Kuroko No Sutori
Pairing : AkaKuro
RATE T
Romance, Friendship, Drama, (a little bit Humor, maybe)
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Sutori © Pinkuru
Warning! Boys Love, OOC, Typo(s)
Happy Reading!
Kuroko mengetuk-ngetuk ujung pensilnya di meja, wajahnya terlihat sedang berpikir keras, mimik mukanya yang datar biasa kini menjadi datar serius.
"Ng… kalau begini—hasilnya apa akan seperti ini?" katanya sambil menulis-nulis sesuatu di kertas putih. Ia pun terlihat serius dengan soal yang di berikan oleh sensei nya. Sesungguhnya, Mata Kuroko udah sangat lelah mengerjakan soal-soal ini, baru saja 25 soal… dirinya ingin menyerah. Sekilas ia berpikir, bagaimana nasib murid lain jika mendapatkan hukuman yang lebih darinya? Mungkin mereka akan nangis berdarah sambil sujud mohon ampun.
Saat Kuroko lagi sibuk bergelut dengan soalnya, tiba-tiba terdengar bunyi seperti pintu dibuka dari luar ruangan Akashi. Kuroko agak sedikit terkejut lalu menolehkan kepalanya ke sumber suara itu.
"Sei-chan, kau didalam?" panggil orang itu, ia pun menyembulkan kepalanya ke dalam mencari keberadaan seseorang yang ia panggil—apa tadi? Sei-chan?
Tubuh orang itu masuk sepenuhnya ke dalam ruangan Akashi, tak lupa ia menutup pintunya kembali dengan pelan, Kuroko juga melihat ia membawa dua buku tebal di tangannya.
'Bukankah itu—Mibuchi-sensei, kan?' batinnya meyakinkan bahwa orang yang dia lihat itu adalah gurunya yang pernah mengajar di kelasnya, ada perlu apa ia kesini?
"Ah, aku lupa… dia pasti sedang ada di gedung basket, lebih baik aku taruh saja bukunya di lemari," katanya. Mibuchi langsung berjalan menuju rak-rak buku dan menyusun dua buku tebal itu dengan rapi disana.
Sesungguhnya Mibuchi tidak menyadari bahwa Kuroko berada disana, jadi si makhluk halus—maksudnya Kuroko memilih untuk berdiam diri. Dari pada ia mengagetkan orang, siapa tahu ia punya penyakit jantung, bisa gawat.
Saat gurunya—Mibuchi, selesai menyusun buku di rak itu, ia pun berbalik ingin keluar. Tapi alangkah kagetnya saat ia berbalik dan tiba-tiba menyadari bahwa ada orang selain dirinya didalam.
"Siapa kau? Kenapa ada di ruangan Sei—Akashi-sensei?" tanyanya sedikit terkejut. Wah, bahkan ia masih bisa salah menyebut panggilan untuk Akashi.
'Eh, ternyata ia menyadariku?' Wajar saja Mibuchi menyadarinya, saat ia berbalik matanya langsung melihat ke meja dan kursi tempat Akashi duduk dan di depan kursi milik Akashi terdapat satu orang manusia tengah duduk disitu. Gimana gak terkejut? Saat posisinya lagi sendiri, ternyata ada Kuroko yang tengah memperhatikannya dengan wajah datarnya. Orang pasti suka salah kira bahwa Kuroko itu mirip seperti hantu.
"Ah, sumimasen, telah mengagetkanmu, sensei. Saya disini karena sedang dihukum oleh Akashi-sa—err maksud saya Akashi-sensei." Kenapa Kuroko jadi ikut-ikutan salah memanggil panggilan untuk Akashi?
"O..oh… malang sekali nasibmu, um-?" Mibuchi berhenti sebentar karena ia bingung harus dipanggil apa orang yang dihadapannya ini.
"Kuroko Tetsuya, desu." Cepat-cepat Kuroko memperkenalkan diri.
"Kuroko-chan."
—chan?
"Ano, sensei… saya ini laki-laki tulen." Kuroko bermaksud meralat panggilan yang gurunya berikan kepadanya.
Mibuchi tertawa, "Aku lebih senang memanggilmu, Kuroko-chan." Ia mengedipkan mata kanannya, saat itu juga Kuroko langsung merinding mendadak. Kenapa gurunya ini suka sekali mengedip-ngedipkan matanya?
"O..kay." Kuroko pasrah dan akhirnya menyetujui bahwa namanya resmi dipanggil Kuroko-chan oleh Mibuchi. Ia juga sudah mulai terbiasa nama-namanya dipanggil dengan sebutan yang aneh.
"Jadi—masalah apa yang kau buat apa kepada Sei—ehem! Akashi-sensei?" Mibuchi berdehem, ia hampir saja salah menyebut panggilan untuk Akashi lagi, jika di depan murid tidak mungkin Mibuchi memanggil Akashi dengan panggilan sayangnya kan? Bisa-bisa ia disiksa pakai gunting rumput karena telah menodai image-nya Akashi yang cool dan terkenal menyeramkan.
"Tidak apa sensei, saya juga sudah mendengarnya," kata Kuroko dengan wajah datarnya.
"Eh?" Mibuchi terlihat tidak mengerti maksud perkataan Kuroko.
"—Sei-chan?" Kuroko mengulangi. Ia hampir saja ingin tertawa, tidak menyangka bahwa gurunya yang rada gila dan menyeramkan itu ternyata mempunyai nama panggilan yang lucu dan imut.
"Waaa! Kuroko-chan! Aku mohon jika kamu dendam dengan—Akashi-sensei, jangan mengejeknya dengan nama itu, bisa-bisa nyawaku melayang!" katanya sambil panik, ia pun langsung berlari mendekat dan menutup mulut Kuroko sebentar, lalu melepaskannya setelah Mibuchi selesai berbicara.
Kuroko diam saja, sebenarnya tidak peduli sih dengan nyawa gurunya. Toh, ia juga baru kenal dengan gurunya yang satu ini. Tapi karena malaikat Kuroko yang memenangkan sesi(?) ini, akhirnya ia memilih untuk menjaga rahasia dan tidak akan mengejek Akashi dengan panggilan seperti itu walau nantinya Akashi membuat ia kesal.
"Baiklah, sensei. Saya tidak akan mengatakannya dengan siapapun," kata Kuroko dengan janji. Mibuchi bernafas lega.
"Terimakasih, Kuroko-chan. Aku sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Sei-chan," katanya sambil tersenyum.
"Ano… kenapa sensei memanggilnya dengan sebutan itu? Apakah Akashi-sensei tidak mempermasalahkannya?" tanyanya, gini-gini juga Kuroko bisa penasaran.
"Oh, soal itu karena Sei-chan mempunyai sisi yang manis makanya cocok dipanggil seperti itu," ujarnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata kanannya. Rasanya Kuroko ingin menyolok matanya supaya ia tidak terlalu sering mengedip, tapi ingat! Kuroko masih menjadi anak yang baik, tidak mungkin ia melakukan hal seperti itu.
'Sisi manis darimana? Ia bahkan terlihat seperti singa buas atau ular mematikan atau raja iblis yang turun dari neraka.' Kejam sekali kau, Kuroko.
"Ah, Sei-chan memang jarang memperlihatkan sisi manisnya, tapi jika Kuroko-chan bisa dekat dengannya, ia pasti akan menunjukkannya," katanya lagi, sepertinya ia bisa membaca pikiran Kuroko. Lama-kelamaan ia seperti Akashi yang suka membaca pikiran orang lain.
Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan guru seperti dia? Orang yang masih waras mungkin akan berpikir tiga kali lipat untuk dekat dengannya.
Hei hei, Kuroko… kau seperti menyindir para Kisedai dan orang yang ada dihadapanmu ini, mereka kan juga terlihat dekat dengan Akashi. Dan kau juga seperti menyindir dirimu sendiri, Kuroko. Apa kau lupa bahwa kau sekarang lumayan dekat dengannya?
"Oh ya, Kuroko-chan... kamu belum menjawab pertanyaan dari sensei mu ini." Kuroko mengerutkan alisnya sejenak, setelah itu ia langsung sadar maksud perkataan Mibuchi yang mana.
"Tadi di kelas saya melawan Akashi-sensei," katanya dengan tenang.
"Melawan?" Mibuchi membelalakkan matanya, terkejut mendengar perkataan Kuroko.
Kuroko mengangguk kecil, "Maksud saya... saat Akashi-sensei menyuruh saya untuk mengerjakan soal yang ia tulis di papan, saya menolaknya dengan tegas, tetapi sepertinya Akashi-sensei bukan tipe orang yang senang dibantah," ujarnya.
Mibuchi mengangguk-angguk kecil sambil memegang dagunya, "Sou ka, karena perkataan Sei-chan itu absolut jadi perkataannya tidak bisa dan tidak boleh dibantah," katanya. Kuroko diam saja, lagipula dia sudah tahu bahwa perkataan Akashi pantang untuk dibantah.
"Oh ya Kuroko-chan, apa Sei-chan memberimu banyak soal? Mau kubantu?" tawar Mibuchi, sungguh guru yang sangat baik, Kuroko bersyukur masih ada guru yang seperti ini di sekolahnya.
"Tidak usah sensei, sebentar lagi sudah selesai, lagipula Akashi-sensei tidak terlalu banyak memberiku soal." Sayang sekali Kuroko menolaknya, ia juga merasa segan jika ada yang membantunya, karena ia juga sedang di hukum.
"Wah~ sepertinya kau beruntung, Sei-chan tidak memberimu banyak soal," katanya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Kuroko dengan gemas, membuat rambut Kuroko menjadi berantakan.
Yah Kuroko juga bersyukur karena hukuman untuk dirinya tidak lah terlalu berat.
"Sensei, yamette kudasai," katanya sambil memegang lengan Mibuchi, guru itu pun langsung menjauhkan tangannya dari kepalanya.
"Rambutmu halus juga ya Kuroko-chan," katanya sambil mengedipkan matanya, lagi-lagi. Ia pun melirik ke jam tangan miliknya, "Sudah jam segini? Aku harus balik ke ruanganku, kutinggal tidak apa, Kuroko-chan?" Kuroko mengangguk kecil, "Tak apa, sensei..."
"Baiklah, kalau begitu semangat mengerjakan soalmu ya~ Kuroko-chan~." Dia pun melambaikan tangannya lalu berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, lalu setelah ia keluar dari ruangan ia pun menutup pintunya kembali meninggalkan Kuroko yang masih berdiri menatap ke arah pintu.
'Guru yang aneh.' Kuroko kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Dari luar terlihat Mibuchi menyandarkan punggungnya di depan pintu ruangan Akashi, ia terlihat sedang berpikir serius. "Kuroko Tetsuya, hm... " gumamnya, setelah itu ia berjalan meninggalkan ruangan Akashi.
.
Saat ini Kuroko sedang berjalan melewati lorong sekolah untuk menuju ke gedung basket tempat gurunya berada, ia mengambil hp nya dan melihat waktu yang tertera di hpnya. Waktu menunjukan pukul 05 lewat 45 menit, itu artinya Kuroko telah menyelesaikan soal yang Akashi berikan sebelum waktunya habis. Ia pun berlari kecil, bergegas untuk kesana sebelum waktu menunjukkan pukul 6 sore.
Setelah sampai di gedung tersebut dengan nafas memburu, ia pun mendorong pelan pintu dan bergegas masuk kedalam, saat ia masuk ke dalam. Ternyata ruangan itu telah kosong, membuat Kuroko kebingungan karena tidak ada satupun orang di dalam gedung itu kecuali beberapa minuman kosong yang tergeletak di bangku tersebut.
'Mereka semua ada dimana?'
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
"Aomine! Oper bolanya kepadaku!" teriak Kagami dengan semangat, Aomine langsung mengoper bolanya ke Kagami. Kagami yang mendapatkan bola tersebut langsung segera berlari menuju ring lawan. Saat ia ingin melompat untuk memasukkan bola, dua orang tim lawan menghadangnya, tidak membiarkan Kagami untuk mencetak skor.
Saat ini mereka tengah mengadakan latihan tanding antara tim inti dengan tim kedua, jika tim kedua berhasil mengalahkan tim inti, maka mereka akan berkesempatan bisa masuk kedalam tim inti.
Tetapi tentu saja Kisedai tidak akan mengalah atau membiarkan mereka menang, walau hanya pertandingan melawan sesama anggota tim basket Teiko, apalagi Akashi memberikan pesan yang mengerikan kepada mereka jika mereka sengaja mengalah.
'Sial!' Kagami merasa bahwa tangan lawan tersebut terus bergerak untuk merebut bola itu, sedangkan waktu tinggal menit terakhir menandakan pertandingan akan berakhir.
"Kagami-cchi!" teriak Kise dari kejauhan.
"Bakagami, ayo masukkan bolanya!" Kagami yang menyadari itu langsung tersenyum seperti meremehkan, ia langsung melompat tinggi diikuti oleh dua lawannya.
"Heh! Dua orang tidak akan cukup menghalangiku!" katanya dengan percaya diri, tangan lawan itu telah menyentuh bola tidak membiarkan bola itu masuk ke ringnya, tetapi Kagami tidak gentar dengan kekuatannya. ia pun langsung mendorong bola tersebut dengan kekuatannya diikuti teriakan kencang yang keluar dari mulutnya dan akhirnya masuk kedalam ring pada menit terakhir. Dua orang tersebut langsung terjatuh duduk karena tidak kuat menahan beban yang diberikan oleh Kagami.
"Dia… benar-benar sangat kuat," ujar orang itu sambil membelalakkan matanya tidak percaya. Peluit dibunyikan menandakan pertandingan sudah berakhir dengan tim pertama sebagai pemenang, biarpun lawan mereka adalah tim kedua, tetap saja mereka juga tidak bisa diremehkan.
"Untuk tim kedua... tidak buruk juga," kata Kagami sambil mengulurkan tangannya untuk membantu mereka berdua berdiri, dua orang tersebut membalas ulurannya sambil tersenyum.
"Selanjutnya kami pasti akan mengalahkan kalian dan masuk ke tim inti," balasnya, Kagami hanya tersenyum mendengarnya. "Akan kutunggu," jawabnya demikian.
"Kagami-cchi!" Kise pun langsung melompat ke punggung Kagami dan memeluknya, membuat ia mau tidak mau langsung menahan beban dari si pemuda pirang itu .
"Oi, Kise! Kau berat! Menyingkir dariku!" protes Kagami, sedangkan Kise hanya tertawa senang. Aomine langsung mendekati mereka berdua dan merangkul Kagami yang masih menahan beban saat Kise menaiki punggungnya.
"Yay~." Tiba-tiba Murasakibara mendekati mereka bertiga lalu melompat untuk memeluk Kagami.
Bruk!
Karena badannya yang besar dan tinggi, mengakibatkan mereka bertiga ditimpa oleh Murasakibara. "OI! Murasakibara! Menyingkir dariku, kau sangat berat!" teriak Aomine tidak terima dia ditimpa oleh pemuda ungu itu.
"Aho! Harusnya aku yang bilang begitu, menahan beban kalian bertiga sungguh sangat berat tahu!" teriak Kagami tidak mau kalah, karena posisinya yang berada paling bawah.
"Murasakibara-cchi berat—ssu…" rengek Kise. Midorima hanya melihat mereka sambil menggelengkan kepalanya, "Dasar… seperti anak kecil saja—nodayo." Orang-orang yang berada di dalam gedung tersebut hanya bisa ber sweatdrop ria melihat tingkah laku mereka berempat yang seperti anak kecil.
"Yatta~ mereka menang." Momoi melompat dengan riang, ia sangat yakin bahwa tim nya akan menang, walau kekuatan mereka belum dikatakan sempurna. Sedangkan Akashi hanya tersenyum tipis, puas melihat kerjasama anggota timnya yang lumayan meningkat . Mereka pun langsung berjalan menuju tempat Akashi dan Momoi berada, lalu satu persatu mengambil air untuk diminum.
"Daiki, Taiga, Atsushi, Shintarou dan Ryouta… aku ikut senang karena kerjasama kalian mulai meningkat," kata Akashi sambil tersenyum, membuat yang lain pun ikut tersenyum senang.
"Baiklah… latihan cukup sampai disini, kita lanjutkan besok…" katanya lagi, diikuti oleh anggukan dari tim Kisedai beserta Momoi.
"Selamat ya atas kemenangan kalian," Kuroko memberi selamat kepada mereka semua. Eh? Dia muncul dari mana ya?
"Hahaha terimakasih Kuroko—" Tiba-tiba Kagami sadar bahwa ia mengatakan nama yang seharusnya tidak ada disini, mereka semua pun langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut.
Eh?
"KUROKO-CCHI?!" teriak Kise saat ia melihat pemuda berambut biru itu telah berdiri di samping dia dan Aomine, mereka semua terkejut dengan kedatangan Kuroko yang tiba-tiba… termasuk Momoi dan Akashi, mereka benar-benar tidak menyadarinya sama sekali.
"Tetsu?!"
"Kuro-chin~."
"Doumo…" Kuroko membungkuk dengan sopan, ia sudah biasa melihat ekspresi terkejut dari teman-temannya. Kagami dengan kelakuanb iasanya itu langsung meremas kepala Kuroko, karena pemuda ini sengaja mengejutkan mereka semua.
"Kuroko-teme! Kubilang berapa kali jangan suka mengejutkan kami semua!" kata Kagami dengan geram.
"Ittai Kagami-kun," jawab Kuroko dengan wajah datarnya, ia sudah biasa dengan kelakuan Kagami yang suka meremas kepalanya.
"Tetsu-kun… sejak kapan kamu ada disini?" Momoi bertanya, Kuroko berpikir sebentar. "Semenjak Kagami-kun memasukkan bola kedalam ring dalam detik terakhir," ujarnya.
"Sudah selama itu—ssu?!" Akashi hanya diam mengamati Kuroko dengan mereka berenam yang tengah mengerumuninya. Ia menjadi penasaran dengan pemuda yang memiliki mata biru langit ini, hawa keberadaannya yang sangat tipis membuat ia seperti mempunyai keahlian yang unik.
"Bicara soal itu, Kuroko! Bagaimana hukumanmu? Apa Akashi melukaimu?" tanya Kagami dengan nada sedikit panik. Kuroko mengernyit, terluka?
"Benar juga, Kuroko-cchi baik-baik saja—ssu?" tanya Kise sambil meraba-raba tubuh Kuroko memastikan bahwa temannya ini baik-baik saja, Aomine facepalm seketika.
"Kise singkirkan tanganmu itu! Tetsu, apa Akashi memberikanmu hukuman yang aneh-aneh?" giliran Aomine yang bertanya.
"Kuro-chin yang sabar ya~ Aka-chin kadang terlalu berlebihan orangnya." Murasakibara ikut membuka mulutnya.
"Tetsu-kun! Aku sangat mengkhawatirkanmu, kupikir kau akan pingsan di ruang Akashi-san karena ia menyiksamu," kata Momoi sambil memeluk Kuroko seenaknya dan memasang wajah iba. Mereka berlima tidak sadar atau mungkin sadar, bahwa Akashi mendengar jelas perkataan mereka yang seolah-olah Akashi menyiksa anak orang, walau memang fakta.
"Ehem! Apakah kalian tidak sadar bahwa Akashi-sensei tersinggung dengan perkataan kalian—nodayo?" Midorima menginterupsi, membuat mereka semua tersadar dan menutup mulutnya masing-masing.
CKRIS!
Akashi memainkan guntingnya, dengan gerakan patah-patah mereka melirik ke belakang dan melihat Akashi tengah melotot dan mengeluarkan aura hitam pekat, jujur saja ia merasa tersinggung dengan perkataan murid-muridnya. "Kalian tidak sopan," katanya dengan nada seram, membuat ia semakin mirip seperti raja iblis dari neraka.
"Eto, Akashi-cchi..." Kise mulai mundur menjauh, bermaksud ingin kabur, begitu pula dengan yang lain.
Kuroko yang melihat Akashi siap-siap ingin menyiksa muridnya malah mendekatinya, "Ano, sensei… soal-soalnya sudah saya selesaikan," katanya sambil memberi lembaran soal tersebut kepada Akashi, sang guru terdiam, aura hitam yang mengelilinginya pudar seketika, ia melirik kertas yang disodorkan oleh Kuroko. Para Kisedai langsung bernafas lega, tidak jadi disiksa~
Akashi mengambil kertas itu, "Apa soal yang kuberikan itu susah?" Kuroko menggeleng pelan, "Tidak, jika ada buku yang sensei berikan." Jawaban yang sangat jujur.
"He? Kuro-chin bisa mengerjakan soal itu? Sugoi~." Murasakibara memujinya.
"Benarkah Kuroko-cchi? Ternyata Kuroko-cchi lebih pintar dari Midorima-cchi—ssu."
Midorima yang mendengar itu langsung melayangkan protes, "Apa kau bilang—nanodayo?!" Kise menyengir lalu memberikan tanda 'V' kepada Midorima.
"Iie desu… sensei juga membantuku, jadi saya tidak terlalu susah mengerjakannya."
"Akashi-cchi membantumu?" Kise memiringkan kepalanya.
"Sudah itu tidak penting, yang jelas Tetsuya… jangan mengulangi perbuatanmu lagi di dalam kelas," ujarnya sambil tersenyum tipis, diikuti oleh anggukan dari Kuroko. "Wakarimashita, sensei…" Kisedai syok, jarang-jarang pelatihnya bisa ramah kepada orang lain.
'Tumben Akashi melembut?' batin para Kisedai bersamaan—minus Murasakibara.
"Kalian berlima segeralah berganti baju lalu segera pulang kerumah karena besok kalian harus latihan lagi," ujar sang pelatih kepada mereka di ikuti oleh anggukan dari mereka semua.
"Oh ya, hari ini ayo kita ke minimarket untuk membeli eskrim!" usul Kise kepada yang lain.
"Aku juga ingin membeli maibou~," timpal Murasakibara.
"Ah! Tetsu-kun ayo ikut!" Momoi pun langsung memeluk lengan Kuroko dengan erat.
"Sumimasen… hari ini aku tidak bisa, aku ada urusan yang penting…" jawab Kuroko, membuat yang lain mendengarnya langsung lesu.
"He…? Kuroko-cchi ada urusan apa?" tanya Kise dengan wajah memelas.
"Tetsu-kun tidak bisa ikut ya?" tanya Momoi yang masih memeluk lengan Kuroko.
"Sudahlah kalau Kuroko ada urusan jangan dipaksa—nodayo," kata Midorima sambil membenarkan kacamata miliknya. Akashi hanya diam saat mendengarkan percakapan mereka, "Pastikan besok kalian tidak datang terlambat," katanya lalu berjalan keluar dari pintu tersebut, mereka semua langsung membalas perkataan pelatihnya.
Kuroko yang melihat Akashi telah hilang dari pandangan langsung membungkuk kepada mereka semua bermaksud pamit. "Kalau begitu aku juga harus pamit, jaa minna-san…"
"Ah… Tetsu-kun."
"Eh… tunggu Kuroko-cchi—" Kuroko langsung berlari kecil keluar dari gedung tersebut.
"Kuro-chin sudah pergi~," kata Murasakibara dengan nadanya yang malas.
"Dia ada urusan apa sih, kenapa terburu-buru sekali," timpal Kagami.
"Sepertinya urusan yang sangat penting, lebih baik kita segera ganti baju…" lanjut Aomine, mereka pun menurut lalu pergi menuju ruang ganti untuk mengganti baju mereka.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk perlahan oleh pemuda bersurai biru muda sambil membawa beberapa kantung berisi belanjaan nya yang ia beli dari minimarket sepulang dari sekolahnya, ternyata urusan yang Kuroko maksud adalah berkunjung kerumah gurunya untuk sekedar mengurusi anjing yang kemarin ia pungut. Terlihat dari belanjaan yang ia bawa, semuanya berisi keperluan untuk anjing kecilnya.
Pintu di buka pelan oleh sang pemilik… Kuroko langsung menundukkan kepalanya. "Konbanwa, sensei…" pemuda yang memiliki mata heterochromatic hanya memandang lurus kepada orang yang ada dihadapannya.
"Masuklah," perintahnya diikuti oleh anggukan kecil dari Kuroko, ia pun langsung masuk kedalam dan melepas sepatunya.
"Guk!" anjing kecil tersebut menyadari hal itu langsung melompat ke pelukan Kuroko, membuat Kuroko membungkukkan badannya lalu merentangkan tangannya untuk menangkap anjing kecil itu. Anjing itu pun langsung menjilat pipi Kuroko yang tengah dipeluknya.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Kuroko kepada anjing tersebut, anjing itu hanya menatap Kuroko dengan tatapan senang.
"Kau ingin minum apa?" tawar Akashi, walau Akashi berhati iblis, ia masih punya sopan santun menawarkan sebuah minuman untuk tamunya. Kuroko menggelengkan kepalanya pelan ia tidak enak jika gurunya membuatkan ia minuman padahal gurunya tidak mengundang dia untuk bertamu.
"Tidak usah, sensei… saya kesini hanya untuk memberinya makan saja," katanya sambil membawa beberapa belanjanya ke dalam sambil menggendong anjing tersebut.
"Hm, baiklah."
"Sensei… saya pinjam dapurnya, boleh?" tanya Kuroko lagi.
Akashi mengangguk singkat, "Jangan sampai berantakan, karena aku baru membereskannya." lalu ia melesat ke ruang tengah tempat ia beristirahat sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
'Membereskannya?' Kuroko berdiam sebentar lalu ia pun berniat masuk ke dalam dapur untuk mengurusi anjingnya itu.
Selama 15 menit Kuroko mengurus anjing kecilnya di dapur. Setelah selesai, ia pun menyusul Akashi yang berada di ruang tengah sambil membawa dua cangkir berisi coklat panas. Ia melihat Akashi tengah berkutat kepada laptop nya dan beberapa berkas sedikit berserakan di atas meja. Kuroko langsung meletakkan secangkir coklat panas di atas mejanya, Akashi yang menyadari itu langsung melihat ke arah Kuroko.
"Apa sensei suka coklat panas?" tanya Kuroko memastikan.
"Tidak terlalu, tapi aku bisa meminumnya," katanya lalu ia pun memfokuskan pandangannya ke arah laptopnya. Kuroko hanya diam sambil meminum coklat panas yang ia buat, ia tidak mau mengganggu gurunya karena akan berakibat fatal baginya.
"Oh ya sensei… terimakasih untuk bajunya." Kuroko mengambil baju milik Akashi dari tas nya lalu menaruhnya di atas meja dekat laptop milik Akashi.
"Hm…"
Sekitar 20 menit mereka berdua terdiam, Akashi masih berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Kuroko sibuk mengelus anjing kecil itu yang sedang tidur dipahanya. Jujur saja… Kuroko agak canggung dengan suasana sunyi seperti ini, tetapi dia juga tidak ingin buru-buru pulang karena masih ingin bersama anjing kecilnya.
"Kau tidak memberinya nama?" tanya Akashi memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Eh? Nama? Em… saya tidak tahu harus memberinya nama apa," kata Kuroko sambil tetap mengelus anjing tersebut, Akashi menolehkan kepalanya menatap pemuda yang ada disampingnya.
"Kau memeliharanya tetapi tidak memberinya nama," Akashi mendengus pelan.
"Saya tidak mendapatkan ide untuk memberinya nama, mungkin besok saya akan mencari nama untuknya." Kini tangan Kuroko sibuk mengelus kaki anjing itu membuatnya sedikit merasa geli.
"Oh…" Akashi kembali berhadapan dengan laptopnya.
"Tetsuya…" tiba-tiba Akashi memanggil namanya, membuat pemuda berambut biru muda itu menolehkan kepalanya menatap Akashi yang tatapannya berfokus kepada laptop miliknya.
"Ya, sensei?"
"Sudah kubilang jika berada diluar pelajaran berhenti bersikap formal dihadapanku dan jangan memanggilku seperti itu," katanya lagi, Kuroko terdiam sebentar. "Ha'i, Akashi-san…" Kuroko heran kenapa jika berada diluar kelas, gurunya ini malah tidak suka dipanggil dengan sebutan sensei. Bahkan kemarin sempat menyuruh Kuroko memanggil namanya tanpa memakai tambahan dibelakang, tapi ia menolak tentunya karena Kuroko bukanlah Aomine yang memang sedikit kurang ajar memanggil Akashi dengan namanya saja.
"Kenapa Akashi-san tidak terlalu suka dengan panggilan itu?" tanya Kuroko, ia sedikit penasaran.
"Hanya orang yang sudah kuakui yang kusuruh memanggilku seperti itu," kata Akashi sambil meminum coklat hangat yang disuguhkan oleh Kuroko.
'Akui?' Kuroko tidak mengerti dengan perkataan dari gurunya. Maksudnya hanya orang yang sudah di akui? Memangnya Akashi mengakui Kuroko sebagai apa?
"Sudahlah tidak penting untuk dibahas," kata Akashi lagi seolah ia bisa membaca pikiran Kuroko yang tengah memikirkan perkataan dari Akashi. Kuroko kembali terdiam… ia melirik hpnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul set 8 malam.
"Tetsuya… kudengar sewaktu SMP kau sempat ikut klub basket," kata Akashi, Kuroko hanya memutar bola matanya dengan malas, lagi-lagi masa lalunya dibalas.
"Ha'i..." Kuroko hanya menjawab sekedarnya, ia menjadi malas jika membahas tentang basket.
"Sepertinya kau mempunyai masalah dengan olahraga itu." Kuroko hanya terdiam, memang benar yang dikatakan Akashi. Dia mempunyai sedikit masalah dengan basket, sehingga ia memutuskan untuk tidak bermain lagi.
"Biar kutebak… Kise-kun yang mengatakannya?" Kuroko bertanya.
"Tidak juga," jawabnya. Kuroko menatap datar tapi bisa ditebak ia sedikit bingung maksud dari jawaban Akashi.
"Jika Akashi-san menyuruhku untuk masuk, aku akan menolaknya dengan senang hati," ucap Kuroko. Akashi memejamkan matanya sebentar lalu menatap pemuda yang ada disampingnya. Mata heterochromatic bertemu dengan baby blue.
"Aku hanya sedikit penasaran dengan skill yang kau miliki," Akashi masih menatap Kuroko dengan tatapannya yang tajam membuat Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasa gugup jika Akashi mulai menatapnya dengan serius.
"Aku tidak mempunyai skill yang Akashi-san maksud…" kata Kuroko sambil sibuk memperhatikan anjing kecilnya yang masih tertidur dipahanya, ia kembali mengelus kepala anjing itu yang tadi sempat terabaikan.
"Aku tidak percaya," katanya lagi. Kuroko mengernyitkan dahinya heran, kenapa gurunya jadi pemaksa seperti teman-temannya itu?
"Aku tidak—"
"Jangan membohongiku, Tetsuya."
"Tapi, Akashi-san—"
"Tetsuya." Kuroko menggembungkan pipinya dengan kesal, kenapa gurunya hobi sekali memotong pembicaraannya?
"Baiklah, Akashi-san… aku memang mempunyai skill—mungkin," katanya dengan nada ragu.
"Kenapa harus ada kata mungkin?" Akashi bertanya.
"Em—aku tidak yakin itu bisa dibilang skill."
Akashi menutup laptopnya dengan pelan, "Besok kau harus menunjukkannya kepadaku," katanya sambil menaruh laptop miliknya ke dalam tas hitam.
"Menunjukkan?" Kuroko mengulangi perkataan Akashi karena ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gurunya.
"Ya." Kuroko berpikir sebentar berusaha mencerna perkataan gurunya itu, semenit kemudian ia menyadari maksud dari perkataan Akashi.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Kuroko dengan cepat.
"Kenapa? Hanya menunjukkan saja kan?"
"Tidak, Akashi-san… aku tidak bisa bermain basket lagi," tolak Kuroko, Akashi langsung menatap mata biru muda itu dengan tajam.
"Kau harus, Tetsuya."
"Tidak mau, Akashi-san... dan lagi itu akan sia-sia," katanya dengan nada lirih. Akashi hanya menatapnya lurus, "Aku tidak peduli soal itu, yang jelas aku ingin melihatnya," perintahnya, membuat Kuroko sedikit geram.
"Aku sudah berhenti bermain, jadi jangan memerintahku, Akashi-san."
"Kau membantahku, Tetsuya?" Akashi menatapnya dengan tatapan tajam, ia tidak suka jika perintahnya dibantah, karena perkataannya adalah mutlak.
"Ya!" Kuroko melipat tangannya di dadanya, wah… wah… ternyata Kuroko berani membantah perkataannya.
"Heh, kau tahu apa konsekuensinya jika kau membantahku?" tanya Akashi dengan seringaiannya yang mengerikan itu, Kuroko bergidik.
"A-aku…" Kuroko menggigit bibir bawahnya, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Jika Akashi-san tidak terima dengan penolakanku, aku siap diberi beratus-ratus soal untuk dikerjakan!" katanya lagi dengan nada sedikit membentak, membuat Akashi terdiam mendengarkan perkataan muridnya, heh… berani juga. Akashi semakin tertarik dengan pemuda mungil yang ada disampingnya, ia penasaran luar dalam dari diri pemuda itu.
"Guk!" anjing kecil itu berusaha menengahi mereka berdua, karena menurutnya… dua pemuda itu tengah bertengkar kecil. Akashi menatap anjing kecil itu sebentar lalu berganti menatap Kuroko yang disampingnya dengan tatapan yang tajam, seringai Akashi semakin melebar.
'Menarik…' perlahan Akashi mendekat ke pemuda itu lalu—
Bruk!
Akashi mendorong bahunya keras hingga Kuroko terbaring di sofa dengan Akashi diatasnya. Kuroko membelalakkan matanya, terkejut dengan pelakuan gurunya itu. Ini seperti sexual harassment!
Akashi masih dengan seringaiannya yang seram, ia terkekeh pelan melihat wajah muridnya yang tadi berani kini menatapnya dengan tatapan horror. Padahal ia hanya bermaksud sedikit mengerjai—atau lebih tepatnya menakuti muridnya ini.
Akashi mengeliminasikan jaraknya, mendekat ke wajah Kuroko, tangan Kuroko sibuk mendorong dada Akashi dengan pelan. Menyadari itu, Akashi lalu mengunci dua pergelangan tangannya di atas kepalanya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk mengelus leher putih milik Kuroko, Kuroko makin menatapnya dengan tatapan horror.
"Akashi-san! Ini tidak lucu!" teriak Kuroko sambil memberontak, Akashi semakin menguatkan genggamannya, membuat Kuroko sedikit meringis kesakitan.
"Apa aku terlihat sedang bergurau, Tetsuya?" tanya Akashi dengan senyum remehnya, ia terlihat senang saat ia mengerjai muridnya ini.
"Walau Akashi-san bersikeras tetap menyuruhku bermain basket aku tetap akan menolaknya!" kata Kuroko dengan nada keras, mendengar itu… Akashi hanya terdiam, memandangnya dengan wajah datar namun tatapannya tajam. Ho… ternyata muridnya yang biasanya tidak pernah menunjukkan ekspresi di wajahnya, bisa menatap Akashi dengan tatapannya yang tajam.
'Keras kepala—eh?'
"Tetsuya, apa kau membenci basket?" Akashi melonggarkan genggamannya, Kuroko lalu melepaskan tangannya dari genggaman Akashi dan mengelus pergelangan tangannya yang terlihat memerah.
Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap Akashi yang masih berada di atas tubuhnya. "Tidak tahu…" kata Kuroko dengan nada pelan, membuat alis Akashi berkerut.
"Lalu?"
"Aku tidak mau menyentuhnya lagi," kata Kuroko sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, kedua tangannya tetap berontak kecil walau Kuroko sudah tahu, semakin ia berontak maka genggaman Akashi akan semakin erat.
"Apa kau mempunyai masalah dengan basket, hm?" Kuroko menggeleng, "Bukan urusan, Akashi-san…" jawabnya dengan nada kesal, Akashi terkekeh pelan.
"Apa ada yang lucu?" tanya Kuroko—kesal.
"Tidak."
"Bisakah Akashi-san menyingkir dariku, aku merasa risih…" kata Kuroko dengan nada ketus, jujur ia merasa risih dengan posisi seperti ini, rasanya ia ingin meninju wajah gurunya itu. Akashi yang menyadari itu rasanya ingin tertawa keras, tetapi tidak mungkin ia tertawa seperti itu karena image harus tetap dijaga, mengingat ia adalah Akashi Seijuuro, seorang pemuda yang sukses dan sempurna dari luar dalam jangan lupakan absolutenya, kecuali tingg—maaf sepertinya kata itu terlalu tabu untuk dikatakan.
Akashi melepaskan genggaman tangan milik Kuroko lalu menyingkir dari atas tubuh Kuroko membuat si pemuda bersurai biru muda itu bernafas lega, ia berusaha menetralkan jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang seperti ingin keluar dari tubuhnya. Oke, Kuroko masih terlihat normal… ia masih menyukai perempuan yang sifatnya dewasa, berhati lembut dan halus. Kuroko langsung beranjak dari sofanya, lalu mengambil tas nya yang tergeletak dibawah sofa disamping ia duduk.
"Mau kemana?" Akashi bertanya saat melihat Kuroko beranjak dari tempat duduknya. Kuroko sedikit menolehkan kepalanya, "Pulang." Lalu buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu utama, anjing kecil itu dengan senang hati mengikutinya dari belakang.
Mendengar itu, Akashi langsung beranjak dari sofanya dan pergi menyusul Kuroko yang tengah memakai sepatunya, heh… ternyata muridnya berani merajuk kepadanya.
"Aku belum menyuruhmu pulang," kata Akashi sambil melipat tangannya didadanya dan bersandar di dinding sambil melihat Kuroko yang sedang mengikat tali sepatunya.
"Ini sudah malam, nanti ibuku mencariku," ujarnya. Akashi terkekeh… anak mami rupanya.
"Percakapan kita belum selesai," kata Akashi lagi, Kuroko menolehkan kepalanya kebelakang menatap Akashi. "Percakapan apa? Kalau soal tadi aku menolak." Dia melanjutkan aktifitasnya mengikat tali sepatunya, setelah ia selesai mengikat tali sepatunya ia pun beranjak dari duduknya lalu membungkuk dengan sopan, "Aku pamit…" katanya sambil membungkuk.
"Biar ku antar," tawar Akashi, Kuroko langsung menolak. "Daijoubu… aku bisa pulang sendiri."
"Yakin?" Akashi kembali bertanya, tapi pertanyaannya seperti menyindir Kuroko. "Sangat yakin, karena aku bukan perempuan," ucap Kuroko seakan mengerti maksud pertanyaan dari Akashi.
Akashi hanya mendengus geli, "Baiklah."
"Guk!" anjing kecil itu kembali menggonggong seolah ia tahu bahwa majikannya akan pergi, Kuroko menjongkokkan tubuhnya… merendahkan tingginya, ia pun mengelus kepala anjing itu dengan pelan.
"Besok aku akan kesini lagi," ujarnya, anjing itu hanya bergelayut manja di tangan Kuroko. Lalu Kuroko melepaskan tangan tersebut dan kembali berdiri.
"Kalau begitu terimakasih dan selamat malam, Akashi-san." Kuroko membuka pintu apartement milik Akashi lalu menutupnya dengan pelan, meninggalkan Akashi yang masih terdiam dengan anjing kecil itu yang masih setia duduk didepan pintu.
"Kupastikan kau tidak akan membantahku lagi, Tetsuya…" gumamnya lalu ia pun berjalan masuk kedalam bermaksud untuk tidur karena matanya sudah sedikit mengantuk.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
"Ryouta! Taiga! Daiki! Kalian bertiga lari keliling lapangan bola 25 kali!" teriak Akashi yang sekarang masuk ke mode kejamnya, membuat mereka bertiga memasang wajah kesal.
"Tap—" Kise sempat melayangkan protesnya sebelum kata-katanya dipotong cepat oleh Akashi.
CKRIS!
"Lakukan atau kutambah menjadi 50 kali!" Mereka bertiga langsung mengangguk cepat dan keluar dari gedung itu lalu ke tempat lapangan bola untuk berlari.
"Aka-chin lagi badmood kah?" Murasakibara berbisik ke Midorima yang sedang memegang bolanya bersiap untuk melakukan shoot.
"Sepertinya begitu—nodayo, dan kau…Murasakibara! Jangan makan saat latihan sedang berlangsung!"
"Aku lapar, Mido-chin~," kata Murasakibara sambil tetap sibuk makan.
"Atsushi! Ikut lari bersama mereka sebanyak 30 kali!" Tiba-tiba suara Akashi menginterupsinya yang sedang makan, membuat ia membalikkan badannya kebelakang dan melihat Akashi sedang dalam aura yang sangat buruk.
"Emang aku salah apa, Aka-chin?" Murasakibara bertanya, ia heran kenapa tiba-tiba pelatihnya menyuruhnya berlari, apalagi sebanyak 30 kali lebih banyak daripada ketiga orang temannya itu. Disuruh berlari 10 kali aja sudah kelelahan mengingat lapangan bola memiliki luas yang luar biasa.
"Kau memakan makananmu saat latihan masih berlangsung! Ini belum waktunya istirahat," ucapnya dengan ketus.
"Tapi, Aka-chin… aku lapaaar…" ucap Murasakibara dengan lesunya, melihat pelatihnya tengah menatapnya dengan tatapan yang sangar. "Lakukan atau—"
CKRIS!
Akashi kembali mengeluarkan guntingnya bersiap untuk melempar.
"Baik, baik, Aka-chin… aku akan lari!" potong Murasakibara dengan cepat, ia tahu jika ia tidak menuruti perkataan pelatihnya maka ia pasti akan diberi hukuman lebih dari itu.
"Kau juga, Shintarou!"
"Hah?" kacamata Midorima hampir terjatuh saat mendengar pelatih juga menghukumnya, memangnya ia salah apa?
"Kau berbicara dengan Atsushi, jadi kau harus lari sebanyak 20 kali!" Gila! Padahal ia hanya menanggapi Murasakibara yang tengah berbicara kepadanya malah kena hukuman juga, walaupun hanya disuruh lari keliling 20 kali tapi bayangkan sekali lagi lapangan bola yang sangat begitu luas.
"Lakukan, Shintarou." Midorima bergidik lalu mau tidak mau ia menyusul yang lainnya, jadi di gedung itu hanya tinggal Akashi serta Momoi yang sedari tadi diam dan tidak berani berbicara melihat Akashi tengah dalam mood yang buruk. Tiba-tiba sebuah hp berdering membuat Momoi mencari benda tersebut dan ternyata hp itu berada di atas bangku tersebut, ia langsung tahu bahwa hp itu milik pelatihnya dilihat dari warnanya. Momoi mengambil hp itu lalu melihat ada panggilan yang bertuliskan 'Tou-san' ternyata dari ayahnya sendiri.
"Akashi-san, hpnya berbunyi…" Momoi pun langsung mendekati pelatihnya, Akashi melirik hp itu sekilas lalu mengacuhkannya.
"Biarkan saja." Ia pun berjalan menuju bangkunya untuk beristirahat sebentar, Momoi yang masih berdiri hanya menatap hp dan pemiliknya secara bergantian. Ia terlihat bingung tapi dia juga tidak mau menanyakan kenapa.
Canggung sekali mengingat dia hanya berduaan dengan pelatihnya yang masih dalam mood yang buruk, sebenarnya Momoi ingin sekali menyusul teman-temannya yang tengah dihukum lari, tetapi ia masih mempunyai hati tidak tega meninggalkan pelatihnya sendirian.
Tok! Tok! Tok!
Pintu gedung diketuk pelan membuat Momoi serta Akashi langsung melihat ke arah sumber suara itu.
"Ano—permisi…" mata Momoi langsung berbinar-binar melihat siapa yang datang, ia pun langsung berlari memeluk pemuda yang tengah berdiri di depan pintu.
"Tetsu-kun~," teriaknya sambil melompat ke arah Kuroko hingga mereka berdua terjatuh.
"Haa~ Tetsu-kun ternyata kamu datang disaat yang tepat~." Momoi langsung memeluk Kuroko dengan erat.
"Itte—Momoi-san… bisakah segera berdiri dari tubuhku?" pinta Kuroko, ia merasa punggungnya sakit karena menyentuh lantai dan badannya yang terasa berat karena Momoi menimpanya. Momoi yang menyadari itu langsung menyingkir dari tubuhnya membuat pemuda bersurai biru muda itu bernafas lega dan segera bangun dari jatuhnya.
"Apa kegiatan klubmu sudah selesai?" tanya Momoi, Kuroko mengangguk singkat.
"Minna-san wa, dokoni arimasu ka?" tanya Kuroko sambil mengedarkan pandangannya, ia menyadari bahwa gedung ini terlihat kosong.
"Eto—mereka sedang berlari keliling di lapangan bola," kata Momoi sambil menggarukkan kepalanya.
"Oh… sou ka."
"Ada perlu apa kau kesini, Tetsuya?" sebuah suara menginterupsi percakapan mereka berdua, Kuroko hanya melihat orang itu dengan tatapan datar tetapi langkahnya sedikit menjauh dari sang heterochromatic, takut-takut ia bakal mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh lagi darinya.
"Doumo, Akashi-san…" Momoi hanya mengernyit heran saat ia mendengar Kuroko memanggil pelatihnya seperti itu. Akashi membalas sapaan Kuroko dengan anggukan singkat, dalam hati ia tahu bahwa pemuda ini sedikit menghindarinya.
"Ano… Akashi-san hari ini aku tidak bisa berkunjung, malam ini aku harus menemani ibuku berbelanja," ujar Kuroko sambil menghindari kontak mata dengan sepasang mata heterochromatic.
"…Baiklah." Akashi menyetujuinya, Kuroko langsung menundukkan kepalanya untuk berterimakasih.
"Eh… Tetsu-kun sedang membahas apa dengan Akashi-san?" Momoi penasaran.
"Tidak apa-apa, Momoi-san…" ucapan Kuroko membuat Momoi makin penasaran, tapi percuma juga ia memaksa Kuroko berbicara, ia tidak akan memberitahunya.
"Tetsuya menitipkan seekor anjing kecil di apartemenku." Akashi yang memberitahu membuat Momoi terkejut mendengar pernyataan dari Akashi. Kuroko mempunyai seekor anjing dan anjing itu berada di rumah Akashi? Mustahil! Akashi mana mungkin mengijinkan orang lain tinggal di apartemennya apalagi hewan peliharaan.
"Hah?"
"Itu benar Momoi-san…" Kuroko menambahkan, berharap temannya ini percaya dengan apa yang dikatakan oleh pelatihnya.
"Eh? Jadi itu beneran ya?" tanya Momoi sekali lagi.
"Aku penasaran dengan anjing kecil milik Tetsu-kun~." Momoi jadi penasaran.
"Dia sekarang ada di apart—"
"Aku membawanya." Akashi memotong perkataan Kuroko dengan cepat membuat Kuroko membelalakkan matanya, "Akashi-san membawanya?"
"Ya, kutitipkan dengan penjaga sekolah untuk mengurusnya, kemarin ia sempat menghancurkan dapurku saat kutinggal," kata Akashi sambil melipat tangannya di dadanya, Kuroko mendengar lalu ia buru-buru meminta maaf. "Maaf… aku tidak tahu, Akashi-san."
"Tak apa." Akashi memaafkan Kuroko membuat Momoi makin tidak percaya dengan pelatihnya yang mendapat gelar sebagai raja iblis yang suka menyiksa orang jika orang tersebut berbuat salah… malah memaafkan Kuroko dengan mudahnya?
Lain dengan Akashi, ia memaafkan Kuroko karena ia juga membuat kesalahan kecil—yaitu meninggalkan anjing kecil yang tidak tahu apa-apa di apartemennya tanpa memberinya makan ataupun minum, wajar saja anjing itu memberantaki dapurnya untuk sekedar mencari makanan. Salahkan Akashi juga karena ia yang memberinya tumpangan kepada hewan mungil itu.
Tetapi karena ego Akashi yang terlalu tinggi ditambah ia tidak mau terlihat di salahkan jadi ia lebih memilih tidak mempermasalahkannya.
"Tapi, Akashi-san tidak memberitahuku semalam…" ucap Kuroko.
"Oh, aku lupa. Tidak usah terlalu dipermasalahkan." Sekali lagi seorang Akashi bisa lupa? Seratus persen tidak akan mungkin! Lalu maksud ucapan dari mereka berdua itu apa? Momoi makin tidak mengerti dengan pembahasan mereka berdua.
"T-tunggu Tetsu-kun—"
"Permisi…" tiba-tiba ada sebuah suara menginterupsi mereka bertiga, "Ah… Akashi-sama aku mengantarkan anjing kecil ini," lanjutnya, sepertinya ia penjaga sekolah disini jika dilihat dari seragam yang ia kenakan.
—sama?
Dari belakang kaki orang itu langsung muncul sebuah anjing kecil yang berwarna hitam putih. "Guk!" anjing itu melihat Kuroko dan Akashi lalu seketika ia berlari mendekat ke arah mereka.
"Ya, kau boleh pergi…" orang itu langsung membungkuk hormat kepada Akashi, lalu melesat pergi meninggalkan mereka bertiga. Kuroko membungkukkan tubuhnya mengambil anjing kecil itu lalu menggendongnya. Momoi yang melihat itu matanya semakin berbinar-binar.
"K-Kawaii!" teriak Momoi, tanpa aba-aba ia langsung mengambil anjing itu lalu memutar-mutar badannya sambil mengangkat anjing itu tinggi-tinggi, sepertinya ia melupakan satu hal yang tadi ia ingin tanyakan.
"Kyaaa~~! Bulu-bulunya sangat halus! Wajahnya juga imut! Matanya juga biru—are?" seketika Momoi berhenti memutar badannya, ia merasa aneh melihat anjing kecil itu yang juga menatapnya dengan wajahnya yang berseri-seri.
"Ada apa, Momoi-san?"
"Rasanya aku pernah melihat mata ini—" Momoi menatap anjing itu beberapa detik, lalu menatap Kuroko yang berada didepannya… kembali lagi menatap anjing kecil itu, lalu kembali lagi menatap Kuroko, kembali lagi menatap anjing itu lalu kembali lagi menatap Kuroko, lalu—stop! Oke, cukup! Momoi mulai gila.
Sedetik…
Dua detik…
Tiga detik…
"Ano—"
"Kyaaaa! T-Tetsu-kun ada dua!" teriaknya histeris, Akashi hanya mengernyitkan dahinya melihat manager klub basketnya yang histeris.
"Akashi-san! Lihat ini!" Ia pun menyodorkan anjing itu ke depan wajahnya, Akashi melihat anjing itu dengan tatapannya yang datar, tidak ada yang aneh— "Lihat matanya," lanjut Momoi.
Akashi kembali melihat ke arah anjing kecil itu, ia menatap muka anjing itu yang sedang berseri-seri. Lalu ia pun menyadari bahwa anjing itu memiliki bola mata berwarna biru muda.
"Ho…" Akashi memberi respon yang singkat, ia benar-benar tidak menyadari jika anjing kecil ini memiliki warna mata yang sama dengan majikannya.
"Tetsu-kun… ia sangat mirip denganmu! Lihat ini!" giliran Momoi menyodorkan anjing kecil itu ke depan wajah Kuroko.
"Ah, iya… aku tidak menyadarinya," ujar Kuroko. Tiba-tiba Momoi menaruh anjing kecil itu dikepalanya, gadis berambut pink itu langsung melihat Kuroko beserta anjingnya dengan wajahnya yang memerah. Mereka berdua hanya menatap Momoi dengan tatapan bingung, tetapi tatapan yang diberikan oleh Kuroko membuat jantungnya berdegup kencang.
"T-terlalu manis…" seperti melihat malaikat di hadapannya, ia pun jatuh pingsan membuat Kuroko menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.
"M-Momoi-san, daijoubu?" Kuroko sedikit panik, sedangkan Akashi tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua yang terlihat sedikit lucu. Akashi mengakui dalam hati, bahwa Kuroko terlihat manis dimatanya ditambah dengan seekor anjing kecil di atas kepalanya.
Momoi pun langsung terduduk, anjing kecil itu turun lalu mendekati gadis itu dan menggonggong kecil. Momoi kembali terbangun lalu melihat anjing kecil yang ada dihadapannya. "Kamu terlalu manis!" dan dia pun langsung memeluk anjing itu dengan sangat erat sehingga anjing itu susah bernafas, Kuroko yang melihat itu langsung merasa kasihan melihat peliharaannya dipeluk erat-erat.
Brak!
"Satsuki, air…" pemuda tan itu membuka pintu lebar-lebar sambil masuk ke dalam gedung diikuti oleh yang lain.
"Ah, Dai-chan…"
"Momoi-cchi… aku butuh air…" pemuda pirang itu ikut masuk kedalam.
"Sat-chin, aku lapar… aku mau air dan snack milikku." giliran pemuda tinggi itu ikut masuk kedalam.
"Panas banget diluar, hah… hah…" pemuda berambut merah hitam dan pemuda berambut hijau kini juga ikut masuk kedalam.
"Sudah selesai?" Akashi menghampiri mereka yang tengah seperti orang mau pingsan dengan keringat bercucuran hingga membasahi baju-baju mereka, mirip juga seperti orang yang baru mandi.
"Sudah—ssu… Akashi-cchi terlalu kejaam!" rengek Kise sambil duduk di lantai dengan nafas yang terengah-engah.
"Mau kutambahkan lagi?" Akashi menyeringai, mereka berlima langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kuroko yang melihat itu menjadi kasihan dengan mereka yang menjadi siksaan oleh raja iblis.
Kuroko mengambil lima botol minum yang berada dibangku dan tak jauh dari tempatnya, lalu berjalan mendekati mereka berlima yang terkapar dilantai karena kecapekan.
"Ini airnya, Kise-kun…" Kuroko menyodorkan sebotol minum kepada pemuda pirang itu.
"Terimakasih—are? Kuroko-cchi?" Kise menyadari bahwa yang memberikan ia minum adalah Kuroko.
"Sejak kapan ada disini—ssu?" tanya Kise, ia masih belum terbiasa dengan Kuroko yang suka muncul dan hilang tiba-tiba.
"Sudah dari tadi, Kise-kun… ini minumnya." Kuroko kembali menyodorkan botol minum tersebut dan diterima oleh pemuda pirang dengan senang hati.
"Tehehe… terimakasih Kuroko-cchi~," ucap Kise sambil menyengir senang.
"Oi, Tetsu… aiiirrr!" teriak Aomine sambil nafasnya terengah-engah. Kuroko pun menghampiri pemuda tan itu dan memberinya minum. Satu per satu Kuroko memberikan botol minum kepada mereka yang tengah kelelahan seperti orang mau mati.
"Istirahat 10 menit lalu kita lanjutkan latihannya," kata Akashi sambil mengambil sekaleng coffee dan membukanya. Para Kisedai lagi-lagi menatap Akashi dengan pandangan kau-gila!
"Aku tidak gila seperti yang kalian pikirkan," lanjut Akashi sambil menegak kaleng coffee itu, sekali lagi para Kisedai menatap horror! Sejak kapan Akashi bisa membaca pikiran mereka?
"Aku tidak bisa membaca pikiran kalian, wajah kalian lah yang gampang ditebak." Oke, cukup… mereka tidak mau menatap Akashi dengan pandangan aneh-aneh, nanti ia malah membaca pikiran mereka lebih dalam.
"Tapi—Aka-chin… sekarang sudah jam hampir jam 6 sore, aku lelaaah…" rengek Murasakibara, ia tidak terima jika ia kelelahan hanya karena latihannya yang terlalu berlebihan.
"Makanya kubilang aku beri kalian waktu istirahat 10 menit, jangan membantah." Akashi menekankan nadanya saat ia mengatakan 'membantah', membuat para Kisedai terdiam. Masing-masing dari mereka mengutuk pelatihnya walaupun kutukan itu tidak akan mungkin terpengaruh untuk Akashi.
"Guk!" anjing itu menggonggong kecil, ia memasang pose duduk dihadapan Kise, membuat pemuda pirang itu memfokuskan pandangannya kepada hewan mungil itu.
"Are? Ada anjing kecil—ssu!" Kise mengangkat anjing itu dan menatap wajahnya.
"Guk!" anjing itu menggonggong sekali lagi.
"Itu anjing darimana—nodayo?"
"Ini anjing milik Tetsu-kun!" jawab Momoi.
"Eh? Punya Kuroko-cchi?" Kise terkejut.
"Oh, Tetsu punya peliharaan rupanya," timpal Aomine.
"Matanya biru ya, Kise-chin~." Murasakibara mendekatkan wajahnya ke anjing tersebut.
"Iya matanya biru—eh?" Kise terdiam lalu menatap anjing itu dengan tatapan serius, seketika ia melihat Kuroko yang berada tak jauh darinya yang tengah menatapnya. Lalu bergantian lagi menatap anjing itu, dan kembali lagi menatap Kuroko dengan pandangan serius.
Sedetik…
Dua detik…
Tiga—
"WAAA! MATANYAA! MATANYAA—SSU!" Kise tiba-tiba teriak membuat semuanya menutup telinganya minus Akashi.
"Kuroko ada dua—nodayo!" Midorima juga ikut menyadari.
"Benarkan? Aku juga memikirkan itu dari tadi, Ki-chan! Anjing ini mirip dengan Tetsu-kun!" kata Momoi yang mendekat ke arah Kise yang tengah menggendong anjing kecil itu, anjing kecil itu
"Kuro-chin nya tambah imut~," ujar Murasakibara sambil memakan snack miliknya yang entah kapan ia ambil.
"Baiklah! Namamu sekarang adalah Tetsuya Nigou—ssu!" Kise langsung menamai anjing kecil itu. "Nigou? Kyaaa! Ki-chan pintar memberi nama!" puji Momoi, Kise dan Momoi langsung ber tos ria.
'Nama yang tidak terlalu buruk,' batin Kuroko.
"Nigou-chin~," ulang Murasakibara. Tiba-tiba anjing kecil itu lepas dari gendongan Kise dan berlari mendekati Aomine, berharap ia bisa mendapatkan perhatian dari pemuda tan ini.
"Guk!" gonggongnya membuat Aomine menggendong anjing itu, "Kau benar, dilihat dari dekat ia mirip dengan Tetsu…" ujarnya, lalu menurunkan anjing kecil itu dan mengusap kepalanya dengan pelan. Mereka semua asyik mengerubuni hewan mungil itu, tidak percaya bahwa hewan mungil ini sangat mirip dengan Kuroko hanya saja ini versi hewannya.
Kuroko hanya menghela nafas melihat teman-temannya sibuk dengan hewan peliharaannya begitu pun dengan Akashi yang dari tadi juga ikut memperhatikan murid-muridnya.
"Kudengar, Tetsu-kun menitipkan anjingnya di apartemen Akashi-san," ujar Momoi membuat para Kisedai syok mendengar perkataan dari Momoi minus Murasakibara, Kuroko menitipkan seekor anjing di apartemen milik seorang Akashi Seijuuro? Tidak salah tuh?
"Itu benar—nodayo?" Midorima bertanya, ia penasaran. Bagaimana mungkin pemuda bersurai biru muda yang tidak begitu kenal dengan pelatihnya berani seperti itu? Kuroko hanya merespon dengan mengangguk singkat.
"H-hoa? Bagaimana itu bisa terjadi, Kuroko-cchi?" Kise penasaran, yang lain menatap Kuroko dengan tatapan bagaimana-caranya?
Kuroko memegang dagunya lalu memasang pose berpikir—membuatnya terlihat manis… Murasakibara jadi ingin memakannya, beruntung para Kisedai lainnya berhasil menghadang si rambut ungu itu—ada-ada saja. "Em… ceritanya panjang, nanti akan kuceritakan," ujarnya, para Kisedai menurut saja. Lalu beralih menatap Akashi yang tengah sibuk memainkan guntingnya, masih tidak percaya bahwa ia memperbolehkan anjing ini tinggal dengannya. Lalu sedang apa si Akashi mainin guntingnya? Entahlah… hanya dia dan tuhan yang tahu.
Seketika itu juga Kuroko menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya dibalik bangku tersebut, ia memiringkan kepalanya.
"Ano, minna-san… aku ingin tahu…" Kuroko memanggil teman-temannya yang masih sibuk dengan hewan peliharaannya. Teman-temannya langsung mengalihkan pandangannya ke anjing itu dan menatap Kuroko yang sedang melihat sesuatu.
"…Apa yang sedang kau lakukan disana, Kagami-kun?" tanyanya sambil melihat Kagami yang tengah berjongkok dan memegangi kepalanya dibalik bangku itu.
Kagami yang merasa dirinya dipanggil langsung menolehkan kepalanya, "Eh itu… aku benar-benar tidak dapat menangani seekor anjing—desu," ucapnya dengan nada sedikit gemetar, membuat mereka semua hening seketika.
"Eh?"
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
Tidak terasa lima hari Kuroko menghabiskan waktunya disekolah membuat ia sedikit jenuh padahal ia baru melewati minggu pertama di sekolah barunya. Hari yang ditunggu-tunggu Kuroko juga telah datang yaitu hari Sabtu, dimana hari Sabtu adalah hari libur dan bisa menghabiskan waktunya bermalas-malasan dirumah termasuk Kuroko.
Kuroko—sang tokoh utama, masih sibuk berbaring-baring dikasurnya yang empuk padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Berhubung ibunya sedang dinas keluar kota selama dua hari, jadi tidak ada yang akan mengomelinya di pagi hari karena belum mandi.
Ia sibuk membaca bukunya dan membalas pesan dari Ogiwara—sahabatnya yang sekarang sedang ikut latihan basket disekolahnya, karena Ogiwara sedang istirahat ia pun bisa ber chatting ria dengan Kuroko.
Tiba-tiba hpnya berbunyi, Kuroko pun langsung sigap mengambil hpnya yang terletak di atas meja tidak jauh dari kasurnya, ia yakin itu balasan dari Ogiwara.
Tetapi saat ia membuka hpnya ternyata bukan pesan masuk dari sahabatnya melainkan dari temannya—Kise. Tumben sekali?
[ From : Kise-kun
Kuroko-cchi! Hari ini kau tidak sibuk, kan? Bagaimana kalau Kuroko-cchi datang ke sekolah dan melihat kami—lebih tepatnya melihat aku yang sedang latihan basket—ssu.]
Kuroko mengernyit dahinya heran, mau apa dia repot-repot datang kesekolah untuk sekedar melihat mereka latihan basket? Sudah pasti Kuroko menolaknya dengan senang hati. Belum sempat ia membalas pesan dari Kise, hpnya berbunyi kembali menandakan ada pesan baru yang masuk, sepertinya itu dari Ogiwara. Lalu ia pun membuka pesan tersebut.
[ From : Murasakibara-kun
Kuro-chin~ kalau jadi datang ke sini aku titip maibou dan potato chips ya~ aku menunggu kedatanganmu, awas kalau tidak datang, nanti Kuro-chin yang akan kumakan karena aku lapar tidak ada snack~.]
Kuroko makin mengerutkan alisnya, terheran-heran membaca pesan tersebut. Kenapa Murasakibara seperti memaksa Kuroko untuk membelikannya beberapa cemilan dan repot-repot datang kesekolah? Ah! Lebih baik abaikan saja, lagipula Murasakibara tidak mungkin benar-benar memakannya. Belum sempat membalas pesan dari Kise dan Murasakibara, hpnya berbunyi kembali. Kali ini Kuroko berpikir bahwa pesan yang satu ini benar-benar dari Ogiwara.
—Tapi kenyataannya tidak.
[ From : Midorima-kun
Kuroko? Hari ini adalah hari keberuntunganmu jika kau keluar dari rumah sekedar untuk jalan-jalan. Ini bukan berarti aku peduli—nodayo! ]
Muncul lagi satu pesan aneh dari teman-temannya, serius! Kenapa teman-temannya seolah menyuruh dia untuk keluar rumah dan pergi ke sekolah? Hei… hei… ini hari libur kan? Seharusnya Kuroko bisa menikmati waktu sendiriannya karena semenjak ia sekolah di sekolah barunya, ia tidak pernah mendapatkan waktu untuk menyendiri lagi, karena ulah Kagami serta Aomine yang selalu menyeretnya kesana kemari.
Kuroko sudah tidak ada niat untuk membalas pesan dari mereka bertiga, lalu tak butuh waktu lama hpnya berbunyi kembali, Kuroko sangat yakin itu pasti bukanlah pesan dari Ogiwara.
—Ternyata benar perkiraan si mata biru langit itu, pesan ini juga salah satu dari temannya.
[ From: Momoi-san
Tetsu-kun? Apa kamu ada acara? Jika tidak, bagaimana kalau Tetsu-kunpergi kesekolah dan melihat yang lain latihan? Aku kesepian jika hanya duduk di bangku saja, ah… Akashi-san juga baru saja datang dengan membawa Nigou bersamanya, kasihan Akashi-san sepertinya ia terlihat kerepotan. Tapi kalau kamu sangat sibuk tidak apa-apa, ada anjing kecilmu yang akan menemaniku~.]
Kuroko menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia lupa dengan anjing kecilnya? Seharusnya hari libur seperti ini, ia harus mengurusi anjing kecilnya itu walau disatu sisi ia malas sekali untuk pergi ke apartemen milik Akashi. Dan sekarang, anjing kecilnya tengah dibawa Akashi ke sekolah… mau tidak mau ia harus datang kesekolah karena tidak enak dengan Akashi yang malah membawa anjingnya kemana-mana, saat mengetahui anjing kecilnya itu tidak mungkin ditinggalkan sendirian di apartemennya.
Kuroko langsung membalas pesan tersebut kepada temannya.
[ To : Momoi-san
Baiklah aku akan kesana, Momoi-san… katakan terimakasih pada Akashi-san yang mau repot-repot membawa anjingku kemana-mana. ]
Kuroko langsung menekan tombol send. Tiba-tiba, hpnya berbunyi kembali menandakan pesan baru telah masuk.
[ From : Momoi-san
Benarkah? Hore! Ah, Tetsu-kun… jangan lupa Muk-kun ingin menitip beberapa cemilan—nanti uangnya akan diganti, lalu Ki-chan sekarang sedang merengek karena hanya pesanku saja yang dibalas olehmu, hehehe…]
Kuroko hanya mendengus geli saat membaca pesan tersebut, sepertinya mereka berempat sengaja memaksa Kuroko untuk pergi ke sekolah sekedar melihat mereka latihan. Kuroko langsung beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Selama 15 menit Kuroko berada dikamar mandi, ia pun keluar dari kamar mandi tersebut dan buru-buru memakai bajunya. Saat Kuroko tengah memakai bajunya tiba-tiba hpnya berbunyi kembali, Tanpa ba-bi-bu, ia pun langsung mengambil hp itu dan membaca satu pesan masuk.
[ From : Unknown
Tetsuya, belikan makanan serta susu untuk anjingmu ini. Jangan lupa segera antarkan ke sekolah karena sekarang aku sedang berada disekolah.]
Kuroko membelalakkan matanya, syok melihat isi pesan tersebut. Ternyata itu dari Akashi! Sepertinya ia mendapatkan nomornya dari teman-temannya, Kuroko menghela nafas… kalau isi pesannya sudah seperti ini, itu artinya Kuroko harus menuruti perintah dari Akashi mau tidak mau, karena gurunya itu tidak suka perintahnya di bantah—walau Kuroko sendiri sudah berapa kali membantah perintah Akashi.
Kuroko sudah tahu sebenarnya kalau Akashi berada disekolah—tentu saja ia tahu saat membaca pesan dari Momoi. Buru-buru ia menyimpan nomor Akashi di hpnya lalu saat itu juga ia membalas pesan dari Akashi.
[ To : Akashi-san
Baiklah, Akashi-san. ]
Kuroko langsung mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar dari kamarnya, sebelum sampai ke sekolahnya… ia harus mampir ke sebuah mini market membeli makanan untuk anjingnya dan membeli beberapa cemilan untuk Murasakibara.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
Pintu diketuk pelan oleh si surai biru muda itu, lalu ia pun mendorong pintu tersebut dengan pelan dan menapakkan kakinya pelan untuk masuk kedalam gedung itu, "Permisi…" ucap Kuroko.
"Guk!" anjing kecil itu langsung mengetahui majikannya telah datang dan berlari menghampirinya dengan senang.
"Kuroko-cchi~!" Kise yang juga ikut menyadari kedatangan si surai biru muda itu langsung berlari memeluknya, Kuroko yang menyadari ada tanda-tanda berbahaya seketika itu langsung menghindari dari pelukan mau Kise, membuat pemuda pirang itu mengerucutkan bibirnya alias manyun.
"Teeettsuuuu-kun!" teriak Momoi sambil ikut berlari memeluk Kuroko saat ia baru saja menghindari dari pelukan Kise. Momoi langsung menerjang Kuroko hingga terjatuh ke belakang membuat Kuroko meringis pelan. Kise yang melihat itu hanya menutup matanya dengan tangan kanannya.
"Aw… Momoi-cchi, kau membuat Kuroko-cchi kesakitan—ssu," ujar Kise sedangkan Momoi hanya menyengir kesenangan.
"Habisnya Tetsu-kun datang! Aku jadi bersemangat!" ucap Momoi sambil memeluk erat sepasang mata baby blue itu, membuat Kise sedikit iri. "Momoi-cchi curang! Aku juga mau memeluk Kuroko-cchi—ssu!" protes Kise.
Belum sempat Momoi membalas perkataan Kise, tiba-tiba ia mendengar Murasakibara meneriaki namanya. "Kuro-chin~." ia pun berlari mendekati Kuroko hendak memeluknya, Kise yang mengetahui itu langsung menghalang Murasakibara. "Stop! Stop—ssu! Murasakibara-cchi jangan ikut-ikutan memeluk Kuroko-cchi!" kata Kise tidak terima, ia tidak bisa membayangkan juga Kuroko dipeluk oleh Murasakibara, bisa-bisa ia langsung pingsan ditempat karena kehabisan oksigen.
"He~? Tapi aku hanya mau snack yang dibeli, Kuro-chin~," ujarnya sambil melirik kantong belanja yang dibawa oleh Kuroko.
"Guk!"
"Nigou-chin pasti juga mau makanan yang dibawa oleh Kuro-chin, kan?" tanya Murasakibara kepada anjing kecil itu, anjing itu membalasnya dengan senang.
"Lebih baik kalian masuk kedalam—nanodayo, Akashi-sensei sudah melihat kalian sedari tadi, nanti ia malah menghukum kita," kata Midorima sambil menyuruh mereka untuk masuk kedalam. Kuroko melirik ke tangan kanan si surai hijau itu, ia menggenggam boneka kelinci berwarna putih dengan ukuran yang kecil. Pasti lucky item untuk hari ini… Kuroko sudah hapal kalau senpai nya ini pecinta—lebih tepatnya maniak Oha Asa.
Alis Kuroko berkerut, heran saat mendengar Midorima memanggil gurunya dengan sebutan tidak asing. Ia pun langsung berbisik ke arah Kise.
"Kise-kun, kenapa Midorima-kun boleh memanggil Akashi-san dengan sebutan sensei? Bukankah yang kudengar Akashi-san tidak menyukai orang yang memanggilnya seperti itu jika bukan di dalam kelas?" tanya Kuroko setengah berbisik.
"Oh itu… Midorima-cchi terlalu tsundere—ssu, yah… Akashi-cchi tidak mempermasalahkannya mengingat sifat Midorima-cchi yang seperti itu," kata Kise setengah berbisik, Kuroko hanya memandangnya dengan heran. Maksudnya?
Anjing itu berlari riang mendekati Akashi yang tengah duduk dibangku istirahat, lalu tanpa rasa takut… anjing itu melompat ke paha Akashi dan duduk di hadapannya berharap Akashi memanjakannya. Para Kisedai plus Momoi minus Kuroko mematung melihat Akashi tersenyum tipis dan mengelus kepala anjing itu dengan lembut. Sekali lagi, tersenyum tipis!
Momoi yang melihat itu wajahnya langsung memerah dan jantungnya berdegup kencang, "T-terlalu manis!" ia pun langsung pingsan saat melihat pelatihnya yang biasanya berwajah seram kini menjadi seperti seorang pangeran yang berhati lembut sedang mengelus seekor anjing manis yang mirip dengan Kuroko—pemuda yang ia sukai.
"M-Momoi-cchi!" Kise yang melihat itu langsung menangkap tubuh Momoi yang hendak terjatuh.
"Sat-chin, daijoubu?" tanya Murasakibara melihat Momoi yang sekarang sedang duduk dilantai seperti tidak ada tenaga untuk berdiri, Akashi yang melihat itu hanya terdiam seolah tidak peduli.
"Ah, Muk-kun… aku baik-baik saja." Momoi pun melemparkan senyum manisnya kepada si ungu itu.
Kuroko pun kini berjalan mendekati Akashi lalu membungkukkan badannya dengan hormat, "Doumo…" sapa Kuroko, diikuti oleh anggukan kecil dari Akashi.
Brak!
Pintu dibuka dengan kasar, memperlihatkan pemuda bersurai merah hitam dan biru tua sedang terengah-engah seperti dikejar-kejar sesuatu. Kuroko memiringkan kepalanya menatap dua pemuda itu dengan bingung.
"Ah… Kaga-chin, Mine-chin selamat datang…" sapa Murasakibara sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Satsuki, air!" ujar Aomine sambil masuk ke dalam gedung diikuti oleh Kagami dari belakang, lalu mereka pun langsung terkapar di lantai, membuat Kuroko makin memandangnya dengan bingung… kenapa mereka berdua seperti orang mau mati?
"Midorima-kun, ada apa dengan Aomine-kun dan Kagami-kun?" Kuroko bertanya kepada Midorima, ia penasaran kenapa tubuh mereka penuh dengan keringat seperti habis dikejar-kejar sesuatu.
"Oh… mereka terlambat 3 menit dari jam yang ditentukan oleh Akashi-sensei—nodayo." Midorima menjawab pertanyaan dari Kuroko sambil membetulkan kacamatanya.
"—Hanya terlambat 3 menit?" ulang Kuroko—ia tidak menyangka bahwa pelatih mereka sangat disiplin dengan waktu.
"1 menit sama dengan 10 kali lari keliling, jadi kalau 3 menit sama dengan 30 kali lari keliling—ssu, makanya mereka seperti orang mau mati," timpal Kise sambil berbisik ke Kuroko, ternyata ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka berdua.
"Oh, ada Tetsu…" Aomine menyadari pemuda bersurai biru muda itu sedang berdiri disamping Midorima dan Kise. Kagami hanya diam dan melihatnya.
"Doumo, Aomine-kun… Kagami-kun." Kuroko menundukkan kepalanya diikuti oleh dua orang itu.
"Sedang apa kau disini, Kuroko?" tanya Kagami, ia tahu bahwa Kuroko tidak mungkin mau datang jika tidak ada urusan yang penting.
"Oh… itu karena ada Nigou disini," jawabnya.
"Guk!" Nigou langsung melompat ke arah Aomine membuat Aomine tertawa senang, "Haha… kau manja sekali!" katanya. Kagami yang mengetahui itu langsung terkejut, ia segera berlari menjauh dan merangkak ke arah pintu utama membuat yang lain hanya memasang wajah facepalm minus Akashi dan Kuroko.
"Kagami, kau benar-benar tidak bisa menangani seekor anjing ya?" tanya Aomine sambil terkikik geli melihat tingkah Kagami yang ingin meraih gagang pintu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Y-ya…" ucapnya dengan nada gemetar.
"Tapi aku tidak menyangka Kagamin tidak suka anjing," ujar Momoi sambil menempelkan telunjuknya di dagunya.
"Kaga-chin punya masa lalu yang buruk tentang anjing ya?" Murasakibara bertanya.
"Begitulah…" ucap Kagami seadanya.
"Aku juga tidak menyangka dengan tubuhmu yang besar ternyata kau takut dengan seekor anjing kecil—nodayo," sindir Midorima membuat dahi Kagami berkedut tanda ia tidak terima disindir seperti itu. walau itu adalah fakta.
"Oi! Midorima!" teriak Kagami tidak terima. Kuroko langsung mengambil Nigou yangberada di pangkuan Aomine lalu berjalan mendekat ke arah Kagami.
"Kagami-kun…jangan bilang seperti itu," ucap Kuroko sambil menggendong anjing kecil itu, mereka berdua sama-sama memasang wajah yang sedih membuat Kagami menjadi kesal.
"Jangan lihat aku dengan mata itu, Baka!" teriak Kagami. Ia pun langsung bangkit dan berniat berlari menjauhi Kuroko dan anjingnya, tetapi Kuroko malah mengejar Kagami sambil membawa-bawa anjing kecil tersebut, membuat Kagami semakin geram.
"Tapi dia sangat lucu," ujar Kuroko sedikit menjahili Kagami. "Jangan, Kuroko-teme! Aku akan membunuhmu nanti!" teriak Kagami sambil terus berlari menjauhi Kuroko. Membuat yang lain menontonnya dengan wajah sweatdrop.
'Ternyata Tetsu-kun/Kuroko-cchi/Kuro-chin/Kuroko adalah orang yang jahil juga,' batin mereka semua minus Akashi yang diam-diam tersenyum tipis melihat tingkah si surai biru muda itu.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, kita mulai latihannya." Tiba-tiba Akashi membuka suaranya dan memerintahkan murid-muridnya untuk berlatih, mereka semua menurut dan berjalan mendekati pelatihnya, sedangkan Kuroko dan Momoi serta anjingnya hanya berdiri di dekat bangku istirahat, melihat mereka mulai berlatih.
Sebenarnya Kuroko ingin mengajak anjing kecilnya jalan-jalan, tetapi ia menjadi penasaran untuk melihat mereka berlatih bermain basket.
"Hari ini kita akan mengadakan three on three," perintah Akashi membuat mereka memasang wajah terkejut.
"Dengan siapa, Akashi-cchi? Kita kurang satu orang—ssu," kata Kise.
"Kuro-chin kan bisa diajak." Murasakibara melirik ke arah Kuroko sedangkan yang lain juga mengikuti pandangan Murasakibara yang tertuju pada Kuroko, menyadari hal itu… Kuroko menggeleng dengan cepat tanda ia menolak.
"Tetsuya bukan anggota dari kita, jadi aku yang akan ikut bermain," kata Akashi sambil melipat tangannya didadanya. Mereka semua langsung terkejut, "HAH?" tidak salah tuh jika pelatihnya ikut bermain? Yah… walaupun mereka —kecuali Midorima dan Kise— belum pernah melihat kemampuan pelatihnya.
"He? Kalau begitu aku mau setim dengan Akashi-cchi!" ujar Kise kegirangan karena ia sudah tahu bahwa setim dengan pelatihnya maka kemungkinan besar kemenangan ada di pihaknya.
"Tidak, kita tentukan dengan undian." Wajah Kise yang tadinya berseri-seri kini menjadi masam mendengar perkataan dari pelatihnya.
'Aku jadi penasaran dengan gaya permainan Akashi-san,' batin Kuroko sambil memasang wajahnya dengan serius karena ia penasaran. 'Sepertinya akan menarik,' tambahnya.
.
=-Kuroko no Sutori-=
.
Pertandingan pun sudah dimulai beberapa menit yang lalu dengan Aomine, Midorima dan Murasakibara sebagai tim biru dan Akashi, Kagami dan Kise sebagai tim merah. Saat ini skor mereka 25:27 dengan tim merah unggul 2 poin. Walaupun sebagai pelatih—Akashi tidak memperlihatkan semua kemampuannya karena tujuannya hanya melatih kemampuan murid-muridnya yang sedang dalam perkembangan. Di satu sisi, Akashi juga sibuk memperhatikan kekurangan dari mereka, seperti Aomine yang masih suka bermain individu, Murasakibara yang cara bermainnya tidak serius, dan Kagami yang juga cara bermainnya asal-asalan.
Momoi, Kuroko serta Nigou hanya duduk sambil menonton mereka yang sedang berlatih, sesekali Momoi menulis perkembangan timnya yang sedang berlatih.
Disisi lain,Kuroko hanya terdiam melihat mereka yang tengah berlatih, sesekali ia merasa kagum melihat cara mereka bermain—sangat bagus. Belum lagi, pelatihnya—Akashi… walau ia tahu Akashi tidak menunjukkan semua kemampuannya, tapi sukses membuat mata Kuroko tidak bisa lepas darinya.
Dari mata Kuroko juga bisa melihat wajah-wajah mereka yang dipenuhi oleh kebahagiaan saat bermain dengan permainan kesukaan mereka. Kuroko hanya tersenyum tipis melihat mereka bermain, lalu pada saat itu juga sebuah memori seketika muncul di pikirannya.
.
"Kuroko! Kemampuanmu semakin berkembang saja, aku bangga denganmu!"pemuda besurai coklat itu langsung merangkul pundaknya, ia senang karena timnya berhasil mengalahkan lawannya walau hanya latihan tanding biasa antar sekolah.
"Ogiwara-kun terlalu berlebihan, haha…" Kuroko tertawa kecil sedangkan Ogiwara tersenyum senang.
"Selanjutnya kau harus one on one denganku!"
"Baiklah jika Ogiwara-kun yang meminta aku tidak akan bisa menolaknya."
"Haha… kau benar-benar sahabatku yang bisa mengetahuiku segalanya."
"Kerja yang bagus, Kuroko." Kuroko tersenyum.
"Arigatou, Nijimura-kun," balasnya.
.
Nigou membuyarkan lamunan Kuroko, tiba-tiba ia turun dari pangkuan Kuroko dan langsung berlari ke area lapangan, ia sudah terlalu bersemangat akibat melihat bola yang dibawa kesana kemari dan terlebih lagi ada Akashi—orang yang telah memberinya tumpangan juga ikut bermain disana, wah… wah… Nigou ternyata sudah semakin lengket dengan orang yang mempunyai gelar raja iblis itu.
"Guk!" Nigou berlari-lari dengan senang dan memasuki area lapangan tempat mereka bermain, Kuroko dan Momoi pun terkejut seketika melihat Nigou secara tidak sengaja mengganggu mereka sedang berlatih.
"Nigou… kemari," panggil Kuroko melihat anjing itu sedang menggonggong di tepi lapangan dan secara tiba-tiba membuat Kagami yang sedang memegang bola terkejut seketika.
"Guk! Guk!" bulu kuduk Kagami berdiri, ia semakin merinding mendengar gonggongan anjing tersebut, ia benar-benar tidak suka dengan yang namanya seekor anjing.
"Kagami-cchi, bolanya—ssu!" teriak Kise yang berhasil membuat Kagami terkejut dan melempar bolanya dengan asal.
Tiba-tiba saja—
Buk!
Bola tersebut secara tidak sengaja terlempar dan mengenai wajah seseorang, mereka yang tadinya asyik bermain kini menjadi tidak bergeming ditempat termasuk Kagami yang wajahnya memucat seketika.
Bola terjatuh dan menggelinding pelan keluar area lapangan membuat Nigou menggonggong senang dan mengejar bola tersebut lalu bermain dengan benda mati itu.
Sedangkan mereka? Masih tidak ada yang berani membuka suaranya. Sebuah aura hitam langsung keluar dan mengelilingi tubuh orang yang terkena bola itu, mereka semua memasang wajah ketakutan plus Kagami yang kulitnya berubah menjadi putih pucat dan memasang wajah horror melihat korbannya—Akashi tengah menundukkan wajahnya. Aura hitam itu semakin menguar memperlihatkan bahwa ia sangatlah marah.
Kagami, rupanya kau telah membangun iblis yang sedang tertidur.
"Taiga," panggil Akashi yang masih tetap menundukkan wajahnya, Kagami bergidik ngeri.
"Y-ya?" Kagami menjawab panggilan Akashi dengan nada gemetar.
"Kau tahu ini apa?" tanyanya sambil telunjuknya mengarah ke wajahnya sendiri, kalau diperhatikan hidung Akashi sedikit memerah akibat terkena lemparan bola tersebut.
"W-wajahmu, Akashi…" jawab Kagami dengan gugup karena ketakutan saat merasakan aura Akashi semakin pekat.
"Kalau begitu kenapa kau malah melemparkan bola ke wajahku?" tanya Akashi lagi dengan nada penekanan. Matanya langsung melotot ke arah Kagami membuat ia hampir seratus persen mirip dengan iblis. Rasanya Kagami ingin berlari pulang kerumah dan bersembunyi dari pelatihnya, tetapi kaki-kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali.
"A-aku tidak sengaja, Akashi… sungguh! A-aku hanya kaget!" ucap Kagami sambil terbata-bata. Yang lain hanya memilih untuk mundur jauh-jauh daripada mereka juga ikut terlibat pertumpahan darah.
CKRIS!
Akashi mengeluarkan guntingnya dan memainkan gunting tersebut sambil berjalan mendekat ke arah Kagami yang juga berjalan mundur untuk menjauhi Akashi.
"Ayolah, Akashi. Percaya padaku bahwa tadi aku tidak sengaja melempar bola ke wajahmu—desu." Akashi tidak menghiraukan perkataan Kagami.
"Kenapa kau menjauh saat aku mendekatimu, Taiga?" tanya Akashi sambil melempar senyum misterius membuat Kagami berkeringat dingin.
"Hahaha… I-itu guntingmu… err—" Kagami menjadi tidak fokus saat melihat Akashi mengeluarkan dua gunting sekaligus.
Tiba-tiba Nigou mendekat ke arahnya dan menggonggong membuat Kagami terkejut dan berteriak, "WA!" saat itu juga sebuah gunting melayang melewati pipinya dan berakhir tertancap di dinding.
"Meleset," ucap sang pemilik mata heterochromatic itu dengan lesu. "Tak apa aku masih punya." Akashi mengeluarkan satu gunting lagi dari sakunya—sungguh ada berapa gunting yang tersimpan disakunya itu?
Kagami yang melihat itu hanya menatap horror, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. "Bersiaplah, Taiga." Dan saat itu juga Kagami langsung berteriak histeris sampai suaranya terdengar ke luar gedung.
Sedangkan yang lain? Hanya menutup mata mereka karena tidak sanggup melihat adegan penyiksaan.
'Semoga kau masih hidup, Kagami/Kagami-cchi/Kaga-chin/Bakagami/Kagamin/Kagami-kun.'
"TIDAAAAAK!"
CKRIS!
"Taiga, jangan berisik."
"WAAAA!"
.
.
To Be Continue
Author note: *nyengir* maaf gak update selama seminggu lebih~ ini saya bonusin deh nulis sampai 10k #plak. Mohon maaf jika ada typo yang nyempil terus, maklum saya ngetiknya selalu malam-malam, meriksanya pun juga malam-malam plus mata ngantuk berat ugh. Apalagi kalau pulang kerja rasanya ingin tepar dikasur .
Untuk setting di chapter ini saya lebih fokuskan di gedung basket~
Dan saya sangat berterimakasih dengan minna-san yang menfavorite/follow ceritaku ini ^^, jadi bersemangat hehe~ Terimakasih juga untuk yang sudah membaca ceritaku apalagi mereviewnya, saya lihat review kalian jadi bersemangat . I hope minna-san like my story~
Maaf kali ini gak bisa balas review satu-satu tapi saya ucapkan terimakasih banyak kepada yang telah me review .
Thanks to : Deidara | AkaSunaSparKyu | kureha sei | dhatra-oneesama | indah605 | kim arielink | sachiru | Kuroshiro Ringo | Eien | Mika Tetsuya 0218 | Frea Cavallone-Hibari | AulChan12 | Tet-chan | sejalahzy | Guest
I Love You All :* #plak
Akhir kata,
Mind to Review?
_Pinkuru_
