Prince of Tennis © Takeshi Konomi
Dicide
Chapter 1
Pairing: TezukaFuji
Drama, Romance, BoysLove, ShounenAi, BoyxBoy.
Rate M untuk sekilas adegan sensual di chapter mendatang.
Terkadang typo, OOC, diksi seadanya, gaya tulis amatir.
.
.
.
Fuji dengan segala kejeniusannya, sejak pertama kali mereka bertemu 13 tahun lalu, sangat tahu bahwa Tezuka perlu memperhatikan hal-hal lain di luar tenis. Pemuda kaku berkacamata itu bahkan tidak sadar kalau gadis yang dulu memohon agar diijinkan menjadi manajer klub tenis Seigaku memiliki perasaan khusus padanya. Kejadian ini sudah lama, tapi masih segar di ingatan Fuji seperti judul buku yang dicetak timbul.
Saionji Erika hanya salah satu di antara banyaknya perempuan yang mengharapkan cintanya terbalas dan bisa merajut cinta kasih di kehidupan sekolah. Selain cerdas dan memesona, ia juga harta karun bagi Seishun Gakuen karena kemampuannya yang dapat membawa klub shogi sekolah memenangkan kejuaraan nasional. Ia berambut gelap ─lurus terurai lembut sampai pinggang, dan dia memiliki kepribadian yang membuat takut pria-pria bodoh. Dia dan prestasinya bagaikan cerminan sempurna dari Tezuka. Tapi yang pasti, Saionji pernah memikirkan hal lain selain shogi. Tentang cinta. Tentang Tezuka.
Fuji cukup terkesan dengan kegigihan gadis itu, Saionji bisa bertahan selama tiga bulan menjadi manajer mereka. Sementara Momo dan Eiji mengerubunginya bagaikan lebah, Tezuka sama sekali tidak memberikan perhatiannya. Fuji pernah beberapa kali melihat Saionji menghela napas panjang saat gagal membuka obrolan dengan Tezuka, dan entah kenapa Fuji jadi ingin menepuk bahunya.
Tidak menyerah sampai situ, Saionji menyadari bahwa ada seseorang yang bisa berdekatan dan bicara cukup intim dengan sang dambaan hati.
"Komohon… Bantu aku, Fuji-kun."
Hari itu adalah sore di akhir bulan November. Saionji menunggu Fuji di tengah jalan pulang. Dari tubuhnya yang menggigil dan uap yang keluar dari mulutnya, Fuji bisa tahu berapa lama dia sudah menunggu. Fuji menatap lurus, memandang sambil tersenyum ke arah gadis yang matanya menyiratkan binar harapan itu.
"Tentu. Kalau memang aku bisa membantu."
Senyum Saionji mengembang sedetik kemudian. Dan Fuji jadi mengerti perkataan Yumiko-neesan soal seseorang akan menjadi kuat saat sedang jatuh cinta.
.
Fuji tidak perlu mendengarkan cerita Saionji untuk tahu apa yang ingin dia sampaikan. Ryuzaki-sensei bahkan tahu soal cerita cinta-cintaan masa muda ini. Gosip selalu menyebar dengan cepat. Yang bisa Fuji katakan untuk Saionji hanya sebatas saran. "Tidak perlu terlalu berusaha. Pilihlah topik yang memang kamu suka. Shogi, mungkin? Tezuka kadang bermain Shogi dengan kakeknya."
Esoknya, Saionji menerapkan saran itu dan berhasil. Dia bisa mengobrol dengan Tezuka lebih dari 15 menit. Rasa senangnya terlihat jelas, seperti Charlie Brown yang dimabuk cinta pada murid pindahan di kelasnya ─itu perumpamaan yang Eiji buat. Fuji hanya tertawa kecil menanggapinya. Sayangnya, kesenangan itu hanya bertahan 24 jam. Harapan yang begitu singkat, walau bisa dibilang mimpi yang cukup panjang.
Saionji akhirnya menyadarinya, bahwa Tezuka tidak akan bisa untuk hubungan seperti itu. Tezuka bahkan tidak mengingat namanya. Pukulan berat bagi seseorang yang bisa dibilang sebagai 'Gadis Idaman'.
Saat Saionji mengadu, Fuji membiarkan gadis itu menangis sambil memeluknya. Saionji menyerah dan Tezuka masih tetap tidak sadar.
.
.
.
Tezuka memang terkadang bisa sangat menyebalkan dengan ketidakpekaannya. Bahkan bagi Fuji sendiri. Sama seperti saat ini.
Tezuka pergi ke Jerman sesuai impiannya. Mereka hanya bertatap muka dua kali dalam lima tahun terakhir. Kemudian tiba-tiba hari ini, lewat tengah malam, mantan kapten klub tenis Seigaku itu membunyikan bel apartemennya, berdiri tegak dengan wajah kakunya sambil menunggu tuan rumah membukakan pintu.
Berkedip adalah reaksi awal Fuji saat menatap sosok di hadapannya. Tubuh Tezuka memang jauh lebih meninggi dari terakhir kali dia melihatnya, tapi dengan kacamata, gaya rambut, dan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah, jangankan seorang Seigaku no Tensai, siapapun akan dengan mudah mengenali dia.
Fuji memperlihatkan sorot mata azurenya. Emosinya tersembunyi sempurna dalam ulasan senyum manis.
"Masuklah." katanya lembut.
Tezuka tidak perlu menunggu Fuji berkata dua kali untuk memasuki apartemen itu. Setelah melepas sepatunya di genkan, Tezuka mengikuti Fuji yang sudah berjalan lebih dulu. Pintu di belakang mereka dibiarkan menutup tanpa dikunci. Untuk pertama kalinya Tezuka menginjakkan kaki ke tempat tinggal Fuji yang baru.
Apartemen itu cukup luas, didominasi warna putih dan coklat muda yang menguarkan kesan hangat. Tidak terlalu banyak barang di dalamnya, sepanjang lorong Tezuka hanya menemukan meja telepon yang dipercantik dengan taplak meja ber-lace transparan dan Tezuka langsung tahu bahwa Yoshiko-san lah yang memilihkannya. Foto-foto dalam figura kayu tergantung di sepanjang dinding, ukurannya beragam dan ditata dengan artistik. Saat mendudukkan diri di sofa ruang tamu, Tezuka tanpa sadar masih mengamati tempat itu. Sofa nyaman berbahan chenille, meja berpermukaan kaca dan gorden saten dengan frill elegan menutupi jendela besar yang terpasang dari lantai hingga langit-langit. Beberapa lukisan terpajang di dinding. Di salah satu pojok ruangan terdapat meja tempat menaruh beberapa barang dan foto-foto kenangan. Tezuka tahu bahwa Fuji selalu punya sense yang bagus, sebagus instingnya saat bermain tenis, saat membidik objek yang harus dipotret, sebagus caranya berpakaian, bahkan sebagus instingnya dalam memilih parfume.
Fuji muncul dari arah konter dapurnya dengan membawa dua cangkir kopi. Moca dengan sedikit bubuk kayu manis. Dia masih ingat kopi kesukaan Tezuka ─kalau seleranya belum berubah.
Fuji mengambil tempat di hadapan mantan kaptennya.
"Kau tahu, Tezuka…" katanya memulai, suaranya pelan. Fuji sama sekali tidak memandang pemuda di hadapannya, tangannya menggenggam cangkir dan mendekatkannya untuk menghirup aroma hangat itu. Cukup untuk membantunya sadar dari sisa-sisa kantuk karena tidur yang terganggu.
Jeda beberapa saat sebelum Fuji melanjutkan perkataan, "Aku suka pekerjaanku yang sekarang. Pekerjaanku itu membuatku bisa membayar apartemen sendiri sehingga orang sepertimu yang bahkan tidak ingat mengirimkan kartu Natal bisa menekan bel di tengah malam seperti tadi."
Sebuah kejujuran. Fuji memang bermaksud memberitahu betapa dia mencintai pekerjaannya. Sebagian lagi bermaksud menyindir siapapun yang merasa pergi begitu lama tanpa banyak memberi kabar.
"Aku tidak tahu kalau kau penganut khatolik yang religius."
Dan saat Tezuka ternyata tidak bisa membaca sindiran itu, Fuji sama sekali tidak heran. "Memang bukan." katanya sambil tersenyum. "Tapi aku suka hadiah, bahkan walau hanya kiriman kartu Natal dan kartu tahun baru." Dia memberikan jeda. "Terlebih, kalau itu darimu."
Tezuka terdiam sesaat.
"Aku akan mengirimkannya tahun ini." balas Tezuka akhirnya, dia menganggapnya serius. Fuji tidak bisa menahan senyumnya untuk lebih terekspos. Tezuka masih belum berubah. Bagi Fuji dia masih tetap menarik.
Keseriusan itu tetap mengundang Fuji untuk menggodanya.
"Aku akan menunggu." kata Fuji.
Fuji akan menunggu.
Tezuka menganguk singkat sebagai jawaban. Tangan Fuji terulur untuk menggeser satu cangkir lebih dekat ke arah Tezuka, mempersilakannya untuk meminum kopi tersebut. Dan saat ekspresi wajah Tezuka terbaca, Fuji tahu bahwa kopi itu masih menjadi favoritnya.
"Kau datang untuk menginap? Kita bisa tidur berdua."
Helaan napas terdengar sebagai respon dari Tezuka, kemudian dilanjutkan dengan sebuah kalimat cepat tanpa jeda. "Ada yang ingin kubicarakan."
"Ya?" Fuji mencuri pandang ke arah Tezuka sementara tangannya masih menggenggam cangkir, ia meminumnya beberapa tegukan.
Tezuka diam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Saat tangannya bergerak untuk membenarkan letak kacamatanya dan mata hazelnya sempat melirik ke arah lain, Fuji tahu bahwa ini bukan masalah biasa.
Ini mulai menarik.
Fuji meletakkan cangkir yang isinya sudah tersisa setengah, mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman dan menunggu. Pandangan matanya sengaja tidak dialihkan.
Dengan banyak pertimbangan, Tezuka membuka mulut. Suara rendahnya masih terdengar seberat dulu. "Aku sudah bertunangan."
Akhirnya. Entah sudah berapa lama Fuji menunggu Tezuka untuk mengatakannya.
"Aku tahu."
Fuji sama sekali tidak terkejut, untuk pernyataan tadi dan untuk Tezuka dengan ekspresi kagetnya yang minim.
Rasanya sudah lama sekali. Tapi gadis itu ─tunangan Tezuka─ memang pernah bertemu dengan Fuji. Dia gadis agresif penuh kejutan. Satu-satunya yang membuat Fuji terkesan hanya soal bagaimana pintarnya ia berkamuflase. Orang lain akan melihat gadis itu bagai seorang Yamato Nadeshiko yang sempurna, master ikebana dan sangat cocok saat mengenakan kimono. Tapi Fuji melihatnya sebagai gadis penggemar barang-barang branded dan begitu terobsesi untuk masuk rubik fashion focus di majalah ternama. Seorang wanita yang bersedia menanggalkan pakaian yang dia kenakan dan memberikan blow-job gratis pada pimpinan redaksi agar fotonya dipakai setiap bulan.
"Aku bertemu dengannya untuk urusan pekerjaan. Kami mengobrol beberapa hal." lanjutnya. "Orang bilang terkadang dunia bisa sangat sempit."
Tezuka lagi-lagi terdiam.
Fuji tahu betapa banyaknya hal yang ingin Tezuka tanyakan, atau tepatnya, hal yang dikhawatirkan. Sama banyaknya seperti hal yang pernah terlintas dipikaran Fuji selama ini. Tapi yang ingin Fuji tahu bukan tentang 'sudah berapa lama?' atau 'bagaimana bisa?'
Hanya satu yang ingin Fuji tahu.
"Kau akan melanjutkannya? Menikah?"
Pertanyaan bodoh, Fuji akui. Saat Tezuka tidak juga menjawab , Fuji sadar bahwa harapannya adalah sesuatu yang tidak mungkin.
"Kau akan menerimanya, ya…" Bukan pertanyaan.
"Ahh." Mengiyakan tapi Tezuka sama sekali tidak menganguk.
Sepintar apapun Fuji menyembunyikan emosinya, satu detik tadi seperti tusukan yang rasanya akan tertinggal secara permanen.
Fuji salah kalau merasa kasihan pada Saionji atau gadis-gadis lain yang juga cintanya pupus di tengah jalan, karena itu dia tidak pernah sedikitpun mengasihani mereka. Ini bukan pertama kalinya Fuji berpura-pura, tapi bisa untuk kesekian kalinya menatap Tezuka tanpa gentar sementara perasaannya berantakan, mau tidak mau Fuji merasa bangga. Dia bahkan tidak percaya bahwa dirinya masih bisa berkata manis seperti seorang sahabat yang paling pengertian.
"Selamat untuk pertunanganmu…"
Fuji masih tersenyum.
.
.
.
[]
Cinta sama sekali tidak seperti apa yang mereka katakan.
-Liz Phair
