoi dengan ragu, ia takut pelatihnya malah memasang wajah seram. Akashi yang mendengar pertanyaan ambigu tersebut hanya mengernyit dahinya heran, seolah-olah Kuroko sedang disiksa habis-habisan olehnya.
"Tentu ia baik-baik saja, Satsuki… ia hanya kuberi latihan soal," kata Akashi dengan nada ketusnya. Momoi hanya tertawa garing, ia merasa kasihan dengan Kuroko yang sekarang pasti ingin pingsan melihat soal-soal yang diberikan oleh pelatihnya. Dia pun juga hanya bisa berdoa dalam hati, berharap Kuroko akan baik-baik saja.
Buru-buru Momoi mengalihkan pembicaraan. "Ne~ Akashi-san… bagaimana kalau mereka diberi nama tim?" tanya Momoi tiba-tiba membuat Akashi kembali fokus kepadanya sambil memandangnya dengan tatapan tanya.
"Nama tim?" Momoi mengangguk dengan semangat. Bukankah nama tim itu tidak terlalu penting?
"Iya! Aku sudah memikirkannya! Karena mereka adalah tim 1 yaitu tim inti lebih baik dikasih nama dari pada hanya dipanggil dengan sebutan tim 1, tim 2 dan seterusnya." Akashi hanya mendengus pelan mendengarkan usulan dari Momoi.
"Memangnya kau ingin memberi mereka nama apa?" tanya Akashi—penasaran.
"Bagaimana kalau diberi nama tim Kiseki no Sedai," ucapnya sambil tersenyum.
"Kiseki—no Sedai? Maksudmu Generation of Miracles seperti itu?" Momoi mengangguk dengan mantap, Akashi hanya memandang heran… dia pikir nama itu terlalu berlebihan untuk murid-muridnya.
"Soalnya dari catatanku, mereka berlima memiliki skill yang tidak dimiliki oleh anggota-anggota lainnya walau mereka masih harus berlatih keras, sensei… terlebih Ki-chan dan Midorin yang juga memiliki skill yang unik, Akashi-san juga pasti tidak akan memilih anggota tim inti dengan sembarang kan?" Akashi menghela nafas.
"Terserah saja…" katanya, membuat Momoi berteriak kegirangan—nama tim yang ia ajukan ternyata diterima Akashi dengan mudahnya.
Tiba-tiba Kise mendekat ke arah Momoi, "Momoi-cchi sepertinya sedang senang, ada apa?" Akashi melirik Kise yang bajunya sudah basah kuyup akibat keringatnya yang terus mengucur seperti hujan. Anak ini ternyata cepat juga larinya.
"Ryouta apa latihan yang kuberikan sudah selesai?" tanya Akashi memastikan, Kise mengangguk mantap.
"Sudah, aku sangat kelelahan. Akashi-cchi tega menyuruhku lari lagi-ssu, padahal sebelumnya kita semua sudah lari keliling lapangan sebanyak 20 kali—ssu. Ah! Momoi-cchi, aku haus…" Momoi langsung memberinya botol air minum, Kise mengambilnya dengan senang hati lalu meneguknya sampai habis.
"Sepertinya kau terlihat tidak kelelahan, lari lagi 10 kali, Ryouta…" kata Akashi membuat Kise syok.
"Hidoi, Akashi-cchi! Aku sudah lelaaaah!" rengeknya tidak terima, padahal jelas-jelas ia sudah basah kuyup dan terlihat seperti orang mau pingsan gara-gara latihan yang diberikan Akashi tidak ada habisnya. Akashi terkekeh geli sepertinya ia sengaja mengerjainya sedikit. Beruntunglah Akashi sedang dalam mood yang bagus, makanya ia terlihat friendly kepada murid-muridnya.
Dari kejauhan terdengar Kagami dan Aomine tengah bertengkar yang tidak penting, "Oi, Aho! Kau menghalangiku berjalan!"
"He? Bukankah kau yang menghalangiku, Baka!"
"Apa kau bilang? Lihat saja aku akan mengalahkanmu!"
"Coba saja!" mereka berdua langsung berlomba untuk siapa yang cepat menyelesaikan latihan yang diberikan oleh Akashi.
"Mereka yang sedang berjalan menggunakan tangan masih sempat-sempatnya bertengkar—ssu…" kata Kise sambil menggelengkan kepalanya pelan, Momoi hanya menghela nafas. "Dasar… mereka selalu seperti itu dari SMP…"
"He? Momoi-cchi satu sekolah dengan mereka dulu kah?" Momoi mengangguk.
"Aku dan Dai-chan bertemu Kagamin sewaktu SMP kelas 3, karena dia pindahan dari Amerika… pada dasarnya sifat mereka berdua hampir sama dan mereka selalu saja bertengkar," kata Momoi, Kise mengangguk-angguk paham, "Sampai sekarang pun masih bertengkar—ssu."
"Sat-chin, lelaaaah… aiiirrrr…." teriak Murasakibara sambil mendekati mereka yang sedang beristirahat di bangku cadangan, ia pun langsung mengaparkan tubuhnya di lantai.
"Murasakibara-cchi sudah selesai latihannya?" Murasakibara mengangguk, Momoi pun langsung memberinya air untuk ia minum.
"Potato chips milikku, Sat-chin~," Murasakibara melambaikan tangannya, Momoi yang melihat itu langsung mengambil snack Murasakibara dan memberikannya. Pemuda tinggi itu pun duduk di lantai dan membuka snack miliknya lalu memakannya dengan lahap.
"Oh ya, Ki-chan! Aku sudah menemukan nama tim untuk kalian, Akashi-sensei menyetujuinya!" kata Momoi dengan wajah berbinar-binar, Akashi yang mendengar itu hanya melanjutkan meminum kaleng coffee nya.
"He? Nama apa itu, Momoi-cchi?" Kise penasaran.
"Hm… aku menamai tim kalian dengan nama Kiseki no Sedai, kalau boleh disingkat menjadi Kisedai~," ujar Momoi, membuat pemuda berambut pirang dan ungu itu mengernyitkan dahinya.
"Sat-chin apa nama itu tidak berlebihan?" Momoi menggeleng dengan semangat.
"Tentu saja tidak!"
"Sugoi, Momoi-cchi! Namanya keren—ssu!" Kise berteriak girang, pada dasarnya mereka berdua juga mempunyai sifat yang hampir sama.
"Keren darimana, Kise-chin…" kali ini Murasakibara tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka berdua.
"Nanti kita beritahu, Midorin, Kagamin dan Dai-chan!" Kise mengangguk tanda setuju, sedangkan Murasakibara langsung terlihat tidak peduli dan sibuk memakan snack nya, yasudahlah yang penting namanya tidak aneh banget.
"Ah~ ada satu hal yang bikin aku penasaran, kenapa di gedung ini hanya terdapat tujuh orang saja ya? Anggota lainnya kemana, Aka-chin?" tanya Murasakibara kepada pelatihnya, ia juga penasaran… kenapa di gedung ini tidak ada anggota lain yang ikut berlatih ya?
"Oh soal itu—"
"Karena kalian adalah tim inti yang kupilih secara langsung, jadi wajar saja jika hanya kalian yang berlatih." Akashi menopang dagunya sambil melihat Midorima melakukan shoot nya. Setelah itu, ia pun berdiri dari bangkunya dan berjalan keluar kelas.
"Aku ingin ke gedung sebelah sebentar melihat mereka latihan, kalian tetaplah berlatih…" kata Akashi sambil keluar dari gedung sengaja memisahkan tim intinya dengan tim kedua dan ketiga agar mereka lebih fokus mengembangkan kekuatannya, tim lainnya juga memiliki pelatih tersendiri. Akashi lebih memilih fokus untuk melatih tim intinya. Pilih kasih memang… tetapi begitulah Akashi, terkadang ia juga ke gedung satu lagi untuk mengajari mereka yang belum lolos masuk ke dalam tim inti, sekedar melihat skill mereka apakah sudah mencapai yang Akashi mau atau belum, jika pun ada… palingan hanya dijadikan cadangan jika salah satu dari tim inti berhalangan tidak bisa hadir dalam pertandingan, walau dari mereka sendiri tidak ada yang tidak pernah -atau belum- absen saat pertandingan di adakan.
Setelah Akashi tidak terlihat lagi, Murasakibara pun langsung membuka suaranya."Maksud dari perkataan Aka-chin apa ya?" tanyanya penasaran, Momoi pun juga ikut penasaran.
"Ne… Ki-chan yang paling tahu kan?" Kise mengangguk singkat lalu berdehem.
"Di dalam basket Teiko, terdapat beberapa tim sesuai dengan kemampuannya—ssu, Akashi yang mengurus klub basket sengaja membaginya menjadi tiga tim. Murasakibara-cchi masih ingat kan waktu itu di adakan test untuk menentukan tim mana yang akan kau masuki?" Murasakibara mengangguk.
"Akashi-cchi memasukkanmu dalam tim ini karena melihat skill mu yang unik—ssu, begitu pula dengan Kagami-cchi dan Aomine-cchi. Bisa dibilang kita adalah tim spesial dengan Akashi yang melatihnya."
"Untuk anggota yang tidak masuk dalam tim pertama, mereka masuk ke tim kedua dan ketiga, mereka berlatih di gedung sebelah berbeda dengan kita, Akashi-cchi sengaja memisahkannya—ssu… karena kita tim pertama yang pastinya akan turun ke dalam pertandingan-pertandingan besar, maka kita pun harus mempunyai tempat latihan yang khusus tanpa diganggu oleh orang lain—ssu."
"Apa itu tidak berlebihan, Ki-chan?" Kise menggeleng pelan, "Bagi Akashi-cchi tidak—ssu… karena ia terobsesi membawa Teiko pada kemenangan lagi, makanya ia mengumpulkan murid-murid yang memiliki kemampuan unik—ssu."
"Hwaa~ Aka-chin ternyata begitu mencintai basket…" lanjut Murasakibara.
"Jamanku dan Midorima-cchi hanya sampai masuk tahap semifinalis, setelah itu kami kalah—ssu," katanya lagi sedikit murung.
"Mungkin dengan tim ini… kita pasti akan menjuarai Winter Cup—ssu, aku tidak sabar!" kata Kise dengan semangat sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Jadi mohon bantuan kalian ya~," Kise menyengir.
"Ah… soal itu, aku pernah mendengar bahwa Teiko sempat menjuarai Inter High dan Winter Cup selama tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun," kata Momoi sambil menjentikkan jarinya.
"He? Benarkah itu Sat-chin?"
"Iya! Tapi setelah mereka lulus semua dari sini, basket Teiko melemah… bahkan dikabarkan hampir pernah dibubarkan," katanya lagi.
"He? Aku jadi penasaran dengan anggota yang dulu~."
"Oh ya Ki-chan! Kamu dan Midorin kan baru kelas 2, seharusnya masih ada senpai kelas 3 yang masih bermain… tapi aku tidak melihatnya," kata Momoi penasaran.
"Oh… mereka semua sudah lulus—ssu."
"Lulus?"
"Dulu waktu kami baru kelas 1, mereka sudah kelas 3, tidak ada senpai kelas 2 di tim inti—ssu," kata Kise lagi sambil menopang dagu dengan tangannya, Momoi mengangguk tanda mengerti.
"Hoa~ berarti masuk tim inti benar-benar susah ya…" celetuk Murasakibara sambil menggigit potato chipsnya. "Trus sekarang siapa yang menjabat menjadi kapten?" tanyanya lagi dengan penasaran, tumben-tumbennya anak ini penasaran.
"Saat ini kaptennya belum ditentukan dari Akashi-san, jadi belum tahu siapa yang akan menjadi kapten selanjutnya," timpal Momoi.
"Aku yang akan jadi kaptennya—ssu!" ucap Kise dengan percaya diri.
"Ki-chan jadi kapten? Nanti bakalan jadi apa ya timnya?" Momoi sedikit menyindir Kise membuat pemuda pirang itu cemberut.
"Mungkin Kaga-chin dan Mine-chin?" Momoi langsung menatap horror, "Kupastikan ya kalau mereka yang jadi kapten, Akashi-san setiap hari akan murka." Momoi menggeleng kepalanya. Kise mengangguk setuju, ia pun juga tidak bisa berpikir jika kaptennya adalah salah satu dari mereka.
"Mido-chin?" Murasakibara mengulangi.
"Hm, mana mungkin tsundere megane itu bisa jadi kapten..." kata Kise sambil berkacak pinggang.
Midorima, Kagami dan Aomine yang sudah selesai latihan langsung ikut berkumpul dengan yang lain.
"Kalian sedang membicarakan apa sepertinya serius sekali—nodayo, tapi aku tidak terlalu peduli sih." Midorima mengambil minuman yang ditawarkan oleh Momoi lalu duduk di bangku di sebelah Kise. Sedangkan Aomine dan Kagami mereka duduk di lantai dengan Murasakibara sambil meminum air mereka dengan ganas.
"Tidak ada yang penting—ssu," kata Kise sambil ikut meneguk airnya.
"Sat-chin dan Kise-chin sedang membicarakan tentang nama tim…" kata Murasakibara dengan nada malasnya yang khas.
"Tadi juga kami membicarakan soal kapten sih..." ujar Momoi menambahkan.
"Tim?" ucap Kagami.
"Kapten?" ucap Aomine.
"Oh ya! Mulai sekarang kita mempunyai nama tim yang bernama Kiseki no Sedai bisa disingkat menjadi Kisedai," kata Momoi dengan riangnya. Mereka bertiga heran.
"Kiseki—"
"—No…"
"—Sedai?" ucap mereka secara bergantian. Kise dan Momoi langsung mengangguk dengan semangat, kompak sekali mereka berdua ini.
"Apa itu tidak berlebihan—nodayo?" Midorima bertanya.
"Aku setuju dengan Mido-chin~," timpal Murasakibara, Momoi hanya memasang muka cemberut.
"Nama yang terlihat seperti kumpulan orang-orang idiot…" ucap Aomine dengan sarkastik, Momoi pun langsung melempar botol minumnya ke muka Aomine.
"Oi! Satsuki!" protes Aomine saat mukanya menjadi bahan lemparan.
"Bukannya kau termasuk orang idiot juga, Aho?" Kagami menyindir, membuat dahi Aomine berkedut.
"Kau juga, Baka!" mereka berdua pun langsung berhadapan sambil mengeluarkan aura berapi-api, membuat yang lain hanya menghela nafas dengan tingkah idiot mereka—kecuali Murasakibara yang hanya menatap dengan malas.
"Jangan protes! Akashi-san sudah menyetujuinya!" kali ini Momoi berdiri lalu berkacak pinggang dengan telunjuk kanannya menunjuk ke arah Kagami dan Aomine. "Kalian berdua berhentilah bertengkar!" lanjut Momoi sambil menggembungkan pipinya.
"Ha~ terserahmu lah, Satsuki…" Aomine menjauhkan wajahnya dari Kagami lalu menggaruk kepalanya.
"Orang idiot bertengkar dengan orang idiot~," gumam Murasakibara.
"Apa kau bilang, Murasakibara?" Aomine yang mendengar samar-samar langsung melayangkan protes, Murasakibara mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Aku bilang aku masih ingin memakan snack milikku," ucapnya bohong.
"Apa kalian sudah selesai latihan?" Akashi tiba-tiba muncul dan bersandar di pintu tersebut sambil melihat murid-muridnya yang asyik berbicara dari tadi, mereka yang mendengar suara tersebut langsung mengalihkan pandangannya ke arah pelatihnya yang sekarang berjalan masuk mendekati mereka semua yang tengah berkumpul.
"Sudah, Aka-chin~," Murasakibara yang menjawab diikuti oleh anggukan lainnya.
"Baiklah kalau begitu, hari ini kita latihan tanding dengan tim kedua, cepatlah bergegas untuk pergi ke gedung sebelah," kata Akashi lagi, ia mengambil sisa kaleng coffee miliknya lalu mulai berjalan keluar dari gedung ini, diikuti oleh murid-muridnya.
"Yosh! Aku sekarang tambah bersemangat, hahaha!" kata Kagami dengan nada semangat, membuat Aomine menepuk pundaknya sedikit keras tanda ia setuju.
"Dengan keberuntunganku hari ini, kupastikan tembakanku tidak akan meleset—nodayo."
"Yay~ akhirnya bisa bertanding dengan yang lain juga—ssu," kata Kise dengan riangnya.
"Tanding ya~ ah, sedikit merepotkan..." ucap Murasakibara, benar-benar tipikal orang yang sedikit pemalas.
"Ganbatte ne, minna…" ucap Momoi sambil menyemangati mereka berlima. Mereka semua pun langsung bergegas menuju ke gedung sebelah untuk bertanding dengan tim lainnya.
.
.
To Be Continue
Author note: Ini cerita agak lebay atau Akashi nya lebay bgt disini #dibunuh. Oke maafkan saya yang super duper lambat updatenya, habisnya minggu2 ini saya banyak kerjaan kantor numpuk ditambah lagi musti bolak balik singa dapur #plak gara2 disuruh :'), kadang nyempatin ngetik di kapal kadang juga di kantor, kemarin sempat ketahuan oleh bos lagi aku ngetik cerita untung gk dibaca kalau cerita saya ini rada humu #plak . Rencananya mau update setiap hari Rabu/Kamis ini aja udah Jumat #tepok jidat. untuk chapter selanjutnya udah dikerjakan setengah tapi di hp belum dipindahkan ke lappie :')
Saya rasa ini cerita tambah absurd ya hadeuh... ah mohon maaf kalau ada typo(s) yang seenaknya nyempil . Untuk Akakuro maaf gak terlalu bisa banyak, jujur saya bingung ini cara nge-PDKT-in mereka kayak gimana, yang satu datar kayak papan yang satu cuek bebek, pengen dibuat mesum sih Akashi nya tapi kayak mana ya duuhhh, mungkin chappie depan saya coba banyakin #dilempargunting
Time to balas review:
dwinur halifah 9 : ah ini sudah update, selamat membaca :)
Sachiru Mikachi : Kurang ya? #mojok, Alasan Kuroko? gak terlalu penting lah #plak ini udah lanjut ya xD makasih udah review.
sejalahzy : wakakaka Akashi kayak modus ya? iya abis kemarin sempat bingung gmn caranya Akashi tertarik ama tuh Kuroko wkwkwk XD
Frea Cavallone-Hibari : anjingnya pasti nigou dong, anjing mana lagi xD nigou kan kawaii hihi. Yup aku lebih suka dengan keheboan si kisedai xD rasanya kalau mereka sahabatan kyk gitu ugh so sweet kalii..
kureha sei : gak merasa lagi, memang ada akakuro nya xD, chappie ini kyknya gak terlalu banyak deh :') maaf yaaa
Kihyunwon: halo halooo.. oke makasih udah review, selamat membacaaa
Tet-chan : Hahahaha, iya Akashi modus sangat lol mana sok gaya cool pula lagi hm~ , Kise ya? boleh juga sih tapi ujung-ujungnya kise yang kena bully xD
zhichaloveanime : waduh mereka baru kenalan lgsg pgn cepet2 jadian hahaha xD ini sudah update yaa maaf telat huhu :'(
AkaSunaSparKyu : slight pair yaaa hhhmmm... soalnya fokus ke AkaKuro sih, tapi coba deh nanti saya selip2in xD
AulChan12 : Siapa yang gak suka AkaKuro? #plak, gukguknya jadi makcomblang gak kebayang deh Akashi melihara si nigou ugh xD . Kita lihat nanti untuk next nya~ semoga suka dengan chap ini ya :')
Akari Kareina : Hahaha iya akashi modus pake banget nih nyuruh2 kuroko kerumah, ntar lagi disuruh kuroko beres2 rumahnya macam kayak istri aja xD
kim ariellink : Iya dekatnya karena Nigou plus Kisedai juga sih... soalnya mereka kan sering2 narik Kuroko, jadi bakal sering ketemu ama pelatihnya tuh.
Indah605 : Ah makasih reviewnya :'3 ini udah dilanjut yaaa
Deidara : wakakaka apa boleh buat, daripada berteduh dan gak tau kapan berhentinya mending nyolong payung orang, hmm.. Saya juga merasa kuroko masih muka datar gitu, blm keluar ekspresinya... soalnya kan masih baru2 gitu xD
Guestt: ah makasih reviewnya, ini sudah update :'D
Yuni chan : Makasih banget kalau sukaa.. ini udah update silahkan nikmati ^^
Terimakasih kalian yang telah mereview fict absurdku ini x'D semoga gak bosan ya bacanya hahaha.
Akhir kata,
Mind to Review?
_Pinkuru_
