Kuroko No Sutori

Pairing : AkaKuro

RATE T

Romance, Friendship, Drama, (a little bit Humor, maybe)

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Kuroko no Sutori © Pinkuru

Warning! Boys Love, OOC, Typo(s)

Happy Reading!

"Kagami-kun, daijoubu?" saat ini Kagami tengah berbaring alias pingsan di lantai dengan Kuroko yang berada di sampingnya sibuk mengipas-ngipasi Kagami yang sepertinya sudah hampir mati akibat terkena siksaan neraka baik secara fisik maupun batin dari pelatihnya sendiri.

Kagami tidak merespon karena ia sendiri masih dalam keadaan tertidur alias pingsan, sedangkan yang lain hanya bisa berdoa semoga Kagami lekas pulih, dan bagaimana dengan Akashi? Oh! dia tidak terlalu memperdulikan muridnya dan sibuk mengelap gunting kesayangannya yang sedikit terkena noda membandel.

"Aka-chin seram sekali," bisik Murasakibara kepada Kise, diikuti anggukan setuju dari Kise, "Akashi-cchi benar-benar setan-ssu." Murasakibara mengangguk setuju, beruntung saja pelatihnya tidak mendengar bisikan mereka, kalau dia dengar? Habislah kalian berdua. Nigou yang dari tadi diam dalam gendongan Momoi langsung melompat turun.

"Ah, Nigou—" Nigou langsung berjalan mendekati Kuroko yang sibuk mengipasi Kagami, "Guk!" gonggongnya membuat Kagami terbangun dan terlonjak kaget dari tidurnya dan memeluk Kuroko yang ada disampingnya. Kagami ternyata bisa modus juga ya.

"W-wa! Menyingkir sana!" teriak Kagami kepada anjing kecil itu sambil memeluk Kuroko dengan erat membuat ia sesak nafas. Anjing itu hanya memasang wajah sedih mengingat Kagami tidak menyukainya.

"K-Kagami-kun, sesak…" Kuroko membuka mulutnya berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya, karena saat ini tubuh mungilnya tengah di peluk oleh tubuh yang terbilang besar darinya, meronta pun percuma... kekuatannya mirip seperti gorilla.

"Kagami-cchi! Kau membuat Kuroko-cchi tidak bisa bernafas—ssu!" protes Kise sambil berusaha menarik kerah baju belakang si surai merah hitam itu, sedangkan Momoi langsung menggendong anjing kecil itu bermaksud menjauhkannya dari Kagami. "Kagamin! Lepaskan, Tetsu-kun!"

Melihat anjing kecil dibawa jauh oleh Momoi, Kagami langsung melonggarkan pelukannya membuat Kuroko langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.

CKRIS!

Akashi kembali memainkan guntingnya dan mendekat ke arah Kagami, seketika itu si surai merah hitam langsung mengeluarkan keringat dingin lagi karena melihat Akashi menatap dan tersenyum manis yang bisa membuat bulu kuduk Kagami berdiri semua.

"Taiga, apa kau ingin membunuh orang?" tanya Akashi masih dengan senyuman manisnya, diikuti oleh gelengan cepat dari si surai merah hitam itu.

"Bu-bukan, Akashi… itu anjing si Kuroko—"

"Jangan menyalahkan seekor anjing, Taiga," potong Akashi dengan cepat, membuat Kagami bergidik ngeri. Pelatihnya sudah memasuki mode iblis!

"Bersiaplah." Akashi mendekat, Murasakibara yang berada tak jauh dari Kuroko, secepatnya menarik si surai baby blue menjauh dari Kagami. Membuat Kagami tidak bisa lagi bersembunyi dibelakang punggungnya.

"T-tunggu, Akashi—"

CKRIS!

"WAAAA!" teriakan Kagami menggema dalam ruangan membuat semuanya menutup telinganya rapat-rapat, sepertinya ronde kedua sudah dimulai.

'Mampus kau, Kagami! Siapa suruh peluk-peluk Tetsu-kun/Kuroko-cchi/Kuro-chin/Tetsu,' batin mereka semua minus Midorima.

'Semoga Kagami-kun baik-baik saja.' Sepertinya doa mu tidak akan terkabul, Kuroko. Kagami tidak akan mungkin baik-baik saja.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

"Kagami-kun, daijoubu?" Kuroko kembali menanyakan keadaan Kagami yang dirinya masih tengah tertidur pulas -baca pingsan-, Kuroko pun sibuk mengipasi Kagami lagi—rasanya seperti déjà vu saja, mengingat tadi ia baru saja melakukan aktifitas ini. Nigou pun sudah diamankan jauh-jauh dari Kagami… takut kejadian sama akan terulang lagi, apalagi kalau sampai Kuroko dipeluk-peluk oleh si surai merah hitam itu.

Latihan mereka terpaksa ditunda mengingat Kagami dalam keadaan kondisi seperti itu, serta Akashi yang dalam keadaan mood yang buruk, karena wajahnya yang tampan tadi sempat dicium oleh bola yang tidak berdosa.

"Ne, minna-san… bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?" Momoi membuka suara saat keheningan tengah menyelimuti mereka semua—lebih tepatnya para Kisedai sibuk mengelilingi Kagami yang tertidur dipangkuan Kuroko dengan Kuroko yang sibuk mengipasi dia, mereka hanya takut kalau Kagami berbuat macam-macam lagi—tadi saja ia sudah berani memeluk Kuroko membuat yang dipeluknya hampir kehabisan oksigen.

Bagaimana dengan Akashi? Oh, tentunya ia sedang duduk di bangku istirahat sambil meminum botol minumannya seakan tidak peduli dengan sekitar, apalagi saat mood nya lagi buruk seperti itu.

"Makan, ya? Kalau begitu aku dan Mido-chin akan pergi ke mini market untuk membeli beberapa bento~," ujar Murasakibara saat ia mendengar kata makan, ia pun langsung beraksi.

"Kenapa harus denganku—nodayo?" tanya Midorima, heran kenapa ia yang diajak.

"Mine-chin pasti tidak mau, kalau Kise-chin terlalu berisik… Kuro-chin tidak bisa diajak karena sibuk mengurusi Kaga-chin," ujar Murasakibara membuat Kise melayangkan protesnya.

"Aku tidak berisik—ssu!" protes Kise, tidak terima ia dibilang berisik oleh juniornya.

"Tidak usah~ aku membawa bento untuk kalian semua," ujar Momoi dengan riangnya sambil menuruni Nigou lalu mengambil beberapa kotak bento di dalam tas nya dan menaruhnya didekat mereka, giliran Aomine yang bergidik ngeri melihat benda persegi dibalut kain-kain yang cantik kini berada di depan mata.

"Wah~ Momoi-cchi membuatkan kami bekal—ssu?" Momoi mengangguk senang. "Aku sudah mengikuti resep yang diberikan oleh Kagamin, jadi rasanya pasti enak!" ujarnya dengan senang.

"Sat-chin, baik sekali…" Murasakibara kesenangan karena di kasih makanan gratis.

"Tidak usah repot-repot—nodayo." Midorima menjadi sedikit malu mengingat baru pertama kali dibuatkan bekal oleh seorang gadis.

"Ini untuk Midorin, Ki-chan, Muk-kun, Dai-chan, Akashi-san dan Kagamin," ucap Momoi sambil menunjuk bento itu satu persatu. Aomine meneguk ludahnya.

"Yatta~ Sat-chin benar-benar yang terbaik~." Murasakibara mengambil bento miliknya, diikuti oleh Kise dan Midorima.

"Ah, gomenne… aku tidak membuatkan untuk Tetsu-kun karena tadi aku tidak kepikiran akan mengajak Tetsu-kun kemari," ucap Momoi sambil menangkup kedua tangannya berniat meminta maaf. Kuroko hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa, Momoi-san."

"Satsuki, kau membuatkan bento untuk Akashi juga?!" tanya Aomine tidak percaya, apa teman kecilnya ini sudah gila? Memberikan bento yang rasanya sangat luar biasa itu kepada pelatihnya, apa respon si Akashi nanti saat ia menelan masakan Momoi?

"Tentu saja, Dai-chan! Tidak mungkin Akashi-san tidak kubuatkan!" ucap Momoi sambil menggembungkan pipinya, Aomine semakin syok dan menggeleng tidak percaya.

Sedangkan yang lain sudah terlalu bahagia karena mereka tidak perlu repot-repot membeli bento di mini market yang jaraknya cukup jauh dari sekolahnya, mungkin ada sekitar 20 menit dari sekolah menuju mini market tersebut.

"Bekal untukmu mana, Momoi-cchi?" tanya Kise saat ia menyadari bahwa tidak ada bekal untuk si gadis berambut pink itu, Aomine mengangguk mantap menyetujui perkataan Kise.

"Um… aku lupa membawa bekal untukku sendiri, sepertinya ketinggalan di atas meja makan karena aku sibuk mengemasi bekal-bekal milik kalian." Jenius sekali alasanmu, Momoi.

Aomine hanya mengutuk teman kecilnya itu dalam hati.

"Aku dan Tetsu-kun akan pergi ke mini market saja untuk membeli makanan, atau Tetsu-kun mau bekal yang kubuatkan?" tanya Momoi kepada Kuroko, pemuda surai biru muda itu terlihat berpikir. "Mungkin nanti aku akan mencicipinya saja," ucapnya sambil tersenyum tipis membuat Momoi teriak sambil mengatakan kawaii.

"Bekalku buat Tetsu saja, aku dengan senang hati memberikannya," ujar Aomine sambil menyodorkan bekal miliknya. "Tidak boleh, Dai-chan! Ini sudah kubuatkan khusus untukmu!" protes Momoi.

"Aomine, hargai usaha seorang perempuan yang sudah mau membuatkan bekal untukmu—nodayo." Midorima berceramah membuat Aomine mendecak kesal. "Ck! Terserah kau saja."

"Akashi-cchi, kemarilaah~," panggil Kise sambil melambaikan tangannya, Akashi yang tadinya sibuk sedang memberikan makan untuk Nigou -baik sekali-, langsung datang mendekat saat mendengar namanya dipanggil. "Ada apa?" tanyanya. Kise menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Akashi yang menatapnya dengan pandangan apa-ini? Tapi masih pakai gaya cool gitu.

"Bekal dari Momoi-cchissu." Kise menjawab, Akashi ber-oh-ria, lalu duduk disamping murid-muridnya sambil memegang kotak bekal berwarna merah senada dengan warna rambutnya, Aomine semakin bergidik ngeri melihat Akashi menerima kotak bekal itu dengan polosnya, wajar saja... dia kan tidak tahu rasa masakan Momoi yang sebenarnya. Aomine ingin sekali berkata jujur kepada teman-temannya bahwa masakan Momoi itu tidak bisa dimakan. Tetapi niat jahatnya langsung muncul… sebagai orang yang sudah pernah merasakan masakan Momoi yang luar biasa itu, ia ingin sekali melihat ekspresi wajah teman-temannya plus pelatihnya saat memakan makanan buatan Momoi, kira-kira ekspresi apa yang akan ditunjukkan oleh mereka? Ck. Jahat sekali kau, Aomine.

"Kagami-kun belum sadar," kata Kuroko yang masih sibuk mengipasinya sesekali.

"Biarkan saja—nodayo."

"Ah, Tetsu-kun lebih baik sekarang kita ke mini market sekaligus membelikan minuman untuk mereka semua," kata Momoi sambil menarik lengan Kuroko dengan pelan. "Ha'i." Kuroko mengambil tas kecil miliknya, lalu mengangkat kepala Kagami dengan pelan. Pahanya yang tadi dijadikan bantal oleh Kagami kini digantikan oleh tas nya yang kecil, lalu beranjak dari tempat duduknya.

"Kalau begitu kami permisi dulu, minna-san…" ucap Kuroko sambil membungkukkan badannya diikuti oleh anggukan dari mereka semua, sedangkan Momoi hanya tersenyum senang, akhirnya ia bisa berduaan dengan orang yang ia sukai.

"Kuro-chin, aku ingin eskrim~." Kuroko mengangguk saat Murasakibara meminta ia untuk membelikannya eskrim. Padahal dia baru saja membelikan sekotak Maibou dan sebungkus Potato Chips untuk si ungu itu, tetapi ia malah minta dibelikan yang lain lagi. Entah Murasakibara tahu atau tidak… dia belum menggantikan uang milik Kuroko. Mungkin yang nanti akan jadi pacarnya juga bakal kerepotan kalau si ungu itu doyan makan dan ngemil.

"Selamat menikmati makan siangnya ya," ucap Momoi sambil tersenyum riang, ia pun memeluk lengan Kuroko dengan erat lalu menarik Kuroko keluar dari sana, meninggalkan mereka semua yang masih setia duduk sambil memegangi kotak bekal masing-masing, minus Kagami yang masih tertidur dengan lelapnya.

.

"Apa kalian yakin mau memakan masakannya?" Aomine membuka suara—memecahkan keheningan di antara mereka. Kise dan Midorima hanya memandang dengan tatapan bertanya.

"Memangnya ada yang aneh pada masakannya, Daiki?" Akashi yang bertanya terlebih dahulu. Aomine sedikit terkejut—ia harus menjawab apa untuk pelatihnya? Kalau ia menjawab jujur bahwa masakan Momoi luar biasa mematikan itu—apa dia akan menghukum Momoi juga? Tapi, tidak mungkin! Akashi tidak mungkin menyakiti seorang wanita.

"Err.. Itu…" Aomine menggaruk kepalanya berusaha mencari alasan yang masuk akal, walau tadi niatnya ingin membiarkan mereka memakan masakan Momoi, tapi kalau dipikir-pikir jika Akashi turun tangan dan merasakan masakan percobaan dari gadis berambut pink itu, yang jadi sasaran amukan juga Aomine karena ia yang sudah merasakan penderitaan tersebut tetapi malah tidak memberitahukan yang sebenarnya pada mereka. Sadar juga kau, Aomine.

Hanya respon mereka nanti seperti apa ya? Dia juga tidak mau membuat Momoi sedih jika makanannya tidak dimakan sama sekali. Gini-gini ia juga tidak mau membuat gadis pink itu bersedih. Tapi dibandingkan itu, ia semakin tidak mau jika nyawanya yang melayang! Dasar plin-plan kau, Aomine.

"Masakannya sedikit tidak enak," kata Aomine dengan nada ragu-ragu, lebih baik jujur daripada nyawa melayang di tangan iblis, benar kan?

Mereka semua memandang heran. "Masa sih?" Murasakibara langsung membuka kotak bekal makanannya, Aomine menahan nafas… kira-kira isinya seperti apa ya? Apa bakal hancur berantakan seperti dulu yang pernah di berikan oleh Momoi?

"Bekal buatan Sat-chin terlihat enak kok kalau dilihat dari bentuknya~," ucap si rambut ungu itu membuat Aomine menganga tidak percaya.

"Benar kata Murasakibara-cchi, dilihat dari bentuknya yang cantik rasanya juga pasti tak kalah enak," timpal Kise yang sudah membuka kotak bekal makanannya, Aomine semakin tak percaya… ia pun buru-buru membuka kotak bekal miliknya dan sukses menatap bekal tersebut dengan tatapan horror.

'Tumben bentuknya normal?' batin si surai biru gelap itu, ia melihat dengan seksama bekal yang dibuat oleh Momoi. Tidak ada yang aneh dalam masakannya, susunannya yang rapi dan terlihat sederhana, Aomine ingin tepuk tangan—ternyata resep yang diberikan oleh Kagami ampuh juga. Masakannya terlihat normal seperti pada umumnya dan tidak lagi hancur berantakan seperti yang pernah ia terima dulu.

Perut Aomine telah berbunyi menandakan ia lapar, apalagi melihat masakan Momoi yang terlihat enak di depan matanya tetapi ia masih sedikit ragu-ragu untuk mencicipinya. Enak atau tidak ya?

"Ittadakimasu~." Murasakibara menangkup kedua tangannya sambil mengucapkan kata yang biasa digunakan sebelum makan. Rahang Aomine seketika mengeras, ia menanti makanan itu masuk ke dalam mulut Murasakibara dan melihat respon dari surai ungu itu.

"Enak~," ucap Murasakibara saat mencoba telur gulung yang dibuat oleh Momoi, sekali lagi! Aomine menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Masa sih enak? Apa karena Murasakibara doyan makan jadi apa saja yang ia makan dibilang enak?

Kise langsung menyusul dan melahap bekalnya... yang dia makan pertama kali adalah udang goreng, "Enak kok!" katanya sambil sibuk mengunyah makanannya, sekali lagi Aomine menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

MASA SIH?

Midorima mengambil sosis yang bentuknya menyerupai gurita, lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya, "Tidak buruk." Dan sekali lagi! Aomine menganga tidak percaya. Ini temannya yang otaknya tidak beres atau masakan Momoi sudah berubah menjadi enak? Aomine langsung melirik ke arah Akashi yang sudah membuka bentonya dari tadi, terlihat ia mengambil sebuah wortel tapi tidak dimakannya melainkan hanya dilihatnya saja. Aomine menunggu saat-saat Akashi memasukkan sepotong wortel kecil itu kedalam mulutnya, tetapi sepasang mata heterochromatic itu tidak kunjung memakannya.

Aomine semakin tidak sabaran menunggu pelatihnya yang masih memandang wortel yang tidak berdosa itu, ayolah! Semua mengatakan enak, jadi tidak ada yang aneh kan dengan rasa maupu bentuknya? Semua terlihat normal dan bisa dimakan.

Seketika itu Akashi menaruh bekalnya ke lantai lalu merogoh hpnya yang ada disakunya, ada yang mengganggu acara makannya. Aomine mendecak kesal, tidak jadi melihat respon dari pelatihnya.

"Sepertinya aku harus ke ruanganku terlebih dahulu, Reo memanggilku," ucapnya sambil menutup kembali bekal makanannya.

Aomine mengeluh, "Maksudmu, Reo-sensei?" ia bertanya sedangkan Akashi hanya mengangguk singkat.

"Aku ada urusan sebentar," ucap sang pelatih sambil berdiri dari tempat duduknya, "Eh, Tapi… Akashi, bekalnya?" tanya Aomine sambil menunjuk bekal milik Akashi. sang pemuda bersurai merah itu hanya menghela nafas, "Jika kau ingin ambil saja," ucapnya setelah itu ia berjalan ke arah pintu gedung dan keluar meninggalkan murid-muridnya yang tengah asyik memakan masakan buatan Momoi.

Aomine menghela nafas saat Akashi sudah menghilang dari hadapannya, lalu ia menatap bento miliknya yang dari tadi tidak ia sentuh, 'Kalau semua merespon normal, berarti masakannya memang enak. Ternyata, Bakagami ahli juga mengajari Satsuki cara memasak yang benar,' batinnya sambil mengambil satu buah sosis dan memasukkan kedalam mulutnya lalu mengunyah dengan pelan serta hati-hati.

Pertama ia mengunyah rasanya enak, kedua kali ia mengunyah rasanya mulai aneh, ketiga kali ia mengunyah rasanya mulai bermacam-macam, keempat kali—

BRUSH!

Aomine langsung memuntahkan makanannya secara tiba-tiba, semakin ia mengunyah rasanya semakin bermacam-macam! Ia langsung mengambil botol minumnya yang masih tersisa sedikit dan menegak air tersebut sampai habis. Apanya yang rasanya enak? Ini seperti makanan yang rasanya menjijikkan sekali—tidak ada enaknya!

"Oi, Kalian—HUWAA! APA YANG TERJADI?" baru saja Aomine ingin memanggil teman-temannya—lebih tepatnya ingin protes, ia sudah melihat teman-temannya pingsan satu persatu, Kise pingsan dengan mata terbuka, Midorima pingsan dengan mulut terbuka dan… dan! Murasakibara pingsan sambil duduk! Tetapi saat dilihat lebih jelas nyawanya seperti mau melayang ke surga!

Sepertinya mereka sudah keracunan makanan yang dibuat oleh Momoi, sial! Kalau saja ia bertindak lebih cepat, teman-temannya pasti akan terselamatkan. Pernah dengar sebuah pepatah? Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari sampul depannya saja.

Apalagi sekarang dia sendiri disini, mengingat Akashi sedang ada urusan—atau sebenarnya dia sudah tahu dari awal dan sengaja untuk pergi? Tapi darimana dia tahu?

Ck! Kepala Aomine langsung pusing seketika, mengingat ia juga menelan masakan Momoi yang seperti racun ular yang mematikan, pandangan Aomine kabur seketika membuatnya perlahan menutup matanya dan langsung ambruk ke lantai.

BRUK!

Akhirnya para Kisedai pingsan dengan tidak elitnya—yaitu keracunan makanan buatan managernya sendiri.

Sedangkan Nigou dan Kagami? Oh… anjing itu sedang tertidur lelap karena ia sudah kenyang, kalau Kagami… sepertinya dia belum terbangun dari tidurnya -baca pingsan-.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

"Nene… Tetsu-kun!" panggil Momoi membuat Kuroko menolehkan kepala dari hp miliknya dan menatap gadis si surai pink yang ada di sampingnya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sekolahnya setelah pulang dari mini market.

"Ada apa, Momoi-san?" katanya yang sedang sibuk menyeruput vanilla milkshake miliknya.

"Menurut Tetsu-kun, Akashi-san orangnya bagaimana?" tanya Momoi dengan senyum manisnya, membuat Kuroko terbatuk-batuk sesaat.

"Maksudnya?" Kuroko bermaksud meminta Momoi mengulangi pertanyaannya, bukannya tidak mengerti tetapi ia takut pendengarannya salah karena Momoi tiba-tiba bertanya hal yang tak terduga.

"Em… maksudku, Menurut Tetsu-kun… Akashi-san orangnya seperti apa?" Momoi mengulangi pertanyaannya membuat Kuroko menghela nafas pendek ternyata pendengarannya masih berfungsi dengan normal, ada apa tiba-tiba temannya menanyakan pendapat pelatihnya? Atau jangan-jangan ia sedang jatuh cinta—eh?

"Kenapa tiba-tiba Momoi-san bertanya seperti itu?" Momoi terlihat berpikir kembali, dia sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba malah ingin menanyakan tentang pelatihnya.

"Em… entahlah, tapi aku hanya penasaran dengan sikap Akashi-san yang perhatian terhadap Tetsu-kun," jawabnya sambil memasang pose berpikir.

Kuroko ikutan memasang pose berpikir, "Menurutku biasa saja," ucapnya tanpa pikir panjang, ia malas mikir panjang-panjang karena memang kenyataannya sikap Akashi ke dia biasa-biasa saja dan tidak ada yang spesial di antaranya.

"Benarkah?" Momoi tidak percaya.

"Itu benar, Momoi-san," kata Kuroko dengan wajah datarnya, "Memangnya ada apa Momoi-san?" Kuroko bertanya kembali.

"Em… soalnya, Akashi-san tidak akan mungkin terlalu dekat dengan murid yang bukan anggota dari tim basket," katanya.

"…Mungkin karena aku berteman dengan kalian?" Kuroko menjawab dengan sedikit ragu, Momoi semakin berpikir ala detektif.

"Em… menurutku itu tidak pengaruh sih baginya," jawabnya lagi masih dengan pose ala detektif, itu loh tangan kiri dilipat di dadanya lalu tangan kanan memegang dagunya seolah berpikir untuk memecahkan sebuah kasus misteri yang sangat sulit, halah… berlebihan.

Kuroko ikut-ikutan berpose ala detektif. Serius, Kuroko… jika orang melihatmu seperti itu maka sudah dipastikan mereka akan muntah pelangi dan tenggelam oleh darah mereka sendiri. Oke cukup, itu juga sangat berlebihan.

Untungnya saja jalan yang mereka lewati sedang sepi.

"Atau karena ada—Nigou?" Kuroko menjawab lagi dengan sedikit ragu, seolah-olah mereka berdua saling bekerja sama memecahkan sebuah kasus yang rumit.

Momoi langsung mengetuk tangan kanannya di telapak tangan kirinya seolah ia sudah mendapatkan pencerahan untuk memecahkan sebuah kasus yang rumit. "Ah! Bicara soal itu, darimana kamu mendapatkan Nigou, Tetsu-kun? Lalu kenapa anjing itu bisa tinggal di apartemen milik Akashi-san? Apa kalian pernah tidak sengaja bertemu? Tidak mungkin tiba-tiba Akashi-san mau menerima anjing itu dengan mudahnya." Momoi langsung melemparkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Kuroko, membuat si surai biru muda itu sedikit pusing harus menjelaskannya mulai dari mana.

"Etto… bagaimana ya…" Kuroko menggaruk pipinya dengan telunjuk kanannya, berusaha mencari susunan kata yang tepat.

"Ayolah, Tetsu-kun~ beritahu aku." Momoi mengeluarkan kitty eyes nya membuatnya ia menjadi imut, walau Kuroko tidak terpengaruh sih. Tapi tidak mungkin ia tidak memberitahunya, nanti si gadis berambut pink itu malah cemberut.

"Baiklah, jadi begini ceritanya, Momoi-san..." Kuroko langsung menceritakan semuanya secara detail mulai dari ia kehujanan dan terpaksa berteduh di pintu masuk sekolahnya tapi setelah itu ia mendapat sebuah payung milik orang lain yang ditinggalkan disitu entah itu sengaja atau tidak—ah! Kuroko hampir lupa ia belum mengembalikan payung tersebut.

Momoi mengangguk serius, ia penasaran dengan cerita selanjutnya. Kuroko mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan ceritanya.

Kuroko pun bercerita saat ia tengah membaca bukunya sambil berjalan pelan, ia menangkap sesuatu berupa sebuah kardus yang cukup besar terlihat terbuka lebar di dekat tong sampah. Awalnya, ia ingin membiarkannya tetapi saat ia mendengar sebuah lolongan anjing yang terkesan sedih, ia semakin penasaran untuk mendekati kotak tersebut. Saat itu juga dia terkejut melihat anjing berbulu hitam putih yang hanya dibalut selembar kain yang sudah basah tampaknya meringsut kedinginan, ia sedikit marah… siapa yang membuang anjing yang tidak berdosa itu disini? Lalu ia pun berjongkok dan mengambil anjing itu dan memasukkannya ke dalam jaketnya untuk sekedar menghangatkan anjing kecil yang sudah gemetaran akibat cuaca yang dingin. Anjing itu menurut dan hanya menggonggong kecil kepadanya. Seketika itu dia menyunggingkan senyuman tipis lalu mengusap kepala anjing itu dengan pelan.

Momoi yang mendengar itu langsung menangkup kedua tangannya di pipinya, "Tetsu-kun sangat gentle, kyaa~ aku jadi ingin seperti anjing itu, ugh~." Pipi Momoi bersemu merah membuat Kuroko memasang wajah tanda tanya.

"Momoi-san bersyukurlah karena kamu dilahirkan menjadi manusia." Momoi cemberut, pemuda yang disampingnya ini terlalu polos, maksudnya ia juga ingin kepalanya di usap dan dihangatkan—oke, ambigu.

"Ah, lalu lalu?" Momoi semakin penasaran dengan kelanjutannya, ia semakin penasaran adegan Kuroko bertemu dengan Akashi—pelatihnya.

"Hm, lalu…" Kuroko kembali bercerita, saat ia sudah memungut anjing itu, ia bingung harus ditaruh dimana anjing ini, tidak mungkin ia bawa anjing ini kerumahnya karena ibunya sangat alergi terhadap hewan berbulu. Walau ibunya pasti membolehkan anaknya memelihara tetapi ia tidak tega jika tiap hari ibunya akan bersin-bersin atau kulitnya berubah menjadi merah dan gatal-gatal.

"Sou ka, ibunya Tetsu-kun ternyata alergi terhadap hewan yang berbulu ya? Padahal Nigou termasuk anjing yang manis dan imut kayak Tetsu-kun~." Apa bedanya dengan manis dan imut ya? Tunggu! Apa Kuroko tidak salah dengar? Dia dipanggil manis serta imut oleh seorang perempuan!

"Momoi-san, aku ini lelaki tulen." Kuroko bermaksud meralat perkataan Momoi.

"Tapi kalau Tetsu-kun ku dandani sedikit, pasti akan terlihat manis~." Kuroko langsung menggeleng cepat, ia tidak bisa membayangkan dirinya didandani menjadi perempuan, lalu memakai wig, lalu menggunakan dress, lalu memakai sepatu yang ujungnya runcing-runcing itu—hell no!

"Ah! Lanjut, Tetsu-kun," pinta Momoi, Kuroko mengangguk singkat lalu dia kembali bercerita. Saat dia sedang dalam kebingungan ia tidak sengaja melewati sebuah taman di pinggir kota yang terlihat sepi, dia menangkap sosok yang sedikit familiar dengannya. Sosok yang memakai setelan jas rapi seperti baru pulang dari tempat kerja dengan rambut merah yang mencolok. Dia tidak bisa melihat wajahnya karena ditutupi oleh kedua tangannya. Satu kalimat yang terlintas dipikirannya adalah orang itu sedang frustasi. Kuroko masih terdiam ditempat dan masih mengamati gerak-gerik si rambut merah itu, rasanya ia pernah melihat warna rambut itu tetapi ia lupa dimana ia melihatnya. Awalnya, Kuroko bermaksud melanjutkan perjalanannya kembali tetapi orang yang frustasi itu sedikit mengeluarkan kata-kata yang kotor seperti 'brengsek' dan sebagainya, sampai-sampai dia sengaja membanting hpnya ketanah—sudah di duga bahwa orang itu mempunyai masalah yang serius. Maka dari itu, mau tak mau Kuroko melangkahkan kakinya mendekat ke pemilik rambut merah itu lalu sengaja memberikannya teduhan dari payungnya. Kuroko masih menjadi anak yang baik dan suka menolong orang lain.

Tapi saat Kuroko mendekat dan menyodorkan payung miliknya bermaksud memberinya teduhan, mata birunya membulat... tidak menyangka bahwa ia bertemu dengannya untuk ketiga kalinya.

"He~ terlihat seperti seorang pangeran menyelamatkan seorang putri yang sedang kesusahan," ucap Momoi asal. Maksudnya dengan pangeran dan putri? Kuroko jadi mikir iya dan gak, artinya iya mungkin yang dimaksud pangeran oleh Momoi adalah dirinya dan tidak mungkin putri yang dimaksud adalah sosok pemilik rambut merah alias Akashi.

"Momoi-san, jika Akashi-san mendengar itu… apa yang akan dia lakukan?" tanya Kuroko to the point, Momoi langsung bergidik ngeri lalu tertawa garing.

"Gomenne, aku sedikit keceplosan… tidak mungkin Akashi-san seorang putri, iya kan?" sepertinya Momoi mengetahui pikiran Kuroko yang juga memikirkan hal yang sama.

Kuroko menggeleng pelan, tidak bisa dibayangkan kalau Akashi adalah seorang putri, kalau dia sih tidak masalah di bilang pangeran, toh pangeran itu bergender laki-laki kan? Berarti Momoi masih mengakui kelakiannya(?) walau tadi Momoi sempat ingin mendandaninya ala perempuan.

Ini kenapa jadi bahas pangeran dan putri? Oke, back to the topic.

"Lalu setelah itu?" tanya Momoi kembali dengan rasa keingin tahuannya.

"Lalu, Akashi-san melihat anjing yang kubawa sedikit kedinginan karena bulu-bulunya yang basah terkena air hujan, dan tiba-tiba saja dia menawarkan untuk berteduh di apartemen miliknya," kata Kuroko sambil mengambil nafas yang panjang, ternyata cerita panjang lebar bisa membuat mulutnya lelah. Kuroko kan termasuk tipe yang irit berbicara.

"He~ sebenarnya Akashi-san orangnya baik kok, Tetsu-kun… tapi tergantung mood nya," ucap Momoi sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk kanannya. Ada ya orang baik tapi tergantung oleh mood nya?

"Dia mengatakan hanya untuk balas budi saja," jawab Kuroko bermaksud meralat semua perkataan Momoi, tidak percaya bahwa orang yang di cap sebagai iblis adalah orang yang baik.

Dasar, Kuroko… apa dia tidak ingat kalau Akashi pernah memberinya hukuman yang ringan kepadanya? Itu menunjukkan bahwa masih ada hati nurani di dalam diri sang raja iblis.

"Hum… sepertinya aku tahu kenapa Akashi-san badmood akhir-akhir ini," kata Momoi sambil memasang pose ala detektif—lagi, Kuroko hanya diam dan mendengarkan tidak tahu mau respon apa.

"Aku rasa akhir-akhir ini dia mempunyai masalah dengan keluarganya, bukannya aku ikut campur sih… tetapi kemarin tidak sengaja aku mengambil hpnya yang berdering lalu melihat nama yang tertera disitu, saat aku memberikannya ia malah membiarkan hp itu," katanya sambil menempelkan tangan kanannya di dagunya. Kuroko ber oh ria, tidak tahu mau respon apa jika menyangkut soal pelatihnya.

"Tapi, wajar saja sih… mengingat Akashi-san itu pewaris tunggal yang dididik oleh ayahnya dengan sangat keras, jika Akashi-san melakukan hal yang tidak disukai ayahnya pasti berujung dengan pertengkaran," lanjut Momoi lagi. Kuroko terdiam beribu bahasa, berpikir... ternyata latar belakang Akashi sedikit menunjukkan tidak ada kebahagiaan.

"Oh ya, Tetsu-kun… Akashi-san dulu adalah pemain inti di basket Teiko loh, dia dan timnya lah yang dulu memenangkan Inter High dan Winter Cup tiga kali berturut-turut, tetapi itu sudah berita yang sangat lama sih, semua orang pasti telah melupakannya—mungkin, apalagi Akashi-san tidak suka dengan namanya ketenaran, jadi dia memilih kemenangan timnya itu tidak usah terlalu diperhebohkan," jawabnya. Wah, darimana Momoi mendapatkan informasi seperti itu? Kuroko saja baru tahu kalau Akashi itu dulunya pemain yang luar biasa, ia hanya mendengar rumor-rumor dari beberapa orang soal Teiko memiliki tim basket yang kuat, tapi karena basket Teiko pernah hampir hilang… rumor itu pun juga ikut hilang.

"Sou ka… mungkin karena itu Akashi-san sengaja memilih sendiri orang-orang yang akan masuk ke dalam tim inti—benar begitu?" Kuroko bertanya dengan ragu-ragu, takut kata-katanya salah.

"Ah iya! Para Kisedai dipilih oleh Akashi-san dan dia sengaja memisahkan latihan Kisedai dengan tim lainnya, biar ia lebih fokus kepada murid-murid pilihannya untuk mengembangkan skill mereka masing-masing," jawab Momoi.

Kisedai?

"Oh begitu… kalau dilihat dari segi mana pun, Murasakibara-kun, Midorima-kun, Kise-kun, Aomine-kun dan Kagami-kun… masing-masing memiliki bakat tersendiri, serta Momoi-san juga memiliki bakat informan yang baik." Kuroko tersenyum tipis, Momoi langsung sedikit salah tingkah melihat senyuman Kuroko yang begitu lembut.

"Ah, begitulah… hehehe…" ujar Momoi sambil tersipu malu dipuji oleh sang pujaan hatinya.

"Lalu, Tetsu-kun… aku jadi menyadari kenapa Akashi-san tertarik denganmu," kata Momoi sambil menjentikkan jarinya. Giliran si surai biru muda itu penasaran dengan perkataan gadis pink itu.

"Tetsu-kun memiliki kemampuan yang unik dan mungkin hanya Akashi-san yang bisa melihatnya. Mungkin saja ia penasaran dengan sihir Tetsu-kun yang bisa hilang-hilang itu, ditambah lagi Tetsu-kun sudah di cap sebagai murid yang suka membantah perkataan Akashi-san." Kata-kata Momoi yang terakhir terlihat menusuk di dalam hati Kuroko, bagaimana bisa ia yang selalu dibilang baik, perhatian, ramah, sopan, berwajah datar dan seperti hantu oleh teman-teman SMP nya… kini malah mendapat julukan baru sebagai orang yang suka membantah?

Dan satu hal lagi, Kuroko tidak pernah mempunyai sihir menghilang seperti itu, tapi berterimakasih lah kepada hawa tipis yang ia miliki sejak lahir—entah di dapat darimana, padahal ibunya tidak mempunyai kemampuan seperti itu… mungkin saja ayahnya? Entahlah, ia pikir ayahnya juga tidak memiliki kemampuan seperti itu, ini masih menjadi sebuah misteri. Kemampuan hilang dan munculnya yang sering membuat orang sekitar jantungan, dinamakan misdirection—oleh Ogiwara yang seenak jidatnya menamainya. Bukankah itu sama saja seperti sihir, Kuroko?

"Aku tidak pernah membantah dan tidak mempunyai sihir, Momoi-san." Kuroko tidak terima dengan perkataan itu, Momoi harus menarik kata-katanya.

"Eh, benarkah? Tapi mendengar Tetsu-kun dihukum oleh Akashi-san karena membantah sudah menjadi bukti," ucap Momoi sambil tersenyum dan memeletkan lidahnya.

"Itu—hanya kebetulan." Kuroko memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak bisa membalas perkataan si gadis berambut pink, sebenarnya yang kejadian kemarin sewaktu dikelas itu ia tidak membantah perkataan gurunya melainkan hanya meminta untuk di jelaskan kembali. Tapi emang dasarnya Akashi Seijuuro yang absolut ditambah mutlak itu pemikirannya tidak sama dengan pemikiran orang lainnya.

Momoi terkikik geli melihat reaksi pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya—ya, hanya sedikit.

"Ah, kita sudah sampai di sekolah, ayo cepat ke gedung basket… sepertinya mereka sudah menunggu kita lama." Momoi menarik lengan Kuroko lalu berlari kecil, sedangkan yang di tarik hanya menurut saja.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

"Minna! Aku membawakan minuman—Kyaaaa!" ucapan Momoi terpotong dan di gantikan dengan teriakannya yang histeris, Kuroko yang mendengar itu langsung masuk kedalam dan melihat apa yang terjadi.

Kuroko terkejut saat melihat para Kisedai sudah ambruk dan dipastikan mungkin tidak akan bangun-bangun lagi. Poor Kisedai.

"Kenapa dengan semuanya?" tanya Kuroko sambil menatap tidak percaya dengan teman-temannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa—kecuali Murasakibara yang tertidur-baca pingsan- dalam posisi duduk, keren sekali. Diam-diam Kuroko mengeluarkan hpnya lalu memotret para Kisedai yang masih dalam keadaan pingsan dengan posisi tidak elit.

Momoi menutup mulutnya lalu mendekati mereka dengan perlahan, kenapa mereka ditinggalkan sebentar langsung seperti ini?

"Mereka habis makan bekalku—" Momoi menggantungkan kata-katanya, Kuroko menelan ludah, apakah ada yang salah dengan makanan buatan Momoi?

"—langsung tertidur?! Bagus sekali mereka ini! Ah, kenapa Dai-chan tidak menghabiskan bekalnya? Muk-kun juga! Ki-chan dan Midorin juga! Ugh!" Momoi mengomeli karena bekalnya tidak dimakan sampai habis dan mereka seenaknya tertidur begitu saja.

Kuroko langsung facepalm, pemikiran manager nya itu benar-benar polos atau bagaimana ya? Jelas-jelas yang Kuroko lihat mereka semua pingsan. Tunggu! Ia tidak melihat Akashi disini? Kemana dia? Mungkin kah yang menyebabkan mereka pingsan adalah ulah dari pelatihnya sendiri?

"Guk!" Kuroko masih sibuk mencari keberadaan Akashi, Nigou langsung berlari dan memutari kaki Kuroko, membuat Kuroko berjongkok dan mengelus kepala anjing itu, seketika itu ia menangkap bekal dengan kain berwarna merah, dilihat dari bekalnya sama sekali belum tersentuh, hm... Kuroko makin penasaran, Kisedai pingsan dengan sumpit yang masih di genggam dan bekal yang sudah di sentuh, sedangkan bekal milik Akashi maupun Kagami belum tersentuh sama sekali. Karena semakin penasaran ia pun membuka bekal itu dengan perlahan, mungkin saja bekal ini yang membuat mereka seperti itu?

Bekal ini—sepertinya terlihat biasa saja jika dilihat dari bentuknya yang normal, lalu apa yang membuat mereka menjadi tidak bernyawa? Kuroko langsung mengambil sebuah sumpit lalu memakannya dan mengunyahnya dengan cepat.

Satu detik.

Dua detik—HOEK! Kuroko ingin segera memuntahkan makanan itu dari mulutnya. Rasanya benar-benar luar biasa mematikan!

"Enak gak, Tetsu-kun?" tanya Momoi tiba-tiba, sepertinya Kuroko ketangkap basah sedang mencicipi. Si surai biru itu tidak jadi memuntahkan makanannya, malah langsung menelannya.

'Rasanya seperti lumpur.' Kira-kira itulah pemikiran Kuroko terhadap makanan buatan manager tim basket itu.

"Dasar mereka itu, habis makan malah tidur! Apa karena masakanku terlalu enak membuat mereka tertidur saking kenyangnya?" kata Momoi sambil berkacak pinggang. Mana mungkin mereka bisa tertidur pulas setelah merasakan makanan yang rasanya seperti racun, Kuroko tahu… bahwa mereka seperti itu karena sudah berapa kali menelan masakan yang terbilang sudah kadarluarsa dan mematikan.

"Ano, Momoi-san… rasanya seperti—" ucapan Kuroko terpotong saat ia mendengar suara orang seperti meminta air.

"K-Kuroko-cchi… air—ssu…" Kise susah payah mengangkat tangannya, Kuroko yang melihat itu langsung berlari kecil mendekati Kise, Nigou pun juga senantiasa mengikuti majikannya. Kuroko langsung mengeluarkan minuman dari kantong plastik yang ia bawa lalu mengangkat kepala Kise sedikit dan menyodorkannya sebuah botol minum untuk diminum. Momoi hanya bingung sambil memerhatikan mereka, kenapa ya dengan mereka? Seperti itu lah kira-kira yang di pikiran Momoi.

"Kuroko-cchi… aku maunya minum dengan mulutm—ummph!" belum sempat Kise menyelesaikan kata-katanya, Kuroko langsung mendorong botol itu dengan kuat-kuat kedalam mulut Kise sehingga mau tak mau pemuda pirang itu menjauhkan botol tersebut dan terbangun dengan posisi duduk lalu terbatuk-batuk.

"Uhuk! Kuroko-cchi! Uhuk! Hidoissu! bagaimana… uhuk! Kalau aku… uhuk… sampai pingsan lagi? Apa kau mau memberikanku nafas buatan—ssu?" dahi Kuroko berkedut lalu melempar botol minuman yang sudah ditutup itu ke muka Kise.

"Itte!" Kise mengelus hidungnya yang memerah akibat terkena lemparan botol tersebut. "Sumimasen… hanya saja kau menyebalkan, Kise-kun." Kuroko kesal.

"Tetsu-kun berikan dua botol padaku, aku ingin membangunkan Midorin dan Dai-chan." Kuroko langsung memberikan botol yang dingin kepada Momoi, lalu diambil olehnya dan segeralah manager itu memberikannya kepada mereka berdua yang masih pingsan.

Kuroko langsung beranjak mendekati Murasakibara yang sedang pingsan juga, ia pun tak usah repot-repot menggunakan cara seperti yang ia lakukan kepada pemuda pirang itu.

Kuroko mendekatkan bibirnya ke telinga si ungu itu, lalu berbisik. "Murasakibara-kun, boleh aku habiskan maibou nya?" seketika itu si pemilik rambut berwarna ungu membuka matanya lebar-lebar, "Ore no maibou!" katanya yang langsung beranjak dan berlari memeluk snack miliknya, ia memasang muka garang kepada Kuroko yang membalasnya dengan tatapan khasnya yang datar.

"Woah, aku tidak menyangka kalau Murasakibara-cchi bisa dibangunkan seperti itu—ssu." Kise bertepuk tangan dan berdecak kagum.

"Ck! Kepalaku sedikit pusing—nodayo." Terlihat Midorima yang sedang memegang kepalanya.

"Satsuki! Lain kali jangan memberikan makanan racun seperti yang tadi itu! Sudah berapa kali aku memperingatimu, kau dan masakanmu itu adalah musuh!" protes Aomine kepada Momoi. Kise dan Kuroko hanya melihat mereka sedang bertengkar kecil.

"He? Tapi aku sudah memasaknya sesuai dengan resep, Dai-chan! Apa salahnya jika aku ingin belajar memasak lagi." Momoi cemberut, susah payah ia membuatkan makanan untuk semua malah dibilang racun.

"Sesuai resep bagaimana? Kenapa semua bisa keracunan setelah mencoba masakanmu?" Aomine kembali mengomeli teman kecilnya itu, Momoi hanya cemberut kesal.

"Kuroko-cchi sudah mencoba makanannya?" Kise bertanya kepada Kuroko.

Kuroko mengangguk kecil, "Sudah… rasanya seperti lumpur," ucapnya jujur dengan volume dikecilin, takut Momoi mendengar katanya. Kise tertawa garing, ada benarnya sih—tapi kenapa tadi dia sempat bilang enak ya?

"Tapi, Dai-chan… aku sudah mengikuti resep dari Kagamin, hiks…" Momoi mulai menangis. Nah loh, Aomine… bisanya menangisi perempuan saja.

Kise yang melihat itu langsung mendekati Momoi untuk menenangkannya, "MaMa ne… bisa jadi tidak sengaja Momoi-cchi salah memasukkan bahan—ssu," ucapnya sambil menenangkan Momoi yang mulai menangis.

"Sudah ku katakan tempo hari, ketidak bisaannya memasak melebihi pemahaman manusia, tahu!" kata Aomine lagi membuat Momoi menangis, Kise tambah panik.

"Aomine-kun, membuat perempuan menangis itu tidak baik," ucap Kuroko yang sudah berdiri dihadapannya sambil mencubiti pipi pemuda tan hingga ia meringis kesakitan.

"Itte, Tetsu! Apa yang kau lakukan?"

"Mine-chin, hidoi~... aku tidak mau berteman denganmu," kata Murasakibara sambil memakan maibou miliknya. Membuat Aomine geram tingkat dewa, ia tahu teman kecilnya pasti hanya berpura-pura menangis.

"Aomine, hari ini adalah hari kesialanmu—nodayo," timpal Midorima.

"Kenapa kalian tidak membela ku, bukankah gara-gara masakannya kalian juga ikut pingsan?" ucap Aomine tidak terima sambil mengacungkan jari telunjuknya, mereka semua langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Memang ada benarnya perkataan Aomine itu, tetapi mana mungkin mereka tega membentak seorang perempuan seperti yang Aomine lakukan, kan?

"Huwaaa, Tetsu-kun! Dai-chan sangat jahat, hiks!" Momoi langsung berlari memeluk Kuroko dan menangis, membuat Kuroko mengusap kepalanya dengan pelan. Dari sekian banyak laki-laki yang keren disini, kenapa ia harus berlari ke Kuroko? Yah… itu karena Kuroko adalah pujaan hatinya.

"Sudahlah, Aomine-cchi… mungkin Momoi-cchi salah memasukkan bumbu saja, lain kali rasanya pasti enak." Kise bersikap positif, padahal ia juga sempat terbunuh juga gara-gara masakannya.

"Ck!" Aomine menelengkan kepalanya ke arah lain, masih kesal. Momoi tidak menangis lagi, pelan-pelan dan secara sembunyi-sembunyi ia memeletkan lidahnya ke arah Aomine membuat dia kembali murka.

"Aku akan membunuhmu, Satsuki!" tubuh Aomine langsung ditahan oleh Kise dan Murasakibara, supaya si pemuda tan itu tidak mendekati Momoi serta Kuroko. "Sudah lah Aomine-cchi! Kau seperti anak kecil—ssu."

"Kyaa, Tetsu-kun! Dai-chan seram!" katanya sambil mengerat pelukannya membuat Kise menjadi sangat iri.

"Momoi-cchi jangan memeluk Kuroko-cchi terlalu erat—ssu."

"Momoi-san… s-sesak…"

"Dasar kalian ini—nodayo."

"Muka Kuro-chin memucat~."

"Guk!" Nigou pun ikut-ikutan menggonggong karena sedari tadi ia merasa di abaikan.

"Ada apa kalian ribut-ribut?" tiba-tiba muncul seseorang sambil menyandarkan bahunya di pintu tersebut, orang itu tak lain dan tak bukan adalah pelatihnya.

"Oh? Aka-chin, darimana saja?" Murasakibara melirik ke arah Akashi yang masih betah berdiri di depan pintu tersebut.

"Aku ada sedikit urusan," katanya sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

"Ah, apa Akashi-san memakan bekal buatanku?" tanya Momoi seketika, Akashi berpikir sebentar. "Karena aku ada urusan penting, jadi bekal itu kuserahkan kepada Daiki."

"Oi!"

"Sou ka…" Momoi tertunduk sedih.

'Mana mungkin Akashi mau memakan bekalmu, baka!' ucap Aomine dalam hati. Yang lain tidak bisa membayangkan jika Akashi benar-benar memakan bekal buatan Momoi dan pingsan dengan tidak elitnya seperti mereka.

"Lain kali saja kau buatkan lagi." Mata Momoi langsung berbinar saat mendengar perkataan—bukan! Permintaan dari pelatihnya itu, lalu mengangguk mantap.

"Oi, Akashi! Kau mau membunuh kami semua?!" ucap Aomine sambil mengepal tangannya dengan erat, ia geram dengan pelatihnya ini atau sebenarnya dia memang sengaja?

"Hm? Tidak," jawabnya dengan singkat, padat dan jelas.

"Aku akan membuatkan bekal lagi untuk yang lain dan juga Tetsu-kun~." Momoi menjingkrak-jingkrak senang, sementara yang lain menepuk jidatnya serta Kuroko yang berjengit ngeri.

"Dan jangan buatkan bekal untukku, Satsuki," kata pelatihnya dengan wajah serius, Momoi memiringkan kepalanya. "Eh, kenapa?" tanyanya.

"Buatkan saja untuk yang lain karena mereka pasti sangat kelaparan saat selesai latihan sedangkan aku tidak," katanya membuat para dahi Kisedai berkedut tanda ingin protes.

"Hm…. Baiklah!" Momoi tersenyum riang.

'Bilang saja kau tidak mau memakan masakan yang mematikan itu, Akashi-teme!' batin Aomine geram.

'Akashi-cchi sungguh kejam—ssu,' batin Kise.

'Aka-chin curang!' batin Murasakibara.

'Akashi-sensei benar-benar licik—nodayo,' batin Midorima.

Sedangkan Kuroko? Iya hanya terdiam… karena dia memiliki kemampuan khusus—jika bekal itu benar-benar datang ke hadapannya, maka ia akan milih untuk kabur menggunakan misdirectionnya.

.

"Bicara soal itu, kapan Kagami-kun akan bangun ya?" Kuroko berjongkok dihadapan Kagami yang masih tidur-baca pingsan-, dia pun sengaja menekan-nekan pipinya dengan jari telunjuknya.

"Nigou, Kemari." Akashi memerintahkan Nigou untuk mendekat kepadanya, anjing itu menurut. Akashi menggendong anjing tersebut lalu berjalan mendekati Kagami yang masih tertidur.

"Aka-chin apa yang akan kamu lakukan?" si rambut ungu bertanya pada pelatihnya karena penasaran.

"Diam dan lihat saja." Mereka semua langsung bungkam, sedangkan Akashi sudah berada di samping Kuroko. Ia ikut berjongkok lalu meletakkan anjing itu di dada Kagami.

"Nigou, beri salam." Akashi memerintah, anjingnya menurutinya.

"Guk!" seketika itu Kagami langsung terlonjak kaget mendengar suara anjing dalam mimpinya—iya, dia barusan bermimpi sangat indah, tetapi mimpinya buyar saat mendengar suara anjing.

"WA!" Kagami terbangun lalu mendapati Nigou duduk dengan santai di dadanya.

Beberapa detik dia melamun sambil menatap anjing yang memiliki wajah mirip dengan Kuroko—bermaksud mengumpulkan kesadarannya sampai penuh. "Guk!" Nigou menggonggong sekali lagi.

"WAAAAA!" Kagami langsung terbangun duduk disertai Nigou yang melompat turun dari dada bidang miliknya, dengan cepat ia memeluk Kuroko yang ada disampingnya.

"Ano, Kagami-kun—"

"Kenapa dia ada di atas badanku, Kuroko-teme! Pasti kau yang melakukannya—are?" Kagami langsung melihat sosok pemuda dengan surai biru di sampingnya, bukannya tadi ia memeluk Kuroko ya? Lalu yang dipeluknya ini siapa?

"…Taiga, bisa kau lepaskan… pelukanmu?" Kagami bergidik ngeri saat ia yakin dan benar orang yang dipeluknya ini bukanlah Kuroko, terdengar dari suaranya pasti bukan lah suaranya Kuroko, kan?

Tiba-tiba sebuah gunting mengacung di bawah dagunya, membuat dia semakin bergidik ngeri. Dalam sehari ia sudah disiksa dengan pelatihnya selama dua kali—dan mungkin ini yang ketiga kalinya.

Kagami langsung cepat-cepat melepaskan pelukannya lalu pergi menjauh dari pelatihnya yang sudah mengeluarkan aura yang sangat tidak bersahabat.

CKRIS!

"Sorry, Akashi… aku tidak tahu! Aku kira kamu itu Kuroko," kata Kagami.

"Oh—jadi kau sengaja ingin memeluk, Tetsuya?" Akashi bertanya.

"Iya—eh bukan!" Kagami hampir salah jawab, para Kisedai menatap tajam—ternyata Kagami sedikit modus juga ya.

"Akashi-cchi, siksa saja si Kagami-cchi," kata Kise, Kagami langsung melotot.

"Oi—"

"Dia pantas mendapatkannya, Akashi," timpal Aomine.

"Ap—"

"Kagami, mungkin hari ini adalah hari kesialanmu—nodayo."

"Aka-chin aku jadi sebal dengan Kaga-chin." Murasakibara ikut-ikutan, Akashi menghela nafas. "Baiklah, kalau itu permintaan kalian," ucapnya sambil memainkan gunting miliknya.

"Selamat jalan, Kagamin~." Momoi tersenyum senang sambil melambaikan tangannya kepada Kagami, bermaksud memberi salam berpisah.

CKRIS!

"Pengkhianat kalian semua!" teriak Kagami, perlahan ia mundur karena Akashi berjalan mendekat ke arahnya. Jujur, sebenarnya Kagami itu bukan tipe orang penakut. Ia bisa saja menendang, melempar bahkan membakar Akashi. Oke kau kejam, Kagami. Tapi sayangnya itu hanya dalam mimpimu. Tidak mungkin ia berani dengan pelatihnya yang jelas-jelas mempunyai jabatan tinggi di sekolah ini, juga orang yang paling dihormati dan sifatnya sebelas dua belas dengan raja iblis di neraka, bisa-bisa ia disiksa dan dikuliti habis-habisan.

"Nah, Taiga… bersiaplah." Akashi mengambil ancang-ancang untuk melempari gunting miliknya lagi, tapi sebuah tangan menghentikan aksi kejamnya itu.

"Hentikan, Akashi-san! Jangan sakiti Kagami-kun." Kuroko lah yang menahan tangan si pemuda bersurai merah yang sedang menjadi yandere mode on.

Kagami bersorak senang dalam hati, akhirnya ada yang membelanya juga. Para Kisedai menatap horror ke pemuda bersurai biru yang berani menyuruh Akashi menghentikan aksinya. Awas, Kuroko! Nanti kau kena guntingnya! Kisedai sudah bersiap-siap untuk membawa Kuroko kabur menjauh dari pelatihnya, kalau-kalau pelatihnya tiba-tiba mengamuk dan berganti ingin menyiksa pemuda manis itu.

"Kau berani memerintahku, Tetsuya?" tanya Akashi dengan tatapannya yang tajam, ia tidak suka kegiatan senangnya dihentikan.

"Tidak, Akashi-san… hanya saja aku merasa kasihan Kagami-kun terus-terusan disiksa hari ini, bukankah lebih baik kalian semua berlatih daripada membuang waktu dengan percuma?" perkataan Kuroko sukses membuat Akashi terdiam, benar juga sih… kenapa Akashi tidak ada kepikiran ya dari tadi? Mungkin karena ia sudah keasyikan menyiksa muridnya, jadi lupa dengan tujuan utamanya yaitu berlatih. Kejam kau, Akashi.

Kagami kembali bersorak dalam hati, ingatkan dia untuk mentraktir Kuroko sepulang dari latihan neraka ini.

"Grr!" Nigou ikut-ikutan menahan Akashi, ia menggigit ujung celana training milik Akashi, para Kisedai menatap horror ke arah anjing kecil tersebut. Awas, Nigou! Nanti kau terkena gunting milik Akashi! Majikan sama peliharannya sama saja! Sama-sama tidak sayang nyawa.

Akashi yang melihat perlakuan Nigou yang mengigit ujung celananya dan Kuroko yang masih betah memeluk lengannya hanya menghela nafas pendek.

"Baiklah—" Kagami bernafas lega, jarang-jarang pelatihnya menuruti perkataan Kuroko. Giliran Kisedai menatap tidak percaya, tumben Akashi menurutinya?

"—Tapi sebagai gantinya, Taiga. Lari keliling lapangan basket ini sebanyak 50 kali." Kagami berhenti bernafas, apa? 50 kali? Oh ayolah, Akashi.

"Lakukan sekarang atau ku tambah—"

"BAIKLAH!" teriak Kagami dengan lancang, buru-buru ia melakukan apa yang diperintahkan oleh pelatihnya. Kisedai kembali menahan tertawa—minus Midorima dan Murasakibara. Dasar tidak setia kawan.

"Dan kalian—" Akashi menatap Kisedai yang tadi sibuk menahan tawa kini berdiri mematung, "Lari keliling lapangan basket ini 35 kali," ucapnya dengan nada dingin.

Apa? Lari lagi? Baru saja mereka latihan yang melelahkan kini disuruh lari 35 kali? Ayolah… kenapa Akashi suka sekali menyiksa mereka.

"Tapi, Akashi-cchi kenapa kami malah ikut-ikutan dihukum?" Kise bertanya balik bermaksud untuk protes, karena ia merasa tidak mempunyai salah apapun kepadanya tiba-tiba disuruh lari lagi. Padahal perutnya masih lapar, minta diisi kembali.

"Hanya 35 kali kan? Lakukan atau—" Akashi menggantungkan kata-katanya.

"BAIK!" ucap mereka serentak, lebih baik turuti daripada ditambah menjadi dua kali lipat, pilih yang mana? Kisedai minus Momoi langsung berlari mengelilingi lapangan basket.

"Dan kau, Tetsuya—" Akashi menatap tajam ke arah Kuroko, kali ini dia langsung berdiri mematung.

"Ikut lari dengan mereka sebanyak 35 kali." APA? Kuroko tidak salah dengar kan? Masa ia disuruh lari? Padahal dia hanya orang luar yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Kuroko butuh penjelasan yang jelas sekarang juga!

"Ini karena kau berani memerintahku, aku sudah menurutimu dan sekarang giliran kau yang menurutiku, Tetsuya." Kuroko menahan nafas, Momoi menutup mulutnya—tidak disangka Kuroko juga mendapatkan hukuman yang setimpal dengan teman-temannya, Kisedai yang tadi sibuk lari pun langsung terhenti aktifitasnya saat mendengar perkataan dari pelatihnya.

"Akashi, apa kau tidak terlalu berlebihan dengan Tetsu? Staminanya tidak sama dengan kita," ucap Aomine.

"Benar—ssu, Kuroko-cchi bukan anggota dari tim basket—ssu, kasihan dia," timpal Kise.

"Aka-chin nanti kalau Kuro-chin pingsan bagaimana?"

Akashi mendelik tajam bermaksud menyuruh mereka diam, "Tetsuya dulu ikut klub basket, kan? Tidak masalah kalau ia disuruh lari seperti ini," jawabnya tenang. Yang lain? Bungkam.

Kuroko hanya diam, memang benar sih dia ikut klub basket… tapi tidak pernah sekalipun mendapatkan pelatih yang suka menyiksa seperti ini.

Dan satu hal lagi, Kuroko itu belum makan siang!

"Baiklah." Akhirnya Kuroko menyetujui perkataan pelatihnya, ia membuka jaket panjangnya dan sekarang ia hanya memakai kaos warna putih, lalu ikut lari dengan mereka. Sementara Akashi puas dan langsung duduk dibangku sambil melihat muridnya yang sedang dihukum.

Momoi hanya menggelengkan kepalanya pelan, sebenarnyaia tahu bahwa secara tidak langsung Akashi telah membuat Kuroko masuk sebagai anggota timnya. Cerdik juga kau, Akashi.

.

"Hah… hah… masih ada 10 kali lagi—ssu, Kuroko-cchi semangat!" Kise yang berada didepan Kuroko memberi semangat kepada pemuda yang dibelakangnya itu, bisa dilihat wajah pemuda yang putih itu kini memerah karena kelelahan.

"Tetsu, kau baik-baik saja?" tanya Aomine yang memperlambat larinya hingga berada disamping pemuda itu.

"D-daijoubu, desu… tidak usah memperdulikan aku… hah… hah," kata Kuroko dengan nafas yang terengah-engah, sesungguhnya selama Kuroko latihan di SMPnya ia hanya sanggup berlari 10 kali keliling lapangan basket, tidak pernah over sampai seperti ini.

"Kuroko, sepertinya kau tidak baik-baik saja. Kalau tidak bisa jangan dipaksa, biar aku yang bicara dengan Akashi," ucap Kagami yang berada dibelakang Kuroko, sengaja… karena kalau nanti Kuroko sempat pingsan, ia langsung bisa menangkapnya. Modus banget sih, Kagami.

Kuroko menggeleng pelan lalu tersenyum tipis dengan wajah yang sudah basah oleh keringat dan wajahnya yang sudah memerah, matanya yang terlihat sayu serta nafasnya yang terengah-engah membuat dia jadi kawaii overload, apalagi ia sempat tersenyum tipis. Para Kisedai langsung menahan untuk tidak mimisan ditempat melihat wajah Kuroko yang menggoda.

Murasakibara jadi ingin memakan makhluk manis ini.

Kacamata Midorima retak.

Aomine dan Kagami menahan hidungnya untuk tidak mimisan.

Kise ingin memotret wajahnya dan mengabadikannya dikamar.

"Aku tidak apa-apa… hah… hah…" Kuroko berbicara dengan nafas terengah-engah, jujur saja Kuroko benci menyerah, ia tidak mau kalah dengan teman-temannya yang masih kuat berlari. Kalau mereka masih kuat kenapa dia tidak?

Kuroko, ingat! Fisik mereka denganmu itu beda jauh.

"Yosh, baiklah! Masih ada Sembilan putaran lagi, semangat—ssu!" teriak Kise dengan semangat, diikuti oleh anggukan semangat oleh mereka semua termasuk Kuroko. Yah, Kuroko tidak menyesal karena ia sudah lama tidak melakukan latihan seperti ini, ditambah lagi ia merasa seperti balik ke masa lalunya dimana ia dan teman setimnya melakukan latihan lari pagi bersama-sama dan Ogiwara selalu setia disampingnya untuk menjaga Kuroko jikalau ia terjatuh tiba-tiba karena kecapekan.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Saat mereka sudah selesai menjalankan hukumannya, semua Kisedai plus Kuroko langsung kelelahan tingkat dewa.

BRUK!

Semua yang ada disitu langsung menoleh ke asal suara tersebut.

"KYA! TETSU-KUN!"

"KUROKO-CCHI JATUH!"

"KUROKO/TETSU!" Mereka semua langsung berlari mengerumuni pemuda surai biru muda itu—termasuk Akashi, ternyata Kuroko lah yang membuat suara seperti tadi. Dia terjatuh dengan posisi tengkurap, wajahnya otomatis langsung mengenai lantai.

"Guk!" Nigou langsung lari dan menjilat pipi Kuroko, supaya ia terbangun.

"Kuroko? Kau baik-baik saja—nodayo?" tanya Midorima yang ikut mengkhawatirkan si surai biru muda itu.

Kuroko langsung terbangun dari jatuhnya dan berdiri dengan wajah lelahnya–dibalik wajah datarnya, "Daijoubu, desu…" katanya dengan tenang, tapi hidung kanannya mengeluarkan darah.

"Tidak, kau tidak baik-baik saja Kuro-chin."

"Tisu! Tisu!" Kagami langsung panik mencari tisu, Momoi langsung bertindak dan memberikan Kagami selembar tisu, ia pun langsung menyumpal hidung Kuroko agar tidak terjadi mimisan lagi.

Akashi sedikit memasang wajah sweatdrop, baru lari seperti ini saja sudah pingsan? Bagaimana kalau ia disuruh lari 50 kali keliling lapangan bola, mungkin bakal di lariin kerumah sakit kali. Kau juga, Akashi… anak orang disiksa.

"Sudah kubilang kalau tidak bisa jangan dipaksa—nodayo!" Midorima berkomentar.

"Akashi-cchi sudah kubilang jangan terlalu kejam dengan Kuroko-cchi," protes Kise, sedangkan si pelaku hanya terdiam dan terlihat tidak peduli.

'Benar-benar pelatih kejam!' batin para Kisedai.

"Baiklah latihan sampai disini saja." Akashi membuka suara—mengabaikan kalimat protes dari Kise.

"Tapi besok siang jam 1, aku mau kalian semua datang kemari. Ada yang harus kita bahas mengenai pemilihan kapten dan latihan tanding dengan SMA lain," ucapnya.

"He? pemilihan kapten dan latihan tanding? Aku tidak sabar—ssu!" Kise kesenangan yang lain yang mendengar itu juga tidak sabaran.

"Pasti Mido-chin yang akan jadi kapten."

"Tidak mungkin tsundere itu yang akan menjadi kaptennya, jelas-jelas aku yang akan menjadi kaptennya." Kagami menimpali, sedangkan Midorima hanya melotot dan mengeluarkan aura pembunuh. Yah, walaupun auranya itu tidak berpengaruh terhadapnya.

"Anak kelas satu tidak akan mungkin jadi kaptennya—ssu."

"Hmph! Mungkin saja kan?"

"Akhirnya kita akan melawan SMA lain juga." Aomine bersemangat, ia tidak terlalu peduli soal siapa yang akan menjadi kapten.

'Latihan tanding ya… sudah lama tidak melakukan itu.'

"Oke, cukup. Aku ada urusan jadi harus segera pergi," kata Akashi dengan singkat sambil mengambil tas dan jaket miliknya lalu segera berjalan keluar dari gedung basket itu.

"Akashi-san," panggil Kuroko. Langkah Akashi terhenti seketika, lalu sedikit menolehkan kepalanya. "Nigou biar aku saja yang jaga, karena ibuku sedang tidak ada dirumah," tambahnya. Akashi terdiam beberapa saat, "Ya." Kuroko terdiam dan memandang punggung Akashi sampai hilang dari pandangannya. Dipikir-pikir, Akashi itu bukan tipe orang yang merasa bersalah ya? Tidak ada kata maaf sedikit pun yang keluar dari mulutnya—yang membuat ia mimisan seperti ini. Tapi, sudahlah… yang tadi itu kan hukuman untuknya juga.

"Ne, bagaimana kalau kita ke Maji Burger?" tanya Kise diikuti oleh anggukan setuju dari yang lain.

"Eh? Kenapa tidak habiskan bento yang sudah kukasih?" tanya Momoi dengan polosnya, yang lain langsung menatap tajam.

"TIDAK!" Semua langsung sepakat menolak minus Kagami yang tidak tahu apa-apa, serta Kuroko yang memilih diam saja. Momoi menggembungkan pipinya dengan kesal, jahat sekali mereka.

Murasakibara langsung membuka kantong belanjaan yang dibeli Kuroko, lalu mengambil makanan miliknya yang tadi ia titip. "Kuro-chin, bento nya buatku saja boleh? Aku lapar," katanya, Kuroko hanya mengangguk singkat, lagipula ia sudah tidak terlalu bernafsu makan akibat habis lari sampai nafasnya hampir habis.

"Murasakibara-cchi curang! Aku juga mau!" protes Kise.

"Lebih baik kita semua pergi ke Maji Burger sekarang, perutku sudah sangat lapar," kata Kagami sambil memegangi perutnya. Karena ia kebanyakan disiksa dan pingsan, perutnya menjadi sangat lapar.

"Baiklah," ucap mereka setuju minus Momoi yang masih cemberut.

"Sumimasen, aku tidak ikut, aku ingin segera pulang dan mengurus Nigou." Kuroko menolak ajakan temannya, ia sudah terlalu capek untuk bergerak kesana kemari, tak peduli perutnya sudah kelaparan untuk minta diisi yang jelas ia ingin pulang kerumah sekarang juga.

Kuroko ingin berjalan mengambil tasnya, tapi karena kakinya sudah terasa berat ia terjatuh lagi.

BRUK!

"KUROKO/TETSU!" teriak Aomine dan Kagami bersamaan. Duh, Kuroko… apanya yang baik-baik saja? Kau malah merepotkan mereka yang harus membawamu pulang selamat sampai tujuan.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

"Ini rumahmu, Tetsu-kun?" tanya Momoi saat melihat rumah Kuroko yang begitu sederhana, Kuroko mengangguk singkat. Mereka semua sedang berdiri di depan rumahnya—bermaksud mengantar Kuroko yang pulang karena ia terlihat sangat kelelahan saat berlari tadi.

"Wah~ aku baru lihat rumahnya Kuroko-cchi~," kata si pemuda pirang itu.

"Kuro-chin rumahnya mini juga ya?" itu karena badanmu kayak raksasa, Murasakibara.

"Ha'i, apa kalian ingin mampir kerumahku dulu?" tawar Kuroko, sebenarnya ia sudah lelah dan ingin istirahat, tapi karena teman-temannya yang sudah rela mengantarkan ia pulang kerumahnya—walau tadi Kuroko bersikeras menolaknya. Karena katanya, mereka khawatir Kuroko bakal ambruk lagi,dan tidak mungkin ia tidak menawari temannya untuk beristirahat sejenak. Toh… mereka sama-sama kelelahan.

"Baiklah—hmph!" mulut Kise dibekap oleh Aomine, "Tidak usah, kau istirahat saja, Tetsu," ucapnya. kise memberontak berusaha melepaskan tangan Aomine dari mulutnya.

Aomine melepaskannya, "Aomine-cchi! Tubuhmu itu sangat bau keringat—ssu!" Aomine langsung melotot seolah mengatakan apa-kau-bilang?

"Aku juga lelah, ingin pulang~," jawab Murasakibara.

"Sama—nodayo, besok kita harus datang untuk membahas soal yang tadi Akashi-sensei bilang," timpal Midorima.

"Hoahm~ aku juga sudah mengantuk," kata Kagami sambil menguap lebar-lebar, Aomine juga ikut-ikutan. Mereka berdua ini seperti kakak beradik saja.

"Dai-chan, Kagamin, tidak sopan menguap lebar-lebar seperti itu." Kise yang mendengar itu jadi sedikit cemberut, tak jadi deh singgah di rumah Kuroko. "Ugh~ yasudah deh, hari ini juga aku ada urusan sekitar jam 5 sore, kalau begitu kami pamit ya Kuroko-cchi, bye bye."

"Kami permisi—nodayo."

"Bye, Tetsu-kun~."

"Jaa ne, Kuro-chin." Mereka semua langsung pamit dan pergi menjauh dari rumah Kuroko sambil melambaikan tangan. Kuroko membalas lambaian tangan tersebut dan segera masuk ke dalam rumahnya, oh jangan lupakan Nigou yang sedari tadi sudah berada di dalam tas besar yang di gendong Kuroko. Kenapa Kuroko bisa punya tas besar ya? Berterimakasih lah kepada Midorima yang sudah meminjamkan tas besar untuk anjingnya.

.

=-Kuroko no Sutori-=

.

Kuroko langsung ambruk di atas kasur setelah selesai mengurusi Nigou—anjing miliknya. Karena ibunya sedang keluar kota, ia bisa membawa anjing itu kerumahnya. Tadinya ingin diajakin main, tapi karena badan Kuroko yang serasa berat seperti ditimpa batu yang sangat besar akhirnya ia memilih untuk menjatuhkan dirinya di atas kasur. Ia menatap jam di dindingnya, pukul 4 sore. Tak terasa udah sesore ini.

Posisi yang tadinya tengkurap, kini berganti menjadi telentang. Baru saja Kuroko ingin memejamkan matanya, bunyi suara hp malah mengganggunya. Dengan malas, Kuroko mengambil hpnya yang biasa ia letakkan di atas meja samping tempat tidurnya. Ia sudah malas membaca nama yang tertera di hpnya, ia langsung menekan tombol hijau dan menempelkan hpnya ditelinganya.

"Moshi-moshi?"

"Tetsuya." DEG! Kuroko langsung terkejut, ia pun buru-buru menjauhkan hpnya dan melihat nama yang meneleponnya. 'Akashi-san' itulah nama penelepon tersebut.

"Tetsuya?" panggilnya sekali lagi karena merasa tidak mendapatkan jawaban. Kuroko langsung kembali menempelkan hpnya di telinganya.

"Ha'i, Akashi-san… ada apa?" tanya Kuroko, ada gerangan apa ya dia meneleponnya?

Hening, tidak ada suara. Kuroko mulai gemas, kenapa lawan bicaranya hanya diam saja?

"Akashi-san?" panggil Kuroko dengan nada yang pelan.

"Bagaimana kondisimu?" Akashi tiba-tiba menanyakan keadaannya, Kuroko mengerjapkan matanya tidak percaya. Kuroko terdiam lagi.

"Tetsuya, Jawab pertanyaanku." Akashi memerintah, ia tidak suka lawan bicaranya lama membalas perkataannya.

"Um… baik?" Kuroko menjawab dengan nada ragu. Ingatkan kepada Kuroko nantinya untuk menelepon teman-temannya sekedar menanyakan keadaan Akashi, apakah ia kebentur sesuatu atau salah minum atau kebanyakan minum coffee? Ia juga harus mengingatkan kepada Momoi untuk melarang Akashi mengkonsumsi coffee banyak-banyak, bisa saja itu mengganggu kesehatannya.

Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja pada orangnya, Kuroko?

"Ng… Akashi-san ada perlu apa?" Kuroko bertanya kembali, ia masih tidak menyangka Akashi meneleponnya tiba-tiba dan menanyakan keadaannya, padahal di sekolah tadi ia seolah tidak peduli kepadanya dan membiarkan Kuroko hampir pingsan karena hukuman gilanya itu.

"Tidak ada hal khusus," katanya dengan singkat, padat dan jelas.

'Kalau tidak ada hal khusus, kenapa menelepon?' Kuroko membatin.

Kuroko hanya mengangguk diam, bingung juga mau jawab apa. Beberapa detik mereka berdua tenggelam dalam keheningan. Kuroko sedikit gelisah, kenapa tidak dimatikan saja teleponnya? Kuroko mau sih… hanya jika langsung dimatikan tanpa permisi, apakah Akashi tidak akan marah?

Akhirnya Kuroko mengalah dan mulai membuka suaranya terlebih dahulu bermaksud mencari sebuah topik untuk dibahas. "Apa Akashi-san ingin berkunjung kerumahku?" tawar Kuroko, dari sekian banyak topik yang bisa dibahas, kenapa Kuroko malah menawari lawan bicaranya untuk berkunjung kerumahnya? Memangnya Akashi mau? Sepertinya tidak akan—

"Baiklah kalau kau memaksa." —Mungkin.

Oke, dia merutuki dirinya sendiri.

Kuroko terdiam sesaat, awkward banget situasinya. "Eh?" sepertinya otak milik Kuroko butuh loading ekstra. Terdengar suara helaan nafas dari seberang, "Kau memaksaku untuk kerumahmu kan? Apa boleh buat jika itu keinginanmu, Tetsuya." The hell—siapa yang maksa? Siapa yang ingin? Tumben sensei nya itu setuju ditawari Kuroko untuk kerumahnya? Mau di apain nanti? Kuroko jadi merinding sendiri.

Mau tidak mau, Kuroko harus menerima Akashi bertamu dirumahnya, "Um, baiklah… aku akan memberikan alamatku lewat pesan," katanya lagi. Berkali-kali Kuroko merutuki dirinya, kenapa ia malah menawari Akashi kerumahnya? Padahal ia ingin istirahat.

"Hm." Telepon langsung terputus mendadak, Akashi yang memutuskan sambungan teleponnya. Kuroko hanya memandang hpnya yang sudah tidak tersambung lagi, masih dengan tatapan tidak percaya. Ia bersumpah untuk tidak berbicara asal kepada orang tertentu.

'Ya sudah lah. Mungkin dia kemari karena sedikit merasa bersalah denganku, mungkin kan?' pede sekali Kuroko, tidak mungkin seorang Akashi Seijuuro merasa bersalah denganmu hanya karena ia memberimu hukuman yang menurutmu berat hingga membuatmu jatuh dan mengeluarkan darah dari hidung.

Ingat! Akashi tidak pernah bersalah dalam bentuk apapun, jika ia bersalah? Balik ke pernyataan awal bahwa ia tidak pernah bersalah, titik.

.

.

To Be Continue

Author Note : *nyengir* jangan bunuh saya karena lama update. Untuk typo, maafkan diriku jika ia masih nyempil sana sini . Ah ngantuknyaa~ #plak. Dan...AKASHI KENAPA KAU BEGITU KEJAM DENGAN KUROKO? AKU TIDAK MENGAJARIMU BEGITU, NAK! #ABAIKAN . Duh Kagami kenapa di chapter ini kau sangat MODUS! Kasihan Akashi #woi. MAMPUS LU KISEDAI KERACUNAN MAKAN MASAKAN MOMOI HUAHAHAA #DITENDANG . Oke, stop saya mulai stress sendiri ==a

Kali ini saya balas reviewnya langsung saja ya semuanya~

1. Buat yang menunggu Kuroko bermain lagi kita tunggu saja ya ufufufu~ soalnya saya belum memasukkan plot itu :3 #heh

2. Di chapter ini saya fokus kepada Kisedai yang tingkahnya absurd, karena dari awal saya memang ingin membuat fict ringan yang tidak terlalu serius, tapi kayaknya malah agak melenceng ya xD #guling

3. Yang penasaran kenapa babang Nijimura ada? OAO . Saya juga gak tau kok tiba-tiba Nijimura yang nongol? #plak

4. Maafkan saya kalau chap kemarin ada typo nya T,T dan maafkan keterlambatan saya mengupdate fic. maklum, bentar lagi sudah masa-masanya sibuk dengan urusan kampus ditambah kerjaan dari kantor hell yeah~

5. Ano... untuk yang meminta FKR di update, sumimasen... saya belum bisa memberikan jawabannya T.T

Segitu balas review dari saya . I hope you enjoy my story, minna-san~ :*

Thanks to :

Dwinur halifah 9 | AulChan12 | ikizakura | kim ariellink | Free-Cavallone Hibari | akashi seika | Kuroshiro Ringo | Tet-chan | ZY | XL-SasuHinaGaa | Sachiru | Kirei Yuki | Mika Tetsuya 0218 | Indah605 | Noname | kureha sei | Guest

And thanks to follow and favorites my story, i love you all :*

Akhir kata,

Mind to Review?

_Pinkuru_